My Lovely Bad Girl (Part 1)

My Lovely Bad Girl (Part 1)

FF ini merupakan titipan dari seorang teman, bukan karya saya. Saya hanya membantu membagikannya disini. Untuk itu, tolong berikan apresiasi kalian dalam bentuk komentar. Terima kasih ^.^

my-lovely-bad-girl

Author : rosaliaaocha

Main Cast : Cho Chae Won (OC) I Choi Minho

Other Cast : Choi Jin Ri I Bae Suzy I Kim Myungsoo I Etc

Length : Chapter

Genre : Romance Comedy

Rating : PG-15

Poster by : Choiri

Summary :

Cho Chae Won, seorang mahasiswi baru yang tiba-tiba muncul di kehidupan Choi Minho sebagai ‘pengganggu’ di hidupnya. Stalker mungkin lebih tepat. Dia selalu membuntuti Minho kemanapun, tak pernah menyerah untuk mendapatkan hati Choi Minho. Apakah Minho akan mencintainya juga?

**

“I’m the only one bad girl for you”

**

This fanfiction has beem published at : http://minhochaewon.wordpress.com

**

WARNING :

It’s just a fanfictions… Nothing belongs to me except the stories. Sorry for typos ^^ Hope you enjoy it!

**

**Part 1**

Semua mahasiswa Seoul University tahu cerita tentang hubungan antara Ice Prince Kim Myungsoo dengan si American Style Girl Bae Suzy. Suzy yang selalu menarik perhatian setiap pasang mata karena penampilan dan perilakunya yang kebarat-baratan kini sudah takluk oleh Kim Myungsoo walaupun belum sepenuhnya berubah. Dan Kim Myungsoo, namja yang tak pernah melirik yeoja, kini sudah takluk dengan seorang Bae Suzy yang aggressive. Sungguh tak diduga.

“Myungie-ya… AAAA…”

Suzy menyuapkan sesendok makanan pada Myungsoo dengan manja. Myungsoo hanya bisa menghela nafas lalu membuka mulutnya. Dan seperti biasanya, banyak pasang mata yang melirik ke arah mereka sambil berbisik-bisik. Tapi Suzy tak mempedulikannya.

“Waaah… Myung, ada Lamborgini biru di parkiran. Aigoo…. Suzy-mu ada yang menyaingi.”

Hoya menghampiri Myungsoo tiba-tiba sambil menunjuk parkiran yang terlihat dari kantin. Sebuah Lamborgini berwarna biru muda terparkir apik di sana. Tidak beberapa lama muncul seorang yeoja dari mobil itu. Persis seperti kedatangan Suzy dulu, yeoja itu mengenakan rok pendek dengan atasan yang sedikit terbuka. Kaki putih dan jenjangnya terekspos sempurna dan membuat mata para namja tak berkedip.

Suzy yang melihat yeoja itu dari kejauhan mengedipkan matanya beberapa kali untuk memastikan penglihatannya sendiri.

“Bae Suzy, dia mirip sepertimu. Geundae… tubuhnya lebih bagus dari dirimu.” Celetuk Hoya.

“Hem… sepertinya dia tidak asing.” Gumam Suzy.

“Mwo? Kau mengenalnya?” Tanya Myungsoo. Suzy mengangguk. “Pantas saja. Dia satu spesies denganmu.” Ucap Myungsoo sambil menggelengkan kepala.

Yeoja itu memasuki area kampus. Sepanjang lorong, berpasang-pasang mata menatapnya. Yeoja itu sama sekali tidak peduli.

“Hah… apa mereka baru melihat yeoja cantik ya?” Gumam yeoja itu.

Dia memasang earphone lalu mendengarkan musik sekeras mungkin agar tidak mendengar bisikan-bisikan mengganggu dari sekelilingnya. Namun saat matanya terfokus pada ponselnya, seorang namja dari arah berlawanan menabraknya. Minuman yang dibawa oleh namja itu tumpah dan membasahi pakaian keduanya.

“Haissh… aku benar-benar sial.” Gerutu yeoja itu. “YA!”

Namja itu yang sedang memungut cup minuman yang terjatuh itu mendongak ke atas. Dia mengerutkan dahi saat melihat yeoja di depannya memasang wajah kesal.

“Wae?” ucap si namja santai.

“Kau menumpahkan minuman itu ke pakaianku dan kau hanya bilang ‘wae’?”

“Kau tak lihat, aku lebih rugi? Minumanku jatuh dan pakaianku juga kotor.” Sahut si namja dan berdiri di depan yeoja itu.

“Hah… kau harusnya minta maaf padaku.”

“Minta maaf? Kau yang salah.”

“Mwo? Aku tidak salah. Kau yang menumpahkan minuman itu padaku.”

“Ani.”

“Mwo? Ah… arra, jadi seperti itu.”

Yeoja tadi mengeluarkan selembar post it dan menuliskan nama dan nomor telpon di atasnya lalu menempelkan post it itu di pakaian si namja.

“Igeo. Aku tunggu telponmu.”

Yeoja tadi melengos pergi dari si namja tanpa berkata apapun.

“Aneh… Sungguh aneh.”

Namja itu melepaskan post it yang tertempel di bajunya.

“Choi Chae Won…” Gumam Minho sambil membaca nama dan nomor telpon yang tertera di kertas itu.

Lalu dengan sembarangan dia membuang kertas itu dan melanjutkan perjalanannya.

 

**

 

Yeoja yang bernama Chae Won itu memasuki ruang rector dengan santai. Dia sama sekali tidak tertarik dengan ocehan panjang lebar dari namja tua di hadapannya mengenai aturan dan tata tertib yang harusnya ditaati olehnya.

“Kau sudah mengerti kan? Dan ini jadwal kuliahmu selama satu semester. Kau boleh keluar sekarang.”

“Ne, gamsahamnida.”

Chae Won keluar dari ruangan itu dengan wajah datarnya. Dia cukup kaget saat melihat kemunculan Suzy di depannya.

“Hai! Apa kabar?” Sapa Suzy.

“Buruk.”

“Mwo?”

Mereka berdua kini berada di kantin kampus. Suzy menemani Chae Won untuk sarapan karena setau Suzy yeoja di hadapannya ini paling tidak suka sarapan.

“Jadi? Kenapa buruk?” Tanya Suzy begitu melihat Chae Won sudah melahap habis sandwich di piringnya.

“Semua orang mengganggu pendengaranku. Lalu tadi ada namja yang menabrakku dan menumpahkan jus-nya di pakaianku. Untung saja aku membawa pakaian ganti di tas.” Jelas Chae Won.

“Jinjja? Hem… pasti dia sedang berusaha mendekatimu. Cara yang kuno.” Balas Suzy.

“Aku sependapat. Geundae… aku memberikannya nomor telpon dan nama ku. Paling nanti malam dia akan menghubungiku.”

“Pasti. Ah… jadi kau sekarang tinggal di sini?”

“Begitulah. Aku kesal dengan kedua orangtuaku yang lebih sering bertengkar di rumah daripada mengurusiku. Lebih baik aku kabur saja ke sini. Dan… Ji-ah, bolehkah aku tinggal di rumah nenekmu?”

“Hem? Tentu saja boleh. Geundae aku harus lapor haremoni dulu. Kau benar-benar kabur dan tidak memberitahu orangtuamu?”

Chae Won mengangguk sambil menyeruput lemon tea di tangannya.

“Ck… kau ini. Kebiasaan… Ya sudah, aku mau ke kelas. Kau satu kelas denganku kan?”

“Ne. Kajja…”

 

**

 

“Jadi kau kekasih Suzy? Jinjjayo?” Tanya Chae Won tak percaya saat melihat Myungsoo.

“Ne, wae? Ada yang salah denganku eoh?”

“Ani. Geundae… Suzy sudah mengganti tipenya. Ckckck…”

“Aku heran, apa semua yeoja Korea yang tinggal di Amerika akan berpenampilan seperti ini?” Tanya Myungsoo sambil memperhatikan penampilan Chae Won.

“Begitulah. Ini uptodate namanya. Neo arra?”

Myungsoo hanya mendengus sambil geleng-geleng kepala. Cukup baginya ada satu Suzy di hidupnya dan kini ada Suzy lain di hadapannya. Yeoja keras kepala dan menjunjung nilai barat.

“YA WONNIE-AH! Apa kau mencoba menggoda Myungie ku?” Sentak Suzy saat menghampiri mereka.

“Ani. Dia bukan tipeku. Ambil saja buatmu.” Sahut CHae Won santai.

“Baguslah. Kupikir kau tertarik dengannya. Dan Myungie-ya, kau tidak tertarik padanya kan?”

“Ani. Dia bukan tipeku, meskipun mirip denganmu. Geundae… aku hanya mencintaimu.” Jawab Myungsoo dan membuat pipi Suzy merona.

“Aissh… pasangan ini. Menjijikan…” Gumam Chae Won.

Namun pandangannya yang memilih untuk tidak menghiraukan pasangan di hadapannya tertambat pada sosok namja yang baru memasuki kantin dengan seorang yeoja.

“Nugu?” Tanya Chae Won pada Suzy sambil menunjuk.

“Maksudmu? Namja atau yeoja?”

“Namja.”

“Choi Minho.”

“Minho? Jadi namanya Minho.”

“Memang kenapa dengannya? Kau menyukainya?”

“Ani. Hanya tertarik. Kau ingat kan namja yang tadi pagi menabrakku?”

“Jadi itu dia?”

Chae Won mengangguk pasti.

“Jangan bilang kau memberitahu nama dan nomor ponselmu padanya?” Sahut Myungsoo.

“Bagaimana kau tau?” Tanya Chae Won kaget.

“Kalian memang mirip.” Gumam Myungsoo.

Suzy hanya senyum-senyum sendiri.

“Hem… kau mau kucomblangi, eoh?” Tanya Suzy.

“Tidak perlu. Untuk saat ini biar aku sendiri yang mendekatinya.”

“Arra. Kajja kita makan lagi.”

 

**

 

Chae Won menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang Suzy. Setelah bernegosiasi dengan haremoni, akhirnya dia diijinkan tinggal bersama Suzy. Dan sebelum kamarnya siap, dia tidur bersama Suzy.

“Kau kenapa sih?” Tanya Suzy yang baru keluar dari kamar mandi.

“Namja itu. Dia tidak menghubungiku. Eotteoke?”

“Ah… dia seperti Myungie ku dulu. Tapi harusnya Minho tidak seperti itu.”

“Kau kenal baik dengannya?” Tanya Chae Won yang tiba-tiba bangkit untuk duduk di pinggir ranjang Suzy.

“Ne, aku kenal sudah 6 tahun dengannya. Dia teman baikku.”

“Ah… begitu. Sebelum kau masuk SMA kan?”

Suzy mengangguk.

“Dia orangnya seperti apa?”

“Dia baik, care, manis, dan dia suka memuji yeoja. Yang kutau selama sekolah dia selalu dikelilingi yeoja-yeoja cantik.”

“Jinjja? Dan sepertinya di sini juga begitu.”

“Hem. Setelah semua mahasiswi menyerah pada Myungie, Minho yang sering dijadikan target.”

“Wajar. Dia cukup manis dan perilakunya juga manis. Tapi… kenapa padaku dia begitu menyebalkan?”

“Mungkin karena dia gugup.”

“Mungkin.”

 

**

 

Chae Won dan Suzy berada di meja makan untuk sarapan bersama haremoni. Dan sesuai kebiasaan keduanya, keduanya hanya memakan sereal sementara haremoni memakan nasi.

“Kalian ini tidak menghargai adat Korea, eoh?” Tanya haremoni.

“Mian haremoni, kami lebih terbiasa memakan ini. Lagipula ini lebih sehat dan bisa membentuk tubuh dengan bagus.” Jawab Chae Won dan diangguki Suzy.

“Ah… kalian anak muda memang pintar bicara.” keluh haremoni.

“Haremoni memangnya mau pergi ke Hongkong berapa lama?” Tanya Suzy.

“Mungkin satu bulan. Jadi kalian harus menjaga rumah dengan baik. Aku sudah meminta Myungsoo untuk mengawasimu, Ji-ah. Jadi jangan macam-macam!”

“Ne, haremoni.”

TIN TIN… Suara klakson motor terdengar di luar rumah. Suzy mempercepat sarapannya dan segera pamit dari ruangan itu.

“Myungsoo pasti.” Ujar Haremoni.

“Haremoni… apakah aku perlu pengawal juga?” Tanya Chae Won tiba-tiba.

“Mwo?” Haremoni hanya membelalakan mata dengan kaget.

 

**

 

Mata Chae Won berbinar begitu melihat sosok Minho yang baru memarkirkan motornya di parkiran. Chae Won langsung turun dari mobilnya dan menghampiri namja itu. Tapi baru saja dia akan sampai, ada yeoja lain yang sudah terlebih dahulu menggandeng tangan Minho.

“Ck… siapa yeoja itu? Hem..” Gumam Chae Won.

Diam-diam Chae Won mengikuti keduanya di belakang. Sebenarnya baik Minho atau yeoja di sampingnya tak ada yang menyadari kehadiran Chae Won, namun pandangan dari orang-oranglah yang membuat keduanya menyadari ada orang lain di dekat mereka.

“Neo! Kenapa kau mengikutiku?” Bentak Minho pada Chae Won.

“Hah? Ini jalanan umum sepertinya. Memangnya salah kalau aku berjalan, eoh?” Ucap Chae Won.

“Ne, kalau begitu kau jalan duluan.”

“Shirreo…”

“Ck… betul kan kau mengikutiku.”

“Hem… Sepertinya begitu. Geundae… Igeo nugu?” Tunjuk CHae Won pada sosok yeoja di samping Minho.

“Nan Jin Ri-ya, annyeonghaseo!” Sapa yeoja itu.

“Hem.. Neo, yeojachingu?”

“An…”

Belum sempat Jin Ri menjawab, Minho menutup mulutnya.

“Kalaupun dia yeojachinguku, itu bukan urusanmu. Arra?” Bentak Minho.

“Tentu saja urusanku. Aku kan menyukaimu, jadi kalau dia yeojachingumu, berarti dia sainganku yang harus disingkirkan.”

“Mwoya? Kita baru bertemu dua kali dan kau sudah bilang menyukaiku? Ck… yeoja gila.”

“Memang salah?”

Semua mata yang memandangi mereka jadi berbisik-bisik heboh dan membuat Minho merasa risih. Tanpa respon apapun, Minho menarik tangan Jin Ri dan menjauh dari Chae Won.

“Ck… namja itu. Benar-benar menarik.” Gumam Chae Won.

 

**

 

“Jadi kau sudah menentukan targetmu? Dan itu Minho?” Tanya Suzy penasaran.

“Hem… begitulah.” Jawab Chae Won.

Saat mereka tengah berbincang, Jiyeon dan Soo Jung bergabung dengan mereka sambil membawa nampan penuh berisi makanan.

“Annyeong, kau Chae Won itu kan? Si yeoja Lamborgini biru.” Ucap Jiyeon.

Chae Won mengangguk.

“Daebak… belum lama Suzy di sini sekarang sudah ada kembarannya. Jinjja daebak.” Pekik Soo Jung.

Chae Won dan Suzy hanya tersenyum singkat.

“Tumben kau tidak dengan Myungie-mu itu.” Ucap Jiyeon pada Suzy.

“Dia masih ada kelas. Lagipula kan sudah ada kalian dan Chae Won yang menemaniku.”

“Ah… ne, ah iya naneun Jiyeon imnida dan ini Soo Jung imnida. Bangapta!” Jiyeon memperkenalkan dirinya pada Chae Won.

“Ne, bangapta. Aku senang punya teman selain Suzy. Setidaknya kalau dia sedang dengan kekasihnya yang menyebalkan itu, aku bisa dengan kalian.”

“Menyebalkan? Mwo? Myungie itu menyenangkan, neo arra?” Gerutu Suzy.

“Ne, hanya untukmu. Bagus kan kalau aku bilang dia menyebalkan. Daripada aku ikut tertarik padanya. Kau akan kesulitan.” Jawab Chae Won.

“Arra. Aku pasti akan kalah darimu. Geundae… bagaimana jadinya dengan Minho? Kau sudah ada kemajuan?”

“MWO? MINHO???” Pekik Jiyeon dan Soo Jung kaget.

“Hem… aku tertarik padanya. Wae? Apa kalian juga tertarik padanya?” Tanya Chae Won.

“Aniya… geundae… banyak mahasiswi yang menyukainya tapi tak ada satupun yang diliriknya. Kasusnya hampir sama dengan Myungsoo hanya saja Minho lebih baik sih.” Jelas Soo Jung.

“Ahh.. begitu. Ya, Suzy saja bisa menaklukan Myungsoo jadi aku pasti bisa menaklukkan Minho. Lihat saja nanti.”

 

**

 

Minho mondar-mandir di kamar milik Myungsoo yang ditempati bersama Myungsoo sejak Myungsoo kembali ke rumahnya.

“Kau kenapa?” Tanya Myungsoo begitu keluar dari kamar mandi.

“Aku ingin pindah.”

“Mwo? Wae? Kau tidak nyaman sekamar denganku?”

“Aniya… Geundae. Aku kan ke sini untuk hidup mandiri, sudah cukup bagiku mengenal jalan-jalan di Seoul, jadi aku pasti bisa tinggal dengan baik meski hanya sendiri.”

“Ah… begitu. Arra. Tapi apa orangtuamu akan setuju?”

“Molla. Itu yang kukhawatirkan.”

“Bicaralah.”

“Ne, akan kubicarakan nanti. Gomawo.”

“Hem..”

 

**

 

“Apartment? Kau mau tinggal di apartment? Jinjja?” Tanya Suzy histeris.

“Ne, aku sudah pikirkan hal ini.”

“Lalu kau dapat uang darimana?”

“Appa dan eomma sudah memaafkanku. Mereka mau mengerti. Setidaknya untuk sementara ini aku bisa menetap di sini.”

“Jinjja. Jigeum… kita akan berpisah.” Lirih Suzy.

“Aniya… kau kan bisa mengunjungiku dan kita juga masih satu kampus.”

“Benar juga. Ne, akan kubantu kau merapikan apartmentmu.”

“Gomawo. Kuharap tidak terjadi yang sebaliknya.” Gumam Chae Won.

“Mwo?”

“Aniya…”

 

**

 

Nomor 099… Pintu apartment itu di buka oleh Chae Won dengan card-nya. Suzy yang ada di sampingnya tak berhenti tersenyum sumringah sambil membawa beberapa kantong belanjaan.

“Letakkan saja dulu di sana.” Ucap CHae Won sambil menunjuk meja ruang tv.

“Waah… ini bagus. Aku juga mau punya apartment sendiri.”

“Ck… haremoni pasti tidak akan mengijinkan ji-ah. Lagipula kalau kau yang tinggal sendiri, aku khawatir akan terjadi hal buruk.”

“Aniyo. Kan ada Myungie yang selalu menjagaku.”

“Maksudmu kau tinggal dengan Myungie-mu itu? Jinjja… Kau harus menikah dulu dengannya sebelum tinggal bersama. Kau ini!”

“Wae? Sebelumnya aku juga tinggal di apartment Myungie.”

“Itu kan tidak ketahuan dan tidak lama. Sudahlah jangan berpikir macam-macam. Temani haremoni. Dia kan selalu kesepian.”

“Arra… arra. Lama-lama cara bicaramu seperti Myungie. Menjengkelkan.”

“Geurae, kau bantu aku membongkar barang-barangku. Ppali!”

“Ne.. arra…”

 

**

 

Sementara itu…

“YA MINHO! Kau ini menyiksaku ya?” Pekik Myungsoo.

“Appa dan eommamu saja menyuruhmu untuk membantuku! Sudah lakukan saja. Kau geser sofanya ke sana dan letakkan mejanya di depan, arra?”

“Issh… dosa apa aku sampai punya sepupu sepertimu.”

Minho hanya terkekeh sambil melakukan kegiatan lain. Namun suara dering telpon Myungsoo menganggu kegiatan mereka.

“Yeoboseo…”

“…”

“Ne, aku dengan Minho sedang di apartment barunya. Kau sendiri?”

“…”

“Jinjja? Kebetulan sekali. Geurae kau lanjutkan membantunya. Apa perlu bantuanku juga? Kalian kan yeoja, pasti sulit memindahkan barang.”

“…”

“Mwo? Bisa begitu? Aissh… kenapa Minho tidak memintanya. Ne, nanti aku jemput. Berikan saja alamatnya ne. Annyeong.”

“Suzy?” Tanya Minho pada Myungsoo. Myungsoo mengangguk sekilas. “Ohh… geurae, lanjutkan pekerjaanmu!”

“YA! Kau tau kan ada jasa pengangkutan barang. Kenapa kau tak memintanya saja? Jinjja.. seharusnya aku kepikiran sampai sana.”

“Itu membuang uang. Kalau ada dua namja kan tidak masalah. Sudah jangan mengoceh terus. Bantu aku!”

 

**

 

Chae Won terlihat sibuk membereskan sayuran dan bahan makanan lain di dapur. Sementara Suzy hanya sibuk menonton tv sambil melahap cemilannya.

“YA BAE SUZY! Kau tidak bisa membantuku eoh?”

“Aku kan dari tadi sudah membantumu. Geundae… aku kalau lapar tak bisa berbuat apa-apa.”

Chae Won hanya menghela nafas berat. Diteruskannya pekerjaannya yang sempat tertunda karena menegur Suzy.

“Ah… aku telpon Myungie saja. Dia pasti belum makan malam, kita makan malam bersama ne? Kau belanja banyak kan?”

“Ck.. kau ini. Kau tidak membantu tapi malah menambah orang. Shirreo!”

“Ayolah… akan kusuruh Myungie mengajak Minho juga, otte?”

“Jinjja? Geurae… Lakukan!”

“Huh.. kalau membawa Minho saja kau semangat.”

 

**

 

“Nomor 099? Di apartment Blue Hils? Itu kan di sebelah, Myungsoo!” Pekik Minho.

“Moo? Jinjja… Aish kenapa kau tak bilang daritadi, aku kan jadi bisa menemui Suzy dan kabur dari sini.”

“Mwoya? Suzy? Dia di sebelah? Dengan siapa?”

“Kita cari tau saja sendiri. Kajja… aku sudah lapar.”

Myungsoo keluar dari kamar Minho dan bergegas ke kamar sebelah. Dia memencet bel berkali-kali sampai pintu terbuka. Minho sudah berdiri di sampingnya.

“MYUNGIE-YA!” Pekik Suzy lalu menghambur ke pelukan Myungsoo.

“Issh… jangan mengumbar kemesraan di depanku.” Desis Minho.

“Mian. Kajja masuk, Wonnie sudah menyiapkan makan malam yang lezat untuk kita.”

Suzy menarik tangan Myungsoo masuk. Sementara Minho masih terpaku di depan.

“Wonnie? Solma…”

“Aigoo Minho, kajja!” Suzy menarik tangan Minho untuk masuk dan mengunci pintu kamar.

Di ruang makan sudah ada empat orang yang duduk manis menyantap makanan di hadapan mereka. Tak berapa lama, semua piring yang berisi masakan telah kosong.

“Gomawo atas makanannya. Jinjja masshita…” Ucap Suzy.

“Cheonma Ji-ah, aku tau kau pecinta makanan.”

“Aissh… kau ini. Ah ya, Myungie, Minho, kalian tidak berterima kasih eoh?” Tegur Suzy.

“Hem… gomawo.” Ucap Myungsoo.

“Ne, Myungsoo-ah. Karena kau kekasih Suzy kuijinkan. Geundae… kau tak boleh menyebalkan padaku atau kapan-kapan akan kuracuni makananmu.” Ancam Chae Won.

“Kau menyeramkan. Arraseo. Kau itu sahabat yeojaku, aku tidak akan mengejekmu lagi.”

“Baguslah.. dan Minho-ya???” Tanya Chae Won sambil mencondongkan wajahnya pada Minho. Minho sedikit mundur.

“Hem.. ne.. go.. gomawo.”

“Hanya itu? Hey.. kita kan bertetangga sekarang.”

“Maksudmu apa?”

“Ayolah… harusnya kau bilang, kalau membutuhkan sesuatu kau bisa memanggilku. begitu.”

“Mwoya? Shirreo!”

“Ck.. namja ini. Geurae kita menonton film otte?” Usul Chae Won.

“Ne, kajja… Aku sudah lama tidak menonton bersamamu.” Jawab Suzy.

**

 

Pagi-pagi sekali Minho sudah bersiap menuju kampus. Saat dia membuka pintu kamarnya, dia menemukan sebuah tempat makan dan secarik kertas.

Annyeong, Minho-ya…

Aku tau kau ada kelas pagi hari ini, jadi kau harus sarapan dulu sebelum kuliah. Arraseo? Tidak baik meninggalkan rumah tanpa sarapan. Makanlah! Aku tidak meracunimu. Dan kujamin itu enak. Sampai bertemu di kampus.

  1. ..

“Mwoya? Yeoja itu…”

Minho hanya geleng-geleng kepala sekilas lalu memasukkan bekal itu ke tasnya dan mengunci pintu kamar.

 

**

 

“Tumben sekali kau makan bekal. Apa kau memanggil pembantu di apartmentmu?” Tanya Myungsoo saat melihat Minho memakan bekal di depannya.

“Ani. Dari tetangga.”

“Tetangga? Berarti Chae Won? Si gadis Lamborgini biru itu?”

Minho mengangguk sambil menyuapkan makanannya lalu tersenyum sekilas. Dia menikmati makan siangnya hari ini.

“Hei… sepertinya kau mulai jatuh hati padanya.” Cibir Myungsoo.

“Tidak juga. Sayang kan kalau bekal ini tidak kumakan. Lumayan bisa irit juga selagi aku mencari pekerjaan part time.”

“Kau mau part time? Untuk apa?”

“Mandiri.”

“Aissh… otakmu itu.”

Minho tak menggubris dan tetap melanjutkan makan siangnya. Tanpa dia tau bahwa ada sepasang mata yang memperhatikannya dari kejauhan.

“Kau senang?” Tanya Suzy pada Chae Won.

“Tentu. Aku yakin dia akan memakannya. Bukankah itu tandanya dia menyukaiku, Ji-ah?”

“Dia suka masakanmu, bukan dirimu.”

“Tetap saja. Setidaknya dia mulai menerima sesuatu dariku. Iya kan?”

“Hem… terserah dirimu sajalah.”

 

**

 

Chae Won berjalan ringan menuju parkiran. Hari ini dia sengaja menitipkan Lamborgini birunya pada Suzy sementara dia sudah menunggu di depan motor berwarna hitam milik Minho.

“Annyeong Minho-ya…” Sapanya begitu melihat Minho.

“Hem… Kau mau apa di depan motorku? Solma…”

“Ne, majayo. Kita kan bertetangga jadi boleh kan aku pulang bersamamu?”

“Mwo? Shirreo… Shirreo.”

“Ayolah… Tadi Suzy membawa mobilku. Katanya sedang darurat. Aku tidak tau lagi harus pulang dengan apa.”

“Kau bisa pulang naik bis atau taksi atau apapun kecuali denganku, arra?”

Minho menggeser tubuh Chae Won dan memakai helm-nya sendiri tanpa menghiraukan Chae Won. Chae Won menatap sedih Minho yang sudah menyalakan mesinnya dan meninggalkannya di sana.

“Hah… kau benar-benar tega. Semenyebalkannya Myungie itu dia tidak setega itu pada Suzy. Ya.. apa boleh buat. Aku akan naik bis saja dan jalan-jalan.”

Chae Won melangkahkan kakinya keluar kampus dan menuju halte. Seperti yang diduga, beberapa pasang mata hanya memandanginya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tapi dia tidak peduli dan tetap melangkah memasuki bis yang sudah dinaiki orang-orang.

 

**

 

Minho mondar mandir di dalam apartmentnya. Sesekali di lihatnya jam dinding di depan ruang tengah. Dia terlihat sangat cemas dan merasa bersalah.

“Hah… melelahkan berjalan seharian tanpa mobil. Ck… Bae Suzy awas saja kau!” Gerutu Chae Won di lorong apartment.

Gerutuan itu terdengar oleh Minho, dia segera berlari keluar apartment-nya dan melihat sosok yang membuatnya cemas itu tepat di depan apartment sebelah.

“YA!” Pekik Minho dan membuat Chae Won menoleh padanya.

“Minho-ya, kalau kau mau makan malam kau delivery saja ya, aku tidak kuat lagi untuk memasak. Kaki dan badanku benar-benar pegal semua.” Keluh Chae Won.

“Kau dari mana eoh? Jam segini baru pulang?”

“Na?” Tunjuk Chae Won pada dirinya. “Jalan-jalan. Sudah lama aku tidak ke Korea jadi aku jalan-jalan sebentar. Suzy selalu dengan kekasihnya itu jadi mana sempat menemaniku.” Jelasnya kemudian.

“Dengan bis atau taksi?” Tanya Minho lagi.

“Bis. Bukankah lebih menyenangkan dengan bis? Lagipula taksi tidak bisa menyarankanku ke tempat yang baik. Kalau bis, aku bisa bertanya pada banyak orang.”

“Dengan pakaian itu? Neo miccheoseo eoh?”

“Wae? Apa yang salah? Pakaian ini tidak norak kan? Ini bagus kan? Apa memang salah? Ah, harusnya aku mengenakan celana pendekku saja. Ckckck..”

“YA CHAE WON-SSI! Kau itu yeoja! Yang benar saja berkeliaran di luar sampai jam segini sendirian dengan pakaian seperti itu! Bagaimana kalau ada yang menggodamu atau…”

CUP… Chae Won mengecup singkat bibir Minho dan seketika Minho terpaku di tempat.

“Itu hadiah karena kau mengkhawatirkanku. Gomawo… Ah iya besok aku akan menunggumu untuk berangkat bersama. Aku tidak akan membuatmu khawatir lagi kan? Jaljja Minho-ya…”

Chae Won masuk ke apartmentnya dengan sangat senang. Dan Minho…

“Aissh… pabbo. Kenapa aku sekhawatir itu pada yeoja gila semacam dia? Ck…”

Apa perasaan Minho pada Chae Won akan berubah? Akankah dia menyukai yeoja itu? Atau sebaliknya?Apa yang akan terjadi selanjutnya pada kedua orang itu? See You at Next Part ^^

 

**To Be Continued**

20 responses to “My Lovely Bad Girl (Part 1)

  1. Pingback: My Lovely Bad Girl (Part 3) | FFindo·

  2. Kritik sedikit ne thor :3

    Pemilihan katanya lebih diperhatikan lagi
    juga penulisan kata bahasa koreanya juga lebih teliti lagi 🙂

    Tapi ide nya bagus kok thor
    cuma entah aku aja mungkin yang ngrasa ini alurnya kecepetan
    hehee

    Keep writing ne thor 🙂

  3. Pingback: My Lovely Bad Girl (Part 4 – Final Part) | FFindo·

  4. Pingback: My Lovely Bad Girl (Part 4 – Final Part) | FFindo·

  5. Wkwkwk..wonnie..nysor dl‘an..aigoo..minho mpe bngong..
    sprtiny minho mlai sdkt mnyukai y..np ngrsa khwatir gtu saat wonnie blm jg plng“..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s