THE BROTHERS [Part Five – Dating]

Annyeong, saya hadir membawa fanfic titipan dari Naomiree, happy reading~! Jangan lupa komentarnya 🙂 Thanks.

 Previous: Prologue | ONE | TWO | THREE | FOUR |

bro

TITLE : THE BROTHERS

LENGTH : CHAPTERED

GENRE : FAMILY, ROMANCE

RATING : PG – 13

AUTHOR : NAOMIREE @_nraesky

CAST

EXO COMPLETE MEMBER

LEE AHREUM

LEE YURIN

JESSICA JUNG

KIM TAEYEON

HAN DASOM

SEO JOO HYUN

CHOI SULLI

CHOI MINHO

 

DISCLAIMER : LEE AHREUM, YANG SEJAK DULU HANYA HIDUP SEBATANG KARA MENDADAK MEMILIKI 12 SAUDARA LAKI-LAKI DALAM HIDUPNYA……

 

Happy Reading–, sorry for typo ^^

 

PART FIVE

Dating??”

 

Ddrttt…drrrttt…

Suara bunyi getar pesan masuk di ponsel Yurin membangunkan gadis yang sedari tadi tertidur dalam posisi meringkuk di bawah ranjang kamarnya itu. Gadis itu menggosok kedua matanya perlahan, kemudian menjulurkan kepalanya keluar dari bawah tempat tidur lalu dengan gerakan cepat meraba seprei tempat tidur dengan tangan kirinya untuk mencari sebuah ponsel yang dari tadi terus mengeluarkan suara.

Dapat! Yurin mengerjapkan matanya begitu sudah berhasil menemukan benda segiempat itu ke dalam telapak tangannya , kemudian gadis itu mendekatkan ponsel berwarna putih itu ke depan wajahnya.

Sebuah Pesan masuk terpampang di layar ponsel gadis itu membuat Yurin segera membuka isi pesan seluler yang baru saja masuk di ponselnya.

From : Ahreumie~

Yurin-ah!! Eottohke, aku tidak bisa tidur!! Apa aku benar-benar harus pergi bersama Minho besok? Yurin-ah , bagaimana ini?”

 

Yurin mengernyitkan keningnya begitu membaca pesan yang ternyata berasal dari Ahreum. Ya ampun, gadis itu!

Ini sudah hampir jam 12 malam dan Ahreum masih mengiriminya pesan, mempersoalkan masalah kencan yang akan di lalui Ahreum bersama Choi Minho, anak kelas sebelah yang ternyata naksir pada sahabatnya satu itu. Sepertinya Ahreum benar-benar gelisah tidak menentu, besok adalah hari Minggu dan itu berarti Ahreum harus pergi bersama Minho dalam tanda kutip bisa diartikan sebagai “kencan” dan semua hal ini bersumber dari ide gila Yurin yang menyuruh Ahreum dan Minho pergi berdua ke Lotte World.

Gadis itu sedikit mendesah membaca pesan dari sahabatnya itu , kemudian jari jemari Yurin mulai beradu di layar touchscreen mengetikkan pesan balasan untuk Ahreum.

To : Ahreumie~

Sudahlah, santai saja. Bukankah sudah kubilang, jangan anggap itu sebagai kencan, anggap saja pergi berdua bersama kenalan baru. Apa anehnya sih? Lagipula nasi sudah jadi bubur, aku kan sudah terlanjur mengajaknya”

Yurin sedikit menguap saat ia menekan tombol Send pada layar ponselnya. Hanya perlu waktu 10 detik, pesan balasan dari Ahreum muncul lagi di layar ponsel gadis itu.

From : Ahreumie~

Tidak bisa! Tidak bisa! Ya! Ini semua kan ide mu! Karena kau yang punya ide seperti ini kau harus ikut dengan ku ke Lotte World besok. Titik. Aku tidak mau tau. Aku tidak bisa cuman jalan berdua dengannya TT^TT.”

Yurin tertawa membaca pesan Ahreum, bisa Yurin bayangkan ekspresi sahabatnya itu yang sedang gelisah tidak karuan di kamarnya, pasti lucu sekali. Ya~ Ahreum itu gadis yang Yurin tahu—amat teramat sangat polos. Jadi wajar jika gadis itu gelisah hanya karena masalah seperti ini. Yurin tahu kalau dia adalah biang dan akar dari permasalahan ‘kencan’ yang membuat sahabatnya, Ahreum gelisah tidak menentu hampir 3 hari belakangan ini. Dia adalah sang pencetus ide gila yang menawarkan agar Ahreum dan Minho menghabiskan waktu bersama minggu ini.

Entahlah , Yurin juga tidak tahu darimana ide dan tawaran seperti itu bisa muncul dari mulutnya, padahal Minho—si murid culun nomer satu itu baru saja mengakui perasaannya pada Ahreum dengan raut wajah merah semerah tomat saat itu. Yang jelas Yurin terlalu bersemangat mengetahui Ahreum, sahabatnya itu ternyata tengah disukai oleh seseorang, dan gejolak dalam hatinya langsung excited untuk ‘men-comblangkan’ Ahreum dengan si Choi Minho itu karena Yurin tahu Minho adalah murid yang pintar dan cerdas mesikpun penampilannya sangat cupu dan kuno.

 

Yurin selama hampir 2 tahun tidak memiliki seorang teman sekalipun semenjak ia memasuki Dangwon. Gadis itu bagaikan terisolasi dan menjauhkan diri dari orang-orang semenjak ia semakin sulit mengendalikan dirinya untuk tidak tertawa tanpa sebab di hadapan semuanya, dan sejak itu pula satu sekolahan men-capnya sebagai gadis gila. Selama hampir 2 tahun, gadis itu hanya duduk sendiri di bangkunya, sampai akhirnya seorang anak baru datang menjadi teman sebangkunya dan dengan tulus memintanya untuk berteman. Ahreum adalah teman pertamanya setelah 2 tahun tersulit dalam hidupnya, oleh karena itu wajar jika Yurin hanya ingin satu hal, yaitu melihat Ahreum bahagia. Dan siapa tahu kehadiran sebuah cinta akan membuat Ahreum—yang sebenarnya sudah bahagia sejak adopsinya—menjadi tambah bahagia? Ya, itulah pikiran Yurin sebenarnya.

To : Ahreumie~

Baiklah, aku tahu. aku juga akan ke Lotte World besok. Bagaimana pun ini semua rencanaku. Anyway~ kau tidak memberitahu EXO kan soal kau akan jalan bersama Minho besok?”

“From : Ahreumie~

Tidak, tidak. Seperti apa yang Sulli katakan, lebih baik Oppa’s tidak tahu soal surat cinta hingga kencan ini. Sepertinya mengerikan kalau mereka sampai tahu.Aku bilang bahwa aku akan pergi denganmu. Baiklah, aku mengantuk~ aku mau tidur~ sampai jumpa besok!”

“Ya ampun! Anak ini! Tadi dia bilang tidak bisa tidur -_-“ Yurin bergerutu setelah ia membaca pesan dari Ahreum. Sekarang justru ia rasanya yang tidak bisa kembali tidur, rasa mengantuknya sudah hilang sama sekali. Yurin akhirnya memilih bangkit hendak mengambil air putih yang berada di meja belajarnya sebelum berniat melanjutkan tidurnya kembali di bawah tempat tidur.

Jangan heran dengan hal itu, karena tidur di bawah kolong tempat tidur sudah menjadi kebiasaan gadis itu sejak 2 tahun belakangan ini, ah… tepatnya sejak peristiwa penculikan itu terjadi.

Entah mengapa gadis itu menjadi tidak bisa tidur di atas ranjang dengan kasur empuk dan selimut yang nyaman, ia justru bisa tertidur pulas jika kulitnya sudah menyentuh lantai dingin di bawah ranjangnya.

Yurin meraih gelas air putih itu dan meminumnya sedikit ketika sebelumya sudah menenggak pil-pil berwarna biru yang ia dapatkan di atas meja belajarnya. Pil-pil itu adalah pemberian dari Dokter Kyuhyun yang menyuruhnya mengkonsumsi obat itu secara teratur agar bisa memulihkan penyakit kejiwaannya, namun nyatanya Yurin tidak meminum pil itu setiap hari seperti apa yang Dr. Kyuhyun anjurkan, ia hanya meminum pil itu hanya disaat ia merasa perlu saja.

Pandangan gadis itu kemudian beralih ke arah rak-rak lemarinya, ada banyak macam benda disana. Mulai dari snack kacang polong yang belum dicicipinya, beberapa karet gelang, penggaris, hiasan berbentuk kerang, boneka kelinci putih yang selama ini di bawanya dan sebuah foto berbingkai putih yang berada paling sudut sana.

Yurin terdiam untuk beberapa saat, kemudian gadis itu mengarahkan tangannya untuk meraih foto itu dan mengamatinya secara perlahan.

Yurin merasakan ada genangan air mata berkumpul di matanya saat melihat kembali ke arah foto itu yang menampakkan dirinya sedang tersenyum penuh keceriaan dengan seragam SMP–nya sambil memeluk seorang lelaki yang lebih tinggi darinya , lelaki itu memakai pakaian olahraga , sama seperti Yurin , lelaki itu nampak tersenyum penuh kehangatan ke arah kamera. Sementara itu, di samping Yurin nampak seorang gadis berkepang dua dengan kacamata tebal dan rok diatas pinggang memegang tangan Yurin kemudian tersenyum canggung ke arah kamera. Ketiganya mengambil foto di lapangan sepak bola sekolah.

“Yonghwa oppa~” desah Yurin sambil mengamati satu-satunya lelaki di foto itu, tidak memperdulikan bulir demi bulir air mata yang mulai membasahi pipinya. Gadis itu kembali terbawa suasana, setiap mengenang kembali tentang sosok lelaki bernama Yonghwa itu entah mengapa dadanya terasa sangat sesak seperti di hujani seribu paku dan membuatnya seperti ingin mati saja.

 

Flashback

“Oppa…. Oppa….!!” Yurin , gadis itu berteriak tidak karuan berusaha memberontak agar 2 orang bertubuh besar dengan pakaian gelap yang memegangi tubuhnya itu melepaskannya, namun sekuat tenaga gadis itu berusaha bergerak,menendang dan berteriak, ia tetap tidak mampu melepaskan diri dari cengkraman dua orang yang memegangi lengannya.

“Oppa…. Oppa….” Sekali lagi Yurin berteriak dengan wajah yang sudah basah penuh genangan air mata menyaksikan seorang lelaki yang sedang di pukuli habis-habisan oleh beberapa lelaki bertubuh besar dan menyeramkan di depan matanya sendiri. Lelaki itu, Jung Yonghwa…

“Yurin-ah…” lelaki itu membuka suaranya dengan suara tertahan saat tubuhnya tersungkur begitu saja dengan hiasan penuh luka diwajahnya . Dia adalah lelaki yang kuat, tapi dia hanya seorang diri sementara tubuhnya dipukuli oleh sekitar 5 orang atau lebih, sekuat apapun ia berusaha melawan pada akhirnya ia tetap akan jatuh tersungkur seperti ini.

“Jangan! Jangan! Aku mohon….. jangan!” Yurin berteriak semakin histeris begitu ia melihat sosok Yonghwa di tendang begitu saja sehingga tubuh lelaki itu terlempar ke arah danau yang dingin di malam hari seperti ini. Satu hal yang Yurin ketahui dan itu membuatnya takut, Yonghwa… tidak bisa berenang.

“Aku mohon …. Jangan…. Lakukan itu….jangan!” Yurin benar-benar tidak tahan dengan semua ini, ia ingin berlari ke arah danau dan menyelamatkan lelaki itu namun tetap tidak bisa, karena dua orang di sampingnya tetap memegangi lengannya dengan erat. Ia benar-benar merasa ingin mati melihat tangan Yonghwa yang menggapai-gapai ke udara, berusaha meminta pertolongan, namun tidak ada satu pun yang menolongnya.

“Oppa… Yonghwa oppa!” Yurin berhasil melepaskan diri dari cengkraman dua orang yang sedari tadi terus memeganginya setelah gadis itu dengan sekuat tenaga melayangkan tendangannya dan dengan sukses mengenai bawah perut lelaki bertubuh besar itu, Yurin segera berlari menuju ke arah danau dengan sekuat tenaga meskipun rasanya kakinya sudah tidak memiliki kekuatan untuk berlari namun tiba-tiba….

DORRR!!!

Bunyi suara tembakan terdengar………..

Yurin mematung tidak melanjutkan langkahnya. Gadis itu merasakan tangannya bergetar dan ia menjatuhkan dirinya begitu saja menatap apa yang baru saja di lihatnya.

Tidak ada lagi suara jeritan Yonghwa yang memanggil namanya, tidak ada lagi tangan lelaki itu terambang ke atas danau meminta pertolongan.

Danau yang berada di depannya sekarang sudah berubah warna, warna merah yang menyayat hatinya…………

 

Flashback end

 

Yurin memegangi kepalanya begitu ingatan itu kembali berputar di dalam ingatannya. Tubuh gadis itu hampir saja limbung kalau saja ia tidak cepat meletakkan foto itu kembali dan berpegangan di meja belajarnya. Keringat dingin bercucuran mengenai dahi gadis itu.

Untuk beberapa saat gadis itu terdiam, namun akhirnya ia memilih keluar dari kamar dan mengontrol langkahnya menuju ke arah dapur hanya untuk mencari susu yang mungkin bisa membuatnya sedikit lebih tenang.

Namun langkah gadis itu terhenti di ruang makan begitu ia mendapati sesuatu yang mampu membuat darahnya naik hingga ke ubun-ubun, tubuh gadis itu menegang tanpa ia sadari.

Ia mendapati Ayahnya yang sedang makan malam di meja makan bersama seorang gadis di sampingnya dan gadis itu……… hanya mengenakan gaun tidur.

“Oh, kau terbangun?” ucap ayahnya santai, tidak memperdulikan ekspresi wajah Yurin yang sudah menegang 1000 kali lipat .

“Apa yang kalian lakukan? Kencan tengah malam, huh? Dan… kau… kenapa bisa disini?” Yurin mengarahkan pandangannya ke arah gadis yang duduk di samping ayahnya dengan pandangan sinis dan tidak suka, namun gadis itu hanya tersenyum manis sambil meletakkan sendoknya.

“Kau tidak mau ikut bergabung?” tanya gadis itu pelan, menatap Yurin seakan tidak terjadi apa-apa.

Yurin meremas piyamanya mendengar ucapan gadis itu, kemudian tak perlu menunggu waktu lama ia segera melangkah mendekati meja makan kemudian menyiramkan segelas air putih yang dari tadi berada di genggamannya kepada gadis itu.

“Apa maumu, Seohyun? Sebenarnya kenapa kau melakukan semua ini padaku? Setelah Yonghwa sekarang apa? Kau mau mengambil ayahku juga? Wanita murahan… tidak punya harga diri….. tidak punya…..” ucapan Yurin terhenti begitu sebuah tamparan mengenai pipinya. Gadis itu memegangi pipinya, sakit. Dan sekarang ia menatap sang pemilik tangan yang sudah memukul pipinya. Dan orang itu adalah… ayahnya.

“Appa….”

“Tidak bisakah kau berhenti bersikap seolah kau adalah gadis gila?” ucapan yang baru saja keluar dari mulut ayahnya itu terasa seperti dihujani sejuta batu antariksa. Yurin masih memegangi pipinya, bekas tamparan ayahnya masih terasa seakan tidak mau hilang.

Yurin tidak menjawab apapun. Gadis itu dengan serta merta membawa tubuhnya pergi dari ruangan itu….   tetap dengan posisi tangan memegangi sebelah pipi kirinya. Hatinya seperti di sayat sembilu. Yurin ingin menagis, namun lebih daripada itu ia terlalu terkejut. Ini pertama kalinya, ia…. Diperlakukan seperti ini oleh ayahnya.

Seohyun terdiam di tempatnya , tidak memperdulikan gaun tidurnya yang sudah basah kuyup akibat di siram air oleh Yurin barusan. Gadis itu menarik satu ujung bibirnya, tersenyum penuh kemenangan menyaksikan adegan yang baru saja di lihatnya. Terlalu senang melihat seorang Yurin ditampar oleh ayahnya sendiri.

 

 

***

 

“Yifan—ah, Yifan—ah,” seorang gadis kecil dengan rok biru itu berlari-lari kecil ke arah seorang anak lelaki yang sedang duduk berteduh sambil mendengarkan lagu di bawah pohon rindang yang sejuk di musim semi. Anak lelaki itu tersenyum tanpa ia sadari melihat gadis kecil itu menghampirinya.

“Yifan—ah, lihat apa yang baru saja aku dapatkan. Di hutan itu banyak sekali kupu-kupu, dan lihatlah… indah bukan?” gadis kecil itu berkata secara antusias sambil menunjukkan botol yang di berisi banyak kupu-kupu ke arah anak lelaki bernama Wu Yi Fan itu. Yi fan tidak peduli dengan botol kupu-kupu yang di tunjukkan gadis itu, lebih daripada itu ia lebih tertarik mengamati senyum senang penuh semangat yang terlihat di wajah gadis di depannya ini. Menurutnya senyum gadis itu lebih indah daripada kupu-kupu yang ditunjukkan gadis itu.

“Na Bi-ah… Lee Na Bi…. Ada apa dengan kakimu?” tanya Yifan membuka suaranya begitu mendapati lutut gadis kecil itu terlihat luka dengan beberapa goresan lecet dan darah yang nampak mengering. Gadis itu terdiam, menatap Yifan dengan tatapan polosnya.

“Bukan apa-apa, Yifan-ah” gadis itu mencoba untuk tertawa, namun Yifan terlalu jeli untuk melihat bahwa gadis di depannya ini sudah membohonginya.

“Na Bi—ah, apa yang sudah di lakukan anak-anak itu padamu? Apa mereka menyiksa mu lagi?” tanya Yifan, sorot mata khawatir sangat terlihat di wajah lelaki kecil itu.

“Ya, mereka menjegal kaki ku saat di sekolah tadi” ujar gadis bernama Na Bi itu memilih untuk jujur, karena ia tahu, ia tidak akan bisa berbohong di hadapan Yifan.

“Kenapa anak-anak sekolah reguler begitu bringas? Uh~ Na Bi-ah, andai kita satu sekolah pasti aku akan melindungimu dan tidak akan ada yang berani menganggumu lagi” ucap Yifan dengan nada cukup marah. Na Bi terkekeh mendengar ucapan lelaki itu.

“Sudahlah. Jangan dipikirkan. Aku sudah terbiasa dengan semua itu. Hey, Yifan—ah lagu apa yang sedang kau dengar?” Na Bi berusaha mengalihkan pembicaraan dan merebut earphone di telinga Yifan, gadis itu nampak sibuk mendengarkan lagu yang sedang Yifan putar.

Yifan terdiam, memilih untuk mengamati Na Bi dengan kedua matanya.

“Na Bi—ah, aku berjanji. Aku akan menikahi mu suatu saat nanti. Aku akan melindungimu untuk separuh hidupku” gumam Yifan menatap Na Bi dengan tatapan penuh kehangatan, namun sepertinya Na Bi terlalu sibuk dengan earphone di telinganya, ia tidak memperhatikan ucapan Yifan barusan.

.

.

Kemudian suara sirine ambulans terdengar , mobil ambulans itu melesat pergi meninggalkan sebuah bangunan tua yang sudah di kerubungi beberapa orang dan di pasangi garis pembatas polisi. Yifan berlari tertatih-tatih menghampiri sebuah kerubungan manusia, tidak memperdulikan peringatan polisi yang menyuruhnya untuk berhenti, Yifan tetap berlari menembus kerubungan itu demi untuk mencari sesuatu….. mencari keberadaan Na Bi yang ia tinggalkan begitu saja di bangunan tua itu demi mencari pertolongan.

“Kasihan sekali gadis kecil itu….”

“Dia sepertinya kehilangan banyak darah….”

“Lukanya sepertinya parah”

“Aku benar-benar mau muntah” terdengar beberapa orang berbisik-bisik tidak jelas.

Yifan berusaha meyakinkan dirinya, meyakinkan bahwa orang-orang ini tidak sedang membicarakan Na Bi. Mata anak lelaki itu tetap berusaha mencari keberadaan Na Bi, siapa tahu Na Bi berada diantara banyaknya orang-orang ini, menunggu dirinya.

“Nak, apa yang sedang kau lakukan?” seorang lelaki berseragam polisi datang menghampiri Yifan. Bersamaan dengan itu, Yifan melihat seorang lelaki dengan tangan di borgol sedang menatapnya dengan senyum mencurigakan memasuki mobil polisi. Baguslah, orang itu berhasil di tangkap, batin Yifan. Namun dimana Na Bi?

“Ahjussi~ apa kau melihat gadis kecil dengan rok bunga-bunga kuning? Rambutnya agak pendek dan tadi dia berada di bangunan itu…… Dia temanku, apa kau melihatnya?.” Tanya Yifan dengan panik.

“Nak, maafkan aku……. Aku tidak bisa menyelamatkan temanmu.” Ujar polisi itu dengan raut wajah bersalah.

“Apa maksudmu?” tanya Yifan dengan raut wajah menegang….

“Nak, pedofil itu menusuk temanmu. Ia menusuk perutnya dan temanmu itu kehilangan banyak darah.Denyut nadinya lemah saat di temukan tadi. Dia mungkin…… tidak terselamatkan. Aku menyesal mengatakannya,” ujar polisi itu, dan detik itu pula Yifan seperti merasakan petir mengenai tubuhnya. Tidak mungkin, Lee Na Bi…. Gadis itu… Demi dirinya…….. ..tidak mungkin……

 

“Lee Na Bi…. Na Bi… NA BI—AH!!!!” Kris secara spontan terbangun dari tidurnya dalam posisi setengah terduduk, lelaki itu mengerang begitu ia tersadar bahwa ia baru saja bermimpi buruk. Bermimpi tentang kejadian di masa kecilnya yang pada akhirnya membawa kembali perasaan bersalah pada diri Kris hingga sekarang.

Keringat dingin menghiasi dahi lelaki itu, layaknya seseorang yang habis bermimpi buruk, Kris tidak habis pikir bagaimana bisa ia kembali memimpikan sosok gadis itu. Sosok gadis kecil bernama… Lee Na Bi.

 

Tok~ Tok~ Tok~

Terdengar bunyi ketukan di depan kamar Kris membuat lelaki itu segera menyingkap selimutnya dan bangkit dari tempat tidur untuk membuka pintu.

“Ahreum?” ujar Kris begitu mendapati Ahreum tengah berdiri di depan kamarnya dengan hidung memerah dan rambut yang terbungkus handuk layaknya seseorang yang baru selesai keramas.

“Oppa~ boleh aku minta obat flu mu lagi? Sepertinya aku flu… berat” ujar gadis itu sambil menggosok hidungnya yang tambah memerah.

“Hn, tunggu sebentar” jawab Kris kemudian segera masuk kembali ke dalam kamarnya, membuka laci di dekat lemarinya kemudian mengambil beberapa kaplet obat flu dan pereda sakit kepala kemudian kembali ke arah pintu menyodorkan obat-obat itu ke arah Ahreum.

“Kau mandi sepagi ini?” tanya Kris begitu menyadari bahwa sepertinya Ahreum baru saja selesai mandi, terbukti dari rambut gadis itu yang basah tertutupi handuk dan aroma sabun lily pada tubuh gadis itu. Ahreum mengangguk dengan suara serak,

“Aku mau keluar hari ini” jawabnya.

“Kemana?” Kris kembali bertanya, seperti orang yang sangat ingin tahu.

Ahreum mengigit bibir bawahnya untuk beberapa saat,

“Itu… Itu… aku sudah bilang kepada yang lainnya. Hari ini aku mau jalan dengan Yurin” ujar Ahreum pada akhirnya, sama seperti jawaban yang ia lontarkan terhadap para kakaknya yang lain, ia tidak mengungkapkan bahwa ia akan pergi bersama Minho . Setidaknya ia tidak berbohong sepenuhnya kepada Kris, karena ia memang sudah memaksa Yurin untuk ikut dengannya hari ini.

“Tapi kau kelihatan tidak sehat hari ini. Kau yakin tetap mau pergi?” tanya Kris dengan nada setengah khawatir.

“Gwechana. Ini hanya flu biasa. Lagipula aku sudah janji” ujar Ahreum dengan suara seperti sedang menahan ingusnya.

“Hm, baiklah. Jaga dirimu” ujar Kris dengan suaranya tenangnya kembali. Ahreum mengangguk, sambil tersenyum polos menatap Kris sehingga membuat matanya sedikit menyipit.

“Maaf sudah merepotkanmu sepagi ini” ujar Ahreum kemudian melangkah kembali menuju kamarnya, namun baru 3 langkah berjalan gadis itu berhenti, kemudian membalikkan badannya menatap Kris –masih dengan tersenyum.

“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku…. Oppa…” ujar Ahreum tersenyum penuh ketulusan kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang hanya sekitar 8 langkah dari kamar Kris berada.

Kris terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar ucapan Ahreum barusan.

terima kasih karena sudah ada untukku, Yifan-ah” sebuah ucapan dari seseorang kembali berputar dalam ingatannya. Ucapan itu terucap dari bibir seseorang bernama Na Bi yang entah mengapa nada dan iramanya sama persis seperti seperti kalimat yang baru saja di ucapkan Ahreum tadi. Bukan hanya itu, ia masih mengingat persis bagaimana ekspresi Na Bi saat mengucapkan hal itu, meskipun itu sudah 10 tahun lamanya, ia masih mengingatnya dengan sangat jelas wajah Na Bi kala mengucapkan kalimat itu dan sekarang ia seperti melihat diri Na Bi dalam diri Ahreum saat gadis itu mengucapkan terima kasih padanya. Kris juga tidak tahu mengapa bisa, hanya saja… ia merasa seperti itu.

Kris menggelengkan kepalanya perlahan, berusaha untuk melupakan pikiran itu. Sebuah ketidak-mungkinan bahwa Ahreum dari Na Bi.

“Sadarlah Kris. Lupakan dia. Gadis itu…. Sudah lama mati” gumam Kris mencoba berbicara kepada dirinya sendiri.

 

***

“Aaaaaaaaaaa!!! Aku benar-benar pusing harus pakai apa!” Ahreum mengacak rambutnya frustasi sambil melihat isi lemarinya yang hanya berisi dress terusan, rok mini, hotpants yang di belikan ibu angkatnya. Well , masa iya dia harus memakai pakaian model seperti itu untuk pergi bersama Minho? Kalau boleh jujur, Ahreum bukanlah gadis yang terlalu feminim. Ia hanya terus memakai rok karena merasa Ibu angkatnya senang melihatnya memakai itu. Lebih tepatnya, Ahreum merupakan gadis sederhana yang menyukai penampilan casual dan santai.

“Ahreum-ah…tidak perlu pusing. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri.” Ujar Sulli yang turut membantu memilihkan pakaian pada gadis itu di kamar Ahreum.

Mendengar itu, Ahreum menepuk tangannya . “ Kau benar Sulli-ah. Ah, kau memang pintar!” Ahreum tersenyum girang kemudian menuju kebawah ranjangnya, menarik satu koper dari dalam sana. Koper itu berisi pakaian lama yang sengaja ia bawa dari panti asuhan, sayangnya selama ia di adopsi Ahreum tidak pernah kembali memakai baju-baju lamanya itu karena orang tua angkatnya sudah mengisi lemari bajunya penuh dengan pakaian ber-merk.

“Sudah lama sekali aku tidak memakai ini” Ahreum bergumam girang begitu ia mengeluarkan satu stel pakaian favoritnya berupa kaos berwarna merah, jeans berwarna biru , dan jaket bermotif leopard yang ia beli di pasar Dongdaemun dengan uang hasil tabungannya sendiri dari dalam kopernya.

Menyadari Ahreum yang terlihat senang membuat Sulli juga ikut tersenyum.

 

“Ahreum-ah, itu apa?” tanya Sulli sambil menunjuk ke arah perut Ahreum saat gadis itu tengah mengganti pakaiannya.

Mendengar itu Ahreum ikut mengarahkan pandangannya ke arah perutnya. Sebuah goresan mirip luka menghiasi perut gadis itu.

“Molla~ aku tidak tahu” jawab Ahreum jujur.

“Eh? Mana mungkin kau bisa tidak tahu? Itu terlihat seperti luka yang parah….. atau jangan-jangan kau pernah operasi usus buntu?” tanya Sulli heran.

Ahreum kelihatan berpikir, “ Tidak. Sepertinya aku tidak pernah terkena usus buntu. Sejak dulu , luka ini memang sudah ada. Tapi…. Aku tidak tahu ini kenapa” ujar Ahreum sambil mengamati perutnya.

“Yasudahlah, lupakan saja” ujar Sulli. Ahreum mengangguk, namun gadis itu seperti kelihatan sedang berpikir. Ia baru kepikiran, luka ini…. Dari mana asalnya??

 

 

***

 

Yurin sedang melamun di sebuah ruangan yang merupakan salon sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin rias, lebih tepatnya gadis itu kembali teringat terhadap apa yang sudah dilakukan ayahnya kepada dirinya semalam. Yurin menyentuh pipinya, masih terasa sakit. Untuk pertama kalinya ia di tampar oleh ayahnya sendiri. Namun lebih daripada pipinya yang memerah, hatinya lebih sakit melebihi apapun. Bahkan… ayahnya sendiri pun sudah menganggapnya gila.

“E …hem…” sebuah suara deheman terdengar, membuyarkan lamunan gadis itu sehingga Yurin refleks menatap lelaki yang tengah berdiri di sampingnya.

“Ba… bagaimana?” tanya lelaki itu menatap Yurin sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.

“Ya! Choi Minho?” Yurin segera bangkit dari kursinya , menatap lelaki di depannya ini dari atas rambut hingga ujung kaki. “Kau benar Choi Minho?” tanya Yurin memastikan. Lelaki itu mengangguk.

“Apa penampilanku aneh?” tanya Minho. Yurin menggeleng.

“Anniyo! Kau tampan sekali!” pekik Yurin sambil memutar tubuh Minho di depannya. Ya, sebenarnya pagi-pagi sekali Yurin mendatangi Minho di rumahnya dan dengan serta merta menculik (?) Minho yang masih setengah mengantuk lalu membawanya ke salon untuk me-make over lelaki itu. Dan sekarang lihatlah, tidak ada lagi Choi Minho si murid culun yang biasanya menjadi bahan tertawaan karena gayanya yang kuno. Apa yang Yurin lihat sekarang adalah Choi Minho yang sangat teramat keren dengan rambut di tata rapi, pakaian trendi dan soft lense berwarna hitam di mata lelaki itu setelah Yurin memintanya untuk melepas kacamata.

“Apa menurutmu Ahreum akan suka?” tanya Minho terkesan malu-malu. Yurin tersenyum sambil menepuk pundak lelaki itu, “ Tentu. Sudah kubilang kalau kau ternyata sangat keren! Kakkoi-desu! Hihihihihihihi” Yurin terkikik sendiri.

Kemudian Yurin segera meraih ponselnya untuk menelpon Ahreum,

“Ahreum-ah? Eodiga? Oke, oke, cepat ya. Aku tunggu” ucap Yurin dengan semangat kemudian memutus sambungan ponselnya.

“Minho-ah, kajja. Kita pergi” ujar Yurin semangat kemudian menggandeng Minho keluar dari salon.

 

 

***

 

Sementara itu , di waktu yang sama Sulli sedang mengepel lantai dalam keadaan lesu di kediaman rumah keluarga Choi seperti biasanya, bukannya ia tidak memiliki semangat tapi ia kepikiran soal Ahreum yang akan berkencan bersama Minho. Kenapa jadi justru ia yang kepikiran?

Jujur saja, Sulli menaruh perhatian kepada lelaki dari kelas sebelah itu selama hampir 3 bulan. Ya, dia menyukai Choi Minho. Tidak ada alasan khusus, Sulli hanya terpukau dengan kecerdasan Minho yang bisa di bilang sebagai salah satu murid jenius di Dangwon. Lebih jelasnya, Sulli langsung merasa tertarik kepada sosok Minho sejak ia melihat lelaki itu berhasil memenangkan olimpiade sains tahun ini. Awal-awalnya Sulli hanya merasa kagum, namun secara perlahan rasa kagum nya itu berubah menjadi perasaan suka.

Karena itulah, Sulli cukup kaget begitu mengetahui bahwa Minho menyukai gadis lain, dan gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatnya sendiri, Ahreum. Bahkan Minho sudah memberikan surat cinta dan mengatakan perasaannya kepada Ahreum, meskipun itu yaah~ atas paksaan Yurin. Namun tetap saja, orang yang Minho sukai bukan dirinya… tapi Ahreum. Sulli juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena Ahreum adalah sahabatnya. Ia lebih baik memendam perasaannya sendiri dan membiarkan Ahreum bahagia.

“Ya! Nona Sulli~ kau mengepel dalam keadaan melamun” Kai tiba-tiba membuka suaranya begitu tanpa sengaja kain pel Sulli sudah mendarat di atas kakinya. Namun tidak ada respon dari Sulli, gadis itu tetap melamun dengan raut wajah lesu.

“Sulli-ah, apa kau melihat Ahreum?” tanya Kai mendekat ke arah Sulli, “Aku tidak melihatnya dari tadi” lanjutnya.

Sulli menghela nafasnya berat,

“Bukankah dia sedang kencan bersama Minho” jawab Sulli masih dalam keadaan setengah melamun.

“APAAAAAAAAAAAAAAAA???????” Teriakan Kai barusan sukses membuat Sulli tersadar sepenuhnya dari alam khayalannya, Sulli sekarang memandangi Kai yang sudah membulatkan matanya terkejut.

“Ada apa tuan muda?”

“Hei, kau baru saja bilang Ahreum-ku kencan bersama siapa….? Minho?”

Sulli secara spontan menutup bibirnya, sadar bahwa ia baru saja bertindak ceroboh. Astaga.

 

***

 

Dan inilah akibat dari insiden Sulli yang keceplosan saat di rumah tadi dan sungguh sangat tidak beruntung di ketahui oleh Kai yang super duper histeris mengetahui Ahreum ternyata berkencan dengan Minho hari ini. Dan sekarang, inilah yang terjadi, ke dua belas EXO plus Sulli datang berbondong-bondong ke Lotte World setelah sebelumnya harus berkutat ngebut di jalanan dengan mengendarai van milik ayah angkat mereka yang di kendarai oleh Tao dan untungnya itu tidak berujung kepada kecelakaan.

“Cepat lebarkan mata kalian dan cari Ahreum di seluruh penjuru!” perintah Suho begitu mereka sudah sampai di Lotte World secara serempak. Yang lain menuruti perintah Suho, namun Kris justru menahan tawanya menyaksikan para saudaranya yang seperti kebakaran jenggot dalam situasi seperti ini. Sangat lucu rasanya.

“Itu… Itu Ahreum!” teriak Lay begitu ia menagkap sosok Ahreum yang sedang berjalan seorang diri memasuki sebuah toilet sambil memainkan ponselnya.

Ketiga belas manusia itu mendadak berhenti mengetahui Ahreum memasuki toilet dan memilih menunggu Ahreum saja sampai gadis itu keluar.

“Aishh…. Ini hampir 15 menit dan Ahreum belum juga keluar?” Kai mengacak rambutnya frustasi karena sedari tadi mereka terus menunggui Ahreum dari toilet itu namun gadis itu belum juga keluar.

“Sabar, Tuan muda. Sebentar lagi Ahreum pasti keluar” ujar Sulli berusaha menenangkan para tuan mudanya ini.

“Tapi ini sudah terlalu lama. Ahreum tidak sedang sakit perut kan?” ujar Chen

“Sudahlah. Tidak usah panik. Seperti apa kata Sulli, kita tunggu saja” Kris mencoba menenangkan para saudaranya. Yang lain pada akhirnya menuruti ucapan Kris.

Selang beberapa menit kemudian mereka melihat seorang gadis dengan jeans denim biru dan jaket leopard keluar dari toilet yang mereka yakini bahwa itu adalah Ahreum. Tanpa menunggu waktu lagi mereka langsung mengejar dan menghampiri gadis itu.

“Ya~ Lee Ahreum! Aku mendapatkanmu! Kau berbohong pada oppa, huh?” Kai dengan larinya yang cepat memeluk gadis itu dari arah belakang, namun lelaki itu justru terkejut ketika gadis itu malah mendorongnya dan betapa kagetnya mereka begitu mengetahui bahwa gadis yang sedang mereka hampiri bukanlah Ahreum… melainkan…

 

“LEE YURIN???” Ketiga belas manusia itu kompak berteriak, sementara Yurin tidak kalah kagetnya mengetahui EXO dan Sulli berada di sini.

“Yurin-ah? Kenapa jadi kau? Dan…. Kenapa kau memakai pakaian Ahreum?” tanya Sulli terkejut, tentu karena ia tahu persis bahwa baju yang sedang di pakai Yurin sekarang adalah baju yang sama dengan baju yang di pakai Ahreum saat meninggalkan rumah tadi.

Yurin tidak menjawab, bukan karena ia tidak ingin, tapi lebih kepada suhu tubuhnya yang mendadak menjadi panas dan membuat dirinya kembali tidak bisa di kontrol begitu melihat EXO secara tiba-tiba menghampirinya secara serempak seperti ini.

“Hihihihihihihihihihihihi…..aku bertemu kalian di sini. Kebetulan sekali. Hihihihihihihhihihihihihi~ lalalalalalalala~” EXO dan Sulli ternganga melihat Yurin cekikikan tidak jelas dan malah menyanyi entah lagu apa. Salah mereka juga karena secara tiba-tiba mengagetkan Yurin padahal sudah tahu kalau gadis itu suka mendadak ‘gila’ kalau secara tiba-tiba bertemu EXO seperti ini.

“Yurin-ah , sadarkan dirimu. Ya Tuhan, kau menyanyikan lagu apa?” Sehun menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu namun tetap saja Yurin terus tertawa sambil menyanyikan lagu aneh yang err… terdengar menyeramkan karena suara Yurin yang lumayan horor saat menyanyikannya.

Dan detik berikutnya, secara mengejutkan Yurin menghentikan tawa dan nyanyian anehnya sehingga yang lain berpikir bahwa gadis itu sudah kembali dalam keadaan ‘normal’ dan mereka bisa menanyakan perihal masalah Ahreum pada gadis itu. Namun sungguh di luar dugaan, Yurin malah menangis tanpa sebab dan melempari EXO dengan benda apa saja yang berada di dalam tas tangannya.

“EXO sialan! Aku membenci kalian! Dasar kumpulan manusia sok tampan! Sialan! Hiks, hiks, hiks” Yurin menangis dan melempar semua isi tas nya ke arah EXO tanpa ampun, lalu gadis itu kembali tertawa,

“Hihihihihihihihi… apa itu sakit? Astaga. Aku baru saja melukai kalian. Mianhae. Hihihihihihihi”

“Aissshhhh… gadis ini benar-benar tidak waras” ringis Kai begitu sebuah celana dalam yang berasal dari dalam tas Yurin sukses mendarat di atas kepalanya.

“Hyung, sekarang bagaimana?” tanya Sehun khawatir karena sekarang mereka semua sudah menjadi pusat perhatian para pengunjung atas ulah Yurin barusan. Bahkan kehadiran Sulli yang berusaha menenangkan gadis itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Kai mendecakkan bibirnya kemudian segera berlari ke arah Yurin dan tanpa babibu langsung menggendong gadis itu lalu kabur entah kemana.

“Ya! Hyung! Kalian mau kemana?” Sehun membulatkan matanya begitu Kai sudah berlari sambil menggendong Yurin yang masih sibuk tertawa dan menyanyi di bahu Kai.

“Ya ampun. Kenapa sekarang jadi ribet begini sih?” Baekhyun mengerutkan dahinya menyaksikan apa yang sudah terjadi.

“Ya ampun, sekarang bagaimana dengan Ahreum?” sungut DO dan Chanyeol.

“Sudah, sudah. Lebih baik sekarang kita berpencar mencari Ahreum” ujar Suho memberikan solusi. Yang lainnya mengangguk setuju, kemudian sekarang mereka berpencar ke segala arah mencari Ahreum.

.

.

.

.

 

Ahreum kini berjalan beriringan bersama Minho mengelilingi Lotte World yang sedang dalam suasana ramai pengunjung karena ini adalah hari minggu. Ahreum sekarang tidak mengenakan kaos merah dan jeans nya lagi karena saat ia bertemu Yurin di toilet tadi gadis itu meminta Ahreum untuk bertukar pakaian dengannya.

 

Flashback

“Ya! Ahreumie, apa yang kau pakai ini?” tanya Yurin begitu Ahreum baru memasuki toilet dan mendapati Yurin sedang mencuci tangannya di wastafel.

“Wae? Apakah…aneh?” tanya Ahreum sambil memperhatikan kembali pakaian yang sedang di kenakannya.

“Tidak, hanya saja… ya… terlalu kelihatan santai” jawab Yurin.

“Bukankah sudah ku bilang, ini bukan kencan. Jadi wajar saja kalau aku hanya memakai kaos dan jeans” sungut Ahreum.

“Ya , meskipun begitu kau kan akan berjalan bersama pria. Sepertinya dress yang ku pakai ini lebih cocok untukmu” ide Yurin tiba-tiba muncul saat ia melihat pantulan dirinya di cermin yang mengenakan dress selutut berwarna biru.

“Yurin—ah..”

“Hehe~ Ahreum-ah, ayo berganti pakaian. Aku yang akan memakai bajumu dan kau akan memakai dress ini” Yurin menepuk tangannya lalu menyeret Ahreum untuk memasuki salah satu bilik ruang ganti.

“Ya! Yurin-ah, tapi kan….”

“Sudah kau turuti saja apa kataku”

 

Flashback end

Jadi begitulah kronologisnya mengapa Yurin yang justru memakai pakaian Ahreum dan Ahreum yang sekarang memakai dress Yurin. Oh, sungguh , Ahreum benar-benar tidak mengerti bagaimana jalan berpikir sahabatnya satu itu.

Dan sekarang ia berjalan berdampingan bersama Minho dalam suasana yang bisa di katakan sangat amat teramat canggung. Well, dari tadi mereka berdua hanya terus berjalan sambil berdiam diri. Ahreum sempat memuji penampilan baru Minho yang merupakan hasil make over dari Yurin, karena memang Minho terlihat sangat keren hari ini, sangat berbeda dengan penampilannya di sekolah, namun setelah itu keduanya sibuk dalam pikiran masing-masing seakan tidak mempunyai topik pembicaraan.

Sebenarnya Ahreum menyuruh Yurin untuk ikut bersamanya sehingga dia tidak perlu berduaan dengan Minho seperti ini, tapi dasar Yurin ia malah menyuruh Ahreum untuk pergi menemui Minho duluan dan malah berpura-pura sakit perut. Ya ampun, Ahreum tahu kalau Yurin sama sekali tidak sakit perut.

“Ahreum-ah…” Minho tiba-tiba membuka suaranya setelah cukup lama berdiam diri dan tidak tahu harus bicara apa.

“Ne?” respon Ahreum seakan baru saja tersadar dari lamunannya.

“Kau mau naik permainan apa?” tanya Minho mencoba mencairkan suasana dengan memasang senyum nya.

“Naik apa saja. Terserah kau.” Jawab Ahreum sekenanya.

“Begitu ya” Ahreum menganggukkan kepalanya. Dan bisa di tebak apa yang terjadi selanjutnya, suasana canggung kembali menyelimuti keduanya.

 

***

“Bagaimana..? Apakah… kau sudah kembali seperti semula?” tanya Kai hati-hati begitu ia dan Yurin sekarang sudah berada di dekat area pusat perbelanjaan Lotte. Kai dengan sabar menepuk-nepuk punggung Yurin yang nampak kesusahan menelan air mineral yang sempat di belikan Kai untuknya.

“Hm, terima … kasih..” sungut Yurin sambil melap bibir nya yang basah dengan tangannya, kemudian menyodorkan kembali botol air mineral itu kepada Kai.

“Wah, rupanya setelah hampir 30 menit terus tertawa seperti orang gila dan bernyanyi lagu aneh kau sepertinya sangat kehausan, ya. Hahaha~” Kai mau tidak mau tertawa kecil melihat botol air di tangannya yang sudah kosong melompong karena Yurin meneguk habis semua isinya dan lelaki itu kembali membayangkan adegan saat ia berlari sambil menggendong Yurin yang terus cekikikan dan entah mengatakan apa, gadis itu lebih tepatnya seperti orang yang sedang mengigau. Butuh waktu kira-kira setengah jam bagi Kai untuk membuat gadis ini bisa ‘kembali sadar’.

Tawa Kai tiba-tiba hilang begitu ia menatap Yurin disampingnya, gadis itu hanya terdiam di posisinya dengan sorot mata kosong yang—entahlah—Kai tidak bisa mengartikannya.

“Kau juga menganggapku gila.” Ujar gadis itu pelan .

“Hey~ aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja…” Kai terlihat gelagapan, ia menyesali ucapannya barusan yang mungkin sudah menyinggung perasaan Yurin tanpa di sadarinya.

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa jika kau berpikir seperti itu.” Ujar Yurin memotong ucapan Kai.

Kai terdiam. Tiba-tiba saja ia merasa bersalah kepada gadis di sampingnya ini.

Namun seketika ia kembali teringat dengan Ahreum. Ya, tujuan sebenarnya ia membawa lari Yurin tentu saja untuk mengetahui dimana Ahreum sedang berkencan dengan Minho-Minho itu. Ya ampun, Kai tidak akan pernah membiarkan Ahreum kencan dengan lelaki manapun.

“Hey, katakan padaku. Dimana Ahreum? Dia tidak boleh berkencan dengan siapa itu namanya…..? Choi… Minho? Tidak! Tidak! Aku harus segera menemui Ahreum” ujar Kai secara tiba-tiba, ia menjegat lengan Yurin yang sudah akan melangkah meninggalkan lelaki itu.

“Kenapa sepertinya kau panik sekali? Memangnya kenapa kalau Ahreum berkencan?” tanya Yurin dengan tatapan penuh selidik kepada Kai.

“Tentu saja karena Ahreum adalah adikku. Aku tidak ingin melihatnya terluka!” seru Kai terlihat sedikit agak tidak yakin dengan ucapannya.

Yurin menggelengkan kepalanya perlahan,

“Kurasa kau merasakan sesuatu yang lebih.” Ujar Yurin datar. Kai mengendikkan bahunya,

“Apa maksudmu?”

“Kau… menyukai Ahreum?” lanjut Yurin, membalikkan pertanyaannya menatap Kai dengan tatapan menyelidiki.

Kai tersentak begitu baru saja mendengar ucapan Yurin. Lelaki itu nampak gelagapan untuk beberapa saat, namun ia memilih untuk kembali menentang ucapan gadis itu.

“Apa maksudmu Lee Yurin? Ma… mana mungkin? Ahreum adalah adikku! Sudahlah, sepertinya kau masih belum sepenuhnya sadar. Lebih baik kau ikut bersama ku mencari Ahreum!” ujar Kai dengan nada terburu-buru kemudian menarik tangan Yurin agar gadis itu menuruti langkahnya.

Yurin terdiam, menatap Kai dengan tatapan yang sulit diartikan. Untuk beberapa saat ia tidak begitu yakin dengan asumsi nya bahwa Kai mungkin menyukai Ahreum. Namun saat mendengar ucapan Kai barusan ia sudah mengerti sepenuhnya.

“Jadi, begitu ya” gumam Yurin di dalam hatinya.

 

***

 

Sementara itu Luhan, Baekhyun, Chen dan Lay berjalan memutari sekitar stan tempat bermain anak-anak. Mereka nampak masih sibuk untuk mencari Ahreum sesuai dengan komando kakak tertua mereka, Suho yang menyuruh agar para EXO bisa segera menemukan Ahreum secepatnya. Namun seperti yang kita tahu, Lotte World bukanlah tempat yang kecil nan sempit jadi sepertinya cukup sulit untuk menemukan 2 manusia itu, Ahreum dan Minho.

“Ya! Kenapa kita jadi justru terdampar di tempat penuh bocah seperti ini sih?” celetuk Baekhyun yang mendadak pusing melihat gerombolan anak-anak berusia 3-10 tahun di tempat ini.

“Benar, Ahreum tidak mungkin berada di sini” sungut Luhan sambil mendengus, kemudian ia mulai menatap Chen sebal karena Chen—lah yang mengajak mereka untuk mencari Ahreum di tempat seperti ini.

“Wae? Aku hanya menuruti insting ku. Siapa tahu Minho mengajak Ahreum main kuda-kudaan disini? Siapa yang tahu bukan?” Chen berusaha membela dirinya.

“Well, seharusnya aku tahu instingmu tidak akan pernah benar” ujar Luhan dengan nada meremehkan.

“Benar. Sekarang kita berada di tempat yang bising, menjijikkan, penuh bocah ingusan seperti ini. Menjengkel………” Baekhyun tidak melanjutkan ucapannya, matanya kini sudah menangkap seseorang yang justru kini tengah berjalan ke arah mereka. Seorang wanita berambut pendek sebahu dengan blazer putih dan rok sepan di bawah lutut yang sedang membawa satu bungkus permen kapas di tangannya , bersama seorang gadis kecil berpita merah yang berada di genggaman tangannya.

“Oh, Taeyeon Seongsaenim” Luhan adalah yang pertama kali menyapa wanita itu, sang wanita—yang tidak lain adalah Taeyeon menghentikan langkahnya sejenak kemudian menatap 4 orang pemuda yang sekarang sudah berdiri di hadapannya.

“Oh~~, kalian” respon wanita itu sambil tersenyum.

“Apa kabar, Saenim” ujar Lay dengan sopan membungkukan badannya memberi salam, diikuti Luhan dan Chen yang turut memberikan bow degree kepada wanita itu sebagai suatu penghormatan bisa bertemu guru sastra mereka, hanya saja ada yang ganjil. Ya, Baekhyun tidak memberikan hormat kepada wanita itu, lelaki itu justru terdiam di tempatnya menatap Taeyeon dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti.

“Hey, apa yang kau lakukan. Cepat menunduk memberi hormat” perintah Lay begitu menyadari Baekhyun tidak menundukkan tubuhnya.

Baekhyun mendengus mendengar ucapan Lay, dan dengan gaya terpaksa ia menundukkan tubuhnya , lalu berkata

“Apa kabar Seongsaenim”.

“Seongsaenim, apa yang saenim lakukan disini?” tanya Chen entah dengan nada ingin tahu atau sekedar berbasa-basi.

“Hanya sekedar refreshing. Besok senin harus bertemu dengan sekolah lagi, aku hanya ingin membuat diriku relax sebentar, sekaligus membuat Hyeri senang” jawab Taeyeon sambil menatap gadis kecil di sampingnya dengan senyuman.

“Keponakan saenim ya?” tanya Luhan ikut mengedarkan pandangannya ke arah gadis kecil itu , sedikit melambaikan tangannya untuk menyapa sang gadis kecil bernama Hyeri itu.

Taeyeon hanya merespon ucapan Luhan dengan sebuah senyuman.

“Maaf sekali seongsaenim, kami harus pergi. Senang bisa bertemu saenim disini” ujar Lay kemudian memberikan kode kepada Luhan , Baekhyun dan Chen untuk kembali mencari Ahreum.

Ketiga lelaki itu sudah berlari menuju ke arah pintu keluar tempat permainan anak dan tanpa mereka sadari bahwa Baekhyun tidak mengikuti arah saudara-saudaranya itu. Lelaki itu justru menyusul langkah Taeyeon yang sudah mengarah menuju pintu keluar dan mulai menahan lengan wanita itu.

“Apa kau menerima sms ku?” tanya Baekhyun dengan nafas terengah begitu ia sudah berhasil menahan lengan Taeyeon membuat langkah wanita itu terhenti.

Taeyeon mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Baekhyun.

“Apa kau menerima bunga kiriman ku?” tanya Baekhyun lagi, dan seperti yang tadi Taeyeon hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.

“Tapi kenapa kau belum merespon perasaanku?” pertanyaan Baekhyun selanjutnya terdengar seperti sebuah nada kefrustasian dan penuh tuntutan.

“Perasaan? Perasaan apa?” tanya Taeyeon kembali bertanya.

“Ya! Kau adalah guru sastra dan aku sudah mengirimu hampir puluhan pesan puisi dan kau masih belum mengerti?” tanya Baekhyun lagi-lagi dengan nada frustasi, tidak ada nada formal sedikit pun dalam ucapannya meskipun wanita yang sedang berdiri di depannya sekarang adalah gurunya sendiri.

“Pesanmu itu……. Aku pikir kau sedang melatih kemampuan tata bahasa dan kebahasaan mu. Puisi-puisi yang kau kirim bagus. Mungkin kau bisa dapat nilai 90 di semester ini. Terus tingkatkan itu, muridku.” Ujar Taeyeon terdengar santai.

“Tidak bisakah kau tidak memandang ku sebagai muridmu? Setidaknya di saat seperti ini” ringis Baekhyun mendengar ucapan Taeyeon barusan, itu bukanlah jawaban yang ingin ia dengar.

“Dan untuk bunga yang kau kirimkan itu…. Sangat cantik. Aku berpikir betapa cantiknya mawar itu sampai-sampai aku tidak sadar sudah terkena durinya. Dan akhirnya… aku memberikan bunga itu pada orang lain” lanjut Taeyeon, seakan tidak memperdulikan ucapan Baekhyun barusan.

“Ya! Kim Tae yeon ! Apakah kau benar-benar masih belum mengerti?” nada seruan Baekhyun akhirnya terdengar, tidak peduli bahwa wanita di depannya ini adalah guru nya atau bukan.

“Eomma~ aku lapar. Aku ingin burger” gadis kecil yang berada di sisi Taeyeon tiba-tiba membuka suara, mulai menarik-narik ujung blazer wanita itu lalu menunjuk ke arah sebuah tempat makan fast food yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.

“Eomma?” kening Baekhyun mengernyit mendengar ucapan gadis kecil itu, ia menatap Taeyeon dengan tatapan heran.

Taeyeon tersenyum simpul kemudian mengangkat tubuh Hyeri ke dalam gendongannya.

“Kenalkan Hyeri—ah, ini murid eomma. Baekhyun Oppa.” Ujar Taeyeon dengan santainya, tidak memperdulikan raut wajah Baekhyun yang sudah seperti orang yang terkena serangan jantung.

“Eomma?” ulangnya, hanya untuk memastikan.

“Nae, Baekhyun—ah. Ini putriku, Kim Hyeri” ujar Taeyeon dengan senangnya , sementara Baekhyun ibarat kaca yang sudah dilempari batu pualam, dirinya pecah saat itu juga.

 

 

***

Di lain pihak, Kris sedang berjalan seorang diri, sama seperti yang lainnya , niatnya datang ke Lotte World tentu saja untuk mencari Ahreum . Namun lelaki bertubuh tinggi itu lebih memilih untuk berjalan seorang diri daripada harus bergabung dengan kelompok Luhan, Baekhyun, Lay, dan Chen yang terlalu berisik atau dengan kelompok Suho, Chanyeol, Tao, Xiumin, DO, dan Sulli yang terlalu histeris menarik perhatian pengunjung yang lain. Sementara Sehun sudah entah pergi kemana, mungkin ia sedang menyusul Kai yang kabur membawa lari Yurin tadi.

Sudah hampir beberapa puluh menit lelaki itu berjalan, namun sama seperti yang lainnya, ia masih juga belum menemukan sosok Ahreum . Ya, mungkin karena Kris kelihatan terlalu santai dalam mencari gadis itu, di tambah lagi banyak fans nya yang berada di tempat ramai seperti ini membuat Kris mau tidak mau cukup kerepotan dalam menemukan Ahreum dan harus menutupi kepalanya dengan hoodie warna biru yang di kenakannya.

Langkah lelaki itu pun terhenti di dekat toko yang menjual aneka boneka berukuran besar. Boneka yang di pajang di sana sangat cantik dan lucu-lucu, tidak salah jika banyak pelanggan yang menghampiri toko tersebut. Namun bola mata Kris akhirnya tertuju kepada boneka beruang berwarna peach besar yang terpajang di dalam kaca toko itu. Melihat boneka beruang, otomatis membuat Kris kembali teringat akan sesuatu, sesuatu di masa lalunya….

 

Flashback

“Selain kupu-kupu, apa yang paling kau sukai di dunia ini, Na Bi—ah?” sosok Kris kecil yang akrab di panggil—Yifan—kala itu sedang menjatuhkan kepalanya di paha seorang gadis kecil yang sedang sibuk melahap beberapa keripik kentang di tangannya. 2 anak kecil itu sedang terduduk di sebuah bangku taman kota yang sedang sepi.

“Hm…. Apa ya?” Na Bi –gadis kecil—itu kelihatan sedang berpikir, kemudian ia menjentikkan jarinya seakan sudah tahu apa jawaban dari pertanyaan Yifan barusan.

“Teddy Bear” jawab gadis itu dengan suara imutnya.

Yi fan mengerutkan keningnya,

“Bukan aku , huh?” tanya anak lelaki itu nampak kecewa.

Na Bi terkikik, menampakkan gigi-gigi nya yang bolong di depan.

“Kupu – kupu itu indah, Teddy Bear itu lucu, dan Yifan selanjutnya…. Adalah….”

“Adalah apa?” Yifan tiba-tiba bangkit dari duduknya dan memperbaiki posisi duduknya, menatap Na Bi dengan tidak sabaran.

“Adalah…… malaikat pelindungku. Benar bukan?” lanjut gadis itu, kemudian kembali melahap keripik kentangnya, tidak memperdulikan senyum Yifan yang sudah mengembang.

“Dan kau adalah…. Malaikat penyemangatku… Lee Na Bi” gumam Yifan dalam hatinya dan sekarang mulai merebut keripik kentang di tangan gadis kecil itu.

 

Flashback end

 

Kris terdiam cukup lama, memandangi toko itu dengan pikirannya yang kembali mengambang ke masa lalunya. Lelaki itu sudah berjanji kepada dirinya sendiri agar tidak kembali mengingat hal-hal yang ada hubungannya dengan Na Bi namun melakukan hal itu sama sekali tidak mudah. Secara tidak langsung dan tanpa di sadari pikirannya selalu membawanya untuk mengingat gadis kecil itu.

Kris mengatur nafasnya sepelan mungkin, mengalihkan pandangannya dari arah toko itu dan mencoba untuk me-restart kembali pikirannya.

Mendadak ia kembali teringat soal Ahreum. Apakah salah satu EXO sudah berhasil menemukannya?

Saat lelaki itu mencoba untuk melangkah, ia menangkap sosok Ahreum yang sedang berdiri di antara banyaknya pengunjung lain bersama seorang lelaki dengan jaket merah yang bisa ia tebak bahwa lelaki itu adalah Minho.

Tapi tunggu…. Kenapa Ahreum terlihat sedang memejamkan matanya? Dan kenapa Minho itu justru mendekatkan wajahnya kepada Ahreum. Apa jangan-jangan…. Mereka mau berciuman?

.

.

.

.

.

Ahreum dan Minho masih berjalan beriringan dalam diam, sama seperti tadi. Minho kelihatannya ingin mengajak gadis itu bicara, namun pada akhirnya lelaki itu tidak sanggup membuka mulutnya.

Ya, meskipun penampilan Minho sekarang amat teramat keren ala-ala aktor hallyu dan member boyband, namun tetap saja lelaki itu adalah seseorang yang agak-agak culun dalam situasi seperti ini. Sementara Ahreum, gadis itu lebih memusatkan perhatiannya memandangi beberapa keadaan sekitar karena sudah cukup lama baginya tidak mengunjungi Lotte World. Terakhir kali ia mengunjungi tempat ini adalah saat gadis itu duduk di bangku kelas satu sekolah menengah. Saat itu panti asuhan tempatnya tinggal mendapatkan donasi yang cukup lumayan sehingga Ibu Kepala mengajak semua penghuni panti untuk liburan ke sini.

Langkah Ahreum mendadak terhenti, gadis itu nampak menggosok mata sebelah kiri nya dan mau tidak mau membuat Minho turut menghentikan langkahnya pula.

“Ahreum—ah, ada apa?” tanya Minho sambil menatap Ahreum yang masih menggosok-gosokkan matanya.

“Entahlah, sepertinya… mataku terkena debu” jawab Ahreum sambil menyipitkan matanya.

Well, sepertinya saat-saat romantis yang dari tadi di harapkan Minho datang juga. Lelaki itu segera sadar untuk memanfaatkan keadaan, Minho memegang bahu Ahreum meskipun masih dalam suasana yang canggung dan ya ampun… tangan Minho bergetar tanpa ia sadari -_-.

Minho mencoba membantu Ahreum untuk menghilangkan debu di mata gadis itu, lelaki itu mencoba untuk meniup mata kiri gadis itu. Namun lebih dari itu, Minho tertarik dengan menatap bibir kemerahan Ahreum yang terbalut lipgloss glossy beraroma cherry. Ya ampun, Minho tidak bisa untuk tidak menahan godaan (?) ini, meskipun ia cupu nan culun tapi Choi Minho tetaplah lelaki normal berdarah panas dan situasi di perkuat bahwa ia menyukai Ahreum sejak insiden tangkap menangkap (?) kodok itu.

Minho justru mendekatkan wajahnya kepada Ahreum. I a mencoba untuk…. Mencium bibir kecil gadis itu. Karena situasi dan kondisi seperti ini mungkin tidak akan terjadi dua kali….. Minho memantapkan dirinya untuk mencium gadis itu, sedikit lagi Choi Minho…. Mungkin kencan ini akan benar-benar berakhir sebagai kencan atau mungkin…..

 

“Hey, bro…” sebuah suara kemudian terdengar, bersamaan dengan sebuah tangan yang secara mendadak menyentuh pundak lelaki itu membuat Minho mau tidak mau tersentak dan membuka matanya yang sedari tadi terpejam dan berbalik mendapati seorang lelaki berhoodie biru yang sedang menyapanya sambil tersenyum misterius , lelaki itu adalah…. Kris. Tubuh Minho menegang mau tidak mau begitu mengetahui bahwa Kris sedang menyapa mereka.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Kris yang sekarang sedang menatap Ahreum yang masih sibuk menggosok matanya karena rupanya mata gadis itu masih kelilipan.

“Errr……. Aku mau ke toilet dulu” Minho tiba-tiba merasa ia ingin pipis saat itu juga melihat senyum Kris yang nampaknya cukup mengintimidasinya, lelaki itu malah kabur lari terbirit entah kemana

“Eh? Oppa?” sungut Ahreum begitu ia merasa kenal dengan suara lelaki yang tiba-tiba nimbrung diantara dirinya dan Minho.

“Hn, Ahreum—ah, kau tidak apa-apa?” Kris menghampiri Ahreum yang matanya sedang terpejam, khawatir dengan gadis itu.

“Anniyo Oppa~~, hanya saja mataku… agak sedikit kemasukan debu” jawab Ahreum dengan suara seraknya mengingat gadis itu sedang flu.

Mendengar itu membuat Kris menyimpulkan sudut bibirnya, kemudian lelaki itu membungkukkan sedikit tubuhnya yang tinggi menjulang , mensejajarkan wajahnya kepada Ahreum dan meniup mata gadis itu perlahan.

Ahreum merasakan ada semilir angin menyentuh mata nya , dan ajaibnya semilir itu berhasil membuat debu di matanya hilang seketika. Ahreum mengerjapkan matanya perlahan , dan sekarang ia bisa melihat Kris sedang berdiri di depannya.

“Hehe, Oppa~~, gumawo” ujar Ahreum sambil sedikit menarik ingusnya membuat Kris terkekeh melihat ekspresi gadis itu yang nampaknya flu berat.

“Hn, kau berbohong kepada kami. Kau memaksakan dirimu yang sedang flu berat ini untuk pergi bersama Minho-Minho itu, huh?” sungut Kris membuat Ahreum segera menggigit bawah bibir nya, merasa bahwa sepertinya ia sudah ketahuan. Tapi bagaimana bisa? Dan bagaimana bisa Kris justru berada di sini? Apa para Oppa—nya yang lain juga sudah tahu?

“Oppa~ aku tidak bermaksud berbohong.” Terdengar suara serak Ahreum yang penuh nada penyesalan.

“Aku juga tidak berkencan dengan Minho. Sungguh, Oppa. Bagiku Minho hanya teman. Maaf sudah membuat kalian khawatir, aku menyesal” lanjut gadis itu sedikit menundukkan wajahnya.

Kris hanya tersenyum mendengar pengakuan Ahreum itu, adik bungsunya ini kelihatan sangat polos sekarang. Bagi Kris Ahreum sama sekali tidak bersalah dan seharusnya tidak perlu meminta maaf, ia hanya pergi keluar bersama seorang lelaki yang ia anggap tidak lebih dari sekedar kawan, hanya saja para saudaranya yang lain kelewatan berlebihan dan heboh terutama Suho dan Kai.

“Ya, aku mengerti” sahut Kris, mengangkat kembali wajah Ahreum agar gadis itu menatapnya dan tidak perlu merasa menyesal perihal ini semua.

“Tapi…. Minho kemana?” tanya Ahreum seketika begitu menyadari bahwa ‘teman-jalan’-nya itu tidak ada diantara mereka.

“Dia pergi ke toilet. Sepertinya dia sedang sakit perut….” Jawab Kris sambil menunjuk ke arah toilet. Ahreum menganggukkan kepalanya ,

“Padahal tadi aku berencana mengajaknya naik Roller Coaster” sungut Ahreum pelan, namun masih bisa di tangkap oleh telinga Kris.

“Roller Coaster?”

“Ne, Oppa~ saat terakhir kali kesini aku tidak sempat naik Roller Coaster, karena ibu kepala melarangku. Tapi karena sudah berada di sini, aku ingin mencobanya setidaknya sekali” jelas Ahreum dengan suara seraknya akibat flu.

“Kalau begitu, ayo” mendengar itu Kris langsung merangkul Ahreum untuk menuju ke tempat bermain Roller Coaster, namun baru beberapa langkah Ahreum sudah menahan lengan lelaki itu.

“Eeeh… tapi… Oppa… bagaimana dengan Minho?” tanya Ahreum, tidak tega juga meninggalkan Minho padahal dia kan pergi ke sini bersama pria itu.

“Sudahlah. Anak itu sepertinya akan lama. Kalau tidak cepat, kita tidak bisa naik Roller Coaster. Antrian disana sangat panjang.” Ujar Kris. Ahreum mengangguk, hasrat impiannya untuk naik Roller Coaster sudah sangat menggebu sekarang. Lagipula Minho bukan anak kecil yang harus Ahreum khawatirkan tersesat di tempat ramai seperti ini.

 

 

****

Kai masih terus mencari Ahreum di seluruh penjuru, mengedarkan pandangan matanya ke semua sudut namun tanda-tanda kehadiran gadis itu belum juga muncul membuat Kai menggerutu sendiri kemana sebenarnya Minho dan Ahreum menghabiskan waktu kencan mereka. Tidak, Ahreum tidak boleh berkencan dengan siapapun! Kai tidak akan pernah membiarkan hal itu, bagaimana pun caranya ia harus mengagalkan kencan itu! Ahreum tidak boleh suka terhadap pria lain!

“Ya! Aku bukan anak kecil yang harus terus kau seret!” ringis Yurin di belakang lelaki itu yang protes karena Kai daritadi terus berjalan mencari Ahreum sambil menyeret Yurin di belakangnya dengan mengenggam tangan gadis itu. Mendengar protes Yurin membuat langkah Kai terhenti, ia menatap gadis di belakangnya yang sudah memasang tatapan sebal.

“Ouh~ mian.Mian” Kai terkekeh seperti orang bodoh kemudian melepaskan tangan Yurin dari genggamannya.

“Tidak bisakah kau tidak menganggu mereka? Mungkin Ahreum sedang bersenang-senang sekarang” ujar Yurin membuat mata Kai yang tadinya sudah melebar jadi tambah melebar.

“Tidak! Pokoknya aku tidak akan membiarkan hal semacam itu terjadi! Aku tidak akan membiarkan si Minho-Minho itu menyakiti Ahreum-ku!” seru Kai tidak terima.

“Memangnya dari mana kau tahu kalau Minho akan menyakiti Ahreum? Minho itu anak berprestasi, anak baik-baik, pintar, cerdas, tidak sepertimu…. Byeontae! Mesum!” cibir Yurin masih dengan tatapan datarnya yang mendiskriminasi.

“Ya!! Bagaimana bisa kau mengatakan kalau aku mesum!” Kai nampak tidak terima di katai seperti itu, Yurin hanya tertawa meremehkan.

“Tentu saja, kau Byeontae! Orang yang paling mesum sampai harus berciuman dengan semua varian gadis di ruang kelas kesenian yang kosong.” Mendengar ucapan Yurin itu sontak membuat Kai tembah tersentak.

“Kau…. Bagaimana kau bisa tahu? Kau mengikutiku?”

“Lebih tepatnya , memergoki. Secara tidak sengaja” jelas Yurin memberikan penekanan di semua katanya, mungkin Kai akan lebih shock jika Yurin memberitahu lelaki itu bahwa Ahreum juga sudah melihat Kai di ruang kesenian kosong itu, melakukan perbuatan ‘itu’, tapi lebih baik tidak usah di bahas.

“Aku sudah tidak melakukan itu.. Lee Yurin, neomu jinjja…. Aissh…. Sudahlah! Lupakan perdebatan tidak penting ini! Kita harus menemukan dan mengamankan Ahreum dari Minho secepatnya” Kai menjambak rambutnya sendiri mendengar penuturan Yurin, lelaki itu memutar badannya mencoba mengalihkan pembicaraan—entah karena ia malu—atas tindakannya di ruang kesenian namun selang beberapa detik lelaki itu kembali berbalik begitu menyadari Yurin tidak mengikuti langkahnya. Kai melihat Yurin masih berdiri di tempatnya sambil memandangi sesuatu dengan tatapan yang lagi lagi—kosong.

“Ya! Yurin—ah… kenapa kau malah berdiri tidak jelas disini…..” Kai menghampiri gadis itu kembali, namun ucapan lelaki itu terpotong begitu ia turut melihat ke arah pandangan gadis itu. Yurin sedang menatap bianglala besar yang berkerlap-kerlip berkilauan penuh warna.

“Kau ingin naik Merry Go Around?” tanya Kai pelan. Yurin menganggukkan kepalanya perlahan lalu menatap Kai seperti seorang anak kecil.

 

 

.

.

.

.

Sementara itu Sulli, Suho, Chanyeol dan DO sedang duduk beristirahat di sebuah tempat duduk mencoba melemaskan otot-otot mereka karena sudah letih cukup lama terus berjalan. Mereka mencoba menghubungi ponsel Ahreum, namun rupanya ponsel gadis itu berada di jaket leopard yang sedang Yurin kenakan akibat kedua gadis itu telah berganti pakaian.

“Aaah~~ lelah sekali” Chanyeol meminum botol air mineralnya habis membuat DO mendesah berat karena air minumya di habisi lelaki itu.

“Kita sudah berputar-putar, tapi Ahreum dan Minho-Minho itu tidak kelihatan. Aku jadi penasaran dimana sebenarnya mereka berkencan” sungut Suho kelihatan frustasi.

“Ahreum bilang ini bukan kencan Tuan Muda. Ia sudah terlanjur berjanji pada Minho” jelas Sulli yang juga ikut berkeringat kelelahan berjalan.

“Ahreum boleh berpikir seperti itu, tapi si Minho-Minho itu sudah pasti menganggap ini semua kencan! Oh my God, adik yang paling ku sayangi….. Oh Tidak!” Sulli hanya menampakkan raut wajah sweatdrop melihat tingkah Suho sebagai kakak tertua yang menurutnya terlalu lebay.

Di lain pihak , Sulli juga tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Bagaimana kalau mereka (Ahreum-Minho_) benar-benar berkencan dan menunbuhkan perasaan masing-masing? Bagaimana kalau mereka benar-benar saling menyukai ? Sulli hanya bisa memasang wajah cemberutnya jika membayangkan kalau hal itu sampai terjadi. Sebagai sahabat Ahreum , ia seharusnya ikut senang. Namun ini berbeda kasusnya karena Sulli juga menaruh hati pada Minho.

Lamunan Sulli mendadak buyar begitu ia menangkap seorang lelaki berjaket merah yang sedag berjalan di hadapan mereka dengan raut wajah kebingungan dan kelihatan linglung. Sulli mencoba menyipitkan matanya, memfokuskan pandangannya kepada lelaki itu, sampai akhirnya Sulli tersadar dan memekik

“Choi Minho!” pekik Sulli dan spontan bangkit menyusul langkah Minho dan menahan lengan lelaki itu.

“Kau… Choi Minho kan?” tanya Sulli memastikan, ya, meskipun ia yakin kalau lelaki ini benar-benar Minho tapi tampilan lelaki itu mendadak sudah berubah 180 derajat Sulli hanya mencoba untuk memastikan.

Minho mengangguk dengan sekenanya, sadar bahwa gadis yang sudah menahan lengannya sekarang adalah Choi Sulli anak klub kesenian dan kelas merajut di kelas sebelah.

“Wah~ Choi Minho! Dimana uri Ahreum!” DO menyusul Sulli dan Minho bersama Chanyeol dan Suho menjejeari lelaki cupu itu dengan tatapan menyelidik membuat Minho kelihatan cukup nervos dengan raut wajah tampannya itu.

“Akhirnya setelah berputar-putar kami menemukanmu juga ya! Mana Ahreum kami? Mana?” tanya Suho sok galak.

“Euhh…… Itu………. Dia pergi bersama Kris sunbae. Mereka meninggalkanku di toilet” jawab Minho takut-takut.

Mendengar itu Suho, Chanyeol, dan DO sontak tertawa sementara Sulli sudah merenggut kasihan pada Minho.

“Hahahaha… syukurlah, Kris sudah berhasil menemukan Ahreum duluan sebelum ‘Love Contact’ kalian tercipta hahahaha” tawa Suho merasa puas.

“Dengan begini Ahreum kita masih aman” tambah Chanyeol juga kelihatan puas.

Sementara Minho hanya merenggut seadanya, padahal ia sudah berusaha agar kencan hari ini bisa membuat Ahreum jatuh hati padanya. Bahkan Minho sudah menyiapkan rencana agar menyatakan cinta pada Ahreum saat mereka akan ke kedai teh namun semuanya gagal, entah kenapa kencan yang diimpikan Minho jadi seperti ini.

Sementara itu Sulli tidak bisa untuk tidak menyembunyikan senyumnya. Ia tiba-tiba merasa tidak menyesali kecerobohannya yang mengungkapkan masalah perihal kencan ini, ia juga tiba-tiba merasa beruntung mempunyai para Tuan Muda yang over protektif terhadap Ahreum. Intinya gadis itu bahagia, kencan Ahreum dan Minho gagal total……

 

***

“Yaa~ Oppa~ aku senang sekali! Ternyata naik Roller Coaster itu seru sekali! Hehehe” Kris tidak bisa untuk tidak tersenyum sekarang melihat ekspresi Ahreum yang kelihatan sangat bahagia seperti anak kecil. Mereka berdua habis menaiki wahana Roller Coaster , Kris dan Ahreum saling berteriak satu sama lain dan sejujurnya Kris juga turut senang bisa naik Roller Coaster setelah sekian lama.

“Kau senang, huh?” tanya Kris. Ahreum mengangguk dengan semangat.

“Tentu saja. Ini pertama kalinya aku naik Roller Coaster . Bahkan dadaku masih berdegup kencang.” Ahreum dengan semangatnya menjawab ucapan Kris. Ahreum terus tertawa bahagia, mendadak sepertinya gadis itu sudah lupa dengan seseorang bernama Minho yang sudah ia telantarkan. Dan ini pertama kalinya Ahreum pergi merasa Kris, entah mengapa pada awal-awal bergabung dengan keluarga Choi Ahreum paling takut dengan Kris sebagai saudaranya, karena baginya Kris itu seperti tokoh-tokoh lelaki dingin yang menakutkan di anime-anime yang biasa di tontonnya. Ahreum lebih suka bergabung bersama DO, Luhan, Chanyeol dan yang lainnya di banding harus pergi bersama Kris. Namun ternyata Kris tidaklah semenakutkan yang ia pikirkan. 2 hari ini Ahreum berpikiran seperti itu, bahwa sebenarnya Kris adalah lelaki baik yang perhatian, hanya saja lelaki itu agak pendiam dan tidak terlalu banyak bicara jika di rumah atau di sekolah. Yang penting, sejak hari ini dinding es diantara Ahreum-Kris meleleh sepenuhnya, Ahreum benar-benar sudah tidak segan untuk tertawa lepas di hadapan Kris sekarang, padahal dulunya Ahreum selalu mencoba untuk menjaga sikapnya di depan lelaki itu.

“Waah~ Oppa~ ada photobox! Photobox!” Ahreum kembali memekik dengan semangat kemudian tanpa babibu gadis itu menarik tangan Kris agar mereka bisa mengambil foto di photobox itu.

 

Cklek!

Cklek!

Cklek!

Kedua orang itu keluar dengan 3 lembar foto di tangan Ahreum. Ahreum terkekeh puas melihat foto di tangannya.

“Aku juga mau lihat!” Kris mensejajarkan langkahnya bersama Ahreum, turut mengamati 3 lembar foto di tangan Ahreum.

“Oppa~ kau seperti Edward Cullen . Hehehe” kekeh Ahreum sambil menunjuk Kris di salah satu foto dimana menampakkan lelaki berdiri di sebelah Ahreum sambil menutupi kepalanya denga hoodie yang di pakainya.

Lebih dari pada itu, Kris justru memperhatikan pakaian yang ia dan Ahreum kenakan. Kenapa di semua foto itu mereka berdua kelihatan seperti pasangan. Ini semua karena Kris memakai hoodie biru tebal dan Yurin yang juga memakai dress selutut –yang sebenarnya punya Yurin—namun entah kebetulan atau apa warnanya biru juga sehingga mereka kelihatan seperti pasangan yang sedang mengambil foto bersama. Sepertinya hanya Kris yang menyadari hal itu.

“Untuk Oppa satu. Dan aku akan memiliki dua foto. Sebagai kenang-kenangan” Ahreum menyodorkan salah satu foto ke Kris, “ aku akan menempelkan foto-foto ini di kamar. Pasti lucu” Ahreum mengucapkan ucapan itu layaknya seorang gadis yang tengah ber-aegyo membuat Kris jadi gemas sendiri melihatnya.

Tanpa tersadar, mereka berdua berjalan melewati toko boneka yang tadi sempat di perhatikan Kris .

“Woo~ Teddy Bear!” Ahreum memekik begitu melihat boneka beruang besar terpampang di etalase toko itu membuat Ahreum dengan serta merta langsung berlari kecil memasuki toko itu.

“Hn, benar-benar anak kecil” gumam Kris tanpa sadar ikut tersenyum melihat tingkah Ahreum dan turut memasuki gadis tersebut.

“Teddy Bear—nya besar sekali! Ya ampun! Pasti mahal” Ahreum terkesima dengan boneka beruang yang sudah mencuri perhatiannya itu.

“Kau suka?” tanya Kris mengahmpiri Ahreum yang sepertinya sangat menyukai boneka beruang berukuran besar itu.

“Pasti nyaman kalau tidur memeluk boneka sebesar ini! “ jelas Ahreum bersemangat.

“Kalau begitu… boneka ini untukmu” ujar Kris yang langsung membuat Ahreum terkejut dan menatap Kris dengan bola matanya yang besar.

“Eeehh… Oppa…”

“Aku membelikannya untukmu” ujar Kris kemudian memanggil salah satu karyawan toko itu untuk membunguskan boneka itu untuk Ahreum.

“Tapi Oppa…” Ahreum kelihatan tidak enak, ia tidak bermaksud untuk membeli boneka itu. Ia hanya sekedar kagum melihat Teddy Bear sebesar itu.

“Anggap saja untuk hadiah selamat datang di Keluarga kami. Semenjak kau datang di rumah aku belum memberimu apa-apa” ujar Kris.

“Gumawo Oppa~ kau yang terbaik!” Ahreum memasang aegyonya yang mungkin sebenarnya itu adalah kebiasaan Ahreum—beraegyo tanpa ia sadari– , gadis itu kelihatan sangat senang begitu tahu Teddy Bear di depannya ini akan segera menjadi miliknya.

“Kalian benar-benar pasangan yang serasi. Semoga boneka ini bisa menjadi penambah kebahagiaan untuk kalian berdua.” Ujar sang karyawan toko sambil menyerahkan boneka yang sudah di bungkus kepada Ahreum. Mendengar itu Kris tiba-tiba terbatuk, sementara Ahreum sudah memasang wajah kagetnya.

“Agassi~ kami tidak…….” Ahreum sudah akan menjelaskan bahwa ia dan Kris adalah kaka-beradik kepada sang karyawan toko itu namun karyawan toko itu sudah keburu pergi.

“Sudahlah. Ayo, kita pulang” ajak Kris, Ahreum mengangguk lalu menangkup boneka Teddy Bearnya dengan sepenuh hati keluar dari toko itu.

 

***

“Aku tidak memintamu untuk menemaniku naik ini” ujar Yurin datar menatap Kai yang sudah duduk di depannya. Mereka berdua sekarang sudah berada di atas Merry Go Around dan Yurin baru tahu bahwa Kai itu takut kepada ketinggian dan sekarang Ka terus memegangi perutnya yang mual karena bianglala yang mereka naiki sudah berada di posisi paling puncak.

“Ya! Lee Yurin! Dasar gadis tidak tahu terima kasih. Aku sudah berbaik hati menemanimu naik ini karena kau bilang kau tidak bisa naik seorang diri” cecar Kai yang dahinya sudah di penuhi keringat dingin karena lelaki itu mendadak mual jika sudah berhadapan dengan ketinggian.

“Baiklah. Aku yang salah. Keinginanku untuk naik Merry Go     Around benar-benar kesalahan” Yurin kemudian mengarahkan tangannya ke arah tengkuk Kai lalu memijit lelaki itu sebagai bentuk rasa terima kasihnya. Kai berbohong jika ia mengatakan kalau pijatan Yurin ini tidak membuatnya lebih baik, pijatan Yurin benar-benar seperti meminimalisir rasa mualnya.

 

“naneun overdose~” nada dering di ponsel Kai mendadak terdengar, Kai merogoh ponselnya dan terdiam begitu melihat siapa nama sang penelpon di ponselnya.

“Seohyun—Noona—Called” begitulah tulisan di ponselnya yang tengah berdering.

3 menit kemudian, nada telepon itu kembali terdengar dan masih sama seperti tadi, Kai hanya terdiam memandangi ponselnya tanpa sama sekali memiliki niatan untuk mengangkat panggilan itu hingga nadanya terputus.

“Kenapa kau tidak mengangkatnya?” tanya Yurin membuka suara. Kai memutuskan untuk mematikan ponselnya dan menaruhnya ke saku celananya kembali kemudian kembali mengaduh mual kepada Yurin.

“Hanya panggilan di masa lalu.” Jawab Kai sambil memasang wajah sakitnya yang sengaja dibuat-buat hanya untuk memubuat Yurin kembali merasa bersalah.

“Panggilan di masa lalu? Panggilan apa itu?” Yurin mengernyitkan keningnya tidak mengerti.

“sudahlah. Kuceritakan pun belum tahu kau akan mengerti” sungut Kai.

Pintu bianglala yang mereka tempati akhirnya terbuka, membuat Kai dan Yurin langsung bangkit untuk keluar. Yurin harus memapah tubuh Kai di lengannya karena sepertinya Kai cukup pusing dan limbung sehabis menaiki permainan ini.

“Hyung” seorang lelaki berkaos putih menghampiri mereka berdua.

“Sehun-ah? Bagaimana? Apa Ahreum sudah ketemu?” tanya Kai menatap Sehun, tapi Sehun justru mengarahkan pandangannya ke arah Yurin yang masih memegangi tubuh Kai yang sepertinya lemas dan mual.

“Dia bersama Kris hyung” jawab Sehun sekenanya, kemudian ia mulai mengambil Kai dari Yurin.

“Hyung , kau kenapa?”

“Anniyo, aku hanya sedikit mual habis naik Merry go arround bersama gadis ini” jawab Kai sambil menunjuk Yurin di sampingnya.

“Kalian menghabiskan waktu bersama?” tanya Sehun kelihatan kaget sekaligus —eumm—tidak rela.

“Oh Sehun lebih baik kau tidak berpikiran macam-macam. Dan urus hyung mesum dan lemah mu itu” Yurin menjulurkan lidahnya pada Kai kemudian berjalan pergi meninggalkan dua saudara itu.

Sehun hanya terdiam menatap punggung Yurin yang mulai berjalan menjauh dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

“Sepertinya kalian mulai akrab ,ya” gumam Sehun .

“Akrab?” Kai mengernyitkan keningnya mendengar gumaman Sehun.

“Anniyo, Hyung. Lebih baik kita segera menemui Suho hyung dan lainnya” ujar Sehun cepat dan buru-buru mengalihkan topik pembicaraan.

 

***

“Hahahahaha~ jadi kalian datang ke Lotte World jauh-jauh hanya untuk mengagalkan kencan Ahreum? Hahahahaha” Yurin tidak bisa berhenti untuk tidak tertawa begitu sekarang ia sudah bertemu dengan EXO+sulli+Minho dan gadis itu baru tahu sebenarnya apa yang terjadi sebenarnya sehingga keduabelas EXO secara serempak berada di tempat ini.

“Ternyata kau bisa juga tertawa ‘Hahahaha’ ya. Biasanya kan kau selalu tertawa ‘Hihihihi’” ujar Sehun sambil mempraktekan gaya tertawa Yurin.

“Oh Sehun! Kau menyebalkan!” Yurin sudah akan menginjak kaki Sehun namun Sehun sudah keburu menarik kakinya kembali.

“Aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya, Lee Yurin” ledek Sehun.

“Jadi dimana sekarang Ahreum dan Kris?” tanya Kai tidak sabaran, mendadak ia jadi sangat merindukan Ahreum sekarang.

“Oh~ itu mereka!” pekik Xiumin sambil menunjuk ke arah Kris yang sedang berjalan ke arah mereka sambil menggendong Ahreum dan sebuah boneka Teddy Bear di punggungnya. Sepertinya Ahreum kelihatan mengantuk habis berkeliling seharian ini.

“DISINI! DISINI! KRIS! KAMI DISINI!” Suho dengan gaya lebay nya berteriak memberi kode kepada Kris padahal tidak perlu di teriaki seperti itu pun Kris sudah tahu kalau kerubungan yang menarik perhatian pengunjung itu adalah para saudaranya, mencolok sekali.

“Eeeh… Oppa? Kalian semua disini? Bahkan Sulli segala? Dan ya ampun, maaf Minho—ah, aku melupakanmu” Ahreum turun dari punggung Kris dan terkejut menemukan para kakaknya , Sulli, Dan Minho berkumpul bersama.

“Gwechana Ahreum—ah” Minho mengibaskan tangannya memberi tanda bahwa ia tidak apa-apa sudah di tinggal saat di toilet tadi.

“Ahreum-ku, senang sekali bisa melihat mu kembali” Kai langsung memeluk Ahreum seperti seseorang yang sudah setahun tidak pernah bertemu. Yang lain hanya terkekeh melihat Ahreum yang sesak nafas akibat pelukan Kai.

Dan begitulah, bagaimana kencan yang seharusnya menjadi ‘kencan’ itu berakhir di hari minggu sore itu. Meskipun kencan Ahreum-Minho tidak berjalan lancar , namun setidaknya para EXO senang melihat kegembiraan Ahreum hari itu. Ke-15 orang itu pun pulang sambil tertawa saling menertawai apa yang sudah mereka lalui seharian ini, Yurin dan Minho pun harus pulang bersama EXO , Ahreum, dan Sulli dengan naik mobil van EXO. Ahreum tidak akan melupakan hari ini, hari dimana ia benar-benar merasa senang melihat para saudara dan teman-temannya berkumpul bersama.

 

 

~to be continue….

 

Note’s : aloha ^^v readers sekailian! Maaf Part 5 nya lama yaa~~ soalnya aku benar-benar gempor nulis part ini. Ini mungkin part terpanjang yang pernah aku tulis, dan maaf buat yang nungguin scene Jessica, Tiffany, Dasom, dan Seohyun mungkin gak ada di part ini soalnya aku benar-benar fokus soal ‘Kencan’ Ahreum di Part Five ini. Jadi maaf yaa~~

Dan maaf karena aku gak bisa balesin komentar kalian satu-satu, signal disini buruk banget, tapi tenang komentar apapun yang masuk selalu aku baca kok ^^ Makanya , terus tunjukkan dukungan kalian terhadap THE BROTHERS yaa~ semakin rame komentar yang masuk aku jadi semakin semangat buat ngelanjutinnya ^^.

Dan untuk Fans Club baru EXO yang baru terbentuk aku ucapkan selamat! EXO-L (EXO-LOVE) aku sempat kaget karena nama itu aku udah gunakan duluan di Part 3 sebagai nama fans club EXO, EXOlove hehe … kok bisa kebetulan gini ya???

Dan aku mau tanya dong adakah yang tau kabarnya tokoh utama kita Lee Ahreum di dunia nyata setelah rumor dia kerasukan itu? Aku penasaran, lebih tepatnya aku nge-fans sama tuh anak ^^.

Dan maaf ya karena udah bikin kencannya Ahreum-Minho kacau begini akibat ulah EXO nihh hohohohio

Kalian maunya siapa aja yang di-pair di fanfic ini?

Oke, sekian cuap cuapnya!! Sampai jumpa di Part Six- Brother Complex. Oke? Dadadadah!!!

 

Twitter : @_nrasky

Facebook : Naomi Reeyu

102 responses to “THE BROTHERS [Part Five – Dating]

  1. Pingback: THE BROTHERS [Part Six - Brother Complex] | FFindo·

  2. Pingback: THE BROTHERS [Part Seven – That Angel] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s