THE PORTAL 2 [ Part 2B : Before The Day 15 ]

theportal2wallpaper21

Title :

THE PORTAL 2

                                                                                                                              

Author :

citrapertiwtiw a.k.a Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast(s) :

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Witch

– INFINITE’s L as the Witch ( another side : Kim Myungsoo )

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard and celebrity

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Other Casts :

In Junghwa :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon / A Pink’s Hong Yookyung as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince from another Kingdom

 

In South Korea :

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as a medium

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s fiancee

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as a celebrity, and introducing ;

– Girl’s Day Yura / Kim Ahyoung as Minah’s Manager

– INFINITE’s Kim Sunggyu as Yura’s Father

 

Rating : PG15 – NC17

 

Type :

Chaptered, Season

 

Cerita Sebelumnya :

Synopsis The Portal 1

Part 1              : I Hate My Life

Part 2              : Big Decision

Part 3A           : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4               : Another Me

Part 5               : Over Protective?

Part 6               : Faithfulness

Part 7               : Something New

Part 8               : The Hidden Truths

Part 9               : Unpredictable

Part 10             : The Scandals

Part 11             : Reality

Part 12             : True Love

Part 13             : It’s Time To…

Part 14             : The Real Story

Part 15 ( final ) : Open or Close The Portal?

PROLOG SEASON 2

Part 1             : Nice to Meet…You?

Part 2A         : 15 Days

 

Ringkasan Cerita Sebelumnya :

 

Keresahan L sudah terjawab, keputusan Baekhyun untuk mengadakan perjalanan 15 hari memang dilatarbelakangi oleh kehadiran Hyoyeon. Sayangnya, sang penyihir nomor 2 tak tahu pasti keadaan jelasnya, salah satunya tentang Baekhyun yang sebenarnya dirasuki oleh Sungyeol hingga membuat cenayang itu kurus dan sakit-sakitan karena arwahnya keluar masuk jasadnya yang masih hidup. Hanya Kai dan Krystal yang –tak sengaja- mengetahuinya namun tak sempat memberitahukan hal itu pada siapapun.

Tetapi setidaknya L sudah mengambil jalan yang tepat untuk mengantisipasi firasat buruknya. Ia berhasil membujuk Naeun untuk pergi ke dunia nyata, meski Lin tetap menjadi tanggung jawabnya sebab putra kecilnya itu tak dapat melalui portal sebelum berusia satu tahun. Hal ini membuatnya semakin waspada karena Lin tak boleh tersentuh sedikitpun oleh Hyoyeon. Apalagi jika mantan penyihir nomor satu itu tahu bahwa tandanya yang hilang berpindah ke punggung Lin.

Sebelum perjalanan 15 hari dimulai, L menemukan kejanggalan.

Mendapatkan pekerjaan sebagai guru di sekolah sihir ia kira akan menyenangkan, namun ia dihadapkan pada satu kebingungan dimana ia melihat kembali sosok Kim Namjoo, anak manusia yang diadopsi Hyoyeon yang seharusnya sudah mati karena dibunuh olehnya di masa lalu.

Mengapa gadis kecil itu muncul lagi bahkan bisa bersekolah di sekolah khusus anak-anak penyihir?

Jika Namjoo bersiap seolah tak mengenalnya, mungkin situasi akan baik-baik saja. Namun L berada di bawah ancaman sebab Namjoo terlihat benci dan mencoba mengawasinya.

*

Di dunia luar, tepatnya di Seoul, Kim Myungsoo masih menikmati kesendiriannya di apartemen Hoya. Ditinggal berhari-hari oleh sang artis membuatnya tak lagi merasa berdosa meninggalkan apartemen untuk berbagai urusan seperti mengunjungi Kim Haeyeon di penjara dan menemani teman barunya –Yura- menonton film.

Di pertemuan terakhirnya dengan Kim Haeyeon,Myungsoo mengetahui jadwal persidangan kepala sekolahnya yang tak bersalah itu, sekitar 16 hari lagi. Entah apa yang akan diperbuat oleh Kim Haeyeon untuk menghadapi sidangnya, untuk menghindari hukumannya. Nampaknya sang kepala sekolah memiliki rencana tersendiri, ia menambah kecurigaan dengan meminta Woohyun untuk memanggil Kim Sunggyu –ayah Yura-, salah satu guru di Junghwa High School agar mengunjunginya di penjara.

*

Perjalanan 15 hari telah dimulai, membuat L semakin waspada. Sebelum kepergian Naeun ke dunia nyata, L telah jujur tentang alasannya dan membuat Naeun semakin enggan untuk jauh darinya. Namun Naeun tak punya pilihan, L memaksanya masuk ke dalam portal hingga tanpa sengaja, ia bertemu kembali dengan Kim Myungsoo. Karena keterkejutannya, ia menghindari Myungsoo namun berujung pada kecelakaan, dan Myungsoo-lah yang menjaganya.

 

Apa yang akan terjadi selanjutnya? akankah L juga mengetahui bahwa sisi baiknya hidup kembali? Apakah Hoya dan Eunji akan segera tahu bahwa Naeun sudah bertemu dengan Myungsoo?

Bagaimana dengan Sungyeol yang ditemukan oleh Woohyun dan Chorong di Amerika? Apakah ia akan memberitahu tentang Myungsoo dan Haeyeon?

Dan siapakah yang menaruh surat ancaman ‘aku akan menyisakan tiga’ di loker L?

 

Part ini akan memberikan jawabannya.

 

*Mohon maaf update lama, sampe sebulan lebih ya. semoga before storynya bisa menyegarkan ingatan kalian untuk part sebelumnya. Semoga puas dengan part ini, enjoy! ^^

[!] Author meralat judul part juga dari Day 15 jadi Before The Day 15, wkwk. Karena sebelum perjalanan 15 hari selesai masih banyak yang harus diceritakan.

 

2B.

Before The Day 15

 

Author POV

 

“ Jadi, apa yang akan kita lakukan hari ini?”

“…”

“ Haha..” L tertawa kecil untuk meminimalisir rasa gugup sekaligus gemasnya sebab meski tidak seburuk kemarin, para siswanya masih merasa agak takut berbicara langsung dengannya.

“…aku sudah tahu sampai mana yang kalian pelajari, kurasa kedepannya mudah saja. Bagaimana kalau sekarang kita saling memperkenalkan diri?”

Para siswa bertatapan, kecuali Kim Namjoo yang sejak tadi terus menatap lurus kearah guru barunya itu. L berusaha tak peduli karena setiap melihat Namjoo ia terus teringat dengan peringatan anonim yang ia temukan dalam lokernya beberapa saat yang lalu.

Ya, ‘AKU AKAN MENYISAKAN TIGA’. Saat ini L berpikir pekerjaan siapa lagi itu jika bukan pekerjaan Namjoo. Ia bersumpah akan menyelidikinya karena ia benci diancam.

“…bagaimana? Setuju jika kita berkenalan saja hari ini?” L mengulang pertanyaannya karena kelas masih saja hening.

Para siswa mengangguk, hingga salah satu dari mereka mengangkat tangannya meski gemetaran.

“ Jumlah kami banyak, songsaenim. Apakah waktu kita cukup untuk memperkenalkan diri satu per satu?”

L menggeleng, “ Aku tahu. Jadi aku akan membuat perkenalan kita dengan cara yang tidak biasa.”

Sekarang para siswa mulai tertarik, apa yang akan dilakukan guru baru mereka ini?

“…pikirkan apapun tentang diri kalian. Pikirkan saja, aku akan membacanya dan mengingatnya dalam hitungan detik. Dengan begitu perkenalan kita akan singkat.”

“ Apa bisa dia melakukannya? Dengan jumlah kita yang sebanyak ini?”para siswa saling berbisik tak percaya.

“ Bisa kita coba sekarang?”tanya L, siswa-siswanya pun setuju dan mulai memikirkan diri mereka masing-masing. Sementara L memejamkan matanya sebentar kemudian mengambil kertas absen.

 

“ Shin Hye Jung.”ia menyebut nama salah satu siswanya.

Ne, songsaenim?”

“ Lahir tanggal 15 Juli 1996 dan hobi menjahit. Keluargamu punya usaha pakaian khusus penyihir. Apa aku benar?”

“ Whoa..”semua nampak takjub, sang siswa mengangguk membenarkan.

“ Kau benar, songsaenim. Kalau begitu kami akan memberikan tiga stel pakaian untuk keluargamu!”

“ Wah, terimakasih. Aku akan menebusnya dengan ilmu.” L tersenyum puas dan melanjutkan.

“ Moon Ji Young.”

Ne, songsaenim!”

“ Lahir tanggal 16 Desember 1995 dan punya hobi berburu serangga untuk dijadikan komposisi ramuan.”

“ Benar, songsaenim. Dan aku sangat mengagumi istrimu, ia sangat pandai membuat ramuan! Suatu saat aku ingin menjadi seperti dia.”

“ Kau ingin belajar darinya?”

“ Apa kau mengizinkan?”

“ Tentu saja.”

“ Wah! Terimakasih, songsaenim. Suatu saat aku akan kerumahmu.”

L melirik singkat kearah Namjoo yang nampak tersenyum sinis, mungkin tak menyangka ia bisa seramah ini pada siswa-siswanya. Namun L tak ingin merasa terintimidasi, ia berpura-pura membaca kertas absen dan menyebut nama siswa selanjutnya.

“ Kim Namjoo.”

Gadis berambut hitam sebahu itu menoleh dan menatapnya, L tersenyum.

“…15 April 1995, terlahir sebagai manusia biasa.”

Namjoo memucat, semua mata teman-temannya kini mengarah padanya. Membuat L merasa bingung, ia pikir semua siswanya sudah tahu Namjoo bukanlah penyihir.

“ Mengapa kau mengatakan manusia biasa, songsaenim? Manusia biasa mana mungkin masuk ke sekolah ini.”ucap salah satu siswanya.

“ Apa kali ini kau memang benar, songsaenim? Apa Namjoo memang manusia biasa?”sahut siswa yang lain dengan penasaran dan kebingungan. L nampak panik ketika mereka mulai melempari banyak pertanyaan pada gadis itu.

“ Ya! Kim Namjoo, kau bukan penyihir!?”

“ Kenapa kau bisa masuk ke sekolah ini?”

“ Pantas saja kau tidak pernah memamerkan sihir di kelas ini!”

“ Mana tongkat sihirmu!?”

Anak angkat dari Kim Hyoyeon itu menunduk dan mengumpat dalam hatinya, bahkan mulai berkaca-kaca hendak menangis. L berpikir bagaimana jika anak itu melaporkan ini semua pada ibunya? Pertarungannya dengan Hyoyeon akan semakin panas.

“ Hei.. sudah sudah! Mungkin aku salah baca. Tenang..” L menghentikan siswa-siswanya, ia menghampiri dan menyentuh bahu sang gadis yang sudah bercucuran airmata itu.

“…Namjoo….”

“ Apa? Kau puas sekarang?”gadis itu menatapnya dengan mata berair dan berbisik dengan emosi tertahan, L berusaha tenang.

“ Jangan menangis.”

“ Bagaimana bisa aku menahan………”

“ Anak-anak, jangan salahkan Namjoo. Mungkin aku yang salah membaca pikirannya. Kalian semua kuhukum karena sudah membuat Namjoo menangis.”

“ APA!?”para siswa itu terkejut, L tak peduli.

“ Jam istirahat nanti, kalian semua kecuali Namjoo harus membersihkan kelas ini. di jam pelajaran berikutnya aku tidak ingin melihat ada debu setitikpun. Paham?”

Semua terpaksa mengangguk, sedangkan Namjoo menatap L tak percaya.

 

“ Ia membelaku?”

*****

 

“ Kau datang..”

Pria itu hanya mengangguk tanpa menunjukkan ekspresi apapun, ia duduk di depan seorang wanita yang nampak senang akan kedatangannya.

“ Waktu kalian sepuluh menit.”ucap sang sipir penjara sebelum meninggalkan mereka berdua.

“ Cepat saja.”ucap pria itu tanpa basa-basi. Sang wanita yang kebetulan sebenarnya sudah sangat lama tak bertemu dengan pria itu merasa tak ingin buru-buru.

“ Ternyata kau tidak berubah, kau masih saja tidak menghormatiku.”

“ Untuk apa aku menghormati kepala sekolah yang tidak bertanggung jawab?”

Haeyeon menghela nafas, berusaha sabar dan terima meski ia tak bersalah. Ia sudah mengenal guru pria didepannya ini bertahun-tahun, tapi entah mengapa ia masih sering merasa kecewa dengan perkataan-perkataan pedasnya.

“ Bagaimanapun, terimakasih karena sudah mau datang.”

“ Aku datang karena Woohyun yang memintaku.”

“ Apapun alasanmu, terimakasih.”

“ Sudahlah, ada apa? Apa hanya aku guru yang kau panggil?”

“ Ya. hanya kau. Tapi sepertinya kau tidak terlihat baik, Kim Sunggyu-ssi.”

“ Bagaimana bisa aku terlihat baik disaat tidak memiliki pekerjaan? ”

“ Maafkan aku.”

Pria itu menghela nafasnya, “ Jadi kau hanya ingin minta maaf? Kalau begitu kau harus memanggil semua guru yang kehilangan pekerjaannya karena SMA Junghwa ditutup.”

“ Bukan, bukan itu tujuan utamaku.”

“ Lalu?”

“ Kalau kau tidak keberatan, tolong bantu aku.”

“ Bantu..apa?”

 

“ Ya! Aku tidak bisa dengar..”

Yura menaiki tembok pendek didepannya agar ia semakin mudah mengintip ruangan dimana ayahnya dan Kim Haeyeon bertemu, namun..

“ Hei! Hei! Sedang apa anak sekolah mengintip disana!!?” seorang pria berseragam polisi keluar dan berteriak, gadis itu buru-buru melompat dan berlari menjauh dari kantor polisi daripada harus ditangkap dan ketahuan ayahnya.

 

“ Sial! Padahal aku ingin tahu ada apa kepala sekolah itu memanggil ayahku..”

Setelah agak jauh dari kantor polisi, Yura berjalan agak lambat menuju sekolahnya karena sebenarnya ia sangat malas hari ini, ia tak bersemangat karena tak melihat Myungsoo pagi ini, lelaki itu bermalam di rumah sakit, membuat Yura ingin mengintipnya juga, ingin tahu siapa yang Myungsoo jaga.

“ Tapi bagaimana caranya aku kesana? Rumah sakitnya yang mana saja aku tidak tahu. Apalagi ruang perawatannya..”pikir Yura sepanjang jalan, “…kalau dia sempat pulang dan aku ingin ikut dengannya, ia pasti tidak mau. Ah.. jadi gimana aku..eh?”

Yura berhenti berbicara sendiri ketika ia menemukan sebuah benda kecil tepat di depan kakinya, ia segera memungutnya.

“ Wah, ponsel. Ponsel murahan sih.”gadis itu mengamati ponsel itu, “…kacanya udah retak, tapi kayaknya ini ponsel baru.”

“ Hei, nak. Apa yang kau temukan?” seorang wanita paruh baya dengan tiba-tiba menghampirinya.

“ Eh, ng.. ini.. ahjumma, ada ponsel jatuh.”jawab Yura polos.

“ Ah.. bisa jadi ini ponsel korban, atau yang menolongnya.”

“ Korban?” Yura tak mengerti.

“ Kau tidak tahu? Kemarin lusa ada kecelakaan di jalan ini. seorang gadis berjubah hitam ditabrak mobil.”

Mwo?” Yura terkejut, “ Lalu bagaimana? Apa dia meninggal?”

“ Tidak. seorang pemuda tampan menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Jadi, mungkin ponsel ini milik pemuda itu juga. Ia bisa saja meninggalkan ponselnya karena ia sangat panik.”

“ Pemuda tampan?”

Jika mendengar kata ‘pemuda tampan’, yang muncul di pikiran Yura hanya satu : Kim Myungsoo.

***

 

“ Apa disini saja? Biaya sewa perbulannya tidak begitu mahal.”

“ Tapi ini agak jauh dari universitas.”

“ Kan ada mobil. Lagipula tempat ini cukup nyaman.”

 

“ Hahaha.”

Woohyun dan Chorong berhenti berbincang tentang rumah yang mereka kunjungi. Sungyeol menertawai keduanya dari belakang, namun pura-pura bodoh ketika sepasang kekasih itu menatapnya.

“ Kau selalu tertawa aneh ketika kita membicarakan rumah. Sebenarnya apa yang lucu?”tanya Woohyun agak kesal, ini bukan pertama kalinya Sungyeol menertawai rencananya dengan Chorong untuk mencari rumah kontrakan di Amerika.

“ Kau bahkan tidak bilang apa-apa padaku. Ada yang sedang kau rahasiakan?”tanya Chorong.

Sungyeol masih tersenyum misterius, ia memang tak jadi menceritakan tentang Myungsoo yang hidup kembali pada Woohyun dan Chorong. Ia ingin sepasang kekasih itu melihat Myungsoo langsung, karena ‘efek’nya akan lebih luar biasa, terutama bagi Chorong.

“ Kalian yakin akan tinggal disini setelah lulus? Aku tidak yakin..” ucap cenayang itu sambil tertawa sinis, ia memang tak yakin karena jika Chorong sudah tahu Myungsoo hidup sekarang, ia tak mungkin mau meninggalkan korea, ia pasti membatalkan kepindahannya nanti.

“ Apa yang membuatmu tidak yakin?”tanya Chorong.

“ Ah, pokoknya aku tidak yakin.”Sungyeol tak ingin dicecar, ia pun keluar dari rumah kosong itu dan masuk ke mobil duluan.

“ Kenapa dia berubah menyebalkan hari ini? apa aku harus membatalkan tiketnya ke Korea?”sungut Woohyun.

Andwae. Kau sudah berjanji akan membelikannya tiket pulang. Biar saja dia, lama-lama kita juga akan tahu apa yang dia rahasiakan.”jawab Chorong tenang.

“ Apa dia merahasiakan sesuatu yang besar?”Woohyun curiga.

“ Entah. Sudahlah.. aku tidak ingin ribut dengannya. Aku ingin bersenang-senang karena setelah ini belum tentu aku bertemu dengannya lagi.”

“ Tapi dia benar-benar…”

“ Sudahlah, ayo kita pergi. Ada satu rumah lagi yang harus kita lihat.”

Woohyun mengangguk malas, ia dan Chorong pun masuk ke dalam mobil. Terlihat Sungyeol mengotak-atik radio yang ada disana.

“ Ya! apa lagi sekarang?”tanya Woohyun kesal.

“ Radiomu tidak bisa streaming interlokal?”tanya Sungyeol.

Wae? Kau ingin mendengar radio Korea?”

Sungyeol mengangguk, “ Aku ingin mendengarkan musik, ponselku sudah melayang entah kemana.”

“ Oh iya! Aku ingin mendengar radio juga. Aku mau menelpon lagi.”sahut Chorong sambil membantu mengatur tape­nya.

“ Menelpon?”Woohyun agak bingung.

“ Ya. beberapa hari yang lalu aku request lagu untuk Myungsoo dan Sungyeol. Sekarang aku mau request lagi untuk Myungsoo.”

“ Kau gila? Mayat bisa mendengar radio?”

“ Bilang saja kau cemburu.”celetuk Sungyeol sinis.

“ Tidak! untuk apa cemburu pada orang yang sudah mati?”sanggah Woohyun.

Hah, kau tidak tahu apa-apa.”jawab cenayang itu dalam hatinya.

***

 

“ Program Play For Someone, dengan siapa dan dimana?”

“ Park Chorong, yang pernah menelpon beberapa hari yang lalu. Boleh aku request lagu lagi?”

 

“ Chorong?!”

Myungsoo buru-buru beringsut menuju radio tape yang ada disamping tempat tidur pasien dan memutar volumenya hingga bertambah beberapa strip.

“ Tentu saja boleh, nona Park. Apakah kau masih mengingat kedua sahabatmu?”terdengar sang penyiar bertanya dengan ramah, rupanya ia masih ingat cerita menyedihkan Chorong.

“ Ya. tapi sekarang aku bertemu dengan salah satu dari mereka di Amerika, meski kurasa ia akan pergi lagi..”

 

“ Sungyeol? Sungyeol di Amerika? Bagaimana bisa?” Myungsoo terkejut, “…jadi sekarang Chorong juga di Amerika? Sedang apa dia disana?”

 

“ Mungkin kedengarannya konyol karena aku mengirimkan lagu untuk sahabat yang sudah meninggal, tapi… kuharap siapapun yang mendengarnya bisa merasakan apa yang kini aku rasakan. Karena sahabatku itu tidak mungkin mendengarnya..”

 

“ Aku mendengarmu..” jawab Myungsoo dengan senyum getir di bibirnya, “…apa dia masih ingat lagu favoritku?”

 

“ Baiklah, lagu apa yang kau inginkan?”

“ Officially Missing You.”

“ Ya! itu lagu cinta!! Kenapa harus itu!?”

Myungsoo tertawa kecil mendengar samar-samar suara protes Woohyun, rupanya ia masih saja sensitif, membuat Myungsoo semakin ragu untuk muncul di depan Chorong.

*

 

All I hear is raindrops
Falling on the rooftop
Oh baby tell me why’d you have to go
Cause this pain I feel
It wont go away
And today I’m officially missing you…

 

“ Ah.. aku selalu merasa senang tanpa sebab kalau mendengar lagu ini..” Myungsoo tersenyum dan mencoba menikmatinya dengan menyandarkan kepalanya disamping lengan putih seorang gadis yang masih tak sadarkan diri di tempat tidur ruang perawatan tempat ia berada sekarang.

Son Naeun.

“…dokter bilang hanya kakimu yang terluka, tapi kenapa seluruh tubuhmu belum bergeming juga? Aku ingin melihat matamu. Aku ingin memastikan mata penyihir tidak seseram di dongeng-dongeng.”

Berpikir tentang penyihir membuat Myungsoo tiba-tiba penasaran dengan apa yang dibawa oleh Naeun. Meski merasa sedikit bersalah, rasa penasaran yang begitu besar membuatnya terpaksa meraba-raba pelan tubuh indah gadis itu untuk mencari sesuatu.

“ Ah, aku menemukannya!”

Lelaki itu mengamati sebatang tongkat mungil yang ia temukan dibalik jubah yang masih dikenakan gadis itu. pihak rumah sakit memang belum mengganti pakaiannya dengan seragam pasien karena Myungsoo melarangnya, ia takut suster yang mengganti pakaian Naeun menemukan tongkat sihirnya dan membuangnya.

“…bagaimana menggunakannya? Apa perlu mantra?”Myungsoo begitu penasaran, namun ia urungkan niatnya untuk main-main karena tak mau terjadi sesuatu. Ia pun meletakkan tongkat itu di dalam laci, kemudian kembali menatap gadis itu.

“…apa aku harus jujur padamu saat kau bangun nanti? Apa aku harus mengaku kalau aku sudah tahu siapa dirimu?”

Myungsoo berpikir, hingga ia meraih liontin kalung panjang milik L yang masih ia pakai. Dimasukkannya kalung itu ke dalam kausnya.

 

“ Tidak. kurasa aku harus menjadi orang asing agar bisa dekat denganmu, penyihir Son.”

*

 

“ Myungsoo sedang mendengar lagunya..”

Woohyun dan Chorong kompak menoleh kearah Sungyeol yang berbicara sendiri dengan kartu tarotnya di jok belakang.

“ Cenayang gila..” Woohyun geleng-geleng kepala dan lanjut menyetir.

“ Yeol, kau serius?”tanya Chorong dengan nada berharap.

“ Kau jangan ikut gila.”sela Woohyun.

“ Kau yang akan gila jika sudah tahu nanti.”jawab Sungyeol.

“ Tahu apa?”tanya Chorong semakin penasaran. Namun Sungyeol diam saja dan kembali sibuk dengan kartu tarotnya, ia sedang meramal sesuatu.

“ Sial, apa benar ramalanku ini?”lagi-lagi cenayang itu bicara sendiri dan melanjutkannya dalam hati, “…Myungsoo sedang bersama seorang perempuan?”

Hatinya mendadak sakit dan keringat dingin bercucuran dari dahinya. Ia masih merasa cemburu? Sepertinya jiwa gaynya kembali kambuh setelah tahu Myungsoo hidup lagi.

“…Woohyun-ah!” Sungyeol tiba-tiba menepuk punggung Woohyun hingga lelaki itu terlonjak kaget.

“ Ya! kau mengejutkanku, ada apa!?”

“ Belikan aku tiket. Aku ingin pulang ke Korea sekarang.”

“ Hah?? Kau gila!?”

“ Ada apa, Yeol? Kenapa tidak dengan kami saja nanti?”tanya Chorong.

“ Aku ingin berobat di Korea, rumah sakit di Amerika kan mahal.”jawab Sungyeol seadanya, ia juga memang berencana untuk memeriksakan diri ke dokter sebab ia tidak sesehat dulu sejak arwahnya dikeluar-masukkan oleh Hyoyeon.

“ Besok saja kalau begitu, kenapa harus sekarang?”

“ Aku ingin sekarang!”

 

Sungyeol benar-benar ingin tahu. Siapa perempuan yang sedang bersama Myungsoo itu?

***

 

Teng.. tong..

“ Pelajaran dilanjutkan besok di lapangan, kita akan langsung praktik. Pastikan tongkat sihir kalian bersih dan tidak rusak, besok aku akan mengambil nilai untuk mengukur kemampuan kalian.”

L menutup bukunya karena bel tanda jam istirahat dimulai berdentang di sekolah sihir negeri Junghwa, setelah itu ia mengarahkan tongkat sihirnya kearah alat-alat kebersihan yang ada di pojok kelas dan membagikannya pada semua siswanya kecuali Namjoo.

“…jalani hukuman dariku sampai tuntas, baru kalian bisa bermain di luar.”

Dengan terpaksa para siswa itu memulai pekerjaan mereka membersihkan kelas, sebagai hukuman atas penghinaan yang mereka lakukan pada Namjoo di awal jam pelajaran beberapa saat yang lalu. Sementara Namjoo sendiri masih duduk diam di kursinya, memperhatikan L yang kini menghampiri Lin yang duduk tenang di kereta bayinya.

 

“ Kau lapar?” tanya L sembari mengelus pipi halus Lin, kemudian memberinya sebotol susu. Putra kecilnya itu nampak diam dan menatap lurus ke suatu titik tanpa berkedip, membuat L merasa heran.

“…apa yang kau perhatikan, sayang?” L ikut melihat, dan yang pertama kali ditangkap oleh matanya adalah sosok Namjoo yang ikut memperhatikannya. Lin menatap Namjoo sejak tadi?

“…kau merasakan apa yang aku rasakan saat bertemu dengan anak perempuan itu?”bisik L, “…kau tahu siapa dia?”

Tak disangka, entah kebetulan atau bukan, Lin mengangguk pelan. Seandainya saja Lin tidak lebih hebat dari L, mungkin L bisa membaca pikirannya sekarang. Ia begitu penasaran.

“…sudahlah, lupakan. Biar aku yang mengurusnya.”ucap L tenang dan mengarahkan wajah Lin kearahnya.

“…hei Lin, apa kau merindukan ibumu?”

Kini mata besar dan bening milik Lin nampak berkaca-kaca dan bibir bawahnya yang mungil sedikit maju. Bahkan ketika sedang sedih saja wajah Lin benar-benar menggemaskan. Beberapa siswa yang memperhatikan ‘pembicaraan manis’ ayah dan anak itu sepertinya mulai tak tahan untuk mencubit pipi tembam anak pertama L dan Naeun itu.

“…aku juga merindukannya. Seandainya kalung itu tidak hilang, mungkin aku masih bisa merasakan kehadirannya disini. karena kalung itu berisi auranya..”L sedikit ‘curhat’ pada anaknya, “…apa aku terlalu kejam merenggut aura itu? sekarang aku takut kalung itu jatuh ke tangan orang yang salah. Bisa-bisa ia jatuh cinta pada ibumu.”

Lin menatapnya dan menggeleng-geleng pelan. Mungkin melarang L untuk berpikir macam-macam.

“…kau benar, aku tidak perlu khawatir.”L menenangkan dirinya kemudian mengecup pipi Lin singkat, “…appa tinggal sebentar ya, ada sesuatu yang harus kulakukan.”

L pun berdiri dan keluar dari kelas. Seketika itu juga anak-anak yang sedang membersihkan kelas berlarian menuju Lin, berebut untuk mencubit pipi tembam bayi penyihir itu dengan gemas.

Kecuali Kim Namjoo, yang sepertinya lebih ‘gemas’ dengan ayahnya. Ia keluar dan mengikuti langkah L.

*

 

“ Sudah kuduga kau tahu bahwa siswi Kim Namjoo adalah manusia biasa.”

Kepala sekolah sihir Junghwa mengangguk-angguk mengerti ketika L menghadap ke ruangannya, beliau mengambil sebuah buku besar dari laci mejanya dan membuka data siswa.

Aku bahkan lebih dari tahu tentang anak itu.” batin L, setelah itu memikirkan apa saja pertanyaan yang pantas ia ajukan.

“ Kalau kau tahu dia manusia biasa, mengapa kau memasukkannya sekolah disini dan merahasiakan statusnya dari teman-temannya yang lain?”tanya penyihir tampan itu hati-hati.

“ Kim Namjoo..” kepala sekolah membuka salah satu halaman bukunya lalu memutarnya ke arah L, “…saat penerimaan siswa baru, ibunya datang padaku dan memohon agar anaknya bisa sekolah disini. ibunya bilang, anaknya sangat ingin mempelajari sihir dan punya minat yang besar terhadap dunia sihir meski ia tak bisa mempraktikkannya. Ibunya sampai menangis-nangis didepanku, aku jadi tidak tega..”

Mwo?” L merasa heran, ia pun membaca data Namjoo dengan teliti, dan mataa elangnya memicing saat membaca nama ibunya.

“…Hong Yookyung? Kim Hyoyeon, kau sangat licik.” umpat L dalam hatinya. Jelas, ini hanya strategi Hyoyeon agar Namjoo bisa masuk ke sekolahnya. Ia menggunakan nama dan wajah Yookyung untuk menjadi ibu Namjoo.

“ Kau mengerti kan sekarang?”tanya kepala sekolah yang tak tahu menahu kegusaran guru muda didepannya itu.

“ Tapi..”

“ Kuharap kau mau mengajari Namjoo dengan sabar. Kau tahu? Ibunyalah yang menyarankan padaku agar merekrutmu sebagai guru disini. ibu Namjoo bilang, ia ingin anaknya diajar oleh guru hebat sepertimu. Bukankah ia sangat baik? Jika bukan karena rekomendasi darinya, aku belum tentu terpikirkan untuk merekrutmu disini.”

“ Brengsek. Apa maumu, Kim Hyoyeon? Jadi ini perangkapmu?” L semakin mengumpat dalam hatinya. Jika Naeun tahu hal ini tentu ia menjadi yang paling kecewa karena istrinya itu sudah sangat senang saat tahu L mendapat pekerjaan.

“ L… kenapa kau diam saja? Ada masalah?”kepala sekolah memecah lamunan penyihir nomor dua itu.

Ne? ani.. aku mengerti.”jawab L seadanya, “…kalau begitu aku permisi.” lelaki itu buru-buru berdiri dan merapikan celana serta kemeja hitamnya.

“ Tolong rahasiakan tentang Namjoo dari teman-temannya. Jangan sampai mereka tahu kalau Namjoo sebenarnya manusia biasa. Kumohon bantuannya, L songsaenim.

L mengangguk saja dan balik kanan, keluar dari ruangan kepala sekolah hingga sosok seorang gadis berambut pendek mengejutkannya.

Keduanya bertatapan agak lama. Mungkin sama-sama tegang, namun L tak ingin lama-lama terlihat bodoh.

“ Berbaurlah dengan teman-temanmu, jangan khawatirkan apapun. Jika ada kesulitan beritahu saja aku.”pesannya dengan wajar layaknya guru kepada murid, kemudian lelaki itu berlalu.

“ Kau tidak penasaran?”

L menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap Namjoo lagi.

“ Dengan kau bertanya seperti itu, aku sudah tidak penasaran lagi.”

“ Maksudmu?”

“ Tidak apa-apa. Kurasa aku harus mengunci lokerku agar siapapun tidak sembarangan menaruh pesan ancaman disana.”

“ Kau kira aku yang melakukannya?”

“ Kau atau ibumu sama saja.”

Namjoo menghela nafas, mencoba menenangkan diri. Ia harus memenangkan debat.

“ Kau tidak ingin tahu apa maksud pesan itu?”

“ Apa penting bagimu aku ingin tahu atau tidak?”

“ Aku…”

“ Pikirkan saja pelajaran sihirmu, bukankah kau punya minat yang besar?” potong L dengan sedikit menyindir, kemudian berlalu.

Tangan gadis itu mengepal.

 

“ Takkan kubiarkan kau sesantai itu lagi, L.”

***

 

“ Apa!? Jadi sampai sekarang kau masih di Jepang? Pantas saja aku tidak melihat foto-fotomu di bandara. Kenapa lama sekali? Fans korea merindukanmu! Apalagi akuu~”

Hoya tertawa kecil mendengar perkataan Bomi di telepon, nada lucunya membuat Hoya yang akhir-akhir ini agak stress jadi terhibur.

“ Ada yang harus aku kerjakan disini. bagaimana kabarmu, big fan?”

“ Buruk sekali! Aku tidak melihat foto-foto terbarumu, hari-hariku hampa dan membosankan. Aku admin di fanbasemu tapi tidak bisa update apa-apa! Apa setelah ini aku harus update dengan memposting pembicaraan kita di telepon?”

“ Hahaha. Jangan..jangan lakukan itu. ini rahasia. Kalau kau melakukannya, aku tak jadi memberimu sesuatu.”

“ Kau ingin memberiku sesuatu??”

“ Hm, kalau kau mau sih.”

“ Mau!! Aku mau! Ah.. paling-paling ini dari Eunji, tapi kau mengatas namakan dirimu biar aku senang.”

Ani..ini memang dariku. Eunji tidak disini bersamaku.”

Mwo? Jadi Eunji tidak ada denganmu? Bukannya saat pergi dia denganmu? Jadi sekarang dia dimana?”

Hoya menghela nafas, agak takut untuk berbohong karena Bomi akan menyampaikannya pada tuan Doojoon dan nyonya Gayoon.

“ Waktuku tidak banyak untuk membicarakan ini, sebentar lagi aku latihan.”

“ Jadi bagaimana?”

“ Makanya, aku ingin memberi sesuatu padamu.”

“ Apa itu?”

“ Kode booking tiket pesawat kesini. ke Jepang.”

“ APAAA!!!!?”

Hoya buru-buru menjauhkan speaker ponsel dari telinganya.

“ Santai.. santai. Kau mau kesini, kan? Aku kan pernah menjanjikan fan meet pribadi denganmu, aku tidak mau ingkar janji. Jadi…”

“ Mau!! Aku mau!!! Kirim saja tiketnya!”

“ Baguslah,besok aku kirim kode bookingnya ya. bagaimana dengan orangtuamu? Apa mereka bisa ikut?”

“ Sepertinya aku sendiri saja. Eomma sibuk, banyak sekali yang melahirkan bulan ini. appa juga, sedang seleksi pemain baru untuk tim sepakbolanya.”

“ Begitukah.. ya sudah, tidak apa-apa. Aku tunggu kedatanganmu. Kabari aku, ya. dan ingat, jangan update apa-apa di fanbasemu. Ini rahasia kita.”

“ Siap!”

“ Kalau begitu aku tutup, aku harus latihan sekarang.”

“ Terimakasih, Hoya-ssi. Saranghae!!”

Hoya menutup teleponnya, entah apa yang ia pikirkan. Ia benar-benar penat hingga memutuskan untuk bertemu Bomi, selain untuk menepati janjinya tentang fanmeet pribadi, ia juga ingin menghibur dirinya yang akhir-akhir ini.. stress.

“ Bagaimana kalau nanti Bomi tanya tentang Eunji? Aku jawab apa?” lelaki itu gusar, “…apalagi jika nanti Bomi tahu aku bersama Minah disini, dia pasti mengira aku sudah putus dengan Eunji.”

Lelaki itu memejamkan matanya dan bersandar di sofa studio musik tempatnya berada sekarang, mengingat kekasihnya yang tak ia tahu kabarnya. Apa ia baik-baik saja di perjalanan 15 hari itu? apa sekarang gadis itu sudah membencinya karena surat yang ia berikan?

Hoya benar-benar menyesalkan surat yang telah ia tulis. Reaksi Eunji terhadap suratnyalah yang menjadi beban pikirannya akhir-akhir ini.

Ia merasa terlalu jahat.

***

 

Hai, tuan putri.

Maaf jika aku tidak menulis pembuka yang baik di awal surat ini, aku menulisnya dengan buru-buru.

Jika kau membukanya sebelum berangkat ke negeri Gwangdam, aku ingin tahu apakah kau merasa kecewa karena aku tidak bisa menemanimu?

Jika kau membukanya di tengah perjalanan menuju negeri Gwangdam, aku ingin tahu apakah kau baik-baik saja? Apa kau menikmati perjalananmu?

Dan jika kau baru membukanya setelah sampai di negeri itu, aku ingin tahu apa kau merasa senang berada jauh dariku sekarang?

Tuan putri,

Maaf jika aku tidak memanggilmu dengan kata-kata sayang lagi di surat ini, aku ingin menghormati dirimu, yang sudah kembali memakai gaun kebesaranmu. Meski aku tidak memanggilmu dengan kata-kata sayang lagi, bukan berarti aku berhenti mencintaimu.

Tuan putri,

Adikmu akan menikah, meskipun bukan dengan orang yang ia cintai. Tapi apakah kau merasa senang? Apa pernah terbersit di pikiranmu bahwa kau juga akan menikah…denganku?

Semoga pernah, karena aku juga sering memikirkan itu. tapi sekarang aku menyadari sesuatu, pertemuan kita di panggung besar itu bukanlah akhir dari segalanya, kita sedang memasuki babak baru. Dimana kau kembali pada keluargamu yang sangat terhormat, dan dimana aku harus memulai hidup baruku sebagai selebriti di dunia nyata.

Tidakkah kau berpikir ini akan sulit? Selain jarak dan waktu yang perlahan memisahkan kita, di hari-hari kedepan akan muncul perasaan-perasaan tak nyaman diantara kita berdua. Terutama kau kepadaku, karena kehidupanku tak lagi polos seperti Lee Howon si pengawal kerajaan yang lugu itu. Kini aku berada di lingkungan berbeda, aku berada di lingkungan yang rentan membuatmu sakit.

Maaf jika aku terlalu bertele-tele, aku hanya ingin kau mengerti dengan jelas bagaimana keadaan kita sekarang. Mungkin saat ini kita merasa bahagia, tapi aku yakin semakin hari perasaan itu akan berubah menjadi kegelisahan karena kini kita berjauhan. Akan ada perasaan-perasaan khawatir. Bagaimana jika kau merusak kepercayaanku padamu? Atau mungkin sebaliknya?

Tapi bersama surat ini, biarkan aku mengaku.

Keadaankulah yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk berkhianat. Jadi aku meminta maaf lebih awal.

Aku tahu kau langsung mengutukku setelah membaca kalimat diatas.

Tuan putri,

Ini bukan berarti aku sudah berniat mengkhianatimu, aku ingin sekali kita berusaha untuk tetap saling mencintai selama apapun kita tidak bertemu. Tapi aku tak tahu sejauh mana kita bisa bertahan. Dengan statusmu sebagai putri raja, dengan statusku yang menjadi sorotan banyak orang di dunia nyata.

Tuan putri,

Jujur, aku tidak punya maksud sedikitpun untuk menyakiti hatimu dengan menulis surat ini. tujuanku hanya agar kau tidak terkejut dengan keadaan kita kedepannya.

Saat kau kembali ke dunia nyata nanti, mungkin saja kau hanya bisa melihatku di media.

Lalu kau menjawab dalam hatimu, “Tidak apa-apa. Aku mengerti kesibukanmu.”

Tapi bagaimana jika kau melihatku di media bersama wanita lain? meski ia hanya rekan kerjaku? Entah itu di atas panggung, di iklan, dan lain sebagainya. Apa kau masih bisa mengerti? Ini bukan tentang Minah saja, yang sejak awal sudah kau kenal. Sangat banyak artis wanita disekitarku. Apa kau mampu menerima kehadiran mereka sepanjang karirku? Raja dan ratu, keluargamu.. mereka pasti tak akan terima jika melihatku bekerja dengan wanita lain di TV yang kini sudah ada di istana. akan sulit membuat mereka mengerti kalau itu hanya pekerjaanku. Pikiran mereka berbeda dengan makhluk dunia nyata.

Dulu aku berpikir, menjadi selebriti atau bukan tidak ada bedanya. Tapi setelah sekian lama aku belajar di dunia nyata, perbedaannya sungguh besar. Kau akan merasa sakit menjalin hubungan dengan seorang artis, dan aku tak mau itu terjadi. Aku ingin kau bahagia, karena mencintai bukan tentang memiliki, tetapi bagaimana kita bisa membuat orang yang kita cintai merasa bahagia. Dengan atau tanpa kita. Denganku atau tanpaku, aku ingin kau tetap bahagia, aku sudah terlalu sering melihatmu menangis sepanjang pengalaman kita di dunia nyata, dan aku selalu merasa bersalah karena tak bisa menjagamu seperti Lee Howon yang dulu.

Tuan putri,

Sekarang.. aku memberikan kesempatan padamu. Apa kau ingin melanjutkan hubungan kita atau menghentikannya sampai disini. apapun keputusanmu aku akan terima, dan kita jalani konsekuensinya bersama-sama.

 

Kurasa sudah terlalu panjang aku menulis, aku harus segera ke Jepang. Aku akan bertemu dan bekerja lagi dengan Minah disana. Aku baru tahu bahwa ia masuk ke agensi yang sama denganku, kami akan sering bertemu.

Apa kau baik-baik saja? Ini baru ujian pertama jika kau tetap mempertahankan aku disisimu.

 

Pengawalmu, teman perempuanmu, dan artis sialan yang pernah kau benci,

 

Howon, Jiwon, Hoya.

 

“ Haha! Ada tiga tanda tangan berbeda.”Ilhoon tertawa.

“ YA! kenapa bahas tanda tangannya!!? Isi suratnya!” kata Daehyun emosi.

Arra.. arra..aku bisa apa? Keputusan kan di tangan Hyerim nuna.”

Daehyun menatap pintu kamar sempit yang ada di dalam kereta yang tengah membawa mereka menuju negeri Gwangdam. Sudah berjam-jam Hyerim tak keluar dari sana setelah membaca surat dari Howon. Sepertinya ia sangat terpukul.

“ Haruskah aku menghajar Howon? Mengapa ia berani sekali ingin bekerja dengan banyak wanita!?”Daehyun emosi sendiri, Kai menepuk-nepuk bahunya.

“ Maaf sebelumnya, pangeran. Tapi memang seperti itu konsekuensi seorang artis di dunia nyata. Mereka harus mau dipasangkan dengan siapa saja demi pekerjaan.”jelas Kai.

“ Hah? Benarkah? Lalu biasanya pekerjaan apa yang mereka lakukan?” tanya Ilhoon penasaran.

“ Yaa.. bisa apa saja. Mungkin syuting iklan, duet, atau mungkin menjadi pasangan dalam drama. Bahkan mereka harus beradegan ciuman.”

“ Berciuman?? Walaupun bukan sepasang kekasih!?”

Kai mengangguk, ingin tertawa juga karena kedua pangeran didepannya benar-benar baru tahu ada yang seperti itu.

“ Aih.. memang sakit kalau Hyerim nuna harus melihat Howon seperti itu.”ucap Ilhoon, “…kurasa Hyerim nuna lebih baik putus saja. Dia tidak cocok dengan lelaki seperti itu, dia kan cemburuan.”

“ Masalahnya dia sudah cinta. Kurasa bisa dengan cara lain.”pikir Daehyun, ia pun berdiri dan memasuki kamar dimana Hyerim berada, Ilhoon mengikutinya.

“ Tidak ikut masuk, tuan putri?” Kai menoleh kearah Krystal yang sejak tadi asyik saja melihat ke jendela dan menatap jalanan yang sepi karena kini kereta akan segera memasuki sebuah hutan. Beberapa saat yang lalu Krystal menerbangkan merpati milik Madame Sunny untuk memberi kabar pada penyihir istana itu sudah sampai mana perjalanan mereka.

Gadis itu menggeleng, Kai pun beringsut dan berdiri disampingnya.

“…kau masih marah dengan Hyerim bahkan disaat ia sedih seperti ini?”

“ Kita impas. Akhirnya dia juga merasakan bagaimana rasanya hubungan di ujung tanduk. Setidaknya ia masih lebih beruntung karena tidak dijodohkan dengan siapapun.”

“ Haishh.. masih dendam rupanya.”Kai mengacak-acak rambut Krystal dengan gemas.

“ Singkirkan tanganmu!”ucapnya sebal. Karena bisa-bisanya lelaki itu bercanda disaat ia masih belum bisa move on.

“ Haha. Mana calonmu? Kau sudah mengobrol dengannya?”

Krystal hanya mengangguk pelan, ia memang sempat berbicara hal-hal biasa dan tidak penting dengan Baekhyun. Mumpung pangeran itu benar-benar sadar dan tak dirasuki apapun seperti kemarin.

“…apa dia terlihat normal?”tanya Kai.

“ Hm.”

“ Kau tidak bertanya soal apa yang kita lihat di parkiran kereta itu?”

Krystal menggeleng cepat, “ Aku takut.”

“ Jadi kau pasrah saja dengan keadaan? Baguslah, memang sudah tidak ada yang bisa kau lakukan.”

“ Kata siapa aku pasrah?”

“ Lalu?”

“ Kereta ini belum sampai ke tempat tujuan. Aku ingin melompat dari sini.”

“ Apa!? Haishh.. kau kumat lagi?”Kai terkejut.

“ Aku benar-benar tidak mau menikah! Kau sendiri sudah lihat kan dia bukan orang baik!? Kau juga sudah lihat dia misterius, kau yakin aku akan bahagia dengannya? Kalau kau memang tidak mau melanjutkan hubungan kita, setidaknya bantu aku melarikan diri.”

“ Membantumu melompat dari sini, begitu? Lalu setelah melompat, apa? Kalau kau tidak terluka atau membentur tanah kau mau pergi kemana? Menjadi gelandangan? Apa kau bisa?”

Krystal menunduk, ingin menangis. perkataan Kai benar-benar kejam meski ada benarnya.

“ Berani seklai pengawal sepertimu bicara seperti ini padaku, kalau aku melaporkanmu pada raja habislah kau, Jongin.”ucap Krystal sambil terisak.

Kai tertawa kecil, setelah memastikan keadaan aman ia menarik gadis itu ke pelukannya lalu mengelus rambutnya pelan.

“ Laporkan saja, aku marah demi kebaikanmu.”

“ Kebaikan apa?! Membiarkan aku menikah bukan suatu kebaikan.”

“ Kalau kau memang ingin kabur, gunakan cara yang agak rasional. Melompat dari kereta hanya akan membuatmu terluka.”

“ Lalu apa yang harus kulakukan?”

Sebenarnya Kai punya ide untuk membebaskan Krystal dari pernikahannya, tapi bukankah ia sudah berusaha untuk tidak peduli?

“ Hyerim sempat meminta ramuan portal pada Yeoshin, sekarang ia pasti membawanya. Kenapa tidak kau gunakan saja?”

“ Maksudmu.. aku pergi ke dunia nyata dengan Hyerim unnie?”

“ Ideku terlalu gila, ya?”

*****

 

Night in Junghwa, 11.25 PM

 

“ L, kau belum tidur rupanya?”

“ Taeyeon?” L terkejut karena ibunya datang tiba-tiba malam begini, “…ada apa?”

“ Apa yang sedang kau lakukan?”

“ Hanya mengolesi ramuan obat pada Lin..” L menunjukkan sebotol ramuan racikan Naeun untuk mengobati bercak-bercak merah yang ada di tubuh dan wajah Lin.

“ Kenapa anakmu?”

“ Tadi di sekolah dicubiti anak-anak sampai merah begini.”

“ Hah, ada-ada saja.”

“ Ada apa kau kesini?”

“ Hanya ingin bilang, kunci pintu rumahmu dan jangan sampai lengah menjaga Lin.”Taeyeon hanya berpesan seperti itu kemudian bersiap untuk menghilang, namun L buru-buru menahannya.

“ Ada apa!?”

“ Ada enam orang penyihir hilang mendadak. Dua orang laki-laki, dua orang perempuan, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Keluarga mereka datang ke istana dan meminta pertolonganku dengan Sunny, kami sudah berusaha mencari tapi tidak berhasil. Bukankah ini aneh?”

L terkejut dan perasaan mendadak tak enak, “ Apa aku perlu bantu mencari?”

“ Coba saja. Tapi jangan paksakan dirimu, fokuslah menjaga Lin. Aku takut terjadi sesuatu padanya.”

Taeyeon pun menghilang karena tak ingin meninggalkan Sunny berlama-lama sendirian di istana.

L segera memindahkan Lin dari tempat tidur kecil ke tempat tidurnya kemudian berbaring disamping putranya itu. sepertinya ia akan terjaga sepanjang malam karena merasa tak tenang.

 

“ Kim Hyoyeon.. apa ini ulahmu juga?”

***

 

Good morning, Myungsoo-ssi!!”

Myungsoo terkejut karena Yura tiba-tiba muncul di depan pintu apartemennya pagi itu, gadis itu nampak berseragam sekolah seperti biasa.

“ Selamat pagi juga, Yura-ssi.”jawabnya ramah, kemudian mengunci pintu apartemennya dan berjalan menuju lift.

“ Kulihat kau baru saja pulang, lalu kau pergi lagi sekarang?”tanya Yura sambil mengikutinya dan menekan tombol menuju lantai dasar.

“ Ya. aku hanya pulang sebentar.”

“ Kau akan ke rumah sakit lagi? Ow.. jadi kau pulang sebentar untuk mengambil ini?”Yura menunjuk gitar yang ada di punggung Myungsoo, “…kau ingin menghibur orang sakit?”

Myungsoo mengangguk.

Yura semakin curiga, setelah sama-sama masuk ke dalam lift, ia pun mengeluarkan ponsel yang kemarin pagi ia temukan di jalan.

“ Hei, kemarin aku menemukan ini di jalan saat berangkat sekolah.” Yura menunjukkannya. Myungsoo terkejut, itu adalah ponsel barunya yang tergilas mobil saat Naeun tak sengaja mendorong tubuhnya ketika baru saja keluar dari portal.

“…kenapa wajahmu begitu? Kau tahu benda ini?”tanya Yura hati-hati.

“ Itu.. milikku.”jawab Myungsoo pelan dan agak malu karena itu hanya ponsel murahan.

Jinjja? Ah.. berarti kau tahu kalau sempat ada kecelakaan di jalan itu.”

Myungsoo terpaksa mengangguk, lagipula tak ada salahnya Yura tahu hal itu.

“…apa ada hubungannya dengan dirimu yang sejak kemarin bolak-balik ke rumah sakit?”

“ Ya. aku menolong gadis yang tertabrak mobil itu. ia tidak bersama siapa-siapa, jadi..aku tidak tega.”jawab Myungsoo seadanya.

Sial. Gadis malang yang ditabrak mobil itu lebih beruntung dari aku.”batin Yura sedih, namun sebuah ide langsung muncul di kepalanya.

“…ini, kau mau ponselmu kembali?”Yura menyodorkan ponsel yang masih ia pegang, namun ketika Myungsoo ingin mengambilnya, ia menjauhkannya lagi dengan jahil.

“ Kenapa kau tarik lagi?”lelaki tampan itu bingung.

“ Aku ingin ikut ke rumah sakit denganmu, baru kau bisa ambil ponsel ini.”

Mwo? Yura-ssi, bukannya kau harus sekolah sekarang?”

“ Eung.. a..ani.. aku dengar guru-guru rapat hari ini, jadi sebenarnya aku agak malas juga berangkat..hehe.”jawab Yura berbohong, padahal hari ini ia akan ulangan Kimia, karena belum belajar cukup ia ingin menghindarinya dengan bolos dan mengikuti Myungsoo.

“ Tapi kau akan bosan di rumah sakit, lebih baik kau sekolah sa…..”

“ Ya sudah, ponsel ini jadi milikku.”

“ Eh..” meski itu ponsel murahan, Myungsoo merasa sayang jika harus ia sia-siakan begitu saja.

 

“…ya sudah, ikutlah denganku.”

***

 

“ Sayang.. appa mengantuk sekali..hah..”

Sepanjang jalan menuju sekolah L terus menguap, semalaman ia sama sekali tidak tidur demi menjaga Lin. Berita bahwa enam penyihir menghilang secara misterius membuatnya takut Lin ikut hilang.

“…padahal tadi malam aku berencana mengirimkan mimpi pada Yeoshin, aku mulai tersiksa.. aku benar-benar merindukan ibumu. Ia pasti marah sekarang karena aku tak juga menemuinya..”

“…tapi aku harus menjagamu dulu, enam penyihir yang hilang itu membuatku takut. Apa kira-kira kau tahu siapa yang menghilangkan mereka?”

Krik.

Kereta bayi yang didorong oleh L mendadak berhenti, lelaki itu mengecek rodanya, baik-baik saja, tidak ada batu yang mengganjalnya, seharusnya bisa berjalan seperti biasa karena mereka sedang melalui jalan yang mulus.

“ Kenapa keretamu ini?”L bingung, ia mencoba menyihirnya namun gagal, membuatnya berpikir sepertinya Lin yang menginginkan keretanya berhenti.

“…sayang, ayo jalan lagi. Aku bisa terlambat mengajar. Sedikit lagi kita sampai.”

“…”

Rupanya lagi-lagi Lin menatap ke satu titik tanpa berkedip. L baru sadar keretanya berhenti persis di depan rumah keluarga Son. Rumah lama Naeun yang masih ditinggali oleh Dongwoon dan Gain.

“ Kenapa? Kau ingin mampir ke rumah ibumu?”tanya L.

Lin menggeleng pelan, ia terus menatap rumah itu, dan tatapannya semakin tajam ketika seorang anak keluar dari sana.

“ Kim Namjoo?”

Gadis itu nampak berlari menuju sekolahnya yang memang tak jauh dari sana, mungkin karena panik, ia tak menyadari L dan Lin memperhatikannya.

 

“ Untuk apa dia ke rumah keluarga Son?”

***

 

Yura masih duduk di sofa ruang perawatan dengan menopang dagunya, membiarkan Myungsoo asyik sendiri bernyanyi beberapa lagu dengan gitarnya untuk menghibur seorang gadis yang masih tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Sebenarnya ia kagum dengan keahlian Myungsoo bernyanyi dan bermain gitar, tapi ia tak bisa senyum karena Myungsoo menyanyikannya untuk gadis lain.

Sial, kenapa gadis itu harus cantik? Tapi.. menurut Myungsoo lebih cantik aku atau dia ya?”pikir Yura galau, ia tak bisa merasa kasihan pada gadis itu, rasa cemburunya mengalahkan rasa simpatiknya.

“…Myungsoo-ssi, apa kau tahu siapa namanya?”tanya Yura tiba-tiba.

Oh? Namanya Son..Naeun.”Myungsoo lebih memilih menjawab dengan nama ‘dunia nyata’nya.

“ Bagaimana kau tahu? Bukannya dia langsung pingsan saat kecelakaan? Kalian saling kenal?”

“ Hah? Ng.. ani.. aku tidak kenal dia. Aku tahu namanya dari… dari kartu identitasnya.”

“ Ooh. Tapi.. kenapa dia tidak memakai pakaian rumah sakit? Apa gak dikasih?”tanya Yura lagi, ia merasa agak aneh saja dengan jubah hitam yang membalut tubuh Naeun.

“ Ya. belum dikasih.”jawab Myungsoo seadanya, “…Yura-ssi, kau lapar?”

“ Hah?” Yura agak berbinar. Sejak tadi bernyanyi untuk Naeun, rupanya Myungsoo masih memikirkan perutnya.

“…i..iya nih, aku lapar sekali. Dari pagi aku belum sarapan. Bagaimana kalau kita berdua makan di caf……..”

“ Kau bisa ambil jatah makan Naeun di kantin rumah sakit, dia kan belum sadar jadi belum bisa makan.”

“…”

Yura terpaksa mengangguk. Ia pun keluar kamar dan berjalan ke kantin rumah sakit.

*

 

“ Aku benar-benar tidak suka hari ini! kenapa dia perhatian sekali dengan gadis itu? dia bahkan bernyanyi dengan gitarnya.. ahhh! Seharusnya aku saja yang ditabrak mobil waktu itu..”

Dengan mulut penuh bubur dan sayuran, Yura mengomel sendiri di bangku taman rumah sakit, ia menyantap jatah makan Naeun karena memang kelaparan sejak tadi pagi.

“ Hahaha.”

“ Hah?” Yura terkejut karena mendengar suara tawa di sekitarnya, “…heiii.. siapa disana?!! apa ada yang lucu!?”ucapnya kesal.

“ Baru kali ini aku mendengar ada orang yang ingin ditabrak mobil.”

Seorang lelaki jangkung berkacamata dengan hoodie biru tua muncul dan duduk di samping Yura, membuat kedua alis gadis itu terangkat.

“ Siapa ya?”

“ Aku? oh.. aku hanya orang yang tidak sengaja mendengar ocehanmu daritadi. Aku terganggu.”

Yura agak malu sekarang, ia pun melanjutkan makannya dengan salah tingkah.

“…aku baru tahu sekarang pakaian rumah sakit mirip dengan seragam sekolah.”ucap lelaki itu lagi.

“ Mwo!? Ya! aku bukan pasien disini!”Yura segera mengklarifikasi.

“ Oh, joesonghamnida.”

“ Formal sekali, kau seumuran denganku, kan!?”

“ Sok tahu.”

“ Berapa umurmu?”

“ Seharusnya kau tanya namaku dulu. Tidak adil kalau aku saja yang tahu namamu, Kim Yura.”

“ Darimana kau tahu?”

“ Tuh.”lelaki itu menunjuk papan nama di seragam Yura.

“ Ow. Ya sudah, siapa namamu?”

“ Ceritakan dulu kenapa kau mengomel sendiri dari tadi, aku terganggu.”

“ Terganggu? Memangnya kau dimana saat aku mengomel?”

Lelaki itu menunjuk bangku belakang dengan jempolnya, “ Daritadi aku berbaring disana menunggu panggilan dokter.”

“ Kau pasien… penyakit dalam?”tebak Yura, karena poli yang terdekat dari taman adalah poli penyakit dalam.

Lelaki itu mengangguk saja, “ Sudahlah ceritakan omelanmu tadi, sepertinya menarik sampai-sampai kau ingin ditabrak mobil.”

“ Menarik apanya? Memalukan iya. Aku tidak mau.”

“ Kita ini orang asing, aku tidak akan menyebarkannya pada siapapun, aku kan tidak tahu siapa saja orang-orang terdekatmu.”

Benar juga ya.”batin Yura, ia pun berdehem dan memulai ceritanya.

“…jadi, aku suka pada seorang pria, dia.. tetanggaku. Kemarin ia menolong seorang gadis yang tertabrak mobil. Mereka tidak saling kenal, tapi dia memperhatikan gadis itu. aku sangat cemburu.”

“ Haha, tragis.”

“ Sudah kuduga kau akan menertawaiku.”

“ Aku belum selesai. Kau pasti sangat dendam pada gadis itu.”

“ Tentu saja, melihat dia terluka saja aku tidak merasa kasian karena sudah terlalu cemburu.”

“ Kalau begitu lakukan sesuatu pada makanannya.”lelaki itu menunjuk satu ompreng makanan yang ada di pangkuan Yura.

“ Sudah kulakukan sesuatu. Aku memakannya.”

“ Bukan memakannya!”lelaki itu gemas, “…beri saja sesuatu, lalu suruh dia memakannya.”

“ Ah.. seperti adegan tokoh antagonis di drama-drama. Tapi.. boleh dicoba. Aku terlanjur kesal dengan gadis itu. terimakasih sarannya!” Yura tersenyum cerah.

“ Hah, tak kusangka kau menganggap serius candaanku.”lelaki itu geleng-geleng kepala lalu berdiri karena dokter memanggil namanya.

 

Pasien Lee Sungyeol..!”

***

 

“ Cerita tidak yah.. cerita tidak..”

Malam itu Namjoo sangat gelisah di dalam kamar, tangannya memegang sebatang replika tongkat sihir, pemberian dari guru barunya, L.

Ia sendiri tidak menyangka, tadi pagi kelasnya mengadakan pengambilan nilai praktik sihir dan L memberikan tongkat palsu untuknya agar ia bisa ikut. Dan saat ia praktik, L membantunya dari jauh dan memberinya nilai yang bagus, membuat teman-temannya tak lagi menuduhnya manusia biasa meski kenyataannya demikian.

“…kenapa L tiba-tiba baik padaku? Apa ada yang sedang ia rencanakan? Ah.. padahal kan aku yang sedang merencanakan sesuatu padanya.”

Namjoo memutar-mutar tongkat itu, ia menyukainya, ia merasa seperti penyihir sungguhan, apalagi ia dipuji teman-temannya tadi pagi, semua berkat L. namun Namjoo tidak mengucapkan terimakasih.

Sekarang ia berpikir, ingin melaporkan ini pada Hyoyeon atau tidak. jika ia laporkan, ia agak kasihan juga jika kebaikan L dibalas kejam oleh Hyoyeon karena Hyoyeon pasti menduga L sedang merencanakan sesuatu.

 

“ Kim Namjoo!!”

Ne, eomma!” gadis itu buru-buru menyahut dan menyembunyikan replika tongkatnya dibawah kasur, kemudian keluar dari kamar lama Naeun, tempatnya sekarang.

Ya, gadis itu beserta ibunya kini diam-diam tinggal di rumah keluarga Son. Dongwoon dan Gain bersedia diajak kerja sama dan mereka menyediakan tempat untuk mantan penyihir nomor satu itu, dengan imbalan janji bahwa Hyoyeon akan membantu mereka mengambil sebelas peti emas yang ada di rumah L nantinya. Tak hanya untuk tempat tinggal Hyoyeon dan Namjoo, rumah keluarga Son pun kini menjadi tempat dimana penyihir-penyihir yang hilang ditawan. Mereka disekap di ruang bawah tanah yang sudah dilindungi mantra oleh Hyoyeon hingga Madame Sunny dan Taeyeon tak mampu menjangkaunya. Terdengar kejam, bukan?

 

“ Ada apa memanggilku?”tanya Namjoo sambil duduk di depan Hyoyeon yang sedang membuka-buka buku Rahasia Dunia Luar yang diberikan pangeran Baekhyun padanya, hasil curian dari kamar Madame Sunny.

“ Bagaimana sekolahmu?”

“ Baik-baik saja.”

“ Tidak mungkin. Apa yang L lakukan?”

“ Ia mengajar seperti biasa.”

“ Ia mengajar seperti biasa? Itu suatu bentuk penghinaan. Aku sudah memasangmu didepannya dan ia tidak gentar?”

Namjoo diam saja.

“…lakukan tugasmu besok.”ucap Hyoyeon kemudian.

A..arasseo.”jawab Namjoo mengerti, ia memang diberi tugas khusus oleh Hyoyeon, yakni menghilangkan teman-teman penyihirnya di sekolah entah dengan cara apa asal tidak ketahuan. Namjoo sendiri belum memikirkannya.

“ Kau punya tugas tambahan.”

“ Apa lagi?”

“ Buku. Buku Rahasia Dunia Luar. Jika L memiliki buku itu juga, kau harus mengambilnya dan membawanya padaku.”

“ Bukankah sudah ada dari Sungyeol?” Namjoo menunjuk buku yang ada di depannya.

“ Milik Madame Sunny ini hanya penggandaannya, aku tidak bisa melakukan apapun. Aku butuh buku asli tulisan tanganku. Aku tidak tahu buku itu ada dimana, saat aku diusir sepuluh tahun yang lalu, Taeyeon yang menyitanya. Jadi bisa saja buku itu ada di tangan L sekarang.

“ Bagaimana caranya aku mencuri buku itu dari L?”Namjoo merasa takut dan bingung, tetapi ia tak mungkin tidak menuruti ibunya. Bagaimanapun juga ibunya yang sudah membuatnya hidup kembali, meski dengan cara mengambil ramuan pembangkit kematian dari dunia nyata yang dibuat oleh Naeun.

“ Apapun caranya, kau harus mendapatkannya.”

Setelah itu Hyoyeon berdiri dan menemui Dongwoon dan Gain yang menjaga ruang bawah tanah.

 

“ Malam ini lakukan lagi rencana A. aku akan melakukan yang B.”

***

 

“ Aku sangat merindukannya.. tapi aku tidak mungkin meninggalkanmu dengan mata belum terpejam seperti itu.”

L tengah risau di samping tempat tidur Lin, didepannya menyala sebuah lilin yang sudah ia mantrai untuk mengirimkan mimpi pada Naeun, ia sudah tak tahan karena terlalu merindukan istrinya itu. namun Lin masih terjaga, ia masih takut meninggalkannya tidur.

“ Lupakan, lebih baik aku menjagamu. Aku dan Naeun akan menyesal seumur hidup jika terjadi sesuatu padamu.”

Fiuh~

L mematikan lilinnya dan kembali menjaga Lin, namun putra kecilnya itu berguling, sedikit bergeser mendekati lilinnya dan menatap lilin mati itu sangat lama.

Ting!

Lilinnya menyala lagi, L merasa takjub.

“ Sayang, apa yang kau laku…”

BRUK!

Sebelum menyelesaikan kata-katanya, L mendadak mengantuk dan jatuh tertidur ketika Lin menatap matanya.

***

 

“ Kenapa aku bisa sampai disini?”

L mendapati dirinya berdiri di satu koridor rumah sakit yang sudah sepi dan gelap karena sudah tengah malam. Meski masih linglung, ia menyusuri koridor itu pelan-pelan.

“ L?”

Lelaki itu berbalik, seorang yeoja cantik muncul dibelakangnya.

“ Yeoshin?”

Yeoja itu tersenyum cerah dan berlari kearahnya, namun..

BRAK!

Ia terjatuh. L buru-buru berlari dan mengangkat tubuhnya. Keduanya saling bertatapan hingga L sadar wajah cantik istrinya benar-benar pucat.

“ Apa yang terjadi padamu?”

“ Hiks..”

Naeun tak menjawab, ia memeluk L erat dan menangis.

“ Aku merindukanmu..”

L membiarkan Naeun melepas rindunya, ia membawa gadis itu duduk di bangku terdekat. Perlahan ia menyibak rok hitam yang dikenakan Naeun, betis indah istrinya itu dibalut perban.

“ Kau kenapa? Hm?”L berusaha untuk tidak panik.

“ Tertabrak mobil..”jawab Naeun singkat.

“ Bagaimana bisa?”

“ Kau mendorongku keluar dari portal dan portalnya di jalan raya..”jawab Naeun seadanya.

“ Astaga. Ini salahku. Sayang.. maaf..”

Naeun mengangguk dan tersenyum, “ Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja selama kau disini..”

“ Tidak mungkin aku bisa terus disini. Lin ada di rumah.”

“ Lin? Bagaimana kabarnya? Kau menjaganya dengan baik? Apa dia mencariku?”

“ Dia tidak mencarimu, ia senang denganku.”canda L, membuat Naeun memajukan bibirnya dan memukulnya dengan manja.

“ Kenapa kau tidak membawanya kesini? aku juga rindu padanya.”

“ Seandainya bisa aku ingin membawanya. Tapi aku terdampar sendirian disini.”

“ Terdampar? Bukan kau yang mengaturnya?”

L menggeleng, Naeun merasa bingung.

“ Sudahlah, yang penting kita bisa bertemu.”

L mengeratkan pelukannya, Naeun membalasnya. Hingga ditengah momen itu, ia ingat dengan seorang lelaki yang ia lihat saat baru saja keluar dari portal.

“ L..”

“ Hm?”

“ Sebenarnya, sebelum aku ditabrak mobil.. aku melihat sesuatu..”

“ Apa?”

“ Seorang lelaki, dia sangat mirip dengan…..”

*

 

“ Ah!!!”

L terbangun dari tidurnya ketika merasakan banyak air membasahi tubuhnya, terlihat Madame Sunny berdiri didepannya dengan memegang ember kosong.

“ Mian, nomor dua. Ini jalan satu-satunya agar kau bangun.”

L menggigil dan ingin marah karena Naeun belum selesai bicara dalam mimpinya, namun ia urungkan kekesalannya ketika melihat Taeyeon menggendong Lin yang menangis dengan wajah khawatir di samping madame Sunny.

“ Lin kenapa?”

“ Dia demam tinggi..”jawab Taeyeon yang sudah hampir menangis karena tak tega dengan cucunya yang terlihat menderita, Lin terus menangis keras. L merasa bersalah.

“ Apa yang terjadi, sayang? Maafkan aku, aku tidak bermaksud meninggalkanmu tidur semalam..” L mengusap wajah dan tubuh Lin yang benar-benar panas dan berkeringat dingin.

Sementara itu madame Sunny mengangkat tongkat sihirnya dan memejamkan matanya, mencoba mencari tahu.

“ L, kau mimpi apa tadi?”tanya madame Sunny tiba-tiba.

“ Aku.. aku mimpi bertemu Yeoshin.”jawab L jujur.

“ Lin yang mempertemukan kalian berdua.”

“ Apa??”

“ Maksudmu Lin melakukan praktik pengiriman mimpi?”tanya Taeyeon, madame Sunny mengangguk.

“ Tidak mungkin.. ia masih sekecil ini..”

“ Sekecil apapun, jika ia punya tato di tubuhnya ia bisa melakukan itu.”

L menatap Lin yang semakin pucat, “ Terimakasih, sayang. Kau anak yang baik..” L mencium dan memeluknya, “..tapi kenapa kau sampai demam begini?

“ Aku mencoba mencari tahu kenapa ia sampai sakit, tapi aku tidak mampu. Ada yang aneh disini.”ucap madame Sunny sembari mengusap peluhnya karena ia mulai kekurangan energi.

“ Biar aku.” L meraih tongkat sihirnya dan mencoba memejamkan matanya.

“ Kubantu.”Taeyeon menempelkan tongkat sihirnya di ujung tongkat milik L dan ikut memejamkan matanya, madame Sunny pun ikut melakukannya.

 

“ Aku melihat seseorang masuk ke dalam kamar ini..”ucap Taeyeon perlahan dengan keringat yang mulai menetes di dahinya karena ia berusaha keras.

“ Aku juga. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya, ia melindungi dirinya.”sambung Sunny.

L masih diam, hingga tiba-tiba airmata lelaki itu menetes, ia berhasil melihat jelas apa yang terjadi di kamarnya semalam dan ia tak menyangka.

Lelaki itu membuka matanya bersamaan dengan Taeyeon dan Madame Sunny, ia segera memeluk Lin sambil terus menangis.

“ Kau sudah tahu kenapa Lin sampai demam tinggi?”tanya madame Sunny.

“ Apa yang kau lihat, L?”tanya Taeyeon.

L membiarkan airmatanya terus berjatuhan.

 

“ Lin, ia bertarung dengan Kim Hyoyeon.”

***

 

“ L.. L.. aku belum selesai..”

 

Eung?” Myungsoo berhenti menyapu lantai ruang perawatan dan berlari menuju Naeun yang mendadak bergerak dan berbicara pagi itu, meski kurang jelas.

“ L.. kumohon jangan pergi dulu..”

“ L?” Myungsoo mengangguk pelan dan mengerti, ia harap-harap cemas menunggu Naeun membuka matanya.

“ L !!”

Ia membuka matanya!

Myungsoo terpaku, menatap kedua mata indah yang kini terbuka itu. perlahan lelaki itu mendekat, mencoba mempertemukan mata elangnya dengan mata indah gadis itu.

“…”

Wajah cantiknya masih terkejut, sama seperti saat pertama kali ia keluar dari portal dan melihat Myungsoo. Namun lelaki itu mencoba tenang, ia menyunggingkan senyum manisnya dan menunjukkan lesung pipinya, lalu menyapa gadis itu ramah.

 

“ Annyeong..”

 

“ Oh, shit.

Yura yang baru saja masuk ke ruang perawatan dengan membawa makanan melihat pemandangan yang menurutnya buruk itu. Apa harus Myungsoo menyapanya seramah itu? membuatnya semakin panas.

“ Hei, dia sadar!” Myungsoo yang menyadari kehadiran Yura seger memberitahu gadis itu.

“ Hah? Oh.. baguslah. Kalau begitu aku ke kantin, lagi, ada yang lupa kuambil!” Yura keluar dari ruang perawatan dengan buru-buru. Naeun menatapnya dengan bingung.

“ Darimana kau kenal gadis itu, L? kau selingkuh dariku!?”

M..mwo? tidak.. bukan begitu..” Myungsoo mendadak panik, ia tak menyangka Naeun mengira ia adalah L.

“ Lalu!?”

“ Dengarkan aku dulu, nona.”

“ Kenapa kau bicara seformal itu padaku?”

“ Sudah seharusnya. Karena kita belum saling kenal.”

Mwo!?” Naeun mendadak pucat, rupanya yang ia lihat sebelum tertabrak mobil memang nyata. Lelaki didepannya memang bukan L, dia.. Naeun masih tidak menyangka.

“ Kau ingat sesuatu?” lelaki tampan yang persis menyerupai suaminya itu memberinya kesempatan.

“ Siapa kau?”tanya Naeun hati-hati dengan gemetaran, Myungsoo tersenyum geli, memakluminya. Ia sudah menduga reaksi gadis itu akan seperti ini.

“ Aku Kim Myungsoo. Kau?”jawabnya ramah dengan tangan yang sudah terulur, ia sudah memutuskan untuk merahasiakan semua yang sudah ia ketahui.

“ Kim Myungsoo???” Naeun mengulang namanya dengan semakin gemetaran. “ Ia hidup lagi. Ramuanku.. siapa yang memberikannya?” pertanyaan itu langsung muncul di kepalanya. Ia merasa seperti sedang bermimpi bertemu dengan sisi baik L, ia kira ia tak akan punya kesempatan melihat Myungsoo yang asli seumur hidupnya.

“ Yaa.. aku Kim Myungsoo. Kau?”Myungsoo mengulang pertanyaannya dengan tangan yang masih terulur, dengan gemetar Naeun menyambutnya.

“ S..Son..Son.. Son..Naeun..”

“ Senang melihatmu sudah sadar.”Myungsoo menggenggam tangan Naeun pelan, “…apa sekarang kau merasa baikan, Naeun-ssi?”

“ Aku..” Naeun masih saja gugup, hatinya benar-benar bergejolak. Ia ingin menghambur memeluk lelaki didepannya ini karena ia benar-benar merindukan L, mimpinya semalam sama sekali tak cukup melepas kerinduannya. Tapi mana mungkin, bisa-bisa Myungsoo lari dan mengiranya gadis gila.

“ Kupanggil dokter ya.”Myungsoo melepas jabatan tangan mereka dan berdiri.

Andwae!” Naeun meraih tangannya lagi dan mendudukkan lelaki itu, “…andwae.. gajima..”

Jika Naeun memang tak bisa memeluknya. Setidaknya lelaki itu harus tetap bersamanya, agar ia terus bisa melihat sosok suaminya, L.

**

 

“ Kurasa kau benar, pasien Lee Sungyeol. Aku harus melakukan sesuatu dengan makanan ini.”

Dengan jengkel, Yura kembali ke tempat duduknya di taman rumah sakit kemarin lalu menatap sarapan pagi milik Naeun yang baru saja ia ambil dari kantin rumah sakit.

“ Ah, kau sudah tahu namaku rupanya.”

Lelaki itu muncul lagi dan duduk di sampingnya, Yura tersenyum pahit.

“ Kemarin dokter memanggil namamu. Kenapa kau datang lagi? Belum puas berobatnya?”

“ Aku meninggalkan obat di apotik, jadi aku mengambilnya.”Sungyeol menunjukkan satu plastik obat yang ia pegang.

“ Banyak sekali. Kau sakit parah?”

Lelaki itu hanya tertawa sinis, “ Hei, kau mau makan itu lagi?”

Yura menggeleng, “ Aku ingin menuruti saranmu. Melakukan sesuatu dengan makanan ini. gadis yang ditolong oleh lelaki yang aku suka sudah sadar, ia harus makan. Tapi aku tidak akan membiarkannya makan dengan enak.”

“ Kau bicara dengan dendam berkilat-kilat.”

“ Kau meledekku? Biar saja. Aku memang dendam, aku bela-belain bolos lagi hari ini untuk bertemu lelaki yang kusuka, tapi aku justru melihatnya dengan gadis itu. Menyakitkan!”

“ Sudahlah, jangan mengoceh terus, lakukan apa yang mau kau lakukan.”

Yura pun celingukan, mencari sesuatu.

“ Hei, apa kau punya sesuatu yang beracun?”

Sungyeol hanya menggeleng dan membiarkan Yura kebingungan sendiri, hiburan juga melihat gadis yang justru nampak lucu disaat hendak berniat jahat ini.

“ Ah, aku tahu!”

Yura membuka tas sekolahnya dan mengambil sebuah penggaris besi dari sana, setelah itu mengarahkan penggaris tersebut ke permukaan kulit tangannya.

“ Sshh..”

Sungyeol mengamatinya, gadis itu melukai tangannya dan meneteskan darahnya beberapa kali ke atas bubur yang ada di pangkuannya, setelah itu mengaduknya agar tercampur.

“ Whoa.. daebak.”komentar lelaki itu, ia pun mengeluarkan sebuah plester dari saku celananya dan menyodorkannya kearah gadis itu.

“ Gomawo. Aku akan kembali!” Yura memakai plesternya dan berdiri membawa bubur itu dengan riang menuju ruang perawatan tujuannya.

 

Beberapa menit kemudian, gadis itu benar-benar kembali tanpa makanan itu lagi.

“ Bagaimana? Apa gadis itu dipindahkan ke ruang operasi?” canda Sungyeol ketika Yura datang.

“ Aneh..” Yura duduk di sampingnya dan geleng-geleng kepala sendiri, kemudian menatap Sungyeol, “…kau lihat sendiri kan darahku cukup banyak tercampur di makanan itu!?”

“ Hm, ada masalah?”

“ Gadis itu bilang.. dia menyukai buburnya.”

Sungyeol terkejut, tentu karena ia tahu bahwa yang suka memakan makanan yang dicampur darah hanyalah bangsa penyihir.

 

“ Jangan-jangan.. gadis itu..”

 

To be Continued

 

Oke, maaf author cut disini. udah kepanjangan banget soalnya. Lanjutannya udah ada kok, tapi.. next week yaa.. semoga gak ngaret lagi karena udah ketulis 🙂

Like dan Comment sangat-sangat ditunggu, jangan jadi silent reader yaa. Sampai jumpa di part berikutnya!!

 

Part 3 : Day 15

Advertisements

144 responses to “THE PORTAL 2 [ Part 2B : Before The Day 15 ]

  1. ya allah kasian banget hidup L. lin juga kasiaaan.. sediih tauu.. ampe penyihir sehebat L nangis..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s