[Series] Married With A Gay – Chapter 2

married-with-a-guy

Title     : Married With A Gay

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Angst

Main Cast: Xi Luhan as EXO M Luhan, Ariel Lau (OC), Zhang Yi Xing as EXO M Lay

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : leesinhyo @exoluhanfanfictionindonesia

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

***

Wu Yi Fan berjalan pelan menuju meja yang kini tengah ditempati Luhan. Ia sempat tersenyum pada seorang wanita yang sempat menunjukan meja Luhan padanya. Setelah itu, ia pun langsung mendekati Luhan yang tengah menatap kosong gelas di tangannya.

Luhan agak terkesiap ketika Wufan –begitu Luhan memanggil pria jangkung itu- tiba-tiba muncul dan langsung duduk di salah satu kursi di dekatnya. Dan tanpa aba-aba, pria itu langsung menuangkan alkohol ke gelasnya.

“Kau datang? Kukira kau tidak akan datang karena sibuk dengan proyek barumu,” kata Luhan sebelum ia kembali menuangkan minumannya dan menegaknya sekaligus.

Wufan hanya tersenyum kecil sambil mengedikan bahunya, “Kau tahu aku orang yang mudah bosan. Menjadi workaholic bukan harapanku. Justru aku bersyukur kau mengajakku jalan-jalan keluar,” sahutnya sambil menggoyangkan gelas minumannya kemudian menatap Luhan serius. Ada yang berbeda dengan Luhan hari itu.

“Kau ada masalah? Kenapa menekuk wajahmu begitu?” tanya Wufan akhirnya. Menumpahkan rasa penasarannya yang mendadak bergelayutan di benaknya.

Luhan pun mengangkat bahunya dan menatap Wufan serius, “Ibuku sakit.” Ucapnya singkat dan setengah menggantung.

Dan Wufan langsung menaikan alisnya. Sekali lagi ia menuangkan minumannya, “Benarkah? Sakit apa? kulihat dia sehat-sehat saja,” dan ya Wufan tidak bohong mengenai ia yang melihat Ibu Luhan yang sehat-sehat saja. Karena 3 minggu lalu ibu Luhan bertemu dengan bibinya. Entah untuk acara apa, Wufan tidak begitu tahu.

Luhan mengangguk pelan, “Dia sakit karenaku. Aku yang membuatnya sakit,” ucapnya dengan nada melemah. Rasa bersalahnya belum juga hilang meskipun sang ibu sudah boleh kembali ke rumah 3 hari lalu.

Dan Wufan kali ini menatap Luhan serius, “Memangnya apa yang kau lakukan? Menolak gadis yang ditawarkannya lagi?” tebak Wufan sambil mengingat-ngingat berapa kali Luhan mengeluhkan soal ibunya yang gencar menjodohkan Luhan. Dan Wufan tahu, Luhan tidak tertarik dengan gadis-gadis itu karena Luhan sama sepertinya. Sama-sama seorang gay.

Luhan tersenyum masam mendengarnya, “Tidak. Lebih parah dari itu…” dan Luhan menggantung ucapannya sambil menuangkan minumannya dan menegaknya sekaligus, “Mama tahu aku seorang gay. Dan Mama juga tahu aku menyukai Yi Xing,” akunya kemudian.

Dan Wufan langsung membelalakan matanya tidak percaya. Ia harap ia salah dengar atau mungkin Luhan tengah bercanda. Ia tidak pernah menyangka Luhan akan membeberkan rahasia terbesarnya itu. Mengingat bagaimana protektifnya Nyonya Xi terhadap putra tunggalnya itu.

“Kau…kau mengatakannya?” tanya Wufan sekali lagi memastikan dengan nada tertahan.

Luhan pun mengangguk. Mendapat reaksi seperti itu dari Wufan membuatnya merasa semakin tolol saja. Harusnya ia punya alasan realistis lain dan bukannya dengan gamblang berkata bahwa ia terkungkung cinta pertamanya –yang tak lain dan tak bukan adalah Zhang Yi Xing. Pria kelahiran Cina yang dibesarkan di Korea.

“Astaga Lu! Kau tahu bagaimana ibumu dan…” dan Wufan kehilangan kata-kata. Ia tidak habis pikir dengan sikap Luhan. Terlalu gegabah menurutnya.

“Ya aku tahu. Makanya aku menyuruhmu datang untuk mendengarkanku,” dan Luhan menjedanya dengan alkohol yang melewati tenggorokannya.

Wufan pun menatap Luhan cukup prihatin, mengerti bagaimana perasaan ‘teman kencannya’ itu, “Lalu, bagaimana selanjutnya? Apakah dia murka padamu?”

Luhan menggeleng pelan, “Tidak. Aku justru semakin merasa bersalah padanya karena Mama malah memaafkanku dengan sangat mudah, tanpa ada perasaan marah sama sekali…”

Wufan pun mengangguk mengerti, “Dia sangat menyayangimu Lu,” dan Wufan pun mendengus pelan sebelum ia kembali meneguk alkoholnya, “Lalu setelah ini kau akan mencoba untuk meninggalkan duniamu?” tanya Wufan sekali lagi.

Luhan menggeleng pelan dengan senyum kecut tertarik di sudut bibirnya, “Kau bercanda. Aku bahkan sudah mencobanya dan kau tahu bagaimana hasilnya. Bahkan meskipun aku bisa tidur dengan wanita, aku sama sekali tidak bisa menikmatinya. Aku hanya merasa…” dan Luhan pun menggantung ucapannya, melempar ingatannya pada saat-saat ia menghabiskan malamnya dengan wanita-wanita bayaran yang pernah tidur dengannya.

“Jadi?”

“Tapi kali ini aku rasa aku harus benar-benar mencoba mengikuti keinginan ibuku. Aku…tidak ingin membuatnya sakit lagi,”

Dan Wufan pun menarik Luhan ke dalam pelukannya, “Aku percaya kau bisa. Semangatlah!”

***

Ariel baru saja tiba di bandara internasional yang berpusat di Beijing. Dengan mata setengah terkatup –karena ia tidur selama penerbangan berlangsung, ia tetap memaksakan kakinya untuk berjalan normal diantara sekian orang yang juga berjalan di lantai yang sama dengan yang ia pijak saat ini.

Dan setelah benar-benar keluar dari bandara, ia segera mencari kopi yang bisa ia minum. Dan sambil mencari-cari kertas kecil yang ia lipat di sakunya –disana berisi alamat yang diberikan ibunya, ia mencoba mendatangi taksi.

Hingga ia tersadar akan sesuatu…

Itu bukan alamat rumah ibunya. Melainkan tempat ibunya bekerja. Tempat kediaman Keluarga Xi.

“Aneh. Kenapa Mama menyuruhku datang kesana?” gumam Ariel pada dirinya sendiri. Karena seingatnya, ibunya tetap pulang kerumahnya dan tidak menginap di tempat Nyonya Besar Xi.

***

Lim Jin Ha terus mengomel selama beberapa menit pada seseorang yang tengah berbicara dengannya di telpon. Putra sulungnya yang kini masih tinggal di London, Clinton Lau. Dan sekali lagi, wanita itu membentak Clinton dengan geram.

“Kau tahu ayahmu tidak bisa diandalkan! Bagaimana bisa kau membiarkan Withney pergi begitu saja dengan jaminan dari ayahmu, ha?! Sekarang kau lihat? Dia kesusahan! Kau kira mudah tinggal di Austria?!”

Dan untuk yang kesekian kali, Clinton meminta maaf pada ibunya karena keteledoran yang telah ia lakukan. Sebenarnya Lim tidak ingin menyalahkan putranya 100%. Hanya saja, ia kelewat panik saat Withney mengadu ia hampir kehilangan tempat tinggal karena kekurangan biaya.

Lim tahu putrinya memang memiliki kecerdasan otak yang tidak diragukan. Bahkan Lim juga yakin pasti masih ada orang yang mau membiayai beasiswa putrinya tersebut. hanya saja, kuliah disana bukan berarti Withney terjamin kehidupan sehari-harinya. Mulai dari tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, transportasi, juga kebutuhan lainnya yang tak terduga.

“Baiklah. Aku hanya mengingatkanmu Clinton. Mama tidak bisa memantau kalian secara langsung, dan kau sebagai anak tertua, aku mengharapkan tanggung jawabmu.”

“…”

“Ah, ya. bagaimana dengan Henry? Dia baik-baiks aja, kan?”

Dan bibir Lim tertarik sempurna ketika mendengar kabar baik dari Henry. Putranya yang paling tidak rewel namun tetap bisa membangun impiannya dengan sempurna tanpa merepotkan siapapun. Putra kesayangannya.

“Baiklah, jaga dia juga. Sampaikan salamku padanya. Dan kau Clinton, jika ada kesempatan tidak ada salahnya kau meneruskan kuliahmu juga.”

Lim sebenarnya masih ingin berlama-lama mengobrol dengan putranya itu, namun ucapannya terpotong ketika seseorang masuk dan mengatakan ada seseorang yang mencarinya. Dan ia langsung tahu siapa orang itu, Ariel Lau. Putri bungsunya.

***

Ariel kembali melihat kertas kecil yang dipegangnya sejak tadi. Kemudian, matanya beralih menatap rumah besar yang berdiri tegak di hadapannya. Ariel sempat berdecak kagum melihat rumah tersebut, ia dapat mencium kemewahan yang menyambutnya saat ini. Ia jadi penasaran, sekaya apa keluarga Xi yang selama ini selalu mendapat pujian dari ibunya?

Ia sebenarnya sudah bicara dengan seseorang di interkom barusan, tapi sepertinya orang di dalam sana tengah memanggil ibunya –atau mungkin mereka tak yakin bahwa Ariel adalah putri ibunya. Tiba-tiba saja ia mendesis pelan, orang kaya memang kadang sedikit menyebalkan. Yeah, meskipun ia juga seperti itu dulu.

Bosan menunggu, Ariel hampir kembali mendekati interkom jika saja tidak ada mobil mercedes yang berhenti tepat di depan gerbang tersebut. Dan tanpa aba-aba, Ariel pun langsung menyingkir ,membiarkan mobil itu masuk saat gerbang di depannya mulai terbuka.

Oh? Tunggu! Gerbangnya terbuka?

Ariel pun buru-buru mendekati gerbang tersebut sebelum ditutup kembali. Dan yang pertama dilihatnya adalah halaman luas yang…entahlah. bagaimana cara Ariel mendeskripsikannya? Bahkan ini mirip taman bermain yang sering didatangi oleh Ariel.

Dan dari jarak sekian puluh meter, terdapat rumah yang Ariel yakini sebagai rumah keluarga Xi tinggal.

Dengan sedikit lancang, Ariel pun masuk ke dalam meskipun tanpa izin. Toh, ia bukan penjahat, kan? Dan bahkan ibunya yang memintanya untuk datang kemari. Jadi seharusnya ia tidak salah ketika masuk ke tempat ini.

Sebenarnya Ariel sudah berniat untuk menunggu di tempatnya saat ini saja, hanya saja tanpa sadar ia sekali lagi berbuat lancang ketika melihat seorang pria yang menyetir mobil mercedes tadi terjatuh. Ariel pun langsung berlari mendekati pria itu dan membantunya bangun.

Dan…oh, pria itu mabuk. Itu kesimpulan pertama yang Ariel tarik saat ia mencuim bau alkohol yang sangat menyengat.

“Kau…kau tidak apa-apa?” tanya Ariel kikuk dan tentunya dengan bahasa cina nya. Oh, oke. Mungkin ia sudah terlalu lama berada di Korea sehingga terasa aneh saat ia memulai kembali berinteraksi dengan sesama orang Tiongkok.

Pria itu hanya bergumam pelan. Dan dengan kasar, ia menarik tubuhnya yang disentuh oleh Ariel. Oh Tuhan, pria itu mabuk berat.

“Kau…jangan sentuh tubuhku! Dan…” Luhan menggantung ucapannya dan justru memperhatikan Ariel dari ujung kaki hingga ujung kepala, “Kau siapa? Pembantu baru ibuku?” tanyanya dengan pandangan mata yang mulai tidak fokus. Bahkan bekali-kali ia menggelengkan kepalanya, berharap dengan cara itu pandangannya akan berubah menjadi normal kembali.

Ariel yang sejak tadi mematung memandangi pria berambut pirang itu hanya menahan napas. Sampai akhirnya ia hampir menyembur pria yang bicara seenaknya itu –apa-apaan ia dianggap pembantu? Belum lagi tatapan meremehkan yang dilemparkannya pada Ariel. Padahal ia sempat terpesona dengan mata lelaki itu. Tampan. Ya. Kesan pertamanya adalah tampan. Tapi kesannya langsung luntur begitu saja.

“Tuan Muda! Tuan Muda tidak apa-apa? Tuan Muda baik-baik saja?” dan ibu Ariel tiba-tiba muncul. Dan bukannya menghampiri Ariel, ia justru mendekati lelaki tadi sambil menyebutnya…Tuan Muda?

Mata Ariel langsung membulat. Dan refleks, ia membekap mulutnya sambil memandangi lelaki yang kini tengah dipapah masuk ke dalam. Itu adalah majikan ibunya? Yang berarti majikannya juga?

***

Lim Jin Ha baru saja masuk ke kamarnya untuk menemui putrinya yang baru saja tiba. Dan ia sedikit mengerutkan dahinya saat melihat putrinya justru menatap kosong jendela di sampingnya, sama sekali tidak menyadari keberadaan Lim saat ini.

“Oh…oh…tunggu dulu, ada apa dengan putriku? Sepertinya kau tidak senang harus datang ke Beijing?”

Dan saat mendengar suara Lim, Ariel baru menoleh dan langsung memeluk ibunya erat-erat. Melepaskan segala rindu yang menjepitnya. Bahkan ia lupa kapan terakhir kali ia mencium aroma tubuh ibunya dan memeluknya seperti sekarang ini. Ia terlalu merindukan sang ibu.

“Bagaimana mungkin aku tidak senang? Aku bahkan sangat sangat sangat senang. Tidak! Bahkan aku terlalu senang!” ucap Ariel keras-keras setelah melepaskan pelukannya dari sang ibu. Tidak peduli meskipun saat ini ia ada di rumah orang lain.

Lim pun tersenyum cerah ke arah putrinya, meskipun ada secercah rasa bersalah yang tiba-tiba menggerayanginya.

“Jadi, ada apa Mama tiba-tiba menyuruhku datang?” tanya Ariel akhirnya. Ia masih penasaran akan alasan utama sang ibu menyuruhnya untuk jauh-jauh datang ke Beijing. Ia sudah mengatakannya, kan? Ibunya takkan begitu saja dengan mudah memberikan izin agar Ariel bisa pulang ke Tiongkok.

“Kau tidak senang Mama menyuruhmu pulang?” canda Lim dengan nada kecewa yang dibuat-buat.

Ariel pun langsung menggeleng keras, “Tidak! Mana mungkin aku tidak senang! Aku hanya bingung saja, Mama kan selalu menyuruhku tetap di Korea jika tidak ada alasan mendesak. Apakah ada hal penting?”

Lim pun mendengus pelan. Ia tidak mungkin mengatakannya sekarang. Ya. Ia tidak bisa mengatakannya sekarang.

“Nanti juga kau akan tahu,” ucapnya sambil sedikit memalingkan mukanya, “Ah, kau sudah makan? Biar kuambilkan,”

Dan Ariel hanya bisa terdiam di tempatnya sambil memandangi punggung ibunya yang menghilang di balik pintu. Ada yang aneh dengan gerak-geriknya.

***

Di sebuah kamar tidur dengan nuansa putih, Luhan meringkuk di balik selimutnya. Ia memang mabuk, meskipun sebenarnya ia tidak semabuk itu –ia bahkan sempat menyesal karena telah bersikap kasar pada gadis yang ditemuinya tadi.

Luhan pun memejamkan matanya, mencoba untuk mengenyahkan segala pikiran yang menjeratnya. Ia masih sering bertanya-tanya, apa kesalahanya di masa lalu sehingga ia mendapat hukuman seperti ini. Ini jauh lebih menyakitkan daripada segala kesakitan yang pernah menghampiri hatinya.

Ia tersenyum kecut dengan mata masih terpejam, masih ingat bagaimana isi pesan singkat Yi Xinng yang dikirimkannya melalui akun Line-nya.

“Aku akan menikah akhir tahun ini. Rencananya aku akan melamar pacarku saat dia lulus nanti. Doakan aku sobat! Aku tidak sabar untuk meminta restu ayah dan ibunya.”

Dan air mata Luhan kembali mengalir lagi. Ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia ingat saat ia merengek untuk dibelikan ini itu, dan semua keinginannya akan terkabul hanya dalam sekejap mata.

Tapi tidak dengan Yi Xing. Yi Xing yang memegang hatinya. Lelaki it telah membawa kabur hatinya tanpa Luhan bisa meminta ganti ruginya. Luhan mau tak mau akan tetap menyaksikan bagaiman Yi Xing terlepas dari harapannya. Yi Xing akan bahagia –dan ia tidak tahu bagaimana dengan nasibnya sendiri.

Luhan pun menekan-nekan dadanya. Tidak, bahkan sekarang pria itu memukul-mukul dadanya, berharap rasa sakit yang dengan kurang ajarnya menjalari perasaannya akan segera hilang. Meskipun ia tahu, tidak akan semudah itu.

Menghilangkannya mungkin hanya memerlukan Yi Xing, namun Yi Xing takkan pernah tersentuh meskipun dengan ujung jarinya. Dan itu artinya, Luhan hanya bisa menelan bulat-bulat kepahitan hidupnya ini.

Luhan berniat memejamkan matanya meskipun sulit, dan ia sempat mengomel pada layar ponselnya yang tiba-tiba menyala. Dan kemarahannya langsung mereda saat membaca nama ‘Wu Yi Fan’ disana.

“Lu, kau baik-baik saja kan? Jika kau membutuhkanku, katakan saja padaku.”

Luhan tersenyum lagi –tapi kali ini senyumnya terlampau datar. Ia cukup merasa terhibur memiliki Wufan disinya. Ia tidak tahu apakah Wufan benar-benar menyukainya atau hanya menganggap Luhan sebagai teman senasib.

Tapi ia tidak peduli mengenai hal itu. Ia sudah cukup merasa senang karena Tuhan mengirimkan Wufan yang dapat menyemangatinya dan selalu mengerti kondisi Luhan. Seorang Wufan sudah lebih dari cukup meskipun tak mengobati setitik pun lukanya.

Dan dengan cepat Luhan menjawab, “Tenang saja. Aku baik-baik saja. Terimakasih telah mengkhawatirkanku.”

***

Hari ini, Ariel memutuskan untuk membantu ibunya bekerja. Tidak. Ia tidak bekerja seperti membersihkan rumah ataupun semacamnya, ia justru membantu ibunya untuk menyalin schedule kerja Nyonya Besar Xi –dan ia sudah melihatnya semalam.

“Ma. Kenapa kita harus menuliskan schedule ini? Seperti artis saja…” sungguh! Ariel hanya bermaksud bercanda saat mengatakannya. Namun toyoran ibunya di kepala Ariel menunjukan bahwa Ibunya sangat serius menanggapi ucapan Ariel.

“Mama…” sungut Ariel sambil mengusap-usap kepalanya.

Lim pun duduk di tepi ranjang dan memandangi beberapa kertas di tangannya, “Kau kira pekerjaannya adalah lelucon? Tentu saja banyak kegiatan lain yang harus dilakukan Nyonya Xi mengingat Tuan Muda Lu kini sudah mengambil alih perusahaan utama,” ucap Ibunya dengan mata masih memandangi satu persatu deretan baris di kertasnya.

Dan mendengar kata “Tuan Muda” disebut-sebut, tiba-tiba ia membalik tubuhnya dan menatap ibunya dengan semangat, “Apa yang tadi malam itu anak dari Nyonya Xi?”

Dengan kening berkerut, Lim pun mengangguk mengiyakan, “Ya. Itu putra tunggalnya.” Sahutnya seadanya –dan ia menambahkan dalam hati bahwa kelak, anak laki-laki itu akan menjadi bagian dari keluarganya juga.

Ariel pun mengangguk-angguk, “Dia suka mabuk ya…” gumamnya sambil mengingat-ingat kejadian semalam tentang pertemuan pertama mereka. Oh, dan ia tidak akan lupa bagaimana menyebalkannya tatapan pria itu terhadapnya.

Lim Jin Ha hanya mendengus dan mengambil kertas yang tadi digunakan Ariel, “Tuan Muda akan seperti itu jika sedang banyak pikiran,” sahut Lim Jin Ha seadanya.

Dan lagi-lagi Ariel memutar tubuhnya mengikuti pergerakan sang ibu, “Jadi, dia ada masalah?”

“Kau ini kenapa, hm? Kau tertarik padanya? Lagipula itu bukan urusanmu.”

Dan mata Ariel langsung membulat seketika, “Ti…tidak! bukan begitu! Hanya saja dia terlihat sangat mabuk semalam. Dia juga memiliki mata yang bagus,” ucap Ariel dengan sejujur-jujurnya. Mana mungkin ia menyukai pria lain dan melupakan Yi Xing-nya begitu saja? Tidak. Ia akan setia pada Yi Xing meskipun seorang U-Know Yunho melamarnya. Kalian tahu member DBSK yang satu itu, kan? Dan tentunya itu khayalan Ariel belaka.

Dan Lim pun tersenyum mendengar kelagar putrinya, “Dia tampan, kan?”

Ariel mengerutkan dahinya saat sang ibu mengeluarkan pernyataan berbentuk pertanyaan tersebut, “Ibu sedang menggodaku?” selidik Ariel.

Lim terkekeh pelan, “Kau saja yang terlalu percaya diri. Aku serius. Dia memang tampan. Meskipun ya…dia lebih pantas disebut cantik, wajahnya juga seperti anak kecil.”

“Jika dia jadi artis, pasti dia akan sangat terkenal.” Imbuh Ariel yang dibalas kekehan dari sang ibu. Oh yeah, dan hatinya menambahkan satu kekurangan dari Tuan Muda-nya itu, bahwa Luhan tidak tertarik pada perempuan.

Dan Lim kembali tersenyum. Setidaknya Ariel memberikan tanggapan positif mengenai Luhan. Dan artinya, tidak akan terlalu sulit untuk membuat Ariel melirik ke arah Luhan. Walaupun itu masih perkiraannya saja, toh ia tidak benar-benar mengetahui perasaan putrinya. Apalagi mengingat Ariel yang memang tertutup pada dirinya.

“Oya, Nyonya Xi ingin bertemu denganmu. Dia menunggumu di ruang kerjanya,”

Ariel masih setengah melamun saat ibunya memberi informasi singkat tersebut, sampai selang beberapa detik ia baru membulatkan matanya dan berteriak, “APA?!”

***

Song Qian. Luhan akhirnya ingat nama gadis yang kini tengah berdiri menatapnya serius. Sedikit sinis bahkan. Dan sepertinya gadis itu merupakan gadis yang pernah ditolaknya dulu. Ya. Itu pasti gadis yang sempat ibunya sodorkan dalam sebuah kencan buta yang berakhir dengan penolakan Luhan. Dan pertanyaan berikutnya yang muncul, mau apa gadis ini datang kemari?

“Jadi, ada keperluan apa kau datang menemuiku dan memintaku untuk bertemu diluar?” tanya Luhan sambil menegakan punggungnya. Oh, ayolah. Jika gadis ini memintanya untuk menerimanya, ia tidak akan bisa meskipun gadis itu berlutut dan memohon padanya. Jika itu permintaan ibunya, ia pasti bisa melakukannya –tapi ibunya sudah berkata bahwa ia akan mengenalkan seorang gadis pada Luhan.

Yeah. Luhan ingat kejadian tadi pagi mengenai obrolan pernikahan Luhan –lagi. Meskipun ibunya tahu Luhan tidak akan tertarik pada gadis-gadis itu, tapi sepertinya Ibunya tidak menganggapnya sungguhan –atau ibunya ada maksud lain. Dan tentunya, sang ibu pasti sudah memiliki seorang gadis lain untuk dikenalkan padanya.

Gadis itu pun mendengus pelan, “Kau tahu Lu, aku jatuh cinta padamu sejak pertemuan pertama kita…” dan Song Qian pun menggantung ucapannya.

“Apakah tidak ada kesempatan untukku? Maksudku…aku…”

“Aku bisa saja menerimamu,” potong Luhan cepat yang membuat Song Qian sedikit mengangkat kepalanya, “Tapi aku sudah menerima gadis lain yang dipilih Mama untukku. Dan kali ini aku akan serius, aku tidak akan menolak lagi,” lanjut Luhan kemudian.

Kebas. Tentu saja. Hati Song Qian langsung kebas seketika. Mata gadis itu langsung berkaca-kaca mendengar penolakan telak yang dilemparkan Luhan terhadapanya. Ia benar-benar menyesal telah menerima permintaan ibunya hariitu jika tahu akhirnya Luhan akan membuatnya jatuh cinta, namun sama sekali tidak merengkuh dirinya yang telah dicuri hatinya oleh Luhan.

“Kenapa kau menerimanya? Bukankah kau selalu menolak semua tawaran ibumu?” tanya Song Qian dengan nada sinis yang juga kini menghiasi telinga Luhan.

Luhan tersenyum kecut, ia pun melipat tangannya di depan dada.

“Sebenarnya kami belum meresmikannya. Aku harus menunggunya lulus sarjana bulan depan. Dan baru setelah itu Mama akan mengatur segalanya untukku.”

“Aku tanya Xi Luhan, apa yang membuatmu menerimanya?”

Luhan pun memutar bola matanya malas, “Tidak ada. Aku hanya lelah karena aku selalu membangkang pada semua permintaan Mama.”

Song Qian pun termenung dengan ucapan Luhan. Ia sudah menjatuhkan harga dirinya disini hari ini. Dan harga dirinya kali ini pun diinjak sampai tak berbentuk. Bukan, bukan hanya harga diri Luhan, tapi juga perasaan tulusnya yang diinjak.

“Sudah? Aku harus segera kembali,” Luhan pun langsung berdiri hendak meninggalkan Song Qian.

“Kau seorang gay, Xi Luhan. Dan Wu Yi Fan adalah salah satu teman kencanmu, kan? Rasanya sangat aneh saat tahu kau menerima perjodohan ini begitu saja,” Mata gadis itu beralih menatap Luhan yang sudah membeku di tempatnya.

“Lagipula aku tak yakin gadis itu bisa menerimanya dengan mudah. Tapi aku bisa Lu…”

“Kau…” Luhan kini sudah membalik badannya menatap Song Qian tak percaya.

“Ya, aku tahu semuanya Xi Luhan.”

Luhan mendengus dan mengangguk pelan. Ia pasrah. Ia tidak peduli meskipun Qian mengetahui semuanya dan membocorkan segalanya. Ibunya akan melindunginya. Dan salah besar jika tak ada satupun gadis yang akan menerimanya dengan tulus. Tidak. Karena ibunya sudah meyakinkannya bahwa ada seseorang yang mau dan mampu menjadi genggaman untuk Luhan di sisa umurnya.

Dan entah keberuntungan itu muncul darimana, tiba-tiba gadis yang dibicarakan sang ibu tadi pagi –gadis yang beberapa hari ini berada di rumahnya- tiba-tiba lewat di hadapannya.

“Dia. Dia orangnya. Ariel Lau.” Kata Luhan keras-keras sambil menekan nama ‘Ariel Lau’.

Dan gadis yang tengah menggerek kopernya itu mendadak berhenti berjalan menatap bingung Luhan yang tiba-tiba muncul di kafe tersebut sambil menatapnya tajam. Ditambah seorang gadis yang tengah duduk di kursi, ia juga ikut-ikutan menatap Ariel serius.

“Y…ya? tuan muda memanggil saya?” dan akhirnya Ariel mencicit diantara atmosfer mengerikan yang tiba-tiba mengelilingi mereka bertiga.

***

Ariel terus saja menggerutu sembari memukul kepalanya tanpa menghentikan langkah kakinya barang sedikitpun. Hari ini Ariel harus pulang ke Korea untuk persiapan sidang akhir. Tapi yang saat ini tengah memusingkan kepalanya bukan soal kuliah ataupun sidang yang sebentar lagi harus ia jalani, melainkan pertanyaan dari Nyonya Xi yang diajukan padanya tadi. Dan tentunya, setelah beberapa hari sebelumnya wanita itu menanyai tentang riwayat hidup Ariel. Aneh. Wanita itu memang cukup aneh.

Dan kata ‘bodoh’ terus saja berputar di kepalanya, seolah meneriaki bahwa dirinya benar-benar bodoh.

Dengan wajah mengerikan, Ariel menatap sedih tanah yang saat ini dipijaknya. Sebenarnya pertanyaan Nyonya Xi tadi sama sekali tidak lazim –tepatnya terlalu janggal untuk dijukan padanya. Dan sayangnya, tanpa sadar Ariel justru menjawabnya dengan jawaban yang lebih tidak lazim lagi. Oh, yeah. Ia memang benar-benar bisa gila karena ini.

“Kau sudah tahu putraku, kan?” tanya Nyonya Xi sambil melipat tangannya di atas meja kerjanya.

Sambil setengah menunduk, Ariel mengkerutkan dahinya bingung. Pertanyaan macam apa barusan?

“Y…ya. aku tahu.”

Dan tanpa tersentuh retina Ariel, Nyonya Xi menarik kedua sudut bibirnya dengan perasaan senang. Kemudian ia kembali mengajukan pertanyaan berikutnya, “Luhan. Namanya Luhan. Dan menurutmu, bagaimana Luhan itu?”

Dan sekali lagi Ariel bertingkah bodoh. Ia terlalu linglung untuk menyerap pertanyaan Nyonya Xi dan memahami kemana arah pertanyaan dari wanita tersebut. Seolah-olah IQ-nya yang mencapai lebih dari 130 itu sama sekali tidak berfungsi sebagai kecerdasan untuk Ariel saat ini.

“Dia…tampan?”

Dan mata Ariel langsung membulat seketika. Tangan gadis itu buru-buru memukul pelan mulutnya sendiri. Apa-apaan tadi? Bagaimana bisa ia berkata bahwa Luhan itu tampan? Oh, tunggu sebentar. Dia memang tampan dan Ariel takkan menyangkalnya sama sekali. Hanya saja yang menjadi masalah saat ini kenapa ia menjadikan kata ‘tampan’ sebagai jawaban? Dasar idiot!

Dan saat Ariel tengah sibuk merutuki dirinya, Nyonya Xi justru tertawa pelan. Merasa sangat lucu dengan jawaban yang diberikan Ariel.

“Ya…ya, aku tahu dia memang tampan. Meskipun dia sebenarnya mewarisi wajahku, bukan wajah ayahnya.” Ucap Nyonya Xi sambil menghilangkan tawanya pelan-pelan.

Dan Ariel hanya tersenyum aneh pada wanita itu. Entah ia yang memang idiot disini atau Nyonya Xi yang sebenarnya aneh.

“Jadi, menurutmu dia tampan? Hanya itu saja?” tanya Nyonya Xi lagi masih sedikit gemas. Ia masih berharap Ariel akan menjawab sesuatu yang lebih menarik soal putranya ketimbang tampan –karena semua gadis yang pernah ditemuinya akan mengakui bahwa Luhan tampan.

Ariel pun hanya tersenyum kikuk. Ia pun mulai menormalkan kerja otaknya. Ia tidak boleh terlihat idiot seperti barusan.

Anu…itu…begini Nyonya. Saya disini hanya tinggal beberapa hari, dan selama itu pula aku tidak begitu memperhatikan Tuan Muda Xi. Jadi, aku tidak begitu tahu bagaimana sifatnya,”

Dan sekali lagi Ariel memukul kepalanya masih sambil berjalan menyusuri trotoar dengan koper yang digereknya. Ia masih merasa sangat konyol dengan jawaban yang diberikannya pada Nyonya Xi tadi.

Tampan? Oh, tentu saja. Jaejoong JYJ yang dulunya anggota DBSK juga tampan. Dan U-Know Yunho idolanya juga tampan. Tampan itu relatif dan seharusnya ia tidak menjadikan tampan menjadi tolok ukur penilaian. Dan apa yang akan dipikirkan Nyonya Xi nanti?

Masih sambil berjalan, tiba-tiba Ariel memikirkan nama Luhan yang menjadi topik pembicaraannya dengan Nyonya Xi tadi.

Bagaimana Luhan dimata Ariel?

Luhan adalah seorang pemabuk.

Sebenarnya Ariel memang tidak merasa aneh lagi saat melihat seseorang yang menghabiskan waktunya untuk minum sampai mabuk. hanya saja, Ariel tetap tidak terlalu nyaman saat bersama-sama dengan orang yang mabuk. karena menurutnya, orang mabuk itu seperti orang yang kehilangan kewarasannya sehingga bisa melakukan hal-hal diluar kendali.

Itu buruk? Bisa jadi, kan? Dan pertemuan pertamanya memberi kesan bahwa Luhan adalah seorang pemabuk.

Dan Luhan juga adalah orang yang dingin.

Ia ingat bagaimana pertemuan kedua mereka, juga merupakan hari pertama Ariel berada di rumah itu. Keesokan harinya saat Luhan terbangun, ia tiba-tiba datang ke dapur untuk mengambil minum. Dan saat itu Ariel tengah berada di dapur juga –sebenarnya Ariel berniat mengambil makanan, tapi urung karena Luhan ada disana. Dan untuk sekedar basa-basi, Ariel menyapa laki-laki itu dan berakhir dengan tatapan sinis yang dilemparnya.

Sinis? Ah, tidak. Ariel meralatnya. Lebih tepatnya itu adalah tatapan dingin. Luhan juga masih terlihat agak pusing, padahal Ariel begitu terkesan dengan mata rusa yang dimiliki Luhan.

Dan Luhan adalah seseorang yang perhatian –mungkin.

Laki-laki itu bukan memberikan perhatian padanya, tapi pada ibunya. Suatu sore, saat itu ibu Ariel tiba-tiba merasa tidak enak badan. Dan tanpa diduga-duga oleh Ariel, Luhan yang tahu akan hal itu langsung mendatangi kamarnya dan menanyakan keadaan ibunya. Juga, Luhan langsung memberikan buah-buahan kepada ibunya. Ibu Ariel.

Ah, bukankah itu artinya Luhan juga baik?

Dan terakhir, mungkin Luhan adalah orang yang setia.

Ariel sebenarnya tidak begitu tahu mengenai sifat Luhan yang satu ini. Hanya saja, sang ibu menceritakan bagaimana setianya lelaki itu mencintai cinta pertamanya hingga detk ini. Dan percaya atau tidak cinta pertama Luhan itu adalah seseorang yang berada dalam masa lalunya saat SMA.

Catat. Saat SMA. Dan Ariel tiba-tiba teringat pada cinta pertamanya yang juga merupakan seseorang yang dikenalnya saat SMA. Tepatnya, teman sekelasnya saat SMA dulu. Park Chanyeol. Ya, namanya Park Chanyeol.

Ah, tiba-tiba saja ia merindukan laki-laki jangkung itu. Meskipun ia langsung bisa melupakannya dalam jangka waktu dekat. Entahlah, mungkin karena ia memang sudah ditakdirkan untuk mencintai Zhang Yi Xing? Ugh, ia juga merindukan Yi Xing.

Dan lamunannya terpecah begitu saja saat ia merasa tenggorokannya kering. dan seberapa jauh tadi ia melamun? Dan Ariel sebenarnya berniat meneruskan lamunannya, namun urung saat ia menemukan cafe kecil di tepi trotoar tersebut.

“Mungkin mampir sebentar tidak apa-apa,” gumamnya sambil tersenyum dan langsung memutuskan masuk.

***

“Satu Moccachino,” ucap pelayan yang melayani Ariel sambil tersenyum ramah. Ariel balas tersenyum dan langsung mengambil moccachino-nya. Dan setelah membayar, Ariel kembali menggerek kopernya tanpa berniat untuk duduk sebentar.

Ia tidak sabar untuk kembali ke Korea, merecoki sahabatnya Baekhyun dan kembali bermanja ria pada Yi Xing.

“Dia. Dia orangnya. Ariel Lau.”

Kaki Ariel langsung berhenti dan matanya beralih menatap jari teluntuk Luhan yang tengah mengarah kepadanya. Apa-apaan ini? Kenapa Luhan mnyebut namanya? Dan kenapa Luhan menunjuknya seperti itu?

Mata Ariel kini beralih pada seorang wanita cantik yang juga tengah menatapnya…dingin. seperti es yang jatuh saat badai salju, pandangan dingin itu begitu menusuk Ariel dan membuatnya agak sedikit bergidik ngeri. Seolah-olah Ariel adalah seorang penjahat yang membuat wanita itu harus merungkusnya saat itu juga.

“Jadi, kukira ucapanmu salah Nona Song. Aku minta maaf jika aku memang membuatmu tersinggung, tapi aku akan menegaskannya sekali lagi. Aku tidak bisa menerimamu.” Kata Luhan lagi pada wanita yang menatap Ariel tajam tadi –dan Luhan memanggilnya Nona Song. Gadis itu pasti bermarga Song. Pikir Ariel.

Dan Luhan pun langsung menoleh ke arah Ariel yang masih terlihat bingung. Bagaimana tidak? Ia sudah membicarakan gadis itu secara gamblang di depan Song Qian, dan sekarang gadis itu ditarik paksa oleh Luhan menuju halaman parkir, tak lupa dengan koper kecilnya yang masih setia ia bawa.

“Kau terkejut? Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu terkejut,”

Dan kata-kata Luhan langsung menyadarkan Ariel dari kebingungannya. Ia pun segera menarik tangannya yang disentuh Luhan –yang juga tengah memegang cup coffee- dan mundur selangkah. Oh Tuhan. Apa yang ia lakukan? Kenapa ia diam saja seperti orang bodoh? Dan apa-apaan tadi? Kenapa jantungnya berdebar tidak karuan? Membuat otaknya semakin lamban bekerja saja.

Dan Luhan pun langsung membukakan pintu mobilnya untuk Ariel. Sebenarnya ia tidak begitu suka dengan gadis itu, menurutnya gadis itu sama sekali tidak masuk tipe ideal gadis yang kadang suka dikencaninya –oh tunggu, Luhan punya tipe ideal wanita? Senyum kecut pun lolos dari bibirnya. Semua wanita sama di mata Luhan. Dan yang membedakan mungkin hanya penampilannya saja.

“Maaf Tuan Muda, tapi aku…”

“Masuklah, kau mau pulang hari ini ke Korea, kan? Dan sepertinya berjalan menuju stasiun kereta juga memakan waktu yang cukup lama. Aku bisa mengantarmu sampai bandara jika kau mau.” Kata Luhan lagi meyakinkan. Ia tak bermaksud apapun, sungguh. Ia hanya ingin mengungkapkan rasa terimakasihnya karena telah membebaskannya dari Song Qian.

Ariel menatap ragu Luhan. Luhan sempat berpikir Ariel merasa tidak enak karena status mereka saat ini –padahal Ariel justru dikejar satu kalimat tidak penting, “Luhan benar-benar orang yang baik. Dia tidak hanya baik pada ibunya, tapi hari ini ia juga menunjukkan kebaikannya terhadap Ariel”.

“Ariel?” Luhan sedikit menaikan alisnya bingung karena Ariel tetap saja mematung. Mungkinkah ia sangat keterlaluan hari ini sampai membuat putri bungsu asisten kesayangan ibunya shock?

Tapi tidak. Ariel baik-baik saja. Terbukti saat ia langsung mengerjapan matanya beberapa kali. Dan kembali ke tingkah kekanakannya, ia langsung merutuki tingkah tololnya yang tidak pernah bisa sembuh disituasi genting seperti ini.

“Ah, bukan. A…aku baik-baik saja, kok. Ya, aku baik-baik saja. Tapi…soal itu…emmm…bandara, aku bisa pergi sendiri. Lagipula stasiunnya sudah dekat,”

Luhan tersenyum geli melihat tingkah Ariel. Apanya yang salah dengan gadis ini? Apakah dia sempat terbentur tadi dan membuatnya linglung?

“Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan. Aku berbuat begini karena ingat pada ibumu, dia juga sudah seperti ibuku sendiri,” dan Luhan sangsi dengan kata-katanya. Ia memang menyayangi wanita itu, tapi ia sempat merasa bebal saat tahu wanita itu juga turut ikut campur dalam urusan pribadinya. Dan Luhan terlalu terganggu dengan itu.

***

Yi Xing menatap kosong piano yang sejak tadi menemaninya. Sejak kapan? Mungkin sejak satu jam lalu. Sejak ia menelpon Ariel hingga ke 20 kali dan gadis itu tak kunjung membalas telponnya. Dan secara refleks, Yi Xing mengusap wajahnya berharap pikirannya yang agak ngelantur sejak semalam itu segera lenyap.

dan yang membuatnya semakin terganggu adalah mimpi buruk yang menghampirnya semalam. Ia tahu mimpi hanyalah mimpi. Penghias tidur seseorang. Tidak nyata. Semuanya semu. Tapi Yi Xing justru merasakan ketakutan luar biasa saat terbangun. Bahkan, saat ia pikir semuanya akan kembali membaik saat pagi datang justru hanya menjadi memori singkatnya mengenai kejadian tadi pagi.

Keresahan itu tidak hilang. Terlebih, saat Ariel memperparahnya dengan tidak mengangkat telponnya. Memang apa susahnya sih mengangkat telpon? Memangnya apa yang Ariel lakukan sampai ia tidak bisa megangkat telponnya?

“Yi Xing? Bisa kita bicara sebentar?”

Yi Xing langsung memutar kepalanya ke arah pintu masuk ruang latihannya. Manajernya, Manajer Lisa yang biasa ia panggil ‘Noona’. Kemudian tanpa menyahut, Yi Xing pun membawa tubuhnya ke arah wanita yang 2 tahun lebih tua darinya itu.

***

Wufan terus saja mengoceh mengenai cuaca cerah yang tengah tersenyum menyapa Beijing sore itu. Meskipun biasanya orang memuji cuaca saat pagi, tapi Wufan memang agak sedikit aneh dan layaknya perempuan, ia tak henti-hentinya bicara pada Luhan. Membuat Luhan akan berpikir mungkin ia telah dibohongi mengeni status Wufan sebagai CEO yang terkenal cool.

Dan dengan tak acuh, Luhan pun mengangkat cangkir teh nya dan menyesapnya pelan. Ia sedikit pusing hari ini. Selain pekerjaan yang terus saja mengejar-ngejarnya, masalah pribadi tak bisa lagi dengan mudah ia kesampingkan.

“Ah, iya. Rencananya aku akan membuat villa baru di Chengdu. Bagaimana menurutmu? Aku perlu refreshing ke tempat yang agak jauh dari Beijing,” ucap Wufan lagi. Kali ini ia topik pembicaraannya.

Luhan yang duduk di samping Wufan menoleh sedikit kemudian matanya kembali menikmati pemandangan cantik yang disediakan di halaman belakang rumah Wufan yang bisa dikatakan luas.

“Bahkan kulihat setiap hari kau terus saja refreshing. Aneh, harusnya pekerjaanmu terbengkalai dan ini justru sebaliknya,” kelakar Luhan dengan wajah datarnya.

Dan Wufan yang berada di samping Luhan justru tertawa keras. Oh? Benarkah ia sebegitu anehnya di mata Luhan? Ini bukan yang pertama kalinya Luhan berkata bahwa Wufan itu aneh. Dan Wufan tetap ingin tertawa mendengar kata ‘aneh’ itu disematkan padanya oleh Luhan.

“Kau juga memiliki sisi yang berbeda, Lu. Semua gadis bertekuk lutut padamu karena sifatmu yang pendiam itu, padahal disisi lain kau malah bertekuk lutut pada seseorang yang bahkan takdir pun tak pernah mengizinkannya untuk kau miliki.”

Harusnya Luhan tersinggung, atau mungkin sedikitnya ia merasa sakit hati dengan ucapan Wufan barusan yang secara gamblang menyindirnya tersebut. Tapi Luhan tak merasakannya sama sekali. Ia justru tersenyum kecil dan menghela napas panjangnya.

Wufan benar. Ia juga sama anehnya.

“Hey, kau terlihat lebih pendiam hari ini. Ada masalah, hmm?” tanya Wufan menumpahkan rasa penasarannya. Luhan lebih pendiam dari biasanya, dan sejak tadi ia belum bercerita mengenai apapun. Padahal, jika Luhan menemuinya seperti sekarang, artinya akan ada yang ia bicarakan.

Dan Wufan pun menarik Luhan untuk berbaring di pangkuannya. Luhan tidak menolak. Laki-laki itu mengikutinya dengan senang hati. Wajahnya pun tetap datar dan tenang, setenang air di kolam renang milik Wufan.

“Aku hanya lelah saja. Belakangan banyak sekali yang aku pikirkan,” dan Luhan pun mulai angkat suara.

Dan Wufan mulai mengusap lembut rambut Luhan. Telinganya selalu siap untuk mendengarkan Luhan. Bahunya selalu siap untuk dijadikan tempat bersandar bagi Luhan. Dan ia selalu siap membiarkan Luhan untuk berbaring di pangkuannya. Ia mengerti Luhan –sangat mengerti malah, meskipun ia tahu Luhan sama sekali tidak meliriknya, tapi Wufan sudah cukup senang dengan datangnya Luhan dihidupnya. Karena ia juga bisa merasakan kenyamanann tersendiri saat berada di dekat Luhan, saat ia mencurahkan isi hatinya pada Luhan.

Luhan berbeda dengan ‘teman-temannya’ yang lain.

“Kadang kau seperti perempuan tahu. Selalu memikirkan apa yang seharusnya tidak kau pikirkan, membesar-besarkan masalah kecil, dan bertindak mengikuti emosimu. Harusnya kau jadi perempuan saja, wajahmu sudah cukup cantik, kok.”

Dan setelah mengatakannya, Luhan langsung memukul Wufan dengan sebal. Ia memang gay. Dan ia tidak pernah meributkan masalah itu jika sudah berada dengan Wufan meskipun Wufan mengejeknya habis-habisan. Tapi entah kenapa, saat ada seseorang yang berkta bahwa ia cantik, ia sangat sangat tersinggung. Ia tidak bisa terima dengan kata ‘cantik’ tersebut. Ia laki-laki. Dan ia harusnya tampan, dan bukannya cantik.

Dan yang menjadi korban pemukulan Luhan hanya tertawa keras. Ia selalu merasa puas jika sudah mengerjai Luhan seperti tadi. Luhan tidak banyak melawan, dan ini membuat Wufan semakin gencar saja untuk menjahilinya.

“Tapi kurasa kau memang harusnya jadi wanita, Lu. Agar Yi Xing bisa menjadi milikmu,”

Luhan hanya menggeleng pelan. Kali ini ia agak serius menanggapi Wufan, “Tidak. Takdir tidak berkata begitu. Aku saja yang memang aneh, harusnya aku bukan gay dan bisa mengecani banyak wanita saat ini.”

Nada sedih itu membuat selera Wufan untuk bercanda turun drastis. Ia pun kembali mengusap kepala Luhan dengan lembut.

“Bukan hanya kau Lu. Aku pun begitu. Jangan pesimistis. Kau bahkan berhasil meniduri wanita –itu artinya kau ada kesempatan.”

Dan mendengar kata wanita, Luhan jadi teringat pada Ariel yang kemarin ia antarkan ke bandara. Sebenarnya ia tidak tertarik membicarakan gadis itu, hanya saja ada yang lebih penting mengenai Ariel Lua yang sama sekali bukan siapa-siapa yang penting untuk dibicarakan.

“Oya, kau sudah tahu? Ibuku sudah menemukan gadis lain untuk dijodohkan denganku,”

Wufan tersenyum hambar dengan tangan masih mengusap kepala Luhan, “Ibumu sepertinya hobi sekali menjodohkan putranya ya?” dan Wufan tahu, betapa payahnya candaan Wufan tadi, “Dan kau tidak berencana membuat ibumu jatuh sakit lagi, kan?” tanya Wufan lagi kali ini dengan nada serius.

Luhan pun mengubah posisinya menjadi telentang, ia ingin menatap wajah Wufan.

“Jika dia tidak pernah tahu aku menyukai Yi Xing, aku pasti masih bisa menolak.” Rajuk Luhan dengan jari-jarinya yang ia mainkan.

Wufan hanya menggeleng pelan mendengarnya, “Tidak, Lu. Ibumu takkan berhenti sampai kau membawa seorang waita kehadapannya. Menyaksikanmu memiliki keluarga dan membiarkannya menimang cucu. Mau tak mau, jika kau ingin memuaskan ibumu, kau harus tetap menikah dengan seorang wanita.” Dan Wufan sebal sekali dengan lidahnya sendiri. Ia merasa tua saja jika sudah menasehati Luhan seperti itu.

“Apakah tidak bisa kau saja yang aku nikahi?”

Dan Wufan langsung menjitak kepala Luhan, “Kau ingin membuat ayahku kena serangan jantung? Tidak, Lu. Maaf. Aku tidak bisa. Aku memilih sendiri ketimbang harus menikahimu meskipun seandainya aku menyukaimu.”

Dan Luhan hanya terkekeh mendengarnya. Ia tidak akan pernah lupa satu hal yang ia sukai dari Wufan, ia begitu menyayangi keluarganya. Sangat. Bahkan ia selalu menuruti apapun yang dikatakan ayahnya pada Wufan meskipun Wufan tak menyukainya. Benar-benar berbakti.

“Jadi, siapa gadis yang dikenalkan padamu kali ini?”

Dengan ragu, Luhan pun menjawabnya dengan volume suara yang pelan, “Putri Bibi Lim, pembantu kesayangan ibuku. Namanya Ariel, Ariel Lau. Baru saja kemarin dia kembali ke Korea. Sebentar lagi ia lulus dari strata satu-nya.”

“Dan kau tertarik padanya?”

Luhan hanya mendengus saat mendengar pertanyaan iu. Ia kembali menelaah soal penilaiannya mengenai Ariel. Dan satu-satunya point plus yang Luhan sukai dari Ariel, gadis itu bukan gadis boros yang manja dan banyak maunya. Meskipun terlihat bodoh karena kelakuannya, tapi Luhan merasa gadis itu cukup mandiri dibalik sikap kekanakannya.

“Lu…?”

Luhan mengerjapkan matanya dan menatap mata Wufan yang penuh dengan tanda tanya itu. Dan Luhan pun menggeleng, “Gadis di pub lebih menarik daripada dia.”

Dan Wufan lagi-lagi tertawa. Ia benar-benar merasa gemas sekaligus iri pada Luhan. Luhan memiliki peluang besar untuk sembuh daripada dirinya. Luhan berhasil tidur dengan wanita, dan ia? Bahkan ia tidak pernah melirik gadis-gadis murahan seperti itu.

Dan meskipun ia harus kehilangan Luhan, ia rela asalkan Luhan sembuh dan menemukan kebahagiaannya. Dan Yi Xing harus lenyap dalam hatinya. Yi Xing bukan takdirnya, dan tidak akan pernah di dalam situasi ini.

***

Ariel mengerucutkan bibirnya saat Yi Xing terus saja mendiamkannya. Dan yang ia dengar dari Lisa Eonni –manajer Yi Xing, Yi Xing kesal pada Ariel karena ia tidak mengangkat telpon Yi Xing kemarin. Dan Demi Tuhan! Ariel sama sekai tidak sengaja melakukannya. Ia saat itu sedang di bandara dan ia baru tahu jika Yi Xing menghubunginya.

“Ge, minggu depan aku sudah ujian…” dan Ariel mulai angkat suara. Saat ini ia tengah duduk di sofa panang ruang tengah apartemen Yi Xing. Dan lelaki itu tengah duduk di kursi pianonya. Menatap selembar kertas sambil menuliskan sesuatu disana. Oh, apakah ia harus bersaing dengan selembar kertas sekarang.

“Ge…” panggil Ariel lagi dengan nada merengeknya. Ugh! Ini benar-benar menggelikan. Biasanya ia yang merajuk pada Yi Xing, dan bukan sebaliknya.

Yi Xing tetap tak bergeming. Ia bertingkah seolah-olah gadis di sampingnya itu hanya parasit yang mengganggu konsentrasinya, karena dapat dengan jelas Ariel melihat lelaki itu menggaruk kepalanya dan mengorek kupingnya,

Lelah dan kesal didiamkan terus, akhirnya Ariel pun bangkit dan memeluk Yi Xing dari belakang. Ia berani bersumpah ia tak pernah melakukan ini sebelumnya, tapi entah dorongan dari mana akhirnya Ariel memeluk Yi Xing seperti ini.

Ariel pun membaringkan kepalanya di pundak Yi Xing. Nyaman. Ini benar-benar nyaman dan mungkin tidak ada salahnya ia melakukan ini dilain waktu –jika ia tidak merasa gengsi. Karena bisa dibilang Ariel sangat menjaga rasa gengsinya.

Yi Xing sebenarnya ingin tetap mengabaikan Ariel lagi. Tapi semuanya runtuh saat Ariel berbisik pelan di telinganya.

“Aku sangat sangat mencintaimu. Aku tidak pernah menyangka aku akan sebegitu mencintaimu seperti ini, Ge. Dan aku tidak sabar untuk menagih janjimu seusai sidang nanti. Kau harus melamarku, bertemu orangtuaku, dan menikahiku. Kau harus janji padaku Ge.”

Dan Yi Xing pun langsung membalik tubuhnya, membuat ubuh Ariel langsung menegak seketika. Dan Yi Xing dapat menemukan senyuman di mata Ariel. Sebenarnya ia juga ingin membalas ucapan Ariel, bahwa ia jauh lebih mencintai Ariel, dan tanpa ditagih pun ia akan tetap melamarAriel meskipun harus ia lakukan hari ini. Ia tidak sabar menjadikan Ariel sebagai ibu dari anak-anaknya kelak.

Kemudian, Yi Xing pun menarik Ariel ke pelukannya. Ia terus mempererat pelukannya, seolah-olah berkata bahwa ia tak akan melepaskan Ariel. ia hanya ingin maut yang memisahkan mereka. Ia tidak akan meninggalkan Ariel. tidak akan pernah.

“Aku juga mencintaimu Ariel Lau…” dan saat Yi Xing akan mulai berpuisi untuk semakin mempercantik suasana romantis mereka, tiba-tiba seorang wanita dengan rambut ikat kuda masuk ke dalam tanpa menekan bel terlebih dahulu.

“Sudah selesai? Yi Xing, seseorang ingin bertemu denganmu. Kau juga harus mempersiapkan keperluanmu untuk berangkat ke Beijing besok,” Lisa mulai berkoar-koar mengingatkan Yi Xing yang tengah di mabuk asmara –ugh, bahasa itu terlalu menjijikan di pikiran Lisa.

Belum sempat pasangan itu memberi reaksi atas keterkejutan mereka, Ariel sudah dibuat lebih terkejut lagi oleh ucapan Lisa barusan. Beijing! Wanita itu baru saja menyebut nama Beijing! Dan apa pula tadi? Yi Xing harus pergi ke Beijing…besok?

Ia pun langsung memutar kepalanya ke arah Yi Xing, “Kau mau pergi? Besok?”

Yi Xing tiba-tiba saja merasa bersalah sekarang. ia pun mengusap tengkuknya dan mencoba menjelaskan, “Y…ya. Aku ada konser disana. Dan…”

“Kenapa besok?! Dan…agh!” Ariel langsung menarik tangannya yang disentuh Yi Xing, “Kau menyebalkan Ge!”

Lisa yang paham keadaan mencoba mendekati Ariel dan menyentuh bahu gadis itu.

“Anggap saja dia menyuruhmu untuk berkonsentrasi pada sidang akhir ini. Bukankah sidang ini merupakan sidang yang kau tunggu-tunggu? Bukan hanya kau, Yi Xing juga menantinya. Berikan kesan terbaik, arra?”

Dan Yi Xing mengangguk setuju. Ada bagusnya juga ia memiliki manajer seperti Lisa, ia bisa jadi kakak sungguhan bagi Yi Xing.

***

Luhan hampir melompat kegirangan saat membaca pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Nomor itu nomor asing sebenarnya, Luhan sama sekali belum pernah melihatnya dan Luhan sama sekali tidak pernah menyimpan nomor tersebut. Tapi setelah tahu siapa pengirimnya, luhan rasa Luhan perlu menghapal nomor tersebut –oh tidak, itu berlebihan. Tapi tidak ada salahnya, kan?

“Aku akan sampai di Beijing sore ini. Jika sempat, temui aku di hotel X. Aku sudah sangat merindukanmu ! mari kita minum sampai malam!”

Luhan terus saja membaca kalimat singkat tersebut. Layaknya seorang yang baru jatuh cinta, bahkan Luhan harus menyiapkan kata-kata yang cocok untuk membalas sms-nya. Tidak! Bahkan Luhan harus menyiapkan untuk pertemuan mereka.

“Luhan, aku…” Kris langsung terpaku menatap Luhan yang terlihat sedang berkomat-kamit mengatakan sesuatu dengan volume suara yang sangat kecil. Kemudian, Luhan bangkit dan mondar-mandir di depan meja kerjanya. Wufan pun mengerutkan dahinya. Luhan kenapa? Apa yang terjadi padanya?

“Luhan, kau baik-baik saja?” tanya Wufan khawatir. Takut Luhan terlalu stress hingga ia bertingkah agak sedikit aneh.

Dan di luar dugaan, Luhan langsung berbalik dan menarik kedua sudut bibirnya dengan lebar. Wufan tercenung. Luhan sudah sangat lama sekali tidak tersenyum seperti itu. Lalu, apa yang membuat pemuda itu tiba-tiba menjadi seriang ini?

“Wufan! Kau mau dengar sesuatu?” tanya Luhan semangat sambil menarik lengan Wufan dan menariknya ke dalam. Padahal, Wufan datang kemari untuk mengajak Luhan makan siang bersama. Tapi sepertinya ada hal yang lebih penting ketimbang makan siang.

“Zhang Yi Xing!” Wufan semakin larut dalam kebingungannya, ia mendadak khawatir Luhan-nya sedikit stress karena banyak pikiran –terutama Yi Xing-nya itu.

“Ada apa dengan lelaki itu?” tanya Wufan hati-hati.

Dan Luhan langsung menepuk tangannya sekali, kemudian ia menunjukkan layar ponselnya yang menunjukan sebuah sms singkat dari…Yi Xing? Ada nama Yi Xing di baris terakhir sms itu.

“Dia akan tiba di Beijing sore ini! Ah, aku harus bersiap-siap. Menurutmu aku harus membicarakan apa dengannya nanti? Tapi kurasa aku tidak bisa mabuk, aku tidak boleh bicara melantur, aku harus…”

Wufan memang tidak punya adik perempuan. Tapi sepupu perempuannya mirip dengan Luhan. Dia akan sangat heboh jika diajak kencan oleh seseorang yang ia sukai. Dan yang terparah, dia akan terus bicara tanpa henti meskipun kencan itu akan tiba nanti malam.

Dan Wufan melihatnya pada sosok Luhan. Entahlah, ia tidak tahu harus mendeskripsikannya seperti apa. Meskipun ada kalimat kuat yang melintas di kepalanya, Luhan benar-benar menyukai Yi Xing…sepertinya. ya. Sepertinya.

***

“Kau mau kemana?” tanya Lisa saat melihat Yi Xing begitu sibuk mengenakan sepatunya. Kemudian, ia pun melirik arloji di tangan kirinya. Bahkan Yi Xing belum sempat istirahat sejak turun dari pesawat tadi, dan sekarang ia aka pergi lagi?

Kemudian Yi Xing pun berdiri dan mengangguk pelan, “Aku akan ke bawah. Menemui sahabat lamaku. Sudah sangat lama sekali aku tidak bertemu dengannya, aku sangat merindukannya.”

Lisa pun mendesah pelan sambil melipat tangannya di depan dada, “Biar kutebak. Apakah temanmu yang satu ini adalah orang yang membuat Ariel uring-uringan itu?”

Yi Xing terkekeh mendengarnya. Apakah itu tidak berlebihan? Bahkan Lisa tahu jika Ariel sempat kesal karena menurutnya Yi Xing lebih sering berkomunikasi dengan sahabatnya itu dan mengabaikan Ariel –padahal menurutnya tidak begitu.

Noona juga tahu? Kalau begitu jangan katakan pada Ariel aku berkencan dengannya disini.”

Lisa pun memutar bola matanya malas, “Jika itu benar, mungkin Ariel akan menggantungmu Zhang Yi Xing.”

Yi Xing hanya tertawa dan langsung membuka pintu kamar hotelnya. Namun pergerakannya terhenti saat ia teringat sesuatu.

“Ah, noona. Jangan lupa kejutan untuk Ariel ya? Aku akan langsung melamarnya sehari setelah ia menyelesaikan sidangnya.”

Lisa tersenyum hangat mendengarnya. Ia tidak menjawab, melainkan mengedipkan matanya untuk mengatakan ‘ya’ melalui isyarat. Dan setelah itu, Yi Xing benar-benar menghilang di balik pintu.

***

Luhan tak henti-hentinya tersenyum selama satu jam ini. Rasanya seperti mimpi saat mendapati Yi Xing tepat berada di depan matanya. Berbicara padanya, menatap matanya, tersenyum padanya. Dan…apalagi yang lebih membahagiakan dari ini? Mereka berdua tengah bersama! Hal yang selalu Luham impikan.

Yi Xing kembali menuangkan alkoholnya dan meminumnya sekaligus, “Apakah sekarang kau punya pacar? Sepertiya kau kesepian sekali, mengingat kau tak henti-hentinya mengirimku pesan di SNS.” Canda Yi Xing sambil meletakkan gelasnya. Ia memang cukup penasaran dengan kisah cinta seorang Luhan setelah ia mengadu padanya bahwa ia putus dari pacarnya 6 tahun lalu dan mengatakan ia menyukai seseorang. Meskipun saat itu Yi Xing tak sempat menanyakan siapa gadis itu, mungkin Yi Xing terlalu shock. Ditambah kepulangan Luhan ke Beijing yang sangat mendadak.

Luhan yang tadinya merasa hatinya lebih bersinar daripada cahaya kota Beijing yang diterangi lampu malam itu, justru mendadak kehilangan mood-nya. Matanya beralih ke arah gelas kosong di depannya. Ia benar-benar ingin meminum satu tegukan lagi, tapi ucapan Wufan untuk melarangnya banyak minum terus saja terngiang di kepalanya. Membuatnya harus menahan diri dan juga menahan perasaan asing yang menyusup ke dadanya.

“Soal itu…sebenarnya…” Luhan semakin gugup saat Yi Xing menatapnya serius. Tunggu, gugup? Kenapa harus gugup? Tiba-tiba saja hati Luhan tertawa miris. Yi Xing bukan kekasihmu Xi Luhan, ingat itu! Jadi, apa yang harus membuatmu gugup?

“…aku akan menikah sebentar lagi.”

Dan Yi Xing benar-benar tersedak mendengarnya. Mata nya langsung beralih mentap mata Luhan, mencari keseriusan disana. Apa ia tidak salah dengar? Luhan akan menikah? Sebentar lagi? Dan Yi Xing sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai itu semua?

“Kau akan menikah?” tanya Yi Xing mengulang perkataan Luhan beberapa saat lalu. Ia tidak menyangka jika Luhan yang selama ini tidak pernah membicarakan soal wanita, tiba-tiba saja akan menikah tanpa mengatakan apapun?

Luhan kembali mengangguk. Dan sebelum Yi Xing mulai mengomel ini itu, Luhan dengan cepat menambahkan, “Ini rencana ibuku. Dia ingin agar aku cepat menikah. Akhirnya aku dikenalkan pada seorang gadis, dan kami akan menikah minggu depan.”

Mata Yi Xing benar-benar terbelalak sekarang. Ini bahkan sangat cepat! Tidak, bahkan terlalu cepat. Yi Xing tidak menyangka jika Luhan akan menikah secepat ini, dan tentunya…menerima perjodohan ini dengan mudah. Ini sama sekali bukan gaya Luhan.

Tapi Yi Xing tidak terlalu meributkannya. Menurutnya, justru itu sangat bagus mengingat Luhan memang memiliki sifat yang aneh jika sudah berhubungan dengan seorang gadis. Ia sangat yakin, pasti gadis itu sangat cantik –karena Luhan dulu selalu berkata kriteria gadis idamannya adalah gadis secantik Sandara Park. Dan itu artinya, Luhan sangat selektif mengenai penampilan seorang gadis.

“Kau pasti akan mengundangku, kan?”

Luhan terkekeh pelan dan menepuk pundak Yi Xing, “Tentu saja. Kau harus datang. Kau bahkan harus memainkan piano untukku.” Kata Luhan dengan nada bercanda –meskipun ia tidak bercanda.

Yi Xing pun menganggukkan kepalanya, “Tentu saja. Aku pasti datang. Ah, aku penasaran gadis itu secantik apa…”

Luhan langsung mengibaskan tangannya di depan wajah Yi Xing, “Dia sama sekali tidak secantik itu. Biasa saja. Aku menerimanya karena ibuku. Aku sudah bosan dia terus saja menyodorkan banyak gadis ke hadapanku,” tukas Luhan cepat. Dan ia serius. Ia memang sudah bosan dengan berbagai macam gadis dari kalangan sosialita atas yang disodorkan padanya. Tidak menarik.

“Oya, aku juga sebenarnya punya seseorang yang ingin kukenalkan,”

“Oya? Siapa?”

Yi xing menarik sudut bibirnya yang tiba-tiba terlihat terang. Begitu jujur mengatakan bahwa Yi Xing bahagia mengingat seseorang itu.

“Pacarku. Aku akan menikahinya akhir tahun ini.”

Dan bahu Luhan langsung merosot. Pandangannya kosong. Ia bahkan tidak mendengarkan dan merasakan apapun. Semuanya hampa. Hingga ia…ia merasakan sesuatu begitu mengganggu dirinya. Disana, tepat di dadanya. Ia ingin sekali memukul-mukul dadanya, ia ingin rasa sakit itu tidak datang…

***

Luhan menatap malas jam di atas nakas kamarnya. Ia kembali mendengus setelah ia mendengus untuk yang kesekian kali hari itu. Sejak pertemuannya dengan Yi Xing beberapa hari lalu, Luhan mendadak tidak bersemangat melakukan apapun. Entahlah, kata ‘menikah’ menjadi kata keramat yang menyakitinya. Semuanya mengingatkan pada Yi Xing. Yi Xing akan menikah akhir tahun ini.

Luhan pun bangkit dan melempar selimutnya sembarangan. Padahal, sebentar lagi ia pun akan menikah. Ia juga akan memasuki gerbang baru, memiliki kehidupan baru, memiliki tanggung jawab baru, dan masih banyak hal lagi yang sebenarnya menjadi poin plus beban hidup Luhan.

Tapi semua itu tidak menjadi masalah sama sekali. Tidak sampai Yi Xing kembali memenuhi otaknya. Dan hari ini, sebenarnya ia punya janji dengan Yi Xing. Tidak, tepatnya ia berjanji pada Yi Xing untuk datang ke konser piano-nya. Ia sangat ingin menonton. Sungguh! Ia juga merindukan bagaimana Yi Xing memainkan pianonya. Ia sangat suka. Tapi perasaannya yang buruk membuatnya enggan melakukan apapun, termasuk datang ke konser itu.

Dan nama Wufan tiba-tiba muncul di kepalanya. Ya. Ia butuh teman untuk bercerita. Dan orang yang tepat saat itu adalah Wufan.

***

Yi Xing tersenyum lebar mendengar rengekan Ariel di seberang telpon. Apalagi jika bukan mengeluh soal sidangnya besok? Meskipun Yi Xing juga sedikit khawatir, tapi Yi Xing yakin Ariel bisa melewatinya dengan mudah. Gadis itu cerdas dan cukup cakap.

“Baiklah, ini sudah malam. Kau butuh cukup istirahat. Tidurlah dengan nyenyak Nona Lau. Tunggu aku, oke?”

Dan Yi Xing pun menutup telponnya dengan senyum masih tersungging di bibirnya. Ia benar-benar tidak sabar untuk kejutan yang akan diberikannya pada Ariel nanti.

Namun raut wajahnya berubah saat ingat Luhan tidak datang ke konsernya hari itu. Sebenarnya tidak apa-apa jika Luhan tidak bisa datang, lagipula Luhan yang dikenal Yi Xing saat ini bukan Luhan yang 6 tahun lalu selalu menantangnya bermain basket. Tapi tetap saja, ini hari terakhirnya di Beijing. Malam ini juga ia akan pulang ke Seoul. Itu dikarenakan Lisa yang mengomel karena kejutan yang disiapkannya untuk Ariel harus dikerjakan besok.

Yi Xing pun mendengus pelan, ia pun mengetik sebuah sms pada Luhan. Ia pasti akan merindukan sahabatnya itu.

***

Ariel langsung memeluk Baekhyun dari belakang. Dan Baekhyun tentunya sangat terkejt karena pelukan tuba-tiba Ariel. Ia pun langsung melepas dirinya dan menatap bengis Ariel yang terlihat sangat stress –ah, ya. Baekhyun juga merasakannya. Mereka baru saja melalui sidang akhir ini. Dan anehnya, Ariel yang begitu dielu-elukan karena kecerdasannya jauh terlihat lebih stress.

“Aku sudah punya pacar tau! Kau jangan memelukku seenaknya!” omel Baekhyun sambil menggelengkan kepalanya.

Ariel yang mendengarnya hanya memutar bola matanya malas, “Kau benar-benar pacaran dengan seorang noona-noona? Aku benar-benar tidak menyangka Byun Baekhyun.”

Bakehyun langsung menjitak kepala Ariel. Oh, betapa manisnya mulut sahabatnya yang satu ini. Membuat Baekhyun benar-benar ingin menendang Ariel sampai ke planet Exo.

“Yak! Kau baru saja melakukan kekerasan pada perempuan tau!”

Dan Baekhyun yang mendengarnya hanya mendengus malas, “Kau berisik sekali Nona Lau. Sudah, sana pergi. Aku harus berkencan dengan Taeyeon Noona.”

Dan Ariel benar-benar tergelak dengan Baekhyun. Ia pikir, Baekhyun akan menyukai gadis yang seumuran dengannya. Gadis cantik yang sering mengerubuninya pun banyak. Ariel akui, Baekhyun memiliki wajah yang cukup tampan.

Tapi ternyata, pemuda itu justru jatuh hati pada seniornya sendiri. Benar-benar ajaib.

Dan pertengkaran mereka terhenti saat seorang pria bermata empat muncul dihadapan Ariel. Penampilannya sangat sangat rapi. Bahkan Ariel tidak sempat membalas bungkukkan badan lelaki itu. Siapa dia? Kenapa Arel merasa tidak asing?

“Nona Ariel Lau, kami datang kemari untuk menjemputmu.”

Dan dahi Ariel berkerut saat mendengar ucapan pria itu. Menjemput? Apakah ia sedang bermimpi hari ini? Oh, jangan! Ini tidak boleh mimpi karena ia tidak ingin menghadapi sidang yang ke dua kali. Pengujinya sangat menyebalkan barusan.

Dan kembali ke pria di hadapannya. Jadi, dia siapa?

“Menjemput? Apa maksudmu? Kau mau menjemputku?” tanya Ariel masih belum paham sepenuhnya. Lagipula kenapa ia harus dijemput? Aneh.

“Nyonya Xi yang meminta kami untuk menjemput anda ke Beiing,”

Mata Ariel dan Baekhyun langsung membulat.

“Ha? Apa katamu? Nyonya Xi? Beijing?”

Dan pria bermata empat itu hanya menganggukkan kepalanya. Dan kepala Ariel semakin pening. Ia belum sempat membenahi kepalanya yang sangat kusut, sekarang apalagi ini? Kenapa wanita itu repot-repot memanggilnya ke Beijing segala?

“Maaf Nona. Tapi, kita harus berangkat sekarang.”

***

Yi Xing duduk menggigil di sudut kamarnya. Kepalanya benar-benar pusing, perasaannya sama sekali tidak tenang. Dan ini sudah berlangsung selama 2 hari. Sejak ia kembali dari Cina dan tak mendapati Ariel dimanapun. Bahkan semua rencananya gagal hari ini. Gadis itu seperti hilang ditelan bumi. Sama sekali tidak diketahui keberadaannya. Bahkan ponselya pun tidak aktif. Dan yang memperparah semuanya, Baekhyun –teman dekat Ariel, berkata bahwa Ariel dijemput segerombol orang untuk pergi.

Ia tidak ingat apalagi yang dikatakan Baekhyun saat itu. Ia sering mimpi buruk mengenai Ariel. Dan entah mengapa perasaanya sangat buruk menghadapi semua ini. Apakah hal buruk akan terjadi? Apakah terjadi sesuatu pada Ariel?

Tidak. Tidak boleh. Ia harus menemukan Ariel. Ia pasti menemukannya. Pasti.

Dan Yi Xing yang terlarut dalam gelapnya kamar apartemennya yang dibiarkan gelap, tiba-tiba merasa bisa bernapas saat ia mendapati nama Ariel di kotak masuk akun Kakao nya. Tapi perasaannya tidak menunjukkan rasa senang sama sekali. Entah kenapa.

“Gege…maafkan aku. Aku mencintaimu. Sungguh. Tapi…kita harus selesai sampai disini.”

Dan Yi Xing merasa udara disekelilingnya dirampas begitu saja. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Tidak. Tidak mungkin. Ariel pasti hanya mengerjainya. Gadis itu gila. Bagaimana bisa ia bercanda dengan hal yang tidak lucu begitu.

Yi Xing mencoba kembali menghubungi Ariel. Ia tidak boleh menyerah. Ia harus bertemu dengan Ariel. Ia harus menemukannya. Harus.

Namun meskipun puluhan kali ia menghubungi nomor Ariel. Semuanya berakhir dengan kata sia-sia. Sampah. Nomor itu seperti sampah yang tak lagi berarti. Ia membutuhkan Ariel. Ia harus menemukan Ariel.

Yi Xing pun terjatuh duduk. Airmatanya langsung menggenang. Buram. Semuanya buram. Seburam perasaan hati dan pikirannya. Apa-apaan ini? Kenapa ini bisa terjadi? Ia tidak merasa telah melakukan kesalahan. Harusnya semua baik-baik saja.

Tapi mengingat semua kenyataan ini, Yi Xing merasa benar-benar hampir gila.

“Ariel, kau dimana…”

~to be continued~

15082014 2159

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

64 responses to “[Series] Married With A Gay – Chapter 2

  1. Kok gitu masa ariel gak dikasih tau apa” ttg rencana nikahnya sama luhan. Jd kasian sama yixing….. tp tetep suka sama jalan ceritanya kkkkk

  2. dunia sempit banget serius, walopun udah nebak dari awal kalo ariel bakal dijodohin sama luhan tapi engga tau kenapa agak kesel banget sama fakta ariel di jodohin sama luhan, luhan suka yixing dan yixing pacar ariel. respon ketiganya gimana kalau tau 3 fakta itu. agak engga tega. kkk~ aduh kebawa perasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s