How To Steal A Kiss — 10th A. Love Mission

10

Title : How To Steal A Kiss — 10th A. Love Mission

Author : ohyeolliepop

Genre : Romance, School-life, (maybe) Comedy

Rating : T

Cast : Park Hyunjo (OC), All of EXO members, Choi Jinri [f(x)], Jung Soojung [f(x)], Park Cheonsa (OC)

Disclaimer : I own nothing but the storyline. Please be a good reader. Do not plagiarize.

Credit poster : G.Lin

 Previous : 9

 

Park Hyunjo merasa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dalam hidupnya. Belakangan ini, ia sering mengalami hal-hal ganjil yang terasa aneh dan tidak biasa.

Pertama, ingatan masa kecil yang sudah lama terlupakan kembali lagi dalam ingatannya. Oke, ingatan Hyunjo memang sangat buruk—menghapal rumus phytagoras saja ia tak bisa—tapi seharusnya ingatan penting seperti Sehun tidak terabaikan begitu saja, kan? Dan sialnya, sekarang ingatan itu kembali di saat Hyunjo dan Sehun terlibat dalam masalah yang rumit. Apa Sehun juga mengingat Hyunjo, seperti Hyunjo mengingatnya?

Hyunjo harap seseorang menciptakan mesin waktu, karena ia benar-benar membutuhkan alat itu. Ia ingin mengubah segala sesuatu dalam masa kecilnya—ia ingin pindah ke Jepang, China, Taiwan, Zimbabwe, atau negara apapun itu—agar ia tidak perlu satu sekolah dengan Oh Sehun. Semuanya pasti akan terasa lebih mudah jika ia tidak mengenal Sehun di masa lalu.

Kedua, ia menemukan foto lama Chanyeol di ponsel milik Cheonsa. Tugasnya otomatis bertambah satu lagi, yaitu mencari tahu ada hubungan apa di antara Cheonsa dan Chanyeol.

Meskipun misi detektifnya selalu gagal, Hyunjo tidak akan menyerah. Ia harus menyelidiki misteri antara Cheonsa dan Chanyeol segera, kemudian membuka kantor detektif profesional jika misinya kali ini berhasil.

Ketiga, Cheonsa-sang-titisan-iblis memajang surat cinta Hyunjo untuk Donghae songsaenim di mading sekolah! Padahal, sesuai dengan perjanjian truth or dare mereka, seharusnya Cheonsa menyimpan surat terkutuk itu karena Hyunjo telah menyelesaikan dare­-nya dengan mendapatkan ciuman Sehun.

Kali ini Hyunjo tidak akan tinggal diam. Cheonsa telah membuat hidupnya kacau, berantakan, dan juga tidak tenang. Ia harus membalas dendam—mungkin dengan menaruh bubuk gatal di tempat tidurnya, atau membongkar rahasia yang selama ini Cheonsa simpan di ponselnya.

 

 

Napas Hyunjo tercekat. Peluh dingin membasahi kening, leher, juga telapak tangannya. Saat ini, di depannya berdiri Cheonsa dengan penampilan yang sangat menyeramkan.

Teman baik—oke, mantan teman baiknya—itu mengenakan jubah hitam yang terjulur panjang ke bawah. Saking panjangnya, Hyunjo yakin ekor jubah tersebut dapat digunakan untuk menyapu jalan.

Dan seolah itu belum cukup aneh, Cheonsa juga memegang sebuah tongkat dengan kerangka tengkorak terpasang di bagian atasnya. Tongkat itu persis seperti tongkat para penyihir di film mistis yang Hyunjo tonton di televisi.

Meskipun takut setengah mati, Hyunjo rasa ia harus memastikan apa benar gadis yang berdiri di depannya ini Cheonsa—bukannya arwah penunggu dorm atau sejenisnya. Akhirnya, dengan sedikit keberaniannya yang tersisa Hyunjo bertanya, “C-cheonsa..?”

Gadis itu tersenyum samar kala Hyunjo menyebut namanya. Namun lama-lama, senyuman itu berubah jadi lengkungan yang mengerikan. Sudut bibir gadis itu terus naik, naik, dan naik—sampai hampir mencapai cuping telinganya.

“AAAHHH!”

Hyunjo melompat mundur beberapa langkah—refleks. Tangannya gemetar hebat, dan manik matanya terkunci pada sosok Cheonsa yang masih tersenyum lebar. Sangat lebar.

“Kau gadis pengganggu!”

Cheonsa menghentakkan tongkatnya, dan sejurus kemudian lantai tempat Hyunjo berpijak berubah menjadi air. Gadis malang itu kehilangan keseimbangannya dan jatuh ke dalam air tanpa ampun.

“C-cheonsa! Tolong! A-aku tidak b-bisa berenang!”

Hyunjo menggapai-gapai setinggi mungkin, berharap Cheonsa dalam wujud penyihir itu mau membantunya. Namun sia-sia, Cheonsa justru menatap Hyunjo penuh kebencian.

“Ini balasan karena kau sudah berani membuka ponselku!”

Rasanya Hyunjo ingin menangis sekarang. Air itu sudah membuat matanya pedih, dan ia tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Ia hanya perlu menghitung mundur sampai akhirnya ia akan benar-benar tenggelam.

“C-cheonsa.. K-kumohon..”

Ratap Hyunjo, berharap Cheonsa masih memiliki sedikit nurani untuk menyelamatkan nyawanya. Biar bagaimana pun Hyunjo tidak ingin mati dengan cara tenggelam—sangat tidak keren, dan jauh dari harapannya.

Saat berusia lima tahun, Hyunjo berharap ia akan mati dalam pelukan tampan yang memberinya ciuman terakhir. Namun beranjak remaja, Hyunjo sadar Korea Selatan tidak punya pangeran, jadi harapannya tidak akan terkabul.

Jadi di usia tiga belas tahun, Hyunjo harap ia akan mati dalam dalam dekapan Jang Geun Suk, Lee Min Ho, atau aktor tampan siapa pun itu. Dan harapan itu masih bertahan sampai sekarang.

“S-setidaknya p-panggilkan Jang Geun Suk!”

Oke.

Ini aneh, tapi bagi Hyunjo mati tenggelam dalam dekapan Jang Geun Suk masih lebih baik daripada mati tenggelam sendirian.

“Bagaimana kalau pria ini saja?”

Cheonsa mendengus, menghentakkan tongkatnya sekali lagi, dan secara ajaib tiba-tiba sesosok lelaki lompat ke dalam air—membuat gelombang air besar yang membuat Hyunjo kelabakan.

“T-tenang, Park Hyunjo! Tidak perlu panik, ada aku disini!”

Hyunjo mengerjap, berusaha melihat sosok lelaki itu di antara gelombang air yang berlomba-lomba masuk ke dalam kelopak matanya.

Meskipun tidak begitu jelas, Hyunjo dapat melihat rambut hitam, hidung mancung, juga rahang tipis lelaki itu. Lelaki terakhir yang namanya ia cantumkan dalam daftar ‘pria-yang-ingin-kunikahi’.

“T-tao sunbaenim?!”

“Tenang Park Hyunjo, tenang, aku akan mendekapmu dan mati bersamamu!”

Lelaki yang berhasil Hyunjo kenali sebagai Huangzi Tao itu berenang mendekat, lantas merentangkan lengan besarnya dan menarik Hyunjo dalam sekali rengkuhan.

Astaga.

Hyunjo akan mati tenggelam dalam dekapan Tao.

“TIDAAAKKK!”

.

.

“Hyunjo!”

Napas Hyunjo terengah tidak beraturan. Tangannya yang sibuk menggapai-gapai kini ditahan oleh seseorang.

“Aku tidak mau mati tenggelam dengan Tao sunbaenim. Tidaaakkk!”

“HYUNJO!”

Sebuah guncangan hebat membuat Hyunjo terdiam.

Tunggu.

Kenapa tidak ada air?

Mata gadis itu mengerjap perlahan. Detik berikutnya ia menarik napas, dan merasa luar biasa lega kala oksigen memenuhi rongga paru-parunya.

“Aku tidak jadi mati?” desisnya pelan.

Hyunjo menengadahkan kepalanya. Soojung dan Jinri berdiri di depannya dengan ekspresi aneh—antara cemas dan shock, entah lah.

“Hyunjo-ya, kau oke?” Jinri merangkak naik ke tempat tidur Hyunjo, kemudian mengambil posisi duduk tepat di sebelah gadis itu. Kecemasan terpancar jelas dari sorot matanya.

Hyunjo mengangguk lemah. “Hanya mimpi buruk.”

Ini gila.

Tidak cukup hanya menerornya di kehidupan nyata, sekarang Cheonsa juga menerornya di alam mimpi. Dan bagian yang lebih buruk, Cheonsa menyeret Tao masuk ke dalam skenario mimpinya. Demi gigi kelinci, memangnya tidak ada sosok lelaki yang lebih baik? Sehun, misalnya? Atau siapa saja juga boleh, asalkan bukan Tao.

“Mimpi buruk?” Kening Soojung berkerut samar, “Tentang apa?”

Hyunjo menggigit bibir bawahnya. “Mimpinya aneh—jadi ada Cheonsa, dia berpakaian seperti penyihir. Lengkap dengan jubah hitam dan tongkat sihir. Lalu dia tersenyum—tapi senyumnya lebar sekali, seperti hantu mulut robek. Dan tahu-tahu, dia menyulap lantai jadi air,” Hyunjo menghela napas sebentar, “Lalu aku tenggelam. Ia bilang itu hukuman karena aku membuka ponselnya. Saat itu aku—“

“—tunggu,” sela Soojung segera. Gadis itu memicingkan matanya. “Kau.. membuka ponsel Cheonsa?”

“I-iya,” cicit Hyunjo. “Tapi itu salahnya, kok. Ia sendiri yang ceroboh meninggalkan ponsel di dorm, aku kan jadi penasaran.”

Kerutan di kening Soojung mendalam. “Apa ada sesuatu yang kau temukan di ponsel Cheonsa? Masalahnya, hal itu sampai terbawa ke dalam mimpimu, berarti ada sesuatu yang penting.”

Jinri mengangguk setuju, sementara Hyunjo mengerutkan hidungnya ragu. Apa ia harus menceritakan foto lama Chanyeol yang ia temukan di ponsel Cheonsa?

“Hyunjo-ya, kenapa kau diam saja? Ada sesuatu, ya?” desak Soojung tak sabar.

Hyunjo memijit pelipisnya, lantas mengerling ke arah Soojung dan Jinri bergantian. Baiklah, mungkin tidak ada salahnya jika ia menceritakan hal tersebut kepada dua teman terbaiknya. Siapa tahu mereka bisa membantu—iya, kan? Siapa tahu.

Sejurus kemudian Hyunjo meraih ponsel dari atas nakasnya, dan membuka foto Chanyeol yang telah ia simpan.

“Aku.. menemukan ini. T-tapi kalian jangan bilang siapa-siapa, ya. Ini rahasia kita.”

Soojung menyambar ponsel tersebut dari tangan Hyunjo. Matanya seketika membulat sempurna kala dirinya dapat mengenali sosok lelaki berambut klimis dalam foto itu.

Jinri melompat turun dari tempat tidur Hyunjo dan mendekati Soojung penasaran. Dan reaksi yang diberikannya tak jauh berbeda dari Soojung—kedua matanya melotot seperti baru melihat kanguru memakai celana dalam atau hal-hal ajaib semacam itu.

“CHANYEOL SUNBAENIM?!” pekik Soojung dan Jinri bersamaan. Keduanya cepat menoleh ke arah Hyunjo yang mengendikkan bahunya heran.

“Astaga,” desis Jinri takjub. “Rambutnya seperti baru disiram minyak. Klimis sekali, menggelikan.”

Hyunjo meringis kecil, kemudian menatap Soojung yang masih terlihat speechless dan bertanya, “Apa komentarmu, Soojung-ah?”

Yang bersangkutan menelan ludahnya dengan susah payah. “Aku tidak menyangka masa lalu Chanyeol sunbaenim sesuram ini.”

Dalam hitungan detik, masing-masing dari Jinri dan Hyunjo pecah dalam tawa yang membahana.

“HAHAHA, LIDAHMU BENAR-BENAR SADIS!” tuding Hyunjo sembari berguling-guling di kasur dan memegangi perutnya yang sakit.

Soojung mendengus—ia kan tidak bermaksud untuk melawak.

“Err, omong-omong, kenapa foto ini bisa ada di ponsel Cheonsa?” Soojung memberi pertanyaan yang sanggup membuat Hyunjo dan Jinri menghentikan tawa biadab mereka.

Otak Hyunjo yang malang berusaha untuk menerka, kira-kira kenapa foto lama Chanyeol ada di ponsel Chanyeol?

Kemungkinan pertama; Cheonsa dan Chanyeol bersaudara. Marga mereka berdua sama-sama Park, dan abjad pertama dari nama mereka juga sama-sama C! Terlalu banyak persamaan dari segi nama, kan?

Tapi, tunggu.

Kalau benar mereka bersaudara, kenapa Chanyeol dan Cheonsa seperti saling tidak mengenal? Ia tidak pernah melihat Chanyeol menyapa Cheonsa—juga sebaliknya, ia tidak pernah melihat Cheonsa menyapa Chanyeol. Tidak mungkin kan, sepasang saudara tidak bertegur sapa?

Berarti, tidak. Kemungkinan pertama terbantahkan—Cheonsa tidak bersaudara dengan Chanyeol.

Oke, lanjut ke kemungkinan kedua; Cheonsa menyukai Chanyeol.

Uh, rasanya sedikit sulit menganalisis kemungkinan yang satu ini—masalahnya, Cheonsa menyukai siapa saja. Atau lebih tepatnya, pria tampan yang mana saja.

Lee Taemin, Jeon Jungkook, Kim Myungsoo, seluruh anggota EXO. Semuanya, tanpa terkecuali.

Kemungkinan kedua mungkin tidak benar, karena sangat sulit untuk bisa membuktikannya. Jadi.. mungkin—hanya mungkin—Cheonsa tidak menyukai Chanyeol.

Baiklah. Kemungkinan ketiga—apa lagi, ya? Hyunjo mengusap tengkuknya bingung, sementara otaknya masih bekerja keras memunculkan asumsi-asumsi selanjutnya.

Apa mungkin Cheonsa menyimpan foto Chanyeol yang dapat dikategorikan sebagai ‘aib’ sebagai senjata? Maksudnya, jika kelak Cheonsa dan Chanyeol terlibat masalah, ia bisa menggunakan foto tersebut sebagai ancaman. ‘Berdamai denganku atau fotomu ini kusebarluaskan’, mungkin seperti itu bentuk ancamannya.

Mm, lumayan masuk akal, sebenarnya. Chanyeol pasti tidak mau reputasinya sebagai sunbaenim maha-tampan rusak hanya karena sebuah foto dari masa lalunya yang kelam.

Benar, benar. Hyunjo menjetikkan jemarinya puas, tidak menyangka dirinya bisa se-genius ini.

Oke, mungkin Einstein akan menangis jika standar ‘genius’ ternyata serendah itu.

“Hei, apa kalian memikirkan hal yang sama denganku?” tanya Hyunjo dengan alis yang dinaik-turunkan. Bibir tipisnya mengulas senyum miring yang terkesan misterius.

Jinri menggembungkan pipinya. “Aku lapar, jadi aku sedang membayangkan bibimbap. Apa kau juga sedang memikirkan bibimbap?”

Hyunjo mendengus kasar. Ternyata, selama ia sibuk berpikir teman baiknya justru sedang memikirkan makanan. Menyebalkan.

Tanpa menghiraukan Jinri, Hyunjo berpaling kepada Soojung. “Apa yang kau pikirkan, Soojung-ah?”

Hyunjo harap Soojung tidak akan mengecewakannya.

“Aku sedang mengira-ngira, apa masuk akal kalau Cheonsa dan Chanyeol sunbaenim bersaudara—“

“—tidak mungkin!” sambar Hyunjo cepat. Sebelum Soojung sempat bertanya ‘kenapa’, gadis itu melanjutkan, “Apa kau pernah lihat Cheonsa dan Chanyeol sunbaenim mengobrol—atau sekadar bertegur sapa? Tidak pernah, kan? Padahal sangat tidak mungkin sepasang saudara tidak berkomunikasi.”

Soojung mendesah tak kentara. “Benar juga, aku tidak pernah melihat Cheonsa dan Chanyeol sunbaenim berinteraksi.”

“Tapi aku pernah melihat Chanyeol sunbaenim memberikan sebuah kertas kepada Cheonsa..”

Perkataan Jinri sontak membuat fokus Hyunjo dan Soojung terpusat kepadanya.

Soojung memiringkan kepalanya sedikit, memberi kode agar Jinri melanjutkan ceritanya.

“Saat itu masih semester awal, dan aku melihat Chanyeol sunbaenim ada bersama Cheonsa di koridor dekat kafetaria. Tidak ada orang lain disana, hanya ada mereka berdua,” jelas Jinri. “Karena penasaran, aku memutuskan untuk berhenti dan mencuri dengar percakapan mereka. Sayangnya aku tidak bisa menangkap suara apapun selain isak tangis Cheonsa.”

Hyunjo melongo. Seumur hidup mengenal Cheonsa, ia baru tahu titisan iblis yang satu itu bisa menangis juga.

Soojung baru akan membuka mulutnya untuk bertanya, namun Jinri sudah lebih dulu bersuara, “Malamnya aku bermaksud menanyakan hal itu pada Cheonsa, tapi tidak jadi karena—karena apa, ya? Pokoknya malam itu kita berempat meributkan sesuatu. Kalau aku tidak salah, surat.. Ah, ya, surat! Surat iseng yang kau tulis untuk Donghae songsaenim!”

Surat untuk Donghae songsaenim.

Sebaris kalimat itu secara magis membuat Soojung dan Jinri berteriak kencang, “YA TUHAN—SURAT!”

“Astaga, astaga, astaga, aku lupa memberitahumu tentang surat. Suratmu, suratmu, suratmu..” Jinri mencengkeram bahu Hyunjo dan mengguncangkannya kuat-kuat. “SURATMU DITEMPEL DI MADING SEKOLAH!”

Oh.

Hanya surat.

Hyunjo mengangguk paham—tapi, tunggu.

Surat apa, ya?

Seumur hidup, hanya ada satu surat yang berhasil Hyunjo tulis. Surat cintanya untuk Donghae sunbaenim.

Jangan bilang..

“SURAT?! SURATKU UNTUK DONGHAE SONGSAENIM?!”

Dan detik berikutnya, Hyunjo berlari sekuat tenaga ke bangunan sekolah—bahkan tanpa repot-repot mengganti satu setel piyama yang tengah dikenakannya.

 

***

 

“Sehun-ah!”

Sebuah tangan menepuk pundak Sehun ringan, membuat sosok yang bersangkutan menoleh untuk melihat siapa yang bicara.

“Oh, kau Kai,” seloroh Sehun begitu menemukan Kai berdiri di belakangnya dengan sebungkus keripik kentang dan sebotol air mineral di tangannya. Tidak perlu jadi paranormal untuk tahu lelaki berkulit cokelat itu baru kembali dari kafetaria.

“Kata Chen kau mencariku,” kata Kai. “Ada apa?”

Rupanya si maha-lugu Chen memberitahu Kai bahwa Sehun mencarinya.

“Err, itu..” Sehun memberi jeda pada kalimatnya.

Setelah mendapat saran yang sangat bijaksana dari Luhan, apa ia masih memerlukan bantuan Kai?

Ah, sebaiknya tidak. Ia kan sudah tahu bagaimana caranya mendekati Hyunjo—cari informasi tentang gadis itu sebanyak-banyaknya, baru mulai mengenal.

Tapi.. apa cara itu tidak memakan waktu terlalu lama? Bisa-bisa nama baik EXO hancur, bahkan sebelum ia tahu berapa nomer sepatu Park Hyunjo.

Mungkin bertanya pada Kai tidak ada salahnya. Ah, semoga saja.

Kai mengamati Sehun penasaran sembari menguyah keripik kentangnya, menunggu hal penting apa yang akan disampaikan teman baiknya itu.

“Menurutmu, dengan cara apa aku harus mendekati Park Hyunjo?”

Kai terbatuk—mungkin keripik kentang sialan itu tersangkut dan membuatnya tersedak. Sehun cepat menepuk punggung Kai, “Minum! Cepat minum!”

Kai menurut, ia membuka tutup botol air mineral dan menenggak minumannya sampai habis tak bersisa. Setelah merasa lega, lelaki itu mendesah kesal, “Pertanyaan bodohmu hampir membuatku mati tersedak.”

Sehun melongo tidak terima. Lelaki tengil itu tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih, ya?

“Caranya mudah saja, kau kirim pesan padanya dan ajak dia berkencan. Hore, masalah selesai.” Kai mengatakannya dengan raut wajah datar yang terkesan tidak berminat, juga meremehkan di saat yang bersamaan.

Sehun mendengus. “Sesederhana itu? Aku kan tidak mengenal Park Hyunjo.”

“Kalian kan bisa berkenalan sembari berkencan,” timpal Kai acuh tak acuh.

Sehun terdiam selama beberapa detik. Ide Kai mungkin gila, tapi pasti membutuhkan proses yang lebih singkat daripada saran Luhan.

Boleh juga.

“Tapi aku tidak punya nomer telepon Park Hyunjo,” keluh Sehun.

Kai memberi Sehun tatapan aneh, seolah lelaki itu baru saja mengeluh kenapa ia tidak boleh pakai bra.

“Mudah saja,” tandas Kai.

Sejurus kemudian ia mencegat seorang murid lelaki yang kebetulan lewat, mencengkeram bagian lengan seragamnya, dan bertanya galak, “Tingkat berapa?”

Murid itu terlihat luar biasa gugup—sorot matanya yang tadi ceria berubah panik, tangannya juga gemetar. “A-apa, sunbaenim?”

Kai melengos. “Tingkat berapa.” Ia mengulangi pertanyaannya dengan nada datar yang mengerikan, membuat murid tidak berdosa tadi semakin ketakutan.

“T-tingkat satu, s-sunbaenim,” cicitnya pelan, persis seperti anak tikus. Matanya berkaca-kaca.

“Bagus,” desis Kai. “Ponsel.”

Murid itu memandang Kai heran, mungkin mengira dirinya salah dengar atau apa. “P-ponsel, s-sunbaenim?”

Kai mendengus kasar. “Iya, ponsel. Berikan ponselmu.”

Dengan tangan yang masih bergetar hebat, murid malang itu mengeluarkan sebuah ponsel mungil dari dalam saku celananya. “I-ini, sunbaenim.”

“Kau tunggu disini. Jangan kemana-mana, dan jangan macam-macam,” ancam Kai. Murid itu mengangguk patuh, tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk membantah Kai.

Sehun mendelik Kai heran. Seingatnya, ia butuh nomer telepon Hyunjo—bukannya ponsel hasil rampasan.

Namun di luar ekspektasi Sehun, alih-alih memberikan ponsel itu, Kai justru mengeluarkan ponselnya sendiri. Sekarang lelaki itu sibuk mengetik—atau lebih tepatnya, menyalin—sesuatu dari ponsel murid tadi ke ponselnya.

Tidak sampai tiga puluh detik, Kai mengembalikan ponsel tersebut dan mendorong pemiliknya agar enyah dari hadapannya.

“Apa yang kau lakukan?” Sehun tidak dapat menyembunyikan rasa penasaran yang sudah menyesakinya sampai ke ubun-ubun.

Kai menunjukkan smirk-nya yang khas, lantas mengangkat ponselnya hingga sejajar dengan wajah Sehun. “Lihat, aku dapat nomer telepon Hyunjo. Mudah sekali, kan?”

Iris cokelat Sehun berkilat. “Wow.”

“Sekarang salin nomer ini ke ponselmu, lalu ajak dia berkencan.”

Dan misi Sehun, telah resmi dimulai..

 

“KOK PENDEK?”

Aku yakin pasti banyak dari kalian yang mikir gitu—kenapa part ini pendek banget?._.

Jadi, untuk part 10 ini, aku membagi ff-nya menjadi dua bagian. Bagian A adalah ff yang sekarang sedang kalian baca, dan bagian B akan aku publish di blog-ku antara besok sampai seminggu ke depan. Karena mulai part ini, aku akan publish How To Steal A Kiss di blog pribadiku sendiri (ohyeolliepop.wordpress.com) dan tanpa diberi password.

Kenapa?

Karena Lusy, temen yang biasa aku repotin di ffindo, udah mulai masuk masa-masa sibuk. Biar ga ganggu dia, aku memutuskan untuk melanjutkan ff ini blog pribadiku. Part 10th. B nanti bakal penuh sama fluff dan comedy loh, terutam buat sehyun shipper~

Itu aja sih yang mau omongin, dan.. oh ya buat yang belum baca part 8 bisa check password-nya di ohyeolliepop.wordpress.com/password

Jangan lupa komentarnya, ya T-T karena komentar kalian yang bikin aku semangat nulis :’D

Thank you for reading!<3

 

Regards,

ohyeolliepop

202 responses to “How To Steal A Kiss — 10th A. Love Mission

  1. Heeey yaampun tau nggak aku tadi harus baca ff ini dari chapter 8 trs 9 trs baru 10 ini grgr aku udah lupa ceritanya gmn._. Yaaa gitu deh kemarin sempat vakum nggak baca ff, miris kan #apalahini

    Oooh ternyata sehun itu temen sekolahnya hyunjo dulu, nah sehun udah inget belum? Etapi tadi sehun bilang kalo hyunjo itu menarik, dia mungkin suka tp belum bisa memastikan? Ehem, cie wk. Fighting yaaaa buat chapter-chapter selanjutnyaaaa!’-‘)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s