Romance Rhapsody (Chapter 4)

Previous: CHAPTER 1 | CHAPTER 2 | CHAPTER 3

romance-rhapsody

Title            :       Romance Rhapsody

Rating        :        PG-13

Genre                   :        Romance / School life

Cast            :        _ Kim Myungsoo / L

_ Kwon Yurin

_ Son Naeun

_Jung Yong Hwa

_ Krystal

_Kang Min Hyuk

 

 

***

CHAPTER 4

 

L mengemudikan mobil sport warna merahnya melintasi jalan Seoul yang sudah lenggang karena menampakkan waktu dini hari, sementara di dalam mobil itu ada 3 orang lain yang juga turut menumpang. Siapa lagi kalau bukan Yurin, Kai, dan DO. Ini benar-benar hal yang tidak patut di tiru, 4 anak sekolah di bawah umur yang masih berkeliaran pada jam seperti itu. L memutuskan untuk mengantarkan Yurin pulang setelah cukup lama berdebat dengan gadis yang juga memiliki status sebagai pembantu pribadi nya itu. Pertama adalah karena Yurin bersikukuh tidak mau pulang dengan diantar oleh L, menurutnya ia bisa pulang sendiri , lagipula sudah hampir setahun belakangan ini ia pulang dengan naik bus meskipun jam sudah menunjukkan pukul 1 atau bahkan 3 pagi, dan tidak pernah terjadi apa-apa pada Yurin. Ia sampai rumah dengan selamat sentosa, tidak kurang satu apa pun. Namun L tetap memaksa, bahkan lelaki itu mengancam akan mengadukan Yurin ke Ibu—nya, Ny. Taeyeon jika gadis itu tidak menurut untuk di antarkan pulang olehnya.

Dan kedua , Yurin masih bingung mengapa bisa L, tuan muda—nya yang dari awal sudah sangat songong, acuh dan menyebalkan ini mau menebus diri nya dengan jumlah uang yang cukup banyak agar Yurin bisa segera terbebas dari pekerjaannya sebagai hostess di klub malam. Yurin tahu , L bukan lah seseorang yang mau membuang waktu dan uang nya untuk orang lain, apalagi untuk dirinya yang hanyalah pembantu. Yurin benar-benar tidak habis pikir. Lagipula, Yurin juga merasa kalau sikap Tuan mudanya semakin aneh saja belakangan ini. Semenjak L dan dirinya terperangkap dalam lift di hotel hari itu dan berujung kepada Yurin yang harus di bawa ke rumah sakit, sikap L hampir berubah total padanya. L tidak berlaku semena-mena lagi pada Yurin, L tidak menyuruh gadis itu berlari ke atas atap hanya untuk mengupas apel seenak jidatnya lagi, namun lelaki itu malah jadi lebih perhatian kepada Yurin. Misalnya seperti mentraktir gadis itu makan, menanyakan apakah Yurin baik-baik saja, dan sekarang lelaki itu menebusnya dari klub malam. What’s going on? Ini sangat amat teramat aneh untuk ukuran lelaki menyebalkan seperti L.

“kau mengantuk?” tiba-tiba L membuka suaranya, lalu menatap Yurin , gadis itu yang duduk di samping kemudinya. Suara L itu pun sanggup membangunkan Kai dan DO yang sudah hampir tertidur di bangku belakang.

“Eoh?” hanya itu respon yang di keluarkan Yurin, gadis itu menatap L dengan tatapan bingung.

“Sejak kapan kau peduli apa aku mengantuk atau tidak?” lanjut Yurin masih dengan tampang bingung nya.

“Memangnya aku tidak boleh bertanya! Dasar!” seru L terdengar kesal mendengar jawaban Yurin.

“Aku juga heran, sejak kapan kau peduli kepada orang mengantuk?” tanya Kai dari kursi belakang, sama halnya seperti Yurin lelaki itu menatap bos besar—nya dengan tatapan menyelidik.

“Aku yang hampir ketiduran saja tidak kau tanyai. Ini tidak adil.” Celetuk DO sambil memasang wajah cemberutnya.

“Diam kalian semua!” seru L kesal karena ketiga orang yang ada di mobilnya ini suka sekali memojokkannya. Yurin, Kai dan DO hanya saling pandang mendengar seruan L yang terdengar frustasi seperti itu.

“Memangnya salah kalau aku menanyakanmu seperti itu?” tanya L kembali melayangkan pandangannya ke arah Yurin.

“Tidak salah, sih. Tapi aneh. Kau bersikap seakan baik dan peduli padaku. Itu aneh” jawab Yurin dengan jujurnya balas menatap tatapan tuan mudanya itu.

“Sudah ku bilang… Itu semua karena kau adalah… pembantuku” ujar L dengan nada yang terdengar ragu dan gugup. Yurin terdiam mendengarnya. Gadis itu menundukkan kepalanya dan memulai memilin-milin jaket kebesaran yang L berikan padanya untuk menutupi gaun hostess—nya yang terbuka.

Itu benar, Yurin adalah pembantu. Yurin selalu merasa sedih setiap ia mengingat akan status—nya itu. Di usia se—belia ini ia harus menggeluti pekerjaan sebagai pelayan café sekaligus pembantu. Semua ia lakukan untuk membayar uang sekolah, kebutuhan hidupnya, agar tidak memberatkan Tuan dan Nyonya Jung yang sudah berbaik hati mau menampungnya setelah kematian Ibunya dan hidup sebatang kara tanpa keluarga.

“Meskipun aku pembantu—mu, kau tidak perlu bersikap baik padaku. Itu memberatkanku” ucapan selanjutnya yang meluncur di mulut Yurin membuat L tersentak. Ia mengarahkan pandangannya ke arah Yurin yang memilih mengedarkan pandangannya melihat jalanan kota Seoul yang sepi pada malam hari di balik kaca mobil.

Tanpa terasa Rumah Kediaman Keluarga Jung sudah terlihat. L menghentikan mobilnya tepat di depan rumah dengan pagar berwarna ke-emas-an itu. Yurin turun dari mobil dengan serta merta kemudian menunduk kepada para sunbae—nya itu tepat saat DO membuka kaca jendela mobil.

“Terima kasih sudah mengantarku Sunbae—nim” ujar Yurin sambil turut melambaikan tangannya ke arah Kai dan DO.

“Ya, sama-sama , hoobae. Lagipula yang menyetir adalah L” cerocos DO. Yurin tersenyum sebentar, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah L yang duduk di bangku paling depan, lalu gadis itu menundukkan tubuhnya.

“Terima kasih—Tuan Muda” ujar gadis itu dengan nada penuh kesopanan. L hanya melirik Yurin sebagai sebuah respon dan jawaban, kemudian L kembali menjalankan mobil sport—nya untuk pergi dari tempat itu.

Yurin hanya terdiam sebentar, memandangi mobil merah mengkilap L yang sudah menjauh. Setelah beberapa kali sempat menghela nafas, gadis itu akhirnya masuk ke dalam rumah. Sebuah kejutan bagi Yurin begitu baru sampa di rumah sudah mendapati Yonghwa yang tertidur di sofa . Kenapa Yonghwa tiba-tiba tidur di sini? Dia tidak sedang menunggui Yurin pulang kan? Yurin sedikit terkikik melihat Yonghwa yang tertidur dalam posisi kurang nyaman dan sepertinya lelaki itu berkutat dengan nyamuk.

“Oppa… Oppa… Ireona~” Yurin akhirnya memutuskan untuk membangunkan lelaki itu. Kasihan juga rasanya melihatnya. Yurin mengguncang-guncangkan tubuh Yonghwa dengan cukup keras agar lelaki itu segera terbangun.

“Yurin? Kau sudah pulang?” respon Yonghwa begitu sudah tersadar dari ‘tidur tidak nyenyak’nya dan mendapati Yurin yang duduk di sebelahnya sambil setengah tertawa.

“Oppa… kau tidak menunggui ku pulang lagi kan?” tanya Yurin dengan tatapan menyelidiknya seperti biasa, membuat Yonghwa sedikit gugup karenanya.

“Tentu saja , tidak. Aku ketiduran disini.” Jawab Yonghwa, terdengar mengelak untuk menutupi perasaannya. Lelaki itu berbohong, sebenarnya setiap Yurin bekerja malam dan pulang selarut ini Yonghwa selalu merasa gelisah dan hati lelaki itu baru merasa senang kalau Yurin sudah pulang. Tidak ada hal yang paling ia khawatirkan di dunia ini selain Yurin, sampai-sampai membuat Krystal terheran-heran karena Krystal saja yang merupakan adik kandung Yonghwa tidak pernah melihat Yonghwa seoverproktektif itu pada dirinya. Jika Krystal pulang malam Yonghwa sama sekali terkesan tidak ambil pusing, tapi kalau Yurin sampai tidak pulang Yonghwa seperti kebakaran jenggot.

“Lihat. Kau pulang sampai selarut ini. Lebih baik kau segera berhenti dari pekerjaan tidak jelas seperti itu. Toko bunga apa yang buka sampai jam satu tengah malam?” cecar Yonghwa membuat Yurin jadi semakin merasa bersalah sudah membohongi lelaki satu ini dengan mengatakan bahwa ia bekerja di sebuah toko bunga pinggir kota, padahal kenyataannya ia bekerja di sebuah klub malam.

“Sekarang Oppa tidak perlu khawatir, aku sudah berhenti dari pekerjaan itu. Eumm~~ maksudku dari toko bunga itu…..” ujar Yurin, hanya untuk menenangkan Yonghwa karena gadis itu paling tahu Yonghwa tidak suka ia bekerja semalam ini.

“Jadi Oppa tidak perlu memarahiku lagi” lanjut Yurin , mencubit pipi lelaki itu sekilas entah karena gemas atau apa.

“Jinjja? Kau benar-benar sudah berhenti? Syukurlah” Yonghwa mengucapkan perasaan lega lalu membalas mencubit pipi gadis itu yang jauh lebih kenyal daripada pipinya. Yonghwa benar-benar merasa bersyukur akhirnya Yurin di berikan kesadaran untuk berhenti dari pekerjaan itu, padahal lelaki itu tidak tahu kalau sebenarnya Yurin tidak akan berhenti kalau saja L datang untuk menebusnya dari pemilik klub malam itu.

“Ya! Ya! Kalian berdua berisik sekali” Krystal akhirnya muncul dari dalam kamarnya dengan roll rambut strawberry berukuran besar dan masker berwarna hijau menutupi hampir seluruh wajahnya membuat Yurin hampir saja mengira bahwa gadis itu adalah hantu.

“Kwon Yurin…. Malam ini kau harus tidur denganku” perintah Krystal sambil menyilangkan tangannya.

“Bukankah kau benci sekamar denganku?” tanya Yurin mengernyitkan kening nya , tentu karena ia cukup tahu bahwa Krystal dan dirinya selalu bertengkar dimanapun dan kapanpun.

“Aku butuh teman bicara. Besok adalah hari pertunanganku dengan L Oppa!!!” pekik Krystal dengan sumringah layaknya anak kecil. Mendadak Yurin jadi tersadar. Ya Ampun besok benar-benar adalah hari minggu dan itu berarti Krystal memang akan segera bertunangan dengan L pada malam harinya.

“Aku masih tidak habis pikir bagaimana bisa kau tergila-gila dengan bocah ingusan macam L yang sok berkuasa di sekolah” celetuk Yonghwa membuat Krystal langsung memberikan death glare—nya kepada Oppa—nya satu itu.

“Oppa tidak boleh menghina my boy boy L! Bagaimanapun dia adalah Pangeranku! Nampyeon—ku! Sudahlah , Yurin—a, ayo segera kita masuk” Krystal segera menarik tangan Yurin untuk bangun dari sofa dan membawa gadis itu dengan serta merta masuk ke kamarnya.

 

***

L menghempaskan tubuhnya untuk jatuh ke atas tempat tidur ukuran besar dengan seprei warna putih dalam kamarnya itu. Lelaki itu memejamkan matanya untuk sesaat, kemudian ia kembali membuka matanya seakan tidak bisa tidur. Ada sesuatu yang dari tadi terus memenuhi pikiran lelaki itu.

“Sunbae kau menyebalkan!”

“Kau mau kulaporkan ke dinas Pendidikan karena sudah mem-bully seorang hoobae?”

“Sunbae, aku membenci mu”

“Sunbae, kau benar-benar orang yang menyebalkan!”

“Sunbae, bertahanlah”

“Tuan muda, kau tidak apa-apa?”

Sosok Yurin dalam berbagai keadaan yang sempat dilaluinya muncul menyeruak di dalam pikiran lelaki itu. Apalagi saat Yurin menangis dan menggengam tangan L yang pingsan saat mereka berdua terjebak di dalam lift hotel, meskipun L tidak melihat Yurin saat itu karena ia setengah sadar dan tidak sadar di tambah lift terlalu gelap saat itu, namun L sayup-sayup bisa mendengar suara isakan Yurin yang menangis penuh kekhawatiran saat itu juga. Bahkan , ibunya tidak pernah menangis sehebat tangisan Yurin di lift jika ia melihat putra semata wayang nya itu sehabis menjalani operasi di rumah sakit.

Dan yang paling tidak bisa di lupakan oleh L adalah L mendengar Yurin tidak berhenti berdoa saat di dalam lift itu, memohon kepada Tuhan agar menyelamatkan L dan dirinya sesegera mungkin dari lift yang gelap dan tersangkut itu. L juga mendengar Yurin meminta kepada Tuhan agar L dijauhkan dalam segala bentuk bahaya, agar L bisa kembali hidup sehat setelah operasi penyembuhan penyakitnya.

Mendadak L jadi merasa bersalah, karena selama ini ia sangat suka mempermainkan Yurin apalagi semenjak tahu Yurin tiba-tiba menjadi Pembantu Pribadinya. Tidak terhitung berapa jenis ke-isengan yang dilakukan L kepada Yurin semenjak Yurin menjadi pembantunya, mulai dari menyuruh gadis itu mengupaskannya apel diatas atap sekolah, mengerjakan PR dan Tugas lelaki itu, berbuat seenaknya pada Yurin, mencium gadis itu seenaknya saat di perpustakaan hanya untuk memanas-manasi Naeun, menyuruh gadis itu untuk bolos dari mata pelajaran demi dirinya. Semua itu L lakukan karena L menganggap Yurin hanyalah pembantu utusan ibunya sekaligus mainan baru yang asyik untuk di mainkan. L selalu merasa terhibur jika melihat Yurin marah, gelisah, atau kesal.Wajar memang jika Yurin menganggapnya menyebalkan, seharusnya gadis itu dendam atau sekalian membunuh L saja, mengingat semua perlakuan buruk L pada gadis itu selama ini. Namun siapa sangka bahwa –mainan baru—itu justru rela menangis untuknya, mengenggam tangannya, bahkan berdoa untuknya.

Saat gadis itu sadar di rumah sakit seusai tidak sadarkan diri di dalam lift Lmerasa ada sesuatu yang menyentak hatinya. Gadis itu langsung mengedarkan matanya mencari sosok L, menanyakan apakah lelaki itu baik-baik saja, Yurin bahkan tidak memperdulikan kondisinya. Padahal L sudah tega membohongi gadis itu dengan mengatakan bahwa ia sekarat, sehingga membuat Yurin benar-benar panik saat menemukan lelaki itu di hotel dalam keadaan menyedihkan. Padahal L tidak sekarat, ia hanya mabuk berat setelah melihat Naeun berjalan dengan Sungjae dan berniat untuk mengerjai Yurin lagi. Namun, hal itu justru berbuah sebuah rasa bersalah.

L benar-benar bukan hanya merasa bersalah, ia juga merasakan sesuatu yang lain. Perasaan dimana ia mulai sering memperhatikan “pembantu”nya itu. Sebenarnya ia tidak ingin, tapi hatinya menyuruhnya untuk melakukan itu. Yurin, gadis itu tidak menjadi sebuah mainan lagi matanya sekarang.

Untuk beberapa saat L jadi menyadari kalau Yurin adalah gadis manis yang benar-benar menarik jika di perhatikan. Meskipun gadis itu rada-rada keras kepala , judes, dan merupakan satu-satunya gadis yang berani menantang seorang L saat ini. Gadis itu memiliki hati yang baik, tulus, apa adanya, dan pekerja keras. Kalau dipikir-pikir ini kedua kalinya ia memperhatikan seorang gadis dalam kehidupannya, setelah sebelumnya ia pernah mencurahkan seluruh hidupnya untuk seorang gadis bernama Son Naeun saat masa-masa di sekolah menengah. Sayang, hubungannya dengan Naeun harus kandas dengan cukup melalui banyak drama karena ibunya sangat tidak menyukai Naeun yang berasal dari kaum sosial.

L, meskipun ia terkenal tampan , populer dan berkuasa di sekolah namun L sangat dingin terhadap gadis-gadis manapun yang berani mendekatinya. Ia bahkan pernah menyiram seorang gadis yang berani menyatakan cinta padanya dengan sebotol cola. Sekarang ini, Yurin adalah satu-satunya gadis yang dekat dalam lingkaran kehidupan L, tentu saja karena gadis itu adalah pembantu pribadinya meskipun ia dan Yurin selalu bertengkar dan tidak pernah sepaham. Untuk Naeun, gadis itu sekarang bagaikan orang asing untuk dirinya. Ia masih menyayangi Naeun, hubungan mereka belum berakhir sepenuhnya. L juga tahu kalau Naeun masih memendam rasa pada dirinya, namun cinta mereka tidak bisa terwujud karena Ibu L, Kim Taeyeon akan melakukan apapun agar L dan Naeun tidak akan pernah bisa bersama, termasuk dengan cara menjodohkan L dengan Krystal.

L mengehembuskan nafasnya perlahan, lelaki itu menaruh tangannya menutupi kepalanya. Terlalu pusing dengan semua problematika yang terjadi dalam hidupnya, juga perasaannya.

“Sunbae, apa yang kau pikirkan?” sebuah suara kemudian terdengar, L memalingkan wajahnya ke arah samping. Lelaki itu terkejut mendapati Yurin tidur di samping dirinya, gadis itu menatap L dengan sebuah senyuman terkulum di bibirnya.

“Yu… Yurin? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa dikamarku?” tanya L dengan suara seraknya terlalu terkejut melihat Yurin berada di tempat tidurnya, dan anehnya gadis itu memakai seragam sekolah lengkap dan tidak berhenti untuk tersenyum ke arah L.

“Aku datang menembus langit dan masuk melalui sisi sisi atap kamarmu” Yurin terkekeh, memperlihatkan gigi-gigi kelincinya yang terlihat lucu.

L terdiam, sadar bahwa Yurin yang ia lihat di sampingnya hanya lah sebuah halusinasi belaka. Tidak nyata.

“Sunbae, apa kau memikirkanku?” Yurin kembali membuka suaranya menatap L yang masih memandanginya.

“Menurutmu?” ujar L balas bertanya, menatap sosok “tidak nyata” di sampingnya.

Yurin tertawa, sambil kedua tangannya terangkat bermain-main ke udara.

“Aku hanya seorang pembantu , Sunbae. Kau adalah Tuan mudaku. Kau seharusnya tidak perlu merisaukanku”ujar gadis itu.

“Aku tidak menganggapmu sebagai pembantu.” Ujar L cepat. Lelaki itu juga mengangkat tangannya ke arah langit-langit kamarnya, mencoba meniru apa yang Yurin lakukan dan mencoba untuk menyentuh tangan gadis itu. Namun saat L menggapai tangan gadis itu, ia menghilang. L mengarahkan pandangannya ke samping, menatap Yurin yang sudah berubah menjadi sekumpulan asap lalu menghilang.

L tertawa sejenak. Menyadari bahwa apa yang terjadi barusan hanyalah khayalannya.

“Ada apa dengan diriku sekarang?” batinnya.

 

***

L mengerjap-erjapkan matanya begitu merasakan ada seseorang yang tengah menarik selimutnya.

“Jang ahjumma~ aku masih mau tidur~” L membuka suaranya dengan suara yang amat teramat serak lalu menarik selimutnya kembali namun selimutnya di tarik lagi oleh seseorang.

“Jang ahjumma~ sudah aku bilang. Aku mau tidur, aku mengantuk!” suara L naik satu oktaf, masih dengan memejamkan matanya yang terasa berat. Tidak biasanya Jang ahjumma—kepala pelayannya—itu bersikap seperti ini, biasanya Jang ahjumma sudah menurut kalau sudah di beritahu satu kali.

“JANG AHJUMMA SIAPA HUH???” Sebuah lengkingan suara kemudian terdengar membuat L tersentak, lelaki itu segera bangkit dan mendapati seorang gadis sudah berdiri di depan tempat tidurnya sambil berkacak pinggang.

“Yurin?” L mengucek matanya, memastikan bahwa memang Yurin—lah yang sedang berdiri disana.

Yurin tidak menjawab, gadis itu segera menarik selimut yang menyelimuti tubuh L dalam satu tarikan.

“Sedang apa kau disini?” tanya L yang sekarang sibuk memakai kausnya dan menatap Yurin yang sedang melipat selimut dan membersihkan tempat tidur L.

“Lebih baik kau bergegas sunbae. Hari ini hari yang penting untukmu” jawab Yurin. L mengernyitkan keningnya pertanda bingung.

“Ini hari minggu. Dan ini hari libur. Penting apanya?” tanya L jujur. Kemudian lelaki itu menjentikkan jarinya lalu mendekati Yurin yang duduk di sisi tempat tidurnya yang sedang menepuk-nepuk bantal.

“Kau mau mengajakku keluar? Karena itu kau bilang hari ini penting untukku?” tanya L sambil mencubit pipi Yurin pelan dengan maksud menggoda gadis itu namun rupanya ia justru diberikan tatapan datar oleh Yurin yang sempat meringis sebentar saat tangan L mencubit pelan pipinya.

‘kau benar-benar lupa atau sedang berpura –pura lupa?” tanya Yurin menatap L dengan tatapan selidik. L hanya terdiam di tempatnya, tidak tahu apa yang sedang Yurin bicarakan.

“Kau benar, kita akan keluar hari ini” ujar Yurin . L tersenyum kemudian seperti seorang anak kecil lelaki tampan itu bersorak,

“Hore! Aku memang bosan hari minggu ini. Kita akan jalan kemana hoobae?” tanya L dengan wajah jujurnya membuat Yurin ternganga karena sepertinya Tuan muda nya ini benar-benar tidak ingat.

“Ya ampun Sunbae! Kita akan keluar untuk mengurus acara pertunanganmu! Kau lupa? Malam ini kau akan tunangan dengan Krystal!” seru Yurin setengah kesal setengah gemas. Bisa-bisanya lelaki ini lupa hari pertunangan sendiri.

“Hari ini?” L bertanya untuk memastikan, ia benar-benar tidak ingat kalau hari ini adalah hari pertunangannya lebih tepatnya L tidak pernah peduli soal pertunangan yang dirancang oleh ibunya itu.

Yurin mengangguk, tersenyum meng-iya-kan.

“Jadi kita tidak akan jalan berdua?’” tanya L lagi.

“YA SUNBAE!!”

 

***

Naeun sedang berada di tempat kerjanya , gadis itu terlihat membawa nampan besar berisi beberapa piring besar pizza menuju ke sebuah meja pelanggan dengan 4 orang gadis yang sedang asyik bercengkrama di sana. Ke empat gadis itu melambaikan tangannya ke arah Naeun saat tahu Naeun sudah datang membawa pesanan mereka.

“Naeun—ah, kau juga harus bergabung bersama kami” Namjoo, salah satu dari ke-empat gadis itu menarik Naeun yang tengah menata piring-piring pizza di meja untuk ikut duduk di bangku pelanggan, namun Naeun menolak.

“Namjoo—ah, aku masih bekerja” tolak Naeun dengan gaya nya yang halus. Ya, ia hanya pelayan di restoran Perancis ini dan kebetulan sekali empat teman sekelas sekaligus sahabat terdekatnya berkunjung kesini, siapa lagi kalau bukan Chorong, Namjoo, Bomi dan Hayoung.

“Sudahlah. Kami datang ke sini karena ingin makan pizza denganmu. Lagipula bos mu tidak akan melihat. Kami adalah pelanggan, jadi kau harus menuruti kami” Chorong sekarang yang menarik tangan Naeun untuk duduk disampingnya, kali ini Naeun tidak menolak. Gadis itu hanya tersenyum mendengar ucapan Chorong.

Ke-lima gadis itu akhirnya sibuk menikmati Pizza yang Namjoo pesan, mereka bercengkrama seperti saat di sekolah dan mulai sibuk tertawa-tawa membicarakan rasa sakit hati Hayoung yang baru saja di putuskan oleh Sehun—si pangeran sekolah, atau soal Bomi yang di tolak oleh Jungkook sunbaenim. Sampai akhirnya Chorong kembali membuka sebuah topik pembicaraan.

“Aku benar-benar benci Krystal. Berani sekali dia mengataiku sok cantik kemarin. Aku akan menyiramnya dengan sirup besok” ujar Chorong terdengar emosi sambil meminum soda nya. Naeun dan Bomi hanya saling pandang, tentu karena mereka tahu Chorong tidak akan pernah kesampaian menyiram seorang Krystal di sekolah, Chorong mana berani melawan Krystal yang bengis itu. Itu hanya akan membuat Chorong berakhir di keluarkan dari sekolah.

“Aku juga tidak suka dengannya. Dia siapa sih? Sok berkuasa sekali. Mana menempeli L sunbaenim terus. Menjijikan” timpal Namjoo, terdengar juga mendukung ucapan Chorong.

“Kita semua tahu kalau L sunbaenim hanya cinta kepada uri Naeun saja” kali ini Bomi yang membuka suara, sambil menyenggol Naeun di sebelahnya membuat Naeun tiba-tiba gugup dan salah tingkah. Tentu karena teman-temannya ini kembali menyinggung masalah L, orang yang sampai sekarang masih terus memenuhi pikirannya.

“Tapi kan nanti malam Krystal akan…………” Hayoung yang baru akan menimpali ucapan para sahabatnya langsung memotong ucapannya ketika mendapat tatapan mata tajam dari Chorong dan Namjoo yang seakan menyuruhnya untuk tidak melanjutkan ucapannya.

“Naeun—ah kau mau kan ikut bersama kami nanti malam ke pesta?” tanya Chorong mengalihkan pandangannya ke arah Naeun setelah sempat mendapatkan kode tatapan dari Namjoo.

“Pokoknya kau harus ikut. “ tambah Namjoo yang sedang asyik memasukkan potongan pizza ukuran besar ke dalam mulutnya.

“Memangnya nanti malam akan ada pesta apa?” tanya Naeun, gadis itu sama sekali tidak tahu menahu kalau nanti malam ke empat sahabatnya ini akan pergi ke pesta dan sekarang mengajaknya. Chorong, Namjoo, Bomi dan Hayoung saling pandang untuk menjawab pertanyaan Naeun , tentu karena mereka berdua tahu pesta apa yang akan di langsungkan nanti malam. Tapi haruskah mereka memberitahu Naeun? Namjoo menggelengkan kepalanya pelan, memberi tanda agar mereka semua tetap merahasiakan tentang pesta tersebut sampai nanti malam.

“Sudahlah. Kau akan tahu nanti. Kami akan menjemputmu jam 7, arra?” ujar Chorong.

Naeun tidak menjawab, gadis itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Datang ke pesta? Tentu ia mau. Tapi kan…

“Soal pakaian kau tidak perlu risau. Kau boleh meminjam salah satu gaun-ku” tambah Chorong seakan mengerti arti ekspresi Naeun yang sedari tadi hanya diam saja.

“Gomawo~” ujar Naeun tersenyum simpul. Sementara Hayoung hanya bisa terdiam. Ia ingin sekali memberi tahu Naeun bahwa nanti malam adalah pesta pertunangan Krystal dan L. Namun apa daya, Chorong dan Namjoo melarangnya untuk membicarakan hal itu. Gadis itu hanya bisa menurut, padahal menurutnya Naeun—gadis itu harus tahu perihal hal itu sekarang.

 

***

Sekarang L dan Yurin sedang berada di sebuah butik dekat pusat perbelanjaan pusat kota. Tadi Yurin mendapatkan telepon dari Ny. Taeyeon yang menyuruh gadis itu untuk menemani L mengambil setelan jas yang akan ia pakai di pesta nanti malam. L nampak ogah-ogah-an, sementara Yurin tentu bersemangat menjalankan pekerjaannya.

“Tuan Kim, anda harus mencoba jas ini dulu sebelum mengambilnya. Anda selalu men-delay jadwal fitting yang selalu kami ajukan sejak sebulan lalu” karyawan butik itu berbicara dengan nada sopan tingkat atas saat L sudah akan berniat mengambil jas—nya.

“Aku tidak mau. Shireo. Tidak perlu di coba, berat badanku tidak berubah” L menolak, lelaki itu kelihatannya tidak bernafsu sama sekali untuk mencoba pakaiannya, lebih tepatnya lelaki itu tidak ingin mengurusi masalah pertunangannya.

“Tapi Nyonya menyuruh anda untuk tetap mencobanya terlebih dahulu” karyawan itu kembali membuka suaranya yang halus selembut sutera.

“Pokoknya aku tidak mau! Kau tidak dengar…. AWWWWW!!!” L membalas ucapan karyawan itu dengan nada sedikit membentak, namun detik berikutnya lelaki itu meringis begitu sebuah kaki dari belakang dengan sukses menendang kakinya. L memutar tubuhnya dan sekarang mendapati Yurin yang sedang bersiap mengayunkan satu kakinya lagi ke arah L.

“Cepat pergi coba jas itu sunbae” ujar Yurin sambil memiringkan kepalanya memberi kode kepada L agar segera masuk ke ruang ganti baju.

“Jangan buang-buang waktu lagi! Kalau Nyonya bilang coba ya coba! Kenapa kau tidak bisa patuh kepada Ibu—mu sendiri!” lanjut Yurin lagi dengan nada seru sebelum L—Tuan muda—nya satu itu menentang ucapannya lagi.

L memutar bola matanya, kemudian lelaki itu langsung menyambar setelan jasnya yang terbungkus plastik rapi dari tangan karyawan itu lalu masuk ke ruang ganti tanpa banyak bicara. Yurin hanya tersenyum kecil mengetahui L menuruti ucapannya dan tidak banyak bertingkah. Kemudian gadis itu memilih duduk di salah satu kursi tunggu sambil mengedarkan matanya melihat koleksi pakaian di butik ini. Sepertinya ini bukan butik biasa, terlihat dari gaun-gaun yang dipajang dengan sangat cantik di butik tersebut.

L keluar dengan memakai setelan jas—nya yang berwarna hitam , lengkap dengan kemeja putih di dalamnya dan dasi hitam yang membuat lelaki itu semakin terlihat mengagumkan. Yurin hanya bisa terpaku melihat lelaki itu, L memang terlihat tampan dalam kehidupan sehari-harinya, namun sekarang ketampanan lelaki itu semakin berlipat-lipat saja dalam setelan pakaian berkelas seperti itu.

“Tidak perlu memandangku seperti itu. Kau akan berakhir sebagai fans-ku” tiba-tiba L sudah memecah pikiran Yurin dengan melangkah menepuk dahi gadis itu membuat Yurin langsung menekuk wajahnya seketika. Lelaki ini… suka sekali menepuk dahinya.

“Tenang saja. Aku hanya suka melihat lelaki dengan pakaian jas. Terlihat mengagumkan” ujar Yurin sambil memegangi dahinya dan membetulkan poninya yang berantakan akibat ulah L barusan.

“Kalau begitu kau suka padaku” L melangkahkan dirinya maju selangkah mempersempit jarak antara dirinya dan Yurin dan malah mendekatkan wajahnya ke dekat wajah gadis itu membuat Yurin otomatis harus memundurkan kepalanya.

“Sunbae, kau ini apa-apaan” Yurin mendorong tubuh lelaki itu. L hanya terkekeh begitu merasa sudah sukses menggoda gadis itu. Tiba-tiba mata gadis itu menangkap sebuah gaun berwarna putih yang sedang terpasang di sebuah manekin di dalam etalase kaca. L langsung menjentikkan jarinya membuat karyawan toko tadi kembali mendekat ke arah mereka.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya karyawan itu sopan.

“Aku juga akan mengambil gaun itu” ujar L sambil menunjuk gaun di dalam etalase kaca itu. Karyawan itu mengerti dan segera menjalankan tugasnya untuk mengambil gaun itu.

“Kau membeli gaun? Krystal sudah membeli gaun dari bulan lalu , gaun berwarna merah muda yang sangat ia banggakan. Kalau itu untuk Ny. Taeyeon aku juga sudah menemaninya membeli gaun kemarin, lagipula gaun yang kau pilihkan itu terlalu muda untuk dipakai ibumu sendiri. Jadi untuk apa kau membeli gaun? Tidak mungkin kan kau akan memakainya nanti malam” ujar Yurin bingung mengapa tiba-tiba L membeli gaun paling cantik di butik ini.

L hanya terkekeh mendengar ucapan Yurin yang baginya lucu. Lelaki itu menggeleng kemudian berkata,

“gaun itu bukan untuk Krystal ataupun ibuku” ujarnya membuat Yurin kembali berpikir. Kalau bukan untuk Krystal dan Ny. Taeyeon lalu untuk siapa? Jangan-jangan…. L sengaja membeli gaun itu untuk Naeun? Apakah Naeun akan datang ke pesta nanti malam? Apakah gaun itu benar-benar untuk Naeun?

“Untukmu” tiba-tiba L sudah menyodorkan gaun yang tadi di pesannya ke arah Yurin membuat Yurin tersentak karena tiba-tiba melihat gaun putih itu yang sudah berada di dalam kantongan khusus milik butik ber-merk ini.

“Eh?” respon Yurin , kaget.

“Apa kau sudah punya gaun untuk nanti malam?” tanya L kali ini dengan tatapan menyelidik.

“Tidak sih. Aku bahkan belum tahu akan pakai apa. Tapi….”

“Kalau begitu pakai gaun ini nanti malam” potong L kembali menyodorkan gaun itu yang dari tadi belum mendapat sambutan dari Yurin.

“A… apa?” respon Yurin begitu L memaksanya untuk mengambil gaun itu.

“Untukku?” tanya Yurin memastikan. L mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya entah kemana dan entah karena apa.

Yurin terkesiap sekaligus terkejut. Ia sama sekali tidak memiliki pikiran kalau L akan membelikannya gaun semahal dan seindah ini. Apa yang terjadi sebenarnya???

 

***

“Jas dan sepatu sudah diambil. Kita juga sudah membeli bunga ukuran besar yang akan diantarkan nanti malam. Sepertinya semua sudah beres. Pertunanganmu sepertinya akan OK nanti malam” ujar Yurin begitu ia dan L sudah keluar dari butik sambil membawa beberapa kantungan belanja berisi setelan L dan gaun yang dibelikan L untuknya tadi. Sementara L yang sudah kembali memakai kaus biasa dan jaketnya hanya bisa mendengus sambil melihat gadis di sampingnya yang kelihatan begitu optimis.

“Kau sepertinya tidak masalah kalau aku bertunangan” ujar L membuka suaranya menatap Yurin yang justru menatap lelaki itu bingung mendengar ucapan L barusan.

“Kau akan bertunangan dengan Krystal. Krystal sangat mencintaimu melebihi apapun. Setiap malam ia selalu mengigaukan namamu. Seharusnya, kau senang” ujar Yurin.

“Bagaimana mungkin aku bahagia bertunangan dengan seseorang yang tidak aku cintai” gumam L pelan namun masih sanggup di dengar untuk ukuran telinga Yurin. Yurin terdiam. Jadi, L tidak mencintai Krystal? Pertunangan ini hanyalah seperti sebuah formalitas belaka? Tiba-tiba Yurin jadi merasa kasihan kepada Krystal karena Yurin tahu seberapa cintanya Krystal kepada L selama ini.

Yurin terdiam. Kalau bukan Krystal yang L cintai… apakah L masih belum bisa melupakan Naeun? Apakah lelaki ini masih menaruh hati kepada gadis itu? Mendadak Yurin jadi merasa tidak enak, entah mengapa hanya saja perasaannya selalu tidak enak tiap ia memikirkan perihal hubungan Naeun dan L. Terlebih lagi Ny. Taeyeon memperkerjakannya sebagai pembantu L adalah untuk memisahkan L dan Naeun agar mereka tidak usah berhubungan kembali.

Ddrtttt.ddrrttttt…

 

Tiba-tiba ponsel di balik saku cardigan Yurin bergetar membuat Yurin langsung merogoh ponselnya dan terkejut begitu melihat nama “Yonghwa Oppa” yang sedang menelponnya. Yonghwa Oppa? Entah mengapa Yurin selalu kalang kabut tiap lelaki itu menelponnya.

“Ye..Yeoboseyo? Ne oppa?” L mendelik menatap Yurin di sampingnya begitu mendengar gadis itu mengangkat ponselnya dengan nada yang terdengar sangat manis. Oppa? Kening L berkerut samar. Setahunya Yurin tidak punya saudara lelaki, jadi siapa lelaki yang sudah menelpon gadis itu. Mendadak L jadi merasa penasaran.

“M..mwo???” mata Yurin membulat terlihat terkejut, gadis itu kemudian celingak-celinguk entah karena apa dan kemudian menarik lengan L untuk berlari segera menjauh dari butik itu dan malah bersembunyi di balik tembok dekat butik itu membuat L keheranan tentang mengapa mereka harus bersembunyi seperti ini.

“Oppa… Oppa kau sedang menuju ke Forestella Boutique?” tanya Yurin hati-hati masih berbicara di ponselnya.

“Aku bahkan sudah sampai.” Ujar Yonghwa di seberang sana membuat Yurin semakin terkejut, gadis itu melongokkan sedikit kepalanya keluar tembok dan benar saja ia sudah melihat Yonghwa turun dari motor sportnya dengan tangan menggenggam ponsel di telinga kirinya lalu masuk ke dalam butik yang tadi di masukinya. Gawat kalau Yonghwa menemukannya disini, selain karena Yurin tidak ingin Yonghwa tahu tentang statusnya sebagai pembantu L ia juga takut kalau sampai lelaki itu bertemu L karena Yurin sempat mendengar dari Krystal kalau L dan Yonghwa itu tidak memiliki hubungan yang baik, meskipun mereka satu tingkat bahkan satu kelas namun kelihatannya mereka berdua seperti dua lelaki yang suka berperang dingin kata Krystal.

“Kau sendiri dimana?” tanya Yonghwa membuat Yurin kembali tersadar.

“A…aku? Aku sedang bekerja di Café Oppa~ Pelanggan sangat banyak hari ini. Hehehe~” Yurin kembali merasa tidak enak, kembali untuk sekian kalinya ia membohongi lelaki itu. Yurin benar-benar merasa tidak enak.

“Kalau begitu hati-hati. Jangan bekerja terlalu keras. Kau juga harus ingat makan. Apa kau mau di jemput…….” Ucapan Yonghwa kemudian terputus karena tiba-tiba L merebut ponsel Yurin dan mematikan ponsel gadis itu. Lelaki itu kelihatan tidak suka begitu mengetahui Yonghwa-lah yang menghubungi Yurin.

“Sunbae apa yang kau lakukan? Yonghwa Oppa belum selesai bicara~” protes Yurin kembali merebut ponselnya.

L mendengus. Lihat bagaimana gadis ini bersikap kasar padanya namun sangat manis berbicara dengan Yonghwa di telepon.

“Aku mau mengambil mobil di parkiran lalu menjemput Ibu—ku di salon. Kau tunggu aku di halte terdekat. Tidak usah naik bis aku akan mengantarmu pulang. Tidak usah membantah dan dengarkan apa kataku, arra?” ujar L seakan tidak memperdulikan ucapan Yurin barusan. Sekarang giliran Yurin yang mendengus,

“siapa juga yang mau membantahmu? Percaya diri sekali” dengus gadis itu sambil menggembungkan pipinya.

.

.

.

.

.

“Ne, Minhyuk—ah. Kau datang kan nanti malam. Kau harus datang, setidaknya untuk menemaniku.” Yurin berjalan menuju halte bis sambil berbicara lewat telepon denga sahabat terbaiknya, siapa lagi kalau bukan Minhyuk. Ia hanya ingin memastikan kalau Minhyuk benar-benar akan datang ke pesta nanti malam meskipun sepertinya Minhyuk tidak terlalu berselera karena pesta itu adalah pesta pertunangan Krystal. Meskipun tidak terlalu yakin, entah mengapa Yurin mempunyai firasat bahwa mungkin Minhyuk ada rasa dengan Krystal , melihat gelagatnya saja Yurin sudah merasa seperti itu.

“Ya,ya. Kalau kau yang sudah memintaku untuk datang mana mungkin aku bisa menolak” ujar Minhyuk di seberang sana.

“Gomawo Minhyuk—ah. Kau yang terbaik!” Yurin tersenyum kecil begitu ia sudah berhasil mencapai halte dan duduk di bangku memanjang disana , setelah sempat berbasa basi dengan Minhyuk Yurin akhirnya memutus telepon, memasukkan kembali ponselnya ke saku cardigannya. Kemudian gadis itu memalingkan wajahnya kesamping dan terkejut begitu mendapati Naeun juga turut memalingkan wajahnya, gadis itu juga duduk di halte tepat disamping Yurin.

“Kau?” tanya Naeun juga kaget mendapati gadis yang cukup dikenalnya berada di sampingnya, terlebih lagi Yurin.

“Hey” respon Yurin, entah karena bingung harus menyapa dengan apa sambil menatap gadis dengan seragam pelayan restoran di sampingnya. Ya, ia kan tidak terlalu dekat atau akrab dengan Naeun.

Naeun membalas sapaan Yurin dengan senyuman kecil.

“Aku Yurin. Kwon Yurin” ujar Yurin mengenalkan dirinya.

“ya, aku tahu. Kau dulu yang ditawarkan sebagai sekretaris sekolah, namun kau menolaknya. Dan akhirnya aku yang mengambil posisi itu” ujar Naeun. Selain itu Naeun juga mengenal Yurin sebagai gadis yang akhir-akhir ini selalu terlihat bersama L, mantan kekasihnya.

“Aku Naeun. Son Naeun” lanjut gadis itu, ikut memperkenalkan dirinya.

“Soal kejadian saat di toilet tempo hari aku minta maaf. Aku dan teman-temanku tidak bermaksud membicarakan hal buruk tentang Krystal” lanjut Naeun kembali mengungkit saat di toilet sekolah dulu saat Yurin memarahi Naeun, Chorong, Namjoo , Bomi dan Hayoung yang sudah menggosipi Krystal.

“Anniyo. Jangan minta maaf. Seharusnya aku yang minta maaf. Mungkin aku sudah kasar pada kalian” ujar Yurin dengan cepat.

“Tidak, aku dan teman-temanku yang salah” seka Naeun lagi. Yurin hanya tersenyum simpul.

“Kau tahu kau sepertinya gadis yang menyenangkan. Aku ingin berteman denganmu” sahut Naeun tiba-tiba. Yurin sedikit terkejut, menatap Naeun dengan tatapan heran.

“Berteman? Denganku?”

“Apakah tidak boleh?” tanya Naeun tidak yakin.

“Tidak. Tentu saja boleh. Aku berteman dengan siapapun.” Ujar Yurin mengulum kembali senyumnya, membuat Naeun kembali ikut tersenyum. Naeun berpikir kalau Yurin adalah gadis yang baik hati, lagipula ia ingin menambah temannya karena jujur saja teman yang Naeun miliki hanyalah Chorong, Namjoo, Bomi dan Hayoung selama ini karena sikap Naeun yang terlalu pendiam dan tertutup juga banyak yang mempermaslahkan statusnya sebagai murid beasiswa sekolah.

Sebuah mobil warna hitam berhenti tepat di depan mereka, Yurin menegang begitu melihat Ny,. Taeyeon berada di bangku depan mobil tersebut sedang merapikan riasannya. Ini pasti mobil L! Sementara Naeun berada disini, bias jadi hal yang gawat terjadi kalau sampai Ny. Taeyeon melihat Naeun.

“Naeun—ah. Berbaliklah!” bisik Yurin tiba-tiba.

“Apa?” Tanya Naeun tidak mengerti. Namun Yurin sudah dengan cepat memutar tubuh gadis itu ke belakang hingga menghadap tembok.

“Hei, apa yang kau lakukan? Cepatlah naik!” kaca mobil di bagian belakang tiba-tiba terbuka menampakkan L yang sudah membuka pintu agar Yurin cepat masuk dan bukannya terus duduk manis seperti itu.

“Aku tahu.” Sungut Yurin, bangkit dari duduknya kemudian beranjak memasuki mobil mewah itu setelah sempat melirik Naeun di sampingnya yang masih menghadap ke belakang dan Nampak gugup.

Naeun terkesiap begitu mendengar suara lelaki itu. Suara lelaki yang sangat di kenalnya. Suara yang mampu membuatnya bahagia hanya dengan mendengar sebaris kata melalui mulut lelaki itu.

Naeun memberanikan diri memutar kembali badannya ketika ia merasa bahwa mobil itu sudah beranjak pergi. Gadis itu hanya mampu menatap mobil hitam itu yang sudah berjalan menjauh dengan tatapan pilu. Bulir-bulir airmata jatuh membasahi pipi gadis itu. Naeun memegang dadanya sendiri. Terasa sakit melebihi apapun.

“Aku sudah berusaha untuk melupakanmu, L. Namun itu tetap tidak bisa. Kenapa aku tidak bisa beranjak untuk sedikit saja melupakanmu. Kenapa?” tangis Naeun dengan penuh isakan sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. Kenapa untuk segala sesuatu yang menyangkut tentang L, Naeun tidak bisa untuk tidak menangis.

 

.

.

.

.

 

.

Yurin memandang keluar jendela mobil untuk memperhatikan Naeun yang masih terdiam di bangku halte sana. Yurin mendadak menjadi merasa tidak enak hati, ia jadi merasa kasihan pada Naeun. Sekali lihat pun Yurin juga sudah tahu kalau Naeun masih menaruh hati pada L.

“Apa yang kau pikirkan hoobae?” suara L akhirnya memecah lamunan Yurin, membuat gadis itu mengalihkan pandangannya dari kaca jendela mobil kea rah L.

“Apa yang kau lihat?” Tanya L lagi lemudian berniat menolehkan wajahnya kea rah belakang namun tidak jadi karena Yurin buru-buru menahan lengan lelaki itu.

“Bukan apa-apa, Sunbae” ujar Yurin. L menatap gadis itu intens, firasatnya mengatakan bahwa gadis ini menyembunyikan sesuatu.

“Apa yang kalian ributkan?” Tanya Ny. Taeyeon dari bangku depan bersama seorang supir pribadi keluarga Kim.

“Bukan apa-apa Eomma” jawab L sebelum Yurin menjawab ibunya.

“Yurin—ah, apakah kau lelah. Seharian ini aku sudah menyuruhmu menemani L. Pulanglah dan siapkan dirimu untuk menemani Krystal nanti malam. Untuk bayaranmu bulan ini sudah aku transfer ke rekeningmu. Aku merasa puas dengan pekerjaanmu” ujar Ny. Taeyeon di balik fedora hitamnya.

“Ne, nyonya. Jangan merasa sungkan, sudah menjadi tugas saya untuk melakukan seluruh perintah Nyonya” balas Yurin sopan tidak memperdulikan L disampingnya yang sedari tadi menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Gadis ini…. Dia benar-benar menempatkan dirinya sebagai seorang pembantu di hadapan Ibunya? L harus mengakui kalau ia benci melihat Yurin seperti itu, Yurin—hoobae—nya yang hanya pasrah mendengarkan semua perintah tanpa bantahan yang selalu bisa menghibur L. Karena bagi L, Yurin bukanlah sekedar pembantu atau pelayan. Ia tidak ingin melihat gadis itu menempatkan dirinya seperti ini………

 

 

To be Continue~

 

NOTE : Hai!! Akhirnya aku memutuskan melanjutkan FF ini ^^. Mohon RCL—nya yah!! Perkiraanku sih Romance Rhapsody akan tamat di Chapter 8. Tapi itu baru perkiraan. Karena satu chapter ini sudah selesai, waktunya menyelesaikan THE BROTHERS PART SIX. Tapi sepertinya aku sibuk belakangan ini, doakan saja semoga cepat selesai ^^. Sampai jumpa di lain waktu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

24 responses to “Romance Rhapsody (Chapter 4)

  1. Nahkan Karma berlaku keras

    hahahahaha

    Yang jadi pertanyaan sekarang untuk next part adalah
    1. Kalau ternyata Myungsoo beneran suka sama Yurin. GImana reaksi Yurin dan Ibunya?
    2. Naeun pingsan g ya kalau tau yang tunangan itu Myungsoo sama Krystal?
    3. Yonghwa geram g ya kalau ternyata gadis yang dia sukai akrab bahkan disukai sama musuh bebuyutannya?
    4. Minhyuk berani g ya bilang ke Krystal kalau dia punya rasa gitu misalnya sama Krystal?
    5. Bisa g ya Myungsoo sama Yurin?

    Hahahahaha
    saya kebanyakan nanya

    penasaran soalnya sama kelanjutannya

    Fine.
    ditunggu next chapnya thor

    Keep writing ne 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s