THE PORTAL 2 [ Part 3 : Day 15 ]

theportal2wallpaper21

Title :

THE PORTAL 2

                                                                                                                              

Author :

citrapertiwtiw a.k.a Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast(s) :

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Witch

– INFINITE’s L as the 2nd Witch ( another side : Kim Myungsoo )

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard and celebrity

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship

 

Other Casts :

In Junghwa :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch (3rd)

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother                                       

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon / A Pink’s Hong Yookyung as the (ex) 1st witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother (4th witch) & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince from another Kingdom

 

In South Korea :

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as a medium

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s fiancee

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as a celebrity, and introducing ;

– Girl’s Day Yura / Kim Ahyoung as Minah’s Manager

– INFINITE’s Kim Sunggyu as Yura’s Father

 

Rating : PG15 – NC17

 

Type :

Chaptered, Season

 

Cerita Sebelumnya :

Synopsis The Portal 1

Part 1              : I Hate My Life

Part 2              : Big Decision

Part 3A           : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4               : Another Me

Part 5               : Over Protective?

Part 6               : Faithfulness

Part 7               : Something New

Part 8               : The Hidden Truths

Part 9               : Unpredictable

Part 10             : The Scandals

Part 11             : Reality

Part 12             : True Love

Part 13             : It’s Time To…

Part 14             : The Real Story

Part 15 ( final ) : Open or Close The Portal?

PROLOG SEASON 2

Part 1             : Nice to Meet…You?

Part 2A         : 15 Days

Part 2B           : Before The Day 15

 

Ringkasan Cerita Sebelumnya :

Benar.

Usaha L untuk menjadi orang baik dan membahagiakan keluarganya, terbukanya hati Naeun untuk mencintai orang yang ditakutinya, dan pertemuan dramatis Hoya dan Eunji di atas panggung final Seoul Dance Competition memang bukanlah akhir bahagia yang sesungguhnya.

Dendam besar Kim Hyoyeon dengan segala caranya, bangkitnya Myungsoo dan Haeyeon dari kematian, dan konsekuensi profesi Hoya adalah masalah-masalah baru yang mau tak mau harus dihadapi.

Keadaan terakhir, L menyadari bibinya, Kim Hyoyeon, tidak main-main dengan misi balas dendamnya. Ia bahkan sudah masuk ‘perangkap’ mantan penyihir nomor satu itu, dimana ia rupanya menjadi guru di sekolah sihir atas rekomendasi Hyoyeon agar ia bertemu dengan Namjoo.

Meski demikian, L tetap melanjutkan pekerjaannya sebab ia bertanggung jawab untuk menghidupi keluarga kecilnya, ia bahkan berusaha bersikap baik layaknya guru kepada murid dengan Namjoo. Namun bukan berarti ia tak memperdulikan ancaman yang ia temukan di lokernya, ia akan segera mencari tahu maksudnya.

Tak hanya ‘memasang’ sosok Namjoo untuk menggertak L, Hyoyeon juga melakukan rencana gila, dimana ia bekerja sama dengan kedua kakak kandung Naeun, Son Dongwoon dan Son Gain untuk menculik penyihir-penyihir di negeri Junghwa sedikit demi sedikit. Mungkinkah ia akan ‘menyisakan tiga’ seperti yang tertulis di loker L?

Strategi gila Hyoyeon yang paling mengancam L adalah keberanian mantan penyihir nomor satu itu untuk datang dan mengganggu Lin hingga pada suatu malam putra kecil itu harus bertarung selama L tertidur dan bermimpi bertemu Naeun. Dampaknya, Lin mengalami demam tinggi karena ia masih terlalu lemah. Pertarungan seperti apa yang telah mereka lakukan?

 

Sementara itu, perjalanan 15 hari belum sampai ke tempat tujuan, Hyerim telah membaca surat dari Howon yang memiliki indikasi untuk mengakhiri hubungan mereka dengan alasan status mereka masing-masing. apakah mereka benar-benar akan putus? Ataukah Hyerim akan segera menyusul Howon bersama Krystal, adiknya yang berencana pergi ke dunia nyata atas usul Kai.

Di dunia nyata itu sendiri, Naeun butuh waktu beberapa hari untuk sadar dan pada akhirnya bertemu dengan Kim Myungsoo yang selama ini menjaganya. Apakah Naeun benar-benar akan mempercayai kehadiran Myungsoo didepannya? Bahkan Myungsoo berpura-pura menjadi orang asing demi dekat dengannya.

Hal ini memicu kecemburuan di hati Yura hingga ia mau mengikuti Myungsoo ke rumah sakit. Kemauannya itu berujung pada pertemuannya dengan seorang ‘pasien penyakit dalam’ yang tak lain dan tak bukan adalah Lee Sungyeol, sang cenayang yang tak menunggu Woohyun dan Chorong untuk pulang ke Korea sebab tak ingin kedua sejoli itu tahu tentang Myungsoo.

Pertemuan Sungyeol dengan Yura membuat sang cenayang curiga bahwa Naeun sedang berada di dunia nyata. Dan kecurigaannya memang benar. Apakah hal ini akan sampai ke telinga Kim Hyoyeon?

 

Selamat membaca and sorry for late update.

***

 

Oh iya, sebelumnya.. beberapa readers request fotonya Lin biar enak ngebayangin plotnya, kan? oke.. ini author kasih. kira-kira ini wajah Lin dalam bayangan author :

tumblr_lk6jadPIeL1qj1904o6_500*kayak anak cewek ya? haha xD tapi cutenya L x Naeun banget jadi yaa maafkan saya(?)

selamat membaca!^^*

 

(!!!) It’s the longest part of The Portal 2! (92 pages) hope you like it!

3

Day 15

 

Author POV

 

“ Ada satu tato di punggungnya? Kau yakin?”

“ Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”

Namjoo, Dongwoon, dan Gain ikut syok mendengar penuturan Hyoyeon yang masih terbaring lemas di sofa usang rumah keluarga Son. Mantan penyihir nomor satu itu mendadak demam tinggi dan darah segar tak berhenti mengucur dari hidungnya setelah kembali dari rumah L, tepatnya setelah berani menyerang putra pertama penyihir nomor dua itu, Lin. Sebab itu memanglah ‘rencana B’ yang ia sebut-sebut kemarin malam.

“ Wah! Ternyata sekarang keponakan kita yang menjadi penyihir nomor satu.”Dongwoon dan Gain berbisik-bisik, entah menyiratkan kesenangan atau kekhawatiran. Atau mungkin sedikit rasa bangga?

“ Kalian senang?”tanya Hyoyeon dengan nada murka dan sorot mata tajam, kakak beradik itu sontak diam dan menunduk.

“ Mengapa kau sampai seperti ini?”tanya Namjoo khawatir seraya menyentuh kening panas ibu angkatnya tersebut, “…apakah anak bayi itu sudah bisa menggunakan tongkat sihir?”

“ Ia bahkan tidak memegang tongkat saat itu. ia hanya menunjuk wajahku dan berkedip-kedip. Tapi ia berhasil membuatku seperti ini.”

Mwo? Dia benar-benar hebat.”

Menunjuk wajah dan berkedip-kedip. Baik Namjoo, Dongwoon, maupun Gain tak bisa membayangkannya. Sehebat apa anak bayi itu sampai-sampai membuat seorang Kim Hyoyeon jatuh sakit hanya dengan jari dan matanya yang menggemaskan?

“ Aku merasa sangat lemah didepannya. Tetapi setidaknya aku masih lebih kuat dari Sunny, Taeyeon, atau mungkin L. aku masih bisa merasa lega.”Hyoyeon menenangkan dirinya dan berdiri, tak ingin terlihat sakit sebab rasanya memalukan.

“…Son Dongwoon, Son Gain, berapa yang kalian dapatkan tadi malam?”

Kedua kakak Yeoshin itu saling bertatapan sejenak. Saling tunjuk untuk menjawab.

“ Delapan, Hyoyeon-ssi.”mereka memutuskan untuk menjawabnya bersamaan.

“ Delapan?”Hyoyeon mendadak sembuh dari demamnya dan tersenyum puas, “…kerja bagus, berikan aku kuncinya.”

“ Apa yang mau kau lakukan?”

“ Apapun.”Hyoyeon merebut kunci ruang bawah tanah dari tangan Gain dan berjalan kesana dengan sedikit tidak sabaran.

“ Ada lagi yang kau rencanakan?”tanya Namjoo.

“ Aku sedang memikirkannya. Yang penting kau sekolah dan lakukan tugasmu. Aku ingin mendengar kabar gembira saat kau pulang.”

Namjoo mengangguk pelan, ia pun memasang sepatu dan jubahnya lalu berlari kecil menuju sekolahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah keluarga Son.

***

 

“ Delapan penyihir hilang juga tadi malam?”

Madame Sunny dan Taeyeon mengangguk lemah dengan kompak setelah mendengar pertanyaan L, kemudian mengintip dari jendela besar istana, beberapa penyihir yang merupakan keluarga penyihir-penyihir yang hilang masih menunggu disana karena mengharapkan pertolongan, tetapi baik Madame Sunny maupun Taeyeon tak bisa berbuat apa-apa. Bola kristal andalan Madame Sunny saja seakan tak berguna untuk melacak para penyihir tersebut. Semuanya abstrak di dalam sana, tanda ketidakmampuannya menjangkau atau menembus tempat dimana para penyihir tersebut berada saat ini.

L sendiri masih sibuk mengobati Lin di ruang kesehatan istana, ia terpaksa sedikit terlambat mengajar karena sangat khawatir dengan kondisi putranya yang tak juga membaik. jika saja bisa, ia ingin libur saja hari ini. Ini adalah pertama kalinya Lin jatuh sakit, maka itu L merasa tegang dan bersalah. Terlebih Naeun tak ada bersama mereka saat ini, tanggung jawabnya menjadi lebih besar.

“ Kau masih guru baru, tidak baik memberi kesan buruk dengan datang terlambat. Sudahlah, berangkat sana. Biar Lin kami jaga disini.”Madame Sunny menepuk bahu L, penyihir tampan itu nampak masih berat hati.

“ Kau sudah mengunci rumah kan?”tanya Taeyeon, L mengangguk, ia pun berpamitan dan bersiap untuk berangkat ke sekolah sihir untuk mengajar.

“ Sayang, aku pergi dulu. Cepat sembuh.” L mengecup kening panas Lin kemudian bergegas.

Namun baru saja ia keluar dari istana, para penyihir yang menunggu di luar segera menghadangnya.

 

“ L, kau bisa tolong kami kan?”

“ Keluarga kami hilang satu per satu..”

“ Semalam delapan orang yang hilang.”

“ Kami tidak tahu lagi harus minta tolong pada siapa..”

L merasa iba mendengarnya, beberapa dari mereka terus menangis.

“ Tenang.. aku, ibuku, dan Madame Sunny sedang memikirkan caranya. Sekarang lebih baik kalian diam di rumah dan jangan pernah sendirian.”

“ Tolong jaga anak-anak kami di sekolah.”

“ Akan kulakukan.”

Para penyihir itupun memberi jalan untuk L pergi, penyihir muda itu berjalan dengan langkah gontai menuju sekolah. Pikirannya mulai kacau. Ia jadi ingat dengan pertemuan singkatnya dengan Naeun semalam.

 

“ Tidak. aku tidak boleh merindukanmu lagi, aku yang menginginkanmu jauh. Ini lebih baik daripada kau ikut hilang..”

***

 

“ L, ini tidak lucu.”

Mwo?” Myungsoo menoleh dan menatap seorang gadis cantik yang sejak tadi masih saja memanggilnya dengan nama satu huruf itu.

“ Aku tahu bubur tadi ada darahnya, kalau kau bukan L, mana mungkin kau tahu itu. jangan mengerjaiku!”

Myungsoo semakin bingung dengan arah pembicaraan Naeun, ia pun hanya geleng-geleng kepala dan kembali sibuk mencari pakaian rumah sakit yang lupa ia letakkan dimana.

“ L !!!”

Kini gadis itu berteriak, Myungsoo agak terkejut.

“ Sshh..kamar sebelah sedang istirahat.”

“ Kau tidak bisa lagi berpura-pura didepanku.”

Aigo..” Myungsoo mencoba sabar. Ia kira Naeun sudah sepenuhnya percaya. Gara-gara bubur pemberian Yura, Naeun kembali tak percaya bahwa ia adalah Kim Myungsoo. ia jadi tak habis pikir mengapa bubur yang Naeun makan sampai-sampai ada darahnya. Yura tidak bilang apa-apa saat memberikannya, Naeun sendiri yang menyadarinya.

“…nona, kau mau mandi? Setelah itu pakai ini.” Myungsoo meletakkan pakaian rumah sakit di samping Naeun.

“ Mandikan aku, kau kan suamiku.”

“ Ckck..”Myungsoo ingin tertawa namun merasa tak enak dengan Naeun yang benar-benar kelihatan serius. Apa yang harus ia lakukan agar Naeun tak lagi menganggapnya L?

Myungsoo tak tahu, apakah Naeun seperti ini karena keyakinannya? Atau karena sedang melawan akalnya untuk menolak kenyataan?

*

 

“ Kurasa aku harus kesana lagi, aku tidak bisa membiarkan mereka berduaan.”

Yura berdiri dan merapikan rambut kuncir kudanya yang agak berantakan, Sungyeol pun ikut berdiri dan memakai penutup kepalanya.

“…kau mau pulang?”

“ Aku ingin ikut denganmu, apa boleh?”

“ Terserah.”Yura hanya mengangkat bahunya dan berjalan duluan, Sungyeol mengikutinya dari belakang dengan wajah tegang karena tak sabaran ingin tahu siapa gadis yang menyukai ‘bubur berdarah’ itu.

 

“ L, kumohon.. berhenti bermain-main. Kau ingin membawaku pulang, kan?”

“ Tidak, ini salah paham.. kurasa…”

“ Apa!? Kau mau bilang apa? Kau kira aku masih bisa tertipu?”

“ Duh..”

“ Apa-apaan ini?”Yura memasuki ruangan dan heran mendengar Naeun yang berbicara dengan sangat tidak formal pada Myungsoo yang notabene baru ditemuinya. Myungsoo menatap Yura agak lama hingga ia mendapat ide.

“ Hai sayang.. lama sekali. Aku menunggumu!”

Myungsoo merangkul Yura dan menarik gadis itu untuk semakin mendekat disampingnya, gadis itu hampir meledak karena kesenangan meski tak tahu maksudnya. Maksud dan tujuan itu belakangan, yang terpenting sekarang adalah si-tampan-Kim-Myungsoo-sedang-merangkulnya.

“ A..ini..kenapa..anu..”

Maaf, hanya ini yang bisa kulakukan agar Naeun percaya aku bukan L.” Myungsoo agak menyesal dalam hatinya, namun ia tetap menjalankan ide sintingnya karena ia sama sekali tak ingin dianggap L. bagaimanapun caranya, penyihir cantik itu harus menerima kenyataan.

Benar saja. Selain semakin sulit mengingkari bahwa yang didepannya memanglah Myungsoo, Naeun juga merasa panas sekarang. Melihat Myungsoo merangkul mesra gadis lain dihadapannya sama saja melihat L berselingkuh di depan matanya. Tanpa sadar darahnya merangkak naik hingga ke ubun-ubun.

“ Turunkan tanganmu!! Aku tidak suka!” Naeun mencoba memisahkan Myungsoo dan Yura yang masih menempel tanpa pikir panjang, Yura mendadak geram.

“ YA! siapa kau!? Masih untung pacarku mau menolongmu!” Yura kembali menarik Myungsoo agar mendekat padanya, rupanya ia menikmati sandiwara ini karena jika bukan kali ini kapan lagi ia berkesempatan menyentuh Myungsoo secara cuma-cuma?

“ Hei.. sudah sudah. Yang penting kau sudah tahu kan, aku tidak seperti yang kau katakan.”Myungsoo meyakinkan Naeun, gadis itu menunduk dan masih menggelengkan kepalanya karena tak percaya.

“ Memangnya dia bilang apa?”tanya Yura penasaran, Myungsoo hanya menggeleng karena tak ingin memperpanjang masalah.

“ Kau ingin mandi?”tanya Myungsoo dengan lembut pada Naeun, gadis itu hanya mengangguk pelan karena pikirannya mendadak kacau.

“ Tapi kakinya masih sakit. Jangan bilang kau mau memandikannya.”sela Yura, entah karena masih berakting sebagai kekasih Myungsoo atau memang tak mau hal itu terjadi.

“ Kalau begitu kau saja, kalian sama-sama perempuan. Jebal..tolong aku sekali lagi.”bisik Myungsoo, Yura langsung memasang wajah sewot, namun jika dipikir-pikir sepertinya ini harga yang harus ia bayar atas rangkulan mesra Myungsoo barusan.

Geurae. Kajja.”

Baiklah, tak ada salahnya. Yura bersedia dan membantu Naeun berdiri meski dengan mata yang terus memutar tanda ketidak-tulusannya. Biarlah, siapa tahu dengan cari muka seperti ini Myungsoo mau merangkulnya lagi.

“ Kau baik sekali. Terimakasih ya, kalau begitu aku tunggu di luar. Aku akan membelikanmu sesuatu.” Myungsoo menepuk bahu Yura dan keluar dari kamar dengan lega.

Lee Sungyeol, yang sejak tadi menyaksikan semuanya di balik celah pintu segera bersembunyi di balik tembok saat lelaki tampan –yang ia sukai- itu berjalan keluar. Ia menahan dirinya setengah mati untuk tidak melepas kerinduannya meski debar jantungnya benar-benar tak karuan saat melihat sosok Myungsoo bahkan mencium sepintas aroma tubuh khas sahabatnya itu.

Sebab disamping muncul di hadapan Myungsoo, ada satu hal yang sepertinya penting untuk ia ketahui. Keberadaan Naeun di dunia nyata, yang tentu saja akan menjadi berita besar jika Hyoyeon mengetahuinya.

Setelah memastikan keadaan aman, Sungyeol keluar dari tempat persembunyiannya dan memasuki ruang perawatan yang sedang kosong karena Yura dan Naeun berada di dalam kamar mandi.

“ Apa yang bisa kujadikan bukti kalau Naeun benar-benar ada disini?” Sungyeol agak panik karena tak sempat memikirkannya saat di luar.

 

“ Kau benar-benar belum mandi? Tubuh dan rambutmu sangat wangi.”

Terdengar suara ocehan khas Kim Yura dari dalam kamar mandi, ia baru saja membantu Naeun melepas pakaiannya dan merasa heran karena aroma lily dari tubuh dan rambut Naeun dengan cepat menyebar di dalam kamar mandi.

Naeun tak berkomentar dan tetap sibuk menyikat giginya, sebenarnya ada ribuan pertanyaan yang ingin ia utarakan tentang ‘lelaki yang ia anggap L’ itu pada Yura, namun ia takut Yura emosi lagi. Meski baru sekali melihat, Naeun sudah bisa menarik kesimpulan bahwa Yura sangat menyukai lelaki yang menyerupai suaminya itu.

“ Kau benar-benar pacarnya?”tanya Naeun pelan dengan nada tak percaya.

Nugu? Myungsoo? ya! kau tidak lihat ia merangkulku barusan? Ahh.. kami pasangan termesra 2014..”

“ Hish..” Naeun tertawa sinis karena jawaban Yura justru semakin tidak meyakinkan baginya.

Wae? Apa sebelum aku datang kau mencoba merayunya!? Ya! sadar diri sedikit, Myungsoo sudah menolongmu jadi jangan rebut dia dariku!” oceh Yura tanpa titik koma sembari mengguyur tubuh Naeun dengan segayung air dingin.

 

“ Naeun pasti sangat terkejut sekarang. Ia pasti masih tidak bisa percaya ramuan pembangkit kematiannya benar-benar terpakai..”

Sungyeol yang menguping pembicaraan kedua gadis itu kembali sibuk mencari apapun yang menurutnya penting. Hingga aroma lily yang mulai menyeruak keluar dari dalam kamar mandi memberinya ide.

 

“ Apa namanya benar-benar..Kim Myungsoo?”tanya Naeun pelan. Yura menautkan alisnya karena pertanyaan Naeun sama sekali tidak berhubungan dengan ocehannya barusan.

Oh! Namanya Kim Myungsoo. wae? Kau bilang kami tidak bisa berpacaran karena namaku juga Kim?”tanya Yura sok tahu sambil menunjuk-nunjuk papan nama di seragamnya, “…heh, saat ini pacaran dengan sesama marga sedang menjadi tren. Yang mengatakan sesama marga adalah kerabat jauh dan tidak bisa menikah itu hanya orang-orang kolot!”

 

“ Hah, yeoja bawel. Ia tak tahu apa-apa.” Sungyeol menahan tawanya mendengar celotehan Yura yang semakin nyaring dari dalam kamar mandi, lumayan untuk mengurangi rasa tegangnya karena ia masih berhati-hati untuk menarik jubah hitam milik Naeun yang berada di atas pintu kamar mandi.

Ia mendapatkannya.

 

“ Sudah berapa lama kau dan Myungsoo berpacaran?”tanya Naeun lagi, terlalu serius bertanya hingga tak sadar jubah hitam pemberian L miliknya yang notabene sangat berharga sudah menghilang dari atas pintu kamar mandi.

“ A..ng.. a..anu.. mm.. sudah setahun!”jawab Yura asal-asalan. Ia memilih hitungan tahun agar Naeun menganggap ia dan Myungsoo sudah langgeng dan tak bisa diganggu.

Bohong. Bahkan sebelum semester barunya dimulai saja Myungsoo sudah meninggal waktu itu.” batin Naeun.

“…untuk apa kau tanya itu hah? Kau ingin merusak hubungan kami?”tanya Yura sengit, Naeun hanya geleng-geleng dan memutuskan untuk berhenti bertanya, rasanya tidak enak juga membuat jengkel orang yang sudah ‘berbaik hati’ mau membantunya mandi dengan kondisi seperti ini.

“…kau tinggal dimana?”tanya Yura, “…apa kau tidak punya keluarga disini? kenapa harus Myungsoo yang menjagamu berhari-hari? Jangan bilang kau akan terus menjadi parasit.”

“ Nanti kau tahu.”jawab Naeun seadanya, ia malas menyebut ‘keluarga Nam’ karena Yura pasti akan menyebutnya gadis gila dan semakin mengoceh tak karuan. Jika lain waktu ada kesempatan, Naeun ingin Yura tahu sendiri ia adalah anak angkat keluarga konglomerat di Korea Selatan itu.

“ Hah, kau pasti anak orang kaya. Bentuk tubuhmu bagus sekali, kau pasti rajin ke gym.

Kini Naeun hanya tersenyum hambar mendengar komentar Yura, sedikit senang juga karena tubuhnya masih bisa kembali seperti sediakala meski sudah pernah melahirkan.

“…awas kalau kau sampai menggunakan wajah cantik dan tubuh molekmu ini untuk merayu Myungsoo, aku akan merubah tubuhmu ini menjadi daging cincang!”

“ Hei, kau terlihat kesal padaku, tapi kenapa mau memandikanku?”tanya Naeun pelan dan tetap ramah karena tak tega melihat Yura yang sejak tadi mengoceh selama memandikannya.

Yura memutar bola matanya, “ Karena aku ingin mengatakan hal-hal tadi padamu. Pada intinya, aku tidak ingin kau mendekati Myungsoo. arasseo!?”

“ Kalau Myungsoo memang sudah menjadi pacarmu, mengapa kau harus sekhawatir ini?”

Yura agak gelagapan sekarang.

“ A..aku..aku tidak seperti kebanyakan perempuan di luar sana, aku sangat menjaga Myungsoo.”

Geurae, anggap saja begitu.”Naeun tersenyum agar Yura tak lagi merasa khawatir. ia bukan orang bodoh, ia tahu Yura bukan kekasih Myungsoo. namun Naeun tak akan mengungkapkan ketidakpercayaannya, ia menghargai perasaan Yura.

 

Meski jujur, ia merasa muak melihat Myungsoo merangkul Yura beberapa saat yang lalu. Benar-benar terlihat seperti L yang sedang terang-terangan berselingkuh didepannya!

***

 

“ Hei, kudengar anak L songsaenim sakit!”

Jinjja?

“ Sakit apa??”

“ Apa gara-gara kita cubiti kemarin..?”

 

“ Jadi bayi itu sakit juga? Kukira ia baik-baik saja..”batin Namjoo sembari ikut menggeser piring makan siangnya, mendekati sekelompok siswa yang membicarakan Lin di jam makan siang tersebut.

 

“ Bagaimana kalau kita jenguk baby Lin?”

“ Ya! nanti sore.”

“ Tapi kudengar, dia dirawat di istana.”

“ Tidak masalah! Bukankah istana sedang tidak berpenghuni? Hanya ada madame Sunny disana.”

“ Ng.. tapi.. kudengar juga, L songsaenim meminta kita semua untuk lebih sering di rumah. Kalian tahu kan beberapa hari ini banyak penyihir yang hilang, pamanku saja belum ditemukan!”

“ Sama, kakakku juga belum ditemukan.”

“ Nenekku juga masih belum pulang..”

“ Ibuku.. dia juga belum ditemukan sejak dua hari yang lalu..”salah satu dari mereka tiba-tiba menangis mengingat ibunya yang hilang.

Namjoo mencoba bersikap biasa-biasa saja. Dengan wajar ia ikut bergabung dengan sekelompok siswa tersebut lalu mengusap-usap punggung sang siswi yang menangisi ibunya.

“ Sudahlah.. kita mau makan siang, kenapa menangis?”

Mian..teman-teman, aku hanya ingat dengan ibuku..”isak siswi itu, yang lain mengangguk mengerti.

“ Wajahmu berlumuran airmata, tidak baik makan dengan wajah seperti itu. Kajja, aku antar kau cuci muka.”Namjoo mengajak siswi itu berdiri, ia menurut. Keduanya pun meninggalkan ruang makan sejenak dan berjalan menuju toilet.

 

“ Han Saemi..”

“ Hm?” siswi itu menoleh ketika Namjoo mengajaknya berbicara.

“ Apa kau merindukan ibumu?”

“ Tentu saja.. tapi sekarang dia dimana saja aku tidak tahu..”

“ Aku tahu.”

Mwo!?”

“ Sshh.. jangan keras-keras. Ini rahasia kita berdua.”

“ Kau.. kau benar-benar tahu dimana ibuku?”

Namjoo mengangguk, “ Kau mau menemuinya?”

Siswi bernama Saemi itu mengangguk cepat.

“…ikut aku.”

*

 

“ Apa semuanya sudah lengkap?”

“ Kim Namjoo hadir!! Joesonghamnida songsaenim, aku agak terlambat.”

Karena sedang tak ingin memperdulikan Namjoo, L mempersilahkan gadis itu ke tempat duduknya.

“…berarti sudah lengkap semuanya?”L mengulang pertanyaannya sebelum benar-benar memulai pelajaran.

“ Han Saemi belum masuk kelas, songsaenim.”sahut salah satu siswa.

“ Kemana dia?”

“ Ia bahkan belum memakan makan siangnya. Terakhir, dia pergi ke toilet dengan Kim Namjoo.”

Namjoo berusaha tenang.

“ Ia terlalu lama di toilet, jadi ia menyuruhku masuk kelas duluan.”jawab Namjoo lancar, L mengangguk saja tanda percaya.

*

 

“ NAMJOO!! KIM NAMJOO!!!”

Seorang gadis berseragam sekolah sihir Junghwa masih terus berusaha mendobrak pintu yang baru saja ditutup dan dikunci oleh temannya, beberapa kali ia juga mencoba membuka pintu itu dengan sihir, namun terus saja gagal.

Sesekali ia menoleh ke belakang, menatap pintu lain yang ada di ujung lorong. Ia ingin membukanya, namun instingnya sebagai penyihir tentang pintu itu benar-benar buruk.

Dan ia benar, pintu itu terbuka hingga muncul seorang lelaki dan seorang perempuan berjubah yang merampas tongkat sihirnya dan menyeretnya memasuki pintu tersebut.

 

Pintu yang membuatnya seakan hilang ditelan bumi.

***

 

“ Kau tahu aku disini rupanya.”

Myungsoo berdiri dan menyambut Yura yang datang membawa Naeun yang sudah memakai pakaian rumah sakitnya bersama tiang infus serta kursi rodanya.

Gadis penyihir itu masih menunduk dan mengalihkan perhatiannya dengan melihat ikan-ikan koi yang berenang di dalam kolam taman rumah sakit, ia tak mau peduli apakah lelaki berwujud L itu ingin melanjutkan sandiwaranya dengan Yura atau tidak.

“ Yura-ssi, terimakasih banyak ya, aku benar-benar merepotkanmu hari ini.” Myungsoo menarik Yura agak jauh dan berterimakasih seraya meletakkan satu kantung plastik di tangan gadis itu.

“ Apa ini? wah.. DVD film horor lagi. Kau benar-benar tahu seleraku.”Yura nampak salah tingkah.

“ Hanya itu yang bisa aku berikan untuk membayar perlakuanku tadi..”

“ Perlakuan..apa?”

“ I..itu..tadi..yang aku.. merangkulmu tiba-tiba. Kau pasti merasa tidak nyaman, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud..”

Ani!! Gwenchana!! Jeongmal gwenchana! Kau bahkan boleh melakukan yang lebih dari itu padaku. Tidak apa-apa..!” Yura segera memotong dengan nada bahagia yang justru membuat Myungsoo semakin merasa bersalah.

“ Tolong… jangan anggap itu serius.”

Senyuman yang terukir manis di bibir Yura sirna dalam sekejap. Meski ia tahu hal itu, mendengarnya langsung dari bibir Myungsoo membuatnya kekecewaannya bertambah dua kali lipat.

“…aku terpaksa melakukannya agar gadis itu berhenti salah paham terhadapku.” sambung Myungsoo.

“ Salah paham bagaimana?”

“ Ah.. yaa.. begitulah, tidak perlu dibahas lagi. Kurasa ia sudah tidak salah paham lagi setelah aku melakukan itu padamu.”

“ Ng.. tapi apa kita harus tetap bertingkah seperti orang pacaran saat didepannya?”

“ Kurasa tidak perlu lagi. Jika dia bertanya, bilang saja kita putus atau apalah. Aku tidak mungkin seenaknya menyentuhmu terus. Yang terpenting kan, gadis itu sudah tidak salah paham lagi padaku. Jadi, sekali lagi terimakasih, kuharap kau tidak menganggap itu serius.”

Yura menunduk, apa memang sudah takdirnya dirangkul Myungsoo sekali saja seumur hidupnya? Menyedihkan, ia bahkan tak sempat menikmatinya karena terlalu terkejut dan excited.

“ Myungsoo-ssi, sebenarnya..”

“ Apa?”

Drrt..drrt..

“ Oh, damn! Baru mau confess malah ada yang ganggu!” Yura mengumpat dalam hatinya, ia segera membuka pesan yang masuk ke ponselnya.

 

“ Kim Yura!!! Kemana saja kau hah!? Aku menerima laporan dari guru kalau kemarin kau bolos dan tidak ikut ulangan Kimia! Jangan permalukan aku, sekarang pulang! Aku tunggu kau di apartemen dgn setumpuk buku, kau harus ulangan susulan malam ini juga!”

 

“ Sunggyu appa.. bagaimana dia bisa tahu!?”Yura mengacak-acak rambutnya dan mendadak gusar.

“ Ada apa?”tanya Myungsoo penasaran.

“ Ng.. ani..

“ Apa kau harus pulang?”

“ Hm. Ini, kukembalikan.”Yura mengeluarkan ponsel murahan yang beberapa hari ini ia sita dan meletakkannya di tangan Myungsoo.

“ Terimakasih.”

“ Kalau gadis itu sudah sembuh, sebaiknya segera lepaskan dia.”

Setelah mengucapkan itu, Yura berbalik dan pergi dari rumah sakit dengan langkah gontai dan penuh kekecewaan, meninggalkan Myungsoo yang kini beralih menatap Naeun.

 

“ Aku tidak mungkin melepaskannya.”

*

 

“ Sial! Kenapa appa masih saja berhubungan dengan guru-guru di sekolahku!? Oke, fine. Aku akan ulangan susulan dan belajar sampai mabuk sekalian tapi kenapa harus sekarang!? Aku membiarkan mereka berduaan..! bagaimana kalau… ah!”

Yura berhenti mengoceh ketika sadar sebuah helm berwarna putih datang dari depannya dan hampir membentur wajah cantiknya, beruntung ia sempat menangkap.

Kajja. Naik.”

“ Pasien penyakit dalam?”

Si pelempar helm tertawa, “ Katanya kau sudah tahu namaku.”

“ Aaa.. pasien Lee Sungyeol!”

“ Berisik, cepat naik.”lelaki itu menyalakan mesin motor besarnya. Meski ragu, Yura pun memasang helmnya dan menduduki jok tingginya, daripada ia harus pulang jalan kaki ke apartemennya.

“ Kau menungguku?”

“ Menurutmu?”

“ Tapi kenapa..”

“ Tenang saja. Aku tidak akan menculikmu.”

Yura tertawa kecil, “ Aku percaya padamu. Ya sudah, ke apartemen Hapjeongdong.”

“ Kau tinggal disana?”

“ Hm.”

 

Motor besar itu melesat meninggalkan rumah sakit, meninggalkan Myungsoo dan Naeun yang masih saling diam di tamannya …

***

 

“…”

“…”

Myungsoo mengacak-acak rambut hitamnya dengan gemas, Naeun masih betah memunggunginya sejak tadi. Ia sendiri bingung harus memulai dari mana. Lagipula ini salahnya memilih untuk berpura-pura menjadi orang asing yang tak mengenal siapa Son Yeoshin.

Penyihir cantik itu sama sekali tak mau menatap wajah Myungsoo, mungkin takut jika nanti ia tak mampu menahan rasa rindunya dengan L dan berhasrat hebat untuk menyentuh lelaki itu. maka itu saat ini Naeun masih mencoba menenangkan dirinya, sekaligus memaksa logikanya untuk menerima kenyataan bahwa Kim Myungsoo yang asli kini benar-benar sudah hidup kembali.

 

“ Hei.”

“ Hei.”

Keduanya diam lagi setelah secara spontan sama-sama ingin memulai pembicaraan. Situasi macam apa ini?

“ Kau duluan.”

“ Kau saja.”

“ Kau dulu.”

“ Tidak. Lady’s first.

Naeun menghela nafasnya, kemudian pelan-pelan menegakkan kepalanya, mencoba menatap lelaki didepannya sembari terus berusaha mengendalikan gejolak dalam dadanya.

“ Aku merindukanmu.”

“ Hah?”

“ Duh, salah..” Naeun menepuk dahinya, bisakah ia berhenti seperti ini? Ia yakin Myungsoo sudah mulai menganggapnya gila.

Namun keyakinannya salah, Myungsoo benar-benar memaklumi itu meski tidak menunjukannya. Lelaki tampan itu hanya tertawa kecil dan geleng-geleng kepala.

“ Sepertinya kau sedang sangat merindukan seseorang.”

Gadis itu mengangguk pelan dan kembali menunduk.

“ Kau.. tinggal..dimana?”tanya gadis itu canggung sembari memain-mainkan rambut indahnya untuk mengalihkan perhatian.

“ Aku?”Myungsoo menunjuk dirinya, “…apartemen Hapjeongdong.”

Apartemen?” Naeun semakin tak habis pikir. Bagaimana bisa Myungsoo tinggal di apartemen mewah setelah bangkit dari kematiannya?

“…kau sendiri tinggal dimana, Na..eun..ssi?”tanya Myungsoo hati-hati, sejak tadi lidahnya sangat ingin mengucap nama ‘Son Yeoshin’. Entah karena itu nama yang lebih sering muncul di buku yang ia baca atau karena gadis didepannya itu memang terlihat seperti seorang Yeoshin –bidadari-.

“ Aku..anak angkat keluarga Nam.”

“ Woah..” Myungsoo bersikap seolah-olah baru tahu, “…aku kenal dengan putra sulungnya, ia teman baikku di sekolah. Nam Woohyun, ia kakak yang baik kan?”

Naeun tersenyum tipis, mengagumi kebaikan hati Myungsoo yang menganggap Woohyun teman baiknya, padahal siapa yang tak tahu bahwa Woohyun sangat sangat membenci Myungsoo.

Ah, jadi ingat dengan sosok kakaknya yang galak namun penyayang itu. bagaimana kabarnya sekarang? Apa ia benar-benar sudah bahagia dengan Park Chorong disisinya? Bagaimana jika suatu hari ia tahu rival terberatnya sudah bangkit dari kematian? Akankah ia kembali berubah menjadi jahat demi mempertahankan Chorong?

Naeun bahkan sudah berpikir sampai kesana karena itu permasalahan serius, terlebih Chorong adalah gadis yang terkadang suka berubah-ubah perasaannya. Kehadiran Myungsoo akan mengguncang hatinya lagi nanti. Pasti.

“…aku baru tahu Woohyun punya adik angkat secantik ini, ia sangat beruntung.” sambung Myungsoo, “…tapi.. apa ia sudah tahu kau ada disini?”

Naeun menggeleng, “ Ia tak perlu tahu, jadi.. sebaiknya aku pulang saja.”

“ Kakimu harus sembuh dulu, jadi.. belajarlah berjalan beberapa hari ini. aku akan membantumu.”

“ Apa tidak merepotkan?”

“ Haha.. tentu saja tidak, aku sama sekali tidak sibuk. Sejak sekolahku ditutup, aku lebih banyak diam.”

“ A..apa..kau..tahu..kenapa sekolahmu ditutup?”

“ Kudengar.. ada pembunuhan misterius?”jawab Myungsoo berusaha polos, “…aku baru saja pulang hiking, jadi aku tidak tahu banyak tentang itu.”

Jadi Myungsoo tidak sadar bahwa ia sempat mati berbulan-bulan?” batin Naeun tak percaya, sementara Myungsoo berharap semoga Naeun tidak merasa janggal dengan pengakuannya barusan.

“…berapa lama kau pergi hiking?”tanya Naeun hati-hati. Myungsoo kembali memutar otaknya, berbohong memang bukan keahliannya, tapi ini lebih baik daripada harus bicara jujur bahwa ia sudah tahu semuanya. Ia ingin menciptakan obrolan normal dengan gadis didepannya, bukan pembicaraan penuh keterkejutan jika ia mengakui semuanya.

“ Lama.”jawab Myungsoo seadanya –dan sedikit putus asa-, Naeun merasa tak puas dengan jawabannya.

“ Lama, sampai kau melewatkan tahun ajaran baru?”tanya Naeun lagi, karena kecelakaan hiking itu tepat pada saat Myungsoo seharusnya memasuki tahun ajaran barunya sebagai siswa kelas dua belas.

Myungsoo semakin berusaha keras memikirkan jawaban yang masuk akal.

“ Kenapa kau tanya hal itu?”lelaki tampan itu balik bertanya, agar Naeun ikut bingung memberi jawaban.

“ Hm.. karena.. aku tidak pernah melihatmu di sekolah.”

“ Ooh, kau siswi kelas sepuluh?”

Naeun mengangguk. Myungsoo jadi sedikit merasa bersalah, meski Naeun tidak mengakui identitas penyihirnya, setidaknya dalam hal identitas di dunia nyata, Naeun lebih jujur darinya.

“ Kurasa mengobrolnya bisa kapan-kapan. Kakimu harus pulih dulu, ayo belajar berjalan sedikit-sedikit.”ajak Myungsoo ramah seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Naeun berdiri dari kursi rodanya.

Gadis itu menyambutnya tanpa pikir panjang, hingga kulitnya serasa seperti tersengat listrik saat menyentuh tangan lelaki itu. Hampir tak ada bedanya seperti saat ia menyentuh L. Tangan itu sama-sama lebar dan kuat memeganginya, membuatnya merasa aman.

“ Ah..”

Naeun meringis ketika kakinya yang terluka berpijak di tanah, Myungsoo buru-buru memegang bahu dan pinggang rampingnya hingga kali ini lelaki itu yang merasa seperti ‘tersengat listrik’, apa karena kalung milik L yang masih ia sembunyikan dibalik pakaiannya? Entahlah. Sejak memakai kalung itu, ia sering kesulitan mengontrol debar jantungnya setiap melihat Naeun. Jangankan melihat, mencium aroma khas gadis itu saja sering membuatnya berdesir tanpa sebab.

Kim Myungsoo, sadarlah.. Son Yeoshin sudah bersuami.

Lelaki itu menggoyangkan kepalanya sejenak, mencoba membuang pikirannya tentang betapa mempesonanya gadis yang sedang kesulitan berjalan disampingnya ini. ia harus mengajarinya berjalan agar mereka tak perlu berlama-lama di rumah sakit.

“ Jalanlah pelan-pelan..”

Gadis itu menurut, dengan bantuan Myungsoo ia berjalan sedikit demi sedikit. Jarak yang terbilang dekat membuat Myungsoo kembali menghirup aroma tubuh khas penyihir cantik itu, aroma lily, membuatnya ingat dengan insiden di bioskop beberapa waktu yang lalu.

“ Haha..”

“ Ada yang lucu?” Naeun merasa heran karena lelaki disampingnya tiba-tiba tertawa sendiri.

“ Wangi parfummu mengingatkanku pada sesuatu.”

Jinjja?”Naeun mengerutkan keningnya, lagipula wangi tubuhnya bukan berasal dari parfum, melainkan dari ramuan sederhana yang pernah diminumnya hingga membuat tubuhnya terus mengeluarkan wangi. Jadi bisa dikatakan tak seorangpun yang memiliki aroma tubuh yang sama dengannya.

“ Boleh aku bercerita? Yaa.. hitung-hitung agar kita tidak canggung lagi dan bisa akrab.”tawar Myungsoo kikuk, Naeun mengangguk.

“…jadi.. aku pernah pergi ke bioskop untuk menonton film horor bersama Yura, saat menonton.. aku mendengar ada seorang gadis yang ketakutan.”

Perasaan Naeun mendadak tak enak, namun rasa penasaran membuatnya tetap memasang telinga.

“ Lalu?”

“ Yaa.. aku biarkan saja. Tapi tiba-tiba..”

“ Tiba-tiba apa???”

“ Kau yakin mau tahu?”tanya Myungsoo jahil, Naeun memucat.

“ I..iya..aku mau tahu..”jawab gadis itu, walau ragu.

“ Dia memelukku, dan tiba-tiba menc….”

“ Sudah! Sudah! Jangan dilanjutkan!”

Wajah gadis itu mendadak merah seperti buah plum dan keringat dingin mengucur deras dari kening indahnya, bahkan tubuhnya agak oleng sekarang. Akhirnya ia tahu siapa lelaki yang ia cium sembarangan. Pantas saja ia mengotot bahwa itu adalah L. Rupanya…

“ Kenapa?”tanya Myungsoo pura-pura tak tahu, “…aaa.. jangan-jangan kau pernah mengalaminya juga? Hmm.. apakah setiap orang pernah mengalami hal semacam itu? seram ya. apalagi kejadian itu.. adalah ciuman pertamaku.”

“ C..ci..ci..ciuman..pertama?”

Myungsoo mengangguk, “ Aku hanya bisa berharap gadis itu cantik, jadi aku tidak menyesal. Aku tidak melihat wajahnya saat di bioskop, gelap sekali. Aku hanya menghirup wangi parfumnya yang sama seperti…”

“ Kebetulan! Hanya kebetulan.. lagipula ini parfum murahan, pasti banyak yang pakai, hehe..” Naeun buru-buru menyela dengan gugup dan terpaksa menganggap ramuan lily yang ia buat sebagai parfum murahan.

Myungsoo mengiyakan seraya tersenyum, atau lebih tepatnya menahan tawa karena wajah innocent Naeun benar-benar nampak gugup, dan entah mengapa itu justru membuatnya terlihat semakin cantik. Jika dari awal Myungsoo mengaku bahwa ia tahu siapa Son Yeoshin, mungkin ia tak punya kesempatan melihat ekspresi lucu gadis itu sekarang.

“ Hm.. Kim Myungsoo..”

“ Ya?”

“ Boleh aku tahu lebih jauh tentang dirimu?”

Lelaki itu agak tersentak, itu artinya ia harus berbohong dan berpura-pura lebih sering, sama sekali bukan keahliannya.

Tapi ia dapat memaklumi, Naeun sedang dalam usahanya menerima kenyataan, ia perlu informasi-informasi yang masuk akal.

***

 

“ Ia datang!”

Lantai kereta sedikit bergetar dan bersuara ketika Krystal berlari menuju jendela dan buru-buru menangkap seekor merpati yang baru tiba disana, paruhnya menjepit selipat kertas surat balasan dari Madame Sunny.

“ Kenapa kau tiba tengah malam begini? Untung saja aku belum tidur..” gadis itu mengelus puncak kepala halus burung putih itu kemudian menarik kertasnya, “…sekarang istirahatlah. Eh, sebentar..”

Dengan tega, Krystal beringsut menuju seorang lelaki yang tengah tidur dalam keadaan setengah menganga di depan pintu kamar dengan topi pengawal yang menutupi wajahnya. Sepertinya lelaki itu benar-benar kelelahan, tapi apa pedulinya? Ia menginginkan lelaki itu saat ini.

“ Patuk dia.”bisik Krystal pada si merpati seraya mengarahkan paruh burung tersebut menuju punggung tangan lelaki itu.

TUK!

Ha, ia menurut.

“ AW!” lelaki itu sontak terbangun namun langsung menutup mulutnya, darah segar mengucur dari punggung tangannya.

“ Hukuman untuk pengawal yang seenaknya tidur tanpa izin.”ucap Krystal tanpa rasa bersalah.

“ Kau kira pengawal bukan manusia? Mereka juga butuh istirahat. Sekarang aku tahu kenapa Howon lebih memilih menjadi artis daripada bekerja disini.” dengan dongkol Kai mengucek matanya kemudian meniup-niup punggung tangannya yang masih mengeluarkan darah.

“ Kau marah? Terserah. Aku putri raja.”jawab Krystal santai sembari melepas kain pita yang mengikat rambutnya kemudian menggunakan benda itu untuk membebat tangan Kai. “…aku sedang menginginkanmu, jadi jangan tidur.”

Mwo?

Ireonna!” gadis itu sedikit berteriak dengan rewel, Kai terpaksa bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Krystal menuju pintu kereta yang terbuka, gadis itu mengajaknya duduk di mulut pintu. Baru saja keduanya duduk disana, udara dingin langsung menerpa dan menusuk-nusuk tulang mereka.

“ Aku sudah disini. apa lagi?”tanya Kai agak gemas, Krystal menunjukkan kertas surat yang baru saja ia terima dari sang merpati penurut yang mematuk tangan Kai atas perintahnya barusan.

“ Dari Madame Sunny?”

Krystal mengangguk kemudian membukanya, “ Ayo baca bersama-sama.”

 

Tuan Putri, senang mengetahui bahwa perjalanan kalian baik-baik saja. Tapi aku turut sedih mendengar laporan darimu bahwa Hyerim tidak dalam kondisi baik saat ini.

Howon sama sekali tak pernah membicarakan apapun tentang hubungannya dengan Hyerim padaku, kurasa ini murni keputusannya mengirimkan surat itu. bertahun-tahun aku mengenal putri Hyerim, ia memang sensitif, jadi wajar jika ia menangis.

Aku tidak bisa mengikuti saranmu untuk membuat perhitungan dengan Howon, aku tidak bisa meninggalkan negeri Junghwa.. Situasi disini sedang sangat buruk sejak kepergian kalian semua. Jadi aku menyarankan, beritahu Hyerim agar menggunakan merpatiku untuk mengirim surat balasan untuk Howon. Gunakan ramuan portal yang ia simpan untuk meloloskan merpatiku ke dunia nyata.

 

Semoga perjalanan kalian tetap baik-baik saja. Tidak perlu memikirkan kondisi buruk macam apa yang sedang terjadi di negeri Junghwa. Aku bersama L dan Taeyeon sedang berusaha mengatasinya.

 

Tertanda,

Sunny

 

Omo, aku tidak menyangka suratmu kemarin rupanya melaporkan tentang Hyerim dan Howon. Kukira kau masih benci dan tak peduli pada kakakmu. Kau bahkan menyarankan Madame Sunny untuk membuat perhitungan dengan Howon. Aigo.. anak baik..” Kai mengusap-usap puncak kepala Krystal dengan senyum cerah.

Krystal tersenyum tipis, “ Tolong beritahu Hyerim unnie untuk menulis surat balasan.”

“ Kenapa tidak kau saja yang beritahu? Masih gengsi?”

Krystal tertawa sinis, “ Sudahlah, beritahu saja!”

“ Aku sudah membuat surat balasannya.”

Kai dan Krystal sontak menoleh ke belakang, nampak Hyerim berdiri dengan senyum getir dan mengambil tempat duduk di samping Krystal lalu memeluk adiknya itu dengan erat.

“ Terimakasih ya. Maafkan aku..”

Krystal diam. Tak menggeleng ataupun mengangguk, namun mengelus pelan punggung kakaknya yang gemetaran.

“ Jangan senang dulu, aku melakukan ini karena ada maunya.”jawab Krystal tanpa dosa, Kai geleng-geleng kepala.

Hyerim melepas pelukannya pelan dan tetap mencoba tersenyum, “ Tidak apa-apa. Apa maumu?”

“ Aku ingin ramuan portal yang kau punya.”

“ Ampun dah..” Kai geleng-geleng kepala, tak menyangka Krystal menganggap serius idenya kemarin. Sementara Hyerim langsung mematung.

“ Bagaimana? Kau mau? Kalau tidak, aku tidak akan pernah memaafkanmu.”

“ Kukira kau benar-benar baik..”bisik Kai, Krystal tersenyum sinis.

“ Lihat usahaku agar kita tetap bisa bersama.”Krystal balas berbisik, Hyerim masih berpikir.

“ Kau benar-benar ingin melarikan diri?”

Krystal menghela nafas, menatap Kai dan Hyerim bergantian.

“ Pernikahan ini tidak akan membawa pengaruh baik. Percaya padaku. Aku dan Kai sudah melihatnya di parkiran kereta sebelum keberangkatan, Baekhyun bekerjasama dengan seseorang.”

Kai langsung menganga, tak menyangka Krystal membocorkan apa yang mereka lihat, Hyerim langsung menatapnya.

“ Apa yang kalian lihat?”

“ Sebenarnya kami tidak tahu situasi apa itu.. kami melihat Baekhyun memberikan buku Rahasia Dunia Luar milik Madame Sunny pada seorang wanita yang menyerupai….”Kai menggantung kalimatnya.

“ Menyerupai siapa?”

“ Sebenarnya tidak masuk akal. Tapi wanita itu menyerupai Yookyung nuna, mantan pacar Sungyeol sunbae di dunia nyata. Apa mungkin selama di dunia nyata kau kenal dengannya?”

“ Yookyung?”Hyerim berpikir sejenak, ia tidak begitu tahu banyak tentang Yookyung karena hanya pernah bertemu sekali dengan gadis itu. yang jelas, perasaannya mendadak tak enak karena satu pertanyaan muncul di benaknya. Kenapa gadis itu bisa ada di negeri Junghwa? Apa ia benar-benar Yookyung?

“ Terlepas dari kenal atau tidaknya kau dengan Yookyung nuna, yang penting kita tahu Baekhyun merencanakan sesuatu. Ia sendiri yang bilang bahwa ia dendam pada kerajaan ini.”ucap Kai, terpaksa mengatakan semuanya karena Krystal sudah membuka duluan.

“ Dan kalian mau dia melampiaskan dendamnya padaku?”sambung Krystal, agar kedua orang didekatnya merasa tidak tega.

“ Tidak. kita harus melakukan sesuatu.”jawab Hyerim cepat, ia lega mengetahui hal ini. Selagi perjalanan belum sampai ke tempat tujuan, masih ada yang bisa mereka lakukan.

Hyerim mengeluarkan sebotol ramuan portal yang dibekali Yeoshin untuknya.

“ Ini cukup banyak. kita pakai setengah dulu untuk meloloskan merpati ini ke dunia nyata, untuk membawa surat balasanku pada Howon..”

“ Bagaimana kalau untuk meloloskan kita juga?”tanya Krystal, “…aku tidak mungkin ke dunia nyata sendirian, aku akan ikut denganmu.”

“ Lalu nanti kau tinggal dimana?”tanya Kai tak habis pikir.

“ Itu urusan belakangan, yang terpenting sekarang, aku tidak akan menikah.”

“ Dimana kita bisa membuka portal?”tanya Hyerim.

“ Ah! Aku tahu..”Krystal menjentikkan jarinya. Kai dan Hyerim merapat untuk mendengar strateginya.

 

Seorang yang berada di balik pintu kaca dalam kereta pun ikut merapat ke celah disampingnya, memasang telinga lebih tajam sebelum kembali menulis di atas kertas yang ia pegang.

Seseorang itu, sang pangeran negeri Gwangdam, Byun Baekhyun.

Dengan terus memasang telinga dan mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Krystal, ia menulis dengan agak berantakan di atas kertasnya hingga tinta penanya mengotori tangan putihnya. Namun ia tak peduli. Setelah informasi yang ia terima dirasa cukup, dengan hati-hati ia beringsut menuju bagian bawah ranjangnya, mengambil…

Sebuah sangkar yang berisi seekor merpati hitam pemberian Hyoyeon.

***

 

Hyerim membawa ramuan portal. Krystal ingin kabur di tengah perjalanan. Aku tak bisa mencegah mereka sendirian, sebaiknya cenayangmu itu menggantikan aku.

Dari yang kudengar, mereka akan kabur saat kereta kami melakukan penghentian sementara di kerajaan kecil untuk jamuan makan malam. Kami akan tiba di kerajaan itu kira-kira lima hari lagi. Jadi, kirim arwah cenayang itu secepatnya padaku, aku tak bisa mencegah mereka dengan diriku sendiri.

 

“ Sial, mereka ingin menyalahgunakan ramuan portal untuk melarikan diri.”

Hyoyeon melipat kembali surat yang baru saja ia baca dan menyuruh merpatinya untuk kembali terbang menembus kegelapan malam. Penyihir wanita yang masih demam itupun berjalan dengan agak lemah menuju dapur rumah keluarga Son untuk melanjutkan pekerjaannya sejak tadi.

“ Ada apa, eomma? Surat dari pangeran itu?”tanya Namjoo yang masih duduk di depan meja, ia belum tidur selarut ini karena harus mengerjakan PR super sulit dari guru tampan yang pernah membunuhnya. Ya, siapa lagi kalau bukan L.

“ Hm.”Hyoyeon hanya menyahut pendek.

“ Apa yang ia katakan?”

“ Yang jelas ia butuh Lee Sungyeol.”

Namjoo tak ingin bertanya lebih lanjut karena ibu angkatnya itu kelihatan sibuk membuat sesuatu di dapur. Entah ramuan atau makanan apa yang sedang dibuatnya.

“…apa PRmu belum selesai?”tanya Hyoyeon dengan tangan yang tetap sibuk menghaluskan kacang dengan menggunakan batu di dapurnya.

“ Belum.”jawab Namjoo singkat dengan mata yang masih tertuju ke bukunya dan tangan yang masih menggaruk kepalanya.

“ Ck, L.. PR macam apa yang ia berikan?”

“ Mantra acak, aku harus menggabung kata demi kata agar menjadi mantra yang bekerja. Semuanya ada seratus mantra. Jika mantra yang kususun benar dan bekerja, satu mantra nilainya 1. Agar selamat dari PR berikutnya, setidaknya aku harus mendapatkan nilai 60.”

“ Hah, apa dia gila? Ia membuat semua siswanya begadang malam ini.”

 

“ Ya, kau benar.”dua orang di ambang pintu menyahuti perkataan Hyoyeon. Mereka Dongwoon dan Gain, keduanya baru selesai berburu penyihir untuk dihilangkan namun sepertinya malam ini mereka tak mendapatkan apa-apa meski sudah kelelahan.

“ Kurasa ada berita buruk.”ucap Hyoyeon dari dapur, Dongwoon dan Gain kompak mengangguk sembari membiarkan tubuh mereka terkulai lemas di lantai. Mereka tak pernah menggunakan kekuatan sebanyak akhir-akhir ini, tepatnya sejak memutuskan untuk bekerja sama dengan Hyoyeon.

“ Semua penyihir masih terjaga tengah malam ini. mereka menemani anak-anak mereka mengerjakan PR.”ucap Gain.

“ PR dari si nomor dua.”sambung Dongwoon.

“ Jadi itu maksudnya memberi PR sebanyak ini..” Hyoyeon sedikit menggeram, ia berpikir keras dan semakin terburu-buru menyelesaikan ramuan rahasia yang ia buat.

“…Kim Namjoo, mengeluhlah dengan PRmu besok. Ajak teman-temanmu untuk ikut mengeluh, dengan begitu L tidak akan memberi tugas semacam ini lagi. Ini membuat kita tidak bisa menculik siapapun. Kita tidak bisa seperti ini.”

Namjoo mengangguk pelan dan menutup bukunya, “ Kalau begitu aku tidak perlu mengerjakan PRnya sebagai bentuk demonstrasi.”

“ Bagaimana jika dia menghukummu?”tanya Gain, “…ia penyihir terjahat yang pernah ada.”

“ Aku akan langsung menghadapinya jika ia macam-macam pada Namjoo.”jawab Hyoyeon, membuat Namjoo merasa lega dan akhirnya memutuskan untuk masuk kamar dan pergi tidur.

“ Terimakasih, eomma.”

“ Tapi ingat satu hal.”

“ Apa?”

“ Tugasmu, kau belum mencuri buku Rahasia Dunia Luar milik L?”

“ Ia tak pernah membawa buku itu ke sekolah. Bagaimana aku mencurinya?”

“ Sarankan padanya agar menambahkan materi tentang dunia nyata dalam proses belajar kalian. Aku yakin teman-temanmu antusias dan ia akan mengabulkannya. Dengan begitu kau bisa mendapatkan bukunya.”sela Dongwoon.

“ Brilian!” sahut Hyoyeon cepat, “…lakukan apa yang dikatakan Dongwoon.”

“ Akan kucoba.”

Namjoo masuk ke kamar dan menutup pintu, satu pertanyaan kembali muncul dalam benaknya.

“ Kenapa Hyoyeon sangat menginginkan buku itu? apa ia punya rencana C?”

***

 

“ Apa malam ini ada yang hilang lagi?”

L masih berguling-guling sendiri di atas tempat tidurnya, gelisah. Pertama karena ingin tahu apakah ada lagi penyihir yang hilang malam ini, dan terakhir tentu karena baru kali ini ia berada sendirian di dalam rumahnya, tanpa istri dan anaknya.

Lin masih dirawat di istana, L merasa putranya jauh lebih aman disana sebab Madame Sunny dan Taeyeon lebih tahu bagaimana mengurus dan mengobatinya dengan hati-hati. L tak bisa ikut berjaga disana sebab ia harus menjaga rumahnya yang tak bisa dibiarkan kosong di malam hari, ia khawatir sebelas peti emas yang masih ia simpan dicuri oleh Dongwoon dan Gain.

Dan seperti inilah rasanya, benar-benar sepi. Tak ada Naeun yang tidur disampingnya, tak ada tawa Lin yang menggemaskan. Semuanya sunyi.

Lelaki itu bangkit dari tempat tidurnya dan melihat ke jendela dimana ia bisa memandang bangunan istana dari sana.

Terang, sesuai keinginannya. Ia memang berpesan pada Madame Sunny dan Taeyeon agar terus menyalakan semua lampu di istana dan jangan pernah mematikannya meski mereka tidur, agar tak ada yang berani memasuki istana dan menyakiti anaknya.

“ Semoga kau sudah tidur dengan nyenyak, little L..”

L berbalik dan meraih sebatang lilin dari mejanya, meletakkan lilin itu di pinggir jendela. Setelah menyalakan lilinnya, ia memejamkan mata dan berkonsentrasi.

“ Son Yeoshin, bisakah kita bertemu di mimpimu?”

Namun tak lama ia kembali membuka matanya, sedikit heran sebab baru kali ini praktik pengiriman mimpi yang dilakukannya tak berhasil.

“…apa Yeoshin belum tidur? Padahal ini sudah sangat larut..”

**

 

“ Apa ini benar-benar kau, Kim Myungsoo?”

Malam itu Naeun hanya berbaring dengan posisi yang terus menghadap ke arah seorang lelaki tampan yang tengah tertidur pulas di atas sofa ruang perawatannya. Mata gadis itu bahkan hanya berkedip sesekali memandangnya.

“…kau benar-benar ada disini sekarang, Kim Myungsoo. Apa yang terjadi? Mengapa ramuanku bisa masuk ke dalam tubuhmu dan membukakan matamu? Siapa yang memberikannya?”

Naeun berusaha berpikir keras namun ia tak menemukan jawabannya, hanya mengira-ngira namun takut sendiri dengan perkiraannya.

“…apa Hyoyeon yang menemukan ramuanku itu lalu membangunkanmu? Apa mungkin? Ah..”

Gadis itu berhenti berpikir lebih lanjut, mengingat Kim Hyoyeon membuat hatinya tak tenang karena memikirkan keselamatan L dan Lin.

“…siapapun yang memberikannya, yang jelas sekarang kau hidup, Kim Myungsoo. aku tak tahu harus merasa menyesal atau bahagia, kuharap aku tidak akan pernah membandingkanmu dengan… L..”

Airmata gadis itu mendadak jatuh, merasa sedih dan ketakutan.

“ Bagaimana jika L tahu kau hidup? Apa ia akan marah besar padaku? Karena aku yang membuat ramuan itu..”

Gadis itu menghela nafasnya dan mencoba berpikir jernih.

Tidak, L tak boleh tahu. Kau dan sisi jahatmu tidak perlu bertemu.

***

 

“ Ada apa Yeoshin begadang malam begini? Apa yang sedang ia pikirkan?”

L menyerah dan memutuskan untuk meniup lilinnya, namun batal.

“…ah, aku jarang mengirimkan mimpi pada manusia. Kurasa ini lebih mudah.”

Lelaki itu kembali memejamkan matanya.

*

 

“ Hah, aku tak menyangka menemuimu di tempat seperti ini. kau mau bunuh diri?”

“ Ya! L!”

Seorang lelaki yang tengah diam dengan kepala tertelungkup di balkon kamar hotelnya mendadak terbangun saat melihat siapa yang datang menemuinya.

“ Apa kabar, Lee Howon? Eh.. Lee Jiwon. Eh.. Hoya?”

Lelaki itu tertawa kecil dan bersandar di kursi yang ia duduki dengan malas, “ Ya, seperti yang kau lihat sekarang. Kau sendiri?”

“ Aku datang untuk mendengar ceritamu dulu, nanti aku bercerita juga.”

“ Tumben sekali..”

“ Aku sedang sendirian, kau juga sedang tidak sibuk,kan? Ceritakan keadaanmu.” L naik ke atas balkon dan bersandar di tiang setelah sebelumnya meraih sebatang rokok di atas meja dan membakarnya, “…ah, inikah langit malam Jepang? Menyenangkan sekali bisa kesini hanya dengan bantuan sebatang lilin.”

“ Sepertinya kau sedang depresi juga, L.”

“ Kita sama-sama depresi disini. kau duluan yang cerita.”

Hoya memijat kepalanya, “ Aku bingung harus mulai dari mana. Semuanya berantakan.”

Mwo? Kau ada masalah dengan Hyerim?”

“ Sebenarnya aku yang menimbulkan masalah itu.”

“ Kau memutuskannya?”

“ Aku ingin dia yang memutuskan aku.”

“ Kau gila?”

“ Ia yang akan gila jika terus bertahan denganku.”

L tak mengerti arah pembicaraan artis yang satu ini. apa Hoya sedang mabuk? Ada beberapa bir mahal di balkon. Sepertinya ia sedang stress berat.

“ Aku menandatangani banyak kontrak kerja dengan Minah..”ucap Hoya lirih, “…aku tidak tahu kalau ternyata kami satu agensi. Ia akan segera debut dan aku lagi-lagi menjadi partnernya.”

“ Ah, begitu. Aku mengerti. Kenapa tidak dibatalkan saja kontraknya?”

“ Aku tidak berhak.”

“ Kalau begitu jalani saja, Hyerim pasti mengerti.”

“ Ini tidak semudah yang kau pikirkan. Keluarga kerajaan pasti tidak mengerti pekerjaanku, kau tahu pikiran mereka..”

“ Tinggalkan pekerjaanmu.”

“ Ya! kau menganggap mudah semuanya, aku bekerja keras sampai aku bisa terkenal.”

“ Kau juga bekerja keras sampai bisa mendapatkan Hyerim sampai-sampai menyamar jadi perempuan. Apa bedanya?”

“ Aku tidak bisa mengorbankan salah satunya. Karirku atau Hyerim, tapi itu mustahil. Aku kasihan dengan Hyerim.”

“ Pikirkan lagi keputusanmu. Meninggalkan Hyerim belum tentu membuat keadaan lebih baik. Belum putus saja kau sudah hancur begini. Kau bahkan ingin bunuh diri kan? Makanya kita bertemu di balkon.”

Ani,aku hanya mencari udara segar.”jawab sang artis berkilah, “…aku lelah setiap hari. Aku tak hanya menari sekarang, aku dituntut untuk bisa segalanya, seperti robot. Aku harus bisa bernyanyi, akting, rap.. aku berlatih keras.”

“ Pantas kau stress. Tidak apa-apa, kutunggu lagumu nanti.”

“ Aku akan duet dengan Minah.”

Jinjja? Hyerim harus membeli albumnya.”

“ YA!!”

“ Hahaha..” L tertawa, “…Howon..Howon.. kukira kau sedang tidak rapuh juga, aku jadi tidak enak ingin berkeluh kesah denganmu.”

“ Tidak apa-apa. Kau juga ada masalah?”

“ Lebih dari masalah.” L menghembuskan asap rokoknya dengan nafas pasrah, “…bibiku yang sialan itu.”

“ Kim Hyoyeon?!”

“ Hm. Dan anak yang kubunuh dekat portal waktu dulu itu, kau masih ingat kan?”

“ Ah.. ya.. Nam..joo? kenapa? Dia sudah mati kan?”

“ Dia menjadi murid di kelasku.”

“ Hah!? Jangan bercanda!”

“ Aku serius, entah dia muncul darimana.”

“ Astaga.. lalu?”

“ Sebenarnya aku tidak mau mencari perkara dengan anak itu walaupun aku tahu dia punya maksud tersendiri memasuki kelasku. Aku akan tetap menjadi guru yang adil dan baik. Timbal baliknya seperti apa, terserah. Ini harga yang harus kubayar untuk menebus semua kejahatanku di masa lalu.”

“ Kau tidak takut sama sekali?”

“ Yang aku takutkan hanyalah kehilangan Yeoshin dan putra kami.”

“ Dimana mereka sekarang?”

“ Lin bersamaku, ia sedang demam tinggi dan dirawat di istana. ia melawan bibiku.”

“ Apa?! Hei, tidak mungkin.. dia masih sekecil itu..”

“ Aku juga tidak menyangka. Tapi aku melihatnya sendiri di ramalanku.”

“ Astaga. Lalu.. sekarang Yeoshin menjaganya disana?”

L menggeleng, “ Yeoshin ada di dunia nyata sekarang.”

EHEK!!

Hoya mendadak tersedak bir dingin yang baru saja ia teguk. Sebelum ia memastikan kebenarannya, semua sudah menghilang.

 

Ia terbangun dari tidurnya.

*****

“ Sial, kenapa aku harus tersedak dalam mimpi.”

Hoya membuka matanya pagi itu dan mendapati dirinya tertidur sendirian di balkon kamar hotelnya, L sudah menghilang dari mimpinya semalam, hanya puntung rokoknya yang tertinggal disana.

“…apa benar kata-kata terakhirnya itu? Naeun di dunia nyata??” Hoya merasa tak tenang, “…astaga, bagaimana jika ia bertemu dengan Kim Myung… ah.. tidak.. tidak mungkin. Myungsoo kusuruh untuk terus di dalam apartemen. Mereka tidak mungkin bertemu. Tidak..”

Namun perasaannya benar-benar tak enak.

 

“ Bagaimana jika ia keluar dari sana?”

***

 

Myungsoo bahkan sudah beberapa hari ini keluar dari sana, dari apartemennya.

Pagi ini ia sudah nampak segar dan bersemangat, dengan senyum tulus yang terus terukir di bibir tipisnya ia mendorong kursi roda Naeun menuju suatu tempat paling menarik yang ada di rumah sakit.

Sebuah lapangan basket yang terletak persis di depan unit rumah sakit jiwa. Lapangan itu nampak kotor dengan banyaknya daun kering disana, sepertinya karena sudah lama tak dipakai.

“ Orang gila disini tidak suka main basket, hyung!” salah seorang anak penjaga rumah sakit yang berdiri di dekat situ berteriak pada mereka, Myungsoo dan Naeun kompak tertawa.

“ Sayang sekali, padahal basket sangat bagus untuk mengurangi depresi.”sahut Myungsoo seraya menghampiri anak itu, “…maaf adik tampan, apa kau punya sapu?”

Mwo? Untuk apa?”

“ Membersihkan lapangannya lah, aku ingin menggunakannya.”

“ Wah, baru kali ini ada yang mau bersih-bersih. kalau begitu sebentar, hyung.” anak berusia sekitar dua belas tahun itu berbalik dan menghilang sejenak, Myungsoo pun kembali mendorong kursi roda Naeun menuju pinggiran lapangan.

“ Kalau lapangannya sudah bersih kita belajar jalan disini ya, nona Son.”

Mwo? Kukira kau mau main basket.”

“ Ah, tidak.. aku ingin kita belajar berjalan saja disini, kau pasti bosan di taman. Lagipula udara disini lebih segar.”

“ Padahal aku ingin melihatmu bermain.. kau kapten basket di SMA Junghwa, kan?”

“ Sejauh itukah kau tahu tentang aku?” Myungsoo tertawa kecil dan berlutut di depan kursi roda Naeun kemudian menatap gadis itu dengan penasaran.

Naeun tersenyum malu, “ Semua orang tahu tentang itu.”

“ Sebenarnya aku tidak begitu hebat, aku banyak belajar dari Woohyun, ia sudah sangat handal.”

Sial, ia rendah hati lagi. Membuat Naeun semakin merasa kagum. Ini perasaan yang menyebalkan, tak sepantasnya ia mengagumi lelaki lain setelah bersuami. Meski mereka sama saja –secara fisik, persis-.

“ Kudengar kau rival berat dengan Woohyun oppa. Tapi kenapa kau sering memujinya?” gadis itu sedikit memancing.

“ Rival apa? Hahaha.. aku dan Woohyun memang sering tidak cocok dalam beberapa hal, tapi kurasa kami bukan musuh. Woohyun teman yang baik..” jawab Myungsoo meski agak tercekat, sebab dari surat Chorong, ia sudah tahu bahwa Woohyun pernah membuat sahabat perempuannya itu menderita. Tetapi ia tahu keadaan sudah berubah, ia tak mau lagi membenci Woohyun.

Jelas, hal ini membuat Naeun semakin merasa…takjub.

“ Hyung tampan, ini sapunya.”anak itu datang dan memberikan sapunya pada Myungsoo, “…terimakasih hyung, seharusnya aku yang membersihkan lapangan ini, tapi aku malas.”

“ Hahaha, sudahlah.. main saja sana.”Myungsoo menerima sapunya dan menepuk-nepuk bahu anak itu dengan ramah.

“ Sekali lagi terimakasih, hyung! Ah.. apa dia pacarmu?”anak itu menunjuk Naeun dengan polos, Myungsoo dan Naeun kompak menggeleng sambil tertawa.

“…yah, padahal kalian sangat serasi!”anak itu kembali mengeluarkan ocehan polosnya, “…ya sudah, semoga kalian bisa pacaran disini! aku pergi dulu!”

“ Hahaha. Hei, dongsaeng!” Naeun justru memanggil lagi anak itu.

“ Ada apa, nuna?”

Dongsaeng, apa kau punya bola basket?”tanya Naeun ramah, anak itu berpikir sejenak.

“ Punya! Nuna mau pinjam? Aku ambilkan sebentar!”anak itu kembali berlari dan menghilang, dalam hitungan detik ia sudah muncul lagi dan memberikan bolanya.

“ Kau ingin bermain basket?”tanya Myungsoo tak mengerti.

“ Tidak, aku ingin melihat aksi kapten basket SMA Junghwa.”jawab Naeun sembari melempar bolanya kearah Myungsoo, lelaki itu agak terkejut.

“ Ya! ini bukan tujuan kita kesini.”

“ Aku hanya mau belajar jalan jika kau bermain dulu.”

“ Baik, jika kau memaksa..” Myungsoo mengalah. Setelah menyapu lapangannya hingga bersih, ia mulai men-dribble bolanya ke tengah lapangan dan memulai permainannya.

Naeun tak melepaskan pandangannya, senyum pun tak berhenti terukir dari bibirnya. Namun tanpa sadar, airmatanya menetes.

 

“ Ini membuatku semakin merindukanmu, L …”

***

 

“ Mereka pasti sedang bersenang-senang, berdua-duaan.. cih! Aku tidak sudi ke rumah sakit lagi!”

“ Makan saja.”

Yura berhenti mengoceh karena pada akhirnya lelaki didepannya buka mulut meski hanya dua kata.

“ Hei pasien penyakit dalam, makasih ya udah mau nemenin aku sarapan disini!”

Sungyeol menatap gadis itu sekilas dan mengangguk pelan kemudian lanjut memakan sup krimnya.

“ Padahal ‘Lee Sungyeol’ lebih singkat daripada ‘pasien penyakit dalam’.” sindirnya.

Sorry. Aku suka memanggilmu pasien penyakit dalam. Hahaha.” Yura tertawa, “…apa kau sudah sembuh?”

“ Bagaimana ulangan Kimiamu?”Sungyeol tak menjawab pertanyaan Yura dan justru menanyakan pertanyaan lain.

“ Mm.. lancar.”jawab Yura, “…sebelum ke rumah gurunya, ayah mengajariku dengan sistem SKS. Bukan Sistem Kebut Semalam, tapi Sistem Kebut Sejam!”

Sungyeol tertawa meski hanya samar-samar, “ Ayahmu guru Kimia?”

“ Iya. Tapi anaknya paling bodoh Kimia.”

“ Hah, mengaku juga akhirnya.”

“ Ish!” Yura melempar Sungyeol dengan kacang dari rotinya, “…hei, apa kau masih sekolah juga? Berapa umurmu? Kau sekolah dimana? Aku tidak sempat menanyakan itu kemarin-kemarin.”

“ Untuk apa kau tahu?”

“ Ya! kita ini teman baru, harus saling tahu satu sama lain…”

“ Lupakan, jangan kenal aku lebih jauh.”

Mwo? Apa maksudmu?”

“ Habiskan sarapanmu. Aku tunggu di luar. Kau mau berangkat sekolah, kan?” Sungyeol tak menggubris pertanyaan Yura dan meraih kunci motornya dari atas meja dan keluar duluan dari café pagi tempat mereka berada sekarang.

Yura mengunyah rotinya sembari mencibir.

 

“ Sok misterius. Memangnya kau siapa?”

***

 

“ Kami benar-benar tidak tahu, L. tiba-tiba saja Lin seperti ini..”

Dengan gemetaran L terus memegangi sekujur tubuh Lin yang dingin seperti es, kemarin ia demam tinggi, sekarang suhu tubuhnya justru turun drastis. Putra kecil itu menangis karena gelisah.

“ Lin makan apa kemarin?”tanya L.

“ Aku tidak tahu, aku hanya mengurus obatnya. Kemarin juga aku pulang ke rumah.” jawab Taeyeon.

“ Sebenarnya.. kemarin aku menerima kiriman makanan di istana. dari salah satu orangtua siswamu, L. beliau tahu anakmu sakit jadi dia mengirim makanan untuk Lin. Karena Lin kelihatannya suka, jadi aku berikan saja.”jawab Madame Sunny meski agak ragu karena yakin L akan meledak.

“ Apa? Makanan apa?”tanya L dan Taeyeon kompak.

“ Permen kacang warna warni. Lin suka melihatnya dan menangis ketika aku melarangnya makan itu, jadi.. aku terpaksa memberinya.”

“ Mana permennya?”

Madame Sunny menunjuk salah satu keranjang yang ada di meja, L segera menghampirinya dan menemukan beberapa biji permen dengan warna-warna cerah di dalam sana. Curiga, L membalik keranjangnya.

Benar, ada pesan disana.

 

L songsaenim, terimakasih sudah menjadi guru yang baik untuk anakku. Kudengar anakmu sakit? Aku hanya bisa memberi ini untuknya. Semoga ia cepat…… MATI.

*

 

“ Maaf, aku sedikit terlambat.”

L memasuki ruangan kelasnya dengan peluh bercucuran, para siswa yang sudah duduk rapi di dalam kelas menunggunya penasaran dengan apa yang terjadi, terutama Kim Namjoo.

Songsaenim, apa yang terjadi?”tanya salah satu siswa setelah mengumpulkan keberaniannya.

L menghapus peluhnya dan menghela nafas, “ Aku habis saja mengeluarkan ramuan racun dari tubuh anakku.”

“ APA!?”

Namjoo adalah yang paling terperanjat, baru kali ini L terbuka dengan siswa-siswanya. Namun jujur, ia benar-benar tak tahu apa yang terjadi kali ini. jika memang ini ulah Hyoyeon lagi, mengapa ia merahasiakannya? Hyoyeon memang misterius sejak dulu.

“ Aku baik-baik saja. Sudah, keluarkan PR kalian.” L menutup pembicaraan, ia hanya mengungkapkan sedikit setidaknya agar Namjoo tahu.

Meski penasaran, tak ada yang berani bertanya lagi dan hanya berbisik-bisik. Para siswa itu juga mengeluarkan buku PR mereka dan mengumpulkannya di meja depan.

“…ada yang tidak mengerjakan?”tanya L.

Namjoo memegang bukunya dengan gemetaran. Ia tidak mengerjakan PRnya atas suruhan Hyoyeon semalam, ia kira yang lain juga tidak mengerjakan, tetapi rupanya ia sendiri yang tidak menyentuh tugas dari L dengan maksud berdemonstrasi karena terlalu sulit.

“…ada yang tidak mengerjakan?”L mengulang pertanyaannya.

Dengan mengorbankan rasa malunya, Namjoo mengangkat tangannya.

“ Saya, songsaenim.

Semua siswa menoleh ke arahnya.

L pun sontak menatapnya, tajam dan lama. Gadis itu gemetaran, terbakar di bawah tatapan mata elang sang guru. Merasa tatapan itu mengandung unsur dendam atas kejadian yang menimpa Lin pagi ini. padahal Namjoo tak tahu apapun. Ingin rasanya ia membuat klarifikasi meski L tidak bilang apa-apa.

“ Ucapkan selamat tinggal pada jam istirahatmu, Kim Namjoo. Selesaikan PRmu di jam makan siang.”putus L enteng, Namjoo memucat.

 

Jadi aku tidak bisa makan siang? Sialan.”

***

 

“ Ugh..”

Dengan perut keroncongan, Namjoo tetap bertahan di dalam kelas untuk mengerjakan PRnya. Bukunya masih kosong, namun tangannya sudah berkeringat karena menahan kekesalan.

“…ia dendam padaku? Apa dia menyalahkan aku? penyihir jahat..”

“ Mana ada guru yang dendam dengan muridnya sendiri?”

Namjoo terhenyak, guru tampan itu sudah duduk di depan mejanya. Kapan ia muncul?

Gadis itu berpura-pura sibuk dengan PRnya lagi. L tertawa sinis.

“ Kalau memang aku menyalahkanmu atas apa yang menimpa Lin, aku tidak perlu memberimu hukuman. Lebih baik langsung membunuhmu untuk yang kedua kalinya.”

Namjoo memucat, seluruh badannya mendadak dingin. Ia memang tak tahu apa-apa. Namun mendengar L berkata seperti itu sangatlah mengerikan, aura jahatnya memang tak pernah hilang sebesar apapun usaha penyihir tampan itu untuk menjadi orang baik.

“…ckckck, anak penyihir nomor satu tidak bisa menyelesaikan PR semudah ini? ibumu payah.”

Namjoo menggigit bibirnya, semakin ketakutan. Padahal L kelihatan sedang ‘bercanda’.

“…seharusnya dia membantumu mengerjakan PR daripada membuat permen kacang.”

“ Permen..kacang?”Namjoo bahkan tak tahu kapan ibunya membuat makanan itu.

“ Ah, kau belum pernah mencoba permen kacang buatan ibumu sendiri? Lin menyukainya, hanya saja ada satu komposisi yang harus aku singkirkan dari sana. Karena kalau tidak, ia akan mati.”

Namjoo diam saja, tak berani membela ibunya. Matanya tetap tertuju pada buku PRnya yang sejak tadi masih saja kosong karena ia memang sama sekali tak mengerti tentang mantra-mantra sihir.

“…ck, PR segampang itu. mana yang susah?” L memutar bukunya dan mulai membantunya.

“ Biar a.. aku..”

“ Aku tidak membantumu sebagai guru, aku membantumu sebagai keluarga.”

Namjoo terdiam, membiarkan L mengerjakan PRnya.

“…ini terakhir kalinya, PR selanjutnya kau harus berusaha sendiri. Itu sudah konsekuensimu masuk ke sekolah ini.”

“ Kalau begitu aku tidak akan pernah lulus.”

“ Jadi kau terus mengharapkan bantuanku? Hei, tahu diri sedikit. Kita ini musuh. Seharusnya aku menyakitimu juga karena ibuku sudah menyakiti anakku.”

Namjoo mendengus, meski sudah dibantu, ia masih saja merasa benci.

“ Kalau begitu berikan materi yang bisa membuatku mendapatkan nilai bagus, materi yang bisa kukerjakan sendiri.”saran Namjoo hati-hati, ia sedang mengeluarkan strateginya agar L membawa buku yang ia incar. Buku Rahasia Dunia Luar yang asli.

“ Materi macam apa yang kau mau?”

“ Materi tentang dunia asliku, mungkin?”

Mata L memicing, “ Kau ingin kita mempelajari dunia nyata?”

“ Kenapa tidak? semua pasti antusias. Banyak yang menarik tentang dunia nyata. Dan aku pasti mendapat nilai tertinggi dalam pelajaran itu.”

“ Ibumu pasti senang karena aku menggunakan bukunya untuk pelajaran itu.”jawab L sinis sembari tertawa hambar.

“ Jadi kau akan memunculkan pelajaran tentang dunia nyata dan… membawa buku..itu?”tanya Namjoo tak sabaran.

L tertawa misterius dan berdiri dengan membawa buku PRnya.

“ Akan kupikirkan.”

***

 

“ Jadi L mengatakan kalau ia mengeluarkan ramuan beracun dari tubuh anaknya?”

Namjoo mengangguk pelan, Hyoyeon tersenyum sinis mendengar cerita anaknya sepulang sekolah.

“…dan ia bangga karena merasa sudah mengeluarkan racun itu? hah.. keponakanku itu.”

“ Memangnya kenapa?”

“ Aku bukan penyihir bodoh, Kim Namjoo. Meski tandaku sudah hilang, ilmuku tidak hilang.” Hyoyeon tersenyum sinis. “…aku membuat ramuan yang racunnya terus berkembang. Ramuan yang hanya bisa dikalahkan oleh ramuan juga. Jika L mencoba mengeluarkan racun itu setiap hari, maka dia yang akan mati.”

“ Apa?!”

“ Ini hanya satu dari segudang rencanaku untuk menyerangnya.”

 

“ Sial kau, Kim Hyoyeon!”

“ Kau juga, Kim Namjoo!!!”

“ Takkan kami biarkan kalian mencelakai L dan keluarganya!!”

“ L sudah baik pada kami, kau tak boleh menyakitinya!!”

Puluhan penyihir yang mendengar pembicaraan mereka dari dalam sel terus mengeluarkan umpatan, mereka semua tak berdaya, termasuk teman-teman sekolah Namjoo. Semua tongkat mereka disita dan dihancurkan oleh Dongwoon dan Gain.

“ Kalian semua bodoh, kenapa membela L? jelas-jelas ia yang jahat. Jika kalian berada di posisiku, kalian akan melakukan hal yang sama.”ucap Hyoyeon tenang.

“ Tetap saja kau salah karena mengorbankan kami!”

“ Terserah. Semakin kalian berbicara seperti itu, aku akan semakin bersemangat menambah rekan kalian disini lalu membunuh kalian semua sekaligus.”

“ Kenapa kau tiba-tiba seperti ini, Kim Hyoyeon? Kau meracuni Lin, kau menyuruh Namjoo mencuri buku aslimu di tangan L. apa kau punya rencana baru?” tanya Dongwoon dan Gain yang mengikuti Hyoyeon keluar dari ruang bawah tanah.

“ Aku sudah mempersiapkan rencana ini dari awal. Dan kurasa sekarang aku harus mengeluarkan semuanya sekaligus, karena 15 hari kita akan segera habis.”

“ Itu artinya kita harus menghabiskan penyihir yang masih berkeliaran.”

“ Habiskan secepat mungkin.”

“ Apa kau sudah memikirkannya, siapa tiga yang akan kau sisakan?”

Hyoyeon berhenti sejenak, berpikir dan tersenyum.

 

“ Rahasia.”

************************************

 

Beberapa hari kemudian …

 

“ Maaf menganggumu sepagi ini. kau tidak keberatan, kan? Sebentar saja kok.. toko belum ada yang buka jam segini, aku bingung harus mencari kemana..”

Myungsoo memohon dengan wajah tampannya yang terlalu bagus untuk memelas di depan Yura pagi itu. Dari pelipis mulusnya keluar titik-titik keringat tanda ia kelelahan. Apa ia berusaha sekeras itu demi gadis yang masih dijaganya di rumah sakit? Membuat Yura semakin muak tapi satu sisi merasa kasihan sebab Myungsoo sampai datang ke apartemennya hanya untuk meminjam pakaiannya.

Ya, pakaiannya. Untuk Naeun.

 

“ Duh, bagaimana ya..” Yura sengaja mengulur-ulur waktu, padahal ia sendiri sudah hampir terlambat ke sekolah.

Please.. Naeun kehilangan jubah yang biasa ia pakai. Kami baru menyadari hal itu, selama beberapa hari ini kan Naeun terus memakai seragam rumah sakit. Hari ini ia akan pulang, ia tak punya pakaian sama sekali..”jelas Myungsoo. bukan membuat Yura merasa kasihan namun membuat gadis itu menari-nari gembira dalam hatinya.

“ Mampus. Rasakan, itu akibatnya mendekati Kim Myungsoo-ku.”

“ Hei, Kim Yura!” Myungsoo membuyarkan gadis yang tiba-tiba menyeringai tanpa sebab didepannya.

“ Hah? Eh..ng.. anu.. bagaimana ya..” gadis itu agak salah tingkah, sama sekali tidak sudi meminjamkan pakaiannya untuk gadis yang sudah membuatnya cemburu setengah mati.

“ Ayolah.. Naeun kedinginan.”

“ H..hah!? kedinginan?! Jadi sekarang dia tidak pakai baju!?” Yura mendadak bereaksi berlebihan sebab batinnya membisikkan bayangan-bayangan panas.

Jangan bilang sebelum datang kesini Myungsoo melihat Naeun tidak pakai baju.

“…TIDAK! tidak mungkin..”

“ Kenapa lagi?” Myungsoo mengerutkan dahinya karena Yura lagi-lagi bertingkah aneh, lelaki tampan itu mulai menyerah, “…ya sudah, aku pinjamkan saja kaosku yang kebesaran.”

Lelaki itu balik kanan dan berjalan pasrah menuju pintu apartemennya. Yura masih dibisiki oleh batin negatifnya.

Naeun memakai kaos milik Myungsoo? bekas Myungsoo? tubuhnya memakai sesuatu bekas Myungsoo.

“ TIDAK BOLEH!!!!”

Yura buru-buru berlari hingga terpeleset ke dalam apartemennya, mengobrak-abrik lemarinya dan buru-buru keluar lalu menarik Myungsoo sebelum lelaki itu membuka pintu apartemennya.

“…ini!! ini pakaianku!! Pinjamkan saja..!”

***

 

“ Maaf menunggu lama, nona Son. Apa kau baik-baik saja?”

“ Hm. Mana?”

Naeun sedikit membuka pintu kamar mandinya dan mengulurkan tangan mulusnya saja sebab ia sedang tak memakai apapun. Myungsoo segera memberikan pakaian yang ia bawa dengan canggung dan gadis itu menutup pintunya lagi.

“ Kau bisa memakai pakaiannya sendiri?”tanya Myungsoo ragu sebab masih mengkhawatirkan luka di kaki Naeun.

“ Bisa. Ini mini dress. Bagus sekali. Dari mana kau mendapatkannya?”

“ Hm.. aku.. pinjam.. punya.. Yura.”

“ Aaah.. pacarmu?” goda gadis itu sembari terkekeh, Myungsoo tertawa hambar saja. Ingin sekali ia meluruskan hal ini, tapi rasanya belum tepat jika sekarang.

“…bilang terimakasih padanya, aku suka pakaian seperti ini. aku tidak punya banyak.”

Naeun keluar dari kamar mandi dengan rambut gelombang-coklatnya yang masih agak basah, tubuh rampingnya sudah dibalut dengan mini dress merah muda milik Yura. Benar-benar pas untuknya, hingga tanpa sadar membuat rahang Myungsoo hampir jatuh melihatnya.

“ Hei, Myungsoo sunbae!”

“ Eh, ya? a.. ng.. s.. sudah.. jadi bagaimana.. sekarang?”

“ Ayo keluar. Aku sudah selesaikan administrasinya sebelum mandi tadi, hehe.”

Mwo? Kau berjalan sendiri ke tempat administrasi?”

“ Tidak apa-apa.”gadis itu tertawa kecil dan berjalan ke depan kaca kemudian menyisir rambut indahnya perlahan-lahan, “…aku kan sudah bisa berjalan lagi. Berkatmu.”

“ Seharusnya aku saja yang selesaikan semuanya.”Myungsoo merasa agak bersalah.

“ Aku yang sakit, aku yang bayar. Kau sudah terlalu banyak menolongku.”

“ Tapi..”

“ Sudahlah, ayo keluar. Kita menjauh dulu dari rumah sakit ini, baru aku bisa hubungi supir untuk menjemput.” Naeun meletakkan sisirnya dan diam-diam mengambil tongkat sihirnya dari laci kemudian menyembunyikannya.

Mwo? Kenapa harus menjauh dulu?”

“ Keluarga Nam tidak perlu tahu aku pulang dari sini.”

***

 

“ Nona Son Naeun? Jadi sekarang kau berada di Korea? Sudah pulang dari Hongkong?”

Ah, jadi selama ini Woohyun mengatakan pada orang rumah bahwa Naeun berlibur di Hongkong? Gadis itu tertawa kecil. Tahu Hongkong-itu-apa saja tidak.

“ Ya, tolong jemput aku di Sun Café. Apa Woohyun oppa ada di rumah?”

“ Sudah hampir dua minggu ini Tuan Muda dan nona Chorong ada di Amerika, rencananya mereka pulang lusa karena baru dapat tiket.”

“ Ah.. jinjja..” Naeun agak lemas mendengarnya, sekaligus lega. Dengan begini Woohyun tak perlu tahu ia sempat masuk rumah sakit –dan bertemu dengan Kim Myungsoo-.

“ Nona Naeun, kami akan segera kesana.”

“ Ya. kutunggu.”

Naeun menutup teleponnya dan kembali mengaduk tehnya, sementara Myungsoo masih diam dengan kaku didepannya dan tidak menyentuh sarapan di depannya sedikitpun.

Sial. Kenapa situasi harus canggung lagi? Bukankah sudah berhari-hari saling kenal? Apa harus balik lagi ke rumah sakit agar bisa mengobrol seperti biasa?

“ Apa aku masih pucat?”tanya gadis itu tiba-tiba, mencoba menghidupkan suasana meski tangannya masih sering berkedut karena tak tahan ingin menyentuh Myungsoo sebagaimana ia menyentuh L untuk melepas rasa rindunya.

“ Ya. pucat.”Myungsoo mengiyakan, Naeun agak panik sekarang.

“ Duh, nanti orang rumah curiga aku sakit.”ia celingukan hingga menemukan sesuatu di luar café, ia segera berdiri.

“ Hei, mau kemana? Bisa pergi sendiri?”lelaki itu agak khawatir dan setengah berdiri.

“ Jangan khawatir!”

*

 

“ Selamat pagi.. kalian… berdua.”

L tak mampu lagi mengucap kata ‘semua’ dalam kalimat pertama yang ia ucapkan seperti biasa saat memasuki ruang kelas. Karena memang pada kenyataannya, hari ini hanya ada dua orang siswa yang hadir dalam kelasnya.

Miris, bukan?

Ini sudah berhari-hari. Kejadian yang berlalu di negeri Junghwa selama beberapa hari silam bukanlah kejadian sepele. Hyoyeon benar-benar membuktikan perkataanya untuk lebih cepat ‘menghabiskan’ para penyihir negeri Junghwa. Meski belum semua, beberapa siswa yang belum menjadi sasaran memutuskan untuk tidak masuk sekolah dan berdiam diri di dalam rumah. Banyak juga yang tidak masuk sekolah karena berduka atas keluarganya yang hilang satu demi satu setiap harinya.

Yang datang hanya dua orang siswi. Satu siswi yang masih ingin belajar dan satu lagi… bisa ditebak, hanya seorang siswi yang masih belum puas mengintimidasi dan menertawakannya—Kim Namjoo. Wajahnya masih sama, polos dan pura-pura tak tahu apa-apa meski sudah menghilangkan banyak temannya.

L masih menahan diri untuk menuduh, masih konsisten pada konsep ‘kasih-sayang-guru-terhadap-murid’nya meski kecurigaannya sudah tak terbantahkan lagi. Namjoo menghilangkan teman-temannya begitu mudah dengan Hyoyeon di belakangnya. Dan sampai saat ini, Madame Sunny, ibunya –Taeyeon, maupun dirinya masih belum mendapatkan jalan keluar. Kondisi Lin yang semakin memburuk membuat pikiran mereka terpecah.

“ Apa kita akan tetap belajar, songsaenim?”tanya salah satu siswi itu, L masih menunduk di depan mejanya, meremas buku yang ia pegang. Semangatnya mendadak luntur.

Namjoo berpindah ke bangku paling depan yang kebetulan kosong, menatap tangan sang guru yang rupanya memegang buku Rahasia Dunia Luar. Buku yang diincarnya.

Ia mengabulkan permintaanku untuk materi Dunia Luar. – Namjoo masih tak percaya. Meski ia sudah sejahat itu? meski ibunya sudah membuat banyak kekacauan?

Tidak. jangan berpikiran positif tentang dia. Yang terpenting sekarang bukanlah rasa terimakasih atas materi yang dikabulkan oleh L itu, tetapi ini adalah saatnya mengambil buku tersebut dari tangan sang penyihir, karena buku ini akan menjadi pelengkap rencana misterius Hyoyeon yang selanjutnya, dan Namjoo ingin segera tahu apa rencana itu.

Persetan dengan belajar, itu hanya umpannya saja.

“ Apa hanya kita yang datang ke sekolah?”tanya L mencoba berbasa-basi dengan resah.

“ Tadi saat berjalan menuju kesini belum ada guru atau siswa lain yang datang. Tapi.. izinkan aku memeriksa sekolah sekali lagi. Songsaenim.”salah satu siswi itu berani dan berdiri dari kursinya.

Cih. Siswa pemberani, Hyoyeon akan menemukanmu. Namjoo hanya tersenyum sinis dan semakin berduduk santai, mencoba menutupi pikirannya yang sedang sibuk memikirkan cara bagaimana agar buku yang ada di tangan L jatuh ke tangannya.

“ Hati-hati.”jawab L mengizinkan, siswi itu segera keluar dan meninggalkan ‘mantan pembunuh beserta korbannya’ berdua di dalam kelas.

“ Kau akan membawakan materi tentang dunia luar?”tanya Namjoo sumringah dengan rasa terimakasih yang dibuat-buat.

“ Tidak sebelum semua bangku disini penuh dengan siswaku.”jawab L dingin.

“ Kau ingin kita bicara soal dendam lagi?”

“ Kenapa kau berpikir kesana? Aku ingin siswa lengkap agar mereka melihat kau bisa mendapatkan nilai tertinggi di materi ini. bukankah itu yang kau mau?”

Benar itu maksudnya? L terlalu baik. Apa dia serius? Namjoo bahkan merasa geli dengan konsep ‘guru dan murid’ mereka. Bagaimanapun juga L pernah membunuhnya. Melihat ia bersikap baik terlepas itu tulus atau tidak masih membuat Namjoo merasa risih.

“ AAAAA!! Lepaskan aku!!!!!”

L sontak berdiri ketika mendengar suara jeritan anak perempuan dari luar. Jelas, ia pasti siswi yang baru saja keluar dari kelasnya. Namjoo sendiri merasa terkejut. Namun perasaan terkejutnya terkalahkan oleh rasa senang karena L keluar meninggalkan kelas untuk menyusul siswanya dan meninggalkan buku itu di atas meja.

Ini kesempatan emas.

***

 

“ Aku membeli beberapa buah, aku tidak pandai merias diri jadi aku tidak tahu yang mana yang cocok untukku, hehe.”

“ Astaga, rupanya kau dari toko kosmetik.” Myungsoo tertawa geli melihat Naeun mengeluarkan beberapa batang pewarna bibir dari kantung plastiknya.

“ Bisa kau pilihkan yang bagus untuk menutupi bibir pucatku?”

“ Kau benar-benar tidak bisa memilih sendiri?”

“ Sudah kubilang aku tidak pandai merias diri, jadi aku tidak begitu pintar dalam hal semacam ini.”

Tidak pandai merias diri saja sudah secantik ini. bagaimana kalau pandai? Ingin sekali Myungsoo mengeluarkan kata-kata itu seandainya Naeun tak berkeluarga.

“ Jadi siapa yang biasanya meriasmu?” tanya Myungsoo berbasa-basi sambil membuka satu per satu lipstick di depannya untuk mencari warna yang bagus.

Naeun tersenyum sendiri, mengingat L yang senang meriasnya selama ia hamil sampai Lin lahir. Apa Myungsoo juga punya bakat seperti itu? Akan sedikit terjawab jika kali ini ia memilihkan Naeun lipstick yang bagus.

“ Kurasa ini cocok untukmu, warnanya natural.” Myungsoo menyodorkan satu lipstick pada gadis itu.

“ Ah, benar. Seleramu oke.”Naeun menerimanya dan menyembunyikan wajahnya sejenak di balik daftar menu untuk memakainya.

“ Lalu ingin kau apakan yang lainnya?”tanya Myungsoo sambil menatap beberapa batang lipstick yang masih ada di meja.

“ Beri saja semuanya untuk pacarmu.”

“ Pacar..ku?”

“ Kim Yura..” jawab Naeun dengan tawa geli, Myungsoo tertawa malu.

“ Baiklah. Ia pasti sangat senang.”jawab Myungsoo, “…oh iya, tapi sebenarnya, Yura itu bukan…”

“ Ah! Mobilnya datang!” Naeun tersenyum gembira melihat mobil keluarga Nam tiba di depan café, Myungsoo menggaruk pelipisnya, gagal mengklarifikasi tentang Yura.

“ Istirahatlah di rumah, nona Son. Atau aku akan mengkhawatirkanmu.”

Naeun terdiam, perlahan mendekati Myungsoo yang mengantarnya ke depan pintu café.

“ Terimakasih banyak, L.”

“ Kim Myungsoo.”

“ Ah! Iya.. Kim Myungsoo, maaf..” Naeun menggigit bibirnya yang masih sering salah ucap. Mereka terlalu persis. Untung saja mereka tidak pernah berdiri berdampingan. Seandainya itu terjadi Naeun tak tahu harus menyentuh yang mana –seperti saat di bioskop itu.

“ Apa yang akan kau lakukan setelah sehat seperti ini, Naeun-ssi?”tanya Myungsoo sebelum gadis itu benar-benar pergi.

Mungkin hanya membuat ramuan portal dan menunggu hari ke lima belas untuk pulang. Jawab Naeun dalam hatinya. Ia memilih diam.

“…kuharap ini bukan pertemuan terakhir kita, kalau begitu aku malah sedih karena kau sudah sembuh.”sambung Myungsoo sambil tertawa ringan, Naeun ikut terkekeh mendengarnya.

“ Jadi, apa harus ada pertemuan berikutnya?”tanya Naeun sedikit malu, dan sedikit bersalah. Pertanyaan wajar seperti ini tetap saja akan membuat L terbakar jika mendengarnya.

“ Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Besok.”jawab Myungsoo tanpa basa-basi, ia sudah memikirkannya matang-matang selama Naeun pergi ke toko kosmetik barusan.

“ Suatu tempat? Hm..tempat apa itu?”

“ Bisakah kita sebut..kejutan?”

“ Apa aku boleh menebaknya?”

“ Tidak boleh. Pulanglah.”

Naeun berkedip dan sedikit memajukan bibir bawahnya, “ Kau membuatku penasaran saja. Jam berapa kita pergi ke kejutan itu?”

“ Jam 8. Aku akan menjemputmu dengan taks…..”

“ Biar aku yang menjemputmu. Apartemen Hapjeongdong, kan?”gadis itu memotong dan berbalik, berjalan menuju pintu mobilnya yang sudah dibukakan sang supir untuknya.

Ia pergi.

 

Myungsoo tersenyum dan meremas kalung yang masih ada di dalam kausnya.

“ Kuharap tidak akan ada pertemuan terakhir denganmu, Son Yeoshin.”

***

 

“ Tidak. jangan sekarang. Aku masih ingin melihat Myungsoo meski dari jauh. Aku ingin menunggu Chorong. Aku ingin berkumpul dengan mereka. Beri aku kesempatan..”

Seorang lelaki nampak memeluk lutut dengan wajah pucat dan keringat dingin bercucuran di sudut kamarnya, satu tangannya memegangi dadanya yang terasa sakit. Ia merasa akan segera berpisah dengan raganya, untuk kesekian kalinya.

Lee Sungyeol, lelaki itu merasakan ‘panggilan’ dari Kim Hyoyeon, dan ia merasa tak siap.

“…pangeran sialan, bisakah ia melakukan semuanya sendiri!? Aku bukan hantu yang merasuki tubuh orang lain..” dengan susah payah lelaki itu menelan beberapa pil yang ia dapat dari dokter, untuk mengurangi rasa sakitnya.

“ Sungyeol!!”

“ Yah!?”

Lelaki itu terkejut, siapa yang datang ke rumahnya yang notabene gelap dan ‘terisolasi’ dari lingkungan perumahan? Selama ini hanya Woohyun, Chorong, Myungsoo, dan Yookyung yang tahu dimana rumah serta tempat praktik cenayangnya ini.

Perlahan sakit di dadanya menghilang. Mungkin untuk sementara? Hyoyeon membiarkan Sungyeol menerima tamu dulu? Hm, ia masih cukup baik rupanya.

Sang cenayangpun berdiri dan menyeret langkahnya menuju pintu. Matanya mendadak membesar.

“ Kau!?”

“ Yay!!! Aku tidak salah alamat!!”

Seorang gadis cantik berseragam sekolah menari gembira dengan imut didepannya. Kim Yura. Ia bolos lagi, sudah pasti.

“ Bagaimana kau tahu rumahku!?” tanya Sungyeol dengan kekesalan yang tertahan, karena bagaimanapun juga sengaja tidak sengaja Yura membuat Hyoyeon batal ‘menjemput’nya.

“ Kau memasang alamatmu di akun SNS.”jawab gadis itu polos.

“ Bagaimana kau tahu akun SNSku?”

Searching. Kau tidak tahu? Padahal aku sudah mengirim permintaan pertemanan.”

“ Aku tidak membuka SNS lagi.”

Jinjja? Lalu bagaimana jika ada yang minta diramal atau……”

“ Astaga!” lelaki itu memukul kepalanya, baru ingat bahwa dulunya akun SNS itu adalah tempatnya promosi jasa ramalan. Sial, itu akun lama dan ia belum menghapusnya. Semenjak Myungsoo meninggal ia tak lagi menerima jasa ramalan karena sibuk menyembunyikan mayat sahabatnya itu.

“ Kenapa? Kau malu? Hahaha.. tidak usah malu. Aku justru salut, ternyata kau seorang cenayang! Apa nanti aku boleh diramal atau……”

“ Diamlah.”

Lelaki itu mundur dan hendak menutup pintu, Yura buru-buru menahannya.

“ Ya! kau mengusirku?!”

“ Aku ingin ganti pakaian. Tunggu di luar.”

BRUK!

Pintu tertutup, Yura mengangkat sebelah bibirnya dengan kesal.

“ Cenayang aneh! Tapi.. baguslah dia mengerti aku ingin mengajaknya pergi.”

Gadis itupun menunggu beberapa saat sampai ia kesal.

“…apa dia sedang pakai baju pengantin!? Lama sekali. Masuk ah.. lama-lama penasaran juga dengan rumah gelap begini..” ia maju dan memutar knop pintunya.

“ Hei!”

“ Ah!”

Yura dan Sungyeol bertubrukan. Tak seperti adegan dalam drama-drama yang saling tatap dulu seperti orang bodoh berlama-lama, Sungyeol langsung mendorong gadis itu keluar.

“ Sudah kubilang tunggu di luar!”

“ Siapa suruh lama!”

“ Masih untung aku mau meladenimu lagi hari ini.”

Sungyeol menutup dan mengunci pintu rumahnya lalu mengeluarkan kunci motor dari saku jaketnya, “…hari ini mau mengomel dimana, Yura-ssi?”

Gadis itu merasa agak malu, ia memakai helmnya dan duduk di jok belakang yang cukup tinggi hingga ia harus membungkuk dan menubruk punggung Sungyeol dengan dadanya. Ini sudah biasa terjadi sebab hampir setiap hari mereka bepergian bersama. Tapi anehnya Sungyeol tak pernah terlihat suka seperti lelaki pada umumnya.

Apa dia gay? Siap-siap saja diturunkan di tengah jalan jika Yura berani menanyakan hal itu.

“ Sungai Han.”bisik gadis itu pelan.

“ Tempat itu sedang sepi di jam sibuk.”

“ Justru itu yang kumau.”

“ Oke. Silahkan mengomel disana. berjanjilah untuk tidak bertanya apapun tentang diriku.”

“ Kenapa?”

“ Sudah kubilang jangan berpikir untuk mengenalku lebih jauh.”

Sungyeol menyalakan mesin motornya dan melaju kesana dengan kecepatan sedang. Membiarkan Yura lagi-lagi dalam kebingungan.

***

 

“ Apa kau yakin rencananya akan berhasil?”

“ Semoga saja. Mana ramuan portalnya?”

Hyerim buru-buru mengeluarkan sebotol kecil ramuan portal dari balik gaunnya dan menyerahkannya pada Krystal. Hari ini, mereka menjalankan rencana yang sudah mereka bicarakan beberapa hari yang lalu.

Krystal benar, rombongan kerajaan memang singgah ke satu kerajaan kecil untuk jamuan makan malam. Dan penghentian sementara inilah yang akan mereka manfaatkan untuk melarikan diri.

“ Kita buka dulu portalnya, kita harus pergi dengan Kai. Kai masih mengawal raja dan ratu. Kita harus menunggunya disini.”jelas Hyerim.

“ Semoga Kai bisa menemukan tempat ini.” Krystal mengelus sisi-sisi lingkaran portal yang sudah terbuka di tembok belakang istana kecil tempat rombongan singgah saat ini.

“ Semoga ia berhasil mengirimkannya pada artis sialan itu.”Hyerim mengelus merpati putih yang sudah memegang segulung kertas surat di kakinya. Pelan-pelan, ia menerbangkan sang merpati memasuki portal duluan.

“ Apa isi suratmu?”tanya Krystal penasaran.

“ Hanya balik menyerangnya.”jawab Hyerim dengan senyum pahit.

***

 

Rikugien Park, Tokyo

 

“ Ah, jadi disini tempatnya? OMG, bagus sekali!!”

Bomi buru-buru merapikan rambutnya yang agak berantakan di depan spion dalam dan menepuk-nepuk wajah kecilnya dengan spons bedak.

“ Barang-barangmu biar ditinggal di mobil saja, nona Yoon.”ucap sang supir yang menjemputnya di bandara beberapa saat yang lalu.

“ Oke! Terimakasih..! Hoya benar-benar ada disini?”

“ Ya. ia sedang syuting.”

“ Oh iya..” Bomi melihat situasi taman yang dipenuhi oleh kru dan kamera, “…kalau begitu aku turun ya!”

Gadis itu buru-buru turun dari mobil dan menaikkan celana jeansnya yang sedikit melorot, ia berlari kecil mencari idolanya yang sedang syuting di salah satu taman terindah di Jepang itu.

 

“ OK. Action..!”

Mata Bomi membesar saat berdiri di belakang sang sutradara, nampak Hoya dan Minah bertingkah menjijikkan dengan berpegangan tangan dan berjalan menyusuri taman lalu berhenti dan berhadapan, wajah mereka saling mendekat dan…

“ HOYAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Sialan. Cut!!”

Hoya dan Minah menghentikan adegan mereka. Sang sutradara langsung memutar lehernya, menoleh dengan mata melotot ke arah gadis di belakangnya.

“…Security!

“ Eh! Jangan..jangan! aku yang memanggilnya kesini!” Hoya melarang sutradaranya memanggil petugas keamanan, lelaki itu buru-buru berlari menuju Bomi dan meninggalkan Minah yang sudah pasang wajah protes.

“…tolong beri aku waktu istirahat. Sebentaaar saja, kurasa aku butuh sedikit latihan lagi.”Hoya mencoba berkompromi pada sang sutradara dengan berbisik.

Melihat mood Minah yang sudah buruk, sutradara pun mengabulkannya. Hoya tersenyum lega dan segera menarik Bomi untuk memasuki salah satu kedai teh yang ada di lingkungan taman. Salah satu kedai teh terbaik karena disana Hoya memberi penggemarnya itu kesempatan melihat pohon-pohon ceri dan maple yang menghiasi taman serta menghirup udara segar melalui jendela.

“ Bagaimana perjalananmu, big fan?

“ Kenapa kau melakukan adegan itu dengan Minah!?”

Hoya tertawa, sudah menduga Bomi tak akan menjawab pertanyaan basa-basinya.

“ Kami sedang syuting MV.”

“ MV debut Minah?”

Hoya mengangguk, “ Lagunya bagus, aku mengambil bagian rap.

“ Kau bernyanyi juga sekarang?”

“ Tuntutan. Bahkan harus berakting seperti tadi. Aku sangat lelah karena harus latihan semuanya setiap hari. Dan aku sangat sedih jika nanti fans membencinya.”

Bomi merasa agak bersalah.

“ Kenapa harus dengan Minah. Kami akan suka jika kau melakukan itu sendiri.”

“ Akan ada saatnya. Aku melakukan ini karena aku labelmate Minah, kami harus banyak bekerja sama. Tak ada maksud lain.”

“ Semoga aku mengerti.”

“ Kenapa..semoga?”

“ Karena aku tidak tahu apakah nanti akan sakit hati saat melihat MVnya.”

“ Hahaha.. dengar saja lagunya, jangan terlalu pikirkan MVnya. Oke? Percayalah padaku, aku hanya menyayangi fansku.”

“ Bagaimana dengan Eunji?”

Hoya mendadak diam, raut depresinya seperti saat ia bertemu L kembali nampak.

“…dia dimana sih? Kau membawanya liburan ke suatu tempat lalu meninggalkannya?”tanya Bomi lagi, “…appa dan eommaku sudah merindukannya, lho. Mereka ingin Eunji cepat pulang.”

Sang artis memutar otaknya.

“ Dia di.. Busan.”ucap Hoya mengarang, hanya karena nama kota Busan pernah ia lihat di peta Korea Selatan.

“ Busan? Sedang apa dia disana?”

“ Ng.. mengunjungi.. keluarganya.”Hoya benar-benar ragu.

“ Jadi dia punya keluarga disana? ah.. kenapa aku baru tahu. Appa dan eomma pasti belum tahu. Haruskah kami menyusulnya ke Busan?”

“ Eits.. jangan.. tidak usah.. nanti dia merasa tidak enak. Tidak lama lagi Eunji akan pulang kok.”

“ Oke. Tapi.. hubunganmu dengan Eunji baik-baik saja kan?”

“ Hmm.. sebenarnya..”

“ Sutradara memanggil, kita ulang adegan tadi!”

Tangan seorang gadis menepuk bahu Hoya dan menarik paksa lelaki itu agar berdiri, sukses membuat Bomi panas, lebih panas dari teh yang sedang ia minum.

“ Debutmu tidak akan sukses kalau kau mengandalkan Hoya saja.”ucap Bomi sengit, Minah memutar bola matanya.

“ Hoya juga tidak akan sesukses sekarang tanpa aku. kami saling membutuhkan, bukankah itu manis?”

“ Hiiishh!!”Bomi sudah meraih cangkir tehnya untuk menyiram gadis seksi didepannya.

“ Sudah sudah! Sebentar saja, Bomi-ssi. Ini hanya pekerjaan.”Hoya menghentikan Bomi dan segera menarik Minah menuju lokasi syuting. Bagaimanapun juga, ia harus profesional.

Bomi tak bisa menunggu, ia ikut bangkit dari duduknya dan mengikuti Hoya ke lokasi syuting, kembali berdiri di belakang sutradara dengan wajah mengancam agar Minah tak berani over acting di depannya.

 

“ 1..2..3..action!”

Adegan menjijikkan itu lagi. Bomi meremas syal yang ia pakai ketika adegan yang tertunda itu akan terulang lagi. Sial, mengapa seorang fans harus berdiri di situasi seperti ini? reaksinya tentu akan lebih gila daripada penggemar yang hanya melihat preview di depan komputer.

“ Cut!!! Cut!!”

Bomi terkejut karena adegan kembali batal, seekor burung hinggap di kepala Hoya dan mengacak-acak rambut setengah blonde sang artis!

Apa-apaan ini? Sutradara kembali memutar lehernya kearah Bomi, kali ini dengan mata yang hampir melompat keluar.

“ Bukan! Bukan burung milikku!”gadis itu buru-buru mengklarifikasi, setelah itu bergegas menyusul Hoya yang berlari menghindari burung tersebut.

Merpati itu terus mengikutinya!

***

 

“ Oh, jadi gadis yang kecelakaan itu sudah pulang dari rumah sakit?”tanya Sungyeol selesai mendengar cerita –atau lebih tepatnya omelan- Yura.

“ Hm, dan dia meminjam pakaianku.”sahut Yura kesal sambil meneguk minuman kalengnya dan menatap hamparan Sungai Han di depannya.

Pasti karena jubahnya aku curi. batin Sungyeol. Ia masih menyimpan jubah itu dan akan melaporkan keberadaan Naeun di dunia nyata pada Hyoyeon jika ia sudah terpanggil nanti.

“ Seharusnya kau senang, mereka tidak berduaan lagi di rumah sakit.”ucap Sungyeol, karena ia juga senang, sebab akan lebih bebas mengawasi Myungsoo jika keadaan memungkinkan.

“ Iya sih, tapi kalau ketemuan di tempat lain, gimana?”

“ Myungsoo tidak begitu suka janjian ini itu.”

Mwo? Darimana kau tahu? Kau kenal dengan Myungsoo?”

“ Eh.. ng.. lupakan.”

“ Aku dengar kau menyebut nama Myungsoo! kau kenal dia ya? kau temannya? Kenapa tidak bilang padaku? Kalian teman sekolah? Atau…”

“ Sudah kubilang jangan bertanya apapun yang ada sangkut pautnya dengan diriku.”

Yura menghela nafas, “ Dengan kau bicara seperti itu, aku justru semakin penasaran siapa kau sebenarnya, cenayang.”

“ Penasaran saja sana.”

“ YA! kenapa kau sok misterius begini sih!?”

“ Aku tidak ingin kau kenal aku lebih jauh, bukankah aku sudah pernah bilang?”

“ Tapi kenapa?”

“ Aku.. argh..”

“ H..hei?” Yura terkejut, Sungyeol tiba-tiba memegangi dadanya yang mendadak sakit lagi. Kim Hyoyeon tak memberinya kesempatan lagi. Lalu ia harus berpisah dengan jasadnya di depan Yura?

“ Antar aku pulang..”ucap lelaki itu lirih, Yura kebingungan, namun buru-buru menarik kunci motor dari saku jaket lelaki itu.

“ Kau kenapa sih??” dengan panik gadis itu merangkul dan menyeret Sungyeol menuju motor lalu mendudukkannya di jok belakang.

“ Kau..kau..b..bisa..b..bawa..motor..besar?”lelaki itu masih bisa merasa ragu meski arwahnya sudah hendak terlepas dari tubuhnya.

“ Jangan remehkan aku.”Yura duduk di depannya dan memasang helmnya, kemudian menyalakan mesin motornya, “…rumah sakit saja, ya?”

Andwae. Pulang. Aku ingin pulang..” lelaki itu menggeleng lemah. Lebih baik ia terbujur kaku di dalam rumahnya yang gelap daripada harus masuk rumah sakit dan berakhir di kamar mayat.

“ Tapi..”

“ Pulang!!”

Yura terpaksa menurut, setelah menarik nafas panjang karena sudah sekian lama ia tidak mengemudi, gadis itu mulai menjalankan motor besarnya. Pelan..pelan..sedang.. hingga berkecepatan tinggi.

Sungyeol sudah tak sadarkan diri di punggungnya.

***

 

“ Kenapa Kai belum datang?”

Hyerim dan Krystal masih gelisah menunggu di depan portal. Ini sudah terlalu lama, Kai tak juga datang.

“ Apa kita pergi saja?”tanya Hyerim.

“ Aku tidak mau tanpa Kai.”Krystal bertahan.

“ Tapi dia tidak datang juga..”

“ Sebentar..”Krystal berdiri dan sedikit mengangkat gaunnya, berjalan beberapa meter menjauh dari portal. Hyerim merasa agak khawatir.

 

“ AH!! Hyerim!!”

“ Krystal!” Hyerim langsung berdiri dan berlari menuju asal suara.

“ Kalian disini rupanya?”

Gadis itu mematung, menatap adiknya yang sudah ditahan dalam lengan seorang lelaki. Pangeran Baekhyun. Bagaimana bisa ia disini? atau lebih tepatnya.. bagaimana ia tahu Hyerim dan Krystal ada di tempat ini?

Matanya kembali berkilat-kilat jahat, tak seperti biasanya. Seseorang sudah menggantikannya.

“ Kembali ke kereta atau ia akan mati disini.”lelaki itu semakin merapatkan tekukan lengannya di sekitar leher Krystal hingga putri bungsu kerajaan Junghwa itu kesulitan bernafas, Hyerim semakin panik.

“ Baik! Baiklah. Lepaskan adikku!”

Sang pangeran hanya memutar matanya dan berbalik, berjalan menuju kereta dengan menyeret Krystal secara paksa, Hyerim mengikutinya dari belakang, mencoba menatap Krystal yang tak mampu lagi melepaskan diri.

Rencananya gagal, dan ia menangis.

***

 

“ Astaga, dia tidak bernafas.”

Yura jadi ragu meninggalkan Sungyeol yang sudah terbaring kaku di sofa rumahnya. Lelaki itu sama sekali tak bergerak lagi, badannya pun semakin pucat dan dingin.

“…apa dia mati? Gara-gara aku? tidak.. tidak..” Yura mengacak-acak rambutnya frustrasi, mulai ketakutan. Ingin membawanya ke rumah sakit, ia sudah kelelahan mengangkat tubuh jangkung sang cenayang.

“…kau pasti bangun, kan? Jangan buat aku takut..” gadis itu mengelus rambut Sungyeol pelan dan gemetaran, setelah itu mencari-cari obatnya di meja dan meletakkannya di samping sofa agar saat ‘bangun’ nanti lelaki itu meminumnya.

Setelah itu Yura berdiri, terpaksa mundur dan keluar dengan berlari ketakutan.

***

 

“ Aku risih dipegang-pegang stylist, merpati sialan.”

Hoya masih merapikan rambutnya yang sangat berantakan –dan sakit- akibat serangan burung merpati yang tiba-tiba mengacaukan adegan ciumannya dengan Minah. Ia terpaksa merapikan rambutnya sendiri di dalam toilet karena tak begitu suka disentuh oleh stylist waria.

Merpati putih itu masih mengikutinya, namun mengalah dan tak lagi hinggap di kepalanya. Burung penyihir milik Madame Sunny itu berdiri dengan sabar di depan kaca wastafel, mengamati setiap pergerakan mantan pengawal kerajaan itu.

“…kenapa kau menggangguku, hah!?” tanya Hoya dengan tangan yang masih merapikan rambut blondenya dengan hati-hati.

Unggas itu melepaskan gulungan kertas yang masih terjepit di kakinya, menendangnya sedikit agar berguling kearah sang artis. Hoya segera mengambilnya.

“ Dari Hyerim? Kau.. burung dari negeri Junghwa?” Hoya terkejut, ia ingin segera membacanya namun seseorang tiba-tiba memasuki toilet.

“ Hei, kau baik-baik saja?”

“ Ya. Tidak apa-apa, Bomi-ssi.”

“ Adegannya diulang lagi, dong. Kapan selesai syutingnya? Kalau begini fanmeet pribadi kita tidak jadi-jadi.”

“ Maafkan aku, besok kau masih disini, kan? Aku sudah booking kamar hotel untukmu menginap.”

“ Ya. terimakasih ya. kau sudah terlalu baik, kalau begitu kurelakan kau beradegan seperti itu denga Minah. Tapi hanya sekali! Ingat, sekali!”

Arasseo..pulanglah ke hotel.”Hoya mengacak-acak rambut Bomi dengan gemas.

“ Apa aku boleh update sesuatu di fanbase?”

“ Tidak. jangan.”

“ Yah. Padahal semua akan gempar jika tahu. Aku tidak ingin hatiku sendiri yang gempar melihatmu beradegan ciuman di depan mataku.”

“ Hanya pekerjaan, Yoon Bomi-ssi. Mengertilah.”

Bomi terpaksa mengangguk, “ Kalau begitu kita bertemu besok, ya. aku tidak bisa berlama-lama juga disini. aku harus cepat pulang ke Korea.”

“ Kenapa terburu-buru?”

“ Aku akan sekolah. SMA Junghwa ada kemungkinan dibuka lagi, besok.. kepala sekolah kami akan disidang.”

“ APA!?”

Hoya terkejut. Jadi kini keberadaan Haeyeon di penjara bukan lagi rahasia? Mengapa ia baru tahu?

*****

 

Night, 10.00 PM

Taeyeon masih berdiri di depan pintu ruangan tempat cucunya dirawat. Dengan airmata yang terus menetes memperhatikan L yang sejak tadi tak beranjak dari sana dan menelungkupkan kepalanya di samping tempat pembaringan Lin.

“ Sudah kubereskan semuanya, mulai besok kita bisa memanggil mereka yang tersisa untuk tinggal di istana.”Madame Sunny datang dan menepuk bahu Taeyeon, penyihir nomor empat itu mengangguk.

“…apa dia masih begitu?”Madame Sunny ikut mengintip dari pintu kaca, “…ck, anakmu itu. aku baru tahu orang sejahat dia bisa serapuh ini.”

“ Tolong aku..” ucap Taeyeon memelas, “…baru kali ini ia sangat tertekan. Ia berfirasat buruk tentang buku Rahasia Dunia Luar yang dicuri Namjoo tadi siang.”

“ Aku juga kehilangan buku itu. kurasa dua-duanya jatuh ke tangan yang sama. Mungkin Hyoyeon hanya ingin buku tulisannya kembali.”

“ Bagaimana jika lebih dari itu?”

“ Entahlah. Jangan berpikiran buruk tentang apa yang belum terjadi. Sebaiknya pikirkan Lin, ia juga masalah serius.”

“ Ini yang membuat L putus asa.”Taeyeon semakin sedih, “…kau benar-benar tidak bisa membuat ramuan yang bisa melawan racun di tubuh Lin?”

Madame Sunny menggeleng dengan sangat menyesal, “ Sepertinya Hyoyeon mengeluarkan racun terbaiknya untuk membuat permen kacang itu. sial sekali Lin menyukainya hanya karena permen itu warna warni.”

“ Jika L terus berusaha mengeluarkan racunnya setiap hari agar Lin tetap hidup, L yang akan mati. Makanya malam ini aku melarangnya melakukan itu lagi, dan ia sangat marah.”

“ Lin semakin kurus. Ia sendiri berusaha melawan racun itu. Jika saja penyihir biasa yang menelan racun itu, mungkin akan langsung mati.”

“ Tapi Lin masih terlalu kecil, kita tidak tahu sampai kapan ia mampu bertahan. Bagaimanapun juga ia butuh ramuan obat yang bisa memusnahkan racun itu.”

“ Sayang L tidak bisa membuat ramuan sama sekali. Aku menyesal tidak mampu membuat ramuan yang mempan.”

“ Yeoshin mungkin mampu.”

“ Yeoshin?”

“ L mencintainya karena ia adalah mutiara dalam kegelapan. Ia memang penyihir biasa, tapi ternyata ia ahli ramuan. Dulu hanya itu alasan L menikahinya.”jelas Taeyeon, “…mungkin saja ia bisa membuat ramuan penawar racun itu. apalagi untuk anaknya, ia pasti membuat yang terbaik.”

“ Kau benar, Kim Taeyeon. Tapi dia masih di dunia nyata.”

“ Kurasa ia harus tahu situasi kacau di negeri ini. tapi L sangat melindunginya.”

“ Aku harus meminta L untuk membawa Yeoshin pulang. Bagaimanapun juga L tidak bisa memendam dan menghadapi ini sendirian. Lihat anakmu sekarang? Seorang yang biasanya jahat dan kejam kini tak berdaya seperti orang bodoh.”

“ Bujuk dia, Sunny.”

Penyihir istana itupun membuka pintunya dan menghampiri L yang masih menangis di samping tempat tidur Lin. Lelaki itu tak mampu lagi menahan ketakutannya. Hari ini, satu siswinya kembali hilang dan Namjoo mencuri buku yang ia bawa, membuatnya semakin berfirasat buruk. Keadaan Lin yang tak kunjung sembuh juga membuatnya semakin rapuh.

“ Kau membutuhkan Son Yeoshin.”

“ Ia tak boleh tahu ini semua. Aku tak mau dia menangis lagi.”

Ia masih bersikukuh untuk melindungi dan membiarkan Naeun diam dengan ketidaktahuan di dunia nyata. Meski di satu sisi ia merasa tak sanggup menghadapi situasi ini sendirian.

“ Lin membutuhkan ramuan darinya.”bujuk Madame Sunny pelan, L berpikir.

“ Aku akan memintanya tanpa membuatnya tahu apa yang terjadi.”lelaki itupun berdiri dan meraih sebatang lilin yang ada di meja.

“ Tapi ia akan tetap pulang di hari ke lima belas, kan?”

“ Aku akan melarangnya. Membiarkannya pulang sama saja menyerahkan nyawanya pada Kim Hyoyeon.”

“ Menurutmu apa dia mau membatalkan kepulangannya?”

“ Aku akan memaksa.”

Penyihir nomor dua itu menghilang dan pergi ke atap, Taeyeon masuk dan membiarkan anaknya mengikuti kata hatinya.

***

 

Kediaman Keluarga Son

 

“ Jadi kau berhasil menggagalkan rencana Hyerim dan Krystal? Bagus.”

Sungyeol hanya memutar bola matanya tanda ia masih kesal, “ Kau atau pangeran itu memanggilku disaat yang tidak tepat.”

Hyoyeon tertawa sinis, “ Kau sedang berduaan dengan seorang gadis, kan? Wow. Kukira kau benar-benar gay.

“ Aku mau mengobrol dengannya hanya agar aku tahu tentang Myungsoo. tidak lebih dari itu.”

“ Myungsoo? Gadis yang kau kenal itu dekat dengan Myungsoo?”

“ Hm. Dan dia cemburu pada gadis yang memakai jubah ini.”

Sungyeol mengeluarkan selipat jubah dari dalam bajunya dan melemparnya. Hyoyeon tak mengerti.

“ Jubah siapa ini?”

“ Ini milik Yeoshin!” ucap Dongwoon dan Gain bersamaan saat mencium wangi bunga lily dari sana, “…ini wangi khas uri Yeoshin.”

Mata Hyoyeon memicing, “ Jadi Yeoshin ada di dunia nyata dan bertemu Myungsoo?”

“ Diluar dugaan, bukan?”sahut Sungyeol.

“ Ini pasti ulah L, ia pasti menyuruh Yeoshin ke dunia nyata untuk melindunginya agar aku tidak menyentuhnya. Sial, kenapa aku tidak berpikir sampai kesana.”

“ Memangnya masalah jika Yeoshin ada di dunia nyata?”tanya Dongwoon dan Gain, karena sebenarnya satu sisi mereka merasa lega adiknya sudah terlindungi disana.

“ Masalah. Karena seharusnya ia menjadi salah satu dari tiga yang kusisakan.”

***

 

“ Sudah jam sebelas.”

Naeun masih berguling-guling di atas tempat tidur mewahnya. Ia penasaran dengan tempat ‘kejutan’ yang akan Myungsoo tunjukkan padanya besok, ia merindukan L, ia ingin hari cepat berlalu agar ia bisa cepat pulang, namun ia tak bisa tidur.

Perlahan ia duduk bersandar, meraih gagang telepon di sampingnya.

“ Di Amerika mungkin masih siang, Woohyun oppa pasti mengangkat.”

Namun ia kembalikan lagi gagang berwarna emas itu di tempatnya.

“…eh, tapi aku belum siap bercerita tentang Myungsoo. efeknya akan luar biasa terhadap Chorong sunbae. Mungkin Woohyun oppa juga akan meledak kalau tahu rivalnya hidup lagi.”

Gadis itu mengurungkan niatnya, lalu mengacak-acak rambut indahnya.

“ Sudahlah Son Yeoshin, berhenti memikirkan apapun yang berhubungan dengan Myungsoo. sudah seharusnya kau tidak peduli karena sebentar lagi akan pulang ke Junghwa. Biar saja namja itu menjalani hidupnya tanpa tahu siapa yang membangkitkannya dari kematian..”

Ia kembali berbaring.

“ Sekarang yang kupikirkan hanya L dan Lin. Apa kabar mereka? L jahat, tidak mengirimiku mimpi lagi.”

Gadis itu memejamkan mata indahnya perlahan dan bergumam pelan.

“ Aku akan marah jika tak ada mimpi darimu malam ini, L.”

 

“ Masih mau marah?”

Naeun terkejut, ia menoleh dan seorang lelaki nampak berada di atas tempat tidurnya, tepat disampingnya dengan kepala bersandar pada siku. Ia tersenyum sekilas saat Naeun menyadari kehadirannya.

Begitu cepat. Apa aku sudah masuk ke alam mimpi? Naeun mengedipkan mata indahnya berulang-ulang. Suaminya tertawa kecil dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantiknya, perlahan mendekat dan mempermainkan perasaan istrinya dengan bersikap seolah mau-tidak mau menciumnya.

“ Kita bertemu di atas tempat tidur. Apa yang harus kulakukan padamu?” L menggodanya, membuatnya semakin memerah.

Naeun menarik kerah kemeja hitamnya, menenggelamkannya ke dalam ciuman. Keduanya sama-sama berdesir, kembali merasa seperti pertama kali, terasa kaku namun memabukkan. Sudah seharusnya L sejenak melupakan permasalahannya dan mencari ketenangan di samping Naeun, namun ia tak bisa.

“ Kenapa baru datang sekarang, L songsaenim?” Naeun melepas ciumannya dan bertanya dengan sedikit aegyo dan mengelus lembut tato akar di leher L.

Lelaki itu tersenyum getir dan mengecup kening istrinya itu sekilas, “ Tidak penting membahas kemarin-kemarin. Yang penting sekarang aku datang.”

Keduanya saling bertatapan agak lama, hingga Naeun menyadari sesuatu. Tangan halusnya berjalan pelan menyusuri wajah tampan L dan berhenti di bawah mata elang lelaki itu.

“ Matamu.. kenapa..bengkak?”

Menjawabnya dengan jujur sama saja memberitahu semua kekacauan. L hanya menggeleng pelan.

“ Tidak masalah, kan? Apa ketampananku berkurang?”

“ Tidak. tapi kenapa?”

Lelaki itu tak menjawab, ia pergi dari atas tubuh Naeun dan berjalan keluar dari kamar. Naeun buru-buru bangkit dan mengikutinya. Rupanya L menghampiri bar yang ada di tengah rumah mewah keluarga Nam yang sudah gelap, penyihir tampan itu memilih satu dari wine yang berjajar ratusan di belakang bar. Naeun menunggunya dan berharap tak ada pembantu yang masih bangun saat ini.

“ Maukah kau minum denganku?”

Mwo?”

L kembali dengan dua botol wine, lelaki itu menyodorkan sebotol pada istrinya itu dan mereka kembali ke kamar, keluar dan berdiri di balkon.

“ Woohyun tidak akan protes kan kalau dua botol saja yang hilang?”

“ Ng.. tapi.. kenapa tiba-tiba kau ingin kita..”

“ Minumlah. Tidak usah pakai gelas.”

Meski ragu, Naeun meneguk sedikit botol wine yang ia pegang. Sementara L meminumnya dengan penuh nafsu hingga menyisakan setengah botol dalam satu tegukan, membuat Naeun semakin heran. Apakah suaminya ini sedang frustrasi?

“ Kadar alkoholnya 95%, sudah ya?” Naeun baru saja membaca keterangan yang ada di botol yang L pegang, namun L menjauhkan botolnya.

“ Lebih dari seratus persen pun tidak akan berpengaruh besar bagiku.”

“ Kau tidak pernah minum arak di depan Lin, kan?”

“ Haha, aku masih terlihat seburuk itu?” L tertawa dan merangkul istrinya itu, “…aku hanya minum didepanmu, sayang. Jangan khawatir, Lin akan tumbuh menjadi lelaki yang baik, tidak seperti aku.”

“ Semoga kau tidak berbohong.”

“ Ia sedang sakit, mana mungkin aku bisa bersantai dan mabuk-mabukan didepannya.”

“ Apa? Sakit??”

Sial. Alkohol 95% membuatnya keceplosan. L buru-buru menutup mulutnya.

“…anak kita sakit!? Sakit apa!!?”

“ Tidak.. tidak. aku bercanda.”

“ Aku tidak tuli, L. aku mendengarmu barusan!”

“ Ia hanya demam. Puas?” L terpaksa menjawab seadanya, Naeun merasa tak puas. Meski demikian, ia masuk sebentar dan mengambil satu botol ramuan yang ia simpan dalam tongkat sihirnya sebagai persediaan.

“ Aku tahu pasti lebih dari demam. Jadi kuberikan ramuan penyembuh terbaik yang pernah aku buat.” Naeun menyodorkan botolnya kearah L, dengan mata yang sudah agak berkunang-kunang karena mabuk L menerimanya dan langsung memeluknya dengan linglung.

“ Terimakasih, sayang. Kumohon jangan pulang dulu di hari ke lima belas..”bisik L pelan agar tak membuat Naeun tertohok. Tapi tetap saja..

“ Sekarang apa lagi!? Kau merahasiakan tentang anak kita yang sakit, sekarang melarangku pulang!? Perjanjian hanya lima belas hari aku disini. aku akan tetap pulang!”

“ Aku tidak mau kehilanganmu, jangan pulang dulu sayang.. Kumohon.. disini saja dulu..” L terdengar memelas dalam keadaannya yang semakin mabuk berat. Mata Naeun mulai berkaca-kaca.

“ Ada masalah apa, L? biarkan aku menjadi istri yang berguna untukmu. Jangan pendam semuanya sendirian..”

” Bukankah aku sudah pernah bilang? Tugasmu hanyalah bahagia. Yang berlawanan dengan itu biar aku yang merasakannya.”

“ Tapi pada kenyataannya aku tidak bisa bahagia sendirian tanpamu, tanpa Lin..”

L mengeratkan pelukannya, menangis dalam mabuknya.

“ Seandainya aku bisa menceritakan semuanya. Seandainya.. seandainya aku masih punya perasaan jahat untuk membuatmu menangis, aku pasti menyeretmu juga..”

“ Jahatlah sedikit. Ceritakan saja padaku, kumohon..”

L melepas pelukannya dan menghapus titik-titik airmata yang membasahi pipi Naeun.

“ Kau mengacaukan pertemuan kita. Aku ingin tenang sebentar bersamamu, bukan menangis berdua.”

“ Makanya, ceritakan semuanya padaku.”

“ Jika aku sudah menceritakan semuanya, berjanjilah untuk tidak pulang kecuali aku yang meminta.”

“ Apa? Tidak. itu tidak adil.”

“ Ya sudah. Aku tidak akan cerita, dan aku tidak akan membiarkanmu pulang di hari ke lima belas. Kau akan tahu akibatnya jika berani menentangku.”

L yang jahat dan pemaksa telah kembali. Namun kali ini untuk kebaikannya, karena cintanya. Seharusnya Naeun menyadari hal itu. Tapi ini terlalu sulit. Apa enaknya berbahagia sendirian di tempat yang jauh disaat orang yang ia cintai menghadapi situasi sulit di tempat lain?

“ Aku kira dengan mabuk kau bisa menceritakan semuanya.”ucap Naeun pasrah dan kecewa.

“ Semabuk apapun aku, aku sudah memaksa alam bawah sadarku untuk tidak menceritakan apapun padamu. Hahaha. Aku hebat, kan?”

Sekarang ia benar-benar mabuk. Naeun putus asa, merasa tak bisa menikmati malam dengan L karena rasa penasaran yang semakin menusuk-nusuk kepalanya, lelaki mabuk disampingnya sudah tak bisa ditentang lagi.

“ Kumohon jawab pertanyaanku yang satu ini. satu ini saja..” ucap Naeun pelan, L menoleh kearahnya, menunggu pertanyaannya.

“…Lin sakit apa?”

“ Bukankah sudah kubilang demam?”

“ Pasti lebih dari demam! Sebenarnya dia sakit ap….”

“ Sesi tanya jawab ditutup.”

Naeun menggeram. Harus setertutup inikah L padanya? Ia menyerah dan berbalik, bersiap masuk ke kamarnya.

“ Mabuklah sendiri! Aku membencimu!!”

Dengan tubuh linglung L ikut berbalik dan menahannya, menarik tangannya dan mendorongnya ke balkon, setelah itu mengunci pergerakan Naeun dengan kedua lengannya yang masih kuat.

“ Aku datang untuk mendapatkan ketenangan darimu, tapi kau membuatku semakin kacau. Bisakah kau berhenti memaksa?”

Naeun agak gemetar sekarang, wajah tampan L benar-benar terlihat depresi dan seakan ingin membunuhnya jika ia bertingkah lagi.

“ M..maafkan aku.. L..”

L menghabiskan winenya dan melempar botolnya ke sembarang arah hingga terdengar suara pecahan di bawah balkon. Setelah itu maju dan mendorong punggung Naeun agar mendekatinya. Ia menahan nafas, wangi lily-nya bercampur dengan aroma tajam wine.

L menciumnya keras, kasar, menyakitkan. Kebiasaan lama. Punggungnya semakin membungkuk dan nyaris membuat Naeun jatuh dari balkon jika ia tak meremas lengan kuat lelaki itu. Astaga, sebenarnya dia sedang marah atau apa?

“ Jam berapa sekarang?”tanya lelaki itu datar dan tanpa rasa bersalah meski posisi istrinya sangat terancam sebab sebagian tubuhnya berada di luar balkon.

“ J..jam..jam..setengah..dua belas.”jawab Naeun terbata sembari menggigiti bibirnya yang berkedut kesakitan.

“ Masih sempat. Bercintalah denganku.”

“ A..apa!?”

“ Kau tidak mau tahu betapa parahnya sakit Lin sampai-sampai aku ingin kita membuat pengganti untuknya malam ini?”

Naeun menangkap maksudnya.

Lin sakit parah, L ingin mereka memiliki anak lagi untuk menggantikannya jika ia meninggal. Ini gila.

“ Jangan bergurau, L..”Naeun bersiap untuk menangis lagi, L menangkup wajahnya.

“ Jangan menangis!”bentaknya, meski bibirnya juga bergetar menahan airmata. Ia terlihat lebih rapuh dan lebih hancur.

Dengan sekuat tenaga Naeun menegakkan dirinya dan menghindari balkon, menahan tubuh L yang linglung di bahunya dan masuk ke kamar, membanting tubuh suaminya itu ke atas tempat tidur.

“ Aku tidak bisa bercinta dengan orang mabuk. Lupakan, Lin tidak akan mati. Aku sudah memberikan ramuan terbaik untuknya!”

Penyihir nomor dua itu tersenyum dan cukup tenang sekarang, namun tangannya dengan rewel menarik paksa Naeun agar berbaring dengannya dan membalikkan tubuh istrinya itu agar memunggunginya.

“ Semoga saja..”

Naeun merasakan tangan putih L melingkar di pinggang kecilnya, punggungnya merasakan hangat tubuh lelaki itu sepenuhnya, dan tengkuknya menerima ciuman serta nafas hangat berulang kali.

“…jangan menentangku lagi.”lelaki itu kembali berbisik dan mengecup belakang telinganya lalu jatuh tertidur bersama efek alkoholnya.

Naeun ikut memejamkan matanya dan meremas tangan L kuat-kuat.

 

“ Bisakah waktu berhenti untuk saat ini saja?”

***

 

It’s Day 15.

07.30 AM

 

“ Nam Woohyun! Ada telepon!”

Chorong berdiri sejenak dari kegiatan packingnya pagi itu, meraih satu ponsel mewah dari atas meja yang sejak tadi berdering dan berlari kecil menuju kamar mandi.

“ Astaga. Biarkan saja, nanti aku telepon balik kalau sudah selesai.”dengan tubuh topless Woohyun keluar dari kamar mandinya dan menerima ponsel dari kekasihnya.

Ringtonenya berisik. Angkat saja sekarang!” desak Chorong, Woohyun geleng-geleng kepala dan langsung menyentuh tombol answer.

Yoboseyo?”

“ Nam Woohyun, kau masih di Amerika?”

“ Astaga!” Woohyun mengecek layarnya sebentar, baru melihat siapa yang menghubunginya pagi ini.

“ Siapa?”tanya Chorong tanpa bersuara. Woohyun menyentuh tombol loudspeaker.

“ Masih, songsaenim.”jawab Woohyun sesopan mungkin. Ia tengah berbicara dengan gurunya, Kim Sunggyu. Sementara Chorong menutup mulutnya rapat-rapat.

“ Kenapa lama sekali disana?”

“ Ada banyak yang harus kami urus, kami juga baru dapat tiket pulang besok. Memangnya.. ada apa?”

“ Hah, jadi kau atau Park Chorong tidak menghadiri sidang Kim Haeyeon hari ini?”

“ Oh iya.. sidangnya hari ini.” Woohyun dan Chorong sama-sama baru ingat.

“ Kau hadir kesana?”tanya Woohyun, hingga langsung terdengar tawa misterius sang guru.

“ Tentu saja aku hadir. Ini akan menjadi hari membahagiakan bagiku jika ia divonis bersalah. Hahaha.”

“ Ia tidak terdengar bercanda.”bisik Chorong, Woohyun penasaran.

“ Memangnya kenapa, songsaenim?”

“ Kim Haeyeon sudah menjanjikan sesuatu untukku.”

“ Menjanjikan..apa?”

“ Berdoalah agar dia divonis bersalah dan kau akan tahu apa janjinya untukku.”

Telepon terputus, Woohyun dan Chorong saling bertatapan tak mengerti.

***

 

“ Mobilnya sudah siap, nona Naeun.”

“ Oh, baiklah.” Naeun mempercepat pekerjaannya menyapu halaman rumah yang terdapat beling-beling pecahan botol wine ‘kenangan mimpi semalam’, sementara sang supir membukakan pintu mobil untuknya.

Setelah membuang beling-belingnya, gadis itu merapikan kemeja biru yang dipadu rok jeans pendeknya, kemudian dengan anggun memasuki mobil dan duduk di jok belakang.

“ Apartemen Hapjeongdong.”

“ Baik, nona.”

Ia menepati janjinya untuk menjemput Kim Myungsoo agar lelaki itu membawanya ke tempat ‘kejutan’ yang ia bicarakan kemarin. Meski pikirannya masih melayang pada perlakuan L semalam, ia masih cukup bersemangat untuk mengetahui tempat kejutan apa yang dimaksud oleh sisi baik orang yang mabuk bersamanya semalam.

“ Mungkin sebentar lagi dia muncul.”

Setibanya di depan gedung raksasa apartemen, Naeun menunggu Myungsoo muncul dengan sabar di dalam mobil.

“…bagaimana bisa setelah bangkit dari kematian dia tinggal di tempat sebagus ini..”batin Naeun bertanya-tanya.

“ Apartemen ini huniannya para artis, nona.”sang supir keluarga Nam sedikit mengajak majikannya mengobrol.

Jinjja?

Ne. Hoya dan Minah, yang sedang naik daun itu juga tinggal disini.”

“ Hoya?” Naeun terkejut, mencoba menyambung-nyambungkannya dengan Myungsoo namun pikirannya terlanjur kacau.

“ Maaf membuatmu menunggu lama.”

Sosok lelaki tampan mendadak muncul di jendela mobil, Naeun sedikit terhenyak namun buru-buru membukakan pintunya dan bergeser.

Kim Myungsoo, ia nampak rapi dan terlalu tampan dengan celana jeans hitam dan kemeja linen putihnya hari ini, meski sedikit terlihat lugu karena semua kancingnya terpasang. Jika saja dadanya sedikit terekspos, mungkin Naeun akan merasakan aura L darinya.

Lelaki itu sedikit maju dan membisikkan nama suatu tempat pada sang supir, setelah itu duduk santai di samping Naeun. Gadis itu memperhatikannya tanpa berkedip, raut kerinduan masih nampak pada wajah cantiknya. Rupanya ia masih belum puas bertemu dengan L semalam, jari-jarinya gelisah ingin menggerayangi wajah tampan Myungsoo untuk melepas rasa rindunya.

Tapi ia tahu itu tidak mungkin.

“ Bagaimana kabarmu, nona Son?”tanya Myungsoo ramah dengan senyum manis dan lesung pipinya.

Raut wajah itu, Naeun tidak mendapatkannya dari L semalam. Gadis itu semakin gemas.

“ B..baik. bagaimana denganmu, Myungsoo sunbae?”tanyanya balik dengan gugup.

“ Aku gugup.”jawab Myungsoo jujur, “…aku khawatir kau tidak suka dengan tempat yang akan kita kunjungi.”

“ Kenapa kau berpikir demikian? Belum tentu. Mungkin saja aku suka.”

“ Sepertinya kau tidak akan suka.”lelaki itu menunduk dan sedikit bergetar ketika mobil berhenti di tempat tujuan.

Naeun mendongak kesana kemari setelah turun dari mobil, ia tak menemukan tempat yang indah selain bangunan agak besar yang dipenuhi parkiran mobil serta beberapa motor disana. Myungsoo semakin ragu, namun ia tetap menjalankan apa yang ada dalam benaknya.

“ Ikut aku.” Myungsoo mengulurkan tangannya.

Dan Naeun, seperti biasa, menyambutnya dengan remasan seakan sedang memegang L. Myungsoo memakluminya dan menarik gadis itu memasuki tempat yang dipenuhi parkiran kendaraan tersebut.

Gadis itu heran dengan beberapa mobil polisi yang terparkir disana, dan rasa penasarannya pun terjawab setelah memasuki gedung tersebut.

 

Ini gedung persidangan.

 

“ Kenapa kau mengajakku kesini, Kim Myungsoo?”

*

 

To be Continued

 

Ampun dah ini part panjang banget TT pegel ya bacanya? maaf.. maaf sekali lagi. author hanya ingin menebus kengaretan fanfic ini, hehe. Karena setelah ini author akan kembali fokus dengan kesibukan sebagai mahasiswa baru *cielah*.

Semoga puas dengan part ini! dan sampai jumpa di part berikutnya. Like dan Comment sangat ditunggu! jangan jadi silent readers yaa 🙂

 

Part 4 >>> Secret Page

 

Advertisements

138 responses to “THE PORTAL 2 [ Part 3 : Day 15 ]

  1. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 6 : Destiny] | citrapertiwtiw·

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 7 : Dream] | FFindo·

  3. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 7 : Dream] | citrapertiwtiw·

  4. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | FFindo·

  5. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | citrapertiwtiw·

  6. Rencana Hyoyeon apaan sih?? Terus selain Yeoshin siapa lagi yang akan disisahkan??
    Apa maksudnya Kim Myungsoo mengajak Naeun ke persidangan??
    Semoga saja Krystal gagal menikah dan Lin cepat sembuh. Amiiin

  7. eciiieee… nnt naeun jatuh cinta gak yaa smaa myungsoo xD
    gemessss e.e
    kasih juga si lin masa iya dia bertarung dengan hyeoyeon :3

  8. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s