Who’s A Daddy? — Two

Previous: — Prologue — One

cr: AmmL17 @Cafeposterart

Who’s A Daddy ?

Author :

Youngieomma(@mommyfangirl)

Beta-Reader :

SungRa (@Chaaannie) & Tyasseu (@tyasdp)

Cast :

Evelyn Oh (oc)

Oh Sehun

Wu Yifan

Park Chanyeol

Zhang Yixing

Huang Zitao

— Other

Length : Chaptered || Genre : Drama, Romance, Pregnancy

Disclaimer : Para pemeran dalam Fanfic ini hanya dipinjam untuk keperluan cerita, MOHON MAAF jika ada kata-kata maupun sifat yang bertolak belakang dengan canon.

Rating : PG+18

 

Ide cerita ini di ambil dari Movie Jennifer Lopez berjudul The Back Up Plan dengan beberapa tambahan dari saya.

Terima kasih.

[Who’s A Daddy?]

 

Notes.

Hi, sesuai permintaan para pembaca disini saya akan menjelaskan sedikit tentang Inseminasi. Saya juga bukan anak IPA atau anak kedokteran, hanya saja Inseminasi maupun Bayi Tabung sudah tidak asing di telinga saya mengenai proses atau biayanya karena beberapa teman di perkumpulan ibu-ibu komplek saya hamil karena kedua proses tersebut.

Inseminasi prosesnya seperti pembuahan alami, dimana sperma suami yang di ambil dengan proses masturbasi di masukkan ke sel telur istri menggunakan kateter (selang/tabung). Hal ini bertujuan membantu sperma menuju sel telur yang telah matang sehingga akan terjadi pembuahan. Biasanya, 2-6 minggu sebelum proses Inseminasi calon ibu di minta meminum pil hormonal untuk merangsang terjadinya Ovulasi, setelah 2 minggu proses Inseminasi di lakukan calon ibu harus kembali ke Rumah Sakit untuk mengecek hasilnya.

Inseminasi Buatan berbeda dengan bayi tabung, selain biayanya yang lebih murah, Inseminasi buatan lebih mudah prosesnya di bandingkan bayi tabung yang melibatkan Laboratorium untuk pembuahan.

 

—Two

 

  1. August

Chanyeol tengah memasukkan dua buah mie Instan ke dalam panci berisi Buddae-Jjigae yang sedang ia masak ketika pintu Apartement terdengar di buka. Melirik ke arah pintu, ia mendapati punggung seseorang yang tengah duduk di undakan depan membuka sepatu. Dari gaya rambut serta backpack yang di pakai pemuda tersebut, Chanyeol tidak perlu jadi cenayang untuk mengetahui siapa yang datang.

” Tao? Kau kembali?” Chanyeol bertanya dari dapur dengan suara agak keras.

Zitao tidak menjawab pertanyaan Chanyeol, dia hanya melepas kedua sepatunya, memakai slipper, berjalan dengan sendal di seret, duduk di salah satu kursi konter dapur dan membiarkan kepalanya bersandar di atasnya. Chanyeol menoleh dan terkekeh ketika melihat penampilan Zitao yang sangat kacau, kantung mata dengan lingkaran hitam tebal menghiasi wajah pemuda itu.

” Kau pergi ke Club lagi atau sibuk menyelesaikan tesis terakhirmu?” Tanya Chanyeol, mencoba menggoda Zitao.

Zitao mengerang, menguap dengan mata sayu karena mengantuk.

” Aku pergi ke Club dan kemudian menyerahkan tesis terakhir sialan yang baru saja selesai, aku bahkan belum tidur sejak dua hari lalu..” Zitao mulai mengeluh tentang bagaimana dia membenci segala macam yang menyangkut tentang perkuliahannya. Dia hanya ingin pergi bermain bersama teman-temannya ke Club, menikmati musik, minuman dan juga pergi Shopping membeli beberapa baju bermerk ataupun anting-anting baru serta kacamata kesukaannya.

Chanyeol mengangguk-angguk sambil terus mengaduk Buddae-Jjigaenya. Sesekali menanggapi keluhan Zitao. Sebenarnya, entah Chanyeol maupun kedua Gege nya yang lain sudah sering memperingati si maknae untuk berhenti pergi ke Club dan fokus pada kuliahnya. Zitao sering kali di berikan ceramah singkat oleh Yifan tentang bagaimana dia harus bertanggung jawab pada hidupnya kelak. Yixing juga pernah memperingatkan Zitao untuk berhenti pergi ke Club dimana Chanyeol bekerja dan tidak mengganggu pekerjaan ‘kakak’nya tersebut dengan mabuk berat disana. Hanya saja, Zitao sudah terlalu terbiasa dengan kehidupan malam, dia akan merengek lebih manja dari biasanya jika dalam satu pekan tidak menginjak lantai Club.

Zitao adalah anak kerabat Yifan, kerabat jauh sebenarnya. Ibunya mengirim Zitao ke Korea karena merasa sudah tidak sanggup mengurusinya di Qingdao, beberapa tahun lalu ibu Zitao mengirim pemuda itu ke Korea untuk melanjutkan kuliah serta meminta Yifan untuk menjaganya, berharap anaknya akan berubah sikap lebih dewasa jika berada jauh dari kedua orangtuanya. Meskipun hobinya tidak berubah, tapi setidaknya di Korea Zitao hampir menyelesaikan kuliahnya dan tidak pernah absen memasuki setiap kelas, mengapa? Tentu saja karena dosennya adalah sahabat terbaik Yifan. Mr Choi Siwon.

” Berhenti mengomel, Huang Zitao. Cepat lepaskan seluruh pakaian bau Alkoholmu itu sebelum Yifan ge kembali..” Chanyeol berkata sambil mematikan kompor dan menutup panci berisi masakannya tersebut.

” Memangnya, Yifan ge kemana?” Zitao bertanya, matanya mengekor Chanyeol yang sekarang sudah duduk di sofa menyalakan televisi.

” Menjemput Yixing ge yang kembali dari Changsa malam ini..” Jawab Chanyeol.

Mata Zitao membulat, tanpa berkata apa-apa lagi dia segera melesat ke dalam kamar, menyimpan Backpacknya dengan sembarang dan bergegas keluar kembali menuju kamar mandi.

Zitao sedikit takut dengan sikap Yifan yang tegas. Yifan termasuk pria cerewet di antara mereka, meskipun jika berhadapan dengan orang lain pria itu lebih cenderung mendengarkan di banding menyanggah maupun menimpali obrolan. Zitao dan Chanyeol sering kali mendapat omelan dari Yifan, keduanya termasuk tipe jorok untuk urusan membersihkan rumah. Terkadang Yixing juga menjadi sasaran empuk Yifan untuk mengomel, karena setiap pagi pria itu akan kehilangan barang-barang di dalam kamar mandi pribadinya. Seperti pasta gigi, toothbrush ataupun shampoo. Dan, tidak ada yang tahu kemana semua peralatan mandinya menghilang.

Meskipun omelan Yifan terkadang membuat Chanyeol, Yixing dan Zitao kesal, namun mereka tetap bergantung pada pria itu. Jika Yifan berlibur ke Vancouver untuk bertemu dengan ibunya yang tinggal seorang diri disana, ketiga pria itu akan merindukannya setengah mati, merindukan omelan, kopi pagi hari serta sarapan ala Amerika yang selalu Yifan siapkan. Tapi, Yifan akan membenci kepulangannya setelah liburan karena berarti dia akan membersihkan Apartement lebih lama dari biasanya karena tumpukan sampah yang di tinggalkan oleh Chanyeol, Yixing dan Zitao.

Poin utama ketiga pria itu merindukan Yifan sebenarnya adalah orang yang membersihkan rumah tidak ada, sampah menumpuk, bau dan lalat serta nyamuk bermunculan.

Chanyeol, Yixing dan Yifan sudah hidup bersama sejak keluar SMA. Mereka berteman sejak SMP karena tergabung di dalam band indie yang cukup terkenal saat itu, meskipun usia mereka berbeda, ketiganya berteman dengan cukup baik selama ini. Empat tahun lalu, Zitao bergabung dengan mereka bertiga di dalam Apartement yang memiliki tiga kamar tersebut. Si Maknae tidur bersama Chanyeol sedangkan kedua Gege nya memiliki kamar pribadi serta kamar mandi masing-masing di dalam ruang tidur mereka.

Zitao keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, dia berjalan menuju dapur dan membuka kulkas, matanya berkedip beberapa kali merasakan hawa dingin menerpa wajahnya. Rasanya segar. Dia mengambil sebotol air mineral dan membukanya, menenggak habis isinya dengan cepat, bersamaan dengan pintu Apartement yang terbuka.

Chanyeol melirik ke arah jam dinding, pukul 11 malam. Kedua Gege nya kembali.

” Kenapa lama sekali?” Tanya Chanyeol, berjalan mendekat ke arah Yixing yang tengah duduk di undakan, membuka sepatunya.

” Yifan tersesat..” Jawab Yixing, suaranya terdengar teredam karena memakai masker.

Yifan mendengus, menjitak kepala Yixing dan berlalu menuju dapur, membuat Zitao menyingkir dari depan kulkas mempersilahkan pria tinggi itu mengambil alih.

” Xing Tou, kurasa kau perlu memakai kalung dengan tag nama, alamat dan nomor teleponku, Chanyeol ataupun Zitao..” Yifan membuka mulutnya, berbicara dengan nada menyindir pada Yixing yang sekarang sudah memakai slipper Keroppi kesukaannya dan mengambil botor air di tangan Yifan, menenggak isinya.

” Kau kira aku seekor anjing?” Ujar Yixing, Chanyeol dan Zitao terkekeh di sofa depan televisi.

” Aku bosan denganmu yang selalu melupakan arah jalan pulang dan berakhir di kantor polisi.. Tidak bisakah kau mengingat rutenya dengan baik?” Yifan kembali berkata, membuka panci di atas kompor, menatap Buddae-Jjigae di hadapannya dan mulai mengambil mangkok serta menyendokkan isinya ke dalam. Dia lapar, sejak pukul empat sore dia belum memakan apapun selain sepotong roti kering di Cafenya.

” Aku hanya bingung dengan nomor bis yang harus di naiki..” Jawab Yixing, melepas Backpack dan menaruhnya di pojok dapur, membawa mangkok, melakukan hal yang sama seperti Yifan. Keduanya duduk di konter dapur, menyantap makan malam yang terlambat.

” Naik taksi saja kau tetap tersesat, Ge..” Zitao berkomentar, Yixing meliriknya.

” Tidak ada yang bertanya pendapatmu, panda..” Ujarnya, membuat bibir Zitao maju beberapa senti karena kesal. Chanyeol tertawa, mengacak rambut cepak berwarna perak milik Zitao.

” Tao, kau sudah menyelesaikan tesismu? Kudengar dari Mr Choi kau telat menyerahkannya?” Pertanyaan Yifan membuat urat-urat Zitao menegang seketika, menelan ludahnya bulat-bulat. Sebenarnya, dia sudah menyelesaikan tesisnya dengan sangat baik dan hanya perlu menunggu keputusan Mr Choi atas kelulusannya. Hanya saja, setiap kata-kata yang di lontarkan dari mulut Yifan bisa membuat Zitao dehidrasi seketika.

” Dia sudah menyelesaikannya, ge, dia tidak tidur sampai dua hari karena berusaha menuntaskan tesis terakhirnya..” Chanyeol menjawab pertanyaan Yifan yang sebenarnya di tujukan pada Zitao, Chanyeol tahu Zitao akan tergagap menjawab pertanyaan Yifan dan berakhir di ceramahi oleh pemuda kurus tinggi tersebut. Terkadang, Yifan tidak mempercayai segala ucapan si Maknae.

” Aku akan menelpon Mr Choi untuk memastikannya. Jika kau berbohong, kau tahu apa akibatnya, Huang..”

Dan Zitao kembali menelan ludahnya dengan kasar. Dia memang tidak bisa menjawab setiap pertanyaan yang kakak sepupunya itu lontarkan, dia terlalu takut pada Yifan, dia juga sedikit takut pada Yixing. Satu-satunya orang yang tidak dia takuti hanyalah Park Chanyeol.

” Ngomong-ngomong, bagaimana dengan sperma kami yang kau pinta minggu lalu?” Yixing bertanya dengan santai sambil menyeruput mie di dalam mangkuk, pertanyaan yang membuat Yifan mendadak tersedak potongan Ham di tenggorokannya dan Chanyeol menyemburkan teh yang tengah ia minum.

Tidak ada seorangpun yang mau tahu kemana berakhirnya sperma tersebut, sperma yang mereka ‘paksa’ keluarkan hanya demi keinginan seorang Huang Zitao. Chanyeol dan Yifan memutar kedua bola matanya. Kesal karena tiba-tiba saja Yixing menyinggung sesuatu yang tidak ingin mereka dengar lagi bahkan mengingatnya pun tidak sudi. Jika bukan karena si raja merengek Zitao meminta mereka dengan wajah kasihan dan mengatakan bahwa itu adalah salah satu tugas akhir untuk materi perkuliahannya, Chanyeol maupun Yifan tidak akan melakukan hal-hal bodoh seperti itu dengan sengaja.

Yifan dan Chanyeol tidak akan pernah berani melangkah masuk ke Rumah Sakit yang sama untuk kedua kalinya, keduanya yakin beberapa perawat mengenali wajah mereka. Menampung sperma di dalam sebuah tabung kaca bukanlah hal yang menyenangkan tentu saja, terlebih lagi ketika kau harus menyerahkannya kepada seorang perawat perempuan yang usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan Yifan. Itu adalah pengalaman memalukan yang tidak ingin Yifan ataupun Chanyeol ingat lagi, tapi secara tiba-tiba Yixing kembali menyinggung hal itu membuat gejolak mual di perut Yifan begitu terasa karena malu mengingat momen-momen menjijikan di dalam ruangan kecil tersebut.

” Aku sudah menyerahkannya pada dokter pembimbingku di Rumah Sakit..” Jawab Zitao, bersandar pada sofa dan menguap, menghalau lelah yang menggerogoti tubuhnya, terlebih pengaruh Alkohol yang masih membuat pikirannya sedikit tidak bisa di ajak kompromi.

” Menyerahkannya? Untuk apa?” Yifan bertanya, sesungguhnya dia tidak benar-benar mengetahui apakah itu memang untuk tugas akhir yang Zitao sebutkan atau bukan.

” Inseminasi, seseorang membutuhkan sperma berkualitas untuk calon bayinya..”

” APAA????!!!!!” Yixing, Yifan dan Chanyeol mengeluarkan suara cukup keras, mengembalikan kesadaran Zitao yang kini membeku di tempatnya. Dia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan kebenarannya, seharusnya dia tetap merahasiakan hal itu kepada ketiganya. Kemudian Yifan mendekat padanya, di ikuti Yixing, dahi Chanyeol berkerut, ketiga kakaknya menagih penjelasan rinci mengenai kemana sperma mereka pergi.

//

Chanyeol tidak pernah merasa sekesal ini sebelumnya, dia sangat geram ketika kembali mengingat pengakuan yang terlontar dari mulut Huang Zitao semalam. Si bungsu menyebalkan yang menjebak ketiga kakaknya hanya untuk mengambil keuntungannya sendiri.

Semalam Zitao tanpa sadar mengatakan sesuatu tentang Inseminasi, sebenarnya Chanyeol, Yixing maupun Yifan tidak benar-benar mengetahui apa itu Inseminasi hanya saja sesuatu itu pasti buruk ketika Zitao mengatakan tentang seseorang yang membutuhkan sperma berkualitas. Dan, dugaan Chanyeol benar ketika Zitao menjelaskan apa itu Inseminasi. Mengingat kembali penjelasan Zitao, Inseminasi ternyata berbeda dengan Bayi Tabung namun keduanya memiliki kesamaan yaitu memberikan kesempatan untuk seseorang yang ingin mempunyai seorang bayi dengan bantuan dokter.

Zitao mengatakan dia melakukan hal itu karena Dokter pembimbing memintanya mencari tiga sperma dari orang-orang yang memiliki kepribadian dan latar belakang baik dengan syarat mereka haruslah seseorang yang memiliki tinggi badan melebihi orang-orang Asia pada umumnya, berbakat dan juga tampan. Zitao terpaksa melakukan hal ini kepada ketiga gege nya karena tergiur sejumlah uang yang Dokter pembimbing tawarkan padanya, seperti yang sudah ketiga kakaknya tahu, ibu Zitao—Nyonya Huang Liu— telah menon aktifkan kartu kredit milik putranya tersebut selama enam bulan terakhir. Beberapa bulan lalu, Zitao dan teman-temannya menghabiskan hampir tiga puluh juta Won hanya untuk berbelanja serta melakukan sebuah pesta di Jeju-do, hal-hal seperti ini luput dari pengawasan Yifan sehingga pria itu beberapa kali mendapat omelan panjang dari Nyonya Liu. Akibatnya, kartu kredit Zitao di non aktifkan dan pemuda itu kesulitan mendapatkan uang untuk pergi ke Club ataupun berbelanja barang-barang bermerk kesukaannya.

” Dokter Shin membayarku delapan ratus dollar untuk tiga sperma dan aku sudah menghabiskan uangnya selama seminggu ini..” Ujar Zitao semalam, membuat ketiga gege nya sangat marah dengan kelakuannya.

Yifan mengomel sepanjang malam, pria itu mengatakan bahwa hal-hal tersebut ilegal untuk dilakukan. Apa yang akan mereka lakukan jika Inseminasi itu berhasil dan seorang wanita meminta pertanggung jawaban atas bayi yang di kandungnya suatu hari nanti? Atau mendadak ada seorang pria yang mengaku sebagai suami wanita yang memakai sperma mereka dan menyangka bahwa entah Yifan, Yixing atau Chanyeol berselingkuh dengan istrinya? Dugaan-dugaan buruk terlontar dari mulut Yifan sepanjang malam sampai Zitao menangis di sofa karena merasa sangat bersalah.

Yixing mengeluarkan ultimatum pada Zitao supaya tidak keluar rumah meskipun itu hanya pergi ke kampus, Yifan mengatakan bahwa dia akan berbicara pada Mr Choi Siwon untuk menunda kelulusan anak itu. Zitao sedang di hukum karena kelakuannya dan dia sangat menyesal mengenai hal tersebut. Tapi, seberapapun dia merasa menyesal sperma-sperma yang mungkin telah di pakai oleh si Dokter tidak akan pernah bisa di tarik kembali, karena itulah Chanyeol merasa kesal terlebih dia tidak memiliki kekuasaan apapun untuk menghukum si bungsu.

Chanyeol hanya bekerja sebagai seorang Cleaning Service pada pagi hari sampai petang di sebuah Bank yang ada di pusat kota Seoul dan menjadi seorang bartender pada sebuah Club malam sejak pukul delapan sampai dua pagi. Gajinya pas-pasan hanya untuk makan dan ongkos bis serta membayar hutang yang menjeratnya selama dua tahun terakhir. Tidak seperti Yifan yang memiliki banyak koneksi dan dengan mudah menggunakan orang-orang tersebut untuk melakukan hal-hal untuk menghukum Zitao ataupun Yixing yang memiliki kepribadian menakutkan ketika marah, Chanyeol hanya mendengus kesal ketika Zitao menyelesaikan kalimatnya malam kemarin. Dia tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk melampiaskan kemarahannya.

” Chanyeol, dimana mawar kuningku?” Sebuah pertanyaan menginterupsi kegiatan Chanyeol di pagi hari, Yifan melongok ke dalam kamar mandi ketika pemuda itu tengah menuntaskan ‘panggilan alamnya’, ada kecanggungan yang tercipta beberapa detik, sampai Chanyeol menjawab pertanyaan Yifan dengan pelan, masih dengan rasa terkejut.

” Aku simpan di samping kulkas, dalam vas besar..”

Yifan mengangguk, kemudian menutup pintu kamar mandi, namun beberapa detik kemudian pria itu mengoceh di luar, memprotes betapa joroknya Chanyeol karena tidak menyiram kotorannya secara berkala, kamar mandi menjadi bau seluruhnya.

” AKU TIDAK MENYURUHMU MASUK KESINI!” Chanyeol memekik dari dalam kamar mandi, kesal.

Chanyeol memang sudah sangat lama tinggal bersama dengan Yixing dan Yifan namun terkadang dia masih belum terbiasa mendengar beberapa protes yang Yifan lontarkan ataupun kegiatan Yixing yang bertanya dimana peralatan mandinya pada pagi hari. Namun, Chanyeol merasa bersyukur kepada dua orang tersebut, setidaknya selama dua tahun terakhir dia dibebastugaskan untuk ikut membayar Apartement tersebut karena hutangnya yang menumpuk secara mendadak.

Yifan memiliki sebuah Cafe dengan tema Galaxy yang sering Yixing bilang seperti Cafe khusus anak-anak freak penyuka UFO. Pendapatannya sudah sangat stabil untuk tiga tahun terakhir semenjak pembukaannya, sedangkan Yixing semenjak keluar SMA telah di dapuk oleh sebuah perusahaan musik besar untuk menjadi seorang composer dengan penghasilan yang fantastis karena setiap lagu yang ia ciptakan meledak di pasaran. Kedua sahabat Chanyeol telah melangkah jauh melebihinya, sedangkan dia tetap di tempat, menjadi seorang Cleaning Service dan juga bartender.

” Kenapa pagi-pagi kalian berdua sudah sangat ribut?” Tanya Yixing ketika Chanyeol telah sangat rapi berpakaian, duduk di konter dapur mendengarkan Yifan yang masih mengomel tentang kebohongan Zitao sambil menyiapkan sarapan.

” Aku masih kesal dengan kelakukan Zitao karena pengakuannya semalam..” Jawab Yifan, membalik pancake di fry-pan nya. Yixing berjalan menuju kulkas, membuka dan mengambil sebotol air minum, menutup kulkas, ia berjalan ke arah Chanyeol sambil menyisir rambut yang acak-acakan dengan jari jemarinya.

” Berhenti mengomel, kau kan sudah memberinya hukuman..” Ucap Yixing lagi, menanggapi omongan Yifan barusan.

” Aku masih kesal tentu saja karena dia melakukan hal ini hanya demi uang, serius. Tidak bisakah dia berubah hanya sebentar? Hidupnya tidak melulu tentang uang dan juga Club malam, alkohol maupun barang-barang bermerk!” Yifan mengoceh sekali lagi, membagikan piring berisi pancake dengan madu di atasnya dan beberapa buah berry mengelilingnya. Sarapan ala Amerika yang selalu mereka rindukan ketika Yifan tidak ada di rumah.

” Kukira itu cukup membuatnya berpikir lebih dewasa untuk lain kali, Ge..” Chanyeol berkomentar sebelum menjejalkan pancake ke dalam mulut dan mengunyahnya.

” Sudah, hentikan amarahmu mengenai hal itu Yifan, seperti kata Chanyeol semalam bagaimanapun kita memarahi Zitao sperma-sperma itu tidak akan pernah kembali..” Yixing berkata dengan bijak kali ini, mengunyah berry.

Yifan mendengus, duduk di sebelah Chanyeol dan memakan pancake di piringnya sendiri.

” Ah, ngomong-ngomong Ge, aku tidak membayar mawar kuning di Filibert Flower Shop kemarin..” Chanyeol mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

” Oh, tidak apa-apa, kau bilang padanya aku yang menyuruhmu kan?” Tanya Yifan lagi. Chanyeol mengangguk.

” Kau masih membeli mawar kuning untuk cafemu?” Yixing ikut bertanya, Yifan menjawab dengan anggukan ringan dan memotong pancake di piring sebelum memakannya.

” Ah! Ge, wanita penjaga Flower Shop itu sangat cantik.” Ujar Chanyeol, tersenyum ketika otaknya menampilkan wajah perempuan itu semalam.

” Evelyn? Dia bukan penjaga, dia pemilik Filibert Flower Shop..”

Chanyeol menoleh dengan mata membulat penuh.

” Benarkah? Kupikir pemilik Flower Shop hanyalah orangtua yang tengah menikmati masa pensiun. Tapi, sepertinya perempuan bernama Evelyn itu bukan orang Korea asli..”

Yifan mengangguk.

” Kudengar dia pindah bersama adiknya delapan tahun yang lalu dan membuka Flower Shop sebagai sumber penghasilannya. Dia dari Amerika, ayahnya seorang pria Korea keturunan Italia..” Yifan menjelaskannya dan Chanyeol mengangguk-angguk mendengarkan.

” Kau sudah berlangganan cukup lama dengannya?” Tanyanya sekali lagi.

Yifan terdiam sebentar, memberi jeda untuk menjawab pertanyaan Chanyeol. Yixing melirik Chanyeol, dan senyum jahil menghiasi wajahnya seketika.

” Sepertinya kau tertarik dengan perempuan itu..” Yixing berkata, wajah Chanyeol memerah dengan segera dan tawa menyeruak dari bibir Yifan serta Yixing, mereka mulai menggoda Chanyeol yang salah tingkah.

” Hentikan menggodaku!” Chanyeol setengah memekik dengan wajah masih memerah pada Yixing dan Yifan yang masih tertawa.

” Ya, Park Chanyeol! Tidak apa-apa jika kau memang tertarik padanya, aku tahu selama dua tahun terakhir ini kau sama sekali tidak memiliki seorang kekasih..” Yixing berkata, beranjak dari kursi untuk menaruh piring di wastafel.

Chanyeol mendengus, menatap sebal pada senyuman Yixing yang di lemparkan padanya, mata jahilnya begitu menyebalkan. Dia bukannya tidak laku atau tidak di sukai oleh perempuan, hanya saja, sekarang Chanyeol sedang tidak ingin menjalani hubungan dengan perempuan manapun. Sejujurnya, dia cukup trauma untuk memulai hubungan lagi karena di tipu oleh orang yang sudah sangat ia cintai, menjalani hubungan cinta hampir tujuh tahun dan di khianati begitu saja dengan hutang-hutang menumpuk atas namanya.

Chanyeol beranjak dari kursi, meninggalkan piring yang kosong dan berlalu pergi untuk memulai aktifitasnya bekerja. Setidaknya, dia harus merasa giat bekerja untuk segera menyelesaikan hutang-hutang tersebut. Itu tanggung jawabnya sekarang.

 

[ Who’s a Daddy? ]

 

  1. August

Yixing menatap sekeliling, keningnya berkerut, peluhnya mulai menetes, udara musim panas membuat sleeveless putih yang di kenakannya basah. Menengok ke kanan dan ke kiri, Yixing berdecak. Dia tidak tahu sedang berada dimana sekarang, membenarkan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya ia kembali berjalan, menyusuri pertokoan.

Tadi pagi seperti biasa Yixing di antar oleh Yifan ke Perusahaan Musik tempatnya bekerja untuk mengabarkan kepulangannya dari Changsa, ia sudah siap untuk kembali bekerja setelah mendapat libur hampir empat hari, itu benar-benar rekor hari libur terpanjang yang pernah di berikan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Begitu sampai ke tempat kerja, Yixing langsung mendapat sambutan dari produser musik, menghadiri rapat, dan berbicara tentang pekerjaan yang akan di mulai pada akhir minggu bulan Agustus.

Salah seorang idol di perusahaannya akan membuat album Solo, Yixing di minta membuat empat lagu untuk menjadi lagu utama dalam album tersebut. Kemudian setelah menyelesaikan urusan pekerjaannya Yixing berniat untuk mampir ke Cafe Yifan, setidaknya Green Tea Latte di Cafe tersebut bisa membantu moodnya naik lagi meskipun suasana Cafe Yifan menyebalkan menurut Yixing karena wallpaper antariksa nya tersebut. Tapi, rencananya berubah sejak turun dari bis bernomor 28, dia sudah berjalan kira-kira selama 45 menit dan Yixing tidak juga menemukan Cafe Yifan. Seingatnya Cafe Yifan berjarak satu blok dari halte, berada di persimpangan jalan lampu merah dengan tulisan besar GALAXY Cafe.

Melirik ke arah jam tangannya, ini sudah mulai pukul 2 siang itu berarti perhitungannya tentang menit pun salah, setidaknya dia sudah berjalan mengelilingi blok-blok tersebut selama tiga jam. Baterai ponselnya habis, dia tidak menemukan telepon umum dimanapun dan Yixing merasa kehausan, di tambah lagi sekarang ia lapar, lengkap sudah penderitaannya. Yixing menghela napas panjang, dia seperti sedang mendaki puncak piramida di mesir, wajahnya berubah merah karena hawa panas yang menerpa. Berjalan lagi, Yixing menemukan toko bunga.

Berpikir,

Berpikir,

Dia masuk ke dalamnya, sambil berharap penjaga toko bunga mau berbaik hati membiarkannya mengisi ulang baterai agar Yixing bisa menelepon Yifan serta meminta pria itu menjemput. Sepertinya, dia tersesat.

” Permisi..” Yixing berkata dengan menaikkan volume suaranya sedikit, melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko bunga, udara sejuk menyambutnya. Ah, dia bagaikan berada di pegunungan setelah berjalan jauh melewati padang pasir.

Yixing berjalan mendekat ke arah meja kasir, melongok ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapapun, toko bunga itu terlihat sepi. Berteriak sekali lagi, Yixing mendengar bunyi debuman keras dari belakang toko, berpikir sesuatu terjadi, dia berlari masuk ke belakang toko. Yixing terkejut ketika mendapati berapa banyak pot-pot bunga besar maupun kecil berjejer rapi disana, tertata dengan rapi, suasananya sangat sejuk seperti di dalam hutan dengan warna-warni bunga.

” Aw..” Rintihan seorang perempuan membuat Yixing menoleh ke kiri, dia mendekat dengan perlahan, mengamati perempuan yang sedang berjongkok sembari memegangi pergelangan kakinya.

” K-kau baik-baik saja?”

Perempuan itu menoleh dan terkejut melihat seorang pria berada di depannya dengan Sleeveless putih, hoodie abu-abu, backpack coklat merk terkenal dan sebuah kalung perak yang melingkar di lehernya.

” A-ah, anda ingin membeli bunga? Maaf, aku tidak mendengar seseorang memanggil dari depan..” Perempuan itu berkata, berdiri di depan Yixing.

Yixing terdiam sesaat, kemudian dia mengerti. Perempuan itu mungkin penjaga toko bunga ini.

” Ah, ya.. Kau baik-baik saja? Aku mendengar bunyi debuman keras di depan tadi..” Tanya Yixing.

” Ya, kurasa aku baik-baik saja. Aku hanya menjatuhkan pot bunga ini setelah mencoba memindahkannya..” Jawab perempuan itu lagi, menunjuk pot bunga besar yang sekarang tidak jelas lagi bentuknya karena pecah, tanah berserakan, tapi bunga Daffodil yang berada di tangan perempuan itu terlihat utuh dan keadaannya baik-baik saja.

” Kau menyelamatkan bunganya?” Yixing berkata, giliran ia menunjuk bunga di tangan perempuan itu.

” Ah, ya, bodoh bukan? Padahal yang mahal adalah potnya..” Ucap perempuan itu sambil tertawa kecil. Yixing mengangguk-angguk, tersenyum, menampilkan lekukan di pipinya.

” Kalau begitu aku akan menunggu di luar, sepertinya kau masih punya pekerjaan untuk menanam kembali bunga itu di pot yang baru..”

Perempuan itu mengangguk, dan berkata pada Yixing untuk menunggunya selama lima menit. Yixing meninggalkan perempuan itu sebentar, keluar dari toko bunga, menengok ke kanan dan ke kiri ia menemukan Apotek tepat di samping toko bunga tersebut. Beruntung.

Perempuan itu keluar dari kebun belakang dan tersenyum pada Yixing, membuka sarung tangannya dan duduk di meja kasir.

” Anda menunggu lama?” Tanya perempuan itu. Yixing menggeleng, mendekat ke arahnya dan menyerahkan plastik berwarna putih. Kening perempuan itu berkerut.

” Kulihat pergelangan kakimu berdarah, sepertinya terkena pecahan pot. Itu mungkin tidak parah, tapi kalau di biarkan akan terkena infeksi apalagi jika bakteri di tanah masuk ke lukamu..”

Perempuan itu terdiam sebentar kemudian terkekeh setelah menyadari pria di depannya menyerahkan seplastik obat antiseptik untuk pergelangan kakinya.

” Terima kasih banyak, tuan—”

” Zhang Yixing..” Yixing berkata, tersenyum, kembali menampilkan lekukan cantik di pipinya.

Perempuan itu mengangguk.

” Tuan Zhang..”

” Dan kau?” Yixing bertanya, perempuan itu mengerjap.

” Evelyn, Evelyn Oh..” Jawabnya dan keduanya saling tersenyum sesaat.

Evelyn meminta izin untuk membersihkan lukanya terlebih dulu setelah sebelumnya sempat berdebat dengan Yixing siapa yang akan membasuh lukanya. Yixing ingin membantu namun Evelyn menolaknya, membelikannya obat antiseptik sudah lebih dari cukup, lagipula mengobati pergelangan kaki seseorang di pertemuan pertama bukanlah ide yang bagus bagi Evelyn. Jadi, Yixing membiarkan perempuan itu membasuh luka dan memberikannya antiseptik sementara ia tetap duduk di pojok ruangan, menikmati udara sejuk di toko bunga tersebut.

” Anda ingin membeli bunga apa?” Evelyn keluar dari salah satu pintu di sebelah meja kasir, Yixing sempat terkejut, padahal sebelumnya Evelyn masuk ke pintu yang tersambung dengan kebun belakang.

” Ah, itu, sebelumnya boleh aku mencharge ponselku?” Yixing berdiri, merogoh saku celana untuk mengeluarkan ponselnya.

Evelyn terdiam menatap ponsel Yixing.

” Begini, aku ingin mampir ke Cafe temanku, sayangnya aku tersesat sampai kesini.. Baterai ponselku habis dan aku benar-benar tidak hapal nomor ponselnya..”

Evelyn terkekeh, mengangguk, mengambil dengan sopan ponsel Yixing dan kembali menghilang di balik pintu.

” Sepertinya anda bukan orang Korea..” Evelyn berkata.

” Ya, aku berasal dari China, tepatnya di Changsa..”

Evelyn keluar dari pintu, duduk di meja kasir menatap Yixing yang kini duduk lebih dekat dengannya. Mereka hanya terhalang meja kasir.

” Wah, anda pasti sudah lama berada di Korea. Bahasa Korea anda terdengar bagus..” Ucap Evelyn. Yixing mengangguk, tersenyum kikuk. ” Sepertinya anda tidak pernah berjalan-jalan, buktinya anda sampai tersesat..” Evelyn melanjutkan ucapannya.

” Aku selalu tersesat, mungkin ini yang di sebut buta arah..” Yixing menanggapi ucapan Evelyn.

Evelyn terdiam, memproses ucapan Yixing dan kemudian tergelak tanpa henti. Yixing menatapnya. Perempuan itu sangat cantik ketika tertawa. Yixing, tidak pernah memandangi seorang perempuan berlama-lama, dia hanya selalu memandangi tumpukan partitur. Dia belum pernah lagi berbicara dengan seorang perempuan setelah empat tahun, dia belum pernah merasakan getaran lagi dengan seseorang setelah empat tahun. Hanya saja, perempuan yang baru di temuinya ini terlihat istimewa.

” Maaf, maaf, apakah aku keterlaluan?” Evelyn mencoba menghentikan tawanya ketika melihat ekspresi di wajah Yixing. Pria itu menatapnya dengan lekat.

” Ah, tidak, tidak apa-apa.. Teman-temanku juga selalu menertawakanku..” Yixing mencoba memecah kecanggungan yang mendadak terasa atmosfernya. Evelyn mengangguk.

” Lalu, apa nama Cafe teman anda? Mungkin aku bisa mengunjukannya? Aku mengenal daerah sini dengan sangat baik..” Evelyn berkata dengan senyum, Yixing menatapnya.

” Galaxy, namanya Galaxy Cafe.. Pemiliknya temanku, Wu Yifan atau mungkin orang-orang disini memanggilnya Kris?”

” Ah! Aku tahu, aku mengenal Kris.. Dia sering kemari untuk membeli dua puluh tangkai mawar..”

” Apakah ini Filibert Flower Shop?” Tanya Yixing kemudian.

Evelyn mengangguk.

” Bagaimana anda tahu?”

Dan Yixing hanya menampilkan lesung di pipinya tanpa menjawab pertanyaan Evelyn. Evelyn menawarkan Yixing untuk bersama-sama pergi ke Cafe Yifan, kebetulan Evelyn akan tutup lebih cepat hari ini karena kondisinya sedang tidak bagus beberapa hari ini dia selalu merasa lelah. Jadi, Yixing menyetujuinya. Sepanjang perjalanan menuju Cafe Yifan, Yixing mengobrol berbagai macam hal dengan Evelyn. Seperti yang Yifan pernah ceritakan, Evelyn merupakan pribadi yang menarik, berbagai topik obrolan keluar dengan sendirinya dari bibir perempuan itu, seperti yang Chanyeol katakan, Evelyn sangat cantik. Mungkin karena dia seorang foreign? Dia langsing, dengan tinggi 173cm, kulitnya tidak terlalu putih, matanya bulat dengan bibir yang tipis dan lebar. Evelyn memiliki pesonanya sendiri.

Evelyn bercerita tentang bunga-bunga yang dia sukai, bagaimana dia bertemu dengan para pelanggan yang memesan bunga, dari bunga untuk hari-hari bahagia sampai bunga untuk kematian. Evelyn juga menunjukkan pada Yixing bagaimana caranya agar dia tidak tersesat.

” Ini mungkin bukan cara paling bagus, tapi cukup efektif agar anda bisa mengingat tempat yang akan anda kunjungi. Lihat papan iklan lipstik itu? Perempuan yang menjadi modelnya adalah Sandara Park dari girlgroup 2NE1 kudengar papan iklannya akan bertahan sekitar dua tahun lagi dan hanya berada di jalan ini. Para supir taksi mengenal papan iklan itu, jadi jika anda ingin pergi ke Cafe lagi kurasa anda bisa mengatakan pada supir taksi untuk pergi ke papan iklan itu..”

Yixing mengangguk-angguk. Evelyn menjelaskan jika papan iklan itu berada di pertengahan jalan antara tokonya dan Cafe milik Kris. Sehingga jika Yixing tersesat dia bisa mencari toko bunga Evelyn, dan Evelyn akan mengantarnya sekali lagi. Yixing terkekeh dan berkata bahwa ia akan melakukan hal itu lagi jika tersesat. Mereka berjalan hampir dua puluh menit dan berpisah di ujung blok, Evelyn menyerahkan dua puluh bunga mawar kuning yang di bungkus kertas pada Yixing dan meminta Yixing menyerahkannya pada Yifan.

” Ge!” Yixing masuk ke dalam Cafe tersebut dengan senyum mengembang di wajahnya. Yifan mengerenyitkan dahinya, terkejut akan kehadiran Yixing.

” Kau kemari? Tidak tersesat?” Tanya Yifan.

Yixing mendengus, menyerahkan bunga mawar kuning itu pada Yifan. Yifan mengambilnya dengan wajah kebingungan.

” Berikan aku secangkir kopi dingin atau apapun itu.. Aku sangat haus!”

” Kau membeli bunga ini untukku?” Yifan bertanya lagi, menyuruh salah satu pegawainya membuatkan Green Tea Latte untuk Yixing.

” Aku tersesat! Selama hampir tiga jam lebih berjalan mengeliling area pertokoan di daerah sini. Untungnya aku bertemu dengan Evelyn Oh.. Dia mengatakan untuk menyerahkan bunga itu padamu Ge, dia tutup lebih awal hari ini..”

” Kenapa? Dia sakit?”

Yixing melirik Yifan.

” Kau tertarik juga padanya?”

” Juga?” Yifan melirik Yixing.

” Setelah Chanyeol tertarik pada perempuan itu kau merasa tertarik juga?”

Yifan mendengus, menjitak kepala Yixing.

” Cepat habiskan Latte mu dan segera pulang! Aku akan memanggil supir taksi dan menitipkanmu padanya!”

Yixing mencibir di balik punggung Yifan yang pergi menuju dapur dengan senyum mengembang dan tangan penuh mawar kuning. Yixing terdiam. Apakah Yifan benar-benar tertarik pada Evelyn? Tidak aneh. Evelyn cantik. Meski begitu, Yixing tidak bisa ikut tertarik pada perempuan itu, dia sudah berjanji pada seseorang untuk tidak mencintai siapapun lagi. Meskipun empat tahun telah berlalu.

 

//

 

  1. September

Sehun sudah lupa bagaimana rasanya bangun terburu-buru di pagi hari semenjak lulus dari kuliahnya selama sebulan terakhir. Setiap hari ia bangun paling lambat pukul 10 dengan keadaan rumah hening tanpa Evelyn, sarapan pagi kesukaannya telah siap di meja makan, semangkok nasi, sup, dan ikan bakar. Evelyn telah pergi ke toko bunganya sejak pukul 8 pagi, menata pot-pot bunga dan menyiraminya.

Setelah makan dan mandi, biasanya Sehun akan beranjak pergi menyusul Evelyn, menemani kakaknya seharian penuh di toko bunga mengawasi setiap pembeli yang datang kesana dengan tatapan tajamnya. Selama menemani Evelyn, Sehun sudah sangat hapal siapa saja pelanggan tetap kakak perempuannya tersebut.

Pertama, pukul 12.30 seorang pria dengan jas rapi berpenampilan seperti pengusaha muda akan datang, rambutnya berwarna pirang hasil pewarnaan di salon. Pria itu tersenyum dengan lebar saat memasuki toko bunga, setiap hari ia akan membeli bunga berbeda. Evelyn bilang, istri pria bernama Kim Junmyeon itu baru saja melahirkan sehingga dia ingin menghibur istrinya yang tidak bisa keluar rumah dengan membawakannya berbagai bunga setiap hari. Pass. Dia tidak perlu di curigai.

Kedua, pukul 2.45 seorang pemuda seumurannya dengan rambut berwarna perak dan kulit yang agak gelap akan datang ke toko bunga Evelyn bertanya bunga apa yang seharusnya ia bawa kali ini. Eve bilang pemuda itu bernama Kim Kai, selama tiga bulan terakhir pemuda itu akan datang tepat pada pukul 3 kurang lima belas menit untuk meminta pendapat Eve bunga apa yang harus dia bawa. Pemuda itu sedang menyukai seorang gadis pengantar Jjangmyeon yang selalu datang tepat pukul 3 sore ke kantornya. Pass. Dia tidak perlu di curigai dan dia terlalu muda untuk Eve, bahkan seumuran Sehun sendiri.

Ketiga, pukul 4 sore hari. Pria ini datang tanpa suara dan Eve tidak pernah bertanya dia butuh apa, ketika pria dengan pipi bulat serta mata sipit ini terlihat memasuki toko, Eve akan berlari ke kebun belakang dan menyiapkan sebuket bunga cantik—Sehun tidak paham jenis-jenis bunga— yang selalu menjadi pesanan si pria. Namanya, Kim Minseok. Dia seorang guru, anaknya baru saja meninggal enam bulan lalu ketika usianya baru saja menginjak delapan tahun. Semenjak itu, Kim Minseok akan datang ke toko bunga dan memesan bunga kesukaan putrinya serta menaruhnya di makam. Pass. Sehun tidak mungkin mencurigai seorang ayah yang tengah di rundung kesedihan atas kematian putrinya kan?

Ke empat adalah pria yang selama ini Sehun tidak suka, dia selalu membuat Eve tersenyum dengan lebar di setiap kehadirannya. Bahasa Koreanya bagus walaupun dia berasal dari China, wajahnya tampan, tinggi dan kurus, jika ia tersenyum Gummynya akan terlihat dan Sehun tidak menyukai bagaimana pria itu sangat dekat dengan Evelyn. Dia selalu datang pukul 7 atau 8 malam ketika Cafe miliknya telah tutup, namanya Wu Yifan, tapi beberapa kali Sehun mendengar Evelyn memanggilnya Kris—Nama Inggrisnya—. Dia harus di curigai, terlebih lagi Sehun dengar pria itu Single dan 20 mawar kuning yang selalu di belinya hanya untuk pengunjung Cafe yang datang pertama kali di pagi hari. Menurut Sehun, itu tidak masuk akal, pria itu pasti hanya ingin mendekati Evelyn.

Tapi hari ini Sehun tidak bisa pergi menemani kakak perempuannya tersebut. Semalam, dewan pengurus dari Universitas menelepon, mereka mengatakan tempat Sehun praktek telah di tentukan oleh para Dosen dengan pertimbangan nilai-nilai selama ia di bangku kuliah serta beberapa kerja lapangan yang pernah di ikutinya. Sehun pernah mengatakan hal ini pada Evelyn ketika ia baru saja menyelesaikan tesisnya. Dia sedikit tidak yakin akan tetap di Seoul untuk masa kerja prakteknya, karena di lihat dari para senior terdahulu kebanyakan akan di pindahkan menuju daerah-daerah terpencil di Korea untuk membantu para petani maupun menjadi seorang Dokter hewan di sebuah margasatwa. Sebenarnya, Sehun juga tidak ingin mengetahui kemana dia pergi, dia mungkin akan menangis lebih dari Evelyn jika ia benar-benar harus pergi ke suatu daerah terpencil. Bagaimana mungkin dia bisa bertahan tanpa Evelyn? Siapa yang akan memasakkan makanan untuknya? Bagaimana jika Evelyn terjerat lelaki hidung belang ketika ia melakukan kerja praktek selama dua tahun? Siapa yang akan menemani Evelyn makan malam? Siapa yang akan mendengarkan cerita mengenai hari-hari Evelyn? Memikirkannya saja Sehun sudah merinding. Berpisah jauh selama dua tahun dari Evelyn adalah malapetaka, kiamat kecil untuknya dan dia berharap para Dosen sedikit berbaik hati padanya.

Sehun turun dari motor kebanggaannya setelah beberapa waktu absen mengendarai motor besar itu karena harus mendapat perbaikan. Melepas helm yang terpasang di kepalanya, Sehun bergegas pergi menuju kantor para pengurus, sebelumnya dia sempat mengecek ponsel dan mendapati pesan dari Evelyn di aplikasi chatnya.

 

Sister Eve.

Kau sudah bangun? 9.15 am

Me.

Aku sedang di kampus, semalam dewan pengurus menelepon. Ada apa? 1.00 pm

Sister Eve.

Kau baru balas sekarang? Wah, apakah penempatan kerja praktekmu sudah di tentukan? Kau sudah tahu akan di tempatkan dimana? 1.01 pm

Me.

Not yet, aku belum tahu akan di tempatkan dimana, but yes, para Dosen telah menentukan penempatanku dan kupikir jantungku akan meledak karena gugup. 1.04 pm

Sister Eve.

Jangan gugup, Baby. Kau akan mendapatkan yang terbaik! Hwaiting, my lilbro! 1.06 pm

 

Sehun terkekeh melihat balasan Evelyn. Dia mengetik balasannya kemudian.

 

Me.

Yeah! Thanks bigsis! Kkk. Ngomong-ngomong kenapa kau mencariku? 1.08 pm

 

Sehun menatap ponselnya sekali lagi ketika ia telah berada di ruang kantor dewan pengurus, duduk di pojok ruangan menanti namanya di panggil. Evelyn belum menjawab pesan terakhirnya, ia memasukkan ponsel tersebut ke saku celana saat pemuda dengan rambut hitam menghampirinya dan duduk di sebelah Sehun. Sehun membungkuk singkat sebelumnya.

” Sehunnie, kau kemari juga?”

” Ya, aku di telepon semalam. Chansik hyeong mengapa berada disini?” Sehun balik bertanya pada pemuda yang lebih tua setahun darinya itu. Gong Chansik. Salah satu teman Zitao, mereka berada di jurusan yang sama sebagai Obgyn.

” Aku mendapat panggilan juga semalam, ku dengar tahun ini seluruh jurusan kedokteran akan pergi keluar Korea..”

” Keluar Korea?”

” Ya, ku dengar tahun ini para Dosen mendapat panggilan dari beberapa Negara yang membutuhkan lebih banyak para Dokter magang..” Chansik berkata, mengeluarkan ponsel dari sakunya.

” M-maksudmu hyeong, kita akan keluar negeri?”

Chansik mengangguk, mengecek ponselnya. Tidak menyadari bagaimana wajah Sehun sekarang. Keluar negeri? Itu adalah hal yang tidak pernah ada di benak Sehun. Sungguh. Ternyata ada option lain yang lebih parah di banding daerah-daerah terpencil di pelosok Korea Selatan!

” Ngomong-ngomong Hunnie, kau melihat Tao?” Chansik menginterupsi kekagetan Sehun, dia melirik pada pemuda putih tersebut.

” Tao? Bukannya dia satu jurusan dengan hyeong?” Sehun balik bertanya, setengah sadar dari keterkejutannya.

” Dia tidak datang di hari wisuda, kudengar Mr Choi memundurkan jadwal kelulusannya..”

Sehun menatap Chansik, ini berita yang tidak pernah dia dengar sebelumnya.

” Kenapa?”

” Kudengar Zitao menyalahgunakan posisinya sebagai Asisten Dokter di Rumah Sakit untuk sejumlah uang yang ia habiskan di Club malam..” Chansik berkata, membasahi bibirnya setelah menyelesaikan kalimat tersebut. Mata Sehun membulat seketika, ini hal menarik. Bukan lagi rahasia bagaimana seorang Huang Zitao akan melakukan apapun demi mendapatkan uang, Alkohol, Club malam, barang-barang bermerk tidak bisa ia hindari walaupun sehari, jadi ketika Chansik mengatakan Zitao menyalahgunakan posisinya di Rumah Sakit Sehun tidak terlalu terkejut.

” Zitao diskors?”

” Kurasa iya, kudengar dia akan kembali mengurus tesisnya tahun depan..” Chansik menjawab, dan namanya kemudian di panggil. Ia berpamitan pada Sehun dan menghilang di balik pintu, Sehun merogoh sakunya, hendak menyalakan ponsel ketika seorang wanita paruh baya memanggilnya untuk masuk ke salah satu ruangan. Sehun menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana tanpa pernah melihat balasan chat yang Evelyn kirimkan padanya.

 

Sister Eve.

Antar aku ke Rumah Sakit sore ini, aku melupakan janji dengan dokterku, seharusnya aku kembali 2minggu setelah Inseminasi tapi aku melupakannya dan ini sudah lebih dari waktu yang di tentukan. Dan, kurasa, aku tidak mendapat haid bulan ini. 1.25 pm

 

Evelyn mengecek ponselnya sekali lagi, tidak ada tanda-tanda pesannya di baca oleh Sehun. Dia sudah sangat cemas, ini sudah melebihi jadwal seharusnya ia kembali ke Rumah Sakit, terlebih bulan ini Evelyn terlambat datang bulan. Apakah Inseminasinya berhasil? Tapi, mengapa ia jadi gugup? Bukankah seharusnya ia merasa senang? Bagaimanapun apa yang di harapkannya akan menjadi kenyataan jika Inseminasi telah berhasil. Dia akan menjadi seorang ibu seperti yang dia impikan, dia akan mempunyai seorang anak, dia tidak bisa melakukan apapun untuk menggagalkan rencana tersebut jika Inseminasi yang di lakukannya benar-benar berhasil.

Tapi kenapa hatinya merasakan sesuatu yang aneh? Rasanya ada yang salah, rasanya dia lebih cemas dari sebelumnya. Evelyn menelan ludahnya, menatap testpack di tangannya. Ia sudah menutup toko bunganya, baru saja ia membeli empat testpack dari apotek di sebelah tokonya. Dia harus melakukannya bukan? Dia harus mengetahui apakah dia hamil atau tidak. Jadi, Evelyn merobek salah satu bungkus testpack tersebut, melucuti celananya dan duduk di atas WC, mengalirkan air seni masuk ke dalam alat tes kehamilan tersebut. Dia terdiam, masih menggenggam alat tersebut yang secara perlahan memunculkan warna merah, membentuk sebuah garis.

Menanti,

Menanti,

Menanti,

Satu garis telah terlihat,

Jantungnya berdegup dengan kencang,

Satu detik,

Empat detik,

Delapan detik,

Dan,

Sebuah dering telepon menginterupsi kegiatannya. Evelyn terkejut setengah mati, menatap layar ponsel, ia mendapati nama Sehun tertera disana.

” Eve! Bagaimana ini?”

Evelyn mengerutkan keningnya.

” Apa? Kau tidak menjawab pesanku di chat dan sekarang kau malah bertanya padaku. Apa maksudmu?” Keluh Evelyn, masih menatap tes kehamilan di depannya.

” Aku sudah mengetahui dimana aku di tempatkan untuk kerja praktek..” Ucap Sehun di ujung telepon.

” Benarkah? Dimana?” Evelyn bertanya, keningnya berkerut ketika samar-samar garis merah terlihat di atas garis merah sebelumnya.

” Thailand.”

Bersamaan dengan jawaban Sehun garis merah itu terlihat dengan jelas. Dua garis merah. Jelas. Itu tandanya, ia hamil. Inseminasinya berhasil. Namun, informasi dari Sehun lebih mengejutkannya.

” Kemana?”

” Thailand, aku akan pergi ke Thailand selama dua tahun..”

Evelyn terdiam, tes kehamilan di tangannya terjatuh. Adiknya akan pergi ke Thailand selama dua tahun, lalu bagaimana dengannya? Dia hamil. Inseminasinya berhasil.

” Sehun-ah..”

” Hm?”

” Aku hamil.. Inseminasiku berhasil..”

Dan keheningan melingkupi obrolan keduanya.

 

 

Continued..

96 responses to “Who’s A Daddy? — Two

  1. Pingback: Who’s A Daddy? — Five | FFindo·

  2. inseminasinya berhasil hehe selamat buat evelyn. lha tapi kenapa sehun praktik di thailand dua tahun lagi. pas evelyn butuh sehun tapi sehun ada urusan lain kasihan evelyn jadi bingubg dia harus seneng apa sedih.
    bagus kak, aku baca kelanjutannya dulu ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s