[Series] Marriage Contract? (Chapter 2: I Wish You )

FF ini ditulis oleh Asih_TA , bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian melalui jejak komentar setelah membaca. Terimakasih~
*Untuk melihat index FF lainnya yang pernah dititipkan melalui saya, Klik disini

Chapter 2 bag 3

|Author : Asih_TA|

|Tittle : Marriage Contract? (Chapter 2 : I Wish You)|

|Story & Art : By Asih_TA|

|Main Cast : Jung Eun Soo (OC), Oh Sehun (EXO)|

|Other Cast : Suho (EXO), Jeon Jungkook (BTS), Soyu (Sistar), Jung Luhan (EXO), Jiyeon (T-ara)|

|Genre : Romance, Married Life, Little Smut, Tragedy|

|Leght  : Multichapter|

|Rated  : PG 17+|

|Disclaimer : Anneyong semua, bertemu lagi dengan Author. Ff ini atas pemikirian Author sendiri. Selamat membaca 😀 , Oh iya Komentarnya jangan lupa 😀 |

|Contact Author : https://www.facebook.com/asihe.forevershinee1|

THIS IS MY STORY! NO PLAGIAT!

notes: harap baca notes author di bagian akhir

Link Marriage Contract ( TeaserChapter 1 Chapter 2 – Chapter 3 (dipassword) Chapter 4 – Chapter 5 – Ongoing )

Chapter 2

.

.

.

Sehun mendorong tubuh Eun Soo semakin jauh ke dalam rumah mereka. Ia tak membiarkan sedikitpun Eun Soo untuk bernafas. Mungkin memang benar jika Sehun sedang dilanda masalah, tapi bagaimana dengan Eun Soo yang tidak bisa lari dari kenyataan, kenyataan yang membuatnya terjebak oleh permainan konyol ini.

Di bawah pengaruh Alkohol Sehun terus mengarahkan tubuh Eun Soo untuk masuk ke dalam kamar mereka, tanpa harus melepas kontak mereka. Ia menyudutkan tubuh mungil Eun Soo di sudut kamarnya. Semua terasa cepat, hingga dia tidak sadar bahwa dia hampir mengulang kejadian semalam.

Sehun menenggelamkan seluruh wajahnya di setiap helaian rambut coklat Eun Soo dan mengihirup aromanya seperti kekurangan oksigen. Sementara Eun Soo terlihat mengontrol dirinya untuk tidak terbuai dalam permainan Sehun. Eunsoo mendorong kecil tubuh Sehun, dan dorongan kecil itu tidak berhasil untuk menyadarkan Sehun. Namun jika Eunsoo mengupayakan seluruh tenaganya mungkin dia dapat mendorong tubuh Sehun.

Eun Soo menarik nafas dalam, kemudian mengumpulkan seluruh tenaganya, “ Sehun sadarlah.”

Usaha itu pun tak sia-sia, Sehun kini jatuh tepat di atas tempat tidurnya. Eun Soo memegang kepalanya yang sedikit sakit akibat dorongan yang Sehun berikan tadi. Sedangkan Sehun terlihat mencoba membuka dasi –yang ia kenakan dengan asal. Perasaan ragu Eun Soo untuk mendekati Sehun kembali tersirat. Entah mengapa ia menjadi lebih takut melihat suaminya dengan keadaan yang begitu mengenaskan dengan bau alkohol di mana-mana daripada saat orang itu sadar.

Perlahan tapi pasti Eun Soo melangkahkan kaki kecilnya berjalan mendekati Sehun, ia memastikan Sehun sudah tidur dengan nyenyak. Ketika merasa sudah cukup aman, ia meraih ujung dasi Sehun dan memulai membukanya secara perlahan agar sang biangnya tidak terbangun.

Eun Soo membulatkan matanya sempurna ketika tangan kanan Sehun tiba-tiba menahan pergerakan tangan mungilnya, Sehun masih menutup matanya tapi tangannya semakin kuat menggenggam dan menekan tangan kanan Eun Soo ke arah dada bidangnya.

Eun Soo tidak tau harus bersikap seperti apa pada perlakuan tersebut, haruskah ia melepaskan genggaman tersebut atau membiarkan Sehun tetap melanjutkan perlakuan tersebut.

 Sebuah detakan jantung terasa di sentuhan tangan Eunsoo. Gadis itu dapat merasakan detak jantung tersebut berdetak tidak normal.

“ Eun Soo.”

Sebuah kalimat yang terlontar dari  bibir Sehun membuat Eun Soo terdiam sesaat, sebelum merasakan sekujur tubuhnya terasa seperti terkena aliran listrik, mulai dari kaki hingga unjung rambut coklatnya.

“ Sakit . . . “ Kali ini Sehun meracau tidak jelas lagi. Entah mengapa suara lelaki itu terdengar begitu menyedihkan, seperti ada sebuah getaran sesak di dalamnya.

“..aku seperti ini karena kau Eun Soos,” sambungnya. Eun Soo terdiam lagi dan membiarkan Sehun tetap melanjutkan kalimatnya.

“ Tapi . . . “ Sehun seperti sedang menggantungkan kalimatnya dan semakin menguatkan genggamannya.

“ Tapi aku suka,” lanjutnya dan sukses membuat Eun Soo membulatkan matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Sehun. Laki-laki yang sudah bersamanya selama 1 bulan lebih tersebut seperti sedang mengungkapkan apa yang sedang dipikirkannya. Tangan kanan Sehun tidak pernah jengah menggenggam tangan kanan Eun Soo, dengan perlahan Sehun mulai menekan telapak tangan Eun Soo untuk menyentuh dada bidangnya.

“ Suka, karena disini sakit sekali.”

Jantung Eun Soo seperti tidak dapat berfungsi dengan baik lagi setelah mendengar setiap kalimat demi kalimat yang begitu saja dikeluarkan dari bibir Sehun. Pengakuan kalimat di bawah pengaruh berat alkohol membuatnya terus meracau tak jelas.

Ciklek . .

“ Nyonya, apakah Tuan muda Oh Sehun mabuk lagi?” Seseorang muncul dari balik pintu, menampakkan wajah cemasnya dan kemudian wajah itu berubah menjadi lebih kaku, “ maaf Nyonya saya sudah lancang mas- “

“ -Tidak apa-apa Bibi Sin, Bibi Sin tolong bantu saya untuk melepaskan sepatu yang Sehun kenakan.” Potong Eun Soo cepat.

Bibi Sin sejenak berfikir dan kemudian menyetujuinya, “ Baiklah Nyonya.”

***

.

.

Semenjak kejadian malam itu Eun Soo tidak bisa tenang dengan tidur malamnya. Ia terkadang bangun di tengah malam dan sukar untuk kembali ke alam bawah sadarnya. Ya, tepatnya malam itu Eun Soo mencoba untuk tidak membangunkan Sehun ketika mereka tidur seranjang. Tak terjadi apa-apa hanya ada rasa gelisah yang berada di benak Eun Soo.

Pagi ini, Eun Soo mencoba bersikap biasa dan melupakan apa saja yang Sehun ucapkan ketika Sehun di bawah  bawah alkohol. Tepatnya jam 5 pagi ia terbangun dan wajahnya terlihat sangat kusut. Ia langsung memasuki kamar mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya. Karena pagi ini harus masuk mata kuliah.

Setelah keluar dari kamar mandi, ia tidak melihat Sehun berada di kamar atau mungkin Sehun sudah terbangun dan memakan sarapan paginya. Tinggal 1 bulan lebih membuatnya tau kebiasaan namja itu. Jika dia sudah bangun di pagi hari, ia akan langsung turun ke bawah dan memakan makanannya dan setelah itu baru membersihkan badannya.

Eun Soo mengambil beberapa dokumen yang harus ia bawa pagi itu. Ia berencana untuk sarapan di kampusnya. Tak mengulur waktu banyak, ia sudah merapikan dirinya cukup baik dan segera keluar dari ruangannya. Tanpa ia sadari ketika telah menuju lantai bawah rumah itu, seseorang menatapnya intens.

“ Kau tidak sarapan?” Sebuah kalimat yang yang terkesan dingin dan menusuk yang setiap hari ia dengar kini terdengar kembali bagikan suara rekaman yang akan terus ia dengarkan.

Eun Soo menoleh ke asal suara dan mendapati Sehun tengah duduk di meja makannya. Eun Soo mencoba untuk bersikap acuh. Ia segera melesatkan kakinya menuju pintu dan menggambil sepatu dengan heel yang cukup tinggi.

“ Eun Soo.”

Sehun memanggil agar si pemilik nama menyahutnya, setidaknya menolehkan kepalanya.

“ Eun Soo.”

Kali ini Sehun sedikit menaikkan nada suaranya, namun tetap saja Eun Soo tidak menggubrisnya. Sehun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Eun Soo yang masih memakai sepatunya. Sebuah gerakan cepatm ia menarik tangan kir Eun Soo dengan kasar.

“ Jung Eun Soo, aku sedang berbicara padamu.”

Eun Soo langsung menundukkan kepalanya, ia sangat takut dengan keadaan ini. Melihat wajah seseorang yang bisa saja membuatnya semakin menjadi gila.

“ Lepaskan aku!” Teriak Eun Soo, Sebuah getaran-getaran kecil di dalam kalimatnya terdengar menyedihkan, haruskah ia kembali membasahi pipi putihnya di hadapan namja yang telah menjadi sebagian dari hidupnya.

‘tidak, Eun Soo kau wanita yang kuat’ Batinnya. Ia sedikit memberanikan diri menatap wajah laki-laki yang ada di hadapannya sekarang.

“ Apa yang pernah ku katakan padamu Eun Soo, apa kau masih berpura-pura tidak tau?” Ucap Sehun yang mulai kehabisan akal sehatnya. Ya, semua akan berfikir bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang akan segera memulai sebuah pertengkaran di pagi hari.

“ Terserah, Tapi aku mohon jangan menahanku pagi ini.” Eun Soo berusaha untuk berbicara selembut mungkin, ia tidak mau menerima resiko yang lebih besar di saat-saat terpenting bagi hidupnya.

Sehun terlihat mengatur nafasnya yang terlihat tidak beraturan. Eun Soo tahu bahwa Sehun mencoba menahan rasa emosi yang akan mulai meluap. Sebuah keberanian muncul di benak Eun Soo. ia mencoba melepas genggaman kuat tangan Sehun secara lembut, Hingga terlepas dari sang empunya.

Tanpa ia sadari Sehun sebenarnya sudah mulai menangkap raut di mata coklat Eun Soo. Namun apa daya keberanian Eun Soo hanya sebatas itu, ia tidak akan bisa menatap mata tajam Sehun dengan jangka waktu lama.

Sudah cukup lama keheningan menyertai mereka. Sebelum semuanya terjadi, Sehun melepaskan Eun Soo, ia tidak ingin menghabisi tenaganya karena sebentar lagi ia akan segera mengadakan rapat besar di perusahaannya untuk menjalankan proyek ayahnya. Karena sampai sekarang pun tubuhnya terlalu lelah untuk itu semua.

Eun Soo memberanikan dirinya untuk kembali menggunakan sepatunya yang sempat tertunda dan langsung berjalan keluar ruangan, Sehun tidak lagi menahannya tapi hanya membiarkannya. Di saat yang bersamaan Eun Soo menghela nafasnya lega karena Sehun telah mendengarkan permintaannya, dan ini untuk pertama kalinya.

***

.

.

Seorang wanita berjalan menyusuri karidor Kampus pagi ini, ia berjalan dengan menyilangkan kakinya yang menampakan setiap lekukan tubuhnya. Semua mata tertuju padanya terutama untuk kaum laki-laki. Gaya sombongnya tidak pernah ia tinggalkan untuk menampakkan siapa dirinya sebenarnya.

Kaca mata hitam, sepatu dsuper tinggi, rambut merah dan bibir mempesona. Begitulah ciri-ciri yang tak luput dari mata setiap orang yang melihatnya. Wanita itu menghentikan langkahnya ketika ia sudah sampai kepada tujuan yang sebenarnya yaitu bertemu seseorang, tepatnya secara tidak langsung orang itu tengah berjalan kearahnya namun tampak orang yang ia incar tidak menyadari kehadirannya.

“ Jung Eun Soo.” Ucap wanita itu ketika mata mereka bertemu.

Eun Soo yang awalnya menundukan kepalanya ketika seseorang memanggilnya, ia langsung mengangkat kepalanya dan bertemu mata itu lagi di pagi yang cukup lama. Eun Soo tidak mau berdebat dengan siapapun pagi ini, karena tubuhnya sangat lelah.

Dengan langkah gontai, Eun Soo berjalan melewati tubuh wanita itu yang tengah berdiri berhadapan tepat di depan tubuhnya. (notes: harap baca notes author di bagian akhir)

“ Eun Soo, bisakah kau membalas sapaan seseorang yang telah menyambutmu di pagi hari yang cerah ini.”

Wanita itu sengaja mengatakan hal tersebut untuk memancing Eun Soo menghentikan langkahnya. Eun Soo membalasnya dengan membalikkan tubuhnya dan menatap malas yeoja yang sudah berhadapan lagi dengannya.

“ Kau mau apa lagi nona Soyu.” Ucap Eun Soo dengan sengaja menekan suaranya di akhir kalimatnya.

Wanita yang bernama Soyu tersebut dengan arogannya melepas kaca mata hitamnya dan sedikit mengibaskan rambut merahnya “ Kau tampak berbeda hari ini.” Ujarnya dengan sedikit menaikkan dagunya.

Eun Soo terdiam sesaat sebelum ia melihat seluruh tubuhnya, “ Ku harap itu sebuah pujian, baiklah kalau begitu saya permisi dulu.”

Eun Soo hendak melangkahkan kakinya pergi dan meninggalkan tempat itu, namun seseorang terlebih dulu mendorong tubuhnya hingga ia terjungkal cukup jauh dan membentur sebuah dinding yang berada tak jauh dari sana. Eun Soo hanya meringis kesakitan ketika rasa sakit itu menjalar hingga keseluruh tubuhnya. Tanpa melihatpun Eun Soo yakin perbuatan itu adalah perbuatan dari musuh satu kampusnya tersebut.

Soyu beserta senyum jahat begitu membuat Eun Soo ingin segera mengakhiri pertengkaran mereka pagi ini. Eun Soo mencoba berdiri dengan bertumpu pada dinding beton tersebut.

“ Aku tau siapa kau sebenarnya Eun Soo.”

Soyu menatap tajam Eun Soo. berbeda dengan Eun Soo, ia terlihat sangat pucat, “ Apa maksudmu?”

Soyu berjalan mendekati tubuh Eun Soo yang jauh darinya “ Aku tau, kau adalah istri dari keluarga Oh, tepatnya istri dari Oh Sehun, benarkan?”

Seperti terkena aliran listrik dengan tegangan tinggi. Ucap Soyu barusan membuatnya sadar akan hal itu.

“ Aku mengetahui semuanya,  Kau mencoba merahasiakan pernikahanmu dengan melaksanakan pernikahan tersebut secara tertutup dan hanya beberapa orang yang tau tentang masalah ini.” Lanjutnya yang masih menatap Eun Soo dengan tajam.

“ Apa mau mu?” Sebuah kalimat yang begitu saja yang terlontarkan dari bibir Eun Soo membuat Soyu tersenyum penuh kemenangan.

“ Bagus, Aku hanya ingin memastikan kau berada di posisi kedua untuk ujian semester depan, jika kau ingin privasimu terjaga olehku. Jika tidak, mungkin aku bisa menyebarkannya dan membuatmu tidak nyaman dengan kampus ini.” Soyu mengakhiri perkataannya dan berjalan pergi meninggalkan Eun Soo yang masih terdiam terpaku.

***

.

.

“ Sehuna ~ “ Seorang wanita memanggil nama laki-laki yang berada tepat di sampingnya, namun laki-laki yang mempunyai nama lengkap Oh Sehun tersebut tidak mengubrisnya.

“ Sehuna ~ “ Lagi-lagi, Wanita itu tak tak bosan memanggilnya dengan suara manjanya.

“ Sehuna ~ Ayolah katakan sesuatu padaku.” Wanita itu mencoba semakin memperpendek jarak di antara mereka dan itu membuat Sehun menatap wanita di sampingnya dengan tatapan malas.

“ Berhenti memanggilku Sehuna, aku benci mendengarnya.” Ucap Sehun dan membuat wanita itu semakin memanyunkan bibir kecilnya. Sehun mencoba pergi dari tempat itu namun sebuah tangan menggandengnya secara tiba-tiba.

Oppa kau ingin kemana?” Wanita itu mengatakannya tanpa wajah bersalah, karena wanita itu jelas-jelas pasti tau bahwa laki-laki yang berada di dekatnya tersebut sudah berstatus menjadi suami orang lain.

“ Jangan menggangguku.” Ucap Sehun ketus. Ia melepaskan tangan kanannya yang digenggam kuat oleh wanita itu, namun wanita itu tidak menyerah, ia terus saja menempel pada Sehun.

Oppa, kau ingin kemana? Aku ikut ya.” Wanita itu masih menampakkan nada manjanya, sesekali mengedipkan sebelah matanya. Sehun benar-benar bosan jika sudah berurusan dengan yeoja yang ada di dekatnya tersebut. Atau mungkin, ia tidak mau terperangkap oleh sosok gaib seperti wanita itu.

“ Jiyeon-ssi sudah ku bilang jangan mengikutiku.” Sehun sengaja mempermainkan nada suara agar terdengar mengerikan. Namun wanita yang bernama Jiyeon tersebut malah membalasnya dengan senyum yang tak pernah jengah oleh bibirnya “ Aku tidak mau, karena aku mencintaimu oppa.”

Sehun menatap Jiyeon tak percaya “ Kau gila.”

Jiyeon terkekeh kecil melihat sikap Sehun, namun Sehun dapat melihatnya dari sudut matanya, “ Apa yang kau tertawakan?”

Anni.” Respon Jiyeon cepat.

Sehun mengehela nafasnya “ Kenapa kau kesini?”

Pertanyaan Sehun membuat Jiyeon semakin ingin berdekatan dengannya. “ Karena aku merindukanmu Oppa.

Sehun berdecak, “ Ck . . Lebih baik kau pulang dan mengerjakan tugas kuliahmu, anak kecil.”

“ Siapa yang anak kecil, bahkan umur kita hanya berbeda 1 tahun.” Ujar Jiyeon tak terima.

Sehun hanya memutar bola matanya malas, namun seorang laki-laki muncul dari balik pintu ruangan kerjanya dan Sehun  yakin dia adalah Jeon Jongkook, sahabatnya.

“ Wah ada Jiyeon noona disini.” Ucap Jongkook ketika ia telah masuk ke dalam ruangan tempat Sheun dan Jiyeon berada, Sehun menatap Jiyeon tajam agar yeoja itu bisa keluar dari ruangan kerjanya. Jiyeon memanyunkan bibirnya dan segera keluar dengan hentakan kaki yang dibuat-buatnya.

“ Ada apa dengannya?” Tanya Jongkook kemudian.

“ Jangan pedulikan dia, cepat katakan untuk apa kau kemari?” Jawab Sehun to the point.

Jongkook menatap jail kepada sahabatnya tersebut “ Aku punya sesuatu untukmu.”

Sehun mengerutkan dahinya heran “ Apa itu?”

***

.

.

Mata kuliah pagi ini sangat membosankan bagi Eun Soo. Setelah keluar dari ruangan, ia langsung mengisi perutnya yang lapar karena sejak tadi pagi ia tidak memakan apapun. Melihat semua orang sedang tidak berada di kantin membuat Eun Soo kebingungan dan masalahnya ia hanya memakan makanannya sendiri tanpa ada satupun orang di sana.

Eun Soo mencoba bertanya kepada salah satu penjaga kantin “ Ahjumma, kenapa hari ini kantin sepi sekali?”

Ahjumma menolehkan kepalanya dengan sedikit kaget karena tiba-tiba seseorang mengajaknya bicara, “ Bukannya semua orang sedang berada di aula?”

Eun Soo sedang mencerna perkataan Ahjumma barusan dan kemudian menggelengkan kepalanya “ Untuk apa mereka ke Aula, bukankah hari ini tidak ada acara apa pun.” Ujar Eun Soo dengan tampang polosnya. Ia tidak sadar jika sedari tadi Ahjumma menatapnya penuh ketidakpercayaan, “ Ya ampun Eun Soo, kau tidak tau bahwa ada seseorang yang datang kesini?”

Eun Soo menghentikan aktifitas makannya “ Memang siapa yang datang, mengapa semua orang antusias?”

Perkataan konyol Eun Soo membuat Ahjumma menghela nafasnya berat “ Entahlah, Yang ku dengar ada seorang laki-laki dari Perusahaan terkenal yang akan datang kesini untuk mempromosikan produk terbaru mereka.”

Jawaban Ahjumma membuat Eun Soo hanya menganggukan-anggukan kepala seolah-olah mengerti arah pembicaraan mereka “ Kalau boleh tau siapa nama laki-laki itu?”

Ahjumma itu pun seperti mengingat-ingat sesuatu “ Kalau tidak salah namanya Jung Luhan.”

UHUKK. . .UHUKKK. . .

Eun Soo terbatuk-batuk ketika sedang memakan makanannya. Ia segera mengambil sebuah air dan meminumnya sekali tegukkan. Tak berapa lama kemudian ia sudah dapat menetralkan kembali nafasnya.

“ Kau baik-baik saja?” Ucap Ahjumma tersebut setelah melihat Eun Soo tersedak saat memakan makanannya.

Gwenchana Ahjumma, kalau begitu saya permisi dulu.” Ujar Eun Soo dengan terburu-buru, ia mengambil tas coklatnya dan melesatkan kakinya menuju dimana aula tersebut berada.

Eun Soo melangkahkan kaki kecilnya menuju aula utama tempat berkumpulnya para mahasiswa. Rasa gembira dan bahagia menyertai langkahnya. Sudah sekitar 4 bulan ia tidak merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam di hatinya.

Langkahnya terhenti ketika seorang namja berjalan ke arahnya. Jarak yang cukup jauh membuat Eun Soo tidak begitu yakin akan siapa sosok laki-laki itu. Tapi ketika jarak itu semakin mendekat membuat Eun Soo membulatkan matanya.

“ Luhan Oppa!” Teriak Eun Soo yang bergema di sepanjang karidor kampus. Ia segera melesatkan kakinya untuk kembali berlari ke arah laki-laki yang mempunyai nama lengkap ‘Jung Luhan’ tersebut.

Luhan, laki-laki itu awalnya terkejut ketika seseorang memanggil namanya, namun sedetik itu juga ia kembali tersenyum setelah mengetahui siapa yeoja yang meneriaki namanya.

“ Aigo, Eun Soo Oppa merindukanmu.” Ucap Luhan ketika Eun Soo berlari dan langsung memeluk tubuhnya kuat.

Nado Oppa.” Balas Eun Soo, kemudian melepaskan pelukannya dan menatap namja yang ada dihadapannya tersebut “ Kapan kau pulang oppa? Kenapa tidak menghubungiku?” Sambungnya dengan nada yang begitu lembut.

Luhan mengacak-acak kecil rambut coklat Eun Soo dengan gemas “ Dua hari yang lalu, mian oppa tidak memberitaumu karena oppa masih sibuk dengan proyek terbaru perusahaan kita.

Eun Soo mengganggukan kepala kecil, memaklumi kepulangan secara tiba-tiba kakak laki-lakinya tersebut “ Arraseo.”

Luhan mengaitkan tangan kanannya kebahu kecil milik Eun Soo “ Ayo kita masuk, Acara akan segera dimulai.” Ucapnya sembari mengedipkan sebelah matanya.

Eun Soo hanya terkekeh kecil mendagapinya.

***

.

.

Eun Soo sangat senang dengan kedatangan kakak laki-lakinya, anak laki-laki satu-satunnya yang dimiliki keluarga Jung. Entahlah, semua orang yang melihatnya akan berfikir jika laki-laki bernama Luhan tersebut merupakan pacar barunya Eun Soo. Wajah baby face, gaya imut serta rambut pirangnya membuat Luhan tidak berpenampilan sebagaimana umurnya. Tepatnya hari ini adalah hari ulang tahun perusahaan keluarga Jung. Luhan bermaksud datang untuk menemui adik tersayangnya tersebut, untuk merayakan secara kecil-kecilnya karena Luhan bukanlah laki-laki yang suka dengan keramaian. Maka dari itu ia tidak datang ke acara besar peringatan ulang tahun perusahaan ayahnya.

Setelah acara tersebut selesai Eun Soo dan kakak laki-lakinya, Luhan. Mereka menyempatkan diri untuk mampir di sebuah restoran terkenal di kota seoul. Awalnya Eun Soo menolak tapi karena Luhan terus merengek membuat hatinya luluh juga.

“ Jadi ceritakan padaku apa oppa mempunyai pacar disana?” Tanya Eun Soo setelah ia meminum sebuah cappuccino kesukaannya.

Luhan yang sedang menyantap makanan melihat adik perempuannya, sebelum menelannya secara perlahan “ Aku tidak mempunyai pacar, wanita di Canada tidak ada yang cocok untukku.”

Eun Soo mengerti mengapa kakak laki-lakinya tidak menyukai wanita yang berfashion tinggi dan lebih banyak menghabisi uang mereka. Bahkan ia lebih senang melihat wanita yang berpenampilan sederhana dan berhati seorang ibu karena di pikirannya hanya sosok seperti itulah yang dapat menjadi seorang istri yang sebenarnya. Tapi dari pertanyaan itu semua, sebenarnya ada satu hal yang jauh Eun Soo ingin ketahui walapun ia tidak begitu yakin.

Op-pa a-ku ingin kau jujur padaku.” Ucap Eun Soo ragu ketika ia menjauhkan Cappuccinonya dan menatap serius kearah namja yang ada di hadapannya.

“ Hmm apa itu.” Respon Luhan pelan.

Eun Soo mencoba menenangkan nafasnya sejenak “ Apa yang dilakukan Cheou Oppa di sana, kenapa semenjak kejadian itu aku tidak bisa berkomunikasi dengannya.”

Perkataan Eun Soo membuat Luhan diam mematung. Luhan mengarahkan matanya ke segala arah dan tidak mau melihat mata adik perempuannya yang meminta penjelasan lebih lanjut tentang masalah yang tak kunjung selesai.

Oppa?” Eun Soo mencoba untuk membuat sang kakak hanya fokus padanya, namun Luhan berusaha menghindar, beranjak dari tempat duduknya hingga sesuatu menghentikan niatnya.

Oppa, jangan mencoba kabur dariku.” Eun Soo menarik lengan Luhan dan menyuruhnya duduk kembali, luhan menurutinya dengan menghela nafasnya berat.

“ Kenapa kau selalu bertanya tentang laki-laki itu, padahal hari ini adalah hari kepulanganku.” Ujar Luhan dan menatap malas adik perempuannya.

Oppa jawab aku.” Ucap Eun Soo memohon.

Lagi-lagi Luhan menghela nafasnya berat bercampur takut “ Benar, kau ingin tau.”

Eun Soo menganggukan kepalanya pelan. Luhan seperti ragu-ragu untuk mengatakannya namun saat itu juga ia memberanikannya dirinya untuk mengungkapkannya walau ia tau ini pasti sakit.

“ Cheou Sudah menikah di Canada.”

Tubuh Eun Soo langsung jatuh ke lantai bawah restoran dengan bunyi yang cukup keras, semua orang yang berada di sekitar mereka melihat mereka heran. Luhan dengan sigap langsung menolong adik perempuannya tersebut, namun Eun Soo menahan tangannya.

Op-pa ka-u be-rboho-ng pada-ku.” Ucap Eun Soo terbata-bata, matanya terlihat kosong dan tidak fokus. Luhan tidak bisa berbuat apa-apa, ia sangat takut jika adik tersayangnya akan jatuh ke dalam jurang yang lebih dalam.

“ Eun Soo, opp-“

“ – Oppa pasti bercanda, tidak mungkin Cheou oppa menghianatiku, bahkan kami telah berjanji untuk membuat kehidupan kami bersama setelah perjanjian bodoh itu terselesaikan. Aku tidak percaya padamu Oppa, aku bisa mengerti jika kau tidak menyukai Cheou Oppa. Tapi jangan karena itu kau berkata seperti ini oppa. Dan ak-“

“- Cukup Eun Soo.” Potong Luhan. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya kembali. (notes: harap baca notes author di bagian akhir)

“ Bukankah sudah Oppa bilang untuk melupakannya, dia bukan laki-laki yang baik Eun Soo.” Luhan terlihat membujuk adik perempuannya tersebut, namun Eun Soo langsung menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum pahit “ kau pasti berbohongkan oppa.”

Eun Soo mulai menggerakan kakinya untuk segera berdiri dan mulai berjalan meninggalkan tempat itu, ketika Luhan ingin menahannya, Eun Soo langsung menepisnya dan Luhan hanya dapat melihat dari jauh punggung adik perempuannya yang semakin menjauh meninggalkannya sendiri

‘maafkan aku’ batinya.

Eun Soo berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan teriakan-teriakan orang yang ia tambrak. Kakinya yang berlari tanpa arah, matanya yang tidak dapat melihat dengan jelas karena sudah menampung banyaknya air di pelupuknya beserta raut wajah yang menggambarkan kepedihan yang mendalam.

.

‘ Oppa, kau tidak akan meninggalkanku kan?’

‘ Anni Oppa hanya sebentar saja disana, oppa akan menunggumu.’

‘ Benarkah? Kau mau menungguku 2 tahun lagi.’

‘ Ne, setelah itu kita akan membangun kehidupan kita bersama.’

‘ Apapun yang terjadi padaku, kau tidak akan menghianatiku kan oppa?’

‘ Ne, Apapun itu.’

‘ Janji?’

‘ Janji’

.

Bayangan-bayangan peristiwa itu kembali bergeming di kepala Eun Soo. Kenangan yang takkan mudah luput dari ingatannya. Sebuah kalimat yang ia percayai selama 3 bulan tersebut membuatnya yakin jika ia akan bahagia untuk kedepannya tapi Apakah ia harus mempercayainya? Mempercayai omong kosong tersebut.

***

.

.

.

.

Hujan turun lagi, Eun Soo duduk di sebuah bangku panjang yang terletak di taman kota. Tempat duduk itu dilengkapi dengan atap diatasnya yang dapat melindunginya cukup baik dari derasnya hujan. Yeoja itu perlahan-lahan mengulurkan tangan kanannya membiarkan titik-titik hujan membasahi tangan mungilnya.

Sudah 3 Minggu terakhir ini hujan datang silih berganti, Entah apa yang membuat yeoja itu menyukai hujan yang jelas-jelas yang membuat jenuh seseorang yang melihatnya. Matanya yang sayu namun terlihat tenang dan jernih itu begitu menawan. Mata coklatnya yang memancarkan betapa menderitanya ia sekarang, hanya karena seorang laki-laki, seharusnya ia sudah berada di tempat yang dipenuhi oleh kebahagiaan.

“ Mungkinkah kami bisa bersama.” Eun Soo tersenyum kecil melihat hujan tersebut. Ya, bicara pada hujan bukan hal yang lumrah.

“ Haruskah aku mempercayainya?” Lagi-lagi yeoja itu berbicara sendiri, seolah-olah hujan tersebut dapat mendengar seluruh jeritan hati kecilnya.

Eun Soo menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Membiarkan angin dingin berhembus membelai rambut coklatnya yang terjurai dengan bebasnya.

“ Hiks . . . “ satu isakan kecil lolos dari bibir mungilnya. Mungkinkah ia harus meneruskan isakan itu yang dapat membuatnya melampiaskan seluruh perasaannya.

***

.

.

“ Suho kau tidak pulang? Hujan semakin deras.” Suara berat seseorang muncul dari balik pintu menghampiri sahabat sekaligus patner kerjanya.

Suho yang merasa di panggil sedikit menoleh dan kembali memandangi pemandangan yang tak luput dari mata hitamnya. Ya, dia sedang mengamati seseorang dari ruang kerjanya yang terbuat dari kaca tersebut, walaupun jaraknya tak begitu jauh tapi ia yakin akan yeoja itu “Hm nanti saja jungkook.”

Laki-laki yang bernama Jungkook tersebut memperhatikan wajah sahabatnya tersebut dan mengikuti matanya yang mengarah pada seorang yeoja yang sedang duduk di sebuah bangku taman tepat di sebelah perusahan mereka, yeoja itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dan jungkook tau tentang ini.

“ Kenapa, Apa kau tertarik dengannya?” Pertanyaan yang dilontarkan oleh mulut jail Jungkook sukses membuat Suho menolehkan kepalanya.

“ Apa maksudmu?”

Jungkook hanya menaikan kedua bahunya “ Aku tidak tau apa yang kau pikirkan, tapi kau selalu saja memperhatikannya.”

Suho terdiam sesaat. matanya menatap Jungkook datar tidak ada pemberontakan atas ucapan sahabatnya tersebut, mungkin atau lebih tepat sedikit membenarkan.

Jungkook menghela nafasnya memperlihatkan kekesalannya terhadap sahabatnya tersebut “ dia sudah mempunyai suami.”

“ Aku tau.” Perdebatan mereka tak kunjung selesai, Walau saat hujan sekalipun.

lagi-lagi Jungkook menghela nafasnya namun kali ini terlihat tenang, Ia lalu memegang bahu sahabatnya tersebut “ Kau pernah mendengar sebuah kalimat, Terkadang seseorang hanya akan memberikan sebuah kesempatan untuk mengenalnya, tapi bukan untuk memilikinya.” 

Suho mencoba mencerna perkataan Jungkook sejenak dan kemudian tersenyum kecil menanggapinya “ kau masih kecil sudah berani berbicara informal padaku.”

“ Siapa yang anak kecil, umurku sudah 23 tahun.” Ucap Jungkook tak terima.

Suho hanya terkekeh geli melihat perkataan namja yang 1 tahun lebih muda darinya itu “ Hanya umur saja yang 23 tahun, tapi sikapmu masih seperti anak yang berusia 7 tahun.” Ucapnya menyindir.

Jongkook memberikan tatapan tajam kepada Suho seolah-olah ingin menerkamnya sekarang juga. Namun inilah saat yang dinanti-nanti oleh Suho untuk tetap mempertahankan dirinya agar dapat menggoda patnernya tersebut.

“ Kenapa Soyu noona begitu menyukaimu.” Ujar Suho sambil memegang dahunya setengah menyelidik.

Jungkook hanya mencibir selayaknya anak kecil. Ia mengambil beberapa berkas yang terletak di mejanya dan sesegera mungkin keluar dari ledekan pedas laki-laki yang tengah bersamanya, sebelum ia menghilang dari balik pintu, ia sempat menolehkan kepalanya melihat Suho yang tengah menatap jail kepadanya “ Aku membencimu.”

Suho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak laki-laki yang baru saja keluar meninggalkan ruangannya. Mata hitamnya melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 2 siang. Ia kembali melirik yeoja yang sempat mengalihkan perhatiannya.

“ Eun Soo, Kau wanita yang kuat.” Gumamnya kecil.

***

.

.

Langit tak secerah waktu yang sudah menunjukan pukul 2 siang, Langit sedikit lebih gelap layaknya senja sore. Hujan pun tak dapat menghentikan setiap tetesan demi tetesan yang tak bisa terhitung jumlahnya, untuk dapat berhenti dan menyuruh seluruh penghuni kota dapat mengerjakan seluruh kegiatannya kembali.

Namun tampak satu diantara mereka lebih baik menyendiri dan merenungi dirinya, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sudah berapa lama ia duduk sambil memperhatikan hujan yang tak kunjung reda. Entahlah, siapapun akan berkata jika yeoja itu benar-benar sedang dalam keadaan yang cukup rumit. Seharusnya ia memang harus menyendiri tapi seseorang datang untuk sekedar melihat, apakah dia baik-baik saja.

“ Sudah berapa lama kau duduk disini?” Suara berat terdengar di telinga yeoja itu membuat matanya untuk melihat laki-laki yang duduk di sebelahnya.

“ Su-suho Oppa, kenapa kau disini?” Ucap Eun Soo sedikit terkejut dengan kehadiran namja yang akrab dipanggil Suho tersebut, Pasalnya ia baru menangis tadi. Tidak bisa dipungkiri bawah yeoja itu menangis lagi di depan laki-laki yang terakhir kali menolongnya sekitar beberapa minggu yang lalu.

“ Eun Soo, Pasti kau baru menangis lagi.” Ucap Suho setengah menyelidiki.

Yeoja bernama Eun Soo tersebut terdiam sesaat dan kemudian mencoba untuk tidak merepotkan laki-laki yang berada di sampingnya “ Ani . . Aku hanya sedang menunggu hujan berhenti.” Dustanya.

Suho menatap lekat yeoja yang ada di hadapannya “ Kau berbohong.”

Bungkam, hanya itu yang bisa yang bisa digambarkan oleh raut wajah Eun Soo. Yeoja itu tidak tau berkata apa-apa karena perkataan Suho barusan tepat mengenai sasaran.

“ Apa Sehun lagi?” Perkataan itu sudah beribuan kali terucap oleh bibir Suho. Namun yeoja itu tidak pernah bosan mendengarnya.

“ Tidak Oppa, Aku hanya memikirkan Luhan oppa.” Jawab Eun Soo dengan mimik wajah yang sulit diartikan.

Suho tidak berniat untuk menanyakannya lebih jauh, ia takut jika Eun Soo akan menangis lagi. Karena ia tahu hati wanita itu bagaikan kaca yang rentan retak.

“ Wah sebentar lagi hujan reda, Bagaimana jika aku mengantarmu pulang.” Tawar Suho yang sudah mengganti topik pembicaraan mereka.

Eun Soo menganggukan kepalanya pelan “ Baiklah.”

***

.

.

Tak jauh dari sana dua pasang mata memperhatikan mereka. Di dalam mobil sedan hitam yang sedang terpakir rapi tersebut menjadi saksi bisu atas pertemuan dua insan yang sedang duduk sambil berteduh menunggu hujan. Salah satu dari mereka mencoba untuk menghancurkan keheningan yang begitu terasa. Ya, setidaknya memulai pembicaraan.

“ Sampai kapan kau berdiam diri Oh Sehun.” Ucap salah satu dari mereka.

Laki-laki yang dipanggil Oh Sehun itu segera menoleh ke sumber suara dengan wajah datar “ Entahlah hyung, Kau tau ini sangat rumit.”

Hyung atau laki-laki yang bertag name ‘Jung Luhan’ , kakak laki-laki Eun Soo tersebut sedang bersama Oh Sehun yang merupakan suami dari Jung Eun Soo. Mereka secara diam-diam mengikuti Eun Soo hanya untuk memastikan dia akan baik-baik saja. Semenjak kepulangan Luhan, Eun Soo lebih banyak menghabisi waktunya sendiri. Ia terkadang sedikit mendiami kakak laki-lakinya itu, atau mungkin karena masalah laki-laki itu. (notes: harap baca notes author di bagian akhir)

“ Kau sudah menjadikan dia milikmu Oh Sehun?” Sebuah pertanyaan begitu saja terlontar dari mulut Luhan.

Kali ini Sehun menarik sudut bibirnya dan tersenyum miring “ Tentu saja aku sudah melakukannya.”

Luhan tampaknya mulai mengerti “ Baguslah.”

Hyung, apakah kau yakin Eun Soo bisa melupakannya?” Ucap Sehun dan mengarahkan ujung matanya melihat yeoja yang tak luput dari mata coklatnya.

Luhan sejenak menghela nafasnya yang terasa berat namun ia kembali tersenyum tenang “ Mungkin, kita akan berusaha.”

Sehun mencerna setiap pembicaraan mereka yang tengah berlangsung. Ia kemudian mengarahkan mata coklatnya menatap kakak iparnya tersebut dengan sedikit menyipitkan. Luhanpun membalasnya dengan wajah malasnya “ Oh ayolah Oh Sehun Katakan apa yang akan kau lakukan selanjutnya, jangan membuatku bosan.”

Sehun meyandarkan punggungnya di bangku jok dan merenggangkannya sendi-sendi tubuhnya untuk melepaskan letih dan lelah karena sampai hari ini saja ia tidak pernah berhenti pada pekerjaan kantor yang menumpuk “ Untuk saat ini aku memang sudah memiliki hampir seluruh hidupnya, Tapi tidak untuk hatinya.”

Luhan yang mengerti perkataan Sehun menatapnya dengaan seksama “ Jadi maksudmu kau ingin mengambil hatinya juga.”

Sehun tidak perlu berfikir banyak tentang masalah itu karena sampai saat ini pun ia hampir memulainya bahkan mencoba untuk memaksanya “ Kau benar Hyung, Itulah tujuanku selanjutnya, dengan begitu aku bukan hanya memiliki sebagian dari hidupnya tapi seluruh hatinya.”

Perkataan Sehun membuat Luhan tersenyum penuh kemenangan “ Seharusnya seperti itu Sehun, dan kau tau aku percaya padamu.”

Dan Sehun pun tersenyum miring yang menampakan smirk andalan miliknya.

Hujan semakin menujukkan tanda-tanda akan segera reda. Sehun mengarahkan mobil hitamnya melesat pergi meninggalkan tempat itu, tidak ada yang perlu ia takutkan karena ia cukup percaya pada Suho untuk menjaga Eun Soo, pasalnya Sehun cukup lama mengenal teman SMA nya tersebut. Ia laki-laki yang baik dan beribawa bahkan di mata Sehun sendiri.

***

.

.

Setelah cukup lama menunggu hujan, akhirnya Suho dan Eun Soo meninggalkan tempat tersebut. Suho berbaik hati mengantarkan Eun Soo sampai depan rumah mewah keluarga Oh.

Oppa, kau tidak ingin masuk?” Tawar Eun Soo sedikit memaksakan senyum manisnya. Pasalnya, moodnya tidak terlalu baik.

“ Aku masih ada urusan di tempat lain, mungkin lain kali saja.” Ucap Suho sambil membuka pintu mobilnya.

Eun Soo mengerti jika laki-laki itu selalu sibuk dengan pekerjaannya “ Baiklah, Terimakasih telah mengantarku oppa.

Suho tersenyum dan masuk ke dalam mobil. Eun Soo menunggu mobil Suho hilang di ujung jalan. Ketika mobil itu telah hilang Eun Soo segera memasuki rumahnya. Keadaan keluarga Oh tersebut tidak pernah berubah.

“ Nyonya sudah pulang?” Ucap Bibi Sin ketika Eun Soo sudah sampai di ruang tamu. Eun Soo membalasnya dengan menganggukan kepalanya.

“ Kebetulan, Tuan muda Oh Sehun sedang menunggu Nyonya di atas.” Ucap Bibi Sin lagi.

Eun Soo terlihat kebingungan namun ia langsung menyetujuinya. Dengan langkah yang cukup panjang, ia telah sampai di depan pintu ruang kerja milik Sehun. Ia mengetuk pintu tersebut.

“ Masuk.”

Sebuah suara menyahutnya dari dalam dan Eun Soo yakin dia adalah Oh Sehun. Eun Soo tidak ingin menghabiskan waktunya, ia segera membuka pintu tersebut dan terpapanglah seorang laki-laki yang sedang duduk menyelesaikan tugas yang begitu banyak, siapa lagi kalau bukan, Sehun.

“ Kau sudah pulan?.” Sebuah kalimat yang tidak pernah Eun Soo dengar dari bibir Sehun. Ya, keadaan yang begitu aneh bagi Eun Soo, namun ia mencoba untuk berpura-pura.

“ Untuk apa kau menyuruhku kesini?” Ucap Eun Soo to the point.

Sehun beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Eun Soo “ Memastikan kau baik-baik saja.”

“ Apa maksudmu?”

Sehun kembali tersenyum, namun senyum itu sangat mengerikan“ Jung Eun Soo, kau tidak bermain-main di belakangku kan.”

Eun Soo terdiam mencoba mencerna perkataan Sehun “ Aku tidak mengerti dengan perkataanmu Oh Sehun.”

Sehun semakin memperpendek jarak diantara mereka. Entah gerakan dari mana Sehun langsung menarik tangan kiri Eun Soo dan mendekatkan ke tubuhnya. Tanpa ragu-ragu Sehun menempelkan bibirnya tepat di bibir merah Eun Soo. Eun Soo yang terkejut atas perlakuan tidak senonoh itu mencoba memberontak namun Sehun langsung menahan tubuhnya agar tidak bergerak sedikitpun. Sehun sedikit memiringkan kepalanya agar leluasa memainkan bibirnya. Tanpa mereka sadari seseorang dari celah pintu memperhatikan mereka secara seksama. (notes: harap baca notes author di bagian akhir)

~TBC~

(Chapter 3)

.

.

.

Seharusnya aku masih berjalan di rel yang masih sama, ketika kebahagian tidak lagi bersamaku.

Mungkin bukan hanya aku yang terluka disini, tapi bahkan seluruh orang yang ada disekitarku.

Ketika semua orang berharap aku dapat menghapus kenangan lama itu.

Namun Seorang iblis itu terlebih dahulu mengikatku, tidak ada jalan keluar terkecuali sebuah kesempatan.

Apakah ada kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan yang setelah sekian lama menunggu.

Atau mungkin semua ini sudah direncanakan?

.

.

.

( Mohon untuk membaca Author Note J )

A/N : Anneyong Readers, apakah masih ada yang menunggu kelanjutan FF ini. Ok, Author akan memprotect Chapter 3 nya. Petama-tama Author minta maaf yang sebesar-besarnya dan Maaf sebelumnya kalau Author ngasih taunya baru sekarang. Karena Auhtor ingin melihat kesungguhan para readers untuk menunggu FF abal-abal ini. Karena beberapa hari yang lalu Author melihat sebuah komentar yang berisikan tulisan salah satu readers yang membuat membuat Auhtor langsung down, Dan juga untuk mengurangi Siders Readers. Untuk Chapter 3 nya Leght nya sekitar ± 5.000 words.

Ok langsung aja, gimana cara mendapatkan password?

How To Get Password? 😀

Tidak rumit kok, ada beberapa cara yang bisa digunakan 😀

  1. Cara pertama terbilang paling mudah, readers bisa Mengirim pesan (SMS) Ke Nomor kontak Author ( 085268059844 ) dengan isi pesan ‘ Password Marriage Contract? (Chapter 3) dan jangan lupa untuk menulis ID Komentar readers juga dibawah isi pesan. 😀
  2. Bisa juga menghubungi kontak fb Author ( https://www.facebook.com/asihe.forevershinee1 ) dengan syarat tulis ID Komentar readers yang sering digunakan dan juga isinya yang bertuliskan ‘ Password Marriage Contract? (Chapter 3) ‘. Mohon untuk menulisnya di Chatting, jangan di Dinding/Wall FB.
  3. Dan cara terakhir, bisa mengirim melalui email ( asihsnow@yahoo.com ) dengan Subject : Password Marriage Contract? ( Chapter 3 ) dan jangan lupa tulis ID Komentar kamu ya 😀
  4. Jika sudah mendapatkan password, ingat jangan memberitahu/menyebarkannya. Dan masukkan kata sandi setelah Chapter 3 sudah dipost 😀

(Pilih salah satu yang paling mudah untuk dihubungi 😀 )

Author Akan kasih Contohnya : J

  1. To : 085268059844

Thor minta password Marriage Contract? (Chapter 3) dong.

ID Komentarku : Shizz yeong       (Ini hanya contoh saja)

  1. ( Tulis di Chat FB )

Thor minta password Marriage Contract? (Chapter 3)

ID Komentarku : Miss_Galaxy     ( Ini hanya contoh saja)

  1. To : asihsnow@yahoo.com

Subject : Password Marriage Contract? (Chapter 3)

(Tulis di kolom besar untuk mengetik)

ID Komentarku : Zay_youlw       ( Ini hanya contoh saja)

Tidak sulitkan? Jika readers menulis subjek dan ID nya, Author akan langsung mengirim Passwordnya 😀

( Untuk Nomor 1 Jangan dikerjain Nomor kontak Author ya J ) Dan menurut Author akan lebih mudah jika readers memilih nomor 1 hehe 😀

( Untuk ID Komentarnya akan Auhtor lihat dari awal Teaser, Chapter 1 dan Chapter 2 nya ini 😀 )

Salam FFINDO . . 😀

마이 베비 오페도스 a.k.a 아싷 트리 아스투티

Link Marriage Contract ( TeaserChapter 1 Chapter 2 – Chapter 3 (dipassword) Chapter 4 – Chapter 5 – Ongoing )

857 responses to “[Series] Marriage Contract? (Chapter 2: I Wish You )

  1. sedih.. liat eunsoo dikasarin terus tapi kasian jga sehunnya..
    Eunsoo cinta mati bngt yah ma Cheou udah nikah aj masih mikirin dia pdhlkn udah ad sehun yg cinta & sayang banget pe mau bikin perjanjian konyol kya gitu..
    trs knp luhan benci bngt sama Cheou & lebih suka sama sehun..

  2. Tuh kannnn… sebenernya Sehun cinta matii sma eun soo… tp salah pke cara… jgn terlalu possesif sma cewe ntar cwe nya mlh makin menjauh..

  3. gak tahulah, sekejam kejamnya Sehun, tapi kasihan juga. Eun soo nya juga kurang perhatian sama Sehun makanya, Sehun kayak gono, dia butuh perhatian, dia butuh cinta eunsoo :). Tetep semangat utk chapter selanjutnya 🙂

  4. Greget deh,sebenernya sehun itu cinta ama eun soo,tapi sehun ngga tau harus gimana,jadi dia kasar ama eun soo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s