[One Shot] Confession

FF ini ditulis oleh @sadanema , bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian melalui jejak komentar setelah membaca. Terimakasih~
*Untuk melihat index FF lainnya yang pernah dititipkan melalui saya, Klik disini

confession

 

Cast : Park Jinyoung

         Moon Aerin

Author : GSB (@sadanema)

Genre : Comedy, romance, friendship, and fluff 

Rating : PG – 13

Length : >1900 words

Note : Sebelumnya sudah pernah dipublish di GIGSent fanfiction

 

 

Tampil berbeda dengan gaya yang tak biasa atau tenggelam bersama pemuda lain yang bernampilan selaras, seolah mereka adalah anak-anak tak berpendirian. Jinyoung tidak tahu harus bagaimana lagi. Ia terlalu pusing untuk memikirkan cara paling anti mainstream tapi ia pun tak ingin hanya dibalas dengan senyuman manis tanpa arti seperti yang lain. Ia ingin menjadi berbeda, karena ia ingin Aerin menganggapnya berbeda dari pemuda-pemuda lain yang sudah menyatakan perasaannya pada gadis itu.

 

Ia ingin Aerin menatap matanya dengan dalam sambil mengerutkan dahi begitu mulutnya mengakui segala rasa yang selama ini memenuhi dadanya. Itu tidak berlebihan, kan? Semua orang ingin menjadi bagian istimewa kan? Tapi sayangnya Jinyoung sama sekali tidak tahu bagaimana caranya menarik perhatian Aerin. Ia hanya pemuda berusia dua puluh tahun yang terlalu konyol untuk melakukan secuil aksi romantis. Ia pun bukan Goo Jun Pyo yang bisa membeli apa saja untuk gadis yang ia sukai. Tidak…uang sakunya bahkan tidak cukup untuk membeli gelang cantik yang diceritakan Aerin padanya dua minggu lalu.

 

Mungkin ia bisa membeli gelang berhias batu onyx itu jika saja ia mengambil sebagian besar uang tabungannya di Bank, tapi itu hanya jika saja ia melakukannya. Ia memang pernah berpikir seperti itu sebelumnya, namun langsung mengurungkannya saat wajah seram ala pasukan militer milik ibunya melintas bersama senyum Aerin di kepalanya. Wajah seram ibunya dan senyum manis Aerin. Sungguh bukan perpaduan yang baik. Itu ironis.

 

Ia mendesah untuk kesekian kalinya. Tanpa ia sadari aksi menyedihkannya itu sudah berlangsung lebih dari sepuluh kali. Hebat sekali pengaruh Aerin terhadap dirinya. Huft.. kali ini ia mendengus, menerbangkan rasa gatal yang menggelayuti hidungnya. Kepalanya yang terangkat dan hendak menunduk, nyatanya kembali tegak begitu wajah cemberut Aerin tertangkap matanya. Gadis itu sedang berjalan ke mejanya. Yah..tentu gadis itu akan datang padanya. Jika tidak detik ini, mungkin menit berikutnya. Ia tahu hal itu karena Aerin adalah teman baiknya. Mereka berteman setelah sama-sama tersesat saat mencari gedung kampus. Saat itu Jinyoung tak pernah menyangka jika gadis yang tak sengaja menginjak kakinya dan membuatnya terpeleset di Lobby utama itu akan menjadi alasan utama dari kekacauan sistem berpikirnya.

 

Gadis itu mengempaskan tubuhnya dengan cukup signifikan hingga Jinyoung yakin jika gadis itu baru saja mengalami hal buruk. Ia memandangi Aerin dengan seksama. Banyak pertanyaan berkelebat dalam kepalanya, tapi ia menahan mulutnya agar tak mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

 

“ Aku tak tahu kenapa ia bisa bersikap sebrengsek itu! Waktu itu ia menawari posisi ketua pengurus majalah kampus padaku. Tapi karena kemarin aku menolak pernyataan cintanya, ia langsung mengusirku dari ruang rapat, seolah aku telah mengisi majalah kampus dengan hal-hal buruk!” ungkap Aerin tanpa diminta, tapi Jinyoung pun tak menolak. Ia mendengarkan gadis itu dengan baik.

 

Gadis itu memang kelihatan menarik, tapi Jinyoung berani bersumpah jika Aerin bukanlah gadis paling manis yang pernah ia temui di hidupnya. Aerin itu adalah gadis hebat yang juga hebat dalam urusan mengutuk orang lain. Salah satu kemampuan Aerin yang sangat mencolok adalah kemampuannya dalam mengumpat serta memaki orang lain. Gadis itu tak semanis kelihatannya.

 

“ Brengsek! Ia pikir aku tak seberharga itu sampai ia harus menunjukkan pintu keluar padaku padahal aku baru saja masuk ke dalam ruangan? Ia pikir dirinya sangat hebat?”

 

“ Mungkin kau perlu sedikit pelajaran. Pria seperti Tae Woo memang suka menyalah gunakan kekuasaan yang dimilikinya. Tentu kau ingat bagaimana mudahnya ia menyerahkan jabatan penting itu padamu. Ia bukan orang yang tepat untuk menjabat sebagai ketua dewan mahasiswa.” Tanggap Jinyoung dengan nada datar. Tak bermaksud untuk menenangkan, karena Jinyoung memang sedang tak mencoba untuk menenangkan Aerin. Tidak. Terkadang seseorang perlu mendapat sedikit ‘cubitan’ untuk menyadari sesuatu dan Jinyoung sedang melakukannya pada Aerin.

 

Aerin menatap Jinyoung jengkel, tapi tak membalas ucapan Jinyoung. Ia hanya melampiaskan kekesalannya bersama dengusan berat yang ia empaskan dengan tidak sabaran.

 

Jinyoung menggerakkan jari telunjuknya untuk mendorong kacamatanya yang mulai merosot. “ Dan kau menerima jabatan itu tanpa berpikir dua kali. Kupikir kau sangat cerdas, tapi nyatanya kau tak secerdas itu. Atau mungkin kau hanya menurunkan tingkat kecerdasanmu untuk mendapatkan jabatan yang paling kau harapkan tanpa banyak usaha. Well..opini kedua, kedengaran jauh lebih masuk akal.” Jinyoung menutup penuturannya dengan sebuah gerakan mengangkat bahu.

 

Mungkin ucapannya akan menyinggung Aerin, tapi ia yakin semua itu tak akan mampu menyakiti hati Aerin. Ia sudah memperkirakan segalanya sebelum mengatakannya. Aerin adalah gadis kuat yang memiliki pemikiran lugas, meski sedikit gila jika sudah menyinggung masalah fangirling dan boyband. Jangan pernah bertanya tentang kumpulan pria tampan yang menyanyi sambil menari pada Aerin jika kau tak ingin telingamu berhenti berfungsi.

 

Jinyoung menyadari raut kesal di wajah Aerin. Yah…Aerin memang kesal, tapi ia tak merasa perlu untuk membantah ucapan Jinyoung. Ia memang kelewat gelap mata saat kesempatan emas itu datang tanpa perlu dikejar dengan susah payah.

 

Gadis itu meloloskan helaan panjang sambil meluruskan tangannya yang terlipat. “ Ya..kedudukan bisa membuat siapa saja menjadi tolol, asal kau tahu.” Kali ini Aerin tidak berbalik untuk melihat anggukan jinyoung. Ia sedang sibuk mengamati kuku-kuku jemari tangannya yang terlihat lebih buruk dari milik Jinyoung.

 

“ Dan..pria seperti Si Brengsek itu tak akan pernah masuk ke dalam kriteria pria yang akan kuajak berwisata ke bulan.” Ucapnya sambil mengangkat bahunya pelan.

 

Mendengar penuturan Aerin barusan. Jinyoung menancapkan tatapannya pada si gadis yang tengah mengamati kuku-kuku jemarinya dengan miris. Alis Jinyoung bertaut di atas keningnya yang berkerut.

 

“ Kau berencana mengajak seorang pria berwisata ke bulan?” pertanyaan itu lolos dengan mudah setelah kumpulan rasa penasaran dalam kepalanya bergelindingan dan mendorong kalimat itu keluar.

 

Aerin tak mengalihkan pandangannya, tapi gadis itu mengangguk.

 

“ Ya..suatu saat nanti aku ingin pergi ke bulan bersama pria yang kusukai. Gila kan? Tapi menurutku itulah poin utamanya. Jika pria itu menyukaiku, ia pun harus menyukai sisi gila dalam diriku serta semua hal yang melekat dalam jiwaku.” Tukas Aerin dengan jelas.

 

Yah…meskipun gila, tapi ide ini sangat cerdas dan romantis. Jinyoung masih mengamati Aerin yang kini menyerah, gadis itu sudah lelah meratapi kuku-kukunya yang buruk. Mata kecil itu berpindah ke arahnya dan melebar begitu mendapati Jinyoung tengah menatapnya dengan penuh pikiran.

 

“ Aku tahu ideku gila, tapi kau tak perlu berpikir jika aku benar-benar gila. Ide itu melintas begitu saja saat–“

 

“ Kalau begitu aku tak keberatan untuk ikut denganmu ke bulan. Apa saja persyaratan yang harus kupenuhi? Menerima sisi gila serta semua hal yang melekat pada dirimu kan? Kalau begitu aku sudah lolos kualifikasi. Aku sudah menerima semua itu sebelum kau memintaku untuk melakukannya.” Lontar Jinyoung tanpa kedengaran canggung atau gugup.

 

Beberapa hari belakangan ini ia terus memikirkan cara yang berbeda serta pengakuan romantis yang bisa ia lakukan. Tapi sekarang ia tak peduli apakah caranya sangat pasaran atau tidak romantis. Ia hanya ingin Aerin segera mengetahui perasaannya. Dan ia tak perlu menjadi berbeda, ia juga tak perlu latihan menjadi pria romantis ala pria Prancis. Ia hanya perlu menjadi dirinya dan mengungkapkan segalanya dengan caranya. Karena ini pengakuannya dan ia ingin Aerin tahu itu.

 

Selama beberapa detik Aerin memandangi Jinyoung tanpa berkedip, hingga akhirnya kembali berkedip setelah matanya terasa perih. Jujur saja, ujung jarinya melemas, walau sebenarnya tangan dan sekujur tubuhnya pun begitu.

 

“ Maksudmu?” tanya Aerin menuntut penjelasan.

 

“ Maksudku kau bisa membawaku ke bulan karena aku mewakili semua kriteria yang kau inginkan. Aku menyukaimu dan aku menerima semua sisi dirimu, baik maupun buruk. Akupun bersedia menemanimu mengelilingi bulan jika itu yang kau inginkan.” Urai Jinyoung yang mulai berdebar.

 

Bohong saja jika ia merasa tenang. Keadaan ini hampir mirip dengan detik-detik pengumuman kelulusan saat SMA dulu. Begitu berdebar, begitu banyak harapan dan begitu banyak kecemasan. Ketiga hal itu bercampur sempurna di dalam dadanya.

 

Mata Aerin belum meninggalkannya, masih setia menatapnya dengan tatapan tak percaya. Mungkin Aerin terkejut kalau pria yang selama ini ia anggap sebagai sahabatnya, diam-diam menyimpan harap untuk bisa menjadi kekasihnya.

 

Sekali lagi Aerin mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum menyiapkan kata-kata yang tepat untuk dikatakan.

 

“ Tapi kalau kau tidak ingin mengajakku ke bulan juga tidak masalah. Aku akan mengajakmu berkeliling Seoul sebagai teman baikmu.”

 

“ Tidak! Maksudku kenapa aku harus tidak ingin mengajakmu, kalau selama ini aku terus memikirkan cara untuk mengajakmu pergi? Astaga…kalau kutahu semudah ini, harusnya kutanyakan hal ini lebih awal.” Pandangan mata Aerin berubah. Berubah menjadi berbinar dan semakin berbinar.

 

Mata itu memancarkan sinar antusiasme yang tak terbantahkan dan untuk hal itu Jinyoung tersenyum. Merasa senang karena gadis yang berkeliaran di benaknya, gadis yang membuang waktunya hanya untuk memikirkan apa gadis itu baik-baik saja ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya. Meski Jinyoung belum tahu pasti apakah kadarnya sama banyak dengan yang ia miliki. Ia akan menanyakan itu pada Aerin, tapi tidak sekarang.

 

“ Jadi kau, maksudku kau tak keberatan menjadi kekasihku?” suara Jinyoung terdengar antusias tapi tak meledak hingga semua orang di perpustaakan dapat mendengarnya.

 

“ Aku dengan senang hati menerimamu.” Gadis itu tertawa pelan, hingga Jinyoung pun tertawa.

 

“ Sial! Kenapa kau tidak mengatakannya lebih awal? Setidaknya aku tak perlu repot-repot menyusun rencana untuk menyatakan perasaanku padamu minggu depan.” Racau Aerin mengungkapkan rencana gilanya untuk minggu depan.

 

“ Tepat di hari ulang tahunku? Kau sedang mencoba untuk romantis atau apa?”

 

“ Entah. Aku hanya merasa itu waktu yang tepat.” Jawab Aerin dengan suara lebih rendah.

 

Kini keduanya terdiam, terjebak dalam getaran aneh yang tiba-tiba menelusup ke kulit leher. Tiba-tiba Aerin merasa gugup, ia sedikit gemetar karena keberadaan Jinyoung. Dan hal yang samapun dirasakan pemuda itu.

 

“ Aku tak menyangka kau menyukaiku.” Ucap Jinyoung pelan. Ia melemparkan pandangannya pada salah satu halaman novel tebal yang tadinya tengah ia baca.

 

“ Kau saja yang terlalu tolol untuk bisa menyangkanya.” Ujar Aerin dengan suara pelan namun penuh dengan aksen mengejek.

 

Jinyoung langsung menoleh ke arah Aerin dan menemukan gadis itu sedang terkekeh senang sambil mengangkat bahu dengan tenang.

 

“ Bukan salahku! Kau memang tak pernah menunjukkan tanda-tanda kalau kau menyukaiku!” sungut Jinyoung mengajukan protesnya. Ia tidak terima, terutama pada julukan ‘Sangat Tolol’ yang diberikan Aerin untuknya.

 

“ Mengirimimu cokelat saat hari valentine dan natal tak membuatmu sadar? Mana ada gadis yang melakukan hal itu pada pria yang tidak mereka sukai?” Jelas Aerin dengan nada lebih mengejek.

 

“ Tapi kau bilang memberi cokelat bisa dilakukan kepada teman!”

 

“ Yah untuk beberapa kasus mungkin. Tapi untuk kasusku tidak. Aku hanya memberikan cokelat pada pria yang kusukai.” Jawaban Aerin langsung mengatupkan mulut Jinyoung rapat-rapat. Penuturan itu bagai menyebarkan getaran hebat ke seluruh tubuhnya.

 

“ Akui saja kalau kau itu memang sangat tolol Park Jinyoung!”

 

Jinyoung merengut. Sungguh….ia benci mendengar kata ‘Sangat tolol’ dan namanya disatukan.

 

“ Aku memang payah karena tak menyadarinya, tapi bukan berarti kau bisa menghinaku dengan sebutan tolol!”

 

Aerin semakin geli dengan aksi protes yang dilakukan Jinyoung. Itu membuatnya semakin senang dan tentunya membuat Jinyoung semakin kesal.

 

“ Memangnya kenapa? Tuan Tolol dan Nona Gila sepertinya julukan yang lucu. Menurutmu bagaimana?”

 

Jinyoung mendesis kemudian mendengus. “ itu sangat buruk! Oh ayolah!! Tolol itu terlalu menyedihkan! Seolah aku manusia dengan tingkat IQ paling rendah yang menganggap bahwa bentuk bumi itu trapesium. Tolol itu sangat…”

 

“ Sangat Park Jinyoung. Aku benar, kan?”

 

Aerin tertawa puas melihat bagaimana Jinyoung mengusap wajah serta mendengus lelah. Pria itu benar-benar frustasi.

 

Huft..Tuan Tolol dan Nona gila?? Sebutan macam apa itu? Jadi jawaban dari semua keresahannya selama ini hanyalah sebuah jawaban sederhana yang membuatnya ingin meledak?

 

Ia tak perlu menjadi berbeda untuk menarik perhatian Aerin. Ia pun tak membutuhkan rangkaian kata super romantis untuk menawan hati gadis itu. Namun tragisnya ia hanya perlu menjadi tolol yang sangat Park Jinyoung dan bersedia berwisata ke bulan bersama gadis itu. Well..itu sangat menyebalkan tapi ia akan mencoba untuk menerimanya.

 

Dan mungkin ia juga harus mengatakan pada Aerin kalau ia belum mampu membayar semua biaya yang dibutuhkan untuk perjalanan mereka ke bulan. Bahkan lima atau tujuh tahun lagi pun belum. Atau mungkin ia butuh waktu lebih lama untuk mengumpulkan uang yang banyak. Tapi mungkin Aerin tak akan keberatan. Setidaknya Jinyoung sudah berbesar hati merelakan gelar mahasiswa cerdas peraih beasiswa yang sering dipamerkan ibunya ke tetangga, hanya untuk menjadi Park Jinyoung yang tolol yang disukai Moon Aerin. Itu cukup adil kan?

 

 

END

 

Ini ff perdanaku yang dipublish di sini. Sebelumnya terimakasih untuk admin yang udah bersedia buat bantu publishin ff ini. Sekali lagi makasih. Dan..semoga yang bacapun terhibur sama ff ini..oke makasih…

 

Cheers,

GSB

 

2 responses to “[One Shot] Confession

  1. seneng deh bacanya, pemilihan diksi sama tatanan bahanya bagus thor. ga kaya ff kebanyakan, makna ceritanya dapet lagi. aduh cie cie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s