[Series] El Amor Verdadero (Chapter 3: Regret)

FF ini ditulis oleh Oh Silvy , bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian melalui jejak komentar setelah membaca. Terimakasih~
*Untuk melihat index FF lainnya yang pernah dititipkan melalui saya, Klik disini

Picture1 (1)

Author                     : Oh Silvy

Tittle                         : El Amor Verdadero ( Chapter 3 : Regret )

Main Cast               : Oh Sehun, Kim Soo Han, etc.

Genre                      : Romance, School life.

Rated                       : PG-16

Link EL Amor Verdadero: ( Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Ongoing )

EL AMOR VERDADERO

CHAPTER 3

(Regret)

 “Appamu.” Orang itu menghentikan lagi langkahnya. Tampak matanya mulai tak fokus, perasaan tak enak muncul dihatinya.

Appa wae ahjussi?” Suaranya mulai meninggi, ia alihkan langkahnya menuju parkiran sekolah.

(Regret)

 “Soo, kau mau pesan apa?” Setelah bermain tebakan ‘siapa yang mengikuti kita’, akhirnya Soohan dan Seoyoon mendudukkan diri di bangku pojok kantin. Pemandangan dari tempat duduk Soohan langsung mengarah ke lapangan parkir. Mata Soohan menyipit melihat seorang namja yang tiba-tiba berlari tapi kemudian berhenti tepat di pintu masuk parkiran. Pandangan Soohan terus tertuju pada namja itu hingga telepon genggamnya bergetar.

Nde ahjussi. Wae?” Setelah mendapat telepon dari sekretaris appanya, pandangan Soohan tak fokus. Bahkan panggilan Seoyoon tak digubrisnya. Keinginannya kali ini hanya ingin sampai ke rumah sakit. Ia terus berlari keluar area sekolah, tapi tepat di depan pagar, ia langsung mengalihkan langkahnya menuju lapangan parkir.

“Se-sehun, tolong aku jeball.” Soohan menyadarkan Sehun dari lamunan karena kabar tak enak dari teman appanya.

Wae?” Suara Sehun bergetar seperti menahan tangis membuat Soohan ragu untuk meminta tolong pada namja jangkung ini. Tapi ia harus cepat kerumah sakit.

“Tolong aku, nae appa, aku harus ke rumah sakit sekarang. Jeball.” Soohan mengapalkan tangannya didepan dada memohon bantuan pada Sehun dengan air mata yang mulai mengalir dipipi halusnya.

Kajja.” Sehun langsung menarik Soohan untuk menaiki mobil sportnya dan langsung menuju ke rumah sakit tempat appa Soohan dirawat.

(Regret)

Seoyoon panik setengah mati, ia terus berkeliling sekolah. Soohan sama sekali tidak menjawab pertanyaannya tadi dan langsung pergi begitu saja. Seoyoon kira Soohan sedang menenangkan diri disuatu tempat, tapi ia tak menemukan Soohan. Bahkan ia sudah meminta bantuan Kyungsoo, Chanyeol dan Kai.

“Sudahlah Seo, mungkin dia sedang ada urusan penting dan tidak berada disekolah.” Kyungsoo terus menenangkan Seoyoon yang tengah menangis. Soohan tidak pernah begini sebelumnya, pikirnya.

“Hiks, bodoh. Kenapa tidak terpikir dari tadi.” Seoyoon bergumam disela tangisannya dan langsung berlari meninggalkan Kyungsoo dan Chanyeol yang berpandangan bingung.

“Seo, kau kenapa?” Kyungsoo bingung, sejak Seoyoon meninggalkannya dan Chanyeol dan bertemu lagi di kelas, Seoyoon terus duduk gelisah. Dan ketika jam pelajaran berakhir, Seoyoon langsung menarik Kyungsoo untuk ikut dengannya.

(Regret)

   “Appa.” Setiba di rumah sakit, Soohan langsung menuju ke kamar rawat appanya tanpa menghiraukan Sehun. Ia sangat khawatir terhadap appanya karena dari kabar yang ia dapat, appanya hampir menjadi korban pembunuhan jika saja ia tidak diselamatkan oleh seorang polisi.

“Dimana polisi itu ahjussi, aku ingin berterima kasih.” Setelah tenang dan lega mendengar appanya tidak mengalami luka serius, Soohan memberanikan bertanya pada sekretaris appanya yang saat itu menemukan appa Soohan sedang tak sadarkan diri di ruang kerjanya.

“Dia..” sekretaris Seo ragu untuk memberi tahu Soohan, karena ia tahu bahwa anak dari atasannya itu mudah stress jika mendengar kabar buruk. Soohan mengerutkan dahi mendengar nada ragu dalam suara sekretaris appanya itu.

“Ekhem, dia-dia ada di kamar mayat, agashii.” Soohan membelalakkan matanya dan meminta penjelasan dari sekrataris appanya. Setelah mendengar kronologi kejadian percobaan pembunuhan appanya-walau dengan paksaan, Soohan berjalan dengan lemas kearah kamar mayat, tempat polisi yang menyelamatkan appanya disemayamkan untuk sementara. Pandangan yeoja itu kosong, bahkan ia tidak mengeluarkan setitikpun ekspresi. Langkahnya terhenti didepan kamar mayat, menajamkan pendengarannya. Sepertinya keluarga ahjussi itu sudah datang, pikirnya.

Dengan tangan gemetar, Soohan memegang kenop pintu dan bagaikan seluruh tenaganya diserap oleh makhluk tak kasat mata, kakinya meleleh membuat yeoja itu terduduk tepat di depan pintu kamar mayat.

Mian.” Suaranya tercekat, isakan kecil mulai keluar dari bibirnya. Ia tak sanggup mendengar tangis dari yeoja didalam yang sepertinya adalah istri dari korban.

‘Eomma, kenapa appa tidak mau bangun?’ Saut-saut suara anak kecil masuk melalui gendang telinga Soohan dan dengan cepat ia memproses pemilik suara yang familiar itu.

“Soohaaaan.” Soohan mengalihkan pandangannya pada yeoja yang sedang berlari kearahnya.

“Seo, Kyung, hiks.” Soohan langsung mendekap Seoyoon dan Kyungsoo saat mereka tepat berada dihadapnya.

“Tenanglah, kau pasti bisa melewati masa sulit ini.” Kyungsoo mengelus pelan punggung Soohan, berusaha membuat yeoja berambut emas itu menghentikan tangisnya. Kyungsoo sudah tahu tentang appa Soohan yang dirawat dan ahjussi yang menolongnya dari Seoyoon.

Setelah merasa tenang, Soohan berniat untuk menemui keluarga paman yang telah menyelamatkan appanya. Dengan sayang, Seoyoon dan Kyungsoo menjaga agar Soohan tetap berdiri mengingat kaki anak satu itu sangatlah lemas. Kyungsoo mengangguk meyakinkan saat Soohan menatapnya ragu, dan tepat saat ia akan memegang kenop pintu itu, seseorang telah terlebih dahulu membuka pintu membuat Soohan menarik kembali tangannya dan tertunduk takut.

Noona, kenapa noona ada disini?” suara anak kecil itu membuat Soohan memberanikan untuk mengangkat wajahnya.

“Mianhae.” Cicit Soohan, suaranya terdengar lirih hingga isakan kecil kembali lolos dari bibirnya.

(Regret)

 “Sehuuun.” Soohan mengejar Sehun yang sedang berjalan melewati koridor sekolah. Yeoja itu terus mengikuti Sehun, tetapi namja itu dengan tidak berperikemanusiaannya, mengacuhkan Soohan dan membuat Soohan mempoutkan bibirnya kesal. Pasalnya, Soohan mengenyampingkan harga dirinya hanya untuk meminta maaf, tapi namja itu dengan teganya makin menjatuhkan harga diri Soohan, karena namja itu tahu bahwa Soohan tidak akan berhenti mengikuti seseorang sebelum orang itu mau memaafkannya. Kebiasaan lama, pikirnya.

“Sehun.”

“…….”

“Sehun.”

“…………”

“Sehuuun.” Soohan menarik tangan Sehun membuat namja berperawakan tinggi itu mendelik tajam kearahnya.”

WAE?” Teriakan Sehun berhasil membuat ia dan Soohan menjadi pusat perhatian dan beberapa namja mulai mendekati mereka hendak melindungi Soohan menjadi penghalang pandang antara Soohan dan Sehun. Setitik air mata mulai membasahi pipi Soohan membuat Sehun sedikit merasa bersalah. Tapi ia lebih mementingkan egonya dan tetap berwajah datar.

“A-aku hiks.. Aku.. Mianhae.” Ucap Soohan lirih. Yeoja itu langsung berbalik dan meninggalkan kerumunan siswa yang masih terkejut dengan bentakan Sehun terhadap primadona sekolah mereka. Kerumunan siswa itu menatap tajam kearah Sehun yang mulai melenggang menuju kelasnya.

(Regret)

 “Hei Oh Sehun.” Mungkin hari ini bukan hari keberuntungan Sehun, lihat saja, ketika ia sedang berjalan di gang dekat rumahnya saat pulang sekolah, ia dicegat oleh lima orang namja bertubuh lumayan kekar. Sehun merutuki dirinya yang hari ini meninggalkan mobil kesayangannya dan pergi kesekolah menggunakan bis. Karena asik merutuki dirinya sendiri, Sehun tak menyadari kelima namja tadi telah mendekat kearahnya hingga sebuah bogem mentah mendarat di pipi milky skin miliknya membuat namja itu terjatuh kebelakang. Sehun mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya dan bangkit menghadap kelima namja tadi.

“Apa mau kalian? Seingatku, aku tak membuat masalah dengan kalian.” Bukannya menjawab, salah satu dari mereka malah melayangkan satu pukulan lagi kewajah Sehun, tapi dengan sigap sehun menahan dan membalasnya membuat yang lain geram dan ikut mengeroyok Sehun. Walaupun Sehun berbakat dalam bidang bela diri, melawan lima orang cerdik membuatnya kewalahan. Bahkan kini ia menjadi sasaran tendangan dari salah satu namja yang sepertinya adalah ketua dari kelompok itu. Kegiatan tersebut terus berjalan hingga seorang namja-Kai berusaha membantu Sehun melawan kelompok brandalan yang tadi mengeroyoknya.

 “Polisi, ada polisi.” Teriakan seorang yeoja membuat berandalan yang berusaha menyerang Sehun dan Kai kabur karena takut berurusan dengan polisi. Setelah memastikan situasi aman, yeoja itu berusaha membantu Sehun yang tampak babak belur.

Gwencanha?” Awalnya Sehun hendak menerima uluran tangan dari yeoja itu, tetapi ketika mendengar suaranya, Sehun langsung menepis kasar tangan yeoja itu. Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, Sehun mencoba berdiri namun terjatuh lagi, begitu terus hingga dengan paksa yeoja itu-Soohan membantu Sehun berdiri dan memapahnya.

“Kai, sebaiknya kau pulang dan obati lukamu. Sehun biar aku yang urus. Arrachi?” Kai hanya mengangguk menanggapi perintah Soohan, badannya terasa sakit karena pertarungan kecil tadi. Setelah memastikan Kai pulang dengan motor sportnya, Soohan berjalan pulang sambil memapah Sehun yang setengah sadar hingga kerumahnya.

“Aku pulang. Eomma bisa bantu aku?” Teriak Soohan ketika memasuki rumah. Badannya terasa pegal setelah memapah tubuh Sehun yang setengah kali lebih besar dari tubuhnya. Eomma Soohan yang mendengar kedatangan anak tunggalnya itu hendak mengejutkan Soohan, tapi malah ia yang terkejut melihat anak tunggalnya memapah seorang namja dengan seragam yang sama.

“Ya ampun Soohan, anak siapa yang kau bawa pulang eoh?” Soohan memutar bola matanya malas, melihat eommanya yang selalu mendramatisir keadaan, lihatlah, sekarang bahkan eommanya lebih memerhatikan namja itu daripada anaknya sendiri.

Setelah membersihkan diri, Soohan kembali ke ruang keluarga dan melihat adegan Sehun-eomma yang menurutnya sangat manis. Sehun yang masih belum sadar, dan eomma Soohan yang mengompres luka memar Sehun.

“Ini siapa Soohan? Kenapa dia babak belur?” Tanya eomma Soohan ketika melihat anaknya ikut duduk dikursi ruang keluarga. Soohan sedikit melirik Sehun yang belum sadarkan diri dan kembali menatap eommanya.

“Namanya Sehun. Dia hoobaeku disekolah eomma. Aku menemukannya sedang dikeroyok oleh gank berandalan.” Setelah menyelesaikan kalimatnya Soohan berjalan menuju ke dapur untuk mengisi perutnya yang terasa kosong.

“Soo, apa hari ini kau akan ke rumah sakit lagi?” Soohan yang sedang menikmati makanannya sedikit tersentak sebelum mengangguk mengiyakan pertanyaan eommanya. Eomma Soohan memperhatikan putri tunggalnya dengan tatapan sendu.

Ia memperhatikan wajah Soohan yang mulai tirus dan garis hitam yang mulai muncul di sekitar matanya. Ia ingat betul, ketika Soohan mendengar masalah percobaan pembunuhan terhadap appanya, serta polisi yang menolong appanya, ia terlihat stress. Rasa penyesalan dan bersalah memenuhi benaknya, walaupun hal itu bukan kesalahannya.

Eomma.” Eomma Sohan menatap manik putrinya dalam, tatapan khas seorang eomma, sangat teduh dan menenangkan. Eomma Soohan hanya bergumam sebagai jawaban.

Appa.” Soohan menghentikan aktivitas makannya dan fokus pada percakapannya dengan eommanya. “Polisi yang menolong appa, dia Khyunhyun ahjussi, dan dia. Dia appa Sehun.” Suara Soohan tampak tegar, namun sarat akan sebuah penyesalan yang sangat dalam. Eomma Soohan tersentak, jadi yang menolong Kim Yihan adalah Oh Kyunhyun-teman suaminya dan dia adalah appa dari Sehun. Namja yang Soohan bawa pulang.

“Ba-bagaimana bisa?” suara eomma Soohan terasa tercekat. Sudah sangat lama ia tak mendengar kabar dari teman lamanya itu, dan sekarang namja itu telah meninggal karena menolong suaminya. Dengan suara pelan, Soohan menjelaskan pertemuannya dengan keluarga Oh di rumah sakit serta kronologi kejadian terbunuhnya Kyunhyun. Membuat yeoja paruh baya yang sedang duduk di sampingnya itu secara tidak sadar menitikkan air mata.

(Regret)

“Ughh, kepalaku. Dimana ini?” Sehun baru saja bangun dan menyadari ia berada di tempat yang tak ia kenal. Dengan kepala yang pusing, Sehun berusaha mendudukkan dirinya dan menyebarkan pandangannya kesegala arah kalau-kalau ada petunjuk tempat keberadaannya sekarang.

“Kau sudah sadar eoh.” Sehun menoleh ke arah sumber suara. Tapi kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Emosinya kembali naik ketika melihat yeoja itu-Soohan. Melihat yeoja itu sama saja ia melihat mengenaskannya jasad appanya. Sedangkan Soohan hanya menghela napas pendek melihat Sehun.

“Untuk apa kau bawa aku kesini?” Suara Sehun terkesan dingin dan datar membuat hati Soohan yang tadinya sedikit lega, menjadi sesak kembali. Rasanya sulit sekali untuk meminta maaf pada Sehun. Bahkan eomma dan adik Sehun dengan lapang dada memaafkan Soohan dan keluarganya yang sudah menyebabkan kematian appa Sehun.

“Aku tidak mungkin membawamu pulang dengan keadaan seperti ini. Setidaknya tidak saat kau pingsan. Aku tahu eommamu pasti akan cemas sekali.” Sehun terdiam seakan menyetujui argumen Soohan. Lama Sehun tenggelam dalam pikirannya hingga tiba-tiba ia menatap Soohan.

“Dimana Kai? Bagaimana keadaannya?” Soohan tersenyum teduh dan memberi tahu Sehun bahwa Kai baik-baik saja. Bahkan seharusnya namja ini melihat keadaannya yang babak belur.

“Bagaimana kau bisa berurusan dengan preman-preman itu?” Tanya Soohan memecah keheningan yang sempat menemani mereka. Sehun mengangkat bahunya tanda tak tahu. Dan kemudian keheningan kembali menyeruak memenuhi ruang tamu Soohan.

(Regret)

“Ughh, bagaimana aku bisa fokus belajar. Fikiranku penuh dengan namja itu. Huaaaa, pabbo Soohan.” Soohan mengacak rambut frustasi. Hari ini adalah hari terakhirnya belajar, karena besok ia akan mengikuti ujian tengah semester. Tapi fikiran Soohan selalu tidak fokus karena ia masih memikirkan Sehun. Namja yang belum mau memaafkannya. Dan itu membuatnya sangat frustasi.

“Soohan, gwencanha?” Eomma Soohan yang mendengar teriakan anak tunggalnya itu tampak khawatir dan langsung menghampiri Soohan yang sedang duduk belajar di taman belakang.

“Eeh, eomma. Ani, nan gwencanha.” Soohan berusaha menenangkan eommanya dan melanjutkan belajarnya yang sempat tertunda. Tapi fikirannya mulai tak fokus dan kembali melayang pada namja milky skin berwajah datar-hoobaenya itu. Soohan ingat ketika Sehun berusaha menolongnya saat ia nyaris dicelakai, saat namja itu menertawai Soohan karena penampilan badutnya, hingga bagaimana ia menenangkan Soohan ketika yeoja itu menangis. Kenangan itu musnah dalam sekejap dengan kabar meninggalnya appa Sehun yang menolong appa Soohan. Dan hal itu membuat Sehun membenci Soohan, setidaknya itu fikiran yang selalu berkecambuk di otak Soohan.

Soohan menghela nafas panjang, berusaha fokus, karena jika tidak, bisa saja ia kehilangan peringkat sebagai siswa dengan nilai tertinggi. Ia tak mau hal itu terjadi, dengan segenap tenaga dan fikiran, Soohan melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda dengan sesekali kembali memikirkan namja itu.

(Regret)

Hari pertama ujian tengah semester, dan namja berperawakan tinggi dengan bibir tipis itu tampak sangat santai melewati koridor sekolah dengan decakan kagum mengalun pelan dari bibir para yeoja disekitarnya.

“Oyy Sehun. Sudah dengar kabar itu?” Namja itu-Sehun mengerutkan dahinya tak mengerti maksud ucapan teman sebaya yang sedari tadi berjalan disampingnya. Sehun terus berjalan dengan telinga tajam yang siap mendengar kelanjutan ucapan Kai.

“Kabar tentang kesempatan kelas akselerasi. Kau tahu itu?” Sehun mengangguk sebagai jawaban. Namja itu memang sudah tahu sejak beberapa hari lalu berkat bantuan Yeoseob. Dan ia sangat tertarik akan hal itu. Dengan mengikuti kelas akselerasi ia akan cepat lulus dan melanjutkan cita-cita appanya sebagai seorang polisi. Hal itu ia lakukan untuk mencari siapa gerangan yang berani menghilangkan nyawa orang kesayangannya itu.

“Siswa tingkat pertama dengan peringkat lima teratas diberi kesempatan untuk mengikuti tes akselerasi. Dan jika ia lulus, dia akan bergabung dengan siswa tingkat kedua.” Jelas Jung seonsaengnim ketika semua siswa sudah memasuki kelas dan menyiapkan diri untuk ujian. Dan ujian kali ini menjadi pertarungan sengit bagi para siswa untuk menduduki peringkat lima teratas, walaupun mereka sudah tahu, siapa saja yang akan menempati peringkat itu. Tentu saja lima namja jenius, yaitu Sehun, Kai, Kyungsoo, Kikwang dan Jimin. Tapi mereka berhak memiliki harapankan untuk merebut tempat itu.

“Bagaimana ujian aritmatikamu Soo?” Kai bertanya pada Kyungsoo sambil menyeruput jus yang sedari tadi dipesannya. Mereka baru saja menyelesaikan ujian hari pertama. Dan sekarang mereka sedang duduk di kantin guna menghabiskan waktu sisa ujian.

“Lumayan susah. Kau tahu, itu soal buatan Lee seonsaengnim.” Kyungsoo memulai ucapannya dengan helaan napas dan wajah tertekuk. Membuat wajahnya yang polos itu tampak seperti namja berumur 12 tahun.

“Pantas sulit.” Sehun ikut menanggapi. “Soal tersulit adalah soal buatan Lee seonsaengnim.” Lanjutnya, dan Kai serta Kyungsoo hanya angguk-angguk menyetujui argumen Sehun. Yaa, Lee seonsaengnim memang guru dengan gudang soal tersulit sepanjang masa.

“Se-Sehuun.” Sehun yang sedang berbincang dengan teman-temannya menoleh ke sumber suara, dan ekspresinya berubah menjadi datar dan mematikan. Seakan pandangannya dan ekspresinya dapat menembus jantung si korban.

Wae?” Tanyanya datar. Sangat datar, karena ia sangat tidak menyukai yeoja itu. Yeoja dengan keluarga yang telah menyebabkan appanya meningal-Soohan.

“Apa kau masih marah padaku?” Suara Soohan terdengar sangat lirih membuat siapa saja yang mendengarnya akan merengkkuh tubuh mungil itu, tapi tidak dengan namja berwajah datar satu ini. Ia hanya mendengus kesal, moodnya tiba-tiba drop.

“Menurutmu?” Sehun menjawab dengan sebuah pertanyaan. Membuat yeoja di hadapannya tak dapat lagi membendung air matanya. Walaupun sekuat tenaga ia menahannya, air mata itu tetap jatuh juga. Sehun tentu terkejut. Tak disangka sikapnya menyebabkan yeoja itu menangis, dan kini ia mendapat tatapan membunuh dari seuruh namja di tempat itu.

“Y-ya. Kenapa kau menangis eoh?” Sehun merasa risih di tatap oleh seluruh penghuni kantin. Niatnya untuk mengisi perut jadi berubah karena Soohan. Sehun tak tahan lagi ditatap penuh amarah, dengan mood drop Sehun menarik tangan Soohan dan membawa yeoja itu menjauh dari kantin.

“Apa maumu?” Sehun bertanya pada Soohan setelah ia membawa yeoja itu ke atap sekolah. Yah, setidaknya di tempat ini ia tidak akan ditatap penuh kebencian seperti saat mereka di kantin.

“Aku hanya ingin kau memaafkanku. Hal yang mudah, tapi itu sangat berarti untukku. Kau tahu, aku tak bisa hidup tenang dengan penyesalan terhadap keluargamu.” Soohan menatap penuh harap pada Sehun. Tak ia sangka akan sangat sulit untuk meminta maaf pada namja satu ini.

“Kau fikir mudah untuk memaafkanmu?” Sehun memberi jeda pada ucapannya. “Kau fikir mudah untuk memaafkan orang yang menjadi penyebab kematian orang tuamu HAA?” Emosi Sehun mulai naik, kini ia kembali mengingat kenangan bersama appa selama 17 tahun hidupnya.

Soohan terkejut mendengar bentakan Sehun. Ia tak pernah dibentak siapapun sejak ia lahir, tapi kali ini, Sehun-hobbaenya disekolah membentaknya dengan kasar. Soohan hampir saja menangis jika saja ia tak teringat ucapan appanya.

Merasa emosinya makin memuncak, Sehun memilih untuk meninggalkan yeoja itu, jika tidak mungkin saja sekarang ia sudah mencekik yeoja yang notabene adalah sunbaenya di sekolah itu. Baru selangkah ia beranjak, tapi lengannya ditahan oleh Soohan, membuat emosinya tidak terbendung lagi. Segera ia menarik tangannya yang ditahan oleh Soohan.

Buughh

“Se-seehunn”

(Regret)

“Soohan, gwencanha?” Soohan masih shock dengan kejadian tadi, tapi dengan segera Seok Jin membawanya ke ruang UKS untuk menenangkan diri. Seok Jin sangat khawatir akan keadaan Soohan, melihat sedari tadi yeoja itu tak  henti-hentinya melamun.

“Soo, gwencanha?” Sekali lagi Seok Jin bertanya pada Soohan, namun yeoja itu masih diam. Kemudian ia sadar ketika kehangatan menyelimuti tubuhnya. Seok Jin memeluk Soohan. Berniat untuk memberi ketenangan pada yeoja manis itu.

“Jin-ah. Bisakah kau membantuku?” Seok Jin mengendurkan dekapannya dan menatap Soohan, menunggu kelanjutan kalimat yang akan diucap oleh yeoja itu. Agak lama Seok Jin menunggu hingga akhirnya Soohan buka mulut.

“Kau ingat peneror itu?” Seok Jin bergumam mengiyakan pertanyaan Soohan. Ia masih ingat ketika wajah Soohan yang di lukis seperti badut, hingga loker Soohan yang menjadi sasaran (baca chap.2).

“Bisakah kau mencari tahu siapa pelakunya?” Tanya Soohan tanpa melihat namja yang masih memeluknya itu. Seok Jin mengangguk mantap. Apapun akan ia lakukan untuk membantu Soohan. Bahkan dalam keadaannya yang terburukpun ia akan membantu Soohan. Setelah memastikan Soohan sudah tenang, ia mulai membuka percakapan, sekedar memecah keheningan yang terjadi.

“Jin-ah, apakah Sehun baik-baik saja?” Soohan menatap Seok Jin meminta jawaban. Sebab, pukulan yang Seok Jin layangkan tepat diwajah Sehun saat mereka berada di atas tampak sangat kuat. Dibuktikan dengan sudut bibir Sehun yang berdarah. Mendengar nada Soohan yang khawatir terhadap Sehun, membuat Seok Jin kesal.

Ia  merasa Sehun sangatlah bodoh dan  egois. Semudah itu ia membenci, dan sesulit itu ia memaafkan seseorang yang bahkan tidak terlibat langsung dalam kematian appanya. Seok Jin menghela nafas berat, ingin ia katakan untuk Soohan berhenti mengejar dan mengemis maaf dari Sehun, tapi melihat raut khawatir di wajah Soohan membuatnya tak tega.

“Ia pasti baik-baik saja. Pukulan itu tidak seberapa dengan sakit hatimu karena tidak dimaafkannya.” Seok Jin berujar menenangkan. Ia merasa harus bicara dengan Sehun setelah ini.

(Regret)

Door…. Door….

Sehun terkejut dalam tidur ayamnya. Ia baru saja pulang sekolah, dan dalam keadaan yang kusut ia membaringkan diri di ranjang empuk miliknya. Tak sampai lima menit ia memejamkan mata, terdengar suara pistol ditembakkan. Awalnya Sehun tidak perduli, tapi ketika terdengar tembakan kedua Sehun langsung beranjak menuju balkon kamarnya.

“Suara itu terdengar dari rumah sebelah.” Lama Sehun memandangi balkon kamar tetangganya tersebut, hingga ia melihat siluet seseorang dengan pakaian serba hitam lengkap dengan pistol yang Sehun yakini sebagai penyebab suara tadi. Dengan langkah tergesa-gesa Sehun menuruni tangga dan langsung menuju rumah tetangganya.

“Tidak di kunci.” Sehun menyerngit ketika menyadari pintu rumah tetangga itu tidak di kunci. Ia ragu ingin masuk, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar dari rasa sopannya. Dengan langkah pelan ia memasuki rumah tetangganya itu, dan matanya terbelalak melihat pemandangan yang amat tak bersahabat. Barang-barang berserakan dimana-mana hingga bahan kaca yang tak berbentuk lagi. Perasaan Sehun makin tak baik, ia merasa ada yang tak beres dengan rumah ini.

“Apa ada pembunuhan atau perampokan disini?” Spekulasi itu terus berputar di kepala Sehun dan membuatnya sedikit bergidik. Ia takut saja, ketika ia menyelidiki rumah ini, malah ia yang akan menjadi sasaran selanjutnya dari orang berpakaian hitam tadi.

Setelah membulatkan tekadnya, Sehun mulai menjelajahi rumah layaknya seorang detektif profesional. Menyelidiki yang perlu diselidiki, memegang yang perlu dipegang dan tidak menyentuh barang yang tidak boleh disentuh. Semua ia lakukan dengan khidmat. Hingga ia menemukan sebuah foto keluarga yang terpajang di depan tangga lantai dua.

“Yeoja ini.” Sehun mendengus kesal, ternyata yeoja yang terpajang di foto itu adalah Soohan. Yeoja yang sekarang ia benci. Sehun hendak meninggalkan rumah itu jika saja ia tidak melihat tangan yang terkulai lemas di lantai kamar dengan balkon menghadap ke kamar Sehun. Dengan cepat ia memasuki kamar itu dan menemukan sosok yang amat ia kenali sedang sekarat.

(Regret)

“Kalian lihat Soohan?” Junhyung terus menanyakan keberadaan Soohan pada setiap siswa yang ia temui, namu hasilnya nihil. Seoyoon dan Kyungsoo juga sedang mencari keberadaan Soohan yang sedari tadi menghilang bak di telan bumi. Keberadaannya tidak terdeteksi sama sekali.

“Apa kau mencari Soohan Junhyung-ssi?” Lee seonsaengnim yang kebetulan melewati koridor dan melihat Junhyung yang tampak kelimpungan mencari Soohan segera menghampiri namja itu dan memberi tahu keberadaan Soohan. Setelahnya Junhyung pamit dan langsung menemui Seoyoon dan Kyungsoo untuk memberi tahukan hal ini. Tentu kedua temannya itu tak tinggal diam ketika mendengar keberadaan Soohan, dengan raut khawatir mereka menyusul Soohan.

(Regret)

Siang terasa sangat terik membakar kulit. Matahari sedang semangat menyinari bumi, sehingga kebanyakan manusia memilih untuk berdiam diri di rumah ataupun sekedar berjalan-jalan di tempat yang sejuk. Jalanan terasa sangat lengang sehingga suara dengung kendaraan dapat didengar dengan jelas.

Dalam keadaan seperti itu, Soohan tengah berlari menantang terik matahari. Peluh terus membanjiri wajah manisnya, membuat anak rambut jatuh menutupi wajahnya, tapi hal itu tidak dapat menghentikan langkahnya. Fikirannya terus melayang pada keadaan eommanya. Barusan ia mendapat kabar dari Sehun-ia terkejut karenya-bahwa namja itu menemukan eomma Soohan dalam keadaan sekarat. Tanpa fikir panjang Soohan berlari ke arah rumah sakit tempat eommanya dirawat.

“Eo-eomma.” Soohan bergumam dalam langkahnya, belum lagi appanya pulang dari rumah sakit, tapi sekarang eommanya menyusul ke rumah sakit dalam keadaan yang nyaris tewas. Soohan tidak habis fikir, siapa yang berani mengganggu keluarganya. Tak terasa air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya. Dengan sisa-sisa tenaga Soohan memasuki rumah sakit dan langsung menghampiri namja yang sedang menutup wajah menggunakan tangan.

Eomma. Eomma eodiseo?” frustasi. Soohan sangat frustasi hingga dengan kasar ia mengguncang tubuh namja tadi. Peluh dan air mata masih berlomba menuruni wajah mulusnya. Soohan terus mengguncang tubuh namja itu hingga ia merasa lelah, dengan sendirinya ia melepaskan genggamannya dan terduduk di lantai.

“Soohan, soohan tenanglah. Eommamu pasti baik-baik saja.” Namja itu ikut duduk di hadapan Soohan, mengusap pelan punggung yeoja yang merupakan sepupunya. Soohan yang seperti ini sangat berbeda dengan Soohan yang berada di sekolah. Yeoja yang biasanya selalu menebar senyum manis ketika berada di sekolah kini tampak sangat menyedihkan. Wajahnya yang kusut, peluh yang membasahi wajah manisnya, air mata yang terus membanjiri wajahnya, hingga kantung mata yang tampak menghiasi kecantikannya.

“Kenapa? Hiks. Kemarin appa, sekarang eomma, hiks. Kenapa mereka membenci keluargaku? Hiks, apa salah kami?  Apa salah kami oppa?” Soohan mengguncang lengan namja itu meminta penjelasan. Namja itu tak tahu harus melakukan apa? Ia bingung dengan keadaan keluarga Soohan. Di salah satu sisi, ia sesak melihat Soohan, namun di lain sisi, entahlah.

“Soo. Tenanglah. Kita harusnya berdoa meminta kesembuhan eommamu. Eommamu pasti tidak suka melihatmu terpuruk seperti ini.” Namja itu berusaha menenangkan Soohan melalui sebuah dekapan hangat. Dekapan yang diberikan layaknya orang yang menyayangimu.

“Oppa, hiks. Oppa. Aku takut. Aku takut, Lu Han oppa.” Tangis Soohan makin pecah ketika dokter memberi kabar komanya eomma Soohan. Sedangkan Lu Han makin mengeratkan dekapannya pada Soohan.

“Oppa, apa mereka akan mencelakakanku juga?” Lu Han tidak tahu persis apa yang terjadi pada keluarga ini. Yang ia tahu pasti, keluarga Soohan adalah keluarga baik dan tidak pernah mencari musuh, kecuali jika ada yang iri dengan mereka.

“Hiks, oppa. Sehun eodisso?” Soohan baru sadar ia tidak mendapati Sehun di rumah sakit. Padahal ia yang menelpon Soohan dan membawa eommanya ke rumah sakit. Tapi sedari tadi, batang hidung namja itu tidak kelihatan.

“Sehun? Nuguya? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.” Lu Han bergumam di akhir kalimatnya, merasa mengenal nama itu. Namun Soohan langsung memberi tahu siapa Sehun yang merupakan hoobae sekaligus tetangganya. Lu Han hanya mengangguk lemah, masih berfikir tentang nama itu.

“Oppa. Bagaimana oppa bisa berada disini?” Soohan bertanya kembali, membangunkan Lu Han dari pemikirannya yang tak berujung. Membuka percakapan kecil antar sepupu yang telah alma tidak bertemu. Yaa, Soohan dan Lu Han adalah sepupu yang bisa dibilang sangat dekat. Namun, semenjak Lu han pindah ke China mengikuti appanya, komunikasi antar sepupu itu mulai renggang. Dan sekarang Soohan menemukan Lu Han yang katanya sedang berkunjung ke Korea, namun malah dikejutkan dengan orang tua Soohan yang masuk rumah sakit.

Soo, oppa akan menjagamu selama ahjussi dan ahjumma berada di rumah sakit, jadi tenang saja eoh.” Lu Han tersenyum lembut pada Soohan. Ia sadar, sekarang Soohan sangat butuh sandaran dan tempat berlindung. Dan ia dengan senang hati akan berada di barisan paling depan untuk hal menjaga adik sepupunya itu.

“Gumawo oppa.” Setelah berbincang panjang lebar dengan diselingi sedikit candaan untuk mengurangi kesedihan Soohan, mereka menjenguk appa Soohan karena namja itu masih terbaring di ruang ICU.

(Regret)

“Semangat untuk ujianmu. Jangan memikirkan hal lain, fokus pada soalmu. Ok?” Sebenarnya Soohan sangat tidak mau berangkat sekolah hari ini tapi karena paksaan Lu Han dan pemikiran akan ujian, dengan terpaksa Soohan sekolah, yaah walaupun dengan Lu Han sebagai supir dadakannya.

“Lu, kau sekolah? Bagaimana keadaan eommamu?” Seoyoon yang kebetulan baru datang, mendatangi Soohan dan Lu Han yang sedang berbicara di depan gerbang sekolah. Kemudian bergabung juga Junhyung dan Kyungsoo. Sedikit berbincang-bicang tentang kabar orang tua Soohan tanpa mengetahui seseorang tengah menatap tajam ke arah mereka dengan sesekali menyeringai.

“Oppa pergi ne Soo. Annyeong Kyungsoo, Seoyoon, Junhyung. Annyeong chagi.” Lu Han melambaikankan tangannya dan langsung beranjak masuk ke mobilnya. Dan Soohan dihadapi dengan pandangan yang tidak mengenakkan dari ketiga sahabatnya itu.

“A-aku ke kelas dulu.” Sebelum sempat Soohan menghindar, Seoyoon terlebih dulu menahan lengannya dan Junhyung menghalangi jalannya. Terlihat sekali mereka penasaran dengan Lu Han yang memanggil Soohan dengan sebutan chagi. Dengan geli, Soohan menceritakan bahwasanya Lu Han hanyalah sepupunya yang baru datang dari China.

“Soo.” Soohan terkejut dengan datangnya seorang namja di hadapannya dan ketiga sahabatnya dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Tatapan yang tak bisa diartikan oleh Soohan.

“Soo. Aku…”

>>>>>TBC

Link EL Amor Verdadero: ( Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Ongoing )

AUTHOR NOTE :

Annyeong readerdull. Oh Silvy come again bawain El Amor Verdadero chapter 3, semoga kalian ngga bosan dengan ff ini. J

Curhat bentar dong. Sebenarnya saya a.k.a Oh Silvy masih terguncang dengan kabar Lu Han yang out dari EXO. Terguncang banget, secara jiwa HUNHAN SHIPPER saya sangat kuat, dan karena Lu Han out, siapa dong entar yang jadi couplenya si cadel. TAOHUNkah? Bukan ngga suka, tapi saya lebih ngerasa mereka itu brothership layaknya XIUHAN, ngga bisa lebih layaknya couple.

OTTOKHAE??????? Tapi ya udahlah ya, Semoga Lu Han oppa makin sukses dan sehat selalu. Dan semoga para EXO-L tetap tegar, kalo-kalo ada bencana besar (?) baru yang akan mengguncang kita. #semoga_ngga.

Ahh, gimana dengan chapter 3 ini? Comment dong. Ya? Ya? Ya? #maksa. I need your comment guys, supaya ff ini lebih baik.  And gumawo udah baca & comment.

블렉 포르 아이스 a.k.a 실비 왛유 하사낳

Author Site :

Facebook            : https://www.facebook.com/silvi.wahyu

Twitter : https://twitter.com/wahyusilvi1

WordPress          : www.ohsilvy2507.wordpress.com

 

30 responses to “[Series] El Amor Verdadero (Chapter 3: Regret)

    • bikin reader penasaran adalah hal yang sangat mengasyikkan..😄 #ketawa evil
      iya, Sehun mah keterlaluan, soohannya disalahin..😀
      tapikan, kalo udah mengangkut orang yang kita sayang, bakal lain ceritanya chingu..

    • jinjja?? ahh mianhae, aku belum pengalaman bikin ff, jadi terkadang feelnya kurang, tapi bakal ku perbaiki..
      makasih masukannya, keep redaing yaa..🙂

  1. Kenapa ngegantunggg huhue
    jahat bgt itu yg ngebunuh sumfeh
    itu siapa cowok yg terakhir ituuu
    masih penasaran sama siapa yg punya dendam sama keluarganya soohan heu

  2. aaaaa
    selalu deh bikin penasaran binggo akhirannya *ialah-_-
    duh jadi semakin penasaran, siapa sih musuhnya itu? benerbener deh udah kepo binggo ini

    itu luhan jadi sepupunya soohan? cocok deh thor
    pokonya kalo ff yang castnya Sehun kalo kagak ada Luhan itu rasanya gimana gitu(?) #HunHanShipper😀
    aku langsung baca next chap yaa thor^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s