[Series] Married With A Gay – Chapter 4

married-with-a-guy

Title     : Married With A Gay

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Angst

Main Cast: Xi Luhan as Lu Han, Ariel Lau (OC), Zhang Yi Xing as EXO M Lay

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : leesinhyo @exoluhanfanfictionindonesia

***

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

Zhang Li Yin menatap adiknya prihatin. Entah hal buruk apa yang sudah menimpa adiknya hari ini, tahu-tahu Yi Xing diantar pulang dalam keadaan mabuk berat. Dan yang paling mencengangkan bagi Li Yin, Yi Xing masih memakai pakaian yang dikenakannya saat datang ke pesta pernikahan Luhan.

“Ada apa dengannya?” tanya Li Yin dengan bahasa Cina. Dan ia mendengus pelan saat sadar gadis yang mengantar Luhan yang juga berstatus sebagai manager adiknya itu sama sekali buta bahasa cina. Dan Li Yinpun mengulang pertanyaannya, kali ini dengan bahasa Korea.

“Dia…entahlah, aku juga tidak tahu.” Dan Lisa merutuki semua jawabannya. Tolol. Ia tidak tahu? Padahal sudah sangat jelas, Lisa jauh lebih daripada tahu. Tapi ia tidak memiliki keyakinan sama sekali untuk meberi tahu kakak Yixing mengenai kejadian hari ini.

Liyin tidak ingin mencurigai Lisa, tapi Liyin adalah kakak Yixing dan ia juga sudah mengenal Yixing di seumur hidupnya. Pasti sudah terjadi sesuatu pada Yixing hari ini. Yixing tidak pernah mabuk seberat ini, terlebih ia selalu mengulang kalimat “Pacarku tidak suka orang yang suka minum”. Sudah tentu Yi Xing tidak akan minum sampai mabuk tanpa alasan, kan?

Li Yin pun langsung membawa Yi Xing ke kamar tidurnya. Sebenarnya ia tidak berniat –bahkan tidak suka- adiknya masuk ke kamar pribadinya. Karena dalam keadaan normal, Yixing selalu saja membuat kamarnya berantakan dan Liyin kelewat terganggu karena ulah Yixing itu. Tapi hari ini keadaannya lain, ia tidak berpikir untuk membiarkan Yixing tidur di kamar tamu. Bahkan, Liyin merasa perlu menunggui Yixing malam ini.

“Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku,” kata Liyin kembali menyuarakan rasa penasarannya, ia pun meutar kepalanya ke arah Lisa yang masih menonton Yi Xing di dekat pintu, “Bisakah kau memberitahuku? Aku kakaknya, kurasa aku berhak tahu.”

Lisa menelan ludahnya pahit. Ia sama sekali tidak tertarik untuk menguar memori kelabu hari ini. Mau dilihat dari sudut pandang siapapun, ini sama sekali menyakitkan bahkan bagi Lisa yang dikategorikan sebagai orang luar.

“Lisa-ssi?”

Lisa akhirnya mengangkat kepalanya, menatap Liyin dalam. Yixing bisa memecatnya jika ia tidak setuju jika Lisa menceritakan ini pada Liyin. Ia tidak peduli. Ia hanya ingin mencoba membantu, dan ia pikir…ia bisa membantu Yixing dengan cara ini.

***

Wufan menatap bingung jalanan di hadapannya. Dan sesekali, ia menoleh ke arah Luhan yang benar-benar sudah tenggelam di alam mimpinya. Wufan pun kembali mendengus panjang, ia sama sekali tidak tahu harus kemana membawa Luhan pulang. Tidak mungkin kan ia membawa Luhan pulang ke rumahnya? Ia yakin Luhan tidak sedang menginap di rumah orangtuanya. Dan hotel? Tidak mungkin juga, Wufan tidak buta dengan berapa jumlah tempat tinggal yang dimiliki keluarga Luhan. Bahkan Luhan punya rumah sendiri, pasti Luhan tinggal di salah satu rumah yang keluarganya miliki. Tapi dimana? Bahkan, di Beijing Luhan punya 3 tempat tinggal dengan jarak yang bisa dikatakan tidak dekat.

“Ini salah gadis sialan itu.” Rutuk Wufan entah pada siapa. Saat ini otaknya dijejali umpatan untuk istri Luhan. Gadis itu pikir siapa dirinya? Bagaimana bisa gadis itu membuat Luhan sakit hati begitu mudah? Bahkan Wufan saja yang tidak pernah benar-benar dilirik Luhan selalu menjaga perasaan Luhan, dan gadis itu seenaknya melukai hati Luhan? Gadis itu pasti gila.

Dan Wufan langsung teringat satu tempat favorit Luhan. Rumah yang selalu didatangi Luhan saat musim semi tiba. Meskipun tidak yakin, tapi Wufan rasa tidak ada salahnya ia membawa Luhan kesana. Persetan apakah tempat itu dijadikan tempat bulan madu pasangan pengantin ini atau tidak, yang penting ia bisa membantu Luhan dulu sekarang.

***

Ariel tidak bisa memejamkan matanya malam ini. Matanya masih saja terfokus pada jendela yang Ariel biarkan terbuka. Beijing sangat panas, dan Ariel sama sekali tidak merasa kedinginan saat jendela itu dibuka, dan justru malah meniupkan angin musim panas yang mirip dengan angin musim panas di Seoul. Udara Beijing memang benar-benar parah.

Dan pikirannya? Ia tidak memikirkan apapun. Mungkin keesokan harinya ia akan terbangun di rumah sakit jiwa karena terlalu banyak melamun malam ini, dan ia tahu itu kelewat berlebihan. Ariel pun mendesah pelan, ia tidak pernah merasa tertekan seperti ini. Ia pernah mendapat masalah besar, tapi Ariel selalu berhasil melewatinya dengan tidak terlalu memikirkannya dengan serius. Tapi sekarang masalahnya sangat lain. Ia sama sekali tidak bisa melepaskan masalah ini begitu saja, walaupun disisi lain ia juga tidak bisa melakukan apapun untuk menyelesaikan masalah ini.

Dan teriakan Luhan beberapa jam lalu kembali berputar di kepalanya. Dan entah bagaimana Ariel sudah mengerang keras, seolah ia menyesali semua sikapnya terhadap Luhan tadi. Ia selalu menghindari untuk menyakiti orang lain, tapi hari ini ia membuat 2 orang menangis sekaligus! Ia membuat Yi Xing menangis, dan ia juga membuat Luhan menangis. Bahkan Lisa yang notabennya orang luar juga ikut menangis…

Apakah ia kini tercipta untuk menyakiti hati orang lain?

Ariel hampir menutup matanya kembali secara paksa jika ia tidak mendengar suara pintu utamanya tertutup dengan kasar. Tunggu, Luhan pulang? Atau itu…pencuri? Ariel langsung menegakkan punggungnya setengah panik. Bagaimana jika itu bukan Luhan? Ia juga tidak mendengar suara mobil Luhan.

Ariel bergegas keluar kamarnya dan mengintip ke lantai bawah. Tubuhnya langsung membeku saat melihat seorang pria tinggi tengah menggendong seseorang di punggungnya. Ia kenal pria yang tengah digendong itu. Itu Luhan…suaminya. Dan jangan katakan laki-laki itu lagi-lagi mabuk malam ini.

“Luhan?”

Wufan langsung menatap gadis asing yang memanggil Luhan. Ia langsung bisa menebak siapa gadis itu. Istri Luhan. Itu pasti istri Luhan.

“Minggir!” ucap Wufan dingin sambil melewati Ariel begitu saja. Ia sudah sangat tahu posisi rumah ini, jadi tidak sulit baginya untuk menemukan kamar Luhan yang ia yakini pasti akan dibaginya dengan Ariel.

Wufan langsung membaringkan tubuh Luhan. Dan ia tidak langsung beranjak, tidak peduli dengan tatapan bingung yang dilemparkan oleh Ariel padanya. Ia merasa harus berada disisi Luhan, tidak peduli apakah pria itu membutuhkannya atau tidak.

“Dia…”

“Apa yang kau lakukan padanya, ha?! Kau kira kau siapa bisa menyakiti Luhan seperti itu?!”

Ariel langsung mengunci rapat mulutnya saat Wufan membentaknya dengan keras. Shock, tentu saja. Ia tidak tahu siapa laki-laki dihadapannya ini, tapi ia tidak tuli dengan nada bicara yang digunakannya saat menyebut nama Luhan tadi.

“Apakah ada istri yang menyakiti suaminya seperti itu? Apakah ada seorang istri yang sangat suka menyakiti hati suaminya?!” Wufan semakin menjadi. Ia benar-benar tidak terima dengan perlakuan Ariel pada Luhan.

“Kau bahkan tidak tahu apa-apa tentangnya, dan sekarang kau malah membuatnya seperti ini? Kau tahu bagaimana sulitnya Luhan melalui hari-harinya demi menghindari kenyataan bahwa ia adalah seorang gay? Kau tahu bagaimana ia begitu tersiksa saat ibunya jatuh sakit karena tahu Luhan adalah gay?! Kau tahu bagaimana ia terus saja menangisi hidupnya yang selalu ia sesali?!” Wufan menjeda dengan helaan napas panjang, “Kau…bahkan dia sangat menghargaimu, mencoba menjadi laki-laki yang baik untukmu, dan kau merusaknya bahkan sebelum Luhan memulai untuk mencobanya?”

Ariel merasakan sekujur tubuhnya dingin. Ia tidak ingin mengakui dirinya salah. Tapi ucapan pria didepannya benar-benar menyakitinya. Ia memang tidak melihat apapun dari sudut pandang Luhan. Ia hanya melihat dari sudut pandang dirinya. Ia juga berpikir tidak perlu tahu, tapi ucapan pria jangkung itu membuat rasa bersalahnya semakin menjadi.

Tanpa disadarinya, Ariel langsung memijit pelipisnya. Kepalanya nyaris pecah karena masalah ini. Ia benar-benar merasa ingin mati saja. Ia bahkan belum selesai dengan rasa sakitnya, dengan pikiran bagaimana cara meminta maaf pada Yi Xing, dan sekarang bertambah lagi satu beban pikirannya.

“Aku tidak akan lama. Besok aku akan kembali, dan aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi hal buruk pada Luhan. Ingat itu Nona Lau.”

Ariel tidak tahu kapan laki-laki itu pergi dari kamarnya. Ia hanya menyadari dirinya sudah merosot ke lantai dengan posisi memeluk lututnya. Tidak ada airmata, mungkin airmatanya juga sudah kering karena ia terlalu banyak menangis hari ini.

“Maaf…siapapun maafkan aku…” desisnya sambil menenggelamkan kepalanya ke lipatan kedua lututnya.

***

Luhan belum sempat menikmati cahaya matahari yang menembus kelopak matanya saat ia terpejam dan harus lari pontang-panting karena mual di perutnya. Dan sesampainya di kamar mandi, ia langsung memuntahkan isi perutnya…

Dan ia langsung mengumpat dirinya saat ia ingat ia mabuk berat semalam. Dan…

Luhan pun memejamkan matanya ia tidak ingin melanjutkan isi lamunannya. Ia terlalu tertekan dengan sakit hatinya kemarin, dan ia tidak ingin mengulangnya lagi malam ini. Hanya saja…siapa yang mengantarnya pulang ke mari? Ke rumah yang tepat dimana harusnya Luhan pulang.

Luhan langsung membasuh wajahnya dan menggosok giginya. Ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan apapun. Ia mudah sakit jika sudah banyak pikiran, dan ia tidak mau mmberikan kesan tidak baik untuk istrinya disaat awal pernikahannya.

Ah, kenapa Luhan harus peduli? Bahkan gadis itu sama sekali tidak peduli padanya.

Luhan mendengus kasar dan langsung menyudahi kegiatannya. Meskipun ingin menghindarinya, Luhan tetap tidak akan bisa selain menghadapinya. ia harus menghadapi Ariel, istrinya. Ia juga harus tetap bertanggung jawab untuk gadis itu, istrinya. Dan ia juga harus mengenyampingkan soal sakit hatinya. Apalagi yang harus ia lakukan selain itu? Memiliki anak dan memberikan penerus untuk keluaraga Xi? Ia tidak mungkin menceraikan Ariel begitu saja, kan?

Luhan pun berjalan meninggalkan kamarnya dengan masih banyak pikiran yang menjejali kepalanya. Mungkin migrain-nya bisa kambuh saat ini juga, ia benar-benar banyak pikiran dan tidak tahu bagaimana cara menyudahinya meskipun ia ingin.

“Sudah bangun? Ini, kusiapkan sup penghilang mabuk. Kau mabuk berat semalam,”

Luhan terdiam dengan sambutan yang diberikan Ariel. tidak ada nada perhatian ataupun nada kebencian, bahkan nada bicara Ariel kelewat biasa saja. Ariel juga tidak menatap matanya tadi, ia langsung kembali memasak sesuatu setelah menaruh sup yang tidak asing baginya. Saat di Korea dulu, ia sering melihatnya.

“Pagi ini aku hanya sempat membuat nasi goreng, semoga kau suka.” Gadis itu kembali bersuara tanpa menoleh ke arah Luhan.

Luhan semakin seperti orang linglung karena perubahan sifat Ariel. padahal semalam ia bicara seolah-olah Luhan adalah mahluk yang layak didepak dari depan matanya. Entah apapun itu, mungkin mahluk menjijikkan seperi kecoak?

“Ada banyak bahan makanan disini, maaf aku lancang menggunakannya tanpa mengatakannya dulu padamu.” Kata Ariel lagi.

Harusnya Ariel masih marah padanya.

Harusnya Ariel menatap emosi ke arahnya.

Harusnya mereka masih bertengkar pagi ini, dan bukannya…

Entahlah. Luhan tidak tahu. Ia benar-benar layaknya orang idiot yang bermain di atas panggung tanpa pengetahuan akting. Luhan seketika mengangkat kepalanya, menatap Ariel yang masih mengenakan piyama tidurnya, rambut digulung ke atas dan celemek yang bertengger di tubuhnya.

Apa Ariel hanya sedang berakting?

“Kau suka jus? Aku tidak tahu minuman apa yang kau suka, aku hanya membuatkan jus mangga karena aku suka itu. Jika kau tidak suka…”

“Kau kenapa?” potong Luhan cepat, ia tidak peduli dengan ucapan Ariel, dengan apa yang dibuat Ariel, atau apapun yang saat ini ia katakan. Ia tidak peduli. Iahanya ingin tahu alasansikap Ariel sekarang. ini bukan Ariel Lau yang semalam membentaknya.

Ariel yang dihujani pertanyaan itu hanya menatap Luhan bingung. Ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan Luhan, atau…

Ariel mendengus panjang. Ia tidak mengatakan apapun untuk menjawab rasa penasaran Luhan. Ia lebih memilih duduk di atas kursi yang berhadapan dengan Luhan, kemudian ia meneguk jus nya perlahan. Ia tidak berselera makan hari ini, dan sebenarnya selama kuliah dulu ia juga hampir tidak pernah sarapan dulu. Kecuali ia diberi roti oleh…oleh…Yi Xing.

Tubuh Ariel sempat menegang saat otaknya menyebut nama itu. Tapi hanya beberapa detik. Ia tetap hening dan memutuskan untuk makan. Dulu adalah dulu. Ia tidak bisa selamanya menarik masalalu untuk berdiri di masa kini, mau dengan kesakitan ataupun kebahagiaan sekalipun, tidak ada alasan agar ia terus melakukan itu.

Di hadapan Ariel, Luhan justru masih menatap Ariel bingung. ia sebenarnya enggan untuk memakan makanan yang dibuat Ariel, tapi menelantarkannya begitu saja, pergi meninggalkan Ariel dan…tidak. Lebih tepatnya Luhan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ini terlalu kaku, dan ia tidak tahu bagaimana harusnya ia sekarang.

Dan saat akan menyendokkan makanan itu ke mulutnya, ia baru sadar dengan pakaiannya yang…dimana pakaiannya?! Kenapa sekarang ia memakai kaos dan celana training panjang? Bukankah semalam ia masih menggunakan yang sama dengan pakaian di acara pesta pernikahannya?

“Kau…kau apakan bajuku?” akhirnya Luhan dapat menemukan suaranya, meskipun setelah itu ia merutuki ketololannya. Pertanyaan itu, apakah ia pantas menanyakan hal itu pada Ariel? mungkin saja bukan Ariel yang mengganti pakaiannya, kan?

Ariel membalas tatapan Luhan, lalu ia ikut-ikutan memandang tubuh Luhan yang sudah dibalut kaos putih itu. Kemudian beralih lagi pada wajah Luhan yang terlihat agak panik. Ariel tidak merasaada yang salah dengan pakaian Luhan, atau jangan-jangan ia mengambil pakaian yang salah?

“Kau…kau yang mengganti bajuku?” tanya Luhan ragu. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu, kan? Sungguh. Sebenarnya itu bukan masalah besar. Ariel adalah istri Luhan. tapi…rasanya…

“Kau harusnya mandi semalam, kau sangat berkeringat. Dan karena kau pulang dalam keadaan mabuk sekali, akhirnya aku mengambil baju di kopermu dan…yah, akhirnya aku mengganti bajumu dengan baju yang kau pakai sekarang. kenapa? Apakah aku salah mengambil baju?”

Ariel semakin kebingungan ketika Luhan membulatkan matanya. Ia benar-benar terlihat panik dan…

Tiba-tiba Ariel mengerutkan dahinya. Reaksi Luhan memang agak berlebihan, seperti seorang gadis yang…ya begitulah. Reaksinya mirip dengan reaksinya dulu saat ia terbangun di kamar Yi Xing dengan pakaian yang berbeda. Oh, bayangkan saja! Apa yang akan terlintas pertama kali selain pikiran aneh itu? Meskipun ternyata bukan Yi Xing yang melakukannya, ia tetap saja terkejut. Dan sejak saat itu ia berjanji tidak akan menyentuh alkohol lagi.

Dan…baiklah, berhenti membahasnya Ariel Lau.

“Aku tidak melihat apa-apa, kok. Aku juga tidak memperkosamu,” celetuk Ariel asal. Ia juga pernah melakukan hal yang sama pada Baekhyun dulu. Baekhyun juga sama kagetnya, tapi tidak berlebihan seperti Luhan. bahkan, lelucon yang dilontarkannya pun sama. Memperkosa kedua pria yang bahkan…Ariel mengingat wajah manis Bakehyun yang agak ‘perempuan’, kemudian beralih menatap Luhan yang memang…ekhm, cantik. Tidak mungkin, kan? Mereka tidak punya tubuh sixpack seperti Choi Siwon kok…

“Tentu saja tidak! Kau kira kau bisa melakukannya? Dan…lain kali jangan lakukan itu lagi padaku. Aku tidak suka seseorang mengganti bajuku saat tidur,” kata Luhan lagi sambil mewanti-wanti. Ia memang pernah tidur dengan wanita, ia pernah ‘kencan’ dengan pria, tapi ia sama sekali tidak suka jika ada orang asing selancang itu padanya. Membuatnya telanjang dan tubuhnya ditonton secara gratis. Tidak! Itu sama sekali buruk dan Luhan tidak suka.

Ariel ingin meledakkan tawanya saat ittu juga. Tunggu, apa katanya? Astaga, dia pikir Ariel ahjumma ahjumma genit yang suka daun muda sejenis Luhan? tidak tidak. Bahkan seingatnya Ariel lebih muda dari Luhan. tapi karena kejadian semalam, Ariel lebih memilih diam dan tetap melahap makanannya.

“Kenapa harus panik, aku kan wanita.” Ariel buru-buru menutup mulutnya. Teriakan laki-laki tinggi semalam membuat lidahnya agak teratur, tidak ceplas-ceplos seperti sebelumnya.

Dan tubuh Ariel sedikit bergidig ngeri…entahlah, ia tidak tahu apakah ia harus membiarkan perjalanan pernikahannya tetap seperti ini atau tidak. Laki-laki itu terlanjur mengikatnya di pernikahan ini, laki-laki itu terlanjur mengucap janji suci itu. Dan diseumur hidupnya, ia tidak pernah menyangka ia akan bertemu dengan seorang gay. Bahkan serumah, sekamar dan…mungkin seranjang. Meskipun semalam ia memang tidak tidur di kamar, ia lebih emilih tidur di kamar lain yang kebetulan memiliki AC.

***

Ariel berubah baik, meskipun bukan baik dalam artian dia berubah menjadi gadis manis yang mengumbar senyum padanya, pada Luhan. Luhan mendengus panjang, saat ini ia tengah terlantar di sofa panjang ruang tengahnya. Biasanya, ia akan lebih memilih untuk duduk di luar sambil membaca buku ditemani secangkir kopi. Tapi hari ini tidak ada yang membuatkannya kopi –mungkin Ariel bisa, tapi ia sangsi melakukannya.

Luhan pun menatap sekeliling rumahnya yang sudah rapi ini. Ia juga sebenarnya bisa merapikan rumah ini, tapi sekali lagi, Luhan tidak pernah melakukannya. Ia datang kemari benar-benar untuk beristirahat, seperti tidur, mendengarkan musik keras keras, atau bermain bola dengan Wufan.

Luhan mendengus panjang, benar. Biasanya ia akan melewati liburannya bersama dengan Wufan. Jadi, apapun yang ia lakukan tidak membuatnya merasa kesepian.

Ah! Ini gara-gara cutinya yang terlalu lama. Bayangkan saja, satu minggu! Ia akan cuti selama satu minggu sedangkan ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Atau ia kembali saja ke rencana awal? 2 hari tinggal disini, kemudian mengajak gadis itu pergi ke Chengdu atau Qingdao? Atau mungkin Hong Kong? Ia juga sebenarnya berencana mengajak Ariel pergi ke hotel keluarganya yang berada di Shanghai.

Benar. Mungkin ia bisa membawa Ariel pergi ke Shanghai. Ada banyak yang bisa ia kenalkan di Shanghai pada Ariel –itu pun jika Ariel beredia. Setelah itu, ia bisa membawa Ariel ke salah satu lapangan golf milik Wufan di Guangzhou. Tempat favorit mereka berdua saat tengah berlibur juga.

Luhan pun langsung berdiri dan berjalan ke kamarnya. Ia berniat untuk menghubungi seseorang di Shanghai.

***

Di dalam kamar, Ariel justru sibuk mencorat-coret kertas di buku hariannya. Ia baru saja menulis sebuah puisi yang cukup panjang, entah untuk siapa. Hanya ada emosi rasa sakit dalam bait-bait yang ia tulis itu. Kemudian, ia yang sudah kehabisan ide hanya bisa mencorat-coret kertas itu. Benar-benar tidak ada kerjaan dan membosankan.

Ariel mendesah panjang. Matanya kini terjatuh pada pemandangan di luar jendela kamar Luhan. ia merindukan Seoul, ia merindukan Korea, ia merindukan kuliahnya, ia merindukan sahabatnya, ia juga merindukan…Yi Xing. Ariel semakin mendekap kedua lututnya. Ia masih merasa tidak adil, dan seberapa besarpun perasaan tidak adil yang terselip di hatinya, Ariel tetap tidak bisa melakukan apapun. Padahal, dulu ia berencana untuk berlibur ke Eropa –Yi Xing yang menjanjikannya. Ia juga akan bekerja di tempat yang sama dengan Baekhyun, ia sudah merencanakan semua itu dengan cukup matang.

Tapi rencana itu seperti lembaran kertas yang tersapu air. Lapuk untuk di angkat dan hancur saat dibiarkan. Sia-sia. Tidak akan ada perubahan berarti meskipun ia mengambil ataupun membiarkan kertas itu.

Ia juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada Luhan. apakah ia harus bersikap manis padanya, menyapanya seperti ia menyapa temannya? Atau…entahlah. Jangankan untuk memperlakukannya sebagai seorang suami, bahkan melihatnya sebagai kekasih Ariel saja rasanya tidak mungkin.

“Apa yang kau lakukan?”

Ariel langsung berdiri dengan terkaget-kaget. Dan napasnya langsung terbuang saat mendapati Luhan yang berdiri di belakang Ariel. laki-laki itu tidak berdiri lama disana, laki-laki itu juga tidak menunggu Ariel untuk menjawab pertanyaannya. ia langsung berbalik, membuka lemarinya dan entah mencari apa. Ariel tidak tertarik untuk tahu soal itu.

Kemudian Ariel pun hampir kembali duduk jika Luhan tidak memanggil Ariel. Ariel memutar kepalanya, mendapati Luhan yang tengah duduk di lantai kamarnya dengan sebuah tas di tangannya dan beberapa lembar kertas yang entah apa.

Ariel menggigit bibir bawahnya, apa yang akan dilakuan oleh laki-laki itu?

“Kau tidak dengar?” Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Ariel, ia pun kembali menundukkan kepalanya, mengambil sesuatu di dalam tas yang ia pegang, “Kemarilah. Ada yang ingin kubicarakan.”

Dengan berbagai tebakan di kepalanya, Ariel pun berdiri dan berjalan pelan ke arah Luhan. ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Luhan padanya.

“Duduk!” perintah Luhan tanpa memandang Ariel.

Ariel pun menurut dan ikut duduk di lantai. Dengan lancang, mata gadis itu ikut-ikutan menyelami setiap benda yang tercecer di lantai itu ada banyak kertas, seperti berkas. Ia tidak tahu karena kertas-kertas itu berada di dalam map, juga ada beberapa buku tabungan disana –dan ini membuat Ariel perlu menelan ludah pahit, seperti keinginan ibunya. Akhirnya ia menikah dengan seseorang yang bisa mengubah kehidupan keluarganya.

“Ini untukmu,” Luhan tiba-tiba menyodorkan 3 buah kartu. Mata Ariel langsung membulat. Ya, Luhan memberikan tiga! Dan tangan luhan masih memegang 5 kartu lainnya.termasuk black card yang Ariel tahu hanya G Dragon –salah satu artis terkaya Korea Selatan- yang memilikinya.

Ariel mendongakkan kepalanya dan menatap Luhan sekilas, kemudian ia menatap 3 kartu yang disodorkan Luhan pada Ariel. tidak ada black card sebenarnya, tapi…tetap saja ini membuat Ariel terkejut. Ia kira ia akan dicaci maki oleh Luhan setelah perbuatannya semalam. Dan ternyata? Luhan dengan berbaik hati malah memberikan semua itu pada Ariel.

“Kau boleh menggunakan kartu itu sesukamu. 2 kartu kredit dan satu kartu ATM. Semuanya sudah diatasnamakan namamu, jadi itu sah milikmu.” Luhan memulai pembicaraan, “Dan ini beberapa surat kepemlikan tanah, rumah, dan sejenisnya. Aku tidak bermaksud memberikannya padamu,” kata Luhan menjeda, tangan laki-laki itu masih sibuk mengurai kertas-kertas itu, “Semua ini asset penting. Kau istriku dan kau berhak tahu.”

Ariel menelan ludahnya. Ya, ia istri Luhan dan ia berhak tahu.

“Dan rumah ini adalah rumahku. Rumah ini juga sudah diatasnamakan namaku. Aku punya satu apartemen di tengah Kota Beijing, dekat dengan kantorku dan biasanya aku pulang kesana jika tidak pulang ke rumah. Ada satu apartemen lagi, yang satu itu agak sedikit lebih kecil dari apartemen yang kusebutkan tadi, tapi itu belum diatasnamakan namaku. Masih atasnama orangtuaku. Sesekali aku juga pulang kesana,” Luhan masih menjelaskan, “Di Beijing masih ada satu rumah lagi. Tapi aku jarang sekali datang kesana. Tempatnya ada di ujung Kota Beijing, dekat dengan perbatasan kota lain, ibuku yang biasanya datang kesana. Terserah padamu, kau ingin tinggal dimana,”

Itu bukan pertanyaan. Tidak ada nada bertanya. Luhan hanya menjelaskan semuanya, seperti pamer kekayaan. Tapi dari nada bicaranya, Luhan seperti tengah membicarakan rumah yang akan mereka tempati kelak. Dan dimana saja tadi? Ia bahkan hampir tidak memperhatikan. Luhan kaya sekali…pantas saja ibunya tidak keberatan saat putrinya menikah dengan seorang gay.

“Jadi, kau mau tinggal dimana?” Luhan akhirnya bersuara lagi. Kali ini dengan nada pertanyaan.

Ariel mendesah panjang. Ia tidak peduli dimana ia tinggal, bahkan ia memiliki tempat tinggal saja itu sudah lebih dari cukup. Ariel juga tidak mungkin meminta yang aneh-aneh bukan? Secara naluriah ia memang suka uang, dulu ia juga sering meminta Baekhyun untuk mentraktirnya ini itu. Tapi lain ceritanya jika Luhan yang melakukan ini padanya.

Belum lagi rasa bersalahnya yang terus menerjang. Bagaimana Luhan bisa bersikap seperti ini setelah Ariel telah menyakiti perasaannya semalam? Bagaimana Luhan bisa bersikap seolah-olah kejadian semalam tidak pernah ada dan malah berbalik menyerang Ariel dengan semua yang diberikan pada Ariel?

“Kau mendengarkanku, kan?”

Ariel mengerjapkan matanya saat suara Luhan menyentuh gendang telinganya. Ia pun menarik napas panjang, menekan semua perasaan negative yang menekan dadanya.

“Aku…aku minta maaf,” cicit Ariel akhirnya.

Luhan mengerjapkan matanya bingung saat Ariel akhirnya menyahuti Luhan. tidak, bukan itu yang Luhan tunggu dari bibir mungil gadis itu. Tapi disisi lain, Luhan justru merasakan ada desiran aneh yang menggores hatinya barusan. Entah apa, Luhan juga tidak tahu.

“A…apa?”

Ariel mendongak, memberanikan dirinya sendiri untuk menatap Luhan.

“Aku minta maaf, atas semua perkataanku semalam. Aku terlalu terbawa emosi. Maksudku…kau tahu, sama sekali tidak mudah menerima pernikahan ini begitu saja. Aku memang tidak mengenalmu dengan baik, aku hanya tahu dirimu saat pertemuan pertama kita beberapa bulan lalu. Aku mungkin memang terlalu egois, hanya memikirkan diriku sendiri. Tapi kau tahu, sangat sulit untuk menganggap bahwa aku ada di alam nyata saat ini.

“Aku selalu berpikir, seharusnya ada kekasihku yang duduk berhadapan denganku, menatap mataku lekat, menggenggam tanganku, memeluk tubuhku, bukannya kau. Tapi bagaimanapun aku mencoba, nyatanya tidak seperti itu. Jadi, aku minta maaf. Aku salah. Aku tidak mengenalmu dengan baik tapi aku sangat lancang padamu. Aku…”

“Gwaenchanayo.”

Ariel terperangah saat dialek Korea terucap sempurna dari mulut Luhan. pria itu tidak tersenyum, hanya menatap Ariel.

“Kau…”

“Jika kau tidak tahu, aku juga menghabiskan masa remajaku di Korea Selatan. Di Seoul. Dan kudengar kau juga sekolah disana, kan? Karena kau belum lama tinggal di Cina, mungkin tidak ada salahnya aku bernostalgia dengan bahasa Korea,” meskipun Luhan mengingat Yi Xing. Karena hanya dengan Yi Xing ia menggunakan bahasa Korea seperti itu.

Ah, ngomong-ngomong soal Yi Xing. Bagaimana kabarnya? Laki-laki itu murung sekali saat di pesta pernikahan Luhan.

Ariel justru terpaku mendengar jawaban Luhan. Luhan pernah sekolah di Korea? Luhan bisa bahasa korea? Ia tidak tahu kenapa ia harus seterkejut itu. Tapi ia cukup terkejut mendengar informasi yang stau itu.

“Aku…mengerti,” Luhan kembali angkat suara. Kepalanya tertunduk dengan jemari yang memainkan kartu-kartu di tangannya, “Pasti tidak mudah menikah dengan seseorang yang tidak kau cintai, terlebih laki-laki itu adalah seorang gay.” Luhan menjeda dengan hela napasnya, ia pun mengangkat kepalanya, “Jika kau ingin menyerah, katakan saja padaku. Aku tidak akan membuatmu tidak nyaman selama kau disisiku. Apapun itu, katakan saja, oke?”

Ariel sebenarnya tidak ingin menangis. Ia juga merasa tidak perlu menangis. Tapi ucapan Luhan tadi benar-benar membuatnya terenyuh dan bersalah secara bersamaan. Bagaimana bisa Luhan berkata seperti itu?

“Aku yakin semalam yang mengantarku adalah Wufan. Jika dia mengatakan sesuatu padamu, jangan terlalu didengarkan.”

Luhan langsung mengambil 2 buah buku tabungan dan menyodorkannya ke arah Ariel, “Milikmu. Aku memiliki sebuah Restoran Jepang, setiap pemasukan dari restoran itu akan masuk ke rekeningmu. Kau jangan sungkan, lakukan apapun yang kau mau. Milikku milikmu juga. Dan maaf, aku sudah membuat hidupmu sulit.”

Luhan tahu Ariel menitikkan airmata. Tapi Luhan tidak tahu makna airmata yang menganak sungai di pipi Ariel itu. Dan akhirnya Luhan memilih untuk diam dan tidak tahu menahu soal airmata itu.

“Baiklah, kita siap-siap sekarang. hari ini kita akan melihat tempat tinggal yang kusebutkan tadi, jadi kau bisa memilih tempat yang nyaman untuk ditinggali nanti. Dan besok, aku berencana mengajakmu untuk pergi ke Shanghai. Anggap saja ini sebagai liburan, kebetulan aku cuti selama seminggu dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”

***

“Aku baik-baik saja, kok.” Kata Luhan di ponselnya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding masuk apartemennya sambil memandangi Ariel yang tengah terkagum-kagum pada interior apartemen Luhan.

“Kau mabuk sekali semalam,” sahut Wufan di sebrang telpon, “Kau tahu bagaimana paniknya aku saat tahu kau mabuk begitu? Kau harus mengurangi minum Luhan. terlebih kau sudah menikah…”

“Aku tahu. Maaf merepotkanmu lagi. Dan…kenapa kau sudah di Beijing? Bukannya kau ada urusan, huh?”

“Aku sudah selesai. Kukira aku akan menginap, tapi ternyata tidak. Oya, bagaimana dengan istrimu?”

Mata Luhan langsung memandang Ariel yang tengah menyentuh beberapa benda milik Luhan, “Harusnya aku yang betanya Wu Yi Fan, apa yang kau lakukan pada Ariel? dia langsung meminta maaf padaku, tahu.”

Terdengar kekehan di sebrang sana, “Aku hanya melakukan apa yang harusnya kulakukan sebagai seorang pacar,” candanya disebrang sana –meskipun Wufan setengah serius tanpa Luhan tahu.

Luhan tertawa renyah. Wufan memang selalu bisa merubah mood buruknya menjadi lebih baik, ia bahkan lupa bagaimana aura gelap itu mengelilinginya tadi pagi. Sekarang, hanya dengan mendengar lelucon Wufan, Luhan sudah bisa tertawa seperti sekarang. hebat, bukan?

“Sayangnya pacarmu ini sudah menikah, Wufan.”

“Ya, aku tahu. Hanya tersisa kata teman untuk hubungan kita bukan?”

Luhan tersenyum kecil, “Kau sahabat terbaikku. Dan…oh ya, bagaimana jika akhir pekan kita pergi ke Guangzhou? Aku ingin memperkenalkanmu pada istriku,”

“Kau ingin melukai perasaanku? Bagaimana bisa mantan pacarmu kau kenalkan pada istrimu, hmm? Kau ingin mereka bertengkar karena meributkanmu?”

Luhan menggeleng geli, “Kau bukan seorang gadis yang pecemburu, ingat itu Wufan.”

Dan Luhan semakin tenggelam dalam percakapannya, tidak sadar mata Ariel sudah memandangi wajah Luhan dengan berbagai perasaan. Luhan sedang menelpon pacarnya? Dia gay dan harusnya dia berpacaran dengan laki-laki, kan? Tapi apa katanya tadi? Dia menyebut kata ‘gadis’. Jadi dia juga punya pacar perempuan? Dan dia…

Ariel menggeleng pelan. Ia tidak perlu berpikir ayang aneh-aneh. Walaupun rasanya aneh melihat sisi Luhan yang lain seperti ini.

“Bagaimana? Apa sebaiknya kita pindah ke Shanghai saja? Aku bisa mengurus anak perusahaan disini,” tanya Luhan dengan wajah yang lebih cerah. Pasti senang sekali rasanya menjadi Luhan, dia memiliki banyak orang yang dapat membuatnya tersenyum dengan mudah.

“Tadi itu…pacarmu?”

Luhan baru saja merebahkan tubuhya di atas sofa. Dan kepalanya langsung mendongak kaget mendengar pertanyaan Ariel. lucu, pertanyaan itu benar-benar terdengar lucu di telinga Luhan. siapa maksudnya? Wufan? Wufan pacarnya?

Luhan menyeringai kecil, “Ya, dia pacarku yang paling manis sedunia.” Candanya setengah terkekeh. Membayangkan wajah Wufan dengan embel-embel manis membuatnya merasa geli sendiri. Dia pria yang sangat ‘pria’. Semua gadis bertekuk lutut padanya. Tidak, bukan hanya para gadis, tapi juga para pria yang ‘sama’ dengan Wufan dan Luhan.

Tubuh Ariel langsung membeku. Ia sedikit menggigit bibirnya, “Dia…perempuan?”

Luhan menatap Ariel bingung. hanya persekian detik, selang itu Luhan langsung tertawa. Luhan merasa dirinya seperti orang gila disini. Tadi pagi dia merasa mood nya terlampau buruk, dan dia merasa mood nya begitu baik setelah mendengar suara Wufan, dan tingkah Ariel membuatnya semakin ingin tertawa.

“Kau mengira dia seorang gadis?” tanya Luhan dengan tawa yang masih belum berhenti, “Hei…dia itu seorang pria. Wufan. Namanya Wu Yifan. Ah, dia pria yang mengantarku semalam. Dan dia bukan pacarku, kau terlalu mudah dibohongi Ariel Lau.”

Pipi Ariel langsung bersemu merah. Ia benar-benar merasa idiot sekarang. memalukan sekali. Bagaimana bisa ia bertanya ini itu tanpa berpikir dua kali? Belum lagi Luhan yang menertawakannya seperti sekarang ini. Menyebalkan sekali. Jika saja tidak ada atmosfer yang membatasi mereka, Ariel pasti sudah memukuli Luhan dengan membabi-buta.

“Aduh…aduh…Ariel, kau lucu sekali.” Luhan kembali bicara sambil mengusap sudut matanya yang mengeluarkan airmata, “Aku lapar. Ayo kita makan. Disini tidak ada bahan makanan, aku tidak pernah masak sendiri selama tinggal disini. Oya, kau juga harus menimbang-nimbang tempat tinggal mana yang cocok, ya?”

***

Luhan hampir tidak pernah berhubungan dengan perempuan mana pun. Ia lebih memilih untuk menjaga jarak dengan gadis-gadis yang berusaha mendekatinya. Bukan apa-apa, hanya saja ia…ia memang tidak tertari untuk dekat-dekat dengan mereka. tidak ada alasan kuat agar Luhan bisa dekat dengan para gadis itu, kan? Meskipun hanya berstatus sebagai teman, Luhan rasa tidak perlu. Ia tidak butuh banyak teman.

Dan alasan itu membuat Luhan agak bingung saat harus berhadapan dengan Ariel. ia tidak tahu apa yang harus dibicarakannya dengan Ariel, ia kehilangan topik. Ariel juga hanya diam saja, terlihat tidak tertarik untuk mengatakan sesuatu pada Luhan. mungkin dia masih membenci Luhan? ya, mungkin saja.

Rasanya seperti mimpi saja. Menikah, memiliki istri, pergi dengan istri, dan…masih banyak lagi hal-hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Meskipun Luhan sudah merencanakan semua ini dengan cukup matang, tapi Luhan justru merasa bingung sendiri. Dia begitu menyambut kedatangan Ariel di kehidupannya.

Apakah itu normal? Entahlah, Luhan tidak tahu. Ia tidak berpikir untuk menjaga jarak dari Ariel. ia hanya ingin bersikap normal saja, meskipun ternyata Ariel tidak bisa melakukan itu padanya.

“Ini restoran yang aku bicarakan tadi. Kau suka makanan Jepang?” Luhan membuka pembicaraan saat mereka menginjak keramik pertama di restoran itu.

Ariel tidak langsung menjawab, ia cukup terkesima dengan penghormatan yang diberikan oleh karyawan-karyawan di restoran ini. Dan Luhan hanya membalasnya dengan senyum tipisnya. Senyum yang manis. Tidak menggambarkan pria 24 tahun, tapi remaja 18 tahun. Oh, shit! Dia baru memuji Luhan?

“Kami duduk disini saja. Dan kenalkan, ini istriku. Ariel Lau. Dia berasal dari Kanada.” Luhan mulai memperkenalkan Ariel saat Luhan sudah memilih tempat duduk.

Ariel terlihat gugup saat Luhan memperkenalkannya dan dihormati seperti sekarang. saat di Kanada, orang-orang tidak memperlakukannya seperti itu. Berbeda budaya, tentu saja. Dan sekarang ia diperlakukan seolah ia orang penting. Tapi apa Luhan bilang tadi? Kenapa pria itu bilang Ariel berasal dari Kanada?

“Aku sudah tinggal di Cina semenjak orangtuaku bercerai,” Ariel sedikit meluruskan saat semua orang mulai pergi.

Luhan mendongak menatap Ariel, kemudian tersenyum sambil mengangguk, “Kurasa kau jauh lebih nyaman disebut orang Kanada. Bahasa Cina mu juga jelek, dialeknya bukan dialek Beijing. Dibanding dengan bahasa cinamu, bahasa koreamu malah lebih bagus. Meskipun aku yakin, kau jauh lebih bagus dengan bahasa inggris.” Kata Luhan panjang lebar.

Luhan cerewet. Penilaian itu langsungberputar dikepalanya. Laki-laki tercerewet yang ia kenal selama ini hanya Byun Baekhyun. Tapi hari ini ia dipertemukan dengan satu laki-laki lagi yang suka bicara. Dan laki-laki itu ada di hadapannya, memasangkan cincin pernikahan di jari manisnya, mengikatnya dalam tali pernikahan, dan…dia adalah Luhan.

“Kau mau pesan apa?” Luhan mulai memperhatikan menu di hadapannya. Ia tidak tahu kenapa ia melakukannya, padahal ia suah hapal betul menuapa saja yang ersedia di restoran itu.

Disebrang Luhan, Ariel juga ikut memperhatikan buku menu. Ia tidak terlalu suka masakan Jepang sebenarnya, tapi demi menghormati Luhan, ia akhirnya menelan rasa tidak sukanya. Ia pernah makan ramen, dan mungkin tidak ada salahnya ia makan ramen rasa…soyu? Atau kare? Payah sekali.

“Aku pilih ramen kare saja,” putus Ariel sambil menutup buku menunya.

Luhan mengangkat kepalanya dengan tatapan bingung menerjang Ariel. mereka jauh-jauh kemari hanya untuk makan ramen?

“Kau tidak suka masakan Jepang ya?” tanya Luhan kembali menunduk, memperhatikan menu yang ada di buku itu.

Ariel tiba-tiba merasa gugup. Perlukah ia berkata jujur? Bahwa ia tidak suka masakan Jepang? Atau ia berbohong saja untuk menghargai Luhan?

“Ti…tidak, bukan begitu. Aku sudah lama tidak makan ramen. Jadi, ya…kupikir, aku ingin makan ramen saja.”

Luhan mengangguk paham, pura-pura paham tepanya. Ia tidak yakin Ariel baru saja berkata hal yang sebenarnya. Ada banyak menu makanan di restoran ini, bahkan Luhan selalu mewanti-wanti manajer restoran ini agar menemukan ide baru soal makanan di restoran ini. Tapi dari puluhan menu, Ariel hanya memilih ramen?

Seorang pelayan pun mendatangi meja Luhan dan mencatat pesanan Ariel dan Luhan. dan dengan sengaja, Luhan memesan makanan yang sama dengan yang dipesan oleh Ariel. ia sedang malas makan, dan biasanya ia menyamakan menu makannya dengan orang lain.

Luhan mendengus pelan. Sekali lagi, ia biasanya makan bersama Wufan. Dan kebetulan sekali Wufan selalu memesan makanan yang Luhan suka, jadi Luhan cukup diuntungkan karena meskipun ia menyamakan makanannya dengan Wufan, makanan yang dipesannya juga adalah makanan yang ia suka.

Selama menunggu pesanan datang, Ariel dan Luhan dikelilingi atmosfer aneh. Hening. Tidak ada yang berinisiatif untuk mengangkat satu topik pembicaraan. Luhan sibuk dengan ponselnya, dan Ariel sibuk memandangi interior restoran ini yang cukup mengangumkan.

Dan sampai pesanan datang, bahkan saat mereka selesai makan, tidak ada yang angkat suara lagi. Ariel bahkan sempat berpikir, mungkin tidak ada salahnya untuk memberi gelar ‘pasangan ter awkward’ pada dirinya dan Luhan.

***

Yi Xing memetik senar gitar di tangannya tanpa gairah, tanpa nada ataupun perasaan –yeah, selama ini ia selalu berkata ‘memainkan musik sama dengan menaruh perasaan pada setiap nada’. Tapi hari itu, ia melanggar ucapannya sendiri. Apanya yang menaruh perasaan pada setiap nada? Ia bahkan tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Kusut. Persis benang kusut dan Yi Xing tidak bisa mengurainya.

Yi Xing tidak suka main gitar –pada awalnya. Ia lebih suka piano dan lebih tertarik untuk memperdalam kemampuannya memainkan piano ketimbang harus memainkan gitar. Yi Xing tersenyum kecut, lalu ia ingat alasan kenapa ia akhirnya belajar bermain nada lewat gitar. Siapa lagi jika bukan Ariel? Gadis itu begitu kagum pada Park Chanyeol –senior satu jurusan dengannya. Yi Xing merasa tidak suka saat Ariel terus saja berkata bahwa Chanyeol sangat keren, terlebih gadis itu mengatakannya dengan nada menyebalkan –ditelinga Yi Xing.

Yi Xing menegakkan punggungnya. Tatapan matanya terjatuh pada pemandangan Beijing yang begitu ramai. Entah apa yang salah dengan kota besar itu, padahal selama ini ia selalu suka tiap kali ia bisa menginjakkan kakinya ke Beijing meskipun hanya untuk menemui kakaknya yang telah berumah tangga. Selalu ada warna dan nada tiap kali ia menemukan bangunan khas Beijing. Tapi semenjak kemarin, ia seperti kehilangan seluruh atmosfer terbaiknya dan tertiup rasa luka yang menginjak hatinya hingga hancur.

“Makanlah, kau belum makan apapun sejak semalam.” Li Yin –kakak Yi Xing- muncul dari ambang pintu. Biasanya ia agak keberatan saat Yi Xing menggunakan alat musik milik Zhoumi –suaminya. Yi Xing selalu bisa merusak apapun yang disentuhnya. Tapi hari itu adalah pengecualian, bahkan ia akan melakukan apapun untuk Yi Xing jika Yi Xing menginginkannya.

Yi Xing menoleh sekilas, kemudian tersenyum kecil, “Aku tidak bersekera makan,” sahutnya jujur. “Oya, Lisa Jie Jie sudah makan? Aku sudah merepotkannya…”

“Dia baru saja pulang setengah jam lalau,” kata Li Yin sambil duduk di salah satu kursi di ruang itu, mengabaikan tatapan terkejut Yi Xing saat ini.

“Pulang? Dia pulang? Kenapa tidak bilang padaku? Aku juga ada jadwal dan…”

“Aku sudah membayar denda untuk pembatalan acaramu itu,” potong Li Yin cepat. Dan ia sungguh-sungguh, ia rela membayar besar untuk denda itu. Ia tahu Yi Xing tidak dalam kondisi baik, jadi ia menyuruh Lisa pulang dan memberikan uang dendanya.

Yi Xing mendesah panjang. Ia merasa kecewa terhadap dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia membatalkan jadwalnya begitu saja? Selama ini ia slalu berusaha profesional –tapi hari itu ia mengabaikan pengertian profesional itu sendiri.

“Aku payah, ya? harusnya aku…”

“Setiap orang pasti pernah mengenyampingkan profesionalitas mereka,” Li Yin lagi-lagi memotong, “Dan apa yang kau lakukan saat ini sama sekali tidak salah.”

Yi Xing tidak menyahut. Ia lebih memilih untuk memainkan asal gitar di tangannya. Gitar milik kakak iparnya.

“Mungkin dia memang tidak berjodoh denganmu,” Li Yin mulai membahasnya. Membahas cerita pahit yang sebenarnya ingin Yi Xing buang jauh-jauh. Tapi Yi Xing tetap tidak beraksi, ia tetap pada kegiatan tidak berartinya.

“Luhan datang padaku, memintaku membuatkan cincin pernikahan. Dan…kau tahu, aku sama sekali tidak menyangka ternyata gadis yang akan dinikahinya adalah…gadis yang selama ini kau ceritakan padaku,” Li Yin menundukkan kepalanya, membiarkan rasa bersalah itu menyeruak ke dalam dadanya, “Aku hanya tahu Luhan adalah sahabat baikmu. Aku hanya tahu selama ini kau terus saja berkata bahwa dia adalah teman yang baik, tapi aku…”

“Itu bukan salahnya,” Yi Xing angkat suara. Ia menegakkan punggungnya yang terlihat menyedihkan, sangat terlihat jelas ada banyak beban yang berjatuhan ke atas sana, “Luhan sudah mengatakannya padaku, semua itu perjodohan. Mungkin Ariel juga tidak bisa menolaknya,”

“Zhang Yi Xing…”

“Aku mungkin hanya perlu waktu untuk menerima kenyataan ini. Aku tidak ingin membenci Luhan karena…karena dia telah membawa Ariel begitu saja. Aku merasa sangat tolol saat berkata dengan semangat bahwa aku mendukung pernikahannya yang ternyata akan menjadi pernikahan Ariel juga,” Yi Xing mendesah panjang, “Aku sangat mencintai Ariel. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya mendeskripsikan bagaimana rasa cintaku pada Ariel, sebuah perasaan yang sampai ke ujung lidah…”

Yi Xing pun menaruh gitarnya dan menoleh ke arah kakaknya, “Aku akan tersenyum dibalik senyumnya, juga akan menangis di balik airmatanya. Jika ternyata Luhan lah yang dipercaya Tuhan untuk menjaga Ariel, harusnya aku bisa senang, karena artinya Ariel akan berbahagia…” dan entah bagaimana Li Yin sudah memeluk Yi Xing dengan erat. Yi Xing sama sekali tidak menangis, tapi justru Li Yin yang kini beruraian airmata.

“Ariel akan berbahagia tanpaku…”

***

Luhan memandang gelisah layar ponsel di hadapannya. Saat ini ia tengah tiduran dengan asal di atas ranjang. Ia sudah kembali ke apartemennya di Shanghai ini sejak satu jam yang lalus etelah mengajak Ariel berkeliling. Dan seperti biasa, jika kelelahan ia tidak akan bisa tidur dengan cepat. Biasanya ia akan menelpon Wufan atau mendengarkan musik, tapi mood nya menguap entah kemana juga entah karena apa. firasatnya agak kurang baik.

Dan tiba-tiba saja Luhan teringat Yi Xing. Biasanya, laki-laki itu akan mengirimnya pesan di Weibo, tapi hari ini semua akun media sosialnya kosong melompong. Tidak muncul nama Yi Xing dan itu membuat Luhan sangat khawatir.

Apa terjadi sesuatu yang buruk pada Yi Xing? Apakah dia sakit? Dia baik-baik saja, kan? Dan pertanyaan itu terus saja berputar-putar di atas kepalanya, membuat kepala Luhan sakitia mendesah panjang dan melempar ponselnya asal ke atas ranjang. Ia benci jika sudah memikirkan Yi Xing seperti sekarang, ia benci jika sudah menyadari perasaan rindu yang menjepitnya diam-diam. Sadarlah Luhan! Kau sudah menikah!

Luhan tadinya berniat memejamkan matanya saat Ariel masuk ke dalam kamar. Well, akhirnya dengan terpaksa Luhan membuka matanya lagid an menegakkan punggungnya. Menatap Ariel dan hendak mengatakan sesuatu…tapi tidak jadi. Ia kehilangan kata-kata, atau mungkin tepatnya tidak ada kata-kata yang muncul di kepalanya.

“Kupikir kau sudah tidur,” tutur Ariel dengan nada pelan. Ia pun berjalan menuju meja rias dan mulai mengolesi tangan dan kakinya dengan lotion.

Luhan masih tidak menyahut, ia masih memikirkan soal Yi Xing. Hingga ahirnya ia mulai angkat suara, “Apakah tidak apa-apa jika aku menelpon seseorang yang aku khawatirkan?”

Pergerakan Ariel tiba-tiba terhenti. Ia menatap Luhan lewat cermin di hadapannya. Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja boleh, sangat boleh bahkan terlalu boleh. Ariel akan menelpon kakaknya jika ia mengkhawtairkan mereka, Ariel akan menelpon Wendy –sahabatnya- jika ia khawatir, juga Baekhyun, Krystal, Seulgi, Eunji, juga…Yi Xing.

“Tentu saja. Tidak ada yang salah dengan itu,” jawab Ariel akhirnya setelah ia mengabsen siapa saja yang sering ia khawatirkan.

Luhan tersenyum kecil, lalu mengangguk, “Tentu saja. Aku akan.”

Luhan pun segera mengambil ponselnya kembali, lalu berjalan ke arah teras di depan kamarnya. Ia ingin mendengar suara Yi Xing, bahkan ia ingin memeluknya jika ia bisa. Dan tentu saja itu tidak akan terjadi. Bahkan ia hanya bisa tersenyum dan menjabat tangan Yi Xing, pelukanpun hanya sebatas pelukan sahabat. Bukan seperti pelukan yang diberikan Wufan…

Luhan masih menunggu dengan tidak sabar ketika nada khas sambungan telpon bergema di telinganya. Dan setelah puluhan detik, akhirnya telponnya di jawab. Tapi dadanya harus terasa terhempas saat suara seorang wanita yang tidak terlalu asing di telinganya menyentuh gendang telinganya dengan menyakitkan.

“Luhan, aku mohon. Mulai saat ini jangan lagi mengganggu Yi Xing. Jangan hubungi dia lagi. maaf…aku mohon agar kau mengerti,” setelah itu telpon terputus dan menyisakan tubuh Luhan yang membeku.

“Ha…hallo? jie jie? Kau masih disana? Hallo?”

Luhan menggigit bibir bawahnya dan membiarkan tangannya terjatuh. Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba nada kebencian itu terarah padanya? Kenapa ia tidak boleh menghubungi Yi Xing? Apakah terjadi sesuatu pada Yi Xing? Apakah Luhan melakukan sebuah kesalahan?

Luhan menggeleng pelan dan mencoba menghubungi kembali nomor Yi Xing. Tapi nihil, tidak ada jawaban. Hanya ada suara operator yang menyakiti telinganya. Dan setelah itu, tanpa ia sadari ia sudah membanting ponselnya dengan keras ke lantai yang disertai suara erangan Luhan.

“A…ada apa? kau kenapa?” tanya Ariel kagetdi belakang Luhan.

Tidak ada jawaban, Luhan juga tidak berbalik. Ia hanya menyadari matanya sudah memanas, bahkan berair saat ini.

=TBC=

14112014 1920

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

Fiuh~ pertama aku mau minta maaf untuk keterlambatan ff ini. U.U aku emang agak sedikit sibuk sekarang, jadi agak susah nemu waktu buat ngetik. Tapi akuusahain buat ngeluangin waktu. Belum lagi aku kemarin masih terpukul pas Luhan keluar dari EXO. Tau perasaan yang gak sampai ke ujung lidah? Kebas, sedih, terhenyak, terpukul…entahlah. dan makasih udah baca ff abal-abal ini :^)

Salam manis dari Tinker Bell yang menanti Peter Pan nya di Beijing sana :^)

Ah, ya. there’s a song for uri Little Deer…

The old diary what’s been long forotten
I brush off the dust and remember your grin
Just like before
Your picture remains here, the memories appear

My heart beat speeds up like it did in the past
It’s unfortude that that time couldn’t last
I begin to recall everything that i left behind

You’re my Peter Pan
This world’s so lonely without you
Let’s go back to our Neverland
Our memories are there
All our laughter, smiles, everything’s still there

You’ll always be my Peter Pan
No matter how long I have to stand
I’ll wait here for you
Because it’s not the end
I know I will meet you again

By silvertear – Peter Pan

 

Always suppor him and loving him! :^)

62 responses to “[Series] Married With A Gay – Chapter 4

  1. nyesek merayap di semua tokoh utama. aaaa~ semoga yixing cepet dapet jodoh baru di cerita ini, luhan sembuh, ariel mulai perhatian sama luhan dan ngelupain yixing. semoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s