[Oneshoot] After a Minute

FF ini bukan ditulis oleh saya (MinHyuniee), melainkan ini adalah ff titipan dari Dhillasw. Saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian melalui komentar setelah membaca maupun like-an. Terimakasih!

AFTER A MINUTE

Author  : dhillasw.

Main Cast :

– EXO’s Oh Sehun as Sehun

– OC’s as Park Hyerin

Other Cast :

– EXO’s Byun Baekhyun as Baekhyun

– Etc

Genre : drama, hurt, soft, typos, friendship, AU, ooc.

Rating : PG-13

creadit asli : http://choisiwonblog.wordpress.com/

Happy reading^^! dont forget RCL-nya readers!

—-o—-

“Aku tak mau lagi punya adik seperti kau ! Aku membencimu” suara lantang dari mulut sehun keluar bebas memenuhi sesak diruangan itu.
Kontan murid yang lain tertawa renyah melihat tingkah konyol yang dilakukan seorang yeoja yang saat ini menjadi tontonan.

Yeoja mungil itu menunduk, terukir sebuah raut kekecewaan di sudut bibirnya. Matanya nanar melihat tangannya yang mengeluarkan darah akibat duri mawar yg ia pegang sekarang.

“Hyerin-ah. . .baekhyun memanggilmu”
Sekilas hyerin melihat kearah asal suara itu.
“Ne. . .” Jawabnya datar, dan tak ada kalimat penolakan sedikitpun.
Namja tampan dan tinggi itu masih berdiri didepannya, yang bahkan tak berminat melihatnya.

Sorot mata tajam yg menatap objek dibalik jendela itu perlahan menunduk ragu saat disadarinya, yeoja yg brnama hyerin itu sudah membelakanginya dan pergi untuk menemui namja lain.

Namja yang bernama lengkap oh sehun ini, hendak berdiri seperti menahan sesuatu dari dalam dirinya. Dia tak tau apa yang akan dia lakukan, namun tak seperti biasanya, kali ini dia berjalan dan menunduk memperhatikan kakinya yg mulai melangkah melewati pintu kelas.

Tiba-tiba mata yg awalnya kosong langsung menangkap sesuatu didalam tongsampah samping pintu.
Setangkai mawar yg mulai layu, mawar yang bisa ia pastikan milik yeoja yg tadi menyatakan cinta padanya.

Tangannya berhenti untuk meraih tangkai itu, saat Telinganya sedikit mendelik mendengar suara tak jelas, sedikit jauh dari posisinya saat ini.

Senyum indah itu kembali terukir, meski baru saja hatinya tersayat akan kalimat yg dikeluarkan sehun untuknya. Dia tersenyum manis, senyum yang dulu hanya ditampakkan untuk sehun seorang, meski semangat berapi-api tak terlihat saat ini. itu karena sehun tahu bahwa dirinya telah menyakiti perasaannya.

Hyerin pov.

aku hanya ingin dia bisa menatapku serius .

Jika aku tak mencintainya, rasa malu pantas kurasakan. Tapi aku mencintainya !! Hingga saat ini aku tak perna menyesali itu.  “Apa sehun menyakitimu?”  Kurasakan tangan baekhyun mengangkat daguku yg tak serius menatapnya.
“Tidak .. ”

“Lalu kenapa? Aku yakin dia menyakitimu . .!!”

“Tidak! Aku yang membuatnya kecewa!!” Dia kembali mengangkat daguku dan mensejajarkannya dengan matanya.

“Lihat aku!”
Mataku masih tak melihatnya. Minimal untuk saat ini, aku tak ingin membuatnya bisa menangkap arti dari tatapanku.
“Lihat aku!! Apa yang kau lakukan barusan?” Ujarnya tajam.

Author pov.

“Byun baekhyun. . .dia adalah oppaku”
Hyerin menepis tangan baekyun yg terus mengangkat dagunya agar menatapnya.
Lalu pergi dan masuk kekelasnya.

Flashback on.

“Apa kau bisa tak mengikutiku sekalipun kemana aku mau pergi?”  Geramnya frustasi. Menghentikan jalannya dan menatap sepasang bola mata ceria milik yeoja itu.

“Ani . . .karena dimana kau ada, disitu ada aku. . .”

“Cihh . . ” sehun tertawa kecut, mendengar perkataan menggelikan yang ditujukan padanya.

Namun hyerin, seakan tak peka soal itu, dia hanya merasakan betapa dirinya mengagumi namja yg sekarang ada didepannya saat ini.

“Kau menyukaiku?”
Kontan mata hyerin melebar dan langsung berubah menjadi sebuah cengiran dan anggukan.
“Ne aku menyukaimu. Mau kah kau menjadi oppaku?”
Seluruh pasang mata brgantian melihatnya, sambil mengeluarkan cibiran yg tak sekalipun ia hiraukan.

“Kalau begitu, berhentilah menyukaiku. Karena itu tak akan perna kulakukan !!”

Bodoh kalau yeoja itu tak merasakannya. sehun membencinya, namun tak ada satupun yang bisa menebak pikiran hyerin. Sudah berapa kali sehun menyakiti perasaannya andai dia sadar~

“Aku tau, kau tak yakin dengan kukatakan. Tapi aku tulus! Aku harus berbuat apa untuk meyakinkanmu?” Tak sedikitpun senyumnya luntur. Dia selalu saja tersenyum meski sehun sudah mempermalukannya.

Sudut bibir namja itu tertarik, seraya ide cemerlang melintas di otaknya.
“Kau akan bersedia apapun itu?”

“Apapun!!” Tegasnya.

“Kau harus selalu mengerjakan pr ku dan buat nilaiku untuk semester ini naik !!”

Yeoja itu lagi-lagi tersenyum, seolah dirinya memang hanya memiliki satu ekspresi jika melihat sehun, yaitu tersenyum!!

“Kau tak meminta jangka waktunya?” Tanya sehun licik.

Hyerin menggeleng mantap. Memperlihatkan sederetan giginya.
“Bagus !! Mulai saat ini aku adalah oppamu.. . .”
Spontan hyerin melompat dan berhasil memeluk tubuh sehun.. yg dengan perasaan gelinya berusaha melepaskannya dan menjauh dari jangkauannya, seolah hyerin adalah sebuah kontoran comberan yang harus disingkirkan.

“Aku akan berbuat yang terbaik OPPA!!”


“Hya, kau mau kemana hyerin-ah?”
Sengitnya, membalikkan tubuhnya kebelakang, malas.

“Anii, aku hanya suka melihatmu !!”

“Cihh . . .jangan lakukan itu, aku tak menyukainya!!” Ujarnya dingin.

Hyerin kontan mundur 3 langkah, melihat sehun berekspresi seperti itu. “Mianhe oppa. . Aku tak akan melakukannya lagi”
Bodoh, menurutmu orang normal mana yang tetap besemangat dan tersenyum meski kata-kata pedas sekalipun ditujukan padanya.

Hingga saat itu dia harus melanggar janji itu, janji yang sangat ia ganggam erat-erat. Janjinya kepada sehun, bahwa dia tak akan perna mengikuti sehun lagi dari belakang. namun ia tak bisa melakukannya, detak jantungnya berdetak menggila bahkan hanya karena melihat punggungnya, dan itu adalah kesukaannya.

Flashback end.

Cinta bukanlah drama, meski tulus hanya ada dalam cerita
Ia benci akan fakta bahwa setelah ini dia akan membencinya.
Hyerin hanyalah yeoja mungil dan polos, jatuh cinta adalah keajaibannya saat umurnya menginjak 17 tahun.

Pertemuan keduanya hanya berupa hal yang biasa, namun tidak untuk hyerin.  Dia tak tau apa yang membuat sehun begitu istimewa baginya. yang dia tau sehun adalah namja pindahan dari sekolah lain, dia adalah namja kaya raya yg baginya pendidikan hanyalah sebuah lelucon, dan itu merupakan penyebabnya mengapa ia dipindah sekolahkan.

Sejak sehun menginjakkan kakinya untuk yang pertama kali di kelas yang sama dengan hyerin, entah setan apa yg merasukinya hingga matanya tak bisa lepas menatap rambutnya yg halus ditiup similir angin yg masuk kedalam ruangan. Dia tak tau apa dia hanya terbawa suasana, atau memang hatinyalah yang memilih.

“Hentikan, kau akan terluka.. .” sergah baekhyun menyingkirkan setangkai mawar dari tangannya. “hyerin-ah, jika kau diberi kesempatan, apa kau ingin membencinya?” tanya baekhyun yang menatap miris hyerin.

“tidak baekhyun, aku mencintainya” jawabnya dan kembali memetik bunga mawar yang tertanam indah di halaman rumahnya. Tak bisa dipungkiri, bahwa kebiasannya memegang dan memetik bunga mawar adalah tanda bahwa ia memikirkan sehun. baginya bermain bunga mawar layaknya bermain dengan sehun, meski tiapa kali melakukan itu tangannya akan terluka.

Didalam benak baekhyun, ini adlah sebuah simbol dengan cerita cinta yang menyakitkan. Jika bunga mawar itu adalah sehun, pantas saja hyerin selalu terluka, selain karena mawar memiliki duri, sehun memiliki cara lain untuk melukai hyerin.

“apa dia sudah mengetauhinya?”

“aku tak tau, tapi aku sudah mengatakannya”

Baekhyun menghela nafas beratnya. Haruskah dia marah? haruskah sekarang ia berteriak dan menyadarkan hyerin bahwa semua ini tak adil baginya? Kenapa hyerin harus bertahan dengan segala perasaan yang terlukis sia-sia?

“kumohon baekhyun, jangan menyuruhku lagi untuk membencinya” lagi-lagi baekhyun harus menahan erangan itu. Bukan hanya hyerin yang terluka, hatinya juga terluka mendengar kalimat itu.
“kenapa kau melakukan itu baekhyun? ”

“Itu karena aku tak mau kau terluka” baekhyun kembali merajut, membuat intonasinya manjadi lemah, padahal dia tau bahwa omongannya sekarang tak akan perna didengar oleh hyerin.

“aku tak akan terluka, aku yakin akan memilikinya”

Baekhyun pov.

“aku tak akan terluka, aku yakin akan memilikinya”

Aku tak tau, diriku juga yang terlalu bodoh, atau ini hanya sekedar rasa simpati kepada hyerin yang sudah kuanggap sahabat. tapi, seorang pria dan wanita bersahabat hanyalah sebuah kiat lama. Pasti diantaranya ada hati yang terlampau jauh, hingga hubungan mereka bertahan atas nama sahabat.

Dia terlalu terhipnotis dengan pesona sehun- sampai ia tak sadar bahwa pada akhirnya dia akan sama sepertiku, bedanya–hyerin yakin akan bisa memiliki atau mendapatkan hati sehun, dan aku? Berharap dia tau perasaanku saja aku tak berani berfikir soal itu.

Dia masih bermain dengan bunga mawar, membiarkan tangan halusnya ter-rias dengan goresan-goresan. Baginya jatuh cinta adalah sebuah kejaiban selama 17 tahun ini. hal yang baru ia rasakan kepada seorang pria. Dan pria itu bukan aku yang lebih dulu ia kenal.

Hyerin pov.

Haruskah semuanya jatuh kepada seorang sehun? atas dasar apa aku mengatakan bahwa aku yakin akan memilikinya? Lantas jika aku tak bisa memilikinya, apa aku masih akan mengatakan itu? Dia membenciku, aku paham benar.

Aku ingat saat dia akhirnya mendapatiku karena mengikutinya, entah itu karena dia sudah muak atau dia memang baru menyadarinya. Dia membuatku berjanji untuk yang kedua kalinya, berjanji untuk tak mengikutinya lagi dan dia akan menjadi ‘oppaku’ selamanya.

Kuakui, tak ada didunia ini yang lebih membuatku semakin bersemangat kesekolah dan yang selalu membawaku untuk bersembunyi di setiap pohon besar agar mengikutinya kemanapun dia pergi. dia hanyalah seorang namja dengan kepribadian buruk, dia memiliki banyak wanita, dia penindas, dia adalah namja yang bertingkah seperti anak di bawah umur10 tahun, dia adalah namja pindahan yang akhirnya kuketahui bahwa kepindahannya kesini karena dia gagal naik kelas di sekolah lamanya, salah satu potensi yang muncul saat aku menawarkannya untuk menjadi oppaku, dia mengetahui bahwa aku mengaguminya, dan dia menggunakanku untuk menebus kesalahan yang dulu ia perbuat. Semuanya dengan mudah kusanggupi, hingga saat aku tak sadar bahwa kekaguman itu berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.

Dia memang lebih tampan dari siswa yang lainnya, meski aku menikmatinya tapi itu bukanlah sebab utamaku membiarkan perasaan ini semakin tak terkendali, lama—dan lama aku berifikir dan aku menemukan jawabannya. jika aku bisa menjelaskan perasaan ini maka itu bukalah hal yang tdi kusebut ‘serius’

Pada saat aku mulai lelah, tak ada lagi penyemangatku, sementara penyemangat keseharianku yang nyata selalu ada menyertaiku- byun baekhyun.

Semua orang mengataiku buruk, dan hanya baekhyun yang terus tersenyum untukku, menjadi penyangga daguku untuk tak menatap kebawah, menyediakan pundaknya untuk kujadikan sandaran, meluangkan banyak waktu dari waktu sibuknya sebagai DJ di stasiun radio sekolah, semua itu seolah kewajibanku untuk membalasnya.

Semuanya semakin membuatku ragu, tapi kenapa aku harus mengatakan yakin~

Aku berjalan diam, melihat pandanganku yang seakan berwarna hitam dan putih, aku melihatnya, kejadian kemarin kembali terngiang di kepalaku, aku tak tau mengapa kemarin adalah yang paling sakit. Posisiku sekarang berada di belakangnya, aku ingin mundur sesuai keinginannya tapi itu tak mungkin, kelasku akan dimulai jam 7.30.

Sehun pov.

Selalu ada dimana perasaanku mengatakan bahwa dia berada di belakangku. Memang betul karena kami sekelas, dia harus berjalan searah denganku, tapi aku ingin mengethuinya sekarang, apakah dia masih menjadi yang dulu, yang mengikutiku?

Aku berjalan terus melewati kelasku dan melirik sedikit kearah ruangan itu, sudah banyak murid yang lainnya, mereka yang sempat melihatku mengerutkan keningnya, mungkin dia bingung apa yang kulakukan?

Kuputuskan untuk berbalik sekarang juga, meski aku tak tau apa yang akan kukatakan padanya setelah kejadian kemarin. Didetik kemudian, detik saat aku dengan sempurna menghadap kebelakang, aku tak perna parcaya ini ! tak percaya bahwa aku telah buta. Aku hanya melihat ujung punggungnya yang berbelok keruangan itu.

Dia tak mengikuti lagi, apa dia tau bahwa ini jebakan? Tapi Aku tak menjebaknya. Aku tak punya niat untuk itu.

Hyerin pov.

Jangan membuatku ingat akan kejadian kemarin. Aku bukan malu, itu sama sekali tak penting. karena aku akan terus bertahan.

Semua yang ada, melihatku masih dengan tatapan kesehariannya yang sinis, apakah semua orang disini tercipta hanya untuk menjudgeku?
kukeluarkan sebuah buku dan meletakkannya di atas meja tepat didepanku yang masih kosong. Aku tadi melihatnya jalan terus dan melewati kelas ini, setauku dia tak akan berani membolos setelah di skors selama 1 bulan, dan selama satu bulan itu juga yang membuatku selalu hadir diklub tennis saat pulang sekolah. Dia menyukai tennis dan itu membuat postur tubuhnya menjadi seperti sekarang.

Tadi aku ingin mengikutinya, tapi itu tak mungkin. Dia membenciku. Dia mengataknnya kemarin dan aku tak ingin membuatnya tersiksa karenaku. Dia tak akan perna tau, betapa sulitnya melakukan ini.

Author pov.

Sehun muncul dibalik pintu besar itu dan menuju dibangku kesehariannya. Ekor matanya melirik sekilas kebelakang dan mendapati yeoja itu sudah duduk membaca buku tebal yang dipenuhi dengan rumus-rumus fisika. Tak ada senyuman yang ia dapatkan seperti biasanya.

Lalu, kembali manatap buku itu, hal yang selalu ia dapati setiap paginya. Sudah pasti ini dari hyerin.

Sehun menarik nafasnya legah, bukan karena PRnya selesai, tapi karena dia akhirnya tau bahwa mereka akan tetap berhubungan. Tapi tunggu. Semuanya menjadi aneh dan hambar. Sehun tak melihat bibit akrab dari senyum hyerin. Dia tetap ceriah tapi itu bukan saat melihatnya, dia tersenyum dan tertawa bersama baekhyun. Siswa kelas sebelah. Meski sehun tau senyum hyerin berbeda jika melihatnya.

Sehun pov.

Sejak kejadian itu, dia selalu menatapku datar. Tapi dia masih melaksanakan semua janjinya. Dia juga sudah tak perna memanggilku dengan sebutan ‘oppa’ maupun namaku, dia mejadi orang lain dihadapanku, dia tak lagi mengikutiku, janji yang dia ingkar—yang kutau.

Singkat saja aku menyukainya, aku suka saat dia selalu memperhatikanku, aku suka saat dia seperti hantu melayang bersembunyi dibalik pohon besar sekolah hanya untuk mengikutiku, aku menyukai senyum ceria dan tingkahnya jika sudah melihatku, dia membuat hariku penuh warna tanpa kusadari, semua itu! Semua itulah yang selama ini membuatku merasa diistimewakan. Andaikan didunia ini aku diberi satu keberanian, aku hanya ingin mengatakan bahwa “tetaplah mencintaiku”.

Author pov.

“sedang apa kau disini?” suara itu mengagetkannya, ia tersenyum intens melihat orang itu berdiri didepannya lalu kembali melanjutkan kegiatannya.

“menurutmu apa yang kulakukan selain mengerjakan ini. .bukannya kau harus siaran, byun baekhyun?” hyerin sedikit menggeser dari tempatnya duduk, dan menepuk kecil tempat yang masih tersisa disampingnya. “sini duduk. .” seruhnya ramah dan lembut.

Tak terdengar suara baekhyun selanjutnya. Hyerin berdehem lalu menghentikan kegiatannya. dia menghadap kesampingnya dan mendapati tatapan baekyun yang bersengit. “hentikan itu…” hyerin kembali mengerutkan alisnya sambil meletakkan buku dan pulpen di pangkuannya. “kauu marah padakuu byun baekhyun, eoh?” tawa kecil menghiasi sudut bibir hyerin, lalu tanganya melayang di kedua sisi pipi namja itu. Mencubitnya gemas, hingga tawaan ikut menghiasi wajahnya. “aku tau, kau tak akan marah” ucapnya lagi membuat baekhyun memutar kedua bola matanya. Dia tau, ini tak akan berhasil, hyerin selalu berhasil membuatnya gagal untuk melakukan hal yang satu itu.\

Tiba-tiba saja senyum keduanya perlahan menghilang, menyaksikan seseorang yang baru lewat tepat di depannya.

“sehun oppa !” namja itu berbalik lambat memperlihatkan ekspresi seperti biasanya.

“jangan terbiasa mencuri waktuku”

“maafkan aku, tapi aku hanya ingin menyerahkan ini. ujian kelulusan akan di mulai minggu depan!” sebuah buku catatan dengan sampul sketsa bunga mawar.

Sehun pov.

Ya tuhan . .aku tak mungkin melakukan ini. mengatakan bahwa jangan mencuri waktuku, sama saja mengulangi keselahanku sebelumnya yang mulai kusesali. Saat dia memanggilku dengan sebutan itu, ada perasaan senang yang seperti ingin meluap begitu saja, tapi lagi dan lagi sebenarnya apa yang kuinginkan?

Dia tak membahas kejadian kemarin dan itu membuatku legah sekaligus tak tenang, tapi tunggu– ada yang tak kusukai . Dingin. Mata itu enggan melihatku, sementara namja disampingnya menatapku tajam seperti ingin berbuat sesuatu untukku, tidak—maksudku dia sedang menahan sesuatu yang ingin meledak.

Entah apa ini hanya perasaanku saja, sejak pengumpulan tugas terakhir, sejak dia memberikanku sebuah buku yang berisi catatan dari semua mata pelajaran, dia sudah tak perna melihatku, dia menjaga jarak dariku. Memang kejadian itu membuatnya berubah tapi itu masih bisa membuatku bersyukur karena dia masih menjaga hubungannya denganku.

All pov.

Setelah berhasil melewati masa ujian itu, masa dimana semua siswa akan merasakan awal jenjang Pendidikan yang lebih serius. Semuanya berjalan begitu saja, tak ada peristiwa atau bahkan kejadian yang disebabkan oleh mereka berdua. Tak ada kontak diantaranya. Sementara pengumuman kelulusan akan diumumkan minggu depannya.

Setelah ujian itu, para siswa sibuk melakukan berbagai hal layaknya anak muda, menyusun bingkisan yang akan di berikan kepada seseorang yang mereka sayangi sebelum berpisah, mereka sibuk mengambil gambar ini-itu, tersenyum dan tertawa untuk membuat akhir pertemuan ini menjadi sesuatu yang akan mereka kenang.

“sehun-ah mari berfoto. .” ajak seseorang dari teman kelasnya.

“kalian saja~” jawabnya tak bersemangat, memandang kosong buku di hadapannya.

Jika memang dia tak lagi bisa melihatnya, Dia hanya ingin bertemu dengannya sekali saja untuk mengembalikan buku ini, dan mengucapkan ‘terima kasih’ untuk segalanya.—tidak, hyerin tak lagi terlihat.

Jika memang hyerin sudah tak menganggap sehun adalah mawarnya, sehun hanya ingin mengucapkan salam perpisahan itu, lantas jika memang begitu apakah sehun akan melakukan hal itu? Apakah sehun akan mampu membuat hyerin kembali tersenyum untuknya? Atau dia tetap menjadi dirinya yang dulu? Yang selalu menyakiti hyerin.

Besok adalah pengumuman kelulusan, harapannya masih tetap sama. Mengaharapkan yeoja itu untuk muncul sebelum perpisahan itu terjadi. Ia kembali membuka tasnya, yang didalamnya hanya ada satu buku. buku yang selama satu minggu ini selalu tersimpan rapi ditasnya dan pemiliknya belum juga datang.

‘TAP’

‘TAP’

‘TAP’

Suara langkah dari sepatu fentovel yeoja tak juga membuatnya bergeming.

“selamat pagi sehun oppa!!”

‘deg’ sehun hampir saja berteriak andai saja ia tak sadar sapaan hangat itu dari seorang yeoja yang selama ini dia tunggu. ‘aku sudah menduga ini, aku akan tetap menjadi mawarnya. Aku berhasil membuatnya kembali tersenyum untukku’ batin namja itu bergelora.

“aku ingin berbicara padamu. .” ekspresi ini yang sangat dirindukannya. Ekspresi saat menyambut sehun. kali ini dia memberanikan dirinya lagi melakukan itu. Batin sehun memang tengah bergelora tapi semua itu berbeda dengan yang dia perlihatkan.

Sehun langsung beranjak dari tempat duduknya, berjalan seperti biasa, hal yang selalu ia lakukan terhadap yeoja itu.

“aku sudah bilang jangan mencuri waktuku lagi- kau taukan satu menit sangat berharga bagiku”
hyerin menunduk namun di detik kemudian kedua sudut bibirnya kembali tertarik mengukir sebuah senyuman tegarnya~ selalu seperti itu.

“aku janji!”

Perkataan hyerin berhasil membuat langkah sehun terhenti. Dan menghadapnya.

“kau pilih yang mana? Menjawab satu menit atau menjawab satu detik?”

“satu detik!” hyerin menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Kini bunga mawar sudah ada ditangannya, seperti kembali memutar memorinya 2 minggu yang lalu.

dia sadar, dan sudah terbiasa akan hal itu, dia hanya perlu merasa bahwa dia tengah bermain drama sehingga orang-orang yang tak lain adalah siswa siswi lainnya melihatnya dengan seribu cibiran seperti biasa.
Hyerin semakin tersenyum lebar, padahal dia sadar akan kehadiran baekhyun di antara kerumanan mata itu.

“Hanya 59 detik sebelum satu menit mulai sekarang. . . . kutanya kau dan kau hanya perlu menjawabnya dengan 1 detik. Apa aku masih bukan siapa-siapa bagimu? Jika ya, tarik aku sekarang dan terima bunga mawar ini. jika tidak, kau hanya perlu membelakangiku dan membiarkanku melihat punggungmu”

Desiran darah dan detak jantung itu seakan ingin berhenti. Dibalik semua itu hyerin masih tersenyum, tersenyum akan keberaniannya yang telah memastikan sesuatu saat menatap mata sehun yang ikut terfokus.

aku berhasil membuatmu serius menatapku.

Sebenarnya masih ada yang ingin ia katakan namun, dia tak ingin mengingkari janjinya untuk mencuri waktu penting itu selama 1 menit.

Dan kini, hyerin masih tersenyum menyaksikan sehun telah membelakanginya. Membiarkan pikirannya kembali memutar dan membandingkan kejadian 2 minggu lalu dan yang terjadi semenit yang lalu. Membiarkan pikirannya kosong dan terhanyut dalam keheningan didalam keramain. Seandainya kau tau bahwa ini adalah yang terakhir kau melihatku, masih kah kau melakukan itu?

‘sehun, kau mengingkari janjimu, kau bilang kau ingin mengucapkan terima kasih jika dia hadir, tapi kau membuatnya kembali menjadi cerita awal’ sehun membatin, mengutuk dirinya sendiri.

Pengumuman kelulusan telah keluar.

“-park hyerin-”

Nama itu terpampang jelas di sudut paling atas~ sejak dulu dia memang tak diragukan lagi. dia adalah pemegang sejati gelar kejuaraan umum dari banyak olimpiade yang dia ikuti, dan dia juga lulusan peringkat utama umum di sekolahnya- Tapi, dia tak hadir disini, dia tak menghadiri acara penamatan dan mengambil trofi kejuaraanya.

Tepat dibawah nama –park hyerin- namanya juga seakan ikut bersinar di bawahnya. Park hyerin menepati janjinya.

Namja itu masih mendesah gusar, meski dia membuka awal harinya dengan senyuman. Namun semua itu berubah menjadi kegelisahan. Beberapa kali nama ‘park hyerin’ disebut-sebut tapi yeoja itu tak juga memunculkan batang hidungnya. ‘aku yakin, ini bukan akhirnya park hyerin’ batinnya. Ia memandang dengan senyuman manisnya terhadap dua benda didepannya. Bunga mawar dan buku catatannya. Entah bagaimana, kedua benda itu menjadi benda spesial baginya.

~

“tak usah menunggunya. . dia sudah tak ada” suara itu mengagetkan sehun, hanya ada mereka berdua ditempat ini, tempat favorit hyerin saat mengerjakan tugas.

“apa maksudmu?”

“dia sudah tak ada- dia menerima beasiswa itu, dan—“

Tenggorokan baekhyun terasa tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata itu. “kumohon jangan tanyakan lagi!! dia menerima beasiswa keamerika, dan pemberitaan tadi pagi itu benar, pesawatnya kecila—– ” dengan lancarnya baekhyun berbicara lalu kembali tercekat. perlahan matanya ditaburi oleh sesuatu yang sejak kemarin menghiasi manik matanya.

“stop!! Aku tak akan mempercayaimu!!” sehun langsung pergi, dengan menyusuri pandangannya yang mulai mengabur.

~

Sebuah hantaman keras terasa menombak tepat dirongga dadaku. Saat itu juga kuputuskan tak percaya dan tak akan perna percaya tentang semua pemberitaan yeoja itu. Meski aku tau Bekhyun tak akan berbohong, dan baekhyun tak akan setega itu. Aku tak akan perna percaya semua itu. Hingga saat ini aku masih menunggunya, aku akan terus menunggunya. Aku ingin mengatakan semua yang kurasakan terhadapnya, aku tak akan perna percaya semua itu. Aku belum mengatakan terima kasihku yang sejak kemarin kutunda, aku belum menyatakan semua yang kurasakan. Seandainya satu menit itu kugunakan sebaik-baiknya aku ingin kau berada disini sekarang juga.

Hyerin, aku hanya ingin mengatakan itu hyerin~ hyerin jika aku tau kau melakukan itu, jika kau tau bahwa kemarin hanyalah sebuah penundaan yang kusengaja, apa kau tetap menerima beasiswa itu~ hyerin kumohon kau ada di hadapanku sekarang juga~kumohon. . . ..

kaki itu brjalan gontai hingga tak sanggup lagi menopang tubuhnya yang mulai terjatuh .

EPILOG.

Aku bisa melihat semuanya dengan jelas.
aku melihatnya terduduk di halaman sekolah, ditemani matahari yang mulai mengorange dan akan kehilangan sinarnya. Aku juga melihat baekhyun, ini aneh, aku bisa melihatnya secara bersamaan di tempat berbeda. Baekhyun menangis “byun baekhyun, jangan menangis~”

Aku terseyum, kaki ini terasa saaaangat ringan menghampirinya. Ini berbeda dengan sebelumnya ketika aku harus berfikir berulang kali. Tunggu- dia menangis,dia melukai tangannya dengan mawarku. “sehun oppa—“ tanganku menyentuh rambut halusnya yang tertiup angin, menghapus air mata itu, mengusap tangannya yang tergores oleh duri mawar, lalu kembali tersenyum melihat benda yang ku kenal di pelukannya- buku catatanku. Meski aku memeluknya, dia tetap menangis dan tubuhnya bergetar—detik terhitung menit, lalu kemudian aku tersadar dia tak bisa lagi melihatku.

—END—

Moral Value:

Saat semuanya benar-benar terlambat untuk disadari– betapa yang terlewat adalah sesuatu yang berharga.
Saat dia sudah tak ada, dan kau baru menyadari kebodohan itu.

Advertisements

31 responses to “[Oneshoot] After a Minute

  1. Damn! Sehun bodoh!!!
    Td msh ngira klo bkn kecelakaan pesawat trnyta emg kecelakaan hiks
    yah pagi2 udh sedih nih.. sehun bodoh.. baekie potek bgt kayaknya.. udh cm d anggap sbg shbt pdhl kayaknya suka sm hyerin, trus hyerin ny mati gt aja..

  2. Saat semuanya benar-benar terlambat
    untuk disadari– betapa yang terlewat
    adalah sesuatu yang berharga.
    Saat dia sudah tak ada, dan kau baru
    menyadari kebodohan itu.

    itu moral value banget 😥 disini kta ambil pelajarannya. jangan menyianyiakan seseorng yg sayang sma kita 😥 sehun pabo!

    kasihan baekhyun oppa dia cinta beneran pdhal cman dianggp sahabat 😥

  3. OMG aku gemeteran baca epilognyaa..nyesek bngett..
    aslii aku nangiss nihh

    kejadian hyerin suka ngikutin sehunn.pernah aku alamin.. cman aku gk seberani hyerin yg mengungkpkan perasaan nyaa scara lngsung ke sehun..
    krrenn hyerin..aku mau jdi hyerin deh..yg selalu tersenyum ceriaa..klw aku digtuin ma sehun.. tiap mlem aku pasti nangiss tuh

    kereeen dah ceritanyaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s