Who’s A Daddy? — Three

Previous: — Prologue — OneTwo

cr: AmmL17 @Cafeposterart

Who’s A Daddy ?

Author :

Youngieomma(@mommyfangirl)

Beta-Reader :

SungRa (@Chaaannie)

Cast :

Evelyn Oh (oc)

Oh Sehun

Wu Yifan

Park Chanyeol

Zhang Yixing

Huang Zitao

— Other

Length : Chaptered || Genre : Drama, Romance, Pregnancy

Disclaimer : Para pemeran dalam Fanfic ini hanya dipinjam untuk keperluan cerita, MOHON MAAF jika ada kata-kata maupun sifat yang bertolak belakang dengan canon.

Rating : PG+18

 

Ide cerita ini di ambil dari Movie Jennifer Lopez berjudul The Back Up Plan dengan beberapa tambahan dari saya.

Terima kasih.

[Who’s A Daddy?]

 

Notes.

Hi guys!

Saya meminta partisipasi kalian semua dalam pembuatan nama untuk calon baby Evelyn^^

Saya membutuhkan nama untuk baby perempuan maupun laki-laki (karena saya belum menentukkan jenis kelamin baby Eve). Boleh nama China, Korea, Europe, Inggris atau Jepang beserta artinya.. Di tunggu paling lambat sampai Chapter 6 🙂 di chapter 8 saya akan mengumumkan 5 nama terpilih dan akan di berlakukan sistem Voting. Dua pemenang yang beruntung akan mendapatkan hadiah pulsa 100rb 🙂

Ketentuan pengiriman :

Satu account email hanya boleh mengirimkan satu kali, jadi kirim nama terbaik kalian ya guys, tidak di perbolehkan mengirim beberapa nama dalam satu account email.

 

Kirimkan nama buatan kamu ke email saya di b1a4girlfriend@gmail.com dengan subject “baby’s name” ! Di tunggu partisipasinya guys!! ^^v

 

[Who’s a Daddy?]

 

—Three

 

  1. August

Zitao membuka matanya, menatap langit-langit kamar dengan wajah sendu di balik selimutnya, ini hari kedua ia berada di rumah. Ketiga Gegenya melarang dia keluar sebagai hukuman karena ulahnya yang sudah di anggap keterlaluan, selama dua hari berturut-turut Zitao selalu mendapatkan omelan selama sarapan dan makan malam, entah oleh Yifan maupun Yixing. Bahkan Chanyeol menghindarinya selama dua hari terakhir, pria itu memang tidak ikut mengomel atau menceramahi Zitao hanya saja ia berbuat hal lain Chanyeol menganggap seolah-olah Zitao tidak ada di sekitarnya. Ini membuat Zitao kesal. Dia tahu perbuatannya tidak terpuji, tapi tetap saja Zitao tidak merasa ini kesalahannya secara keseluruhan, ia benar-benar tidak bisa mengendalikan keinginannya untuk pergi Clubbing maupun Shopping, salahkan ibunya yang telah menonaktifkan kartu kredit milik Zitao selama enam bulan terakhir sehingga dia nekat menjual sperma ketiga gegenya demi mendapatkan uang sebesar delapan ratus dollar yang di habiskan dalam sekejap.

Pemuda berambut perak itu menghela napas panjang, masih berbaring di kasur, samar-samar ia bisa mendengar suara obrolan dari dapur. Yixing, Yifan dan Chanyeol tengah sarapan, mengobrol bersama dengan akrab sambil tertawa. Zitao mendadak benci keakraban di antara ketiga orang tersebut, Zitao benci cara mereka berbicara satu sama lain apalagi mendengar tawa mereka memenuhi seisi ruangan apartemen. Terlebih lagi, kakak sepupunya Wu Yifan. Selama ini, Zitao tidak pernah tahu bahwa Yifan yang selalu bersikap dingin dalam lingkungan keluarga bisa berubah menjadi sangat menyenangkan ketika bersama dengan Yixing dan Chanyeol, Yifan menjadi seorang pria cerewet sekaligus kekanakan di hadapan kedua orang tersebut. Padahal, sejak kecil Zitao melihat Yifan tumbuh menjadi pribadi yang tertutup, dewasa, tatapannya angkuh dan beberapa keluarga tidak menyukai sikapnya yang di anggap kurang sopan karena sering mengabaikan obrolan orang lain serta memprotes hal-hal yang tidak ia sukai secara langsung. Setahu Zitao, Yifan hanya akan berbicara dengan ibunya sendiri atau Yesa, pria itu hanya tertawa pada kedua perempuan tersebut.

Saat empat tahun lalu Zitao datang ke Korea, dia merasa hidupnya akan terasa membosankan karena harus tinggal bersama orang sedingin Yifan. Namun, perkiraannya meleset ketika ia melihat Yixing dan Chanyeol, Yifan memperkenalkan mereka sebagai Homemate dan juga teman band indie yang pernah di bentuknya. Zitao cukup terkejut melihat interaksi yang terjadi di antara ketiga orang tersebut, Yifan yang terkenal sebagai Ice Prince dalam keluarga menjadi sangat lembut dan hangat, dia banyak tersenyum serta tertawa ketika bersama kedua sahabatnya dan pandangan itu terasa asing bagi Zitao. Dia bahkan sempat menyangka Yifan di cekoki sesuatu oleh kedua orang tersebut.

Suatu hari, Zitao pernah bertanya pada Chanyeol apakah Yifan memang pribadi yang ceria dan cerewet sejak mereka kenal?

” Tidak, dia tidak seterbuka itu padaku dan Yixing ketika kami pertama kali kenal.. Dalam enam bulan aku hanya mendengar suaranya sebanyak dua kali, serius.. Dia benar-benar tidak banyak bicara..” Jawab Chanyeol sambil tersenyum.

Benar, itulah Yifan yang Zitao kenal. Dia tidak akan bicara terlebih dahulu sebelum di tanya siapapun. Terkadang, dalam pertemuan keluarga dia akan terasingkan karena hampir seluruh orang tidak menyadari kehadirannya. Seingat Zitao, ketika Sekolah Dasar pun Yifan tidak berkepribadian sehangat itu, dia tidak menonjol dan lebih banyak berdiam diri di perpustakaan. Jadi, Zitao penasaran tentang pertemanan antara Yixing, Chanyeol dan Yifan.

” Aku dan Yifan bersekolah di SMA yang sama, tapi kami tidak mengenal satu sama lain. Aku pertama kali di perkenalkan dengannya oleh kakak kelasku, Kim Jonghyun. Yifan teman sekelas Jonghyun, saat itu band indie kami kehilangan dua pemain karena mereka telah lulus terlebih dahulu, maka dari itu kami mencari penggantinya, Jonghyun merekrut Yifan untuk menjadi bassist dan terakhir Chanyeol sebagai drummer, Chanyeol adalah adik dari salah satu teman satu angkatan Jonghyun hyeong di SMA lain..” Ucap Yixing, mengingat momen pertemuannya.

Lalu, Zitao bertanya apa yang pertama kali membuat Yifan membuka mulutnya untuk berbicara pada mereka.

” Cola.. Dia bilang padaku untuk membelikannya Cola, dia tidak suka jus botolan maupun soda putih. Dia menyukai Black Soda Drink!”

Zitao setuju. Yifan hanya akan membuka mulutnya untuk minuman atau makanan yang tidak ia sukai, di setiap pertemuan keluarga pun begitu. Jika dia tidak menyukai sesuatu, Yifan akan langsung protes dan membuatnya jadi bahan perhatian keluarga.

” Ucapan kedua yang keluar dari mulutnya adalah, ketika lagu yang kuciptakan tidak cocok dengan suara Jonghyun. Dia mengeluarkan pendapat untuk pertama kalinya setelah kami berlatih selama seminggu.. Aku senang mendengarnya, kupikir dia tidak peduli pada musik kami..” Yixing berkata.

Zitao mendengar dari cerita Yixing dan Chanyeol bahwa Yifan sangat mencintai Band Indie mereka, ya, Zitao setuju dengan hal itu, ia mengingatnya juga saat pertama kali melihat Yifan mengupload foto pada akun Weibo miliknya dengan caption ‘A to Z’—nama band indie mereka— yang di sertai wajah penuh senyuman.

Zitao tidak pernah menyangka bahwa lingkungan pergaulan bisa mengubah seseorang dan Yifan adalah buktinya, meskipun, dia tetap tidak banyak bicara ketika pertama kali bertemu dengan oranglain. Yifan adalah pria pemalu di depan orang yang baru saja dia temui, sikapnya jadi sangat sopan, pendiam dan hanya bisa tersenyum kecil. Tunggu sampai dua bulan, dan kau akan melihat bagaimana cerewetnya dia!

Zitao menghela napas, merasa bodoh karena sempat-sempatnya mengingat bagaimana Yifan dan kedua temannya saling bertemu. Seharusnya, dia fokus dengan apa yang akan terjadi di hidupnya. Kemarin, kedua gegenya berkata bahwa mereka telah melaporkan apa yang di perbuat Zitao pada Mr Choi dan dosennya tersebut sepakat untuk menunda kelulusannya, dia di minta untuk kembali mengurus tesisnya tahun depan. Zitao diskors. Kenyataan itu membuat ibunya di Qingdao semakin marah dan marah, omelan demi omelan selalu Zitao dapat dan itu membuatnya pusing. Mengela napas sekali lagi, ia beranjak dari kasur, setidaknya hari ini ia akan pergi ke suatu tempat membuat pikirannya segar untuk sesaat.

” Kau sudah bangun?” Suara Yixing menginterupsi ocehan Zitao di kepalanya.

Zitao melirik.

” Cepat mandi dan makan sarapanmu, antar aku bekerja. Yifan tidak bisa mengantarku, kau tahu kan aku tidak hapal jalan menuju kantorku..”

Zitao terdiam, menghela napas melihat wajah menyebalkan Yixing yang kini menghilang di balik pintu kamar. Suara Chanyeol terdengar, Yifan menyahuti, Zitao semakin jengkel. Lagi-lagi dia di perlakukan tidak menyenangkan. Sialan. Tapi, harus bagaimana? Dia tetap harus menuruti apa yang ketiga gegenya ucapkan. Untuk kali ini saja. Karena Zitao telah memiliki sebuah ide, ini bagus untuk balas dendam, setidaknya dia bisa menghabiskan waktunya sampai tahun depan dengan bersenang-senang. Dan, sebuah senyum misterius muncul menghiasi wajah Huang Zitao.

 

//

 

” Aku hanya kesal, noona! Bagaimana mungkin mereka memperlakukan ku seperti itu? Mereka bahkan melaporkan tindakanku pada Dosen dan membuat aku di skors sampai tahun depan!” Zitao mengoceh, keningnya berkerut dan juga berkeringat, tangannya sibuk menyendok tanah menggunakan sekop sedangkan mulutnya tidak berhenti bercerita.

” Wah, sepertinya kali ini kau melakukan kesalahan fatal Huang Zitao. Kau membuat ketiga hyeongmu marah, mereka bahkan meminta bantuan dosen..” Evelyn masuk ke kebun belakang, membawa pot besar dan menaruhnya di samping Zitao. Berjongkok di samping pemuda itu, Evelyn mengerutkan keningnya, menghapus peluh Zitao dengan sapu tangan sambil terus mendengarkan ocehan si pemuda.

Zitao memajukan bibirnya, dia kembali bercerita bagaimana perlakuan ketiga kakaknya tersebut, membuat dia tidak betah berlama-lama di dalam rumah.

Zitao sudah sangat akrab dengan keluarga Oh, dia terkadang menginap di rumah Sehun hanya untuk menghindari kemarahan ketiga kakaknya karena tidak pulang selama berhari-hari setelah pergi Clubbing serta mengadakan pesta bersama teman-temannya. Evelyn sangat mengenal Huang Zitao, ini sudah tahun ke empat mereka bersama, Evelyn menganggap Zitao sebagai adiknya sendiri. Meskipun lebih tua satu tahun dari Sehun, kelakuan keduanya tidak jauh berbeda, Zitao dan Sehun sama-sama overprotektif padanya jika ada seorang pria terlihat mendekat.

Evelyn juga sangat tahu masalah apa yang selalu di hadapi Zitao, ini adalah cerita dan keluhan yang sering Evelyn dengar sampai ribuan kali. Zitao yang mencintai Club, pesta, maupun barang-barang mewah selalu berbeda pendapat dengan ketiga kakaknya yang terdengar pelit serta cerewet, Evelyn tidak mengetahui siapa ketiga kakaknya tersebut karena Zitao tidak pernah menyebut nama mereka. Pemuda itu memiliki julukan sendiri pada ketiga kakak laki-lakinya, seperti Kakak Es, Kakak Hutang dan juga Kakak buta arah.

Pukul sepuluh tadi, Zitao datang ke toko bunga setelah berkata dia baru saja mengantar ‘kakak buta arah’ pergi bekerja. Wajahnya sangat kusut dan terlihat kesal. Evelyn bertanya mengapa selama dua hari ini dia tidak melihat Zitao melintas di depan toko maupun menginap di rumah dan pemuda itu langsung bercerita tanpa berhenti penyebab ia harus terkurung di rumah selama dua hari. Kemudian, Zitao meminta Evelyn membuatkannya beberapa makan dan berjanji akan membantu perempuan itu membereskan toko bunga sampai pukul dua siang karena dia harus kembali menjemput ‘kakak buta arah’ nya.

” Seharusnya, kau meminta maaf..” Ujar Evelyn, menyemprotkan air pada bunga Anyelir di hadapannya.

” Aku sudah meminta maaf..” Jawab Zitao, mengaduk tanah dengan pupuk dan memasukannya ke dalam pot berisi batang yang nantinya akan tumbuh bunga dalam beberapa waktu. Zitao berkata bahwa ia telah meminta maaf berkali-kali, tapi ketiganya sama sekali tidak menggubris ucapannya. Seolah-olah apa yang di lakukannya adalah sebuah kejahatan yang sangat besar.

Evelyn menghela napas. Duduk di sebuah bangku yang berada di pojok kebun, disana terpasang Air Conditioner untuk meminimalisir hawa panas. Menghalau lelah dan udara yang sangat panas, Evelyn mencoba menjernihkan pikiran Zitao.

” Kemarilah..” Evelyn memanggil Zitao, melepas kedua sarung tangannya. Sedari tadi Zitao mengomel, dia penasaran kali ini apa yang pemuda itu lakukan. Sepertinya, sebuah ‘kejahatan’ telah di lakukan anak lelaki itu hingga membuat ketiga kakak laki-lakinya tersebut marah besar. Zitao menghampirinya, melepas sarung tangan dan duduk di depan Evelyn dengan wajah di tekuk.

” Katakan padaku, kali ini apa yang telah kau perbuat? Sepertinya ini benar-benar serius, Tao..”

Zitao tercekat mendengarnya. Ini kali pertama ia mendengar Evelyn bertanya apa yang dilakukannya, biasanya Evelyn hanya mendengarkan ocehannya selama berjam-jam tanpa bertanya apa kesalahan yang di buat Zitao sampai pemuda itu sendiri yang membeberkannya.

” Kau tidak ingin mengatakannya?” Tanya Evelyn, membuka sebotol air mineral dingin dan meneguknya.

” Aku rasa, noona juga akan marah dan membenciku setelah aku mengatakan apa yang kuperbuat..”

Evelyn terdiam sebentar, menyelesaikan tegukan terakhirnya.

” Apakah aku harus marah? Kurasa itu bukan urusanku, Tao.. Aku hanya ingin tahu apa yang menyebabkan ketiga kakakmu sangat marah sampai-sampai mereka melibatkan Dosenmu dan meminta skorsing untuk kelulusanmu..”

Zitao mengigit bibir bawahnya, alisnya bertautan ke atas, wajahnya seperti anak anjing yang kehilangan ibunya di tengah perjalanan. Evelyn terkekeh, mengacak rambut perak pemuda itu, masih menanti apa yang akan di ucapkannya.

” Aku menjual ‘sesuatu’ yang berharga dari mereka. ‘Sesuatu’ yang ilegal seharga delapan ratus dollar..” Zitao mengatakannya dengan sangat pelan dengan mengacungkan kedua jari telunjuk dan tengahnya berbarengan mengartikan sebuah tanda kutip.

” Sesuatu?” Evelyn mengulang gerakan Zitao dan pemuda itu mengangguk.

” Aku bersalah noona, itu memang tidak di perbolehkan karena akan berakibat panjang nantinya. Tapi, karena uang delapan ratus dollar aku tidak berpikir apa-apa, yang kupikirkan hanyalah bagaimana akhirnya aku bisa mengadakan pesta dan Clubbing sepuasnya serta membeli beberapa barang..”

” Sepertinya, itu ‘sesuatu’ yang sangat penting sampai-sampai mereka marah karena kau menjualnya seharga delapan ratus dollar..” Ujar Evelyn dan Zitao mengangguk pelan. Perempuan itu menghela napas, meminta Zitao mendekat dan mengelus kepala pemuda tersebut.

Mengatakan segalanya akan baik-baik saja jika Zitao tidak mengulangi kesalahannya, ketiga hyeongnya pasti kesal karena ulah Zitao kali ini melewati batas. Tapi, Zitao seharusnya mengerti apa yang harus dilakukan, meminta maaf dan juga berlaku baik bisa membuat ketiga hyeongnya melupakan apa yang ia perbuat. Jadi, Evelyn mencoba mengatakan hal-hal bagus sebagai penyemangat Zitao dan membuat pemuda itu mengangguk-angguk seolah setuju dengan segala ucapannya.

Menurut Evelyn, Zitao terlalu di manja oleh ibunya. Apa yang dia inginkan selalu ada tanpa kesulitan, maka dari itu ketika dia menginginkan sesuatu dan tidak terpenuhi, Zitao melakukan apapun untuk memuaskan keinginannya.

” Ya, Tao! Kau mengganggu noonaku lagi?” Suara Sehun memecah kehangatan antara Evelyn dan juga Zitao. Pemuda dengan wajah asam itu masuk dan duduk di pangkuan Evelyn, menatap ketus pada Zitao.

” Mengganggu? Aku bahkan membantu Noonamu menanam bunga-bunga!” Jawab Zitao tidak kalah ketus.

Evelyn menggeleng, kucing dan anjing bertemu. Dia sedang tidak ingin mendengar ocehan dari berbagai pihak, cukup selama dua jam terakhir Zitao mengoceh dengan ceritanya.

” Kau habis dari mana?” Tanya Evelyn, mengalihkan pembicaraan.

” Aku baru saja selesai membereskan rumah..” Sehun berkata, menenggak sisa air mineral di botol depan Evelyn.

” Cepat bereskan toko, hari ini aku akan tutup lebih awal..”

” Kenapa?” Tanya Sehun.

” Aku sedang tidak enak badan, seharian ini aku pusing dan mulutku terasa pahit..” Keluh Evelyn, mendorong punggung Sehun agar bangun dari pangkuannya.

” Kau kenapa? Sakit?” Sehun kembali bertanya sekali lagi, Evelyn menggeleng dan pergi berlalu meninggalkan kedua pemuda itu. ” Ya! Eve! Kau hamil?! Inseminasimu berhasil?!” Pekik Sehun.

Zitao terkejut mendengarnya, refleks ia menahan tangan Sehun yang hendak berlalu. Sehun menoleh dengan wajah ketus, menatap Zitao seolah bertanya ‘mengapa kau menahan tanganku?’.

” Eve noona melakukan Inseminasi?” Tanyanya.

Sehun menatap Zitao.

” Ya, memang kenapa?”

” Dimana?”

Sehun memutar kedua bola mata dan melipat tangannya di dada.

” Apakah ini urusanmu sekarang?” Tanya Sehun, ketus.

” Aku serius Sehun-ah, Eve noona melakukan inseminasi? Kapan? Dimana?”

Sehun mengerenyitkan dahinya.

” Di Rumah Sakit Myeongdong, sekitar dua minggu lalu. Kenapa? ”

Bagai di sambar petir, Zitao menelan ludahnya dengan susah payahnya. Mendengar ucapan Sehun membuatnya seperti tidak bernyawa.

” Nama dokternya?”

” Kim?”

Dada Zitao bergemuruh, tangannya gemetar, dan peluhnya mengucur deras. Tanpa berkata apapun dia pergi keluar dari toko bunga Evelyn, tidak menghiraukan panggilan Evelyn maupun Sehun, Zitao pergi mengendarai mobilnya, ponselnya berdengung, ia menelepon seseorang.

Tidak mungkin, pelaku Inseminasi adalah orang-orang yang seharusnya sudah menikah, Zitao tahu benar jika undang-undang di negara ini menyebutkan bahwa dilarang keras untuk mengizinkan seorang perempuan tanpa status pernikahan melakukan Inseminasi dan mencari donor sperma. Seharusnya, Dokter pembimbing lebih mengetahui hal itu.

” Halo?” Suara pelan terdengar dari ujung telepon.

” Songsaengnim, nama pasien yang melakukan Inseminasi kemarin. Boleh aku tahu siapa?” Zitao berkata pada orang di ujung telepon.

” Oh, Zitao. Siapa maksudmu? Pasien yang melakukan Inseminasi?”

” Ya, ssaem, perempuan yang meminta donor sperma padamu..”

” Ah! Wanita delapan ratus dollar?” Dokter berkata.

” Ya, ssaem, bisa kau beritahu aku siapa nama perempuan itu?” Zitao mencoba memastikan.

Suara dokter terdengar setuju, ia berkata akan mencari namanya.

Semenit,

Dua menit,

Zitao gelisah,

Pegangannya pada stir semakin kuat,

Jantungnya berpacu dengan kencang,

” Zitao..”

” Ya ssaem?”

” Nama wanita itu..”

GLUK! Zitao menelan ludah dengan susah payah, menunggu nama perempuan itu di sebut oleh si dokter.

” Evelyn, namanya Evelyn Oh..”

 

[ Who’s a Daddy ]

 

1 september

Sehun bisa mendengar suara isakan Evelyn ketika telinganya menempel di pintu toko yang dingin. Dia tengah berada di luar, langit belum gelap namun Evelyn telah menutup tokonya. Sebenarnya, Sehun tidak perlu repot-repot menguping apa yang tengah kakak perempuannya lakukan. Tadi, di telepon, Evelyn sudah menangis dengan kencang ketika menyadari kemana Sehun akan pergi selama dua tahun untuk praktek kerjanya, perempuan itu menangis dan menangis, mengoceh dengan suara parau dan bahasa inggris serta korea yang di campur secara acak membuat Sehun tidak mengerti apa yang ingin dia sampaikan.

Sehun tidak ingin masuk ke dalam toko bunga sekarang, dia tidak berminat melihat wajah menangis Evelyn. Jadi, dia mengirimkan pesan singkat di ruang chat.

 

Me.

Berhenti menangis. 6.30 pm

 

Sehun mengetik dengan cukup cepat, menguap dengan lebar dan bersandar pada pintu sambil terus menatap ponselnya. Menanti jawaban Evelyn.

 

Sister Eve.

Kenapa kau mengirimiku pesan? 6.35 pm

 

Sehun membaca sebaris kata yang Evelyn kirimkan padanya, dia tahu, Evelyn sedang marah sekarang dari pertanyaan yang ia tuliskan disana. Alih-alih bertanya dimana Sehun sekarang, kakak perempuannya malah bertanya mengapa ia mengirimkan pesan.

 

Me.

Aku tidak ingin masuk ke dalam sebelum kau berhenti menangis. Aku sedang tidak mood melihat wajah menangis seseorang, Eve.. 6.36 pm

Sister Eve.

Kenapa? Kau tidak mengizinkanku menangis? 6.37 pm

Me.

Ayolah Eve, kita sudah sepakat. Kau tahu kan? Aku harus menyelesaikan kerja praktekku.. 6.38 pm

Sister Eve.

Tapi, tidak ke Thailand! 6.40 pm

 

Sehun menghela napasnya. Terkadang, Evelyn jauh lebih kekanakkan darinya dan ketika kakak perempuannya itu sedang merajuk, Sehun seperti memiliki seorang kekasih berusia enam belas tahun.

 

Me.

Jangan merajuk. Aku juga tidak tahu akan pergi keluar negeri, sungguh.. 6.41 pm

Sister Eve.

Masuklah, bicara di dalam.. 6.43 pm

Me.

Berjanjilah untuk berhenti menangis! 6.44 pm

Sister Eve.

Aku berjanji.. 6.45 pm

Me.

Basuh wajahmu, aku akan masuk ke dalam 5 menit lagi.. 6.47 pm

 

Sehun mengunci ponselnya, memasukannya ke saku celana, mengedarkan pandangannya ke arah jalan, ia sedang mempersiapkan diri untuk berbicara dengan Evelyn. Sehun sangat tahu kebiasaan Evelyn ketika segala sesuatu yang ia inginkan tidak sesuai harapannya dan Sehun sangat hapal seberapa susah membujuk Evelyn agar mau lebih mengerti. Pemuda berambut coklat tersebut sebelum membuka pintu toko, kegelapan menyergapnya seketika. Evelyn tidak menyalakan lampu utama, perempuan itu hanya menyalakan lampu kecil dekat meja kasir dan ia duduk disana, menekuk kedua kakinya membiarkan kepalanya bersandar di lutut. Sehun menghela napas sekali lagi, mendengar isakan yang mulai menghilang dari bibir Evelyn.

” Kau ingin aku menyalakan lampunya?” Tanyanya, mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku dan mencekam.

” Tidak, biarkan gelap seperti ini. Kau bilang tidak ingin melihat wajahku sehabis menangis..” Ucap Evelyn.

Sehun menghela napasnya entah ke berapa kali, akhirnya ia mencoba duduk di depan meja kasir dengan tenang dan menatap Evelyn yang kini menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut. Kebiasaan sejak kecil yang tidak pernah berubah ketika Evelyn sedang kesal dan marah pada siapapun, dulu, hanya ibu yang bisa membuatnya kembali menengadahkan kepala, beberapa tahun lalu Luhan lah yang bisa membuat Evelyn menengadahkan kepalanya ketika sedang kesal. Dan, sekarang giliran Sehun yang harus membuat kedua mata Evelyn menatapnya setelah beberapa kali tidak berhasil.

” Kumohon, mengertilah Eve.. Aku juga tidak tahu menahu soal penempatan praktek kerjaku..” Sehun kembali bicara, pemuda itu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menanti jawaban yang terlontar dari bibir kakak perempuannya.

” Kau bisa menolaknya..”

Dahi Sehun berkerut, jawaban yang sudah sangat bisa Sehun prediksi meskipun sedikit terkejut karena Evelyn benar-benar mengatakannya, mencondongkan tubuh ke arah meja Sehun menempelkan dagunya disana.

” Aku tidak bisa menolaknya, Eve.. Kepala Dokter di Thailand memintaku secara pribadi kepada para Dosen untuk bekerja disana selama dua tahun..” Ucapnya, memainkan telunjuknya di atas meja kayu.

” Kenapa mereka melakukanya?” Tanya Evelyn, menggeser lututnya masuk lebih dalam.

Sehun tidak langsung menjawab, membiarkan hening menyergap keduanya dalam beberapa saat.

” Seharusnya ini sesuatu yang bisa ku banggakan di depanmu, Eve—” Sehun berkata, sengaja memberi jeda pada kalimatnya. Melirik pada Evelyn.

Evelyn tidak merespon, ia menunggu adiknya melanjutkan kalimat tersebut.

” —Mereka memintaku secara pribadi karena terkesan dengan nilai-nilai praktekku selama berkuliah. Kupikir, kau akan sangat senang mendengar berita ini. Terlebih lagi fakta bahwa mereka memintaku secara pribadi dan bukan Universitas yang mengirimkanku.. Dua tahun, Eve, dan aku akan kembali ke Korea bekerja di sebuah Rumah Sakit hingga aku mendapatkan sertifikat untuk membuka klinik sendiri.. ” Sehun menatap puncak kepala Evelyn dalam-dalam.

Perlahan, kepala Evelyn bergeser ke kanan, pipinya menyentuh lutut dan mata mereka bertemu.

” Benarkah? Sehun-ah, aku senang mendengarnya.. Sungguh..” Ucap Evelyn di sela isaknya.

” Aku juga senang Inseminasiku berhasil, tapi Sehun-ah, aku sendirian.. Siapa yang akan menjagaku selama kehamilan ini berlangsung? Aku takut.. Ini kehamilan pertamaku, dan fakta bahwa aku akan menjalani seorang diri membuat kepercayaan diriku menghilang.. Aku ketakutan..”

Sehun menatap Evelyn yang berbicara dengan bibir bergetar, airmata mengalir dari kedua bola matanya meluncur melewati pipi tirusnya, wajah Evelyn terlihat begitu putus asa dan Sehun tidak suka melihatnya, jadi, ia membentangkan kedua tangannya, menarik Evelyn ke dalam dekapan. Mencoba membuat Evelyn lebih tenang menghadapi obrolan ini, emosi telah sedikit menguasainya. Namun, di sela-sela itu semua Sehun merasa senang, karena pada akhirnya dia mampu membuat kedua mata Evelyn menatapnya ketika perempuan itu merajuk. Selama ini dia tidak pernah berhasil membuat Evelyn menengadahkan kepalanya ketika sedang kesal, Sehun selalu meninggalkannya sendirian tanpa mau bersusah payah meminta maaf maupun bertanya apa yang terjadi. Ternyata, kuncinya satu, berbicara. Yang di perlukan Evelyn ketika marah adalah seseorang yang berbicara dengannya, entah menanggapi keluh kesahnya atau apapun dan Sehun baru menyadarinya sekarang.

Sehun juga sangat mengerti, ketakutan terbesar Evelyn adalah menjaga kehamilannya serta melahirkan seorang diri, jadi, ia coba mengatakan segalanya akan baik-baik saja, Sehun percaya bahwa Evelyn bisa menjaga kandungannya seorang diri. Pemuda itu berjanji akan cuti dan kembali ke Korea sebulan sebelum Evelyn melahirkan.

Evelyn awalnya menolak, dia tidak percaya Sehun akan pulang dan diberikan Izin hanya karena kakak perempuannya melahirkan. Tapi, Sehun meyakinkannya dengan berbagai cara dan alasan membuat Evelyn terdiam tak berbicara. Berpikir. Kemudian, sebuah anggukkan terlihat meskipun samar-samar.

” Jadi, kau mengizinkanku pergi?” Tanya Sehun, wajahnya berubah ceria.

” T-tunggu dulu, kita harus memeriksakan kondisi bayiku terlebih dahulu Sehun-ah.. Aku ingin memastikan tidak ada yang terjadi pada janinku, jika, janinku dalam kondisi buruk. Kumohon, pikirkan lagi kepergianmu..”

Dan Sehun mengangguk. Menghapus airmata di kedua pipi Evelyn, tersenyum lebar. Keduanya keluar dari toko dengan bergandengan tangan, berjalan menyusuri pertokoan menuju halte bus. Sesekali, Sehun meledek wajah Evelyn yang terlihat begitu jelek ketika habis menangis. Keduanya menaiki bus menuju Rumah Sakit yang jaraknya hanya 45 menit, Sehun tidak mengajak Evelyn menaiki motor karena takut terjadi sesuatu pada kakak perempuannya. Ia pernah mendengar bahwa seorang wanita hamil dilarang naik motor sampai usia kandungannya cukup tua dan kuat.

Mereka turun di halte bus, dan berjalan 150 meter menuju Rumah Sakit. Sehun mendaftarkan nama Evelyn yang tengah duduk di deretan para ibu hamil, dia terkekeh melihatnya, keinginan kakak perempuannya terpenuhi. Evelyn memang sangat ingin mempunyai seorang bayi, mereka pernah membicarakan hal ini sekali lagi setelah Evelyn melakukan Inseminasi. Alasan perempuan itu sederhana, jika Sehun mempunyai seorang pacar dan meninggalkannya, dia tidak akan kesepian. Lucu. Bahkan Sehun belum berpikir sejauh itu untuk memiliki seorang pacar, dia masih ingin membahagiakan Evelyn yang notabene telah merelakan kebahagiaannya sendiri untuk membahagiakan Sehun.

Kemudian, nama Evelyn di panggil oleh salah satu perawat. Keduanya masuk ke dalam ruang Dokter, Dokter yang berbeda dari sebelumnya. Menurut para suster, Dokter sebelumnya yang memeriksa Evelyn tengah sakit sehingga mengambil cuti selama 6 bulan. Dokter perempuan itu mengucapkan selamat kepada Evelyn karena Inseminasinya berhasil di kali pertama percobaan, biasanya seorang perempuan akan melakukan empat kali Inseminasi dan jika tetap tidak berhasil mereka melanjutkannya ke program bayi tabung. Jadi, ini benar-benar sebuah Mukjizat.

” Janin anda sehat, saya belum bisa mengatakan apa-apa selain ukurannya normal.. Saya perkirakan usianya hampir enam minggu ..” Dokter berkata sambil terus menyoroti perut Evelyn dengan alat USG. Evelyn dan Sehun menatap monitor, mereka hanya melihat sesuatu yang berbentuk bulat kecil mirip kecebong dengan ukuran sekitar 1cm dan sebuah senyum merekah dari bibirnya, perasaan senang menjalar tanpa ia sadari. Ia benar-benar menjadi seorang ibu..

” Kau terlihat senang..” Sehun duduk di samping Evelyn, menghimpit kakaknya yang kini bersandar di dekat jendela bus.

” Keinginanku menjadi kenyataan..” Jawabnya. Sehun mengangguk.

” Sekarang giliran mimpiku yang menjadi kenyataan..” Ujar Sehun. Evelyn mengangguk.

” Aku akan berusaha menjaga kehamilanku Sehun-ah.. Kurasa aku akan baik-baik saja walaupun kau pergi jauh, asalkan bayi ini berada denganku..”

” Apa-apaan ini? Baru beberapa jam yang lalu kau merengek karena kepergianku, tapi sekarang kau sudah berkata dengan yakin akan baik-baik saja..”

” Entahlah, setelah melihat janinku baik-baik saja dengan keadaan normal keberanianku muncul..”

Sehun mendengus cukup keras,

” Kau mulai melupakanku? Aku tersingkirkan?”

Eve terkekeh mendengar pertanyaan Sehun, membelai lembut rambut adiknya dia berkata,

” Kau tetap menjadi nomer satu untukku, karena kau harta titipan dari ibu yang harus kujaga..”

Sehun tersenyum, bersandar di pundak Evelyn sambil menatap foto hasil USG.

” Sepertinya bayimu tahu bahwa aku akan pergi jauh dalam waktu yang lama.. Maka dari itu dia hadir untuk menemanimu..” Sehun melirik Evelyn yang terkekeh.

” Kurasa kau benar, dia tidak ingin aku merasa kesepian..”

Keduanya tertawa seperti orang bodoh. Mereka kembali asik mengobrol tentang kehamilan yang akan Evelyn jalani, sesekali tertawa sambil menatap hasil USG. Kalau orang lain tidak mendengar beberapa kali Sehun memanggil Evelyn dengan ‘Noona’ mungkin mereka akan mengira keduanya sebagai pasangan suami istri yang baru saja mendapatkan kabar kehamilan anak pertama karena kemesraan keduanya.

” Jadi, kapan kau akan berangkat?” Evelyn memulai percakapan tentang kepergian Sehun sekali lagi. Sehun terdiam sesaat, menggenggam jari jemari Evelyn dengan erat.

” Dua hari lagi..”

” Kenapa begitu mendadak?” Tanya Evelyn.

” Tidak, sebenarnya ini tidak mendadak.. Semuanya sudah di persiapkan dari Universitasku..” Ujar Sehun.

Evelyn tidak berkata apa-apa untuk menanggapinya, dia hanya membalas genggaman Sehun dengan lebih erat. Tidak banyak waktu tersisa bagi Evelyn bersama adik kecil kesayangannya, setidaknya sesuatu harus di korbankan sekali lagi untuk kebahagiaan Sehun.

” Eve, bagaimana kalau kau menyewakan kamar kita?” Sehun berkata sambil membantu Evelyn turun dari bis, menggenggam tangan kakak perempuannya dengan erat.

” Menyewakan?”

” Ya, kupikir itu ide yang bagus agar kau tidak merasa kesepian. Lagipula, mereka akan membantumu ketika kau kesulitan selama kehamilan..”

Evelyn terdiam, mencerna setiap kalimat Sehun. Rumah mereka memang sangat besar dengan halaman luas dan tingkat dua, kamarnya berjumlah empat dengan satu pembantu yang bertugas hanya membereskan di pagi dan siang hari. Selama ini tidak pernah terlintas di pikiran Evelyn untuk menyewakan dua kamar tidur rumah mereka yang kosong tak terpakai.

” Kau pikir itu ide yang bagus?” Evelyn kembali bertanya pada Sehun.

” Ya, kau bisa menyewakan kamarku juga. Lagipula, kamarku akan sangat bau jika tidak di tempati selama dua tahun..”

Evelyn mengangguk-angguk. Ide yang Sehun berikan padanya tidak terlalu buruk. Apakah dia harus mulai memasang tanda penyewaan di depan rumah?

 

//

 

  1. September

Chanyeol berlari dengan tergesa, peluhnya menetes dengan cukup deras, ia berlari seperti orang gila dari tempatnya bekerja menuju Apartement yang jauhnya hampir 10 blok. Dia tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang yang terkejut dengan tampangnya yang cemas dan ketakutan, tubuhnya menabrak tubuh orang lain secara acak dan kasar. Sesuatu tengah mengusik pikirannya, beberapa waktu lalu Yifan menelepon dan mengatakan bahwa Apartement yang sudah bertahun-tahun mereka sewa kini berpindah tangan kepada orang lain. Ini sangat mengejutkan dan tidak dapat di percaya tentu saja, chanyeol mengingat dengan sangat baik kalau beberapa tahun lalu ia dan kedua sahabatnya itu telah menyimpan uang deposit sebesar 4 juta won untuk menyewa Apartement tersebut. Agen tidak akan bisa memindah tangankan penyewaaan Apartement begitu saja jika uang deposit belum di batalkan dan di ambil oleh salah satu dari mereka.

Lalu,

Apa yang terjadi?

Dan ucapan Yifan membuat Chanyeol semakin jengkel.

“ Zitao membatalkan kontrak penyewaan kita dan mengambil deposit tersebut..”

Si keparat itu akhirnya melakukan sesuatu yang gila. Belum selesai dengan masalah penjualan sperma sekarang Zitao mengambil tempat tinggal mereka bertiga! Si Brengsek Huang Zitao telah melewati batas-batas ketidakwajaran untuk ukuran orang yang tergila-gila dengan club malam serta barang-barang bermerk!

Chanyeol menekan tombol lift, mencoba bernapas dan membuat dirinya tenang, dia tidak ingin menampar atau bahkan menghajar Zitao nantinya kalau-kalau Yifan entah Yixing menemukan anak itu yang mendadak menghilang dan menyeretnya sekarang ke hadapannya.

“ Ge!” Chanyeol memanggil Yifan yang tengah berdiri depan pintu Apartement dengan kedua tangan di pinggang. Wajahnya menunjukkan raut cemas dan pusing luar biasa.

“ Oh, Chanyeol..” Dia menoleh dengan tatapan seolah segalanya baik-baik saja.

“ I..Ini?”

Chanyeol terkejut ketika mendapati seluruh barang-barang di dalam Apartement telah di packing oleh orang-orang dari jasa pemindahan barang.

“ Kita benar-benar di usir dari sini..” Ucap Yifan.

“ Ge, apakah mereka tidak memberikan kita waktu untuk mencari tempat tinggal?” Tanya Chanyeol.

“ Mereka tidak mendengarkannya, karena Zitao telah mengambil seluruh uang deposit dua hari lalu..” Yixing muncul dari dalam Apartement dengan menenteng dua koper besar miliknya.

“ Dua hari lalu?”

Yifan mendengus.

“ Dia tidak kembali ke China dan dia tidak berada di Korea..”

“ Apa?! Ge, kau yakin?”

“ Aku sudah mengeceknya..” Yixing lagi-lagi menjawab pertanyaan Chanyeol.

Chanyeol mendengus keras, wajah kecewanya terlihat, dia sangat lemas mendengarnya. Dia bahkan tidak bisa membantu apapun sekarang, hutang-hutangnya masih terlalu banyak untuk di selesaikan dan dia tidak memiliki uang simpanan sepeserpun.

“ Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Tanya Chanyeol, melirik ke arah Yifan.

Yifan menatap Chanyeol, tersenyum kecil dan menepuk punggung sahabatnya.

“ Jangan risau Chanyeol-ah, aku dan Yixing akan mencari tempat yang baru untuk kita bertiga sampai kami menemukannya kita bisa tinggal sementara di cafe ku.. oke?”

Chanyeol mengangguk seperti anak kucing pada Yifan. Lagi-lagi dia mencari pertolongan di balik punggung Yixing dan Yifan. Seharusnya dia mendengarkan apa yang kedua gege nya ucapkan dahulu, bahwa gadis yang ia pacari memiliki niat buruk dengannya. Sekarang, dia jadi terjerat hutang yang tidak sedikit jumlahnya bahkan untuk makanpun dia tidak sanggup mencarinya.

“ Mengapa Zitao melakukannya pada kita?” Tanya Chanyeol kemudian.

“ Kurasa dia kesal karena kita terlalu keras menghukumnya kemarin..” Jawab Yifan, tangannya sibuk memasukkan kardus-kardus ke dalam mobil.

“ Tapi, dia sungguh keterlaluan melakukan ini pada kita bertiga..” Keluh Yixing, menutup bagasi mobilnya sendiri.

“ Sudahlah, aku tidak ingin membahas Zitao.. kalau aku bertemu dengan dia lagi, kurasa aku benar-benar akan menghabisinya..” Yifan menutup bagasi mobilnya dengan kasar dan masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin serta meninggalkan Yixing dan Chanyeol.

“ Dia marah..”

“ Ya, Gege sangat marah..” Ucap Chanyeol.

Apa yang harus dia perbuat? Sekarang bahkan mereka tidak memiliki tempat tinggal. Chanyeol menghela napasnya dengan kasar kemudian masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin menuju ke Cafe Yifan.

 

Continued..

80 responses to “Who’s A Daddy? — Three

  1. Ya ampun tao dongsaeng kurang ajar ! Tega banget sama gege nya , pasti mereka bakalan tinggal di rumah nya evelyn nihh *maybe wkwk ntar saingan dah itu mereka bertiga kalo beneran tinggal di rumah nya evelyn wkwk saingan buat ngegebet evelyn 😀

  2. Ya ampun tao kau kurang ajar bgtzz sih membawa semua uang deposit ketiga kakakmu dan malah pergi entah kemana, knp kau ngga ngmg jujur ajj sm ketiga kakakmu tao klw misalkan sperma mrk kau berikan kpd evelyn??
    huwaaaaa mudah2an nnt mrk dpt petunjuk dah buat tinggal di rumah eve jdi kan calon baby eve dkt sm ayahnya…
    utk sehun kau tdk usah khawatir yaa utk syp yg akan jagain eve krn akan ada ketiga pangeran tampan yg akn jagain eve…
    ciyeee ciyee eve dijagain 3 pangeran tampan….aq iri sm eve…

  3. Pingback: Who’s A Daddy? — Five | FFindo·

  4. wah sehun jadi berangkat ke thailand jadi kangen sama moment sehun evelyn entar. disini aku suka banget sama persaudaraan mereka yang saling melindungi saling memahami akur gitu bikin iri.
    kalo evelyn jadi nyewain kira kira si kandidat itu bakal nyewa disana gak? bakal jadi awal dong hehe.
    aku penasaran. baca kelanjutannya dulu ya

  5. gila ini mah si zitao idenya gila. tau sih biar mrk b3 bs menyewa di kmr evelyn tp ya kali ampe segala deposit begitu *punya kenangan buruk jg sih ama deposit* 😂😂😂 #curcolgagal

    ayo thor lanjutkan !!!!
    aku keinget ff-mu ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s