[‘A!’ Special Chapter] IMmersed (1)

“Immersed (1)

-A! Special Chapter-

MinHyuniee storyline

j

OC’s/You as Oh Hana | GOT 7’s Mark Tuan

EXO’s Oh Sehun | HELLOVENUS’s Kim Hyelim | BAP’s Choi Junhong or Zelo | NU’EST’s Choi Minki or Ren | BTOB’s Lee Minhyuk | BTS’s Kim Taehyung or V | VIXX’s Cha Hakyeon or N | SHINee’s Lee Taemin | etc

Special chapter | romance, comedy, school life, friendship, family, drama, AU, OOC

PG-17

Bab 1 | Bab 2 | Special Chapter

Maaf banget bagi yang udah nunggu lama untuk kelanjutan ff ‘A!’ T_T mohon maklumi saya yang sudah dibebani tugas pada semester pertama di sekolah menengah atas ini, hiks #curcol. Nah karena mungkin aja banyak yang udah lupa sama alur cerita ini, saya mau menjelaskan ceritanya dengan lebih rinci dari chapter pertama sampai kedua yang sudah dipost kemarin-kemarin di ff special chapter ini. Hehe, maaf kalau ff ini aneh, abal dan well, sok-sok nge-nc. Okedeh, tanpa banyak bacut lagi, akhir kata saya ucapkan, selamat membaca!

DON’T LIKE? DON’T READ! DON’T BASH/FLAME ME!

GIMME UR COMMENT, PLEASE!

WARNING: LONG FLASHBACK! OH HANA’s SIDE!

-A-

“Oppa hitung sampai 10 ya, Hana-yya!” pemuda bersurai hitam legam itu berteriak jenaka. Kedua matanya ia tutup menggunakan kedua telapak tangannya; padahal matanya masih mengintip di sela-sela jarinya. Sementara itu, di sisi lain tampak seorang perempuan kecil berumur 10 tahun yang kini sedang berlari terburu-buru menuju kamar tidurnya.

“1, 2, 3, 4,…”

Sosok mungil itu pangling, badan ringkihnya berusaha mencari tempat yang pas untuk bersembunyi. Pada akhirnya ia menyerah dan memilih merangkak ke bawah tempat tidurnya, menyembunyikan dirinya dari pemuda bermata sipit yang kini sedang menghitung jumlah waktu yang tersisa di ruang tengah.

“9, 10! Yak! Aku akan menemukanmu, gadis manis~” suara lembut namun penuh penekanan itu kembali mengudara, menambah daftar sesuatu yang mulai sekarang akan ditakuti oleh si gadis kecil. Entah tak sengaja atau memang disengaja, suara langkah kaki pemuda itu nampak kentara sekali terdengar oleh si kecil. Badan gadis mungil itu lagi-lagi bergetar, keringat mengucur deras dari pelipisnya, nafasnya berhembusan tak beraturan, dan jangan lupakan detak jantungnya yang seakan berpacu dengan waktu.

Setelah beberapa saat hening, gadis itu mulai tenang, akan tetapi alisnya bertautan, seolah-olah menghakimi ketakutannya yang terlalu berlebihan, padahal ia hanya sedang bermain dengan kakak laki-lakinya. Gadis itu membalikkan tubuh mungilnya, dari posisi telentang menjadi menelungkup. Kakinya bergerak tak sabaran. Otaknya mulai bertanya-tanya, mengapa pemuda itu lama sekali? Apakah sebegitu sulitnya untuk menemukan dirinya?

Cklek-

“Eo-eomma.. a-ah selamat datang.”

“Ya.”

Mata bulat itu sontak berbinar ketika pendengarannya menangkap suara halus sang ibu. Alih-alih ingin keluar dari tempat persembunyian, gadis itu mengurungkan niatnya setelah mendengar suara bergetar pemuda jangkung yang merangkap sebagai kakak laki-lakinya tersebut. Air muka gadis itu berubah menjadi keruh.

“Di-dimana appa?”

“Berkerja untuk memenuhi kebutuhanmu dan adikmu,” Jawab wanita setengah baya itu dengan ketus, mengabaikan ekspresi kecewa pemuda berumur 15 tahun di depannya. “Kau tak perlu memikirkan eomma dan appa. Fokuslah dengan sekolahmu, belajarlah untuk mandiri, Oh Sehun,” Lanjutnya masih dengan nada tak bersahabat.

“Eomma,” pemuda bernama Oh Sehun itu menggantungkan suaranya, menunggu respon dari wanita yang paling dihormatinya, “se-sebenarnya.. a-aku ingin men—emhn—jadi artist.”

Gadis mungil yang sedaritadi menguping pembicaraan kedua orang yang lebih tua darinya itu kontan membulatkan matanya. Kakak satu-satunya ingin menjadi seorang artist? Apa ia tidak salah dengar?

Helaan nafas kasar keluar dari bibir tipis wanita itu, ia diam dengan posisi memunggungi Sehun, “Kau tahu? Aku tidak akan pernah menyetujui keinginanmu itu. Camkan itu baik-baik,” Ucapannya terdengar mutlak, hingga mampu membuat Sehun tertawa miris, menutupi genangan air mata yang sedaritadi telah mengumpul di sudut matanya. Tidak ada kesempatan untuk membantah, karena ia tahu, wanita itu takkan pernah mengubah keputusannya.

“Aku harap kau tidak mengecewakan kami, Oh Sehun,” pintu ruangan utama itu tertutup setelahnya, meninggalkan sosok rapuh putra sulung keluarga Oh sendirian.

Kedua manik mata coklat caramel milik gadis mungil itu menatap lekat punggung seseorang yang sangat disayanginya masih dari bawah kolong tempat tidurnya. Terus menatapnya hingga akhirnya punggung itu bergetar diiringi dengan isakan pilu yang menyayat hati.

Gadis itu menggigit bibirnya sangat keras, seolah memahami rasa sakit yang tengah dirasakan oleh pemuda jangkung tersebut.

‘Oppa…’

.

.

Aku terbangun dengan peluh yang mendominasi tubuhku. Kelopak matakku mengerjap cepat, menyadari tempat dimana sedaritadi aku terlelap. Kepalaku mendongak, masih belum sadar betul dengan lingkungan di sekitarku. Aku tidak mungkin tertidur di kamarku karena tadi posisi tidurku adalah menelungkup. Lamat-lamat, sebuah papan panjang nan besar menyapa penglihatanku, diikuti dengan seorang pria paruh baya yang sedang mengoceh tak begitu jelas di depannya. Kepalaku memutar ke segala arah, menemukan fakta bahwa tadi aku tertidur diantara banyaknya orang yang sedang fokus memperhatikan pria paruh baya tersebut.

1 detik..

2 detik…

3 det—

Astaga! Aku tertidur di tengah pelajaran dosen Kim!

Kedua mataku sontak melebar, refleks badanku menjadi tegap. Sudut mataku melirik ke arah kanan dan kiriku, berharap bahwa tak ada yang menyadari pergerakan anehku sedaritadi. Astaga, aku benar-benar bodoh!

“Tadi kau mengigau, well, kalau kau mau tau saja.”

Yah! Tutup mulutmu, Choi Junhong!”

Terkejut, sontak aku menolehkan kepalaku ke belakang, menatap bingung sesosok laki-laki dan sesosok perempuan yang tampak saling berpandangan dengan sengit satu sama lain. Aku mengernyitkan keningku heran. Apa katanya tadi? Aku tidak mendengarnya.

Perempuan bersurai panjang nan lebat itu tersenyum lembut padaku setelah akhirnya laki-laki jangkung di sebelahnya membuang muka; terlihat seperti ialah yang kalah. Aku membalas senyum manisnya dengan senyum canggung. Ini hari pertamaku menjadi seorang mahasiswi di Universitas Inha dan uhm, aku sama sekali belum berinteraksi dengan siapapun dari jam kuliah pertama, sekarang, interaksikku yang pertama malah disebabkan oleh kebodohanku karena tertidur di kelas dosen Kim. Oh sial.

“Maafkan Junhong, dia memang kekanakan,” Perempuan itu berucap—lebih tepatnya berbisik karena pelajaran masih berlangsung—diiringi dengan tawa super canggungnya, membuat sudut bibirku terangkat sedikit. Sikap canggungnya itu sungguh lucu.

“Tidak masalah,” Aku memutar sedikit tubuhku untuk memudahkanku mengobrol dengan mereka. Tangan kananku kemudian terulur ke arah perempuan manis itu, membuahkan ekspresi terkejut darinya, “Aku Oh Hana. Kau?”

Ia tersenyum lembut dan anpa ragu langsung menyambut uluran tanganku dengan hangat, “Kim Hyelim.”

“Senang bisa mengenalmu, Hyelim-ssi,” Mataku kemudian teralih pada sosok laki-laki bertubuh jangkung yang masih diam dengan posisi bertopang dagu di sebelah perempuan manis bernama Hyelim itu. Pemuda jangkung itu terlihat seperti terpaksa memperhatikan pelajaran dosen Kim. Aku terkekeh kecil melihat tingkah konyolnya. Kelakuannya itu mirip sekali dengan anak kecil berumur 10 tahun.

“Kau tidak us—“

“Choi Junhong,” Suara berat itu tiba-tiba menginterupsi.

“—ah…” Secepat kilat, Hyelim melempar tatapan sengitnya lagi pafa laki-laki bernama Choi Junhong itu, membuatku mau tak mau harus menahan tawaku mati-matian. Sekarang aku malah mengira mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sedang bertikai. Astaga, mereka berdua sangat konyol.

Senyumku semakin melebar, ketika tak disengaja manik mata coklat terang milik laki-laki manis bermarga Choi itu bertemu pandang denganku, ia nampak mengangkat sudut bibirnya ke atas, menampilkan seringaian yang tamp—oh tidak idiot! Astaga, Choi Junhong! Kurasa mulai sekarang, aku akan memanggilnya Jundiot saja.

-A!-

Yeoboseyo? Oh, ne sajangnim!

Aku memutar bola mataku malas saat melihat gesture tangan seperti menyuruhku diam milik si pria muda yang merangkap sebagai kakak laki-lakiku itu. Kembali kusibukkan tanganku untuk menggoreskan pena di atas bukuku, seakan mengabaikan kehadiran sosok yang jarang sekali memiliki waktu untuk berada di sampingku. Jangan tanyakan apakah ia perduli padaku atau tidak, kupikir tujuan hidupnya hanyalah untuk mencari uang saja. Tak ada hal lain yang lebih penting daripada pekerjaan dan ambisinya itu. Menyedihkan? Tentu tidak, bukankah memang tujuan setiap orang untuk hidup sama dengan tujuan kakakku? Haha.

Tanganku yang baru saja hendak membalikkan kertas bukuku ke halaman selanjutnya, malah terhambat karena ponselku yang tiba-tiba bergetar, menandakan ada panggilan masuk di dalamnya. Dengan santai, kuraih ponselku yang terletak dekat dengan piring berisi penuh roti di sebelahku. Alisku bertautan, sedikit sangsi ketika melihat nomor tidak dikenal yang tertera di layar ponselku. Tak mau dirundung kebingungan maka aku pun menjawab panggilan tersebut.

Yeoboseyo?

-“Hana-yya! Ini aku, Kim Hyelim!”-

Mulutku membentuk huruf ‘o’ setelah mengetahui siapa pemilik nomor tidak dikenal itu.

“Hyelim-ssi? Ada perlu apa?”

“Err.. tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memastikan nomor ponselmu saja hehe. Simpan nomor ponselku, ya!”-

Aku tersenyum kecil, “Baiklah, akan kusimpan.”

“Oke! Maaf kalau aku menganggumu.”-

“Tidak, kau tidak mengangguku. Aku malah senang karena kau meneleponku. Terimakasih Hyelim-ssi,” Ucapku sambil sesekali melirik sosok kakakku—Oh Sehun—yang ternyata sudah mengakhiri panggilan teleponnya lebih dulu. Sehun kini tampak sibuk dengan sepotong roti di tangannya, membuatku entah mengapa merasa sangat kesal. Oh well, tadi dia baru saja mengabaikanku karena sebuah panggilan pekerjaan dan sekarang bahkan ia lebih perduli pada makanannya ketimbang adiknya sendiri. Oh ayolah, kelakuan Sehun membuatku jengkel.

-“Benarkah? Kalau begitu nanti akan kutelepon lagi! Y-yah! Astaga! Bersabarlah Choi!”-

Samar-samar kudengar suara berat seorang pria yang kuyakini adalah suara teman baru laki-lakiku di kampus, Choi Junhong. Tanpa kusadari, sebuah kekehan kecil meluncur begitu saja dari bibirku. Apa mereka berdua sedang bersama? Ya Tuhan, mereka bahkan tak pernah terlihat akur kemarin, tapi walaupun begitu, mengapa rasanya mereka tetap tak bisa lepas satu sama lain, ya? Membingungkan sekali, sungguh.

“Ma-maaf aku tidak bisa lama-lama. Aku ada urusan. Hmn, jadi nanti aku akan meneleponmu lagi. Sampai jumpa, Hana-yya!”-

“Haha baiklah. Sampai jumpa, Hyelim-ssi,” aku memutuskan sambungan telepon lebih dulu, kemudian cepat-cepat menyimpan nomor ponsel teman baruku itu lalu memasukkan ponselku ke dalam tas.

“Aku tak bisa mengantarmu kuliah. Kau bisa pergi kuliah sendiri ‘kan?” tubuhku membeku sesaat setelah Sehun mengakhiri ucapannya dengan sebuah pertanyaan. Aku menghela nafas sebentar, lalu kembali memposisikan badanku menghadap Sehun.

“Ya,” Jawabku singkat tanpa mau menatap wajahnya barang sedikitpun. Aku kesal, dan jika itu terjadi, maka aku tidak akan mau memandang wajahnya maupun menatap matanya, karena kalau aku melakukannya maka aku tidak bisa menahan gejolak emosiku. Bisa saja sepiring besar penuh roti di hadapanku sudah mendarat mulus di wajah tampan kakakku.

“Kalau kau mau, Renata akan menjemputmu.”

Simpang empat sudah timbul sempurna di pelipisku, menggambarkan seberapa kesalnya aku pada Sehun. Ucapannya itu terdengar seperti, ‘sekarang aku bukan lagi kakakmu, renata lah yang akan menjadi kakakmu.’ di telingaku. Ukh.

For your info, Renata adalah teman kantor kakakku, ia seorang laki-laki tulen yang mendapat nasib sial untuk diberi sebutan aneh oleh Sehun. Nama aslinya; Choi Minki, bahkan lebih baik daripada sebutan pemberian kakaku itu. Ia sering disuruh—dengan tidak hormatnya—oleh atasannya yang tidak lain adalah kakakku untuk menjemputku atau lebih parahnya lagi, ia bahkan pernah disuruh untuk menungguiku pulang di depan kelas tambahanku sewaktu aku masih kelas 3 tingkat sekolah menengah atas. Mungkin jika margaku bukan Oh, aku akan mengira bahwa Minki lah kakak kandungku, bukan si brengsek Oh Sehun.

Demi apapun, aku benci dengan sikap kelewat santai milik kakak laki-lakiku itu. Sebenarnya, dia itu menganggapku adiknya atau bukan, sih?

“Tidak perlu.”

“Ya baiklah. Semoga harimu menyenangkan.”

Sayang sekali, doamu itu tidak terkabul Oh Sehun. Ah, dan mungkin tidak akan pernah terkabul.

Pagi yang sungguh menyebalkan.

-A!-

“Tidak-tidak! Aku bisa jalan sendiri. Lagipula, aku tidak mau merepotkan kalian berdua.”

“Kau yakin? Ayolah, Oh Hana. Kau tidak merepotkan kami, kita sudah berteman ‘kan?”- suara kekanakan itu merengek manja.

Aku tersenyum samar. Yeah, kalian memang sudah berteman denganku tapi bukan berarti kalian bisa dengan seenaknya mengusik kehidupan pribadiku, batinku lirih.

“Sekali lagi, tidak, terimakasih.” aku terhentak ketika tiba-tiba sebuah bus berwarna hijau berhenti di hadapanku. Waktu yang tepat, uh? Haha, terimakasih Tuhan.

Perhatianku segera teralihkan ketika secara tak sengaja, telingaku menangkap nada suara kecewa di seberang sana. Aku menghela nafas, sedikit tak tega juga padanya, “Hm.. bus yang kutunggu sudah datang. Maaf aku tidak bisa ikut bersama kalian. Sampai bertemu nanti, Hyelim-ssi,” Cepat-cepat kuakhiri panggilan itu, lalu melangkahkan kakiku memasuki bus yang tampak mulai penuh.

Setelah masuk ke dalam bus, manik mataku kemudian sibuk melirik kesana kemari, memilih tempat yang pas untuk duduk. Pada akhirnya pilihanku jatuh pada kursi paling pojok tepat di sebelah seorang pemuda asing yang sedang menundukkan kepalanya—seperti sedang tertidur. Aku pun berjalan menuju kursi yang kutuju, lalu duduk disana, tak mengacuhkan keberadaan pemuda asing di sebelahku.

Bus sudah berjalan menjauhi halte bus yang kudiami tadi. Sementara itu, aku memandang bosan ke arah jendela disampingku, memandang pemandangan yang masih saja sama dengan sesuatu yang selalu kupandang 6 tahun silam. Mataku mulai menerawang, mengingat mimpi burukku kemarin. Apakah sebuah memori masa lalu bisa menjadi mimpi seperti itu? Aneh sekali.

Kalau diingat-ingat, cita-cita Sehun sewaktu SMA dulu itu cukup mengagetkan. Pasalnya, aku tak pernah melihat ketertarikan kakakku pada bidang seni suara, tari maupun seni peran. Ibu dan Ayah juga tidak ada bakat dalam bidang itu, jadi jujur saja, aku meragukan pemikiranku yang mengatakan bahwa Sehun memiliki bakat terpendam. Kalaupun dia punya, mengapa aku tak tahu? Seingatku, orang sedatar Oh Sehun lebih sering berkutat dengan komputernya daripada berlatih untuk hal-hal yang berkaitan dengan dunia artist. Tidakkah itu terdengar ganjil? Ditambah lagi, Sehun itu tipikal big boss yang lebih suka menyuruh daripada melakukan. Jika seseorang ingin menjadi artist, bukankah harus menuruti apa yang disuruh oleh pelatih maupun pemilik agensinya nanti? Hm, kepalaku jadi pusing memikirkan itu semua.

‘pluk’

Eh?

Refleks aku menoleh kesamping, menemukan fakta bahwa pemuda asing yang tertidur tadi kini malah menyenderkan kepalanya di bahuku. Mataku melebar antara percaya dan tak percaya. Sudah cukup Oh Sehun saja yang membuatku jengkel, jangan orang lain, apalagi orang asing ini.

Risih, secara perlahan kugerakkan lenganku, berharap dengan cara itu si pemuda asing cepat sadar dan tidak lagi menempatkan kepalanya itu di bahuku.

“Kumohon, 5 menit saja,” Aku tercenung setelah mendengar pemuda asing itu bersuara. Bukan, aku bukannya kaget karena suara beratnya yang sangat manly itu, tapi aku kaget karena mendengar ucapannya; atau mungkin permintaannya. Otakku berpikir keras. Apa katanya tadi? 5 menit saja? Apa ia pikir bahuku ini bisa disewa? Pria asing ini pasti sudah gila.

Sudut mataku melirik sinis si pemuda asing yang tampak nyaman pada posisi tidurnya di bahuku. Walaupun otakku menyuruhku untuk memukulnya, tapi tetap saja tanganku ini tak mau bergerak. Hah, beginilah repotnya memiliki otak dan hati yang bertolak belakang. Sepertinya aku cocok untuk dijadikan sasaran empuk para penjahat.

Tiba-tiba saja, pemuda itu kembali pada posisinya saat pertama kali aku melihatnya, namun masih dengan posisi menunduk, memperlihatkan betapa lebat poni berwarna kecoklatan miliknya. Keningku mengernyit heran. Tadi itu bahkan belum sampai 5 menit ia mendiamkan kepalanya di bahuku. Orang aneh, batinku acuh tak acuh.

Tanpa kusadari tubuhku terdorong ke depan ketika bus yang kutumpangi berhenti.

‘Bagi penumpang dengan tujuan Seoul-117-G3 dipersilahkan untuk menuruni Bus.’

“Oh sudah sampai.” gumamku lega.

Aku beranjak dari tempat dudukku, kemudian berjalan keluar dari Bus. Saat sudah di luar, tubuhku kontan terpatung saat secara tak sengaja, manik mataku menangkap sosok si pemuda asing yang tampak menyeringai dari balik kaca bus.

Siapa sih dia?

-A!-

Darahku berdesir hangat saat tangan dinginnya menjabat pelan tangan mungilku. Tanpa sadar, pipiku bersemu merah karenanya. Aku menunduk malu, menutupi rona pipiku dari pandangan pria tampan di hadapanku maupun dua mahluk konyol di sampingku.

“Lee Minhyuk,” Ujarnya lembut.

“O-Oh Hana.”

Laki-laki bernama Lee Minhyuk itu tersenyum simpul, kemudian melepaskan genggaman tangannya pada tanganku. Aku tak tahu mengapa rasanya aku tak rela jika tangan hangat itu lepas dari genggamanku. Ukh, ini menggelikan.

“Uhuk,” Hyelim terbatuk, kentara sekali dibuat-buatnya, “aku lapar. Hmn.. jadi, siapa yang akan memesan makanan, sekarang?”

“Yang jelas bukan aku,” Jundiot—oh maksudku Junhong menyeletuk, lalu dengan santainya ia melanjutkan kegiatan bermain gadget-nya tanpa memperdulikan ekspresi jengkel Hyelim. Aku tertawa kecil. Disaat-saat seperti ini pun mereka masih saja bisa membuat lelucon.

“Biar aku saja.”

Kepalaku mendongak ke atas, menatap kagum pada sosok berkacamata yang kini tampak sedang berjalan menuju stand makanan. Kurasa semua yang ada pada Minhyuk itu sempurna! Dia baik, ramah, sopan, tampan, tubuhnya juga jangkung, manly dan sepertinya ia sangat berwawasan luas! Eits, sejak kapan aku jadi berlebihan begini?

“Aku tak menyangka akan bertemu teman smp-ku. Apa kau tahu? Dia itu anak hasil kelas ekselerasi! Beruntung sekali aku dapat berkenalan dengannya sewaktu acara pentas kesenian sekolahku. Aah, aku cerdas sekali bukan?”

“Berlebihan.”

Mwoya?!

Lagi-lagi aku tertawa melihat tingkah kedua teman baruku itu. Mungkin motto mereka berdua adalah tiada hari tanpa bertengkar. Well, kurasa aku benar.

“Ngomong-ngomong, dosen muda yang bernama Mark itu menyebalkan sekali.” Hyelim kembali mengoceh setelah berhasil membuat rambut cukup panjang milik Junhong berantakan.

Aku menatap Hyelim antusias, “Dosen muda? Mark? Memangnya apa yang dia lakukan tadi?” tanyaku beruntun.

“Eh-hmn, Aku dengar-dengar sih, dia adalah dosen termuda di Inha, dan juga katanya dia bukan orang Korea Selatan. Sebenarnya aku tak perduli dengan predikat dosen termuda atau asal Negara aslinya, tapi yang membuatku kesal adalah dia menjelaskan materinya terlalu cepat! Tidak ada satupun materi yang ia ajarkan masuk ke dalam otakku. Uurgh, andai saja dia bukan dosenku, sudah pasti aku akan menghajarnya dengan Judo-ku.”

Spontan kedua mataku tertuju pada Junhong. Sudah jelas sekali aku tertarik dengan reaksi si bocah idiot itu.

“Salahkan saja otakmu yang lamban.” Gotcha!

Yah!! Mati saja kau, Choi Junhong!!”

Mungkin setelah ini aku harus memeriksakan telingaku ke dokter.

-A!-

‘tes’

Kepalaku mendongak, hendak melihat apa yang menyebabkan setetes air jatuh tepat di pipiku. Sekumpulan awan berwarna kelambu langsung menyapa penglihatanku, hanya dengan melihat itu saja aku sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak mau berlama-lama diam di lapangan basket outdoor Inha, aku pun berlari kecil menuju koridor gedung inti. Setelah sampai disana, aku kembali mendongakkan kepalaku, melihat sekali lagi awan-awan pembawa air hujan yang tengah bergerak bebas di atas sana.

Matahari belum sepenuhnya tenggelam di ufuk barat, namun langit sore saat itu seolah-olah sudah berubah menjadi langit malam yang didominasi warna abu kehitaman. Aku merutuk kesal, menyalahkan diri sendiri karena melupakan prediksi cuaca yang tadi pagi disampaikan oleh peramal cuaca di tv. Oh! Dan parahnya lagi aku telah menolak ajakan pulang bersama dari Hyelim, Junhong dan Minhyuk. Demi dewa Jupiter, doa Sehun benar-benar tidak terkabul!

Sial.

Sial.

Sial.

Si—

“Apa yang kau lakukan disini?”

—al?

Kepalaku menoleh ke belakang, menyadari kehadiran sesosok pria berkemeja putih yang kini sedang berdiri di belakangku dengan ekspresi datarnya. Wajahnya tak terlalu kelihatan jelas karena kurangnya penerangan di sekitarnya; sudah menjelang malam. Aku terdiam sebentar, menimang-nimang alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan pria tersebut.

“Berteduh!” jawabku dengan watados.

Pria itu menatapku datar, lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain. “Hujan bahkan belum tu—“

“Markeu!”

Spontan mataku tertuju kepada seorang pria berkemeja kotak-kotak yang tadi meneriakkan sesuatu. Pria berambut coklat hazel itu kemudian melambaikan tangannya ke arahku—atau mungkin pria berkemeja putih tadi?

Baru saja kepalaku ingin menoleh ke belakang, pria yang tak kukenali itu malah berjalan melewatiku. Pria itu tersenyum simpul kala pemuda lainnya menunjukkan raut wajah horror. Kedua sosok jangkung itu tampak mengobrol sebentar, kemudian pergi menjauh dengan payung hitam di genggamannya. Sekilas, aku dapat melihat wajah manis milik pria berkemeja putih tadi. Kedua alisku bertautan, merasa sedikit familiar dengan sosoknya. Namun buru-buru kutepis pemikiranku tentangnya. Sekarang yang harus kupikirkan adalah bagaimana caranya pulang sebelum hujan datang.

Berpikirlah Oh Hana..

C’mon…

Hm…

Minki oppa!

Dengan secepat kilat kuambil ponselku dari dalam tas, menekan tombol dial di layarnya dan menempelkannya di telinga kananku. Aku menggigit bibirku, berharap agar satu-satunya orang yang bisa kuandalkan itu mengangkat teleponku.

Yeoboseyo?

Terberkatilah kau, Choi Minki!

-A!-

“Sepertinya kau harus mengganti profesimu, Junhong-ah.”

Minhyuk tertawa keras, menyudahi acara mari-menahan-tawanya. Di sisi lain, Junhong yang dijadikan sebagai bahan lelucon tampak diam saja. Ia hanya memutar bola matanya tanpa mau ada hasrat untuk membalas ejekan rivalnya—Kim Hyelim. Aku mengendikkan bahuku saat Hyelim menatapku dengan pandangan yang seolah-olah bertanya ‘ada-apa-dengan-jundiot?’. Well, semenjak ia mendapatkan nama keren dari para seniornya, ia sama sekali tak perduli dengan gurauan Hyelim.

“Zelo-yya~

Kontan mata sipit Junhong melotot, membuatku, Hyelim dan Minhyuk refleks tertawa lagi. Ekspresi marah Junhong sangatlah konyol. Sepertinya mahluk idiot macam Choi Junhong tidak akan bisa marah dengan ekspresi imutnya itu.

“Hahahaha.. pfft.. hei hei,” Minhyuk menepuk-nepuk punggung Junhong, membuahkan tatapan sinis dari sang empunya punggung, “nama barumu itu bagus, kawan. Lagipula, bukankah senior senior penggemarmu itu berniat baik?”

Laki-laki berumur 19 tahun itu menghela nafas panjang. Ia menyeruput cappuccino-nya dengan tenang sebelum merespon ucapan Minhyuk, “Aku hanya merasa tak enak saja. Kalian tahu ‘kan kalau aku ini hanyalah seorang mahasiswa biasa yang sedang mencari jati diri. Perjalananku masih panjang,” Jundiot mode on.

Kami terbahak serempak, tak mengindahkah ekspresi datar seseorang yang sedang kami tertawai. Sudah kuduga, Junhong takkan pernah benar-benar berhenti bertingkah konyol di hadapan kami. Selama 2 bulan menjadi teman Junhong, Hyelim dan Minhyuk membuatku cukup mengenal baik semua sifat-sifat teman-teman seperjuanganku itu. Mereka itu sangat konyol, idiot dan kekanakan, tapi dibalik itu semua, sebenarnya mereka bertiga adalah mahasiswa yang cerdas. Aku masih ingat bagaimana nilai fantastis yang mereka raih pada setiap tugas ber-tetek bengek itu.

“Hei hei! Bagaimana kalau kita bermain truth or dare?

“Tsk, itu tidak asik! Dare or dare saja!” Junhong menatapku dan Minhyuk secara bergantian, “Kalian ikut ‘kan?”

Aku dan Minhyuk hanya mengendikkan bahu. Lagipula suasana kantin kali ini cukup sepi dan tentu saja itu menambah kadar betapa membosankannya kehidupan perkuliahanku.

Junhong bersorak senang, lalu dengan cekatan ia menaruh botol minumannya di tengah-tengah meja di hadapan kami berempat. Diputarlah botol itu, hingga bagian mulut botolnya mengarah ke…

“Kau kena, Kim Hyelim!!”

Orang yang kami soraki tampak menepuk jidatnya, ia menggeleng pasrah.

Dare dariku gampang saja,” Junhong membuka suaranya lebih dulu, menampilkan smirk andalannya yang sarat akan dendam. “kau harus membuat dosen Hakyeon menyukaimu!”

‘pletak’

Junhong meringis kesakitan setelah kepalanya mendapatkan hadiah special dari tanganku. Minhyuk dan Hyelim kontan tertawa geli, sedangkan pipiku justru memanas malu karenanya. Bagaimana bisa aku tidak malu? Dosen Cha Hakyeon adalah dosen yang kufavoritkan di Inha! Dan sekarang aku memukul kepala Junhong karena ia memberikan dare yang ada sangkut pautnya dengan dosan—uhuk—tampan itu. Tsk, aku benci mengakuinya tapi memang itu kenyataannya.

Minhyuk tersenyum samar, “Limie. Dare dariku adalah potong rambutmu sependek yang kau mampu,” ia berucap dengan santai, mengindahkan ekspresi terkejut dari Hyelim. Aku dan Junhong saling bertatapan. Dare dari Minhyuk terasa sangat mudah dan… aneh.

“Baiklah.”

“Warnai rambutmu!” seru Junhong secara tiba-tiba. Aku menautkan kedua alisku, begitu juga dengan Minhyuk dan Hyelim. Sementara itu, Junhong nampak menggaruk-garuk tengkuknya salah tingkah mungkin, “Ma-maksudku, dare dariku kuubah. Kau harus mewarnai rambutmu agar menyerupai warna buah lemon!”

Oh ternyata, dare dari Junhong lebih aneh dari Minhyuk. Mungkin panggilannya akan kuganti menjadi, Jundiot mode always on.

Yah! Ak—“

No no no. Kau harus mentaati aturan permainan.”

Hyelim menatapku dan Minhyuk dengan tatapan memelas sedangkan kami hanya mampu mengendikkan bahu karena memang peraturan permainannya seperti itu. Lagipula, tak ada larangan mengenai warna rambut di kampus. Jadi, apa yang perlu dipermasalahkan dari itu?

Menyerah, akhirnya gadis itu pun mengembungkan pipinya; tanda bahwa ia takkan mau berbicara lagi pada kami selama sejam ke depan. Sejurus kemudian, mata rubahnya melirik ke arahku, seakan bertanya apa dare yang akan kuberikan padanya. Aku tertawa kecil melihat ekspresi dongkol gadis berparas manis tersebut, “Baiklah, aku tidak akan memberimu dare. Ayo putar lagi botolnya.”

Junhong mengangguk paham. Jari panjangnya kembali memutar botol minumannya yang dijadikan sebagai bahan—atau istilah berlebihannya mungkin—penentu hidup dan mati kami berempat saat ini. Kedua mataku memicing, sedikit khawatir dengan kata-kata penyambut Sehun tadi pagi: ‘semoga harimu semakin menyenangkan!’ dan satu hal yang perlu dicatat, ia memakai nada suara senang. Itu adalah pertanda akan terjadi sesuatu yang tidak baik padaku.

“Ha-Hana?”

Lamunanku terbuyar, sontak aku menoleh ke arah suara khas seorang Lee Minhyuk yang tadi memanggilku.

“Ya?”

Minhyuk tersenyum tanpa arti, jari telunjuknya ia arahkan ke suatu tempat, membuat mataku mau tak mau mengikuti arah tunjukkannya. Dan oh.. sudah kuduga. Moncong botol minuman milik Junhong itu sudah mengarah tepat pada diriku.

Terkutuklah kau, Oh Sehun!

Aku bergeming. Perlahan sudut mataku melirik Junhong, Hyelim dan Minhyuk yang seakan menatapku dengan pandangan ‘kuharap-kau-baik-baik-saja’. Tanpa sadar, bibirku membentuk seulas senyuman.

“Jadi, apa dare yang aku dapatkan?” tanyaku—berusaha—tenang.

“Membuat Oh Sehun melakukan gwiyeomi,” Ah, ini suara si manis nan berisik Kim Hyelim. Bola mataku memutar malas. Hampir saja aku lupa kalau Hyelim sedang tergila-gila dengan kakakku.

“Berdandan feminine ke kampus selama sebulan,” Lalu suara lembut Lee Minhyuk. Aku mendengus kecil, meremehkan dare yang diberikan oleh seseorang yang sempat kusukai dulu.

“Buatlah dosen Mark tidak masuk hari ini,” Dan si bungsu Junhong.

Eoh?

Tu-tunggu!

Belum sempat aku melemparkan kalimat protes, kedua tangan panjang milik Junhong sudah lebih dulu membentuk huruf ‘x’ disertai dengan gelengan tanda tak ada penolakkan. Bibirku terkatup setelahnya. Minhyuk sempat tertawa geli namun Hyelim buru-buru melayangkan jitakan ‘sayang’nya pada kepala pria bermarga Lee tersebut hingga akhirnya mereka berdua saling melempar tatapan mengintimidasi. Aku mendesah pasrah. Entah aku yang terlalu polos atau memang mereka bertiga yang menyebalkan.

Junhong menampilkan cengiran anehnya sesaat setelah mata rubahnya itu menatap arlojinya, “Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini. Kelas dosen Jung akan dimulai sebentar lagi,” ujarnya polos.

“Aku dan Hyelim juga ada kelas nanti,” Minhyuk menimpali, dibenarkan dengan anggukan lemah dari Hyelim, “apa kau juga, Hana-yya?”

Aku menggelengkan kepala, merespon pertanyaan Minhyuk.

“Aku tidak ada kelas hari ini. Well, kalian pastinya tahu apa alasanku datang ke kampus.”

“Jangan bilang itu karena Hakyeon songsaenim.”

Wajahku merona malu dan tentu saja mereka tak perlu mendengar jawaban ya atau tidak dari mulutku.

Kontan Hyelim mengerling genit sementara Minhyuk dan Junhong lagi-lagi mengeluarkan suara tawa merdu mereka. Bola mataku memutar malas melihat reaksi berlebihan dari ketiga mahluk menyebalkan itu.

“Hahaha, pfft.. oke. Kami pergi duluan. Semoga kau bertemu dengan dosen pujaan hatimu itu, Oh Hana~”

Alih-alih ingin melempar botol kecap yang ada di depanku, Junhong dan yang lainnya sudah lebih dulu berlari secepat kilat menjauhiku. Kembali kuhempaskan badanku pada kursi yang tadi kududuki. Bibirku mencebik kesal. Sungguh aku benci dengan fakta yang menyatakan bahwa aku menyukai dosen Hakyeon hanya karena kejadian tabrak-menabrak di perpustakaan kampus. Tsk, kehidupan percintaanku menyedihkan. Ini bahkan lebih mengenaskan daripada drama-drama picisan di tv.

Persetan dengan dosen Hakyeon. Kali ini aku harus memikirkan cara agar dosen bernama Mark yang tak pernah kutemui itu tidak masuk ke kelas terakhir Junhong. Aku mengenyampingkan resiko dari dare yang kutanggung itu karena resiko jika tidak melakukan dare itu lebih berat daripada melakukannya. Worth it.

Sembari berpikir, mataku melirik kesana kemari mencoba mencari inspirasi dari mahasiswa lain yang berlalu lalang di hadapanku. Manik mataku tak sengaja menangkap sosok jangkung yang sedang berjalan angkuh dengan tas hitam yang dijinjingnya. Keningku mengernyit, merasa sangat familiar dengan wajah dingin namun penuh kharisma milik sosok itu.

“A-yo Mark Tuan!”

Mataku melebar setelah mendengar suara lantang milik seorang pemuda bersurai coklat keemasan. Sosok jangkung itu tampak menoleh, membuatku semakin yakin bahwa ternyata dialah si dosen congkak bernama Mark Tuan.

Bersiap-siaplah, Mark.

 

TO BE CONTINUED

HEYOOOO~~~ Akhirnya jadi juga setelah sekian lama saya pendem di fd :’D maaf buat yang nunggu lama kelanjutan ff ini. Saya gak yakin ada yang mau nunggu ff ini karena well, jujur ff ini ceritanya gak terlalu bagus dan saya juga bukan anak kuliahan makanya agak-agak ragu gitu nulisnya -_- hehe oh ya, saya nambahin special chapter ini biar kalian ngerti gimana sih ceritanya kok bisa si Hana manggil Mark sajangnim terus Minhyuk lulus duluan dan juga Hana yang berlebihan dengan masalah keluarganya. Salah saya juga sih suka banget bikin ff yang multiconflict gini-_- apalagi complicated heung mati sj sy /g.

Okedeh segitu aja cuap-cuap dari author MinHyuniee. Untuk special chapter bagian ke-2nya akan saya publish jika banyak yang merespon^^ makanya readers inget RCL-nya yaa~ Sip, buat yang mau ngirim ff lewat saya bisa menghubungi saya di twitter (@oversgm). Hehe, seeya! c:

22 responses to “[‘A!’ Special Chapter] IMmersed (1)

  1. Pingback: A!—Part 3. Kemeja Putih | FFindo·

    • yapp! lol tidak ada yang tidak mungkin. btw emang dosen muda itu bahan kerjaannya para mahasiswa wkwk #plak
      makasih ya udah mau baca+comment!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s