Happilly of Marriage [Chapter One]

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan lagi dari seorang author baru. Dan… Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini yaa. Happy Reading ~ ^^

Mian buat authornyaaa saya baru publish hari ini, pdhal epep ini udah dari tanggal 6. Jeongmal Mianhaeeee ~~~

(note : untuk penitipan epep pada saya telah DIBUKA kembali. Silahkan mengirimkan karya kalian dalam bentuk Ms.Word ke email saya di ‘ichazparchov@yahoo.com’. lalu jangan lupa untuk memberi tau saya di : klik disini bahwa epep kalian sudah dikirim, maka keesokan harinya(kalau gak sibuk) saya pasti akan ngepost epep kalian. Thankseeuu :* :* )

 

Author                 : Oh Silvy

Tittle                    : Happily of Marriage (Chapter 1 : The Marriage)

Main Cast            : Oh Sehun, Kim Jihyun, etc

Genre                   : Romance, Marriage life

Rated                   : PG-17

Dislaimer             : This is my story! Please your comment 😀

                              Perhatikan keterangan waktu agar tidak bingung dengan jalan cerita!!!

 

Happily of Marriage

Chapter 1

(The Marriage)

.

.

Sebuah pernikahan bukanlah hal yang begitu di inginkan, begitu juga dengan hidupku . .

Pernikahan di masa muda merupakan tantangan tersendiri bagiku . . .

Pernikahan bukan sebuah permainan, namun titik tengah dari kehidupan . . . .

Dan sebuah persiapan yang sangat di butuhkan di sana . . . .

.

.

15 JULI 2013

.

.

Suasana hening menyelimuti kediaman keluarga Kim. Bagai sebuah padang kosong, tidak ada sama sekali yang membuka percakapan. Semua larut dalam pikiran dan lamunan masing-masing, hingga si sulung membuka mulutnya.

“Aku akan melakukannya appa.”

Terdengar tenang, namun penuh dengan rasa sakit, begitulah nada ucapan Kim Jihyun, anak sulung dari keluarga Kim. Sebagaimana nasib kehidupan si sulung pada kebanyakan cerita, nasibnya pun sama. Semua kebebasannya akan berakhir dengan perjodohan. Perjodohan bodoh yang merenggut kebahagiaan dan kebebasan yang seharusnya menjadi hak setiap orang.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pemilik perusahaan akan dengan senang hati menjodohkan buah hati mereka demi kesepakatan bisnis. Terdengar seperti jual beli? Ya, memang begitulah kejamnya dunia. Demi keutuhan perusahaan, mereka rela menjual anak-anak mereka dengan latar belakang perjodohan. Kejam.

“Apa kau yakin? Appa tidak memaksamu.”

Jihyun menggeleng pelan dan memberi senyum menenangkan pada appanya. Walaupun semua ini akan sulit, namun apapun akan ia lakukan demi appanya, satu-satunya orang tuanya yang masih tersisa. Ia ingin, setidaknya sekali saja memenuhi keinginan besar appanya. Karena sekarang, hanya ia yang dapat diharapkan.

“Apapun akan aku lakukan untuk membantu appa. Aku tidak tega melihat perusahaan yang selama ini appa bangun dengan peluh, hancur begitu saja. Anggap saja ini sebagai baktiku pada appa.”

Tuan Kim sangat terharu dengan ucapan putrinya. Ia sangat bersyukur mempunyai putri yang berhati malaikat seperti Jihyun. Entah terbuat dari apa hati yeoja itu. Jika tuan Kim diberi pilihan antara mati atau hidup tanpa Jihyun, ia akan memilih mati, karena ia merasa tak sanggup tegak tanpa anaknya satu ini.

Gumawo Jihyun, gumawo anakku. Kau memang malaikat appa Ji.”

Tuan Kim berhambur memeluk Jihyun yang tak ia sadari sudah dewasa. Ia ingat, dulu Jihyun masih sangat kecil dalam pelukannya, dan perusahaan yang ia bangun telah merenggut kebersamaannya bersama anak-anaknya. Sangat disayangkan ia tidak bisa melihat perkembangan anak-anaknya.

“Tak masalah appa.” Bulir mata itu mulai mengalir di pipi mulusnya, menyebabkan aliran yang menimbulkan isakan kecil dari bibirnya. Ia rindu pelukan ini. Ia rindu kebersamaan dengan appanya. Ia rindu ketika mereka bermain bersama. Ia rindu ketika appanya lebih mementingkannya dari pada pekerjaan di kantor. Ia rindu, Jihyun rindu semua itu.

“Appa. Noona, kenapa kalian menangis? Apa ada hal buruk yang terjadi?”

Si bungsu keluarga Kim menghampiri Jihyun dan tuan Kim yang larut dalam rindu dan penyesalan mereka masing-masing. Si bungsu menatap bingung pada yang lebih tua, setahunya ketika ia sampai di rumah tadi, semua masih baik. Namun sekarang suasana menjadi sendu. Bahkan lebih buruk dari hujan badai sekalipun.

“Aniya. Semua baik. Hmm appa, bagaimana jika akhir pekan ini kita piknik di pantai? Aku ingin menghabiskan waktu bersama appa dan kau dongsaeng. Otte?”

Si bungsu terkekeh melihat Jihyun yang beragyeo di depan appanya. Noonanya sangat jarang mengeluarkan jurus mautnya, karena yeoja itu hanya akan beragyeo jika ia menginginkan sesuatu yang sangat ia harapkan.

Noona, kau seperti ingin pergi jauh saja, dan ini menjadi pertemuan terakhir kita. Haha.”

Perkataan si bungsu berhasil membungkam Jihyun dan membuat suasana menjadi hening. Yang terdengar hanya tawa dari si bungsu. Ya, entah kenapa Jihyun meminta hal itu. Perkataan dongsaengnya memang benar. Sekarang ia merasa akan meninggalkan appa dan dongsaengnya.

(The Marriage)

 “Noona. Aku merindukanmu.”

“Haha, nado Baek. Ahh, aku akan berkunjung ke cafemu setelah tugas kuliahku selesai. Otte?”

“Ne. Kau sudah berjanji noona. Baiklah, aku tutup ne. Annyeong.”

Annyeong.”

Jihyun mengakhiri sambungan teleponnya dengan Baekhyun, kemudian memasukkan smartphonenya ke dalam tas. Yeoja itu sedang berada di sebuah restoran mewah dan ia sudah menunggu selama lima belas menit, namun orang yang ia tunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Apakah orang itu tidak tepat waktu? Bagaimana bisa pemimpin perusahaan terlambat di acara yang ia rencanakan sendiri? Jihyun menghela napas kembali, entah sudah berapa kali ia melakukan hal itu.

“Maaf membuatmu menunggu.”

Seorang namja berperawakan tinggi mengambil tempat di hadapan Jihyun. Penampilannya tampak sangat cool dengan setelan jas berwarna abu-abu, dan surai pirang yang ditata sedemikian rupa. Jangan lupakan alis tebal yang menaungi matanya serta rahangnya yang tegas. Sangat menakjubkan bagi setiap wanita. Tapi tidak bagi Jihyun, serupawan apapun orang yang berurusan dengannya, jika sudah tidak tepat waktu, jangan harap Jihyun akan menyukainya. Ya, Jihyun  adalah wanita yang sangat perduli waktu.

“Apa seorang CEO selalu terlambat?”

Namja itu mengerutkan dahinya ketika perkataan telak Jihyun masuk ke telinganya. Tak lama senyum sinis menghiasi wajahnya.

“Hm, itulah keuntungan seorang pemimpin.”

Namja itu menatap Jihyun tajam. Layaknya sedang berperan dalam film horror, Jihyun merasa sedang berhadapan dengan hantu yang bahkan bisa membuatnya berteriak 8 oktaf. Namja itu tampak sangat dingin, dan tatapannya itu setajam samurai yang baru saja di asah.

To the point saja. Aku tidak terlalu menginginkan pernikahan ini. Kau-“

“Aku mengerti. Akupun begitu, ini semua hanya sebuah kesepakatan antar perusahaan.”

Namja itu mengangguk membenarkan perkataan Jihyun. Memang ini pernikahan perusahan, bukanlah pernikahan dua insan manusia yang saling mencintai. Mereka sadar akan hal itu.

“Semua persiapan akan ditangani oleh sekretarisku. Kau bisa menghubunginya.”

Jihyun mengangguk asal. Sebenarnya ia tidak terlalu mengindahkan perkataan namja di depannya, karena sedari tadi yeoja itu sedang menjaga agar penghuni perutnya tidak meronta dan mengeluarkan bunyi-bunyi aneh. Ia sangat lapar sekarang, tapi namja dihadapannya tampak tidak peka.

“Aku pergi, masih banyak urusan yang harus kutangani.”

Jihyun melongo di tempatnya, bagaimana bisa namja itu tidak mengajaknya menyantap hidangan yang ada di restoran itu. Baru saja Ia ingin mengeluarkan suaranya, namun melihat punggung namja itu sudah terlalu jauh, Jihyun mengurungkan niatnya. Dasar namja pelit, pikir Jihyun.

“Haa, ottokhae? Ahh, Jongin.”

Jihyun segera mengeluarkan smartphonenya dan menghubungi Jongin untuk menjemputnya. Tidak bisa ia bayangkan nasibnya jika tidak terpikir akan namja yang selama ini selalu menemaninya itu. Mungkin sekarang ia sudah mati kelaparan di restoran itu. Itu sama saja miskin di lingkup raja. Bukan, Jihyun bukan yeoja miskin yang tak mampu membeli atau makan di restoran mewah, hanya saja ia tidak sengaja meninggalkan dompetnya di kamar, ketika hendak pergi menemui calon suaminya. Dan ia menyesal meninggalkan dompetnya, ia kira namja yang akan menjadi suaminya itu adalah orang yang cukup ramah. But, BIG NO. Namja itu tampak seperti mafia kelas atas yang tak perduli akan sekitar.

(The Marriage)

.

01 JANURI 2014

.

“Jadi kapan kau akan kembali ke Korea? Seorang laki-laki yang duduk berhadapan dengannya menatapnya intens.

Yeoja itu awalnya terdiam untuk sekedar berfikir namun kemudian tersenyum tipis “ Aku tidak tahu Jongin, aku sedikit betah disini.” Namja yang di panggil Jongin tersebut menghela nafasnya berat. Ia benar-benar tahu jika yeoja yang berada tepat di hadapannya tengah berbohong.

“Kau tidak merindukannya?”  Pertanyaan yang selalu di ucapkan oleh bibir namja itu membuat raut wajah yeoja terlihat lebih menakutkan dan ia menggeleng sebagai jawaban atau lebih tepatnya berbohong.

“Aku tidak mengerti dengan pemikiranmu Jihyun, kau semakin membuat keadaan ini terasa begitu rumit.”

Yeoja yang bername tag Jihyun tersebut hanya dapat tertawa renyah walau terkesan memaksa.  “ Bukan aku Jongin, tapi kita.”

Jongin terdiam membisu, benar adanya dengan ucapan yeoja itu. Namun itu lah hidup bukan selamanya kita akan menyalahkan satu pihak. Lagi-lagi suara besar kembang api masih saja berbunyii hingga sampai pada pembicaran terakhir.

Ia berfikir kita berselingkuh bukan?” Jongin mecoba meluruskan permasalahan yang terjadi. Ya, permasalahan yang tiada ujungnya.

“Kau benar, laki-laki itu salah paham dan terlalu egois.” Ucap Jihyun dengan sedikit menundukkan kepalanya, ia sedih. “Aku tidak tahu apakah jalan yang kupilih ini akan menyelesaikan masalah ini.”

Mendengar ketakutan yang terukir indah dari cara berbicara yeoja itu membuat Jongin menatapnya curiga “Apa maksudmu Kim Jihyun?

Jihyun mengelus perutnya pelan “ Aku akan mengaborsi janin ini.”

Jongin membelalakkan matanya. Otaknya terasa berhenti bekerja ketika mendengar ucapan Jihyun. Jongin tidak habis pikir dengan Jihyun, anak itu, benih itu, adalah benihnya sendiri, dan sekarang yeoja itu berkata akan menggugurkannya.

“Apa kau mau menemaniku?” Jihyun menatap namja di depannya, berharap namja itu mau menemaninya hingga akhir. Tapi sepertinya itu hanya sebuah harapan di benak Jihyun.

Micheosso?” tenggorokannya tercekat, tak mampu berkata lebih ketika melihat raut tenang di wajah Jihyun. Kaki Jongin terasa lemas memandang wajah Jihyun yang tak menampakkan rasa takut sama sekali kali ini.

“Aku akan melakukannya. Dengan ataupun tanpa kau Jongin.”

Jongin menghela napas, otaknya berusaha bekerja mencari akal untuk mencegah Jihyun melancarkan niatannya. Tapi sekali lagi, Jongin merasa otaknya berhenti ketika Jihyun dengan tegas menyatakan bahwa ia akan tetap menggugurkan janin itu.

“Ji. . . Hhh, setidaknya jelaskan semua padanya. Biarkan ia tahu semuanya.”

Jongin berusaha meyakinkan Jihyun. Ia tak mau janin tanpa dosa itu menjadi korban keretakan rumah tangga orang tuanya, tidak lagi. “Dia tidak akan mendengarnya.”

Jihyun mulai jengah berada disana. Bukannya ia mendapat pencerahan, tapi Jongin secara tidak langsung malah membuatnya ingin segera membuang benih itu. Ia sudah muak dengan semua ini.

“Setidaknya kau berusaha menjelaskan pada Se-“

“JONGIN!!!” Mata Jihyun menyala, menyiratkan ketidaksukaan dan nafas Jihyun satu-satu setelah membentak Jongin. Ia tidak perduli akan para pengunjung cafe yang memandangnya dengan tatapan risih. Emosinya sudah berada di titik puncak mendengar Jongin menyebut nama namja yang sudah membuatnya pergi dari tempat kelahirannya.

“Sudah kukatakan, jangan sebut nama bajingan itu di hadapanku!!”

Jongin tertegun melihat emosi di tatapan Jihyun, tak pernah ia lihat wajah itu memerah sempurna karena suatu kesalahan. Seingatnya, Jihyun adalah yeoja polos yang tidak akan bisa emosi, bahkan ketika Jongin tak sengaja merusak boneka kesayangannya, ia tak pernah marah. Namun, semua tampaknya berubah ketika yeoja itu memiliki kehidupan baru bersama Sehun.

“Kau berubah, Kim Jihyun. Aku tak mengenalmu.”

(The Marriage)

.

24 JULI 2013

.

Langit Seoul tampak bersedih hari ini, membuat semua penghuninya lebih memilih untuk bergelung dalam selimut ataupun bersantai bersama keluarganya. Tak seorangpun tampak berjalan menerobos hujaman air  yang sangat rapat itu.

Di sebuah cafe dengan corak dan desain menyerupai kota london, seorang yeoja sedang memerhatikan hujan dari balik jendela kaca. Suhu yang rendah membuatnya memilih untuk mendudukkan diri di sana, dan menikmati secangkir expresso yang menjadi andalan cafe tersebut.

“Hai Ji.”

Jihyun menoleh sekilas ketika merasa seseorang memanggil namanya. Suasana hati yang buruk membuat Jihyun lebih memilih untuk menatap kerumunan air yang terus berlomba menghujani bumi. Setidaknya, langit sedang sependapat dengannya kali ini.

“Yaak!! Aku disini bukan untuk kau acuhkan nona Kim.”

Jihyun masih diam, tak sama sekali menanggapi ocehan namja yang telah menjadi teman selama separuh hidupnya itu. Moodnya sangat buruk saat ini, semenjak appanya memberi tahu masalah perjodohan dengan namja bernama Oh Sehun, suasana hatinya mendadak labil, mudah sekali ia merasa sedih. Walaupun ia menerima perjodohan itu, tapi ia tidak menyangka semua akan terjadi begitu cepat.

“Jihyun. Jihyun. . .”

Jihyun mengalihkan pandangannya pada Jongin, ia pikir sudah cukup mengacuhkan orang itu. Setidaknya ia bisa bercerita banyak pada Jongin.

“Aku akan segera menikah.” Jongin mengangguk, ia sudah mendengar cerita Jihyun masalah perjodohan antara dirinya dan seorang CEO di perusahaan tempat Jongin bekerja. Jongin merasa bosnya itu sangat beruntung mendapatkan Jihyun.

“Besok.”

“Hmm . . . Arrase –MWOO??”

Teriakan Jongin berhasil membuat mereka menjadi pusat perhatian di cafe itu dan membuat Jihyun mengelus dadanya karena terkena serangan jantung mendadak. Suara Jongin saat berteriak memang sangat dahsyat.

“Bagaimana bisa kau baru memberitahuku eoh? Kau, kau jahat sekali Jihyun.” Jihyun terkekeh ketika melihat wajah memberengut Jongin. Sangat tidak cocok dengan sifat manly yang selalu ia agung-agungkan seperti biasanya. Ahh, sepertinya Jongin secara tidak sengaja telah mengembalikan mood Jihyun. Jongin tersenyum akan hal itu.

“Lalu, bagaimana dengan kuliahmu?”

(The Marriage)

.

01 JANURI 2014

.

“Aku memang sudah berubah, Jongin.” Jihyun tersenyum kecut. Ya, dirinya telah berubah, sebuah perubahan yang telah membuat hidupnya keluar dari jalur yang telah ia canangkan. Ia bukan lagi yeoja polos yang selalu berfikir jernih saat menghadapi masalah.

“Semua belum terlambat, Ji.” Jongin mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Jihyun, berusaha memberi keyakinan bahwa mereka bisa melewati semua ini, bersama.

Jihyun merasa sedikit tenang ketika merasakan tangannya digenggam, hatinya menghangat dan ia merasa masih ada yang perduli padanya. Namun tidakkah semua itu terlihat semu? “Entahlah, aku merasa tak yakin.”

“Kau tahu dia adalah orang yang keras kepala, ini tak akan berjalan mudah.” Jongin menghela nafas berat mendengar nada tak yakin dalam ucapan Jihyun. Ia tahu persis Jihyun adalah yeoja yang optimis, namun sekarang yeoja itu terlihat pesimis.

“Hei kemana Jihyun yang ceria dulu? Aku merindukannya.” Jongin berusaha menghibur Jihyun. Walaupun mungkin semua ini tidak akan berakibat banyak, Jongin berharap sedikit saja Jihyun kembali menjadi gadis polosnya, yang selalu tersenyum walaupun dunia menertawakannya. Yang selalu tegak ketika semua menghinanya. Sebuah angan yang sangat sederhana bukan?

Jaa. Karena sekarang tahun baru. Aku ingin mengajakmu berkeliling.” Gembira dirasakan Jihyun saat ini, ketika semua orang memilih meninggalkannya, Jongin selalu ada untuknya. Hal ini yang telah lama tak Jihyun rasakan. Dan sekarang, ia merasa kebebasan ada di depan mata kepalanya sendiri.

“Kita mau kemana?” Tanya Jihyun ketika Jongin beranjak dari duduknya dan menarik Jihyun keluar dari cafe yang telah menjadi saksi bisu percakapan mereka. Semua terasa blur ketika Jihyun melihat tautan tangannya dengan Jongin. Tak terasa sebuah senyum tulus terkembang di wajah cantiknya.

(The Marriage)

“Bagaimana?” Jihyun menatap jongin yang sedang berada tepat di belakangnya. Senyum bahagia terkembang di wajah Jihyun membuat Jongin tersenyum dalam hati. Beruntung dirinya dapat menyaksikan pemandangan yang sangat indah itu, pemandangan seindah bunga sakura yang sedang bermekaran di pohonnya.

“Ini sempurna.” Jihyun mengalihkan pandangannya pada danau didepannya. Kesedihannya berkurang berkat Jongin membawanya ke tempat itu.”Dari mana kau tahu tempat ini?”

“Danau Lotus memang salah satu danau buatan yang indah dan terkenal asal kau tahu.” Jihyun mengganggukkan kepala tanpa mengalihkan pandangannya.

Ne. Kau  benar.” Danau buatan yang dirancang sedemikian rupa itu memang berhasil merebut perhatiannya, terlihat sangat menawan dengan kerlap-kerlip lampu yang si pasang dengan apik, pohon-pohon sakura yang ditanam di pinggir danau, dan taman yang di buat oleh professional makin membuat pemandangan makin memikat hati. Ditambah cahaya kembang api yang terlihat dari tempatnya berdiri. Semua terasa sempurna.

“Mau jalan-jalan lagi?” Mata Jihyun berbinar, dan Jongin tertawa karenanya. Jihyun sangat bersyukur Jongin berada disini. Dengan begitu  kesedihannya berkurang  dan ia berharap Tuhan tidak akan mengambil namja itu secepatnya. Ia ingin namja itu terus berada disampingnya.

(The Marriage)

.

25 JULI 2013

.

“Noona. Saengil  chukka hamnida.”

“Hmm, gumawo Baek.”

“Ahh, congratulation for your wedding noona. Mian, aku tidak bisa datang ke pernikahanmu. Pekerjaanku disini sangat mengekang, kau tahu.”

Jihyun terkekeh mendengar rengekan Baekhyun di seberang telpon. “Gwencanha Baek. Setidaknya kadomu yang datang.” Ucap Jihyun sembari menimang kado yang baru saja ia dapatkan dari tukang pos.

“Kau harus baik dengan suamimu noona. Jika tidak, mungkin ia akan bermain kasar. Hahaa, annyeong noona. Saranghae.”

PIIP

“Yaa, Baek – boncel. Aishh. Apa yang ia katakan.” Mata Jihyun menatap horror ponsel ditangannya. Heol, bagaimana Baekhyun bisa berkata begitu, ia bahkan tidak berfikir dirinya dan suaminya itu akan tidur seranjang setelah status mereka berubah menjadi suami-istri, mengingat sifat dingin yang sama sekali tidak bisa luntur dari namja keturunan eropa itu.

“Ada apa Ji?” Jihyun menoleh pada namja yang baru saja masuk ke dalam ruangan khusus mempelai wanita itu. Ya, hari ini ia akan melaksanakan pernikahannya, bertepatan dengan hari ulang tahun dirinya.

Ani. Hanya Baekhyun.” Namja itu –Jongin mengangguk mengerti, lalu menatap Jihyun seraya tersenyum manis. “Saengil chukkae.”

Jihyun membalas senyum  Jongin. Senyumnya tak luntur ketika melihat Jongin memberikan sebuah kado. Tidak terlalu besar memang, namun inilah yang Jihyun suka dari Jongin. Namja itu sangat mengerti akan dirinya. Jihyun memang tidak menyukai hadiah yang terlalu besar ataupun mewah.

 “Wahh, apa ini?” Matanya berbinar ketika membuka bungkus kado, dan menampakkan kotak hitam bludru dengan pita merah sebagai hiasannya.

TESS

TESS

Jihyun tak dapat menahan air matanya ketika membuka kotak hadiah dari Jongin. Kumpulan foto ia dan keluarganya serta Jongin. Kumpulan kenangan ketika eomma Jihyun masih hidup. Jihyun mengeluarkan foto-foto tersebut dan melihatnya satu persatu, air matanya masih mengalir hingga tak terasa Jongin memeluk tubuhnya erat.

“Heii, mempelai tidak boleh menangis saat pernikahannya. Kau terlihat jelek Ji. Kkk.” Jihyun mencubit pelan perut Jongin, melihat kejahilan namja itu tidak luntur sama sekali.

“Ini karenamu pabbo.” Jongin melepas pelukannya dan mengusap pelan air mata yang mengalir bebas di pipi Jihyun.

Ulljima ne. Kau harus bahagia.” Jihyun mengangguk semangat setelah menyelesaikan acara tangis solonya. Jongin memang cocok sebagai mood booster, lihat saja Jihyun yang sekarang sudah tersenyum cerah.

“Mau meniup lilin bersamaku?” Jihyun menunjuk kue ulang tahun yang memang sudah tersedia di ruangan itu, dan menatap Jongin, memohon agar namja itu mau meniup lilin bersamanya.

“Baiklah. Dengan senang hati.” Jihyun bersorak gembira mendengar ucapan Jongin. Ia mengambil kue yang ada di samping kursinya dan menyalakan lilin.

Lets make a wish..” Jihyun berseru keras membuat Jongin tertawa. Setelahnya meraka larut dalam doa masing-masing.

Huuufffhh

Jongin dan Jihyun meniup lilin bersama hingga semua lilin di atas kue mati seluruhnya. Kebersamaan membuat mereka lupa akan acara yang akan segera berlansung. Jongin menatap Jihyun yang tengah memperhatikan foto kenangannya, senyum terus terukir di wajah keduanya, hingga

CUP

Sara –“

Cekklek

>>>>>TBC

 

AUTHOR NOTE :

Annyeong readerdulllllllll… Oh Silvy a.k.a author yang paling manis ini balik lagi.. #Narsis XD

Mianhae, buat yang nunggu banget FF ini. Keterbatasan waktu nulis + edit membuat ff ini lambat di post. Oh ya, untuk chapter 1 ini, baru pengenalan tokoh, jadi belum ada konflik. Tapi tenang aja kok, bakal banyak konflik yang bermunculan di chapter-chapter berikutnya.

Oh ya, mungkin ff ini bakal dilanjutkan setelah author selesai ujian semester, harap maklum jika ff kurang menarik dan lelet update, karena author sekarang lagi di tingkat akhir SMA, jadi banyak tugas numpuk.

Untuk ujiannya, minta doanya ya readerku cuyuung, agar ujiannya lancar dan cepet update nihh ff. Oh ya, kalo peminatnya berkurang, mungkin ff ini bakal lama lanjut, so, leave your comment and keep reading, oke??? 😉 J

블렉 포르 아이스 a.k.a シルヴィ a.k.a Oh Silvy_2507

Author Site :

Facebook         : https://www.facebook.com/silvi.wahyu

Twitter                        : https://twitter.com/wahyusilvi1

WordPress       : www.ohsilvy2507.wordpress.com

 

95 responses to “Happilly of Marriage [Chapter One]

    • jangan bingung chingu, Janin yang dikandung Jihyun, yang jelas itu anak manusia, terus dia kabur karena lagi marahan ama di cadell…
      sekilas begitulah, heheheh

  1. Thor, sebenarnya aku agak bingung waktu jihyun bilang janin. Itu anaknya sehun kah ?
    Soalnya pas jongin sebut nama sehun. Jihyun marah banget

  2. iya chingu, alurnya campuran untuk chapter awal, tapi beberapa chap depan bakal kayak biasa.
    keep reading ne.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s