[Oneshoot] Pertemuan Kembali -dipenghujung desember

 

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan lagi dari seorang author baru. Dan… Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini yaa. Happy Reading ~ ^^

Mian buat authornyaaa saya baru publish hari ini. Jeongmal Mianhaeeee ~~~

(note : untuk penitipan epep pada saya telah DIBUKA kembali. Silahkan mengirimkan karya kalian dalam bentuk Ms.Word ke email saya di ‘ichazparchov@yahoo.com’. lalu jangan lupa untuk memberi tau saya di : klik disini bahwa epep kalian sudah dikirim, maka keesokan harinya(kalau gak sibuk) saya pasti akan ngepost epep kalian. Thankseeuu :* :* )

Pertemuan Kembali, -Dipenghujung Desember

 

Jong Dae and A girl.

 

 

By Badratun Navis

 

 

 

                   Bahkan ketika mata saling beradu hanya kehampaan yang tekesan membosankan tercipta. Lalu apa gunanya kontak mata diantara mereka jika tiada satupun yang memulai percakapan.

Baik, kali ini lupakan tentang jika mulut tak mampu untuk bersuara maka matalah yang menjadi perantaranya. Ini sudah dua jam mereka menunggu dalam kesunyian. Langit Osaka mendung, rintik hujan mulai menurun. Seperti nya akan terjadi hujan lebat ketika awan mulai kelabu. Oh, lihat! kepulan asap di Coffe Milk milik mereka pun tak lagi muncul dipermukaan; seakan enggan menghangatkan dua insan yang sama-sama naif untuk memulai percakapan.

Hanya sebuah percakapan setelah beberapa dekade lamanya.

 

Jelas sudah bahwa hari ini, perjumpaan kembali dipenghujung Desember mereka saling membisu satu sama lain membiarkan mata saling menatap entah apa itu maksud dan tujuan.

” Ini sudah lama bukan?, ” Wanita itu memecahkan kecanggungan, tepat nya kata sindiran untuk pemuda didepan.

Ia terlalu jengah untuk bertahan, menahan diri untuk tetap diam. Semua hanya sia-sia, jika mengingatkan kembali akan klise dahulu. Bayang-bayang suram yang telah ia kubur dalam.

 

Dan ketika langkahnya akan melaju lengan kekar itu mencoba menghentikan dirinya, bahkan untuk menerka keadaan wanita itu pun bisa di bilang tragis. Rentina yang mulai berair menjadi saksi bisu akan masa lalu yang pernah ia jalani.

Tanpa ada satupun yang mencoba untuk memulihkan setiap lembaran kisahnya.

 

 

” Aku Kim Jongdae seseorang yang pernah meninggalkan mu dulu, ”

Jongdae meneguk Coffe Milk yang mulai mendingin, “ Masih ingat aku, Alena?. ” melirik sekilas Alena, sembari tersenyum miring.

 

Nyatanya tatapan wanita itu tidak sehangat dulu. Siur angin dipenghujung Desember ikut serta dalam segenap kekecewaan yang Jongdae rasa.

 

Terlambat kah dirinya?

Begitu dalam kah luka dihati nya?

Salah kah ia meninggalkan Alena dulu?

 

 

              Terlalu banyak pertanyaan yang bersemanyam di kepala Jongdae, seakan mengintimidasi dirinya; terlalu menyesal karena pernah meninggalkan wanita yang jelas–jelas merindu dibalik sosok hangat–nya. Apakah masa lalu yang pernah mereka ukir terlalu menyakitkan hingga terjebak dalam kecanggungan tak berujung? Alena membuang arah pandang nya ke Peron sebrang. Begitu ramai dan penuh sesak. Sama seperti hatinya, “ Terlalu sibuk untuk mengingatmu. ” Jongdae menatap Alena lekat.

 

“ Rindu kah kau padaku?, ”   Alena menyeringai

” Sejatinya aku merindu, aku tak akan menunggumu. ” wanita itu–Alena masih sama seperti dulu, tidak ada perubahan yang berarti.

Namun sangat disayangkan. Tutur kata Alena nyatanya tidak semanis dulu.

                   

                    Entah itu sejak kepergian Jongdae, atau ketika Jongdae tiba-tiba menghilang dari sisi Alena. Membuat Alena kembali terjebak akan perihnya rasa sakit menunggu, perih nya rasa sakit kehilangan, perihnya rasa sakit pengorbanan, dan perihnya rasa sakit mencintai Jongdae terlalu dalam. Terlalu berlebihan memang, namun Pengorbanan Alena akan pemuda itu sungguh dalam.

Dan ironis, ketika semua nya berakhir dengan sia-sia.

Jongdae memperdalam luka dihati Alena, menggali nya menciptakan kembali lubang luka untuk kesekian kalinya.

Ini sudah lama bukan?. Saat-saat Jongdae pergi meninggalkan Alena dalam keterpurukan.

 

” Begitu benci kah kau padaku, Alena?. ” Alena tertawa sengau. Benci kah dirinya pada Jongdae, ia tidak membenci pemuda itu. Hanya saja Alena sakit hati jika mengingat pengorbanan nya dulu pada pemuda tersebut. Diabaikan, ditinggalkan, di campakkan begitu saja. “ Begitu mudahkah bagi mu untuk datang dan pergi sesuka hatimu?, aku juga manusia biasa. Aku tidak menginginkan ini semua terjadi. Hanya berharap pada tuhan, karma dapat menghukum mu. ” Atas semua yang telah Alena lalui. Alena menghela nafas. Terlalu berat memang. Tiada yang perlu ia sesali. Tanpa bayang-bayang Jongdae setidaknya Alena dapat hidup dengan lebih baik, dan tidak perlu merepotkan diri untuk terus-menerus mencintai orang yang jelas–jelas telah meninggalkan dirinya. . .

 

” Pantaskah ego mu untuk tidak memaafkan aku?, ” Siapa yang egois diantara mereka sebenarnya?.
Alena menunduk dalam, ujung sepatunya mulai tergenang air mata.

Dan pada akhirnya bendungan emosi itu pun beradu dalam derasnya air hujan. Katakan alasan terkuat untuk memaafkan Jongdae? Untuk tiga tahun dimasa suram yang ia lalui.

 

” Ini sudah lama bukan? Saat saat kau pergi meninggalkan aku dalam keterpurukan. “
Jongdae mengangguk. Emosinya pun hampir menjadi titik puncak.

Tapi, benteng naif diantaranya kembali membungkus asa kepedihan itu.

 

” Aku tau. Maaf”

Alena tersenyum miring.

 

“Ini sudah lama bukan? Ketika kau pergi meninggalkan aku dengan segudang tanda tanya.”

Jongdae tau bahwa dirinya memang bersalah. Ia tau itu. Dialah dalang dibalik ini semua.

 

” Apakah untuk memaafkan aku sangat sulit?, “

Sebut saja dia sipengecut. Seseorang yang bahkan terlalu gampang mengandalkan kata maaf disetiap permasalahan.

 

” Karna aku terlalu jauh untuk kembali. “

dan Jongdae terdiam untuk sekian kalinya. Dalam pertanyaan yang membuatnya terkunci, untuk seribu penyesalan.

 

” Aku sudah terluka untuk waktu yang lama. Jadi, aku akan mengakhiri ini semua ”–ucap Alena dibalik suara sengau nya. Ia membungkuk dalam, berniat mengakhir semua yang telah dilalui.

 

“ Aku akan mengikuti keinginan mu, untuk berhenti menyukaimu dan segera melupakan mu. ”

Perkataan Alena jauh lebih menyakitkan daripada tutur lembut Jongdae saat meninggalkan nya. Apa ini karma yang harus Jongdae tanggung?.

                 Jongdae membiarkan punggung Alena yang telah menghilang dari bilik pintu disebrang Jongdae tidak akan menahan lengan itu lagi. Ia akan menyerah kali ini. Jongdae memandang rintikan air hujan yang membasahi jendela. Peron disebrang kembali sunyi, pasalnya sudah terlalu malam untuk sekedar berpulang dengan kereta. Malam ini Jongdae kembali gagal membawa pulang sebekal kata maaf dari Alena.

Terlalu dilemakah gadis itu saat ia tinggalkan?. Tentang perasaan, ia menyesal pernah menyia-nyiakan gadis itu dahulu kala pertemuan teakhir mereka tiga tahun yang lalu.

 

 

 

” Ini sudah lama bukan? Pertemuan kembali dipenghujung Desember. Bahkan maafku pun tidak kau terima.”

Jongdae memejamkan matanya sesaat membiarkan buliran itu mengalir dengan perlahan membasuh penyesalan teramat dalam didirinya.

 

” Untuk tiga tahun yang lalu. Maaf ketika kata aku mencintaimu tidak menjadi ucapan selamat tinggalku. Aku bersungguh atas maaf ku, “

 

Dan biarkan malam kelam ini berakhir seperti mesin waktu yang terus berputar mengingatkan lagi mereka tentang klise indah yang dulu pernah terangkai dengan rapi.

 

” Maafkan aku yang masih mencintaimu. “

 

Diantara ratusan bahkan ribuan malam yang Jongdae lalui, semua tampak sama; malam kelam, suram yang terkesan menyedihkan setelah ia lari dari sisi Alena.

Karena yang Jongdae tau, penyesalan selalu datang belakangan.

–Hatiku telah terpaut oleh hati yang dulu mengikatku disela-sela hujan bulan desember. Dia yang selalu ku rindukan kehadirannya–

 

 

 

FIN

Gaje right? kkkk~

 

Visit my wordpress for another my fanfition

http://lostpeterpan.wordpress.com

 

Advertisements

One response to “[Oneshoot] Pertemuan Kembali -dipenghujung desember

  1. Huaaa…. Kasihan alena.. Dia udah terlalu banyak sakit hati dan tuh unta cuma bilang maaf?? Wah… Parah tuh.. 3 taun bung… Ditinggal orang yang di sayang nggak ada kabar?? Wahh… Parah tuh jongdae… Lu juga parah thor bikin ff kek gini ckckckc… Gue suka!! 😀 haahaahaha/?! #ketawa jahat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s