[Un]Fated Scene [Part 7]

 

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan lagi. Dan… Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini yaa. Happy Reading ~ ^^

Mian buat authornyaaa saya baru publish hari ini. Jeongmal Mianhaeeee ~~~

(note : untuk penitipan epep pada saya telah DIBUKA kembali. Silahkan mengirimkan karya kalian dalam bentuk Ms.Word ke email saya di ‘ichazparchov@yahoo.com’. lalu jangan lupa untuk memberi tau saya di : klik disini bahwa epep kalian sudah dikirim, maka keesokan harinya(kalau gak sibuk) saya pasti akan ngepost epep kalian. Thankseeuu :* :* )

 

Title: [Un]Fated

Author: chandoras

Cast: Oh Sehun, Park Cheonsa(OC)

Genre: Romance, angst, sad, AU

Rating: PG-15

Poster: hyunji

Previous : Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part  5 | Part 6 |

Disclaimer: Originally slipped out of my mind. Plagiarize is strictly prohibited.

NOTE: MOHON DIBACA JANGAN DI SKIP!

Ini cerita bukan lanjutan part 6, tapi masih cerita yang sebelumnya dan dalam sudut pandang Sehun. Scene yang italic semua berarti flashback. Awal part ini kurang lebih sama kayak part 4 yang aslinya. Buat  yang mau baca lagi karena lupa silakan, udah ada linknya di atas. Sekali lagi ini dari sudut pandang Sehun ya. Kalo ada kata ‘aku’ berarti itu juga merujuk ke Sehun. Oke, makasih. Happy reading!

***

Sehun bangkit dari ranjangnya dengan kepala yang berat. Ia insomnia. Matanya tak terpejam sedikit pun sejak tadi. Ada banyak hal yang kini berputar-putar di kepalanya, dan sebagian besarnya adalah tentang seorang Park Cheonsa.

Park Cheonsa.

Baru dua bulan ia mengenalnya. Gadis yang biasa saja. Segala sesuatu yang Sehun tahu tentangnya adalah biasa. Rata-rata, kau bisa menyebutnya begitu. Dan Sehun tidak pernah tahu mengapa gadis se-biasa itu dapat membuat hidupnya terasa lain seperti ini.

Ia tak pernah banyak bicara dengannya. Namun anehnya, teman-temannya selalu mengatakan bahwa ia begitu mudah tersenyum bila sedang bersamanya. Sehun bahkan tidak sadar bahwa ia dapat tersenyum semudah itu saat bersama Cheonsa.

Cheonsa, Cheonsa, Cheonsa.

Nama gadis itu bergema berulang kali di kepalanya. Ada yang aneh dengannya belakangan ini. Sehun tahu ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya. Bagaimana wajah adik tirinya itu selalu membayanginya sebelum tidur. Membuatnya membuka pintu kamarnya hanya untuk menatap pintu lain yang berada persis di depan kamarnya.

Beberapa jam yang lalu, di Haneul Gongwon, dengan mudahnya ia melepaskan pertahanannya di depan gadis itu. Cerita tentang sebagian kecil masa lalunya yang tak pernah ia bagi kepada siapapun mengalir begitu saja di hadapan Cheonsa.

Sehun mengira gadis itu akan menghakiminya dengan tatapannya, sama seperti orang lain. Tapi, tidak. Cheonsa hanya mendengarkannya.

Hei, tahukah kau bahwa Sehun hanya butuh satu hal saja dalam hidupnya?

Perhatian.

Dan Cheonsa memberikannya tanpa banyak bicara. Sesederhana itu permintaannya terkabulkan oleh keberadaan Cheonsa. Tak pernah gadis itu menanyakan soal obat-obatan ilegal yang dikonsumsinya. Ia hanya meminta Sehun untuk datang kepadanya jika kesakitan. Tak pernah pula ia mengeluh soal luka jahitan pada lengannya yang disebabkan oleh kegilaan Sehun kala itu.

Sehun mengira  gadis itu akan memandangnya sebagai berandal atau apapun itu, namun tidak. Cheonsa tetaplah sama. Gadis yang membuatkan makan malam untuknya setiap hari. Gadis yang selalu mendengarkannya.

Sehun mengusap wajahnya yang terasa kebas.

Firasat buruk.

Kepalanya menggeleng pelan begitu sebuah tebakan tentang apa yang kini sedang terjadi muncul di benaknya.

Hentikan. Mundur, Oh Sehun.

.

.

.

Sekarang.

***

Cheonsa melihatnya muntah di hari Minggu ini. Sehun dapat melihat dengan jelas kekhawatiran pada kedua bola mata gadis itu.

“Sudah berapa kali hal seperti ini terjadi?”

Itu pertanyaannya. Sehun tak mengerti mengapa Cheonsa bisa memiliki firasat bahwa hal ini sudah terjadi lebih dari sekali, yang ternyata memang benar. Setelah ia memutuskan untuk mundur teratur, ia selalu berusaha menyembunyikan hal ini dari Cheonsa. Cheonsa tak boleh lagi berurusan dengannya, dan ia tak boleh lagi melibatkan Cheonsa dengan dirinya.

Sehun tak mau menjawab pertanyaan Cheonsa. Ia hanya menyelipkan helaian poni adik tirinya itu ke belakang telinganya sembari mengajaknya sarapan. Ada sebuah suara yang berteriak bahwa Sehun menginginkan tangan mungil gadis itu berada dalam genggamannya, namun pada akhirnya ia menahannya.

Menjauh.

Menghindar.

Segalanya terasa sulit.

Sehun menatap kedua tangannya sembari berjalan meninggalkan Cheonsa.

Ia merindukannya.

Meski gadis itu tepat berada di belakangnya.

***

Sakit.

Cheonsa melemparkan tatapan kesakitan padanya. Sehun tak bisa berbohong bahwa ia kaget saat melihat sosok mungil itu berada di tengah-tengah ramainya bar ini. Bagaimana Cheonsa berdiri dan menatapnya yang sedang menari tanpa henti. Kacau sekali hati Sehun saat ini. Gadis itu telah melihat satu lagi sisi kotor dalam kehidupannya.

Dan tatapan kesakitan itu melayang saat ia memainkan peppero game dengan seorang wanita yang tak dikenalnya. Cheonsa berbalik. Meninggalkannya. Punggungnya menjauh. Sehun tak peduli apakah bibirnya tak lagi menggigit batang biskuit panjang itu atau tidak saat sosok Cheonsa tak lagi dilihatnya.

Ia menyakitinya.

Gadis yang selalu tersenyum padanya, ia menyakitinya.

Ia membuat gadis itu kecewa untuk yang pertama kalinya. Bukankah biasanya ia tak pernah peduli atas pandangan orang lain terhadapnya? Lantas mengapa rasanya lain saat Cheonsa memandangnya seperti ini? Sehun tahu ini tidak masuk akal, namun ia juga merasakannya.

Sakit.

***

Ada yang berderak pelan dalam hatinya saat ia melihat sosok gadis itu terlelap di atas kasurnya. Sehun tak berani mendekat. Ia merasa tebakannya semakin nyata. Tanda-tandanya semakin jelas. Ada perasaan yang telah mencoba mengoyak pendiriannya selama ini. Ia bahkan tak berani menyebutkan nama perasaan itu.

Tidak.

Selangkah lagi dan ia akan jatuh ke dalam lubang itu.

Setelah apa yang terjadi di masa lalunya, Sehun tak pernah lagi mau menjatuhkan dirinya ke dalam lubang yang sama. Lubang dalam yang hingga detik ini masih mengungkungnya. Memerangkap ingatan dalam kegelapan.

Meski begitu, kedua kakinya memaksa Sehun untuk terus melangkah. Mendekat untuk menatap wajah lelah milik Cheonsa, menyelimuti tubuhnya perlahan, lantas duduk di pinggir ranjang. Apa yang telah dilakukannya? Mengapa kini tangannya menyentuh lembut pipi gadis itu?

Sehun ingin menyentuhnya.

Itu yang ia rasakan sejak tadi pagi.

Sekian wanita ia layani di tempatnya bekerja, namun tak ada yang membuat jiwanya melolong penuh kerinduan seperti ia merindukan kelima jari Cheonsa di dalam genggamannya.

Samar bibir Sehun tersenyum. Apakah ia terlalu menyedihkan? Terlena dengan perhatian tulus dari Cheonsa? Dari sekian banyak gadis, mengapa harus ia?

Mengapa harus adik tirinya?

Kedua kelopak mata Cheonsa terbuka lamat-lamat. Sehun merasakan darahnya berdesir saat manik miliknya bertemu dengan cermin gelap yang terlukis di mata gadis itu. Otaknya bereaksi cepat, mengirimkan sinyal yang menyuruhnya untuk melepaskan tangannya dari wajah Cheonsa.

“Kkajima,” bisikan Cheonsa terdengar saat ia beranjak pergi. Tangan gadis itu menahannya erat.

 Sehun mulai lelah. Ia benci saat akal dan hatinya mulai berdebat, meminta salah satu dari mereka untuk diprioritaskan. Pada akhirnya Sehun lebih mendahulukan akalnya. Ia berusaha melepaskan tangan Cheonsa sembari berujar pelan, “Tidurlah. Aku akan tidur di bawah.”

Tahukah bahwa saat Cheonsa sungguhan melepaskan tangannya, saat itu pula Sehun merasakan ada yang hilang. Ia mengingkari keinginannya sendiri. Tidakkah sejak tadi ia merindukan genggaman itu? Setelah ia mendapatkannya, mengapa ia malah melepaskannya?

Pengecut.

Kepala Sehun menoleh pada Cheonsa yang masih terduduk di atas kasurnya. Ia harus mengakhiri semua ini sebelum terlambat. Semakin cepat akan semakin baik. Ya, sebelum semuanya terasa lebih menyakitkan.

“Lain kali jangan pernah datang lagi ke tempat itu.”

Dan bibir Cheonsa menyunggingkan senyuman getirnya.

“Kau sendiri? Inikah alasan kau selalu pulang malam setiap harinya? Inikah alasan kau muntah-muntah pagi tadi? Demi menuangkan minum dan mabuk bersama wanita-wanita itu?”

Senyaman apapun Sehun bersama Cheonsa, ia tak suka bila ada yang mencampuri urusannya, kehidupannya. Karakter itu telah terbangun selama dua puluh tahun hidupnya. Merubahnya dalam waktu dua bulan hanya karena kebersamaannya dengan gadis itu adalah suatu hal yang tak mungkin. Tak semudah itu ia dapat menyerahkan kehidupannya pada orang lain.

“Kau pikir kau siapa? Jangan kira kau bisa mencampuri hidupku hanya karena aku beberapa kali berhutang padamu!”

BRAK!

Ia menggebrak meja belajarnya. Tangannya perih akibat perbuatannya sendiri.

Emosi. Kemarahan. Kekecewaan. Apakah ia salah menilai Cheonsa? Apakah ternyata Cheonsa sama seperti mereka yang memandang sempit kehidupan Sehun tanpa tahu kenyataannya?

Namun emosi yang tadi begitu meluap-luap kini luntur begitu saja saat melihat kedua mata gadis itu mengalirkan sungai kecil yang membasahi pipinya. Ia menangis. Sehun telah membuat Cheonsa menangis.  

Ia menyakitinya. Lagi.

“Kau..sudah masuk ke dalam kehidupanku terlalu jauh. Mundurlah. Kau tahu bahwa aku bukan seperti yang kau pikirkan selama ini.” Sehun merasakan pertahanannya rubuh. Ia tak bisa melawan tatapan berkaca-kaca milik Cheonsa.

Segera badannya berbalik dan bergegas meninggalkan sosok adik tirinya itu di belakangnya, namun rupanya secepat itu pula kedua lengan milik Cheonsa melingkari pinggangnya. Gadis itu memeluknya dari belakang. Gemuruh dada Sehun merasakannya. Sampai manakah gadis ini hendak membawanya? Ketakutan akan keterhanyutan itu muncul disaat Sehun ingin menikmati momen ini. Detik ini.

“Maaf. Maafkan kata-kataku barusan. Kau tahu bahwa aku khawatir padamu,” bisikan Cheonsa seperti menari-nari memasuki telinganya. Khawatir. Sehun mulai mengeja satu kata itu dalam hatinya. Selalu saja. Selalu saja gadis itu memberikan perhatiannya tanpa diminta.

Sehun berusaha tak menanggapinya. Ia menahan keinginannya untuk berbicara dan otaknya sibuk berhitung tentang apa yang kini sedang terjadi sebenarnya. Tangannya melepaskan lengan Cheonsa dari pinggangnya. Menghindari sentuhan yang sebenarnya ia inginkan.

“Aku tak tahu apa alasanmu mengacuhkanku seharian ini..aku bahkan tak mengerti apa salahku sebenarnya. Seandainya aku melakukan kesalahan, kau bisa mengatakannya padaku..”

“Tidak ada yang salah padamu, dan juga tak ada alasan untuk kau mengkhawatirkanku lagi. Kurasa ini waktunya untuk kau mundur menjauhi garis hidupku.”

Ya, yang salah hanyalah Sehun dan keterlenaannya.

“Tapi kenapa?” Cheonsa dan ketidakmengertiannya. “Kenapa setelah semua ini—“

“Hutang ceritaku padamu sudah lunas. Kau menolongku dua kali dan aku bercerita padamu dua kali. Kurasa itu impas. Tidurlah, ini sudah sangat malam. Besok kita harus kuliah.”

Ia benar-benar meninggalkan kamar miliknya kali ini. Melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga di bawah sana.

Malam ini terasa begitu panjang bagi Sehun. Sehun hanya ingin mengembalikan semuanya pada tempatnya. Melindungi kehidupan mereka berdua.

Terkadang, kita harus tersakiti untuk terlindungi.

***

Detik baru. Menit baru. Jarum jam yang telah bergeser. Waktu yang telah berjalan.

Sehun mulai menemukan dirinya dalam kekosongan. Hari-hari tanpa kebersamaannya dengan Cheonsa. Tanpa senyuman dan sapaannya. Tanpa perhatiannya.

Seharusnya semuanya baik-baik saja, bukankah begitu? Bukankah selama ia tak memiliki siapa-siapa? Bukankah pada awalnya, Cheonsa tidak ada dalam kehidupannya? Jadi mengapa sekarang ia begitu merisaukan ketiadaan gadis itu?

“Kau menyukai gadis itu, bukan?” Jongin menunjuk sesosok gadis yang sedang berlari-lari menuju perpustakaan dengan ujung matanya.

Sehun mendongakkan kepalanya. Matanya mengikuti arah tatapan Jongin, memandang gadis yang kini sedang memasuki pintu perpustakaan, Park Cheonsa.

“Tidak,” jawab Sehun singkat. Ia mulai memainkan perannya. Mengeluarkan sosok pembohong untuk melindungi sosok lain yang sebenarnya ada di dalamnya.

Terdengar gelak tawa dari pria yang merupakan teman sebayanya itu. Ia menepuk-nepuk meja cafetaria tempat mereka berada sekarang. “Leluconmu lucu sekali, Oh Sehun hahahaha..”

Sehun menghembuskan napasnya panjang. Ia kemudian bangkit dari duduknya. Tangannya bergegas memasukkan barang-barangnya ke dalam backpacknya.

“Ya! Kau mau kemana?” Jongin mengangkat sebelah alisnya heran.

Yang ditanya tak menjawab. Ia hanya melambaikan tangannya sekilas sebelum akhirnya meninggalkan Jongin sendirian. Pria berkulit gelap itu mendecak kesal, mengutuki sikap temannya yang terkesan seenaknya.

“Jongin!”

Sebuah suara lainnya muncul dari arah belakang. Jongin menoleh malas dan menangkap dua sosok pria yang sedang berjalan ke arahnya.

“Aku lihat Sehun tadi pergi. Wae? Bukankah ia tak ada kuliah siang ini?” Chanyeol menarik salah satu kursi dan duduk di hadapan Jongin.

“Ia nampak terburu-buru,” sahut Kyungsoo sembari menoleh ke arah yang tadi dilewati oleh Sehun. “Oh, lihatlah..ia ke perpustakaan. Sejak kapan ia menyukai tempat itu?”

Ketiga pria itu melempar tatapan mereka pada sosok semampai milik Sehun. Pria yang tak pernah banyak berbicara itu tengah berdiri di depan pintu masuk perpustakaan sebelum akhirnya menghilang ke dalam bangunan tersebut.

“Ia bilang tak menyukainya, tetapi ia kini malah mengikutinya. Dasar pria inkonsisten!” Jongin mendecak beberapa kali di akhir gerutuannya.

“Wah, bahasamu cukup keren. Inkonsisten. Darimana kau dapat kosakata itu?” Chanyeol menatap Jongin dengan mata berbinar-binarnya. Tatapan yang entah mengapa membuat Jongin merinding.

“Hei..kau bilang tadi ‘menyukainya’? Sehun? Menyukai siapa?” Kyungsoo menaikkan kedua alisnya penasaran. Kedua matanya membesar, menatap kedua temannya bergantian.

Chanyeol mendengus dan tersenyum menyeringai. “Kau tidak tahu? Siapa lagi kalau bukan ia? Park Cheonsa.”

Ketiga pria itu lantas saling berpandangan sebelum akhirnya mengedikkan bahu mereka. Mereka paham bahwa itu bukan urusan mereka. Meski ingin membantu, Sehun tak pernah membuka akses lebih jauh untuk membiarkan mereka memasuki kehidupannya. Pria itu terlalu misterius, bahkan pada mereka yang merupakan teman dekatnya.

Ya, lihatlah pria itu yang kini hanya bisa menatap Cheonsa dari kejauhan. Membayangkan bahwa senyuman yang sedang disunggingkannya hanya diperuntukkan untuknya seorang. Bermimpi bahwa tatapan mata gadis itu hanya mengarah padanya. Berharap..bahwa ia dapat menggenggam tangannya.

Sehun menyangga kepalanya dengan sebelah lengannya. Ia memang berjanji untuk tak lagi mendekati gadis itu, namun setidaknya biarkanlah ia untuk sekedar menatapnya seperti ini. Biarkanlah ia untuk sekedar memastikan kepulangannya dengan selamat. Biarkanlah ia menyimpan setitik keegoisan dan keserakahannya atas Cheonsa.

 “Aku pernah mengemis mimpi tentangmu. Angan dimana noktah pertemuan kita terlukis sempurna. Saat dimana senyum bahagia menghiasi bibir kita. Momen dimana tak ada lagi air mata duka. Aku pernah mengemis mimpi tentangmu: tentang dirimu, mendambakanmu.”

***

Rupanya, ada sosok lain yang mulai menggesermu. Mengingatmu tak pernah terasa sesulit ini sebelumnya. Bukan, bukan aku meminggirkanmu. Kau tahu ini bukan kemauanku. Kau tentu tahu bagaimana aku berusaha menghapusmu. Melupakanmu adalah satu hal yang tak pernah bisa kulakukan terhadapmu. Sepahit apapun itu kepergianmu, aku masih mengingat jelas manisnya keberadaanmu.

Mungkin ini yang kau sebut paradoks. Saat pahit dan manis bercampur, saat benci dan cinta melebur.

Kau pergi, dan aku terperangkap dalam memori.

Kau pergi, dan aku tertinggal sendiri.

Aku membencimu sebesar aku mencintaimu. Sebesar itu keinginan untuk membuangmu, sebesar itu pula hasrat untuk mengenangmu.

Dan kini, ada sosok lain yang memasuki celah hidupku.

Aku..

Haruskah aku meminta maaf padamu?

***

“Berhentilah dari pekerjaan ini.”

Sehun menghentikan gerakannya yang sedang mengelap leher botol wine di rak. Kepalanya menoleh sekilas tanpa berbicara.

Luhan.

“Kau tertekan, dan kesehatanmu akan semakin memburuk. Bukankah kau sedang berada dalam tahap rehabilitasi?”

“Aku tak apa-apa,” Sehun menjawab singkat. Ia meletakkan kembali botol wine yang telah dilapnya ke dalam rak.

“Kau memaksakan dirimu.”

“Aku butuh pekerjaan ini.”

Luhan menghela napasnya dan menggeleng kecil. “Kau butuh uang, bukan pekerjaan ini. Ada banyak pekerjaan lain di luar sana yang bisa kau ambil. Kalau kau terus bekerja di tempat ini, itu sama saja dengan menutup lubang dan menggali lubang baru.”

“Kenapa kau jadi ikut campur dalam urusanku?”

“Masa lalumu, lupakanlah. Kau sudah terperangkap terlalu lama di dalam sana. Aku tahu gadis yang datang tempo hari itu adalah gadis yang kau sukai. Kejarlah ia. Jangan bohongi perasaanmu sendiri. Ia akan sedih melihatmu bekerja di tempat kotor seperti ini.” Luhan menepuk bahu Sehun sebelum pergi meninggalkannya.

Sehun menatap punggung Luhan tanpa sanggup berkata-kata. Seniornya itu terlalu banyak mengetahui kehidupannya. Tangannya perlahan mengambil ponsel di saku celananya dan menghubungi sebuah nomor.

 “Apakah gajiku selama ini akan cukup melunasinya?”

“Setengahnya.”

“Kau yakin?”

“Kau butuh uang lebih banyak daripada yang kau kira.”

Sehun memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit pada kepalanya yang tiba-tiba saja datang. Tangannya gemetar dan berkeringat dingin. Ia menggumam pelan tanda mengerti sebelum akhirnya  memutuskan sambungan telepon tersebut. Tubuhnya bersandar pada tembok untuk menjaga keseimbangannya.

“Setengahnya lagi. Aku harus bertahan.”

***

Apakah arti hari ulang tahun?

Bagi Sehun, hari ulang tahun hanyalah satu hari dari hari-harinya yang tak berharga. Lupakan soal cake berhiaskan lilin-lilin, balon, ataupun tumpukan hadiah. Hal itu tak pernah lagi terjadi padanya setelah sekolah dasar.

Tapi pagi ini, ada yang terasa lain. Semangkuk sup rumput laut yang tersedia untuknya di atas meja membuat hari ini terasa begitu istimewa. Tak ada yang lebih membahagiakan daripada kenyataan bahwa ulang tahunmu diingat oleh orang yang berarti untukmu.

Sehun tersenyum tipis. Ia menggumamkan terima kasih pelan sebelum akhirnya menyantap makanan tersebut. Tangannya lantas meraih memo post-it berisi ucapan selamat yang tertempel di meja dan memasukkannya ke dalam dompetnya.

Apakah arti hari ulang tahun?

Adalah hari dimana Sehun kemudian berlari menyusuri koridor klinik kampusnya. Panik mencari ruangan yang dikatakan menjadi tempat adik tirinya kini berada.

“Ah, kau sudah datang.”

“Apa ia tak apa-apa?” Sehun mencoba menjaga nada bicaranya. Ia berusaha menekan kekhawatirannya. Ujung matanya melirik ke arah ranjang yang tertutupi oleh tirai berwarna biru muda.

“Aku tak tahu. Ia tiba-tiba pingsan saat jam kuliah selesai. Wajahnya memang pucat sejak tadi pagi.”

Terdiam. Sehun teringat sup rumput laut yang pagi tadi dibuatkan untuknya. Gadis itu bahkan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.

Apa ini? Kenapa kau selalu memikirkan orang lain sementara kondisimu sendiri tak lebih baik?

“Ia terlihat sangat kacau akhir-akhir ini. Kurasa ia terlalu memaksakan diri. Semua kegiatan ia ikuti. Aku agak khawatir..ini seperti bukan Cheonsa yang biasanya.. Ah, kalau begitu aku pulang duluan, tak apa? Aku masih ada keperluan lain.” Gadis yang Sehun ketahui sebagai teman Cheonsa itu memandang jam tangannya sesekali. Ia nampak terburu-buru.

“Ah, ya..terima kasih..”

Sehun menatap kepergian gadis itu dalam diam. Kakinya melangkah menuju ranjang Cheonsa yang tertutupi oleh tirai di sekelilingnya. Tangannya menyibak tirai dan saat itu pulalah kedua matanya bertemu pandang dengan manik milik Cheonsa.

“Kau sudah bangun?” Ini pertama kalinya ia berbicara pada gadis itu setelah beberapa waktu.

Cheonsa menjawabnya dengan anggukan kecil dan senyuman lemahnya.

Sehun tertegun menatapnya. Satu senyuman, dan dadanya berdenyar kemudian.

Sehun memutuskan untuk melanggar janjinya hari ini. Janji untuk tak melibatkan diri dalam kehidupan Cheonsa. Ia bahkan tak menghiraukan ponselnya yang terus bergetar di saku celananya demi mengurusi gadis itu. Entah itu panggilan dari Kris—manager bar tempatnya bekerja—atau Suho yang tadi mengajaknya untuk merayakan ulang tahunnya di salah satu restoran.

Semuanya berjalan baik-baik saja. Semuanya masih bisa ia kendalikan. Ia memastikan dirinya tak berbicara banyak pada Cheonsa. Ia hanya perlu bertindak seperlunya. Ia tidak bisa membiarkan dirinya terbawa oleh perasaannya.

Semuanya masih baik-baik saja sampai Cheonsa tiba-tiba menarik ujung jaketnya. Mereka berdua sudah berada di rumah saat itu, lebih tepatnya di dalam kamar Cheonsa.

Sehun menoleh. Menemukan dirinya terperangkap dalam tatapan mata milik gadis yang belakangan ini membuatnya kacau.

“Ada yang ingin kutanyakan padamu,” begitu ujar Cheonsa.

Suara jarum jam berdetak mengisi kesunyian. Sehun tak mengatakan apapun. Firasatnya berkata ini bukan saatnya untuk berbicara.

“Aku hanya tak mengerti. Aku tak mengerti dengan semua ini. Tentang kau yang tiba-tiba mendiamkanku selama hampir dua minggu ini, tentang kau yang tiba-tiba mengembalikan perhatianmu saat ini, dan tentang kau yang tak mau membalas setiap perkataanku.. aku tak mengerti..”

“Apakah ini karena aku datang ke tempat kerja sambilanmu? Ataukah karena hal lainnya? Aku tak masalah bila kau tak mau bercerita padaku lagi. Aku tak pernah memaksamu, bukan? Tapi aku tak bisa kau acuhkan terus seperti ini. Semuanya memiliki limit, termasuk hatiku..”

“Kau mungkin tak tahu, tapi aku merasakan sakit..disini,” Cheonsa menunjuk ke arah dadanya.

Sakit?

Lihat, ia menyakitinya lagi. Bahkan saat ini. Sehun tak ingin menyakiti gadis itu dengan cara menjaga jarak darinya, namun rupanya usahanya itu justru menyakiti Cheonsa. Lalu apa yang harus ia lakukan?

“Ternyata kau berbohong..” Sehun mulai memasang topengnya. “Kau bilang kau akan menampung batu-batuku sebanyak apapun itu, benar? Kenyataannya kau tidak kuat menahannya. Kau tersakiti atasnya. Batu-batuku hanya menjadi beban bagi kehidupanmu..”

Ya, bukankah memang begitu?

“Tidak. Bukan seper—“

“Dengar. Aku tak bisa terus seperti ini. Kau sudah tahu betapa busuknya aku. Iblis yang bersarang dalam kehidupanku. Aku pengguna obat-obatan, aku seorang host bar..dua kenyataan itu seharusnya membuatmu tahu bahwa aku bukan seseorang yang pantas untuk kau dekati. Kau tidak akan tahu batu apa lagi yang akan kulempar dalam sungai kehidupanmu. Kau juga tidak akan tahu hal apa lagi yang akan membuatku menyakitimu! Karena hanya aku..yang mengetahui bagaimana diriku sendiri..”

Sehun mengepalkan kedua telapak tangannya erat. Cheonsa harus tahu bahwa Sehun tak bisa lagi bergantung pada perhatiannya.

“Hidupku murah sekali, bukan? Lantas mengapa kau harus peduli padaku? Mengapa kau harus khawatir padaku? Mengapa kau harus mengucapkan selamat ulang tahun padaku? Aku tak pantas mendapatkan semua perhatian itu! Tidak ada alasan untuk kau terikat denganku!”

Sebab kini aku yang mulai terikat dengan keberadaanmu.

Cheonsa menangis. Tuhan, haruskah ia membuat Sehun terjatuh lebih dalam lagi dengan tangisannya? Kepalanya menggeleng perlahan, masih dengan air matanya yang bercucuran.

“Kau tahu hal apa yang paling menyakitkan bagiku? Bukan, bukan kenyataan bahwa kau seorang pecandu. Pun bukan bahwa kau seorang host bar. Namun kebisuanmu terhadapku yang membuat seluruh air dalam sungaiku tumpah. Saat kau membuang wajahmu ketika kita bertemu. Saat kau berpura-pura tak melihatku ketika pandanganmu bertumbukan dengan mataku. Saat—uh..”

Hentikan. Air matamu, hentikan.

Sehun mengusap pipi Cheonsa lembut. Berusaha menahan dirinya sendiri untuk tak lepas kendali. “Bisakah kau mengabulkan permintaanku?”

Hening.

“Tolong hentikan air matamu. Tolong hentikan kekhawatiranmu terhadapku. Jangan berikan perhatianmu. Hanya itu.”

Kepala Cheonsa tegas menggeleng. Tangisannya mengiris hati.

Kenapa kau tak mengatakan ‘ya’? Ini membuatku semakin sulit.

“Cheonsa,”

“Tolonglah aku,”

“Sebab bila kau tidak melakukannya,”

“aku tak tahu apakah aku bisa menahan diriku sendiri atau tidak nantinya.”

Sehun melangkah keluar kamar dengan langkah berat. Lirih Cheonsa memanggil namanya, bergema di telinganya. Namun ia tak mengacuhkannya.

.

.

Apakah arti hari ulang tahun?

Hari dimana Sehun menyerahkan perasaannya pada pahitnya realita. Hari dimana Sehun mengorbankan kebahagiaannya. Membiarkan dirinya tumbuh bersama luka.

***

Aku jatuh cinta padanya.

Park Cheonsa.

Apakah..tak apa?

***

Mei, 2010.

 

“Lebih baik menjadi anak jalang daripada menjadi jalang. Sepertiku.”

Sehun menoleh pada gadis berambut panjang itu. Gadis itu tertawa miring sembari mengambil sebatang rokok dari kotaknya. Ia menaruh benda silinder kecil itu di mulutnya tanpa menyalakannya. Tangannya sibuk merogoh saku baju dan roknya, memeriksa keberadaan lighter yang biasa dibawanya.

“Sialan! Aku lupa membawanya. Kau punya korek api, anak jalang?” tanya gadis itu. Sehun menatap sosok di depannya dengan tatapan tajamnya. Kenapa gadis itu tak bisa memilih perbendaharaan kata yang lebih baik?

“Kau sama saja seperti mereka.” Sehun mendesis dingin. Ia mengepalkan tangannya erat, berusaha menahan amarahnya.

“Setidaknya aku mengatakannya karena kau sendiri yang mengakuinya,” gadis itu mengedikkan bahunya santai. Ia sama sekali tak merasa ada yang salah dengan perbuatannya, “tidak seperti mereka yang mengatakannya tanpa tahu kebenarannya.”

Untuk sesaat, Sehun merasa kalah. Itu benar. Ia sendiri yang mengatakan pada gadis itu bahwa ia anak jalang. Dan sebuah kebenaran pula bahwa ia membenci mereka yang hanya ikut-ikutan mengejeknya dengan sebutan itu tanpa tahu—dan mau tahu—kebenaran atasnya.

“Jadi kau punya atau tidak, huh?” Pertanyaan gadis itu membuat Sehun mengembalikan perhatiannya padanya. Ia menatap baik-baik wajah gadis yang baru ditemuinya itu. Bentuk wajah proporsional dengan hidung mancung dan mata hitam penuh sinar pemberontakan. Nyaris sempurna andai saja tak ada sebuah plester yang menempel di atas pelipisnya.

“Oh, aku benci berbicara dengan orang bisu!” Gadis itu bangkit dengan gusar dan beranjak pergi dari tempatnya duduk. Meninggalkan Sehun yang masih terdiam di atas atap sendirian.

Itu pertemuan pertamanya dengan gadis itu. Pertemuan singkat yang menandai perpotongan jalan takdir keduanya.

Gadis di masa lalunya.

Dan ia masih mengingatnya.

Sebab kenangan bukanlah kenangan bila ia mudah dilupakan.

***

Sudah seminggu lebih berlalu sejak pertengkaran yang melibatkan emosinya itu terjadi. Kini Sehun tak lagi membiarkan dirinya terbawa perasaannya. Ia menghentikan kebiasaannya menatap Cheonsa, berhenti mengikuti sesi diskusinya, berhenti menungguinya, bahkan menghindarinya sejak pagi.

Tak ada kontak mata, meskipun mereka harus duduk bersama dalam meja makan yang sama.

Namun, segala sesuatu tentu memiliki efeknya tersendiri. Pada Sehun, efek tersebut terlihat ketika malam tiba. Wajah datar tanpa emosinya seringkali tertangkap saat ia sedang melayani pelanggannya. Kepalanya hanya dipenuhi oleh sosok Cheonsa. Ia nyaris tak mengajak pelanggannya berbicara sama sekali karena hal tersebut.

Malam itu, Sehun tiba-tiba merasa kepalanya berputar hebat. Ia tak mengerti, namun segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya seperti berbayang. Telinganya berdenging, membuatnya tak sengaja menjatuhkan gelas wine yang sedang dipegangnya.

“Hei, kau tak apa-apa?” suara Kris terdengar khawatir di telinganya.

Susah payah, Sehun menganggukkan kepalanya. Hanya sekali, sebab setelah itu perutnya terasa mual luar biasa. Ia bergegas lari menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya. Jantungnya berdetak tak beraturan. Butiran keringat mulai mengalir dari dahinya.

Kris menepuk-nepuk punggung Sehun hingga napas pria itu kembali pada tempo normal. Ia menyodorkan sapu tangan miliknya sembari memandangnya prihatin. “Pulanglah,” ujarnya pelan.

Sehun mengelap bibirnya dengan kain pemberian atasannya tersebut. “Aku tak apa-apa,” sahutnya seolah tak terjadi apa-apa.

“Jangan keras kepala. Pulanglah, aku tak mau kau tumbang saat melayani pelanggan.” Kris mengabaikan ucapan Sehun dan meninggalkan pria itu di dalam toilet sendirian.

Sehun menghela napasnya panjang. Ia benar-benar kacau. Belakangan ini kepalanya memang seringkali terasa sakit. Ia akui, konsumsi alkoholnya meningkat sejak hari terakhirnya menatap kedua bola mata milik Cheonsa. Semacam pelarian karena tak ada lagi yang dapat membuat pikirannya teralihkan selain minuman memabukkan itu.

Sedikit lunglai, Sehun berjalan menuju lokernya dan mengambil barang-barangnya. Ia akhirnya meninggalkan tempat kerjanya meski baru 3 jam berada disana.

Ini pertama kalinya ia tiba jam 11 malam di rumahnya pada saat jadwal kerjanya. Kedua orangtuanya belum pulang, seperti yang ia duga. Hanya ada sepasang sepatu yang sudah tersimpan rapi di rak. Sepatu kulit putih yang biasa dipakai adik tirinya untuk berkuliah.

Tak ada suara yang terdengar begitu ia menginjakkan kakinya di lantai rumah. Pandangan matanya lalu jatuh pada sofa yang kosong dan TV yang mati. Ia membayangkan betapa akan menyenangkannya bila ia dan Cheonsa dapat duduk berdua sambil menonton film bersama. Ia lalu menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran tersebut. Ini adalah pilihannya. Untuk menjaga kehidupan mereka berdua, agar tak ada yang tersakiti di antaranya.

Kedua kakinya lantas menaiki tangga. Ia menatap pintu kamar Cheonsa yang tertutup rapat.

“Selamat malam,” bisiknya pelan.

“Lama tak bertemu, Cheonsa..”

***

Sehun tak menyangka bahwa kemarin malam adalah malam terakhir dimana ia bekerja sebagai host bar. Hari ini, ia tiba-tiba diberhentikan begitu saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Satu hal yang membuatnya heran bukan main.

“Itu permintaanku,” Luhan menjawab ringan begitu Sehun bertanya tentang alasannya.

“Mwo?”

“Itu permintaanku, kubilang.”

Sehun mengepalkan kedua telapak tangannya erat. “Kau tentu lebih dari tahu bahwa aku membutuhkan pekerjaan ini, bukan?” tanyanya tajam.

“Aku juga lebih dari tahu soal kondisi kesehatanmu, Oh Sehun,” balas Luhan dengan wajah datarnya. “Kenapa kau tak memikirkan kondisi tubuhmu? Kau harus berhenti memikirkan orang lain dan mulai memikirkan kondisimu sendiri.”

“Aku tak mau kau ikut campur dalam urusanku!” Sehun mendorong tubuh pria yang lebih tua darinya itu hingga ia nyaris terjungkal. “Kau..kau tidak tahu apa-apa..” desisnya kemudian.

“Apa yang tidak kutahu? Soal kau yang menjadikan pekerjaan ini sebagai pelarian? Atau soal kau yang masih tak bisa melupakan gadis di masa lalumu?” Luhan bertanya sembari menatap lurus Sehun. Di matanya, Sehun tak lebih dari seorang pria rapuh yang berlindung di balik dinding hitam. Ia tak pernah membiarkan orang lain melihat warna dirinya yang sebenarnya.

“Itu tidak benar,” bisik Sehun sembari mengepalkan kembali kedua telapak tangannya.

Luhan mendengus dan merapikan kemejanya yang kusut akibat dorongan Sehun barusan . “Bila kau masih bekerja karena Gaeun—“

“Jangan sebut namanya. Aku tak bekerja demi ia.”

“Lalu apa?”

Sehun terdiam. Ia tak mampu berkata-kata.

“Lalu apa?” Luhan mengulangi pertanyaannya.

Sehun membuang tatapannya. Ia masih tak bisa menjawabnya.

“Tidakkah kau ingin memberikan kesempatan bagi dirimu sendiri? Untuk bahagia?”

Bahagia? Siapakah yang tak ingin bahagia? Sehun menginginkannya, tentu saja. Lebih dari siapapun yang hidup di dunia ini.

“Kau menginginkannya! Lantas mengapa tidak kau cari kebahagiaan itu seka—“

“AKU TIDAK BISA!” Sehun berseru kencang. Matanya berkaca-kaca, hasil emosi yang sedari tadi dipendamnya, “AKU TIDAK BISA MENDAPATKANNYA!”

Bahagia. Hanya ada satu hal di dalam pikirannya saat ia mengucapkan kata itu. Cheonsa.

“Katakan pada Tuhan mengapa Ia menahan semua kebahagiaanku pada titik di mana aku tak pernah bisa menggapainya..entah itu di masa lalu ataupun sekarang..semuanya selalu sama saja..aku tak pernah bisa bahagia..” Sehun berujar lirih, mengingat kehidupan yang telah ia jalani hingga detik ini.

Luhan terdiam mendengarkan kalimat pria yang lebih muda darinya itu. Ia tahu, Sehun memang telah mengalami banyak kepedihan dalam hidupnya. Ia berjuang lebih dibanding orang lain yang seusia dengannya. Sehun telah dituntut untuk bersikap dewasa sebelum waktunya.

“Hei,” Luhan berucap pelan, “apa yang membuatmu tak bisa mendapatkan kebahagiaan? Kau tahu, semua orang berhak bahagia. Aku akan membantumu, jadi katakanlah padaku bila kau membutuhkan bantuan.”

Sehun menghembuskan napasnya dan tersenyum getir, “Hyung, lupakan. Tidak ada yang pernah berbahagia saat melihat angin dan hujan bersatu. Badai yang dibenci orang-orang..”

“Saat kau menemukan seluruh orang di dunia ini mengamini adanya bencana itu, saat itulah baru kau bisa membantuku..” Sehun menyudahi kalimatnya dan membalikkan badannya. Ia berjalan menuju lokernya dan mengambil seluruh barang-barangnya hingga tak ada yang tersisa. Untuk terakhir kalinya, ia menunduk sekilas pada Luhan yang masih berdiri di tempatnya.

Malam itu adalah malam pertama dimana ia tak menjadi bagian dari kehidupan hostbar yang selama ini selalu dirutukinya. Entahlah, apakah ia patut bersyukur atau tidak. Toh tak akan ada yang benar-benar berubah dalam kehidupannya. Selain pekerjaannya, semuanya masih tetap sama. Kelopak bunga yang tetap berjatuhan, jalanan yang tetap ramai, orang-orang yang tetap berlalu lalang, malam-malam yang penuh lamunan, kenangan yang sulit terhapuskan..

Dan..Cheonsa yang tetap tak bisa ia dapatkan.

***

Life must go on.

Benar, hidup harus tetap berjalan. Terbelenggu dalam satu titik selama berminggu-minggu terasa begitu menyiksa. Maka tak ada yang dapat menghilangkan rasa sakit tersebut selain berpindah ke titik lainnya.

Sehun telah mencoba untuk bergerak. Mencoba pekerjaan baru, meski tenaganya terkuras habis setiap malam. Menjadi kuli bangunan sejak jam kuliahnya selesai hingga pukul setengah sebelas malam menjadi rutinitas barunya. Tak ada lagi waktu untuk memikirkan keadaan adik tirinya seperti waktu-waktu yang lalu. Sebelumnya, meskipun ia menghindari Cheonsa, pikiran tentangnya selalu datang mengganggunya. Namun kini, ia terlalu lelah untuk memikirkan apapun. Kedua matanya segera terlelap begitu ia mencapai ranjangnya setiap malam.

“Hei, kau sibuk sekali akhir-akhir ini..selalu langsung pulang sehabis kuliah. Ada yang sedang kau kerjakan?”

Sehun mengangguk kecil saat Chanyeol menanyakan hal tersebut. Mereka berjalan meninggalkan tempat parkir untuk menuju gedung fakultas mereka.

“Bagaimana dengan Cheonsa? Aku tak pernah melihat kau bersamanya lagi..” lanjut Chanyeol sembari memasukkan kunci mobilnya ke dalam sakunya. “Eo, kau sedang bertengkar dengannya?”

Semua yang berada di kepala Sehun seolah berhenti selama sepersekian detik hanya untuk berganti dengan sosok Cheonsa yang telah lama tak ditemuinya. Pahit, ia menggelengkan kepalanya, “Hubunganku dengan Cheonsa tak seperti yang kalian kira,” ujarnya.

“Keurae? Lalu jenis hubungan apa yang terjadi di antara kalian?”

Saudara tiri.

“Tidak ada.”

Chanyeol meninju bahu Sehun sambil menahan tawanya, “Omong kosong! Oh ayolah..kami melihat sendiri bagaimana kau selalu mengikutinya ke perpustakaan beberapa minggu lalu.”

“Menurutmu..apakah aku seperti angin?” Sehun tiba-tiba bertanya tentang topik yang menurut Chanyeol sama sekali tak berkaitan dengan apa yang sedang dibicarakannya kini.

“Apa-apaan pertanyaan random itu?”

“Jawab saja,” ucap Sehun dengan nada seriusnya.

Chanyeol melirik pria di sampingnya dengan tatapan aneh. Ia kemudian menghela napasnya dan menjawab pertanyaan itu. “Ya, kau seperti angin. Dingin dan cepat sekali menghilang,” ujarnya jujur. “Hei, apa maksudmu menanyakan hal ini?”

Sehun tertegun sesaat sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya. “Bila hujan dan angin bersatu, maka akan terjadi badai yang dibenci orang-orang, benar?”

“Benar. Dan aku tak mengerti apa hubungan ramalan cuacamu ini dengan hal yang kita bicarakan tadi—Ya! Oh Sehun! Tunggu aku!” Chanyeol menyusul Sehun yang tiba-tiba berjalan lebih cepat mendahuluinya.

Sehun meremas tali ranselnya dan tersenyum sendu. Kata-kata yang diucapkannya pada Luhan saban hari itu diulanginya kembali hari ini.

Tentang hujan dan angin yang tak dapat bersatu.

***

Hujan.

Hujan.

Hujan.

Jutaan butiran air itu jatuh tepat setelah tiga minggu ‘pertengkarannya’ dengan Cheonsa. Apa yang ia katakan tentang Cheonsa dulu? Bahwa gadis itu seperti hujan. Hujan yang disukainya.

Sehun ingat bagaimana Cheonsa tak dapat berkata-kata saat ia mengatakan hal itu. Teringat pula wajahnya yang merona merah saat perutnya ketahuan berbunyi di depan Sehun. Janji untuk saling memanggil nama, wajah paniknya saat ia melihat Sehun muntah, wajah pucatnya saat lengannya tersayat pisau cutter oleh Sehun, dan..wajah tersenyumnya yang begitu ia rindukan..

Sehun sampai pada titik puncak kerinduannya atas Cheonsa. Segala emosi yang ia tahan tumpah begitu saja bersamaan dengan deras air hujan yang membasahi tubuhnya.

Apa yang Tuhan rencanakan malam ini?

Sehun dapat merasakan matanya diringkus oleh cairan hangat begitu ia membalikkan tubuhnya ke belakang. Terima kasih pada hujan, tak ada seorang pun yang dapat mengetahui bahwa pria itu sedang meneteskan air matanya.

Hujan.

Itu ‘hujan’nya.

‘Hujan’ yang berjalan mendekat ke arahnya. Memotong jarak di antara mereka berdua.

Sehun merasa tak lagi dapat memegang kendali. Semakin dekat sosok Cheonsa, semakin meluap kerinduannya. Langkah demi langkah, detik demi detik, Sehun masih menunggu. Hingga ia menemukan telapaknya telah melingkar pada pergelangan tangan Cheonsa yang melintas di hadapannya.

“Gwaenchana?”

Siapakah yang pernah mengkhawatirkan Sehun melebihi gadis ini? Bahkan kata pertama yang diucapkannya setelah lama tak bertemu adalah satu kata itu: ‘Gwaenchana’.

“Se-sehun?”

Bibirnya yang bergetar menyebut nama Sehun.

“Kau..mau berbagi payung denganku? Bajumu sudah basah. Kau bisa sakit.”

Perhatiannya yang tak pernah berubah.

Sehun tak akan pernah bisa melepaskannya. Tidak untuk malam ini.

“Biar aku yang memegang payungnya.” Pada akhirnya hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibir Sehun.

Berjalan bersamanya, menggenggam tangannya, Sehun mendahulukan keegoisannya untuk semua itu. Seperti kata Luhan, semua orang berhak untuk bahagia. Jadi biarkanlah ia berbahagia untuk malam ini saja.

Namun saat pintu pagar rumahnya mulai terlihat, realita segera datang menyambutnya. Sehun mulai tersadar atas apa yang telah dilakukannya. Akalnya dengan cepat menyuruhnya untuk segera mundur dari garis kehidupan Cheonsa.

“Cheonsa,”

Dan gadis itu menoleh padanya. Menunjukkan sinar teduh pada matanya. Sehun tahu bahwa ia akan segera menyakiti gadis itu dengan apa yang akan dilakukannya, namun ia tak memiliki pilihan lain.

Tangannya meraih pipi Cheonsa, merasakan kehangatan dari suhu tubuhnya. “Banyak orang menyukai hujan, namun tak ada satupun orang di dunia ini yang menyukai badai. Seperti hujan badai barusan.”

Cheonsa tentu tak akan mengerti. Sehun seharusnya tahu itu. Namun ini saatnya kembali menjauh dari zona nyamannya bersama Cheonsa.

“Ma-maksudmu?”

“Kau mengerti maksudku, aku tahu.”

“Aku tidak—“

“Kau akan mengerti.”

Dan dengan itu, Sehun kembali masuk ke dalam dinding gelapnya. Berusaha menyembunyikan sisi rapuhnya yang sempat muncul ke permukaan.

Sehun kira semuanya sudah selesai. Sehun kira Cheonsa akan mengikuti alur yang sudah ia buat. Namun rupanya tidak. Malam ini, Cheonsa menahannya. Memaksa Sehun untuk membuat gadis itu mengerti atas apa yang sebenarnya terjadi. Mengatakan bahwa ia lelah dengan segala tarik ulur yang Sehun buat.

“Aku pun lelah,” Sehun berujar pelan. Ia nyaris frustasi. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia mencintai adik tirinya ini, bukan?  “Saat kau meminta penjelasan seperti ini adalah waktu tersulit untukku. Aku tak bisa menjawabnya.”

“Wae?” Sehun merasakan lengan bajunya tertahan oleh genggaman Cheonsa. “Wae?”

“ Anggaplah aku egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Kau hanya perlu mengabaikanku. Tak bisakah kau melakukannya tanpa harus bertanya alasannya?”

Kenapa? Kenapa perdebatan seperti ini kembali terjadi?

“Kau kira aku tidak egois? Aku pun egois. Ya, aku egois karena aku ingin kita tetap seperti dulu. Tak peduli apakah aku menyakitimu atau tidak dengan keberadaanku. Tak peduli apakah aku hanya menjadi beban hidupmu. Kau harus tahu bahwa saat bersamamu, saat bertatap mata denganmu, saat kau menggenggam tanganku, aku selalu egois.”

Apa ini? Sehun merasakan jantungnya berdetak kencang. Sebagian dirinya berbahagia mendengar perkataan yang keluar dari bibir Cheonsa tersebut. Bahwa gadis itu menginginkan Sehun di sampingnya. Namun sebagian dirinya yang lain dengan tegas menolaknya. Semua itu hanya akan membuat harapan Sehun atas Cheonsa semakin tinggi dan ia takut ia tak akan lagi bisa mengontrolnya.

“Cheonsa, aku harus masuk.“

Lupakan. Abaikan.

“Kau tanya padaku kenapa aku tak bisa menjauhimu begitu saja? Kau tak bisa menebak alasannya?”

Hentikan. Berhenti membuatku berharap lebih.

“Hentikan. Berhenti berbicara, Park Cheonsa.”

“Kenapa kau tak mau mendengarkanku barang sekali saja?”

Sehun menepis paksa tangan Cheonsa yang menghalangi kenop pintunya. Ia tak mau mendengarkan lagi perkataan Cheonsa. Tidak, jika itu hanya membuat angannya semakin tinggi tanpa ada kemampuan untuk menggapainya.

“Aku mencintaimu.”

Cukup dua kata. Sehun hampir tak mempercayai telinganya sendiri. Ia menoleh dan menemukan mata berkaca-kaca milik Cheonsa. Hanya sebentar, sebab sebelum ia sempat memanggil namanya, gadis itu sudah menghilang di balik pintu kamarnya yang berdebam kencang.

Sehun mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri hingga punggungnya menyentuh pintu kamarnya sendiri. Ia menunduk dan mengusap wajahnya yang terasa kebas.

“Bodoh..”

***

“Hei, ada apa? Mengapa kau tiba-tiba ingin menginap di rumahku?”

Sehun hanya menggeleng dan enggan menjawab.

“Baiklah..baiklah..aku tak akan bertanya. Masuklah dulu..” Chanyeol membukakan pintu rumahnya dan mempersilakan Sehun untuk masuk.

Sehun melangkah masuk ke dalam ruang tamu Chanyeol. Tak ada orang lain di dalam rumah itu selain mereka berdua. Chanyeol mengambil dua kaleng minuman dingin dari kulkasnya dan menyerahkan salah satunya pada Sehun. “Minumlah dulu,” ujarnya.

Sehun hanya sekedar mengangguk. Ia tak membuka minuman itu dan malah menghela napasnya berat. “Maaf merepotkanmu. Apakah keluargamu belum pulang?”

“Orangtuaku sedang tugas ke luar kota, sedangkan kakak perempuanku tak selalu pulang ke rumah setiap hari. Ia menyewa apartemen lain di dekat tempat kerjanya. Kau tak perlu khawatir,” jelas Chanyeol begitu melihat ketidaknyamanan pada mata Sehun.

“Kalau begitu..bisakah dua atau tiga malam selanjutnya aku menginap disini? Aku..sedang tak bisa berada di rumah sekarang..” Sehun menatap Chanyeol dengan tatapan memohonnya.

“Uh..ya..sebenarnya kau bisa setiap hari menginap disini. Tapi aku tak mau bertanggung jawab apabila keluargamu mencarimu nanti.”

Sehun mendengus dan tersenyum kecil, “Tidak akan,” ujarnya.

“Jadi..ada yang bisa kubantu, Tuan Oh?”

“Aku hanya..sedang merasa bimbang..”

“Tentang apa?”

“Hujan.”

***

Sehun bahagia. Tentu saja.

Cheonsa mencintainya. Mereka berdua saling memendam rasa yang sama. Rupanya perhatian gadis itu padanya bukan semata-mata karena Sehun adalah kakak tirinya. Melainkan karena ia menganggap Sehun adalah pria biasa.

Sejak kapankah ia menyukai Sehun?

Apakah Cheonsa yang lebih dulu menyukainya?

Pertanyaan demi pertanyaan mengalir memenuhi benaknya. Ia sendiri masih tidak berani bertemu Cheonsa. Entah apa yang harus ia katakan padanya. Apakah ia harus mengakui perasaannya juga?

Lalu bagaimana dengan kehidupan mereka nantinya?

Sudahlah, Sehun muak dengan omong kosong saudara tiri ini.

***

Pesta ulang tahun Suho.

Pria yang paling tua diantara kelima sahabat Sehun. Pria tersabar dan terpasrah ketika menghadapi lelucon junior-juniornya. Pria dengan kekayaan di atas rata-rata yang tak pernah ragu menggesek kartunya di mana pun  mereka berada.

Sehun menghormati pria itu lebih dari siapapun. Meski tampak ceroboh, Suho selalu dapat menenangkan semua orang dengan kata-katanya. Ia sudah Sehun anggap seperti kakak kandungnya sendiri.

Di pesta itu, Sehun hanya bisa terdiam. Menikmati belaian angin malam di balkon ballroom. Dua malam ia tak pulang ke rumahnya, bagaimana kabar gadis yang dirindunya?

Sehun takut Cheonsa akan salah paham. Ia bukan kabur karena ia tak menyukai gadis itu. Ia hanya tak tahu apa yang harus dilakukan di saat seperti ini. Ia harap Cheonsa tak akan membencinya karena ia bersikap seperti ini.

Rupanya, momentum yang Tuhan ciptakan untuknya selalu tak terduga.

Sehun menemukan gadis itu tepat saat ia hendak memberitahu teman-temannya bahwa Jongin tak bisa dihubungi. Ia bahkan tak tahu mengapa gadis itu bisa berada di tempat ini. Cheonsa, seperti namanya, gadis itu tampak seperti malaikat di mata Sehun malam ini. Gaun berwarna creamnya menjuntai anggun hingga ke lututnya. Rambutnya terkumpul di depan salah satu bahunya, menyisakan beberapa helai poni panjang yang jatuh di samping telinganya.

Kedua mata gadis itu kemudian jatuh tepat pada manik coklat milik Sehun. Saling bertukar pandang, seakan hanya mereka berdua yang hidup di malam ini. Sehun mersa tak lagi dapat menahan langkahnya. Ia berjalan mendekati Cheonsa tanpa melepas tatapannya dari kedua mata gadis itu.

Mendekat, hingga wajah gadis itu berada tepat di hadapannya. Kedua tangan gadis itu berada dalam genggamannya.

“Sehun, aku—“

“Jangan katakan apapun. Aku mohon.” Sehun memotong kalimat Cheonsa sebelum ia meyelesaikannya. “Aku tak ingin lagi menahan diriku malam ini,”

Dan ia menarik Cheonsa bersamanya. Menyusun langkah-langkah mengikuti irama. Mereka berdansa. Tak ada yang keluar dari bibir keduanya, sebab mata mereka telah saling berbicara.

Mengapa Sehun baru menyadarinya? Mengapa ia baru menyadari perasaan Cheonsa terhadapnya? Tidakkah terbayang olehnya betapa menderitanya Cheonsa atas sikapnya selama ini? Berkali-kali ia tinggalkan, berkali-kali ia abaikan. Namun Cheonsa masih mau menerimanya, bahkan dengan keadaan sekotor ini pun, Cheonsa tak pernah meninggalkannya.

Sehun menghentikan gerakannya dan menarik Cheonsa hingga wajah mereka saling berdekatan. Kedua manik Sehun menatap wajah Cheonsa dan Sehun mulai merasa menyesal. Bagaimana bisa ia menyakiti gadis setulus ini?

“Aku, merindukanmu,” bisik Sehun akhirnya. “Sangat..merindukanmu..”

Ia merindukan Cheonsa yang selalu menggenggam tangannya dan tersenyum mendengarkannya. Ia merindukan bahu milik Cheonsa yang bersedia menjadi sandarannya. Segala tentang gadis itu, Sehun merindukannya.

“Maafkan aku..yang tak bisa menahan diriku..”

Sehun mengecup kedua bibir Cheonsa dengan penuh kerinduan. Ia dapat merasakan bahwa pipi gadis itu basah oleh air mata, maka ibu jari miliknya kemudian bergerak untuk menghapusnya.

Lepas setelahnya, Sehun mengecup kening Cheonsa dan mendekapnya erat. Tak akan, ia tak akan lagi meninggalkannya.

“Cheonsa..terima kasih..telah mencintaiku..”

Aku mencintaimu.

***

“Sehun, kau tak akan mencintai gadis lain bukan?”

“Menurutmu?”

“Ya!”

Sehun tertawa sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan, “Tentu saja.”

***

 

OMAIGASH OMAIGASH INI APAAN SIH KOK AUTHORNYA GAK JELAS BANGET MENGHILANG DAN TIBA-TIBA MALAH NGEPOST CHAPTER GEJE KAYAK GINI?!

Iya aku minta maaf banget udah menghilang sekian lama dan mengabaikan cerita ini, hiks hiks hiks..maklumilah aku orangnya moody banget dan jujur aja mood buat ngelanjutin cerita ini sempat menghilang entah kemana.

Pasti chapter ini ngebosenin iya kan iya kan?

Udah lama updatenya, ternyata jadinya malah panjang dan ngebosenin, pasti kalian marah sama aku iya kaan?

Tapi mau gimana mohon maafkan yaa..aku ngerasa gak sreg kalo gak bikin chapter ini, soalnya biar kalian lebih mengetahui bagaimana kehidupan Sehun selama ini gitu..kalo gak suka gak papa kok, ini emang ide nekat aku buat bikin chapter teraneh ini hahaha

Iya jadi ceritanya aku mau menghilang lagi karena entah mengapa udah mau UAS lagi aja. Ha.ha.ha. alasan garing gak? Yaudah pokoknya maafin ya karena aku lama update dan belum bisa lanjut part 7 nya..aku gak pernah maksud buat ninggalin cerita ini kok..tapi mungkin mohon bersabar buat updatenya ya. Part 7 udah ada draftnya, banyak banget malah, tapi belum ada yang bener-bener pas buat aku. Nanti aku bakal update part 7 nya kok, aku janji.

MAKASIH BANYAK BUAT READER YANG UDAH KOMEN DI PART 6 KEMAREN YAA! Itu komen terbanyak yang pernah aku terima..jadi terharu banget..:’)

Maaf kebanyakan curhat. Yaudah as always, comment and like are very welcomed and appreciated guys! Much love from chandoraas~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

87 responses to “[Un]Fated Scene [Part 7]

  1. Ini blm selesai kan ff nya? Knp blm dilanjut juga. Padahal ceritanya bagus dan keren!!!
    Dilanjut dongggg….

  2. halo author…
    aku salah satu pembaca ff ini dari awal hehehe.

    aku sukaaaaaaaa banget banget banget sama ff ini, dari terakhir part 7 ini muncul sampe sekarang udah 2017 (3 thn an lho) masih aku tungguin lanjutannyaa… sampe aku cari ke blog blog yg lain tapi gak ketemu lanjutannya:( sering banget aku mikir “ah udah gak dilanjut kyknya” tapi masih aja balik lagi kesini karena ternyata aku masih nyimpen harapan kalau suatu saat ff ini bakal update lg:(

    aku yakin masih ada orang yg nuggu lanjutan cerita ini sama kyk aku. aku sekarang sih cuma berharap seenggaknya ada kepastian sama ff ini, entah bakal dilanjut atau enggaknya. kalau di lanjut ya syukur seneng banget dengernya, kalau engga ya gak apa apa.

    ini isinya curhatan banget ya wkwkwkwk. gatau sih bakal dibaca atau engga sama authornya. semoga suatu saat author baca curhatan ini~~

    ditunggu kepastiannya thor, entah kapan:( … dan juga sukses selalu thor dimanapun author berada<3

    -salam rindu dr penggila couple sehun-cheonsa

  3. samaaa!!! gue juga udah baca ff ini dari lama (gara-gara adek gue rekomen ke gue betapa kerennya ini ff). sampe akhirnya muncul chapter 7, dimana author bilang bukan ending, tapi sampe sekarang belom ada lanjutannya T_T

    gue cuma pengen bilang, gue dan adek gue juga salah satu dari sekian banyak orang yang nungguin ff ini. temen-temen gue juga banyak loh yang demen dan nungguin ff ini.

    entah ya, ceritanya fresh, beda sama cerita ff romance pada umumnya. penulisan bagus banget, bikin ngena pas bacanya. gue bener-bener nangis loh baca ini. dan gue berkali-kali ngulang baca pun ga bosen.

    jadi mungkin harapan para pembaca yang sudah jatuh hati dengan kisah rumitnya sehun-cheonsa, dan yang udah setia nungguin ff ini, adalah munculnya chapter selanjutnya..

    maap nih thor terkesan nuntut banget :’)

    intinya gue dan banyak pembaca di luar sana udah jatuh hati sama ff ini, dan gue seneng pernah baca ff sekeren dan seepik ini. makasih banyak kepada author chandoraas yang udah nulis cerita seperti ini ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s