[Series] Marriage Contract? (Chapter 4 :I’m Pregnant)

Poster Marriage Contract Chapter 4

|Author : Asih_TA|

|Tittle : Marriage Contract? (Chapter 4 :I’m Pregnant)|

|Story & Art : By Asih_TA|

|Main Cast : Jung Eun Soo (OC), Oh Sehun (EXO)|

|Other Cast : Suho (EXO), Jeon Jungkook (BTS), Soyu (Sistar), Jung Luhan (EXO), Jiyeon (T-ara)|

|Genre : Romance, Married Life, Little Smut, Tragedy|

|Leght  : Multichapter|

|Rated  : PG 17+|

|Disclaimer : Anneyong semua, bertemu lagi dengan Author. Ff ini atas pemikirian Author sendiri. Selamat membaca 😀 , Oh iya Komentarnya jangan lupa 😀 |

|Contact Author : https://www.facebook.com/asihe.forevershinee1|

THIS IS MY STORY! NO PLAGIAT!

Link Marriage Contract ( TeaserChapter 1 Chapter 2 – Chapter 3 (dipassword) Chapter 4 – Chapter 5 – Ongoing )

Chapter 4

.

.

.

Sehun berjalan mondar-mandir di ruang tunggu rumah sakit, perasaannya berkecambuk bercampur rasa senang dan gelisah. Laki-laki itu terlihat sangat berantakkan mulai dari rambut, pakaian dan raut wajahnya.

Sesekali mata tajam namja itu melihat kearah sisi pintu lain berharap seseorang muncul menghampirinya dan menampakkan raut wajah yang begitu bahagia. Harapan itu memang terjadi namun hal itu terkadang tak sama.

“ Apakah anda suami dari Nona Jung?”

Seorang laki-laki mendekatinya namun dengan raut wajah yang begitu sulit di artikan, tak sesuai harapan. Sehun terdiam sebelum bersuara “ Ya aku suaminya.” Ujarnya dengan penuh keyakinan di setiap mata jernihnya. Sang Dokter menghela nafasnya berat sebelum memulai pembicaraan.

“ Baiklah, bisa ikut saya.”

Ucapan Dokter tersebut sebagai perintah agar laki-laki itu menurutinya, Sehun mulai melangkahkan kakinya menyamai langkah sang Dokter yang berjarak beberapa centi di depannya. Ada sesuatu yang sedang menganjal di hatinya, sebuah rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Katakanlah ia egois, katakanlah ia kejam. Mungkin itulah yang sedang di alaminya, apa boleh buat Tuhan terlalu memperumit cobaan seseorang hingga menyisahkan rasa sakit dan kebahagiaan tersendiri bagi yang merasakannya.

Debu-debu akan masa lalu tergiang dalam fikiran dan batinnya, kenyataan bahwa istrinya mencintai laki-laki lain bukanlah hal yang sewajarnya. Membuat kontrak hanya untuk kembali pada seseorang pada masa lalunya membuat luka itu seperti di sebar dengan serpihan garam. Terlebih lagi melihat istrinya lebih bahagia bersama orang lain dan itu bukan dirinya.

Langkah mereka berhenti di dalam ruangan pribadi milik sang Dokter, ruangan yang cukup besar untuk ukuran Dokter ahli kandungan. Ia mempersilahkan laki-laki itu untuk duduk di kursi yang memang di persilahkan untuk pasien atau yang berkaiatan dengan sang pasien. Sang Dokter menatap laki-laki yang berhadapan dengannya, tampaknya ia bingung harus di mulai dari mana

“ Selamat Tuan Oh, Istri anda sedang dalam keadaan mengandung.” Ujar sang Dokter dengan sedikit penekanan pada cara bicaranya. Sehun terdiam kaku namun sedetik kemudian ia menarik sudut bibirnya, ia bahagia. Anak manusia sedang tumbuh dan berkembang di rahim istrinya, benih cinta mereka. Ya, hasil percintaan yang mungkin hanya menerima pada satu pihak saja.

Raut wajah Dokter sedikit berubah serius dan penuh kepastian “ Tapi saya tidak yakin dengan keadaan tubuhnya yang begitu lemah.”

Pandangan Sehun melebar, laki-laki itu terlihat terkejut dan terhina “ Apa maksudmu?”

“ Kondisi sang Ibu bisa berpengaruh pada janinnya.” Ujar Dokter. Sehun, laki-laki itu menundukkan kepalanya, mengepalkan tangannya kuat. Lebih tepatnya Mengutuki dirinya sendiri .

‘Bagus Oh Sehun, kau ingin menghancurkan hidupnya lagi, tak cukupkah dengan membuatnya selalu menangis. Apa lagi yang kau inginkan? Kau ingin menjadi Ayah yang buruk untuk anakmu kelak, mengatakan bahwa anak ia lahir dengan keterpaksaan. Untuk apa? Untuk membahagiakan orang tuamu di atas penderitaan istrimu sendiri’

Sehun harus menelan rasa sakit itu bulat-bulat, membiarkannya membakar seluruh isi perutnya. Namun apa daya ia terlalu sulit untuk menerima kenyataan yang tengah terjadi.

Sang Dokter yang melihat semua perilaku laki-laki tersebut hanya dapat menghela nafasnya berat “ Saya tau perasaan anda sekarang, tapi saya akan memberikan solusi dari masalah anda Tuan Oh.”

Sehun mengangkat kepalanya menatap sang Dokter tersebut “ Solusi?”

“ Benar sekali, sebagai seorang suami kita harus tau apa yang perlu kita pertanggung jawabkan. Jika istri anda sedang dalam keadaan stress bawa dia ke tempat yang menurutnya nyaman, buatlah ia setenang mungkin sampai dia benar-benar dapat melepaskan penat dari pertikaian yang sedang dialami.” Ujar sang Dokter panjang lebar. Sehun, laki-laki sedikit memahami perkataan yang baru saja di telontarkan oleh sang Dokter.

“ Dan satu lagi.” Ucap sang Dokter kembali.

“ Jangan melakukan hubungan suami-istri untuk sementara waktu.”

Sehun terdiam kemudian menelan ludahnya secara perlahan, sanggupkah ia untuk tidak menyentuh istrinya barang sedikitpun.

“ Untuk saat ini Eun Soo butuh istirahat yang cukup dan anda dapat menemuinya sekarang Tuan Oh.”

Pembicaraan mereka berakhir begitu cepat, hingga pada akhirnya Sehun berdirikan tubuhnya dari tempat duduknya. Mulai melangkahkan kakinya berjalan menuju tempatnya semula, mulutnya membisu bahkan pada saat keluar dari ruang pribadi sang Dokter. Haruskah ia melihat yeoja itu sekarang?

Laki-laki itu berdiri di ambang pintu di mana tubuh Eun Soo di rawat, sejenak ia menghembuskan nafasnya sesaat dan meraih knop pintu bewarna abu-abu tersebut.

Cklek . .

Pintu terbuka lebar dan membiarkan mata tajamnya melihat isi ruangan yang berdominasi biru muda itu, perlahan tapi pasti ia melihat yeoja itu tengah duduk sambil bersender di badan tempat tidur rumah sakit. Langkah besarnya menghantarkannya mendekati yeoja itu. Laki-laki itu menduduki dirinya di pinggir ranjang.

“ Aku hamil bukan.” Yeoja itu mulai bersuara, namun laki-laki itu dapat merasakan getaran dalam cara bicaranya.

“ Dan bukankah ini yang kau inginkan.” Sambungnya kali ini menatap laki-laki itu tajam dan penuh emosi.

Sehun terdiam, namun membiarkan mata hitamnya menatap mata intemidasi dari yeoja itu. Satu yang namja itu ketahui, yeoja itu tengah frustasi mengetahui kabar tersebut. dengan gerakan halus namja itu mengangkat tangan kanannya dan mencoba meraih puncak kepala yeoja itu namun sebuah tangan mungil terlebih dahulu menepisnya secra tidak manusiawi.

Sehun membisu ketika Eun Soo bersikap tak seperti biasanya. Namun rasa egois kembali menguasai pikiran dan tubuhnya “ Jangan menolakku Eun Soo.”

Laki-laki itu terlihat menahan hasratnya untuk tidak menyentuh yeoja itu saat ini. Eun Soo menundukkan kepalanya membiarkan wajahnya melihat lantai, ia menyembunyikan wajahnya lagi di antara kedua lututnya.

“ Jangan sembunyikan wajahmu, lihat aku.” Sehun menarik dagu kecil yeoja itu hingga mata mereka bertemu. Eun Soo, yeoja itu menangis lagi terlihat dari kantung matanya yang siap menampung air bening itu kembali. Betapa remuknya hati laki-laki itu melihat wajah istrinya yang terbilang sangat kusut. Namun apa yang bisa ia perbuat untuk memperbaiki apa semuanya sesuai keinginannya. Ya, laki-laki itu terlalu egois.

Sehun mendekatkan wajahnya beberapa centi dari wajah istrinya “ Berhenti menangis dan tolong jangan acuhkan aku.”

Eun Soo bereaksi kaku ketika wajah laki-laki berada beberapa jarak di antara mereka, deruan nafas hangat dari kedua insan tersebut menyatuh dan menerpah kulit mulus masing-masing. Semuanya terasa begitu nyata, bahkan hampir seluruhnya. Benih itu sudah tumbuh dirahimnya dan akan terus tumbuh dan berkembang menjadi bayi yang sesungguhnya.

Sehun meraih tubuh lemah yeoja itu hendak membekapnya dalam pelukan hangatnya namun tangan kecil yeoja itu menahan pergerakannya di dadanya.

“ Kau jahat Oh Sehun, apa lagi yang kau inginkan? Tak cukupkah dengan selama ini, tak cukupkah dengan sikapmu selama ini, tak cukupkah dengan keegoisanmu selama ini!” Yeoja itu berteriak sambil memukul-mukul dada bidang laki-laki itu sangat keras, namun Sehun hanya dapat menatap yeoja dengan tatapan rendah dan iba.

“ Aku membenc-“

Perkataan Eun Soo terhenti ketika sebuah benda kenyal dan basah melahap bibir mungilnya secara paksa, Eun Soo semakin gencar memainkan tangannya untuk terus memukul-mukul dada laki-laki itu, tapi naasnya Sehun menahannya.

Lagi-lagi Sehun tidak membiarkan Eun Soo untuk memberikan pasokan oksigen barang sedikitpun, laki-laki itu tampak kecewa, bahkan sangat kecewa. Ia tau yeoja itu akan mengucapkan kata itu, kata yang tak ingin ia dengar.

‘Bukan ini yang ku inginkan, kau tak boleh membenciku’

***

.

Seorang laki-laki tengah menyelesaikan tugas kantor yang menumpuk di ruang kerjanya, mulutnya sesekali menguap dan matanya yang sedikit memerah. Ia meregangkan tubuhnya untuk melepaskan lelah dan letih yang merasuki tulang-tulang rusuknya.

“ Ya ampun banyak sekali berkas-berkas ini.” Ucap laki-laki mengeluh.

Seseorang memasuki ruang kerjanya tanpa mengetuknya terlebih dahulu, laki-laki itu awalnya biasa saja namun melihat siapa yang datang membuatnya terkejut luar biasa, bukan kerena kedatangannya namun raut wajahnya terbilang sangat garang dan seram.

“ Su-suho.”

Laki-laki bernama Suho tersebut menatapnya secara tajam dan penuh penekanan.

“ Ya! Jeon Jungkook, rencanamu tidak menguntungkan bagiku.” Teriak Suho mengema di setiap sudut ruangan, namun laki-laki bernama Jungkook tersebut hanya dapat menatapnya dengan tatap heran dan tak percaya.

“ Aigoo, kenapa wajahmu seperti ini.” Jungkook berjalan mendekati Suho dan menarik wajahnya memperhatikan setiap memar yang berada di sudut bibirnya.

Jungkook mengangkat sebelah alisnya “ Jangan bilang kalau Sehun menghajarmu lagi.”

Pandangan Suho mengedar malas, kenapa ia sangat lambat untuk menangkap peristiwa tersebut, seharusnya dari awal ia menolak perencanaan gila sahabatnya yang terbilang sangat ekstrim itu.

“ Jadi bagaimana?”

“ Bagaimana apanya?”

“ Kau masih tertarik dengan Eun Soo Nona.”

Bodoh, mengapa Jungkook bertanya seperti itu, bukankah itu bisa membangkitkan sisi lain Kim Suho. Suho terdiam sesaat sebelum pertanyaan itu merasuki indra pendengarannya. Namun raut wajah itu berubah menjadi lebih aman dan tidak berbahaya.

“ Kau pikir aku laki-laki seperti apa huh? Memang aku pernah menaruh rasa tertarik itu, tapi sampai pada saat ini pun rasa itu tidak boleh tumbuh.” Tutur Suho dengan rasa percaya yang membuat Jungkook sedikit mengerti tentang kisah cinta sahabatnya.

“ Bukankah Sehun tetap sahabat kita.” Lanjutnya, Jungkook langsung merangkul patner sekaligus sahabatnya tersebut. ia bahagia.

“ Kau benar, kita tetap sahabat aku, kau dan Sehun.”

***

.

Keesokan hari, 09.00 AM

Pandangan seorang gadis menatap lurus apa yang ada dihadapannya, membiasakan matanya mencari kedatangan laki-laki yang sedari tadi ia tunggu-tunggu. Kakinya ia hentak-hentak membiarkan menjadi nada tersendiri di lorong ruangan, ia tengah kesal atas ketidak puasan akan laki-laki itu. Namun gadis itu tidak tinggal diam, ia berjalan lagi kearah seoarang wanita yang berumur sekitar 30 an.

“ Apa saya boleh tau, apakah Sehun ada?” Gadis itu mencoba mencoba mencari sebuah informasi untuk mengatahui akan semua rasa penasarannya.

“ Oh Tuan Muda Oh Sehun, ia tidak masuk hari ini.” Jawab wanita itu yang tampaknya asisten bawahan Laki-laki itu.

“ Benarkah? Kalau saya boleh tau dia kemana .” Tanya yeoja itu lagi.

“ Maaf, Tuan Muda Oh Sehun melarang saya untuk memberitaukannya.”

Bagai terkena sambaran petir, ucapan wanita membuat gadis itu terdiam dan tidak dapat berkutik.

“ Apa anda ingin membuat janji dengan Tuan Muda?” Ucap wanita itu lagi dengan senyum yang tak pernah jengah oleh bibir tipisnya.

“ Baiklah, jika Tuan Muda Oh Sehun sudah pulang. Katakan padanya, saya Park Jiyeon ingin bertemu dengannya.” Ujar gadis bertag name Park Jiyeon sambil tersenyum sinis.

***

.

Pagi itu Sehun berdiri di balkon kamarnya, bertautan pada pikirannya. Angin pagi menerpa wajahnya membiarkan setiap helaian rambut coklatnya tertiupkan oleh dinginnya malam. Bukan hal yang biasa jika pemuda itu merenungi dirinya, berpikir jernih untuk sesaat, mencari ketenangan di embun pagi. Keadaan yang tak pernah ia sangka menjadi titik terang akan masalahnya.

Laki-laki itu memejamkan matanya sejenak sebelum menghirup oksigen dan membawanya melalui saluran pernafasan menuju paru-paru untuk dapat berkontraksi dengan baik kemudian menghembuskannya secara perlahan dan membiarkannya menjadi karbondioksida.

Gesekan engsel pintu membuyarkan seluruh konsentrasi laki-laki itu

“ Semuanya sudah siap Tuan.”

Sehun, laki-laki itu mengangguk paham dan perlahan berjalan mengambil kunci mobilnya dan beberapa koper yang sudah ia siapkan beberapa jam yang lalu. Untuk hari ini ia tidak banyak berbicara, tampaknya moodnya sedang tidak baik.

Dia membuka garasi belakang mobil dan memasukkan 2 pasang koper kedalamnya, kemudian memasuki mobil hitamnya dan hendak memulai untuk menjalankannya. Sebelum ia menghidupkan mesin mobilnya, Sehun mengambil handpone genggam miliknya dan menghubungi nomor yang tak sempat ia hubungi beberapa jam yang lalu.

Bunyi nada sambung panggilan tersebut berlangsung cukup lama namun kemudian berhenti yang menandakan sang penghubung telah menerimanya.

“ Yeobseo. . . Ini aku Oh Sehun, aku ingin berbicara denganmu di tempat biasa.” Ujarnya dengan nada dingin bahkan arogan.

***

.

Eun Soo termenung begitu lama di kamar rumah sakit, pandangan matanya menatap lurus kedepan seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ruangan yang sunyi membuatnya sedikit betah di dalamnya, walau hanya terdengar samar-samar hujan yang mulai turun pagi itu, hanya saja tidak begitu deras seperti rintik-rintik hujan.

Tangan kanan gemulai yeoja itu terangkat indah hingga menyentuh perut ratanya kemudian mengelusnya secara perlahan. Ia tidak tau kalau kala itu akan benar-benar terjadi dalam waktu sesingkat ini. Tapi apa yang salah sebenarnya, percuma ia menunggu laki-laki itu untuk datang ketika seluruh hidupnya telah ia berikan kepada laki-laki dari anak itu.

Oh Sehun, satu nama yang entah mengapa membuat dadanya terasa sesak. Laki-laki yang telah meninggalkan beberapa jam yang lalu. Ciuman itu kembali tergiang di dalam pikirannya, bagaiamna laki-laki itu bersikap tehadapnya. Namun ketahuilah sesungguhnya yeoja itu merasakan keganjalan dari setiap gerakan laki-laki itu. Wajah yang memberikan gambaran sesuatu yang begitu tajam, aura yang terpancarkan juga terasa aneh. Ada apa dengan laki-laki itu?

Bunyi knop pintu seperti sedang diputar terdengar hingga ke indra pendengaran yeoja itu, ia menolehkan kepalanya mencari sosok pelaku itu. Kepala seorang laki-laki muncul hingga menampakkan seluruh tubuhnya, sosok itu adalah sosok yang beberapa menit lalu ia ingat, ‘Oh Sehun’

Laki-laki itu menarik 2 koper di tangan kanan dan kirinya kemudian memawanya masuk, sebuah perntanyaan muncul di benaknya. Apa yang di lakukan laki-laki itu?

“ Ada apa ini?”

Sehun menoleh dan memanggil seseorang dari luar ruangan, sedetik kemudian muncul seorang laki-laki paru baya yang menunduk hormat padanya. Perasaan aneh semakin muncul di dalam benak yeoja itu.

Tunggu? Yeoja itu merasakan hal yang janggal ketika melihat kedua koper itu secara bergantian. Koper yang bewarna putih dan hitam. Buakankah itu koper yang mereka bawa setelah mereka menikah? Entahlah yeoja itu tidak mengerti. Bola matanya ia gerakkan lagi menatap laki-laki yang ada di hadapannya, meminta penjelasan lebih lanjut.

Sehun yang mengerti akan tatapan itu menghembuskan nafasnya jengah “ Kita akan pergi.”

Mata Eun Soo membulat seketika “ Apa maksudmu?”

Sehun menduduki dirinya di pinggir tempat tidur “ Eomma menyuruhku untuk pergi ke Cina karena melanjutkan bisnis appa di sana.”

“ Lalu?”

“ Lalu Eomma melarangku meninggalkanmu sendiri.”

Eun Soo memejamkan matanya sejenak untuk menetralkannya nafasnya agar dapat bernafas normal kembali “ Jadi, aku harus ikut begitu?”

“ Begitulah, aku harap kau tidak menolaknya dan aku sudah membawa seluruh pakaianmu saat aku pulang ke rumah tadi. Dokter sudah mengizinkanmu untuk pulang hari ini.” Ucap Sehun.

“ Bagaimana dengan kuliahku?”

“ Eomma sudah mengatur semuanya.”

Sehun beralih menatap laki-laki paru baya yang berada tepatnya di sampingnya “ Bawa kembali koper ini kedalam mobil Luhan hyung, ia sedang menunggu di luar.”

Laki-laki itu menunduk kembali sebelum meninggalkan ruangan, Sehun menatap yeoja yang masih betah di atas tempat tidur rumah sakit tersebut.

“ Bersiap-siaplah penerbangan akan di mulai pukul 10, masih ada waktu 1 jam lagi. Pergilah dulu ke bandara aku akan menyusul nanti, ada yang ingin aku selesaikan terlebih dahulu.”

Sehun mengakhiri pembicaraannya lalu memberikan sebuah kotak yang cukup besar dan meletakkannya di samping tubuh Eun Soo kemudian berjalan menuju luar ruangan dan menutup pintunya kembali dengan pelan. Eun Soo membisu cukup lama dan mengambil kotak tersebut kemudian membukanya. Sebuah baju hangat yang sangat cantik bewarna pink dengan bulu-bulu halus di sekitar penutup kepalanya. Apakah Sehun membelinya? tapi untuk apa?

***

.

Keramaian restoran Hwang begitu terasa padat, banyak pengunjung yang datang untuk menghabiskan waktu mereka terlebih lagi cuaca sangat buruk di luar sana. Suho juga tengah berada di antara keramaian lautan manusia dan merasa jengah menunggu seseorang yang telah membawanya sampai tempat itu.

Berbagai pertanyaan muncul dalam benak laki-laki itu. Mungkin ia akan mengulang kejadian beberapa saat yang lalu. Bukankah itu memalukan, tapi mau bagaimana lagi laki-laki itu pasti butuh sebuah jawaban yang pasti.

Suho melihat jam yang terlilit gagah di pergelangan kirinya, ia sedikit mengaruk kepalanya. Bukan karena gatal melainkan menunggu perasaan yang tak sabaran itu.

Selang beberapa saat muncul seorang laki-laki yang langsung mengambil ahli tempat duduk yang berada tepat di hadapannya. Suho menyeritkan dahinya heran karena laki-laki itu menggunakan topi dan kacamata hitam. Namun di lihat dari fostur tubuhnya dapat disimpulakan bahwa laki-laki itu lah yang membuatnya sampai di tempat itu.

“ Ck, Untuk apa kau menyuruhku kesini ‘Oh Sehun’.”

Sapaan yang sangat manis setelah acara pukul-pukulan yang terjadi beberapa jam yang lalu. Sehun hanya memasang wajah datar dan tak merasa terganggu dengan sindiran tersebut.

“ Tampaknya kau tau apa yang ingin aku sampaikan bukan?” Sehun bersuara untuk pertama kalinya, tapi begitu menusuk dan tidak bersahabat.

“ Ternyata kau masih mempermasalahkannya.”

Sehun menyeringai, ia masih menyimpan rasa kekesalan terhadap laki-laki yang ada di hadapannya. Sejak acara makan siang itu, masing-masing dari mereka masih menyimpan rasa ingin membunuh satu sama lain.

“ Kau lupa apa yang pernah ku katakan padamu.”

Suho tertawa sinis mendengar sebuah kalimat yang di telontarkan oleh Sehun, nada yang begitu meremehkan “ Sepertinya aku tidak perlu mengingatnya.”

Mata mereka saling bertemu dan menatap tajam satu sama lain “ Ternyata hubungan kita hanya sekedar patner kerja.” Ucap Sehun.

Suho mengambil minuman yang berada di depannya kemudian meminumnya sekali tegukkan lalu menghapusnya secara kasar air yang mengalir dipinggir sudut bibirnya menggunakan tangan kanannya. Mata tajam Sehun tidak pernah berhenti melihat semua pergerakkan laki-laki itu. Lebih tepatnya, menatapnya tidak suka.

Kita sahabat dan sahabat tidak boleh mengambil apa yang sudah menjadi miliknya, bukankah begitu maksudmu Tuan Muda Oh Sehun.” Suho menatap Sehun dengan penuh kebencian. Perkataan itu, ya perkataan yang baru saja di ucapkan oleh Suho mengingatkan ia kepada masa lalu mereka.

“ Apa kau pernah menganggap hubungan kita di sebut sebagai sebuah persahabatan?”

“ Apa kau pernah menganggap kami sebagai sahabatmu?”

“ Apa kau pernah menganggap kami ada?”

“ Apa kau pernah menghargai kami?”

Suho memohoknya dengan semua cemooh dan makian pada laki-laki itu, ia murka akan semua kelakuan Sehun. Selama ini ia mencoba untuk tidak berbicara lebih kasar dari itu, ia tau perbuatannya sebagai karyawan laki-laki itu tak layak di perlakukan. Memakinya dengan berjuta pertanyaan yang begitu saja lolos dari bibirnya.

Sehun bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Hal itu membuat Suho semakin menggeram, tentu saja menaikkan rasa kekesalannya.

“ Apa seorang bawahan boleh berbicara seperti itu?” Ucap Sehun dengan arogannya.

Suho terpojok, ia menarik kerah baju laki-laki itu hingga tatapan tajam itu kembali terjadi “ Aku muak dengan sikapmu selama ini.”

Sebuah seringaian kembali muncul di wajah dingin Oh Sehun, menantang tatapan tajam laki-laki itu. Ia melepaskan tangan Suho yang mencengkram kerah bajunya dengan sangat kasar kemudian kembali merapikannya.

“ Setidaknya kau menginggat ucapan yang pernah ku katakan padamu dulu.”

Sehun mengakhiri perkataannya dan hendak meninggalkan tempat itu namun sebuah tangan terlebih dulu menahannya bahu kirinya.

“ Baiklah aku akan mengalah, tapi . . . “ Suho sengaja menggantungkan kalimatnya dan itu membuat Sehun menatapnya tajam “ Tapi jika kau menyakitinya lagi aku tidak akan segan-segan mengambilnya dari hidupmmu.” Lanjutnya dan sukses membuat Sehun mengepal kedua tangannya kuat.

***

.

Eun Soo sudah bersiap-siap sejak 20 menit yang lalu. Namun ia masih betah berdiam diri di dalam ruangan rumah sakit yang ia tempati. Ia berjalan sedikit tertatih menuju sebuah cermin yang lumayan besar di sisi dinding kamar tersebut.

Menatap diri di cermin bukan hal biasa yang di lakukannya. Tangan kanan nan mungil itu bergerak sendiri seperti isyarat dari olahan pikirannya, tersenyum miris dan mengelus wajahnya di pantulan cermin. Lihatlah begitu kusut wajah manis nan indah yeoja itu, lingkaran mata di sekeliling matanya membuktikan ia tidak dapat tidur dengan maksimal.

“ Lihatlah, kau sangat menyedihkan bukan.” Yeoja itu berbicara dengan pantulan dirinya sendiri di cermin.

Di saat yang bersamaan seseorang muncul dari balik pintu. Eun Soo menolehkan kepalanya dan mendapati sosok kakak laki-lakinya ‘Jung Luhan’. Eun Soo membisu, ia melupakan kehadiran kakaknya yang tengah menunggunya di luar.

“ Kau sudah siap?” Tanya Luhan sambil memperhatikan penampilan adik perempuannya.

Lagi-lagi Eun Soo masih membisu, ia merasa canggung berbicara dengan kakaknya setelah beberapa minggu tidak bertegur sapa, Tepatnya perdebatannya karena laki-laki itu.

Luhan tau bahwa adik perempuannya masih enggan berbicara dengannya, namun bagaimana pun ia tau hubungan saudara tidak boleh renggang hanya karena masalah sepele.

“ Aku akan menunggumu di luar dan aku akan langsung mengantarmu.”

***

.

Bandara Incheon pagi itu cukup ramai, beberapa dari beberapa negara ada di sana. Eun Soo dan Luhan baru sampai setelah perjalanan yang cukup lama, luhan membantu Eun Soo mengambil koper yang berada di bagasi mobil miliknya.

Mereka duduk sambil menunggu kehadiran Sehun, Luhan memberanikan dirinya untuk mendekati Eun Soo yang duduk di sampingnya. Tangannya ia senderkan di bahu kecil milik Eun Soo. Yeoja itu masih diam namun tak menolak perlakuan kakak laki-lakinya.

“ Kau masih marah padaku?” Tanya Luhan yang masih nyaman dengan posisinya.

Eun Soo menolehkan kepalanya menatap sosok laki-laki yang merangkulnya “ Kenapa kau berpikir seperti itu, oppa?”

Senyum Luhan semakin merekah ketika Eun Soo menjawab pertanyaan walau masih terkesan dingin, tak apa asalkan mereka tak diam-diaman seperti sebelumnya.

“ Chukkae.” Ucap Luhan sambil mencium kening Eun Soo.

Eun Soo menutup matanya menerima kecupan hangat yang di berikan kakak laki-lakinya, tampaknya ia juga tidak tahan untuk berlama-lama mendiami Luhan. Ia juga sangat merindukan perlakuan kakaknya tersebut.

“ Chukkae?” Tanya Eun Soo mengulang perkataan Luhan yang terkesan amigu.

“ Sebentar lagi eomma akan mempunyai cucu yang manis.” Jawab Luhan.

“ Kau mengetahuinya oppa?”

Luhan menganggukkan kepalanya mantap “ Sehun yang memberitaukannya.”

Mata Eun Soo merendah mengingat ia sekarang sudah berbadan dua. Ia tau ini lah perjanjian bodoh yang menjebak seluruh keluarganya untuk percaya pada keluarga Oh.

“ Sehun!” Luhan berteriak memanggil Sehun yang sedang berjalan di ambang pintu. Eun Soo mengikuti arah pandangan kakak laki-lakinya, cukup susah mendapatkan sosoknya di antara ramainya manusia.

Namun satu titiknya ia mendapatkan sosok itu tengah berjalan mendekati mereka. Senyum tipis terpampang jelas di wajahnya ketika melihat Eun Soo memakai baju yang ia beli beberapa jam yang lalu.

‘ Ting . . tong . . ting . . Penerbangan pesawat menuju Beijing akan segera Take off, untuk seluruh penumpang menuju Beijing, China. Agar segera melakukan boarding pass ‘

Suara pemberitauan terdengar hingga ke seluruh tempat di Bandara.

“ Baiklah kalau begitu Sehun-ah, my baby sister. Jaga diri kalian masing-masing di sana, jangan lupa untuk selalu menjaga adikku Oh Sehun.” Ucap Luhan berpamitan dengan Eun Soo dan juga Sehun.

“ Ne terimakasih hyung.” Sehun menarik tangan Eun Soo untuk mengikuti langkahnya. Dapat Eun Soo rasakan suhu tubuh laki-laki itu hingga ke kulit terdalam sekalipun.

***

.

“ MWO!!! Eun Soo nona hamil?” Teriakan Jungkook menggema hingga seluruh ruangan dapat mendengarnya, buru-buru Suho langsung membekapnya dengan kedua tangannya. Ia tak habis pikir bagimana ia mempunyai sifat ceroboh seperti sahabatnya tersebut.

“ Kau bisa membuat seisi kantor ini mengetahuinya, Bodoh.” Ucap Suho mengeram karena sampai saat ia membekap mulut laki-laki itu masih saja bergumam tidak jelas.

Dengan cepat Jungkook melepas gengaman tangan Suho “ Dari mana kau mengetahui berita ini?”

“ Aku mengetahuinya dari Luhan Hyung, ia meneleponku beberapa menit yang lalu dan menyuruhku untuk tidak menyebarkan berita tersebut.”

Jungkook mengangguk mantap seperti mengerti mengerti arah pembicaraan mereka “ Jadi, Apakah Cheou tau tentang masalah ini?”

Suho menggeleng dengan cepat “ Aku rasa dia belum tau tentang masalah ini, lagi pula kalau pun dia tau mengenai hal ini apakah mungkin Cheou dengan mudah menerimanya tapi ak-“

BRAK . . .

Hempasan pintu berbunyi dengan keras hingga dua insan tersebut harus berhenti dan menolehkan kepala mereka melihat ke sisi pintu utama memperhatikan seorang yeoja yang sedang menahan tangisnya. Seketika mata dua namja itu membulat mengetahui siapa pemilik orang yang mamasuki ruang kerja mereka.

“ Ji-jiyeon?” Ucap Suho sedikit terbata-bata. Ia terlihat gugup seperti sedang ketahuan berbuat kejahatan.

Mata jiyeon penuh dengan air mata, kepalanya menunduk dan mengepalkan kedua tangannya kuat. Suho dan Jungkook menatap satu sama lain seperti mengisyaratkan untuk segera mengatasi masalah ini. Namun Suho terlihat ragu.

“ Aku harap aku tidak salah dengar Suho-sii, Apakah benar Eun Soo hamil?” Tanya Jiyeon dengan tatapan tajam dan begitu menusuk.

Suho terdiam, tidak berani menantang wajah itu. Ia takut membuat yeoja yang ada di hadapan jatuh lebih dalam lagi ke dalam lubang yang lebih besar bahkan tak berdasar. Entah mengapa melihat yeoja itu menangis membuat hatinya seperti di iris-iris dengan pisau yang begitu tajam dan sangat kuat.

Jungkook berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Jiyeon yang berada di ambang pintu “ Untuk apa kau menanyakan hal tersebut, Kau tak berhak atas hidup mereka.”

Jiyeon menatap Jungkook dengan tatapan mengintrogasi “ Dan kau pikir aku akan menyerah?”

Suho membulatkan matanya sekaligus terkejut “ Apa maksudmu jiyeon-ssi?”

“ Cih persetan dengan ‘Hukum’ aku akan melakukan apa pun untuk menghancurkan Eun Soo walau sekalipun dengan membunuh bayinya.”

PLAKK . .

Suho menampar pipi Jiyeon, entah sejak kapan namja itu sudah berdiri di hadapan yeoja itu. Ia menatap wajah Jiyeon penuh dengan penekanan, Jungkook yang menjadi saksi bisu terkejut dengan perlakuan Suho tersebut.

“ Sejak kapan orang tuamu mengajarkan hal tersebut Park Jiyeon.” Teriak Suho hingga menampakkan urat-urat nadi lehernya.

“Orang tua? Bahkan aku lupa siapa orang tuaku.” Ucap Jiyeon sambil memegang pipinya.

“ Oh . . Aku lupa bahwa kita adalah sepupu bukan? Bahkan kau sangat membenciku dan keluargaku bukan?” Lanjut Jiyeon menghapus air matanya dengan kasar dan langsung berlari dari ruangan tersebut tanpa memperhatikan setiap orang-orang yang berlalu lalang menatapnya heran.

“ Apa yang kau lakukan, Bodoh. Kau membuatnya semakin terluka.” Komentar Jungkook yang melihat adegan panas tadi.

Suho yang terlanjur merasa bersalah pada Jiyeon langsung mengejar Jiyeon yang sudah jauh darinya. Sedangkan Jungkook hanya dapat melihat punggung sahabatnya tersebut dari jauh dan mulai hilang di balik pintu. Suho semakin mempercepat langkahnya untuk menjelaskan semuanya kepada yeoja itu namun kakinya tak kunjung sampai “ Bodoh Apa yang ku lakukan, kenapa kau tidak mengerti juga Park Jiyeon, kenapa kau tidak sadar akan akan sikapku.” Rutuknya dalam hati.

***

.

Penerbangan sudah di mulai 20 menit yang lalu, Eun Soo dan Sehun sudah duduk tenang di dalam pesawat yang sedang landas. Sehun sedang melihat Eun Soo yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Ia menarik wajah yeoja itu semakin dekat dengan bahu kirinya menyuruhnya untuk bersandar tanpa harus membangunkan yeoja itu.

Ia memperhatikan setiap tekukan wajah itu dan merabanya dengan tangan kanannya. Membelainya dengan setuhan alami yang di milikinya.

“ Tak apa, cobalah perlahan.”

Seketika ia teringat akan perkataan kakak iparnya beberapa hari yang lalu, ia tidak yakin akan hal itu. Membuat dirinya berubah bukanlah hal yang mudah terlebih lagi yeoja itu tidak mudah di taklukkan.

“ Kenapa kau tidak bisa membukakan hatimu untukku.” Ucap Sehun seperti berbisik. Namun yeoja itu tidak bergeming dari alam tidurnya membuat laki-laki hanya menghela nafasnya berat.

Cup . .

Sebuah kecupan manis mendarat indah di dahi yeoja itu. Yeoja itu sedikit bereaksi dengan menggeliatkan tubuhnya.

“ Apa aku terlalu egois untukmu?” Ujar Sehun masih betah membisikan kalimatnya kepada Eun Soo.

“ Mianhae.” Sehun melanjutkan kalimatnya menatap lekat wajah yang berada beberapa senti darinya. Andai saja yeoja itu mendengar semua yang di ucapkan oleh namja itu mungkinkah ia akan luluh dan berhenti pada cinta 2 tahunnya tersebut.

***

.

Jam menunjukkan pukul 5 sore, seluruh penghuni kantor telah menyelesaikan tugas mereka. Tak sedikit dari mereka yang yang melakukan kerja lembur. Jungkook memperhatikan jam tangan yang terikat di takan kirinya dan membereskan beberapa berkas-berkas yang berserakkan entah kemana. Ia mengambil jas hitamnya dan memakainya.

“ Oppa!” Teriak seorang gadis yang berlari menghampirinya.

Jungkook menoleh kemudian tersenyum hangat “ Kenapa kau kau kesini, Soyu?”

Gadis yang bernama soyu tersenyum tersenyum kaku “ Sudah lama tidak melihatmu oppa.”

Jungkook berjalan mendekatinya lalu mengacak rambutnya kecil “ Arraseo. . bagaimana kalau kita makan bersama?”

Ajakan Jungkook membuat Soyu berteriak girang. Inilah hal yang paling di tunggu-tunggu oleh soyu dan Jungkook tentunya. Mereka jalan bersama melewati ruang-ruang yang tampak mulai sunyi akan seluruh penghuninya. Sesekali mereka tertawa saat menaiki lift, membicarakan apa yang menurut mereka lucu.

***

.

Eun Soo dan Sehun sudah tiba di Bandara Capital, Beijing. Perjalanan yang cukup melelahkan, Sehun menghubungi seseorang memalui handponenya. Eun Soo hanya diam ketika Sehun melakukan hal yang menurutnya tidak dapat di mengerti.

Eun Soo menatapnya wajah Sehun dengan lekat. Ia tidak dapat membaca seluruh sisi gelap dan terang namja itu, terkadang ia bingung untuk mendeskripsikannya dalam betuk tulisan. Setelah acara makan siang kemarin Sehun terlihat sangat marah namun kenapa ia mau menerima kontrak tersebut.

Ada apa dengannya? Ada apa dengan Sehun? Ia juga tidak tau dengan keadaan tersebut. Ia merasa hidupnya terlalu rumit untuk memulai masalah tersebut dari awal hingga akhir ini.

Semuanya tampak jelas sejauh ini, mungkin Tuhan sedang menguji kehidupan mereka masing-masing. Jika memang seperti itu seharusnya hidupnya harus berakhir bahagia dan menemukan cinta sejati sesungguhnya.

Cinta sejati? Yeoja itu meragukan hal tersebut. Tidak ada yang abadi di dunia ini seperti itulah pemikiran yeoja itu. Ya, mungkin karena yeoja baru saja di hianati dengan laki-laki yang amat di cintainya.

Eun Soo melempar tatapannya ke arah lain kemudian menghela nafasnya lelah. 3 orang laki-laki berjalan mendekati mereka menggunakan jas hitam kemudian menunduk memberi salam untuk ia dan Sehun.

“ Selamat datang Tuan Oh, Kami sudah menyiapkan mobil dan hotel untuk anda dan istri anda.” Ucap salah satu dari mereka dengan sopan dan 2 orang lainnya tengah sibuk membawa koper mereka.

Sehun kembali menarik tangan Eun Soo seperti yang di lakukan di bandara keberangkatan mereka tadi. Mereka berjalan menuju luar bandara dan terlihat mobil hitam sedang menunggu mereka. Eun Soo memasuki mobil tersebut bersamaan dengan Sehun dan duduk di jok belakang bangku supir karena ada asisten pribadinya yang akan membawa mereka pergi.

Mobil hitam tersebut berjalan membelah kota Beijing sore itu. Eun Soo memperhatikan kota Beijing dengan wajah yang sendu dan tak bersemangat, Sehun menatap Eun Soo dengan tanda tanya.

“ Kenapa? Apa kau keberatan dengan untuk mengikuti kemauan eomma?” Sehun bersuara sambil bersandar di badan jok mobil.

Eun Soo menatap namja yang ada di sampingnya “ Aku tidak merasa demikian.”

“ Lalu?”

Eun Soo terdiam kemudian menatap jalanan yang cukup ramai, tapi ia yakin Sehun melihatnya dengan penuh pertanyaan.

***

.

Hari berangsung menjadi malam. Mobil hitam Sehun terpakir di depan sebuah hotel yang sangat elegan dan mewah. Sehun dan Eun Soo keluar dari mobil dan memasuki hotel tersebut. Seorang laki-laki menyambut mereka dengan sangat sopan kemudian menuntun mereka menuju kamar yang telah mereka pesan.

Kamar 1034, begitulah tulisan yang tepampang jelas di depan pintunya. Sehun dan Eun Soo masuk ke dalamnya dan seorang laki-laki lainnya juga masuk ke dalam sambil meletakkan 2 koper milik mereka.

“ Semoga liburan kalian menyenangkan.” Ucap laki-laki tersebut sambil menunduk hormat dan menutup pintu tersebut dengan pelan.

Sehun melepaskan sepatunya dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, tubuhnya sangat kelelahan.

Eun Soo bertindak sebaliknya ia berjalan mendekati balkon yang memperhatikan kota Beijing malam itu, lampu-lampu rumah dapat ia lihat semuanya dari ketinggian kamar mereka. Ia meduduki dirinya di antara 2 kursi yang saling bergandengan berada tak jauh dari sana.

Sehun bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan mengikuti Eun Soo dan duduk juga di kursi yang tersisa “ Aku menagih pertanyaan padamu.”

Eun Soo masih menatap kota Beijing dari tempatnya dan tentu saja ia tau Sehun masih mempermasalah soal tadi saat pejalanan mereka menuju hotel.

“ Aku takut . . “

Eun Soo bersuara namun tidak mengubah pandangan matanya “ Aku sempat berfikir kau dan laki-laki di luar sana sama.”

“ Apa maksudmu?”

Eun Soo tersenyum kecut dan berdiri dari tempat duduknya “ Kalian dengan mudahnya meninggalkan seseorang yang bahkan orang tersebut sangat mencintainya.”

“ Kau sedang menyinggung masalah Cheou.” Ujar Sehun menatap yeoja itu dengan geram. Ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri yeoja itu menariknya lalu medekapnya dengan sekali gerakan.

Mereka berpelukan di antara dinginnya angin malam, menghembuskan secara indah membuat helaian rambut yang ringan seakan terbawa olehnya. Tidak, bahkan namja itu tidak merasakan dingin itu ketika Eun Soo berbicara tentang namja lain. Hatinya terasa mendidih dan seperti akan meledak di dalamnya.

Eun Soo terdiam tidak berani melawan dan membiarkan laki-laki itu mentransperkan seluruh suhu tubuhnya agar dapat merasakan betapa panas hati laki-laki itu. Sehun melepas pelukannya dan merendahkan tubuhnya menggapai perut rata yeoja itu.

Perlahan tangan Sehun mengusap perut Eun Soo dan membuka sedikit celah untuk dapat melihat perut ratanya dari gangguan pakain tebal yang di gunakannya. Kulit putih mulus terlihat hingga ia sedikit terkejut dengan perlakuan namja itu.

“ Sehun apa yang kau lakukan?”

Sehun tidak mengubris perkataan yeoja itu. Ia mendekatkan wajahnya di atas permukaan kulit perut yeoja itu dan mengeucupnya secara perlahan dengan bibirnya, penuh dengan kehati-hatian.

“ Baik-baik di sana sayang, jangan sering mengganggu eommamu disana. dia sedang tidak enak badan hari ini. Tumbuh dan berkembanglah agar kami dapat melihatmu nanti.”

‘ Kenapa kau sehangat ini ‘ Batin Eun Soo ketika melihat semua apa yang di lakukan namja itu.

Sehun berdiri dari tempatnya dan menatap mata yeoja itu dalam bahkan terlampau dalam.

“ Jangan berfikir aku sama dengan laki-laki itu Oh Eun Soo, Aku bisa membahagiakanmu asalkan kau mau membukakan hatimu mulai hari ini.”

Eun Soo terdiam mencoba mencerna semua perkataan namja yang ada di hadapannya.

***

.

Jiyeon berjalan menyusuri sunyinya malam, ia mendekatkan dirinya di ujung pantai. Menyendirikan dirinya beberapa di antara banyaknya orang yang berlalu lalang. Pikirannya sedang kacau sejak kepulangannya dari gedung perusahaan tersebut.

Mata hitamnya melihat gelombang-gelombang air kecil di tepian laut, yang dipikirannya hanya laki-laki itu, ‘Oh Sehun’. Sesekali mata yeoja itu melirik benda kecil persegi panjang yang tak jauh darinya.

Tidak ada apa-apa, bahkan tidak ada pesan yang tertampang di layar handponenya. Wanita itu memberanikan dirinya meraih benda itu dan menghubungi sebuah kontak yang sudah lama tak ia hubungi.

“ Yeobseo Cheou oppa, ini aku Park Jiyeon. Ada yang ingin kukatakan . . “

TBC

Link Marriage Contract ( TeaserChapter 1 Chapter 2 – Chapter 3 (dipassword) Chapter 4 – Chapter 5 – Ongoing )

 

Author Note : Untuk readers yang belum membaca chapter 3 nya bisa langsung SMS ke nomor author ( 085268059844 ) 😀 dan untuk ID komentarnya cukup komentar di chapter 4 nya ini.

Contoh : ( isi pesan )

Author minta PW Chapter 3. ID komentar saya Inhan99

( Mian Author pake nama ID satu readers hehe 😀 )

Jika sudah mendapatkan password langsung masukkan kata sandinya ke dalam link ini, untuk memudahkan ( https://ffindo.wordpress.com/2014/11/16/series-marriage-contract-chapter-3-im-jealous/ )

Author akan menjawab salah satu dari pertanyaan readers kemarin 😀

Pertanyaan : ID itu apa ya Thor?

Jawaban : Nama yang kamu gunakan ketika sedang mengomentari chapter 4 nya ini. Komentar tidak hanya melalui blog saja bisa juga melalui facebook dan twitter 😀

Mungkin sekilas yang dapat saya sampaikan, maafkan author karena mengirim chapter 4 nya terlambat, jangan bunuh author L . . .

Untuk chapter 5 nya akan author perbanyak bagian Sehun dan Eun Soo ketika mereka berada di China. Dan akan sedikit author perjelas masalah Suho dan Jiyeon.

Jangan bosan untuk memberikan komentarnya kepada saya 😀

Sebuah kalimat yang Readers tulis sangat berarti buat saya selaku author 😀

 

 

443 responses to “[Series] Marriage Contract? (Chapter 4 :I’m Pregnant)

  1. wahh selamat sehun akhirnya Eunsoo hamil juga.. hehehe

    wajarkn klo sehun jahat & egois gitu klo dia tau istrinya kek gitu cb aj klo Eunsoo mo buka hati & nerima sehun masti ga gini juga ..

  2. Ntahh kenapa pas baca chapter ini aku dapet bamget feel nya…sehun tetep semangat yaa buat daperin hatinya eun soo!!
    Eun soo cobalah lebih peka terhadap sehun 🙂

  3. berasa banget, feelnya itu dapet bgt. suka deh :). Sehun berjuang bgt dapetin hatinya eunsoo, fighting :). minta password dong thor, aku blom baca chap 3 nya 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s