Happily of Marriage [Chapter Two]

 

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan lagi. Dan… Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini yaa. Happy Reading ~ ^^

 (note : untuk penitipan epep pada saya telah DITUTUP, akan dibuka kembali setelah Tahun Baru 2015. Pengiriman masih bisa dikirimkan tapi akan dipublish setelah tahun baru, Mohon pengertiannya yaa. Silahkan mengirimkan karya kalian dalam bentuk Ms.Word ke email saya di ‘ichazparchov@yahoo.com’. lalu jangan lupa untuk memberi tau saya di : klik disini bahwa epep kalian sudah dikirim, maka keesokan harinya(kalau gak sibuk) saya pasti akan ngepost epep kalian. Thankseeuu :* :* )

Untuk Semua Authors dan Readers saya mengucapkan Happy New Year, semoga di tahun 2015 kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amin ~ ^^v

Author                 : Oh Silvy

Tittle                    : Happily of Marriage (Chapter 2 : What Happened on this?)

Main Cast            : Oh Sehun, Kim Jihyun, etc

Genre                   : Romance, Marriage life

Rated                   : PG-17

Dislaimer             : This is my story! Please your comment 😀

                              Perhatikan keterangan waktu agar tidak bingung dengan jalan cerita!!!

 

Happily of Marriage

Chapter 2

(What Happened on this?)

.

.

Hei, kalian tahu apa yang paling miris dari seorang pengantin? Let me tell you. Perasaan paling miris adalah ketika mendapati calon pengantinmu di ruang khusus mempelai bersama seorang lelaki yang tak kau kena. Terlebih ketika melihat pemandangan dimana calon istrimu sedang dicumbu oleh lelaki lain, di hari pernikahanmu.

.

25 JULI 2013

.

Jongin dan Jihyun meniup lilin bersama hingga semua lilin di atas kue mati seluruhnya. Kebersamaan membuat mereka lupa akan acara yang akan segera berlangsung. Jongin menatap Jihyun yang tengah memperhatikan foto kenangannya, senyum terus terukir di wajah keduanya, hingga

CUP

Sara –“

Cekklek

(What Happened on this?)

                “Saya bersedia.”

Pernikahan antara pengusaha muda Oh Sehun dan putri dari Pengusaha senior Kim Cha Soo baru saja dilaksanakan di salah satu gereja mewah di pulau Jeju.

Resepsi baru saja dimulai, namun penampilan Jihyun tampak sangat buruk. Riasan yang tampak luntur dan wajah yang tertekuk membuat beberapa tamu berbisik tentang ketidaksopanan anak muda itu.

“Mana sopan santunmu kepada para tamu?” Jihyun menoleh ke arah Sehun. Namja itu menampilkan senyum  lebar seakan mendapat jackpot pada tamu penting yang datang, membuatnya tampak berlipat-lipat lebih tampan dari sebelumnya. Baru kali ini Jihyun melihat senyum itu.

Jihyun menghela nafas lalu mengedarkan pandangannya. Tepat di sudut ruangan, ia melihat appanya sedang tersenyum teduh dan menggunakan bahasa tubuh mengingatkan Jihyun supaya tersenyum pada tamu.

Ingin rasanya Jihyun mengangis saat itu juga. Hatinya bimbang. Ia senang melihat appanya yang tersenyum bangga pada dirinya, namun di lain sisi hatinya ia tidak ingin pernikahan ini berlangsung.

“Hei, pangantin baru. Jangan menekuk wajahmu seperti itu. Itu sangat buruk, kau tahu.” Jihyun menatap namja yang tepat berada di depannya, kemudian tersenyum tipis. Hatinya sedikit lega menyadari namja itu masih ada berada di dekatnya walaupun hal itu akan membuat kebimbangan dimasa depan.

“Hei, Jongin. Terima kasih atas bantuanmu.” Jihyun menatap lekat wajah Jongin. Wajah itu yang selalu ada di pandangannya setiap hari, dan yang selalu menebar senyum teduhnya ketika Jihyun tak menemukan mentarinya. Tak akan lepas dari ingatan Jihyun, Seorang Jongin yang yang selalu menemani hari-harinya.

“Hei bung, kau memperlambat antrean.” Jongin menoleh ke sumber suara dan tertawa canggung. Obrolan singkatnya ternyata menimbulkan antrean para tamu yang ingin memberi selamat pada mempelai. “Aa-ah, maaf.” Jongin membungkuk minta maaf dan pamit pada Jihyun dan Sehun.

(What Happened on this?)

Noonaaa.” Jihyun tersenyum melihat dongsaengnya. Ia baru saja landing setelah pernikahannya dengan Sehun. Apa  kalian bertanya tentang bulan madu? Haha, tentu tidak ada bulan madu bagi keduanya. Ingat, ini pernikahan perusahaan yang dijalani TANPA cinta.

“Sekretaris Park akan memindahkan barang-barangmu ke rumahku.” Ucap Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari smartphone di tangannya. Namja itu sedang memeriksa bursa saham dan memastikan harga saham tidak turun seperti sebelumnya.

“Hmm.” Jihyun menggumam mengiyakan perkataan Sehun, lalu mengalihkan perhatiannya pada dongsaeng tersayangnya. “Hai, merindukanku?” Tanya Jihyun setelah melepas pelukannya.

Anniyo. Kau bawa oleh-oleh apa?” Minhyuk langsung membongkar bawaan Jihyun membuat yeoja itu mendengus kesal. Anak itu lebih mementingkan oleh-oleh daripada noonanya. Ughh.

(What Happened on this?)

.

01 JANUARI 2014

.

Perayaan tahun baru baru saja selesai, dan mereka yang merayakan telah kembali ke kediaman masing-masing sekedar untuk mengistirahatkan tubuh mereka.

Matahari baru saja terbit di ufuk timur ketika namja itu menapakkan kakinya di rumah, di tempat yang sangat tidak ingin ia singgahi. Setidaknya hal itu terjadi semenjak ia sadar telah di khianati oleh orang yang sangat ia percaya dalam hatinya.

“Selamat pagi tuan.” Semua maid langsung memberi salam ketika melihat tuan rumah memasuki kediamannya. Senyum terus terpatri di wajah mereka walaupun mereka tahu, tuannya tidak akan berhenti sekedar untuk membalas senyum mereka. 

“Penghianat.” Gumamnya pada udara. Entahlah, setiap memasuki kediamannya sendiri, ia merasa jantungnya di tusuk oleh ribuan jarum kebohongan yang tak kasat mata. Ketika ia hendak mempercayai, keadaan menyadarkan akan kenyataan busuk yang tersimpan rapi di balik senyum manis yang selalu mengisi hari-harinya.

Setelah puas memaki keadaan, namja itu memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di ranjang big size di kamarnya. Pandangannyna terarah pada salah satu foto yang terpajang di dinding, dan tersenyum miris. “Kau milikku. Dan akan selalu begitu.”

Tokk Tokk Tokk

Namja itu beranjak dari ranjang ketika mendengar suara kamarnya yang diketuk. Seorang maid telah berada di depan pintu ketika namja itu membukanya.

“Tuan, pengacara Park sudah tiba.”  Namja itu-Sehun keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu dimana pengacaranya berada. Raut flat tak hilang dari wajahnya, bahkan ketika pengacara kepercayaannya datang dengan senyum lebar.

“Bagaimana?” Ucap Sehun to the point ketika ia mendudukkan dirinya di sofa mewah yang mengisi seperempat dari ruang tamunya itu. “Aku mau kabar baik.”

Pengacara Park tersenyum ketika melihat wajah Sehun yang menurutnya sangat frustasi, namun tentu hanya orang tertentu yang bisa membaca wajah tanpa ekspresi Sehun. “Well, aku membawa kabar baik dan kabar buruk.”

Sehun diam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan diutarakan oleh pengacara Park. Namun, hingga beberapa menit selanjutnya, tak satupun kata meluncur dari pengacara muda itu. Ia malah terfokus pada data-data yang ia bawa.

“Chanyeol.” Pengacara Park, atau kita sebut saja Chanyeol mendongak menatap atasannya itu, kemudian kembali fokus pada notebooknya. “Aku tak yakin kau  mau mendengarnya. Mana yang terlebih dahulu? Kabar baik atau kabar buruk?”

 Sehun menghela nafas pendek. Kenapa namja itu malah mempersulit keadaan, pikirnya. “Terserah padamu Park. Yang manapun, dan selesaikan urusanmu.” Ucapnya dingin.

“Hmm, aku mulai dari kabar baik. Perusahaan kita-“

“Perusahaanku.”

“Huhh, oke, perusahaanmu telah berhasil menguasai pasar saham di Eropa, dan kau menjadi salah satu investor yang menjadi andalan disana.” Sehun mengangguk menanggapi ucapan Chanyeol, kabar baik itu tak dapat merubah raut wajah namja keturunan eropa itu.

“Dan kabar buruknya, aku belum menemukan ‘milikmu’.” Raut wajah Chanyeol berubah sendu. Chanyeol menatap manik mata Sehun, memastikan apakah namja itu merasa kehilangan atau tidak.

“Pastikan kau menemukannya. Aku tidak akan membiarkan milikku di ambil orang lain.” Setelah menyelesaikan kata-katanya, Sehun beranjak meninggalkan Chanyeol. Chanyeol menghela napas panjang, berusaha biasa dengan sikap atasan sekaligus temannya itu.

(What Happened on this?)

“Bagaimana?” Jongin menatap Jihyun yang sedang menikmati sarapan pagi hasil ngidamnya. Menyulitkan memang menghadapi yeoja yang sedang dalam masa ngidam. Apalagi ketika yang di idamkan tidak ada di sekitar.

“Eumm, ini enak.” Ucap Jihyun setelah menelan habis makanannya. Sejak semalam ia menginginkan kimbab asli korea, namun baru pagi ini ia dapat memuaskan kemauannya.Terima kasih untuk Jongin yang membantunya mencari penjual kimbab dari Korea.

“Jangan susahkan aku kalau kau sakit perut ya chagi.” Jihyun merengut mendengar perkataan Jongin. Memang sih, ia memaksa untuk membeli kimbab super pedas. Tapi, teganya Jongin tidak mau membantunya.

“Tenang saja, aku tidak sakit perut dan menyusahkanmu.” Ujar Jihyun bangga seraya menepukkan bahu kiri layaknya memberi janji membuat Jongin terkekeh melihat sikap kekanak-kanakannya.

   “Tentu saja. Kalaupun kau sakit perut, aku tidak akan membantumu.” Jihyun memberengut mendengar ucapan Jongin, namun tetap melanjutkan acara makannya. “Kau jahat sekali.”

(What Happened on this?)

.

05 AGUSTUS 2013

.

 “Sehuuun..” Sehun menoleh ketika namanya di panggil. Sedikit memicingkan mata ketika menyadari Suzylah yang memanggilnya. Sehun mendengus kesal ketika yeoja itu menghampiri dan malah bergelayut manja di lengannya.

“Ada apa?” Suzy tersenyum manis memandang Sehun. Namun namja itu malah menghempaskan tangan Suzy yang sedang bergelayut, pandangannya tidak ubah seperti melihat binatang yang sedang memelas meminta makanan.

“Kau tahu, aku rindu padamu sayang.” Sehun kembali mendengus mendengar ucapan Suzy. Namja itu menulikan pendengarannya dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan CEO, ruangannya. Namun tanpa ia sadari Suzy terus mengikutinya.

“Hhh. Apa maumu Suzy?” Tanya Sehun tajam ketika dirinya telah mendudukkan diri di sofa dalam ruangannya. Bukannya menjawab, Suzy malah menghampiri Sehun dan memilih untuk duduk di pangkuan namja yang sudah lama ia incar itu.

“Ayo makan siang, aku lapar sayang.” Bermula dari duduk di pangkuan namja itu, sekarang Suzy mulai membelai dan mengelus wajah tegas Sehun. Baju dengan bagian dada terbuka membuat asetnya dengan mudah di lihat dan Suzy dengan sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun. Berniat untuk menggoda namja blasteran itu.

You look like a bitch Suzy.” Suzy terkekeh mendengar ucapan dingin Sehun. Ia tahu namja itu risih dengan dirinya, namun toh Sehun juga tidak melarangnya melakukan ini. Dan hal itu, membuat Suzy bergrilia menggodanya.

A bitch for you babe. Of course~” Bisik Suzy seduktif tepat di telinga Sehun. Tangannya sudah bermain di dada Sehun, membentuk pola-pola abstrak dengan harapan namja itu akan bergairah. Namun setelah beberapa menit, tak ada pergerakan dari Sehun. Yeoja itu mulai geram dan hendak mencium Sehun, namun namja itu malah tegak dan hal itu menyebabkan Suzy yang sedari duduk di atasnya terhempas jatuh ke lantai.

“Pergi kau.” Suzy mendongak menatap Sehun, kemudian tegak tepat di hadapan pengusaha itu. Ia mengalungkan tangannya di leher Sehun dan sedikit menariknya, namun Sehun dengan cepat menghempas tangan itu.

“PERGI KAU JALANG. . .” Suzy menciut ketika mendengar bentakan dari Sehun. Mata Sehun tampak penuh amarah dan wajah namja itu sudah memerah menahan emosi yang sedari tadi ia tahan. Sebenarnya Sehun sudah hendak menendang Suzy keluar sedari tadi, namun ia masih memiliki rasa kemanusiaan untuk melakukan itu.

Cekklek

“Sehuuun~ eoh ada Suzy.” Sehun dan Suzy menoleh ketika seseorang membuka pintu. Di ambang pintu, Jihyun tengah tegak dengan membawa makanan. Wajah yeoja itu tampak sangat berseri dan tak menyadari aura gelap yang sedaang terpancar dari suaminya.

“Ekhem, kau boleh pergi Suzy-ssi.” Ya, itu sebuah usiran halus dari Sehun, karena ia tidak mau Jihyun mengetahui apa yang baru terjadi. Suzy hendak beranjak ketika Jihyun menahan tangannya. “Bagaimana kalau kita makan bersama?”

Kalimat sederhana yang membuat Jihyun, Suzy, dan Sehun duduk di sofa ruangannya dengan tujuan makan siang bersama. Suasana masih canggung antara Sehun dan Jihyun. Namun Suzy menyeringai melihat keadaan kedua suami-istri itu. “Ji, ayo makan. Kenapa melamun?”

(What Happened on this?)

.

01 JANUARI 2014

.

 “Pabbo.” Sehun menghempaskan tubuhnya di ranjang. Seharian ia terus bekerja tanpa henti, hanya sekedar untuk mengalihkan perhatian dan pikirannya. Namun, tetap saja ketika ia menghela napas, ketika ia mengedipkan mata, selalu saja bayang-bayang itu menyerang otaknya. Bayang yang terasa nyata, namun tak dapat di rasa.

Sehun menghela napas dan menatap langit-langit kamarnya. Semua terasa dingin. Kehangatan yang selalu ada di kamar itu tak sisa satupun. Senyum miris terukir di wajah Sehun ketika mengingat saat ia mengusir paksa Jihyun. Ia ingat betul ekpresi yang yeoja itu tunjukkan saat itu, terluka. Ya, ia tahu Jihyun sangat terluka saat itu, bahkan ia dapat merasakan sakit itu dari tatapan matanya.

Samar-samar ia melihat wajah Jihyun. Wajah yang selalu mengisi hari-harinya walaupun  tak pernah ia perlakukan dengan baik. Takkah ia terlalu jahat? Itu yang selalu mengusik fikiran Sehun semenjak yeoja itu, yeoja yang telah sah menjadi istrinya itu meninggalkannya.

Sehun mengangkat tangannya seolah ingin membelai wajah Jihyun, yeoja itu tampak tersenyum manis, dan Sehun rindu akan itu. Ya, ia akui itu, namun sekelebat bayangan ketika Jihyun menghianatinya merasuk menghancurkan angannya. Sehun tersenyum kecut mengingatnya, tak dapat ia pungkiri bahwa tepat di lubuk hatinya, ia merasa sakit. Ia merasa di khianati.

 Bukankah ia korban? Ketika ia ingin percaya, yeoja itu bahkan berkhianat dan tak dapat bertahan sedikit saja. Bukankah ia yang tersakiti? Ia ingin membuka hati, namun semua terasa percuma melihat kenyataan pahit yang menyayat hati.

Dan kenyataannya sekarang. Jihyun, yeoja yang beberapa bulan lalu telah sah menjadi istrinya walaupun mereka jalani tanpa cinta, yeoja yang selalu tersenyum walaupun ada belati tajam di balik tubuh cantiknya, yeoja yang memiliki senyum teduh menenangkan, meninggalkannya.

“Kim Jihyun. Kau milikku, dan akan selalu begitu. Aku akan menemukanmu, dan tak akan melepaskanmu.”

(What Happened on this?)

.

06 AGUSTUS 2013

.

Jihyun baru saja menutup pintu ketika menyadari Sehun berdiri di ujung tangga.  Terkejut, tentu saja. Bagaimana tidak, jika kau baru saja pulang pukul 11 malam dan menemukan suamimu berdiri di ujung tangga dengan pencahayaan yang minim, ditambah dengan raut dan aura gelap yang dipancarkannya.

“Dari mana saja kau nyonya Oh?” Tanya Sehun dingin, Jihyun bergidik merasakan aura gelap di sekeliling suaminya itu. Ia kira namja itu sudah terlelap sehingga bisa pulang dengan tenang, namun ia salah. Namja itu bahkan masih segar seperti terakhir ia lihat, jangan lupakan aura dingin yang terus melingkupinya.

“Aku baru pulang kuliah, tentu saja.” Jihyun berusaha menjawab setenang mungkin, Sehun dengan mode coolnya sudah membuat Jihyun merinding, apalagi dengan suara bass yang mendebarkan hingga membuat jantungnya ingin copot.

“Kuliah? Universitas mana yang buka hingga larut malam seperti ini?” Jihyun merasa menjadi yeoja paling bodoh di dunia karena tidak dapat memberi alasan dengan masuk akal. Pulang larut malam sudah keterlaluan, ditambah lagi dengan alasan tak masuk akal yang diberikan dengan santai, Jihyun merasa tenggorokannya tercekat.

“Naiklah. Bersihkan dirimu dan istirahat.” Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Sehun melepaskan Jihyun. Setidaknya ia masih punya hati nurani agar tidak mencekcoki istrinya yang sedang dalam keadaan

“Terima kasih.” Sehun masih dapat mendengar gumamam Jihyun ketika yeoja itu melewatinya. Namun ia lebih memilih untuk tak perduli dan berjalan menuju dapur.

Sebenarnya bisa saja ia meminta pada maidnya untuk mengambilkan minum, namun ketika Sehun mendengar suara pintu dikunci saat Jihyun pulang namja itu memilih untuk mengambil minum sendiri. Toh, anggota tubuhnya masih lengkap, jadi ia tidak harus selalu merepotkan orang lain.

“Mau minum?”

“Tidak, terima kasih.” Sehun menaruh gelas berisi air yang baru saja ia ambil di atas nakas tempat tidur, dan mendudukkan dirinya di ranjang kemudian kembali membuka buku yang sempat ia baca.

“Kau tidak tidur?” Sehun menggeleng tanpa menoleh ke arah Jihyun yang sudah merebahkan dirinya di ranjang. Sehun membalik halaman buku itu dan terus membaca hingga beberapa lembar.

“Tidak baik untuk tubuhmu, jika terus bekerja.” Jihyun menarik paksa buku di pegangan Sehun membuat kerut di dahi namja itu. Sehun mencoba merebut kembali bukunya namun Jihyun dengan cepat menyembunyikan buku itu.

“Aku tidak akan membiarkanmu mati muda hanya karena pekerjaan Sehun. Kau harus tidur.”

“Aku tidak akan mati muda hanya karena membaca Kim Jihyun.” Oh, ayolah. Sehun sudah melakukan kebiasaanya membaca buku selama belasan tahun sebelum ini, dan ia baik-baik saja. Sehun terus berusaha merebut buku itu hingga akhirnya ia menyerah.

“Hhh, aku tidak akan bisa tertidur sebelum buku itu ku baca.” Jihyun menatap tak percaya pada Sehun. Tidak ia sangka, seorang Sehun yang terkenal dingin dan acuh memiliki kebiasaan yang sama seperti anak berumur lima tahun.

“Ku kira kau tidak menyukai drama percintaan?” Ucap Jihyun ketika melihat buku yang menjadi objek bacaan Sehun. Sebuah novel percintaan antara gadis penyihir dengan seorang pemburu penyihir. Tidakkah ini terlalu manis untuk orang yang cuek dan acuh seperti Sehun? “Tak semua.”

“Baiklah” Jihyun menimang buku di tangannya dan membaca ringkasan buku yang memang tersedia di sampul belakang kemudian mengangguk. “Cerita yang menarik. Biar aku bacakan.”

“Tida

“Stt, kau hanya perlu berbaring dan dengarkan cerita ini hingga terlelap. Tidak ada penolakan.” Sehun  menghela napas dan membenarkan posisi tidurnya menghadap ke arah Jihyun yang duduk dengan kepala ranjang sebagai sandarannya.

Zoe terus berlari menghindari warga yang mengejarnya. Kakinya sakit, dan tak satupun dari mereka yang mau berbaik hati untuk sekedar memberinya bernapas.

Zoe mengikuti arah angin yang membawanya ke sebuah gang terpencil di sudut kota. Warga masih terus mengejarnya, ia terdesak di sudut gang ketika salah satu warga melihatnya. Jumlah mereka begitu banyak dan Zoe yakin ia akan mati saat itu juga dengan parang, pedang dan api yang mereka bawa.

“Mengapa ia tidak menggunakan sihirnya?” Ucap Jihyun bermonolog sendiri, tak menyadari bahwa Sehun masih sepenuhnya sadar di sampingnya.

“Karena dia tidak mau.” Jihyun menoleh ke arah Sehun dengan dahi berkerut. “Dia bisa saja membakar habis seluruh warga. Tapi ia tidak mau, karena ada satu orang yang tidak ingin ia lukai di dalam kerumunan warga itu.”

Nugu?”

“Ender.”

“Ender?” Sehun mengangguk sebagai jawaban. “Ender adalah pemburu penyihir, dan Zoe sangat mencintai pemuda itu.”

Jihyun mengangguk menanggapi cerita Sehun. Perhatiannya tidak lagi terarah pada buku di tangannya, namun pada Sehun yang dengan semangat bercerita tentang novel itu. Jihyun akui, ia lebih menikmati cerita yang di bawakan Sehun daripada ia membaca sendiri buku ditangannya.

“Hei Sehun.” Sehun menghentikan ceritanya dan menoleh pada Jihyun. “Apa kau sudah pernah membaca novel ini?”

“Sudah.”

“Dan kau membiarkanku menceritakannya kembali?” Jihyun bersekedap memandang Sehun, ia merasa dipermainkan oleh namja yang telah menjadi suaminya itu.

“Aku tak menyuruhmu membacanya.” Jawab Sehun datar, dan Jihyun makin memberengut dibuatnya. Ini sama saja menabur garam di air laut, pikirnya. Untuk apa ia ia berbuat baik, jika akhirnya di permainkan.

“Ughh. Aku membencimu.” Setelahnya Jihyun menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya, meninggalkan Sehun yang memandang datar dirinya. Sehun merasa ia tidak melakukan kesalahan apapun. Jihyun ingin membaca novel itu, dan ia persilahkan. Namun apa balasan dari yeoja itu? Sehun mendengus dan menarik selimut hingga batas pinggangnya setelah menaruh novel tadi di atas nakas.

“Aneh.”

(What Happened on this?)

“Jongin.” Jongin menoleh mencari sumber suara, namun ia tidak menemukan siapa-siapa. Ia mengedikkan bahu dan melanjutkan langkahnya hingga ia merasakan seseorang menepuk bahunya.

“Astaga.” Jongin berbalik dan menemukan Suzy di belakangnya. Hampir saja ia merasakan jantungnya copot karena yeoja itu tiba-tiba muncul. “Kau berlebihan tuan Kim.”

You’re like a ghost Baek Suji.” Suzy tertawa renyah mendengar Jongin. Ia tidak tersinggung, tentu saja. Itu sudah biasa mengingat sahabatnya itu memang selalu memberikan berbagai macam gelar pada dirinya.

“Untuk apa kau kesini?” Jongin menatap serius pada Suzy. Sebenarnya ia tidak masalah jika yeoja itu berkunjung ke apartemennya, hanya jika ia bertandang di waktu yang tepat. Tidak setelah waktu menunjukkan pukul dua belas malam.

“Aku ingin menginap. Kau tak keberatan, tentu saja. Ayo.” Tanpa mendapat persetujuan, Suzy langsung menarik lengan Jongin menuju ke apartemen namja itu. Jongin hanya bisa geleng kepala dengan sikap Suzy yang seenaknya, dan ingin semua keinginannya terpenuhi.

Ketika pintu apartemen Jongin terbuka, Suzy langsung masuk dan menaruh tasnya di sofa kemudian menyalakan tv. Ia melangkah menuju kulkas dan mengambil beberapa cemilan dan membawanya ke depan tv, meninggalkan Jongin yang masih berdiri di ambang pintu. “Wahh. Kau, daebak Suji.”

Suzy yang baru menyadari keberadaan Jongin, menoleh dan memberi isyarat agar namja itu duduk di sebelahnya. Jongin menutup pintu apartemennya dan langsung duduk di sofa bersebelahan dengan Suzy.

“Ada masalah apa?” Tanya Jongin to the point. Seperti sebelumnya, yeoja itu akan bertandang jika ia memiliki masalah dan ingin curhat. Terdengar janggal jika seorang wanita curhat dengan pria, namun mereka menganggap itu hal biasa.

Namja itu.” Ucap Suzy memulai pembicaraan. Yeoja itu menaruh kepalanya di pundak Jongin mencari sandaran. “Ia sudah direbut.”

Jongin mengusap pelan rambut Suzy. Namja itu, sudah beberapa kali Suzy menceritakannya. Dari cerita yang ia dapat, Suzy tampak sangat menyukai namja itu, dan ia tahu Suzy akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya.

“Hei, kau tak pernah memberitahu nama namja itu. Mungkin saja aku mengenalnya dan bisa membantumu mendapatkannya.” Ucap Jongin menggebu-gebu. Ia tidak mau melihat sahabatnya itu bersedih hanya karena seorang namja. Ia akan membantu sebisanya, jika ia mampu.

Na-namja itu . . . Eum. . .” Suzy menarik-narik ujung gaunnya, terlihat ragu untuk memberi tahu Jongin. Ia hanya malu, jika saja Jongin akan menertawakannya jika ia memberi tahu siapa namja yang ia sukai.

“Jika tidak mau, tak apa.” Jongin mengedikkan bahunya tidak memaksa Suzy. Namun dengan cepat Suzy menggeleng.

Namja itu . . .”

>>>>>TBC

 

AUTHOR NOTE :

Annyeong readerdulllllllll… Oh Silvy a.k.a author yang paling manis ini balik lagi.. #Narsis XD

Ughh, maaf untuk update yang lama. Author lagi kehilangan kata-kata untuk menyusun nihh FF. Otak lagi mentok banget setelah ujian, ditambah lagi dengan class meeting yang menguras tenaga. Capek banget #malahcurhat. Dan dengan otak yang mentok dan tabungan kata-kata yang makin sedikit, walla. Chapter 2 udah selesai. Makin gaje ya, hehe. Maklum. Sedikit reses untuk konfilknya. Hanya ada cerita sedikit fluffy disini.

Otte? Gimana? How? Semoga ngga mengecewakan ya. ^^

Oh ya, author ngga bsia ganti alurnya nih, jeongmal mianhae buat yang minta alur maju, karena udah klop banget dengan alur kayak gini. Udah PW banget. Untuk alur maju, bakal berlangsung ketika tanggalnya bertemu. Its like, masa lalu dan masa sekarang berjalan bersama, hingga suatu saat, masa-masa tersebut akan beradu. #authoralay

Untuk lebih jelas, author jelasin.Untuk baca ff ini, kalian harus perhatikan keterangan tanggal, supaya ngga bingung. Dan, untuk setiap cerita yang hanya dibatasi judul kecil tanpa keterangan tanggal, itu berarti di ahri yang sama, hanya berbeda jam. Dan selebihnya kalo masih bingung, boleh tanya di kolom komentar, atau bisa cuap-cuap di link sosmed author yang di bawah ini. Hope you like & enjoy it. TINGGALKAN KOMENTAR, oke… 😉 J

 

블렉 포르 아이스 a.k.a シルヴィ a.k.a Oh Silvy_2507

Author Site :

Facebook         : https://www.facebook.com/silvi.wahyu

Twitter                        : https://twitter.com/wahyusilvi1

WordPress       : www.ohsilvy2507.wordpress.com

 

Advertisements

27 responses to “Happily of Marriage [Chapter Two]

  1. suka sama ceritanya tapi konfliknya kurang banget thor u,u
    alurnya yg maju mundur kok agak berantakan gitu ye/? jadi agak susah pahamin ceritanya
    overall bagus thor, keep writing ne
    fighting!!!!

  2. alurnya kok maju mundur gitu sih thor jadi cuma nge-feel dikit deh bacanya
    tapi seru kok aku penasaran banget kenapa jihyun khianatin sehun

  3. thorr knp alur nya maju mundur gituu…kurang ngehh sma critanya-,-
    tpi gkpp deh..yg pnting authorr udh update..next chap ya thorr..fightinggg!!!^^

  4. seru sih .. tapi masih bingung bukan sama alurnya melainkan sama perasaan+sikap sehun n jihyun juga sih tapi cuma sedikit

    ditunggu chapter slanjutnya

    keep writing n fighting ^^9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s