[Oneshoot] SUNBAENIM

 

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan lagi. Dan… Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini yaa. Happy Reading ~ ^^

 (note : untuk penitipan epep pada saya telah DITUTUP, akan dibuka kembali setelah Tahun Baru 2015. Pengiriman masih bisa dikirimkan tapi akan dipublish setelah tahun baru, Mohon pengertiannya yaa. Silahkan mengirimkan karya kalian dalam bentuk Ms.Word ke email saya di ‘ichazparchov@yahoo.com’. lalu jangan lupa untuk memberi tau saya di : klik disini bahwa epep kalian sudah dikirim, maka keesokan harinya(kalau gak sibuk) saya pasti akan ngepost epep kalian. Thankseeuu :* :* )

Untuk Semua Authors dan Readers saya mengucapkan Happy New Year, semoga di tahun 2015 kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amin ~ ^^v

SUNBAENIM

Author : Badratun Navis || Cast : Lu Han – OC |

Genre : Comedy – Sad (and Romance) || Other Cast : Other Member EXO

 

 

 

–Jangan pernah mencoba jatuh cinta pada kakak kelas, itu akan sangat menyakitkan jika rasa suka mu semakin dalam, mengapa? Karena aku telah merasakan nya–

 

 

 

Sunbaenim by Badratun Navis

 

 

 

                   Kau yang memulainya. Mengajari aku pahitnya mencintai, mengajari aku perihnya patah hati, mengajari aku apa itu arti dilema, lalu kembali pada titik teratas kau mengajari aku jatuh cinta. Yaitu, mencintai orang sepertimu. Ya, mencintai orang yang salah.

Tampak nya pria itu masih senantiasa membiarkan bangku pojok belakang  kembali kosong dan merasa enggan untuk membersihkan citra absensi kelas.

 

“ Kakak seniormu tidak datang lagi –sepertinya, ”

 

“ Tunggu sebentar, Eun! ”

 

“ Oh! ayolah Sung Hye! Kita sudah menguntitnya beberapa kali –hari  ini ngomong–ngomong. “

 

Sung Hye mendengus membiarkan Eun Soo mengomel sesuka hatinya.  Sung Hye rasa semangatnya kembali merosot ketingkat paling rendah; tampaknya kemalasan akan meningkat. Yang Sung Hye inginkan pria itu hadir kesekolah hari ini, memberikan senyum sambil lalu dijendela kelas. Itu Penyemangat Sung Hye .

Dan well, jatuh cinta memang berlebihan.

 

0

 

 

 

“ Kau tidak mengerjakan tugas, Again? ”

 

Sung Hye menggeleng acuh, semangatnya untuk bersekolah hari ini sirna sudah. Kehadiran pria itu menjadi titik mutlak penyemangat Sung Hye. Oh! Ayolah ini terlalu berlebihan untuk ukuran gadis remaja sepertinya.

Ia jatuh cinta, pada jumpa pertama ketika pria itu berlalu didepan nya, ketika Sung Hye tersandung batu. Parahnya pemuda itu tidak sedikitpun mengubris ia saat merintih kesakitan. Bukankah terlalu acuh untuk dicintai? Namun, setidaknya cinta tidak mengenal apapun bukan?

 

Oke, biarkan Sung Hye mengatur kisah cinta konyolnya sendiri.

 

Sung Hye masih mengingat ketika pria itu memanggilnya kelinci. Itu terjadi sebulan yang lalu pada masa orientasi siswa saat kakak senior –Wu Fan yang terkenal galak itu menyuruhnya untuk memakai topeng kelinci –sambil berlari-lari kecil dilapangan basket. Suatu hal yang memalukan pun terjadi. Mungkin karena terlalu kesal atau pun asyik berlari, Sung Hye tidak sengaja tersandung batu dan parah nya lagi menimpa pria yang sukses membuatnya menunggu dengan prihatin seperti ini. Begitu banyak bentuk love yang mengelilingi kepalanya saat itu. Tapi, kenyataan pahitnya adalah ;

 

 

 

“ Hey! Kelinci kecil! Cepat bangun! Tubuhmu sangat gendut berat –bisa tepos aku, ”

Lucu bukan? Tentang kisah cinta konyol. Tentang kakak senior yang Sung Hye sukai secara diam –diam.

 

 

0

 

Berlanjut pada kemudian hari, Sunghye tidak tau bahwa hari itu adalah Sung Hye Day’s Bagaimana tidak? Pria yang tidak sengaja tertimpa Sung Hye kala orientasi siswa, pria yang selalu hadir dalam bayang-bayang Sung Hye, Pria yang memanggilnya Kelinci kecil; katakan saja ini mimpi atau khayalan –karena faktanya pria itu meminta nomor ponsel Sung Hye dengan sangat manis dan lembut.

 

“ Hey! “

 

 

“ Kelinci kecil?!

 

 

“ Kenapa harus julukan itu sih? ”

 

 

“ Sudahlah, beritahu aku nomor ponsel mu. ”

 

Senyum bahagia Sung Hye ketika ia selesai memberikan nomer ponselnya pada pria yang diketahuinya bernama Lu Han.

 

0

 

 

                    Dalam penantian nya, didepan ponsel sambil memandang bulan tanpa ditemani bintang. Sung Hye berharap untuk kesekian kalinya untuk pesan yang belum dikunjung dikirim oleh Lu Han. Sung Hye pikir setelah Lu Han mengetahuinya nomor ponsel Sunghye, Pria itu akan langsung menghubunginya, ternyata salah besar.  Ada satuhal yang Sung Hye tidak ketahui setelah hari –pemberian nomor ponsel itu- Sikapnya kembali acuh, kenyataan nya bahkan Sung Hye sengaja menunggu sapaan ‘Hey! Kelinci Kecil!’  saat Lu Han berjalan sambil lalu dihadapan nya.

 

                  Itu adalah hari selasa ketika Sung Hye dan Eun Soo sedang mengerjakan tugas. Tiba-tiba Lu Han mengintip dijendela tepat disamping-nya. Tatapan pria itu tampak biasa saja. Tanpa ada julukan seperti biasanya.  Bahkan Sung Hye yang terlalu bersemangat sempat menginjak kaki Eun Soo dibawah meja dan membuat gadis itu memekik. Namun sayang, pria itu lantas pergi dan mengacuhkan Sung Hye.

 

0

 

 

                   Malam itu adalah malam yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Adalah dimana penantian panjang sebelum tidur yang sampai saat ini masih Sung Hye lakukan.  Demi satu pesan singkat dari Lu Han –sunbaenim.

1 new message.

 

 

Ini adalah puncak penantian nya, terlalu senang untuk sekedar melihat siapa pemilik pesan tersebut ia bahkan melompati ranjang guna mengambil ponsel tepat diatas nakas dekat jendela. Hey! Lihat raut kecewa gadis itu, isi pesan tersebut bukan seperti yang ia harapkan. Pengirim nya juga bukan orang yg ia harapkan. Pemilik pesan tersebut ialah Eun Soo yang menanyakan tugas hari esok.

Sialan sudah berapa lama Sung Hye menghabiskan waktu untuk pria  itu? Bahkan hari-hari ceria selalu saja menjadi suram saat pria itu mengacuhkannya. Sebenarnya ini kisah cinta pada jumpa pertama atau kisah cinta bertepuk sebelah tangan sih? Hingga penuh pengorbanan demi mengharapkan satu  pesan singkat.

1 new message.

 

 

 

Oh!  kali ini ia tak akan tertipu, baik Sung Hye malam ini jangan habiskan waktu untuk pria yang memberikan harapan palsu. Kau itu bukan tidak cantik, berani menjamin bahwa diluar sana mash banyak yg mengantri utk mendapatkan mu, percayalah.

“ Hai, Kelinci kecil –ku ”

 

 

 

 

Oh! Sial! Sung Hye pikir itu adalah Eun Soo yang marah karena pesan nya tak kunjung mendapat balasa.  Ya, ampun ini apa?

Demi apapun inikah yang dimaksud kebahagiaan? Diantara penantian panjang Sung Hye?

 

“ Anda siapa –ngomong–ngomong?! ”

 

Diantara pertanyaan berkelas lain nya. Kenapa harus itu?

 

 

“ Ini aku, Lu Han, Remember me? Rabbit? ”

 

“ Lu Han? Maaf, aku tidak mengenal anda. ”

 

Jawaban konyol  apa itu?

 

“ Aku yang memanggimu kelinci kecil,

ayolah! Kau sedang tidak amnesia ‘kan? ”

 

Demi tanaman busuk dihalaman sekolah. Sung Hye begitu bahagia dengan isi pesan singkat Lu Han yang pada kenyataan nya terlalu menohok.

 

“ Ya, aku ingat. Ada apa? ”

 

“ Ingin bertanya sesuatu, bolehkan? ”

 

“ Bertanya tentang apa, sunbae? ”

 

“ Kau sudah ada yang memiliki ? Ehm, maksud ku kekasih? ”

Seketika Sung Hye tertegun. Pertanyaan yang menjurus ‘maukah kau menjadi pacarku’ setidaknya Sung Hye sudah sangat hafal dengan kode seperti itu.

 

 

“ Belum. ”

 

“ Kalau belum, jadi kekasih ku ya? ”

 

Dugaan Sung Hye tidak melesat. Kode itu ternyata benar. Ia sering membaca nya melalui pesan singkat Eun Soo.

Ayolah, Sung Hye bingung harus membalas apa.

 

“ Baiklah, aku mau ”

 

Ingin rasanya Sung Hye berteriak keras, namun itu sama saja tindakan bunuh diri. Ia tidak mau orang rumah membunuhnya dalam sekejab.

 

“ Berjanjilah padaku untuk tidak ada kata pisah diantara kita, ”

 

“ Tentu saja. ”

 

“ Aku mencintaimu sayang, sampai berjumpa besok. ”

 

“ Ya, sampai jumpa. Sunbae …

 

 

Setelah malam itu, hari-hari yang Sung Hye jalani kembali seceria dulu. Semua nya terasa indah ketika Lu Han sengaja lewat dijendela sambil memberikan senyum sambil lalu.

Ia tak menyangka akan segembira ini sebelum nya.

 

 

0

 

 

 

“ Bagaimana? ”

 

“ Apa? ”

 

“ Lu Han –mu ”

 

“ Tidak ada kabar. ”

 

Mereka lost contact sudah beberapa minggu lamanya. Sung Hye menjadi lebih murung setelah festival dimana Lu Han menari dengan pelajar wanita begitu mesra. Kalau tidak salah tarian trouble maker yang sangat fulgar dan intim. Itu membuat Sung Hye patah hati. Pada malam nya ia sengaja menelpon Lu Han atas semua kecemburuan nya.

 

“ Sunbae?! ”

 

“ Kau menyebalkan, itu hanya tarian girl! ”

 

“ Tapi, kau seakan menyukainya Sunbae! ”

 

“ Jangan kekanak-kanakan Bodoh! ”

 

Bodoh?

Sung Hye tak habis pikir Lu Han mengatainya bodoh.

 

“ Kau akan tau, apa yang akan aku lakukan jika kau sebegitu cemburu begini. ”

 

“ Sunbae?! ”

 

 

Dan yang Sung Hye tau sambungan telpon putus. Meninggalkan air mata dipipinya.

Seminggu yang lalu mereka baik-baik saja, sampai ketika Lu Han ikut serta Club Dance sekolah dan pasangan nya adalah Hyuna. Itu membuat Sung Hye sakit. Tidak mengapa jika hanya sekedar patner dance. Tapi, haruskah kemana-mana Hyuna? Dan Hyuna. Bahkan saat kencan pertama mereka pun Hyuna ikut serta, parahnya mereka meninggalkan Sung Hye sendirian ditaman. Seakan-akan Hyuna lah kekasih nya. Katakan salahkan Sung Hye cemburu?.

 

“ Boleh kah aku memberi saran Hye? ” Eun Soo menangkap bola mata berair itu.

 

“ Tinggalkan saja dia. ”

Sung Hye menggeleng.

 

“ Kami berjanji untuk tidak akan putus sampai tua. ”  Eun Soo memijit pelipisnya kesal. Buka marah, hanya saja muak dengan Sung Hye yang terus-terusan mempertahankan hubungan konyol ini.

 

“ Dia hanya mempermainkan mu, mana ada sih pria yang langsung menyatakan cinta nya dalam sekali pengiriman pesan? Dan juga mana ada sih pria yang tega saat kencan pertama membawa wanita lain. ” Eun Soo mengenggam jemari Sung Hye. Sesaat lagi gadis itu akan menangis.

 

“ Saat pertama kenal saja itu sudah sangat terlihat jelas bahwa dia mempermainkan perasaan mu. ”

 

“ Biarkan aku berpikir Eun! ”

 

0

 

 

Langkah panjang Sung Hye seakan tergesit. 3 menit yang lalu ia mendapat pesan singkat dari Lu Han.

 

“ Temui aku di cafe biasa. ”

 

 

Ia tidak menyangka Lu Han mengingat cafe tempat biasa mereka habiskan bersama dihari senggang. Hujan diakhir November membasahi tubuh Sung Hye. Pasalnya tidak ada bus yang berlalu lalang sejak dari tadi. Terpaksa Sung Hye harus berlari ditengah derah nya air hujan. Darah nya berdesir ketika mata itu menangkap Lu Han disana, sejenak senyum bahagia itu sirna ketika ada Hyuna disamping Lu Han lengkap dengan senyum piciknya.

 

“ Lu Han, ” panggilnya setegar mungkin.

 

Lu Han menatapnya datar, tanpa ada rasa iba dengan bibir beku dan tubuh yang kedinginan akibat dirinya.

 

“ Bisakah kau memutuskan ku? ” Ucapan itu spontan dari bibir Lu Han, Sung Hye terkejut bukan main. Mengapa? Ia pikir Lu Han akan meminta maaf pada atas tempo lalu.

Sebeginikah yang dimaksud Lu Han jangan ada kata pisah diantara kita oke?!

 

“ Mengapa, Sunbae?! ”

 

“ Lalukan dengan cara yang kau ingin kan. ”  Lu Han membuang arah pandang nya keperon sebrang. Hujan turun begitu deras.

 

“ Kami sudah berpacaran, rencananya tamat nanti kami akan bertunangan. ” Sahut Hyuna lengkap dengan seringaian nya. Sung Hye bagaikan patung disana, ia terdiam dengan tangan yang bergetar. Apa maksudnya itu?

 

“ Aku ingin kita putus. Dan kau bisa melupakan ku. ”

Sung Hye tak habis pikir dengan keputusan Lu Han. Dia selalu begitu, membuat keputusan tak masuk akal. Lu Han menyesap kopi nya sesaat.

 

“ Perasaan suka ku tak hanya lebih dari terobsesi. ”

 

Seakan menohok hati Sung Hye, Lu Han membiarkan tutur lembut itu terucap begitu saja tanpa jeda.

 

“ Terobsesi? ”

 

“ Kau tidak tuli ‘kan? ” Tanya Lu Han datar.

 

“ Maaf kami harus pergi, begitu banyak urusan yang harus kami kerjakan. Lu Han sudah memutuskan hubungan kalian. Dan kau jangan terlalu banyak berharap. ” Lu Han membiarkan Sung Hye terduduk tanpa berkutit dengan lemas. Ia menggandeng Hyuna dengan mesra, langkah nya semakin menjauh sering ciuman mesra mereka di pintu keluar. Sesakit ini kah?

Ia tak habis oikir untuk kesekian kali nya, Mengapa penantian panjang itu harus ia lakukan? Jika pada akhirnya menjadi sesakit ini.

 

Lu Han, pria itu mengatakan bahwa perasaan nya tak lebih dari sekedar terobsesi. Kenapa harus seperti ini akhirnya? Janji-janji seminggu yang lalu terasa hambar untuk dikenang.

 

“ Terima kasih atas luka nya –sunbaenim. Berkat kau, aku menjadi lebih mengerti -arti cinta sesungguhnya.  ”

 

 

–Ini cerita tentang lukaku, tentang perasaan konyolku padamu. Harusnya aku tidak perlu mengklaim bahwa gejolak ini berarti pada ketertarikanku padamu, bukankah aku terlalu banyak berharap?.

Kau tidak akan mengerti tentang perasaanku, tentang cerita lukaku, kau tidak akan mengerti dan tidak mau tau bukan?. Karena dulu kita pernah saling mengenal walau hanya sebatas bertegur sapa, bukankah dulu kita pernah saling melempar senyum satu sama lain?, pernah saling berbagi cerita kebahagiaan kala malam datang.

Lalu, setelah semua terjadi … kemanakah dirimu? Kau acuh! Aku tidak mengenal sosok  mu yang sekarang ini. Kau berubah, baik–baiklah bahkan didalam pikiran ku banyak terselip pernyataan bertujuankan padamu. Apa yang terjadi padamu? Apa yang membuatmu menjadi acuh padaku? Apa kau marah? Apa aku berbuat salah?.

Bahkan untuk sekedar menerka pun aku tidak sanggup. Aktivitas yang dulu pernah kita lakukan kini menjadi candu –lama yang sangat aku rindukan. Ini cerita cinta –terselip banyak luka perihal remaja sekolah.

Semuanya tak lagi menjadi santapanku saat kaki ini menginjak tanah universitas. Kau berlalu, seakan kita tidak saling mengenal, konyolnya –aku sengaja berdiam untuk mendapat sapaanmu, lucu bukan? Cintaku ini seperti ;cinta bertepuk sebelah tangan.  Jika aktivitas rutin yang dulu pernah kita lakukan, sekedar melirik pun tidak mengapa, namun kenyataan pahit yang mampu membuat aku terluka ialah lirikan mu tidak sehangat dulu.

Aku masih ingat, menyimpan setiap memori kenangan kita beberapa minggu yang lalu ; saat semuanya masih baik-baik saja. Ini cerita tentang lukaku, tentang perasaanku –kau telah mempermainkan aku hingga sakit yang kudapat. –

 

“ Ku harap, karma dapat menghukum mu, sunbaenim. ”

 

 

 

 

 

END

Have a nice day woth my fanfiction

 

Regards, Badratun Navis.

31 responses to “[Oneshoot] SUNBAENIM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s