Find Your Love [Chapter 1]

FF ini bukan ditulis oleh saya (MinHyuniee), melainkan ini adalah ff titipan dari Kangharastory. Saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Bagi yang ingin menitipkan ffnya pada saya bisa menghubungi saya di twitter (@oversgm) atau langsung kirim ff kalian ke e-mail saya: only.devimita@gmail.com! Nah, tolong berikan apresiasi kalian melalui komentar setelah membaca ff ini. Terimakasih!

8

Title : Find Your Love

Author : Kangharastory

Genre : School Life, Romance, Action

Rating : PG – 16

Lenght : Chaptered

Main Cast : Lu Han ( EXO ), Byun Baekhyun ( EXO ), Kim Joonmyeon ( EXO ), Oh Sehun ( EXO ), Kris Wu ( EXO ), Kang Hara ( OC ), Lee Hyeri ( OC ), Shin Sooyeon ( OC ), Song Ji Hyun ( OC ), Kim Hyunmi ( OC )

Other Cast : Lee Jinki ( SHINee ), Kim Sunggyu ( INFINITE), Kim Minhee ( OC ), Kim Jonghyun ( SHINee ), Jung Soo Jung ( Fx ), Kim Jong In ( EXO ), Han Sera ( OC ), Choi Junhong ( Zelo – B.A.P ), Choi Jinri ( Fx ), Shin Yoonjo ( Hello Venus ), Park Yooreum ( OC ), Do Kyungsoo ( EXO ), Alice Wu ( OC ), Song Jimin ( OC ), Byun Taejun ( OC ), Oh Junsu ( OC )

Introduce :

. Lee Jinki              = . Kakak laki-laki  Lee Hyeri

                                       . Mahasiswa Kedokteran yang pemalas

. Kim Sunggyu      = . Kakak pertama Kim Hyunmi

                                       . Sahabat dekat Lee Jinki, Kim Minhee, dan Kim Jonghyun

                                       . Direktur muda Kim’s Corp yang bergerak di bidang Otomotif

. Kim Minhee        = . Kakak perempuan Kim Joonmyeon

                                       . Mahasiswi Ilmu Teknologi

. Kim Jonghyun   = . Mahasiswa Bisnis Management

                                       . Pemilik Cafe Book ‘Jjong’s Cafe’

(Lee Jinki, Kim Minhee dan Kim Jonghyun adalah sahabat sejak SMA, sedangkan Kim Sunggyu berteman dengan Kim Minhee pertama kali)

. Kim Jong In       =    . Kakak kedua Kim Hyunmi

                                         . Mantan kekasih Han Sera

                                         . Sahabat dekat Choi Junhong

. Han Sera             =    . Sepupu Luhan

                                         . Mantan kekasih Kim Jong In

. Choi Junhong    =    . Kakak laki-laki Choi Jinri

                                          . Tergila-gila pada Kang Hara

                                          . Sahabat dekat Kim Jong In

. Jung Soo Jung   =     . Bersahabat dengan Choi Jinri dan Alice Wu

                                           . Teman mesra Byun Baekhyun

                                           . Anak dari guru les biola Lee Hyeri

. Choi Jinri            =     . Adik perempuan Choi Junhong

                                          . Murid di kelas melukis Kim Joonmyeon

                                          . Jatuh cinta pada Kim Joonmyeon

. Alice Wu            =      . Adik perempuan Kris Wu

( Kim Jong In, Han Sera, Choi Junhong, Jung Soo Jung, Choi Jinri dan Alice Wu berada di sekolah yang sama)

. Shin Yoonjo     =       . Adik perempuan Shin Sooyeon

                                          . Kekasih Kim Joonmyeon

                                          . Bersahabat dengan Park Yooreum dan Do Kyungsoo

. Park Yooreum     =   . Sahabat dekat Shin Yoonjo dan Do Kyungsoo

                                           . Pegawai cafe Kim Jonghyun

                                           . Fans berat Kim Jonghyun

. Do Kyungsoo       =     . Sahabat dekat Shin yoonjo dan Park Yooreum

                                           . Jatuh hati pada Alice Wu

. Song Jimin          =     . Adik laki-laki Song Jihyun

                                           . Sahabat dekat Oh Junsu dan Byun Taejun

                                           . Murid Kang Hara di sanggar taekwondo

. Byun Taejun        =    . Adik laki-laki Byun Baekhyun

                                           . Sahabat dekat Song Jimin dan Oh Junsu

                                           . Murid Kang Hara di sanggar taekwondo

. Oh Junsu            =      . Adik laki-laki Oh Sehun

                                          . Sahabat dekat Song Jimin dan Byun Taejun

                                          . Murid Kang Hara di sanggar taekwondo

Disclaimer : Cast adalah milik Tuhan. Tetapi cerita murni dari otak saya yang di anugerahi oleh Tuhan. Bila ada kesamaan nama, tempat atau semacamnya itu adalah ketidaksengajaan.

Soundtrack : Bang Yongguk ft. Yang Yoseob – I Remember

Summary :

‘Ada suatu waktu dimana cinta dan kebahagiaan itu begitu sulit untuk kuraih, dan waktu itu adalah….

….. sekarang, ketika kita berada pada takdir dan cerita yang sama’

-kangharastory-

===

Story One

Tahun ajaran baru, barusaja di mulai. Bertepatan dengan musim gugur pertama di tahun ini. Daun-daun kering yang sudah memudar warnanya, jatuh berguguran tertiup angin dan memenuhi setiap sudut lapangan sekolah pagi ini. Bahkan suara burung yang bercicit, terdengar begitu indah meski harus saling beradu dengan hiruk pikuk manusia berseragam yang sedang mempersiapkan diri mereka untuk menuntut ilmu di tempat itu.

Sebut saja Seoul International School. Bangunan yang luasnya tak jauh beda seperti istana negara itu menjadi satu-satunya tempat terindah selama bertahun-tahun Hara menuntut ilmu. Mendapat sahabat yang selalu setia pergi bersamanya hampir tiga tahun lamanya, membuatnya enggan mengakui jika dirinya kini sudah berada di tingkat akhir yang mengharuskannya berpisah kelas dengan sahabat-sahabatnya.

Dan kenyataan itu membawanya berdiri di sini. Di depan sebuah meja yang terletak di sudut paling belakang, mengamati sebuah rubik dan sebuah novel bertema roman picisan yang tergeletak sembarang di meja rekan duduknya. Menghela nafas sejenak sebelum akhirnya dia memutari kursi dan duduk di tempatnya, tepat di samping jendela, persis dimana namanya terpampang dengan jelas di sebuah kertas yang di tempel di sudut kiri meja.

Gadis itu hanya menghela nafas ketika melihat denah duduk yang di pasang di jendela kelas dua hari yang lalu. Menjadi rekan satu meja bersama seorang pria, membuatnya nampak canggung dan tak bebas. Namun dia bersyukur, karna salah satu sahabatnya, memiliki kesempatan yang sama seperti dirinya.

..

“Carolus Linnaeus lahir di Paroki Stenbrohult di bagian selatan Swedia. Ketertarikannya dalam studi Botani sempat membuat seorang dokter dari kotanya terpesona dan ia di kirim untuk bersekolah di universitas Lund, kemudian pindah ke universitas Uppsala setelah satu tahun…….”

Suara guru Jung terdengar menggema pagi ini. Namun Hara sama sekali tak tertarik dengan pembahasan tokoh biologi yang menurutnya tak penting sama sekali dan lebih memilih memperhatikan kelas lain yang sedang mengikuti pelajaran olah raga di lapangan sekolah lewat jendela.

“ckck bodoh.”

Kekehnya pelan sembari menutup mulutnya begitu kedua matanya tak sengaja melihat salah satu sahabatanya yang sedang mengikuti kelas olahraga terjatuh ketika tengah mendribel bola.

“oww.”

Kini dia membulatkan mulutnya sembari menatap tak percaya ketika sahabatnya mendapat juluran tangan dari siswa lain, yang menjadi salah satu siswa populer di sekolah sejak tingkat pertama.

“kerjakan tugasnya kemudian kumpulkan saat bel berbunyi nanti kepada ketua kelas.”

Hara segera mengalihkan pandangannya pada guru Jung yang sudah berdiri di ambang pintu, kemudian beralih menatap laki-laki berambut cokelat yang duduk di sebelahnya dengan malas.

‘apa ini? Kita bahkan tak bisa kerjasama.’

Batinnya sembari mendengus sebelum akhirnya kedua matanya saling beradu dengan seorang gadis yang duduk di meja sebelahnya, yang sama-sama duduk satu meja dengan laki-laki.

Beberapa saat mereka terlihat seperti sedang bicara secara tersirat. Namun keduanya harus menyudahi aksi tersebut ketika rekan satu meja Hara berdehem, membuat Hara menggaruk tengkuknya dan membuka bukunya, memaksa otaknya yang pas-pasan untuk mencerna segala kalimat dari dalam buku tersebut.

Di sisi lain, Hyeri hanya mengetuk-ngetuk pulpennya ke atas meja, tanpa ada niat sama sekali untuk mulai mengerjakan tugas yang di berikan guru Jung. Tak sadar kegiatannya itu mengganggu rekan satu mejanya, Hyeri hanya menoleh sekilas dengan wajah innocent ketika rekan satu mejanya mendesis.

“hentikan itu. Kau menggangguku.”

Suara bas yang dingin itu cukup nyaring terdengar di telinga Hyeri, bahkan sampai membuat darahnya berdesir, bersamaan dengan angin musim gugur yang berhembus lewat jendela dan memenuhi ruang kelas. Tangannya yang sedang memegang pulpen berhenti di udara, mengurungkan niatnya untuk kembali mendaratkan ketukan di atas meja.

“o..oh. Maaf.”

Ujarnya canggung seraya meletakkan pulpennya ke atas meja, kemudian menopang dagunya dengan kedua tangannya.

===

‘Hari yang indah di musim gugur. Senyumku terus mengembang ketika dia menjulurkan tangannya padaku. Tanpa ragu, aku menerima tangan hangatnya yang membuatku merasa seperti tersengat listrik.

Kupu-kupu terasa penuh dalam perutku, membuatku selalu tersenyum geli ketika mengingatnya. Mengingat senyumannya yang tulus dan hangat’

( flashback )

“sekarang giliranmu Sooyeon. Ayo cepat dribel bolanya lalu masukkan ke dalam ring. Kau hanya perlu memasukkan satu bola saja, maka nilaimu akan naik.”

Sooyeon menatap melas guru Kim sembari membenarkan poni yang menutupi dahinya, kemudian berdiri dan menangkap bola yang di lempar guru Kim.

“Selanjutnya Kim Joonmyeon. Ambil bola lainnya dan lakukan hal yang sama. Nilaimu buruk sekali.”

Sooyeon terkikik, kemudian berlari sembari mendribel bolanya dengan semangat. Sementara siswa bernama Joonmyeon, tiba-tiba mendahuluinya, membuat Sooyeon kehilangan konsentrasi dan malah serius menatap punggung laki-laki itu.

BRUKK!!

“Aaaww…..”

Di detik berikutnya, Sooyeon merengek ketika tiba-tiba tak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri dan membuat bokongnya sukses mencium lapangan yang ketika itu penuh dengan debu. Terdengar beberapa siswa lain mentertawakannya, namun tak lama setelah itu sebuah tangan terulur di depannya, membuatnya mengangkat kepalanya dan meringis.

( flashback end )

“eiiyy, itu menggelikan Sooyeon-ah.”

Tawa ringan dari empat wanita yang masih lengkap dengan seragam sekolah itu menyeruak di antara lautan manusia di cafetaria siang itu. Bel istirahat telah di bunyikan beberapa menit yang lalu, dan sebagian siswa langsung membuat antrian panjang demi mendapat jatah makan siang mereka di cafetaria.

Sooyeon, satu-satunya gadis yang menutup dahinya dengan poni itu segera menutup notebooknya dengan asal dan menatap Hyunmi garang.

“hey, aku kan hanya bercanda. Kenapa kau menatapku seperti itu huh?”

Protes Hyunmi, -gadis berambut sebahu yang sedikit ikal- sembari melipat kedua tangannya di depan dada sementara Sooyeon mendengus dan mencebikkan bibirnya.

“sudah jangan bertengkar. Belakangan ini Sooyeon sedang gemar menulis diary sepertinya.”

Goda Jihyun yang malah membuat Sooyeon semakin menekuk wajahnya.

“ini bukan diary! Sok tahu.”

Bela Sooyeon dengan kesal, yang malah membuat sahabat-sahabatnya semakin tertawa puas.

“ah apa jangan-jangan tuduhan kami benar? Kau menyukai orang itu kan? Ayo mengaku Sooyeon-ah.”

Hara menyenggol lengah Sooyeon yang dengan sigap di tepis gadis itu.

“bukan begitu! Kenapa kalian semua ini sok tahu sih?”

Pekik Sooyeon yang masih tak terima di tuduh macam-macam oleh sahabatnya.

“hey hey, kenapa kalian ini berisik sekali. Sudah-sudah jangan bertengkar.”

Hyeri yang sejak tadi diam dan hanya menjadi penonton, kini menengahi. Gadis berambut pirang panjang itu merasa terganggu dengan keributan yang terjadi di sana.

“ini sudah hari ketiga kita mengikuti tahun ajaran baru. Aku merasa kesal sekali belakangan ini.”

Cerita Hyeri setelah terdiam beberapa menit. Gadis itu memainkan sedotan di dalam gelasnya sembari mengerutkan dahinya dan terlihat seperti sedang mengatur nafasnya.

“kau kesal karna kau duduk satu meja dengan laki-laki itu kan? Ya ampun, memangnya kenapa kalau kau satu meja dengannya? Apa karna dia termasuk dalam jajaran pria populer di sekolah jadi kau merasa canggung? Aku bahkan satu kelas dengan Kris, pria terpopuler di sekolah kita. Ahhh, apa-apaan ini? Sebenarnya aku juga merasa terganggu karna satu kelas dengan pria itu. Kelasku selalu berisik dan penuh dengan gosip sana sini.”

Jihyun menghembuskan nafasnya kasar setelah menatap satu persatu sahabatnya ketika melangsungkan ceritanya itu. Hyunmi yang berada di sebelahnya nampak tersenyum-senyum mendengar celotehan panjang lebar yang di lontarkan Jihyun.

“hey! Apa hubungannya kita membicarakan pria populer di sekolah? Bicaralah untuk hal yang lebih penting.”

Protes Sooyeon sembari menggaruk kepalanya dan memutar bola matanya.

“kau mengatakan itu karna kau sebaliknya merasa senang bisa satu kelas dengan Joonmyeon. Ahh kenapa aku tidak satu kelas dengan Kris? Apa Tuhan tidak menakdirkanku bersama laki-laki itu?”

Sooyeon mendaratkan sendoknya di kepala Hyunmi, membuat gadis itu mengerang kesakitan sementara yang lainnya tertawa menyaksikan kelakuan kedua sahabat mereka.

“Joonmyeon itu pacar adikku. Dia ramah dan baik, juga aku sudah mengenalnya dengan baik. Kalian semua dengar ya, di antara Joonmyeon, Baekhyun, Luhan, dan Kris, Joonmyeonlah pria populer di sekolah yang paling ramah. Bahkan ketika adikku berpacaran dengannya, tidak ada yang berani membully-nya. Kalian lihat kan? Betapa terhormatnya pria itu.”

Sooyeon tersenyum puas setelah berkata demikian.

“ya, tapi kau harus jujur jika kau juga menyukai pria itu.”

Hara menjulurkan lidahnya kemudian mengangkat bahu ketika Sooyeon melotot padanya.

===

“kau yakin ingin membuka gallery ini? Kurasa bagus juga. Lukisanmu harus di lihat banyak orang.”

Luhan, lelaki berambut cokelat itu terlihat takjub seiring dengan jari telunjuknya yang tengah menyusuri sebuah lukisan kepala kucing yang menyembul dari balik sekumpulan bunga mawar merah, yang terpajang di dinding. Sejak tadi, Luhan tak berhenti memuji hasil karya Joonmyeon yang begitu memukau. Dia sendiri tak yakin mampu membuatnya meskipun sudah belajar berpuluh-puluh kali.

“menurutmu bagaimana? Apa aku harus membuka gallery ini untuk umum?”

“kau menanyakannya lagi?”

Luhan menatap Joonmyeon tak percaya, kemudian dia menyenderkan punggungnya pada dinding di sebelah Joonmyeon dan mengamati Joonmyeon yang tengah kesulitan membuka pintu dengan berkali-kali memasukkan kunci yang berbeda ke lubang kunci. Luhan mengangkat sebelah alisnya membaca papan nama di atas pintu yang bertuliskan ‘PRIVATE ROOM’, kemudian mendesah ketika Joonmyeon berhasil membuka pintu ruang rahasianya itu.

Kedua laki-laki yang masih lengkap dengan seragam sekolah itu sama-sama melempar tas mereka ke atas sofa. Joonmyeon kemudian segera beranjak menuju kursi kebesarannya, sebuah kursi dengan meja besar yang di penuhi dengan kanvas dan juga alat lukisnya, sementara Luhan mendudukkan dirinya di kursi kayu yang berhadapan dengan kanvas yang dia yakini sebagai tempat Joonmyeon kala pria itu tengah menyalurkan bakatnya di atas kanvas.

“followers ku semakin bertambah.”

Joonmyeon yang entah sejak kapan sudah membuka laptopnya itu tersenyum sumringah. Luhan hanya mencebikkan bibirnya dan kembali dengan kegiatan usilnya, melanjutkan lukisan di depannya yang belum sempurna.

“mereka semua selalu memuji lukisanku. Aku senang. Tapi, apa aku harus membuka kelas melukis juga? Sejujurnya aku ingin melakukannya.”

Luhan menghembuskan nafasnya kasar kemudian menatap Joonmyeon agak kesal.

“kenapa kau selalu bertanya padaku? Lakukan saja sesuai kemauanmu Joonmyeon. Aku tidak mengerti, kenapa kau, Baekhyun, dan juga Kris, selalu bertanya padaku tentang masalah kalian. Ahhh, aku ini hanyalah seorang pria yang di wariskan untuk mengurus bar-bar dan anak dari seorang atlet taekwondo. Apa yang keren dariku huh? Astaga kenapa aku jadi kesal.”

Joonmyeon terkikik mendengar cicitan Luhan yang menurutnya sangat lucu. Laki-laki itu kemudian meremas-remas kertas di tangannya dan melemparnya hingga tepat mengenai kepala Luhan.

“hey! Kenapa kau melemparku?”

Protes Luhan tak terima.

“aku kasihan padamu. Ayahmu bahkan tidak mengijinkanmu mengurus perusahaan dan malah mewarisimu Bar-Bar yang…kau tahu apa fungsinya? Ya ampun Luhan, maafku aku, tapi aku ingin tertawa hahahaha!”

“sssshh, anak ini. Hey aku akan patahkan kakimu Joonmyeon!”

Ancam Luhan sembari menatap Joonmyeon kesal. Sementara Joonmyeon memiringkan kepalanya dan mengangkat kedua alisnya seperti berkata ‘yang benar?’ yang membuat Luhan mendengus dan membuang muka.

Luhan berdiri dari duduknya dan mengamati sebuah kompas antik yang berada di dalam lemari kaca di sudut ruangan.

“kau ini beruntung sekali. Punya bakat melukis dan kau juga akan mewarisi perusahaan. Uang pasti dengan mudah mengalir padamu. Sementara aku? Hhh, ayahku memang keterlaluan. Apa dia tidak percaya aku bisa mengurus perusahaan? Bahkan sanggar taekwondo pun tidak jatuh ke tanganku. Aku merasa seperti gembel.”

“hey kau ini bicara apa? Mungkin ayahmu sedang menguji kemampuanmu. Kau ini selalu berpikiran negatif. Suatu hari nanti kita akan bersama-sama menjadi pemimpin. Semangatlah. Kau harus ingat jika kau adalah anak satu-satunya dalam keluargamu.”

Luhan tersenyum sekilas mendengar ucapan Joonmyeon. Laki-laki itu berjalan mendekati sofa dan mendudukkan dirinya di sana.

“kau benar. Suatu hari nanti kita akan bersaing untuk menjadi pemimpin terbaik. Kau, aku, Kris dan juga Baekhyun, kita akan bersama-sama melakukan yang terbaik. Ahh, aku bahkan lupa jika aku adalah anak satu-satunya. Ayahku tetap akan membutuhkanku kapanpun. Kenapa juga aku repot-repot memikirkannya? Ya ampun apa ini pembicaraan yang tepat untuk kita? Kita ini masih anak SMA yang belum lulus. Ahh aku merasa seperti orang dewasa sekarang”

Luhan terkekeh dan mengubah posisinya menjadi terlentang tanpa melepas sepatunya, menatap langit-langit sembari menerawang.

“benar juga. Lain kali kita undang Kris dan Baekhyun untuk ikut berpartisipasi dalam topik menjadi dewasa ini.”

Ujar Joonmyeon sembari tertawa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.

“ngomong-ngomong, apa kabar dengan Yoonjo? Tadi aku bertemu dengannya di cafetaria dan dia melengos begitu saja. Haha, lucu sekali dia. Kalian sedang ada masalah?”

Joonmyeon menghentikan jari-jarinya yang tengah mengetik di atas keyboard dan menatap Luhan. Laki-laki itu kemudian tersenyum sekilas.

“belakangan ini aku merasa sibuk. Aku harus fokus untuk acara open house di galleryku dan aku bahkan belum memberikan nama untuk galleryku. Maka dari itu aku mengatakan padanya jika dua minggu ini aku sibuk dan menolak kencan dengannya. Jadi aku rasa itu masalahnya.”

Cerita Joonmyeon sembari mengangkat bahunya dan kembali beralih menatap laptopnya. Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mengerutkan dahinya.

“apa itu rumit?”

Tanya Luhan pelan yang sebenarnya bertanya untuk dirinya sendiri. Namun sayang sekali Joonmyeon mendengarnya dengan jelas dan laki-laki itu mengira Luhan bertanya padanya.

“menurutmu? Aku bahkan tidak mengerti kenapa wanita senang sekali berkencan. Aku sudah mengatakan dengan jujur jika aku sibuk, tapi dia tidak percaya padaku. Dan tidak ada lagi yang harus aku katakan karna aku sudah mengatakannya dengan jujur.”

“aku rasa tidak seharusnya kau berpacarannya dengannya. Maksudku, dia masih terlihat seperti anak-anak. Dia bahkan masih kelas dua SMA. Apa yang dia tahu tentang cinta? Aku sendiri bahkan tidak tahu.”

Joonmyeon memutar kedua bola matanya. Jika ada Baekhyun saat ini, Luhan pasti sudah di ledek habis oleh manusia cerewet itu. Bukan hanya di ledek, dia pasti akan di ceramahi oleh pria sok tahu itu hingga terlihat seperti sedang membaca berlembar-lembar buku yang membuatnya mengantuk.

“apa kau butuh si peramal cinta? Dia akan datang dalam hitungan detik, kau beruntung.”

Luhan segera merubah posisinya menjadi duduk dan dia barusaja akan menjawab, namun pintu terbuka lebar setelah Joonmyeon menjetikkan jarinya dan menampakkan sosok ‘si peramal cinta’ di ambang pintu dengan wajah kesal sembari berkacak pinggang. Di belakangnya, Kris menepis tangan Baekhyun yang sedang berkacak pinggang sembari menatap Baekhyun sebal dan segera mendudukkan dirinya di samping Luhan yang masih menganga tak percaya.

“y…ya! Kenapa kalian ada di sini?”

Seru Luhan sembari menunjuk Baekhyun dan Kris secara bergantian.

“hari ini aku kesal sekali! Jam ku rusak dan…dan eerrrr, hey! Itu jam pemberian orang! Apa aku kurang keras mengatakannya huh?!”

Omel Baekhyun sembari melempar tasnya ke sembarang arah dan berakhir membentur guci antik yang beruntungnya tak membuat guci tersebut terluka.

“sepertinya si peramal cinta kita sedang dalam keadaan yang tidak baik.”

Ucap Joonmyeon lalu tersenyum mengejek pada Baekhyun.

===

Hiruk pikuk di stasiun kereta siang ini begitu padat. Lee Hyeri, siswi Seoul International School itu nampak berkali-kali melirik jam tangannya dengan gelisah. Kedua sikunya bertumpu pada tas biola yang tingginya hanya sebatas perutnya dan kedua tangannya menopang pipinya.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Hari ini lagi-lagi Hyeri  terpaksa harus absen dari gengnya lantaran harus melakukan kegiatan rutinnya setelah pulang sekolah, yakni les biola. Sudah hampir delapan tahun Hyeri les biola pada sahabat karib ibunya sejak ia masih sekolah di bangku sekolah dasar. Sampai saat ini, Hyeri bahkan masih tidak mengerti apa tujuannya mengikuti les biola yang selalu menyita waktu bermainnya bersama sahabat-sahabatnya. Ibunya selalu berkata, dia harus les biola jika ingin sukses, tapi Jinki selalu berkata, dia hanya menghaburkan uang keluarga karna les biola yang tak penting itu.

“hoaaaammmm!”

Gadis itu menutup mulutnya dengan tangan kanannya, kemudian menggaruk kepalanya dengan asal dan mengerjapkan kedua matanya berkali-kali sembari menoleh kekanan dan kekiri, memastikan bahwa suara gemuruh dari gerbong yang saat ini terdengar mengaung itu berasal dari kereta yang tengah di tunggunya. Dia bahkan tak sadar jika saat ini di samping kanan dan kririnya sudah berkumpul orang-orang yang tengah menunggu kereta. Stasiun hari ini terasa padat.

“yes.”

Gumamnya ketika melihat kepala kereta yang terlihat semakin mendekati pintu kedatangan. Dengan semangat, Hyeri menyampirkan tas biolanya ke bahu sebelah kirinya. Namun naas!

“HEY!”

Seruan kesal yang berada di belakangnya itu membuatnya menoleh sekilas, namun dia segera membalikkan tubuhnya sempurna setelah melihat siapa seseorang yang sedang mencaci maki dirinya saat ini.

“apa kau tidak tahu itu pemberian orang?! Kau lagi?! Kenapa aku selalu berhadapan denganmu huh?!! Berhentilah mengikutiku!”

Hyeri menutup kedua matanya sembari menunduk. Terkejut lantaran orang itu tiba-tiba membentaknya, juga terkejut karna beberapa pasangan mata kini memperhatikannya.

BRUKK!

Refleks kedua tangan Baekhyun menangkap tubuh Hyeri yang terdorong ke depan dan membuatnya terlihat seperti sedang memeluk Hyeri saat ini. Orang-orang yang berada di dalam kereta dan orang-orang yang berada di pintu kedatangan saling berebut untuk keluar dan masuk ke dalam kereta. Hal itu membuat Baekhyun dan Hyeri yang terlihat lebih kecil dari kerumunan disana, seperti tak terlihat keberadaannya.

“lepas. Lepas. Lepas!”

Hyeri memukuli dada Baekhyun berkali-kali dengan kepalan tangan kanannya, karna Baekhyun tak kunjung berhenti memeluknya. Bayangkan saja! Apa Baekhyun tak tahu malu memeluknya setelah marah-marah tak jelas beberapa menit yang lalu?

“aishhh!”

Baekhyun mendesis sembari mendorong kedua bahu Hyeri ke belakang dan meninggalkan gadis itu setelah menatapnya sinis.

 “dasar aneh.”

Gumam Hyeri begitu melihat Baekhyun melongok ke dalam kereta lewat jendela seperti sedang mencari seseorang. Hyeri hendak berbalik untuk masuk ke dalam kereta, namun dia mengurungkan niatnya ketika kakinya terasa menendang sesuatu. Sesuatu yang membuat Hyeri sadar kenapa Baekhyun sampai marah padanya tadi. Rupanya Baekhyun yang tadi berada di belakangnya tengah bersusah payah memakai jam tangannya hingga akhirnya Hyeri menyampirkan tas biolanya dengan semangat dan jam yang sedang di kenakan Baekhyun jatuh terlempar, namun karna banyaknya orang yang berlalu lalang, jam itu mungkin di tendang kesana kemari hingga kini berada di tangan Hyeri dengan beberapa bagian yang sudah retak.

===

Suara deburan ombak itu terasa begitu menakutkan bagi Jihyun. Gadis itu hanya bisa terpaku menatap lurus ke depan, menatap hamparan laut tak berujung di hadapannya. Matahari hampir saja masuk ke dalam peraduannya, terlihat seperti sedang berhadapan dengan Jihyun saat ini. Sinarnya yang indah membias di permukaan air laut hingga membuatnya berwarna orange kekuningan.

Jihyun menggenggam roknya kuat-kuat. Kakinya melangkah perlahan-lahan namun berhenti ketika sebongkah karang tempatnya berpijak lolos dari sangkarnya dan terjun bebas ke dalam laut hingga menimbulkan bunyi yang membuatnya tergerak untuk mundur satu langkah.

Tak terasa air matanya mengalir. Apa yang dia lakukan? Berniat bunuh diri? Apa dia tidak memikirkan sahabat-sahabatnya? Orang tuanya? Apa masalah yang sedang menimpanya?

Jihyun mengangkat kepalanya, menatap pesawat yang tengah melintasi langit Seoul sore itu. Kemudian kembali menatap lurus ke depan dan dengan gerakan cepat, gadis itu terjun begitu saja. Meninggalkan segala tanda tanya yang bahkan masih belum sempat terjawab oleh dirinya sendiri.

.

.

Hari ini tentu menjadi hari terburuk bagi seorang pria berambut cokelat gelap yang terkenal dengan tatapan datarnya, yang barusaja membuka kacamata hitamnya dengan kesal, Oh Sehun. Bagaimana tidak? Dia di paksa pindah ke Korea dan melanjutkan sekolahnya di sana sementara ayahnya –ibunya sudah meninggal lima bulan yang lalu- berada di Jepang dan menelantarkannya di rumah mereka yang sempat mereka tinggali kurang lebih satu tahun dulu, sebelum dirinya pindah ke Jepang dan ibunya meninggal dunia.

Ya, Sehun merasa dirinya sebatang kara sekarang. Meskipun ada bodyguard yang selalu bersamanya, tetap saja dia melakukan segalanya sendiri. Bodyguard hanyalah penjaga yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi.

Sehun melipat kacamatanya dan melemparnya ke kursi yang berada di sebelahnya kemudian menatap keluar jendela, memperhatikan awan tebal yang sama sekali tak menarik baginya. Dengan kesal, laki-laki itu membenarkan blazernya asal kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.

Ini adalah yang pertama kalinya bagi seorang Oh Sehun memakai seragam sekolah di dalam pesawat. Entah bagaimana Sehun harus menahan amarahnya karna hal konyol itu. Dia tak mengerti apa yang terjadi dan dia tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi. Ketika terbangun dari tidurnya, dirinya sudah di siapkan dan di paksa mengenakan seragam sekolah asing yang bahkan tak tahu namanya, kemudian di giring menggunakan taksi dengan dua koper mewahnya, dan yang terakhir, di temani satu orang bodyguard suruhan ayahnya. Kemudian setelah itu, entah bagaimana ceritanya, dirinya kini sudah berada di dalam pesawat yang membawanya ke Seoul. Sehun benar-benar tidak mengerti kenapa hidupnya ini seperti bukan miliknya.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama baginya, Sehun kini sudah berpindah duduk dari pesawat ke dalam mobil. Untunglah dirinya termasuk pria yang kuat, jadi tak perlu waktu untuk mengeluh atau berpura-pura pergi ke kamar kecil lalu kabur dari pengawasan bodyguarnya. Sebenarnya dia ingin sekali melakukan itu, tapi dia yakin hidupnya akan terancam jika ayahnya mengetahui kelakuannya. Ayahnya adalah orang pertama yang paling di takutinya meskipun dirinya sama sekali tak akrab dengan ayahnya.

“tuan muda tunggu dulu di dalam.”

Setelah melirik bodyguardnya sekilas, Sehun lalu membuang wajahnya ke luar jendela dan mengamati lapangan sekolah yang sudah sepi. Ah, di sekolah? Kedua matanya mengedar meneliti setiap sudut sekolah asing yang baru pertama kalinya dia datangi. Tentu saja sekolah baru Oh Sehun. Lumayan juga. Batinnya sembari memperhatikan sudut sekolah yang terjangkau oleh kedua matanya. Gedung empat lantai yang cukup luas hingga mengelilingi lapangan sekolah tempatnya berada saat ini.

Sekilas Sehun mengamati bodyguarnya yang tengah berbincang dengan penjaga sekolah. Kemudian dia melirik jam tangannya dan mendesah, lalu kembali membuang muka, kali ini ke jendela sebelah kanannya persis di sebelah duduknya. Namun kedua matanya berhenti di satu titik. Mengamati seorang gadis yang tengah merunduk sembari menggigiti kuku jarinya. Tak perlu waktu lama bagi Sehun untuk mengetahui apa yang sedang di lakukan gadis itu karna otaknya sudah menerka jika gadis itu terlambat datang ke sekolah dan memilih mengendap-endap agar dapat melewati gerbang sekolah kemudian bersembunyi di sebelah mobilnya agar tak tertangkap basah oleh penjaga sekolah.

Bingo.

Gadis manapun akan melakukannya jika keadaannya mendesak seperti ini. Namun jika laki-laki, mungkin mereka akan nekat memanjat pagar untuk sampai di kelas.

‘TOK TOK’

Ketukan dari jendela sebelah kirinya membuat Sehun sedikit tersentak. Kemudian dia mengangkat alisnya melihat bodyguardnya yang tengah melambaikan tangan untuk menyuruhnya keluar.

‘BRAKK!’

“AWW!”

Sehun sebenarnya terkejut dengan tindakannya yang terlalu keras membuka pintu hingga membuat gadis itu sukses terjatuh. Namun apa daya? Yang bisa dia lakukan selanjutnya adalah saling melempar pandang dengan gadis itu seakan-akan hanya dengan menatapnya Sehun sudah meminta maaf.

Beberapa detik telah terlewatkan bagi Sehun untuk beradu pandang dengan gadis pemilik mata cokelat itu. Bahkan dirinya tak berinisiatif untuk menjulurkan tangannya dan membantu gadis itu berdiri ataupun mengucapkan kata maaf yang tak butuh dua detik untuk mengatakannya. Tapi kenapa itu terasa sulit baginya?

===

Jihyun tak memperdulikan teriakan penjaga sekolah yang menyuruhnya untuk berhenti. Gadis itu tetap pergi menuju kelasnya dengan was-was. Penjaga sekolah pasti mengenali wajahnya. Tentu saja. Ini sudah yang ke empat kalinya dia terlambat ke sekolah dan mungkin hampir yang ke empat kalinya dia berakhir dengan membersihkan toilet laki-laki selama tiga jam lamanya. Ya Tuhan! Semoga dia di berkati hari ini.

Beruntung sekali guru yang mengajar di kelasnya hanya menitipkan tugas kepada ketua kelas sehingga membebaskannya dari hukuman pertama yakni berdiri di luar kelas hingga pelajaran berakhir. Tapi masih ada kekhawatiran bagi Jihyun menjelang pulang sekolah nanti, pasalnya penjaga sekolah yang biasa di sebut penjaga Jang pasti akan mencari dirinya dan membiarkannya hampir mati di dalam toilet pria seorang diri.

From : Hyeri 06.02 a.m

Jihyun-ah!! Cepat bangun! Yakin kau mau membersihkan toilet lagi huh?

From : Hyunmi 06.34 a.m

Jihyun-ah!! Cepat pergi ke kamar mandi dan balas pesanku!!

From : Hara 06.39 a.m

Hey bagaimana dengan alarm yang kau pasang? Apa berhasil??

From : Sooyeon 07.06 a.m

Ya! Song Jihyun! Kau ada dimana? Sudah bel, cepatlah!

Jihyun mendesah sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya yang berada di kolong meja. Sahabatnya sudah mengiriminya pesan sejak pagi-pagi buta dan dia sama sekali tak membalas pesan mereka. Song Jihyun memang payah.

“cepat masuk dan perkenalkan dirimu.”

Tiba-tiba Guru Seo yang tak lain dan tak bukan adalah wali kelas 12 C datang dengan memperkenalkan seorang siswa baru. Jihyun merasa tak habis pikir ketika kedua matanya menatap ke depan kelas dan menemukan siswa pagi tadi yang ‘sedikit’ bermasalah dengannya ternyata adalah seorang murid baru. Memory Jihyun berputar ke beberapa menit yang lalu, tepat ketika siswa tersebut menatapnya datar dan dingin. Dia ingat betapa banyak pesan tersirat di dalam tatapan itu yang dia sendiri tak mengerti apa artinya. Tapi Jihyun tahu, jika laki-laki itu memiliki latar belakang yang kelam juga diam-diam telah berhasil menarik perhatian Jihyun.

“aku Oh Sehun. Mohon bantuannya.”

Sehun sedikit membungkukkan badannya, kemudian berjalan menuju kursi kosong di meja paling belakang persis di samping pria berambut pirang yang saat ini tengah asik memainkan PSP-nya di kolong meja. Sementara Jihyun masih memperhatikan Sehun sebelum akhirnya ketangkap basah oleh Sehun dan lagi-lagi mereka menghabiskan beberapa detik mereka untuk saling bertukar pandang.

===

“ya! Song Jihyun, kau ini payah sekali! Kenapa bisa kau terlambat lagi?”

Jihyun merengut begitu Sooyeon meletakkan nampan berisi empat mangkuk mie ramen ke atas meja sembari mengomel padanya. Sementara yang lain, sibuk dengan kegiatan masing-masing dan sesekali ikut mengomeli Jihyun yang masih terbiasa dengan kebiasaan buruknya, yaitu terlambat.

“aku janji ini yang terakhir kalinya.”

Ujar Jihyun malas lalu menaruh keduatangannya di dahinya.

“aku rasa aku dalam masalah.”

Jihyun kembali berucap, membuat keempat sahabatnya menatapnya jengah. Seorang Song Jihyun memang rentan terhadap masalah.

“akupun merasa begitu.”

Cibir Hyeri lalu memasukkan gulungan mie ramen di garpu ke dalam mulutnya.

“aku harus ke toilet sebentar.”

Jihyun tak memperdulikan cibiran Hyeri dan beranjak dari kursinya dengan kepala menunduk, dan tindakannya itu malah kembali membuat dirinya berada dalam masalah.

“ya….”

Sooyeon setengah memekik, melihat Jihyun yang berjalan dengan menunduk malah menubruk seorang siswa yang tengah membawa minuman di tangannya, dan karna kejadian tersebut, Jihyun adalah orang pertama yang patut di salahkan karna membuat minuman itu tumpah dan mengotori seragam siswa tersebut.

Jihyun menutup mulutnya yang menganga setelah mengetahui apa yang terjadi dan setelah mengetahui siapa siswa yang saat ini berdiri di depannya.

Dia, Oh Sehun. Laki-laki yang baru beberapa jam lalu mampu menarik perhatiannya.

TO BE CONTINUED

Advertisements

One response to “Find Your Love [Chapter 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s