[Oneshot] LIES

FF ini bukan ditulis oleh saya (MinHyuniee), melainkan ini adalah ff titipan dari CY. Saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Nah, tolong berikan apresiasi kalian melalui komentar setelah membaca ff ini. Terimakasih!

lies

Tiltle: LIES | Author: CY | Main Cast: EXO – Kim Min Seok, OC – Jung Ha Seok & GOT7 – Park Jinyoung | Rate: PG-16 | Genre: Angst | Length: 1.440 words | Disclaimer: FF ini terispirasi dari lagu G.O.D – Lies dan beberapa fanfict yang aku baca

Credit Poster:  kissmedeer by http://cafeposterart.wordpress.com

Makasih untuk Kak Paramita yang udah mau post ff ini sama koreksinya, juga untuk author DKjung yang udah ngasih koreksinya juga.

Summary:

Apa yang selama ini kita lakukan hanya sebuah kebongan? Lucu sekali

^HappyReading^

  Langkahnya terlihat hati hati, pandangannya terus melihat sepenjuru ruangan. Sekali kali ia menutup mata, merasa jijik. Ia tidak mengerti mengapa ia bisa berada disini. Hanya dengan mendengar namanya membuat ia mati matian memasuki tempat yang paling di benci. Ia melihat sekelilingnya, berharap dapat menemukannya dengan cepat agar ia bisa cepat keluar dari tempat ini.

  Ia langsung menghampiri orang yang ia cari begitu ia melihatnya, sungguh menyedihkan. Sejak kapan orang dihadapannya minum?

O-oppa,” dengan perasaann takut gadis itu memanggil, orang dihadapannya sedikit mendongak merasa terpanggil, menatapnya dengan mata yang sayu. Tatapannya kembali kepada wanita disampingnya.

“Bisakah kalian pergi dulu gadis manis? Aku ada urusan dengan nerd ini” Tangannya terulur menyetuh dagu wanita-wanita wanita jalang club ini membuat Haseok bergidik jijik. Seketika wanita yang mengelilinginya pergi tanpa protes.

“Duduklah.”

“Pulanglah.”

“Haruskah? Aku nyaman dengan tempai ini.”

  Gadis itu menghela nafasnnya kasar, ia sunggu tidak mengerti bagaimana jalan pikiran orang dihadapannya. “Aku tidak peduli, pulanglah.”

“Kau tak ingin menemaniku minum? Ayolah nerd, nikmati malam ini.”

  Dengan sedikit tenaganya gadis itu menarik tangan pria dihadapannya untuk mengikutinya keluar dari tempat ini.

“Jungha-ya, kau tidak membawa kendaraan?.”

   Haseok hanya menggelengkan kepalanya.

“Masih ada bis terakhir.”

“Benarkah?,” Haseok menganggukan kepalanya,ia terlalu malas meladeni orang disampingnya. Secara tiba tiba Xiumin menggenggam tangan Ha Seok yang dingin, memasukannya kedalam mantel yang dipakainya mencoba memberi kehangatan.

“Halte masih 15 menit lagi, biarkan seperti ini.” ucap Xiumin sambil menatap langit malam sambil tersenyum. Haseok ikut tersenyum lalu mengeratkan tautan tangannya.

   Kini Xiumin dan Haseok duduk bersebelahan didalam bis yang membawa mereka pulang, tangannya masih berpautan tanpa ada niat melepasnya.

Oppa mengantuk? Tidurlah,” Haseok menggunakan tangannya yang bebas membuat Xiumin bersandar pada bahunnya. Xiumin hanya menggeleng,ia tidak berniat tidur jika bersama Haseok, bersandar dengan mata terbuka jauh lebih nyaman.

“Jungha-ya, apa kau mengingat janji kita dulu?.”

Saling percaya dan saling melindungi,begitukah?.”

    Xiumin tersenyum, ia semakin mengeratkan tautan tangannya. Tangannya terulur mengelus puncak kepala Haseok, hanya dengan mendengar suaranya Xiumin bisa hidup dengan bahagia setiap harinya.Ia ingin terus seperti ini.Kau tidak akan melupakannya, benar?

    Xiumin mengetuk pintu pelan lalu masuk dengan senyum yang merekah.

Hyung, kau ada tugas kali ini,” Sebuah suara mengejutkan Xiumin, dengan buru buru ia mengambil tempat duduk disebelah kawannya.

“Apa orang penting? Anak raja?,” Xiumin begitu antusias menanggapi perkataan kawannya itu.

“Sayang sekali kau tidak beruntung Hyung. Dia hanya orang biasa, tapi sebenarnya dia seorang chaebol. Keluarga nya tak ingin orang ini memegang perusahaan karena dia tidak normal dan keluarganya yang gila harta” Tao –namanya- memberikan foto target kepada Xiumin. Awalnya Xiumin begitu senang sebelum ia melihat siapa targetnya. Pucat lebih mendominasi, seketika lututnya terasa lemas. Perlahan ia mengangkat kepalanya menatap orang dihadapannya.

  Air matanya turun tanpa adanya perintah. Orang dihadapannya bangkit, menepuk pelan bahu Xiumin.

“Kau tahu sendiri bagaimana sifatnya, lakukan atau mati.”

  Kata-kata terakhir semakin membuat Xiumin terpojok. Apa benar ia harus melakukannya? Ini sungguh membuatnya gila.

  Bagaimana bisa, ia membunuh. Membunuh, Park Jinyoung?

   Sudah beberapa hari Xiumin dan Haseok jarang bertemu. Kedua nya disibukan dengan kerjaan masing masing. Haseok yang bekerja part time sebagai barista disalah satu café. Sedangkah Xiumin, ia diberi waktu 3 hari untuk memikirkan tugasnya. Pihak pelapor sudah bertanya kapan, tapi Xiumin tidak pernah siap dengan tugasnya yang ini.

   Haseok dengan telaten menyiapkan pesanan, ada perasaan bangga tersendiri melihat senyum puas dari pelanggannya sendiri. Ia bisa benafas dengan tenang sekarang, semua beban nya sudah terangkat sedikit demi sedikit.

Anyeong Noona.” Suara dibelakangnya membuat Haseok menoleh kebelakang. Kaki nya melangkah mendekat, mendekap tubuh jangkungnya sebentar lalu mengancak rambut pemuda dihadapannya.

Anyeong, Jinyoung-ah. Bagaimana sekolahnya?,” Jinyoung mengangguk antusias. Jinyoung bercerita bagaimana sekolahnya dengan seyum yang terus mengembang, membuat Haseok tersenyum dibuatnya. Jinyoung dan Haseok duduk dibangku yang berdekatan dengan jendela, Haseok memperhatikan Jinyoung yang sedang meminum susu strawberry dengan lahapnya.

Noona harus kembali bekerja, duduklah dengan tenang,” Haseok mengacak rambut Jinyoung sebelum ia kembali bekerja.

  Xiumin dengan langkah tergesa memasuki café tempat Haseok bekerja, tak peduli dengan tatapan pengunjung yang teraneh melihatnya.

“Selamat dat—eoh, oppa?Wajahmu…”

“Dimana Jinyoung?” Xiumin tak peduli dengan pertanyaan Hoseok, matanya menatap dalam mata Haseok menuntut jawaban terlihat raut khawatir.”Dimana, uri Jinyoung?” Tanyanya sekali lagi

“D-dia disana” Haseok yang bingung menunjuk tempat Jinyoung duduk. Xiumin segera melangkah mendekati Jinyoung tak peduli dengan pertanyaan yang dilontarkan Haseok.

“Jawab dulu pertanyaan ku” Haseok mencegah tangan Xiumin yang hendak membawa Jinyoung, melepasnya dengan kasar. Xiumin mendenguskan nafas kasar. “Apa?”

“Apa yang terjadi?Mengapa kau mencari Jinyoung?Kemana saja ka— YAAK!.” Xiumin menarik tangan Haseok dan Jinyoung secara tiba tiba, membawanya keluar dari café, memasuki mobil yang sudah Xiumin siapkan sebelumnya. Xiumin segera menjalankan mobilnya.

“Apa yang kau lakukan oppa? Kau membuat Jinyoung takut.” Haseok mengelus puncak kepala jinyoung guna menenangkannya.

“Bukalah tas kecil yang berada disebelahmu,” suruh Xiumin.

    Haseok mengambil barang yang dimaksud Xiumin meskipun dengan perasaan bingung.

“Itu tiket pesawat yang akan membawa mu dan Jinyoung ke Jepang, tinggallah disana sampai aku menjemput kalian. Aku sudah menyiapkan semua yang kalian butuhkan. Pasportmu dan Jinyoung sudah ku tangani. Kunjungi alamat yang kusimpan ditas kecil itu, gunakan rekeningku selama kalian hidup disana. Jangan menjawab telepon jika bukan dariku. Paham?.”

“Sebenarnya apa yang terjadi Oppa?.”

    Xiumin menjelaskannya bagaimana ia mendapatkan tugas untuk membunuh Jinyoung yang ternyata seorang pewaris harta keluarga dengan berbagai aset seharga 1 milyar. Keluarga Jinyoung yang haus akan harta ingin memiliki semua harta yang seharusnya di berikan kepada Jinyoung. Tentu saja, Xiumin ingin melindungi Jinyoung yang berstatus anak angkatnya. Haseok semakin mengeratkan pelukannya pada Jiyoung, keringat dingin mulai keluar dari pelipisnya. Bagaimana ini bisa terjadi pada Jinyoung? Apa salahnya?

    Dengan tergesa-gesa Xiumin menarik Haseok dan Jinyoung memasuki bandara. Sesekali ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, masih ada waktu.

“Keberangkatan kalian tinggal 20 menit lagi, pergilah dan jangan berbalik badan,” Xiumin sedikit mendorong Haseok dan Jinyoung. Xiumin berbalik, memasukan tangannya kedalam saku. Xiumin sedikit terkejut, tiba tiba seseorang memeluknya, ia berbalik menemukan Jinyoung menatapnya dengan mata yang berair.

Hyung, tidak ikut kami? Wae?,” Jinyoung yang sedari tadi diam mulai bersuara, ia menatap Xiumin dengan matanya yang berair. Xiumin memegang pundak Jinyoung sambil tersenyum.

Hyung akan menyusulmu nanti. Jadilah anak baik selama Hyung tidak ada. Jaga Hoseok Noona untuk Hyung, arra?,” Jinyoung mengangguk dengan semangat meskipun masih ada air mata. Xiumin menatap orang sebelah Jinyoung, ia memegang pundak Haseok.

“Tolong jaga Jinyoung untukku. Setelah selesai aku akan menyusul kalian. Saranghae.

 Xiumin mencium bibir Hoseok sekilas sebelum benar benar pergi. Haseok kembali menarik Jinyoung untuk segera pergi. Air mata yang susah ia tahan kini mengalir bebas, tak ada niat untuk menghapus air mata ini karena ia percaya Xiumin akan datang dan menghapus air matanya.

   Haseok masih mendengar suara Xiumin yang memperingatinya. Haseok tidak berniat untuk melihat kebelakang, tak akan pernah. Haseok langsung memberikan penutup telinga dan mata kepada jinyoung begitu mereka duduk dibangku pesawat.

 Jinyoung memakainnya tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Haseok duduk dalam diam,air mata terus mengalir melewati pipinya. Ada perasaan yang menganjal dihatinya. Tanganya meremas bajunya guna mengurangi rasa sesak didadanya. Haseok berbohong.

Mianhae Oppa.

__

   Xiumin berbalik,tangannya memegang senjata yang selalu menemaninya. Ia tertawa remeh mendengar suara sepatu dari kejauhan. Suara pesawat yang mulai mengilang membuat Xiumin tersenyum lega.

  Langkah kaki semakin mendekat membuat Xiumin bersiaga.

“Kalian tidak akan menemukannya, aku sudah membawanya ketempat dimana kalian tidak akan menemukannya.” Xiumin berteriak dengan lantang.

   Semua orang berjas hitam membawa pistol kini mengelilingi Xiumin, memposisikan senjatanya tepat di organ vital target. Salah seorang dari mereka maju mendekati Xiumin dengan seringai diwajahnya.

“Senang bertemu kembali.” Xiumin mendesis, menatap benci orang dihadapannya.

“Diam kau,Park Chanyeol.”

“Kau yang seharusnya diam! Kau sudah menghianati semuanya, kami sudah mengetahui semua dari awal. Kau orang suruhan! Kau disuruh untuk mencari kelemahan kami agar kalian semua dapat menghancurkan kami, bahkan kau tidak membunuh orang yang seharusnya kau bunuh!Kau pantas mendapatkan ini, lakukan atau mati.” Chanyeol berbalik membiarkan Xiumin dikelilingi orang yang sudah siap menarik pelatuknya . Setelah sekiranya cukup jarak Chanyeol berbalik, ia ingin melihat kawannya menderita.

“Ia sudah melakukannya dengan baik,” Chanyeol melihat Xiumin yang mengerutkan dahinya.

“Pacar mu. Jung Haseok yang melakukan semuanya, dia memang aktris yang berbakat. Kau kaget? Tentu saja, Jung Haseok bagian dari kami. Pembunuh Bayaran.” Chanyeol menunjukan smirk nya. “Bahkan kalian sedang menjalin kasih, lucu sekali” Lanjutnya

Kau melupakannya, Kau menghianatinya, Apa aku harus berterima kasih kepadamu? Bersujud?

“Bersiaplah. Ada kata terakhir, Tuan Kim? 1 2 3,”

DOR

THE END

Advertisements

8 responses to “[Oneshot] LIES

  1. Ya ._. Ternyata malah Haseok yg ngebunuh akhirnya, udah gitu Xiumin nya mati pula 😥
    Ffnya keren thor …. Ditunggu ff” author yg lainnya ya 🙂

  2. sedih , malah uri xiumin yg dibunuh.. keren ceritanya..
    tapi jujur, bingung sama awalnya, terus knapa xiumin manggilnya Junha?

    • karena nama nya Jung Ha Seok … jadi manggil nama nya Jungha,.. semacam Kim tan/? lagi … terima kasih sudah bacaa XD ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s