[Series] El Amor Verdadero ( Chapter 5 :Be a Parents?)

EAV5__1418627519_95.211.211.184

Author               : Oh Silvy

Tittle                  : El Amor Verdadero ( Chapter 5 :Be a Parents?)

Main Cast          : Oh Sehun, Kim Soo Han, etc.

Genre                 : Romance, School life, revenge.

Rated                 : PG-16

Link EL Amor Verdadero: ( Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Ongoing )

EL AMOR VERDADERO

CHAPTER 5

(Be a Parents?)

“Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?” Seoyoon menatap tajam mata Soohan meminta penjelasan. sedangkan Soohan, yeoja itu hanya bisa menunduk pasrah seperti ketahuan maling. Ia lebih memilih untuk menatap ujung sepatunya daripada menatap sahabatnya itu.

“SOO. KAU BERANI-BERANINYA….”

“Seo, orang itu…”

(Be a Parents?)

Sang surya masih bersemangat untuk menyinari bumi, memancarkan sinarnya bahkan ketika semua makhluk meraung meminta keteduhan. Panas terik tak membuat namja albino –Sehun- mengurungkan niatnya untuk menidurkan dirinya dibawah pancaran mentari. Ya, walaupun dengan bantuan pohon maple yang senantiasa memberi naungan bagi yang ingin keteduhan.

Oppa.” Sehun baru saja akan memasuki alam mimpinya jika saja ia tidak dikejutkan dengan panggilan seseorang. Namja itu menggeram kecil ketika menyadari tidurnya tidak dapat berlanjut. Tampaknya yeoja yang memanggilnya ini ingin bicara.

Wae?” Sehun mendudukkan dirinya dan bersender di batang pohon, sedikit menggelengkan kepalanya mengusir rasa pusing yang mendera kepalanya. Sedang yeoja yang memanggilnya memilih untuk tetap tegak dan memperhatikan Sehun dengan saksama.

“Kau dipanggil Kang seonsaengnim untuk ke labor kimia. Sedari tadi aku mencarimu tapi ternyata kau malah membolos disini.” Yeoja itu mempoutkan bibirnya membuat Sehun tertawa pelan. Yeoja ini sangat lucu dan bagi Sehun, melihat yeoja ini kesal adalah salah satu hal yang ia sukai.

“Yaa oppa. Berhenti tertawa!” Yeoja itu melipat kedua tangannya didepan dada, pura-pura merajuk. Sehunpun berhenti tertawa dan mengacak rambut yeoja yang sudah ia anggap seperti dongsaengnya sendiri, walaupun umur mereka hanya berbeda beberapa bulan.

“Ne, Ms. Kim. Aku tidak akan tertawa lagi. Nahh, sekarang aku harus menemui Kang seonsaengnim dulu. Bye.” Setelah puas meledek ‘dongsaengnya’ Sehun segera beranjak dari taman. Sedangkan yeoja tadi memandang pungggung Sehun yang semakin menjauh itu dengan pandangan sendu.

“Maafkan aku oppa.” Yeoja itu mengeluarkan smartphonenya dan menghubungi seseorang.

“Dia sudah dijalan.” Ia kembali menatap jalan yang dilewati Sehun sebelum beranjak pergi.

(Be a Parents?)

“Ya Tuhan. Ini tidak mungkin.” Jin mengerang frustasi. Sedangkan Kai yang berada di sampingnya menatap layar komputer dengan tatapan tak percaya.

“I-ini. Ini salahkan? Ini, informasi ini tidak akuratkan? Hyung, jawab aku hyung!” Kai mengguncang lengan Jin yang hanya bisa terdiam dalam fikirannya. Jin juga bingung. Tidak mungkin orang itu yang meneror Soohan.

“Hai Jin hyung, Jongin.”

Jin tersadar dari lamunannya, dan ketika menyadari Junhyung berjalan menghampiri, ia langsung mematikan komputer dihadapannya. Jin fikir, belum saatnya Junhyung tahu, cukup ia dan Kai saja.

“Eoh. Ha-hai hyung. Ke-ke-kenapa k-kau kesini?”

Kai sedikit gelagapan menyadari kehadiran Junhyung. Ia berusaha menyembunyikan raut panik di wajahnya, namun sepertinya ia tidak berbakat dalam hal itu. Setelah ini ia ingin meminta bantuan Hyemi, teman sekelasnya yang mengikuti kelas drama agar ia bisa sedikit berakting jika dalam keadaan seperti ini.

Wae? Memangnya aku tidak boleh memakai fasilitas sekolah? Aku baru saja melihat permainan baru, dan aku ingin mencobanya. Tidak salahkan aku memakai labor komputer ini?”

“A-aa, ji-jinjja hyung?. A-aa-adaa game baru?”

Junhyung manyadari gelagat aneh Kai dan Jin. Tidak biasanya salah satu magnae itu mau dipanggil dengan nama aslinya. Biasanya namja itu akan marah jika Junhyung memanggilnya dengan sebutan Jongin, katanya tidak keren. Tapi kali ini, namja itu tidak marah sama sekali, bahkan ia terlihat gugup.

“Kalian kenapa sih? Mencurigakan sekali.” Junhyung memicingkan matanya, membuat Kai makin mengkerut gugup. Ia merasakan aliran darahnya mengalir dengan cepat di setiap urat nadinya, tak bisa disembunyikan lagi rasa gugupnya yang lebih mendominasi.

“Eung.. Itu eumm.. a-anniya hyung. Gw-gwencanha. Kami sedang, eum, sedang.” Seperti tersedak sesuatu di dalam tenggorokkannya, untuk bicara pun sangat sulit baginya. Jin yang sedari tadi melihat tingkah gugup Kai ikut merasa gugup.

“Eumm, Jin hyung, Jin hyung, eum, haa, Jin hyung dapat video baru. Iya, blue film baru. Iyaa.” Kai akhirnya bernafas lega karena dapat menyelesaikan kalimatnya. Dan jangan salahkan otaknya karena hanya kalimat itu yang dapat di proses dengan cepat oleh otaknya.

MWO? YAKK MAGNAE.” Jin menjitak kepala Kai cukup keras membuat sang empu merasa sakit yang sangat di belakang kepalanya. Jin memandang kesal Kai, bisa-bisanya namja itu mengkambinghitamkan hyungnya sendiri. Habis sudah image polosnya.

Mwo? Wahaha, hyung, jinjja?? Aku tidak menyangka kau menyukai film yang seperti itu. Bukankah kau bilang kau tidak suka dan tidak pernah menonton yang seperti itu?”

“Huuhh, kalian mengganggu kegiatanku saja. Sebaiknya kalian pergi saja. Hushh, husshh.” Jin berdiri dan langsung mendorong kedua dongsaengnya keluar dari ruangan itu, sebelum semuanya terbongkar. Moodnya jadi buruk sekarang berkat alasan tepat Kai yang membuat dirinya malu.

(Be a Parents?)

“Jadi?”

“Jadi, semua itu Cuma kecelakaan.”

Seoyoon menggangguk mengerti. Setelah melihat pemandangan antara Sehun dan Soohan di ruang UKS, yeoja itu langsung menarik Soohan ke sudut koridor sekolah dan meminta penjelasan. Seperti layaknya seorang polisi yang telah menangkap pencuri, Seoyoon terus mengintrogasi Soohan dengan rentetan pertanyaan yang mungkin bisa digolongkan ke dalam pertanyaan tak penting.

“Hmm, lalu. . .” Seoyoon mendekat dan berbisik pada Soohan.

“YAAK. MICHEOSSO?” Soohan membelalakkan matanya ketika mendengar pertanyaan Seoyoon. Jika saja bola matanya tidak dilindungi oleh kelopak, mungkin saja mata Soohan sudah keluar dari tempatnya. Gila saja yeoja itu, tidak mungkin Soohan dapat berfikir jauh kesana.

“YAKK. Aku hanya bertanya bagaimana rasa bibir Sehun. Kau tak perlu memberikan respon berlebihan seperti itu.” Seoyoon memadang kesal sahabatnya sati itu. Terkadang Soohan menjadi perespon yang sangat berlebihan, kadang juga ia menjadi pendengar yang buruk. Dasar labil, fikir Seoyoon.

Soohan hanya dapat menghela nafas, sejak kapan Seoyoon yang polos menjadi seorang yeoja pervert seperti ini. Seingatnya baru kemarin Seoyoon masuk sekolah dengan tampilan culun, dan sekarang yeoja itu sudah bertransformasi menjadi seorang yeoja stylish yang menjadi idola para pria, jangan lupakan sifat pervertnya.

“Seo, orang itu. Bukannya itu Sehun?”

Soohan memandang lapangan yang berada diantara gedung tempat ia berada dengan gedung sebelah. Disana ia melihat Sehun yang sedang berjalan tergesa, tampaknya namja itu sedang terburu-buru.

“SEHUUUN.”

Soohan berteriak memanggil Sehun dan melambaikan tangannya, bermaksud menyapa. Namun namja itu hanya memandangnya sekilas dan melanjutkan langkahnya. Seoyoon yang berada disamping Soohan terkekeh hebat ketika melihat yeoja yang sudah lama menjadi sahabatnya itu menggembungkan pipinya dan meniup poni, memandang punggung Sehun dengan kesal.

“Haaaah. Aku kesaaal.”

Soohan menghentak-hentakkan kakinya kesal. Kenapa namja itu masih saja dingin kepadanya, padahal mereka sudah tinggal serumah, dia juga sudah sering menolong Soohan, dan mereka sudah pernah ciu-. Soohan menggelengkan kepala mengusir pikiran kotor yang merasukinya. Nampaknya ia sudah ketularan Seoyoon.

Soohan mengedarkan pandangannya keseliling tempat yang dapat dicapai dengan mata mungilnya. Dan tepat saat Soohan melihat ke atas gedung dihadapannya, ia melihat seorang namja sedang memegang aquarium kaca, dan tatapan namja itu mengarah ke

“SEHUUUN.”

Soohan merasakan semua ini tidak beres. Setelah melihat namja mencurigakan tadi, Soohan langsung berlari ke arah Sehun. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi sepertinya namja itu ingin mencelakai Sehun.

“SEHUN, MENYINGKIR. . .”

Sehun merasa kesal ketika Soohan memanggilnya, ada urusan apalagi yeoja itu. Dengan malas ia menoleh kembali, namun ketika Sehun menoleh, ia mendapati Soohan tengah berlari ke arahnya dengan kecepatan tinggi hingga menabrak tubuhnya. Sehun terjatuh dengan Soohan tepat di atas tubuhnya. Saat Sehun akan beranjak ia merasa Soohan memeluknya erat.

“Ja-jangan.”

PRAAANG . . .

Sehun menolah ke arah sumber suara yang berada tepat di samping tubuhnya. Ia harus sedikit menegakkan tubuhnya karena pendangannya terhalang rambut Soohan. Yeoja itu masih memeluk erat tubuh Sehun. Di sela rambut Soohan, Sehun melihat pecahan kaca yang sepertinya sengaja dijatuhkan.

“Se-Seehun. Gwencanha?”

Seperti tersambar petir, Sehun merasa hatinya menjadi kepingan halus ketika Soohan menanyakan keadaannya. Bagaimana bisa yeoja yang hampir kehilangan nyawa karena menolongnya, bukan memeriksa diri sendiri malah memikirkan keselamatan orang lain. Sehun tidak habis pikir dengan yeoja satu ini. Hanya satu hal yang ada di pikiran Sehun tentang Soohan.

Neo, pabbo yeoja.”

Soohan tersenyum, lalu menegakkan tubuhnya yang diikuti Sehun. Ia senang, karena Sehun baik-baik saja, ia senang bisa membalas budi baik Sehun terhadap dirinya.

“Aah, Kau masih bisa berkata seperti itu, berarti kau baik-baik saja. Maaf sudah menabrakmu.”

Soohan kembali tersenyum pada Sehun. Yeoja itu membersihkan baju Sehun yang terlihat kotor, lalu beranjak pergi. Sehun masih terpaku ditempatnya melihat yeoja yang sudah beberapa minggu tinggal bersamanya itu. Sehun mengerutkan dahinya ketika menyadari cara jalan Soohan yang aneh, terseok. Dan Sehun baru menyadari ada bercak darah di baju dan kaki Soohan.

“Aishh, menyusahkan saja.”

Sehun beranjak menuju Soohan dan langsung menggendongnya, tidak sadar akan rona merah samar yang timbul di pipi putih yeoja dalam gendonggannya.

(Be a Parents?)

   Baru saja eomma Sehun hendak beranjak ke dapur ketika melihat Sehun membopong tubuh Soohan yang tampak tak bergerak. “Ya Tuhan. Apa yang terjadi padanya Sehun?”

Tak memperdulikan ocehan eommanya, Sehun langsung membawa Soohan menuju kamarnya -yang sekarang Soohan tempati- dan membaringkan tubuh yeoja itu. Eomma Sehun yang terlanjur panik terus saja mendorong anaknya untuk bercerita perihal pingsannya Soohan.

“Mereka masih mengejarnya.”

Kalimat singkat Sehun membuat ekspresi nyonya Oh tidak terbaca. Tubuhnya seakan beku terhalang es dan tak ada satu katapun yang mampu keluar dari bibir yeoja paruh baya itu.

Eomma, ottokhae? Mereka semakin berani.” Ucap Sehun sembari mengobati luka-luka di tubuh Soohan akibat peristiwa sok pahlawannya -yang berhasil membuat Sehun tercengang- dan menaikkan selimut hingga menutupi leher Soohan.

“Haruskan kita minta bantuan dari pihak kepolisian?” Tanya Sehun ketika mereka duduk di balkon kamar. Pandangan mereka tak lepas dari yeoja yang tengah terbaring di ranjang kamar Sehun.

“Jangan.” Sehun menatap bingung eommanya. Tidakkah pekerjaan mereka akan lebih mudah dengan bantuan polisi? “Wae?”

“Campur tangan polisi akan membuat penjahat itu semakin mudah menemukan orang tua Soohan. Dan usaha kita untuk menyembunyikan mereka akan sia-sia.”

Sehun mengangguk mengerti, tak ingin berdebat lebih dengan eommanya. pikirannya beralih pada kejadian beberapa saat lalu ketika Soohan berusaha menolongnya. Tak dipungkiri Sehun merasa takjub pada Soohan. Bagaimana yeoja itu mempertaruhkan dirinya sendiri untuk menyelamatkan orang lain, dan bagaimana yeoja itu lebih mementingkan keadaan orang lain, padahal dirinya sendiri terluka.

Eomma, hyung.” Sehun mengalihkan pandangannya pada sosok imut yang baru saja memasuki kamar. Raut kesal memenuhi tiap sudut wajahnya. “Sechul mencali eomma, hyung juga.”

Nyonya Oh terkekeh melihat anak bungsunya yang memputkan bibirnya. Gemas, nyonya Oh mencubit pelan bibir Sechul menimbulkan rengekan darinya.. “Eommaa~”

“Ck. Bagaimana kau bisa seperti hyungmu jika selalu merengek eoh?” Nyonya Oh langsung menggendong Sechul dan sesekali membawanya berputar.“Thechul tidak mau sepelti hyung. hyung pabbo, eomma.”

Hati Sehun mencelos mendengar perkataan dongsaengnya tersayang itu. Heol, bagaimana anak berumur lima tahun menyebut hyungnya sendiri pabbo.

MWO? Yaa, mini cadel. Bagaimana kau bisa menyebut hyungmu ini pabbo eoh?” Sehun berdiri dan merebut Sechul dari eommanya. Mengangkat dongsaengnya itu tinggi-tinggi dan sesekali menggoyang-goyangkan tubuh Sechul.

hyung pabbo. Tulunkan Sechul. Sechul mau lutun hyung.” Sechul menggerak-gerakkan kakinya membuat gerakan seakan menendang Sehun, namun yang lebih tua tak bergeming dan memilih tetap memainkan dongsaengnya itu. “Tidak mau. Wee.”

“Hei. Kenapa kau menyebut hyungmu pabbo chagi?” Tanya nyonya Oh lembut pada anak bungsunya. Seingatnya ia tidak pernah mengajarkan anaknya itu untuk tidak sopan pada yang lebih tua.

Eomma, hyung pabbo. Matha hyung tidak tahu thiapa yang mau mencelakakan Thoohan noona. hyung pabbo~” Sechul menjulurkan lidahnya mengejek Sehun. Sedangkan Sehun malah terdiam dalam pemikirannya, hingga ia lengah. Membuat Sechul dengan mudah lompat dari gendongannya.

hyung.” Sechul menarik-narik celana Sehun meminta perhatian. “Thelalu ada musuh dalam thelimut hyung. hyung tidak boleh lengah, atau Thoohan noona akan celaka.”

Waaah. Tampaknya pangeran kita sedang tercengang. Ia merasa takjub dengan anak kecil dihadapannya yang bahkan tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa. Bagaimana anak berumur 5 tahun itu bisa mengatakan kalimat yang seharusnya dikatakan oleh yang lebih dewasa. Bahkan nyonya Oh hanya bisa melongo mendengar ucapan anak bungsunya itu.

“Hei, darimana kau dapatkan kata-kata itu?” Tanya Sehun ketika dirinya sudah dapat menguasai keterpukauannya terhadap Sechul. Bungsu keluarga Oh tersebut hanya mengedikkan bahunya mendengar pertanyaan dari hyungnya. “Thechul mendengalnya dari film Thellock Holmeth.”

Dan untuk ke sekian kalinya Sehun terpukau terhadap dongsaengnya. Jika biasanya anak seumurannya menonton kartun, berbeda dengannya. Sechul lebih menggemari film yang berhubungan dengan penelitian ataupun penyelidikan detektif. Yang ia bingungkan sekarang, bagaimana namja cilik itu mengerti akan penyelidikan detektif seperti itu.

Eomma, berapa sih IQ anak ini. Aku merasa berbicara pada orang tua.” Sehun mencak-mencak di hadapan dongsaengnya dan Nyonya Oh. Ia merasa dipermalukan oleh dongsaengnnya sendiri.

“Tuh kan eomma. hyung pabbo, maca thudah bethal kelakuannya thepelti anak umul lima tahun.”

“Yaak.” Sehun melongo tak percaya. Heol, siapa disana yang berumur lima tahun sebenarnya eoh? Kenapa jadi ia yang dipermalukan? Nyonya Oh hanya terkekeh melihat pertengkaran kecil dari anak-anaknya itu.

(Be a Parents?)

Matahari tampak sedang semangat menerangi bumi. Cahayanya yang terik namun meneduhkan seakan memberi semangat bagi mereka yang beraktivitas. Bahkan bagi yeoja yang baru saja bangun dari tidurnya, semangat seakan mengalahkan kesakitan yang dialaminya.

“Euunghh. Selamat pagi dunia.” Yeoja itu –Soohan- segera bengkit dari tempat tidur dan segera meregangkan tubuh. Tidur –lebih tepatnya pingsan- selama sehari penuh membuat tubuhnya kaku. Dengan luka yang belum sembuh benar, Soohan tetap semangat melakukan pemanasan pagi, walaupun diselingi dengan ringisan dari bibir mungilnya.

“Waw. Kukira tuan putri belum sadar dari tidur panjangnya.” Soohan mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan mendapati Sehun membawa nampan yang berisi sarapan. Namja itu tampak sudah rapi dengan seragam sekolahnya.

“Uhh, kau tahu, tidur selama itu membuat tubuhku seperti robot.” Soohan terus berceloteh pada Sehun yang menaruh nampan sarapan di meja nakas samping tempat tidur.

“Hei.” Sehun menginterupsi celotehan Soohan. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya Sehun seraya mendudukkan dirinya di ranjang yang sudah lama tidak ia tempati. Soohan ikut duduk disamping Sehun dan tersenyum manis. “Lebih baik dari sebelumnnya.”

“Aaa, Sehun. Kau sudah mau pergi ke sekolah?” Sehun hanya mengangguk sebagai jawaban. “Tunggu aku ne. Aku akan bersiap.” Soohan berlalu ke kamar mandi yang memang berada di dalam kamar berukuran sedang itu.

Setelah selesai bersiap, Soohan langsung menuju ke ruang keluarga menghampiri Sehun yang sedang duduk sembari membolah-balik koran. “Kemana ahjumma?”

Sehun mengalihkan pandangannya pada Soohan sekilas dan kembali pada koran di tangannya. “Eomma pergi menjenguk haraboji.”

Kajja. kita berangkat.” Soohan menarik lengan Sehun yang masih sibuk dengan korannya. Sehun hanya bisa geleng kepala melihat tingkah Soohan yang sangat bersemangat pagi ini. Tak terasa senyum tipis terukir di bibir Sehun.

(Be a Parents?)

“Yaak, gwencanha?” Soohan hanya mengangguk malu. Pasalnya, keceriaannya pagi ini membawa sedikit masalah bagi dirinya sendiri. Karena terlalu semangat, Soohan terjatuh dan terkilir ketika sedang berlari.

“Ehh.”

“Aku tidak mau mengambil resiko karena kau jatuh lagi.” Soohan mengangguk pelan. Sehun menggenggam tangannya? Dadanya berdegup lebih cepat ketika merasakan tangan Sehun yang pas di rasakannya. Rona merah muda bahkan sudah menghiasi pipi putihnya. Sedangkan Sehun hanya tersenyum tanpa melihat ke arah Soohan.

Suasana mendadak hening diantara mereka. Suara dari kerumunan para siswa yang sedang mengobrol, bahkan suara motor dan mobil yang saling bersautan tak dapat menembus keheningan yang entah sejak kapan menyelimuti keduanya.

“Eeey, mesra sekali.” Sehun langsung melepas tautan tangannya ketika suara Jongin menyeruak masuk ke telinganya, lalu menoleh ke arah sahabatnya itu. Berusaha menutup ekspresinya.

“Hahaha, kau tidak pandai berbohong dude.” Jongin berjalan diantara Sehun dan Soohan sambil menaruh tangannya di pundak keduanya. “Aku tahu apa yang terjadi.”

Sehun mendecih melihat sifat sok tahu yang selalu ditunjukkan namja tan itu. Terkadang ia bingung, bagaimana bisa ia terdampar sebagai sahabat orang yang pervert, playboy dan sok tahu seperti Jongin.

“Yakk, aku tahu apa yang kau fikirkan, jahat sekali kau.” Ucap Jongin dramatis, seakan bisa membaca pikiran Sehun. Ia melirik Soohan di sebelah kanannya dan meletakkan kepalanya di bahu Soohan. “Soo, kau lihatkan tatapan tak sukanya itu. Huhuhu, Sehun memang jahat.”

Sehun memutar bola matanya malas, setelahnya menjauhkan tubuh Jongin dari Soohan yang malah mengundang senyum miring dari namja tan itu. “Kau akan berlaku lebih jauh jika kubiarkan berdekatan dengannya.”

Jongin tertawa nyaring mendengar ucapan Sehun. Benar apa yang dikatakan Sehun atas dirinya. “Kau tahu aku dude.”

Wajah sehun tertekuk sepanjang jalan menuju kelas. Berkat suara tawa Jongin yang membahana, mereka jadi tatapan setiap siswa yang beada di koridor, dan tentu Sehun tak suka akan hal itu. “Kau berisik hitam.”

“Yaak. Apa yang kau bilang?” Sehun mengambil langkah seribu menyadari tatapan Jongin. Segera ia berlari meninggalkan Jongin sambil menggenggam lengan Soohan. “Wow, kau mengalami perkembangan yang pesat dude.” gumam Jongin seraya melihat tautan antara Soohan dan Sehun.

(Be a Parents?)

Sehun. Mian, eomma tidak bisa pulang hari ini. Mungkin eomma akan menginap seminggu. Tolong jaga Sechul ne. Gumawo.

Sehun mendengus melihat pesan yang di kirim eommanya. Menjaga Sechul? Seminggu? Bagaimana bisa? Hell, Sechul itu anak paling bandel yang pernah Sehun kenal.

“Sehun. Wae?” Sehun menoleh ke arah Soohan yang berada di kanannya dan menghela napas. “Eomma menginap selama seminggu di rumah harabojji. Haaah ottokhae?”

Soohan mengerutkan dahinya melihat raut tak suka di wajah Sehun. Aa, sebagai informasi, semenjak pagi tadi Sehun tak lagi menjadi Sehun yang dingin dan tak berekspresi. Setidaknnya tidak di depan Sohan. “Ottokhae mwo?”

Sehun menoleh ke arah Soohan dan menggeleng pelan. Pikirannya menerawang ke kejadian yang mungkin akan ia alami jika sudah merawat Sechul. Pernah, ketika Sehun dititipkan Sechul, bocah lima tahun tersebut membuatnya harus membereskan rumah yang dibuat seperti kapal pecah, belum lagi ketika dongsaengnya itu meminta macam-macam dan Sehun harus memenuhinya.

“Ku kira Sechul, anak yang lucu.” What? Lucu? Sehun mendecih pelan mendengarnya. Menurutnyaa Sechul adalah preman yang terjebak dalam tubuh anak berumur lima tahun. Soohan tidak tahu saja kelakuan Sechul yang sebenarnya. “Kau belum mengenalnya Soo.”

Soohan hanya manggut-manggut atas pernyataan Sehun. Well, memang ia belum sepenuhnya mengenal Sechul, namun dari sikap yang selalu di tunjukkan Sechul padanya, ia dapat menyimpulkan Sechul adalah anak yang baik.

“Hhh, kajja. Eomma menyuruh kita untuk menjemput Sechul.” Dengan langkah berat Sehun berjalan menuju parkiran dan melajukan mobilnya menuju sekolah Sechul. Sepertinya hari buruk akan segera dimulai, pikirnya. Sehun menjalankan mobilnya menembus jalanan menuju ke sekolah Sechul.

Noonaaaa.” Sechul yang melihat kedatangan Soohan langsung menghambur ke pelukan yeoja itu, dan menjulurkan lidah, mengejek hyungnya. “Noona, kenapa noona yang menjemput Thecul? Eomma eodithoo?”

Eomma sedang merawat harabojji, jadi yang menjaga Sechul sekarang, noona dan hyungmu, ne.” Soohan mengelus puncak kepala Sechul dengan sayang. Bagaimana bisa Sehun tidak menyukai sifat dongsaengnya yang imut ini. “Thilo, noona. hyung itu pabbo. Thecul Cuma mau di jaga thama noona.”

Sehun mendelik mendengar ucapan dongsaengnya itu. Ternyata perang mereka kemarin belum berakhir. Hahh, kalau saja itu bukan dongsaengnya, mungkin Sehun sudah mencubit-cubitnya dengan geram.

“Hei, Sechul tidak boleh begitu dengan hyungmu. Itu tidak sopan ne.” Sechul mengangguk riang dan menatap Soohan dengan mata berbinar. “Ne, noona.” Jawabnya semangat 45.

“Heol. Hei, kau itu sebenarnya dongsaeng siapa? Hyungmu ini? Atau dia?” Sehun menuding Soohan dengan dagunya. Jabatannya sebagai kakak sepertinya sudah beralih pada Soohan. lihat saja kedekatan yeoja itu dengan dongsaengnya, bahkan melebihi hyungnya sendiri.

(Be a Parents?)

“Yaak, kalian pikir aku ini siapa eoh?”

“Hei Sehun, jangan merutuk seperti itu, inikan demi dongsaengmu juga.”

Sehun mendengus mendengar ucapan Soohan. demi dongsaengnya apa? Demi Tuhan, bahkan hampir semua belanjaan yang sekarang ada di tangan Sehun adalah milik Soohan, dan yeoja itu mengatakan ini semua demi Sechul? Huhh, kalau saja Soohan itu bukan yeoja, pasti Sehun sudah membiarkan emosi menguasai dirinya.

Tampaknya Soohan dan dongsaengnya itu telah berkomplot untuk mengerjai Sehun. Sepulang dari menjemput Sechul, Soohan mengajak bocah lima tahun itu ke mall, dan tentu tidak melupakan Sehun. Namun, sepertinya Sehun hanya dijadikan pembawa barang sekaligus bodyguard oleh kedua orang di depannya.

Noona. Thecul mau ethklim itu.” Soohan yang sedari tadi berdebat dengan Sehun menoleh ke arah kedai yang ditunjuk Sechul. Dengan senyum mengembang, yeoja itu mengajak Sechul ke kedai yang dimaksud tanpa menghiraukan Sehun yang sudah mengeluarkan asap emosi di kedua telinganya, bahkan wajah namja albino itu sudah memerah sempurna.

“Waah, mathita.” Sechul melompat kegirangan ketika mendapat eskrim yang tadi ia inginkan. Wajahnya belepotan karena sangking menikmati eskrim rasa coklat di tangannya.

“Yaa Chul-chul, kenapa makanmu berantakan sekali sih.” Sehun jongkok di depan Sechul dan membersihkan eskrim yang menghiasi wajah dongsaengnya. Ia sedikit mengacak rambut Sechul ketika melihat dongsaengnya itu merengut lucu saat dinasehati. Soohan yang sedang memesan satu eskrim untuk Sehun tersenyum melihatnya.

“Waah, kalian keluarga muda yang bahagia ya.”

Ne?” Soohan menoleh pada pemilik kedai eskrim. Dahinya berkerut mendengar ucapan ahjumma itu. “Ma-maksud ahjumma apa?”

“Iya, kalian pasangan muda yang cocok. Anak kalian juga sangat lucu. Sering-seringlah main kesini, ahjumma akan memberi eskrim gratis untuk kalian ne.” Soohan makin mengerutkan dahinya. Ahh, sepertinya ahjumma ini salah paham akan hubungan Soohan dan Sehun.

Ingin Soohan berteriak pada ahjumma itu bahwa mereka bukan pasangan. Namun ia urungkan ketika mendengar ahjumma itu akan memberi eskrim gratis. Eskrim gratis? Kalau begitu ia akan sering-sering ke kedai itu. “Ne ahjumma, saya akan membawa dong-Sechul kesini. Gansahamnida ahjumma.”

Matahari sudah berada di barat ketika Sehun, Soohan dan Sechul berada di taman. Sehun dan Soohan sedang memperhatikan Sechul yang sedang bermain bersama anak sebayanya, anak itu tampak sangat gembira. Sesekali ia melambai ke arah Soohan dan dibalas oleh yeoja itu. Soohan tersenyum melihat Sechul yang mudah akrab dengan anak-anak baru itu, walaupun mereka baru bertemu, sangat berbeda dengan hyungnya yang menurut Soohan introvert.

“Sehun.” Sehun menoleh ketika Soohan memanggilnya. Soohan tampak tersenyum manis, dan Sehun terpaku akan keindahan pahatan yang diberikan pada Soohan. Wajah yeoja itu, dari jarak sedekat ini, tampak berkali lipat lebih cantik dan manis. Matanya yang tidak terlalu sipit untuk ukuran orang korea, hidungnya yang mungil, tulang pipi yang tinggi, dan bibir yang mungil. Yeoja ini memang sempurna.

“Sehun.” Sehun tersadar dari lamunannya dan berdehem karena ketahuan memperhatikan Soohan.

“Wae?”

Sehun mengernyit bingung mendengar Soohan. Yeoja itu tak melihat Sehun karena masih fokus memperhatikan Sechul. “Wae mwo?”

Soohan kembali menoleh dan membenarkan posisi duduknya menghadap Sehun. Sedikit menetralkan jantungnya karena baru kali ini ia duduk dengan jarak terlalu dekat bersama Sehun. Ia tak tahu debar apa yang menghantam bagian dalam dirinya, yang jelas ketika melihat wajah Sehun, nafasnya tidak teratur dan jantungnya memompa dua kali lipat.

“Kenapa kau ikut kelas akselerasi itu?”

“Maksudku, kata mereka, masa SMA adalah masa terindah dan mereka tidak ingin melewatkannya. Tapi, kenapa kau-”

“Aku bukan mereka. Aku bukan anak yang membuang waktuku percuma dan hanya bermalas-malasan memikirkan masa kini. Aku ingin cepat menyelesaikan sekolahku dan menggapai cita-citaku.”

Soohan tertegun mendengar ucapan Sehun. Namja itu sangat dewasa di umurnya yang masih remaja. Namja ini bukan hanya tampan, namun juga cerdas dan berpikiran dewasa. Namja yang sangat sempurna untuk dijadikan lelaki idaman. Andai saja-Soohan menggelengkan kepalanya. Apa yang baru saja di pikirkannya?

“Apa cita-citamu? Dokter? Atau artis? Ahh, artis lebih cocok dengan wajahmu yang tampan itu. Kurasa kau akan jadi artis ter-”

“Soo.” Soohan menghentikan cetolehnya ketika Sehun menggenggam tangannya dan memanggil namanya. Soohan merasa jantungnya berdebar dan kakinya meleleh. Ini kedua kalinya Sehun menggenggam tangannya.

“Aku.” Soohan masih menunduk tak berani menatap Sehun. Wajahnya terlalu bersemu untuk ia tunjukkan pada namja itu. Ia lebih memilih untuk menunggu kalimat Sehun selanjutnya.

“Hhh, tatap lawan bicaramu Soo.” Sehun mengangkat dagu Soohan sehingga ia bisa melihat wajah Soohan yang dipenuhi rona merah muda, membuatnya tersenyum tanpa sadar. Sehun menarik dagu Soohan dan mendekatkan wajahnya. Sehun tak tahu apa yang ia lakukan sekarang, ia hanya megikuti instingnya untuk kembali menyesap manis bibir Soohan. Namun, ketika tinggal beberapa centi-

HUWAAAAAAAAA

>>>>>TBC

Link EL Amor Verdadero: ( Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Ongoing )

AUTHOR NOTE :

Annyeong readerdull. Oh Silvy come again bawain El Amor Verdadero chapter 5, semoga kalian ngga bosan dengan ff ini. J

Huwaaaaaa, mianhae karena late update. Ini gegara keasyikan class meeting sampai ngga fokus sama ff ini. Curhat dikit dong. Auhtor merasa kayak pedofil gegara buat anak kecil patah hati, huhuhu. Ottokhae? Padahal dia unyu banget, supel juga. Tapi author malah bikin dia cemberut. Merasa bersalah banget. Sampe-sampe diomelin orang serumah. #abaikan

Gimana ff chapter ini? Makin gaje ya. Maklum aja, otaknya abis dipake ujian, jadi agak seret imajinasi, masih banyak rumus. Ngga mungkin kan author tulis ini dengan rumus E=MC2 ngga banget. Author merasa ff ini nyaris keluar jalur dari yang seharusnya, jadi untuk chapter depan author bakal ngembalikan ke jalur semula, dan semoga readers ngga boseeeen.

Selalu author ingatkan, please. TINGGALKAN KOMENTAR. Terserah mau cuap-cuap apa, mau comment apa, mau bash atau puji #ngarep_pujian, saran dan kritik, atau mau berceloteh apapun, terserah readers. Yang penting, isi kolom komentar, supaya author makin semangat ngelanjut nihh ff.

Author Site :

Facebook           : https://www.facebook.com/silvi.wahyu

Twitter               : https://twitter.com/wahyusilvi1

WordPress         : www.ohsilvy2507.wordpress.com

13 responses to “[Series] El Amor Verdadero ( Chapter 5 :Be a Parents?)

  1. Sechul cadelnya ketularan sehun ya?wkwk
    duh mereka jadi so sweet gitu omaygattt wkwk
    duh itu bagian akhirtnya ngegantung lagi kan huft

  2. waaah
    chap ini benerbener menghibur banget
    soalnya ada sechul😀
    duh pasti lucu banget kali ya, kalo bener2 ada anak kecil kaya gitu
    jadi gemes deh sama sechul {}

    ihhh soohan lama2 suka yaa sama sehun
    sehun juga kliatannya udah mulai suka sama soohan
    aku setuju banget kok kalo kalian jadian (y)
    endingnya selalu ngegantung, but I LIKE IT
    karena bikin penasaran banget sama lanjutannya

    cepet2 dipost yaa thor next chap udah penasaran nih sama lanjutannya
    aku tunggu yaa thor next chapnya^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s