[Series] Married With A Gay – Chapter 5

married-with-a-guyTitle     : Married With A Gay

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Angst

Main Cast: Xi Luhan as Lu Han, Ariel Lau (OC), Zhang Yi Xing as EXO M Lay

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : leesinhyo @exoluhanfanfictionindonesia

***

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

Ariel sama sekali tidak bertanya saat Luhan melewatinya begitu saja, membiarkan ponsel IPhone milik Luhan tergeletak menyedihkan di atas lantai keramik berwarna abu-abu muda yang tadi diinjaknya. Dulu, Ariel sangat berharap bisa memiliki ponsel sejenis dengan yang dimiliki Luhan, sekarang ia bisa melihat ponsel semacam itu tepat di depan matanya dan diperlakukan seolah-olah benda itu hanya ponsel mainan, seperti yang dimainkan Ariel saat berusia 5 tahun dulu.

Ariel mendesah pelan. Kemudian ia pun berjalan mendekati ponsel itu dan menngangatnya. Ariel hampir saja berkelakar mengenai –sungguh! Sekarang ia bisa menyentuh sebuah ponsel mahal-, tapi tangannya membeku seketika saat membaca nama ‘Zhang Yi Xing’ di layar ponsel itu. Refleks, Ariel menjatuhkan kembali ponsel itu. Seharian ini ia hampir tidak mengingat nama itu, dan meskipun ia ingin mencoba biasa saja saat menemukan nama itu, nyatanya reaksi jantungnya sama sekali tidak begitu. Sepertinya jantungnya sudah terlalu familiar dengan nama Yi Xing.

“Kau kenapa?” nada datar itu menembus gendang telinga Ariel. Ariel pun memutar kepalanya dan buru-buru memungut ponsel yang sejak tadi dipuji-pujinya itu.

“Ti…tidak. Ini, aku hanya mengambil ini,” sangkalnya dengan gugup. ia harap ia tidak terlihat tolol dengan aktingnya, dan sekarang ia tidak akan menyalahkan juri di audisi teater yang pernah menolaknya dulu. Ariel memang tidak bisa akting.

Luhan tidak berkomentar dan langsung menyambar ponselnya di tangan Ariel.

“Kau…kau kenal Zhang Yi Xing?”

Ariel sama sekali tidak tahu hentakan yang diciptakan jantung Luhan. Ariel juga tidak menangkap apapun dari nada gerakan yang Luhan ciptakan saat Ariel menyebut nama Yi Xing dalam pertanyaannya.

Ariel hanya ingat, tempo hari Yi Xing datang ke pernikahannya –dan, baiklah. Jangan terlalu membahas itu. Dan yang ia tahu, ia hanya mengundang Baekhyun dan kekasihnya Taeyeon –dan keduanya sama sekali tidak datang karena jarak Korea-Cina yang cukup jauh.

“Kau melihat-lihat ponselku?” tuduh Luhan dengan nada tidak suka.

Ariel membulatkan matanya dan langsung mengibaskan tangannya cepat, “Bu…bukan begitu. Aku hanya tidak sengaja melihatnya, kok.”

“Lalu kenapa kau penasaran?”

Ariel menggigit bibir bawahnya. Rasanya pasti aneh sekali jika Ariel secara blak blakan berkata bahwa Yi Xing adalah mantan kekasihnya yang hampir menikah dengannya, dan semua batal karena sekarang Ariel harus menikah dengan Luhan. Tidak etis sama sekali, kan?

Ariel pun mendesah pelan, “Dia seniorku saat kuliah dulu. Aku…aku hanya bingung saja saat dia muncul di pesta pernikahan kita. Padahal aku sama sekali tidak mengundangnya…”

Luhan agak sedikit curiga saat suara Ariel agak mengecil. Tapi ia tidak terlalu memusingkannya, “Ya. Aku mengenalnya.”

Luhan hampir berbalik saat ia teringat sesuatu. Luhan pun membuka suaranya kembali, “Kudengar kekasih Yi Xing juga juniornya di kampus. Kau mengenalnya?”

Ariel merasakan ngilu yang tiba-tiba mencuat di dadanya. Pertanyaan macam apa itu? Kenapa Luhan tiba-tiba bertanya tentang Yi Xing dan…kekasihnya. Ariel sudah membuka mulutnya dan kembali menutupnya. Ia tahu suaranya akan berubah parau jika ia asal mengeluarkan suaranya. Sakit. Luhan tidak tahu ada sisa rasa sakit yang sama sekali belum hilang.

“Ah, lupakan. Lagipula aku juga tidak ingin tahu,” Luhan tersenyum kecut dan berbalik. membiarkan Ariel menahan dirinya agar tidak kembali saat otaknya harus kembali mengenang nama Zhang Yi Xing.

Bahkan Ariel sama sekali tidak tahu, ternyata Yi Xing hanya akan menjadi sebuah kenangan dan sama sekali tidak bisa direngkuhnya.

*

*

*

“Hari ini Wufan mengajakku bertemu di tempat golf,” kata Luhan saat ia melewati Ariel yang tengah berkutat di depan meja counter.

Ariel pun berbalik, ia tidak menangkap maksud ucapan Luhan tadi. Tidak ada nada pertanyaan ataupun ajakan, lebih kepada pemberitahuan. Well, ia agak malas bertemu dengan laki-laki bernama Wufan jika Wufan yang dimaksud adalah laki-laki tinggi yang mencecarnya malam itu. Entahlah, bagaimanapun selain malu, ia juga tetap akan merasa kurang nyaman jika bertemu kembali dengan laki-laki itu.

“Kau juga harus ikut. Kau sangat asing dengan Shanghai,” Luhan lagi-lagi berujar saat melewati Ariel yang baru selesai membuat jus mangga.

Dan tanpa Luhan tahu, Ariel agak tergelak dengan pernyataan Luhan barusan. Apa Luhan baru saja berkata bahwa laki-laki itu berniat meninggalkannya jika Ariel sama sekali kenal dengan Shanghai yang bahkan baru 3 kali didatanginya ini? Lucu sekali pemuda bermata rusa itu.

Meskipun ada banyak kalimat yang berputar di kepala Ariel dan siap meledak sewaktu-waktu, tapi mulut Ariel tetap saja terkunci. Ia masih merasa sangat kaku saat berhadapan langsung dengan Luhan seperti sekarang ini. Ia sama sekali belum terbiasa untuk berbicara bersama dengan Luhan.

“Aku hanya membuat udang goreng, tidak ada persediaan apapun di kulkas. Dan aku hanya menemukan udang, kulihat udangnya masih layak untuk dimasak,” kata Ariel mencoba untuk tidak menyahuti Luhan. Tadinya ia akan tetap diam saja pada Luhan, tapi melihat gelagat Luhan yang terlihat kurang nyaman dengan masakan Ariel membuatnya agak sedikit kurang nyaman.

Luhan pun mendesah pelan, kemudian ia pun menarik gelas berisi air putihnya dan meneguknya pelan. Ia tidak suka seafood. Dia bukan alergi atau apapun, hanya saja…entahlah, ia hanya tidak suka saja. Tidak ada alasan khusus kenapa ia tidak menyukai seafood, salah satunya udang yang entah bagaimana bisa ada di dalam kulkas –jika benarAriel menemukannya di kulkas.

Luhan masih tak bergeming dan hanya memandangi Ariel yang mulai melahap masakannya sendiri. Dan Luhan menyadari satu hal dari acara sarapan pagi mereka saat itu, Ariel tidak memiliki sisi anggun. Mungkin Luhan terlambat menyadari sifat Ariel yang satu itu. Bahkan jika diingat-ingat, tepat di hari pernikahan mereka ketika gadis itu berjalan menuju altar, Ariel bahkan terlihat sangat kaku ketika berjalan menggunakan sepatunya. Dan hari ini, Luhan kembali mendapati sikap ‘tidak anggun’ Ariel lewat cara makannya. Luhan merasa geli sendiri, selama ini ibunya selalu menyodorkan gadis dari kelas atas yang tentu saja memiliki tatakrama dan sopan santun yang setara dengan aturan era dinasti.

Ariel yang menyadari gerak-geriknya diperhatikan langsung mengangkat kepalanya dan menatap Luhan ragu, takut-takut ia melakukan sesuatu yang membuat pemuda itu tidak nyaman. Dan bukannya mendapatkan tatapan aneh, Ariel justru mendapati seutas senyum yang tertarik dari kedua sudut bibir Luhan –dan menurut Ariel, itu adalah senyum teraneh Luhan yang pernah dilihatnya.

“Kenapa melihatku begitu?” tanya Ariel agak gugup.

Luhan menggeleng pelan dan menyangga dagunya dengan kedua punggung tangannya, “Kau unik.”

“A…apa?”

“Kau unik,” ulang Luhan lagi, “Kupikir jika kau orang Kanada, kelakuanmu akan sedikit berbeda. Tapi ternyata sama saja, kau bahkan lebih unik daripada kenalan perempuanku yang lain.”

Sebenarnya Ariel masih ingin bertanya lagi, tapi ia menelan semua pertanyaannya dan kembali menyibukkan diri dengan makanannya. Sebenarnya tidak ada yang salah jika ia bertanya pada Luhan, bukan? Tapi selalu ada perasaan aneh yang membuatnya enggan sekali untuk menanyakan banyak hal pada Luhan.

Ariel mungkin akan terus makan –atau mungkin ia bisa saja menghabiskan semua udang di depannya jika saja ia tidak sadar jika Luhan belum menyentuh masakannya. Ariel pun kembali mengangkat kepalanya menatap Luhan. Kali ini Luhan tidak sedang menatapnya, melainkan menatap ponsel mahal yang semalam dilemparnya dengan menyedihkan ke atas lantai.

“Kau tidak makan?”

Luhan mengalihkan bola matanya ke arah Ariel, “Apa?” dan Luhan tahu, pasti saat ini Luhan tengah menunjukkan wajah bodohnya. Luhan pun buru-buru berdehem dan kembali angkat suara, “Ah, aku tidak lapar.”

Ariel menaikkan sebelah alisnya, “Tidak lapar? Kenapa?”

Kenapa? Kenapa Ariel harus bertanya ‘kenapa’? dia sering tidak sarapan dan tidak ada yang pernah bertanya ‘kenapa’, semua orang akan langsung tahu alasannya : jika bukan karena dalam mood yang buruk, pasti Luhan tidak suka menunya. Sialnya, Luhan sedikit tidak tega berkata jika ia tidak suka menu sarapannya pagi itu.

“Aku…”

“Masakanku tidak enak?” tebak Ariel langsung.

“Ha? Bu…bukan, tapi…”

“Kau tidak suka udang?” tanya Ariel lagi tanpa membiarkan Luhan menyelesaikan ucapannya.

Dan Luhan diam, Ariel benar. Luhan tidak suka menu sarapannya pagi ini. Ia sama sekali tidak suka semua menu seafood, dan sekeras apapun oranglain mencoba membujuk Luhan agar mau mencicipi makanan yang sama, sudah dapat dipastikan itu akan gagal. Luhan lebih memilih kelaparan daripada harus memakan makanan laut.

“Kenapa tidak bilang?” Ariel lagi-lagi bersuara, kali ini bahunya langsung merosot kecewa. Ariel bukan kecewa pada Luhan, tapi pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tidak bertanya dulu? padahal jelas-jelas Luhan lah tuan rumah disini.

Ariel pun buru-buru bangun dari kursinya, ia hendak membuat masakan lain. Meskipun ia tidak yakin akan memasak apa setelah ini, tapi setidaknya Luhan harus makan sesuatu. Bagaimana bisa ia makan sampai kenyang sedangkan Luhan tidak makan apapun? Jika ibunya tahu pasti dia akan marah-marah –oh tunggu! Siapa peduli jika ibunya marah atau tidak? Ariel mendesah pelan saat ingat rasa kesalnya yang ternyata masih belum hilang itu.

“Tidak usah, kita makan di luar saja,” kata Luhan yang tiba-tiba muncul sembari menahan lengan Ariel. Ia tahu pasti kulkasnya sedang kosong melompong, tidak mungkin Ariel tiba-tiba bisa memasak sesuatu, kan?

Ariel menarik tangannya dan menggeleng pelan, “Sepertinya tadi masih ada telur. Kau harus membiasakan diri makan di rumah,” elak Ariel dan langsung berjalan ke arah kulkas. Ia tidak tahu apakah telur punya masa kadaluarsa atau tidak, tapi selama tinggal di Korea telurnya selalu baik-baik saja –yeah meskipun Ariel hampir selalu menghabiskan persediaan rumahnya selama 2 minggu.

“Tapi disini benar-benar tidak ada apa-apa, aku sangat jarang makan di rumah.” Kata Luhan lagi masih membuntuti Ariel dari belakang. Well, sebenarnya ia agak kesal dengan sikap keras kepala Ariel yang baru diketahui Luhan hari ini. Apa susahnya hanya berkata ‘iya’ dan mereka makan di luar?

“Aku tahu kau memang orang kaya, kau bisa memenuhi semua kebutuhanmu tanpa perlu repot-repot memikirkannya. Bahkan kupikir, mungkin dalam sekejap mata kau bisa mendapatkan apa yang kau mau,” ucap Ariel sambil mengambil sebutir telur yang benar ia temukan di dalam kulkas yang kini hanya tersisa air mineral saja, “Tapi kurasa tidak ada salahnya mulai saat ini kita belajar hemat. Hidup ini seperti roda, berputar. Kadang kau ada di atas dan kadang kau ada di bawah,” Ariel mendesah pelan saat ia mulai bicara menggunakan bahasa Korea. Itu terjadi diluar kesadarannya, selain fakta memang dirinya masih terlampau kaku menggunakan bahasa cina.

“Justru karena kita masih mampu, tidak ada salahnya kan kita…”

“Ayahku juga dulu berpikiran sama,” potong Ariel cepat tanpa menoleh ke arah Luhan. Ia baru saja membuka cangkang telur di tangannya, “Memang tidak ada salahnya. Tapi jika berlebihan kurasa itu juga tidak baik. Keadaan keluargaku sekarang menjadi contoh nyata. Clinton, Henry dan aku mungkin bisa terbiasa. Tapi tidak dengan Whitney, ayah dan ibuku. Bukankah pernikahan ini juga salah satu contoh bahwa keluargaku begitu miskin?”

Tubuh Luhan sempat menegang ketika mendengar ucapan Ariel. Tidak ada nada sinis, ketus, ataupun nada tidak suka. Mungkin Ariel hanya mengungkapkan perasaannya saja…meskipun ada rasa tidak nyaman yang menggerayangi Luhan.

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk…”

“Aku mengerti. Tidak apa-apa,” Luhan menghela napas panjang dan meletakkan gelas kosong di tangannya. Ia bahkan lupa untuk menuangkan air ke dalam gelasnya dan justru melamun setelah mendengar ucapan Ariel barusan.

Dan sebelum berbalik menuju meja makan, entah dorongan darimana Luhan dengan lancang kembali angkat suara. Ia kepala keluarga sekarang, ia yang memimpin gadis itu, ia yang bertanggung jawab atas gadis bermarga Lau itu dan…ia ingin gadis itu mau menyandarkan hidupnya pada punggung Luhan, “Mulai saat ini aku mohon…anggap aku sebagai suamimu sebagaimana harusnya. Aku tau ini naif, tapi…kau tahu, harga diriku sebagai laki-laki dipertaruhkan disini. Jadi, kumohon…”

Ariel langsung memutar kepalanya ke arah Luhan, hendak meralat semua ucapannya barusan dan mencoba membuat Luhan tidak salah paham. Tapi Luhan keburu pergi, bahkan laki-laki itu benar-benar tidak melanjutkan sarapan paginya. Demi Tuhan! Ariel tidak bermaksud untuk membahas ataupun mengeluhkan pernikahan mereka. Ia hanya…hanya…entahlah. ia sendiri tidak tahu kenapa ia tiba-tiba membahas keluarganya yang berantakan.

“Kau memang bodoh Ariel…”

*

*

*

Ariel mungkin terlihat sangat bodoh saat ini. Setelah berdebat kecil soal pakaian yang akan dipakai Ariel ke tempat golf, sekarang ia merutuki dirinya sendiri yang terlihat agak linglung saat Luhan membawa ke lapang golf yang ia sebut-sebut milik sahabatnya –yang entah kenapa Ariel malah berpikir orang itu adalah kekasih Luhan. Belum lagi, ia sama sekali miskin kosa kata mandarin yang membuatnya harus berkali-kali melirik ke arah Luhan, juga saat matanya harus menyentuh tulisan cina yang ia pelajari saat TK saja, dan sekali lagi ia harus melirik ke arah Luhan. Demi Tuhan! Dia sama sekali kaku saat berada di dekat Luhan, dan di Shanghai ini ia benar-benar membutuhkan Luhan.

“Kau belum pernah datang ke tempat ini?” tanya Luhan yang membuat mulut Ariel langsung terkatup dan buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah Luhan dengan tampang bodoh, “A-apa?”

Luhan terkekeh pelan melihat tingkah Ariel yang satu ini. Entah karena selama ini ia selalu bergaul dengan orang yang ‘sederajat’ atau memang Ariel saja yang sedikit aneh. Bayangkan saja, Ariel terus saja menatap kagum setiap sudut lapang golf yang dimiliki keluarga Wu. Belum lagi mulutnya yang terus saja menganga –well, mungkin saat di Kanada dulu ia memang tidak pernah datang ke tempat seperti ini.

“Aku memang baru pertama kali datang ke tempat seperti ini,” ucap Ariel dengan nada kesal –tepatnya mungkin tersinggung. Dan entah sejak kapan Ariel malah menggunakan bahasa korea tiap bicara dengan Luhan, melupakan bahwa dia adalah gadis berdarah cina.

“Benarkah?” sahut Luhan tanpa menoleh ke arah Ariel. Dan tiba-tiba, Luhan langsung menggenggam tangan Ariel dan menarik tangan gadis itu cepat tanpa tahu Ariel terlonjak kaget karena perbuatan Luhan itu.

“Wufan!” Luhan melambai dengan tatapan mata yang cerah, tepat ke arah seorang pria tinggi yang baru saja memukul pelan bola berwarna putih di depannya.

Wufan pun mengangkat kepalanya dan balas tersenyum ke arah Luhan. Dan entah perasaan Ariel saja atu bukan, warna wajah pria jangkung itu langsung memudar saat tatapan matanya terjatuh ke arah Ariel yang mengekor di belakang Luhan.

“Kau telat sekali Little Deer,” kata Wufan saat Luhan sudah berada di dekat Wufan. Kemudian, laki-laki itu langsung memukul kembali bola di hadapannya.

Luhan mendesis pelan mendengar panggilan yang hampir tidak pernah menyentuh kupingnya, “Cih! Apa-apaan itu, Little Deer?” matanya mendelik kesal dan membuat Wufan langsung tertawa geli melihatnya.

“Lalu apa? Xiao Lu?” sahut Wufan lagi.

Kali ini Luhan menjawab dengan pukulan di lengan Wufan yang membuat mereka tertawa bersama. Ariel yang menonton hal itu hanya bisa menarik kedua sudut bibirnya kaku. Ia seperti angin di sini, tidak terlihat. Bahkan ia tidak terlalu mengerti apa yeng mereka ributkan hingga mereka harus tertawa bersama seperti itu, dan menurutnya ini agak konyol.

Tapi apa katanya tadi? Little Deer? Xiao Lu?

Ariel langsung memutar bola matanya ke arah Luhan, rusa kecil. Nama laki-laki itu memiliki arti ‘rusa kecil’.

“Kau tidak mengenalkan istrimu padaku? Hey, Mrs.Xi! what are you doing there? Come in, join with us!”

Ariel tersenyum kaku –lagi. ia tidak tahu Wufan bisa memakai logat yang bagus saat memakai bahasa inggris. Tapi ia tidak bergerak dari tempatnya dan hanya tersenyum saja, kemudian melirik ke arah Luhan.

“Kenapa diam saja? Kemari! Duduk disini! Atau kau mau ikut main?” Luhan pun mendekat ke arah Ariel dan kembali menarik gadis itu. Luhan tidak terlalu tahu bagaimana caranya harus bersikap di depan Ariel, atau mungkin tepatnya ia tidak tahu harus bagaimana agar bis aterlihat ‘baik’ di depan seorang gadis. Ia juga sebenarnya masih gugup, tapi sebisa mungkin ia bersikap biasa saja –atau malah bersikap seolah-olah mereka adalah teman. Terlepas dari rasa sakit hatinya terhadap gadis itu, tapi bagaimana pun mereka telah berkomitmen untuk hidup bersama. Tidak mungkin Luhan berpura-pura tak acuh sedangkan gadis itu terus mengekor di belakangnya, kan?

“Pegang ini,” kata Luhan sambil menyerahlan tongkat golf ke arah Ariel yang buru-buru didorongnya oleh Ariel.

“Tidak mau. Aku tidak bisa main golf. Aku juga tidak bisa olahraga, aku…”

“Hey, coba saja dulu. daripada kau menonton aku dan Wufan berkencan,” potong Luhan dan kembali menyerahkan tongkat golf itu ke tangan Ariel, dan kali ini Ariel tidak menolaknya.

Sebenarnya Ariel agak merinding saat Luhan menyebut kata ‘berkencan’ barusan. Tidak peduli dia bercanda atau tidak, tapi fakta Luhan adalah penyuka sesama membuatnya agak sedikit…entahlah. bagaimana jika mereka ternyata benar-benar sepasang kekasih? Bagaimana jika Luhan lebih memilih Wufan Wufan itu daripada dirinya? Atau bagaimana jika Wufan berbuat yang tidak-tidak karena cemburu? Seperti dalam film….bukankah itu mengerikan?

“Nah, sekarang coba pukul bolanya seperti ini.”

Tubuh Ariel langsung membeku saat tangan Luhan menyentuh tangannya dan menggerakkannya, mengarahkan tongkat di tangan Ariel untuk memukul bola yang entah sejak kapan sudah berada di hadapan Ariel. Dan yang membuat napas Ariel agak tercekat, karena posisi mereka yang…dekat. Luhan memeluknya dari belakang dan membuat napas pemuda itu menyentuh kulitnya.

“Coba lagi,” kata Luhan dan kembali melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Ariel tidak tahu kenapa kerja jantungnya harus berantakan seperti ini. Ia tidak berpikir ia menyukai Luhan, atau mungkin karena fakta Luhan memang tampan…

Yeah, pria tampan yang memeluknya seperti ini. Masuk akal, kan?

“Bulan madu yang menarik,” suara Wufan membuat Luhan melepaskan posisinya, dan berbalik ke arah Wufan sambil terkekeh pelan.

“Kau cemburu? Makanya, cepat menikah sana…”

“Justru kau yang aneh. Kenapa tidak bulan madu sungguhan saja? Ke Hawai misalnya? Dan bukannya terjebak di lapang golf seperti ini. Lagipula, aku ingin setia untuk mencintai mantan kekasihku, Xiao Lu.”

Mendengar jawaban Wufan, Luhan langsung menendang kaki Wufan dan membuat Wufan dan Luhan bertengkar kecil. Ariel hanya tersenyum kecil saja melihat pemandangan ini, setengah ngeri. Dan kesimpulannya sudah bulat, mungkin Wufan memang kekasih sungguhan Luhan, setidaknya sampai Luhan menikah dengan Ariel.

*

*

*

“Luhan, boleh aku tanya sesuatu?”

Setelah setengah jam berada di dalam mobil dan tenggelam dalam pikirannya sendiri, akhirnya Ariel mau angkat suara. Luhan sempat khawatir Ariel memang akan terus kaku seperti itu, mengingat hampir setiap percakapan harus Luhan yang mengawalinya.

“Tentu, tanyakan saja.”

Ariel sedikit meremas jari-jarinya. Ia tidak yakin untuk melanjutkan pertanyaannya. Setelah ia pikirkan lagi, menanyakan status hubungan Luhan dan Wufan…agak sedikit ganjil, kan? Luhan tipe orang yang mudah tersinggung, dan ia khawatir Luhan akan tersinggung setelah mendengar pertanyaannya.

“Kau mau bertanya apa?” tanya Luhan lagi dengan mata tetap fokus pada jalanan yang tengah dilalui mobil mereka.

Ariel menelan ludah, “Kita akan kemana?”

Alis Luhan langsung tertatut begitu mendengar pertanyaan itu. Hanya bertanya akan kemana saja kenapa Ariel perlu segugup itu? Padahal, kemarin Ariel malah mengambil kendali atas Luhan dan membuat Luhan yang harus kelabakan mencari cara yang tepat untuk berhadapan dengannya. Dan sekarang, justru Luhan lah yang membuat Ariel bersikap seperti Luhan kemarin.

“Ke sebuah restoran, apa aku lupa mengatakannya padamu?”

Ariel tidak menjawab dan hanya menoleh ke arah trotoar di samping jalan. Baiklah Ariel Lau, enyahkan pikiran anehmu dan berpikir positif saja. Bagaimana pun Luhan telah berbaik hati pada Ariel, jadi cukup bagi Ariel terlalu berpikir aneh terhadap Luhan.

“Kita sampai,” kata Luhan bersamaan dengan mobil mereka yang langsung berhenti.

“Hari ini tidak ada makanan jepang, jadi jangan pesan mie lagi.”

*

*

*

“Kenapa sepi sekali?” bisik Ariel dengan suara yang dibuat sepelan mungkin. Dan Luhan yang menjadi objek suara Ariel pun hampir tidak mendengarnya dan harus sedikit mencondongkan tubuhnya, “Apa?”

“Kenapa tempat ini sepi sekali? Padahal tempatnya terlihat bagus, juga…”

“Ah, itu. Aku yang sengaja memesan tempat ini dan meminta tempat ini dikosongkan. Ini restoran milik ibuku, setiap detailnya ibuku yang mengatur,” mata Luhan langsung berpencar ke setiap penjuru, “Cantik bukan? Terkesan romantis tapi tetap terkesan santai. Kupikir tempat ini akan lebih nyaman jika kita datangi berdua saja,” jelas Luhan yang membuat Ariel terperangah.

Hey! Ia bahkan ragu G-Dragon lebih kaya dari suaminya. Bahkan ia berpikir satu negri itu setiap tempatnya adalah milik Luhan. Ia berkali-kali datang ke berbagai tempat, dan selalu ada label keluarga Xi sebagai pemiliknya.

“Kau kaya sekali. Pantas saja ibuku begitu menyukaimu,” ucap Ariel tanpa sadar dan kembali melanjutkan acara makan malamnya.

Dan di hadapan Ariel, Luhan menghela napas panjang. Entah bagaimana bisa Ariel terus saja mengeluhkan soal ibunya yang menyetujui perjodohan konyol antara Luhan dan Ariel. Meskipun tidak ingin berpikir jelek, tapi pada akhirnya Luhan akan selalu berpikir bahwa Ariel keberatan dengan pernikahan ini.

Luhan bukan laki-laki sempurna, ia tahu betul soal itu. Dan untuk saat ini, ia hanya berusahan untuk mencoba menjadi laki-laki yang bisa menyempurnakan hidup Ariel, meskipun ia rasa justru Ariel lah yang membuat hidupnya sempurna. Tanggung jawabnya bukan hanya sebatas memenuhi keinginan ibunya untuk memiliki keturunan keluarga Xi, tapi juga untuk membahagiakan Ariel –setidaknya membuat gadis itu nyaman saat ini. Hanya saat ini, dan membuat segalanya normal di masa depan.

Luhan tidak tahu, kapan ia bisa menjadi ‘laki-laki’ seutuhnya. Tapi demi Ariel, mungkin ia akan mencoba untuk mengubah dirinya. Ia akan berusaha. Ia janji.

“Kau bisa main piano?” Ariel mengangkat kepalanya dan menatap Luhan bingung, “Sedikit. Ibuku jago dengan alat musik, tapi aku hanya bisa sedikit.”

Luhan mengangguk pelan dan langsung mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya, “Kau mau memainkan sebuah lagu untukku?”

“Ha?”

“Pasti kau bisa memiankan sebuah lagu. Bisa kau mainkan piano itu untukku?”

Ariel tidak tahu kemana arah pembicaraan ini, juga kemauan Luhan yang tiba-tiba menyuruhnya memainkan piano. Seluruh putra-putri keluarga Lau memang bisa bermain alat musik, tapi Ariel hanya diberi kata ‘bisa’ tanpa kata ‘mahir’, tidak seperti kakak-kakaknya yang memang jauh lebih beruntung karena bisa belajar secara intensif.

Ariel mengangguk pelan. Ia pun berjalan menuju piano itu. Ariel tahu Luhan agak konyol hari itu, tapi ia tidak ingin mempermasalahkannya. Itu masih lebih baik daripada saling berdiam diri seperti dua orang asing yang harus bertemu secara terpaksa.

Ariel pun mulai menimang-nimang lagu apa yang akan dimainkannya. Dan entah kenapa, ia malah teringat lagu yang selalu dimainkan Yi Xing…Ariel menelan ludahnya pahit. Seharian ini ia hampir melupakan nama itu, tapi ternyata hanya dengan sebuah piano ia akan langsung terlempar pada ingatan tentang laki-laki itu. Laki-laki yang pernah ditumpahi harapan hidupnya yang tanpa ia tahu, ternyata takdir malah menghentikan cerita mereka begitu saja.

Ariel mendesah pelan. Ia ingin menolak dan kembali duduk di kursinya tadi, menikmati makan malamnya tanpa ada beban perasaan yang berat seperti ini. Tapi ia sudah terlanjur mengiyakan, hingga akhirnya keputusan akhirnya Ariel akan tetap memainkan piano di hadapannya.

Jemari Ariel mulai menyentuh tuts-tuts itu dan menekannya perlahan. Ia ingat, judul dari lagu ini adalah Spring Love. Ariel tidak benar-benar mengerti kenapa Yi Xing sangat suka sekali memainkan lagu ini tiap kali ia kehilangan ide-idenya atau pun tidak ada kerjaan. Yang ia tahu, Yi Xing bilang ini adalah lagu pertamanya yang ia buat. Dan mungkin karena kesan tersendiri dari penciptaan lagu ini, maka yi Xing sangat –bahkan terlalu menyukai lagu ini sampai-sampai Ariel dapat mengingat nadanya.

Dan Ariel hampir saja terjatuh pada perjalanannya dengan Yi Xing, jika saja tangan Luhan tidak melingkar di lehernya seperti sekarang ini. Bahkan Ariel sempat menghentikan pergerakan jemarinya. Ia terlalu terkejut.

“Lu…Luhan…”

Luhan tidak langsung menjawab dan justru semakin mengeratkan pelukannya. Dadanya seperti ditekan saat Ariel mulai memainkan pianonya. Ia tidak tahu bagaimana bisa Ariel malah memainkan lagu ini, lagu yang mencerminkan sosok cinta pertamanya…

Zhang Yi Xing.

Ini lagu Zhang Yi Xing.

Ini lagu yang mencerminkan Zhang Yi Xing.

Lagu pertama milik Zhang Yi Xing.

Lagu yang selalu dimainkan Zhang Yi Xing di waktu kosongnya.

“Bagaimana kau tahu lagu ini? Kau penggemar Zhang Yi Xing?” tanya Luhan sambil melepas pelukannya dan duduk di samping Ariel. Sama sekali tidak sadar jika Ariel harus menahan napas karena sikap Luhan.

Ariel berdeham pelan. Ia benar-benar lupa jika Luhan mengenal Yi Xing juga. Dan ia…entahlah, ia tidak ingin terlihat ia begitu mengenal Yi Xing.

“Zhang Yi Xing adalah…cinta pertamaku.”

DEG.

Ariel langsung memutar kepalanya ke arah Luhan. Ia harap ia salah dengar, atau mungkin Luhan sedang bercanda dan setelahnya akan tertawa bodoh seperti apa yang ia lakukan bersama dengan Wufan. Tapi tidak…itu hanya angannya…

Masih dengan tatapan lurus ke arah piano di hadapannya, Luhan melanjutkan, “Aku masih mencintainya, hingga saat ini. Alasan terbesar kenapa akhirnya ibuku tahu aku seorang gay. Aku tolol, aku tahu. Yi Xing bahagia dengan kehidupannya sendiri, dia menemukan orang yang ia cintai meskipun…gadis sialan itu malah meninggalkan Yi Xing.”

Sakit. Tiba-tiba saja dada Ariel sakit….sakit sekali…

Entah apa yang membuatnya benar-benar merasa sakit seperti ini. Entah soal dia dan Yi Xing, dia dan Luhan, atau…Luhan dan Yi Xing.

“Dan aku bertekad untuk melupakannya. Menikah denganmu adalah salah satu pilihanku,” Luhan pun memutar kepalanya ke arah Ariel. Sama sekali tidak menyadari tubuhnya yang semakin melemas digerogoti perasaan hitamnya.

“Ariel, kau…maksudku…aku mohon, kau bisa memulai segalanya dari awal, kan? Mungkin butuh waktu. Aku tahu. Aku juga minta maaf telah merusak kehidupanmu, merebutmu begitu saja dan membuatmu harus menanggung rasa tidak nyaman yang besar. Tapi aku sudah bertekad dan berjanji pada diriku sendiri, aku akan membahagiakanmu…aku janji. Aku akan melakukan apapun…untukmu meskipun harus memakan banyak waktu. Kau…bersedia, kan?”

Ariel tidak menjawab. Otaknya lumpuh dengan segala rentetan kata yang terus menghajar kepalanya. Bahkan ia tetap diam saat Luhan mulai menggenggam tangannya, dan hanya dibalas tatapan mata Ariel yang hampir tak berbicara apapun. Ariel tidak tahu apakah Luhan menyadarinya atau tidak.

Dan Ariel baru kembali tersadar saat bibir Luhan menyentuh bibir Ariel. Dingin. Tubuh Ariel langsung dingin. Semua perasaan dan pikirannya langsung berantakan. Dan ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan hidupnya, menyadarkannya betapa sempitnya dunia ini.

Tuhan Maha Sempurna, bahkan Dia bisa menuliskan detail hidupnya hingga seperti ini.

Ia tidak yakin apakah ia benar-benar bisa memulai segalanya –seperti yang Luhan katakan tadi. Tapi melihat posisinya saat ini, bahkan Ariel tidak berpikir bahwa ia bisa mundur sekarang. Meskipun ada banyak batu yang terlempar ke jalan hidupnya, mungkin…Luhan lah yang sudah dipilihkan Tuhan untuk menemaninya melalui itu semua…

=TBC???=

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

Oh, sori buat lamanya datang part ini. Terlebih part ini kacau pake banget T.T aku lagi kena syndrome Writer’s Block. Jadi, sekali lagi maaf T.T

55 responses to “[Series] Married With A Gay – Chapter 5

  1. ariel pasti kaget bukan main. serius. gimana reaksi luhan kalau dia tahu? aduh. berharap yixing, luhan sama ariel cepet-cepet buka lembaran baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s