[VIGNETTE] P R O M I S E

FF ini bukan ditulis oleh saya (MinHyuniee), melainkan ini adalah ff titipan dari Red Scarlet. Saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Nah, tolong berikan apresiasi kalian melalui komentar setelah membaca ff ini. Terimakasih!

— P R O M I S E —

Promise(1)

Red Scarlet story-line.

 

Starring Kim Jongin and (lil of) Oh Sehoon, and OC’s; Crissabella Jo; Kang Youngjin.

Romance, School Life, AU!

G

Vignette, 2300w

Apart from the story-line also the OC, I own nothing more

Also post at my blog http://blacksapphre123.wordpress.com/

[Italic means flashback (except some foreign words)]

.

Jika aku meminta hatimu, maukah kau memberikannya?

–Maafkan aku, tapi kau telah mencurinya sejak lama.

.

.

 

“Aku tidak yakin, Sehun masih mengenaliku sebagai Kang Youngjin, perempuan yang pernah memenangkan hatinya.”

Pagi yang lain telah tiba, dan seperti biasa, sarapanku pagi-pagi ini adalah mendengar teman sebangkuku, Youngjin, mengeluhkan rasa pesimisnya–kali ini tentang Oh Sehun yang berhasil debut dengan Boy-Groupnya; EXO. Kulempar kekehan yang amat mengganggu buatnya sampai dia menoleh mendelik menatap mataku.

Kubilang, “Apa? Melihatku begini takkan mengubah fakta bahwa dia nyaris melupakanmu!”

Sayangnya, sarapan pagi yang tak diharapkan bukan lagi ditemani secangkir teh atau kopi panas, justru pukulan keras di bahuku. Seperti cairan hitam kental yang membakar lidah, pukulan Youngjin pasti telah membakar kulitku; terasa panas sekali tempat yang ditinggalkan telapak tangannya.

“Tidak perlu menjawab seperti itu. Kau sendiri juga mengharapkannya, kan, Kim Jongin untuk menepati janjinya padamu?” Ujarnya padaku.

Aku mengedikkan bahu. Mencoba kembali memusatkan perhatian pada ratusan halaman buku-buku fiksi yang kusebut lebih pantas, lebih menarik daripada mendengar seluruh rengekannya. Lagipula segala hal yang akan keluar dari mulutnya pastilah tentang Oh Sehun. Atau sedikit singgungan soal Jongin dan janjinya. Tapi aku tak lagi memedulikannya. Sekarang janji Jongin bukanlah apa-apa. Aku tak lagi menunggunya. Mungkin dia telah lama melupakannya atau mungkin sengaja; semua orang yang berada di puncak sering melakukannya, kan? Merasa jumawa dan melupakan teman lama.

“Kau masih tidak terima, soal debut itu, ya?” Tanyanya lagi.

Aku tak menjawab.

Perlu melewati dua kali musim gugur lagi untuk kami bisa menyentuh panggung impian–sedangkan musim gugur terakhir baru saja terlewati satu bulan lalu. Sementara Sehun dan Jongin telah sukses mengepakkan sayap mereka di dunia music. Tak tanggung-tanggung, bersama boygroupnya mereka menggelar panggung solo keliling dunia. Sungguh beruntung, memiliki talenta dan grup yang memiliki wajah.

Bukanya aku berpura pura tak peduli, sebenarnya aku juga tidak suka melihat pemandangan didepanku itu. Mungkin aku iri karena usaha mereka membawa hasil. Mungkin juga karena cemburu–oh apa ini? Namun sungguh, melihat para gadis membuat semacam lingkaran yang mengelilingi Jongin dan Sehun membuatku muak.

Kali ini, perhatian Youngjin yang teralih padaku membuatku risih sampai akhirnya aku balas menatap sepasang mata cokelat yang penuh jenaka.

“Sepulang sekolah nanti, ada senior yang ingin bertemu denganmu.” Ucapnya.

Aku mengangguk ringkas. Kujawab dengan pertanyaan, “Siapa?”

Sesungguhnya, hal yang paling kutakutkan dari Youngjin–kecuali ketika ia sedang marah karena dia benar-benar seperti monster ketika marah–adalah senyumnya yang dipenuhi kegelian dan sekaligus rahasia. “Nanti juga kau tau. Jangan bilang sebelum bertemu denganya pun kau mau bilang kau tidak bisa menerimanya-”

“Interupsi. Apa kau mengadakan bisnis?”

“Setidaknya berilah kesempatan untuknya menyatakan perasaanya padamu, Bella. Mungkin, meskipun kau menolak mereka, penggemarmu akan merasa lebih lega. Tidak ada ruginya buatmu, kan? Jika kau menolak sebelum bertemu mereka, kupikir itu akan menjadi beban baru bagi orang-orang yang mengagumimu.”

Aku terkekeh lagi. Orang-orang yang mengagumimu?

Sudah menjadi tabiat–tanpa kusadari, demi seseorang, aku mempu menolak seluruh pernyataan cinta yang bahkan kulakukan tanpa perlu melihat muka mereka sebelumnya. Apakah dia si tampan, si kaya, si pintar maupun artis sekalipun. Dulu, kulakukan ini untuk seseorang. Sekarang mugkin hanya kebiasaan.

Tiba-tiba saja desau angin tak mampu menyentuh kelas kami di lantai tiga; aku merasa gerah. Mengedarkan pandang, kutemui sepasang obsidian yang juga memusatkan atensinya pada kami. Lantas manik kelam itu menjauh, tahu aku menjumpai pandangnya.

Jika yang kau soalkan ialah selera tawaku yang mulai meningkat, jawabnya hanyalah satu.

Aku mulai terbiasa tanpa kehadiranmu; tanpa luka yang harus kusimpan karena mencintaimu. Aku mulai bisa menerima keberadaanmu sebagai pribadi yang lain. Sebagai Kim Jongin yang saat ini memiliki satu nama yang memberat di punggungmu–Dancing Machine EXO, Kai.

“Oke,” Jawabku pada Youngjin, diikuti euforia rendah Youngjin yang bersorak atas kemenangannya.

Secepat memulainya, pun cepatnya Youngjin mengakhiri. Gadis belia itu menyenggol rusukku, mengenalkan lagi bagaimana rasa sakit. “Tidak apa-apa, sungguh? Bagaimana dengan janjinya?”

Aku mengedikkan bahu. “Mungkin aku telah lupa.”

.

 

.

 

Matahari berpendar jingga, cakrawala yang tak pernah bisa kusentuh tampak merona. Kemudian Sang Mentari mulai hilang dari peradaban sampai malam jatuh begitu saja, menyisihkan kelamnya dan menampilkan gemintang yang membuatku terkesima. Aku suka menatap pergantian waktu ini dibalik jendela, sambil sesekali menyesap harumnya aroma teh hijauh yang suka kuseduh.

Tapi kali ini, aku hanya mampu menyelami kegelapan. Tanpa setetes sinar yang membuatku makin gila. Gemintang lenyap ditelan kelamnya hitam. Tak lagi bisa meraba arah.

Langkahku terbata-bata, terseok, tersendat-sendat, dan terhenti saat aku merasa tubuhku kehilangan keseimbangan lagi dan nyaris terjatuh. Hanya sepasang intruksi yang terus bersahut-sahutan ditelinga–satu-satunya yang menyeretku mengikuti arus permainannya, membuatku harus terus berjalan diantara kegelapan yang melarangku melihat apapun.

“Di depanmu ada ranjau, berhati-hatilah.”

Yang benar saja? Kau mau membunuhku? Pikirku. Lantas kutarik paksa tangan yang semenjak tadi menutupi penglihatanku, kemudian berbalik ke arahnya dan bersiap memukul. Tapi dengan cepat ia berkilah, bergeser ke kanan dengan cepat, lalu mendekat dan mengecup puncak kepalaku.

Dan tertawa. Sial!

“Selamat tahun, Bella.” Ucapnya, memamerkan senyum miringnya yang eksotis.

Aku tergagap. Bagaimana bisa ia mengarang tentang tanggal lahir seseorang?

Kemudian ia tersenyum, mengacak suraiku dengan gemas, lalu berucap seolah ia bisa mendengar pertanyaan yang tak kusebutkan itu. “Sekarang dua puluh empat, lupa?”

Sebelum sempat menjawab, aku mendengar suara merdu yang saling melengkapi nada; Jo Kyuhyun dan Jo Jinho. Sekarang, bagaimana Jongin menjelaskan semuanya; tentang pesta ulang tahun yang sama sekali tak ku sangka; tentang dua kakakku yang seharusnya berada di China; tentang seluruh undangan; tentang tumpukan kado di sudut ruangan; dan tentang kue strawberry yang selalu bisa memikatku. Tentang bagaimana dia bisa tahu jika hari ini ialah hari jadiku yang ke tujuh belas, sedang aku sendiri melupakannya?

Youngjin yang pertama kali memelukku, membisikkan kata-kata yang membuatku memerah parah.

“Sudah kubilang, dia punya lebih dari sekedar perasaan untuk membahagiakanmu.” Katanya, disertai kekehan. “Dia punya cinta. Cinta yang tak main-main. But, anyway, happy sixteen girls!”

Aku sedang menatap sepasang iris kelam Jongin saat Youngjin memelukku sekali lagi dan menyuruhku untuk memotong kue.

Dia hanya punya lebih dari sekedar penjelasan untuk membuatku memaafkannya.

 

.

 

.

 

“Aku tidak suka pestanya.” Ucapku dingin pada tubuh tinggi menjulang yang sedang mengulum senyum di sampingku.

Kami tengah menikmati elok gemintang–namun hanya aku satu-satunya yang tak terhibur oleh panggung bintang yang hanya bisa kunikmati jika malam tak berkabut. Terkadang langit Seoul lebih sering muram dan enggan menunjukkan kecantikannya sehingga banyak orang lebih mengharapkan pagi segera datang.

“Kenapa?”

Aku menjawabnya dengan keheningan.

Desau angin mempermainkan surai hitam kecokelatanku, membuatku kewalahan menangkap helai demi helai rambut yang melayang. Jongin membantuku dengan senyumannya, mengikat rambut yang sengaja ku gerai–aku memiliki firasat yang baik bahwa hari ini akan turun hujan (di tengah musim panas, itu sedikit gila) sampai aku berani meninggalkan pengikat rambutku di rumah–dengan tangannya.

“Kau benci pesta. Kedua, kau benci yang namanya kejutan. Karena demi sebuah kejutan, Ayahmu tak pernah datang dengan kejutan yang kau harapkan. Bukan dengan sebuah boneka panda besar, tapi dengan peti kematian.”

“Jongin,”

“Ketiga, kau membenciku. Benar?”

Aku kesal kenapa dia harus terus berbicara ketika aku tak sanggup lagi untuk mendengar.

“Ini hanya farewell party.” Ujarnya mengejutkanku. “Sebulan lagi aku akan fokus untuk trainee terakhir mempersiapkan debutku.” Sekarang ia menatap tepat di manik mataku. “Itu berarti aku tak bisa melihatmu sampai debut nanti.”

Serius, aku belum pernah mendengar soal Jongin yang ternyata hampir debut. Dia serius–maksudku, dengan perkataannya waktu itu, dia serius ingin menjadi artis? Ternyata selama ini ia telah mengikuti trainee? Dasar pembohong besar.

Berkilah dari tatapannya, kujatuhkan pandanganku pada lapangan basket di dekat halaman cafe yang terasa kasar. Rasanya sungguh aneh. Aku tidak tahu harus merasa sedih atau senang. Dia akan segera pergi, tapi dia bisa meraih mimpinya dengan menjadi trainee. Ada yang bisa memberitahuku tentang apa yang harus kulakukan?

“Jongin…”

“Kau akan merindukanku?”

Aku mengambil jeda. Kenapa dia bertanya demikian? “Memangnya kenapa aku harus merindukanmu?”

“Karna aku akan sangat merindukanmu.”

Aku mendiamkannya.

“Tapi, kau tidak marah kan?”

Kenapa kau menanyakannya juga? Tentu saja aku marah. Aku berhak untuk marah. Kau membuatku kesal, kau membuatku sedih sekaligus bahagia. Kuputuskan untuk mulai melangkah menjauh sebelum ia berhasil melihatku yang siap menangis. Tidak mungkin aku menunjukkan kelemahanku ini padanya.

Jongin meraih kedua tanganku. “Kau, tahu kalau aku menyukaimu kan? Ah, tentu saja kau tahu.”

Lantas mengapa kau bertanya?

“Bisakah kau menungguku sampai selesai debut? Dan saat itu, aku akan memberanikan diriku mengikatmu. Ini impianku, Bella.” Jongin membalikkan tubuhku. Dan kini ia bisa melihat wajahku yang memerah ingin menangis. Diulurkanya tanganya membingkai wajahku. “Kau… mau menungguku kan? Aku akan berjanji untuk hanya menatapmu.”

Kemudian tanpa mendengar jawabku terlebih dahulu, Jongin merengkuhku kepelukanya. Rasa marah yang membakar dadaku menguap, terganti oleh seribu kupu-kupu yang menari di perutku.

“Bodoh…” Kataku dan terisak sejadinya di dadanya. Kau menang dan aku mengakui kekalahanku.

Tangan Jongin memelukku lebih erat. “Jangan menangis.”

“Aku tidak menangis!”

“Ayolah…” Jongin mengangkupkan tangannya pada wajahku, membingkainya. Ibu jarinya bergerak untuk menghapus sisa air mataku. “Saranghae.”

Hari itu, aku merasakan kehangatan yang selama ini kucari. Yang ingin kunikmati dan kumiliki sendirian selamanya. Tapi, aku tidak yakin bisa terwujud seutuhnya. Bahwa kehangatan itu sebentar lagi akan pergi dariku. Dan mungkin tidak akan pernah kembali.

.

Janji itu hanyalah omong kosong, tentu saja. Dan aku tak pantas meresapi memori yang telah lama kubuang. Kupikir aku telah lupa. Nyatanya, dengan menatapnya hari ini, kenangan yang ditinggalkannya telah bangkit dari kubur dan menyiksaku.

Masih terasa sakit di sini, Aku mengeluh. Tentu saja. Luka yang ditinggalnya tak akan mampu disembuhkan oleh siapapun. Meski waktu menyembuhkanku sedikit demi sedikit. Hanya sebatas itu, tak benar-benar menghapus lukanya. Yang menebar racun, pastilah yang membawa penawarnya.

Tak seharusnya pula aku memikirkannya. Pasti ada yang salah dengan otakku.

“Tentu, karena kau hanya akan memikirkanku.”

Aku menoleh. Demi Tuhan, bagaimana iris gelapnya masih terasa seperti sepasang obsidian yang mencintaiku? Aku tak boleh berharap begitu banyak.

Aku masih mengenalinya. Suara bassnya yang rendah, derap langkahnya yang menyiksa, dan tatapan yang membuatku tersesat. Kim Jongin masihlah Kim Jongin yang dulu. Oh, bagaimana aku bisa berpikir seperti itu?

Bagaimana ia tahu jika aku hanya memikirkannya?

“Siapa namanya?”

“Hah?”

“Senior itu, siapa namanya?”

Rentetan kalimat tanyanya, kubalas dengan kalimat serupa. “Apa hubungannya dengamu?”

Jongin menyembunyikan kedua tangannya di saku. Berlagak keren dan menyiksaku? Untuk menyadarkan kebodohanku, bahwa kata menunggu sangat salah dikamusku, dan dia akan mematahkannya saat ini juga, mengatakan bahwa ia sudah memiliki yang lain? Wajah yang lebih indah untuk ditatap.

Aku tidak peduli. Aku telah melupakannya, kan? Tak selamanya aku ingin dipermainkan oleh takdir yang merantai pijakanku sampai rasanya tak bisa lari–semua orang menyebutnya move on.

“Hubungannya, Bella, adalah tentang urusan kita yang belum selesai.”

Aku mendongak. Lebih berani untuk menatap matanya yang kelam. “Urusan? Bukankah semuanya sudah berakhir?”

Jongin mencekal tanganku. “Yang mana yang sudah berakhir? Kita baru saja mau memulainya.” Ujarnya padaku, seolah-olah dia yang memegang kendalinya. Padahal seputar janji yang dibuatnya beberapa tahun lalu, sudah pantas bagiku untuk melepasnya pergi. Tetapi lelaki itu masih mengelak, menyembunyikan diri dari kekhilafannya. “Aku mau menepatinya. Bukankah, kau masih menginginkannya juga?”

Kata-kata memang manis, sayang sekali perilaku manusia tak serupa. Jika dia memang muncul kembali untuk menyiksaku, kubilang lebih baik enyahlah saja selamanya. Sedihnya, perasaanku yang lain mengatakan bahwa aku butuh dirinya untuk singgah.

Kemudian, melupakan rasionalitasku, diriku yang lain berkata, “Jika yang kau katakan benar, lalu kau mau apa?”

“Maksudnya, kau…”

“Memang benar, aku yang salah. Saat seseorang datang menawarkan diri untuk menjadi sandaranku, tapi tiap kali kesempatan itu datang padaku, memori tentangmu berdesing di kepalaku. Jika itu membuatku semakin yakin untuk menolaknya.

“Jika keadaan telah berbalik. Aku termakan kata kataku sendiri. Mempercayaimu… mempercayai setiap perkataanmu, dan terus menunggumu seperti ini. Tapi semuanya sia sia bukan? Kau punya banyak penggemar, banyak sekali dari mereka yang lebih baik dariku. Mereka yang sudah jelas bersedia untuk menjadi milikmu dan kau bisa memilihnya kapanpun.

“Aku? I’m stuck in the pain, sick of the scars you’ve left. Masih berpegang teguh pada janji itu. Janji yang hanya omong kosong.” Uraiku. Setelah mengatakannya, aku segera beranjak.

Dan mendengar suaranya lagi, adalah hal terakhir yang kuinginkan. Memaksa eksistensiku untuk tetap berada di sisinya.

Setelah puas memakan sekon, Jongin kembali berucap. “Kalau begitu kita impas; aku datang hanya untuk melihatmu. Aku tak pernah melupakan janjinya, sekarang aku datang untuk menepatinya.”

Kemudian Jongin merengkuh tubuhku yang membeku. Lalu tangannya mengelus rambutku dan menyesap aroma strawberry yang menguar pada rambutku.

“Kau yang melupakan kalimatnya, jika aku telah sukses, aku akan dengan berani mengikatmu.” Hanya untuk mendengarnya, air mataku meleleh sejadinya. Dia masihlah Kim Jongin yang dulu. Kim Jongin yang penuh kehangatan dan cinta untukku. “Aku sudah datang, Bella. Kau lupa penyambutannya.”

Dia tidak pernah lupa, Ya Tuhan, bagaimana aku bisa meragukannya?

In my eyes–and even in My dream, I only see you.”

Langit kian memerah di ufuk barat–adalah saksi dari janji yang ia tepati kali ini. Aku berharap janji ini bertahan lama, dan aku bisa memintanya kapan saja saat ia mulai lupa untuk hanya menatapku. Penantian melelahkan yang berbau kebahagiaan ini, tentu saja karena kau, Kim Jongin. Terimakasih karena mencintaiku, dan terimakasih karena telah mengisi tempat kosong yang kau tinggal.

So, welcome back, Jongin.” Ini saatnya mengalah pada ego dan jujur pada diri sendiri. Bahwa aku pun menginginkannya.

Jongin mencium puncak kepalaku, terasa lengkungan bibirnya di sana. “Jika aku meminta hatimu, maukah kau memberikannya?”

Aku melepaskan peluknya, lantas menatap obsidian kelam yang hangat itu. Apa aku sudah bilang jika aku terobsesi pada iris gelapnya?

“Maafkan aku,” Jawabku. “tapi kau telah mencurinya sejak lama.”

Lelaki itu mengembangkan senyumnya, dan menciumku sekali lagi. Membisikki kata yang membuat takdirku terasa genap.

So thank you, dear. I would never give it back.

fin.

 

A/N:

I’m so sorry for the awful and yeah o’course, this cheesy ff. Seeing his perform in MAMA (when he perform soloist dance) just make me so crazy (sumpahgaadahubungansamaceritanya).

Ada yang berpikiran sama denganku? KKKKK….

Anyway, this is my first debut fic here, so would you gimme your response, please?

*winkeu

 

Advertisements

17 responses to “[VIGNETTE] P R O M I S E

  1. Jiahh….. Bella lagak2 kgak seneng -,- egomu nak… Jongin!! Lu keren… Lu nepatin janji luu… Oke… Gue kgak mau berkoar2 lagi.. Keep writing aja buat lu oke??

  2. Huwaa bagus banget cerita nya, suka banget lah pokonya mah sama gaya penulisan dan kata2nya ^^
    kim jongin….aaku padamu pokonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s