[Series] Married With A Gay – Chapter 6

mwag-copy

Title     : Married With A Gay

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Angst

Main Cast: Xi Luhan as Lu Han, Ariel Lau (OC), Zhang Yi Xing as EXO M Lay

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : G.lin @CafePoster

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

***

“Dokter menyuruhku untuk memantaumu,” kata Lisa yang entah sejak kapan sudah masuk ke dalam ruangan Yi Xing. Dan dengan kasar, gadis itu meletakkan botol obat yang tidak asing bagi Yi Xing.

Yi Xing pun mendesah pelan, kemudian dengan lagak malas yang dibuat-buat ia pun mengangkat kepalanya dan balas menatap Lisa, “Sejak kapan Nuna jadi secerewet kakakku? Aku tahu apa yang harus kulakukan, jadi Nuna bisa keluar sekarang. Aku tidak mau konserku berantakan gara-gara laguku tidak selesai…Nuna! apa yang kau lakukan?! Nuna!”

Lisa sama sekali tidak peduli dengan teriakan Yi Xing dan terus berjalan meninggalkan pemuda itu, dengan beberapa lembar kertas di tangannya yang membuat Yi Xing mau tak mau akhirnya beranjak dari kursinya dan mengejar Lisa.

“Nuna! Jangan sampai aku memecatmu gara-gara masalah konyol ini!” kata Yi Xing kesal sambil merebut kertas di tangan Lisa. Sayangnya, masih tersisa beberapa lembar kertas lagi di tangan Lisa dan membuat gadis itu kembali menjauhkan tangannya dari tangan Yi Xing yang terus mengejarnya.

“Nuna!”

“Pecat saja aku, anak bodoh!”

“Nuna!”

“Aku hanya memintamu makan obat. Kau tahu, bahkan kupikir tugasku malah merangkap menjadi babysitter-mu,” Lisa masih berusaha menjauhkan tangannya dari tangan Yi Xing.

Dan akhirnya Yi Xing menyerah, “Nuna kumohon. Aku tidak bisa diganggu, dan aku…”

“Aku tidak mengganggumu, anak bodoh. Aku hanya memintamu untuk makan dengan benar, juga meminum obat sebagaimana harusnya. Bahkan bagiku, kesehatanmu jauh lebih penting daripada konser-konsermu itu. Jika kau sakit, malah konsermu akan semakin kacau. Dan kau…”

“Biaklah. Aku akan makan dan minum obat, jadi kembalikan kertasku dan jangan ganggu aku. Oke?”

Yi Xing langsung merampas kertas-kertas berharganya dan langsung berbalik meninggalkan Lisa. Menurutnya ini kelewat konyol. Lisa bukan lagi anak sekolahan yang harus membuatnya ‘bermain-main’ tidak penting seperti tadi. Dan lihat! Sekarang ia sudah membuang 5 menit waktunya yang bisa ia gunakan untuk menyelesaikan lagunya.

Yi Xing mendesis dan melempar kertasnya kesal ke atas meja di depannya. Sudah seminggu terakhir ini Yi Xing merasa otaknya lumpuh. Dan ia sama sekali tidak memiliki waktu hanya untuk sekedar diam dan membiarkan lagunya ditunda lebih lama lagi. Yi Xing pun berjalan ke arah sofa di dekatnya dan langsung merebahkan tubuhnya, padahal ia hanya duduk seharian, tapi tetap saja ia merasa lelah.

Yi Xing mendesah pelan. Biasanya selalu ada orang yang bisa dihubunginya, diajak bicara dan bisa membuat otaknya lebih rileks. Yi Xing tersenyum kecut, selama ini ia hampir tidak pernah merasa ‘sendiri’. Ia punya seseorang yang bisa menariknya pergi dari situasi menyebalkan seperti ini, ia juga selalu punya tempat untuk berbagi, dimana ia bebas mengeluh meskipun akhirnya orang itu akan berbalik membagi keluhan yang lebih besar pada Yi Xing.

Yi Xing pikir, semua itu justru akan terus berlanjut. Malah akan semakin kental dengan rasa manis di tiap lembar kenangan yang ditinggalkannya, ditinggalkan mereka. Yeah, tapi hidup memang kejutan. Bahkan kesepian seperti sekarang ini pun merupakan sebuah kejutan besar yang ia kira tidak akan pernah terjadi pada hidupnya.

Yi Xing mengulurkan tangannya untuk mengambil botol air mineral yang entah milik siapa dan bagaimana bisa ada di sana, seingatnya ia tidak kemana-mana sejak semalam. Ia juga tidak ingat jika ia pernah menaruh sesuatu di atas meja itu, kecuali Lisa tadi yang datang dan menaruhnya di sana.

Karena botol itu masih disegel, Yi Xing pun memutuskan untuk meminumnya. Ini apartemennya, jadi apa pun yang ada di dalamnya juga pasti miliknya. Namun gerakan tangan Yi Xing berhenti di udara tepat saat ponsel di samping botol mineral itu menyala. Ada satu pesan masuk.

Dan yang membuat dada Yi Xing terasa berat saat ia menemukan nama sahabatnya terpampang disana, nama suami dari seseorang yang pernah ia cintai…atau mungkin masih ia cintai sampai saat ini. Xi Lu Han.

***

“Kau bilang kau sibuk, bahkan waktu satu menitmu itu kelewat berharga meskipun hanya dipakai untuk melamun. Dan kau meluangkan waktumu satu hari –tidak! Mungkin bisa sampai 2 atau tiga hari, demi Luhan?” Lisa melipat tangannya di depan dada dengan lagak kesal. Bagaimana ia tidak kesal, jika Luhan tiba-tiba meminta Yi Xing untuk datang ke acara ulang tahun perusahaan keluarganya? Dan dengan bodohnya Yi Xing dengan senang hati mau datang ke konser itu, setelah dia terlihat seperti mayat hidup gara-gara gadis yang dinikahi Luhan saat ini.

“Hanya satu hari. Aku akan langsung pulang saat acaranya selesai, aku juga tidak akan datang ke rumah Jie Jie. Jadi, jangan katakan apa pun padanya,”sahut Yi xing dengan nada cuek –atau mungkin hanya pura-pura cuek. Lisa tidak bodoh. Lisa juga pernah jatuh cinta dan patah hati, apalagi Yi Xing yang jelas-jelas hampir melamar Ariel dan terpaksa batal karena pernikahan mendadak gadis itu, dengan sahabatnya pula.

Yi Xing tidak bercanda, kan? Ia tahu Yi Xing tidak sekuat dan setegar itu, sampai ia tidak keberatan sama sekali dengan undangan itu.

Lisa pun duduk di salah satu sofa di ruangan Yi Xing. Pemuda paling membosankan yang pernah ditemui Lisa itu, masih saja berkutat dengan pianonya. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Yi Xing tidak overdosis dengan nada-nada yang dituliskannya.

“Kau yakin tidak akan apa-apa?” tanya Lisa dengan nada ragu. ia benar-benar mengkhawatirkan Yi Xing saat ini.

Yi Xing mengangkat kepalanya, kemudian menggeleng dan melempar senyum kecilnya ke arah Lisa, “Kenapa jadi serius begini?” katanya dengan nada bercanda yang kaku.

Yi Xing pun menyingkirkan barang-barang yang berputar di sekitarnya dan langsung pindah dan duduk di samping Lisa.

“Jadi kau mau menyepelekan masalah ini? Yang benar saja Zhang Yi Xing, kau bahkan…”

“Aku baik-baik saja, sungguh. Semakin aku memihak pada perasaanku, semakin aku tidak bisa maju. Lagipula Luhan ataupun istrinya tidak salah,” Yi Xing pun mengambil sekotak jus apel milik Lisa yang belum dibuka, “Luhan juga tidak tahu menahu soal hubunganku dengan Ariel, jadi aku harus datang. Bagaimana pun dia tetap sahabatku.”

“Tapi perasaanmu juga penting,” sanggah Lisa tidak terima, entah kenapa ia jadi begitu ikut campur dalam urusan pribadi Yi Xing. Padahal, sudah teramat jelas jika Lisa bagian luar dari masalah ini.

“Perasan Luhan juga sama pentingnya,” Yi Xing mulai menggoyangkan kotak jus di tangannya, “Jika aku terus saja bertingkah seolah aku adalah korban utama, maka selamanya aku tidak akan bisa melepaskannya…”

Lisa pun mengangkat bahunya yang sudah merosot, lelah. Entahlah. Ia adalah orang lain tapi pada akhirnya ia ikut lelah dalam masalah yang melibatkan ‘adik’ nya ini.

“Baiklah. Ini sudah malam. Kau bilang kau harus bertemu seseorang, kan? Kau harus pulang, Nuna.” Yi Xing pun kembali beranjak dan berjalan menuju pianonya. Pembicaraan serius ini menguras sebaagian mood nya, dan ia tidak ingin otaknya ikut lumpuh gara-gara kerja perasaannya yang tidak benar.

“Kau tahu, saat pertama tahu bahwa Ariel akan menikah…aku sempat berpikir, bahwa dia akan menyesali semua keputusannya karena telah meninggalkanmu. Kau terlalu sabar, terlalu kuat, dan…terlalu pengertian,” Yi Xing hanya menoleh, menatap Lisa yang sudah beranjak dari tempat duduknya, “…mungkin kau benar. Aku terlalu melankolis, makanya aku sangat mudah patah hati. Semoga kau menemukan pengganti gadis itu, Zhang Yi Xing.”

***

“Kau menciumnya?” kata Wufan mengulang perkataan Luhan.

Entah sudah berapa lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua seperti ini. Minum kopi sambil mengobrol santai, kegiatan yang dulunya menjadi aktivitas harian bagi Luhan dan Wufan sepulang kerja. Dan semenjak Luhan menikah, mau tak mau akhirnya Wufan harus membiasakan diri waktunya yang terasa kosong. Yeah, pulang lebih cepat, menyelesaikan pekerjaan di rumahnya ataupun menonton TV sendirian ternyata jauh lebih membosankan. Ia merasa cukup…kesepian.

Wufan pun kembali duduk dengan 2 cangkir kopi di tangannya, kemudian ia pun meletakkan salah satu gelas di tangannya ke arah Luhan yang tengah menopang dagunya lucu. Yeah, lucu. Ia tak habis pikir bagaimana bisa di dunia ini ada laki-laki seimut Luhan, padahal umur laki-laki itu sudah melewati angka 20.

Luhan menerima cangkir itu kemudian mengangguk pelan, “Itu pertama kalinya bagi kami…maksudku itu sangat sangat kaku. Dia terlihat sama sekali tidak tertarik padaku,” Luhan pun menarik kedua sudut bibirnya kecut. Luhan memang tidak menyukai gadis itu, tapi diperlakukan seperti itu oleh perempuan ternyata bisa sedikit melukai perasannya.

Bagaimanapun selama ini Luhan merupakan pria dengan gadis-gadis yang terus saja mengekor di belakangnya. Tapi gadis yang mengucap janji sehidup semati dengannya, justru tak terlihat tertarik sekali padanya. Ini aneh, kan? Ia pikir mungkin ia sudah sembuh, mungkin saja ia memang bukan gay. Tapi…

Mata Luhan langsung membulat saat Wufan tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. tidak! Bahkan ini lebih parah! Wufan bahkan mengecup kening Luhan.

“Kau gila?!” pekik Luhan saat Wufan sudah menjauhkan tubuhnya. Luhan tahu bahkan kejadian gila itu tak sampai sedetik, tapi Wufan berani menciumnya? Yang benar saja!

“Apa yang kau rasakan?” tanya Wufan tak menggubris pekikan Luhan.

“Wu Yi Fan!”

“Kutanya kau sekali lagi Xi Luhan, apa yang kau rasakan?” Wufan menaikkan volume suaranya, menatap lurus Luhan yang sudah menurunkan pundaknya. Mungkin ia merasa terintimidasi dengan tatapan yang Wufan berikan.

Baiklah ini memang konyol. Entah kenapa Luhan malah harus jauh-jauh menemui Wufan di Guangzhou untuk meminta pendapatnya soal Ariel dengan Luhan. Ini urusan pribadi Luhan, soal rumah tangga Luhan, tapi Luhan akan merasa semuanya sama sekali tidak benar jika ia malah menanyakannya pada sang Ibu. Yeah, bagaimana pun ia tetap akan menghargai perasaan Ariel, dia tetap korban dalam pernikahan ini…

“Aku bingung denganmu. Kau dengan istrimu terlihat baik-baik saja, tapi kenapa kau terus saja mempermasalahkannya?” Wufan pun menyeruput kopinya, “Well, istrimu juga tidak seburuk hari pertama kalian, kan? Jadi kau tidak perlu terus-terusan berpikiran yang tidak-tidak.”

Luhan mendesah pelan. Jika saja memang semudah itu, Luhan juga bisa hanya beranggapan seperti itu. Tapi kenyataannya sama sekali tidak mudah untuk Luhan menghadapi sikap Ariel yang begitu kaku, menjaga jarak, dan lebih banyak diam itu. Ariel malah terlihat lebih ramah –dulu, saat mereka masih sama-sama menjadi 2 orang asing yang bertemu dalam satu atap.

“Kurasa dia masih menyukai kekasihnya…” Luhan pun mulai angkat suara, juga mulai menarik cangkir kopinya. Ia baru ingat, Ariel punya kekasih sebelumnya. dan pasti tidak mudah memutuskan kekasihnya itu hanya untuk menikah dengan Luhan.

“Tentu saja. Kau kira sangat gampang melupakan orang yang kita cintai? Jika kau ingin membuatnya percaya padamu, makanya kau harus membuatnya jatuh cinta.” Wufan mulai memutar bola matanya bosan. Ayolah. Luhan hanya perlu sedikit menyadari, bahwa ia mulai tertarik pada istrinya sendiri.

Luhan menoleh ke arah Wufan. Benar. Tidak mudah melupakan orang yang kita cintai.

“Aku takut mengecewakannya…”

“Kau memang mengecewakannya, Han. Dan sekarang waktunya untuk menghapus rasa kecewa itu.”

***

Ariel kembali mengeja tulisan cina di depannya, membaca perlahan nama sayuran yang akan dibelinya. Ia tidak biasa. Ia sama sekali tidak pandai bahasa cina, bahkan sejak kepindahannya pertama kali ke Beijing saat ayah dan ibunya bercerai. Tapi dulu ia sama sekali tidak peduli, ia tetap bisa sekolah di International School, membuatnya tidak perlu ambil pusing soal bahasa cina.

Dan setelah kuliah, ia pikir ia bisa memiliki rumah di Seoul sana…

Tapi ternyata semua tidak seperti itu.

Baiklah. Lupakan. Ariel harus terus membeli keperluan rumahnya.

Setelah membayar semuanya di kasir, tanpa sengaja ia melihat sebuah brosur yang terletak di sudut meja kasir itu. Tidak akan ada yang menarik perhatiannya…seandainya tidak ada nama Zhang Yi Xing dengan nama konsernya yang ditulis besar-besar disana. Ia memang kesulitan untuk membaca tulisan cina, tapi tidak dengan membaca nama Zhang Yi Xing.

Selalu saja ada gemuruh tiap kali ia menemukan nama itu. Dan selalu saja ada kata rindu yang berteriak keras saat ia melihat nama itu. Ia masih mencintai Yi Xing, sesederhana itu saja. Meskipun ia bisa melupakan sejenak soal laki-laki itu jika sudah ada Luhan…

Ah, ini juga mengganggunya. Yi Xing dan Luhan…tentang perasaan Luhan, dan masalah Luhan yang ternyata berakar dari Yi Xing. Kenapa dunia ini sangat sempit? Sampai-sampai ia harus menjadi tokoh antagonis dalam pikiran Luhan.

Dan mungkin Ariel akan tetap melamun jika saja pelayan kasir tidak menegurnya. Tolol. Ariel selalu saja terlihat tolol jika sudah mengingat 2 orang itu…2 orang terpenting dalam hidupnya.

“Terimakasih,” ucap Ariel sopan dan bergegas pergi.

Sejak 2 hari lalu, Ariel sudah bisa menghapal jalan dengan baik. Jadi ia tidak lagi terlalu bergantung dengan Luhan saat ia akan bepergian. Sesuatu yang bagus, kan?

“Kau ada dimana?”

Langkah Ariel terhenti saat pesan teks itu muncul di layar ponselnya. Ia pun buru-buru menepi ke sisi trotoar. Aneh. Luhan hampir tidak pernah bertanya soal kegiatannya, keberadaannya, atau apapun. Luhan hanya akan bicara jika benar-benar berhadapan langsung dengannya. Ariel tidak perlu mengingatkan seberapa parah hubungan mereka, kan?

“Aku baru saja belanja. Ada apa?”

Ariel pun kembali berjalan menuju halte. Dia tidak akan naik bis. Ia hanya berniat menunggu taksi disana, ia sama sekali tidak hapal rute yang akan dilalui bis di Beijing, termasuk kereta bawah tanah atau apapun…jadi, ia selalu memutuskan untuk memakai jasa taksi saja.

“Aku ada di Guangzhou. Kau mau kubelikan sesuatu?”

Ariel membulatkan matanya sekaligus. Tunggu dulu! ia pasti salah baca, kan? Apa katanya? membelikan sesuatu? Untuk siapa? Untuk Ariel? Dahi Ariel semakin bertambah kerutannya ketika ia menemukan kata ‘kau’ di pesan teks itu. Benar. Ternyata Luhan menawarkan sesuatu untuknya.

Luhan tidak sedang mabuk, kan? Terlebih ia bilang ia sedang di Guangzhou. Ia tidak tahu seberapa jauh jarak Beijing-Guangzhou, yang ia tahu Guangzhou adalah luar kota. Luhan di luar kota saat ini.

***

Luhan menyentuh kelopak bunga dengan warna lembut merah mudanya. Cantik. Meskipun tidak tahu banyak soal tanaman, setidaknya ia masih bisa memberikan penilaian untuk beberapa jenis tanaman, seperti bunga.

Luhan pun kembali mengangkat ponselnya, berharap Ariel sudah membalas smsnya. Tapi nihil. Tidak ada nama Ariel disana. Luhan pun mendesah pelan kemudian memasukan ponselnya ke dalam saku. Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk membuat perempuan senang, terutama Ariel. Tapi ia pernah berpacaran dengan perempuan sebelumnya, bertahun-tahun lalu. Gadis feminim yang kelewat manja. Dan yang Luhan ingat, gadis itu –mantan pacarnya- sangat suka dengan bunga. Mungkin membeli bunga tidak ada salahnya.

Masalah kedua, bunga apa yang Ariel suka? Atau…setidaknya, bunga apa yang cocok diberikan untuk Ariel? Ini baru angka ke 20 hari sejak pernikahan mereka, dan tentu saja dengan keadaan mereka saat ini, Luhan akan kekurangan informasi sama sekali.

“Nona, menurut Anda…bunga apa yang cocok diberikan untuk…istriku?” tanya Luhan ragu-ragu pada wanita yang ia perkirakan seumuran dengannya itu.

Wanita itu pun tersenyum ramah mendengar pertanyaan Luhan, “Pada umumnya para suami akan memberikan istri mereka bunga mawar. Anda juga pasti sudah tau, Tuan, jika bunga mawar memiliki makna yang cukup bagus untuk mengungkapkan perasaan.”

Benar. Mawar. Pilihan yang bagus.

“Baiklah, satu buket mawar.”

Sudah jam 6 sore, dan Luhan masih berkeliaran di tengah keramaian Guangzhou, di tengah-tengah manusia dengan segudang kesibukan mereka. Luhan tidak mau hanya membawa sebuket mawar untuk Ariel. Ia juga ingin memberikan sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa membuat gadis itu terkejut.

“Hah! Aku tidak tahu apapun tentangnya…” gusar Luhan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Selama ini, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Wufan. Jadi ia tidak terlalu ambil pusing jika akan memberikan sesuatu untuk ‘teman kencannya’ yang satu itu. Belum lagi Wufan bukan tipe orang yang rewel, jadi apapun yang diberikan Luhan, laki-laki itu akan tetap menerimanya dan mengucapkan terimakasih dengan tulus.

Luhan melirik jam tangannya, sudah sore dan ia malah masih tersesat dalam kebingungannya di salah satu pusat perbelanjaan di Guangzhou. Oh, ayolah Luhan! kau harus buktikan bahwa kau juga adalah pria cerdas yang bukan hanya bisa memecahkan masalah perusahaan!

Dengan pakaian yang cukup berantakan, dan wajah yang sudah lusuh, Luhan teringat soal ulangtahun perusahaannya yang sebentar lagi akan diadakan. Benar. Ia bisa membeli sebuah gaun, sepasang sepatu, hiasan kepala, atau asesoris lainnya.

Kedua sudut pemuda itu pun mulai tertarik sempurna. Brilian! Ia pasti akan membuat Ariel terkejut.

***

“Gadis itu juga memiliki kekasih, dan aku yakin sampai saat ini Ariel masih mencintai kekasihnya…” mata wanita berkepala 4 itu membulat saat mejanya digebrak oleh lawan bicaranya yang kini duduk berhadapan dengannya. Ia tahu suaminya akan semarah ini saat mendengar sebuah kenyataan yang tidak diketahui siapapun, kecuali dirinya dan seseorang yang terlibat dalam kontrak tertulisnya.

“Dan gadis itu sama sekali tidak tahu?” suara tertarah itu sangat kentara menusuk gendang telinga Nyonya Xi. Tapi ia tidak peduli, ia tetap menuangkan anggurnya denga tenang. Ia sudah menyiapkan mentalnya. Jadi, seharusnya ini bukan lagi sebuah masalah besar.

“Belum. Aku tidak ada nyali untuk mengatakannya, dia sangat menolak pernikahannya, juga…”

“MAI!!! KAU KIRA APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?”

Nyonya Xi menutup matanya rapat ketika meja dihadapannya dilempar ke samping kanannya. Bukan hanya dia yang terkejut, tapi seisi restoran ikut-ikutan menonton kejadian itu. Kejadian menarik yang mungkin langka ditemui secara langsung, kecuali kau mendapatinya di layar TV.

“Menghindarkan rumor busuk tentang putraku, putra kita,” Nyonya Xi mengangkat kepalanya angkuh, balas menantang tatapan mata yang tak kalah menusuk itu, “Kau tahu, selama Luhan tidak menikah dengan siapapun, bukan hanya membuat rumor busuk itu membengkak…tapi juga tidak ada penerus untuk perusahaan ini. Aku tidak mau usaha ayahku berakhir menyedihkan, keluarga kita butuh penerus. Apakah kau tidak sadar soal itu?”

Xi Mao mengacak rambutnya frustasi. Ini gila. Ini lebih gila dari yang ia kira. Sejak awal ia tahu istrinya begitu terobsesi dengan harta, bahkan wanita itu merelakan rumah tangga mereka sekacau sekarang karena keegoisannya. Tapi ia tidak tahu masalahnya akan seserius ini. Ia juga tidak tahu wanita yang sangat ia cintai itu justru memiliki pemikiran busuk seperti itu…

“Bukan seperti itu caranya, Mai…bagaimana pun, kau bukan hanya mempertaruhkan hidup seseorang. Kau kira akan mudah bagi gadis itu untuk meniti hidupnya dari awal jika ia telah berpisah dengan Luhan?”

“Luhan adalah gay. Kau tidak tahu soal itu?! Kau tidak tahu bagaimana sulitnya aku menelan semua kenyataan ini? Tidak ada cara lain. Aku sudah mendatangkan puluhan gadis, dan semuanya Luhan tolak. Dan kau kira hubungan ini hanya memerlukan cinta? Tidak Mao! Tidak! Aku tidak mau gadis-gadis itu berbalik meludahi Luhan! dan hanya ini satu-satunya cara…hanya gadis itu yang bisa…”

“TAPI KAU MEMBOHONGINYA MAI!” Xi Mao mencengkram bahu Mai, “Kau membohongi Ariel! Kau membohongi Luhan! kau membohongi semuanya!”

“LUHAN SUDAH TAHU SOAL ITU!” teriak Mai sambil mendorong tubuh Mao, membuat tubuh Mao langsung melemas seketika. Tidak. Ia pasti salah dengar. Tidak mungkin Luhan menyetujui ide bejat itu…

“A…apa?”

“Luhan sudah tahu semuanya. Luhan sudah menyetujui semuanya sejak awal. Semua ini tidak akan berjalan jika Luhan tidak menyetujuinya, Mao…”

***

“Kau cerewet sekali Baek… aku tidak habis pikir, bagaimana Taeyeon Sunbae bisa sesabar itu menghadapi pria setengah wanita sepertimu?”Ariel menjauhkan sedikit jarak antara ponsel dengan telinganya saat Baekhyun mulai berteriak-teriak…lagi. sahabatnya yang satu ini memang benar-benar…

“Kau sedang sendirian? Mana suamimu?”

Ariel mengangkat bahunya, menolehkan sedikit kepalanya ke arah lampu yang begitu ramai menghiasi gelap Beijing malam itu, sama seperti malam-malam lainnya, “Tentu saja bekerja. Mau apa lagi? makanya kau harus cepat-cepat bekerja, Baek. Siapa tahu dalam waktu dekat ini kau bisa melamar Taeyeon Sunbae.

Dan rentetan suara Baekhyun yang hampir tanpa jeda itu kembali menyentuh gendang telinga Ariel. Apalagi yang akan dikatakannya selain, ia sudah mulai bisnisnya sekarang, atau ia juga sedang mencoba pekerjaan yang layak, juga ia merasa umurnya belum cukup untuk memulai sebuah hubungan rumah tangga.

Ariel tersenyum kecil mendengar suara gemuruh Baekhyun yang masih belum berhenti. Bahkan ia mulai menceritakan aktivitas Taeyeon yang akan dijadikan alibi mereka tidak mungkin menikah dalam waktu dekat.

Dan Ariel langsung menegakkan punggungnya ketika bel apartemennya berbunyi. Siapa yang bertamu? Ariel tidak punya teman di Beijing, dan itu tidak mungkin Luhan…atau pun teman Luhan. entahlah, dengan kurang ajar nalurinya merasa ngeri membayangkan teman Luhan muncul di hadapannya. Cukup lelaki taing listrik Wu Yi Fan, dan ia tidak mau tahu lagi teman-teman Luhan yang lainnya.

“Baek, ada tamu. Besok ku telpon lagi, oke?” Ariel langsung menutup telponnya, tidak tahu bahwa Baekhyun sudah mengomel tidak jelas karena Ariel tidak mendengarkan ceritanya sampai selesai.

Ariel melangkahkan kakinya ragu. kemudian, ia pun menyalakan interkomnya. Dan sebuah kejutan besar ketika ia mendapati wajah ayah mertuanya tergambar jelas di layar interkom. Kenapa tiba-tiba beliau datang ke Beijing? Ah! Tidak! Tepatnya kenapa ayah Luhan malah datang ke apartemen mereka? Mana Luhan belum kembali…

Setelah merapikan penampilannya yang sebenarnya baik-baik saja, Ariel pun secara perlahan membuka apartemennya. Menyambut ayah mertuanya dengan tarikan senyumnya yang paling mengerikan seumur hidupnya…mungkin. ayolah. Ia tidak pernah benar-benar bersikap ramah pada keluarga Luhan selama ini.

“A…ayah, apa kabar. Aku sangat terkejut malam-malam begini Ayah datang, aku…”

“Mana Luhan?”

Mulut Ariel langsung terkatup ketika suara mengerikan itu memotong ucapannya. Ia bahkan tidak sadar, penampilan ayah mertuanya buruk sekali. Belum lagi mata sayunya yang begitu senada dengan wajah kusutnya. Dan feelingnya berkata, pasti ada sesuatu yang akan dipermasalahkan oleh ayah mertuanya ini.

“Lu…Luhan?”

“Mana anak itu?”

Ariel sangat linglung dengan kedatangan ayah mertuanya yang membawa mood buruk itu. Bahkan, ia melupakan tatakramanya, seperti menyuruh ayahnya masuk atau apapun. Dan ia justru terbengong dengan kemarahan ayah mertuanya yang entah karena apa.

“Luhan…belum pulang. Mungkin sebentar lagi. ah, silahkan masuk.”

Tuan Xi tidak membalas ramah tamah Ariel dan langsung menginjakkan kakinya ke dalam apartemen yang terlihat sepi itu. Ia sudah kehabisan rasa sabar untuk menghadapi keluarganya. Ia memang melepas Luhan bersama ibunya, tapi ia tetap ayah Luhan sekaligus kepala rumah tangga. Bagaimana bisa hal memalukan seperti rencana yang istrinya lakukan dibiarkan begitu saja? Ia tahu istrinya memang kelewat gegabah dalam mengambil keputusan, selalu seperti itu. Tapi ia tidak pernah tahu ternyata Luhan juga mewarisi sifat gegabah itu.

“Ayah ingin minum sesuatu, ah…iya silahkan duduk. Aku akan menelpon Luhan, dan…”

“Luhan memperlakukanmu dengan baik, kan?”

Ariel menegakkan pundaknya kaku saat ayah mertuanya tiba-tiba membalikan badan, dan melempar sebuah pertanyaan yang sedikit…aneh.

“Dia tidak buruk terhadapmu, bukan?”

Ariel pun buru-buru menyahuti, “Tentu…tentu saja tidak. Kenapa Luhan harus buruk terhadapku? Maksudku…dia baik. Sangat baik, juga perhatian. Meskipun kami memang jarang bertemu karena kesibukannya.”

Ariel tidak bohong, kan? Luhan memang baik, perhatian, dan selalu tahu apa yang dibutuhkan Ariel. Tapi ditanyai seperti itu oleh ayah Luhan sama sekali tidak lazim, setidaknya menurut Ariel itu tidak lazim. Seolah-olah pria bermarga Xi itu berkata bahwa Luhan bukan pria baik-baik padanya.

Obrolan mereka langsung terpotong ketika suara ‘tililit’ terdengar dari arah pintu. Luhan. tentu saja itu Luhan. yang mengetahui password pintu apartemen mereka hanya Ariel dan Luhan…atau mungkin juga Wufan, karena minggu lalu laki-laki itu masuk ke apartemennya saat pagi-pagi buta.

“Ariel, ada tamu? Oh…Ayah disini? Kapan Ayah datang? Kenapa Ayah…” dengan senang hati Luhan sudah membentangkan tangannya, bersiap memeluk sang ayah dan melepas rindu dengan laki-laki yang sudah berumur hampir setengah abad itu. Dan Luhan sama sekali tidak tahu justru tamparanlah yang diberikan padanya, bahkan sebelum Luhan benar-benar menyambut pria paruh baya itu.

“Bajingan…” desis sang ayah memecah keheningan yang mengikat apartemen itu. Bukan hanya Luhan yang terkejut atas apa yang dilakukan ayahnya, tapi Ariel yang melihat kejadian itu juga langsung membekap mulutnya yang sempat memekik terkejut.

Luhan tahu, ayahnya merupakan orang yang tegas dan keras. Bahkan termasuk pada Luhan. tapi seumur hidup, ini pertama kalinya Luhan diperlakukan sekasar itu. Ayahnya tidak pernah main tangan, semarah apapun dia. dan Luhan merasa sakit hati yang lebih besar daripada sakit yang sudah terlanjur terpatri di wajahnya.

“Apa yang Ayah lakukan? Kenapa Ayah menamparku?”

“Kau masih bertanya, hah? Kau masih bertanya apa salahmu!?” teriak Xi Mao. Bahkan sekali lagi ia menghajar putranya itu dengan keras, sama sekali menutup matanya dari luka yang mulai mengeluarkan darah di wajah Luhan.

“A…ayah. hentikan. Luhan tidak salah…”

“Naik ke atas Ariel. Tinggalkan kami.”

“Ta…tapi…”

“KUBILANG TINGGALKAN AKU DAN BAJINGAN INI!”

Tidak ada pilihan lain selain meninggalkan mereka berdua di ruang tengah. Ariel tahu ada yang tidak beres dengan ayah mertuanya sejak awal, tapi ia sama sekali tidak tahu masalahnya ternyata akan separah ini.

Meskipun tadinya ia berniat untuk tetap berada di ruang tengah saja, tapi melihat isyarat mata Luhan, Ariel pun setuju untuk naik dengan mata yang masih mengekor ke arah Tuan Xi dan Luhan. jika terjadi sesuatu yang buruk, mungkin bisa saja ia meminta bantuan.

“Baik, tinggal kita berdua. Jadi ada apa Ayah jauh-jauh datang kemari dan langsung memukulku seperti itu?” tanya Luhan dengan nada rendah dan napas yang agak tersenggal.

“Sejak kapan kau menyukai sesama jenis?” tanya ayahnya langsung dengan nada sarkatik, membuat Luhan sedikit membulatkan matanya. Ah, pantas saja ayahnya tiba-tiba langsung menghajarnya bahkan sebelum Luhan menyambutnya dengan sebuah pelukan –seperti biasanya.

Luhan menarik napas panjang, “Sejak lama. Sejak aku tahu aku menyukai sahabatku sendiri saat di Korea dulu.”

Sakit. Hati Tuan Xi sama sekali sakit. Jadi selama bertahun-tahun Luhan menyembunyikan masalah ini seorang diri? Jadi selama ini ia ditipu dengan berbagai perjodohan yang dicoba istrinya, bahkan pernikahan mendadak yang dikabarkan padanya ini? Semuanya demi menutupi masalah besar ini?

“Lalu kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku?” tanya Tuan Xi lagi, tanpa nada suara atau pun ekspresi. Ia hanya terus menatap wajah Luhan yang terlihat mulai santai. Apakah hal ini merupakan hal paling biasa untuk Luhan? sehingga Luhan terlihat acuh seperti sekarang ini?

Luhan terlihat menarik kedua sudut bibirnya tipis. Seperti yang harus dilakukannya saat ia berada di depan ayahnya, ia terus menundukkan kepalanya, tidak peduli meskipun satu pukulan lagi akan melayang ke wajahnya.

“Luhan…”

“Tidak ada yang tahu sebelumnya. bahkan Mama sekalipun tidak tahu tentang masalah ini. Sampai satu hari…aku tidak sengaja mengatakannya, bahwa aku tidak menyukai satu pun gadis yang dibawa oleh ibuku, tidak…bukan hanya gadis-gadis itu. Tapi semuanya. Semua gadis yang ada di dunia ini, termasuk mantan kekasihku sendiri,” Luhan pun memutar bola matanya ke arah anak tangga di sisi kanannya, tangga yang dinaiki Ariel tadi. Tangga yang akan membawanya ke arah kamar mereka, Luhan dan Ariel.

“Juga Istriku,” cicit Luhan kemudian, “Sampai hari ini aku juga belum bisa merasakan apapun terhadapnya, dan…” belum sempat Luhan melanjutkan ucapannya, Tuan Xi sudah menghajar kembali wajah putranya hingga Luhan tersungkur ke lantai dengan keras.

Tidak ada perlawanan. Luhan sama sekali tidak menolak dan tidak akan menolak meskipun ayahnya akan menghajarnya sampai habis. Luhan mengakui ini salahnya, Luhan akui ini adalah aib terbesar keluarganya, mungkin jika ia menjadi ayahnya saat ini, ia juga pasti sudah menghajar putranya habis-habisan.

“Dan kau menyetujui pernikahan kontrak bodoh ini?”

Luhan mengangkat kepalanya kaget. Ia tidak tahu ternyata ayahnya bisa tahu hingga sejauh ini. Dan entah harus disyukuri atau tidak, ini artinya kedua orangtuanya baru saja bertemu dan berbicara…setelah bertahun-tahun mereka memutuskan berpisah tanpa ada surat cerai.

“A…aku…”

“Jawab ya atau tidak Xi Luhan. kau menyetujui pernikahan kontrak ini tanpa sepengetahuan istrimu? Dan setelah dia melahirkan anakmu, kau akan menceraikannya? Begitu?” desak Tuan Xi lagi dengan nada rendah dan menusuk. Ia tidak mau menantunya mendengar hal menjijikan ini. Terlebih setelah ia tahu jika gadis itu terpaksa meninggalkan kekasihnya demi menikah dengan Luhan.

Luhan menelan ludahnya pahit. Ia pun mengubah posisinya menjadi berlutut di hadapan ayahnya. Baiklah. Mungkin hari ini adalah hari terakhirnya, karena ia tahu ayahnya sangat sulit memberi toleran untuk kesalahan sekecil apapun. Dan kesalahan Luhan adalah, membohongi Ariel. Tidak. Ia tidak membohongi Ariel. Ia hanya belum memberi tahu Ariel.

“Luhan…”

“Aku tidak akan membuatnya hamil. Setelah setahun, mungkin…atau kapanpun dia mau, aku dan dia akan berpisah…”

“Dan meninggalkannya tanpa bertanggung jawab?”

“Ku usahakan itu tidak pernah terjadi. Jika aku bisa mempertahankannya sampai akhir, aku bisa membatalkan kontrak itu, dengan atau tanpa persetujuan Mama…”

Tuan Xi dapat bernapas dengan lega setelah mendengar jawaban Luhan. meskipun ia tidak diberi kepastian untuk hubungan rumah tangga putranya, setidaknya ia tahu Luhan tidak sebajingan apa yang dipikirkannya.

“Tapi menyetujui kontrak itu adalah kesalahan besar, Luhan…”

“Aku tahu, aku minta maaf,” Luhan menundukkan kepalanya dalam, sempat berharap ia bisa selamat dari hukuman apapun…tapi ia pikir tidak. Ia akan tetap menelan hukuman, sama seperti ayahnya yang dulu mendapat hukuman sang kakek. Luhan juga akan menerimanya, hari ini atau lain hari.

Tuan Xi memejamkan matanya. Ia pun menarik ikat pinggangnya dan mendekat ke arah Luhan. demi Tuhan! Ia sama sekali tidak ingin melakukan ini pada Luhan. tapi ia tidak ingin ayahnya menuntutnya di langit nanti ketika ia mati hanya karena ia melanggar janjinya.

“Maafkan aku. Tapi aku hanya ingin memberitahumu…keputusan ibumu salah, dan sebagai anak laki-laki, harusnya kau bisa lebih tegas. Selain kau menipu menantuku, kau juga sudah merebut kebahagiaan menantuku Xi Luhan,” ucap Tuan Xi yang dilanjut dengan sebuah pukulan keras dipunggung Luhan.

Di lantai atas, Ariel menggigit bibirnya keras saat mendengar jeritan Luhan. ia tidak tahu ayah mertuanya akan memukuli Luhan sampai seperti itu, terlebih ia juga tidak tahu apa yang membuat ayah mertuanya sampai harus melakukan itu pada Luhan.

Satu kali…

Dua kali…

Tiga kali…

Ariel menyeka air matanya yang entah sejak kapan mulai meleleh dan membasahi pipinya. Tidak bisa. Ia tidak bisa membiarkan Luhan dipukuli seperti itu. Segala sesuatunya bisa dibicarakan baik-baik, bukan? Tidak adil jika Luhan harus dipukuli seperti itu.

Dengan panik, Ariel pun langsung berlari menuruni anak tangga dan langsung memeluk Luhan. mencoba melindungi Luhan sebisa yang ia lakukan.

“Kumohon, Ayah. Jangan lakukan itu pada Luhan. aku tidak tahu apa salah Luhan sampai kau melakukannya, tapi aku mohon, jangan pukul dia lagi. kita bisa membicarakannya baik-baik, jika Luhan membangkang pada Ayah, aku…aku janji akan membuatnya meminta maaf dan bersujud pada ayah. Tapi jangan pukul dia seperti itu. Kumohon…”

Luhan menoleh ke arah istrinya, kenapa Ariel melakukan ini? Tanpa sepengetahuan Luhan, bahkan air matanya sudah ikut meleleh saat melihat air mata Ariel terus saja berjatuhan sambil memohon pada ayahnya.

“Luhan, katakan sesuatu…” Luhan tidak tahu apa yang dikatakan Ariel pada ayahnya tadi, tahu-tahu gadis itus udah memohon padanya sambil memegangi kedua tangannya, “Minta maaf pada ayahmu.”

“Aku pulang. Kau jaga putraku. Aku akan kembali ke Jepang besok pagi, dan kau Luhan…kukira aku tidak bisa datang ke acara perusahaan nanti. Aku akan sangat sibuk.”

Ya. Luhan tahu. Ayahnya tidak akan datang, ia pasti sangat malu. Dan semuanya karena Luhan. Luhan yang telah mengecewakan ayahnya, Luhan yang diberi harapan, justru sama sekali tidak bisa memberikan apapun untuk membalas kebaikan ayahnya.

***

“Kalian ini kenapa. Kenapa ayahmu harus memukulmu sampai seperti itu,” tanya Ariel sambil membantu Luhan untuk memakai kaos berwarna putih yang dibawakan Ariel untuknya. Bahkan gadis itu masih terus meneteskan air matanya.

“Kau melakukan apa sampai ayahmu melakukan itu? Aku takut sekali, aku tidak bisa melakukan apapun untuk melindungimu. Jika kau salah, kau harus minta maaf padanya. Jangan sampai kau harus dipukuli seperti itu, juga…”

“Itu hukumanku.” Potong Luhan cepat sebelum Ariel melanjutkan kata-katanya. Ia cukup senang Ariel mengkhawatirkannya seperti ini, sebelumnya Ariel terlihat sangat benci sekali pada Luhan. tapi hari ini, Luhan tahu Ariel ternyata tetap bisa menaruh perhatian padanya.

“Kau jangan khawatir. Itu resikoku. Jangan menangis lagi, oke?” Luhan pun menyeka air mata Ariel.

“Tapi apa kesalahanmu sampai kau harus diperlakukan seperti itu?”

Luhan menggeleng pelan dan mengusap kepala Ariel lembut, “Tidak ada. Aku sudah menyelesaikannya. Jangan khawatir lagi. ah, aku membawa sesuatu untukmu. Tapi sepertinya aku meninggalkannya di depan pintu tadi, kau bisa mengambilnya. Aku harus tidur sekarang, dan…”

“Baiklah. Tidurlah dan berhenti bicara,” Ariel pun membantu Luhan untuk berbaring,” Tidur menyamping saja. Jangan telentang. Itu pasti sakit,” kata Ariel lagi sambil membantu menyelimuti Luhan, “Jika kau butuh sesuatu. Katakan saja padaku ya?”

Luhan mengangguk pelan. Dan ia tidak membiarkan matanya terpejam sampai Ariel menghilang di balik pintu kamar mereka. Ia tidak tahu, ia suka saat Ariel mengkhawatirkannya seperti sekarang ini.

“Ayah melakukannya karena dia menyayangimu Ariel. Maafkan aku, aku memang laki-laki bajingan yang tak tahu diri…”

=TBC=

2015/01/17 AM533

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

53 responses to “[Series] Married With A Gay – Chapter 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s