Force Marriage P.6

Force-Marriage-02

Author : Yanlu (@yanlu_arron)

Main Cast : Xi Luhan, Chanra (OC), Henry, Im Yoona, Kim Myungsoo

Other Cast : find in the story

Genre : Romance, Life, Sad

Rating : PG-15

Disclaimer : This story belongs to me. Cast only my imagination, Don’t try to plagiat.

Please give your feedback by like or comment. Don’t be silent reader!

visit my other stories at : WATTPAD

 

Part 6

Matahari mulai masuk ke dalam sela-sela awanmenimbulkan langit sore berubah menjadi oranye. Membiaskan cahaya sore hari. Di atas rooftop Chanra sengaja menikmati keindahan bumi kala itu. Angin sejuk berhembus, mengibas-ibaskan rambutnya. Sinar matahari yang mulai meredup menyinari bagian samping wajahnya, membuat bayangan dirinya berada di arah 180 derajat. Matanya terpejam. Mencoba menikmati angin yang menyapa lembut dan udara oksigen hasil alam.

Perlahan-lahan gadis itu membuka mata. Ada sosok wajah yang ia kenal dihadapannya. Terasa agak samar karena sinar matahari menciptakan siluetnya. Tak lama kemudian ia sadar sepenuhnya akan sosok itu.

“Henry?” Chanra terperangah namun segera memeluknya. Perasaan rindunya menguap. Seketika tangan Henry mengusap kepala Chanra, gadis itu semakin mempererat pelukannya. Seakan tidak rela kehilangan sosok itu lagi. Ia tak mau melepasnya begitu saja. Henry sudah pergi tanpa kabar dan menghilang darinya seperti hantu.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau tidak membawaku pergi? Kenapa kau menghilang ditengah aku sangat membutuhkanmu?” rentetan pertanyaan Chanra hanya dibalas senyum. Namja itu memundurkan tubuhnya sejenak tanpa melepas pelukan. Tangannya mengelus lembut pipi Chanra. Menghapus air mata yang mengalir perlahan-lahan tanpa bisa ia bendung.

Tak lama kemudian bulan mulai muncul sedikit demi sedikit menggantikan posisi matahari. Cahaya matahari sepenuhnya hilang. Sosok Henry perlahan-lahan tertutup oleh gelapnya malam. Saat Chanra mengedipkan matanya dalam sekejap sosok Henry hilang. Hilang oleh kemunculan rembulan. Hilang dalam hembusan angin malam dan dalam datangnya kegelapan.

Chanra menggapai-nggapai sosok Henry yang sudah lenyap tanpa bisa berteriak. Entah mengapa pita suaranya hilang. Seperti hilangnya Henry ditelan malam.

Tes…

Tes…

Chanra terbangun dari tidurnya dan mendapati air matanya jatuh mengalir turun ke telinga. Tapi ia tidak terkejut dengan itu semua. Saat terbangun ia justru menangis lagi dan lagi. Air matanya mengucur membasahi bantal tanpa ia pedulikan. Terbayang akan mimpinya yang begitu nyata.Tapi ia bersyukur setidaknya yang ia alami tadi hanya ada dalam mimpinya. Bukan kejadian yang sesungguhnya.

Meskipun itu hanya mimpi namun pada kenyataannya Henry telah dulu menghilang. Hal itu membuat Chanra kembali sedih. Ia melamun sepanjang hari itu.

“Ada apa? Kau terlihat murung hari ini?” komentar Minah saat melihat Chanra hanya diam, tidak secerewet biasanya.

Gwenchana…aku…hanya lelah” dustanya, ia memaksakan senyuman pada Minah dan itu ketahuan oleh gadis itu.

Minah masuk ke dalam lalu keluar lagi membawa tas Chanra. “Igeo! Kau butuh istirahat. Pergilah! Jangan pikirkan pekerjaanmu. Tenang saja aku akan memberitahu Baekhyun.” Chanra mengerutkan alisnya tapi ia mengambil tas tersebut dan segera memeluk Minah.

Gomawo, kalau begitu aku akan beristirahat dengan tenang”

Setelah itu, Chanra buru-buru mengganti bajunya dan pergi dari toko roti. Meninggalkan pekerjaannya. Selama melayani pelanggan tadi, ia terus saja keliru. Tidak konsentrasi sama sekali sehingga memang lebih baik kalau sepertinya ia tidak melakukan pekerjaan dulu.

“Chanra! Bantu aku untuk membungkusi roti ini!” teriakkan Baekhyun disambut oleh kedatangan Minah. Membuat namja itu mengernyitkan dahinya.

“Aku menyuruhnya istirahat, ia kelihatan tidak baik hari ini” ujar Minah, tahu gelagat Baekhyun yang meminta penjelasan.

“Kenapa kau membiarkannya begitu saja tanpa meminta persetujuanku? Seharusnya kau bilang dulu padaku kalau Chanra ijin untuk tidak kerja, seenaknya saja mengijinkan pegawaiku!” seru Baekhyun dengan nada kesalnya.

Minah yang awalnya hendak menjelaskan baik-baik jadi malas. Ia sengaja tidak menatap Baekhyun. “Oke, aku salah. Seharusnya aku bilang padamu tapi kau pasti tidak akan mengijinkan, aku tahu itu”

Baekhyun mendesis. “Sudahlah! Kau selalu seperti ini, membuatku kesal. Kau adalah pegawai jadi, tidak berhak untuk ” setelah berkata seperti itu Minah melengos pergi.

“Ck… kalau aku tidak ingin melihatmu setiap hari, kau sudah kupecat” gumam Baekhyun, diam-diam mengulas senyum.

***

 

Chanra tidak berniat istirahat di apartemen Luhan. Ia berjalan-jalan disepanjang jalan Myeongdong lalu duduk di tepi sungai yang damai. Menikmati riak kecil dan angin sejuk yang berhembus. Saat ia berjalan kembali, sebuah sepeda tepat ke arahnyamelaju kencang dan dalam satu kedipan menabrak tubuhnya. Ia jatuh dan meringis menahan sakit saat terbangun.

Mianhae…Apa lukamu cukup parah? Ayo aku antar ke rumah sakit”

Chanra mendongak untuk melihat siapa yang telah menabraknya. Ia terkejut begitu mendapati temannya, Euhnye yang telah menyebabkannya jatuh.

“Oh…Chanra-ya! Apa kau baik-baik saja?” Eunhye segera bersimpuh. Mengecek kaki Chanra lalu memijatnya.

“Aku baik-baik saja. Apa kabar Hye-ah?”

Sore itu menjadi nostalgia mereka untuk saling bercerita. Menyaksikan matahari terbenam bersama lalu saling bertukar pengalaman dan hal lain seperti halnya bertemu teman akrab. Sampai malam menjumpai barulah Chanra merasa lelah. Ia pulang menunggang bis sedangkan temannya itu telah dijemput oleh supir.

Dari luar jendela apartemen Luhan bercahaya. Chanra bingung karena tidak biasanya namja itu pulang secepat ini. Mendekati pintu utama ia buru-buru masuk lift menuju lantai enam.

“Berpikir positif! Mungkin itu memang Luhan. Tidak mungkin seorang maling masuk”

Dengan sedikit ragu, ia mengetuk pintu apartemen tanpa memanggil nama Luhan. Mencoba waspada. Tapi beberapa kali ia ketuk tetap tidak ada suara apapun. Akhirnya ia membuka pintu dengan kode yang biasanya.

Chanra segera masuk dan mendapati Luhan dengan penampilan kusut dan meja berantakan sedang menunduk dalam. Gadis itu menghampiri lebih dekat lalu menggoyangkan bahunya.

“Apa yang terjadi, huh? Kau aneh”

Luhan menepis tangan Chanra lalu mendongak menatap gadis itu dengan pandangan frustasi. Seakan kedatangannya tidak diinginkan untuk saat ini.

Wae? Apa sesuatu terjadi pada pekerjaanmu? Atau hal lain–

Sebelum Chanra sempat menyelesaikan kalimatnya, Luhan sudah berdiri dan menjauhi dirinya menuju ke kamar. Namja itu membanting tubuhnya ke kasur. Menghembuskan nafas dengan berat berkali-kali. Ia kembali teringat kejadian di kantor yang semakin menjadi. Perkataan Xiumin tadi siang tiba-tiba terlintas lagi.

“Kenapa gossip itu terus bermunculan. Siapa yang melakukan ini? Aku tidak bisa terus di teror seperti ini. Xiumin, eottoke?”

Xiumin menggelengkan kepalanya. Ia juga tidak tahu kira-kira siapa yang sedang mengorek kehidupan Luhan.

“Menikahlahdengannya, agar gosip ini mereda dan kau tidak akan kehilangan pekerjaanmu”

“Mwo? Menikah?” Luhan membelalak terkejut lantas ia menggelengkan kepalanya.

Tak lama kemudian ia kembali ke ruang santai. Menatap Chanra yang sedang duduk di sofa. Gadis itu bertingkah agak aneh daripada sebelumnya. Ia memegang sebuah foto yang membuat Luhan menghela nafasnya kasar saat mengetahui foto tersebut.

“Kau sudah melihatnya.” keluhnya, ia kembali membuka kaleng bir dihadapannya dan meneguknya cukup lama.

Chanra menatap Luhan meminta penjelasan. “Dimana kau mendapatkan ini? Nugu? Siapa yang melakukannya?!” suara Chanra sedikit gemetar.

“Di kantor, semuanya terungkap. Kau dan aku tinggal bersama. AKH!! Ini sungguh membuatku frustasi!” teriak Luhan. Mendapat jawaban itu Chanra hanya bisa menghela nafasnya kasar. Ia memejamkan matanya dan kemudian dengan sedikit ragu ia menatap Luhan.

“Mereka…tidak memecatmu kan? Kau tidak akan…kehilangan pekerjaanmu kan?” tanyanya, sedikit takut jika namja itu akan marah-marah dan mengusirnya pergi. Tapi ia siap mendapatkan semua itu. Ia merasa dirinya sudah merepotkan terlalu banyak. Apalagi jika namja itu benar-benar akan kehilangan profesinya.

Luhan menatap Chanra, seakan menimang sesuatu untuk mengatakannya. “Sebenarnya itu bisa saja terjadi tapi…kita perlu membenahi informasi itu. Kita…harus membenarkannya”

Chanra mengernyit bingung. “Apa maksudmu?”

Sebelum menjawab Luhan menghembuskan nafasnya dengan berat. Mengawali perkataannya yang juga berat untuk ia ungkapkan.

“Kita harus…menikah”

Chanra membelalakan matanya mendengar perkataan luhan barusan. Ia tidak salah dengarkah?. Menikah?.

“Kau tidak serius kan? Pernikahan itu sakral Lu! Aku tidak mau melakukannya dengan orang yang tidak kucintai.”

Arra…aku tahu kau pasti tidak akan mau. Tapi, sepertinya itu jalan satu-satunya aku bisa bertahan dan ku pikir tidak ada salahnya kalau kita melakukan kontrak. Semacam perjanjian pernikahan. Ini tidak seperti pernikahan sungguhan. Hanya untuk meredam keadaan. Kumohon! Kita bisa bercerai kapan saja, kau tidak perlu khawatir dan aku tidak akan melakukan apapun padamu selama kita menikah” jelasnya.

Chanra terdiam, ia masih tidak terpikirkan untuk mengiyakan ajakan Luhan. Baginya menikah itu bukan main-main. Menikah berarti dirinya telah terikat oleh suatu hubungan. Status yang akan terus dibawanya walau suatu saat nanti ia akan bercerai. Ia butuh waktu untuk mempertimbangkannya.

“Aku…tidak bisa” jawab Chanra. Sebuah penolakan itu menyebabkan Luhan menunduk lemah. Namja itu menganggukan kepalanya. “Baiklah, itu keputusanmu. Aku harap kau memikirkannya lagi. Aku tidak akan mengusirmu karena hal itu tidak mempengaruhi gossip yang beredar.”

Setelah itu Luhan berlalu pergi meninggalkan Chanra dalam ketermenungannya.

Malam itu Chanra tidak bisa tidur, ia terus memikirkan perkataan Luhan. Bagaimanapun Luhan memang benar. Gosip itu tidak akan hilang hanya dengan melarikan diri. Ia juga sebenarnya takut untuk keluar dari rumah ini. Kembali teringat hutang ayahnya, rentenir itu pasti masih mengejarnya. Ia tidak sanggup membayangkan itu kembali.

“Sepertinya Luhan orang yang sangat baik. Apa kau benar-benar tidak menyukainya?Appa hanya berharap suatu saat kalian berdua akan menikah.”

Tiba-tiba perkataan appa Luo terngiang dalam benaknya. Apakah ia benar-benar harus menikahi Luhan? Tapi perasaannya terhadap Henry juga tidak bisa ia lupakan begitu saja. Ia memang tidak tahu keberadaan namja itu tapi ia bertekad untuk terus menunggunya. Meski ia tidak yakin apalagi mengingat mimpi kemarin malam. Ia takut Henry benar-benar telah pergi meninggalkannya.

Esoknya keadaan menjadi canggung. Luhan tidak pergi bekerja. Terbukti ia tidak bersiap-siap padahal sudah seharusnya jam segini pergi ke kantor. Chanra menundukkan wajahnya ketika berjalan melewati Luhan di ruang makan. Merasa buruk dan sulit saat ini untuk sekedar bertatap muka. Sama halnya dengan Luhan yang terlihat tak acuh. Ia tak tahu harus bagaimana. Memaksa gadis itu bukanlah solusi yang tepat tapi ia yakin itu satu-satunya hal yang bisa menyelesaikan gossip yang beredar dan menghentikan prasangka buruk mengenai dirinya.

Setelah setengah jam keheningan tercipta, Chanra mulai menghadap Luhan.

“Aku setuju…kita menikah”

Luhan yang sedang bermain game tanpa gairah lantas menghentikan permainannya. Ia menatap Chanra tidak percaya.

“Apa sudah kau pikirkan? Kau yakin tidak akan merubahnya kan?”

“Asalkan perjanjian itu tertulis, aku yakin” jawabnya singkat. Luhan dengan senyum terkembang menghampiri Chanra dan tiba-tiba memeluknya.

Gomawo…aku janji akan menepati kontrak itu”

Seminggu kemudian gossip di kantor luruh. Tergantikan dengan pembicaraan pernikahan Luhan yang mendadak. Membuat semua orang di kantor heboh namun terkendali karena kali ini mereka banyak bungkam.

Undangan telah menyebar luas. Terdengar sampai telinga Myungsoo. Ia terkejut karena mendapat undangan itu. Rencananya yang hendak mengeluarkan Luhan dari kantor malah berbelok seperti ini. Dia hanya ingin menjatuhkan sosok Luhan tapi tidak menyangka akan jadi seperti ini.

“Nekad juga orang itu, ini menarik” gumamnya, seraya membuang undangan pernikahan. Ia tidak berniat datang ke pesta itu.

***

“Mau kemana?” Tanya Chanra saat melihat Luhan memakai sepatu.

“Keluar, bertemu teman” jawabnya, sejurus kemudian ia sudah menutup pintu.

Chanra hanya memandang punggung Luhan yang kini sudah tertutup pintu. Ia menghela nafas kasar. Kembali membayangkan pernikahan yang akan terjadi dengan namja itu nantinya. Apakah ia mampu melewati kehidupan sandiwaranya itu.

Luhan keluar menemui Yoona, ia akan menyerahkan undangannya. Terlihat jahat memang tapi ia akan merasa lebih buruk jika tidak memberitahunya secara langsung.

“Aku…ingin mengatakan sesuatu tapi sebelum itu tolong dengarkan perkataanku sampai selesai, ne?”

“Oke, sepertinya kau sangat gelisah, katakan kenapa?” tanyanya, melihat Luhan saling menautkan jarinya tidak tenang.

Luhan dengan hati-hati menyerahkan undangan pernikahannya. Matanya mengawasi reaksi Yoona, menanti sebuah jawaban yang tidak diharapkan.

Mwo? Apa ada keluargamu yang menik–

“Aku yang akan menikah” potong Luhan.

Yoona menatap namja itu terkejut. Sedetik kemudian ia tersenyum tidak percaya. Ia menyangkal pernyataan Luhan. Berkata bahwa itu hanya lelucon untuknya. Mengira dengan pernyataannya itu ia akan menyatakan perasaannya.

Namun ia bisa melihat tulisan yang tercetak pada sampul undangan itu. Tulisan kedua mempelai yang akan menikah. Ia menatap Luhan dan ia bertemu dengan pandangan mata Luhan yang frustasi. Membuatnya tidak bisa menyangkal apapun. Semua itu benar. Yoona tidak lagi menghadap Luhan. Ia menghindari tatapan menyedihkan itu.

“Sepertinya…aku harus pergi, maaf…” setelah itu Yoona berdiri dan pergi dari sana. Luhan setengah melamun, ia mengejar yeoja itu saat hampir saja Yoona menyebrang tanpa melihat lampu traffic light.

“Yoona! Aku mencintaimu, sungguh. Percaya padaku. Kau jangan seperti ini. Pernikahan ini terpaksa”

Yoona hanya sesenggukan dipelukan Luhan. Akhirnya gadis itu tidak tahan untuk tidak menangis. Ia memukul-mukul tubuh Luhan. Melampiaskan rasa jengkelnya.

“Terlambat! Kau benar-benar terlambat Lu!” Yoona kembali menangis kencang. Ia melepas pelukan Luhan dan kini mencoba memanggil taksi. Menghindari ucapan-ucapan Luhan yang menyakitinya.

Yoona berhenti di sofa. Ia sudah tidak menangis tapi termenung. Ia melamun. Jika Luhan mencintainya kenapa ia menikah dengan orang lain?. Ia bertanya-tanya apa Luhan sedang mempermainkannya. Baru saja ia senang mendengar ungkapan hati Luhan yang sebenarnya tapi kenyataan tentang pernikahan itu kembali merenggut kesenangannya, menyesakkan hati.

 

Sedangkan Luhan dengan langkah lesu masuk ke dalam apartemen membuat Chanra bertanya-tanya. Teman macam apa yang lelaki itu temui sampai tingkahnya semenyedihkan ini.

“Siapa temanmu itu? Kenapa kau jadi seperti ini setelah menemuinya”

Luhan tidak menjawab atau memberi gelagat apapun, ia hanya melewati Chanra lalu masuk ke dalam kamar. Mengunci pintu, bersandar di daun pintu. Kemudian ia berteriak meluapkan emosinya. Membuat Chanra mengetuk pintu kembali, ia cukup khawatir.

“Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya aku hidup sendiri dengan tenang. Tidak dengan orang yang tak ku kenal lalu terjebak dalam masalah!!” ungkapnya.

Ucapan Luhan merambat sampai telinga Chanra. Gadis itu berhenti mengetuk pintu lalu pergi menjauhi pintu kamar Luhan.

 

Maafkan aku…

Aku membuatmu dalam kesulitan

Meski sebenarnya aku juga tidak ingin

 

***

Sebelum pernikahan terjadi di dalam ruang bride. Chanra hampir saja merusak riasan dengan menangis. Merasa sangat buruk karena ia tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah pernikahan terjadi. Namun ia tidak mau mempertaruhkan hidupnya untuk rentenir itu. Bisa jadi ia akan dipaksa menikah dengan rentenir itu. Sebab itu, ia lebih baik terpaksa menikah dengan seseorang yang sudah jelas status dan perilakunya daripada hidup bersama rentenir yang terus mengejarnya.

Dalam bayangan cermin, Chanra kembali tersadar. Ia mengusap air matanya yang terus mengalir. Lalu sosok Yoona muncul dalam cermin, cukup mengejutkannya. Gadis itu segera berbalik menghadap Yoona.

“Maaf, aku masuk tanpa mengetuk pintu. Aku Yoona, teman dekat Luhan. Mungkin kedatanganku ke sini sedikit aneh, karena kamitidak saling mengenal sebelumnya. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu.” Ujarnya seraya menatap lurus Chanra.

“Aku tahu…silahkan, apa yang ingin kau sampaikan?”

“Semoga kau bahagia…tapi kurasa sebelum kau menyesal karena menikah tanpa cinta. Batalkan saja pernikahanmu. Aku yakin ini hanya akan menyakitimu saja”

Mendengar itu kerutan di dahinya mengencang. Ia tahu Yoona ada sesuatu dengan Luhan tapi untuk sekarang pikiran semacam itu sudah tidak ada gunanya. Ia hanya ingin memfokuskan diri untuk pernikahan hari ini.

“Aku tidak tahu hubungan apa yang terjalin diantara kalian tapi…aku akan tetap mempertahankan pernikahan ini. Sebelumnya, permisi…aku harus naik ke altar.

 

Hari itu pernikahan terjadi.

Sesuatu yang sakral.

Dengan suatu syarat

Dan ketidakpastian yang akan terjadi di masa mendatang.

 

Usai pesta selesai, Chanra dan Luhan mempersiapkan malam pertama palsu di villa. Setidaknya untuk membuat pernikahan ini terlihat seperti sungguhan.

“Dah! Selamat bersenang-senang…”

“Semoga langsung dapat aegi” gurauan dan ucapan teman-temannya mengiringi langkah kedua mempelai saat memasuki mobil pengantin. Mereka akan menuju ke villa yang cukup jauh dari kota.

Dalam mobil, hanya keheningan yang tercipta. Chanra mulai merasa lelah. Ia bersender dengan kaki terentang lalu melepas gulungan rambut.

Selang beberapa menit Chanra kembali menegakkan badan. Ia melihat ke arah Luhan beberapa kali. Pandangannya agak gelisah, ingin mengatakan sesuatu.

“Kita tidak akan melakukan…um…maksudku yang sesungguhnya kan?” setelah mengucapkan itu, Chanra membungkam mulutnya, merasa sangat bodoh. Seharusnya ia tidak perlu bertanya hal itu.

Luhan hanya menatap lurus. Ia tak begitu mencerna. “Tidak, ini hanya bohongan. Aku sudah memesan kamar yang terpisah”

Syukurlah, batin Chanra. Kemudian ia terlelap ketika Luhan menambah kecepatan. Jalanan begitu sepi dan lancar sehingga membuat gadis itu menikmati istirahatnya.

 

“Aish…merepotkan! Chanra…Ireona! Hey, ireona! Kita sudah sampai. Apa kau mau tinggal di dalam mobil?”

Chanra tidak bergerak sedikitpun. Ia hanya melenguh sedikit lalu kepalanya hampir saja jatuh ke samping saat Luhan hendak meninggalkannya. Buru-buru ia menangkap tubuh gadis itu dan akhirnya ia mengalah menggendong Chanra sampai ke dalam villa.

“Owgh…um…Lu, mianhae”

Chanra mulai membuka mata dan menemukan kesadarannya. Ia sangat terkejut akan posisinya sekarang. Mendengar gumaman itu, Luhan buru-buru menurunkan gadis itu. Ia berdeham sedikit entah untuk apa.

Mianhae, aku tertidur. Apa kita sudah sampai?”

Ne, bawa tasmu itu!” serunya seraya menunjuk ke belakang lalu namja itu tiba-tiba sudah jauh di depannya tanpa menghiraukan dirinya yang masih setengah sadar.

“Hei! Luhan bantu aku. Aissshh!!!” dengusnya kesal.

 

Sesampainya di pintu kamar, kembali aku merutuk diri. Aku lupa meminta kunci, dengan terpaksa aku mengetuk pintu di seberangku. Ya, kamar Luhan berhadap-hadapan dengan kamarku.

Aku menengadahkan tanganku saat Luhan membuka pintu. Begitu Luhan hanya mengernyit, aku menghentakkan kakiku kesal. “Kunci, PABO!” teriakku cukup kencang. Membuat salah satu karyawan villa yang sedang lewat menoleh pada kami.

“Ah! Igeo” ia menyerahkan kuncinya, Lalu…

“Jangan ketuk kamarku dan menggangguku lagi setelah ini”

 

Brak…

 

Aku menirukan mimiknya saat mengucapkan kata-kata itu. Sungguh, belum apa-apa ia sudah membuatku naik pitam seperti ini.

Sabar, Chanra! Kau tidak ingin kembali ke masa lalu kan?

Begitu bertemu dengan kasur king bed gadis itu segera naik ke atas. Menghiraukan wedding dress yang masih melekat. Ia terlihat sangat lelah.

Meskipun ia sudah sangat lelah tapi setelah semua yang terjadi. Ia kembali menghadirkan memori-memori pahit itu ke permukaan. Hingga air matanya kembali menetes. Ia ingat ayahnya. Ia ingat kerinduannya dengan Henry. Tapi mereka semua menghilang begitu cepat. Tanpa sempat ia ucapkan kata maaf pada ayahnya. Tanpa sempat ia mengutarakan isi hatinya pada Henry.

 

Pernikahan ini…

Seharusnya menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Tapi ini bukan pernikahan yang ia inginkan. Dengan segala keteguhan hati, ia hanya berharap akan menjalani hidup selanjutnya dengan tenang.

Toh, ini bukan takdir akhir dari hidupku. Begitu pikirnya.

***

Drrt…drrrt…drrt

Drrt…drrt…

Suara ponsel Chanra terus berdering lalu mati. Gadis itu sama sekali tidak mendengar beberapa pesan yangsejak tadi terus masuk. Ia masih sulit untuk bangun dari tidurnya.

I’ll eat you up

Your Love, Your Love

I’ll eat you up

Your Love, Your Love

Woah oh oh

I’ll eat you up

Woah oh oh

So yum, yum

Akhirnya sebuah lagu berjudul Eat you up itu cukup mengusik pendengaran gadis itu. Ia mencari-cari ponselnya di tepi meja.

 

Yeob…seyo” ujarnya masih dengan suara yang lemah.

“Cepat turun ke bawah, temui aku di pintu utama delapan menit dari sekarang, atau kau mau seharian berada di dalam kamar villa”

“Huh…?” ia masih setengah mengantuk. Lalu menggumamkan kata-kata Luhan seraya melihat jam dinding lalu kembali meletakkan kepalanya diatas bantal.

“Depalan…menit…delapan…menit! Ish! Aku tidak peduli”

1…

 

2…

 

3…

“MWO??! Delapan menit?”

Chanra mengucek matanya. Ini sudah kelewat tiga menit dari waktu yang diberikan oleh Luhan. Ia mengacak rambutnya gelisah. Jika ia tidak ingin seharian bosan dalam kamar seharusnya kini ia sudah bersiap-siap. Tapi melihat pantulan dirinya di cermin. Wedding dress, rambut sarang burung, dan mata sembab.

Oh tidak!! Ini memalukan.

 

Chanra mengusap mukanya cepat-cepat lalu merapikan rambutnya dengan tangan meski sedikit sulit karena tatanan rambut pernikahan kemarin.

Masa bodoh dengan pakaianku.

Gadis itu melangkah pergi saat waktu tinggal dua menit lagi. Ia berdiri di depan lift lalu mendapat tatapan aneh dari orang-orang yang melintas.

Oh damn it!” Ia merutuk sebal saat pintu lift tak kunjung membuka. Semenit kemudian barulah ia bisa masuk lalu meminta maaf kepada penumpang lift yang lain agar menghentikan liftnya langsung ke lantai satu.

Di pintu utama aku mencari-cari sosok Luhan. Berharap namja itu tidak meninggalkannya. Namun harapannya pupus saat ia melihat mobil Luhan sudah melaju keluar.

Akhirnya gadis itu melangkahkan kakinya kembali masuk ke villa. Mengganti bajunya kemudian ia berjalan sendiri keluar darinya.

Tin…tin…

Sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti mendekati Chanra. Gadis itu menoleh ke samping.

“Cepat masuk…” suara familiar itu membuat gadis itu mengukir senyum. Ternyata Luhan tidak meninggalkannya setega itu.

Gomawo…aku tahu kau tidak akan sejahat itu. Sayang sekali jika aku hanya mendekam dalam kamar. Pemandangan disini sangat bagus. Aku tidak mau melewatkan kesempatan berlibur seperti ini”

Luhan memandang Chanra heran. Gadis itu kembali membuat rasa penasarannya muncul. Wajah ceria itu seakan-akan Chanra tidak pernah melakukan wisata atau setidaknya jarang. Padahal yang ia tahu gadis itu tergolong berada. Sepertinya sangat mungkin gadis itu pernah melakukan piknik.

“Apa kau tidak pernah pergi ke tempat seperti ini”

Chanra menoleh ke arah Luhan dengan senyum masih mengembang. “Ya, baru pertama kali ini aku pergi ke tempat seperti ini”

Setelah berkata seperti itu diantara mereka tidak ada yang berniat membuka suara. Masing-masing sibuk melihat pemandangan sekitar. Chanra terus menengadahkan kepalanya keluar jendela. Menikmati angin sejuk yang berhembus. Hal ini sedikit menghilangkan segala kekhawatiran dan kesedihannya. Ia sangat senang menikmati saat-saat seperti ini yang tidak pernah ia rasakan.

Sedangkan diam-diam Luhan memperhatikan tingkah gadis itu. Ia merasa sangat heran dan tidak menyangka ternyata gadis sejenis Chanra yang modis dan sombong tidak seperti yang ia kira. Sedikit demi sedikit ada perasaan terenyuh yang menjalar dihatinya melihat betapa rumitnya hidup gadis itu. Senyum gadis itu pasti mengandung kepahitan yang sengaja ia sembunyikan. Semua itu terlihat dari iris kelamnya, tapi sekarang ia melihat kebahagiaan itu terpancar cerah. Diam-diam Luhan tersenyum senang memikirkan perbuatannya membuat orang lain kembali bahagia.

“Lu…kita akan kemana?”

Pertanyaan Chanra tidak langsung dijawab olehnya. Ia tersadar setelah Chanra melambaikan tangan di depan wajahnya.

“Uh…? Apa yang barusan kau katakan?” Luhan menjadi salah tingkah. Ia kembali menyetir dengan fokus untuk mengalihkan perhatian gadis itu.

“Kau melamun ya? Pasti kau sangat sedih sekarang. Menikah dengan terpaksa karena rumor itu. Maafkan aku. Ini semua salahku. Tidak segera pergi dari apartemenmu. Seharusnya aku tidak berlama-lama disana. Seharusnya aku tahu diri”

 

Luhan menghembuskan nafasnya dengan berat. Entah mengapa semua perkataan Chanra benar. Namun ini juga salahnya karena mengijinkan gadis itu tinggal bersamanya. Merasa tidak tega mengusir gadis itu entah untuk alasan apa. Sejak mendengar kisah hidupnya yang pilu dan melihat sendiri betapa sulitnya hidup gadis itu sekarang ia menjadi simpati.

“Kita akan menuju bukit__ disana ada mata air__.”

“Wah benarkah? Gomawo Luhan, kali ini aku benar-benar salut padamu” Luhan menunjukkan dua jempolnya ke hadapan Luhan.

Luhan tersenyum kecil. “Anggap saja ini untuk menebus pernikahan kau dan aku. Pastikan kau senang. Jangan tunjukkan wajah murammu itu. Aku risih melihatnya”

Chanra mengangguk semangat kemudian ia kembali menatap keluar jendela. Diam-diam ia terkesan dengan namja itu meskipun ini mungkin bukan apa-apa baginya. Siang itu Chanra benar-benar menikmati perjalanannya menanjak bukit. Ia terus berjalan tanpa mengurangi langkahnya. Matanya berbinar-binar menyambut alam puncak, menyapa pepohonan yang tumbuh rindang di sekitarnya. Sedangkan Luhan terlihat kesulitan mengejar gadis itu. Ia terus berteriak meminta berhenti dan menggerutu tak jelas namun tak dihiraukan oleh Chanra. Gadis itu terlampau gembira.

“Dia minum apa sih? Ckck…” batin Luhan.

 

Sesampainya di tebing bukit Chanra berhenti. Matanya melebar dengan sorotan kagum tersirat. Mengagumi sejenak pemandangan yang terhampar setelah lelah mendaki beberapa kilometer. Danau buatan, hamparan kebun dan taman bunga tampak begitu tersusun seolah-olah itu sengaja dibuat. Namun semua pemandangan yang ia lihat adalah natural. Semua adalah nyata keagungan sang Pencipta.

Nafas Luhan tersengal-sengal begitu mencapai puncak. Ia menghela nafas lega. Melihat Chanra duduk di bawah pohon ia berjalan menghampiri gadis itu. Lalu sebuah senyuman bangga terukir di wajah imutnya.

“Benar kan? Pemandangan ini tidak akan mengecewakanmu”

Chanra hanya diam. Ia terlalu terpukau ataukah sedang melamunkan sesuatu, sulit membedakannya. Ekspresinya datar namun ada kelegaan dan sedikit kesedihan terpancar di wajahnya. Luhan sampai mengamati gadis itu cukup lama. Entah mengapa ia melakukan hal ini. Rasanya tingkah Chanra menyebabkan berbagai pertanyaan mengerumuni benaknya.

“Aku ingin ke air mata itu” celetuk Chanra.

Luhan cepat-cepat menyadarkan diri dari pikiran-pikiran yang terus menggelutinya sejak tadi. Ia berdeham sebentar. “Boleh saja, tapi aku tidak begitu suka bermain air. Jadi, aku akan melihat dari tepi saja”

Chanra menoleh dengan wajah cemberut. Luhan tidak mengasyikan. Padahal ia ingin bermain bersama bukannya sendirian.

Mendekati sungai dengan air sejernih air minum, gadis itu menghirup udara segar dalam-dalam. Kedua matanya berbinar senang. Lalu ia mengepak-kepakkan tangannya melawan arus air yang terbilang deras. Ia tersenyum gembira. Ditengah kesenangannya itu tiba-tiba ia menatap Luhan dengan sorot aneh. Gadis itu menyeringai yang membuat Luhan mengerutkan alis bingung.

Ketika Chanra berhasil mencapai tepi, dekat dengan keberadaan Luhan. Ia menarik tangan Luhan dan dalam sekejapnamja itu tercebur seketika karena terkejut. Sejurus kemudian Chanra menyipratkan air bertubi-tubi ke arah Luhan.

“Yak! Hentikan…aku tidak membawa baju ganti. Kita bisa kedinginan!” serunya, namun Chanra tidak mempedulikan teriakkan Luhan. Ia terus tertawa mengejek dan bermain-main dengan air yang begitu menyegarkan.

***

Haciimmmm…

Ha…

Haccimmm…

Berakhirlah mereka di dalam kamar dengan wajah pucat, ditambah Chanra bersin-bersin. Luhan menggerutu kesal pada gadis itu. Jelas sudah ini akibat bermain-main dengan air terlalu lama.

“Berhentilah mengomel! Pesankan aku bubur atau coklat hangat itu lebih membantu-Ha ha hacimmm…” lagi ia bersin dan membuat suara-suara menjijikkan dengan tisu.

Luhan memelototkan matanya namun Chanra tidak melihat itu. Ia hanya focus pada bersinnya yang sejak tadi tidak kunjung berhenti. Tisu-tisu berserakan dengan bebas dibawah lantai. Luhan menelan ludah melihat hal itu. Ia buru-buru keluar dari kamar gadis itu dan memesankan bubur untuk Chanra.

Igeo…berhentilah membuang tisu-tisu sembarangan seperti ini. Menjijikkan!” omelnya seraya menyodorkan secangkir coklat hangat dan bubur pesanan gadis itu.

Ah wae?!  Kau tidak akan tidur disini”

Luhan mendesah kesal lalu menatapnya tajam. “Kita akan tinggal bersama, jika kau tetap bertingkah menjijikkan seperti ini aku tidak akan berpikir dua kali untuk mengusirmu”

Chanra tertawa terbahak-bahak. “Ahahaha…lalu aku akan bertingkah menjijikkan setiap hari untuk mengancammu” Luhan mencubit pipi Chanra dengan kedua tangannya. Berhasil membuat gadis itu berhenti tertawa dan melenguh kesakitan.

Setelah seharian jalan-jalan rasa lelah mulai terasa. Chanra berbaring di kasur dan mulai tertidur. Sedangkan Luhan yang duduk mendengarkan musik mulai mengantuk. Ia menghampiri ranjang yang ada di hadapannya untuk mengecek keadaan gadis itu.

“Ah…sudah tidur rupanya” gumam Luhan.

Luhan menatap wajah gadis itu cukup lama. Seharian ini ia terus memperhatikan gadis itu tanpa sadar. Setiap kali melihatnya entah mengapa perasaan sedih tiba-tiba saja muncul dalam dirinya. Ia merasa…simpati. Mungkin itu yang bisa ia deskripsikan sekarang.

 

Setelah kembali ke kamarnya, Luhan mengganti bajunya dengan piyama. Lalu berbaring dan  membuka ponselnya. Tidak ada pesan apapun kecuali ucapan selamat dari orang-orang terdekat. Kemudian, ia tersenyum pahit. Merasa berdosa karena mereka semua telah ia bodohi.

Ia menekan nomor pintasan kedua, ada nomor Yoona disana. Ia setengah melayangkan jarinya untuk menekan calling tapi sejurus kemudian ia melempar ponselnya ke belakang. Tak kuasa memikirkan kembali tentang pernikahan ini dan perasaan sesungguhnya terhadap gadis itu.

Aku tidak yakin dengan keputusanku tentang pernikahan ini tapi…karir yang sudah susah payah ku raih tidak mudah untuk ku lepas begitu saja.

Semua demi impian yang tertunda…

“Chanra! Pesankan roti untukku”

Hanya keheningan yang menjawab seruan Luhan saat ia masuk ke kamar, tidak ada sosok Chanra disana. Pagi ini Luhan tampak segar dengan sweater casualnya. Seiring langkahnya mencari Chanra. Senyuman dari wajahnya terus terpancar.

Yeobseyo?? Im Yoona…akhirnya kau—

Tiba-tiba kerutan dahinya mengencang. Selepas mematikan ponsel, ia pergi meninggalkan kamar Chanra. Panggilan Yoona mendesaknya untuk pergi meninggalkan Chanra menuju Seoul.

Sedangkan Chanra, tanpa mengetahui kepergian Luhan menikmati waktunya pagi itu dengan kicauan burung dibelakang villa.Ia menikmati suasana tenang ini. Perasaannya semakin membaik. Ia tidak lagi berat mengingat kepergian ayahnya. Seketika ia mengembangkan senyum menatap lurus hamparan hijau disana.

“Lihatlah ayah, kupikir pilihanmu memang tepat. Apa kau sudah bisa merasakan kebaikan namja itu sebelum aku merasakannya?” gumamnya. Kemudian ia masuk kembali ke dalam dan mengambil ponselnya untuk memanggil Luhan, namun ia menahannya sejenak.

“Kenapa aku harus memanggilnya, pemborosan pulsa! Aku temui saja di kamarnya” ujarnya. Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke kamar namja itu.

“Lu…apa kau masih tidur? Ckck…sepertinya begitu, baiklah aku masuk!”

Senyum Chanra menggantung saat ia tak menemukan sosok Luhan begitu membuka pintu. Ia melangkah lebih dalam sembari memanggil nama Luhan dengan pelan. Ia mencoba menerka bahwa Luhan berada di bathup.

“Apa kau sedang mandi?”

“…”

Tak ada jawaban maupun suara yang terdengar.

Sepertinya di dalam kamar mandipun kosong, kemana ya lelaki itu?, batinnya.

 

Ia kembali keluar pintu kemudian memanggil namja itu. Tapi lagi-lagi membuat Chanra harus menghela nafas kecewa. Panggilan itu tidak terhubung. Ia kembali memanggil namun hanya jawaban operator yang berulang kali terputar.

“Kau dimana, kenapa tidak mengaktifkan ponselmu, cepat balas!!”

Tut.

Ia menutup pesan suara, berharap segera sampai karena ia cukup kesal dengan Luhan yang tiba-tiba menghilang.

 

Hampir jam dua siang, Chanra masih menunggu kabar Luhan yang tidak kunjung menampakkan diri. Ia memutar film dalam kamar tapi gelagatnya gelisah. Berkali-kali ia melirik ponselnya yang berada di ujung meja, sengaja ia jauhkan.

Beberapa menit kemudian, Chanra mulai lelah. Ia terus-terusan memejamkan mata. Tepat saat ia hampir saja terlelap tiba-tiba bel berbunyi. Membuat ia sedikit kelimpungan.

 

“Maaf, ada pesan dari kamar 302, Tuan Xi mengatakan agar Nyonya segera pulang ke Seoul. Ia meminta maaf dan akan menjelaskan kepergiannya yang mendadak. Ia juga meminta Nyonya untuk segera meninggalkan kamar”

“Apa?? Dia sudah check out?” seru Chanra, terkejut karena ternyata Luhan sudah cabut lebih dulu. Kenapa ia tidak memberitahuku? Apa terjadi sesuatu?

“Iya, kami beri waktu sepuluh menit untuk Nyonya, silahkan beres-beres dan check out.” Jelasnya.

 

Setelah pegawai lelaki itu pergi, Chanra buru-buru membereskan barang-barangnya dan pergi dari hotel itu.

***

Luhan menatap tubuh ringkih dihadapannya dengan sendu. Gadis yang begitu anggun dan cantik itu kini tampak pucat. Ia menatapnya dengan segudang perasaan bersalah.

“Lu…” bibirnya bergerak mulai menggumamkan namanya. Luhan menyunggingkan senyum lega. Tapi kemudian senyuman itu terlihat menyakitkan. Entah mengapa ini begitu menyakitkan, padahal lelaki itu sendiri yang membuat keputusan. Seharusnya Yoona yang pantas merasakan itu. Kini gadis itu terbaring lemah karena minum-minum semalam. Beberapa pegawai mengajaknya ke bar dan bersenang-senang disana.

“Mianhae…aku sangat khawatir padamu. Tolong jangan buat aku semakin bersalah dengan minum-minum seperti itu” ungkap Luhan. Ia menatap kedua mata Yoona penuh penyesalan. Kekhawatiran terlihat jelas didalam manik hitamnya.

Yoona tersenyum tipis. “Tak apa…kedatanganmu sekarang ini sudah membuatku lebih baik”

“Sebagai gantinya aku akan menemanimu sampai kau keluar dari rumah sakit”

“Tidak perlu, aku tidak enak dengan istrimu”

Luhan menggeleng. “Tak apa, dia akan memahami situasi ini”

Pintu rumah sakit bergeser terbuka, muncul sosok Myungsoo dengan senyum miringnya membawa setangkai bunga tulip dalam botol berisi air.

“Apa kau sudah membaik Yoona?” tanyanya sembari mengecek dahi gadis itu. Yoona mengangguk dan menatap risih saat Myungsoo melihati gadis itu dengan khawatir.

I’m fine” jawab Yoona seraya mengalihkan tatapannya pada Luhan.

Myungsoo tersenyum menyeringai saat melihat Luhan tengah melihatinya tajam.

“Oya, mana Chanra? Sepertinya aku tidak melihat gadis itu diluar”

“Dia…dalam perjalanan ke sini” Ucapan Myungsoo membuatnya teringat akan gadis itu. Ia lalu mengecek ponsel dan menemukan puluhan panggilan dan pesan dari gadis itu.

“Wah…wah, apa acara bulan madu kalian berjalan lancar? Sepertinya kau meninggalkan acara puncak kalian. Kurasa istrimu akan meminta cerai setelah ini” ketusnya. Setelah berkata seperti itu, ia pamit pulang dan mengajak Luhan berbicara berdua.

“Oya, apakah kau benar-benar meninggalkan Chanra sekarang? Kurasa kau harus punya prioritas dalam menentukan tindakan”

“Rumah tangga kami itu urusanku. Kau tidak perlu berkomentar”

“Aku memperingatimu, jangan sakiti Yoona! Lebih baik kau segera menjauhinya atau citramu akan semakin memburuk. Ingat statusmu, kau sudah menikah”

Myungsoo tersenyum miring saat Luhan hanya bungkam dan mengawasinya pergi menjauh. Ia kemudian mengacak rambutnya, kembali terpikir akan karirnya yang berusaha ia pertahankan dan gejolak dihatinya.

***

End to continue…

 

Author Yanlu comeback lagi, jiahh…maaf ya para readerku tercintah atas ketidakkonsistenanku yang terlalu lama dan lamban mengepost cerita. Mbagi waktu kuliah sama kegiatan-kegiatan didalamnya sungguh menguras tenaga dan pikiran. Belum lagi tugasnya, *okestopcurcol

Yang lupa sama cerita bisa kunjungi wordpressku, yanlufiction.wordpress.com

Yeah…otte? Penasaran ga sama reaksi Chanra kalo tahu Luhan pergi untuk menemui Yoona? Ini terlalu lambat ga alurnya?

Tunggu part selanjutnya wehehe…

 

15 responses to “Force Marriage P.6

  1. lha aku agak kecewa sih sedikit. soalnya di part ini aku ngerasa kurang dapet feel nya di part ini. semangat thor. posting kelanjutannya jangan lama2 ya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s