[One shot] The Proposal

krys

Author             : Ai

Cast                 : Kai Kim, Krystal Jung

Genre              : Romance, Fluff

Disclaimer       : also posted on my blog asweetmemoire.wordpress.com

 

“Kau disini rupanya.”

Krystal menoleh ke arah suara yang ia dengar. Lelaki yang mengajaknya bicara sedang tersenyum sekarang, menyembunyikan setengah wajahnya di pintu tempat ia bersandar sambil memasukkan dua tangan ke dalam celana bermuda warna coklat yang dipakainya.

Gadis itu mengendikkan dagunya, memberi isyarat kepada temannya untuk bergabung ke dalam ruangan bersamanya sebelum kembali menyandarkan kepala di jendela, memandang kosong ke luar sana.

“Ibumu bilang kau harus segera ke kamarmu, ada gaun atau sesuatu apa tadi aku lupa, katanya sudah datang.”

Krystal menghela napasnya pelan seiring dengan tatapan matanya yang sayu berpindah menatap lelaki yang duduk bersila di hadapannya. “Kai, apakah kau pernah berpikir bahwa manusia seharusnya sama seperti hewan?”

Kai mengangkat sebelah alisnya, “Manusia punya akal, kita bisa berpikir. Hewan terlalu liar karena mereka hanya mengandalkan insting tanpa berpikir.”

“Bukan masalah yang itu.” Krystal menanggapi. Gadis itu masih menyandarkan kepalanya di jendela, terlalu lemah untuk berpindah. Tetapi matanya menatap Kai. “Kebebasan.”

“Kau tahu singa?” Krystal bertanya lagi. “Mereka hidup bebas sekali. Tidak ada aturan yang mengikat mereka, dan mereka menentukan sendiri apa yang ingin mereka lakukan.”

Kai masih terdiam namun menyimak kemana arah pembicaraan Krystal dengannya.

“Kalau hari ini singa bertemu dengan rusa dan ingin memakannya, maka ia akan berburu rusa.” Krystal kembali menatap Kai. “Lalu kalau keesokan harinya mereka bertemu lagi dan saling jatuh cinta, maka mereka akan jatuh cinta.”

Krystal tertawa pelan, “Aku tahu kau pasti berpikir bahwa tidak akan mungkin itu terjadi.” Krystal masih menatap dalam mata Kai.

“If you saw a lion kiss a deer, Kai, what will you do?”

Kai mengangkat kedua bahunya, “Just let them kiss, i suppose.”

“Exactly.” Krystal kembali menyandarkan kepalanya di jendela.
Dalam hitungan menit, mereka berdua hanya duduk berhadapan dalam diam. Krystal masih tenggalam dalam pikirannya, menatap kosong jendela seperti yang ia lakukan sebelum Kai datang. Sementara Kai tidak mengalihkan pandangannya dari Krystal di depannya, dalam sekejap ia tersadar akan sesuatu dan mulai mencari dimana ia menaruh polaroid yang selalu ia bawa kemanapun. Kai tersenyum melihat hasil potretnya. Krystal dan imajinasinya. Kepalanya tak pernah berhenti menghasilkan sesuatu yang tidak akan pernah membuat Kai tidak berkata, “Wow.” Gadis itu punya pikiran seperti labirin, bukan perkara mudah untuk mencari sebuah jalan keluar yang membuatnya lega. Seperti akhirnya keluar dari labirin yang sempat membuatnya tersesat. Tetapi justru itu keindahannya, yang membuat gadis itu cantik di mata Kai.

“By the way, Krys.” Kai meletakkan polaroidnya di lantai. “Aku masih belum bisa menangkap arah pembicaraanmu.”

“Jessica.” Ia menjawab singkat.

Jessica, kakak tertua Krystal akan menikah hari esok. Ayah Krystal tidak punya keturunan anak laki-laki, hanya ada Jessica dan Krystal. Karena itu ada kabar yang terdengar, pernikahan ini dilangsungkan demi kelancaran perusahaan keluarga yang telah dibangun kakek buyut Krystal berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sang lelaki pilihan tuan dan nyonya Jung adalah pewaris tahta satu-satunya dari perusahaan yang kebetulan pemiliknya adalah seorang sahabat karib. Jadi, lelaki dan pernikahan yang akan dilangsungkan diyakini dapat mempertahankan perusahaan milik keluarga Jung sekaligus memperbesar kekuasaan dua perusahaan.

Selain itu, karena pernikahan ini pula, Jessica dan kekasih tiga tahunnya mau tidak mau harus mengakhiri kisah cinta mereka. Tuan Jung memang tidak pernah setuju dari awal. Tidak ada yang bisa dijamin untuk hidup Jessica dari seorang lelaki yang hanya menjadi seorang aktor.  Kehidupan yang dimiliki aktor tidak akan sama dengan para pengusaha katanya—bukankah sebenarnya keduanya sama aja memiliki masa kejayaan dan penurunan?

Jadi ini yang dimaksud Krystal tentang singa dan rusa yang jatuh cinta. Entah Jessica atau pacarnya yang menjadi singa atau rusa, mereka tidak bisa dibiarkan saling jatuh cinta seperti itu saja. Alasannya satu dan sangat sederhana.

Karena mereka tidak sama-sama singa dan tidak sama-sama rusa.

“Aku suka tidak habis pikir dengan orang tuaku.” Krystal memecah keheningan. “Mereka menjadikan Jess seperti satu-satunya cara yang paling halal untuk mendapatkan apa yang mereka mau.”

“Aku bertaruh kau pasti habis dihukum karena berkata seperti itu dihadapan ayahmu.”

Krystal mengangguk, sedetik kemudian gadis itu tertawa pelan sambil menyambut telapak tangan Kai yang dibuka lebar di hadapan wajahnya. Entah itu tos untuk apa.

“Kakakmu perempuan, ayahmu punya perusahaan tetapi ia tidak diwajibkan menikah dengan lelaki pilihan orang tuamu.”

Kai mengangkat bahunya acuh, “Karena mereka tahu bahwa mereka punya aku?”

Krystal mengangkat kepalan dan memukul lengan lelaki itu pelan. “Jangan sombong, Kai Kim. Siapa yang tahu kalau nanti ayahmu turun tahta dan kau justru tidak mendapatkan kekuasaan bahkan secuil pun? Dikuasai anak dari kakakmu mungkin?”

“Oh tidak, kurasa aku akan menjadi pengangguran seumur hidup.” Krystal kembali tertawa melihat Kai yang berpura-pura pusing mengusap dahinya.

“Tapi kalau aku jadi Jess, aku akan lebih memilih untuk kabur dari rumah.”

“Ya aku tidak akan heran dengan itu.” Satu pukulan mendarat lagi di lengan Kai, membuat lelaki itu mengaduh tetapi tetap tertawa.

Mereka berdua terdiam sekali lagi. Kai masih ingat Krystal pernah bercerita padanya bahwa ia tidak akan menikah. Tidak sampai ia tidak lagi memikirkan apa yang harus ia lakukan setiap pagi ia bangun dari tidur. Ketika tak ada lagi beban yang membuat otaknya terus berpikir tentang apa yang harus dilakukannya, Krystal baru akan menyerahkan segala hidupnya kepada lelaki yang ia sebut suaminya nanti. Tapi tidak akan ada yang tahu kapan itu akan terjadi. Kai bahkan mengolok temannya itu akan menjadi perawan tua yang sudah terlanjur mati sebelum menikah. Jahat, sangat jahat memang. Tetapi justru karena Kai berkata seperti itu, ia sangat tahu bahwa apapun yang akan dilakukan, yang akan dihadapi oleh Krystal, gadis itu bisa melakukan dan mengatasinya sendirian. Bukan karena tidak butuh bantuan, tetapi gadis itu memang sudah diciptakan menjadi seorang gadis kuat dan mandiri menurut Kai.

Sejak kecil, perhatian kedua orang tua Krystal sudah banyak tersita untuk perusahaan dan Jessica. Selama lima belas tahun di awal hidupnya, Jessica punya kanker yang menggerogoti sel darah putih di dalam tubuhnya. Tetapi Krystal tidak pernah merasa iri sekalipun ia tidak mendapatkan perhatian sebesar kakak perempuannya. Gadis itu justru belajar melakukan segalanya sendiri, meringkankan sedikit beban orang tuanya bahwa anak bungsunya bukan anak yang manja, dan sepertinya kebiasaan Krystal yang serba sendiri itu terbawa hingga sekarang. Bisa dibilang itulah yang membuat ia terlalu nyaman sampai tidak terpikir untuk menikah, entahlah?

“Krys, kalau suatu saat kau jatuh cinta. Lelaki seperti apa yang dapat membuatmu jatuh?”

“Kau mabuk, Kai?” Krystal memegang kedua pipi Kai, bertanya sambil tersenyum dengan lebar.

Kai meraih kedua tangan Krystal, menggenggamnya. Masih dengan menatap dalam mata gadis itu ia kembali bertanya, “Lelaki seperti apa yang membuatmu jatuh cinta? Lelaki seperti apa yang akhirnya akan membuatmu berubah pikiran untuk menikah?”

Krystal terdiam, sudah berpikir tetapi tidak tahu harus menjawab apa. Gadis itu akhirnya mengangkat kedua bahunya, “Kurasa aku akan lebih dulu merasa terkejut baru setelah itu aku akan sadar bahwa ternyata aku jatuh cinta.” Ia kembali berpikir.

“Jadi sepertinya aku sendiri juga tidak akan tahu lelaki seperti apa yang akan membuatku jatuh cinta, lelaki yang ingin aku nikahi. Entahlah, Kai.”

Kai tersenyum. Sudah berapa kali ia bilang pikiran Krystal sangat indah? Gadis itu mampu memikirkan apapun dari sudut pandang manapun, membuat dirinya sendiri mencari jawaban dari soal sulit yang pikirannya sendiri berikan padanya namun pertanyaan tentang lelaki seperti apa yang membuat ia jatuh cinta—pertanyaan yang pada umumnya akan dijawab dengan rentetan ocehan panjang dari setiap gadis yang diberi pertanyaan yang sama—tetapi Krystal tidak tahu jawabannya.

“Menikahlah denganku, Krys.” Kai membuka jendela yang ada disampingnya, memetik setangkai bunga yang sudah layu, memutus tangkainya yang kemudian ia gunakan untuk membuat lingkaran kecil menyerupai cincin seukuran jari manis Krystal.

Gadis itu masih diam. Terlalu terkejut untuk berkata apa-apa, ia bahkan tidak bisa berpikir.

“Kau mabuk, Kai.” Hanya tiga kata itu yang sanggup Krystal ucapkan untuk menjawab Kai. “Oh Tuhan, aku baru saja genap dua puluh satu tahun. Kau bercanda.”

Kai tertawa pelan namun ia menggeleng, “Ini tidak seperti kita akan menikah esok hari, Krystal. Kita akan mencuri hari besar untuk kakakmu kalau besok kita juga menikah.”

“Tapi aku bahkan tidak tahu kalau aku ingin menikah atau tidak?!”

“Dengar, aku tahu ini mengejutkanmu. Aku juga terkejut dengan perkataanku sendiri.” Kai menggenggam salah satu tangan Krystal. Dingin. “Tapi kau tidak harus menjawabnya sekarang, Krystal. Tenang saja.”

Krystal mengeratkan genggaman tangan Kai sebelum ia menjawab, “Tapi aku tidak akan pernah bisa menarik kalimatku kalau aku memakai cincin itu kan?”

“Bukan seperti itu.” Kai menatap Krystal lebih dalam. “Kau adalah singa dan aku yang jadi rusa. Setiap hari, aku akan memberimu kebebasan entah kau ingin memburuku untuk dimakan atau menemuiku untuk dicium. Anggap saja seperti itu.”

Krystal masih terdiam dan membuat Kai menambahkan, “Kau bebas dan sangat liar, Krystal—I’m saying it in a good way. Kau sudah seperti itu sejak kau diciptakan, sama seperti singa diluar sana. Aku tidak akan memaksamu, sungguh.”

Kai mengangkat tangannya untuk membelai rambut dan mengelus pipi Krystal sebelum menggenggam kembali tangan Krystal yang masih dingin, “Kau sudah terlalu indah untuk dirubah dan berubah. Aku tidak akan melakukan itu, Krys.”

“Aku harus menjawab apa?”

“Aku tidak tahu, jawablah saat kau sudah tahu jawabannya tanpa perlu bertanya padaku seperti ini.” Kai tersenyum. “Kita tidak akan pernah tahu siapa lelaki yang akan membuatmu jatuh cinta kan? Mungkin saja aku atau mungkin saja bukan, kau punya banyak sekali waktu untuk mencari tahu siapa laki-laki itu. Saat kau sudah tahu, saat itulah kau tahu jawabannya.”

Either i hunt you or kiss you? Jawabannya sungguh terserah padaku?” Krystal bertanya sekali lagi, “Kau bersungguh-sungguh tentang ini?”

Anything I will take.” Kai kembali menunjukkan cincin buatannya tadi. “Sekarang pertanyaannya kuganti saja. Krystal, kau mau atau tidak memakai cincinku ini di jarimu?”

Gadis itu masih terlihat tegang namun sudah bisa sedikit tersenyum, “Kurasa aku harus melepas cincinku yang lama untuk yang ini.”

Kai tertawa pelan. Cincin yang lama yang Krystal bicarakan adalah cincin yang ia berikan kepada Krystal ketika mereka masih berusia sepuluh tahun, ia membuatnya dari jerami dan dengan tiba-tiba memberikannya kepada Krystal. Tidak jauh berbeda seperti saat ini.

“Oh ya Tuhan! Kalian disini ternyata. Aku sudah berputar mengelilingi rumah, kalian tahu?” Krystal dan Kai menengok mendengar seruan dari luar ruangan. Ibu Krystal yang memanggil. “Kai orang tuamu sudah dibawah, datanglah untuk menyapa. Krystal kau ikut denganku, kau belum mencoba gaunmu kan? Cepat ayo! Ayo!”

Krystal menengok keluar jendela beberapa saat setelah Kai pamit untuk pergi lebih dulu, menyambut orang tua dan kedua kakaknya yang baru saja datang. Gadis itu menghela napasnya pelan sambil menggaruk ujung hidungnya.

Matanya menangkap sesuatu yang baru dari jari tangannya.

Oh my God, Kai Kim baru saja melamarku.”

 

 

—fin—

 

 

20 responses to “[One shot] The Proposal

  1. Kyaaaaaa, aku sukaaaa banget iniiiiiii :3 Sederhana tapi bikin senyum2 sendiri. Ga perlu bahasa2 romantis, cukup yang sesederhana itu udah bikin klepek2 bukan main. Aku suka kata2 Krystal di akhir! :3 demi apa itu sesuatu sekaliiiiiii. Huaaaah! I love this fict!!!! :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s