[Chaptered 3/3_End] GONE

Title : Gone

Author : Songrieunnike (tapi sekarang ganti pen name jadi Xilverspear ^^)

Artworker : Sifixo

Cast :

Xiumin (EXO) sebagai Kim Minseok (18)

Kim Yoojung sebagai Choi Yoojung (15)

Siwon (Suju) sebagai Kim Shiwon / Tuan Kim (Ayah Minseok)

T.O.P (Bigbang) sebagai Choi Seunghyeon / Tuan Choi (Ayah Yoojung)

Lee Jongseok sebagai Dokter Park Hoon

Genre : Romace, Drama, Angst, Sad

Rating : PG-12

Length : Chaptered

The stories before : Chapter 1 | Chapter 2

Disclaimer :

Fanfic ini terinspirasi dan berdasarkan plot music video Jin – Gone, hanya ada beberapa part yang ditambahkan oleh author. Cast yang ada dalam fanfic ini juga bukan milik author… 😛 Hanya adegan-adegan tambahannya yang murni milik author. Author mencoba menggambarkannya dengan cara yang berbeda.. 🙂

Attention :

Kalau reader belum nonton MVnya Jin – Gone, mending jangan nonton dulu, baca FF ini dulu aja ya… biar greget… Hehe… oh, iya… Mungkin reader butuh tissue… :)) Happy reading :DD

=====

Bagaimana bisa aku menghapusmu sendirian,

untuk kemudian hidup?

Pada saat-saat itu dimana kita berjalan bersama

Seperti itu, hal-hal yang kita lakukan bersama

Bahkan kenangan-kenangan itu, bahkan semua rasa penyesalan itu

***

2 bulan kemudian~

Minseok memendam kesedihannya sendiri, karena ia tidak ingin melihat ayahnya bersedih. Ia tahu bahwa setelah ia pergi, ayahnya akan benar-benar sendirian hidup di dunia ini. Oleh karena itu, ia tidak ingin menimbulkan kekhawatiran di dalam hati ayahnya selama dia masih ada bersama ayahnya. Minseok selalu tersenyum kepada ayahnya, seakan memberitahukan bahwa dirinya baik-baik saja.

Akhir-akhir ini, Tuan Kim sudah berhenti pergi ke luar negeri untuk berbisnis. Ia sekarang memilih menghabiskan waktunya bersama dengan anaknya di saat-saat terakhir anaknya. Walaupun sebenarnya ia sangat sedih, tapi ia selalu bahagia ketika melihat anaknya tersenyum. Seakan ia melihat sebuah senyum penerimaan yang sangat dewasa di wajah Minseok, anaknya yang masih 18 tahun ini.

Suatu kali, Tuan Kim dan Minseok sedang menonton televisi bersama di ruang tengah rumah mereka.

Minseok sangat serius dan berkonsentrasi menonton film Hollywood yang baru kemarin dibelinya. Alih-alih menatap layar televisinya, Tuan Kim malah menatap wajah anaknya lama-lamat. Ia memperhatikan wajah Minseok sampai ke detil-detilnya. Dia mirip sekali dengan ibunya. Single eyelidsnya, dagunya, bentuk rahangnya, hidungnya, bibirnya. Semuanya serba bulat dan bundar. Hanya rambutnya saja yang mirip dengan rambutku. Tanpa sadar, Tuan Kim tersenyum sendiri sambil memandangi Minseok yang masih berkonsentrasi pada filmnya.

Minseok-ah…, apa kau ingin jalan-jalan?” Tuan Kim tiba-tiba bertanya.

“Hmmm…” Minseok terlihat berpikir, walaupun ia tidak melepaskan perhatiannya pada layar televisi, “2 bulan kemarin kan kita sudah sering jalan-jalan, Ayah. Lagi pula tetap saja aku tidak bebas menjelajah tempat yang kita datangi” ada nada kesedihan dalam suaranya.

“Lalu, apa yang ingin kau lakukan?”

“Hmmm…” Minseok kembali berpikir, tapi sekarang dengan menekan tombol pause di remote tv yang digenggamnya, “Bagaimana kalau aku menginap di rumah Paman Seunghyun. Aku ingin berlatih piano di sana. Lagi pula, 3 hari besok aku kan libur. Jadi aku bisa menginap di sana. Boleh?” Sebenarnya, itu hanyalah alasan Minseok agar bisa bertemu dengan Yoojung dengan lebih bebas.

“Baiklah kalau begitu. Nanti akan aku katakan kepada Seunghyun tentang permintaanmu ini. Dia pasti akan mengabulkannya jika aku yang memintanya” kata Tuan Kim dengan senyuman di wajahnya.

“Terima kasih, ayah” kata Minseok senang, dibalas dengan senyuman ayahnya.

“Tapi, apa yang harus aku lakukan tiga hari kedepan? Haruskah aku ikut menginap bersamamu di tempat guru pianomu itu?” tanya Tuan Kim.

“Ah… tidak!” Minseok terlihat bingung sendiri dengan dengan apa yang ia katakan, “Eh… maksudku, ayah tidak perlu ikut. Ayahkan kan pasti punya banyak pekerjaan yang lain. Sudah terlalu banyak pekerjaan ayah yang ayah batalkan hanya untuk bermain denganku”

“Tapi, ayah kan…”

“Sudahlah, ayah” Minseok menyela perkataan ayahnya, “Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku akan aman di sana. Lagi pula di sana ada Paman Seunghyun yang akan segera membantuku jika jantungku kambuh. Jangan khawatir, ayah” Minseok memberikan senyumnya yang terbaik kepada ayahnya, untuk meyakinkan ayahnya bahwa ia tidak apa-apa.

“Hhh…” Tuan Kim hanya mengehela nafas, “Baiklah kalau memang begitu. Nanti aku akan menghubungi Seunghyun tentang acaramu menginap di rumahnya besok”

“Terima kasih, ayah” kata Minseok seraya merangkulkan tangannya ke bahu ayahnya. Tuan Kim membalasnya dengan mengaca-acak rambut Minseok menjadi lebih berantakan dari sebelumnya.

***

Mobil putih Minseok terparkir di depan gerbang rumah Tuan Choi. Minseok keluar bersama dengan ayahnya. Lee ajusshi menyambut mereka dan membawakan koper yang berisi baju-baju Minseok ke dalam rumah. Tuan Kim mengiringi Minseok masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah, Tuan Choi sudah menunggu dan langsung berdiri ketika melihat Minseok dan ayahnya masuk ke rumahnya.

Seunghyun-ah, terima kasih sudah mengijinkan Minseok menginap di sini, dan tolong jaga Minseok selama 3 hari ini” Tuan Kim memegang pundak anaknya, seakan tidak merelakan anaknya pergi.

“Tentu saja, Shiwon-ah” sebuah senyum terlihat di balik kaca mata bundar Tuan Choi. “Kamarmu yang ada di sebelah ruang kerjaku di lantai dua, Minseok-ah. Kau pasti sudah tahu, kan?”

Ne…” Minseok mengangguk dan menuju kamarnya. Genggaman tangan Tuan Kim pada pundak Minseok terlepas. Beberapa saat, Minseok berbalik dan melambaikan tangannya kepada ayahnya. Tuan Kim memandangi punggung Minseok sampai Minseok menghilang masuk ke dalam ruangan lain.

“Baiklah kalau begitu. Aku titipkan Minseok padamu. Aku sekarang pergi dulu” Tuan Kim menyentuh pundak Tuan Choi tanda percayanya. Tuan Choi menggangguk kemudian mengantar kepergian sahabatnya itu sampai masuk ke dalam mobilnya.

***

Minseok sudah duduk di depan piano Tuan Choi hampir selama 2 jam, melatih kemampuannya dalam ilmu barunya, ‘bahasa piano’. Tuan Choi memperhatikan Minseok terus sambil berjalan mondar-mandir di belakang Minseok, tapi kali ini ia tidak menggenggam bilah rotannya lagi.

Tuan Choi memberikan sebuah kalimat kepada Minseok, kemudian Minseok memainkannya dalam bahasa piano. Sesekali saat Minseok salah memainkannya, Tuan Choi mengajarinya agar nada-nada lagunya lebih tepat dengan apa yang ia maksud.

Tiba-tiba Tuan Choi teringat sesuatu, lalu dengan segera melihat ke arah jam yang ada di rak di belakang piano. Sudah pukul 15.30. Tuan Choi pun menepuk dahinya sendiri sampai terdengar suara ‘plaaaak’

“Ah… Minseok-ah, ternyata aku harus pergi sekarang. Aku punya janji dengan seseorang sekarang. Kau bisa berlatih sendiri, kan?” kata Tuan Choi menyentuh pundak Minseok yang sekarang sudah berhenti memainkan piano.

“Iya, paman” kata Minseok mendongak melihat wajah Tuan Choi.

“Baiklah, aku berangkat dulu” kata Tuan Choi seraya mengambil mantel dan kunci mobilnya yang tergeletak di sofa.

Annyeonghigaseyo (selamat jalan)” kata Minseok yang sudah berdiri membungkukkan badannya 90 derajat ke arah Tuan Choi.

Eo, Minseok-ah” Tuan Choi pun berjalan keluar meniggalkan Minseok sendirian.

Setelah punggung Tuan Choi tidak lagi terlihat, Minseok menghembuskan napas lega bercampur senang. Akhirnya aku punya waktu untuk bersama Yoojung Ada seulas senyuman di wajahnya.

Minseok pun melangkahkan kakinya menuju pintu kamar yang ia tahu adalah kamar Yoojung. Tangannya terulur untuk mengetuk pintunya.

Tok Tok Tok

Yoojung-ah… oppa-ya (ini oppa)” kata Minseok setengah berbisik kepada pintu.

Dari dalam kamar terdengar pelan suara langkah kaki mendekati pintu. Daun pintu pun terbuka perlahan, menampakkan wajah Yoojung yang tersenyum.

Minseok oppa… Bogoshipeoyo~ (Aku merindukanmu)” kata Yoojung sungguh-sungguh.

Nado… (aku juga)” kata Minseok pelan seraya merengkuh tubuh Yoojung ke dalam pelukannya. Yoojung tidak mengira Minseok akan memeluknya seperti ini. Tapi Yoojung sangat lega bisa berada dalam pelukan Minseok seperti ini. Yoojung pun membalas pelukan Minseok erat. Kepalanya persis ada di dada Minseok membuatnya bisa mendengarkan jantung Minseok yang masih berdetak.

‘Ya, Tuhan… Aku berharap jantung ini tetap berdetak sampai seratus tahun lagi. Agar detak jantung kami bisa berdetak bersama-sama sampai kami tua. Sampai memutih rambut kami. Sampai keriput kulit kami. Aku mohon, ya Tuhan’ Yoojung memohon dalam hati. Setitik air mata pun mengalir keluar dari pelupuk matanya dan membasahi sweater Minseok. Yoojung tidak ingin melepaskan pelukannya. Aku belum sempat melakukan apa pun untuknya. Karena aku begitu tak berguna karena kebutaan bodoh ini

Minseok menyadari bahwa Yoojung sedang menangis dalam pelukannya. Tangan kanan Minseok pun mengelus kepala Yoojung lembut, tapi malah membuat tangisan Yoojung semakin terdengar.

“Serindu itu kah kau? Sampai kau menangis seperti ini?” suara Minseok terdengar ceria dan jenaka seperti biasanya.

Eung!” kata Yoojung sambil menganggukkan kepalanya dalam pelukan Minseok.

Minseok pun melepaskan pelukannya, membuat Yoojung terpaksa melepaskan pelukannya dari pinggang Minseok. Minseok menatap wajah Yoojung dengan seksama. Mata Yoojung terlihat sembab dan agak bengkak. Masih ada jalur air mata di kedua pipi Yoojung. Lalu Minseok menjulurkan kedua tangannya ke wajah Yoojung, kedua ibu jarinya menyeka air mata dari pipi Yoojung.

Uljima…(jangan menangis)” kata Minseok dengan suara menghibur, “Nan gwaencanha. Gokjong hajima… (Aku baik-baik saja. Jangan khawatir)”

Hati Yoojung ingin sekali mempercayai kata-kata Minseok barusan. Tapi otak Yoojung menentang keras untuk mempercayai kata-kata itu seakan berkata, Apanya yang baik-baik saja?!

Eo! Yoojung-ah” sekarang suara Minseok sudah menjadi lebih ceria untuk menghibur Yoojung, “Ayo kita ke taman di belakang rumahmu. Di sana suasananya sangat nyaman. Kita bisa saling bercerita apa saja di sana” tanpa menunggu jawaban Yoojung, Minseok sudah menggandeng tangan kiri Yoojung. Kali ini Yoojung membiarkan Minseok menuntunnya, walaupun ia sudah hafal jalan menuju belakang rumahnya. Yoojung ingin menikmati saat-saat ia bisa mencium aroma tubuh Minseok sedekat ini sambil menggengam tangan Minseok.

Di taman belakang rumah Tuan Choi~

Yoojung dan Minseok duduk berdampingan di atas sebuah kursi panjang tanpa sandaran. Angin musim gugur menyapa wajah mereka, membuat rambut Yoojung tersibak menampakkan wajah cantiknya. Minseok tak henti-hentinya tersenyum memandangi wajah itu. Langit yang semula biru mulai berubah menjadi jingga. Awan yang berarak pun membuat langit senja ini semakin indah. Daun-daun berwarna cokelat, kuning dan merah berguguran di sekitar mereka karena diterpa angin sejuk sore hari. Sebuah daun jatuh dan tersangkut di rambut lurus Yoojung.

Eo… ada daun di rambutmu” Minseok pun mengambil daun dari rambut Yoojung. Senyum Yoojung melebar ketika merasakan tangan Minseok bersentuhan dengan helai-helai rambutnya. Minseok memainkan daun kecil itu di jarinya.

Oppa..” kata Yoojung memecah lamunan Minseok, “Aku punya sebuah permintaan”

“Apa permintaanmu? Malhaebwa (katakanlah)” Minseok menatap wajah Yoojung masih dengan tersenyum.

“Hmm… karena aku tidak bisa melihat wajahmu, bolehkah aku menyentuh wajahmu?” kata Yoojung dengan suara penuh harap.

“Tapi aku bukan tipe orang yang suka disentuh wajahnya” kata Minseok dengan suaranya yang jenaka. Minseok bisa melihat bibir merah cherry Yoojung mengerucut, tanda kecewa. Minseok pun tertawa jenaka, “Hahaha… tapi untukmu, akan aku kabulkan permintaanmu. Kau boleh menyentuh wajahku sampai kau bisa membayangkan bagaimana wajahku yang tampan ini”

Terukir sebuah senyuman tanda terima kasih di wajah Yoojung. Mata bulat hitamnya bersinar senang. Kedua tangan Yoojung mulai terangkat mencari-cari di mana wajah Minseok. Sampai akhirnya kedua tangan itu berhasil menemukan pipi Minseok. Jari-jari lentik dan halus milik itu terus menyusuri setiap kontur wajah Minseok. Sementara Minseok masih menatap wajah Yoojung dengan wajah tersenyum.

“Kau memiliki bentuk wajah yang bundar. Hihi…” kata Yoojung terkikik. Minseok tidak berkomentar, masih dengan senyuman di wajahnya.

“Kau punya alis yang tebal, rapi dan teratur” kedua ibu jari Yoojung membelai kedua alis Minseok lembut.

“Dahimu lebar dan rata” tangan Yoojung menyusuri dahi Minseok perlahan.

“Kau juga punya tulang hidung yang bagus” ujung jari-jari Yoojung menyusuri tulang hidung Minseok.

“Bibirmu tipis dan kecil” ibu jari Yoojung meraba bibir Minseok yang masih tersenyum.

“Pastilah kau ini memiliki wajah yang imut. Dan, kau selalu tersenyum selama tanganku ada di wajahmu… Hihi…” Yoojung terkikik. “Tapi tetap saja, aku ingin melihat bagaimana wajahmu ketika tersenyum. Aku ingin tahu bagaimana bentuk matamu, dan seperti apa gigi-gigimu ketika kau tersenyum” Yoojung menurunkan tangannya dari wajah Minseok. Tapi tangan kanan Minseok menahan tangan kanan Yoojung dan meletakan telapak tangan Yoojung tepat di dada kirinya. Yoojung tersenyum penuh arti.

‘Aku senang kau masih berdetak di dalam sana’ kata Yoojung berkata dalam hati kepada jantung Minseok.

‘Kau bisa merasakannya, bukan? Jantung ini masih baik-baik saja’ kata Minseok dalam hati, walaupun ia tidak tahu bahwa Yoojung sudah tahu tentang kesehatan jantungnya.

Tiba-tiba Minseok meringis kesakitan. Dentuman-dentuman keras itu mulai datang lagi mendera jantungnya. Minseok pun menurunkan tangan Yoojung perlahan. Napas Minseok mulai tersengal-sengal. Kekhawatiran mulai hadir dalam hati Yoojung. Yoojung bisa mendengar suara rintihan pelan Minseok.

Oppa, gwaencanha?” tanya Yoojung dengan penuh kekhwatiran dalam suaranya.

Minseok seakan tak bisa mendengar suara Yoojung. Ia masih berkutat dengan rasa sakit di dalam dada kirinya. Tangan kirinya mengeluarkan tabung obatnya dari dalam kantung celananya. Kedua tangannya bergetar hebat sehingga menyulitkannya untuk membuka tutup tabung obatnya.

Belum sempat Minseok membuka tutup tabung obatnya, tiba-tiba 2 laki-laki tinggi berjas hitam yang dikenalnya sebagai supirnya sekaligus bodyguardnya sendiri datang menghampiri mereka berdua. Kedua orang itu membungkuk 90 derajat sekilas kepada Minseok, dan Minseok bingung dengan apa yang mereka lakukan. Tiba-tiba kedua orang itu sudah mencenkeram lengan Minseok dan menariknya menjauhi Yoojung yang tidak tahu apa yang terjadi. Gerakan kedua orang itu sangat cepat dan kuat. Tabung obat Minseok pun tergelincir jatuh ke tanah dari tangannya.

YA! Apa yang kalian lakukan?” Minseok meronta-ronta dalam cengkeraman kedua orang itu, “YAAA!! Lepaskan aku!! Lepaskan aku!!!” Minseok berusaha setengah mati menahan rasa sakit dalam dadanya sekaligus melawan kedua orang ini. Tapi kekuatan Minseok tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kedua orang itu. Kekuatan Minseok pun semakin melemah. Dengan begitu, kedua orang itu bisa dengan mudah menyeret Minseok pergi menjauh.

Yoojung hanya bisa berdiri dan meraba-raba udara. Dia kebingungan dengan apa yang terjadi. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara Minseok meronta-ronta memanggil namanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa ini?

Yoojung teringat bahwa tadi ia mendengar ada suara sebuah benda jatuh berkelotak di tanah. Ia pun segera merangkak di tanah, meraba-raba tanah yang ditumbuhi rumput-rumput yang terpangkas rapi. Benda itu jatuh tidak jauh dari tempat Yoojung meraba-raba tanah di sekitarnya. Butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya Yoojung menemukan benda itu dan memungutnya. Ia menggoyang-goyangkan benda itu, dan terdengar suara berkelotakan di dalamnya. Ia mendekatkan benda itu ke hidungnya, ia bisa mencium bau obat dari benda itu. Ini adalah tabung obat milik Minseok oppa

Tiba-tiba Yoojung merasakan seseorang menyentuh pundaknya…

“Nona Yoojung..” terdengar suara lembut Lee ajusshi, “kau harus segera masuk ke dalam kamar. Tuan Choi yang menyuruhku untuk mengantarkanmu” Lee ajushi membantu Yoojung bangkit berdiri. Yoojung pun menurut tanpa memberontak.

Dari jendela lantai dua rumah itu, terlihat Tuan Choi sedang memperhatikan anaknya berjalan dituntun oleh Lee ajusshi. Tuan Choi melepaskan kaca mata bundarnya kemudian mengusap wajahnya dengan gusar. Sejak tadi ia memperhatikan Minseok dan Yoojung duduk di bangku belakang rumahnya dalam diam. Tapi ia sudah tidak tahan lagi melihat anaknya terlihat sangat menyayangi Minseok. Sampai akhirnya ia memberikan perintah kepada kedua bodyguard (yang sudah diperintahkan untuk mentaati perintah Tuan Choi oleh Tuan Kim) itu untuk menyeret Minseok menjauhi anaknya.

***

Minseok sudah di bawa ke dalam kamarnya dan didudukkan di atas tempat tidur. Minseok masih mengerang kesakitan mencengkeram dadanya yang terasa akan meledak. Napasnya tersengal-sengal. Keringat mulai membasahan pelipisnya. Bodyguard yang melihatnya pun juga merasa ngilu mendengarkan suara rintihan Minseok. Kemudian salah satu bodyguard mengeluarkan tabung obat cadangan dari saku jasnya dan memberikannya kepada Minseok. Dengan napas yang tersengal dan tangan yang bergetar, Minseok berusaha membuka tutup tabung plastik itu.

Melihat Minseok kesulitan membuka tabung itu, bodyguard yang tadi memberikan obat membantu Minseok membuka tutup tabung itu. Minseok pun langsung memakan obat berwarna putih. Butuh waktu beberapa saat sampai obat itu meredakan sakit pada jantungnya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di ambang pintu kamar Minseok. Kedua bodyguard itu langsung membuka jalan untuk Tuan Choi yang melangkah masuk ke dalam kamar. Tuan Choi memberi isyarat kepada kedua bodyguard itu untuk keluar. Dan sekarang di dalam kamar itu hanya ada Tuan Choi dan Minseok saling bertatapan dalam diam. Kamar ini sangat sunyi sampai mereka bisa mendengar suara napas mereka masing-masing.

“Jadi, kau yang tadi menyuruh mereka membawaku ke sini dengan paksa?” tanya Minseok memecah keheningan.

“Benar… aku yang menyuruh mereka” kata Tuan Choi dengan suaranya yang berat dan dalam.

“Kenapa kau selalu mengganggu kami saat kami ingin bersama, paman?” tanya Minseok dengan suara menderu.

“Karena aku tidak senang saat kau ada di dekat anakku. Karena aku tahu bahwa kau bukan yang terbaik untuk anakku. Karena aku tidak suka melihat anakku jatuh cinta padamu” kata Tuan Choi tegas dan rendah.

Minseok pun tercenung mendengar kata-kata barusan. Apa? Yoojung jatuh cinta padaku? Minseok terdiam dan merenungkan perkataan Tuan Choi.

“Karena aku juga sudah tahu tentang kesehatan jantungmu. Dan karena aku tahu bahwa waktumu sudah tidak lama lagi” volume Tuan Choi terdengar mengecil. Mendengarnya, Minseok mendongakkan kepalanya menatap wajah tegas Tuan Choi. Raut wajah Minseok menunjukkan keterkejutan.

“Aku sudah mengetahuinya sejak saat pertama kali kau belajar piano di sini” Tuan Choi berhenti sebentar untuk membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot, “Ayahmu lah yang memberitahukannya kepadaku dan memintaku untuk mengajarimu bermain piano, serta merahasiakannya darimu”

Mata Minseok membulat lebar tak percaya. Ia merasa terhianati oleh ayahnya sendiri. Bagaimana bisa ayah tidak memberitahuku soal ini selama bertahun-tahun dan malah memilih untuk memberitahukannya kepada orang lain?

“Oleh karena itulah aku tidak menginginkanmu berada di dekat Yoojung. Aku tidak ingin melihat anakku bersedih saat nanti ia kehilanganmu” kata Tuan Choi mengabaikan ekspresi wajah Minseok. Minseok hanya bisa terdiam kehilagan kata-katanya.

“Jadi, lebih baik kau jangan mendekati Yoojung lagi” Tuan Choi pun melangkahkan kakinya keluar kamar, menutup pintu, kemudian menguncinya dari luar. “Nanti Lee Ajushi akan membawakan makanan untukmu saat waktunya makan malam”

Minseok tercenung sendiri memandangi pintu kamarnya, dengan tangan kananya yang masih menggenggam tabung obatnya. Apa yang harus aku lakukan?

***

Yoojung diantar ke kamarnya oleh Lee Ajushi~

“Nona… untuk sekarang, kau harus menunggu di kamar” kata Lee ajushi dengan nada suara lembut.

Ajushi…” Yoojung menyentuh lengan Lee ajushi, “apa yang sebenarnya terjadi tadi? Kenapa Minseok oppa tiba-tiba dibawa pergi seperti itu?” kekhawtiran jelas terdengar di dalam suaranya.

Lee ajushi bingung bagaimana harus menjelaskannya tanpa membuat Yoojung semakin khawatir. Akhirnya Lee ajushi memutuskan untuk tidak menjawabnya.

“Nona… sebaiknya kau istirahat”

“Tapi…”

“Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu” kata Lee ajushi keluar dari kamar Yoojung, kemudian mengunci pintu kamar Yoojung dari luar.

“Lee ajushi!” Yoojung memanggil Lee ajushi yang sudah berada di luar, menjauh, dan sudah tidak mendegar suara Yoojung lagi.

Sekarang Yoojung sendirian di dalam kamarnya. Menerka-nerka apa yang terjadi tadi dan apa yang sekarang terjadi pada Minseok.

Apakah Ayah yang melakukan ini semua? Iya… itu bisa jadi, karena ayah tidak menginginkan aku berada di dekat Minseok oppa. Iya benar… pasti ayah yang melakukan ini semua

Yoojung menggenggam tabung obat milik Minseok dengan kedua tangannya erat-erat. Ia mencoba untuk tidur, tapi pikirannya dipenuhi oleh Minseok. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Berteriak? Memanggil namanya kuat-kuat? Ia masih ingin bertemu dengan Minseok.

Yoojung berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya yang remang. Keputusasaan mulai menyelimuti dinding hatinya. Ia takut ia tidak bisa lagi bertemu Minseok. Ia takut hari ini adalah hari terakhirnya bertemu dengan Minseok. Ia menggeeleng-gelengkan kepalanya keras-keras untuk mengusir semua kemungkinan-kemungkinan buruk yang datang ke dalam pikirannya. Tapi semakin ia berusaha untuk mengusirnya, pikiran-pikiran yang membuatnya takut dan putus asa itu malah terus datang dan menghatuinya.

Langit di luar sudah menjadi gelap. Bintang di langit bersinar memperindah terangnya bulan purnama. Kesunyian malam ditingkahi oleh suara serangga yang berderik di pekarangan rumah. Lampu-lampu jalanan sudah dinyalakan sejak tadi. Hanya kamar Yoojung lah yang gelap gulita, segelap harapannya.

Berjam-jam Yoojung terus menunggu di kamarnya, menatap dengan tatapan kosong, duduk di atas tempat tidurnya, menggeggam tabung obat milik Minseok. Yoojung menunggu dan berharap sesuatu akan terjadi. Ia hanya ingin tahu bahwa Minseok baik-baik saja.

***

Tok tok tok!

Terdengar suara ketukan di pintu kamar Minseok. Seseorang membuka kunci pintu kamarnya dari luar, kemudian pintu terbuka. Terlihat sosok wajah Lee ajushi yang membawakan nampan dengan semangkuk makanan dan air putih di atasnya. Lee ajushi menghidupkan lampu dan melangkah masuk ke dalam kamar Minseok. Terlihat Minseok termenung duduk di atas tempat tidur.

“Tuan… sekarang sudah waktunya makan malam” kata Lee ajushi menaruh nampan berisi makanan di samping Minseok. Tapi Minseok hanya menatap nampan itu sekilas, tidak menunjukkan bahwa dia ingin makan. Wajahnya terlihat murung.

“Baiklah kalau begitu, aku akan keluar dan mengunci pintu lagi” kata Lee ajushi, melangkah menuju pintu.

“Lee ajushi…” langkah Lee ajushi terhenti setelah mendengar namanya dipanggil. Lee ajushi membalikkan badannya.

“Pernahkah Lee ajushi mencintai seseorang tapi kau tidak bisa terus berada di sampingnya untuk membuatnya bahagia?” suara Minseok terdengar lirih dan dalam. Lee ajushi hanya terdiam mendegar pertanyaan itu.

“Pernahkah Lee ajushi ingin sekali memiliki seseorang tapi kau tau bahwa kau tidak mungkin memilikinya?” suara Minseok sekarang terdengar bergetar. Lee ajushi hanya menatap Minseok iba.

“Tolong ijinkan aku keluar dari kamar ini… sebentar saja..” kata Minseok, akhirnya menatap Lee ajushi dengan tatapan memohon.

“Tapi… tapi… Tuan Choi…”

“Tolonglah, Lee ajushi…” Minseok menyela, “Aku rasa waktuku akan segera habis”

Lee ajushi terdiam mendegar suara lirih Minseok. Suaranya terdengar begitu putus asa.

“Aku hanya ingin memainkan piano, itu saja” kata Minseok memohon sungguh-sungguh.

“Tapi ini sudah malam…”

“Tolonglah, ajusshi… Aku tidak akan bertemu dengan Yoojung, walaupun aku sangat ingin memeluknya. Tapi, ijinkan aku untuk keluar dan bermain piano…” mata bulat Minseok menatap lurus ke arah wajah tua Lee ajushi. Lee ajushi pun tidak bisa mengingkari perasaannya sendiri, bahwa ia sangat ingin mengijinkan Minseok.

“Baiklah… aku akan mengijinkanmu…” kata Lee ajushi pada akhirnya. Minseok pun segera bangkit berdiri.

Kamsahabnida, Lee ajushi” kata Minseok, sedikit membungkuk kepada Lee ajusshi, berterima kasih.

Minseok pun berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah lemas, turun dari tangga menuju piano di ruang tengah yang menghadap ke jendela. Dari jendela, ia bisa melihat bulan purnama bersinar dengan indahnya ditemani ribuan bintang di sekelilingnya.

Dari dalam kamar, Yoojung bisa mendengar suara langkah kaki Minseok yang berjalan di ruang tengah, dekat kamarnya. Yoojung bisa mendengar dengan jelas, bahwa itu adalah Minseok. Tuan Choi kebetulan keluar dari ruang kerjanya, dan melihat Minseok duduk di depan piano. Tuan Choi ingin menyuruhnya kembali ke kamarnya. Namun gerak kakinya terhenti ketika mendengar suara dentingan piano yang dimainkan Minseok. Minseok sedang menyampaikan sebuah pesan melalui bahasa piano. Tuan Choi pun mendengarkan apa yang ingin disampaikan Minseok dengan seksama.

Suara dentingan piano yang dimainkan Minseok dapat terdengar jelas dari kamar Yoojung. Yoojung mendengarkan dengan seksama.

Lagu ini aku persembahkan untuk seorang gadis

yang selama hidupnya terkurung dalam gelap

Tersungging sebuah senyum di wajah Yoojung. Ia berpikir bahwa Minseok masih baik-baik saja.

Aku selalu ingin melihatmu tersenyum

Aku selalu ingin membuatmu bahagia

Karena hal yang paling membuatku bahagia

adalah melihatmu tersenyum bahagia

Senyuman di wajah Yoojung melebar setelah mendengar bait lagu piano yang dimainkan Minseok. Ia bahagia menyadari hal itu.

Aku menyukai suara lembutmu

Aku menyukai sentuhan lembut jemarimu

Aku menyukai pelukan hangatmu

Aku suka saat kau tertidur di pundakku

Aku suka saat kau mendengarkan degup jantungku yang masih berdetak

Aku menyukai ketegaran hatimu

Aku menyukaimu karena kita sama

Di sela-sela senyumannya, mata Yoojung berkaca-kaca mendengar nada-nada piano itu. Hatinya terasa meleleh mendengar melodi-melodi indah itu.

Namun, waktuku akan segera habis

Aku tak akan bisa lagi berada di sisimu seperti hari-hari kemarin

Jangan menunggu diriku yang akan pergi ini

Temukanlah orang lain untuk mengisi rulung kosong hatimu

Air mata Yoojung yang sudah terkumpul di pelupuk matanya sudah tidak dapat terbendung lagi. Air matanya tumpah membasahi pipinya. Bait lagu ini menyayat hatinya dalam.

Sedangkan Tuan Choi yang sedari tadi mendengarkan dentingan piano yang dimainkan Minseok, melepas kacamata bulatnya untuk menyeka matanya yang berair. Itu adalah permainan piano yang paling tulus yang pernah ia dengar. Ia tidak pernah tahu bahwa setulus itulah perasaan Minseok kepada anaknya.

Namun, aku beryukur

Aku sempat bertemu denganmu

Aku tak bisa meninggalkan apapun kepadamu

selain kenangan manis yang pernah kita buat bersama

Saat aku pergi nanti, ingatlah bahwa

Aku….

BRAAANAAG!!

Terdengar suara piano seperti tertimpa sesuatu. Minseok sudah tak sadarkan diri, dan kepalanya lah yang membentur tuts piano sehingga menghasilkan suara mengagetkan itu. Tangannya terkulai lemah menggantung. Ia tak sempat menyelesaikan pesannya dalam lagu itu untuk mengatakan ‘Aku mencintaimu’.

Di dalam kamar, Yoojung mencengkeram tabung obat Minseok sambil menggigit bibirnya. Jantungnya terasa mencelos mendengar suara piano yang seperti tertimpa sesuatu. Pikirannya sudah dipenuhi pikiran-pikiran yang membuatnya takut. Air matanya sudah tumpah membanjiri wajahnya. Air matanya keluar begitu deras dari dalam pelupuk matanya.

Sementara Lee ajushi yang kaget mendengar suara keras tadi, langsung berlari mendekati Minseok yang sudah tak sadarkan diri. Lee ajushi langsung menggotong tubuh Minseok menuju mobil putihnya di luar. Sementara supirnya sudah menghidupkan mesin mobil dan menyuruh Lee ajushi segera memasukkannya ke mobil. Mobil putih itu pun melaju kencang menuju rumah sakit.

Tuan Choi menghembuskan napasnya berat. Hatinya dipenuhi perasaan bersalah karena sudah memishkan mereka berdua dengan cara seperti ini. Ia menyesal sudah menghalangi cinta suci mereka. Tapi ini semua sudah terlanjur.

Tuan Choi melangkahkan kakinya menuju piano. Ia melepaskan kacamata bulatnya dan menaruhnya di atas piano. Sekali lagi menghembuskan napas beratnya. Kemudian ia pun duduk, dan melanjutkan lagu yang tadi belum diselesaikan oleh Minseok.

Ingatlah, bahwa dirinya mencintimu dengan begitu tulus

Begitu mendengar sebaris lagu itu, Yoojung tersenyum di sela-sela tangisannya. Ia tahu, bahwa ayahnyalah yang memainkan lagu itu untuknya. Namun, senyum diwajahnya membuat hatinya semakin perih.

Tok tok tok

Tuan Choi mengetuk pelan pintu kamar anaknya.

Yoojung-ah” suara Tuan Choi terdengar dari luar kamar, “Sebaiknya sekarang kita pergi ke rumah sakit”

***

Di rumah sakit~

Yoojung berjalan di koridor rumah sakit dituntun oleh Tuan Choi dengan hati gelisah. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Minseok. Ia ingin segera bertemu dengan Minseok.

Sampai akhirnya, mereka sampai di unit gawat darurat rumah sakit itu. Terdengar suara tangisan yang sangat memilukan dari dalam sana. Suara tangisan itu dengan segera membuat hati Yoojung semakin gelisah dan panik. Suara tangisan itu begitu menyedihkan dan membuat mata Yoojung memerah, menahan tangis.

Tuan Choi menuntun Yoojung masuk ke dalam UGD. Beberapa suster dan dokter berdiri mengelilingi sebuah tempat tidur. Tuan Choi juga bisa melihat Lee ajushi berdiri di pojok bilik sambil menatap tempat tidur itu dengan tatapan sedih.

Minseok-ah… bangunlah nak… Jangan tinggalkan ayah sendiri di dunia ini…” terdengar sebuah suara raungan dalam tangisan.

Seperti ada suara mendenging yang masuk ke dalam telinga Yoojung, membuatnya terhuyung mau jatuh. Dengan cepat Tuan Choi menahan tubuh anaknya. Yoojung mulai berlinang air mata. Dan menggumam, “Tidak mungkin… tidak mungkin… Tidak secepat ini… Ku mohon..”.

Setelah mendepat keseimbangannya kembali, Yoojung melangkah ke arah tempat tidur Minseok, masih dituntun oleh Tuan Choi yang menahan tangis. Para perawat dan dokter memberikan jalan kepada Yoojung dan Tuan Choi untuk melihat Minseok yang terbaring terpejam di atas tempat tidur.

Yoojung mengangkat tangannya, dan akhirnya dapat menyentuh wajah Minseok yang masih hangat. Namun Yoojung mendapati wajah ini sudah tak tersenyum lagi seperti saat ia menyentuh wajahnya tadi sore. Yoojung menggigit lidah, menahan tangis. Ia tidak mau percaya bahwa Minseok sudah pergi. Tangannya turun untuk menyentuh dada kiri Minseok. Di sana, Yoojung sudah tidak menemukan detak jantung lagi. Telapak tangannya hanya merasakan lembutnya sweater wool yang dipakai Minseok. Hatinya terasa kosong seketika, menyadari sudah tak ada lagi kehidupan di jantung Minseok.

Minseok oppa… Kenapa kau pergi cepat sekali?” air mata Yoojung menetes dan jatuh di pipi Minseok yang sudah tak tersenyum.

***

#FLASHBACK

Yoojung dan Minseok duduk bersisian, menikmati udara musim gugur pada sore hari. Angin musim semi membelai wajah mereka yang tersenyum. Aroma pohon mapple membuat mereka merasa damai.

Yoojung-ah…” Minseok memanggil. Yoojung menengokkan kepalanya sedikit ke arah Minseok.

Eo? Wae geuraeyo? (Ada apa?)” tanya Yoojung.

“Kau tau kan, bahwa semua orang punya cita-cita?” Minseok memandang Yoojung yang menganggukkan kepalanya, “Hmm… apa cita-citamu?”

“Hmm…” Yoojung terlihat berpikir selama beberapa detik, “Cita-citaku… hmm.. aku ingin bisa melihat. Rasanya ingin sekali bisa melihat” kata Yoojung sambil tersenyum, “Kalau oppa?”

“Kalau cita-citaku…” Minseok berpikir sejenak, “Cita-citaku sangat sederhana…”

“Apa itu?” Yoojung sudah tidak sabar dengan jawaban Minseok.

“Aku ingin bisa hidup bersama wanita yg aku cintai sampai tua, paling tidak dengan umur yang panjang…” kata Minseok tulus sambil tersenyum memandang wajah Yoojung. Yoojung pun tersenyum mendengar jawaban Minseok.

Mereka kembali menikmati suasana musim gugur dalam diam. Walaupun mereka tidak berbicara, Yoojung senang merasakan keberadaan Minseok di sampingnya.

#FLASHBACK END

***

Setelah pemakaman Minseok~

Tuan Kim masuk ke dalam kamar Minseok yang masih terlihat sama. Rasanya seperti Minseok masih akan kembali lagi ke kamar ini. Tuan Kim mengelilingi kamar Minseok yang sangat rapi dan bersih ini. Tersungging sedikit senyuman di bibirnya, Memang, Minseok adalah anak yang sangat bersih dan rapi

Tuan Kim melihat-lihat barang-barang Minseok. Tuan Kim menyusuri deretan foto yang terpajang di meja belajarnya. Sebagian besar adalah foto Minseok dengan teman-temannya di SMA. Tapi ada sebuah foto yang menarik perhatian Tuan Kim. Foto Minseok dengan Yoojung yang tersenyum bahagia. Walaupun Yoojung tidak melihat ke arah kamera, tapi mereka terlihat begitu bahagia dengan senyuman lebar mereka. Tuan Kim mengambil bingkai foto itu. Tapi secara tidak sengaja, ia menjatuhkan kalender yang berdiri di sebelah bingkai foto itu. Ia kembali meletakkan foto itu, kemudian memungut kalender yang jatuh ke lantai.

Tuan Kim mencermati kalender itu. Sebuah tanggal dilingkari dengan spidol berwarna merah. Tanggal itu adalah tanggal ulang tahun Minseok, dan ternyata itu adalah hari ini. Tiba-tiba air mata Tuan Kim tercurah setelah melihat tulisan yang ada di dekat tanggal itu.

Tidur dengan bahagia

=========

THE END

=========

Ayo ayo, yang udah baca sampe sini jangan lupa tinggalin komen ya… 🙂 Sebaiknya kita hidup dengan saling menghargai… 🙂

Akhirnya setelah sekian lama hiatus dari FFindo, aku kembali lagi dengan fanfic exo-ku yang pertama. Aku tiba-tiba terbius sama pesonanya mas Umin waktu aku nonton MVnya Jin-Gone. Karena MV itu sedih banget, aku pengen nangis tapi ga keluar air mata T_T Dan akhirnya aku punya inspirasi buat ngetik FF ini. Ya… walopun udah banyak orang yg bikin FF yg berbasis plot cerita MV ini… hehe… tapi yang ini masih agak beda lah… hehe… 🙂

Oh iya, kayak di chapter FFini yang sebelomnya, aku mau nyantumin source cerita ini, yang jadi acuan aku bikin FFini… hehe… dan ini dia —>> [Klik]

Jangan lupa komen yaaaa

Gomawo readers… 🙂

Gomawo Xiumin oppa 🙂

10 responses to “[Chaptered 3/3_End] GONE

  1. dikira minseok bakalan donorib matanya ke cewe itu, ga bisa nahan air mata, berasa curhat baca ff ini
    bagus banget, nyentuh
    makasih author semangat buat ff yg lain

  2. hua…. ffnya galon (galau) banget feelnya dapet banget…. keep writing thor… kalo bisa buat yang kek gini lagi ya…

    • Wehehe.. ga apa2 kok Gas.. :)) makasih udah komen ^^
      Bagus deh kalo kamu suka :)))
      Maaf juga aku juga belom komen di ffmu yg laen… hehehe.. kan rasanya aneh juga kalo aku ngomentarin postinganku sendiri.. wkwk… LOL

  3. Aku baca dari chapter satu sampe tiga yang paling dapet feelnya yang chapter tiga.
    soalnya chapter tiga ending dari ceritanya
    bacanya sampe sek-sekan gara gara nagis

    good job thor…

    • Wah.. ternyata masih aja ada yang baca fanfic lawas macam ini… :”) Aku terharu… :”)
      Makasih ya udah nyempetin baca dan komen di sini… :”D
      Kamu sampe nangis kah? :” Ya ampun… :” aku makin terhura (?)
      Pokoknya makasih ya udah baca dan komen… :”D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s