Beautiful Sin (Chapter 14)

wpid-storageemulated0PicturesFOTORUSBS-Our-Baby.jpg.jpg

Author : Trik
Cast : Jung Hyemi (You/OC), Lu Han, Kim Myungsoo etc.
Genre : AU, Romance, Family, Marriagelife, Pregnancy, Friendship.
Rating : PG-15
Disc. : I don’t own anything beside the story.
Prev. : Chapter 13
a/n: maaf pendek, maklum baru comeback. next chapter mungkin dua kali lipat lebih panjang dari ini.

Previous Chapter

“Aku suka lipgloss strawberrymu. Boleh aku request rasa madu atau coklat? Mmhh… Atau taro bubble tea kalau bisa,” tanya Luhan di sela-sela ciuman mereka yang dijawab Hyemi dengan sebuah cubitan pelan di pinggangnya. Mereka pun terkekeh.

Hyemi melingkarkan kedua tangannya di leher Luhan dan menyambut bibir Luhan kembali, membalas ciuman Luhan. Luhan memiringkan kepalanya, mencari posisi yang tepat untuk memperdalam ciuman mereka. Sejujurnya ia ingin menarik tubuh Hyemi untuk menghapus jarak di antara mereka. Namun Ziyu tak mengizinkannya untuk melakukan hal tersebut sehingga ia hanya bisa membiarkan tangannya berada di tengkuk dan pinggang Hyemi.

“Kurasa tidak akan terlalu sulit untuk jatuh cinta padamu.”

Chapter 14: Beautiful Gift

Author’s POV

Hyemi memperhatikan dua box susu dengan rasa berbeda di kedua tangannya, menimbang-nimbang rasa mana yang harus dia beli. Luhan yang memegang trolley nampak mulai gemas melihat Hyemi yang berpikir sangat lama hanya untuk membeli susu. Ia tak habis pikir mengapa wanita begitu penuh pemikiran saat belanja.

“Sudahlah, ambil saja dua-duanya,” ujar Luhan yang mulai tak sabaran pada Hyemi. Satu hal yang paling malas ia lakukan bersama wanita adalah belanja.

Hyemi menggelengkan kepalanya, “Sayang kalau beli dua tapi tidak habis nantinya.”

“Ya sudah, ambil saja salah satu. Kau kan suka dua-duanya, jadi minum yang manapun tidak akan masalah,” ujar Luhan lagi semakin tak sabaran.

“Tapi-“

Belum sempat Hyemi menyahut, Luhan sudah memotongnya, “Oke, oke, kau boleh pikirkan lagi mau beli yang mana,” Luhan menarik nafas dalam, “Aku ke toilet dulu, oke? Sudah tidak tahan menunggumu, bisa – bisa aku mengompol di sini kalau menunggu lebih lama lagi.”

Hyemi terkekeh lalu menganggukkan kepalanya. Luhan pun memberikan trolley mereka pada Hyemi, “Jangan ke mana-mana! Tunggu aku di sini,” pesannya pada Hyemi, membuat Hyemi memutar matanya.

“Aku bukan anak kecil,” protes Hyemi.

Sepeninggal Luhan, Hyemi kembali melihat-lihat susu-susu yang berjejer di rak dan membandingkannya dengan yang ada di tangannya. Ia ingin rasa pisang, namun di saat yang bersamaan ia ingin membeli rasa coklat juga.

“Hyemi?”

Membeku di tempat, Hyemi hampir menjatuhkan kotak susu di tangannya begitu mendengar suara familiar yang sudah lama tidak ia dengar secara langsung. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena cinta, namun karena panik. Dalam hati ia bersyukur Luhan pergi meninggalkannya ke toilet. Namun ia khawatir Luhan akan segera kembali dan melihat sosok mantan kekasihnya, Kim Myungsoo.

Setelah menarik nafas dan mencoba menyembunyikan keterkejutannya, Hyemi membalik badannya dan menatap Myungsoo, “Oppa,” sapanya. Kebiasaan lama memanggil Myungsoo dengan sebutan Oppa ternyata belum menghilang. Ia pun merutuki kecerobohannya dan mengingatkan dirinya untuk memanggil Myungsoo dengan namanya mulai sekarang.

Suasana di antara mereka berdua sangat kikuk. Myungsoo berdiri di hadapan Hyemi dengan tatapan rindu dan sedih yang menjadi satu, sementara Hyemi balas menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia mengerti. Namun satu hal yang Myungsoo yakin, Hyemi terkejut melihat dirinya. “Apa kabarmu?” tanya Myungsoo. Pertanyaannya bukanlah sekedar pertanyaan basa-basi, namun ia tulus ingin tahu bagaimana kabar Hyemi.

“Aku… seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja,” jawab Hyemi agak ragu. Ia masih ingat Myungsoo adalah tipe orang yang hanya akan menanyakan kabar jika ia benar-benar ingin tahu tentang kondisi orang tersebut. “Kau sendiri?” tanya Hyemi balik, tak ingin bersikap dingin. Semenyebalkan apapun Myungsoo, Hyemi tahu Myungsoo adalah pria yang baik dan tidak pernah berniat jahat.

Myungsoo terlihat berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Hyemi. Akhirnya ia pun menjawab jujur, “Buruk. Kau pasti tahu itu dengan sangat baik.”

Senyum getir terulas di bibir Myungsoo. Di depannya berdiri wanita yang ia cintai namun naasnya ia tidak bisa memeluk wanita tersebut. Ia juga yakin wanita dihadapannya tersebut enggan ia peluk. Menyedihkan.

Hyemi mengalihkan pandangannya dari wajah Myungsoo sembari menghembuskan nafas berat. “Aku tidak tahu harus bicara apa lagi,” akunya. Hyemi benar-benar kehabisan kata-kata. Jika Myungsoo masih sedih dengan perpisahan mereka, apa yang bisa ia katakan dan lakukan? Kata-kata menghibur bahkan tak akan bisa menyemangati Myungsoo untuk move on darinya.

“Apa aku benar-benar tak punya kesempatan lagi?” tanya Myungsoo. Pertanyaan yang sama yang telah ia tanyakan berkali-kali dan ia bisa menebak jawaban yang akan Hyemi berikan juga jawaban yang sama yang telah ia terima berkali-kali tiap menanyakan pertanyaan tersebut baik secara langsung maupun melalui SMS.

“Myungsoo-ya… Kumohon berhenti seperti ini. Aku tidak bisa kembali lagi padamu,” jawab Hyemi.

“Aku mencintaimu,” balas Myungsoo.

“Berhenti! Aku sudah muak dengan sikapmu yang seperti ini!” ujar Hyemi dengan volume suara sedikit naik. Ia mulai jengkel dengan Myungsoo. Adegan seperti ini sudah seringkali terjadi di antara mereka dan ia mulai lelah. Beberapa orang yang berada di sekitar mereka pun sekilas menoleh untuk melihat mereka, penasaran.

Hyemi hanya menginginkan perpisahan yang baik di antara mereka namun Myungsoo membuatnya sulit untuk diwujudkan. Saat ia ingin memberi sepatah dua patah kata lagi pada Myungsoo, Luhan pun tiba. Suasana semakin menegang dengan adanya kehadiran Luhan di antara mereka berdua.

Myungsoo yang melihat kedatangan Luhan pun tercengang. Hatinya berkata fakta yang tidak ingin ia ketahui kini berada di depan matanya. “Eh? Myungsoo?”

Myungsoo menelan ludahnya begitu perhatian Luhan tertuju padanya. “Luhan hyung, kau di sini juga…” sapanya.

Mata Hyemi membulat ketika ia baru menyadari, Luhan dan Myungsoo saling mengenal. ‘Apa… Jangan-jangan Myungsoo sudah merencanakan ini semua?’ batinnya curiga.

Luhan menganggukkan kepalanya, “Aku mengantar istriku berbelanja,” ujar Luhan, menjawab pertanyaan Myungsoo. Ia pun menoleh ke arah Hyemi dan tersenyum padanya. “Ini Hyemi, istriku. Kalian sudah berkenalan?” tanyanya pada Myungsoo sembari mengenalkan Hyemi.

Myungsoo baru saja membuka mulutnya, akan menjawab pertanyaan Luhan, saat Hyemi memotongnya. “Aku tidak tahu kau selicik ini Myungsoo-ssi,” ujar Hyemi, sembari menekankan nama Myungsoo yang ia sebut dengan formal, seperti orang yang tidak pernah dekat sebelumnya.

Luhan pun kembali menoleh dan menatap Hyemi heran, tidak mengerti dengan apa yang Hyemi bicarakan. Sementara Myungsoo di hadapan mereka nampak terkejut mendengar perkataan Hyemi. “Ne?” tanya Myungsoo bingung, berharap apa yang ia dengar salah.

“Kau mencaritahu tentang aku. Tentang keluarga baruku,” dua kalimat tersebut bukanlah pertanyaan dan sudah sangat jelas tuduhan yang ditujukan kepada Myungsoo. “Kau merencanakan ini semua untuk menghancurkan aku perlahan-lahan,” ujar Hyemi, menyelesaikan ucapannya.

Myungsoo menatap Hyemi tak percaya. Ia yakin Hyemi tahu benar bagaimana dirinya. Myungsoo bukanlah tipe pria yang akan merencanakan hal-hal licik untuk mendapatkan kembali wanita yang dicintainya dari pria lain. Daripada mencari tahu tentang identitas suami Hyemi dan melakukan hal buruk seperti mengaku sebagai selingkuhan Hyemi pada pria tersebut, ia lebih memilih untuk fokus meyakinkan Hyemi bahwa ia mencintai Hyemi dan bersedia menerima Hyemi beserta anaknya dengan senang hati. “Kau berpikir aku serendah itu?”

Luhan yang sedari tadi berada di sana mulai jengah. Ia bingung dengan apa yang terjadi di antara Myungsoo dan Hyemi. Yang ia tahu sekarang adalah Hyemi dan Myungsoo saling mengenal dan mereka terlibat masalah yang tidak ia mengerti. Mungkin belum mengerti lebih tepatnya. “Tunggu dulu!” sela Luhan, membuat perhatian dua orang yang sedang bersitegang tersebut teralih padanya. “Jadi kalian sudah saling kenal?” tanyanya.

Hyemi langsung menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Luhan yang menuntut konfirmasi darinya. Meskipun ia tahu Luhan pasti sudah menyadari kalau dirinya dan Myungsoo sudah saling mengenal, bahkan mulai mengaitkan kepingan-kepingan puzzle tentang hubungannya dengan Myungsoo, namun ia enggan menjawab pertanyaan tersebut. Mentalnya belum siap menerima kenyataan jika kini Luhan mengetahui apa yang ingin ia kubur dalam-dalam sebagai kenangan yang ia tidak ingin Luhan mengetahuinya.

Tidak mendapat jawaban yang ia inginkan dari Hyemi, Luhan pun beralih ke Myungsoo. “Kau mengenal istriku?” tanyanya lagi, menatap Myungsoo tepat di manik matanya seolah-olah mencari jawaban.

Myungsoo memejamkan matanya sejenak sembari menghembuskan nafas berat. Ia baru saja akan diam saja dan tak membongkar identitasnya yang sesungguhnya jika Hyemi tak ingin Luhan tahu tentang mereka. Namun Hyemi sendiri yang membuat mereka berada di dalam situasi seperti sekarang. Bohong pun tak akan ada gunanya karena ia yakin Luhan tidak bodoh untuk tidak menyadari apa yang terjadi. Myungsoo pun menganggukkan kepalanya pelan. “Dia… Gadis yang pernah aku ceritakan padamu beberapa waktu yang lalu, hyung,” aku Myungsoo jujur.

Hyemi menggigit bibir bawahnya, gugup, dan masih dengan kepala tertunduk, tidak ingin melihat reaksi Luhan setelah mendengar jawaban Myungsoo. Luhan sendiri hampir terbatuk saat mendengar jawaban Myungsoo. Kini semua menjadi masuk akal setelah ia mengaitkannya. Myungsoo pernah bercerita tentang mantan kekasihnya yang sampai saat ini masih ia cintai. Dan setelah ia mengingat kembali cerita Hyemi tentang mantan kekasihnya beberapa bulan yang lalu dan mengaitkannya dengan Myungsoo dan cerita Myungsoo, semuanya saling berhubungan.

“Kau tidak punya kekasih?”
“Aku punya.”
“Di mana dia? Apa dia tahu tentang ini?”
“Dia masih di Jepang dan dia… tidak tahu masalah ini.”
“Apa yang ia lakukan di Jepang?”
“Ia bekerja di sana. Sebagai fotografer.”

‘Seorang fotografer dan bekerja di Jepang… Seharusnya aku menyadari ini sejak lama,’ batin Luhan.

Suasana yang sudah kikuk pun menjadi semakin kikuk. Luhan tidak tahu harus berkata apa setelah menemukan fakta bahwa Myungsoo adalah mantan kekasih Hyemi yang sangat mencintai Hyemi bahkan sampai detik ini. Hyemi dan Myungsoo juga sama-sama membisu.

Karena tidak nyaman, Myungsoo pun memutuskan untuk pergi duluan. Lagipula, hatinya juga sakit berada di sana setelah mengetahui teman barunya ternyata adalah pria yang sudah merusak masa depan yang sudah ia rancang bersama Hyemi. “Aku pergi duluan… Selamat tinggal,” pamitnya pada Luhan dan Hyemi. “Hyemi,” ia berhenti di sebelah Hyemi, “Masih ada banyak hal yang harus kita bicarakan,” ujarnya sebelum ia melanjutkan kembali langkahnya, meninggalkan Luhan dan Hyemi yang sama-sama tidak tahu harus bicara apa dan bersikap bagaimana setelah ini.

***

Myungsoo masuk ke dalam mobilnya. Pikirannya masih tertinggal bersama Hyemi dan Luhan. Pertemuan tadi benar-benar tidak terduga. Sangat tidak disangka selama ini suami Hyemi ternyata berada di dekatnya.

“Ini Hyemi, istriku. Kalian sudah berkenalan?”

Suara Luhan saat ia menyebut Hyemi sebagai istrinya masih terngiang di telinga Myungsoo, menorehkan luka baru di hati Myungsoo.

“Istri…” gumam Myungsoo dengan suara getir.

Fakta bahwa Luhan adalah suami Hyemi masih belum bisa diterima oleh nalar Myungsoo. Myungsoo merasa kebetulan ini benar-benar aneh. Bagaimana bisa hidupnya yang sudah dramatis tersebut berubah semakin dramatis menjadi seperti drama-drama di TV? Ditinggal menikah oleh kekasihnya yang dihamili pria lain dan berteman dengan pria yang menghamili kekasihnya tanpa ia sadari. Dunia benar-benar sempit.

Myungsoo mencengkram erat setir mobilnya, melampiaskan semua emosi yang bisa ia keluarkan dari dirinya. Semua masalahnya dengan Hyemi menjadi lebih rumit setelah ia tahu Luhan terlibat di dalamnya. Sekarang bukan hanya hatinya yang sakit, namun kepalanya juga ikut sakit lantaran memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia pun menjatuhkan kepalanya ke setir mobil, membiarkan kepalanya yang terasa berat tersebut bersandar sekejap. Dengan mata terpejam ia bergumam, “Pantas saja…”

Sekarang ia mengerti mengapa Hyemi mencintai suaminya dan sangat keukeuh tidak ingin meninggalkan suaminya tersebut. Suaminya adalah orang seperti Luhan, yang ia ketahui sebagai pria baik, humoris, dan benar-benar pria idaman wanita, wanita gila mana yang mau meninggalkan suami seperti itu? Ketampanan dan kekayaan yang Luhan miliki menjadi poin plus yang membuat Myungsoo merasa semakin kecil dan bukan tandingan Luhan. Selain hal-hal tersebut, Myungsoo yakin Luhan pasti sangat menyayangi Hyemi sampai-sampai Hyemi tidak perlu berpikir dua kali untuk menolaknya demi Luhan.

Myungsoo mengangkat kepalanya kembali lalu menghembuskan nafas berat. Ia masih ingin mendapatkan Hyemi kembali. Namun, itu berarti ia harus menghancurkan rumah tangga Hyemi dengan Luhan yang dapat dikatakan adalah teman baiknya sekarang. Ia tidak ingin menyakiti Luhan. Jika saja suami Hyemi bukan Luhan, mungkin Myungsoo tidak akan peduli, tetapi ini adalah Luhan dan itu membuatnya merasa berat untuk terus melakukan apa yang sudah ia lakukan selama beberapa bulan belakangan ini.

Jika cintanya untuk Hyemi tidak sebesar ini, melupakan Hyemi pasti bukan hal yang sulit. Tetapi karena cinta yang begitu besar, ia sampai terbutakan dan begitu terobsesi untuk mendapatkan Hyemi kembali. Ia tidak sanggup melihat Hyemi bersama pria lain apalagi pria tersebut ternyata temannya sendiri. Itu terlalu menyakitkan untuknya.

***

Luhan melirik Hyemi yang sedari tadi diam dengan wajah menghadap ke kaca di sebelahnya. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan namun melihat situasi yang sepertinya tidak mendukung, ia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya.

***

Sehun melempar tasnya ke jok belakang mobilnya. Ia pun mengambil dompet dan ponsel yang berada di atas dashboard sebelum keluar dari mobilnya. Sore itu ia, Jongin, dan Baekhyun berkumpul di cafe baru di dekat kampusnya. Sayang sekali mereka hanya bisa kumpul bertiga karena Jongdae ada kencan, Saera pergi menjenguk neneknya yang masuk rumah sakit, dan Hyemi check up kehamilan. Meskipun tidak ada check up hari itu, Sehun yakin Hyemi tetap tidak akan ikut berkumpul dengan alasan usia kandungan yang sudah memasuki minggu ke-38 dan lebih memilih tidur di rumah.

Terasa sedikit sepi saat setengah dari anggota grup tidak ada. Namun ‘sepi’ dalam kamus Hyemi dan kawan-kawan masih tergolong berisik untuk orang lain. Apalagi jika masih ada Baekhyun di sana.

“Hei, Jongin! Minggu lalu aku melihatmu bersama Lee Dahee,” celetuk Baekhyun setelah menyeruput jus mangganya. Sehun mengangkat kepalanya lalu menoleh ke arah Baekhyun, ingin tahu kelanjutan ceritanya tentang Jongin dan Dahee, kakak tingkat yang satu jurusan dengannya.

“Oh? Aku tidak sengaja bertemu dengannya dan kami ngobrol biasa,” Jongin mengedikkan bahu kemudian menyeruput frappucinonya.

Sambil mengaduk-aduk smoothie di hadapannya, Sehun bertanya pada Jongin, “Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau mengenal Dahee sunbae?”

Jongin menggaruk leher belakangnya yang tak gatal. Lee Dahee adalah wanita spesial di hatinya dan membicarakan Lee Dahee membuatnya salah tingkah. “Kami satu divisi saat menjadi panitia salah satu acara kampus tahun lalu,” jawab Jongin.

“Love at the first sight,” goda Baekhyun menggunakan bahasa Inggris dengan pengucapan seadanya yang membuat Jongin menendang kakinya di bawah meja.

“Diam kau,” desis Jongin.

“Ey, ey, Jongin mulai mengambil langkah untuk mendapatkan Dahee,” goda Baekhyun lagi membuat pipi Jongin bersemu.

Sehun menatap Jongin dan Baekhyun bergantian, masih bingung. Memang beberapa kali nama Dahee muncul di percakapan mereka untuk menggoda Jongin. Yang ia tahu Jongin tertarik pada seniornya tersebut. Ia pikir Jongin hanya tertarik pada Dahee karena Dahee berpenampilan menarik saja. Ia sendiri dulu sempat menyukai Dahee juga. Namun melihat bagaimana tingkah Jongin saat ini membuatnya mengambil kesimpulan jika ketertarikan Jongin pada Dahee bukan kekaguman semata karena paras Dahee yang menarik namun lebih dari itu. Jongin serius dengan perasaannya pada Dahee.

Hal tersebut membuat Sehun terpikir akan Saera. Saera sudah mengenal Jongin lebih dulu, ia yakin Saera pasti tahu tentang ini. Yang ia tak habis pikir, bagaimana bisa Saera menahan dan menyembunyikan perasaannya seperti ini. Tiap kali nama Dahee muncul, Saera sendiri ikut menggoda Jongin seolah-olah tak ada apa-apa, seolah-olah hatinya tak terluka sedikit pun. ‘Gadis bodoh,’ umpat Sehun dalam hati.

***

Hari ini giliran Hyemi dan Saera yang pergi bersama tanpa yang lain. Minggu pagi dengan cuaca yang sangat bersahabat membuat mereka memutuskan untuk pergi ke taman. Berhubung Hyemi sudah memasuki masa-masa persiapan untuk persalinan, berjalan-jalan sangat direkomendasikan untuk mempermudah proses persalinan. Luhan awalnya ingin ikut menemani mereka, atau Hyemi lebih tepatnya, namun Hyemi melarangnya dan menyuruh dia pulang karena ingin berdua saja dengan Saera. Alasannya sih ada hal penting yang akan ia dan Saera bicarakan.

“Unnie, di antara kau dan Luhan oppa, siapa yang mengutarakan perasaan lebih dulu?” tanya Saera tiba-tiba.
“Ah! Apa mungkin kalian belum mengatakan kata-kata ajaib tersebut?” tambahnya lagi.

Mendengar pertanyaan Saera, pipi Hyemi pun bersemu. Mengingat kejadian tersebut membuatnya malu seketika. Sambil mengusap perut buncitnya, ia pun menjawab, “Oh itu… Um… Itu… Aku hehe,” akunya agak malu-malu.

“Serius???” tanya Saera kaget. “Kau tidak cerita padakuuuu,” rengeknya merajuk.

Hyemi terkekeh lalu menggelengkan kepalanya. “Maaf… Aku hanya cerita pada Baekhyun dan jongdae saat itu,” akunya lagi.

“Kalau begitu sekarang ceritakan padaku! Ayolah unnie,” pinta Saera dengan wajah memelas.

Hyemi menggigit bibirnya sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk menceritakan intinya saja kepada Saera, “Jadi saat itu aku ada masalah besar… Masalah yang membuatku masuk rumah sakit beberapa minggu yang lalu. Aku benar-benar kesal padanya. Saking kesalnya, aku tidak bisa mengontrol diriku dan akhirnya meluapkan semua yang ada di dadaku, termasuk perasaanku padanya. Intinya seperti itu.”

“Benar-benar tidak sengaja,” tambahnya.

Saera mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti. “Berarti tidak apa-apa ya jika perempuan yang mengutarakan perasaan mereka lebih dulu…” komentarnya.

Mendengar ucapan Saera, Hyemi mengerti kemana arah pikiran Saera. Hanya ada satu kesimpulan yang muncul di kepala Hyemi, kemungkinan Saera sedang mempertimbangkan untuk mengungkapkan perasaannya pada Jongin.

“Jangan bilang kau akan melakukan hal yang sama.”

Saera menoleh dan menatap Hyemi, seolah-olah meminta pendapat dan dukungan Hyemi. Ia pun menghela nafas berat. “Aku mulai jengah…”

“Pikirkan matang-matang sebelum kau melakukannya,” saran Hyemi.

“Kalau aku tidak mengambil langkah lebih dulu, menurutmu apa mungkin ada kesempatan untuk kami?”

“Jongin tidak akan pernah melihatku… Ia tidak akan pernah menyadari perasaanku jika aku tidak melakukan sesuatu. Jika aku tidak membuatnya melihat hal tersebut,” tambah Saera.

Hyemi meraih tangan Saera lalu memberikan remasan pelan, tanda bahwa ia ada di sisi Saera untuk mendukungnya. “Kau dan aku tahu Jongin menginginkan siapa… Yakin masih ingin bersamanya?”

“Unnie…,” Saera menghela nafas berat lagi, “Aku lelah, aku muak melihatnya bertepuk sebelah tangan. Bukankah lebih baik kalau ia bersamaku? Aku mencintainya. Semua kekurangan dan kelebihannya, aku mencintainya. Untuk apa menanti wanita yang jelas-jelas tidak membalas perasaannya jika ada wanita lain yang rela memberikan seluruh hatinya untuk dia?”

Selucu itu cinta, bisa membuat orang buta dan egois. Hyemi pun hanya bisa tersenyum kecut karena jika ia memposisikan dirinya di posisi Saera, ia akan memikirkan hal yang sama dengan Saera. Mungkin tingkat keegoisannya bisa dua kali lipat lebih besar dari Saera.

“Aku sepemikiran denganmu… Tetapi… Apa menurutmu itu cukup menjadi alasan yang kuat?”

Saera pun terdiam. Dalam hati, tanpa sadar, ia menjawab tidak.

“Tidak apa-apa kalau kau tetap ingin menyatakan cintamu pada Jongin. Hanya saja, aku kasihan padamu… Kau tahu sendiri aku sudah pernah merasakan yang namanya mencintai pria yang mencintai wanita lain. Itu benar-benar tidak menyenangkan… Rasanya sesak,” tutur Hyemi.

“Aku yakin kau tahu bagaimana rasanya. Belum menjalin hubungan saja sudah sakit sekali, apalagi nanti kalau kalian benar-benar memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih? Fakta kalian menjalin hubungan tetapi tahu kekasihmu mencintai wanita lain pasti akan membuatmu merasa seperti seorang masokis,” ujar Hyemi menambahkan.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Saera nyaris berbisik.

“Kau tahu resikonya apa, jadi kalau kau memang bersikeras untuk tetap mengakui perasaanmu padanya, kau harus siap mental dan siap hati untuk merasakan konsekuensinya,” jawab Hyemi.

Saera menganggukkan kepalanya kemudian menyahut, “Aku akan tetap mencobanya. Siapa tahu Jongin mau memberiku kesempatan untuk membuatnya jatuh cinta padaku. Tetapi kalau ia menolak… Ya… Tidak apa-apa… Mungkin memang nasib kami hanya bisa menjadi sahabat saja…”

Hyemi memberi Saera senyum yang berarti dukungan untuknya. Kemudian ia pun teringat Sehun yang ia tahu menyukai Saera. Rasa iba muncul di hatinya, membayangkan betapa sesaknya hati Sehun mengetahui fakta bahwa gadis yang ia cintai mencintai sahabatnya sendiri.

Setelah ia pikir-pikir lagi, Jongin, Saera dan Sehun berada di posisi yang sama. Jongin mencintai Dahee namun Dahee tidak memiliki perasaan yang sama untuknya, Saera mencintai Jongin namun Jongin mencintai Dahee, dan Sehun mencintai Saera namun Saera mencintai Jongin. Hal tersebut membuat Hyemi bingung memikirkan lebih baik siapa dengan siapa di dalam cinta segiempat Sehun-Saera-Jongin-Dahee.

‘Selucu itu cinta…’ batin Hyemi.

***

Ting!

Pintu lift terbuka, menunjukkan sosok Luhan yang sebelumnya berada di dalamnya pada beberapa karyawan yang berdiri di depan lift tersebut. Serentak karyawan-karyawan tersebut membungkukkan badan mereka dan menyapa Luhan.

“Selamat pagi,” sapa Luhan balik. Ia pun berjalan meninggalkan kerumunan karyawannya yang kini mulai mengisi lift yang baru saja ia gunakan.

Pagi itu suasana kantor tidak sesibuk hari-hari sebelumnya. Tidak banyak karyawan yang berlalu-lalang, membuat Luhan sedikit bernapas lega karena itu tandanya tidak banyak orang yang harus ia sapa dan senyumi. Meskipun ia suka tersenyum, terkadang terlalu banyak tersenyum membuat pipinya sakit.

Drrt drrtt

Getaran ponsel di saku celananya membuat Luhan berhenti sejenak untuk mengambil ponsel tersebut. Sambil melanjutkan perjalanannya menuju pintu utama kantor, Luhan membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.

From: Kris hyung
Aku harus ke Amerika jam 2 nanti. Gantikan aku rapat jam 4 di Lee Corp. Materinya bisa kau minta di sekretarisku. Thx.

Setelah mengirim balasan berupa “Ya”, Luhan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

Namun langkahnya terhenti begitu ia mengangkat wajahnya.

Kim Myungsoo baru saja masuk dan berhenti juga di depan pintu masuk. Luhan tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Myungsoo setelah pertemuan mereka di supermarket saat itu. Cukup lama ia tidak bertemu dengan teman barunya tersebut. Entah Myungsoo memang sibuk atau sengaja menghindarinya di kantor, ia tidak tahu. Sekarang bertemu seperti ini, ia bingung harus menyapa dan bertingkah seolah-olah kejadian di supermarket tidak pernah terjadi atau berlalu melewatinya begitu saja tanpa tegur sapa.

“Hei…” sapanya kemudian setelah beberapa detik berpikir. Agak kaku memang, tetapi ia pikir lebih baik seperti itu daripada bersikap seperti orang asing.

Myungsoo terlihat agak kaget mendengar sapaan Luhan. Ia pun balas menyapa. Tidak kalah kaku tentunya. “H-hyung,”

Luhan memutar otaknya, berpikir apa yang harus ia katakan selanjutnya. “Um…” berpikir, berpikir, berpikir, “Kau ada waktu? Aku ingin bicara,” ucapnya kemudian. Ia tidak tahu apakah kalimat tersebut adalah kalimat yang tepat untuk ia lontarkan atau tidak. Yang ia pikirkan hanyalah ia harus bicara dengan Myungsoo.

Dan kebetulan sekali memang ada banyak hal yang sebenarnya ingin ia bicarakan dengan Myungsoo pasca pertemuan mereka yang melibatkan Hyemi di supermarket beberapa waktu lalu. Tentu, yang ingin ia bicarakan berkaitan dengan Hyemi dan Myungsoo sendiri.

“Masalah personal?” tanya Myungsoo to the point dengan sebelah alis terangkat.

Luhan menganggukkan kepalanya, “Ya.”

***

Luhan menyeruput kopinya, “Kau tahu, aku kaget sekali saat tahu kau adalah mantan kekasih Hyemi…” ujar Luhan, mulai membawa pembicaraan mereka ke topik yang sebenarnya memang ingin ia bicarakan setelah sedikit berbasa-basi.

Myungsoo meletakkan cangkir kopinya di meja. Dengan tatapan mata terarah pada kopinya sendiri, ia menjawab, “Aku juga…”

“Sangat terkejut… mengetahui kau adalah…” terasa sangat sulit untuk Myungsoo meneruskan kalimatnya tersebut. Ia bahkan menelan ludahnya sebelum mengucapkan kata-kata yang ia tidak sukai, “…suami Hyemi.”

Luhan bisa merasakan betapa kesulitannya Myungsoo menyebut ia sebagai suami Hyemi dari suaranya. Ia pun tersenyum getir, iba pada Myungsoo dan kesal pada takdir yang seperti mempermainkan mereka. “Lucu sekali ya… Selama ini kita berteman tapi tidak menyadari bahwa istriku dan mantan kekasihmu itu adalah orang yang sama,” ucap Luhan. Ia menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya seolah olah menghembuskan nafas adalah pekerjaan terberat yang pernah ia lakukan.

“Maaf…” ujarnya pelan. Sangat pelan hingga Myungsoo nyaris saja tak mendengarnya.

Myungsoo masih menatap kopinya dan terlihat enggan untuk mengalihkan pandangannya dari kopi tersebut. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana merespon permintaan maaf Luhan.

“Karena kecerobohanku, hubunganmu dengan Hyemi jadi hancur. Aku… Aku benar-benar merasa bersalah dan meminta maaf dengan tulus sudah menghancurkan rencana masa depanmu bersama Hyemi…” ujar Luhan dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Ia pun menatap Myungsoo, menunggu reaksinya.

Myungsoo sendiri masih diam. Tidak mungkin ia mengatakan ia tidak apa-apa jika kenyataanya malah sebaliknya. Rasanya ia ingin marah dan menghajar Luhan saat Luhan mengungkit-ungkit masalah di klub itu secara tidak langsung. Mengingat Luhan dan kecerobohannya telah merenggut Hyemi darinya membuat ia ingin membunuh Luhan di tempat saat itu juga. Bersusah payah ia menjaga kesucian Hyemi dari dirinya sendiri, melawan nafsunya sendiri, dan orang lain, Luhan, yang bahkan dulu tidak mengenal Hyemi sama sekali malah merenggut itu dari Hyemi juga dirinya, membuat hidup Hyemi dan hidupnya susah. Menghancurkan semua mimpi yang telah ia bangun bersama Hyemi.

“Apa kau mencintai Hyemi? Mencintai Hyemi lebih dari aku mencintanya? Dan lebih dari Hyemi mencintaimu?”

Luhan agak terkejut mendengar pertanyaan Myungsoo. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah respon yang ia bayangkan dari Myungsoo. Ia pikir Myungsoo akan mengutarakan perasaannya tentang masalah yang mereka miliki saat ini, seperti betapa marah dan kecewanya dia mungkin. Kini pertanyaan-pertanyaan tersebut membuatnya mengalami perang batin. Apakah ia mencintai Hyemi? Apa sudah bisa disebut mencintai jika dia memilih untuk hidup bersama Hyemi, bukan Minha?

Menurutnya mungkin ia sudah mulai mencintai Hyemi, namun cintanya belum sebesar cinta Myungsoo pada Hyemi maupun cinta Hyemi untuknya. Dia baru saja memulai untuk belajar mencintai Hyemi, jadi cintanya pada Hyemi bisa dikatakan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan cinta Myungsoo pada Hyemi dan Hyemi padanya.

Myungsoo yang sejak beberapa detik lalu menatap Luhan, mulai ragu pada Luhan karena Luhan masih diam dan tak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia sempat berpikir untuk menyerah jika Luhan benar-benar mencintai Hyemi, melebihi cintanya pada Hyemi tentunya. Namun pikiran tersebut langsung lenyap. Melihat reaksi Luhan seperti ini membuatnya berpikir untuk memberi kesempatan lagi pada dirinya untuk mendapatkan Hyemi kembali.

“Aku mencintai Hyemi hyung. Sangat mencintainya. Kau tahu itu. Dan aku yakin kau tahu aku masih sangat mencintainya hingga detik ini. Aku masih menginginkan Hyemi kembali padaku, jadi kumohon padamu… Tolong bantu aku dengan melepasnya…” ujar Myungsoo tiba-tiba, membawa Luhan kembali pada realita. Shock tergambar jelas di wajahnya tatkala ia mendengar ucapan Myungsoo.

“Kau tidak benar-benar mencintainya kan? Kau hanya menikahinya karena anak di dalam kandungannya? Aku janji hyung, aku tidak akan mengusik hakmu terhadap anakmu sendiri dan aku janji aku akan merawat dan menyayanginya seperti anakku sendiri. Aku hanya memohon padamu untuk melepas Hyemi… Maafkan aku yang begitu lancang memintamu seperti ini tapi aku sudah benar-benar depresi! Aku begitu mencintai Hyemi sampai ke titik di mana aku tidak bisa hidup lagi tanpanya… Rasanya ingin mati hyung tiap mengingat Hyemi tidak mencintaiku lagi dan sekarang mencintai orang lain… Dan mengetahui orang yang kini ia cintai ternyata adalah kau… Teman baikku sendiri… Aku semakin ingin mati… Rasanya sakit tiap kali aku memejamkan mataku dan yang aku lihat adalah bayangan dirimu bersama Hyemi di ranjang yang sama dan terbangun dengan bayangan Hyemi yang menyambut pagimu saat kau membuka mata…” tutur Myungsoo. Terdengar menyedihkan memang, namun ia tidak peduli. Ia bahkan sudah tidak peduli lagi jika air mata telah mengalir dari pelupuk matanya. Ia terlalu depresi dan frustasi untuk mempedulikan hal tersebut.

Luhan yang dibuat tak bisa berkata-kata oleh Myungsoo hanya bisa terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Kesungguhan dan rasa sakit benar-benar terpancar dari sorot mata Myungsoo saat Myungsoo berbicara. Ia pun mulai berpikir, ia baru saja memulai lembaran baru dengan Hyemi masa ia harus melepas Hyemi begitu saja? Ia bahkan rela melepas Minha demi hidupnya dengan Hyemi.

Dengan berat hati, akhirnya Luhan pun membuka mulutnya, “Maaf Myungsoo-ya… Kurasa aku tidak bisa melakukan itu untukmu.”

“Dan mungkin tidak akan pernah bisa,” tambahnya. Ia menatap Myungsoo, memperhatikan Myungsoo yang nampaknya sedang menyerap kata-katanya.

Luhan pun melanjutkan perkataannya, “Mungkin cintaku untuk Hyemi masih tak ada apa-apanya dibandingkan dengan cintamu padanya. Tapi aku yakin, dan aku bisa jamin hal tersebut, kalau tak lama lagi aku bisa menjadi orang yang paling mencintainya, bahkan mungkin kau kalah olehku,” ujarnya berharap ia mengatakannya dengan sangat mantap.

“Oke,” ucap Myungsoo, “Aku pegang kata-katamu, hyung.”

“Tapi maaf, itu tidak akan menggoyahkan niatku sedikit pun. Setelah Hyemi melahirkan aku akan kembali berusaha untuk mendapatkannya lagi. Karena kita sama-sama tahu… Dia milikku sejak awal,” ucapnya lagi lalu bangkit dari duduknya dan berbalik meninggalkan Luhan.

Luhan yang tersinggung mendengar ucapan Myungsoo pun ikut bangkit dari duduknya. Dengan suara lantang, ia berkata, “Silakan! Cobalah semaumu! Tapi aku pastikan Hyemi akan tetap memilihku!”

Myungsoo yang mendengar ucapan Luhan, tetap melangkahkan kakinya, meninggalkan Luhan sendiri di tempatnya. Ia sadar apa yang baru saja ia lakukan adalah kebodohan, membiarkan egonya mengambil alih dirinya. Mungkin saat ini ia tidak menyesali apapun, tetapi ia tahu, ia akan menyesali perbuatannya ini di lain hari. Karena hari ini, ia baru saja kehilangan satu teman baiknya.

***

Hyemi dan Luhan baru saja tiba dari rumah sakit. Dr. Hwang, seperti biasa, mengingatkan mereka untuk lebih bersiap-siap. Tiga minggu yang lalu beliau telah memberi prediksinya jika Hyemi kira-kira akan melahirkan di minggu ke-41, di antara tanggal 15 hingga 22. Sekarang usia kehamilan Hyemi sudah menginjak minggu ke-40 dan itu membuatnya semakin gelisah. Ditambah lagi akhir-akhir ini kontraksinya jadi semakin sering terjadi.

Di tengah kegelisahannya, tiba-tiba ia mendapat SMS dari Saera yang berbunyi bahwa dia akan mengungkapkan perasaannya kepada Jongin hari ini. Hyemi pun semakin gelisah. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Sehun. Bagaimana perasaan Sehun saat mengatahui ini nanti? Dalam hati ia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Saera, Jongin, dan Sehun.

To: Saera💞
Goodluck!

***

20 September 2014

Hyemi menyandarkan punggungnya di dada Luhan, yang duduk di belakangnya. Saat ini mereka sedang menonton TV di ruang tengah bersama Nyonya Lu dan Hara. Tuan Lu yang baru saja tiba dari Jepang sedang beristirahat di kamarnya. Sementara Kris sibuk membaca laporan di meja makan.

“Masih sakit?” tanya Luhan sambil mengusap-usap perut buncit Hyemi dari belakang.

Hyemi mengangguk dan menggumam, “Mm…”

Sakitnya semakin menjadi-jadi akhir-akhir ini. Mungkin karena usia kandungan Hyemi yang sudah memasuki minggu ke-41 yang artinya perkiraan sebentar lagi Hyemi akan melahirkan. Mungkin hari ini, mungkin juga besok, atau mungkin dua hari lagi, entahlah. Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Ziyu akan lahir.

“Mau ke rumah sakit sekarang?” tawar Luhan. Ia sendiri takut dan masih bingung harus bagaimana karena Hyemi akhir-akhir ini sering mengeluh sakit.

Hyemi kembali merasakan intensitas kontraksinya bertambah sejak tadi pagi, namun ia rasa itu hanya kontraksi palsu. Ia pun menggelengkan kepalanya pelan, “Nanti saja kalau sakitnya lebih sakit dari yang sekarang.”

Hyemi dan keluarga Luhan sudah menyiapkan kebutuhan-kebutuhan Hyemi dan Ziyu sejak beberapa minggu yang lalu, berjaga-jaga jika tiba-tiba Hyemi akan melahirkan prematur. Ruang rawat inap juga sudah dipesan tiga hari yang lalu. Semua benar-benar sudah sangat dipersiapkan demi kelancaran persalinan Hyemi.

“Aku ingin ganti baju,” ucap Hyemi. Bra dan baju yang basah karena asi yang merembes keluar membuatnya tidak nyaman. Luhan pun melepas tangannya dari tubuh Hyemi dan membantu Hyemi berdiri.

Setibanya di kamar, Hyemi langsung mengambil bra dan baju ganti lalu masuk ke kamar mandi. “Sshhss…” desisnya meringis saat ia merasakan sakit di bagian bawahnya. “Ziyu-ah, kalau kau mau keluar ya keluar saja… Jangan memberi tanda-tanda palsu seperti ini pada mama!” ujarnya pada perutnya sendiri, atau Ziyu lebih tepatnya. Hyemi pun melepas pakaiannya. Entah mengapa ia merasa ada yang aneh. Rasanya seperti ada yang keluar. Namun ia mengabaikannya, menganggap itu sebagai alarm palsu seprti sebelum-sebelumnya.

Setelah mengganti pakaian, Hyemi pun memutuskan untuk berbaring di ranjang karena punggung, pinggang, dan bagian bawahnya terasa begitu sakit. Bisa dikatakan sakitnya lima kali lipatnya atau lebih sakit orang yang sedang menstruasi.

Beberapa kali mengganti posisi, sakit yang ia rasakan tak kunjung reda. Ia bahkan merasa lebih sakit lagi dari sebelumnya di bagian bawahnya. Tak lama kemudian ia kembali merasakan sesuatu yang basah di celana dalamnya. Oke itu mulai membuatnya bingung dan semakin khawatir.

Karena penasaran, ia pun memutuskan untuk mengeceknya. Ia merasa tak mungkin dirinya mengompol karena yang terasa keluar hanya sedikit. Dengan susah payah, ia berhasil kembali ke kamar mandi. Karena tidak memungkinkan untuknya menunduk, ia pun melepas celana dalamnya dan langsung memperhatikan dalaman tersebut.

Matanya membulat dan jantungnya berdetak cepat seketika. Ada flek di celana dalamnya dan noda basah karena cairan lain yang ia yakini adalah air ketubannya yang merembes. Hyemi mulai panik.

“Jangan panik! Jangan panik! Jangan panik!” ujarnya pada dirinya sendiri.

Sakit itu kembali terasa dan sesuatu mengalir dari alat vitalnya. “Ah!” ringisnya sembari memegangi perutnya. Sepertinya yang kali ini bukan alarm palsu lagi. Ia yakin ini adalah tanda bahwa Ziyu sudah siap lahir sekarang.

Menarik nafas dalam-dalam, ia pun berteriak memanggil nama Luhan.

“Han! Han! Han! Air ketubanku!! Han!! LUHAAAAAN!!!!”

Hanya dalam hitungan detik, Luhan sudah berada di hadapannya dengan wajah panik. “Ada apa? Ada apa? Mana yang sakit? Kau terjatuh? Kau baik-baik saja kan?”

Hyemi menggigit bibir bawahnya, menahan sakit yang ia rasakan. “Kurasa…” ia menarik nafas sejenak, “Aku akan melahirkan sekarang…”

“Hah?!” kaget Luhan.

Spontan ia berlari keluar kamar, membuat Hyemi bingung sekaligus jengkel.

“Hyung!! Kris hyung!! Siapkan mobil!!! Kita ke rumah sakit sekarang!! Hyemi akan melahirkan!!”

“LUHAAAAN!!!” jerit Hyemi dari depan kamar mandi.

Seisi rumah langsung panik. Kris beranjak dari duduknya dan langsung bergegas menyiapkan mobil (karena supir sedang libur hari itu), meninggalkan laporannya begitu saja di atas meja. Luhan mengambil tas yang sudah disiapkan oleh Hyemi dan ibunya lalu membantu Hyemi berjalan ke mobil.

Saat perjalanan menuju rumah sakit, suasana di mobil sangat gaduh. Di jok belakang, ada Hyemi yang terus mengeluh dan Luhan yang meringis. Sementara di jok depan ada Nyonya Lu yang terus menenangkan Hyemi dan Kris yang tertawa melihat adiknya disiksa Hyemi. Melihat kondisi Luhan sekarang mengingatkan Kris pada saat Hara melahirkan si kembar. Ia pun bergidik ngeri saat membayangkan jika ia harus kembali menghadapi siksaan yang sama. Dalam hati ia berjanji tidak akan menghamili Hara lagi. ‘Dua anak sudah cukup,’ batinnya.

Luhan di jok belakang hanya bisa meringis dan pasrah. Rambut di jambak, tangan di remas-remas, kadang Hyemi tidak sengaja mencakar atau memukulnya. “Ouch! Sabar, sabar… Sebentar lagi kita sampai!” ujarnya menenangkan Hyemi sembari mengusap-usap punggung Hyemi.

“Ingat kata Dr. Hwang! Tarik nafas, hembuskan, dan tenang, jangan panik!” ujarnya lagi, kali ini sambil merengkuh tubuh Hyemi dengan tangannya yang berada di belakang Hyemi, sedangkan tangannya yang satu lagi menarik kepala Hyemi lembut dan menyandarkannya di bahunya.

Ketenangan Hyemi tak berlangsung lama, beberapa menit kemudian ia kembali mengomel dan mengeluh. Ia bahkan sempat menggigit bahu Luhan, membuat Luhan menjerit keras, yang langsung disambut oleh tawa dari Kris.

“Tidak apa-apa! Tidak apa-apa! Gigit saja aku! Gigit! Biar aku bisa merasakan sakitmu juga!” serunya berniat menyemangati Hyemi namun malah terdengar seperti menyemangati dirinya sendiri.

Hyemi yang perlahan mulai sadar dari kesakitannya pun berhenti menggigit bahu Luhan dan kembali menyandarkan kepalanya di bahu Luhan sambil meringis, “Aduh… Aduh… Sakit sekali! Ah! Semoga sampai di rumah sakit sudah bukaan sepuluh… Aw!”

***

Sekitar kurang lebih sepuluh menit kemudian, mereka pun tiba di rumah sakit. Namun, penderitaan Hyemi, dan juga Luhan, belum berakhir sampai di sana. Setelah diperiksa oleh Dr. Kwon, dokter yang akan menangani Hyemi, pembukaan yang Hyemi alami baru sampai bukaan empat, yang artinya Hyemi harus menunggu beberapa jam lagi hingga bukaan sempurna. Dr. Kwon memperkirakan Hyemi sudah mulai mengalami proses pembukaan sejak beberapa jam yang lalu.

“Ya Tuhan… Harus berapa lama lagi aku menunggu…” ringis Hyemi. Peluh bercucuran dari pelipisnya.

“Untuk kelahiran anak pertama biasanya memakan waktu cukup lama. Mungkin satu bukaan per jam,” ujar Dr. Kwon.

Mulut Hyemi ternganga mendengar ucapan Dr. Kwon. Jika setiap satu bukaan ia harus menunggu satu jam, berarti kira-kira ia harus menunggu sekitar enam jam. Memikirkannya saja sudah membuatnya ingin menangis.

“Anda bisa berjalan-jalan untuk mempercepat proses dilatasinya,” saran sang dokter.

‘Yang benar saja! Aku sudah sesakit ini harus menunggu lagi?!?!’ omel Hyemi dalam hati.

“Aarrgghh! Bagaimana mau jalan-jalan kalau sakitnya tidak karuan seperti ini?!” gerutunya begitu Dr. Kwon meninggalkan ruangan.

“Sabar…” ujar Luhan yang hanya ditanggapi dengan dengusan oleh Hyemi.

“Apa kata dokter?” tanya Nyonya Lu yang baru memasuki ruangan. Beliau masuk bersama Kris dan Tuan Lu yang baru saja tiba.

“Baru bukaan empat,” jawab Luhan.

“Ah, syukurlah…” ujar Nyonya Lu, bernafas lega. “Kau harus kuat Hyemi-ya! Dulu eomma, waktu akan melahirkan Kris, tiba di rumah sakit saat baru bukaan satu. Kalau di rumah sakit umum mungkin sudah disuruh pulang lagi,” tambahnya.

***

“Aw!” rintih Hyemi, seketika memegangi perutnya.

Saat ini ia sedang berjalan-jalan di lorong rumah sakit bersama Luhan yang mengekor di belakangnya. Menunggu membuatnya semakin kesal, ia pun memutuskan untuk mengikuti saran Dr. Kwon. Meskipun sakit, ia akan menahannya demi Ziyu.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Luhan khawatir. Sebenarnya ia ingin membantu Hyemi berjalan, namun Hyemi menolaknya. Hyemi mengatakan, rasanya ia ingin marah jika melihat Luhan. Luhan pun mencari aman dengan berjalan di belakang Hyemi.

“Menurutmu?” sahut Hyemi ketus, membuat Luhan menelan ludah. Firasatnya mengatakan bahwa Hyemi akan mulai mengomel lagi. “Kau pikir berada dalam situasi seperti ini menyenangkan?! Kau sih enak! Jadi pria hanya dapat nikmatnya saja! Aku??? Sudah hamil, sekarang harus melahirkan! Bukannya langsung melahirkan malah harus menunggu lagi! Bla bla bla bla,” dan seterusnya sampai Luhan bahkan tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Hyemi.

Mau tidak mau Luhan hanya bisa pasrah dan diam mendengarkan omelan Hyemi. Hyemi bahkan mengancam Luhan, ia tidak akan mengijinkan Luhan menyentuhnya lagi. Tak hanya itu, ia juga akan memotong alat vital Luhan jika Luhan menghamilinya lagi tanpa persetujuannya, dan hal tersebut spontan membuat Luhan langsung memegang alat vitalnya. Menyeramkan juga mendengar ancaman Hyemi. Apalagi Hyemi mengatakannya dengan nada serius.

“Huwaaa! Hyemiii!!!” “Unnie!! “Noona!!” seru suara-suara cempreng teman-teman Hyemi. Baekhyun, Jongdae, Saera, Jongin, dan Sehun tiba bersamaan dan tidak sengaja bertemu Hyemi dan Luhan di lorong. Suasana langsung heboh dengan mereka yang menyemangati Hyemi dan bicara secara bersamaan, membuat Hyemi pusing dan semakin kesal.

“Akhirnya Ziyu mau lahir juga!”
“Unnie semangat!!”
“Noona katanya mau melahirkan? Kenapa malah jalan-jalan di sini?”
“GO HYEMI GO HYEMI GO!!”
“Lebih cepat! Kau berjalan seperti siput! Ayo Hyemi! Lebih semangat lagi!”
“GO HYEMI GO HYEMI GO!!”
“DAE HAN MIN GUK!!”
“YE YE YE HYEMI SE! MA! NGAT!”

“BERISIIIIKK!!!” seru Hyemi frustasi. Beruntung lorong yang mereka penuhi tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa staff rumah sakit yang berlalu-lalang.

Dan seketika semua terdiam mematung.

***

Setelah 45 menit berjalan-jalan, Hyemi kembali ke ruangannya karena sudah tidak kuat lagi berjalan-jalan. Kini dua jam telah berlalu dan Dr. Kwon kembali untuk memeriksa Hyemi.

“Sudah bukaan enam,” dokter cantik tersebut tersenyum pada Hyemi, “Tetap sabar ya.”

Sepeninggal Dr. Kwon, Hyemi menghela nafas frustasi untuk yang kesekian kalinya, “Sudah tiga jam lebih aku di sini dan baru bukaan enam?!?! Yang benar saja!” ucapnya geram.

“Tidak bisa langsung dirobek sampai bukaan sempurna ya?”

“YA!!! KAU PIKIR TIDAK SAKIT HAH?! COBA MILIKMU YANG DIROBEK PAKSA!!” seru Hyemi begitu mendengar celetukan iseng Saera. Ekspresi wajah Hyemi sudah seperti ingin memakan Saera hidup-hidup, membuat Saera merinding dan langsung bersembunyi di belakang tubuh Baekhyun.

“Ampun unnie, ampuuun! Aku hanya bertanya hehe.”

“Makanya jaga mulutmu. Berbahaya membuat kesal orang yang akan melahirkan. Apalagi orangnya monster seperti Hyemi hihi,” timpal Baekhyun, berbisik pada Saera karena takut didengar oleh Hyemi.

“Sabar, sabar,” kata Luhan yang akhirnya terkena damprat lagi dari Hyemi.
“SABAR! SABAR! KAU RASAKAN DI POSISIKU MANA BISA SABAR?!!! INI SAKIT SEKALI TAHUU!!”

***

Tiga jam kembali berlalu. Nyonya Lu, Tuan Lu, dan Kris sudah pulang ke rumah dan akan kembali satu jam lagi. Sementara Baekhyun cs sedang pergi ke kantin rumah sakit untuk mengisi perut mereka. Suasana di ruangan sudah tak seramai dan setegang beberapa saat yang lalu karena Hyemi sudah kehabisan tenaga untuk marah-marah.

“Tidurlah sebentar,” suruh Luhan sembari menyingkirkan helaian rambut yang menutupi mata Hyemi.

Hyemi menggelengkan kepalanya, “Tidak bisa,” sahutnya pelan. Suaranya lemas sekali karena sebelumnya ia terlalu banyak mengomel. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya meringis sambil meremas-remas tiang infus, ranjang, atau tangan Luhan.

Luhan sendiri tidak bisa tidur juga. ‘Ya bagaimana bisa tidur kalau istri mau melahirkan begini!’ batinnya. Ini adalah yang pertama untuknya, kalau boleh jujur ia merasa menunggui istri akan melahirkan itu seru juga sebenarnya meskipun sakit sempat disiksa-siksa, dan, tentu, dia tidak akan pernah kapok memiliki anak lagi meskipun harus mengalami penyiksaan yang sama tiap kali Hyemi melahirkan.

“Kenapa lama sekali…” keluh Hyemi dengan suara lirih dan air mata mengalir. Sudah berjam-jam ia berusaha menahan air mata, tetapi kali ini ia tidak bisa membendungnya lagi. Sakitnya benar-benar luar biasa. Dalam hati ia berdecak kagum pada ibu-ibu di luar sana yang telah berhasil melahirkan anak-anak mereka, terutama ibu kandungnya sendiri dan ibu Luhan. Dengan sakit sedahsyat ini, ia bertanya-tanya, bagaimana bisa mereka melaluinya? Apalagi ibu Luhan yang sudah melalui masa-masa seperti ini sebanyak tiga kali? Dan Hara yang melahirkan bayi kembar? Satu bayi saja rasanya sudah seperti akan mati, apalagi dua atau lebih!

Hyemi pun teringat akan mendiang ibunya. Ibu yang menanggung sakit sedahsyat ini tanpa ayah di sisinya. ‘Apa eomma meremas tiang infus? Meremas ranjang? Atau tangan orang lain? Tetapi siapa? Perawat?’ batinnya. Betapa ia berharap ibunya masih hidup agar ia bisa membalas jasa ibunya yang telah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya.

Dan sekarang ia memikirkan kemungkinan yang tidak diinginkan terjadi saat proses persalinan.

“Han…” panggilnya.
“Hm?”
“Kalau terjadi sesuatu nanti-”
“Apa yang kau katakan-”
“Berjanjilah padaku-”
“Hyemi!”
“Kau akan menyelamatkan Ziyu…” pinta Hyemi. “Kumohon.”
“Jangan bicara seperti itu…” ujar Luhan.
“A-a-aku takut. Bagaimana jika aku gagal? Dan kau harus memilih antara hidupku atau hidup Ziyu?” sahut Hyemi.

Luhan terdiam memikirkan ucapan Hyemi. Ia tak sempat memikirkan kemungkinan seperti itu sebelumnya. Dan sekarang memikirkannya jadi membuat ia ikut takut.

“Aku hanya ingin memastikan agar kau menyelamatkan Ziyu nantinya. Aku tidak berjuang sejauh ini untuk kehilangan Ziyu,” tutur Hyemi lagi.

“Hye…”

“Jika-” tanpa sadar air matanya mengalir deras. Ia bahkan tidak bisa bicara dengan jelas karena isakannya.
“Jika aku,” terisak, “Tidak bisa bertahan sampai akhir,” terisak lagi, “Katakan pada Ziyu, aku mencintainya! Katakan padanya aku tidak pernah menyesal memilikinya. Aku akan selalu mencintainya dari atas sana. Aku akan selalu bangga padanya. Dan aku akan selalu melihatnya!”

“Hei… Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja,” ujar Luhan sembari mengusap air mata Hyemi dengan lembut.
“Aku takut… Aku takut…”

“Kau adalah wanita yang kuat. Aku yakin kau bisa melalui semuanya hari ini. Kau akan melihatnya Hye. Kau akan melihat Ziyu! Ziyu kita! Kau bahkan akan langsung menggendongnya!” tutur Luhan, berharap ucapannya bisa meredakan rasa khawatir Hyemi.

***

Akhirnya, setelah penantian berjam-jam, Hyemi pun sudah sampai pada bukaan sempurna yang artinya sudah diperbolehkan untuk mengejan. Yang ada di ruang bersalin saat itu adalah Luhan dan Nyonya Lu. Tak henti-hentinya mereka menyemangati Hyemi.

“Dorong Hye! Ayo! Kau pasti bisa!” ucap Luhan di telinga Hyemi lalu mencium pelipis Hyemi. Satu tangannya merangkul pundak Hyemi, sementara tangannya yang lain menggenggam tangan Hyemi, membiarkan Hyemi meremasnya keras-keras. Di sisi lain, Nyonya Lu juga terus menyemangati Hyemi sambil menyeka keringat di wajah Hyemi.

“Sedikit lagi Nyonya Lu! Mengejan kuat-kuat!” instruksi Dr. Kwon.

Luhan mengecup kepala maupun pelipis Hyemi berkali-kali dan terus menyuruh Hyemi mengikuti instruksi dokter untuk menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan nafas, ataupun mengejan.

Tepat pukul 23.12 KST, akhirnya buah hati yang telah berbulan-bulan mereka nantikan lahir untuk melihat dunia. Lu Ziyu telah lahir pada tanggal 20 September 2014 dengan berat 2,8 kg dan panjang 49 cm.

Suara tangis bayi laki-laki memenuhi ruang bersalin. Tidak pernah Hyemi merasa sebahagia ini mendengar suara tangisan. Saking bahagianya ia, air mata kembali mengalir dari pelupuk matanya. Ia bahkan tidak bisa mendengar suara apapun lagi selain tangisan bayinya, termasuk suara Luhan yang sedari tadi mengucapkan terimakasih sembari mengecup kening, pelipis, pipi, dan kepalanya. Rasanya terlalu bahagia sampai-sampai ia merasa apa yang ia alami saat ini tak nyata.

Beberapa saat kemudian, perawat langsung menyerahkan bayi yang telah memiliki nama bahkan sebelum ia lahir ke dunia tersebut kepada Hyemi dan membantu Hyemi untuk mengganti posisinya agar Hyemi bisa menggendong Ziyu. Setelah si perawat meletakkan Ziyu di dada Hyemi, perawat tersebut menyuruhnya untuk segera menyusui Ziyu atau melakukan IMD, Inisiasi Menyusui Dini. Air mata lagi-lagi menggenang di pelupuk matanya. Sekali lagi, ia tidak pernah merasa sebahagia ini seumur hidupnya.

Sekarang ia tahu betapa dahsyatnya kebahagiaan menjadi seorang ibu. Saking bahagianya, ia bahkan tidak merasakan sakit di bagian bawahnya saat dijahit tim medis.

Luhan disampingnya juga tidak kalah bahagia. Matanya berbinar-binar sejak pertama kali pandangannya jatuh pada sosok mungil yang berada di tangan perawat. Kini melihat sosok mungil tersebut lebih dekat membuatnya semakin meledak-ledak. Lega, terharu, dan senang bercampur menjadi satu. Kata-kata bahkan tak mampu mengungkapkan betapa bahagianya ia sekarang melihat jagoan kecilnya berada di depan matanya.

Jemari Hyemi yang sedari tadi mengusap kepala Ziyu, kini berpindah ke pipi Ziyu. Ibu jarinya mengelus lembut pipi tembam Ziyu yang nampak seperti marshmallow. Meskipun masih belum terbiasa dengan apa yang sedang ia lakukan saat ini, dalam hati ia merasa aneh ada sesuatu (anak lebih tepatnya) menyusu pada dirinya, namun ia menepis perasaan tersebut dengan menyibukkan dirinya, mengagumi Ziyu kecil yang sangat imut.

“Halo Ziyu, ini mama. Terimakasih sudah lahir ke dunia ini dengan selamat dan sehat.” bisiknya.

-TBC-

a/n: adegan mau melahirkan sampe melahirkannya 40% pengalaman dua tante aku (mulai yg beringas sampe nangis2 wkwk), 30% info google, 30% karangan berdasarkan pengetahuan yg aku punya perihal hamil-melahirkan. Btw, kan katanya HB membantu bgt tuh buat org hamil apalagi menjelang persalinan, di sini ga aku cantumin karena bnyk anak kecil yg baca (tbvh gatau juga sih nulis detailnya kyk gimana wkwk) jadi anggap aja kalo sblm Hyemi melahirkan itu Han-Hye pernah HB bbrp kali. Maaf kalau ada kesalahan, maklum belum mengalami sendiri wkwk. Boleh dikoreksi kalo ada yg salah 🙂

seperti biasa, maaf lama bgt (males jelasin knp, yg dpt maen ke blogku pasti tau knp) btw itu luhan udh ketemu myungsoo 😂😂 DAN ZIYU UDAH LAHIR WOOHOO
buat yg nanya2 sehun-saera-jongin-baekhyun, maaf bgt kisah mereka ga bakal dijelasin terlalu detail di sini. mereka itu cuma selingan semacam bona-chanyoung di The Heirs gitu. kalo aku ga sibuk dan masih bersemangat (?) nulis, mungkin aku buatin spin-offnya. tapi kalo nggak yaudah, let it be ajalah. kalo ntar di ending mereka ber4 masih gantung ya mau gmna 😦 wkwk.
btw makasih bgt buat respon yg masih meledak di chap 13 kmrn, terharuuuuuu ternyata masih bnyk yg baca :” salam kenal buat reader baru, nama aku trik!
@ kang: halooooo. iya nih aku agak lupa, maaaf ToT abisan aku emg pelupa kalo cuma interaksi dlm wkt singkat hehe. kalo ga salah itu ff di ffindo juga bukan sih? apa judulnya, aku lupa ._.v
wih udh kebanyakan cing cong nih, sekian aja. makasih masih nungguin dan baca! see ya di final chap! muach

307 responses to “Beautiful Sin (Chapter 14)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s