[Series] Before The End – Chapter 6

download

  • Chapter 6: The Portal

Nama Author: Nissa A

Contact Author:

  • Twitter: @nissamarizky

Length: Chaptered

Main Casts:

  • Han Sanghyuk (VIXX)
  • Kim Seolhyun (AOA)

Other Casts:

  • Park Chorong (A-pink)
  • Nam Woohyun (Infinite)
  • Nam Jihyun (4Minute)
  • Jung Jinyoung (B1A4)
  • Park Hyungsik (ZE:A)

Genre: Fantasy, Romance, Mystery, Action, Family, AU.

Rating: PG-13

Notes Author: Adapted from The Shadowhunter’s Chronicle series by Cassandra Clare.

Link Before The End: ( Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8 Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 [END] — Released)

NO PLAGIARISM INTENDED.

 

Dengan perasaan senang, Sang Hyuk melangkah ke ruang latihan dimana Seol Hyun sedang latihan disana. Seikat bunga mawar segar tergenggam di tangannya.

Setelah mendengar cerita Tae Min kemarin, Sang Hyuk merasa terilhami. Hari ini ia sudah memutuskan untuk mengajak Seol Hyun kencan sebelum semuanya terlambat dan berakhir.

Dia baru hendak masuk ke ruangan yang pintunya terbuka lebar, ketika melihat Seol Hyun tidak sendirian, melainkan ada Chorong yang menemaninya di pinggir ruangan. Di pangkuan gadis itu ada sepiring nacho dengan campuran ayam cincang, potongan buah tomat dan daun selada, juga saus salsa.

Sang Hyuk memposisikan badannya dibalik pintu, sementara matanya terus menatap kedalam.

Chorong kelihatannya tidak menyadari keberadaan Sang Hyuk karena sedang mengunyah keripik dari nacho tersebut. Sedangkan Seol Hyun masih sibuk berlatih dengan pisau yang dilemparkan ke target-target yang dipasangkan di dinding.

Tangan Seol Hyun melemparkan pisaunya, dan pisau itu menancap di lingkaran terluar. Gadis itu mendesah pelan, lalu menghampiri Chorong di pinggir ruangan. Seol Hyun bisa saja melihat Sang Hyuk kalau temannya itu tidak cepat tanggap untuk bersembunyi lagi.

Begitu Seol Hyun duduk didepannya, Chorong berkata. “Sudah selesai latihannya?”

Seol Hyun mendesah lagi. “Percuma. Aku selalu tidak fokus.”

“Gara-gara si orang-orang mati?” tanya Chorong.

Seol Hyun mengangguk. “Begitulah,” katanya.

“Kan, ada Sang Hyuk.” Chorong tersenyum jahil.

“Oh, diamlah.” Sungut Seol Hyun, lalu mengambil beberapa keripik dan memakannya tanpa ampun.

Chorong menatapnya bingung. “Kenapa, sih? Apa gara-gara ini?”

Seol Hyun berhenti mengunyah saat melihat apa yang tangan Chorong acungkan, dan matanya membulat seketika. Di tangan Chorong, ada ponsel milik Seol Hyun yang ditinggalkannya disamping gadis itu saat dia mulai latihan. Dan yang membuatnya kaget, di layar touch screen itu terdapat foto Sung Jae yang sedang mencium pipinya. Seol Hyun bahkan tidak tahu ia masih menyimpan foto itu.

Eonni!” tegur Seol Hyun, dan merebut ponselnya. Ia bersumpah akan memasangkan kata kunci pada benda satu ini sampai akhir.

Tapi, bukannya memasangkan kata kunci, matanya malah terpaku pada sosok Sung Jae di layar ponselnya. Sung Jae yang sedang mencium pipinya dengan tulus sementara ia tersenyum. Sung Jae yang membuatnya kesal sehingga mereka putus. Sung Jae yang ternyata adalah iblis jenis Eidolon yang selama ini menyamar.

Tidak tahu kenapa, hati Seol Hyun sakit melihat foto itu. Tidak tahu kenapa, ia begitu merindukan Sung Jae. Ia membutuhkan Sung Jae di sisinya. Dan parahnya lagi, ia masih menyimpan rasa pada mantannya itu walaupun Sung Jae adalah spesies yang merupakan musuh terbesar kaum Seol Hyun.

Chorong menaruh tangannya di bahu Seol Hyun dan meremasnya. “Merindukan Sung Jae?” tanyanya, membuat Seol Hyun mengangguk lesu. “Lalu, bagaimana dengan Sang Hyuk?”

Sang Hyuk. Seol Hyun mengulang nama itu didalam hatinya. Pemuda itu sudah banyak sekali membantunya dengan melindunginya. Seol Hyun berhutang sekali pada Sang Hyuk dan ia tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Terkadang dia merasa bersalah karena dia hanya bisa duduk manis sementara Sang Hyuk menjadi pelindungnya dimana-mana.

Sementara itu, pemuda yang sedang dipikirkan Seol Hyun, masih berdiri didepan ruangan sambil mendengarkan semuanya. Tangannya mengkengram keras tangkai mawar digenggamannya sampai-sampai duri-duri itu menusuknya. Dia menjatuhkannya, lalu pergi, tanpa memedulikan rasa sakit di telapak tangannya maupun hatinya.

“Seol Hyun!”

Tanpa mengindahkan panggilan orang dibelakangnya, Seol Hyun terus melangkah cepat menyeberangi halaman depan sekolah untuk sampai ke gerbang. Suara-suara itu masih terdengar. Hingga akhirnya, sebuah tangan berperban menahan lengannya.

“Kenapa kau meninggalkanku?” seru Sang Hyuk sambil mengatur nafasnya karena berlari.

“Memangnya kenapa?”

Sang Hyuk melongo mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Seol Hyun. Apakah gadis ini sudah lupa kalau mereka tinggal seatap sekarang?

“Kau lupa kalau kita sama-sama tinggal di Institut?” kata Sang Hyuk pelan agar orang-orang yang lewat didekat mereka tidak mendengarnya.

Seol Hyun menyentak tangan Sang Hyuk dari lengannya. “Aku tahu dan aku tidak lupa. Tapi, sekarang aku mau pulang naik bus.”

“Lho, untuk apa?” tanya Sang Hyuk bingung. “Kau perlu membayar jika naik bus dan tidak perlu membayar jika naik motorku. Kenapa harus repot memilih yang pertama?”

“Sang Hyuk, tolonglah, biarkan aku sendiri.”

“Biarkanmu sendiri?” ulang Sang Hyuk. “Kau kira dengan sebuah klan vampir yang mengincarmu, aku bisa meninggalkanmu sendiri?”

“Kenapa kau begitu peduli padaku?”

“Karena sudah merupakan tugasku untuk melindungimu!” teriak Sang Hyuk, membuat beberapa orang berhenti berjalan untuk memperhatikan dua orang itu dengan tatapan aneh. Sang Hyuk menghela nafas, lalu berbicara kembali dengan pelan. “Aku yang mengenalkanmu pada dunia ini, aku yang membuatmu masuk ke dunia ini. Maka, sudah menjadi tanggung jawabku untuk melindungimu dari kejahatan makhluk dunia ini, Kim Seol Hyun.”

Seol Hyun terdiam sebentar, berusaha meresapi apa yang terjadi, lalu ia berkata. “Aku—tidak butuh,”

Bodoh, kata Seol Hyun dalam hati. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Kenapa ia sebodoh itu untuk mengatakan kata-kata sarkastis tadi?

“Begitu?” kata Sang Hyuk sinis. “Kalau begitu, aku tidak akan membantumu lagi.”

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut pemuda itu. Seol Hyun menatap Sang Hyuk tak percaya. Ada sentuhan di hatinya yang membuatnya merasa sakit karena Sang Hyuk mengatakan itu.

Sementara Sang Hyuk pergi dari hadapan Seol Hyun, Seol Hyun merasa ia kehilangan seluruh hidupnya sekarang juga.

“Sang Hyuk-a? Kau didalam?

Yang terdengar hanyalah sebuah erangan malas. Nam Woo Hyun membuka pintu kamar itu dan mendapati parabatainya sedang berbaring membelakanginya menghadap jendela kamar yang memperlihatkan hujan salju diluar sana. Woo Hyun masuk sambil membawa nampan makan malam dan duduk di kursi meja belajar Sang Hyuk, lalu menaruh nampannya di meja itu.

“Aku membawakanmu makan malam.” Katanya.

Sang Hyuk mengerang lagi.

Woo Hyun menyerngit. “Ada apa, sih? Seol Hyun? Kalian bertengkar?”

Sang Hyuk berguling dan menatap Woo Hyun sengit. “Diamlah. Kau tidak tahu apa-apa.”

“Tentu saja aku tahu. Aku parabataimu.” Ujar Woo Hyun. “Kita terkoneksi, ingat?”

“Oke, aku tidak jadi mengajaknya kencan kemarin, karena dia bilang dia masih menyimpan perasaan pada si Eidolon. Dan hari ini, dia bilang dia tidak butuh perlindungan dariku lagi dan aku bilang aku tidak akan membantunya.”

Man, kau serius mengatakan itu padanya?” tanya Woo Hyun tak percaya.

Sang Hyuk mengangguk lesu. “Keluar begitu saja. Aku terlalu kesal sehingga tidak bisa mengontrol diriku.”s

“Dengar, Sang Hyuk. Selalu ada kegetiran yang mengiringi sebuah kebahagiaan saat kita menyukai seseorang, begitulah kata buku yang sering kubaca akhir-akhir ini. Dan aku sering merasakannya dengan Chorong.”

“Bagaimana bisa? Kalian kan sudah saling mencintai.” Elak Sang Hyuk.

Woo Hyun menepuk kening. “Kau ini benar-benar, ya. Kau kira pacaran dengan Fana itu gampang? Sama sekali tidak. Aku harus membagi waktu antara berburu dan berkencan dengannya, terlebih lagi harus mengarang alasan jika telat datang kencan kalau dia tidak boleh tahu tentang dunia kita.”

“Lalu, bagaimana dia tahu lokasi Institut kalau kau tidak pernah memberitahunya apa-apa tentang dunia kita?”

“Emm—“ Woo Hyun bingung. Sang Hyuk mendengus.

Tepat setelah itu, pintu kamar Sang Hyuk diketuk. Suara Ji Hyun terdengar dari luar, meminta untuk masuk. Sang Hyuk mengiyakan, dan pintu itu terbuka dan Ji Hyun muncul dari sana.

“Hai,” katanya ringan. “Kau sudah habiskan makan malammu, Sang Hyuk-a?”

“Belum. Pemuda tampan satu ini sedang galau.” Kata Woo Hyun jenaka.

Ji Hyun tersenyum kecil, lalu duduk di pinggir ranjang. “Boleh kutebak? Pasti Seol Hyun! Aku juga melihatnya murung sepanjang makan tadi. Benar, kan?” tanyanya. Sang Hyuk mengangguk. “Memangnya apa yang terjadi?”

“Tanya saja pada adikmu.” Kata Sang Hyuk malas. Lalu, Woo Hyun menceritakan pada kakaknya apa yang terjadi.

Tepat setelah itu, Ji Hyun memekik. “Ya ampun! Hanya dengan masalah sepele seperti itu saja kamu mogok makan? Kau ini pria, Sang Hyuk-a. Pria tidak boleh lemah, apalagi Pemburu Bayangan!”

“Aku tidak lemah!” bantah Sang Hyuk keras.

“Kalau menurutmu begitu, datangilah dia dan bersikaplah seperti seorang gentleman. Minta maaf dan buat dia mengerti bahwa kau tidak benar-benar bermaksud berkata seperti itu.” Kata Ji Hyun.

Noona benar.” Timpal Woo Hyun seraya tersenyum tipis. “Perempuan bisa saja tersinggung hanya dengan kata-kata kecil walaupun kau tidak bermaksud mengatakannya.”

Perempuan memang merepotkan, pikir Sang Hyuk. Tapi, demi kebaikan hubungannya dengan Seol Hyun, Sang Hyuk akan melakukan apapun untuknya.

Akhirnya, Sang Hyuk memutuskan. “Oke, aku akan ke kamarnya.”

Ji Hyun dengan cepat melesat ke arah pintu dan merentangkan kedua tangannya, memblokir jalan bagi Sang Hyuk. “Habiskan dulu makanmu!” katanya galak.

Seol Hyun sedang menuliskan jawaban pada soal di PR Matematika saat pintu kamarnya diketuk. Ia bangkit dan betapa kagetnya dia saat melihat Sang Hyuk begitu pintu kamarnya dibuka.

“Hei.” Sapa Sang Hyuk ringan. “Boleh aku masuk?”

Seol Hyun mengangguk kaku, lalu memberi jalan pada Sang Hyuk yang hendak masuk ke kamarnya. Sementara Sang Hyuk duduk di pinggir ranjang, Seol Hyun duduk kembali di meja belajar, kembali mengerjakan PR.

Ruangan ini begitu hening sehingga Seol Hyun bisa mendengar hembusan napas Sang Hyuk yang berat dan mencium aroma parfumnya yang terbawa angin dari pendingin ruangan. Seol Hyun tidak bisa fokus. Hembusan napas itu terdengar sangat indah di telinganya, dan aroma parfum itu membuatnya terlena.

“Kamu seharusnya menjawab pertanyaan tentang Trigonometri, bukannya mengukir namaku di bukumu.”

Seol Hyun menjengit saat Sang Hyuk tiba-tiba muncul di sampingnya. Dia melihat bukunya, dan terkesiap saat ia malah menulis nama Sang Hyuk dalam hangeul disana. Ia menunduk malu dan segera mengambil penghapus.

“Aku minta maaf soal tadi.” Kata Sang Hyuk tiba-tiba. “Aku tidak benar-benar ingin mengatakannya.”

Seol Hyun menatapnya. “Aku juga minta maaf. Aku harusnya berterima kasih padamu karena sudah bersedia untuk menjagaku, bukannya memintamu menjauh karena kau sudah terlalu banyak membantu.”

“Tidak usah sungkan. Aku melakukannya dengan senang hati, dan aku tidak meminta imbalan karenanya.”

“Benarkah?” mata Seol Hyun berbinar. “Jadi, kamu akan melindungiku lagi?”

“Selalu.” Kata Sang Hyuk lembut, lalu tersenyum.

Seol Hyun ikut tersenyum, lalu berkata. “Kalau begitu, bagaimana jika aku memberimu imbalan?”

Senyum Sang Hyuk menghilang. “Sudah kubilang, aku tidak membutuhkannya.” Katanya tegas.

“Tapi, jika aku mau bilang kalau aku ingin menemanimu mengunjungi ibumu di Idris, apa kau akan bersedia diberi imbalan?” tanya Seol Hyun.

“Tidak bisa. Kau tidak mengerti Idris. Disana ada danau Lyn yang beracun bagi Pemburu Bayangan.”

“Tapi, kamu akan melindungiku, kan?” tanya Seol Hyun, membuat Sang Hyuk terdiam terkena sekakmat. Seol Hyun tersenyum. “Ada alasan lagi untuk menolak?”

Setelah berpikir lama, Sang Hyuk akhir mengangguk. “Baiklah,” katanya kemudian. “Dan Kim Seol Hyun, jangan coba-coba untuk menjauhiku lagi.”

Kalimat itu menjadi akhir dari percakapan mereka malam ini. Dan akhirnya, mereka dapat bermimpi indah.

Cahaya matahari menyentil jendela kamar dan suara burung berkicau membuat Sang Hyuk terbangun dengan segar pagi itu. Sang Hyuk duduk, menggosok matanya, lalu merentangkan kedua tangannya sepanjang mungkin untuk mengumpulkan nyawa.

Hari ini, Ji Hyun akan mengantar Sang Hyuk dan Seol Hyun mengunjungi apartemen Jung Jin Young. Dan dalam hitungan jam, Sang Hyuk (kemungkinan besar) akan bertemu Ibunya. Memikirkan hal itu saja sudah membuat Sang Hyuk senang, sehingga ia cepat-cepat turun dari ranjang untuk mandi dan bersiap-siap.

Beberapa waktu kemudian, Sang Hyuk keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia sudah berpakaian lengkap. Untuk kali ini, ia memakai kaus, vest bertudung, celana jins, dan sepatu bot dengan sebuah belati disangkutkan ke puncak bot kirinya. Semuanya berwarna hitam, kecuali kausnya yang berwarna abu-abu, tapi tetap tidak menghilangkan kesan Pemburu Bayangan pada dirinya. Untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi, ia mengikatkan sarung pedang beserta isinya di pinggang. Ia lalu mengambil mantel musim dingin dan segera keluar.

Sang Hyuk bertemu Seol Hyun tepat ketika ia membuka pintu kamarnya. Seol Hyun tampak menakjubkan dengan pakaian serba hitam. Dia memakai kamisol, jaket kulit, skinny jeans, dan sepasang sarung tangan kulit tanpa bagian jari. Rambutnya dikucir kuda ke belakang.

Mereka menemukan Ji Hyun di aula depan Institut. Berbeda dengan mereka berdua, Ji Hyun malah terlihat manis dan preppy. Dia memakai kemeja putih, jumper hangat warna krem, mantel krem, skinny jeans hitam, dan sepatu oxford Forever 21. Dirambutnya ada bando pita.

Sang Hyuk menggelengkan kepalanya melihat penampilan Ji Hyun. Setampan itukah Jung Jin Young sehingga Ji Hyun naksir dan rela dandan deminya?

Tiga orang itu segera pamit pada Eric yang kebetulan sedang berusaha meminggirkan salju di pekarangan Institut seorang diri. Dengan menggunakan kereta bawah tanah, mereka berangkat ke distrik Gangnam tempat Jin Young tinggal.

Dan masalah datang saat mereka sampai di tempat tujuan. Mereka sama sekali tidak mempunyai akses untuk naik ke atas karena harus memakai kunci apartemen, sementara itu mereka juga tidak tahu di apartemen berapa Jin Young tinggal.

“Bagaimana ini?” tanya Seol Hyun cemas.

“Masa kau tidak tahu nomor apartemennya?” Sang Hyuk bertanya pada Ji Hyun, tak habis pikir.

Ji Hyun mengangkat bahu. “Kita tunggu saja di lobi sampai dia muncul. Dia punya rambut merah menyala dan mata kuning seperti kucing sebagai tanda warlocknya.”

Berjam-jam mereka menunggu, tapi si warlock itu tetap tak menampakkan batang hidungnya. Sang Hyuk sudah bosan setengah mati, dan Seol Hyun bahkan sempat tertidur dengan kepala tersandar di bahu Sang Hyuk. Ji Hyun dengan enaknya main game di ponselnya.

Saat Sang Hyuk mau memutuskan untuk pulang saja, pintu otomatis lobi bergeser dan masuklah seorang laki-laki terbungkus mantel—oh, tidak, tapi sebuah jubah!—warna hitam. Orang itu menatap Sang Hyuk dan dua orang lainnya, lalu menghampiri mereka.

“Wah, wah, anak-anak Nephilim.” Katanya.

Ji Hyun mendongak. “Jung Jin Young.”

Sang Hyuk memutar bola matanya, menatap langsung di mata Ji Hyun, dan langsung menyerngit. Kalau Ji Hyun sebegitu sukanya pada Jin Young, kenapa matanya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sedang berhadapan dengan orang yang disukainya? Kenapa matanya datar-datar saja, seperti bertemu orang yang tidak ada hubungan apa-apa dengan dirinya?

“Mau apa kalian? Apa Eric perlu Portal untuk pergi ke Idris?” tanya Jin Young.

“Ya, tapi bukan Ayahku.” Jawab Ji Hyun, lalu mengedikkan dagu pada Sang Hyuk. “Tapi dia.”

Jin Young menatap Sang Hyuk. Dan seketika itu pula Sang Hyuk melihat mata kuningnya yang tajam seperti kucing. “Oh, Han Sang Hyuk, kan? Mau bertemu Ibumu?”

Sang Hyuk terbelalak. “Kau kenal ibuku?”

“Tidak begitu.” Kata Jin Young. “Ayo, kita naik. Nanti para Fana keburu penasaran.”

Apartemen Jin Young berada di lantai dua belas. Benda-bendanya kebanyakan barang-barang antik. Di ruang tengah, terdapat sofa yang menghadap langsung ke televisi. Di sofa itu, duduklah seorang pria yang kira-kira seumuran Jin Young. Ada dua buah tanduk pendek di kepala orang itu, menandakan bahwa dia juga warlock.

Dan saat itulah Sang Hyuk melihat perubahan pada Ji Hyun. Tubuh gadis itu tiba-tiba saja membeku di tempat. Matanya memancarkan kerinduan, dan begitu melekat pada pria di sofa itu.

Pemuda itu menoleh dan yang pertama dilihatnya adalah Ji Hyun. Ia tersenyum senang. “Ji Hyun noona, senang bertemu denganmu lagi.”

Ji Hyun langsung tersadar. “Ah—aku juga senang bertemu denganmu, Hyung Sik-a.” katanya malu.

Hyung Sik menggeser tempat duduknya, lalu menepuk tempat kosong disampingnya. “Ayo, duduk.”

Setelah Ji Hyun duduk dengan manis disamping Hyung Sik, Sang Hyuk dan Seol Hyun diajak oleh Jin Young menuju dapur.

“Hyung Sik itu siapamu?” tanya Sang Hyuk.

“Dia saudara angkatku. Kami hanya berbeda dua hari.” Jawab Jin Young. “Dia dan Ji Hyun sudah saling suka sejak pertama kali bertemu saat keluarga Nam membutuhkan bantuanku untuk membuatkan mereka Portal ke Idris setahun yang lalu. Sebulan terakhir ini mereka mulai bertemu diam-diam.”

“Jadi, mereka pacaran?” Seol Hyun ikut bertanya.

Jin Young mengangkat bahu. “Mana kutahu. Setiap kutanya, Hyung Sik malah tersenyum sendiri seperti orang gila.”

“Huh, jadi ini alasan mengapa dia terlihat aneh saat aku menyebutkan namamu. Kukira dia naksir kau.” Kata Sang Hyuk.

Jin Young tersenyum tipis. Dia lalu menunjuk dua buah kursi didepan wastafel pencuci piring. “Tunggu di sana.”

Selagi Sang Hyuk dan Seol Hyun duduk di kursi itu, Jin Young melangkah kearah ujung dapur, dimana ada sebuah kulkas dan lemari penyimpanan disana. Dia menggeser kulkas, dan terlihatlah pintu sebuah Portal.

Sang Hyuk bangkit dan mendekat, dan takjub melihat pemandangan didepannya. Portal itu besar dan keperakan. Bentuknya seperti gerbang setinggi tiga meter. Pada Portal itu terdapat rune-rune menyala yang saling menjalin.

“Kau pernah berpergian dengan Portal sebelumnya?” tanya Jin Young. Sang Hyuk menggeleng. “Kalau begitu, yang perlu kaulakukan hanyalah memikirkan baik baik tempat tujuanmu.”

“Dimana lebih tepatnya aku bisa menemukan Ibuku? Idris begitu besar, tidak mungkin aku bisa menemukan tempat persembunyiannya secepat kilat.” Ujar Sang Hyuk.

“Carilah sebuah rumah di bagian paling dalam Hutan Brocelind. Rumahnya bercat hijau persis seperti daun, dan ditutupi dahan-dahan pohon berserta daun yang lebat.” Terang Jin Young, lalu beralih pada Seol Hyun. “Kau, kalau kau beruntung, kau bisa menemukan Bibimu disana.”

Seol Hyun mengerutkan kening. “Mengapa kau begitu tahu banyak mengenai hal-hal yang tidak kami tahu? Apa kau intel keluarga kami?”

Jin Young mengedipkan sebelah mata kucingnya. “Kau tidak perlu tahu, Nah, semoga beruntung.” Lalu mendorong Sang Hyuk menuju Portal.

Sang Hyuk memikirkan Hutan Brocelind di kepalanya, lalu masuk ke Portal. Ia langsung merasakan sensasi aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dia ditelan kegelapan, tubuhnya terasa terombang-ambing kesana kemari dengan kecepatan maksimal, membuatnya pusing seketika. Sang Hyuk memegang sarung pedangnya erat-erat agar tak terlepas. Tak lama kemudian, tubuhnya berdebam dengan tanah.

Perlahan, ia bangkit dan segera membersihkan tanah dari pakaiannya. Beberapa saat kemudian, muncul Seol Hyun di hadapannya. Dia langsung membantunya berdiri.

“Ini yang namanya Hutan Brocelind?” tanya Seol Hyun.

“Kelihatannya begitu. Semoga saja kita tidak nyasar.” Jawab Sang Hyuk.

Mereka mulai melangkah menyusuri hutan. Rumput-rumput tinggi menusuk ujung sepatu bot Sang Hyuk seraya ia melangkah. Pohon-pohon disini mempunyai banyak daun dan cabang, sehingga hanya sedikit cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela daun.

“Sang Hyuk, tunggu,” Tangan Seol Hyun menarik lengan Sang Hyuk, lalu menunjuk ke sebuah arah. Awalnya, Sang Hyuk harus menyipit berkali-kali sampai dia menemukan sebuah rumah bercat hijau ditutupi dua pohon rendah yang rimbun. Pintu rumah itu bahkan tidak terlihat seperti pintu bahkan orang-orang bisa salah mengira pintu itu sebagai bagian dari dinding.

“Penglihatanmu tajam juga,” Sang Hyuk menyeringai, lalu menuntun Seol Hyun menuju rumah tersebut.

Sama sekali tidak terlihat adanya kehidupan di rumah ini. Sang Hyuk bahkan sudah mengetuk berkali-kali dan sama sekali belum ada jawaban. Sampai akhirnya Seol Hyun memasukkan tangannya ke saku vest Sang Hyuk untuk mengeluarkan stela, lalu menggambar rune untuk membuka kunci pintu yang baru dipelajarinya dari Se Ra.

“Hei, kau pintar.” Puji Sang Hyuk.

Pintu mengayun terbuka. Dua Nephilim itu masuk kedalam, menggunakan witchlight sebagai penerangan, menghadapkannya satu persatu ke benda-benda di ruang depan. Ada dua kursi berlengan dengan sebuah kaus kotor dibawahnya, meja dengan taplak yang sudah sobek, dan benda benda tak berguna lainnya.

“Kamu yakin Hye Jeong dan warlock itu tidak berbohong?” tanya Seol Hyun tiba-tiba.

Sang Hyuk mengangkat bahu. “Mana kutahu.”

“JANGAN BERGERAK!”

Tiba-tiba, terdengar suara perempuan berseru. Seol Hyun langsung mengcengkeram lengan Sang Hyuk, dan Sang Hyuk kontan mengarahkan witchlight di tangan satunya kemana-mana, tapi tak dapat menemukan seseorangpun.

“Siapa itu?!” tanya Seol Hyun takut-takut.

“JANGAN BERGERAK!” katanya lagi. “JANGAN BERGERAK DAN SEBUTKAN NAMAMU!”

Sang Hyuk berusaha tenang. “Namaku Han Sang Hyuk dari Institut Seoul, dan ini rekanku Kim Seol Hyun. Kami ingin bertemu dengan manusia serigala Yang Ji Won.”

Yang terjadi berikutnya adalah keheningan. Tidak ada suara apa-apa selain suara napas dua Nephilim itu yang berbeda, Sang Hyuk dengan napas beratnya dan Seol Hyun bernapas dengan tegang. Tapi akhirnya, muncullah seorang gadis dengan rambut hitam panjang, belati di tangannya sambil menatap Sang Hyuk dengan tatapan yang begitu—Sang Hyuk rasa dia salah paham, cahaya witchlight ini pasti salah—merindu?

Gadis itu membuka mulut. “Oppa?”

 TBC

Link Before The End: ( Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8 Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 [END] — Released)

One response to “[Series] Before The End – Chapter 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s