[Series] Married With A Gay – Chapter 7

mwag-copy

Title     : Married With A Gay

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Angst

Main Cast: Xi Luhan as Lu Han, Ariel Lau (OC), Zhang Yi Xing as EXO M Lay

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : G.Lin @CafePoster

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

***

(Flashback)

Yi Xing kembali membalik kepalanya ke arah samping kanan, berusaha untuk meminimalisir rasa bosan yang sudah menggerogotinya sejak tadi. Perpustakaan bukan tempat yang asyik, dan kesalahan besar ketika Yi Xing mengiyakan ajakan Luhan kemari untuk mengerjakan tugas esai dari guru bahasa inggris mereka. bahasa inggris… bahasa terkejam yang pernah Yi Xing kenal setelah bahasa korea yang mati-matian harus dikuasainya.

“Luhan…” panggil Yi Xing akhirnya, ia sama sekali tak habis pikir bagaimana bisa Luhan begitu betah dengan tempat yang tingkat kesunyiannya mengerikan, belum lagi bau buku yang menusuk hidungnya, perpustakaan salah satu tempat paling menyiksa.

“Hmmm?” Luhan tidak menoleh dan tetap sibuk menuliskan ide-ide yang sepertinya mulai berjatuhan ke atas kepalanya.

“Kau tidak merasa bosan?”

Luhan mengangkat kepalanya dan menjatuhkan pandangannya ke arah Yi Xing yang sedikit mengerucutkan bibirnya. Dia itu tidak lucu, Yi Xing sama sekali tidak cocok bertingkah aegyeo seperti itu.

“Otakku sedang sibuk, mana mungkin aku merasa bosan?”

“Menurutmu aku harus menulis tentang apa?”

Luhan pun terpaksa menutup bukunya dan melipat kedua tangannya, memperhatikan Yi Xing yang akan mengeluarkan segudang keluhannya. Yi Xing cukup tampan, terkenal, murid kesayangan guru musik dan sudah memenangkan banyak perlombaan musik yang Luhan sendiri tidak yakin ada berapa banyak jumlahnya. Tapi sayangnya,Yi Xing bukan murid berprestasi dan rajin. Seperti sekarang ini, Yi Xing akan lebih suka untuk merengek tentang apapun yang menurut Luhan sama sekali tidak penting.

“Kenapa kau malah bertanya padaku? Mana kutahu kau sedang memikirkan apa?”

Yixing pun menegakkan punggungnya dan menampakan wajah berpikirnya. Yang Yi Xing pikirkan hanya soal musik, soal pianonya. Lagu apa yang akan dibuatnya, bagaimana agar ia bisa menonton konser artis favoritnya, dan yang terakhir…

“Pernikahan?”

Luhan langsung terbatuk saat mendengar jawaban Yi xing yang agak kurang… entahlah. Apa-apaan itu? Pernikahan? Yi Xing akan menikah? Dengan siapa? Dan… kenapa? Luhan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Yi Xing yang agak mencondongkan tubuhnya ke depan. Sialan. Ia selalu seperti ini tiap kali Yi Xing meminimalisir jarak mereka, jantungnya sering berdebar tidak jelas.

“Kakakku dilamar pria, tapi ibuku tidak langsung merestuinya. Yang benar saja, bagaimana mereka akan menikah sedangkan mereka sendiri belum lulus kuliah?” Yi Xing pun kembali memundurkan tubuhnya, “Tapi kupikir menikah itu seru. Hidup bersama orang yang kau cintai, bertemu setiap hari, melihat senyumnya setiap hari, bahkan bisa tidur bersama, juga lebih… au! Kenapa kau memukulku?!” sewot Yi Xing saat Luhan memukulkan pensilnya ke kepala Yi Xing dengan tega.

“Pikiranmu sudah terlalu jauh, bodoh!”

“Memangnya apa yang salah? Setiap yang menikah pasti akan melakukan itu, kan?”

Luhan menggeleng pelan dan berusaha mengembalikan fokusnya yang sempat buyar tadi. Konyol sekali Zhang Yi Xing ini. Dan juga, sejak kapan Yi Xing suka membicarakan hal-hal seperti itu? Mengganggu telinganya saja.

“Tapi…” Luhan tetap menulis saat mulai kembali angkat suara, “Memangnya siapa yang kau sukai? Maksudku, kelihatannya kau sedang menyukai seseorang sampai kau terlihat antusias begitu.”

Yi Xing menarik kedua sudut bibirnya. Entahlah. Ia tidak ingin membahas soal mantan pacar Luhan yang dicampakannya begitu saja. Rasanya aneh saja, dan juga Luhan pasti akan merasa bersalah karena telah ‘merebut’ kebahagiaan Yi Xing. Luhan memang bukan pria bengsek yang suka memainkan perempuan, hanya saja… entahlah. Luhan sangat aneh saat berhadapan dengan perempuan, terlalu pasif dan kaku.

“Tidak. aku hanya berpikir, mungkin saja itu menyenangkan. Aku akan memberikan apapun dan melakukan apapun yang bisa membuatnya tetap tersenyum, merasa bahagia dan merasa nyaman denganku,” Yi Xing tidak bohong. Ia serius dengan yang satu ini meskipun ia dibuat patah hati, tapi bukan berarti ia akan kehilangan kesempatan untuk membuat seseorang bahagia seperti impiannya ini, kan?

Luhan mengangguk pelan. Dan kembali menulis. Tiba-tiba saja ia merasa tidak rela jika melihat Yi Xing menggandeng gadis lain, tersenyum pada gadis itu dan perlahan menjauhinya. Itu… buruk.

“Kau sendiri, jika kau menikah kau akan melakukan apa untuk istrimu?” tanya Yi Xing antusias, ia ingin tahu bagaimana si kaku Luhan memperlakukan perempuannya kelak.

Di sisi lain, Luhan justru kelewat terganggu dengan pertanyaan yang dilempar Yi Xing. Pernikahan? Wanita? Bahkan wanita yang benar-benar ia sayangi saat ini hanya ibunya. Selama berpacaran kemarin saja, ia selalu membuat kesalahan dan membuat pacarnya merajuk. Artinya Luhan tidak bisa melakukan sesuatu yang benar untuk perempuan, kan?

Luhan pun memutar bola matanya ke arah bola mata Yi Xing yang masih menatapnya penasaran. Ia tidak yakin dengan semua perasaan ini, ia juga tidak pernah membenarkannya, bahkan ia pernah menangis…

“Mungkin aku akan memberikan sesuatu yang dibencinya,” jawab Luhan akhirnya. Asal-asalan, tentu saja.

“Kenapa?”

“Agar ia bisa mencintai apa yang dibencinya karena ia mencintaiku,” lagi, Luhan menjawab asal.

“Hey, itu tidak romantis sama sekali. Bagaimana jika istrimu malah membencinya dan bukan menyukainya?”

Luhan hanya mengedikan bahunya. Karena alasan sesungguhnya, Luhan mencintai sesuatu yang dibencinya….

Zhang Yi Xing. Ia mencintai seseorang yang membuatnya dilingkupi rasa benci pada dirinya sendiri.

Zhang Yi Xing.

***

Some years later…

Yi Xing berjalan mengendap mendekati Ariel yang sedang tenggelam dalam tulisan di laptopnya. Selalu seperti itu, Ariel akan mengeluhkan banyak hal jika Yi Xing mulai mengabaikannya, tapi gadis itu tidak akan peduli jika Yi Xing yang diabaikannya. Bukankah itu sangat menyebalkan?

“Happy Birthday, Babe…” Yi Xing mengalungkan tangannya di leher Ariel sambil menunjukan sebuah kotak kecil berwarna coklat di tangannya.

Ariel hampir saja berteriak –bahkan berencana untuk memukuli laki-laki itu karena telah berani membuat idenya yang paling sempurna –dari semua ide sempurnanya- hancur berantakan. Tadi, di fanficnya, ia membuat adegan bagus untuk Changmin…

Tapi ternyata adegan bagus itu malah muncul dari Yi Xing yang tiba-tiba memberikan kejutan kecil itu pada Ariel.

“Kau memberiku kalung?” tebak Ariel antusias setelah ia menyambar kotak dengan warna favoritnya itu.

Yi Xing menggeleng pelan, “Kenapa aku harus memberimu kalung?”

“Cincin?” tebak Ariel lagi dengan wajah kekanak-kanakkan.

“Kenapa tidak kau buka saja, bodoh?” kata Yi Xing sambil menoyor kepala Ariel dengan tidak berperasaan. Salah satu hal yang paling Ariel benci dari Yi Xing, tapi merupakan hal yang membuatnya selalu rindu pada Zhang Yi Xing.

“Kasar sekali.” Gerutu Ariel sebal. Ia pun buru-buru membuka kotak berwarna coklat yang entah mengapa terlihat sangat sangat cantik hari itu.

“Jam tangan?” Ariel mengangkat kepalanya bingung saat ada sebuah jam tangan berwarna hitam yang terdampar dengan cantik di dalam kotak itu.

“Aku hampir tidak pernah melihatmu memakai jam tangan. Mungkin saja, dengan memberikan sesuatu yang tidak kau begitu sukai, malah akan membuatmu selalu ingat, pernah ada orang yang berusaha dikenang lewat sesuatu yang tidak disukainya.”

(Flashback end)

***

Ariel kembali memperhatikan sebuah gaun panjang berwarna peach lembut yang dipadukan dengan sebuah sepatu hitam dengan tinggi sekitar 4-6 cm. belum lagi sebuah jepit rambut cantik yang serasi dengan gaun peach itu. Dan yang membuatnya semakin terkejut, ia juga mendapat sebuket bunga mawar yang terang merahnya cukup menusuk mata Ariel.

Dulu, pernah ada seseorang yang minta dikenang lewat sesuatu yang tidak disukainya –meskipun sebenarnya Ariel hanya tidak terbiasa saja, bukan tidak suka. Dan hari ini, untuk pertama kalinya di seumur hidupnya, seseorang yang cukup penting untuknya memberikan barang-barang yang paling anti untuk disentuhnya, bahkan untuk diliriknya.

Sebuah gaun selutut –meskipun gaun yang Luhan berikan tetap terkesan anggun, sepatu heels yang bisa membunuh kakinya –ia tidak pernah memakai heels kecuali di hari pernikahannya, dan sebuket bunga.

Mawar. Luhan memberikannya sebuah mawar. Dan… entahlah. Dengan cengeng, Ariel malah menyeka air matanya yang tidak mau berhenti untuk meleleh. Sangat menyebalkan, bukan? Ia harusnya merasa terharu, atau mungkin saja saat ini ia sedang menangis karena terharu.

Ia tidak suka mawar. Tidak. tepatnya ia tidak suka bunga. Dari semua jenis bunga, yang bisa ditoleransinya hanya bunga hanamizuki dengan alasan, bunga itu selalu menjadi judul lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi favoritnya. Meskpun sebenarnya ia tidak yakin apakah ia akan benar-benar menyukai hanamizuki seandainya ia bisa melihat langsung bunga itu. Dan dengan konyolnya Luhan malah memberikan benda yang bahkan tidak pernah ia lirik.

Luhan baik. Ia tahu Luhan sangat sangat baik. Terlepas bagaimana kekurangan yang ia miliki saat ini, Luhan terlampau sempurna untuk menjadi sosok pria… seandainya tidak ada nama ‘Yi Xing’ yang pernah menyentuh bagian terpenting dalam hidup Luhan.

Tentu saja Luhan pernah merasa sakit saat tahu Yi Xing memiliki kekasih. Dan dengan tololnya, Ariel justru selalu menutup mata hatinya untuk ‘melihat’ Luhan.

Mungkin ini giliran Ariel yang harus bersikap baik untuk Luhan. ya. Ini gilirannya.

***

“Kau sepertinya sangat suka roti, ya.” ariel langsung memutar tubuhnya kaget saat suara Luhan tiba-tiba memenuhi ruang makan. Ia bahkan tidak mendengar suara langkah kaki Luhan. dia seperti hantu saja…

“Tidak juga. Aku hanya terbiasa sarapan dengan roti,” aku Ariel kikuk. Ia memang membuat sesuatu yang lain sesekali, tapi ia juga lebih sering menghidangkan sesuatu yang berhubungan dengan roti untuk sarapan pagi. Dan selama ini –bahkan Yi Xing sekalipun- tidak pernah benar-benar membahas soal ini.

Tidak. Tidak ada sebuah roti tawar dengan selai di atas meja, pagi ini Ariel membuat sandwich yang diintipnya dari internet. Bukan sandwich biasa yang dibuatnya saat ia masih tinggal sendiri di Korea dulu.

Luhan pun mengangguk pelan dan menarik kursinya setelah ia meneguk air putih di atas meja, “Saat di Korea kau juga suka makan roti?” tanya Luhan lagi, masih membahas soal roti.

“Kau tidak suka?” Ariel bertanya balik dengan kikuk –lagi.

Luhan justru menarik kedua sudut bibirnya dengan nada lucu. Oh, yang benar saja. Ariel selalu seperti itu tiap kali ia menanyakan sesuatu yang berhubungan dengannya. Terlalu sensitif mungkin? Dan ini membuat Luhan sedikit bingung tiap kali bicara dengan Ariel. Bahkan ia sering kehilangan tema obrolan saat bersama Ariel. Bukankah itu sebuah hubungan yang buruk?

“Kau sensitif sekali. Bukan aku tidak suka, aku hanya bertanya, kok,” kata Luhan sambil menarik piring sandwich di depannya, “Kau terlihat western sekali. Padahal kau tinggal di Kanada hanya saat kau kecil,” Luhan pun menggelengkan kepalanya pelan.

Ariel pun ikut duduk di depan Luhan dan ikut memakan sandwich buatannya. Well, sebenarnya Ariel sempat ragu dengan masakannya sendiri. tapi melihat Luhan yang terlihat baik-baik saja dengan makanannya, artinya rasa makanan yang dibuat Ariel pagi itu tidak buruk.

“Oya, bagaimana dengan lukamu? Masih sakit?”

Luhan mengangkat kepalanya ragu. hei, apakah Ariel baru saja menanyakan keadaannya? Apa Ariel baru saja mengkhawatirkan Luhan?

“Baik, tentu saja. Aku bahkan merasa cukup baikkan sekarang,” sahut Luhan cepat dengan sedikit dilebih-lebihkan. Yeah, padahal rencananya Luhan akan membolos kerja dan diam di rumah seharian. Punggungnya cukup sakit untuk beraktivitas. Dan juga… mungkin Luhan bisa membuat rencana untuk Ariel.

Sayangnya. Sedetik lalu Luhan baru saja berkata tidak apa-apa, jadi, adakah alasan bagus untuk Luhan benar-benar membolos hari ini tanpa membuat Ariel khawatir?

“Baguslah. Aku panik sekali,” Ariel kembali menggigit sandwichnya.

Luhan mengedikkan bahunya pelan, “Kau pasti tidak pernah melihat yang sepeti itu. Ayahku memang akan begitu jika tahu aku melakukan kesalahan, kakekku juga pernah memukul ayahku.” Kata Luhan dengan santai.

“Tidak, kok. Ayahku juga pernah melakukan hal yang sama pada Clinton. Saat itu Clinton berulang tahun yang ke-18, dan mungkin karena terpengaruh teman-temannya, ia membawa teman perempuannya ke rumah. Belum sempat Clinton mengenalkan pacarnya, Dad sudah menjatuhinya hukuman,” Ariel terkekeh geli mengingat kejadian usang itu. Sudah lama sekali. Bahkan Ariel masih terlalu kecil untuk mengerti kenapa ayahnya bisa semarah itu pada Clinton.

“Benarkah?” Luhan melipat tangannya di atas meja, benar-benar tertarik dengan topik obrolan yang entah sejak kapan mulai mencair itu, “Kupikir jika di Kanada kita bisa bebas. Lalu bagaimana dengan kabarnya… maksudku, dengan kakakmu sekarang? Dia kakakmu, kan?”

Ariel mengangguk pelan, “Dia tinggal dengan Dad. Dan sepertinya dia tidak berani membawa sembarang perempuan ke rumahnya,”

“Ibuku malah membawa banyak gadis. Ah, kau sudah melihat bawaanku semalam? Maaf aku tidak bisa memberikannya dengan baik. Aku tidak tahu kejadiannya akan seperti semalam,”

Ariel menggeleng pelan, “Tidak apa-apa. aku senang…” Ariel menelan ludahnya, apa baru saja ia berkata ia senang? “Terimakasih.”

Baik Luhan ataupun Ariel, tidak sadar obrolan kaku yang dikhawatirkannya selama ini justru tidak berlaku untuk pagi itu.

Pagi yang tidak terlalu cerah, tapi cukup cerah untuk apartemen Luhan yang hanya dihuni dua orang di dalamnya. Mungkin, awalnya Ariel adalah orang lain di rumah itu. Orang lain yang harus diperlakukan sebaik mungkin karena harus tiba-tiba menjadi salah satu pusat hidup Luhan. dan Luhan akan berpikir sekali lagi, lagi dan lagi untuk menemukan cara terbaik membahagiakan Ariel…

Meskipun harus terhenti, ataupun berlanjut seterusnya.

***

“Aku baru selesai kursus Bahasa Mandarin. Oh, ya. kau sudah tahu? Ibumu tiba-tiba mengirimiku sms, dia menyuruhku untuk datang ke rumah. Apa kau juga akan datang?”

“…Cukup sekian untuk rapat hari ini.”

Luhan sama sekali mengabaikan ucapan sekretarisnya yang baru saja menutup rapat hari itu. Ia jauh lebih tertarik untuk membalas sms Ariel dengan kursus Bahasa Mandarinnya. Oh yeah, adakah yang lebih lucu dari itu? Saat seseorang yang berdarah Tionghoa justru harus mempelajari tulisan bangsanya sendiri.

Gadis itu cukup baik dalam bahasa Canton –katanya salah satu kakaknya yang bernama Henry mengajarinya, tapi untuk bahasa Mandarin, Ariel terbilang payah. Bahkan ia tidak bisa membaca tulisan cina dengan benar.

“Baguslah. Kau harus mahir dalam waktu cepat. Ah, iya. Aku lupa Mama meminta kita untuk datang ke rumahnya. Aku akan menjemputmu sekarang. Jangan kemana-mana, oke?”

Luhan langsung bangkit dari kursinya dan langsung menyambar jasnya dan berjalan cepat menuju pintu ke luar. Dan tanpa diduga, gadis dengan rambut coklat terang sebahu menyambutnya tepat di depan matanya. Ia masih ingat dengan mata dan senyum dingin gadis itu. Hanya saja, jika biasanya gadis itu akan berpenampilan semaunya, hari ini gadis itu terlihat anggun di balik pakaian normalnya.

Namanya Fei. Ju Fei. Teman semasa kuliahnya yang begitu diidolakan. Salahkan kecantikan yang begitu sempurna dan sejalan dengan kecerdasan yang dimilikinya.

“Sudah lama sekali Xi Luhan. Ni hao…”

Juga nada angkuh yang selalu menyapa siapapun yang ditemuinya.

***

Ariel kembali melirik jam di ponselnya. Sudah lebih dari 20 menit, dan Luhan belum juga menampakkan batang hidungnya. Ia memang tidak tahu sepadat apa jadwal luhan hari ini, tapi Luhan sudah berjanji padanya, selain itu Ariel juga tahu jarak perusahaan Luhan dengan tempat berdirinya saat ini tidak terlalu jauh.

Apa Luhan ada rapat mendadak? Atau Luhan ternyata tidak bisa bertemu dengannya sekarang karena ada urusan yang lebih penting? Ariel mendesah pelan. Well, ia hanya tahu perusahaan seperti yang ada di drama TV. Selebihnya, ia hanya tahu Luhan saat in berstatus sebagai seorang CEO muda di perusahaannya.

Keren, kan? Rasanya seperti melihat Won Bin. Meskipun…yeah, Luhan tidak setampan, sekeren dan se-manly Won Bin.

Ariel baru saja mengangkat ponselnya, mengamini niatnya untuk mengirimi sms pada Luhan. ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi, kan? Ada banyak yang harus dilakukannya, selain itu juga ia harus bersiap-siap untuk bertemu dengan ibu mertuanya.

Yeah, ibu mertua yang membawa… sebongkah dosa untuk Ariel. Ia tidak pernah menyukai wanita itu, wanita yang bisa membeli apapun dengan uangnya. Termasuk membeli hati ibunya, juga membeli dirinya.

“Ariel! Apa aku terlambat?”

Ariel mendongak saat suara familiar itu menyentuh gendang telinganya. Itu Luhan. dia baru saja datang dengan mobilnya yang berhenti tepat di depan Ariel, dengan seutas senyumnya yang membuat Luhan terlihat seperti anak sekolahan.

“Kau cukup lama. Aku hampir saja akan pulang duluan,” Ariel pun berjalan mendekati mobil Luhan.

“Tadi ada teman lamaku, aku harus biacara dulu dengannya,” sahut Luhan saat Ariel sudah berada di dalam mobil.

“Wufan?”

Luhan tertawa pelan saat mendengar nada selidik Ariel. Mungkin hanya perasaan luhan saja, atau memang benar Ariel tidak begitu menyukai Wufan. Dari cara suaranya menyebut namanya, caranya mendengar Wufan, juga tatapan matanya saat melihat Wufan sama sekali tidak begitu menyenangkan. Seolah-olah ada aura gelap yang dibawa oleh nama Wufan.

“Bukan. Ju Fei. Teman kuliahku. Dia membicarakan soal bisnis, juga reuni yang akan diadakan angkatanku,” Luhan tetap tenang saat bicara. Ia ingin membuat suasananya dengan Ariel bisa lebih cair lagi.

Meskipun… Ariel akhirnya akan banyak diam dan menggumam untuk menyahuti ucapan Luhan.

“Mama meminta kita untuk makan malam bersama, katanya untuk membahas soal ulang tahun perusahaan. Padahal, biasanya Mama akan melakukan apapun tanpa bertanya,” cerocos Luhan dengan mata yang masih terfokus pada jalan raya.

Dan Ariel hanya tersenyum kecil ditambah gumaman untuk menyahuti Luhan.

Tanpa sepengetahuan Ariel, Luhan tersenyum kecut. Ia harus berpikir keras tiap kali bersama dengan Ariel, atau ia harus mendapati suasana hening sama seperti ruang kerjanya yang dingin dan sepi.

“Aku juga mengundang Zhang Yi Xing,” Luhan kembali mengutarakan isi kepalanya, ia harus membuat suasana kaku itu pecah… tanpa tahu efek apa yang diberikannya pada Ariel karena ucapannya sendiri.

Luhan tidak tahu bagaimana tangan Ariel mulai gemetar saat nama Zhang Yi Xing justru muncul ke topik pembicaraan mereka. Luhan juga tidak tahu, ini membuat ariel semakin ingin menjaga jarak dari Luhan… ada banyak alasan yang membuat Ariel terlempar pada nama Zhang Yi Xing, meskipun tidak sebanyak luka yang bercerita diantara kenangan mereka.

“Saat acara pernikahan kita… kulihat kau mengobrol dengan manager Yi Xing. Kau mengenalnya juga?”

Hentikan ini Tuhan…

Ariel perlu mati-matian untuk membiasakan diri menghapus nama Yi Xing. Dan haruskah ia menemukan nama Yi Xing berulang kali seolah Yi Xing bukan sesuatu yang penting?

Yi Xing bukan orang lain. Bagi Ariel atau pun Luhan, Yi Xing sama-sama orang terpenting dalam hidup mereka.

“Ariel?”

“Apa kau…sangat menyukai Yi Xing?”

Luhan hampir saja kehilangan konsentrasinya saat Ariel melontarkan pertanyaan yang tidak diduganya. Ariel tidak pernah lagi membahas apapun ‘soal’ Luhan, tapi hari ini jutru ia dilempari pertanyaan yang sedikit…sensitif.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal itu?”

Ariel mendesah pelan. ia tidak yakin untuk membahasnya terlalu jauh, dan ia juga tidak tahu kenapa ia malah memberi Luhan pertanyaan semacam itu…

“Kau…” Ariel mendesah pelan, “Kau selalu menyebut nama Yi Xing, menceritakan tentang Yi Xing. Ibuku juga bilang kau sangat menyukai orang itu…yang ternyata adalah Yi Xing,” Ariel pun memutar kepalanya ke arah Luhan, “Kau pasti sangat menyukainya, kan?”

Tidak ada jawaban. Rahang Luhan juga sempat mengeras karena pertanyaan Ariel yang benar-benar mengusik rasa nyaman Luhan. ia salah paham. Luhan sama sekali tidak tahu ia salah paham soal Ariel… bahwa Ariel tidak menyukai kenyatan bahwa Luhan pernah… bahkan masih menyukai Yi Xing.

“Kau tidak percaya padaku?”

“Apa?”

Luhan pun menghentikan mobilnya secara mendadak. Meskipun tidak benar-benar mendadak, Luhan sengaja mempercepat kecepatan mobilnya dan mengerem mobilnya cepat saat rumah ibunya sudah terlihat tadi.

Luhan pun memutar kepalanya ke arah Ariel dengan cepat, “Bisakah kau memberikanku kepercayaan? Kau tahu, caramu bicara seolah-olah kau tidak menyukaiku…”

“Kau menyukainya. Dan sampai sekarang pun kau masih menyukainya. Apakah kau tidak merasa terluka saat menyebut namanya berulang kali sedangkan kau tahu tidak ada alasan apapun yang bisa membuat kalian bersama?”

Luhan tidak menjawab. Entah mengapa perkataan Ariel cukup menusuk dadanya.

“Jika aku jadi dirimu, aku akan melupakannya dan mencoba menjauhinya. Bukannya menyebut namanya berulang kali, mendatangkannya lagi pada kehidupanmu tepat di atas janjimu padaku,” Ariel menggigit bibir bawahnya…karena aku juga ikut terluka soal itu.

“Aku hanya ingin meyakinkan diriku bahwa aku memang tidak menyukainya. Aku tahu kenyataannya tidak begitu, tapi aku ingin meyakinkan diriku bahwa Zhang Yi Xing hanya sahabatku. Itu alasanku kenapa berani membawanya ke dalam kehidupanku… meskipun aku telah berjanji padamu.”

Luhan pun membuka pintu mobilnya, “Sudahlah. Ayo. Mama sudah menunggu kita.”

***

“Mama sempat khawatir karena kau tidak menghubungi mama lagi,” Nyonya Xi menaruh beberapa berkas di hadapan Luhan. saat ini mereka ada di ruang kerja Nyonya Xi, tempat wanita itu menghabiskan waktunya sendiri disana.

Luhan tidak menjawab. Ia hanya terfokus pada beberapa berkas di depannya.

“Jadi, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Ariel? Apakah sudah ada tanda-tanda…”

“Aku sudah mengurusnya. Jika Mama memerlukan sesuatu, katakan saja padaku,” potong Luhan cepat. Ia sama sekali tidak membahas topik tentang Ariel, tapi tentang berkas yang disodorkan padanya tadi.

Nyonya Xi tersenyum kecil. Ia tahu Luhan tidak nyaman dengan obrolan mereka.

“Kau mulai menyukainya? Apakah Ariel membuatmu sulit…?”

“Justru aku yang membuatnya sulit,” Luhan pun mendorong berkas-berkas itu ke hadapan ibunya, “Aku menyesal karena telah membuatnya menyesal. Tapi dia gadis yang kuat, baik, dan sabar. Aku tidak tahu jika yang menikah denganku adalah orang lain. Mungkin mereka akan lari bersama uang yang kumiliki…”

“Xi Luhan…”

“Biarkan aku menjalani pernikahan ini dengan tenang. Ariel dan pernikahan ini adalah urusanku. Dan kenapa Bibi Lim masih bekerja disini? Bukankah dia besan Mama sekarang?”

Nyonya Xi kembali tersenyum. Luhan masih belum bisa menjalani hubungannya dengan baik, Luhan juga sepertinya masih terjebak dengan masa lalunya. tapi ia bersyukur, setidaknya Luhan mau melihat gadis itu.

***

Ariel hanya memandangi beberapa pakaian ibunya yang terlipat rapi di atas ranjang. Ia tidak tahu kenapa ibunya masih harus bekerja di rumah yang bagaikan neraka itu jika ibunya sudah mendapat uang atas Ariel. Oh yeah, kecuali semua uang itu harus dikirimkannya pada Whitney si tukang mengeluh. Ariel harus membuat perhitungan dengan wanita itu jika mereka bertemu nanti.

“Aku tidak melihatmu datang,” Ariel mendapati ibunya yang baru masuk ke dalam kamar, dengan senyum hangat yang selalu dirindukannya… dulu.

Ia tidak yakin dengan sekarang. Keegoisannya sangat besar, kelewat besar malah. Meskipun ia tidak bisa menyangkal kerinduannya pada senyuman itu.

Ariel pun berdiri, sama sekali tidak membalas senyuman sang ibu.

“Aku tidak melihatmu terlihat lebih baik. Kenapa Mama masih disini? Kupikir ada sebuah rumah layak yang bisa Mama tempati setelah pernikahan ini berlangsung,” sarkatik, tidak sopan, brengsek… Ariel tidak peduli seandainya ada lebih dari 100 umpatan yang diberikan padanya. Ia tidak peduli.

Lim hanya tersenyum kaku, mengabaikan bagaimana sikap dingin yang diberikan putri bungsunya. Ia hanya mengusap pundak Ariel sambil mennjatuhkan pandangannya ke seluruh tubuh Ariel.

“Apakah Mama memberikan semua uang yang Mama punya pada Whitney?”

“Kau terlihat baik-baik saja. Aku bersyukur tentang itu,” Lim mencoba menghindari topik serius itu. Ia tidak ingin Ariel tahu masalah apapun yang saat ini terjadi. Setidaknya, Ariel harus mengurusi rumah tangganya saat ini. Bukan soal kakak-kakaknya ataupun ibunya.

“Apanya yang harus disyukuri jika Whitney terus memeras Mama? mama harus bertemu dengannya dan menampar gadis itu. Dia pikir berapa usianya? Bahkan aku tidak yakin dia meneruskan kuliahnya…”

“Ariel…”

“Aku baik-baik saja. Seandainya aku tidak menikah dengan Luhan pun semua akan tetap baik-baik saja. Tapi Mama yang tidak baik-baik saja. Mama harus bertemu Whitney dan menghentikan semuanya… Mama…”

“Dia putriku dan aku percaya padanya,”

Mulut Ariel langsung terkatup saat mendengar ucapan ibunya. Ia selalu kalah tiap kali bahasa hati ibunya keluar seperti sekarang ini.

Lim pun mengusap kepala putrinya, “Whitney sama sepertimu Ariel, sama-sama putriku. Aku bisa melihatmu, mencoba melakukan apapun yang terbaik untukmu. Dan aku tidak bisa sedekat itu dengan Whitney, setidaknya… aku memberikannya kepercayaan, kan? Terlepas apakah dia jujur ataupun berbohong padaku, itu semua menjadi urusannya. Bukan urusanku.”

“Luhan dan aku tidak bahagia,” entah sejak kapan mata Ariel mulai mengeluarkan cairan panas yang hampir pecah itu, “Kami sama-sama terjebak nama Zhang Yi Xing. Mama sudah tahu soal itu, kan?”

Lim cukup terkejut saat Ariel menyebut nama Yi Xing. Ia tahu Ariel akan tahu tentang masa lalu Luhan, tapi ternyata ia tidak benar-benar berhasil mempersiapkan dirinya dengan baik. Ia bahkan merasa terluka saat mendengar nada luka dalam suara putrinya.

“Ini jauh lebih menyakiti kami, terutama Luhan. bagaimana jika Luhan tahu ternyata akulah kekasih Yi Xing yang diceritakan selama ini? Bagaimana jika Luhan…”

“Aku mengenal Luhan sama baiknya seperti aku mengenalmu,” Lim memotong ucapan putrinya cepat, “Aku tahu, masalah besar akan datang baik cepat ataupun lambat. Tapi aku tahu Luhan tidak akan melepaskan tanganmu semudah itu…”

“Jika kau ingin Luhan bahagia, kenapa tidak kau nikahkah Whitney dengan Luhan saja? Luhan hanya membutuhkan istri, dan Whitey suka uang. Bukankah itu jauh lebih adil?”

“Ariel Lau!”

“Bahkan Mama bilang aku adalah putri yang paling kau sayangi karena aku yang mau ikut dengan Mama. Tapi sekarang aku merasa tidak adil… karena harus aku yang Mama korbankan.”

Ariel pun menyeka air matanya dengan kasar, “Aku masih kecewa. Kenapa harus aku yang mengalami semua kebodohan ini…”

***

Mungkin, sebuah kesalahan saat Luhan berpikir pertemuan Ariel dan ibunya akan menjadi momen yang bagus. Luhan sangat yakin Ariel merindukan ibunya, tapi Luhan melupakan satu fakta bahwa Ariel juga menyimpan sakit hati pada ibu Luhan, juga ibunya sendiri.

Bahkan, Luhan juga merasa sakit hati saat melihat Ariel justru duduk di sudut halaman rumahnya sambil menyeka air matanya sendiri. Luhan tidak pernah berpikir tentang perasaan Ariel sejauh itu…

“Kenapa berhenti di sini?” akhirnya Ariel bersuara setelah beberapa menit hening dalam dunianya sendiri.

Luhan hanya menunjukkan cengirannya, “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat istriku merasa sedih. Mungkin jalan-jalan sebentar akan membuatmu lebih baik?”

Ariel hanya mengedipkan matanya bingung. Hei, bukankah itu sama saja dengan… berkencan?

***

Ariel tidak suka bubble tea. Dan Luhan sangat menyukai bubble tea. Tapi apkhirnya, Ariel tetap memegang sebuah bubble tea di tangannya, dengan tangan yang satu terus digenggam erat oleh Luhan. alasan bodohnya, Luhan bilang ia khawatir Ariel akan tersesat karena Ariel asing dengan Beijing.

“Luhan…”

“Hmm?” Luhan tetap berjalan lurus tanpa menoleh pada Ariel, “Apa ada yang ingin kau beli?”

Ariel menggigit bibir bawahnya, apanya yang harus dibeli Ariel di mall sebesar itu? Ariel jarang sekali belanja, kalaupun ia belanja, ia akan membeli banyak buku ataupun kaset film terbaru –meskipun Ariel lebih sering mendownloadnya ketimbang membelinya.

“Kau mau tas? Atau…sepatu?”

“Bagaimana jika buku?”

Luhan menghentikan langkah kakinya dan langsung menatap Ariel ragu. apakah Ariel baru saja menolak ajakan Luhan untuk belanja yang disukai banyak perempuan? Atau… kebanyakan perempuan.

“Aku tidak terlalu suka belanja, aku lebih suka buku atau kaset…”

“Kenapa kau tidak bilang. Kita sudah berkeliling setengah jam tahu,” gerutu Luhan sambil melirik jam tangannya, “Kau itu terlalu banyak diam Nona Lau. Kau harus bilang suka kalau kau suka, dan tidak jika kau tidak suka. Kau membuatku terlihat bodoh,” mungkin Luhan baru saja merajuk… entahlah. Ariel tidak yakin.

Luhan langsung menarik Ariel tanpa berkata apapun. Membawa ariel ke toko dengan beberapa rak dengan puluhan atau mungkin ratusan buku yang berjajar rapi di sana. Inilah surga untuk Ariel.

Toko buku.

Tanpa sadar, ariel langsung menarik tangannya dari Luhan dan mendekati rak-rak itu. Luhan hanya menggeleng geli, ia melihat satu sifat Ariel yang jarang sekali dilihatnya. Mungkin luhan harus mengajak Ariel sering-sering ke toko buku, siapa tahu Luhan bisa melihat Ariel sering-sering berbinar seperti itu, kan?

“Luhan…”

“Apa?” sahut Luhan sambil ikut-ikutan membaca sinopsis salah satu buku.

“Tidak ada buku yang berbahasa inggris? Atau…korea? kau tahu aku tidak bisa…”

“Aku bisa menerjemahkan buku ini,” kata Luhan sama sekali mengabaikan ucapan Ariel, “Buku ini sangat bagus. Novel dengan gairah yang tinggi,” Luhan kembali membalik buku itu, melihat covernya sekali lagi.

Dan Ariel menaikkan alisnya ragu saat mendengar kata ‘gairah’, “Gairah… apa?”

Luhan pikir, ia salah dengar saat mendengar nada bicara Ariel yang aneh, tapi saat ia mengangkat kepalanya untuk melihat Ariel, ia tahu kemana arah larinya pikiran Ariel.

“Apa yang kau pikirkan?” Luhan mendorong kepala Ariel dengan gemas, “Kukira kau pembaca sejati. Tentu saja gairah membaca buku, ah kau ini…” Luhan pun memasukkan buku itu ke dalam keranjang, “Aku tidak tahu kau punya pikiran kotor. Ayo, cari buku lain…” Luhan pun berjalan mendahului Ariel.

“Bukan begitu! Aku…” Ariel menggaruk kepalanya frustasi. Benar juga. Apa-apaan tadi? Kenapa ia berpikiran jelek seperti tadi?

Satu jam.

Ariel dan Luhan berhasil mendapatkan beberapa buku, beberapa DVD film, juga beberapa CD lagu. Ariel dengan album terbaru TVXQ dengan ocehannya yang membuat Luhan mual mendengarnya, siapa kira ternyata Ariel seorang fangirl? Dan Luhan mendapatkan album terbaru Shinhwa, tanpa ocehan sedikitpun karena harus mendengarkan ucapan Ariel.

“Aku lebih suka HOT dan Wilber Pang,” sela Luhan setelah Ariel mulai bisa berhenti bicara. Luhan langsung memasangkan sebelah headsetnya pada telinga kiri ariel, membuat ariel menoleh kaget pada Luhan.

“Ini lagu Wilber Pang, You Will Fall In Love In The Future. Salah satu lagu kesukaanku,” kata Luhan sambil memutar lagu yang disebutkannya tadi.

“Kau punya lagu Jay Chou?”

Luhan pun mendesah pelan, “Kau juga fans Jay Chou?”

Ariel mengangguk cepat, “Xing Qing. Aku suka lagu itu.”

Luhan hanya mengangguk menyahuti ucapan ariel. Terlalu banyak kejutan yang diberikan ariel hari ini. Ariel yang dingin, kaku dan pendiam berubah 180 derajat menjati ariel yang cerewet, seorang fangirl dan suka berpikir yang aneh-aneh.

“Kurasa kau harus mendengarkan lagunya sendiri,” luhan pun melepas headsetnya dan memasangkan sebelah headsetnya pada telinga Ariel yang lain “Aku harus menyetir.”

Ariel hanya mengangguk dan mengambil ponsel Luhan, mulai memilih-milih sendiri lagu yang kira-kira ia sukai. Lagu g.o.d mungkin tidak ada salahnya, kebetulan Luhan punya beberapa di dalam ponselnya.

Luhan cukup menikmati hari ini. Kencan yang benar-benar absurd. Selain ia tidak pernah benar-benar berkencan dengan perempuan, Luhan juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya selama dengan perempuan. Alhasil, hanya kencan picisan yang pernah dilihatnya saja yang dilakukannya. Bahkan, ia pikir kencannya semasa SMA dulu jauh lebih unik. Mungkin Luhan harus mencobanya lagi, membuat sesuatu yang berbeda…

***

“Menurutmu jika seperti ini bagaimana?” Luhan menunjukkan sebuah desain yang dibuat oleh stafnya kemarin, untuk pembuatan hotel barunya di Chengdu. Chengdu mulai dipadati oleh wisatawan, mungkin membuat proyek baru di sana akan menambah keuntungan untuk Luhan.

Wufan yang mendengarkan dari belakang pun langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Luhan dari belakang, menyentuh mouse yang masih disentuh oleh tangan Luhan dan mengarahkan panah mouse itu menuju file yang lain.

“Aku jauh lebih suka jika nuansa tradisional Cina lebih terasa. Kau tahu kenapa penginapan di Okinawa begitu laku? Karena mereka bisa memadukan modern dan tradisional secara bersamaan, kita harus berfokus pada wisatawan asing,” kata Wufan setelah membuka file lainnya.

“Harusnya kau menjadi staf ku saja Wu Yi Fan,” Luhan mendesah pelan dan menarik tangannya dari mouse, mencoret-coret sesuatu di selembar kertas.

Wufan pun ikut menjauhkan tubuhnya dan menyesap kopinya.

“Dan membiarkan ayahku mengamuk karena aku mengabaikan perusahaannya? Yang benar saja Xi Luhan,”

Wufan pun meletakkan cangkir kopinya dan mengalihkan tangannya pada keyboard di hadapannya, mengotak-atik sesuatu untuk membantu sahabatnya yang sedang payah otaknya ini. Sedangkan Luhan tetap terfokus pada layar di depannya dan mengangkat cangkirnya, menyesap isinya tanpa peduli bahwa kopi itu milik Wufan.

“Kalian masih berkencan?”

Wufan membulatkan matanya saat melihat wanita dengan rok diatas lutut dan rambut coklat menyala, juga tatapan mata yang begitu familiar baginya. Ju Fei. Itu Ju Fei! Dan gadis itu ada di kantor…Luhan?

“Kau disini?” nada tak suka itu meluncur sempurna tanpa Wufan kontrol, bahkan ia sungguh tidak peduli jika Fei harus tersinggung dengan cara bicara Wufan.

Sebaliknya, Luhan justru menyapa gadis itu dengan senyum ramahnya. Ia tahu Fei akan datang ke kantornya hari itu, tapi ia pikir Fei membatalkannya karena hari itu sudah terlalu sore untuk jam meeting. Dan sepertinya meeting nya akan tetap berjalan.

“Kau tidak suka melihatku, Kris?”

Luhan tersneyum menggoda ke arah Wufan yang langsung dibalas toyoran oleh wufan, “Kau tahu dia akan kesini?”

“Tadinya kukira dia tidak akan datang, tapi ternyata datang juga.”

“Aku ada sedikit urusan tadi, aku juga lupa tidak menghubungimu. Maaf,” Fei langsung duduk di salah satu sofa.

Luhan pun bangun dari kursinya dan duduk berhadapan dengan Fei, “Tidak masalah. Kita masih bisa melakukan meeting kita,”

Wufan hanya memutar bola matanya malas. Ia tahu Fei menaruh perasaan pada Luhan…dulu. dan ternyata, setelah bertahun-tahun tidak melihat gadis playgirl itu lagi, Wufan justru mendapati Fei masih menatap Luhan dengan cara yang sama seperti beberapa tahun lalu.

Dulu gadis itu sahabatnya, sahabat Wufan yang pernah menyatakan perasaannya pada Wufan. Wufan menolak, tentu saja. Dan tanpa ditanya, kau pasti tahu jawabannya…tak terkecuali gadis itu. Hanya saja, yang tidak Fei tahu, Luhan lah yang membuat hati Wufan berdebar-debar. Tapi selang beberapa bulan setelah pernyataan cinta yang dilakukan Fei, Fei justru memberi tahu Wufan bahwa ia berhasil ‘mendapatkan’ Luhan.

Luhan mabuk. Dan entah apa yang dilakukan Fei selanjutnya sampai mereka bisa tidur di kamar hotel bersama…juga tetap membuat Luhan mau berteman baik dengannya.

“Kau ingin aku pulang sekarang?” Wufan mengambil jasnya, bersiap untuk angkat kaki dari ruangan itu.

“Hei, kau tidak khawatir aku menyelingkuhi pacarmu,” canda Fei yang menurut Wufan sama sekali tidak lucu.

“Hei…” Luhan memelototi Fei tidak setuju.

Wufan melirik Luhan dan Fei bergantian, ia memang harus segera pergi, “Dia sudah menikah Nona Ju. Aku memperingatimu, bukan aku yang dibuat kecewa, tapi istri sah nya,” Wufan pun menjatuhkan pandangannya pada Luhan, “Kalau ada apa-apa hubungi aku saja. Aku pulang sekarang.”

Luhan hanya bisa mengangguk membiarkan Wufan pergi. Ia tahu, Wufan tidak terlalu nyaman dengan keberadaan Fei di ruangan itu. Entah atas alasan apa, Luhan tidak pernah benar-benar mencari tahu.

“Kau sudah menikah?” tanya Fei tidak percaya. Ia tahu Luhan gay dan begitu dekat dengan Wufan, bahkan Wufan pun menyukai Luhan, sepertinya. Tapi tiba-tiba Luhan menikah? Tentunya ia tidak nekat untuk menikah dengan sesama pria, kan?

Luhan tersenyum kecil dan mengangguk, membayangkan wajah Ariel membuatnya ingat, ia belum menyapa gadis itu hari ini, “Ya. sebulan lalu,”

“Dia…wanita?”

Oh, sialan. Pertanyaan itu benar-benar menyebalkan untuk Luhan, “Jika pria yang kunikahi, kau akan melihat foto pernikahanku dengan Wufan.”

Fei bergidig ngeri, “Baiklah. Di wanita, dan dia…”

“Kita akan membahas soal kerja sama kita, kan? Aku sedang tidak mood membicarakan soal keluargaku.”

Luhan melindungi istrinya. Fei langsung menebak begitu saja…meskipun ia tidak yakin apakah Luhan benar-benar sudah sembuh atau tidak. Fei hanya tersenyum kecut saat mulai mendengarkan Luhan yang serius…membicarakan soal kerja sama perusahaan mereka.

***

Ariel tidak pernah bermimpi dirinya akan menjadi seorang pengangguran… seperti sekarang ini. Ia pikir, setelah lulus kuliah dan… menikah, ia akan mendapatkan pekerjaan menarik. Seperti bekerja diperusahaan WH Magazine. Atau mungkin, ia bisa menjadi seorang guide… itu impian terkecilnya, dengan modal Bahasa Inggris nya.

Tapi ternyata, itu tidak terjadi begitu saja. Hari ini, Ariel justru duduk di salah satu bangku panjang di salah satu taman di tengah Kota Beijing. Udara panas, orang-orang yang berlalu lalang, dan Ariel yang terdampar sendirian sambil membaca terusan fanfic buatan Anna –teman SMA nya dulu. gadis itu memang sangat suka menulis, tapi ia tidak menjual tulisan emasnya dan justru mempostingnya secara suka rela di sebuah website fanfic. Dan yang lebih mengagumkan lagi, Anna kini sudah meneruskan kuliah S2 nya di New York.

Anna membuat Ariel iri. Di mata Ariel, Anna kelewat sempurna. Gadis itu berhasil meraih impiannya dengan mudah. Selain cerdas dan cantik, gadis itu juga beruntung…

Dan tanpa disadari Ariel, seorang pemuda dengan kemeja putih tengah terpaku menatapnya dari jarak 20 meter. Tidak ada pergerakan berarti yang dilakukan pemuda itu, yang ia lakukan saat ini hanya memandangi gadis itu sejak 10 menit yang lalu, saat tanpa sengajak ia merasa bosan dan justru berjalan ke arah bangku kosong yang tadinya akan dijadikannya tempat beristirahat…

Tapi tidak. Ia tidak meloloskan niatannya tadi. Ia justru berdiri seperti patung, melihat gadis familiar di hadapannya yang tengah sibuk dengan tablet PC nya. Ariel bosan. Yi Xing tahu gadis itu sedang menepis rasa bosannya dengan aktivitas tidak pentingnya itu.

Yi Xing juga bosan, ia bosan terus berkutat dengan kertas-kertas itu sedangkan dirinya sendiri tidak menjatuhkan seluruh fokusnya pada kertas-kertas yang ia sebut penting juga berharga itu. Dan keputusannya untuk menerima tawaran Luhan, merupakan jalan untuk menemukan inspirasinya… menemukan perasaannya yang sempat meredup.

“Maaf Gege, aku tidak sengaja,” Yi Xing menundukkan kepalanya dan mendapati seorang anak kecil tengah mengambil bola yang tadi mengenai kaki Yi Xing.

Yi Xing tersenyum kecil, membiarkan anak kecil itu kembali berlari dengan bolanya, menjauhi Yi Xing yang masih tersenyum pada anak kecil itu. Mungkin, menjadi seorang anak kecil akan jauh lebih menyenangkan ketimbang menjadi orang dewasa…tanpa masalah, tanpa beban…

“Gege?”

Tubuh Yi xing langsung membeku. Ia salah dengar, kan? Itu tidak mungkin suara Ariel, kan? Ariel tidak mungkin menghampiri Yi Xing dan…

“Kau disini?” tanya Ariel lagi masih dengan raut terkejutnya. Ia cukup menyesali keputusannya untuk menghampiri laki-laki yang ia pikir mirip dengan Zhang Yi Xing, dan ternyata laki-laki itu benar Zhang Yi Xing.

***

“Bagaimana kabarmu? Semua orang menanyakanmu, kau pergi tanpa kabar,” Yi Xing angkat suara, dengan bahasa koreanya. Dan Ariel melupakan fakta bahwa Yi Xing memiliki logat yang aneh dalam bahasa koreanya…sesuatu yang disukai ariel, namun tidak untuk hari ini…

“Seperti yang kau lihat. Kudengar kau akan datang ke pesta perusahaan, kenapa? kupikir kau punya jadwal yang padat,” Ariel langsung menarik bubble tea rasa taro miliknya. Ia bahkan tidak berpikir dua kali saat memesan minuman di sana.

“Dulu aku berencana untuk pergi ke Kanada bulan ini, untuk menemui orang tua dari mantan kekasihku. Tapi semuanya tidak berjalan lancar, jadi aku tiba-tiba harus mengisi waktu kosongku. Ternyata itu jauh lebih sulit daripada mengosongkan waktu padatku,” Yi Xing pun sama kakunya. Ia bahkan tidak tahu akan bertindak seperti orang lain di depan Ariel.

Ariel hanya mengangguk kecil. Tahu ke mana arah pembicaraan Yi Xing saat ini, “Lisa Eonni tidak ikut?”

“Dia akan menyusul lusa. Ada urusan yang harus diselesaikannya,” Yi Xing menjawab seadanya. Ia hanya ingat Lisa bilang, ia akan menyusul setelah menyelesaikan urusannya di Donghae. Setelah itu, mereka tidak berkomunikasi lagi karena Yi Xing langsung terbang ke Beijing.

Ariel hanya mengangguk pelan. Ia harap, Yi Xing akan mengatakan sesuatu atau mereka akan larut dalam keheningan. Demi apapun, ia lebih suka untuk duduk berdua berhadapan dengan Luhan tanpa pembicaraan apapun dari pada harus berhadapan dnegan Yi Xing tanpa sepatah kata…namun dengan banyak patahan hati mereka.

Atau mungkin hanya Ariel. Karena Ariel benar-benar bisa merasakan patahan hatinya sendiri.

“Kau baik-baik saja dengan Luhan, kan? Dia laki-laki yang baik, tapi memang agak sedikit kaku jika harus bertemu dengan orang baru,”

Terima kasih Tuhan, Kau mengabulkan doa Ariel…

“Tentu saja. Dia baik, kaku, tapi bisa sangat terbuka jika kami sudah menemukan kesamaan. Dia cukup menarik…dan dia sangat suka menceritakan dirimu,” Ariel merutuki lidahnya yang kurang ajar itu. Tiba-tiba saja ia teringat soal ucapan Luhan yang berputar pada nama Yi xing.

“Benarkah?”

“Haruskah kau terus-terusan menerima tawaran Luhan? kau tahu, posisi kita tidak lagi sama seperti dulu. luhan tidak tahu kita saling mengenal, tapi kau terus mendekat ke arah Luhan dan…”

Dan itu membuat Luhan tersiksa. Ariel ingin berteriak soal itu. Luhan sudah bertekad untuk berubah, tapi apapun cara yang dilakukannya, Ariel rasa semuanya akan sia-sia jika Yi Xing terus berkutat pada kehidupan Luhan. tidakkah Yi Xing juga sama-sama terluka dalam maslaah ini? Atau setidaknya…

“Aku merindukanmu. Aku sengaja menerima tawaran Luhan karena selain dia sahabatku, aku juga ingin melihatmu.”

“Zhang Yi Xing,” tegur Ariel terkejut. Tidak ada nada senang dalam hatinya, ia tidak tahu dengan jelas apa yang dirasakannya saat ini. Tapi ia tidak setuju dengan ucapan Yi xing barusan.

Yi Xing mengangkat kepalanya cepat, “Lalu menurutmu aku harus bagaimana? Aku masih belum bisa melupakanmu, semua tentangmu. Kau kira akan sangat mudah melupakanmu setelah apa yang kita lalui? Bahkan kita berpisah bukan karena…”

“Cukup Zhang Yi Xing! Kau tahu siapa aku sekarang? Aku sudah berstatus sebagai istri seseorang, bagaimana jika…”

“Lalu bagaimana denganku? Luhan bisa memilikimu, bahkan di seumur hidupnya. Dan aku? Aku sudah mengalah, tapi kali ini aku benar-benar membutuhkanmu Ariel Lau…”

Ariel? Kau disini?”

Ariel memutar kepalanya kaget saat mendengar suara Luhan menembus gendang telinganya. Tidak. Luhan tidak boleh tahu soal dirinya dan Yi Xing. Tidak untuk sekarang…

“Yi Xing? Kau… datang?”

Luhan terlihat sangat terkejut saat mendapati Yi Xing tengah menatap ke arahnya. Bahkan Luhan terlihat lebiha antusias saat melihat Yi Xing daripada melihat Ariel. Hei, tentu saja. Bagaimanapun Yi Xing merupakan kejutan terbesar yang dimiliki Luhan, kan?

Dan gadis di samping Luhan, Ju Fei hanya menatap datar ke arah Yi Xing… yang pertama kali ditemuinya, namun entah berapa kali ia mendengar nama itu. Juga seorang gadis berambut hitam panjang yang juga terlihat terkejut saat melihat Luhan.

=TBC=

2015/01/10 PM0254

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

51 responses to “[Series] Married With A Gay – Chapter 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s