[Series] Let Me – Part 1

Untitled-1

Let Me

Cast : Kim Jongin, Lee Chaelli (OC) // Romance // Chapter // PG-14

Summary :

Can you let me to holding your hand and keep your love?

-sundaymonday-

Link Let Me: (Part 1Part 2  – Part 3Part 4Part 5Ongoing )

….

  Chaelli melihat setumpuk koran yang telah tersusun rapi di atas meja makan ketika ia beranjak untuk mengolesi rotinya. Sepertinya semua orang sibuk pagi ini—kedua adiknya kembarnya telah memulai perang mereka dengan saling melempar pasta dan membuat saus tomat berceceran dimana-mana, sedangkan Ibunya masih berbicara sendiri— tentu saja, dengan telpon yang berada di sebelah telinganya sementara tangannya mencatat sesuatu di sebuah notes kecil.             Semua orang selalu sibuk di pagi hari, kecuali dirinya. Jadi mau tidak mau Chaelli juga berusaha menyibukkan dirinya sendiri dengan setumpukan koran itu. Koran pagi—Ugh, tidak pernah ada yang peduli pada koran itu sebesar dirinya, dan ayahnya. Tapi lupakan saja, lagipula satu orang saja cukup untuk memusatkan perhatiannya pada artikel koran itu. Chaelli memberengut dan mulai membolak-balik lembaran koran itu satu persatu. Apa yang baru hari ini? Pembunuhan presiden—tidak, Pencurian boneka annabelle di museum—tidak, Perampokan bank darah—tidak juga, penculikan salah satu anggota running man—tentu saja tidak, pembukaan kafe baru oleh rapper Bobby Jo—Ah, mungkin ini menarik. Kamis, 26 Desember 2014 Tepat di hari natal kemarin—Bobby Jo, seorang idol rapper membuka kafe yang barunya di sudut kota Seoul dengan gaya klasik dan victoria. Beberapa penggemar yang mengetahui hal ini langsung memenuhi area tersebut untuk berusaha menjadi yang pertama memasuki kafe itu hingga menimbulkan sedikit kerusuhan. Salah satu wakil dari agensi Bobby Jo mengatakan mereka akan lebih berhati-hati tentang hal ini dan memberikan ganti rugi pada semua orang yang terluka atas kejadian itu. Artikel ini sangat menarik hingga tanpa sadar membuat Chaelli terkekeh sendiri saat ia membaca paragraf paling akhir. Kerusuhan dan luka-luka? Oh, bagus. Jadi apa benar-benar ada orang bodoh di luar sana yang rela terluka hanya untuk datang melihat artis seperti bernama bobby Jo itu? kira-kira orang bodoh mana yang mau melakukannya? Chaelli mulai terkekeh lagi dan kali ini ia tidak segan-segan untuk tertawa lebih keras. Ini sungguh lucu! Ia baru saja menertawakan kenyataan jika ada seseorang diluar sana yang telah dibutakan oleh cinta. “Jadi, apa yang rencanamu hari ini, Chaelli?” Entah sejak kapan Ibunya telah berdiri di sampingnya sambil bersiap untuk mengambil satu-persatu piring dari meja makan dan membawanya ke dalam wastafel. “Kau tertawa saat membaca koran? Aneh, sekali. Biasanya remaja putri hanya akan tertawa saat membaca surat cinta” Chaelli hampir tersedak saat ia meminum satu gelas penuh susunya sekaligus. Surat cinta? Oh, yang benar saja! Ia bahkan tidak pernah berbicara dengan satu pun pria di sekolah menengah. Jadi bagaimana bisa ia mendapat surat cinta yang konyol seperti itu? dan lagipula ia juga tidak tertarik dengan hal semacam itu. “Eomma, jangan menggodaku” Chaelli memberengut lagi. Lalu ia mulai pura-pura beralih pada artikel penculikan anggota Running man yang dicetak dengan huruf besar-besar di halaman depan. “Kau sudah 19 tahun. Bukankah wajar jika seorang pria tampan mengirimimu surat cinta atau ajakan kencan?” Nyonya Lee tersenyum sambil merapikan celemeknya ketika Chaelli menutup halaman-halaman koran itu sambil mendesah pelan. “Aku tidak ingin mendapatkannya dan tidak akan pernah” “Kenapa begitu?” Kali ini Nyonya berhenti menggodanya dan memasang wajah serius dengan alis yang bertautan. “Karna aku tidak ingin jatuh cinta dan menderita seperti ibu” … Chaelli menelungkupkan kepalanya di atas meja kelas padahal jam kelasnya sudah berakhir dua puluh menit yang lalu. Saat ini ia sedang merutuki dirinya sendiri—merutuki otaknya yang bodoh—dan mulutnya yang terlalu banyak berbicara. Sial! Tadi pagi ia berhasil membuat Ibunya marah-marah dan terpaksa menerima setengah dari uang sakunya sebagai hukuman. Bagaimana bisa ia mengatakan jika ia tidak ingin jatuh cinta, apalagi menikah hanya karna ayahnya yang meninggalkan mereka untuk wanita lain? Bodoh! Mengatakan hal seperti itu saja sudah keterlaluan, apalagi jika ia mengatakan hal itu di depan wajah Ibunya. Chaelli tidak tahu lagi bagaimana hidupnya sekarang. Semua orang yang pernah mengenalnya jelas sudah tahu jika ia membenci ayahnya dengan sangat. Terlihat bagaimana cara ia menatap ayahnya ketika mereka berkumpul di malam tahun baru, Bagaimana cara Chaelli membicarakan keluarganya, dan juga bagaimana cara matanya berkilat marah ketika seseorang menyinggung hal tentang ayahnya. Tapi ini tidak pernah terjadi. Ia belum pernah bilang secara terang-terangan pada semua orang jika ia membenci ayahnya, apalagi di depan wajah Ibunya yang Chaelli pikir masih sangat mencintai pria itu. Ini adalah kesalahan terbesar selama hidupnya! Mungkin ia akan diusir dari rumah, dikeluarkan dari sekolah, Oh atau yang terburuk! Dihapus dari silsilah keluarga. Bagus, sekarang hidupnya telah hancur seketika. “Lee Chaelli” Itu suara Mina, sahabatnya selama belasan tahun ia hidup. Sahabat sejatinya sejak ia masih kanak-kanak. Tapi Chaelli masih tetap menelungkupkan kepalanya di atas meja—tidak bereaksi apapun bahkan ketika Mina mendekat dan meneriakkan namanya berulang kali. “Lee Chaelli! Aku mencarimu kemana-mana” Perlahan-lahan Chaelli mulai mengangkat wajahnya dan mendapati Mina sedang menatapnya dengan tatapan aneh. “Kau sedang apa disini?” Chaelli tidak menjawab. Ia hanya masih terpaku dengan tatapan Mina yang masih terasa aneh. “Tidak ada. Hanya sedang sibuk memikirkan hidupku besok” Mina mendesah keras sambil menarik lengannya untuk bangun dan mengikuti langkahnya kemana saja. “Aku yakin hidupmu akan baik-baik saja sampai tahun depan. Kau tidak punya waktu untuk memikirkan besok sementara ada yang harus kita lakukan saat ini” “Apa? Tunggu dulu—walaupun kau sahabatku, sahabat karibku, tapi maaf saja. Aku sedang tidak dalam mood yang baik untuk bisa membantumu melakukan hal apapun yang ada di dalam kepalamu saat ini. Sungguh, aku memiliki masalah serius kali ini!” Mina hanya menatapnya datar tanpa ingin peduli. Chaelli berusaha melepaskan cengkraman itu dengan sekuat tenaga—ah, tapi sial. Ia lupa jika Mina adalah ketua klub judo yang sangat ditakuti seluruh mahasiswa di kampus ini. Jadi mana mungkin ia bisa melepaskan diri begitu saja sebelum sahabatnya ini menariknya ke dasar jurang sekalipun? “Lepaskan aku!” “Kau tahu aku akan melepaskanmu, tapi bukan sekarang” gumamnya dengan tatapan datar lagi. Saat ini mereka telah melewati lorong ketiga dan Mina segera mengambil arah menuju pintu gerbang untuk meninggalkan gedung. Ia tidak membawa mobilnya—Mobilnya itu memang sering bermasalah ketika ia sangat membutuhkannya. Jadi pilihan terakhir mereka hanya pergi ke halte bus dan menunggu bus pertama yang muncul sambil membunyikan klakson. “Jadi, apa masalah serius yang kau bilang itu?” Saat ini Mina sedang duduk di bangku halte sambil melipat kedua lengannya seakan dia baru saja menjadi petugas interograsi wanita. “Masalah lagi dengan ibumu?” Chaelli mengangkat bahunya dan ikut mendudukkan dirinya sendiri di samping Mina dengan gaya tak acuh. “Aku tidak tahu bagaimana ibuku bisa bersikap seperti itu? Sudah jelas ayah meninggalkan kami untuk seorang wanita lain diluar sana. Tapi kenapa ia tidak bisa membencinya? Bukankah itu menyakitkan?” Ketika Chaelli menatap wajah Mina dengan pandangan bertanya, gadis itu hanya menampilkan ekspressi datar yang cukup aneh—sama anehnya dengan tatapan matanya ketika Chaelli mengangkat wajahnya pertama kali. Melihat wajah sahabatnya berubah seperti itu, membuat Chaelli mengigit bibirnya sambil membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi. Ini bukan petanda bagus. “Oh! Astaga.. apa yang terjadi padamu?” Chaelli cepat-cepat berusaha memegang bahu Mina dan menggenggamnya erat. “ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menangis?” “Baekhyun..” gumamnya pelan sambil masih terisak. “Siapa?” “Byun Baekhyun mantan pacarku! Dia menelpon pagi ini dan memintaku kembali lagi padanya” Mina mengerjap beberapa kali hingga membuat air matanya berjatuhan kemana-mana, membasahi seluruh pipinya dan membuat make up nya tampak tidak keren lagi. “Aku harus bagaimana? Aku masih mencintainya” Chaelli terkesiap di tempatnya—membelalak, lalu kemudian ia berusaha mengatur nafasnya perlahan-lahan. “Kau masih mencintainya? Astaga! Baekhyun berselingkuh tiga kali di belakangmu tanpa ketahuan, Choi Mina! Dan sekarang kau bilang kau masih mencintainya?” Gadis berambut hitam panjang itu menarik rambutnya ke belakang dan mengikatnya kuat sebelum ia mendesah kuat dengan suara parau. “Aku masih mencintainya—lalu kau mau apa?” Chaelli memalingkan wajahnya kearah dimana bus akan datang dengan tidak mengatakan apapun. Suaranya tercekat begitu saja—ia tidak bisa bersuara. Ah tidak, ia bahkan tidak bisa mempercayai apapun yang telah ia dengar saat ini. Kenyataan jika Ibunya masih mencintai ayahnya yang telah meninggalkan mereka saja masih tidak bisa ia mengerti. Lalu sekarang, Mina datang kepadanya sambil menangis dan bilang jika ia masih mencintai Baekhyun—mantan pacarnya yang telah berselingkuh tiga kali? Dunia sudah gila. “Kau sinting ya?” Chaelli bersuara dengan geram. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana semua orang bisa diperdaya oleh sesuatu bernama cinta. “Kau tidak boleh kembali bersamanya lagi. Dia sudah cukup membuatmu menderita selama ini” “Aku tahu. Aku juga tidak ingin kembali bersamanya” Chaelli mendelik sambil mengangkat sebelah alisnya. “Lalu?” “Karna itu aku ingin meminta bantuanmu” … Saat ini Chaelli terjebak dalam antrian yang super panjang di tengah udara yang menggila. Suhu Seoul sudah mencapai lima derajat dan ia masih berada di luar ruangan—tepatnya di trotoar, sambil menggosok-gosokkan hidungnya dan beberapa makian yang keluar dari bibirnya. Apa yang ia lakukan di sini—di depan kafe Bobby Jo? Padahal baru pagi ini ia menyebut orang-orang yang mengantri untuk masuk ke dalam sana ‘idiot’ ‘bodoh’ dan sekarang ia telah menjadi bagian dari orang-orang itu? Oh, yang benar saja! Mina—Baekhyun—Bobby Jo—atau siapapun yang telah membuatnya terjebak di dalam antrian ini benar-benar menyebalkan! “Choi Mina untuk meja nomor 14?” Chaelli menganggkat wajahnya, sambil mengacungkan kartu kupon nomor ‘14’ itu tinggi-tinggi ke udara. “Silahkan masuk, nona” Chaelli tersenyum puas. Sebelum akhirnya ia bisa bernafas lega setelah berdiri selama hampir dua jam di luar sana dengan kedinginan. Chaelli melirik sekilas untuk menemukan meja nomor 14. Itu bukan waktu yang lama karna Baekhyun telah berada di sana dan melambai-lambaikan tangannya seakan-akan pria itu sangat senang dengan kehadirannya. “Dari mana kau datang?” Sahut Chaelli tiba-tiba penasaran. Karna sungguh, ia tidak melihat Baekhyun di pintu masuk tadi. “Oh, maaf tapi aku bekerja paruh waktu di sini sebagai barista. Oh ya, dimana Mina? Apa kalian tidak datang bersama?” Chaelli hanya diam dan menekuk kedua tangannya saat Baekhyun mulai bertanya. Sahabatnya itu masih mencintai Baekhyun—bahkan masih menggilainya hingga saat ini, jadi mana mungkin Mina bisa datang kemari hanya untuk menolak ajakan Baekhyun untuk kembali bersamanya? “Ehm, begini Baekhyun. Mina tidak bisa datang menemuimu sekarang” kata Chaelli mencoba untuk tidak peduli. “Dia menolakmu, itu saja. Dia tidak bisa mengatakannya langsung padamu karna dia masih mencintaimu. Jadi aku ada di sini untuk menggantikkannya mengatakan hal itu padamu. Dia menolakmu” Mendengar pengakuan Chaelli yang terlalu jujur seperti itu membuat mata Baekhyun berkaca-kaca—seperti bola kristal yang pecah dan menjadi serpihan. Astaga, dia baru saja membuat seorang pria menangis! Tapi tidak ada yang bisa Chaelli lakukan selain pura-pura tidak peduli. Walaupun Chaelli bersikap seperti tidak acuh, itu bukan berarti dia benar-benar tidak peduli. Hanya saja Chaelli tidak bisa peduli pada seseorang yang telah menghancurkan hati sahabatnya sebanyak tiga kali—yah, mungkin lebih dari itu. Tapi sungguh ia ingin sekali mengeluarkan sapu tangannya dan menepuk punggung Baekhyun agar pria itu merasa sedikit lebih baik. “Apakah tidak ada kesempatan untukku? Sekali saja?” Baekhyun menghapus sisa-sisa air matanya dengan jemarinya yang kurus dan mungil. Matanya berkilat kemana-mana dan menandakan jika ia sedang memohon sekarang. Ah, sial! Kenapa sekarang Chaelli harus merasa sangat bersalah padanya? dan kenapa juga Baekhyun harus terlihat seperti anak anjing yang sedang duduk di tengah kardus bertuliskan ‘jangan buang aku’? Ugh.. “Begini.. Byun Baek, sebenarnya aku tidak bisa dan tidak mau ikut campur dalam masalahmu. Tapi tak bisakah kau membiarkan Mina menikmati sisa hidupnya sebagai mahasiswa biasa tanpa gangguan darimu?” Baekhyun tersentak dengan kata-kata Chaelli yang sedikit kasar, sementara gadis itu sendiri tidak mengerti apa yang sedang ia coba katakan. “berhentilah menganggunya” “Aku juga mencintainya.. aku mencintainya, tak bisakah kau katakan itu padanya dan membuatnya kembali padaku?” gadis itu tertawa—Chaelli baru saja menertawakan sesuatu yang tiba-tiba terasa menggelitiki perutnya. Cinta? Siapa yang butuh cinta jika semua ini menyiksa dirimu sendiri? Demi Tuhan, Chaelli tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri lagi untuk tidak menampar Baekhyun saat ini. Padahal mereka masih berada di dalam cafe paling ramai di seantero Seoul—kafe Bobby Jo yang legendaris dan Chaelli tetap menamparnya dan berteriak marah. “Kau masih mencintainya setelah kau berselingkuh selama tiga kali? Kau masih tetap mencintainya? Kau pikir kau bisa membuang dan mengambil hati wanita begitu saja seperti sampah?!” Chaelli berteriak padanya hingga membuat semua orang yang berada di sana menoleh kearah mereka. Juga beberapa pelayan kafe yang mulai berdatangan dari berbagai arah. Baekhyun hanya diam sejenak setelah itu, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Chaelli seorang diri. Hampa—saat ini ia sedang berada di sebuah meja kosong tanpa mengerti apa yang baru saja merasuki tubuhnya hingga ia berbuat seperti itu. Entahlah, ia seperti kehilangan nafas ketika mendengar seseorang mengatakan kata ‘cinta’. Chaelli begitu muak—entah pada siapa. Ia hanya merasa rasa sakit yang merasuki dadanya tanpa bisa ia tahan. Gangguan jantung? Rasanya lebih baik jika ia beranggapan begitu. Chaelli tetap tidak bergerak, beberapa menit hingga matanya menangkap sosok yang asing sedang menaiki tangga panggung perlahan-lahan dengan sebuah topeng yang menutupi hampir seluruh wajahnya. “Terima kasih.. tolong berikan tepuk tangan yang meriah untuk penari Kai”

TBC

Yosh!!! //bunuh author// sebenarnya judulnya bukan Let Me tapi Today.. sebenarnya juga gambar posternya bukan Soojung eonni tapi OC //ah sudahlah, Authornya malas//

Kenapa saya yang jadi greget ya? Ah.. mungkin karna saya baru dapat berita baik. Oke makasih yang udah mau baca.. main-main ke WP saya ya! www.sunday14mondayblog.wordpress.com

Link Let Me: (Part 1Part 2  – Part 3Part 4Part 5Ongoing )

5 responses to “[Series] Let Me – Part 1

  1. wow seru seru..karakter chaeli aku suka bnget..pnya kata kata yg kasar…
    dan aku bngung dri tdi kai nya mna??
    dan ternyata akhrnya ada wlwpun bagian nya cman gtu doang

    fighting
    keep writing

  2. Rame eon!! Pda dasarnya ak emang suka karakter cewe yg g menye2 ehehe.. Tolong buat chaelli teteup keren yaa walau dia kelak jatuh cinta😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s