[One Shot] 30th (Thirty)

Thirty

 

Title: 30th (Thirty)

Author: Miithayaaaa

Length: One Shot

Main Cast:

  • SNSD’s Hyoyeon as Kim Hyoyeon
  • EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok/Xiumin

Genre: Romance

Rate: PG 16

***

 “Jadilah milikku noona…”

 

 

Hyoyeon menarik selimut malas sampai ke ujung kepalanya. Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela tepat mengenai wajahnya cukup mengganggu tidurnya. Dia berguling ke kanan dan ke kiri menemukan posisi yang tepat. Menjulurkan tangan ke meja di samping tempat tidurnya untuk mematikan alarm sialan yang berbunyi memekakkan telinganya.

Dia kembali menenggelamkan kepalanya kedalam selimut berniat tidur kembali sampai matahari tenggelam dan terbit kembali keesokan harinya. Tapi, dering ponsel menyuruhnya untuk membuka matanya. Dia meraba di semua sisi tempat tidur mencari ponselnya sambil mengutuk dalam hati untuk orang yang mengganggu tidurnya. Ada dua hal yang sangat ia benci dalam hidupnya, satu dia sangat benci jika seseorang mengganggu tidurnya dan yang kedua dia sangat benci jika seseorang menyentuh makanannya. Dia tidak akan membiarkan orang itu lolos mengambil makanannya dengan seenaknya.

“Halo~?” Dia jawab malas sambil menguap lebar.

“Yah Kim Hyoyeon!! Kau masih ditempat tidur, sudah jam berapa ini!!!” Dia spontan menjauhkan ponsel dari telinganya mendengar teriakkan ibunya. Bibirnya bergerak membuat kata-kata koheren.

“Ini masih pagi omma, kenapa omma berteriak, omma membuatku tuli” Dia masih menjawab malas, mata terpejam.

“Pagi? Ini Jam 11 Hyo!!” Dia mendengar helaan napas ibunya kesal sebelum melanjutkan “Sekarang keluar dari ranjang busukmu dan pergi mandi!! memakai pakaian bagus, aku sudah peringatkan tidak terlambat pada pertemuan!!”

Oke, ibunya mulai lagi. Perjodohan.

Dia duduk tegak, Seandainya saja yang menelpon bukan ibunya. Dia akan berteriak marah karena mengatur kencan buta seenaknya dan mengganggu tidurnya. Jadi, dia menghela napas membuat suara selembut mungkin, berkata “Omma, aku sudah-“

“Aku tidak mau mendengar penjelasanmu. Kau akan menjadi perawan tua!! Aku akan mengirimmu pesan dimana tempatnya”

“Eomma.. Eomma-” Dia menatap layar ponselnya yang sudah mati. “Aishh” Melempar ponsel sembarang tidur, mengacak rambutnya kesal.

Dia benci ini.

Dia membuat gerakan kaki menendang acak. Merasa frustasi karena ibunya tidak ingin mendengar persetujuannya dulu. Baiklah, ibunya juga tidak akan mendengar jika dia beralasan pula. Dia menarik selimut kembali menenggelamkan dirinya. Haruskah dia setuju? Haruskah dia datang?

Aku tidak akan datang.

Tidak akan.

Dia meyakinkan dirinya untuk tidak terpengaruh. Tapi bayangan ibunya dengan wajah yang seakan menerkam dia dan memakannya hidup-hidup menghantuinya. Dia bergidik ketakutan. Tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya mencoba menghapus bayangan itu pergi.

Aku tidak datang. Tidak datang. Tidak… Datang..

“Ahrasseo Eomma.. Aku datang!!”

Dia membuka matanya dan duduk kembali. Dia bisa melihat bayangan ibunya yang tersenyum penuh kemenangan seakan nyata ibunya berada di depannya. Oke, dia mengakui dia kalah dengan khayalan sendiri. Bayangan ibunya benar-benar menakutkan.

“Orang seperti apa yang akan ku temui hari ini?” Hyoyeon berkata pada dirinya sendiri, acuh. Dia akan bangun, tapi sebelum itu ia melihat bantal disampingnya yang seakan-akan memanggilnya untuk tidur kembali. Oh! betapa dia ingin menerkam bantal dan meregangkan otot-ototnya di atas kasur empuk. Tangannya mencoba mencapai bantal dan perlahan membaringkan kepalanya, tapi suara perut keroncongannya tidak mengizinkannya untuk itu. “Kau adalah kelemahanku, tapi makanan adalah kekuatanku. Mianhae..”Dia berkata sedih pada bantal.

Dia meninggalkan kasur dengan perasaan berat. Yah, itu adalah apa yang ia rasakan saat ia meninggalkan tempat tidurnya, tempat tidur bagaikan surga untuknya. Dia mendesah, andai ibunya tidak menelpon membuatnya bangun. Baiklah dia tidak ingin menjadi anak yang durhaka dengan melawan ibunya. Mau gimana lagi, salahkan umurnya, berapa sekarang? 31? 32?

“Aku masih 29..” Dia berkata pada cermin. Tapi sepertinya bayangan dia di cermin tidak suka. “Baiklah aku 30 dan dua bulan lagi 31, kau puas?” Dia mengaku pada cermin dan memasang wajah tidak suka pada bayangannya sendiri.

Jangan katakan dia gila. Dia memang seperti itu. Berbincang acak sendirian, menganggap khayalannya adalah temannya.

Dia keluar dari kamar mandi dan mengambil handuk mengusap wajahnya. Dia menyingkirkan pakaiannya yang berserak dilantai dengan kaki untuk tidak menghalanginya berjalan. Rambutnya diikat kuda, berjalan ke dapur membuka lemari dingin hanya untuk mengambil stock makanan instan yang disimpan. Dia tidak peduli dengan piring kotor yang berserakan di westafel, dia hanya akan mencuci jika memerlukan sesuatu yang ia ingin pakai, seperti sekarang dia membutuhkan sendok dan hanya membersihkan itu dan lainnya, diabaikan.

Benar-benar hidup menyedihkan, bagaimana bisa seorang wanita dewasa hidup seperti itu. Apa yang kau pikirkan ketika kau akan hidup di umur 30 tahun? Pasti kau akan menjawab, tentu saja kau ingin memiliki keluarga, dengan satu atau dua orang anak. Memiliki hidup sederhana, mempunyai suami yang mapan, menunggunya pulang bekerja. Oh! bagaimana sangat romantis.

Dan apa yang dia inginkan di umur 30? Baiklah jangan menyebutkan umurnya. Dia akan sensi. Lihat dia sudah seperti serigala sekarang. Me-na-kut-kan.

Dan jawabannya adalah sama sepertimu. Dia benar-benar ingin menika

h sekarang, memiliki suami yang tampan dan kaya. Memiliki sebuah keluarga yang benar-benar utuh dan harmonis. Memiliki bayi yang lucu. Dia sangat menginginkan itu. Tapi, Hell, Bagaimana dia bisa dia memiliki itu semua jika kelakuannya hanya seperti ini. Hidup membusuk di sebuah apartemen kecil dengan beberapa meter persegi, mengurung diri di rumah dengan menonton drama berjam-jam, dan hanya keluar jika ia akan berkerja pada shift malam penjaga toko.

Dia mencoba sebelumnya. Tapi keberuntungan masih belum berpihak padanya. Dia mencoba bergaul dengan beberapa pria, dan memenuhi beberapa kencan buta yang teman atau ibunya mengatur untuknya. Tapi apa, semuanya hilang. Hanya ketika ia mendapat satu pria yang ia suka dan pria itu menyukainya juga. Kesempatannya hilang hanya karena dia buang angin di depannya. Sungguh memalukan. Itu tidak disengaja, tiba-tiba saja perutnya terasa kram seperti panggilan darurat pada kencannya saat itu. Lelaki itu lalu menatap aneh padanya, dan berpikir yang aneh-aneh dipikirannya. Setelah itu, kau pasti apa tahu apa yang terjadi, Lost Contact.

Hidup sangat kejam padanya. Apa yang ia lakukan pada dunia, kenapa hidupnya tidak berjalan sesuai keinginannya. Kenapa tidak ada satupun lelaki yang ingin menikahinya? Diralat, hanya berkencan, Why!!

Di lihat dari latar belakang pendidikannya, dia seratus persen lulus. Dia menyandang gelar sarjana hukum dan lulus dengan nilai yang memuaskan.Wajah, dia lumayan cantik. Sexy? Oh no, dia tidak seksi, mungkinkah itu sebabnya lelaki tidak tertarik padanya? Haruskah dia berubah menjadi seorang wanita sexy yang menggoda. Tidak, tidak dalam sejuta tahun.

Perjuangan tidak berhenti sampai disitu, Dia menghadiri setiap seminar yang orang-orang penting dan kaya menghadiri. Tidak peduli seminar apapun itu, terkecuali seminar tentang politik, dia benar-benar tidak peduli pula tentang kehidupan politik, yang dia inginkan hanya mendapat pacar dan menikah. Dia pergi memakai pakaian bagus setelan jas, memakai rok di atas lutut, dan juga make up, seperti yang orang kantor lakukan. Dia juga pergi ke beberapa galeri untuk melihat beberapa lukisan yang menenangkan, padahal sebenarnya ia ingin mencari pacar.

Ya Tuhan, kenapa sangat sulit hanya untuk mendapatkan satu pria. Apa Kau benar-benar menginginkan aku menjadi perawan tua?

Itu adalah kata-kata yang ia selalu katakan saat ia menyerah pada dunia dan duduk menatap langit gelap.

Hanya memberiku satu, Please..

 

 

-30-

 

 

Hyoyeon tampak bersemangat hari ini. Dia bersenandung lagu dengan gembira. Berjalan ke lemari mencari sepasang pakaian yang akan ia gunakan hari ini. Dia berdiri di depan cermin besar melihat tampilannya. Kemeja biru muda dengan rok sepan di atas lutut dan blazer hitam, sempurna. Kemudian dia duduk di depan meja rias, melepaskan roll rambutnya. Dia membiarkan rambut gelombangnya jatuh dibahunya. Memakai lipstrik pink, mascara dan blush on di pipinya.

Dia melihat kalender yang penuh dengan tanda-tanda di beberapa tanggal. Dia menggerakkan jarinya pada satu tanggal dan tersenyum.

“Home Heaven” Dia bergumam.

Dia tampak semangat dengan jadwal yang ia tandai. Itu adalah seminar tentang kearsitekturan. Bagaimana ia sangat menyukai tentang desain sebuah rumah. Bagiamana dia selalu membayangkan tinggal di sebuah rumah idaman dengan keluarga yang penuh dengan kebahagian. Dia sangat menunggu untuk hari ini, dan ini akan mengembalikan moodnya setelah menghadiri kencan buta yang ibunya atur semalam. Plus, Ini adalah kesempatan terakhirnya, jika dia tidak menemukan satu pria yang akan dijadikan suami. Dia harus menyerah dan menerima tawaran terakhir ibunya.

Mengingat kencan buta kemarin, dia merinding ketakutan melihat pria didepannya. Betapa dia ingin kabur dari pria dengan tampang seperti preman. Dia mengomel pada ibunya, menjodohkan dia dengan pria seperti itu. Yah, dia ingin memiliki kekasih, tapi jika orangnya seperti yang ia temui semalam, dia akan rela menjomblo untuk lebih lama lagi.

Dia menghormati ibunya yang memilih pria untuknya. Tapi dia lebih suka untuk menemukannya sendiri. Dan dia akan mencari di sini. Dia menggerakkan kedua tangannya dan membentuk pola panah yang diarahkan ketanggal seakan-akan ia memanah itu.

“Pangg!! Aku akan memanah satu pria” Dia berkata percaya diri, sebelum menghentakan stilettonya meninggalkan rumah yang lebih terlihat seperti kapal pecah.

 

 

-30-

 

 

Hyoyeon berjalan elegan memasuki hotel berbintang dan langsung menuju ballroom tempat dimana seminar dilakukan. Dia merapikan pakaiannya, menegakkan tubuhnya dan sedikit mengatur rambutnya yang dihembus angin.

Dia menarik napas, berjalan dan mengambil brosur yang disediakan oleh panitia. Dia memandang takjub melihat pemandangan di dalamnya, banyak replika-replika rumah, apartemen maupun hotel yang terletak di atas meja yang dikurung dengan kaca bening. Dia berjalan kekiri dimana ada terletak pajangan replika sebuah rumah yang benar-benar seperti surga menurutnya. Rumah yang mempunyai halaman luas, dari luar dia bisa melihat replika isi rumah yang memiliki lantai kaca dengan dibawahnya terdapat kolam renang.

Dia tidak lupa dengan tujuan utamanya, seorang pria. Dia berakting seperti dia memahami tentang kearsitekturan, berlagak seperti wanita karir dan berkelas. Satu atau dua kali dia menyibakkan rambutnya kebelakang memamerkan leher jenjangnya. Dia melirik kekiri dan menemukan satu pria yang melihat kearahnya. Dia tersenyum dalam hati. Kemudian dia melihat lagi pria itu, dan pria itu tersenyum kembali sembari melambaikan tangannya.

“Mwoya.. Dia tersenyum padaku dan melambaikan tangan.” Katanya dalam hati sembari menyelipkan rambutnya kebelakang telinga malu-malu.

Dia tersenyum malu-malu menundukkan kepalanya. Ketika dia menegakkan wajahnya lagi dan melihat pria itu bergerak kearahnya. “Ya Tuhan dia menghampiriku, Memang tidak ada yang bisa tahan dengan pesonaku” Katanya lagi dalam hati percaya diri. Dia menggigit bibirnya diantara senang saat pria itu mendekat.

Dia mengangkat satu tangannya, malu-malu membalas sapaannya. Dia menunduk lagi melihat pria itu tidak berhenti tersenyum ke arahnya yang menunjukkan lesung pipi yang membuat dia semakin berdebar melihat senyumnya. Dia tidak percaya sangat mudah untuk menarik perhatian lelaki tampan seperti dia.

Ketika dia melihat pria itu tepat satu langkah didepannya. Dia segera menegakkan tubuhnya dan bersiap-siap menyapanya. Tapi apa yang terjadi, membuat wajahnya kembali kusam dan menjadi merah memalukan karena pria tersebut hanya melewatinya dan menyapa wanita cantik yang berada di belakang Hyoyeon meninggalkannya tercengang.

“Yoona-ah, kau datang” Dia mendengar pria itu memanggil wanita tepat dibelakangnya.

Hyoyeon spontan menurunkan tangannya dan berdehem menstabilkan perasaannya. “Sial, kenapa aku tidak bisa melihat dia menyapa wanita dibelakangku. Ini memalukan!” Hyoyeon memarahi dirinya sendiri. Dia sekilas melihat wanita yang dibelakangnya, dia sangat cantik seperti seorang dewi, tubuhnya, kulitnya dan wajahnya sangat sempurna yang jauh berbeda dengan dirinya. Mereka tampak serasi. Hyoyeon cemberut.

“Mungkin bukan dia, masih banyak yang lain Hyo. Fighting!” Dia berkata pelan menyemangati dirinya sendiri.

Dia menuju tempat dimana bartender yang menyiapkan minuman, mungkin minuman bisa membangkitkan percaya dirinya lagi. Di arah jam dua belas tepat didepannya dia melihat lagi seorang pria tampan, mengenakan tuxedo dengan dasi kupu-kupu. Tubuhnya tinggi, kulitnya maskulin dan bisa dilihat dia berdarah campuran antara korea dan china. Dia ingin menyapanya, tapi kali ini dia tidak ingin gegabah, dia tidak ingin terulang untuk yang kedua kalinya.

Hyoyeon berjalan mendekat perlahan, dan saat ia hampir mencapai. Tiba-tiba lampu utama dimatikan dan menyisahkan lampu-lampu hias yang mengelilingi replika-replika. Lampu sorot juga dihidupkan dan diarahkan kearah panggung yang menampilkan seorang MC yang memberi salam. Hyoyeon melihat orang-orang bertepuk tangan mengambil tempat duduk meja bundar yang disediakan. Dia melihat pria itu yang juga duduk, dan matanya tertuju pada satu kursi kosong disebelahnya. Tanpa ragu dia berjalan secepat mungkin mengambil tempat duduk sebelum dicuri orang lain.

Hyoyeon melihat pria itu terkejut karena kedatangannya tiba-tiba. Dia membungkuk memberi salam dan tersenyum manis padanya. Pria itu ingin memprotes jika tempat duduk itu ada yang memiliki tapi terhenti ketika mendengar suara MC yang memulai pembicaraan.

“Nah seperti yang kalian lihat dari pajangan yang menakjubkan, tidakkah kalian penasaran dengan siapa perancangnya dan pemilik acara ini?” MC berbicara dengan semangat dan antusias dengan melihat pajangan-pajangan yang ada.

“Baiklah, karena saya juga penasaran tentang hidupnya dan bagaimana dia meraih ini. Mari kita sambut arsitek terbaik kita, tuan Xiumin!” Setelah MC mengumumkan, lampu sorot berpindah kearah pintu samping panggung dimana seorang pria muda tampan muncul dengan senyum lebar diwajahnya.

Dia disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para hadirin yang datang ke seminarnya. Para gadis-gadis muda berbisik-bisik betapa tampannya dia. Hyoyeon juga tidak kalah semangat melihat seorang pria muda tampan yang berdiri di panggung berjalan gagah dan membungkuk kepada para tamu.

Senyum tidak lepas dari wajah Xiumin. Setelah lama apa yang ia impikan, akhirnya ia bisa mencapai impiannya menjadi arsitek yang handal dan melakukan seminar pertamanya ditempat kelahirannya. Dia sangat bangga pada dirinya sendiri untuk bisa mencapai ini semua, setelah perjuangan sulit yang ia rasakan saat belajar dan jatuh bangun bagaimana ia di cemoh dengan rancangan pertamanya oleh orang-orang.

Dia sangat senang bisa berada di disini dan membuka kantor arsiteknya sendiri di tanah kelahirannya, dan apa yang paling penting, dia akan menemukan orang yang selama ini sangat istimewa di hatinya.

Hyoyeon tidak menyangka melihat pria muda tampan yang keluar dari balik pintu tersebut. Dia mengira yang akan keluar adalah seorang pria yang sudah berumur lima puluhan karena melihat desain, replica dan tentu saja seminar besar seperti ini. Ini harus menjadi orang yang banyak pengalaman.

Mata Hyoyeon mendelik kaget melihat pria muda tampan yang dipanggil Xiumin itu melihat kearahnya dan tersenyum. “Eiyy.. aku tidak akan terjebak untuk kedua kalinya, dia pasti sedang menyapa yang berada disekitarmu” katanya dalam hati. Dan benar saja, pria tampan yang duduk disebelahnya yang menjadi incarannya melambaikan tangan dengan semangat kearah Xiumin.

Hyoyeon menatapnya aneh, dan Xiumin membalas tersenyum tulus dari atas panggung menunjukkan deretan giginya yang rapi. Pikirannya terbang entah kemana yang mengarah aneh. “Mwoya? Apa mungkin mereka-Kekasih?” Dia merinding membayangkan pria di sampingnya. “Apa yang kau pikirkan Hyo!!” Dia menepuk dahinya pelan, tapi terlalu kuat yang dia rasakan sehingga merintih pelan dan didengar oleh pria disampingnya. Pria itu melihatnya aneh dan Hyoyeon hanya tersenyum canggung.

“Wah.. Aku tidak menyangka saat melihatmu keluar dari pintu tersebut. Kau masih muda” MC bercanda, “Baiklah karena tuan Xiumin sudah berada disini, bagaimana kita langsung memulai dan mendengarkan pidato dari tuan Xiumin”

“Tuan Xiumin kau dipersilahkan” Xiumin mengambil mic dari MC, berterima kasih dan dia menerima tepukan tangan yang meriah.

Dia memulai dari pengenalan dirinya. Dia menjelaskan bahwa ini adalah cita-citanya saat dia masih kecil. Dia memberitahu jatuh bangun yang dia lalui saat masih belajar dan menjadi junior yang bekerja menjadi bawahan diperusahaan arsitek terkenal di China. Dia berusaha dan berusaha untuk mencapai ini, tidak peduli orang mencemoh karyanya dia tetap berusaha. Dia juga menjelaskan bagaiamana membuat suatu desain yang menarik dan unik. Disamping itu, dia juga menjelaskan bahwa suatu desain adalah suatu keindahan yang sangat menakjubkan, itu bagaimana menunjukkan keinginan seseorang. Membuat desain bukanlah hal semudah dibayangkan, itu juga perlu mengukur pengeluaran anggaran yang akan dibuat.

“Wah.. Dia sangat keren” Kata Hyoyeon takjub diam-diam memperhatikannya.

Xiumin menyelesaikan pidatonya dengan berterimah kasih. Kemudian MC datang padanya dan mengajaknya sedikit berbicara. “Tuan Xiumin, didalam kesuksesanmu ini, apakah ada seseorang yang membuatmu mencapai ini, maksudku seorang kekasih? Mungkin para gadis-gadis disini juga ingin tahu dengan status hubunganmu” tanya MC menggoda yang membuat para gadis berseru dan tertawa.

Xiumin tertawa sebelum menjawab. “Aku masih lajang. Sebenarnya yang membuatku bercita-cita seperti ini adalah teman kecilku. Dia selalu mengatakan bahwa dia ingin memiliki sebuah rumah dan selalu memintaku untuk membuatkannya. Kau tahu anak kecil, aku mengiyakannya dengan semangat dan itu terbawa sampai sekarang. Dia mengatakan bahwa rumah adalah surga kecil, tempat dimana orang yang kau sayangi berada disana dan kau akan menemukan kebahagian” Xiumin menjawab tenang.

“Sepertinya aku pernah mendengar kata-kata itu” Seru Hyoyeon pelan memiringkan kepalanya berpikir.

“Jadi kau membuatkannya sebuah rumah sekarang?” tanya MC terkejut.

“Aku berencana seperti itu” Jawab Xiumin tenang membuat MC tercengang dan para gadis berseru iri.

“ Lalu bagaimana dengan tipe idealmu?” Tanya MC penasaran.

“Tipe idealku tentu saja dia harus cantik, dia bisa memasak, aku suka dengan mata yang bersinar dan cerah. Memiliki rambut panjang dan yang paling penting dia mencintaiku” Dia mengatakan tersenyum memikirkan wajah seseorang yang sangat ia rindukan.

“Apa kau sedang memikirkan seseorang dalam pikiranmu sekarang?” tanya MC menggoda yang melihat wajah Xiumin berubah merah.

“Ne?” Xiumin terkejut dengan pertanyaannya, lalu tertawa. Dia mengalihkan pandangannya ke tempat para hadirin dan matanya terhenti saat melihat seseorang yang benar-benar ia sangat rindukan.

“Apakah ada seseorang yang istimewa dalam hatimu tuan?” MC bertanya lagi, tidak puas dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.

“Ya ada” Jawabnya mantap dan membuat para gadis iri pada wanita yang Xiumin maksud tersmasuk Hyoyeon.

“Apa dia teman kecilmu itu?”

“Aku pikir ini terlalu banyak untuk mengetahui” Xiumin menjawab terrsenyum malu. Dan MC pun juga merasa tidak enak untuk menggali lebih jauh. Kemudian MC menutup percakapan dan berterima kasih padanya.

Hyoyeon sesekali tertawa saat MC menggodanya Xiumin. Dia juga bergumam iri saat Xiumin mengatakan ada seseorang yang istimewa dalam hatinya yang membuatnya berhasil seperti ini. Wanita itu pasti benar-benar istimewa untuknya. Tapi semakin Hyoyeon lihat wajah Xiumin, dia semakin mirip dengan seseorang yang sangat ia kenal dulu.

Acara bergulir menjadi sederhana, para tamu menikmati hidangan yang sudah di sediakan. Hyoyeon berdiri didekat meja minuman sendirian, merasa bosan. Dan dia benar-benar tidak menemukan satu pria pun, bahkan pria yang ia incar sekarang menghilang entah kemana. Mungkin dengan pasangannya. Hyoyeon mendesah, mungkin dia harus menyerah dan menerima pilihan terakhir ibunya.

Dia meletakkan gelas berniat meninggalkan acara. Dia berjalan kearah pintu utama tapi terhenti ketika dia merasakan seseorang menahan tangannya. Dia berbalik dan menemukan Xiumin dengan senyum yang sulit diartikan.

“Oh? Bukankah kau orang yang memberi pidato?” Tanya Hyoyeon heran. ‘Kenapa dia menahanku? Apa dia tertarik padaku? Haha’

“Noona tidak ingat aku?” tanya Xiumin semangat.

‘Noona? Apa dia dekat denganku?’

“Ini aku Minseok, Kim Minseok. Noona, kau tidak ingat aku?” Kata Xiumin penuh harap. Mencari sesuatu dimatanya.

Hyoyeon mengerutkan kening. Menatap wajahnya, mengingat sesuatu. Minseok.. Minseok.. Kim Minseok. Sedetik kemudian matanya membesar teringat sesuatu, dia menutup mulutnya tak percaya. Kim Minseok tetangganya dan teman kecilnya dulu.

“Kim Minseok!! Baby Kim!! Ya Tuhan, Ini sungguh kau?” Hyoyeon meledak histeris memegang pipi Xiumin. Orang-orang mengalihkan perhatiannya pada mereka, menatap aneh.

“Ya Tuhan, aku tidak tahu kau sebesar ini sekarang. Lihat dirimu, kau sangat tampan sekarang. Aku tidak menyangka kau tumbuh seperti ini, saat dulu kau menangis meminta gendong padaku” Hyoyeon histeris mengatakan sambil membolak-balikan wajah Xiumin dibekapannya ke kanan dan ke kiri.

Xiumin melihat orang-orang yang menatap mereka aneh. Dia merasa malu sekarang. “Noona, kau membuatku malu. Orang-orang menatap kita” Xiumin berkata lirih.

Hyoyeon melihat sekitar dan benar saja, orang-orang menatapnya ganjil dengan tindakannya. Dia langsung menarik tangannya, menggaruk tengkuk yang tidak gatal. “Sorry” Katanya tersenyum canggung.

“Kau bereaksi berlebihan Noona” Xiumin protes.

“Ini salahmu, Kau muncul dihadapanku dengan perubahan yang menakjubkan. Aku tidak menyangka bayi Kim yang aku kenal ingusan sekarang tumbuh menjadi pria tampan. Lihat” Hyoyeon mengukur tingginya dengan tangannya. “Kau bahkan lebih tinggi dariku sekarang”

“Yah.. Apa yang bibi Kim berikan padamu sampai kau seperti ini?” lanjut Hyoyeon masih tidak percaya melihat Xiumin sahabat kecilnya tumbuh menjadi pria tampan dan berhasil.

“Kau tidak percaya ini aku kan? Noona terpesona denganku sekarang kan?” Tanya Xiumin main-main saat mereka sudah di balkon ballroom.

“Eiyy.. Kau ini, ternyata rasa percaya dirimu berkembang dengan baik juga oh?” Ujar Hyoyeon mengejek.

Mereka berdua diam beberapa saat. Berkata dalam pikiran masing-masing. Hyoyeon melihat lurus kedepan menikmati pemandangan kota yang sangat luar biasa, kota Seoul yang penuh dengan kesibukan dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi.

Namun diam-diam Xiumin menatap wanita disampingnya penuh dengan kehangatan, kasih sayang, kerinduan, dan penuh keingintahuan. Apa yang dia lakukan selama ini? Apa dia punya pacar? Apa dia sudah menikah? Berapa umurnya sekarang?

Dia sangat ingin menanyakan semua itu, tapi akan butuh waktu lama untuk membahas semua itu, dan dia tidak ingin untuk membiarkannya berpisah dengannya lagi.

“Bogoshippeo.. Nomu bogoshippeo noona..” Serunya masih menatap dalam padanya.

Hyoyeon membeku. Tentu saja dia juga merindukan Xiumin, tapi apa yang membuatnya membeku adalah cara Xiumin mengucapkan dengan suara yang penuh kehangatan. Hatinya merasa tersengat, Hyoyeon membalas tatapannya dan seperti listrik yang menyetrum tubuhnya, membuat jantungnya berdetak cepat. Dia tidak tahu, apa yang membuat jantungnya seperti ini.

Tatapan mereka pecah saat mendengar seseorang berdehem, Hyoyeon yang pertama kali melihat orang itu. Dahinya berkerut, dia pria yang ia incar tadi, pria tinggi yang duduk disampingnya.

“Oh? Kau?”

“Kau kenal dia noona?” tanya Xiumin setelah mengikuti pandangan Hyoyeon.

“Ani, hanya saja.. Aku.. melihatnya tadi..” Dia menyengir canggung. Hah! Bagaimana mungkin dia akan mengatakan bahwa dia akan mendekati pria ini. Itu sungguh memalukan.

“ah.. Dia temanku dari China, kenalkan dia Kris, dan Kris ini teman kecilku, Hyoyeon” Xiumin memperkenalkan, mereka berdua berjabat tangan dan saling memberi salam.

“Teman kecilmu ya..” Kata Kris penuh makna pada Xiumin.

 

 

-30-

 

 

Hari berlalu dan minggu berganti seperti biasa. Tapi bagi Hyoyeon itu tidak seperti biasanya. Bayangkan saja, setelah dia pulang dari seminar Xiumin, tidak pernah ponselnya berhenti berdering dari panggilan masuk atau pun pesan, yang tidak lain adalah Xiumin.

Mereka bertukar nomor sebelumnya bahwa Hyoyeon berjanji tidak akan kehilangan kontak dengan Xiumin lagi, dan dari pertemuan mereka kemarin sampai sekarang mereka belum ada bertemu sekali pun. Jadi wajar saja jika Xiumin menghubunginya entah sampai berapa kali.

Ini bagus untuk menemukan teman dekat yang sempat hilang, tapi jika begini cara Xiumin menghubunginya seperti dia harus meminum obat tiga kali sehari. Bukan, ini bahkan lebih dari resep dokter yang berikan untuk minum obat. Hampir dua puluh kali Xiumin menghubunginya dan mengirimnya pesan dalam sehari dan membuat Hyoyeon benar-benar tertanggu.

“Yah!! Kau tidak punya pekerjaan?” Tanya Hyoyeon kesal saat menerima panggilan yang 15 kali dari Xiumin.

“Aku punya” Jawab Xiumin santai dari jalur lain.

“Lalu kenapa kau terus menelponku, bayi Kim!!” kata Hyoyeon dengan gigi terkatup.

“Aku bukan bayi Noona, aku sudah dua puluh enam sekarang”

“Baiklah ahjussi, apa yang kau inginkan?”

“Ahjussi aniyaa!!” Xiumin histeris dari jalur lain, membuat Hyoyeon menjauhkan ponsel dari telinganya.

“Kau terlalu cerewet, aku panggil bayi kau marah, aku panggil ahjussi kau marah, lalu aku harus memanggilmu apa? Appa? Harabeoji? Halmeoni? Unnie?”

“Oppa.. Cukup panggil aku oppa!” Seru Xiumin.

“Haha! Yah, Kau lebih muda empat tahun dariku, bagaimana bisa aku memanggilmu oppa. Dalam mimpimu ahjussi!”

“Aku akan menutup telepon, Aku sibuk” Tambah Hyoyeon beralasan, padahal dia sedang duduk santai menonton drama.

“Aku akan terus menelponmu sampai kau memberitahu dimana rumahmu” Xiumin mengatakan cepat.

“Aishh Ahjussi ini. Ahrasseo-ahrasseo, aku akan mengirim pesan dimana alamatku. Dan berhenti menggangguku” Hyoyeon memperingatkan. Dia bisa mendengar suara Xiumin tertawa gembira dan dia tersenyum.

“Gomawo Ahjumma”

“Yah!! Ahjumma aniya!!” Protes Hyoyeon, tapi Xiumin sudah menutup panggilannya duluan. Dia berdecak kesal dan kembali serius melihat tv.

Hyoyeon mengirimnya pesan dimana alamatnya. Dia duduk santai menonton drama sampai dia tertidur di sofa entah sampai berapa lama, sampai suara bel mengganggunya.

Dia berjalan malas ke arah pintu dan tak repot-repot memeriksa dari monitor siapa tamunya. Dia membuka dan melihat Xiumin sudah berdiri di depannya dengan senyum dari telinga ke telinga.

Xiumin menunggu diluar menekan bel untuk sekian kalinya. Mencium aroma bunga mawar merah yang ia beli sebelum ke rumah Hyoyeon. Dia tersenyum lebar saat mendengar bunyi bip dari dalam rumah dan pintu terbuka.

Xiumin mengedipkan matanya berulang kali, berharap apa yang ia lihat didepannya saat ini benar-benar Hyoyeon sahabat kecilnya yang cantik yang lucu, tapi apa muncul di depannya seperti monster yang baru bangun dari tidurnya.

Xiumin memperhatikannya dari ujung kaki sampai kepala. Hyoyeon mengenakan training panjang lengkap dengan retsleting dikancing sampai ke leher. Rambut digulung acak dibelakang dan jika diperhatikan dengan teliti bahwa ada cairan kering berada disudut bibirnya. Xiumin menatapnya ngeri. Bunga yang ia pegang, jatuh lemas disamping tubuhnya beserta tangannya.

“Kau~ datang~” Sapa Hyoyeon dengan nguap lebar yang membuat siapa pun melihatnya ingin lari termasuk Xiumin.

Hyoyeon menyuruh masuk dan Xiumin mengikuti. Xiumin melihat keseluruh rumah yang menampilkan beberapa perabotan sederhana, beberapa barang berantakan, baju berserakan di sandaran sofa. Xiumin menelan saliva sulit saat melihat kecoa melintas di westafel.

Dia hidup seperti ini? Hidup seperti zombie? Ya Tuhan, Apa dia benar-benar cinta pertamaku yang indah itu? Kata Xiumin dalam hati.

“Kau membawa mawar untukku?” Tanya Hyoyeon saat membuat minuman, setidaknya dia tahu bagaimana menjamu tamunya.

“Oh? Ah ya, ini untukmu” Kata Xiumin gagu, kembali dari alam sadarnya. Memberikan bunga pada Hyoyeon.

“Aku minta maaf, rumahku tidak sebagus yang diharapkan. Kau pasti tidak nyaman berada disini, itulah kenapa aku tidak memberitahu alamatku” Hyoyeon meletakkan minuman di meja dan duduk di samping Xiumin.

“Jangan seperti itu noona, ini tidak masalah untukku, yang terpenting adalah aku bisa melihatmu”

“Kau sedang menggodaku sekarang?”Kata Hyoyeon tapi masih berhasil membuatnya memerah dengan ucapan sederhana Xiumin.

“Kenapa kau tidak pernah membalas e-mailku? Aku mengirimmu pesan setiap hari selama delapan belas tahun, berharap suatu saat kau membalas e-mailku. Kau tahu, aku benar-benar frustasi menunggunya”

“Kau melakukannya?” Tanya Hyoyeon terkejut mendengar kata-katanya.

“Tentu saja, kau yang membuat janji untuk tetap saling berhubungan, kenapa kau yang mengingkari” Jawab Xiumin kesal.

Orang tua Xiumin adalah pengantin baru saat itu, mereka pindah ke Jeonju tempat dimana Hyoyeon tinggal bersama orang tuanya. Kim Jong Won ayah Xiumin membeli rumah tepat disebelah rumah Hyoyeon dan mereka menjadi tetangga saat itu. Dan mereka sangat dekat seperti saudara.

Hyoyeon berusia lima tahun saat itu. Dia gadis kecil yang penuh keingintahuan, Dia selalu bertanya pada Ibu Xiumin tentang Xiumin yang masih berusia lima bulan saat itu, Kapan Minseok bisa berjalan? Kapan Minseok bisa berbicara? Kapan Minseok bisa bermain denganku?

Mereka tumbuh bersama, seperti seorang kakak dan adik. Mereka tumbuh mengenal satu sama lain, walaupun mereka masih kecil, mereka mengerti bagaimana tali persahabatan, persaudaraan dan kasih sayang.

saat Xiumin lima tahun dan Hyoyeon sembilan tahun, mereka hampir tak pernah terpisahkan, bahkan ibu Xiumin selalu mengabadikan momen mereka dengan kamera ketika mereka jatuh tertidur setelah habis bermain.

Hingga sampai Xiumin berusia delapan tahun, ayahnya mendapat tugas dari pekerjaannya untuk mengurus proyek yang berada di China, sehingga mereka harus pindah dan tinggal disana untuk waktu yang lama.

Xiumin menangis karena tidak ingin pergi dan meninggalkan Hyoyeon. Dia bilang dia akan tetap bersama Hyoyeon. Dia masih muda, tapi mengerti kasih sayang, dia tidak ingin berpisah dengan Hyoyeon, dia tidak tahu apakah itu cinta atau hanya sebatas kasih sayang terhadap seorang kakak. Dia hanya mengikuti perasaannya.

Hyoyeon membujuknya agar dia mendengarkan orang tuanya dan ikut dengan mereka. Dia berjanji pada Xiumin bahwa dia akan selalu memberinya kabar sehingga dia tidak merasa sendiri dan dekat dengannya. Hasilnya dia mau mendengarkan Hyoyeon dan mengikuti orang tuanya untuk pergi. Sebelum pergi, Xiumin memberikan sebuah sketsa rumah mewah yang ia desain sesuai dengan keinginan Hyoyeon dan memberikan sebuah ultimatum pada Hyoyeon yang akan Xiumin tagih suatu saat nanti.

 

 

-30-

 

“Minseok-ah..” Panggil Hyoyeon pelan. “Mian..” Ujarnya setelah Xiumin diam cemberut karena dia tidak pernah membalas emailnya.

“Bukannya aku tidak mau membalas emailmu, saat itu ketika kau dan keluargamu pindah ke China, keluargaku juga melakukan hal yang sama. Kami kembali ke Busan karena Ibuku yang meminta, dia bilang dia tidak ingin tinggal disitu karena kalian tidak ada dan itu membuatnya sedih dan kehilangan. Jadi kami memutuskan untuk pergi. Aku lehilangan catatan yang kau tinggalkan saat di bandara, aku bahkan tidak tahu email pertamamu. Aku juga merindukanmu, kau tahu” Hyoyeon menjelaskan pelan, berharap dia akan mengerti.

Xiumin masih diam disampingnya, tapi kemudian dia tiba-tiba memeluk Hyoyeon yang membuat Hyoyeon terkesiap dan lagi, jantungnya berdetak cepat.

“Aku lega sekarang mengetahui kalau kau juga merindukanku Noona” Dia mengelus lembut punggung Hyoyeon, sesekali dia mencium rambut Hyoyeon.

Hyoyeon hanya membeku di tempat. Masih bingung dengan detak jantungnya yang berdetak cepat.

“Noona, bagaimana kau melakukan hidupmu tanpa aku? Tanya Xiumin setelah melepaskan pelukannya.

“Noona?”

“Oh? Kau bilang apa?” Tanya Hyoyeon kembali dari alam sadarnya.

Xiumin mendesah. “Apa yang kau lakukan tanpa aku selama ini?”

“Haha! Itu saaaaangaat menyenangkan” Hyoyeon merentangkan tangannya senang. “Aku tidak perlu mendengar tangisanmu, aku tidak perlu menggendongmu, aku tidak perlu memberimu permen. Ah! Tapi aku rindu untuk menyiksamu” Hyoyeon tertawa puas dan mengacak-acak rambut Xiumin senang.

“Kau seperti itu?” Tanya Xiumin kesal, cemberut manyun.

“Lihat wajahmu seperti itik buruk rupa sekarang” Hyoyeon tertawa menunjuk wajahnya dan memegang perutnya.

“Aishh..” Xiumin menyilangkan tangannya di dada. Memalingkan wajahnya ketempat lain. Dahinya berkerut saat matanya menangkap objek yang menarik perhatiannya di dinding. Dia berdiri dan mendekatinya. Itu sketsa rumah yang ia berikan delapan belas tahun yang lalu saat di bandara. Bibirnya tersenyum lebar. Dia menyimpannya selama ini, dan membingkainya.

Kesibukan mereka tertanggu dengan suara bel pintu.

“Oh! Jaehyun datang!!” Seru Hyoyeon semangat dan berlari ke arah pintu.

“Siapa Jaehyun? Pacarnya?” Xiumin berkata sendiri. Ada rasa cemburu dihatinya, dan dia berjanji jika itu pacarnya dia tidak akan membiarkan mereka. Dia mengikuti Hyoyeon ke depan melihat siapa Jaehyun itu.

“Jaehyun-ah!!” Hyoyeon membuka pintu dan memeluk anak yang berusia empat tahun berdiri di depannya. “Imo saaaangat merindukanmu” Hyoyeon membekam wajahnya imut. Sudah beberapa minggu dia tidak melihat Jaehyun dan dia sangat merindukannya. Sebelumnya dia mendapatkan telepon dari Seohyun meminta bantuan untuk menjaganya sementara dia akan pergi check-up kehamilan anak keduanya dengan suaminya. Tentu saja Hyoyeon tidak keberatan karena dia mencintai Jaehyun seperti anaknya sendiri.

“Jaehyun juga rindu sama imo” Dia tersenyum menunjukkan deretan gigi mungilnya.

“Jaehyun-ah, Jangan nakal dan menjadi anak yang baik, kau harus mendengarkan kata Hyoyeon Imo. Arasseo?” Seohyun mengelus rambutnya halus dan menasihatinya.

“Unnie- Oh? Kau siapa?” Seohyun terkejut melihat Xiumin yang muncul dari dalam rumah. Xiumin membungkuk memberi salam. Seohyun melihat Hyoyeon dan kemudian Xiumin secara bergantian. “Unnie, kau- Punya pacar?” Tanya Seohyun terkejut.

“Pacar?” Ulang Hyoyeon bingung. Dia mengikuti arah pandang Seohyun dan melihat Xiumin sudah berada di belakangnya. “Dia-“

“Dia terlihat muda untukmu, Kau menerima berondong sekarang?” Seohyun memotong Hyoyeon. Hyoyeon sigap menutup mulut Seohyun dan memelototinya. “Apa yang kau bicarakan?” Hyoyeon mengatakan berbisik mengatupkan giginya.

“Jangan menyimpulkan apapun, kebiasanmu tidak pernah berubah” Hyoyeon memperingatkannya. Seohyun terkikik pelan.

“Kenapa kau begitu lama buin-ah?” Yonghwa suami Seohyun muncul melingkarkan tangannya dipinggang Seohyun dan mencium pipinya. Membuat Hyoyeon iri setengah mati.

“Yah Yonghwa, kau tidak lihat disini masih ada aku. Jangan menunjukkan hal-hal seperti itu didepanku” Kata Hyoyeon kesal.

“Kalau begitu cepat menemukan pria dan menikah” Kata Yonghwa mengejeknya yang mendapatkan cubitan dipinggang oleh Seohyun.

“Seohyun berada dipihakku” Dia menjulurkan lidahnya mengejek Yonghwa. Seohyun mendesah melihat tingkah mereka. Mereka ini, sebagai teman tidak pernah akur.

“Kalau begitu kami pergi dulu unnie. Aku titip Jaehyun” Seohyun memeluknya sebelum mencium pipi Jaehyun.

Yonghwa juga mencium Jaehyun dan bertukar highfive dengannya. “Goodluck Hyo!” Ucap Yonghwa penuh makna melirik Xiumin yang berada di belakangnya.

“Bye omma, bye appa pastikan adikku baik-baik saja!!” Hyoyeon tertawa mendengar Jaehyun.

 

-30-

 

“Apa ini? Aku kira Jaehyun pacarmu” Ujar Xiumin saat mereka memasuki rumah. Xiumin menertawakan dirinya sendiri yang menduga bahwa Jaehyun adalah kekasih Hyoyeon.

“Aku memang pacar Imo. Kau siapa Ahjussi? Aku tidak pernah melihatmu” tanya Jaehyun berkacak pinggang.

“Lihat-lihat siapa anak ini yang berani-berani mengaku pacarnya?” kata Xiumin tidak mau kalah.

“Imo, siapa ahjussi ini? Aku tidak suka dengannya, dia cerewet sekali” Hyoyeon tertawa melihat tingkah Jaehyun.

“Yah! Siapa yang kau bilang ahjussi!!”

“Yah! Kenapa kau melawannya” Hyoyeon menyentil dahinya. “Dia hanya anak kecil”

“Aouchh! Aku benar-benar tidak menyukainya. Baru beberapa menit dia disini sudah membuatku kesal” Kata Xiumin melihat Jaehyun dengan tatapan membunuh. Jaehyun juga tidak mau kalah memandangnya sengit.

“Hmm, apa yang ingin Jaehyun lakukan sekarang?” Tanya Hyoyeon menjajarkan tubuhnya dengan Jaehyun.

“Imo aku ingin ke taman bermain!!” Jawab Jaehyun semangat.

Hyoyeon melirik Xiumin mendapatkan persetujuan untuk pergi. Xiumin mendesah kesal, mau tidak mau dia harus menurutinya. Kalau tidak dia akan ditinggalkan sendiri dirumah atau bahkan kembali ke kantornya. Dia tidak mau.

 

-30-

 

Napas Xiumin terengah-engah, jiwanya seperti terbang entah kemana. Dia tidak membayangkan dia akan menaiki wahana setinggi lima puluh meter dan dihempaskan secara spontan kebawah.

Dia melihat Jaehyun dan Hyoyeon yang terkikik kesenangan melihatnya menderita. Ini semua karena setan kecil ini. Jika saja dia tidak terpancing dengan ucapan setan kecil ini, dia tidak akan perlu menaiki wahana yang menakutkan seperti itu.

“Imo.. aku ingin pergi rumah hantu” Kata Jaehyun semangat melonjak-melonjak.

“Mwo!!”

“Wae? Ahjussi takut?” Jaehyun mengejek Xiumin.

“No!!!” Xiumin menantang. Padahal di dalam hatinya, dia sudah berdoa untuk keselamatannya. Berdoa agar hantu tidak memakan dia. Dia benar-benar benci untuk memenuhi tantangan setan kecil ini, tapi jika dia mengaku takut dia akan terlihat lemah di depan Hyoyeon. Hyoyeon hanya tertawa melihat pertengkarang kecil mereka. Dia menemukan Xiumin benar-benat lucu, dan dia tidak bisa memungkiri, dia terposana dengannya.

Xiumin menahan lututnya yang gemetar ketakutan saat mereka memasuki rumah hantu. Dia mencoba untuk memberanikan dirinya berjalan di depan mereka, tapi seorang monster tiba-tiba muncul dan membuatnya berteriak ketakutan dan berlari kebelakang Hyoyeon. Dia membenamkan wajahnya dibahu Hyoyeon dan bergumam kata-kata koheren seperti ‘Jangan membunugku, aku belum menikah’.

Hyoyeon dan Jaehyun tertawa melihat Xiumin yang seperti itu. Xiumin tidak perduli lagi dengan reaksi mereka. Dia tidak peduli jika dia dibilang penakut, yang dia inginkan sekarang adalah keluar dari rumah hantu ini.

“Kau baik-baik saja Minseok?” Tanya Hyoyeon khawatir melihat keringat dingin yang mencucur di wajahnya. Xiumin mengangkat tangannya sebagai jawaban bahwa dia baik-baik saja. Dia menatap Jaehyun dengan sengit karena menertawainya dan menirukan teriakan Xiumin saat didalam.

Kemudian Jaehyun menarik tangan Hyoyeon ke arah dimana sebuah badut memberi balon gratis kepada anak-anak. Mereka berfoto bersama, ada Xiumin, Hyoyeon, Jaehyun dan badut. Xiumin merasa hangat, ini seperti keluarga. Dan dia akan lebih senang jika ini adalah kenyataan.

Mereka menaiki komedi putar, cangkir putar dan banyak wahana lainnya. Sampai Xiumin tidak tahan lagi untuk mengikuti kemauan Jaehyun. Dia duduk lemas di tempat duduk yang di sediakan. Dia membiarkan Jaehyun menarik Hyoyeon ke toko souvenir, dia bilang dia akan membelikan calon adiknya boneka. Dia melihat Jaehyun yang mencoba memasangkan topi mickey pada Hyoyeon dan Jaehyun memakai minny. Xiumin tersenyum lucu, tapi senyumnya memudar saat melihat pria yang tidak jauh dari mereka menatap intens Hyoyeon. Dan apa yang lebih membuatnya panas Hyoyeon membalas pandangan pria itu.

Xiumin bangkit dan berjalan ke arah mereka. Dia sengaja berdiri di tengah-tengah antara mereka menghalangi acara pandang memandang dengan berpura-pura mengajak ngobrol Jaehyun. Saat Hyoyeon sedikit mundur untuk melihat pria itu, Xiumin juga mundur untuk menghalanginya, saat wajah Hyoyeon memiringkan sedikit untuk melihat pria itu lagi, Xiumin membungkukkan badannya sedikit untuk mengahalanginya lagi. Hyoyeon mendesah dan kesal.

“Yah!!”

“Apa?” Tanya Xiumin polos.

Mereka menaiki kincir angin untuk terakhir kalinya sebelum pulang. Berada di puncak atas kincir angin, menikmati pemandangan seluruh kota Seoul. Mereka hanya duduk diam menikmati angin yang menerpa wajah mereka. Sedangkan Jaehyun sudah tertidur di pangkuan Hyoyeon yang sudah kelelahan.

“Noona.. Apa kau masih ingat pernyataanku saat di bandara?” Xiumin memecahkan keheningan. Menatapnya serius.

“Itu..” Hyoyeon mencari kata-kata yang tepat untuk mengatakan. Tentu saja dia ingat. Bayi Kim yang seenaknya membuat pernyataan bahwa dia harus menjadi pacar dan istrinya di masa depan.

“Noona masih ingatkan? Ya kan?” tanya Xiumin menyelidik.

“Sekarang, Aku ingin menagih dan meresmikan pernyataan itu” Tambah Xiumin serius menatap matanya.

Itu saja, Hyoyeon sudah merasakan kupu-kupu diperutnya. Jantungnya berdetak kencang karenanya. ‘Kenapa ini? Kenapa aku seperti ini? Kenapa Jantungku berdetak secepat ini. Dia hanya seorang adik untukmu. Jangan melakukan hal-hal yang tidak mungkin kau lakukan Hyo’ Tapi jantungnya tidak mendengarkannya, dan itu semakin berdetak cepat saat Hyoyeon melihat matanya.

“Jadilah milikikku noona..”

 

 

-30-

 

 

Hyoyeon menggulingkan badannya ke kanan dan kekiri di tempat tidur. Kata-kata Xiumin masih terngiang di telinganya. Dan dia tidak bisa melupakan tatapan Xiumin padanya. Itu hangat, mata coklat yang penuh kasih sayang dan cinta.

Dia merasakan jantungnya yang masih berdetak kencang sedari tadi setelah mendengar pengakuan Xiumin. Dia mengacak-acak rambutnya, bingung. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Apa yang akan dia katakan ketika mereka bertemu nanti.

“Aiissshh!!”

Dia menutup wajahnya dengan bantal. Membuat gerakan menendang. “Jinjja, Bayi Kim berani-beraninya kau membuatku seperti ini!!” Dia berteriak di bawah bantal.

 

 

-30-

 

 

Hyoyeon memasuki restoran Perancis yang berada di sekitar Gangnam. Dia memutuskan untuk menerima tawaran terakhir ibunya. Dia menyerah, tapi kata-kata Xiumin benar-benar mengganggunya. Dia hanya delapan tahun waktu itu, tidak mungkin untuk mengerti tentang kekasih apalagi pernikahan. Tapi bagaimana dengan sekarang. Dia mengatakannya lagi, dan itu benar-benar terlihat serius.

Hyoyeon bingung. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Xiumin hanya seorang adik untuknya. Tapi perasaannya tidak bisa berbohong saat dia bersamanya. Dia nyaman dengannya, dia merasa senang, dia merasa hidupnya lengkap saat bersamanya. Sebanyak apapun dia menyangkal pada perasaannya, tapi dia tidak bisa menyembunyikan bahwa jantungnya berdetak cepat saat dia memikirkan Xiumin.

Dan dia tahu apa itu. Jadi, dia ingin menghilangkannya.

Dia melihat sekeliling dan menemukan seorang pria yang ibunya beritahu ciri-cirinya. Dia menghela napas sebelum menghampirinya.

“Lee Jungshin-ssi?” Tanyanya lembut.

“Ne, Aku Lee Jungshin” Dia berdiri dan mengulurkan tangan, mengenalkan diri.

“Aku Kim Hyoyeon, maaf aku terlambat” Dia menerima tangannya dan tersenyum. Dia tampan. Dia berkata dalam hati sambil mengambil tempat duduk didepannya.

Dia mengambil ponselnya dari tas, dan membawanya kepangkuannya, mengetik pesan. ‘Omma, kau yakin dia orangnya? Lee Jungshin?’

‘Aku yakin, dia anak temanku. Aku sudah bertemu dengannya sekali. Kenapa?’ Ibunya membalas pesan. Dia tersenyum lembut pada pria yang menatapnya ingin tahu.

‘Ani, hanya saja.. Ini pertama kalinya omma memperkenalkanku dengan seorang yang benar-benar seperti seorang pria, Haha’

‘Apa maksudmu Hyo?’ Ibunya membalas lagi. Tapi dia tidak menjawab.

Dia tertawa dalam hati bagaimana mengingat ibunya yang selalu memperkenalkan dia dengan seseorang yang membuatnya merinding. Pertama pria itu seperti anak kecil yang menempel pada orang tuanya, kedua seorang pria tua keladi mata keranjang, dan yang terakhir, ya Tuhan dia tidak ingin mengingatnya, seorang pria menakutkan seperti seorang preman.

Jungshin berdehem untuk mendapatkan perhatiannya. Hyoyeon tersenyum dan meminta maaf mengabaikan dan sibuk dengan ponselnya beralasan bahwa itu ibunya. Dia mengerti, karena dia juga selalu mendahulukan orang tuanya.

“Aku banyak mendengar tentangmu dari ibuku” Jungshin memulai.

“Benarkah? Aku sangat menyesal, kalau kau bertemu dengan seseorang yang tidak sesuai seperti yang kau harapkan”

“Aniyo, Aku pikir apa yang ibuku ceritakan semuanya benar. Kau cantik” Dia berkata tulus.

Benarkah? Ibunya berkata seperti itu, Wah! Apa yang ibuku ceritakan pada ibunya.

Tiba-tiba pipinya terasa panas dan kemerahan. “Terima kasih. Aku minta maaf untuk mengganggu waktumu. Aku dengar kau seorang dokter, pasti sangat sibuk”

“Ya, aku seorang dokter anak. Hari ini aku libur jadi tidak masalah tentang itu. Kau tahu, ibuku selalu memintaku untuk bertemu denganmu. Bagaimana denganmu, apa aku mengganggu waktumu?”

“Aniyo, tidak sama sekali” Bagaimana mungkin dia mengganggu waktunya. Dia banyak memiliki waktu luang dalam hidupnya. Apalagi bertemu dengan lelaki tampan seperti dia, dia rela menghabiskan waktunya dengannya.

Mereka berbincang banyak tentang kehidupan mereka, bagaimana mereka lakukan sehari-hari. Tentu saja Hyoyeon menceritakan hidupnya yang dramatis. Dia tidak mau menyembunyikan hal-hal buruk yang dia lakukan, sebenarnya dia takut untuk menceritakannya karena bisa saja lelaki tampan ini kabur begitu saja setelah mendengar kehidupannya yang menyedihkan. Tapi mengejutkannya, lelaki ini malah tertawa mendengar ceritanya.

Hyoyeon menemukan dia seorang yang humoris. Dia sering membuat lelucon disela percakapan mereka. Semakin lama mereka berbicara, mereka semakin tahu satu sama lain. Hidup Jungshin juga tidak begitu beruntung dalam percintaan, walaupun dia tampan banyak wanita yang menolaknya. Wanita macam apa yang menolak pria tampan seperti ini. Itulah yang ada dipikiran Hyoyeon sekarang. Mereka juga menemukan bahwa mereka juga bersekolah di sekolah menengah yang sama, hanya saja mereka tidak kenal satu sama lain.

Disela-sela percakapan mereka, Hyoyeon dikejutkan dengan Xiumin yang tiba-tiba datang dan mencium pipinya. Jungshin juga terkejut dengan tindakan yang tiba-tiba.

 

 

-30-

 

 

Xiumin menginjak rem mobilnya mendadak melihat Hyoyeon dengan seorang pria. Mereka duduk di sudut restoran dengan dinding kaca yang terlihat dari luar. Dia tertawa dengan pria itu, dan Xiumin melihat pria itu juga memukul pelan lengannya saat tertawa seperti menceritakan sebuah lelucon.

Dia meremas setir mobil kesal menahan emosinya. Jadi dia mengabaikan apa yang aku katakan. Aku akan menunjukkan bahwa aku tidak main-main dengan ucapanku Kim Hyoyeon. Katanya dalam hati. Dan dengan itu, dia memakirkan mobilnya memasuki restoran, mengabaikan waitress yang menyambutnya, langsung menuju Hyoyeon dan mencium pipinya seolah-olah dia kekasihnya yang baru datang terlambat.

Dia tersenyum pada Hyoyeon yang melihatnya seperti ingin mencekiknya, mengabaikan orang yang berada didepannya.

“Maaf, aku terlambat honey, kau pasti sudah menunggu lama..” Sembur Xiumin.

Jungshin menatap aneh pada Hyoyeon dan Xiumin. Dia tersenyum tipis dengan pemikirannya bahwa Xiumin adalah kekasihnya.

“Aku tidak tahu kau memiliki kekasih Hyoyeon-ssi” Ujar Jungshin.

Hyoyeon berpaling dan langsung melihat Jungshin, dia pasti salah paham. Dia ingin mengatakan bahwa ini tidak seperti apa yang dia pikirkan. Tapi Xiumin memotongnya dan ucapannya benar-benar membuat Hyoyeon semakin marah.

“Kau tidak memberitahu tentang kita honey, apa kau berencana untuk selingkuh, Hmm?” Tanya Xiumin dengan nada menggoda, dan menyenggol bahu Hyoyeon main-main.

Jungshin mendesis melihat tingkah Xiumin. Hyoyeon mulai panik melihat ekspresi Jungshin. Ini tidak boleh gagal. Setelah beberapa pendekatan mereka beberapa waktu lalu dan mereka benar-benar cocok, Jungshin adalah harapan satu-satunya, ini tidak bisa hancur begitu saja.

Hyoyeon mencoba melepaskan tangan Xiumin yang menggenggamnya erat memamerkan pada Jungshin, tapi Xiumin semakin mempererat genggamannya.

“Ju-Jungshin-ssi jangan salah paham, ini tidak seperti yang kau pikirkan” Hyoyeon mencoba.

“Salah paham bagaimana maksudmu honey?” Sela Xiumin.

“Aku tidak berbicara denganmu Minseok!” Hyoyeon melotot padanya.

“Aku pikir kalian butuh privasi untuk membicarakan masalah kalian. Kalau begitu aku pamit, Senang bertemu denganmu Hyoyeon-ssi” Kata Jungshin sambil berdiri dari tempat duduknya, tersenyum sebelum pergi.

“Jungshin-ssi aku bisa menjelaskan..” Kata Hyoyeon yang juga ikut berdiri, tapi Jungshin sudah terlanjur berbalik dan pergi. Xiumin tersenyum kemenangan dibalik punggung Hyoyeon.

“Kau senang sekarang? Kau puas?” Ucap Hyoyeon marah. Mengambil tasnya dan pergi.

Xiumin Juga bangkit dan mengejar Hyoyeon. Dia menarik tangannya dan membuatnya berhenti. Dia bisa melihat sorot mata Hyoyeon yang penuh dengan emosi. Dia bahkan melepaskan tangan Xiumin kasar.

“Apa yang kau lakukan Minseok? Kau tidak tahu betapa sulitnya aku untuk benar-benar mendapatkan seorang pria? Dan kau menghancurkannya semudah itu?” Kata Hyoyeon marah dengan gigi terkatup. Rahangnya mengepal.

“Kau tidak perlu repot-repot mencari mereka dan menemui mereka, apa kata-kataku tidak jelas untukmu?” Jawab Xiumin. “Aku akan menjadi lelakimu dan menjadi kekasihmu” Kata Xiumin tekad.

Hyoyeon tersenyum miris. “Lelakiku? Kekasihku? Dengar Minseok, Aku seorang wanita yang berumur tiga puluh tahun dan sebentar lagi tiga puluh satu tahun, dan kau tahu itu bukan waktuku untuk berlovey dovey dengan seorang pria muda seperti yang kau inginkan! Aku seorang wanita yang butuh komitmen untuk menikah!” Kata Hyoyeon marah meninggikan suaranya.

“Kalau begitu lakukan, Menikah denganku!!” Jawab Xiumin juga sedikit berteriak.

“Mwo?”

“Menikah denganku” Ulang Xiumin yakin.

Hyoyeon tersenyum tipis “Jangan berbicara sembarangan Minseok. Menikah tidak semudah yang kau pikirkan. Menikah tidak semudah seperti kau membalikkan telapak tanganmu. Menikah butuh persiapan yang matang bukan main-main. Apa kau siap untuk meninggalkan semua masa lajangmu, apa kau siap meninggalkan semua ketenaranmu didepan gadis-gadis yang mengejarmu” Hyoyeon menarik napas menenangkan emosinya, sebelum melanjutkan. “Kau masih muda Minseok-ah, kau masih harus mempertahankan masa depanmu, aku tidak mau kau menyesal hanya karena aku” Kata Hyoyeon sedikit tenang.

Xiumin diam mendengarkannya. “Tapi.. aku mencintaimu noona” Katanya berbisik menatap mata Hyoyeon.

“Aku tahu, Kau mencintaiku karena aku seorang kakak untukmu, dan aku juga melakukannya” Xiumin menggeleng menolak pernyataan Hyoyeon.

“Bukan seperti itu noona..” Xiumin mengambil tangan Hyoyeon dan meletakkan telapak tangannya di dadanya. “Apa kau tidak bisa merasakan itu? Dia berdetak cepat saat kau berada didekatku..” Dia menatap mata Hyoyeon lekat.

“Noona.. Na.. Saranghanikka..” Katanya tulus, dia bisa melihat mata Hyoyeon yang sudah berkaca-kaca, dan sedetik kemudian air mata lolos dari sudut matanya.

Wae? Kenapa kau menangis? Apakah mencintaimu menyakitkan untukmu? Tanya Xiumin dalam hati.

Hyoyeon mengalihkan pandangannya, dia menolak saat Xiumin ingin menghapus air matanya. Dia menarik tangannya, mundur satu langkah sebelum berbalik dan benar-benar pergi meninggalkan Xiumin dibelakangnya. Jika dia tidak pergi sekarang, dia pasti akan runtuh dan menyerah pada perasaannya.

 

 

-30-

 

 

Hyoyeon mendesah berat untuk yang kesekian kalinya. Dia membenamkan wajahnya di lipatan tangan diatas meja kasir. Dia memperpanjang shift kerjanya menjaga toko pada malam hari hanya untuk membersihkan pikirannya dari Xiumin.

Benar-benar, anak itu sudah merasuki otaknya. Setiap detik, menit dan jam dia selalu memikirkan Xiumin. Bahkan dia tidak bisa tidur dimalam hari hanya untuk memikirkan bayi Kim. Dia meletakkan tangannya didepan dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang karena Xiumin.

“Apa yang harus aku lakukan denganmu..” Dia bergumam, bertanya pada detak jantungnya.

Sudah seminggu dia tidak bertemu dengan Xiumin. Dia mengabaikan semua pesan dan panggilan Xiumin. Dia sangat ingin menerima panggilannya, dan menanyakan apa yang dia baik-baik saja? Apa yang dia lakukan?. Oh! betapa dia sangat merindukannya.

Dia tidak bisa memungkiri bahwa dia jatuh cinta dengannya. Betapa dia juga sangat ingin mengatakan bahwa dia juga mencintainya. Tapi Xiumin berhak mendapatkan seorang wanita yang lebih baik dari dirinya, yang lebih cantik dari dirinya, yang lebih muda dari dirinya, dan berkarier seperti Xiumin yang sukses dengan gelarnya. Tidak seperti dirinya yang hanya menyandang sarjana hukum tetapi berkerja sebagai penjaga toko.

Disisi lain, Xiumin merasa frustasi karena panggilannya yang terus masuk ke pesan suara. Hyoyeon tidak pernah menerima panggilan dan tak membalas pesannya. Dia sekarat kerena sangat merindukan Hyoyeon. Memang benar bahwa Hyoyeon adalah seorang kakak untuknya, tapi perasaannya pada Hyoyeon bukan sebagai seorang adik, melainkan seorang pria yang mencintai wanitanya.

Dia mengusap wajahnya saat mengingat ucapan Hyoyeon tentang pernikahan, apa dia benar-benar siap untuk meninggalkan masa lajangnya, apa dia benar-benar siap untuk menjalin rumah tangga dan mengambil tanggung jawab besar sebagai kepala rumah tangga. Dilain sisi dia juga belum siap untuk menikah muda, dia masih ingin bermain dengan teman-teman tanpa batas, tapi dia juga tidak ingin kehilangan Hyoyeon dalam hidupnya.

Dia merasakan seseorang memukul pelan bahunya, dia mendongak dan melihat Kris. “Hanya memutuskan mana yang terbaik buatmu bro, fighting!” Kris mengepal tinjunya melayang di udara memberinya semangat. Yah, Kris tahu tentang dia dan Hyoyeon, Xiumin menceritakan semuanya termasuk kejadian seminggu lalu di luar restoran Perancis.

 

 

-30-

 

 

Xiumin menekan bel pintu Hyoyeon berkali-kali, berharap dia akan muncul dihadapannya. Dia tidak bisa membiarkan ini begitu saja, dia sangat merindukannya, dan dia harus bertemu dengannya. Dia sudah memustuskan pilihannya dan dia yakin dengan itu.

Dia mengeluarkan ponselnya, menelpon Hyoyeon tapi Hyoyeon masih belum mau mengangkat panggilannya. Jadi dia memutuskan untuk menunggu diluar. Dia duduk di lantai membenamkan wajahnya diantara lutut. Angin malam yang dingin tidak membuatnya goyah untuk pergi dari rumahnya. Dia akan tetap menunggu walaupun perutnya sudah mengaum kelaparan.

Hyoyeon berdiri tidak jauh dari apartemennya, dia melihat Xiumin yang tertunduk lesuh didepan pintu apartemennya. Dia menungguku? Sudah berapa lama dia disitu? Tanya Hyoyeon dalam hati. Hatinya mengepal saat melihat Xiumin menggigil kedinginan mempererat pelukan di dengkulnya.

Xiumin merasakan seseorang memperhatikannya. Dia mendongak dan melihat Hyoyeon yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Dia langsung berdiri dan menatap Hyoyeon dalam.

“Noona.. Aku minta maaf atas kejadian kemarin, aku benar-benar menyesal..” Kata Xiumin masih berdiri di tempatnya. “Tapi aku tidak main-main dengan perasaanku padamu noona, itu tulus”

Xiumin mengambil satu langkah maju. “Aku tidak keberatan meninggalkan masa lajangku, aku tidak peduli kehilangan ketenaranku di depan para gadis-gadis, dan aku juga tidak peduli memiliki seorang istri yang lebih tua empat tahun ataupun seratus tahun dariku asalkan itu kau”

“Aku juga tidak peduli dengan karierku karena aku pemilik perusahaan dan aku memiliki kemampuan untuk menarik kembali para pengusaha yang butuh rancanganku” Dia mengatakan sambil mlelangkah satu langkah lebih dekat. Hyoyeon tersenyum mendengar kepercayaan dirinya.

“Dan masa depanku, itu adalah kau. Jadi aku tidak perlu mengkhawatirkannya.” Dia melangkah satu langkah lagi.

“Kau benar, aku tidak mengerti tentang pernikahan yang memiliki tanggung jawab besar, bagaimana menjalankan suatu rumah tangga yang baik, aku tidak tahu. Karena itu aku perlu kau untuk mempelajari semua itu, mari kita membangunnya bersama-sama memiliki impian bersama-sama”. Dia sudah berdiri tepat didepannya. Dia melihat Hyoyeon yang sudah meneteskan air mata. Dia menghapus air matanya dengan ibu jarinya lembut, mengelus pipinya lembut, tersenyum tulus dan berkata.

“Jadi.. Menikahlah denganku Kim Hyoyeon..”

Air mata bahagia lolos begitu saja dari sudut mata Hyoyeon. Anak ingusan ini benar-benar membuatnya meleleh dengan kata-katanya. Dia tidak bisa berkata apa-apa, yang dia ingin lakukan adalah memeluknya dan memeluknya, betapa dia sangat merindukannya. Dia ingin berteriak mengatakan ‘Ya’, tapi melihat keadaan apartemen yang sudah sunyi dan waktu menunjukkan pukul sebelas malam dia pasti akan mendapatkan seember air dari para tetangga karena mengganggu tidur mereka.

“Aku mencintaimu.. bukan sebagai seorang adik, tapi sebagai seorang pria. Menikahlah denganku Kim Hyoyeon?” Ulang Xiumin menatap matanya lekat. Perasaan takut dan kecewa dia rasakan di hatinya. Bagaimana kalau dia menolaknya dan kehilangan dia selamanya. Dia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa dia.

“Aku juga mencintaimu.. sebagai seorang wanita..” Ujar Hyoyeon. “Dan aku ingin menikah denganmu Kim Minseok..” Lanjut Hyoyeon menatap dalam matanya.

Xiumin tertegun. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Dia tersenyum lebar, dia ingin teriak tapi di halangi dengan tangan Hyoyeon yang menutup mulutnya. Memperingatkannya karena sudah malam bahwa mungkin orang-orang akan terganggu. Jadi Xiumin hanya mengangkat bahu dan tersenyum. Dia mencium telapak tangan Hyoyeon yang masih menutup mulutnya. Hyoyeon membeku dan merasakan kupu-kupu dalam perutnya, dia mengedipkan matanya berulang kali.

Xiumin mencuri kesempatan dengan mencium bibir Hyoyeon. Dia tersenyum melihat reaksi Hyoyeon, dia tidak mengira noona galak seperti dirinya memiliki ekspresi yang lucu seperti ini. Xiumin berencana untuk menciumnya lagi, hanya sedikit lagi bibirnya menyentuh miliknya, tiba-tiba saja Hyoyeon memiting kepalanya.

“Yah!! Berani-beraninya kau menciumku!” Kata Hyoyeon pura-pura marah dan menariknya kearah pintu.

“Ah.. Ahh.. Sakit, Ahjumma lepaskan aku..” Xiumin meringis kesakitan, mencoba melepaskan tangan Hyoyeon dari lehernya.

“Mwo Ahjumma? Dasar kau ahjussi tua” Hyoyeon semakin mempererat pitingannya. Dia menekan password apartemennya dan masuk kedalam dengan Xiumin masih ditangannya.

“Yah! Kau jelas lebih tua dariku, kenapa kau membalikkan fakta” Xiumin menghentakkan tangan Hyoyeon dan berhasil lolos dari pitingannya.

“Kau ingin cari mati ya” Hyoyeon mengambil ancang-ancang untuk memukulnya, tapi Xiumin lebih dulu cepat mengecup bibirnya.

Lagi, Hyoyeon membeku dengan tindakannya. Dia merasakan wajahnya panas dan semerah tomat. Dia menurunkan tangannya dan menyentuh bibirnya. Dia tersenyum malu-malu yang membuat Xiumin tertawa lucu.

“Jika kau melakukannya dengan wanita lain, aku pastikan kau akan benar-benar mati” Hyoyeon memperingatkan. Baru sebentar saja dia tersipu malu, lalu hanya hitungan detik dia berubah menjadi galak.

“Noona, bagaimana kalau kita menikah sekarang..” Tanya Xiumin menggoda, mengedipkan satu matanya pada Hyoyeon. Dia maju selangkah yang membuat Hyoyeon mundur kebelakang. “Tiba-tiba saja aku ingin…”

Plak!!

“Byuntae!!” Hyoyeon memukul dahinya kuat.

Xiumin meringis kesakitan mengusap dahinya yang terasa panas. “Kenapa kau suka menyiksaku!!” Protes Xiumin cemberut. Hyoyeon tidak menghiraukannya dan mulai berjalan kedalam rumah.

Xiumin tersenyum nakal, dia menyusul Hyoyeon dan tiba-tiba memiting kepala Hyoyeon di tangannya. Membalas dendam. “Ini akibatnya kalau kau suka menyiksa suamimu” Xiumin tertawa puas melihat Hyoyeon yang memohon untuk melepaskannya. Bukannya melepaskannya, dia malah menggelitiki perutnya yang membuat Hyoyeon teriak histeris kegelian.

“Yahh!! Bayi Kim!!”

Tidak ada yang pernah tahu bagaimana kau akan menemukan pasanganmu. Seperti apa dia, kau tidak akan pernah tahu hanya Tuhan yang bisa menentukan. Tapi, tidak ada yang lebih menakjubkan ketika kau tahu bahwa pasangan yang kau cari selama ini adalah orang yang sangat dekat denganmu.

 

 

-End-

 

 

Pasti terlalu panjang, kekekeke.. Apa aku menyakiti matamu? Mian hihihihi

Beruntung Hyoyeon!! Kau akan menikah dengan Lajang yang paling dicari wooo!!!! Aku iri dengan Hyoyeon, LOL. Bagaimana denganmu? Apa kau menikmati cerita? Berikan komentarmu, aku akan senang untuk menerima umpan balik. Maaf typo 😀

Thank you so much 🙂

9 responses to “[One Shot] 30th (Thirty)

  1. Jealousss bangeeettt eoonnnnn! Bruntungg bangeeet si hyo! Baguss ffnya eoon! Ditunggu karya selanjutnya yaaa…

  2. aa.. bagus eon :3
    ga bisa ngebayangin Xiumin berwajah bayi tapi byuntae :v
    btw, yang jadi Lee Jungshin itu member cnblue kan? 😀 *biasku jadi cameo :’v

    ditunggu karya selanjutnya 🙂

  3. Kisahq hampir sm dngan hyoyeon. tp bedax aq ga’ px tmn kecl seprt minseok. Aq jg sll brkata kpd tuhan “beri aq hanya 1 saja” :\

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s