[One Shoot] Let Me Back

Cover Let Me Back

Let Me Back

Author : Oem

Cast : L infinite, Song Hye Rin (OC), Seung Yoon Winner

Genre : Romance, Angst, School life

Rating : T, PG-15

Myung Soo tidak pandai mengekspresikan perasaannya lewat kata-kata atau mimik wajahya. Myung Soo juga tidak bisa mengungkapkan rasa sedih ketika kekasihnya dicintai pria lain. Lalu apakah Myung Soo bisa mengatakan untuk meninggalkan Hye Rin?

Di pagi musim semi ini terlihat sepasang anak muda yang sedang asyik mengabadikan mekarnya bunga-bunga di sebuah bukit. Bukit yang tinggi dengan selimut rerumputan hijau yang damai, siapapun yang melihatnya ingin sekali sejenak merebahkan tubuhnya di bawah pohon-pohon besar disana, dengan bunga-bunga yang bermekaran sepanjang mata memandang disekelilingnya.

“Oppa lihatlah, bagaimana gambarku?” ucap seorang gadis dengan topi coklat bulat menutupi rambut emasnya. Tangannya menggegam erat kamera DSLR miliknya.

“Ehm tidak,” jawab pria disampingnya. Wajahnya datar. Cara bicaranya terlalu jujur.

Gadis itu langsung kembali memotret sebuah bunga merah menyala didepannya. Bunga mawar. Bunga kesukaannya. Impiannya adalah menerima mawar merah dari laki-laki yang mencintainya. Pria yang baru saja menilai betapa buruknya dalam fotografi.

“Oppa, bagaimana dengan ini?”

“Ehm tidak.”

Terdengar bunyi huft dari mulut kecil gadis itu. Ia hampir putus asa tapi lebih tepatnya dia menyerah karena kini ia duduk di bawah pohon bersama anjing kesayangannya.

“Jangan menyerah Hye Rin.” Suara lembut itu keluar dari pria yang masih asik dengan kanvas di depannya. Dia sedang mengabadikan musim semi ini dengan melukis.

“Sudahlah, percuma aku membeli kamera mahal ini toh walaupun sudah sebagus apapun kamera tetap saja gambarku jelek,” ucap gadis itu kesal. Ia memukul-mukul gitar yang akan dipetiknya.

Jemari-jemari panjang gadis yang bernama lengkap Song Hye Rin kini bergerak pelan memetik senar gitar dipangkuannya.

^^

Myung Soo memasuki kamarnya. Putih, bersih dan rapih. Hanya ada ranjang kecil, lemari satu pintu dan meja belajarnya. Semua berwarna putih, warna kesukaannya. Jendela yang awalnya tertutup rapat kini terbuka, memperlihatkan pemandangan yang sama sekali tidak menarik menurutnya. Myung Soo benci jendela kamarnya karena dia selalu dengan susah payah harus membukanya dan terpaksa matanya melihat tembok penuh grafiti dan tong sampah yang sudah penuh sesak.

Semoga petugas segera mengambil sampah itu sore ini. Batinnya.

Tubuhnya yang berkeringat membuatnya gusar ingin membuang kain-kain yang menutupi tubuhnya. Tapi apa daya gadis itu mengikutinya sampai ke kamarnya sehingga niatannya harus ditahan dulu.

Myung Soo menarik kursi di depan meja belajarnya dan menawarkannya pada gadis yang asik menggeser-geserkan jarinya di layar ponselnya.

“Oppa, aku haus,” ucap Hye Rin, “buatkan aku minuman dingin ya.” Gadis itu memiliki sifat angkuh yang terlalu tinggi dan seenaknya saja dalam berbicara.

Tanpa mengucap kata sedikitpun, Myung Soo langsung melangkahkan kakinya keluar kamar.  Beberapa menit kemudian, Myung soo membawa segelas air putih dingin. Telapak tangannya yang pucat sampai memerah akibat dinginnya air di gelas kaca tersebut.

“Ahh, segarnya,” lega Hye Rin yang kehausan, Ia langsung menghabiskan satu gelas penuh dalam satu teguk, “Oppa, gumawo,” lanjutnya.

Seperti biasa, Myung Soo melanjutkan rutinitasnya melukis di kanvas yang sudah tergambar pemandangan di bukit yang ia daki bersama kekasihnya Hye Rin. Kuas dan cat air yang sama ia gunakan untuk memperindah lukisannya. Lukisan yang nantinya akan ia berikan pada Hye Rin, sebagai permintaan yang harus dituruti dari kekasihnya.

Matanya fokus memandang setiap sudut detail lukisannya, menganalisa apakah ada titik kesalahan disana. Bahkan tangannya tidak henti-hentinya memutar-mutarkan kuas, ingin sekali meninggalkan noda di lukisannya lagi.

“Oppa, hentikan menatap lukisanmu sendiri. Ini sudah bagus kok.”

Keheningan yang berlangsung lama itu pudar berkat suara Hye Rin yang sedikit serak itu.

“Benarkah?” tanya Myung Soo masih ragu, “kalau begitu aku simpan dulu, besok baru aku berikan.”

Myung Soo masih memasang wajah datarnya, tidak ada ekspresi. Setidaknya dia memasang wajah kesal karena direpotkan oleh Hye Rin.

“OPPA,” teriak Hye Rin kencang mengagetkan Myung Soo, membuat lukisan yang baru ia selesaikan jatuh dan terkena tumpahan cat di sampingnya.

“Weo?” jawab Myung Soo datar.

“Ah, lukisannya,” sesal Hye Rin meratapi lukisan yang akan menjadi miliknya, “seharusnya oppa hati-hati, kau harus membuat ulang!”

“Baiklah,” jawab Myung Soo, masih dengan ekspresi muka yang sama.

“OPPA,” teriak Hye Rin lagi, “aku lelah dengan wajahmu itu.” Pintu kamar Myung Soo dibanting kasar olehnya. Ia meninggalkan kamar Myung Soo.

Myung Soo hanya berdiri saja menatap lurus sosok Hye Rin yang meninggalkannya. Wajahnya yang minim ekspresi itu juga membuat kekasihnya begitu kesal. Ia sudah terlalu sering diingatkan oleh teman dan keluarganya untuk melatihnya tersenyum, tertawa dan cemberut. Tapi otot wajahnya sudah keras tak bisa memberi garis mimik muka yang sesuai dengan hatinya.

Kesal, marah dan sedih bercampur menjadi satu di geggaman tangan Myung Soo yang meremas lukisannya kasar. Ia bahkan membuangnya asal ke luar jendela. Lagi-lagi wajahnya tidak mencerminkan isi hatinya yang meraung marah dan kesal. Ia marah pada dirinya sendiri. Ia kesal dengan dirinya sendiri dan ia sedih dengan lukisannya. Lukisan spesial yang mengutarakan betapa cintanya tulus pada Hye Rin.

^^

Pagi yang cerah. Pikir Myung Soo. Ia berdiri bersama penumpang yang desak-desakan di bis  menuju kantor dan sekolah. Myung Soo yang sengaja berangkat sepagi mungkin berebut tempat duduk harus rela mengalah pada seorang ahjumma yang menggendong bayinya dan membawa kedua anak kembarnya yang masih duduk di bangku TK. Berat sekali menjadi seorang ibu. Pikirnya lagi. Ia membawa pikirannya kembali pada saat ia harus dibesarkan oleh kedua orang tua angkat yang akhirnya meninggalkan dia juga. Takdirnya sudah tertuliskan tidak akan ada keluarga dalam hidupnya. Sehingga, ia menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. Keluarga bukan hanya ibu dan ayah tapi masih ada sahabat dan kekasih yang ia cintai.

Bayangan di kepalanya beralih pada sosok Hye Rin yang tersenyum manis menggodanya untuk sekedar membuka mulutnya yang tertutup rapat tak mau memakan keju.

“Oppa,cobalah! Ini enak,” ucap Hye Rin manis sambil menggigit potongan keju chedar, “ayo oppa, a..” Hye Rin terus memaksa. Berusaha agar keju yang ditangannya bisa masuk ke mulutnya.

Tanpa sadar Myung Soo tersenyum tipis mengingat betapa nakal dan menyebalkan gadisnya itu. Cerewet, manja, pemarah dan egois. Hampir semua sikap Hye Rin tidak disukainya tapi ada satu hal yang membuat dia memantapkan hatinya pada gadis itu. Hye Rin selalu bisa membuatnya semangat karena senyum dan suara semangatnya yang berenergi. Hye Rin selalu memperhatikan hidupnya; makan, mandi, tidur, belajar bahkan olahraga sekalipun. Hye Rin gadis cerewet dan pemarah tapi begitu perhatian dengannya.

Entah berapa lama Myung Soo terbawa dalam pesona Hye Rin yang bisa mengikat namja manapun dengan mudah hanya dengan memandangnya beberapa detik. Dia sangat cantik.

Akhirnya ia sadar dari lamunannya karena halte yang ditujunya hampir beberapa meter lagi. Ia turun dari bis dengan beberapa siswa yang berseragam sama dengannya. Seragam musim semi yang ia suka karena warnanya putih. Celana panjang putih dengan kemeja warna putih yang tertutup dengan rompi berwarna cream dan jas merah marun khas sekolahnya.

Berbondong-bondong siswa segera memasuki gerbang utama sekolahnya dan dengan langkah cepat pula Myung Soo berjalan sepanjang koridor kelas menuju kelas yang ditujunya di lantai 3. Anak-anak tangga dilantai dua kini sudah hampir ia lewati. Baru saja ia menginjak anak tangga setelahnya ia melihat rambut panjang emas milik Hye Rin di depan pintu kelas tepat di depan tangga. Pemilik rambut itu mengibaskan rambutnya dan terlihatlah wajah cantiknya di mata Myung Soo.

Myung Soo selalu memuji setiap titik di wajah Hye Rin tapi kini ia merasa ada api yang menyerangnya tiba-tiba. Api yang bisa saja membakar habis jantungnya. Ia baru kali ini mengalami terbakar api cemburu hanya dengan melihat Hye Rin sedang membelai lembut surai rambut laki-laki tinggi besar di depannya. Seung Yoon kapten tim basket sekolah.

Langkah kakinya jadi pelan setelah beberapa detik terkaget. Dengan santainya ia menghampiri mereka berdua. Masih dengan wajah khasnya, tatapan kosong tanpa simpul bibir. Benar-benar datar.

“Hye Rin, ikut aku,” ajak Myung Soo sambil mengikatkan tangannya pada lengan Hye Rin.

“Tidak mau,” tolak Hye Rin dengan suara khasnya yang serak dan keras, lalu melempar paksa genggaman tangan Myung Soo yang hangat dan berkeringat.

“Baiklah,” ucap Myung Soo mengalah, “dan kau Seung Yoon jangan mengganggunya,” lanjutnya tanpa nada ancaman.

Hye Rin yang kesal langsung melangkah kasar masuk ke kelasnya. Diikuti pula oleh Seung Yoon yang sekelas dengannya. Sedangkan Myung Soo harus melewati tiga kelas lagi menuju pintu kelasnya.

Selama mata pelajaran yang ia ikuti tidak ada hentinya memikirkan Hye Rin yang tersenyum manis bersama namja lain yang tatapannya sangat dibenci Myung soo. Penggoda dan arogan, sifat playboy pada umumnya.

^^

Bunyi bel yang sudah dinantikan oleh semua siswa termasuk Myung Soo akhirnya terdengar. Ia langsung menyibukan dirinya membereskan meja belajarnya dan melangkahkan kakinya keluar kelas dengan tas yang tergantung di punggungnya.

Langkah kakinya sangat cepat dan penuh semangat. Entah apa yang dipikirkannya sekarang. Wajah yang biasanya terlihat innocent, kini membentuk senyum tipis di bibirnya dan sorot mata penuh optimisme tinggi.

Tiba-tiba saja derap kakinya sudah tak terdengar lagi. Dia terhenti oleh suara-suara seseorang yang sedang bergosip di depan mading.

“Hari ini final basket loh, aku dengar Seung Yoon akan menembak Hye Rin,” ucap gadis bermata sipit dengan eyeliner tebal.

“Wah chinca? Daebak, Hye Rin beruntung sekali,” balas gadis lainnya yang berwajah bulat pucat.

Seperti ada batu besar menimpa dirinya tiba-tiba, rasanya sangat sakit mendengar hal tersebut. Bahkan untuk melangkahkan kakinya kembali sangat sulit, hatinya hancur dan ada keputus asaan dalam benaknya. Menyerah untuk melanjutkan rencananya. Rencana yang membuat mimik wajahnya berubah.

Langkah yang telah terhenti kini kembali melangkah sepanjang koridor sekolah, dan terhenti kembali bersama kerumunan siswa yang memasuki gedung olahraga tepatnya menuju lapangan basket. Ada rasa yang kuat dalam benak Myung Soo untuk ikut bersama beberapa kawannya melihat pertandingan final basket putra di sekolahnya.

Tempat duduk yang melingkari lapangan basket kini mulai dipenuhi oleh siswa. Myung Soo duduk bersama teman sekelasnya Woo Hyung, Hoya dan Sunggyu di bangku paling belakang.

“L, berdoalah agar Seung Yoon kalah,” ucap Hoya ketika para pemain basket memasuki lapangan.

L adalah sebutan Myung Soo dari teman-temannya.

“Kau sudah tahu kan L?” tanya Sunggyu.

“ Anni,” jawab Myung Soo.

“Mwo? Aku tahu ini sulit tapi kau harus menerimanya,” ucap Sunggyu bijak, “Seung Yoon menyukai Hye Rin, dia akan memacarinya jika final kali ini dia berhasil mengalahkan Sung Yeol,” lanjutnya semangat.

“Tapi apa mungkin Sung Yeol mengalahkan Seung Yoon?” timpal Woo Hyun meragukan rival abadinya Sung Yeol.

“Aish, kau ini. Jika Sung Yeol menang itu sama saja kelas kita menang,” jawab Sunggyu kesal.

Perasaan Myung Soo langsung percampur aduk penuh kesedihan, kebencian, kekesalan dan ketakutan yang luar biasa merasuki hatinya. Pundaknya yang selalu tegap kini hampir tidak ada tenaga untuk menegakkannya kembali. Seluruh tubuhnya lemas karena lelah di hatinya. Rasanya ia ingin sekali berteriak untuk melepas perasaan yang mengganggunya.

Ia memilih diam dan berharap Seung Yoon kalah. Wajah tampan miliknya tampak menyedihkan di belakang penonton yang terus berteriak ketika para pemain memasuki lapangan.

“Sung Yeol, hwaiting!” teriak Sunggyu, Hoya dan Woohyun.

Saat semua orang berdiri ketika peluit pertandingan dimulai, Myung Soo hanya duduk terdiam memikirkan Hye Rin. Pikirannya penuh dengan Hye Rin yang akan meninggalkannya. Kehilangan senyumnya, kehilangan keceriannya, kehilangan perhatiannya dan kehilangan cintanya.

Lama sekali ia melamun diantara orang-orang yang berteriak senang dan kecewa ketika bola terus memasuki ring. Tiba-tiba saja Sunggyu memukul-mukul pundak Myung Soo.

“L, wah daebak Sung Yeol berhasil mengungguli Seung Yoon. Berdirilah, palle!” Sunggyu terlihat bersemangat dan disambut baik oleh Myung Soo yang langsung berdiri di atas bangkunya.

Hari ini Myung Soo benar-benar sangat bersemangat saat Sung Yeol berlari-lari menggiring bola dan memasukannya ke ring. Keempat namja ini terus berteriak meneriaki Sung Yeol diikuti oleh para penonton lain yang mendukung tim Sung Yeol. Terkadang ekspresi mereka berubah kecewa ketika Seung Yoon merebut bola dari Sung Yeol dan berhasil membalas skor yang tertinggal.

“Ah sial,”ucap Myung Soo. Tanpa sadar ia mengucapnya ketika Seung Yoon tersenyum dan melambaikan tangan pada penonton.

Tunggu, siapa yang ia senyumi? Hye Rin? Entahlah. Myung Soo tidak berpikir sampai kesana. Ia lebih fokus pada papan skor yang ingin sekali ia rubah agar pertandingan ini cepat selesai dengan kemenangan atas Sung Yeol.

Pertandingan benar-benar menguras tenaga para pemain bahkan penonton. Kedua tim sangat kuat, skor terus berkejar-kejaran tak ada yang mau mengalah. Keringat para pemain sudah sempurna membanjir tubuhnya, napas merekapun sudah tak teratur. Penonton yang menontonnya pun melihat ngeri dan cemas siapa yang akan memenangkan final basket putra tahun ini.

“Aish jinja, kenapa sulit sekali mengalahkan tim kelas 11-2?” lagi-lagi Sunggyu kesal.

Kekesalannya memuncak ketika peluit pertandingan usai dan kekalahan harus ia terima.

“Yah,” keempat namja itu langsung berderu kesal bersama dengan penonton yang terlihat lebih kecewa dibandingkan mereka. Apalagi, para yeoja-yeoja yang hampir semuanya adalah fans Sung Yeol.

^^

Myung Soo berjalan malas dan lemas tanpa semangat sedikitpun bersama ketiga temannya menuju gerombolan tim basket Sung Yeol. Wajahnya yang datar kini berubah begitu lesu dan pucat, bibirnya sedikit manyun dengan mata kosong khasnya. Sunggyu yang melihat ekspresi langka Myung Soo tersenyum-senyum sendiri bersama Woo Hyun. Ekspresi yang menyedihkan ini malah menjadi bahan tawaan teman-temannya bahkan memuncak saat Sung Yeol bergabung dengan mereka. Awalnya wajah mereka yang kecewa kini berbisik-bisik membicarakan Myung Soo dengan tawa yang ditahan mereka. Sunggyu yang tidak tahan dengan lelucon Sung Yeol yang mengomentari wajah Myung Soo, langsung tertawa keras sekali dan memancing teman-temannya ikut tertawa. Myung Soo yang masih dengan ekspresi menyedihkan itu tidak menyadari bahwa temannya sedang menertawakan wajahnya bahkan ia berdiri diam menatap kedepan seperti melamunkan sesuatu. Melihat itu, temannya semakin menertawakan wajah datarnya.

“Heran, bagaimana mungkin yeoja begitu tertarik dengan wajah bodoh L?” ucap Sunggyu dengan tawa yang sedikit ditahan.

“Yang jelas lebih aneh jika yeoja tertarik bahkan jatuh cinta denganmu,” jawab Woo Hyun dengan tawa khasnya yang keras, membuat Sunggyu berhenti tertawa dan memukul pundak Woo Hyun.

Tiba-tiba saja.

“Kenapa rasanya sakit sekali? Bisakah kalian menolongku?”

Suara itu begitu pelan, datar dan bergetar tak karuan. Mendengarnya saja membuat mereka langsung merinding seperti terkena serangan yang menggetarkan batin mereka. Suara tawa yang memenuhi ruang ganti pria langsung lenyap seketika. Pandangan mereka langsung penuh simpati menatap wajah datar Myung Soo.

Tangan-tangan mereka langsung memukul ringan dan merangkul pundak Myung Soo tanda mereka menghiburnya. Rasa bersalah mereka muncul karena telah menertawakan seorang pria yang telah dihianati cintanya. Pria yang malang. Kekasihnya direbut oleh pria yang berhasil memenangkan turnamen basket yang dibanggakan mereka.

“Seperti janjiku, kalian akan aku traktir. Ya, walaupun kelas kita kalah setidaknya bisa masuk final,” ucap Sung Yeol memecahkan kesunyian yang mengharukan itu.

“Wah, jinja? Bagaimana kalau kita makan pizza, chicken, spagetti dan burger?” kata Sunggyu semangat.

“Aish, makanan junk food. Tidak sehat. Kita makan nasi kari,” timpal Hoya.

“Jangan, rasanya aneh terlalu sehat. Bagaimana kalau jajangmyeon atau bibimyun. Ehm atau mungkin topokki?” ucap Woo Hyun ikut berdebat.

“Terlalu classic, kita kan anak modern. Bagaimana kalau kita ke kafe dan memesan makanan yang sedikit mewah dan mahal?” usul Sung Yeol yang membuat mereka langsung diam, “tenang, aku yang traktir kan?” lanjutnya membuat mereka langsung tersenyum tanda setuju.

Dengan semangat mereka langsung berjalan keluar menuju pintu.

“L? Hei,” teriak mereka semua saat Myung Soo masih terdiam.

Kelima namja ini berjalan penuh semangat bahkan Myung Soo yang nampak menyedihkan kini mulai ceria tapi tidak untuk wajah datarnya. Hanya cara berjalannya yang kembali tegap dan langkah panjangnya yang khas.

Dengan berjalan sepanjang trotoar selama 15 menit mereka sudah sampai di kafe sederhana, last romeo namanya. Mereka datang kesana bisa dihitung dengan jari, sekitar 3 kali saja selama 2 tahun bersekolah di SMA busan. Kafe itu sederhana dan unik, hanya saja harga menu disana tidak sederhana. Terlalu mahal untuk anak sekolah, karena hampir pelanggannya adalah mahasiswa dan pegawai kantoran.

^^

Mata tajam keempat namja yang asik dengan makanan di piringnya menatap lurus pada gadis dengan rambut emas panjang. Kaki panjangnya yang mulus, ditambah lagi dengan tangan panjangnya yang telanjang melihatkan cahaya kulitnya, senyum dari bibir merahnya begitu indah sampai mereka tak sadar ikut membuat senyum saat menatapnya. Gadis itu mengenakan mini dres yang melihatkan sepertiga pahanya membuat mata tajam mereka menjadi liar.

“Benarkah itu Hye Rin? Wah, yeoppoda,” ucap Sunggyu tak percaya.

“Jinja? Dia seperti putri saja,” tambah Woohyun.

“Dia lebih mirip bidadari,” Seung Yeol ikut menambahkan.

“Andai bisa menciumnya,” ucap Sunggyu datar.

“Yak!” teriak mereka semua dan memukul kepala Sunggyu.

“Aw,”rintih Sunggyu.

Mereka berempat tidak menyadari bahwa Myung Soo menatap Hye Rin dengan tatapan kosong penuh tanya. Dia berdiri pelan dari bangkunya dan berjalan mendekat ke arah Hye Rin yang bersiap duduk di kursi yang dipersilahkan Seung Yoon. Matanya langsung menatap Hye Rin tajam, sorot mata yang tidak pernah ia lakukan saat menatap seseorang. Pandangannya tetap lurus menatap Hye Rin yang kebingungan dengan tatapan Myung Soo.

Seung Yoon menarik pundak Myung Soo yang terus diam berdiri menatap Hye Rin. Tapi, Myung Soo masih tegap dengan posisinya yang semakin membuat Hye Rin bingung dan ketakutan. Bahkan Hye Rin tidak mau menatap mata Myung Soo, ia lebih memilih memalingkan wajahnya pura-pura menatap keluar dinding kaca.

“Kenapa kau memalingkan wajahmu? Aku belum berbicara,” ucap Myung Soo kasar tapi pelan.

“Dia bukan pacarmu lagi, jangan ganggu dia,” ucap Seung Yoon kasar dengan mendorong kasar Myung Soo.

“Ini bukan urusanmu. Aku sedang berbicara dengan gadis ini bukan kau,” balas Myung Soo lebih kasar

“Oppa,” rengek Hye Rin yang kaget dan sakit hati mendengr Myung Soo menyebutnya dengan ‘gadis ini’.

“Kenapa? Kau ingin merengek manja padaku? Silahkan! Aku hanya ingin tahu apakah kau masih bisa melakukannya?”

“Oppa,” rengek Hye Rin lagi dengan wajah yang kebingungan sekaligus ketakutan.

“Satu lagi, aku tidak menyesal kau meninggalkanku. Aku lebih menyesal jika membiarkanmu masih bersamaku.”

“Oppa, aku tidak pernah.” Hye Rin kini sempurna kebingungan dengan suara gagap dan merasa hampir roboh karena perkataan Myung Soo menusuknya terlalu dalam.

Belum sempat Hye Rin menjelaskan Myung Soo berkata, “selamat tinggal.”

^^

Beberapa menit kemudian…

for Song Hye Rin,

Kau cantik, tapi tidak pernah secantik ini saat bersamaku. Kau mempesona, tapi selalu memudar saat bersamaku. Kau begitu sempurna, tapi itu hanya saat aku menatapmu saja. Apakah aku pernah mencintaimu? Seperti tamparan keras ketika tahu bahwa kau pernah aku puja. Kini aku sadar kau hanya gadis yang mempesona untuk orang lain tapi begitu keras dan dingin saat kau bersama ku yang pernah mencintaimu. Cinta tak pernah bisa menyelamatkanku, karena cinta itu adalah kamu. Cinta tak bisa menyelamatkanku, karena cinta menjadi milikmu. Cinta bisa menyelamatkanku, jika cinta itu datang dalam dirimu untukku. Aku baru menyadari kau tak pernah mencintaiku sedikitpun. Hingga akhirnya aku sadar cinta tidak bisa menjadi milik siapapun yang mempermainkan cinta itu sendiri, itu adalah kamu Hye Rin. Maaf karena aku memberikan cinta yang tak pernah kau inginkan. Semoga kau akan mendapatkan cinta dari cinta yang kau inginkan.

from L

Begitu pesan itu dibaca oleh Hye Rin, dia langsung lari meninggalkan kafe itu mengejar langkah Myung Soo yang sudah terlalu jauh dari sana. Sayangnya dia tidak bisa menemukan sosok Myung Soo lagi. Ia hanya bisa menangis penuh penyesalan, menangisi namja yang telah dihianatinya.

-END-

Ini fanfic yang sudah menjamur di PC ku berbulan-bulan lamanya dan baru aku share di sini. Oh Ya aku author baru disini salam kenal🙂 . Maaf jika cerita ini tidak sebagus apa yang reader baca, mohon bantuan dengan kritik sarannya hehe.

3 responses to “[One Shoot] Let Me Back

  1. L sih terlalu lempeng.. Tp gapapa jgn jg jd cowo gampangan. Sukurin herjnta diinggalin.. Wmwkwkkw.. Ga suka karakter cwe yg terlalu menye2.. Mwkww.. Semangaatt eonni! Keep writing yeaaa!

  2. Bagus, terlihat ternyata L benar benar suka sama hyerin dan hyerin benar benar suka L. Kasihan L yang udah nyerah sama hyerin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s