[FF Oramanieyo Side Story] Proposal

 

kkk

Title : [Oramanieyo Side Story] Proposal

Author : Hayamira

Genre : Romance, Friendship, 

Rating : PG 16

 Length : Oneshot

Main Cast :

Jung Nami

Kim Himchan (BAP)

Support Cast    :

Jung Naeun

Bang Yongguk (BAP)

Song Jieun (SECRET)

Jung Haru

Lee Soohyuk

Disclaimer :

Cast belong to GOD and their entertaintment,  Ide cerita murni pemikiran author, tidak ada unsur plagiat.

 

Paris

 

Himchan menatap ponselnya lama. Menunggu benda segiempat itu mengeluarkan bunyi yang daritadi ia tunggu. Atau layar ponsel itu menyala. Terserah, yang jelas benda itu menyala.

 

Gelas yang ada disamping ponsel itu Himchan angkat lalu ia meminum isinya. Sampai tandas. Ini sudah gelas yang kedua untuk hari ini. Dua gelas grande iced americano telah habis dan dia masih belum merasa puas. Himchan beranjak berdiri dan berjalan ke kasir untuk memesan.

 

Bonjour, Monsieur. Puis-je vous aider?” [Halo, tuan. Ada yang bisa saya bantu?].

Bartender itu menyapa dengan senyuman dan Himchan membalas senyumannya. Di Perancis, senyum sebelum bercakap, apalagi bukan dengan orang yang dikenal, itu penting.

 

Grande Iced Americano, s’il vous plaît.” [Grande Iced Americano, tolong.]

Oui, monsieur.” [Baik, tuan]

 

Bartender itu membuatkan pesanan Himchan dengan cepat. Tidak sampai 2 menit, segelas iced americano telah ada di hadapan Himchan. Bartender itu kembali di posisinya sebagai kasir.

 

Que diriez-vous un dessert?” [Bagaimana dengan dessert?]

Himchan berpikir, menoleh kesamping kasir itu. Terdapat sebuah etalase tempat menyimpan kue-kue dan dessert. Macaron yang mungil itu menarik perhatiannya.

 

Macaron. 6 Macaron, s’il vous plaît.” [Macaron. 6 Macaron, tolong.]

oui, monsieur.” [Baik, tuan.]

 

Bartender itu mengambil piring dan meletakkan enam macaron dengan warna yang berbeda lalu meletakkan piring beserta macaron disamping gelas iced americano Himchan.

S’il vous plaît me donner le projet de loi.” [Tolong berikan tagihannya.]

Ici, monsieur. Quoi d’autre?” [Ini, tuan. Yang lain?]

 

Himchan mengeluarkan sejumlah uang pero lalu memberikannya ke bartender tersebut.

Non. Voici l’argent. Merci beaucoup.” [Tidak. Ini uangnya. Terimakasih banyak.]

Vous êtes les bienvenus, monsieur profiter de votre café et macaron!” [Sama-sama, tuan. Selamat menikmati macaron dan kopinya!]

 

Himchan tersenyum membalas sapaan riang bartender itu sebelum kembali ke kursinya. Setelah duduk, dia mengecek ponselnya. Siapa tahu ada perubahan.

 

Ternyata tidak ada. Himchan mendengus kesal melihat ponselnya sendiri. Saking kesalnya, ia mengambil satu macaron dan memasukkannya langsung utuh ke mulutnya, padahal ukuran macaroon itu lebih besar dari macaron pada umumnya. Sekali lagi, ia melihat ponselnya dan melemparnya ke meja.

 

Salute, sir.”

 

Seseorang menyapanya dari belakang dan langsung duduk dihadapannya. Melihat wajah orang itu sama sekali tidak membuat mood Himchan membaik. Bang Yongguk justru tertawa melihat Himchan yang seperti itu.

 

“Kau belajar bahasa perancis dari siapa?” tanya Yongguk sambil mengunyah macaron. Himchan melirik Yongguk sekilas lalu berkata, “Buku. Kau tahu jam berapa ini? Kau terlambat tujuh menit. Tujuh menit. Yongguk-ah, waktu itu adalah uang dan kau tidak menghargai waktu sama saja kau tidak menghargai…”

 

“Wow, wow wow wow calm down, sir, calm down. This is not Philosophy class, dude.” Yongguk memotong omelan Himchan. “Man, you look like shit. What happen?” sambung Yongguk. Temannya memang sangat kacau sekarang.

 

Himchan menyandarkan tubuhnya ke kursi. “She drives me nuts.”

“Jung Nami?”

 

Himchan tidak mengatakan apa-apa, hanya helaan napas yang keluar dari mulutnya. Yongguk bertanya-tanya, apa yang dilakukan Jung Nami itu sampai Himchan bisa sekacau ini. “Is she cheat behind you? With hotter and sexier one?”

 

Mendengar Yongguk, Himchan seakan ingin melempar piring ke wajah temannya itu. Beruntung, Himchan sedang tidak ingin bertengkar dengan sahabat lamanya jadi ia hanya bisa memandangi Yongguk kesal. “Dia bukan wanita seperti itu,”jawab Himchan seadanya.

 

Himchan mungkin melakukan harakiri sesegera mungkin kalau Jung Nami berbuat seperti itu.

 

“Lalu ada apa? Kenapa kau sangat kacau seperti ini. Waktu dengan Alice kau tidak pernah seperti ini,” gumam Yongguk.

“Alice dan Nami memang dua wanita yang sangat berbeda.”

Yongguk mengerutkan dahinya. “Bukannya mantan-mantanmu itu satu tipikal?”

 

“Maksudnya apa?” Himchan merasakan kalau Yongguk berusaha menyindir tentangnya. Mantan Himchan memang banyak, lebih dari kesebelasan sepak bola.

 

Yongguk terkekeh melihat Himchan yang menatapnya sinis. Yongguk mencondongkan badannya kedepan, “Mereka semua sama. Sangat manis, lucu, ceria, satu lagi, sangat bergantung kepadamu. Aku bahkan ingat, Anna, mantanmu sebelum Alice itu selalu menelponku saat kalian berpisah,”jelas Yongguk tertawa. “Memangnya Nami orang seperti apa?” tanya Yongguk mengambil sebuah macaroon dari piring.

 

“Jauh dari tipikal mantan-mantan yang tadi kau gambarkan,” sahut Himchan. Lalu ia menggeleng, “Tidak lucu. Yang terpenting, dia tidak pernah bergantung kepada siapapun. Bahkan, dia mungkin lupa kalau dia harus mengabariku tentang keadaannya atau setidaknya memastikanku kalau dia masih hidup karena dia tidak melakukan hal itu selama enam minggu lebih empat hari. Enam minggu lebih empat hari,” omel Himchan dengan menekan enam minggu empat hari nya.

 

Yongguk langsung tertawa keras. Jelas, kenyataan bahwa Himchan mengencani seorang wanita yang jauh dari kriteria ideal seorang Kim Himchan membuatnya terbelak tawa. Dari dulu, sewaktu mereka satu sekolah, Himchan selalu bersumpah akan menikahi wanita yang seperti deskripsi mantan-mantannya. Himchan tidak bisa dekat dengan wanita yang tidak bergantung kepada pacarnya, tidak menelpon pacarnya sehari, atau hal-hal lain yang biasanya seorang pacar lakukan. Tidak ia sangka, Himchan justru mengencani wanita itu sekarang. Dan itu membuatnya tidak bisa mengendalikan tawanya.

 

Himchan hanya menghela napas pasrah melihat Yongguk dengan puas menertawainya. “Tertawa saja sepuasmu, kalau kau mati karena tersedak aku akan jadi orang pertama yang tertawa,” sindirnya.

 

Yongguk menyeka air matanya karena tertawa terbahak-bahak tadi. “Kau tahan dengan tipe orang seperti itu?”

“Tentu saja,” sahut Himchan membulatkan matanya.

 

Perut Yongguk sakit saking terbahaknya ia tertawa. Dulu, Himchan pernah mengikuti kencan buta fakultasnya. Dan ia mendapat orang yang sangat dingin. Tidak sampai sehari mereka putus. Yongguk menjadi orang pertama yang tertawa terbahak-bahak di telepon saat Himchan menceritakannya. “Sudah kubilang, jangan ikuti kencan buta seperti itu,” nasihat Yongguk saat itu.

 

Tapi, Yongguk berpikir, Himchan tidak akan bertahan ‘kacau’ lebih dari sehari. Dia pasti langsung memutuskan orang itu dan segera mencari pacar baru. Sewaktu dengan Alice, Himchan juga tidak pernah terlihat kacau seperti ini. Saat Alice tidak mengabarinya berbulan-bulan pun Himchan tenang-tenang saja.

 

Kalau Himchan seperti ini, sebuah kesimpulan bisa ditarik. Himchan jelas menyukai wanita bernama Jung Nami ini. Sangat menyukainya.

 

Seperti apa sebenarnya Jung Nami itu?

 

“Jadi aku harus apa? Menjadi Jung Nami untukmu? Oppa-ya… Oppa-ya… Himchan Oppa…”

 

Himchan melongo melihat Yongguk yang bertingkah sebagai Jung Nami versi centil. “Demi Hal yang suci di dunia ini, Bang Yongguk kau terlihat menyebalkan!! Temani saja aku seharian,” seru Himchan melempar tissue ke Yongguk. Yongguk tertawa melihat tingkah laku temannya yang satu ini.

 

“Dia pasti tidak mengangkat telponku, lagi.” Himchan meminum minumannya sekaligus, membuang pandangannya dari ponsel yang dikutuknya saat itu juga.

 

“Kau kapan mengenalkan Nami ke Eomoni dan Abeoji?” tanya Yongguk lagi, mengambil gelas Himchan dan menyeruput isinya. Himchan menghela napasnya berat, “Mereka mau ke Jepang nanti, disitu mereka ingin mengenal Jung Nami sebagai calon istri.”

 

“OHOK!!”

 

Yongguk tersedak mendengar kata calon istri dari Himchan. “Aku tidak salah dengar?” gumam Yongguk menepuk-nepuk dadanya.

 

Himchan menggeleng. “Aku serius.”

 

“Jadi, kau akan melamar Nami, begitu?”

“Menurutmu?”

 

“Mungkin, tapi kalau ingat dia tidak mengabariku selama enam minggu ini rasanya aku belum ,au melakukannya.”

 

Yongguk mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata, memang Jung Nami ini yang bisa membuat Himchan berani mengambil langkah yang lebih jauh.

 

“Daripada kau jengkel, kita buat sesuatu yang menyenangkan,” gumam Yongguk tiba-tiba. Himchan mengerutkan dahinya, tapi mau tidak mau dia harus menerimanya karena Yongguk terlihat serius dan antusias.

 

“Apa?”

 

“Rahasia, kau ikut instruksiku saja.”

 

-oOo-

 

Singapura

 

 

Suasana sebelum pembukaan butik JNM yang menyibukkan diri Nami belakangan ini. Mulai dari koleksi pakaian yang akan dipamerkan saat pembukaan butik, karyawan, segalanya. Nami mengurus semuanya sendiri, tidak ada bantuan Junhyung atau temannya yang lain.

 

Junhyung pun tidak ikut membantu, bukan karena Junhyung mau tapi Nami melarangnya. Junhyung harus fokus mengurusi anak perusahaan dan perusahaannya sendiri, begitu kata Nami ke Junhyung. Junhyung tidak berkutik dan mengiyakannya. Tapi, bukan berarti Nami lepas dari pengawasan Junhyung.

 

Junhyung mengirim orang suruhannya, tanpa sepengetahuan Nami, untuk mengawasi Nami selama ada di Singapura. Junhyung masih trauma dengan terror yang pernah Nami alami saat membuka butiknya di Gangnam-do, walau kejadian itu sudah enam tahun berlalu.

 

Setelah masalah butik yang telah beres, Nami kini menyibukkan diri dengan runaway catwalk koleksi terbarunya untuk fashion week di Singapura tahun ini. Koleksi yang dikerjakannya selama ada di Swiss, juga tambahan dari sketsa lamanya lah yang akan dipamerkan pada ajang bergensi untuk desainer tahun ini.

 

Ada keraguan yang terbersit di pikiran Nami. Dirinya sudah tidak meluncurkan koleksi baru lagi sejak tiga tahun yang lalu. Selama jangka waktu tiga tahun itu, Nami hanya berkolaborasi dengan beberapa desainer dalam karya-karyanya, tidak sepenuhnya solo seperti biasanya. Saat pameran, dirinya juga tidak menampakkan diri, hanya teman kolaborasinya saja. Media banyak mempertanyakan Jung Nami saat itu.

 

Hiatus panjang pengobatannya membuatnya tidak bisa mengikuti event-event besar seperti itu. Apa nanti reaksi media, para pecinta fashion dan orang lain saat melihat koleksinya setelah sekian lama menghilang? Apa mereka akan membencinya atau menyukainya?

 

Pikiran seperti ini membuat Nami semakin panik, lebih panik daripada pembukaan butiknya. Setiap saat, Nami mengecek setiap hal yang akan ditampilkan. Model, dekorasi, lighting, tata panggung, musik latar, pakaiannya, make up artist, hair stylist, dan sebagainya. Bahkan, asistennya sudah melarang Nami dan meyakinkan kalau semua sudah sesuai rencana tapi tetap saja Nami bersikeras untuk mengeceknya setiap saat.

 

Efek dari kepanikan dan pikiran yang berlebihan itu membuat Nami tidak bisa tidur dan malah tertidur dengan posisi duduk. di kursi panjang yang ada di lokasi runaway catwalk. Ditangannya masih ada map yang berisi list tamu dan siapa yang mengatur musiknya. Tubuhnya terasa lemas dan tenaganya terkuras disaat pelaksanaan runaway catwalk koleksi terbaru milik Jung Nami adalah besok.

 

Lee Soohyuk yang barusaja tiba di lokasi runaway, mendapati Nami yang tertidur di tempat terbuka hanya menggelengkan kepalanya. Soohyuk mengambil map dari tangan Nami, meletakkannya di tempat lain. Ia juga membuka jaketnya lalu menutupi tubuh Nami yang pasti sedang kedinginan.

 

Soohyuk tidak berniat membangunkan Nami karena pasti Nami bekerja sangat keras untuk runaway koleksi terbarunya. Dirinya hanya duduk disamping Nami sampai wanita itu sadar akan keberadaannya.

 

Soohyuk datang sebagai model runaway untuk besok malam. Saat mendengar Nami akan aktif kembali setelah sekian lama hiatus, Soohyuk langsung menghubungi Nami dan dengan sukarela menjadi main model di runaway catwalk peluncuran koleksi terbaru Nami. Nami tentu senang mendengarnya. Soohyuk dan Nami sudah terbiasa bekerja sama sejak Soohyuk masih sebagai model biasa.

 

Terlebih lagi, Soohyuk adalah teman akrab dari almarhum kakak kembar Nami, Haru, semakin membuat hubungan mereka akrab.

 

Tubuh Nami menggeliat akibat angin yang berhembus lagi, cukup dingin. Rupanya, Nami menyadari ada orang disampingnya langsung terduduk terbangun dari tidurnya. Matanya masih belum bisa melihat jelas, namun lama kelamaan sosok disampingnya pun jelas. Nami terpekik. “Soohyuk!!”

 

Soohyuk tersenyum. “Kenapa tidur di luar?” Soohyuk menatap Nami. Nami memandangi sekelilingnya dan mengendus pelan. Dia memang tidak sadar kalau telah tertidur diluar. Soohyuk menggeleng saja melihatnya.

 

“Kapan sampai?” tanya Nami sambil memperbaiki posisi duduknya. Soohyuk menjawabnya singkat, “Baru saja.”

 

Soohyuk berdiri dan berjalan meninggalkan Nami. Nami heran, kenapa dirinya ditinggalkan saat sedang berbicara?

 

Namun, rasa heran itu berubah saat Soohyuk kembali dengan dua gelas kertas ditangannya. “Masih suka caffee latte ?” tanya Soohyuk menyodorkan satu gelas ke Nami.

 

Tanpa banyak bicara, Nami meraih gelas tersebut kemudian menyesap isinya. Senyum pun terkembang di wajahnya. “Gomawo,” ucap Nami dalam bahasa Korea. Soohyuk mengangguk menanggapinya. Keduanya lalu bercakap tentang apa yang terjadi selama Nami hiatus, perkembangan karier Soohyuk yang sekarang adalah seorang top model sekaligus aktor dan banyak hal.

 

Ada rasa senang yang menyelinap di hati Soohyuk melihat Nami saat ini. Dia sudah berubah, gumamnya memandangi Nami yang selalu tersenyum, berbeda dengan dulu.

 

Haru-ya, impianmu terwujud sekarang. Nami sudah bukan orang yang sulit mengekspresikan emosinya, ujar Soohyuk dalam hati.

 

-oOo-

 

“APA APAAN INI!!??”

 

Sepulangnya dari Paris, Himchan justru disodorkan oleh kabar yang membuat matanya seakan ingin mengeluarkan bola matanya.

 

Sebuah majalah khusus untuk korean idol diantarkan oleh asistennya barusan dengan tergopoh-gopoh. Himchan tadinya tidak ingin membaca majalah tersebut, tapi ia langsung merebut majalah itu saat melihat hot news yang tertera jelas di sampul majalah itu.

 

“LEE SOOHYUK KEDAPATAN BERKENCAN DENGAN PEMILIK JNM”

 

Hanya satu orang yang menjadi pemilik JNM. Tidak ada orang lain.

 

Himchan kemudian membaca hot news itu dengan seksama dan serius. Dahinya menampakkan beberapa kerutan. Semakin jauh bacaannya, semakin banyak pula kerutan yang muncul. Asistennya yang berdiri disamping Himchan saja takut melihat Himchan sekarang. Himchan dengan aura menakutkan, siap menerkam siapapun yang berada didekatnya.

 

Himchan melempar majalah itu setekah dia membacanya. Ia terduduk di mejanya. Rasanya nyawanya ditarik keluar dari tubuhnya sekarang. Lemas, lunglai, lesu, semuanya. Asisten yang daritadi hanya diam berdiri, kini justru menatap Himchan serius.

 

“Apa yang kau lakukan?” gumam Himchan mengagetkan asistennya. Asistennya langsung keluar dari ruangan bosnya tanpa pamit.

 

Dengan tenaga yang setipis kertas, Himchan meraih ponsel yang tergeletak di mejanya begitu saja dan menghubungi temannya, Bang Yongguk yang kebetulan ada di Tokyo sekarang.

 

“Yosh!!”

“Bar, sekarang!!”

 

-oOo-

 

Nami menghela napasnya. Matanya sudah sangat berat. Sekujur tubuhnya sudah sangat lelah. Dan dirinya masih harus menunggu 1 jam lagi agar sampai di flat tercintanya untuk beristirahat sepuasnya.

 

Dari jendela mobil yang ditumpanginya, kota Tokyo yang padat masih ramai, walaupun jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Kota yang tidak pernah tidur dan mungkin salah satu kota yang tersibuk didunia. Nami memandangi kendaraan yang begitu padat disampingnya.

 

Hanya istirahat yang ia butuhkan sekarang. Tempat tidur, piyama, bantal, dan secangkir cokelat hangat sebelum tidur menjadi pasangan yang sangat sempurna sekarang.

 

“Kau terlihat lelah,” kata Soohyuk memandangi Nami. Nami menggumam tidak jelas, efek dari kelelahan.

 

Soohyuk beringsut mendekati Nami. Ditepuknya pundak Nami lalu Soohyuk menepuk pundaknya sendiri. “Tidurlah dulu. Koleksi-koleksi baru punyamu memang hebat. Semua orang menyukainya, jadi istirahatlah dulu.”

 

“Himchan belum menghubungiku belakangan ini,” gumam Nami lemas. Selain flat dan isinya, Nami baru sadari ternyata Himchan belum menghubunginya sejak enam minggu belakangan.

 

Soohyuk bertanya, “Himchan?”

Nami tidak sempat menjawab, kepalanya langsung bersandar ke pundak Soohyuk dengan mata terpejam.

 

Soohyuk tersenyum sambil menggeleng melihat Nami.

 

-oOo-

 

Himchan berjalan didepan Yongguk, sementara Yongguk mengikuti dengan tatapan yang mengawasi setiap langkah Himchan. Temannya baru saja menghabiskan empat gelas besar bir dan masih terlihat baik-baik saja. Selama lima jam berada di bar dengan keluh kesahnya terhadap berita di pagi hari itu.

 

Siapa lagi, kalau bukan tentang Jung Nami?

 

Yongguk terus mengikuti langkah temannya itu. Himchan memang terkenal dengan kemampuannya untuk meminum minuman beralkohol yang kuat. Tadinya, Himchan ingin menambah jumlah bir yang dikonsumsinya, tetapi Yongguk melarang.Yongguk tidak ingin Himchan mati konyol hanya karena menegak bir terlalu banyak atau stress berlebihan.

Yongguk sendiri tidak ikut menegak bir karena benci minuman beralkohol, jadi dia hanya melihat temannya yang bergumul tidak jelas sambil menegak bir berkali-kali.

 

DUG!!

 

Kepala Himchan tertubruk dengan sebuah tiang iklan ditepi jalan. Himchan nyaris jatuh tersungkur, tetapi ia berhasil mendapatkan keseimbangannya kembali. “Sial,” umpatnya menatap tiang iklan tersebut. Saat ingin mengumpat kearah iklan itu, Yongguk menimpali dari belakang.

 

“Loh, kenapa kau menubruk papan iklan butik pacarmu sendiri?” gumam Yongguk menghampiri Himchan, matanya tetap mengarah ke papan iklan tersebut.

 

Yongguk menyipitkan matanya, mengamati iklan itu dengan seksama. “Itu Jung Nami, ya? Cantik juga.”

 

Himchan mendongakkan kepalanya menatap papan iklan tersebut. Matanya awalnya membesar, lalu ia mengerjapkannya berkali-kali. Dan ia menurunkan pandangannya kembali ke arah jalanan di pinggir jalan raya itu.

 

“Bukan.”

 

“Bukan?”

 

“Bukan,” Himchan mengadahkan kepalanya keatas lagi untuk memastikan bahwa sosok itu bukan Jung Nami. “Itu… Nana.”

 

“Nana? Pacarmu yang lain?”

 

Yongguk langsung memasang ekspresi wajah tak bersalah saat Himchan nyaris mencekiknya saat itu juga.

 

“Adik Nami. Memang mirip dengan Nami, tapi dia bukan Nami,” jawab Himchan menghela napas lalu berjalan. “Aku baru tahu kalau Nana itu model,” gumamnya lagi.

 

Yongguk mengangguk saja lalu mengikuti temannya berjalan menyusuri tepi jalan raya kota Tokyo. Gemerlap yang seakan menyergap mereka, orang-orang yang berlalu lalang tiada hentinya. 24 jam nonstop. Tokyo adalah kota yang tidak pernah tidur.

 

“Bolehlah,” gumam Yongguk lagi sambil berpura-pura memikirkan Nana. Himchan menyipitkan matanya menatap temannya yang bertingkah aneh itu. “Kau sakit?”

 

Yongguk menggeleng.

 

“Amnesia?”

 

Yongguk kembali menggeleng. “Ada yang salah dengan mengagumi Nana itu?”

 

Himchan seakan tidak percaya apa yang dikatakan Yongguk. Ia lalu berpikir sejenak kemudian berkata, “Lalu bagaimana Jieun?”

 

“Baik-baik saja,” timpal Yongguk enteng.

 

“Kau benar benar, maksudku, tidak sedang mengalami gangguan pikiran? Atau jiwa?” gumam Himchan heran. Gelengan Yongguk yang berjalan disampingnya menjadi jawabannya.

 

“Lalu kenapa kau berubah menjadi sedikit-playboy sekarang?”

“Hanya mau meniru Kim Him Chan,” jawab Yongguk enteng. Yongguk hanya berniat bercanda. “Bang Yongguk, kau mau mempercepat hari pemakamanmu?” tanya Himchan sarkastik dengan tatapan tajam nan sinis. Yongguk menyambutnya dengan tawa.

 

Tentu saja dia hanya bercanda. Lagipula, Yongguk tidak suka dengan model. Bukan typenya sama sekali.

 

“Kali ini pasti itu Jung Nami!!” seru Yongguk. Himchan melirik temannya, apa Yongguk masih waras? Sekarang siapa yang mabuk sebenarnya?

 

Himchan mengikuti arah telunjuk Yongguk menunjuk. Kesadarannya yang tadinya tinggal seperempat berubah menjadi sadar sepenuhnya. Ya, memang itu Jung Nami.

 

Itu memang Jung Nami. Jung Nami yang tidak memberinya kabar selama enam minggu, Jung Nami yang seakan lupa kalau Kim Himchan adalah pria yang menyandang status ‘pacar Jung Nami’, Jung Nami yang menghilang dan sukses membuat Himchan uring-uringan tidak jelas, Jung Nami yang digosipkan dengan seorang model. Itu Jung Nami.

 

Nami tidak sendiri. Ia berjalan disamping seorang lelaki tinggi semampai, kulitnya cenderung pucat dengan postur badan tegap mirip seorang… Lee Soohyuk, model menyebalkan dari koran tadi pagi.

 

Himchan menyipitkan matanya lagi, memastikan apakah itu Lee Soohyuk atau bukan. Saat itu, laki-laki itu menoleh dan melihat Himchan. Pandangan mereka bertemu.

 

Astaga, dia Lee Soohyuk.

 

Himchan langsung menarik lengan Yongguk, yang daritadi mengamati Jung Nami, pergi dari tempat itu. Tetapi, langkahnya berhenti saat suara yang familiar memanggil namanya.

 

“Chan-chan?”

 

Himchan refleks menoleh. Jung Nami ternyata memanggilnya. Oh, apa harus dia pasang wajah marah? Atau sedih? Atau jengkel?

 

“Chan-chan? Astaga, imut sekali,” desis Yongguk meniru suara Nami yang membuat Himchan ingin muntah mendengarnya.

 

Nami semakin mendekat. Wajahnya nampak kelelahan. Kantung matanya semakin hitam, matanya terlihat sayu. “Aku…”

 

Himchan menarik napasnya dalam lalu… “Oh well, kenapa kau tidak menelponku selama berada di bumi belahan yang berbeda denganku? Apa kau lupa kalau aku ini setidaknya butuh kabarmu? Setidaknya memastikan dirimu baik-baik saja, atau dirimu tidak pingsan atau bahkan dirimu makan tepat waktu? Astaga Jung Nami ini nyaris membuatku mati karena uring-uringan tidak jelas.

 

“Apa kau mau kabar tentang Kim Himchan mati karena uring-uringan tidak jelas menjadi headline news? Atau mungkin aku kehilangan berat badan secara drastis lalu berat badanku setara dengan penderita anorexia? Astaga, Jung Nami kau bisa membuatku menjadi pasien rumah sakit jiwa.”

 

Omelan Himchan yang seakan menyerbunya membuat Nami diam sejenak, menatap wajah Himchan lama. Yongguk, yang disamping Himchan, memandangi temannya dengan tatapan tidak percaya. Kemampuan mengomel Himchan meningkat drastis, pikirnya.

 

“Sudahlah, aku pulang. Kau istirahat saja dirumah. Ayo, Yongguk!”

 

Himchan membalikkan badannya dan merangkul Yongguk untuk pulang. Sementara Nami menatap Himchan heran.

 

“Cemburu,” Soohyuk menyeletuk dari belakang Nami setelah sosok Himchan telah jauh dari pandangan mereka. Nami mengerjapkan matanya lalu menatap Soohyuk tidak percaya. “Benarkah?”

 

Soohyuk mengangguk mengiyakan. Kemudian ia menambahkan, “Ada gosip kalau aku sedang berkencan denganmu. Mungkin mereka mendapat foto-fotonya saat di Singapura kemarin.”

 

Nami mencelos. “Tidak mungkin aku mengencanimu,” katanya menepuk pundak Soohyuk tertawa. Soohyuk pun ikut tertawa melihat Nami.

 

-oOo-

“YONGGUK!! GAWAT!!”

 

Himchan langsung menerobos masuk pintu apartemennya dengan teriakan lengking yang sanggup memecahkan kaca. Dengan kepanikan yang luar biasa, Himchan menerobos masuk kedalam kamar Yongguk.

 

Yongguk sedang tertidur pulas. Himchan langsung menarik selimut yang dipakainya, dan mengguncang tubuh temannya keras. “Yongguk!! Bang Yongguk!! Bangun!! Bangun!!”

 

Yongguk masih mengeliat, belum mau membuka matanya. “Apa?” Yongguk mendorong tubuh Himchan menjauh darinya dan kembali tidur.

 

Himchan tidak kehabisa akal, dia pun menarik napasnya lalu berteriak keras.

 

“SONG JIEUNMU DAN TIGGER JATUH!!!”

 

“HAAA????”

 

Yongguk langsung bangun dan berdiri. Ia menatap sekelilingnya, mencari Song Jieun, lalu menatap Himchan panik.

 

“Jatuh dimana?”

 

Himchan mengangkat bahunya. “Jatuh dari pohon tomat.”

 

“Pohon tomat…. Pohon… tomat?”

 

Setelah sadar kalau dirinya ditipu, Yongguk menghampiri Himchan dan menjitak kepalanya keras. Himchan mengaduh dibuatnya. “Kubunuh kau,” seru Yongguk lagi memukul Himchan dengan bantal berkali-kali.

 

“Akh! Sudah! Hal ini lebih penting!!” Himchan berusaha menghentikan Yongguk. “Videonya sudah selesai? Orang tuaku lusa datang!!!!”

 

Yongguk berhenti memukuli Himchan. Ia melempar bantalnya, lalu mengambil laptopnya dan memberikannya ke Himchan.

 

“Sekarang ambil laptopku, jangan merusak laptopku, dan pergi dari apartemenku!!”

 

-oOo-

 

Nami mematut dirinya dicermin, memastikan kalau style pakaiannya hari ini tidak salah. Dress babypink selutut tanpa lengan berbahan satin dengan dalaman spandex berwarna lebih gelap, sepatu heels hitam dan tas tangan kecil hitam. Rambutnya dibiarkan tergerai.

 

Setelah merasa pas, Nami kemudian berjalan meninggalkan kamarnya. Ia meraih ponsel ditasnya dan melihat layarnya sebentar. Jam 12.05. “Sejam lebih cepat dari waktu janjian juga tidak apa-apa,” gumamnya lalu keluar setelah mengunci apartemennya.

 

Nami memutuskan untuk naik shinkansen azusa saja. Jarak dari apartemennya di daerah Jiyugaoka ke tempat janjiannya dengan Himchan di daerah Shibuya dapat ditempuh selama 15 menit. Bisa lebih lama kalau , Nami memakai kendaraan pribadi. Lagipula, lebih menghemat bahan bakar yang semakin menipis.

 

Langkah Nami ringan menuju stasiun. Setelah naik kedalam kereta, Nami menatap ke sekelilingnya. Suasana azusa saat itu lenggang, jadi banyak tempat duduk yang kosong. Nami memilih untuk duduk dipojok dekat dengan pintu masuk azusa.

 

Azusa pun melaju dengan kencang. Nami menatap ponsel yang ada ditangannya. Ia teringat tentang Himchan dan hari ini. Himchan mengajaknya bertemu di Shibuya, dekat kantor Himchan. Biasanya mereka bertemu di Jiyugaoka atau didekat butik utama Nami.

 

Anehnya lagi, Himchan menyuruhnya menunggu di tepi jalan. Biasanya mereka bertemu di sebuah kedai kopi atau kafe. Nami mengerutkan dahinya saat memikirkannya lagi. Heran. Apa ada yang salah?

 

-oOo-

 

“Tuan, bisa, kan?”

 

Himchan menatap lawan bicaranya dengan mata penuh harap. Pria yang menjadi lawan bicara Himchan itu terdiam sebentar, mempertimbangkan pertimbangan Himchan. Tak berapa lama, pria itu mengangguk. “Baiklah.” Pria itu tersenyum menambahkan.

 

Himchan langsung membungkukkan badannya dalam-dalam, tanda terimakasih untuk pria itu. Tangan pria itu diraihnya, lalu Himchan memberikan dua keping cd kepada pria itu. Tak lupa, instruksi tentang kapan isi cd itu diputar disampaikan Himchan. Setelah urusannya dengan pria itu selesai, Himchan cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

 

“Siapa itu”

“Oh… Orang yang ingin melamar pacarnya.”

 

-oOo-

 

Stasiun Shibuya tetap padat seperti biasa. Nami melangkahkan kakinya santai. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nami merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Nami pun mengangkat teleponnya segera.

 

“Ya, Kiko?”

 

Suara diseberang terdengar, namun sedikit ricuh. “Nami? Nami? Kau dimana, Nami?”

 

“Shibuya… Kenapa tiba-tiba menelpon?”

“Astaga…. kau tidak akan percaya ini. Kau dibagian mananya Shibuya?”

 

Nami mengerutkan dahinya. “Di stasiun. Kenapa, sih?”

 

“Kau sungguh akan meleleh melihatnya. Nama lengkapmu Jung Nami, kan?”

“Bukan, tapi Mizuhara Kiko.”

 

Suara tawa terdengar dari seberang. “Aku serius, Jung Nami. Sekarang cepat ke layar besar di pertigaan yang terkenal itu…”

“Tunggu, aku sedang kesana.” Nami mendapati daerah itu dipadati orang-orang. Orang-orang yang mengadahkan kepalanya melihat sebuah layar besar di pertigaan Shibuya.

 

Nami mendekat ke kerumunan orang-orang itu. “Aku tidak bisa kesana.”

“Kau sudah didepan, kan? Yasudah, kau sekarang maju mendekat layar itu. Penting ini penting. Daah.”

 

Kiko pun menutup sambungan teleponnya. Nami menatap layar ponselnya heran.

 

Sebenarnya apa yang terjadi, sih? Kenapa semuanya berkelakuan aneh dari awal bangun pagi sampai sekarang? Mulai dari Himchan sampai Kiko. Nami mendengus kesal dalam hati, kakinya ia langkahkan mendekat ke kerumunan itu. Berusaha masuk dan melihat apa yang diperhatikan orang-orang tersebut.

 

“Memangnya apa, sih.” Nami langsung mengadahkan kepalanya memandangi layar itu.

 

Seketika matanya membulat sempurna. Apa yang dilihat matanya tidak salah, bukan? Namanya jelas-jelas tertulis jelas di layar raksasa tersebut. Nami mengerjapkan matanya, berusaha memastikannya. Ternyata memang namanya. Jung Nami.

 

Lalu, layar itu memunculkan gambar lain. Kali ini adalah sebuah video. Saat video mulai, Nami kembali membulatkan matanya.

 

Yang dilayar itu Kim Himchan, kan?
Matanya tidak salah, kan? Tidak ada orang yang punya fitur badan kurus, kulit pucat dengan rambut klimis dan mata sipit seperti Kim Himchan. Ya, dia Kim Himchan.

 

Masih tenggelam dalam kekagetannya, orang-orang disekeliling Nami mulai menyadari kalau ada seorang Jung Nami didekat mereka.

 

Bang Yongguk!!!! Sudah mulai?

 

Ah, halo? Aku Kim Himchan. Maaf kalau aku menyita perhatian kalian semua. Aku hanya ingin membuat kejutan untuk Jung Nami. Kalian tahu Jung Nami, ini, fotonya.

 

Himchan mengambil sebuah foto dan menunjukkannya ke kamera. Dan itu memang fotonya!!!

 

Seluruh orang pun mengalihkan perhatiannya ke Nami. Nami tidak memerdulikan ribuan tatapan yang tertuju padanya. Matanya begitu fokus melihat video itu, yang entah siapa yang memutarnya.

 

Kali ini, biarkan aku menyampaikan sedikit untuk Jung Nami.

 

Lalu, layar tersebut menampilkan sebuah video lain. Latar belakangnya…. seperti berada di luar Jepang. Paris? Batin Nami bertanya-tanya dalam hatinya.

 

Sosok Himchan dalam video itu mulai bertindak sebagai model. Dan lagunya pun mengalun. Himchan mengikuti dan berpura-pura bahwa dia adalah model video klip itu.

It’s a bit awkward but I came here by myself
Among people who look so happy
I walk the streets and eat good food
Then a day passes

But not being with you still feels a bit awkward
We were always together
I miss you so much

 

Lalu, background scene nya berganti. Himchan, dengan gaya yang menurut Nami sedikit konyol, memeluk dirinya dan memasang wajah sedih.

Where are you? What are you doing? Are you well?
Because you’re not next to me, lonely lonely day
Can you hear it? Can you see it? My heart?
I hope it reaches you

 

Hatinya mencelos mendengarnya. Oh Tuhan!!!

 

Ini adalah curahan hati Himchan untuknya?

 

Videonya masih berlanjut.

This street I’m walking on all alone
I’m so used to it but it’s no fun
I’m still the same as before
But I’m still so lazy without you
So whatever I do, your empty spot feels too big
I still fall asleep as I long for you

Where are you? What are you doing? Are you well?
Because you’re not next to me, lonely lonely day
Can you hear it? Can you see it? My heart?
I hope it reaches you

Nami tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. Himchan benar-benar membuatnya terkejut. Setelah video dengan lagu itu berakhir, Nami mengerjapkan matanya berkali-kali.

 

Apa benar ini untuknya? Semuanya?

 

Nami mengatur napasnya dan dirinya dari keterkejutan ini. Ia menatap sekelilingnya, ternyata seluruh orang telah memandangnya. Nami pun salah tingkah, tersenyum kikuk.

 

Lalu, sebuah lagu mengalun kembali. Kali ini adalah lagu dari girlband yang populer di Korea Selatan, yaitu KARA. Lagu yang berjudul Mister itu mengalun.

 

Dalam video itu, Himchan terlihat menari mengikuti irama lagu itu. Bahkan, goyangan pinggul khas lagu itu ditirukan Himchan.

 

Menangis atau tertawa, Nami tidak tahu harus apa. Himchan terlihat sangat menikmatinya. Sepertinya, orang yang merekan video ini tidak memberitahu Himchan kalau Himchan sedang direkam.

 

Seluruh orang yang berada didepan layar raksasa itu tergelak tawa. Siapa yang tidak tertawa melihat seorang laki-laki menarikannya dengan gaya konyol namun gerakannya lincah?

 

Nami tersenyum.

 

Pria itu, Kim Himchan yang sedang menari lagu KARA yang lainnya, penuh kejutan.

 

Lalu, layar tersebut putih. Sedetik kemudian, muncul wajah Himchan lagi. Kali ini, perhatian Himchan penuh ke kamera.

 

Hey, kau, Jung Nami!!

Kau sedang melihat ini, kan??

 

Dengarkan apa yang akan kubilang, oke??

 

Seluruh perhatian orang-orang kembali tertuju kearah layar raksasa itu. Nami, menunggu apa yang akan dilakukan Himchan didalam video itu.

 

Dan sebuah lagu mengalun. Kali ini dari K.Will dengan judul One Day.

What are you doing today? Are you busy?
If not, do you want to hang out with me?
I have something to tell you, it’s nothing special
but I think I like you

Orang-orang tertawa melihat Himchan seakan-akan bertanya kenapa mereka semua dengan gayanya yang konyol. Menunjuk-nunjuk kamera, melakukan gaya-gaya yang mengisyaratkan tentang lirik lagu tersebut.

I’ve never said that before
You’re my lady you’re my baby
But really, I’m not kidding
From today, from now
will you be mine baby

Of all the ugly guys
I’m the best looking
What do I have to do to let you know how I feel?
Thinking of you drives me crazy

So I’m not that handsome
but I think I look cute when I smile
I’ll do better than all the guys out there, my love
I love you

 

Saat lirik ‘handsome’, Himchan menyisir rambutnya, lalu menatap kekamera dengan tatapan lihat-aku-ini-tampan-bukan. Lalu tersenyum lebar, menyengir seperti cengiran kuda. Bahkan, bertingkah imut.

 

Nami benar-benar tidak tahu perasaannya saat ini. Ingin menangis karena kejutannya, namun ingin tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan Himchan yang konyol.

 

Close your eyes and count to three
Now open and tell me what you see
Nothing? You don’t see your man?
It’s day 1 from today

ust come to me, don’t think
Come closer, don’t hesitate
I know I’m not enough
But more than anyone in this world
I love you baby

Of all the good-looking

Everyone keeps saying
You and I look great together
I’ll do better than all the guys out there, my love
I love you

Nah, sekarang, lihat ponselmu, Jung Nami.

 

Video itupun mati. Layarnya pun kembali gelap. Nami cepat-cepat mengambil ponselnya. Benar! Ada pesan masuk dari Himchan.

 

Nami membaca isinya dengan seksama. Lalu ia berlari menuju tempat Himchan berada. Meninggalkan kerumunan orang-orang tadi, yang memanggil namanya.

 

Benar-benar penuh kejutan, batin Nami tersenyum lebar.

 

Nami memacu larinya dengan kencang. Ia benar-benar harus tahu apa maksud semua ini, dari Kim Himchan secara langsung.

 

-oOo-

 

Tempat yang sudah diatur sedemikian rupa agar terlihat indah itu tersembunyi dibalik pepohonan yang rimbun. Himchan terduduk di sebuah kursi panjang yang khusus dipersiapkannya, menunggu Nami datang ke tempatnya.

 

Semoga apa yang dilakukannya dengan Yongguk berjalan lancar. Himchan rela membelikan Yongguk sebuah headphone dr.dre terbaru sebagai ‘upah’ atas hasil kerjanya. Awas saja kalau hasilnya mengecewakan, Yongguk dijamin tidak bisa makan siang di tempat favoritnya. Himchan akan membuat daftar blacklist berisikan nama Yongguk. Lihat saja, batin Himchan.

 

Himchan memandangi sekelilingnya lagi, berusaha memastikan semuanya sudah sempurna. Himchan sengaja memilih tempat yang sunyi dan tenang seperti ini. Pembicaraan yang akan Himchan bicarakan sedikit serius. Apalagi, Nami suka membicarakan hal-hal yang serius dengan kondisi lingkungan yang tenang.

 

Padahal tempat ini susah sekali didapatkan, batin Himchan mengingat susahnya mendapatkan tepat yang tenang didekat jalan Shibuya.

 

Suara derap lari seseorang terdengar. Himchan menoleh kebelakangnya. Seketika, senyumnya pun terbit.

 

Nami datang. Sambil berlari, ia menghampiri Himchan. Dengan napasnya yang masih terengah-engah, Nami langsung berkata, “Apa yang kau lakukan?”

 

“Sudah, duduk dulu dan minum ini,” ujar Himchan menarik lengan Nami untuk duduk dan menyodorkan sebotol air putih. Nami menegak air putih itu sampai habis setengah. Setelah napasnya tidak terengah-engah lagi, dia menatap Himchan.

 

Himchan membalas tatapan Nami dengan tatapan andalannya, ada-apa-apa-kau-jatuh-cinta-kepadaku nya itu.

 

“Aku…”

 

“Biar aku jelaskan apa yang terjadi.” Himchan memotong kalimat Nami. Nami mengerutkan dahinya, tanda tidak mengerti dengan maksud Himchan.

 

“Kau pikir aku bisa tenang saja saat tidak mendapat kabar darimu?”

 

Himchan menghela napasnya. “Kau tahu, aku benar-benar merasa pusing saat itu. Saat kau digosipkan dengan Lee Soohyuk, kau benar-benar tidak peduli perasaanku, ya?

 

“Makanya, aku membuat video itu. Sebagai rasa protes. Juga sebagai penggambaran apa yang ingin kulakukan denganmu. Astaga, kau benar-benar membuatku kehabisan akal.

 

“Lalu, saat ini, aku ingin melakukan sesuatu sebenarnya. Tunggu dulu,” Himchan mengambil botol minuman dan menegaknya.

 

Tatapannya pun berubah. Kalau tadi, saat mengomel tatapannya sebal, kali ini Himchan menatap Nami dengan tajam. Nami mencelos dalam hatinya.

 

“Kau… mau menikah, tidak?”

 

“Ha?” Nami tidak mengerti. Ia lalu berkata, “Semua orang pasti mau menikah.”

 

Himchan semakin menatapnya lekat. “Kalau kau menikah sekarang?”

 

Nami mengerutkan dahinya. Himchan kenapa jadi aneh?

 

“Boleh saja,” balasnya enteng.

 

Himchan pun mengambil sebuket bunga dari belakangnya dan memberikannya kepada Nami. Nami meraih buket bunga yang didominasi dengan bunga mawar merah yang harum. Nami menghirup harum bunga yang terlihat segar itu. “Terima kasih,” katanya menggoyang-goyangkan buketnya.

 

Namun, ada hal yang aneh. Kenapa buketnya terasa berat?

 

Nami menatap Himchan dengan penuh tanya. Himchan mengisyaratkan untuk melihat kedalam isi buket itu. Nami pun mengikuti saran Himchan. Dan, ia mendapati ada sebuah box kecil berwarna putih.

 

Nami mengambil box itu, meletakkan buket bunga dipahanya. Ia membuka box itu, dan betapa terkejutnya ia saat melihat sebuah cincin perak yang mengilap didalam box itu.

 

Nami menatap Himchan. “Apa maksudnya ini?” katanya menatap Himchan dan cincin itu secara bergantian.

 

Himchan tersenyum. “Kau memang tidak mengerti? Aku sedang melamarmu.”

 

Ekspresi kaget tergambar jelas di wajah Nami. Nami menggelengkan kepalanya, lalu mencubit tangannya sendiri. Ini bukan mimpi, kan? Bukan. Bukan. Buktinya, cubitannya terasa sakit.

 

Ia pun memukul pipi Himchan pelan. “Sakit.”

 

Himchan yang ada didepannya kini pun bukan mimpi.

 

Nami kembali menatap Himchan dan cincin itu. Himchan mengambil box itu dari tangan Nami, lalu Himchan berlutut dihadapannya.

 

Jantung Nami berdebar-debar sekarang. Seakan jantungnya akan lompat dari tempatnya. Waktu serasa berjalan sangat lambat.

 

Himchan mengacungkan box itu lalu berkata, “Ayo kita menikah.”

 

Menikah?

 

Nami mencerna kata-kata yang Himchan ucapkan barusan. Menikah?

 

“Jangan bercanda… Himchan,” lirih Nami. Himchan menatapnya dengan tatapan penuh keyakinan.

 

“Aku serius,” Himchan berdiri, lalu duduk disamping Nami kembali. “Semua itu adalah kejutan, sekaligus tanda protes, untukmu. Lalu, tentang menikah, itu juga serius.”

 

Lidah Nami tiba-tiba menjadi kelu. Ia tidak dapat menemukan kata-katanya saat ini. Hanya terduduk diam menatap Himchan dan mendengar setiap katanya. Menantikannya dengan waktu yang berjalan terasa lambat dan detak jantung yang berdetak sangat cepat.

 

“Mungkin kau berpikir tidak menyangka akan dilamar dalam usia dua puluh tujuh? Usia yang terbilang cukup muda untuk menikah di Jepang. Tapi, aku serius. Kurasa tidak ada alasan lagi untuk tidak menikahimu.

 

“Usiaku sendiri sudah dua puluh delapan. Biasanya, lelaki metrosexual sepertiku memilih menikah pada usia tiga puluhan. Tapi, seperti yang kubilang tadi, tidak ada alasan untuk tidak menikahimu lagi.

 

“Baiklah… Mari kita membina sebuah rumah tangga yang bahagia. Setiap pagi, ada kau dan aku yang saling bertukar salam saat terbangun, saling mendekap saat tertidur, saling menjaga saat tersadar dan saling tersenyum saat bertatapan. Tangan yang tersematkan cincin, yang bertautan sambil menunjukkan ke publik bahwa kita adalah pasangan sehidup semati. Disaat kita punya anak, anak-anak nanti bangga memiliki orang tua sepertiku yang tampan. Mereka tumbuh, kita menyaksikan mereka setiap masa pertumbuhannya. Melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama. Memanggil kita dengan suaranya yang nyaring. Dan hal lainnya.

 

“Sosok yang terpikirkan olehku adalah kau. Jung Nami. Jadi, bagaimana?”

 

Tubuh Nami bergetar mendengarnya. Kesungguhan Himchan dalam hal ini tidak bisa dianggap remeh. Dan, dirinya lah yang dipilih Himchan.

 

Nami meneteskan air mata. Ia menatap Himchan tanpa kedip. Matanya memanas.

 

“Bagaimana?” tanya Himchan dengan suara pelan.

 

Nami mengedipkan matanya. Bulir air mata mengalir di pipinya. Perasaan hangat menyusup di relung hatinya, membuatnya nyaman. Lalu, Nami menganggukkan kepalanya.

 

“Iya.”

 

“Iya apa? Jawabanmu kurang jelas. ”

 

 

Nami memukul Himchan pelan. Nami tertawa disela tangisnya. Himchan tersenyum melihatnya. “Iya… Iya aku mau menikah denganmu.”

 

Himchan langsung mendekap Nami dalam pelukannya. “Terima kasih,” bisiknya pelan.

 

Nami hanya bisa membalas pelukan Himchan dan menenggelamkan kepalanya ke pundak lelaki itu. Rasa hangat menjalar keseluruh hatinya. Juga ke hatinya.

 

-oOo-

 

“Ibu dan ayahmu akan datang besok? Jadi, kau melamarku karena mereka akan datang besok?”

“Tidak, tentu saja tidak. Aku yang memanggil mereka. Saat mereka mendengar aku sudah punya calon istri, mereka langsung membeli tiker penerbangan kesini.”

“Apa aku harus memakai hanbok?”

“Tidak perlu. Nah, kau sekarang bisa jelaskan apa hubunganmu dengan Lee Soohyuk?”

 

“Soohyuk?”

“Ya, Lee Soohyuk. Siapa dia? Dan siapa Jung Haru itu?”

“Kau menengok ke meja kerjaku, ya?”

“Karena rasa penasaran, jadinya begitu.”

 

“Soohyuk itu teman kakak kembarku. Jung Haru itu kakak kembarku.”

“Tunggu… Kau … kembar? Astaga, kau punya kembar?”

“Nanti kuceritakan. Ceritanya panjang. Yang jelas, yang tadi kau lakukan itu memalukan. Aku bahkan tidak tahu harus tertawa atau menangis saat kau dengan lincahnya menirukan goyangan pinggul Mister nya KARA. Dan lagu lainnya.”

“HAH? Ada di videonya?”

“Ada. Saking rindunya sampai stress begitu, ya?”

 

“Kurang ajar kau Bang Yongguk!!!”

“Bang Yongguk?”

“Nanti kujelaskan. Sekarang kita ke Hokkaido. Meminta izin kepada ibumu untuk menikahimu.”

“Kalau begitu, sekalian meminta izin kepada ayah dan Haru di pusaranya. Mereka pasti senang dikunjungi olehmu.”

 

“Baiklah.”

 

~THE END~

Noted :

Ini adalah side story terakhir dari serial Oramanieyo. Terimakasih buat semua yang udah baca, yang udah terlibat dalam pembuatan FF yang jauh dari kata sempurna. Oh ya, soal FF Please Stop The Time, akan dibuat sequelnya. Namun, FF ini mengalami beberapa perubahan siknifkan. Alasan, siapa aja, dan lainnya. Yang lebih jelasnya silahkan dibaca disini.

di wepe ku juga ada oramanieyo yang perubahan sedikit, sementara PSTT season 1 belum rampung. setelah rampung PSTT season 2 akan di publish ^^

regards, hayamira ~.~

 

 

 

 

7 responses to “[FF Oramanieyo Side Story] Proposal

  1. sumpah aku ngbca ny senyum2 sendiri,, nggk nyngka aja gtu himcan bsa btingkh sprti itu.. bca ff ini, jdi rindu sma b.a.p
    meskipun aku bukan fans mereka, tpi aku suka style & musik mreka…
    sukses buat author ny

  2. huaaaa ga nyangka kalo oramanieyo ada kelanjutan terakhirnya T,T
    kangen banget sama ff nya TT
    himchan sosweeeeett :”v
    bagus thor, aku dapet feel nya, keren bgt pokoknya :”)

  3. Waaaaaa oraemanieyo nya bener bikin kangeeeeeen
    Ya ampuuun apa kisahnya Hara ya? Ahahaha

    Berarti skrg udh bener2 tamat ya? Hiks

  4. ahh! Aku seneng banget nemu ni ff lg…
    Daan.,,oh.. Aku jadi pengen liat himchan nge-dance gtu.. Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s