[Series] Let Me – Part 2

Untitled-1

Let Me

Cast : Kim Jongin, Lee Chaelli (OC) // Romance // Chapter // PG-14

Summary :

Can you let me to holding your hand and keep your love?

-sundaymonday-

Link Let Me: (Part 1Part 2  – Part 3Part 4Part 5Ongoing )

            Setelah terdengar suara riuh tepuk tangan. Pria itu membungkuk dengan anggun sambil mengangkat topinya sebagai bentuk penghormatan. Sementara Chaelli masih terkesiap di tempatnya—saat ini ia sedang menebak tentang apa yang akan pria itu lakukan di atas sana.

Terjatuh dengan pantat menyentuh lantai terlebih dahulu?

Berputar-putar hingga ia kehilangan arah?

Oh, atau menyanyikan lagu dengan suara sumbang?

Entahlah, Chaelli tidak bisa menebak salah satunya. Tapi seseorang tadi bilang jika ia seorang penari bernama Kai. Apa itu berarti pria itu akan menari?

Chaelli masih menunggu. Cukup lama hingga lima menit sampai pria itu bergerak dari posisi penghormatannya saat ini. Lalu perlahan-lahan terdengar suara piano yang berbunyi. Do sol fa , do sol fa, do sol fa bunyinya terdengar seperti itu walaupun ada beberapa nada tambahan lainnya. Lalu bagai sebuah sihir di malam hari, pria itu mulai bergerak mengikuti irama.

Seperti burung—merpati yang anggun sekaligus elang yang kelihatan gagah. Pria bertopeng itu menari tarian ballet dengan kemeja putih dan celana bahan hitam yang membuatnya kelihatan benar-benar hidup. Seluruh tubuhnya, bahkan mungkin jari-jarinya juga ikut menari saat ini. Ia benar-benar seorang penari.

Sekarang pria itu sedang berputar. Menari dengan tungkainya sambil membentangkan kedua tangannya seperti seekor burung yang akan terbang. Ini benar-benar indah, bahkan walaupun sosok pria itu bersembunyi di balik topengnya. Semua orang masih tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari atas panggung.

Dan sama seperti semua orang yang terpesona dengan tariannya, Chaelli juga tidak bisa beranjak dari sana tanpa melewatkan satu pun gerakan tubuh Kai. Ia seperti sedang berada di sebuah teater mahal dan menonton pertunjukan broadway yang terkenal itu. Kai benar-benar menyihir setiap orang dengan tarian indah miliknya—bahkan untuk sesaat tadi Chaelli bahkan lupa tentang tujuannya untuk duduk dan menghirup nafas di sini.

Setelah terdengar alunan terakhir suara piano, Kai mengakhiri tariannya dengan sebuah lompatan indah yang halus. Membuat seluruh orang yang berada di sana menatapnya dengan terpesona sambil berteriak riuh menampilkan kekagumannya. Semua orang bertepuk tangan dan bersorak—kecuali Chaelli yang masih tidak sadar dengan apa yang dilihatnya baru saja.

Diantara semua orang yang mengagumi tarian Kai hanya ia yang masih mematung tanpa melakukan apapun. Segalanya terasa menggetarkan dan membuatnya melayang seketika. Ia seperti berada di sebuah mimpi yang tidak ada seorang pun yang boleh membangunkannya.

Chaelli masih menatap sosok Kai, bahkan setelah pria bertopeng itu beranjak turun dari atas panggung. Perasaan aneh terasa menyelubungi seluruh dadanya, seperti sebuah kupu-kupu yang berterbangan ke sana kemari dan memenuhi perutnya. Lalu hening, karna ia masih bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya. Namun setelah itu sebuah jawaban muncul—ia sendiri merasa sesak, sekaligus bahagia dalam satu waktu.

Untuk pertama kali dalam hidupnya—Chaelli jatuh cinta.

“Jadi, bagaimana?” Mina mulai menginterogasinya seperti remaja yang ketahuan membuat masalah. “apa yang dikatakan Baekhyun padamu?”

“Tidak ada”

Mina mengernyit aneh. “Tidak ada?” Chaelli menghela nafasnya pelan, sebelum Mina mulai menyerangnya lagi dengan seribu pertanyaan sekaligus. Sahabatnya itu pasti marah besar jika ia mengatakan hal yang sesungguhnya—tentang ia yang menampar Byun Baekhyun—mantan pacarnya yang masih sangat ia gilai itu. “Lee Chaelli, jawab aku!”

“kenapa kau harus peduli?” tanya Chaelli mencoba menutupi kebohongannya “Bukannya kau memintaku untuk menolaknya?”

Sekarang Mina terlihat gugup. Itu benar, dia sendiri yang meminta Chaelli menggantikannya pergi ke kafe itu untuk menolak permintaan Byun Baekhyun. Lalu kenapa saat ini ia harus peduli pada pria itu?

“Berhenti memikirkan pria bodoh itu. Kau pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya” Mina mendesah panjang, sebenarnya ia setuju dengan kata-kata itu. Hanya saja saat ini perasaannya terasa sangat hambar dan suram.

“Aku tahu dia bukan pria yang baik. Tapi aku juga tahu, jika aku masih terlalu mencintainya” Chaelli menoleh ke arah Mina yang sedang menengadahkan pandangannya ke atas langit. Entah apa yang sedang ia lihat di atas sana.

“Kenapa kau sangat yakin jika kau memang mencintainya?” tanya Chaelli sambil mengikuti arah pandangnya menatap langit. “Secara logis, kupikir tidak ada satu orang pun di dunia ini yang ingin mencintai pria sepertinya”

Suara Chaelli yang terdengar putus asa membuat alis Mina berkerut-kerut. “Kenapa kau bisa begitu yakin?” tanyanya lagi dengan sedikit mendesak. Chaelli biasanya tidak seperti ini. Ia biasanya tidak pernah begitu penasaran tentang apapun yang berhubungan dengan romansa. Tapi kini Chaelli bertanya padanya dengan nada memaksa dan ekspressi penasaran yang terlalu ketara. Seakan-akan gadis itu telah terjebak pada situasi yang sama dengannya.

“Kau penasaran?” tanya Mina untuk sengaja mempermainkannya. Melihat Chaelli bersikap seperti itu Mina tidak bisa menahan senyumannya. Ini terlalu lucu untuk ia lewatkan. “Cinta itu bukan emosi yang bisa kau kendalikan begitu saja sesuai logika. Cinta itu .. ” Mina menghentikan kalimatnya. Ia memang selalu seperti itu, sengaja mengantungkan kata-kata itu di udara untuk membuat kesan dramatis yang dalam.

“Oh, ayolah! Berhenti mempermainkanku”

Ketika Chaelli mulai berteriak tidak sabar—Mina meledak begitu saja. Seakan-akan ada perasaan puas yang mendominasinya dan mengoyakkan seluruh perutnya tanpa henti.

“Ada apa denganmu? Biasanya kau tidak peduli”

“Aku memang tidak peduli—aku hanya penasaran” sahut Chaelli dengan sedikit gugup. Mina tertawa lagi. Kali ini lebih keras hingga membuat sebagian besar mahasiswa yang berada di sana menengok ke arah mereka. Oh, kerja bagus Mina!

“Baiklah, Nona tidak sabaran. Aku akan memberitahumu satu hal. Kau akan tahu jika kau sedang jatuh cinta saat kau menemukan getaran itu menari di dalam tubuhmu” Chaelli seketika itu memegang dadanya erat.

“Getaran?”

“Ya, semacam setrum yang membuat dadamu tiba-tiba melompat”

Mina tidak tahu kenapa Chaelli tidak mengatakan apapun setelah itu. Ia hanya diam—membeku seperti es sambil menatap kotak makan siangnya yang berisi sandwich tanpa melakukan apapun. Ini aneh.

“Jadi, apa kau sudah menemukan getaran itu?” seketika wajah Chaelli memerah. Seperti dugaannya, Chaelli sedang jatuh cinta. Tapi benarkah? Mina tidak terlalu yakin dengan dugaannya, mengingat bagaimana Chaelli selalu bersikap dingin pada seluruh laki-laki di dunia ini. “Astaga, Chaelli! Bisakah kau beritahu saja alasanmu bersikap bodoh seperti ini? kau membuatku hampir mati penasaran” tanya Mina dengan nada geram.

Tapi Chaelli tetap tidak memberikan respon yang bagus hingga seseorang perlahan-lahan mendekati mereka dengan suara langkah berat yang terdengar samar.

Chaelli menoleh—menatap wajah pria yang tersenyum ke arahnya dengan berseri-seri. “Hai!” sapanya sambil melambaikan tangan dan menampilkan deretan giginya.

“Oh, hai” Mina membalasnya juga dengan senyuman ringan. Tapi Chaelli tetap bersikap seperti biasanya—dingin pada setiap pria yang ia hadapi.

“Boleh aku bergabung dengan kalian?”

“Ya, tentu saja! kami sangat senang kau bergabung.” Sambutnya gembira sambil melingkarkan sebagian lengannya pada bahu Chaelli.

Pria dengan senyum cerah itu memilih duduk di samping Chaelli, lalu ia menyelipkan sebelah tangannya pada salah satu kantung jaket yang membungkus tubuhnya.

“Kau Jongin yang mengambil kelas tari itu, bukan?” Suara Mina yang manis membuyarkan fokus Chaelli. Tiba-tiba ia merasa konyol pada dirinya sendiri karna saat ini ia duduk diantara mereka. Bagus, sekarang ia terjebak.

“Aku senang kau mengenalku”

Mina mengangkat bahu sambil terus tersenyum “Aku rasa semua orang mengenalmu”

“Benarkah? Lalu, apa kau juga mengenalku?” tanya Jongin sambil menatap Chaelli ragu-ragu. “Namaku Kim Jongin” ulangnya lagi dengan membuat beberapa penekanan pada kata ‘Jong-in’

“Ehm, yeah” gumam Chaelli pura-pura bodoh “Aku akan mengingatnya”

“Jadi siapa namamu?” tanya Jongin lagi.

“Maaf?”

“Aku ingin tahu siapa namamu” sahut Jongin dengan senyuman bercahaya miliknya. Jika dilihat, ia memang seperti matahari. Terang, berwarna kuning dan bersinar—tapi nyatanya tidak semua orang bisa menangkap cahaya yang ia miliki.

“Siapa kau berani menanyakan hal itu padaku? Aku bahkan belum mengenalmu, tuan” Jongin mengangkat sebelah alisnya. Ini menarik—bahkan jauh lebih menarik dari apa yang ia bayangkan .

“Kau sudah mengenalku, nona. Namaku Kim Jongin, ingat?” jawab Jongin sambil terus tersenyum. Tapi itu sama sekali bukan senyuman penggoda yang biasanya dimiliki setiap pria. Entahlah, seperti ada sesuatu di wajahnya yang terus menerus membuatnya terlihat terang. Chaelli mulai berpikir jika ia termasuk dalam salah satu spesies alien.

“Apa dia temanmu?” Chaelli mengalihkan wajahnya kearah Mina sambil setengah berteriak. “Kenapa dia tiba-tiba muncul disini?”

“Ak-aku tidak tahu” gumam Mina sambil berkerut samar. Ia sendiri juga tidak tahu apa yang sedang dilakukan Jongin saat ini—di bangku ini bersama mereka sambil menyapa sahabatnya yang super dingin itu.

Chaelli menahan nafasnya. Sementara Jongin masih menatapnya dengan tatapan mata yang berseri-seri. Oh Tuhan, siapa pria ini?

“Dengar, tuan Kim. Aku tidak mengenalmu dan kau juga tidak mengenalku. Jadi, aku rasa kau tidak perlu tahu tentang namaku—atau segala sesuatu tentang diriku. Bukankah itu disebut pelanggaran privasi?” Chaelli menggerang keras, sambil menatapnya dengan tatapan memburu.

Tapi nyatanya erangan dan tatapan memburu itu tidak terlalu mempengaruhi Kim Jongin. Pria itu masih duduk di sana—di samping Chaelli yang setengah terduduk, dengan senyuman bodoh miliknya.

“Lee Chaelli?” tanya Jongin dengan nada menggelitik yang terdengar manis.

“Apa?” Setelah itu sebelah tangan jongin mengambil sampul buku merah yang terbuka dan menampilkan nama Chaelli besar-besar.

“Senang bertemu denganmu, Lee Chaelli”

“Jadi siapa dia? Aku belum pernah melihatnya selama ini” tanya Chaelli sambil menyandarkan punggungnya ke tiang penyangga halte bus.

“Kim Jongin”

“Ya! Aku tahu namanya. Maksudku siapa dia berani melakukan hal itu?” kening Mina berkerut. Chaelli benar-benar tahu jika Mina sedang berpura-pura bodoh saat ini.

“kupikir ia tidak melakukan apapun padamu”

“Apa?” tanya Chaelli dengan teriakan yang memenuhi halte itu “Kau pikir memaksaku untuk menjawab pertanyaannya itu tidak berarti apapun?”

Mina menatap Chaelli dengan alis yang masih berkerut-kerut. Ia tidak mengerti. Kenapa Chaelli harus marah-marah seperti itu hanya karna Jongin bertanya tentang namanya? Hanya sebuah nama. Apa yang penting? Bahkan jika Chaelli tidak bersedia memberitahunya, atau mungkin Jongin tidak menemukan tulisan itu dibuku Chaelli, Mina masih bersedia untuk memberitahu segala hal tentang Chaelli padanya.

“Aku rasa sikapmu sedikit berlebihan” kata Mina sambil menatap lurus kearah sahabatnya. “Kau tahu Jongin bukan sejenis perampok, teroris atau monster hijau yang menakutkan. Dia hanya mahasiswa—seperti kita, dan satu-satunya hal yang ia inginkan hanya mengenalmu”

Chaelli terdiam. Sebenarnya ia mengakui, jika ia sudah berlaku kasar pada pria itu. Jongin hanya menginginkan namanya, tidak lebih. Bahkan setelah ia mengembalikan buku itu, Jongin pergi begitu saja meninggalkan mereka tanpa mengatakan apapun. Baiklah, harus diakui ini memang salahnya.

“Kenapa kau selalu bersikap seperti ini? Menjauhi setiap pria dan menutup dirimu pada perasaan yang kau ciptakan sendiri” saat ini Mina mulai memprotesnya—dan Chaelli yakin jika beberapa menit lagi protes itu akan berubah menjadi monolog panjang yang menyebalkan.

“Lalu kenapa kau juga bersikap seperti itu? menganggapku seolah-olah aku juga bisa terjebak dalam perasaan konyol itu sepertimu” Chaelli bangkit berdiri dari posisinya untuk berpura-pura melihat kearah dimana bis itu biasa melintas. Tapi tidak ada apapun. Rasanya ia akan terjebak di sini—bersama seluruh argumen Mina yang panjang.

“Kau selalu bilang kau tidak bisa jatuh cinta. Padahal bukannya kau tidak bisa jatuh cinta, hanya saja kau selalu menutup hatimu untuk siapapun yang berani mendekat” Chaelli terdiam, lalu ia menghembuskan nafasnya pelan sebelum Mina mulai berbicara lagi.

“Jangan samakan aku dengan dirimu. Aku tidak akan pernah membiarkan diriku diselingkuhi sampai tiga kali” Chaelli tersenyum puas dengan jawabannya. Sepertinya, ia akan menang dalam perdebatan kali ini. “Aku tidak bodoh, jadi aku tidak akan membiarkan diriku terjebak dalam lingkaran perasaan konyol itu”

“Cinta itu tidak konyol—semua pria juga tidak sama. Anggap saja kali ini nasibku sial” Mina tidak menyerah. Ia tetap bersikeras pada pendapatnya tentang ‘perasaan konyol’ yang selalu Chaelli anggap begitu—dan itu artinya perdebatan mereka saat ini sama sekali belum berakhir.

“Tetap saja, aku bertekad untuk tidak pernah jatuh cinta pada siapapun”

“Bahkan pada penari itu?” Mina tersenyum simpul. Ia mengamati wajah Chaelli yang berubah kaget.

“Penari?”

“Ya, penari! Seseorang yang bergabung bersama kita saat makan siang dan bertanya tentang namamu” Chaelli tersentak seketika itu. Jongin? Dia seorang penari? Oh, benar .. Ia dengar pria itu mengambil kelas tari tahun ini.

“Kim Jong itu maksudmu?”

“Hei, jangan begitu. Dia lumayan juga menurutku” Sahut Mina riang sambil memainkan rambutnya. “Dia mengambil kelas tari semester ini. Kau tahu, dia cukup terkenal” Chaelli mundur perlahan sebelum ia mengambil nafasnya. Perlahan-lahan hingga ia cukup kuat untuk berpikir.

“Bukannya kau bilang jika kau tidak mengenalnya?” tanya Chaelli mendesak. Oh, bagus sekali Song Mina! Sebenarnya kau sedang berpihak pada sisi yang mana?

“Aku tidak tahu kenapa dia penasaran tentangmu. Tapi kurasa kalian pernah bertemu satu kali sebelumnya” Mina mengernyit. Chaelli tahu jika saat ini Mina sedang berusaha mengingat-ngingat beberapa hal yang masih berada di dalam otaknya. “Cafe Bobby Jo yang kau datangi semalam? ah, benar. Aku rasa dia bekerja paruh waktu disana”

“Cafe Bobby Jo..” Mina membuka matanya perlahan-lahan , lalu menutupnya lagi. Begitu seterusnya hingga ia menyadari sesuatu. “Oh tunggu, seingatku dia bukan bekerja sebagai pelayan atau barista di kafe itu ”

“Maksudmu?” Chaelli hampir tersentak. Entah sejak kapan suaranya berubah serak dan ia sulit menggerakkan lututnya sendiri.

“ Jongin bekerja sebagai penari kortemporer paruh waktu. Apa kau pernah melihatnya, Lee Chaelli?”

TBC

Ciye bang jong udah muncul di part ini //kekeke// tebar kiss ahh//

Disini si Jongin bakal dijadiin cowok bodoh yang konyol tapi tetap berkharisma ya! // jangan marah// Oke see you next chapter

Kalo ada waktu main-main ke wordpress saya ya! www.sunday14mondayblog.wordpress.com

Link Let Me: (Part 1Part 2  – Part 3Part 4Part 5Ongoing )

3 responses to “[Series] Let Me – Part 2

  1. Hwaaaa… Aku suka chaeli dan prinsip2nyaa eoon! Ak pnasaran gimana jongin bsa merubah chaelli.. Ditunggu next chapternyaa.. Tp chaellinya ttp keras ya eon.. Hehee..

  2. Part one lupa komen nih..
    komen dsni aja ya..

    Part one, bahasa ny msh messy.. ad bbrp kata yg g perlu dlm 1 kalimat, tp d part 2 ini oke kok🙂

    Cerita dr awal cukup menggelitik..
    jd baca ny smbil senyum2 hehehe
    semangat yaaa utk next2 chapter, smoga bs tuntas tas tas yaa ceritanya ^^

    Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s