[Series] Before The End – Chapter 9

BeforeTheEnd2

  • Chapter 9: The Hidden Bunker

Nama Author: Nissa A

Contact Author:

  • Twitter: @nissamarizky

Length: Chaptered

Main Casts:

  • Han Sanghyuk (VIXX)
  • Kim Seolhyun (AOA)

Other Casts:

  • Eric Nam, Head of The Seoul Institute.
  • Ryu Sera (ex 9MUSES), Tutor of The Seoul Institute and Eric’s wife.
  • Nam Jihyun (4MINUTE), Eric-SeRa’s daughter.
  • Lee Hyukjae (SJ)
  • Lee Taemin (SHINee), Hyukjae’s younger brother.
  • Yang Jiwon (Spica), Sanghyuk’s mother
  • Kim Dani (T-ara N4), Sanghyuk’s half-sister.
  • Kim Namjoo (A-pink), Sanghyuk’s classmate.
  • Kim Seokjin (BTS), Namjoo’s older brother.
  • Jung Jinyoung (B1A4), The Seoul Institute’s trusted warlock.
  • Park Hyungsik (ZE:A), Jinyoung’s foster brother and Jihyun’s boyfriend.
  • Shin Hyejeong (AOA)
  • Yoon Doojoon (BEAST), Head of The Busan Institute.
  • Heo Gayoon (4Minute), Doojoon’s wife.
  • Yoon Bomi (A-pink), Doojoon’s daughter.
  • Gong Chanshik (B1A4)
  • Cho Kyuhyun (SJ)

Genre: Fantasy, Romance, Mystery, Action, Family, AU.

Rating: PG-13

Notes Author: Adapted from The Shadowhunter’s Chronicle series by Cassandra Clare.

Link Before The End: ( Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8 Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 [END] — Released)

NO PLAGIARISM INTENDED.

Tteokpokki satu dan jajangmyeonnya dua porsi.”

Setelah memesan, Seol Hyun duduk di kursi konter food truck dengan posisi menghadap ke jalanan. Food truck yang menjual street food dan aneka mi ini terletak diatas trotoar yang menghadap ke sebuah taman, lokasinya tidak jauh dari Institut jadi Seol Hyun hanya perlu berjalan.

Sambil merapatkan mantelnya, Seol Hyun menatap keseberang jalan, dan mendapati seseorang yang familier baginya. Tapi, orang itu tidak menyadari keberadaannya.

Ada Hyung Sik diseberang. Dia sedang sibuk mengaduk isi tas ranselnya dan tak sengaja menjatuhkan sesuatu yang terlihat seperti kertas. Warlock itu buru-buru mengambilnya, dan menyimpannya kedalam saku celana. Dia menatap kekanan dan kekiri, mencari-cari apakah ada orang yang melihat gelagatnya, padahal kaum Fana disekitar tidak bisa melihat Hyung Sik. Setelah itu, Hyung Sik pergi.

Karena penasaran, Seol Hyun akhirnya membuntuti warlock itu setelah mengambil dan membayar makanannya. Hyung Sik masuk ke dalam gang yang sangat sepi. Pemuda itu ternyata sadar ada yang mengikutinya, tapi untung Seol Hyun langsung bersembunyi dibalik sebuah minibus yang terparkir disana.

Hyung Sik kemudian masuk ke jalan buntu yang terletak diantara dinding dua restoran cepat saji. Seol Hyun mengikutinya, dan jalan itu mengantarkannya pada sebuah pintu reyot dan jendela yang sudah sangat berdebu.

Seol Hyun menghapus sedikit debu di jendela tersebut, dan mengintip kedalam. Tempat ini kelihatan seperti gudang. Ada lampu remang-remang yang dibawahnya terdapat sebuah kursi. Di kursi itu, duduk Yong Jun Hyung. Taringnya muncul saat Hyung Sik memberinya benda yang tadi terjatuh itu. Lalu, dia tertawa kencang sampai Seol Hyun bisa mendengarnya dengan jelas.

Lalu, tiba-tiba saja, ada yang membekap mulut Seol Hyun dengan sebuah kain berbau alkohol. Seol Hyun mengap-mengap dan memberontak berkali-kali, tapi apa dayanya, pembekap mulutnya itu lebih kuat darinya. Plastik makanan untuknya dan Sang Hyuk terjatuh, dan dia tak sadarkan diri.

Jam dinding perpustakaan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sang Hyuk mendesah pelan, lalu mengembalikan buku yang tadi dibacanya pada salah satu rak. Seol Hyun belum pulang juga. Sang Hyuk sudah meneleponnya berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Mungkin sudah saatnya ia melapor pada Eric.

“Keluar beli makanan sendirian?” ulang Eric tak percaya saat Sang Hyuk menemuinya di kamarnya. “Sang Hyuk, bagaimana bisa kau biarkan itu terjadi?”

“Dia menyuruhku beristirahat, dan aku memang benar-benar capek. Jadi, aku tertidur di perpustakaan sampai jam sembilan, dan dia belum pulang juga sampai seka—”

Ponsel Sang Hyuk berbunyi. Dari Seol Hyun. Langsung saja Sang Hyuk mengangkatnya.

“Hei, kau dimana? Aku menunggumu daritadi! Perlukah aku jemput kau kesana?”

Hening.

“Seol Hyun! Jawab! Jangan bikin aku khawatir!”

Hening.

“Seol Hyun! Astaga—“

“Harrington Hallowgreen.”

Yang menjawab di seberang sana bukanlah Seol Hyun. Itu suara lelaki. Suara yang berat, mengintimidasi, dan menakutkan.

“Kau siapa?” tanya Sang Hyuk. “Kenapa ponsel Seol Hyun bisa ada di tanganmu?”

Dia tertawa licik, membuat tubuh Sang Hyuk tegang dari ujung kepala sampai kaki.

“Kau siapa?!” kini Sang Hyuk berteriak. “Apa yang kau lakukan pada Seol Hyun? Jangan sakiti dia atau kau akan berurusan denganku!”

Eric merebut ponselnya. “Tolong, sebutkan namamu. Apa yang kau inginkan? Akan kami berikan, asal jangan kau lukai gadis itu.”

“Aku tidak menjaminnya, Mr. Whitescar.” Kata pria itu, lalu tertawa lagi, dan sambungan terputus.

Eric menjauhkan ponsel dari telinganya, sementara Sang Hyuk berteriak frustasi dan meninju dinding di sampingnya keras-keras. Dipikirannya sekarang hanya ada Seol Hyun, dan bagaimana dia telah membiarkan Seol Hyun masuk kedalam bahaya, padahal selama ini dialah yang berjanji untuk selalu melindunginya.

Teriakan Sang Hyuk itu ternyata sangat keras sehingga membuat pintu-pintu kamar disekitar terbuka dan penghuninya keluar semua. Ji Hyun, Hyuk Jae, Tae Min, dan Se Ra yang daritadi tertidur di kamar Eric.

“Ada apa?” tanya Se Ra.

“Jun Hyung.” Ucap Eric. “Kedengarannya seperti Jun Hyung.”

“Jun Hyung?” ulang Se Ra bingung. “Ada apa dengan Jun Hyung?”

Eric menatap ponsel Sang Hyuk yang masih ada ditangannya, lalu berkata. “Jun Hyung telah menangkap Seol Hyun.”

Semua penghuni Institut langsung dikumpulkan di ruang makan begitu Eric membuat kesimpulan mengerikan tersebut.

“Kita harus bergerak cepat,” kata Eric. “Atau Seol Hyun akan habis di tangan Jun Hyung ataupun Chang Min.”

“Perlukah kita menghubungi Kunci?” tanya Tae Min.

“Tidak perlu. Aku sudah berjanji pada Kunci bahwa Seol Hyun ada dibawah lindungan Institut, jadi kitalah yang harus bertanggung jawab untuk mendapatkannya kembali.” Jawab Eric.

“Tapi, kita bahkan tidak tahu dimana sarang baru mereka.” Kata Ji Hyun.

Se Ra menambahkan. “Ya, mereka tidak mungkin masih ada di gereja tua itu.”

Eric menatap ponsel Sang Hyuk yang masih ada ditangannya karena Sang Hyuk tidak mau membuka mulut daritadi. “Kita bisa melacak nomor telepon Seol Hyun. Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya atau siapa yang bisa.”

“Aku tahu,” Kata Sang Hyuk tiba-tiba. “Berikan aku ponselnya.”

Eric mengoper ponsel itu pada Sang Hyuk. Jari Sang Hyuk menekan layar sentuh itu beberapa kali, lalu mendekatkannya ke telinga.

“Halo? Nam Joo?… Apa kau sibuk?… Bisa kita bertemu?… Ini penting sekali… Oke, bagus, aku akan segera kesana.”

Malam itu juga, Sang Hyuk keluar Institut untuk pergi ke apartemen Nam Joo, teman sekelasnya yang merupakan anak dari salah satu anggota kepolisian Korea Selatan. Pastilah Ayahnya tahu cara melacak nomor telepon. Sang Hyuk tahu caranya ini terlalu berisiko karena melibatkan seorang Fana. Penghuni Institut bahkan sempat menolak mentah-mentah. Tapi, setelah Sang Hyuk bilang mereka tidak punya waktu banyak untuk berpikir, mereka pun setuju.

Nam Joo sudah menunggu Sang Hyuk di lobi gedung apartemennya. Apartemen gadis itu berada di lantai dua belas, sama seperti apartemen Jin Young dan Hyung Sik.

“Apa yang membawamu kesini, Sang Hyuk-a? Sepertinya penting sekali.” tanya Nam Joo saat mereka berada didalam lift.

“Seol Hyun menghilang,” Jawab Sang Hyuk, membuat Nam Joo membelalak. “Dan aku perlu bantuan Ayahmu untuk melacak nomor teleponnya.”

“Astaga, bagaimana bisa?” kata Nam Joo. “Sayang sekali Ayahku sedang lembur di kantornya. Tapi, tenang saja, ada kakakku yang masih terjaga. Dia sudah dibekali hal-hal seperti melacak oleh Ayahku, jadi dia pasti bisa membantu.”

Lift berdenting dan pintunya terbuka. Mereka berdua keluar dan mendatangi salah satu pintu apartemen. Nam Joo mengisi kata kuncinya, dan mereka masuk. Sang Hyuk langsung mendengar suara-suara ribut dari dalam salah satu kamar yang pintunya terbuka lebar.

“Jin oppa!” seru Nam Joo sambil mendatangi kamar itu, diikuti Sang Hyuk.

Didalam kamar, ada seorang pria duduk di lantai berkarpet membelakangi mereka. Tangannya memegang controller Xbox 360 dan matanya terfokus ke layar televisi, menggiring bola di game Pro Evolution Soccer. Dia baru tersadar saat Nam Joo muncul didepannya, menghalangi pandangannya. Jin kaget dan bola direbut lawan.

“Apa-apaan—Hei, aku hampir mencetak gol, tahu!” Jin berseru kesal.

“Kau sudah bermain seharian dan ini sudah hampir tengah malam!” balas Nam Joo. “Dan temanku datang untuk minta bantuan.”

Jin menoleh, menatap Sang Hyuk sesaat, lalu berbalik menghadap TV.

“Memangnya dia perlu apa?” tanya Jin sambil mengutak-atik controller, hendak memulai permainan baru.

Nam Joo mematikan Xbox, mengundang tatapan marah Jin. “Salah satu teman kami menghilang dan Sang Hyuk memerlukan bantuanmu untuk melacak nomor teleponnya.”

Jin pun menaruh controller di lantai, dan berbalik untuk menghadap Sang Hyuk. “Kenapa tidak lapor polisi?”

“Susah untuk dijelaskan. Melapor polisi tidak akan membantu, malah akan tambah rumit.” Jawab Sang Hyuk. “Tolonglah, kau hanya perlu melacak nomor telepon. Pastinya tidak susah kan untuk anak dari orang kepolisian sepertimu?”

“Untuk informasi, dilatih menjadi polisi bukanlah minatku, melainkan adalah kemauan kedua orang tuaku. Aku lebih suka menjadi polisi di video game. Tapi, karena ada orang yang datang tengah malam seperti ini ke apartemen kami, aku akan melakukannya.” Jin bangkit dan melangkah menuju sisi lain kamarnya, tempat sebuah meja dengan MacBook Pro diatasnya.

Jin membuka layar MacBook dan menyalakannya. Dia kemudian mengambil selembar kertas dan pulpen dari laci meja. “Tuliskan nomor teleponnya, dan boleh kupinjam ponselmu?”

“Oke. Nam Joo, bagaimana jika kau ajak temanmu ini untuk menunggu di ruang tamu sementara aku melacak?” pinta Jin setelah Sang Hyuk mengembalikan kertas dan pulpen itu dan memberikan ponselnya. Nam Joo mengangguk.

Di ruang tamu, Sang Hyuk disuguhi teh hangat oleh Nam Joo sementara mereka duduk bersebelahan di sofa sambil menatap citylight kota Seoul dari jendela yang tirainya terbuka.

“Kau tetap tidak akan menceritakan bagaimana Seol Hyun menghilang?” tanya Nam Joo tiba-tiba.

Sang Hyuk menghela nafas. “Dia keluar untuk beli makanan dan tidak kembali sampai jam sepuluh malam. Lalu, ada yang meneleponku menggunakan ponsel Seol Hyun. Itu suara laki-laki. Saat aku bertanya dia siapa, dia hanya tertawa licik. Dan saat itulah aku langsung tahu Seol Hyun dalam bahaya.”

“Kalian sekarang tinggal bersama?”

“Ng—ini rumit. Bisakah kau tidak bertanya soal itu?”

“Oh, ya sudah, tidak apa-apa. Aku tidak akan curiga. Bukan urusanku juga.” Kata Nam Joo. “Tapi, bagaimana mungkin orang itu hanya tertawa? Biasanya, para penculik langsung jawab dan meminta uang tebusan jika kau tidak ingin orang yang diculik terluka.”

“Entahlah.” Sang Hyuk berbohong.

Jin keluar dari kamarnya saat teh Sang Hyuk sudah habis. Dia bergabung bersama mereka dengan duduk di lantai depan sofa, MacBook di pangkuannya.

“Menurut software yang kupakai, posisi ponsel ini berada di Busan.” Kata Jin.

“Busan?” ulang Sang Hyuk tak percaya. Bagaimana caranya Jun Hyung membawa Seol Hyun ke Busan?

“Busan itu besar, oppa. Lebih tepatnya dimana?” tanya Nam Joo.

Well, posisinya tidak mempunyai nama. Tapi, kelihatannya seperti sebuah lapangan kosong didekat pantai Haeundae.”

Lapangan kosong. Apa Jun Hyung atau Chang Min terlalu bodoh? Walaupun Fana tidak bisa melihat mereka, pastilah ada penghuni dunia Bayangan disekitar sana yang bisa curiga. Mana mungkin mereka tidak curiga melihat Anak-Anak Malam menawan satu Anak Nephilim disebuah lapangan kosong.

Tapi, pikiran Sang Hyuk tidak sampai disana saja. Dia mengingat percakapan penghuni Institut di ruang makan saat mereka membicarakan siapa yang mungkin membantu klan vampir tersebut. Tae Min menebak seorang warlock. Mungkin tebakannya benar. Warlocklah yang membantu Jun Hyung membawa Seol Hyun ke Busan, dan warlock itu pasti memberi sihir yang kuat di lapangan kosong tersebut agar tidak ada yang curiga.

Tapi, matahari akan terbit dalam beberapa jam kedepan. Mereka harus segera berpindah tempat atau kulit mereka akan terbakar terkena sinar matahari. Artinya, Sang Hyuk harus cepat-cepat kesana, sebelum dia kehilangan jejak mereka lagi.

“Bagaimana caranya aku bisa sampai ke lapangan itu?” tanya Sang Hyuk kemudian.

“Oh, aku tidak tahu. Aku sendiri belum pernah kesana.” Jawab Jin. “Tapi, aku sudah memasang GPS di ponselmu agar kau bisa kesana dengan mudah. Nih.”

Jin mengembalikan ponsel Sang Hyuk yang tadi dipinjamnya. Sang Hyuk mengambil dan segera mengantonginya, lalu berdiri.

“Terima kasih banyak. Kalian berdua baik sekali mau membantuku tengah malam seperti ini.” Kata Sang Hyuk.

Jin tertawa. “Aku bahkan tidak berencana untuk tidur.”

“Kalau bukan karena Seol Hyun pun, aku tetap akan bersedia membantumu, kok.” Tambah Nam Joo dengan senyumnya. “Sekarang kau pergilah, kejar dia. Kaulah orang yang paling tepat untuknya.”

Sang Hyuk mengulum senyum dan pergi setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi dan berpesan pada mereka agar mereka tidak memberitahu orang lain, dan mereka mengiyakan.

Dan dia bertemu Jung Jin Young sedang merokok didepan lift.

Jin Young berkata sebelum mengisap batang rokoknya. “Aku tidak pernah tahu kau bergaul dengan keluarga Kim yang kaya itu.”

Padahal dia sendiri kaya.

“Aku hanya mengenal Nam Joo, aku baru bertemu kakaknya hari ini.” Jawab Sang Hyuk sambil menatap jijik batang yang dihisap Jin Young.

“Padahal,” Jin Young memainkan batang rokok dengan jemari. “Kau tidak perlu minta bantuan mereka. Aku bisa melacak keberadaan Seol Hyun dengan kemampuanku. Kebetulan jepit rambut Seol Hyun tertinggal di apartemen dan kulacak menggunakan itu.”

Sang Hyuk menyerngit. “Darimana kau tahu Seol Hyun diculik?”

“Suami-istri Whitescar menghubungiku tepat setelah kau pergi.” Jawab Jin Young, menghisap lintingan putih itu lagi dan mengembuskan asap keluar dari mulut dan hidung. “Sepertinya mereka juga baru sadar aku bisa dimintai bantuan juga.”

“Kau sudah melakukan sihir itu?”

“Tentu saja. Busan, kan?”

Sang Hyuk mengangguk.

“Aku tahu tempat apa itu sebenarnya.” Dia akhirnya melemparkan batang rokok itu ke dalam kotak sampah terdekat. “Dibawah lapangan itu, sebenarnya terdapat sebuah bungker rahasia tempat tentara perang Korea bersembunyi. Aku dan saudaraku sudah hidup ratusan tahun, bosan dan ingin mencari pengalaman baru, jadi aku dan Hyung Sik memilih ikut bertempur di perang itu dan kami sempat bersembunyi di bungker tersebut. Mungkin bungker itu sekarang sudah dimodifikasi, tapi aku masih ingat sedikit bentuknya.”

Sesaat Sang Hyuk merinding membayangkan rambut merah Jin Young tercukur tipis dan tanduk Hyung Sik masih ada diatas kepala botaknya saat mereka menjadi tentara.

“Dimana Hyung Sik sekarang?” tanya Sang Hyuk.

“Dia keluar untuk minum-minum di bar dekat sini. Kurasa dia tidak perlu dilibatkan.” Jawab Jin Young. “Lebih baik kita cepat ke Institut untuk memberitahu ini semua pada Eric. Kita bisa gunakan Portal di apartemenku.”

“Baiklah.”

Mereka berportal langsung ke ruang makan dimana seluruh penghuni Institut masih duduk disana, ditambah lima orang lain, membuat meja makan penuh. Semuanya berpakaian tempur.

Ada seorang pria yang sedang bicara dengan Eric, tangannya menggenggam tangan seorang wanita yang berada di sampingnya. Lalu, ada seorang gadis berambut ombre cokelat-pirang sedang menopang dagu diatas meja, terlihat bosan. Ada juga dua pria, satu berambut hitam sedang memainkan pisau di udara dengan tangannya, satu lagi malah sibuk dengan Starcraft.

“Ada apa?” tanya Sang Hyuk.

Semua orang menoleh ke sumber suara, dan terkaget melihat Sang Hyuk dan Jin Young yang tiba-tiba ada disana.

“Oh, kau sudah kembali. Bagaimana hasilnya?” tanya Eric.

“Busan.” Sang Hyuk menyuruh Dani bergeser agar mereka bisa berbagi kursi, sementara Jin Young memilih berdiri saja. “Seol Hyun ada di Busan.”

Gadis berambut ombre tadi mendesis. “Kalau begitu, kita tidak perlu dibangunkan jam segini untuk berportal ke Seoul. Melelahkan.”

“Summer,” tegur wanita yang satu lagi.

Pria yang tadi berbicara dengan Eric tersenyum. “Maafkan anakku. Suasana hatinya memang sedang tidak baik.”

“Tenang saja, Jared.” Kata Eric. “Sang Hyuk, Jin Young, perkenalkan, mereka dari Institut Busan. Ini keluarga Featherstone; Jared, Emily, dan Summer. Kalau lidahmu tidak biasa mengatakannya, panggil saja mereka Doo Joon, Ga Yoon, dan Bo Mi.”

“Senang bertemu.” Kata Sang Hyuk dan Jin Young bersamaan.

Eric melanjutkan. “Dan yang daritadi memainkan pisau ini bernama Ezra Midwinter atau Chan Shik, yang pencinta Starcraft bernama Marcus Nightshade atau Kyu Hyun.”

“Kenapa kau memanggil mereka semua kesini?” tanya Jin Young.

“Kita tidak bisa menjalankan misi penyelamatan ini sendirian. Kita juga harus siap melawan vampir, seperti insiden di gereja itu dimana kita dibantu manusia serigala. Tapi, mengingat disini sudah ada dua manusia serigala, dan kawanan manusia serigala Seoul punya masalah dengan Lucia, jadi Eric memanggil mereka.” Jawab Se Ra.

“Lucia?” tanya Sang Hyuk.

“Nama Pemburu Bayanganku.” Jawab Ji Won. “Tapi, karena aku sudah menjadi manusia serigala, nama itu sudah jarang dipakai.”

Sang Hyuk manggut-manggut.

“Jadi, bagaimana?” tanya Hyuk Jae. “Kita berangkat sekarang?”

“Lebih cepat lebih baik.” Kata Ji Hyun. “Aku akan menjemput vampir berambut oranye itu di Suaka.”

“Vampir berambut oranye? Hye Jeong? Ngapain dia disini?” Sang Hyuk bingung.

Se Ra menjawab. “Hye Jeong sudah terlalu lama tidak bernaung di sebuah klan. Aku dan Eric merasa, mungkin sebaiknya kita mengajaknya juga dalam misi ini. Karena, jika Chang Min berhasil kita habisi, mungkin Hye Jeong bisa berubah pikiran.”

“Oke, Ji Hyun, jemput dia. Sisanya, kita akan ke ruang senjata.” Kata Eric sambil bangkit.

“Bagaimana dengan senjataku?” tanya Ji Hyun.

“Akan kuambilkan.” Kata Jin Young yang tidak memerlukan senjata karena dia bisa menggunakan sihir.

“Oke, busur dan anak panah digantung di pojok kanan atas, ada ukiran namaku—Jillian Whitescar—di busurnya.” Kata Ji Hyun, dan setelah itu dia melesat pergi.

Ruang senjata berada didalam ruang latihan, berseberangan dengan pintu ruang ganti pakaian. Ratusan senjata digantung di dinding, ada juga berbagai alat-alat pelindung. Ruangan itu penuh sesak dengan semua orang yang berebutan untuk mengambil senjata.

Saat Sang Hyuk dan Dani hendak masuk kedalam, Eric malah menahan mereka di pintu.

“Kalian berdua sebenarnya tidak perlu ikut. Misi ini terlalu berbahaya untuk anak dibawah umur seperti kalian.” Kata Eric.

“Aku mau ikut dan aku harus ikut.” Kata Sang Hyuk tegas.

“Sebenarnya, aku tidak ada niatan untuk melarang. Aku hanya khawatir dengan keselamatan kalian. Kunci bisa saja memberiku hukuman jika ada apa-apa pada anak dibawah umur seperti kalian nanti.” Lanjutnya cemas.

Hyung, kau tidak ingat berapa vampir yang kuhabiskan beberapa bulan yang lalu?”

“Ya sudah, kau ikut.” Kata Eric, lalu dia menatap Dani.

“Aku memang belum pernah benar-benar bertempur sebelumnya, tapi aku tidak bisa tinggal diam pada vampir-vampir yang membunuh Ayahku.” Kata Dani. Eric pun mengangguk dan menyuruh Dani masuk untuk mengambil senjata, sementara Sang Hyuk ke ruang ganti sebentar untuk berganti pakaian tempur.

Masih ada Kyu Hyun, berdiri didepan pintu ruangan. Dia masih memainkan Starcraft di ponselnya, tampak tak ada niatan untuk bergabung dengan yang lain.

“Mr. Nightshade?”

“Aku tinggal disini saja.” Jawab Kyu Hyun tanpa mengalihkan pandangan. “Setidaknya, harus ada satu Pemburu Bayangan cukup umur yang menjaga Institut ini selama penghuninya pergi.”

Eric tersenyum berterima kasih. “Tapi, kau harus benar-benar menjaga Institut, bukan sibuk bermain Starcraft.”

Kyu Hyun mengangkat kepala. “Tenang saja, aku akan memegang ponsel di tangan kiri, dan pedang di tangan kanan.”

Pintu Portal sudah siap. Kini, satu persatu Nephilim bergantian untuk masuk kedalam Portal, setelah Jin Young menginstruksikan untuk bertemu di pantai Haeundae.

Sang Hyuk sedang menunggu giliran sambil merapikan pakaian tempurnya. Dia sudah menggunakan finger tab untuk melindungi jarinya saat memanah dan berbagai macam alat pelindung lain. Seperti biasa, dia mengikatkan sarung pedang seraph di pinggangnya dan menderetkan berbagai pisau dan belati didalam jaketnya. Dia juga memanggul kantung anak panah beserta busur.

Setelah Chan Shik menghilang dari pandangan, Sang Hyuk maju satu langkah kedepan Portal, mengamati pintu lima dimensi itu. Walaupun sudah beberapa kali menggunakannya, dia tetap tidak bisa mengalihkan pandangan dari pintu yang terlihat indah itu. Sama seperti saat dia menatap Seol Hyun. Gadis itu terlalu indah untuk dilihat sehingga Sang Hyuk tidak pernah bosan menatapnya.

Dan sekarang, Seol Hyun sudah menjadi tawanan Chang Min dan Jun Hyung. Sang Hyuk tidak bisa berjanji-janji lagi untuk mendapatkan gadis itu kembali, walaupun itu keinginan terbesarnya. Tidak ada gunanya jika dia belum tentu bisa memenuhinya.

Ada sebuah tangan yang mendarat di pundaknya dan meremasnya. Itu Hye Jeong. Gadis itu tersenyum. “Semuanya belum terlambat.” Katanya. “Lakukanlah semuanya dengan baik. Hiduplah seakan-akan tidak ada hari esok. Hiduplah seakan-akan hari ini adalah hari terakhirmu, untuk Seol Hyun.”

Sang Hyuk mengangguk mantap. “Aku akan bertempur untuknya.”

Dia tidak berjanji, tapi dia akan berusaha melakukan yang terbaik.

Tercium wangi laut yang menyegarkan saat sepatu bot Sang Hyuk menjejak pasir. Tapi, dia tidak punya waktu untuk menikmati aroma laut. Ada misi penyelamatan yang harus segera diselesaikan.

Bo Mi dan Chan Shik tampak sedang latihan berkelahi dengan pedang seraph di pantai. Doo Joon, Ga Yoon, Se Ra, dan Eric berdiri berjejer di bibir laut. Lalu, ada Ji Hyun dan kakak-beradik Kim yang berdiri bersama dalam diam. Beberapa waktu kemudian, Hye Jeong dan Jin Young datang dan mereka segera bergerak ke lokasi dengan arahan Jin Young.

Lapangan itu memang benar-benar kosong. Jin Young melangkah ke tengah-tengah lapangan dan berlutut disana, lalu dia mulai menggali dengan tangan kosong. Galian itu tidak terlalu dalam dan segera memperlihatkan sebuah trap door. Jin Young mencoba membukanya.

“Terkunci.” Kata Jin Young. “Ada yang bawa stela?”

“Aku bawa.” Chan Shik mengeluarkan stela dari saku jaketnya dan ikut berlutut disamping Jin Young, menggambarkan rune pembuka kunci di trap door itu. Setelah itu, dia membukanya, memperlihatkan sebuah tangga.

Mereka turun bergantian. Tidak ada apa-apa lagi dibawah selain empat buah lorong gelap.

“Dulu tidak seperti ini.” Jin Young kaget.

“Kita berpencar saja.” Usul Hye Jeong. “Kita bagi jadi empat tim. Dua tim berisi empat orang, dua tim berisi tiga orang.”

Semuanya setuju. Penghuni Institut Busan mengambil lorong kiri; Eric, Se Ra, Ji Hyun, dan Hyuk Jae mengambil lorong tengah; Ji Won, Dani, dan Hye Jeong mengambil lorong selanjutnya; Sang Hyuk, Tae Min, dan Jin Young mengambil lorong kanan. Setiap tim menggunakan witchlight sebagai penerangan.

Lorong paling kanan yang Sang Hyuk bersama rekannya lewati berisi pintu-pintu kamar yang berjejer. Mereka sudah mengecek satu persatu pintu dan tidak menemukan apa-apa. Semuanya kosong.

Lorong berhenti pada dua buah tangga. Satu mengarah keatas dan satu lagi mengarah kebawah.

Jin Young menghela nafas. “Aku keatas. Kalian cek dibawah.” Ucapnya lalu segera naik.

Sang Hyuk dan Tae Min juga segera menuruni tangga batu yang licin itu. Tangga tersebut sangat panjang sampai mereka merasa sudah didalam bagian terdalam bumi. Mereka berdua bahkan sempat berhenti dulu karena kaki mulai terasa pegal.

Sampai di anak tangga terakhir, Sang Hyuk mengarahkan witchlightnya ke segala arah. Terlihat puluhan sel didepannya dan Sang Hyuk langsung semangat. Seol Hyun pasti ada didalam salah satu sel ini. Dia mulai melangkah cepat sambil terus mengarahkan batu itu ke seluruh sel, mencari keberadaan Seol Hyun, diikuti Tae Min dibelakangnya. Tapi, seluruh sel itu kosong tanpa penghuni.

Barulah saat mereka sampai ditengah tempat, terdengar besi yang digoyangkan dari arah kiri. Sang Hyuk refleks berbalik dan mengarahkan witchlightnya pada sel itu. Cahaya itu menyorotkan wajah seseorang yang sedang memegang besi sel dengan dua tangan, menatap Sang Hyuk dengan senang, sementara Sang Hyuk sendiri tidak bisa menahan rasa kagetnya.

Orang itu seharusnya sudah mati akibat lemparan pisau lipat Sang Hyuk beberapa bulan yang lalu. Orang itu seharusnya sudah tidak ada lagi di bumi. Orang itu seharusnya sudah ada di neraka.

Ada Yook Sung Jae dibalik jeruji sel tersebut.

TBC

Link Before The End: ( Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8 Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 [END] — Released)

3 responses to “[Series] Before The End – Chapter 9

  1. Wahhhh…
    bener bener dehhh ini makin seru aja thor….
    aishhh, junhyung kenapa jahat sih?
    ayooo thor next chapter penasaran nihhh

  2. Wow penuh kejutan!! Jadi hyuljae belum mati? Jin Young, Hyung Sik mencurigakan sekaligus membingungkan apa dia jahat? Bukankah penjahat akan lebih aman apabila ada didalam lingkaran musuhnya? Serius ini sangat keren dan tidak bisa ditebak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s