[Chapter 3+4] “Fleas Love”

(NEW) Fleas Love

Cast utama: Kim Jong In (EXO), Na Ru Mi (Ori Chara)

Genre : School life, romance, friendship, family

Rate : PG-14

 Chapter 1| 2| 3

Chapter 3

Na Ru Mi POV

Matahari pagi ini tampak sangat menyeramkan begitu wajah bercahayanya muncul diatas awan lalu menyorotkan pesona kekuningannya melewati jendela rumah. Tapi tidak terjadi pada jendela kamarku. Sinar kekuningan itu terperangkap dibalik gordain kamar yang masih tertutup rapat.

Akan kuceritakan. Aku tidak bisa tidur kemarin. =o=

Wajah Jongin selalu muncul dan menggodaku setiap kali menutup mata. Kenapa dia sangat mengesalkan? Aku sudah meminum tiga butir obat tidur dan berharap bayang-bayangnya hilang dan mengizinkanku untuk tidur nyenyak.

Dan,

Usai rasa kantukku datang dan aku tertidur pulas, beginilah jadinya. Oversleep.Aku terus tertidur dan terbangun sesaat hanya untuk membanting jam weker yang selalu berdering pada pukul lima. Tiga butir obat tidur dengan dosis tinggi itu membuatku bagaikan tidur selamanya dan hanya bisa dibangunkan oleh sebuah ciuman basah –dan aku sangat berharap seseorang yang memberikan ciuman itu adalah seorang pangeran bermuka hitam =o=

Kurasakan kulit kepalaku gatal. Kubuka selimut yang menelungkup seolah menimbunku agar terus tenggelam dalam dunia mimpi. Aku menggaruk kepala dengan jemariku dan perlahan membuka mata. Lalu membuka mulut selebar lobang sumur untuk menguap. Aku berkedip berkali-kali.

TUING!!!

Jam berapa ini?

Aku segera bangkit dan celilingan kesana kemari. Kudapati kondisi kamarku yang mengenaskan seperti pasar ayam yang baru saja diterjang tornado. Jam weker warna merah muda milikku terbaring dan termutilasi menjadi beberaa bagian yang kecil-kecil. Dan pada saat itu aku sadar jamku telah tewas akibat kubanting beberapa saat lalu. Kuremat helaian rambut kusutku sambil mencari-cari ponsel. ‘Tidak! Hampir pukul tujuh.’ Dengan segala kesadaran yang sudah terkumpul aku merangkak cepat turun dari ranjang dan meloncat indah kedalam kamar mandi. Aku tidak mandi. Hanya menggosok gigi dan mencuci muka. =o= Kuharap wajah jelekku yang mirip kertas koran ini masih layak dipandang.

O – O – O – O – O

Aku berlari tergesa-gesa ke sekolah sambil sekali-kali melirik jam tangan warna putih yang melingkar manis di tangan kiriku. Ini sudah pukul tujuh lebih lima menit. Aku sudah terlambat!

Sekarang aku berada didepan gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat. Semangatku luntur seketika diikuti dada yang naik turun akibat menghirup udara terlalu rakus. Kurasa aku harus kembali agar tidak mendapatkan hukuman. Membolos lebih baik daripada dihukum.

Aku siap berbalik dan kembali ke kontrakan. Namun seseorang memanggil. Aku kenal warna suara itu. Itu… itu… Aku berbalik dan menunjukkan cengiran. Lelaki dengan tubuh dempal disertai perut yang lebih mirip semangka raksasa tersebut melotot tajam kearahku. Dialah satpam yang sehari-hari kusapa setiap melintasi gerbang. “Kembali! Kau terlambat tujuh menit!” celetuknya degan suara besar yang hampir terdengar sama dengan klakson bus malam. Aku tidak mampu menjawab dan berjalan kearahnya. Inilah takdirku! Dua kali!! Dua kali aku harus berurusan dengan ‘hukum sekolah’ hanya karena Jongin. Secara tidak langsung tepatnya. Karena bayangan Jongin terus bergentayangan dalam kepalaku. “Maaf, maaf Pak.” suaraku bergetar. Lelaki dengan kumis tebal yang menusuk-nusuk bibir atasnya tersebut membukakan pintu dan menarikku masuk. Dia menggiringku memasuki aula yang mungkin bisa disebut ‘Kamar Sandera’ untuk saat ini.

Kulihat disana berjajar beberapa siswa pemalas yang ternyata juga terlambat. Mereka sedang berhadapan dengan salah satu guru olahraga sekaligus guru kesiswaan yang bertugas untuk menghukum siswa-siswa pemalas yang melanggar aturan –ya termasuk diriku.

“Hei kamu yang baru datang! Cepat memasuki barisan!” teriak guru kesiswaan padaku. Jantungku memantul dan membuatku hampir tersentak mendengar suara pecahnya. Aku segera berlari menuju barisan paling belakang. Dan betapa kagetnya diriku ketika mendapati siapa lelaki tinggi yang berdiri tepat didepanku. Chanyeol. Dia juga terlambat. Sulit dipercaya!

“Baik, akan saya ulangi. Apakah kalian tahu bagaimana peraturan sekolah ini? Kalian tahu pukul berapa sekarang? Apakah sulit bagi seorang siswa untuk mematuhi peraturan agar datang sebelum pukul tujuh? Ingat! Bagaimana cara menjadi siswa disiplin! Disiplin tidak hanya dalam belajar dan menuntut ilmu atau disiplin dalam kerapian. Yang terpenting adalah disiplin waktu. Kalian harus bisa mengelola waktu kalian dengan baik…” Aku menguap sesaat.

“…Saya tidak terima alasan apapun. Dan hukuman kalian kali ini adalah, kalian harus mencabuti rumput yang ada ditaman belakang sekolahan! Tidak ada protes! Kalian mengerti?!”

“Ya!” =o=

“Jadi sekarang cepat! Go! Go! Go!” tepukan keras menggema hingga keseluruh inci aula.

Semuanya langsung berlari keluar aula dan menuju taman belakang. Kenapa mereka semua sangat bersemangat menjalankan hukuman ini? Aku mengikuti rombongan sambil membenarkan poni yang yang berantakan. “Hei kamu yang belakang sendiri!” Aku merasa terpanggil.

“Saya?”

“Sini kamu! Sini!”

Nyaliku menciut menjadi sebutir kerikil ketika berada didepan guru olahraga itu. Apa yang akan dia lakukan padaku? Kenapa hanya aku yang dipanggil?

“Kamu ini! Lihat kaos kaki yang kamu kenakan!”. Aku menunduk dan menatap kedua kaki kurusku. Hah? Aku langsung terbelalak kaget. Kenapa bisa salah satu kaos kaki yang kukenakan berwarna merah muda? Aduh, ini pasti karena tadi terlalu tergesa-gesa.

“Ah, maaf Pak… saya,”

“Lepas sepatu sekarang!”

Aku membungkuk dan melepaskannya. “Kaos kakimu juga!” tambahnya. Baiklah. Sempurna. Sekarang aku telanjang kaki. =o=

“Sekarang kamu bisa menyusul yang lain. Sana cepatlah!”

“B-baik Pak.” aku masih menunduk. Kemudian segera mengambil langkah secepat mungkin keluar dari Kamar Sandera ini.

O – O – O – O – O

Ternyata semua siswa sudah mulai mencabuti rumput. Kusebarkan pandanganku keseluruh taman belakang. Ternyata satu-satunya siswa yang kukenal hanya Chanyeol. Dengan ragu-ragu aku melangkah kesana dan mencari tempat disamping Chanyeol. Kurasa dia belum mengenalku. Mungkin dengan cara ini kami bisa berkenalan. Kugunakan kedua tanganku untuk menggenggam rumput-rumput basah yang sudah setinggi mata kaki tersebut. Telapak kakiku terasa dingin menyentuh rumput-rumput segar ini. Mungkin memang lebih baik jika aku lepas sepatu. Rumput-rumput ini bisa membasahi sepatu. Kulirik wajah putih Chanyeol dengan ekspresi datarnya. Ternyata lelaki itu terlihat lebih tampan jika dilihat dari jarak dekat.

“Um, halo.” panggilku lirih. Chanyeol menoleh dan menatapku heran dengan kedua bola mata cemerlangnya yang seolah menjawab panggilanku. Kedua bola matanya berbinar dan bening. Aku bahkan bisa melihat bayanganku sendiri disana. “Eh hai.” balasnya dengan senyuman manis disertai lesung pipi yang seolah menyihirku. ‘Tampan sekali.’

“Kau sudah kenal siapa aku?” tanyaku bingung. Bukankah tadi dia menjawab ‘hai’

“Kau yang duduk di bangku paling depan kan?” tanya Chanyeol memastikan.

“Ah ye, ternyata kau tahu siapa diriku.” aku tersipu sambil kembali mencabut rumput-rumput yang ada dihadapanku. “Tentu saja.” dia juga kembali mencabuti. “Um, kita belum berkenalan. Aku Chanyeol.” lelaki itu menyodorkan tangannya yang kotor dan sedikit basah oleh air yang bercampur tanah. Chanyeol melirik tangannya. “Ah, sebaiknya tidak bersalaman. Tanganku kotor.”

“Aku juga.” kali ini aku yang menyodorkan tangan kotorku. Kami sama-sama tertawa lalu saling menjabat tangan. “Panggil saja aku Rumi.”

“Senang bertemu denganmu Rumi.”

“Aku juga. Kau kelihatan sangat cerdas.” pujiku dan Chanyeol kembali tersenyum. “Tidak. Mungkin itu terlihat karena aku masih baru disini. Kurasa kita bisa saingan.” dia tertawa. “Aku bukan siswa pintar.” balasku cepat.

“Jinjja?”

“Ne.” =,,=

“Jadi, kita bisa belajar bersama.” ^-^

“Ide yang bagus Chanyeol.”

“Haha, aku harap begitu.”

Hukuman pagi ini tidak seburuk dari yang kubayangkan sebelumnya. Lelaki itu begitu ramah dan hanya dalam waktu sepuluh menit kami sudah bisa bersahabat.

O – O – O – O – O

“Hiyaa! Kenapa kau mencuri start?!” suara pecah So Eun membuat telingaku panas. Dia berteriak usai aku menutup pintu perpustakaan. Kami baru saja menyempatkan waktu ke perpustakaan untuk mencari permasalahan soal Fisika tentang momentum dan masa jenis yang kurang kami mengerti. Dan ketika acara belajar itulah aku menceritakan pengalaman pagi ini. Alhasil So Eun yang menaruh hati pada Chanyeol sejak awal langsung marah-marah. Tetapi aku tidak menceritakan masalah kemarin tentang Jongin dan pengakuan cinta yang memalukan itu. Itu akan lebih baik jika menjadi rahasia.

“Aku tidak bermaksud begitu. Itu semua terjadi tanpa sengaja. Sungguh.”

So Eun mengerucutkan bibirnya tampak seperti seorang anak sd yang merengek untuk dibelikan gulali. Kepang satu dibagian kanan kepalanya membuat gadis manis itu semakin mirip boneka kain yang digantung di pohon natal. Lucu sekali.

“Jadi kau juga menaruh hati pada Chanyeol?” tanyanya.

“Hei tidak!”

“Jujur saja, kau suka dia kan?!”

“So Eun, kau kenal siapa diriku kan? Kau juga tahu siapa lelaki yang selama ini kukejar-kejar. Tidak semudah itu berpindah ke lain hati.” jelasku singkat. Kurasa temanku ini mulai mengerti. Senyum manis So Eun tampak mengembang.

“Jadi begitu ya?” tanyanya lagi. “Tentu saja. Kau fikir berhenti menyukai Jongin akan semudah itu?”

So Eun meremat pundak kiriku. “Ayolah semangat! Kejar cintamu!” kali ini dia berteriak sehingga suara kecilnya memantul keseluruh penjuru lorong yang kosong. “Ehe…” aku menggaruk kepala. Kami berjalan berdua menuruni tangga sambil terus berbincang tentang ini itu. Dan untuk sekarang, kami mulai membicarakan sebuah topik yang sebelumnya belum pernah kami bahas se-detail ini. Kami jadi sering membicarakan masalah lelaki dan cinta. Yah, mungkin ini memang masanya.

“Mau ke kantin?” tanyaku lalu dibalas anggukan darinya. “Kurasa aku sedikit lapar. Mungkin sosis dan beberapa potong bibimbab.”

“Kedengarannya enak. Tapi, aku tidak lapar.” balasku sambil menyibakkan rambut. Oh iya, untung saja So Eun tidak mencium aroma-aroma tidak sedap dari diriku. Aku baru ingat kalau aku belum mandi. “Hm begitukah?” tanyanya lagi. “Aku akan menemanimu.”

Tidak lama kemudian kami sampai di kantin. So Eun memesan menu pilihannya. Aku hanya duduk menaruh dagu di meja sambil membaca One Piece tanpa mempedulikan So Eun yang makan dengan rakus dihadapanku. “Rumi-ssi.” panggil seseorang tiba-tiba. Aku merasa kenal suara itu dan menoleh. Seseorang dengan tubuh besar nan tegap tengah berdiri disampingku. Lelaki itu tersenyum manis. Senyumnya seolah menyihirku agar tetap menatap lesung pipi yang ada disana.

“Chanyeol.” balasku. “Um, semua tempat duduk penuh. Bisa kau geser sedikit? Bolehkan aku makan bersama kalian?” kali ini lelaki itu mengalihkan pandangan kepada So Eun –sukses membuat mulut penuh So Eun berhenti mengunyah. Dia terpukau pada Chanyeol. “Ne, boleh.” aku menggeser posisi duduk dan menata tumpukan komik untuk mendekat kearahku. Chanyeol menaruh sup yang dia bawa diatas meja. “Hm One Piece. Kau suka?” tanyanya. “N-ne…” balasku sedanya. “Ternyata kita sama-sama suka komik.” tambah Chanyeol seraya membuka plastik pembungkus sumpit. Lelaki itu tersenyum lagi. “Ah, benarkah?” pertanyaanku terjawab dengan anggukan kecil darinya.

“Chanyeol, ini temanku namanya So Eun. Dia juga ikut ekstra Bahasa Jepang, sama sepertimu.” aku dan Chanyeol memang sempat bercerita tentang Bahasa Jepang tadi ketika di taman belakang.

“Wah. Hai So Eun.” sapa Chanyeol. So Eun terpaku dengan kedua mata melotot kagum. Ahaha, pasti gadis itu sekarang sedang berdebaran.

“Eh… ha-halo…” ujar So Eun tidak begitu jelas. Mulutnya masih penuh dengan sosis. Mungkin akan lebih baik jika aku pergi dari sini dan memberi waktu kedua orang itu untuk saling mengenal. “Ehm, aku harus mencari tempat sepi dan membaca benda-benda bau ini.” aku menggenggam tumpukan komik dan menaruh mereka di pelukanku. “Eh, kau merasa terganggu denganku?” tanya Chanyeol.

“Ani! Aniyeo!” aku menggeleng cepat. Kemudian kulirik So Eun melalui sudut mataku. Ekspresinya memang tampak memohon padaku untuk angkat kaki dari kebersamaan mereka. Jadi dia juga berniat mengusirku begitu? =o=

“Aku… aku… hanya, oh ya. Aku juga harus mengembalikan salah satu komik ini pada teman. Mengobrolah dengan So Eun. Kalian bisa membagi ilmu. Dia itu pandai memainkan biola.” aku berbisik pada kalimat terakhir. So Eun tersipu. “Jadi, selamat tinggal!” aku berlari keluar dari area kantin. ‘Lihat saja So Eun. Kau harus mentraktirku es krim untuk ini.’

O – O – O – O – O

Kulalui lorong sebelah laboratorium sambil bersenandung. Bingung sekali harus kemana karena selama jam istirahat biasanya aku selalu bersama So Eun. Jadi kuputuskan untuk menyendiri di balkon lorong ini sambil membaca komik. Disini cukup sepi karena pernah ada isu tentang seorang siswa yang mati bunuh diri di sekitar sini. Tetapi aku sama sekali tidak percaya itu. Mungkin guru kesiswaan hanya menakut-nakuti anak-anak agar tidak sering kemari untuk berduaan.

Angin yang sejuk menerpa poniku sehingga berkibar dengan lembut.

“Aduh Jongin…” sebuah suara gadis terdengar. Ya? Apa aku salah dengar? Jangan-jangan itu memang hantu yang ada pada gosip? Tapi tunggu… aku tak yakin…

“Ah… Jongin…”

Apa katanya? Jongin? Perasaanku mulai tidak enak. Kucari-cari sumber suara itu. Dan pada akhirnya kutemukan sesuatu yang sangat tidak layak untuk kulihat. Disana,

Disamping ruang kebersihan dan sebuah bilik kecil toilet lama. Aku melihat itu. Dua orang yang sedang berciuman sambil bersandar di tembok. Aku mengenal lelaki itu. Aku kenal dia. Akhirnya aku melihat dengan mata kepala sendiri gosip-gosip tentang Jongin yang berciuman dengan beberapa gadis di sekolahan. Akhirnya aku melihat itu semua dengan kedua mataku sendiri. Dadaku semakin sesak bagai tidak ada ruang lagi di rongga dada tempat paru-paruku berkontraksi. Rusukku terasa hancur disertai retakan pada jantung akibat berkedut terlalu cepat. Dengan segera aku bersembunyi diantara pot bunga dan tempat sampah besar yang ada di lorong –sebelum kedua orang itu melihatku. Kugenggam komik-komik yang ada dipelukanku dengan gemetaran. Air mataku mengalir perlahan menyapu kulit pipi. Ini semua begitu pedih dirasakan. Melihat lelaki yang kau cintai berciuman dengan gadis lain.

Tak lama kemudian langkah sepatu terdengar mendekat. Aku semakin meringkuk menggenggam kedua kaki seraya menahan isakan. Jongin melintas dengan dasi dan jas sekolahnya yang berantakan. Lelaki itu melangkah cepat sambil mengusap sudut bibirnya. Seluruh tubuhku melemas. Kuharap nyawaku dicabut sekarang juga. Aku tidak tahan. Jauh dibelakangnya, seorang gadis dengan rambut kemerahan sedang berjalan sambil membenahi penampilannya yang demi apapun terlihat begitu kacau. Aku jadi curiga apa saja yang telah mereka lakukan. Yah, perempuan yang kelihatannya sudah kelas dua belas itu tampak senyum-senyum.

Mereka telah meninggalkanku sendirian disini. Aku yang masih menekuk lutut disamping tong sampah sambil memejamkan mata. Aku menangis disini. Wajahku memerah dalam waktu cepat. “Jongin…. Jongin…” panggilku lirih disela-sela tangis. Dan tidak ada satu orang pun yang tahu.

T

B

C

.

.

.

Masih mau lagi?

.

.

.

.

Beneran?

.

.

.

.

.

.

Scroll down terus coba

.

.

.

.

.

Selamat!

.

.

Harapanmu dikabulkan!

.

.

.

 

CHAPTER 4

Na Ru Mi POV

“Rumi! Rumi! Ah kau sudah sadar!” samar-samar kudengar sorakan lirih yang membuat seluruh isi kepalaku teraduk-aduk. Dengan segenap kekuatan yang bisa kukerahkan kubuka kedua kelopak mata yang terasa berat ini. Aku kenapa?

“Rumi!! Chanyeol, Rumi sudah sadar! Dia sudah sadar!” Kulihat wajah bening So Eun. Ternyata suara yang membangunkanku itu berasal dari dia. Disebelah perempuan itu berdiri seorang lelaki tinggi yang tidak asing lagi. Eh? Memangnya apa yang terjadi? Apa yang baru saja menimpa diriku?

Kutegakkan tulang belakangku yang terasa ingin patah, dibantu dengan kedua tangan. Aku celilingan melihat sekitar. Ini,… ini ruang UKS kan?

“Rumi! Kau tidak tahu kan seberapa cemasnya diriku?!” ujar So Eun. Kalimat itu semakin membuatku tidak mengerti. Apakah aku baru saja kecelakaan atau apa? Kenapa aku disini?

“So Eun… sebenarnya ada apa ini? Apa yang membuatku ada di sini?” tanyaku sambil memijat kening. So Eun dan Chanyeol berpandangan satu sama lain. Kerutan tampak dikedua kening mereka. Hei, ayolah ceritakan padaku! Aku sangat penasaran.

“Rumi, seperti apa bentuknya?” tanya So Eun lagi.

“Bentuk apa maksudmu?”

“Kau amnesia ya usai mengalami kejadian itu?”

“Hah?”

“Rumi, guru kesiswaan menemukanmu pingsan di lorong samping laboratorium. Aku sangat cemas. Kau pasti melihat hantu itu kan? Ceritakan pada kami sesungguhnya mengapa kau bisa datang ke tempat itu? Kau pasti sangat ketakutan.” jelas So Eun dengan ekspresi yang begitu mendramatisir. Kedua alisku menyatu.

Ah ya! Aku ingat! Aku ingat! =o=

Tiba-tiba serangan pusing kembali melandaku begitu aku ingat apa saja yang telah berlangsung disana. Yah, aku butuh kantung muntah sekarang. Jadi waktu itu aku pingsan? Dan mereka malah mengira bila aku melihat hantu? Aish, ini seperti lelucon.

“So Eun, sesungguhnya…” ucapku terpotong. Mungkin sebaiknya aku tidak menjelaskan yang sesungguhnya terjadi. Ini semua tidak baik untuk disebar-sebarkan.

“Um,… tidak jadi. Aku…aku, tidak sedang ingin membicarakan ini.” ucapku lirih sambil menahan pusing.

“Jadi benar kau melihat hantu itu. Ya Tuhan… ah ya, ini… ini minumlah.” gadis itu menyodorkan padaku segelas air hangat. Dengan segera kuhabiskan air yang ada disana.

“Sebaiknya kita biarkan Rumi disini dulu. Kelihatannya dia masih butuh istirahat.” kali ini Chanyeol membuka mulut sambil menatapku iba. Kening So Eun langsung mengerut lagi ketika dia menengok ke arloji yang dia kenakan. “Iya, jam pelajaran sejarah sudah dimulai sejak lima menit lalu.” ujarnya panik.

“Kau istirahat saja dulu disini, nanti aku akan meminjamkan catatan sejarah padamu.” tambah Chanyeol penuh perhatian. Aku segera menggeleng. Aku baik-baik saja. Aku hanya shock dan pingsan.

“Aku akan ikut kalian! Aku tidak boleh melewatkan jam sejarah. Aku sudah benar-benar sehat kok.” celetukku tiba-tiba. Kedua orang itu saling berpandangan lagi. “Rumi kau jangan bercanda. Trauma usai melihat hantu sungguhan itu bukan perkara ringan.” sela So Eun.

“Tidak,” aku bangkit dari ranjang dan memakai sepatu dengan kaos kaki –yang sebelahnya berwarna pink . “Aku sudah benar-benar sehat.” jelasku sekali lagi berusaha meyakinkan mereka.

Dan akhirnya kami bertiga berlari bersama menuju kelas. Ketika aku masuk ke dalam kelas semua mata siswa tertuju hanya padaku seorang. Mungkin berita bohong tentang aku yang sudah melihat hantu itu sudah tersebar kemana-mana. Bisa jadi seluruh sekolah sudah mendengarnya. Buktinya mereka semua terbungkam seketika usai aku duduk di bangku.

Ya… Mereka hanya tidak tahu apa yang sebenarnya kulihat. Yaitu sesuatu yang bahkan lebih menyeramkan daripada hantu atau monster. Sesuatu yang membuatku pingsan seketika.

O – O – O – O – O

Jam sekolah dihari ini terasa sangat lamban dan membosankan. Rasanya ingin menyiramkan satu tong air es yang penuh dengan garam kesekujur tubuhku. Apalagi pagi ini aku belum mandi. Huh, sungguh hari terkacau yang pernah kualami. Kurasa aku butuh dokter atau psikolog yang mungkin mampu mengatasi segala masalah yang terlalu kupikirkan sampai-sampai kepalaku ingin meledak. Um, mungkin bukan hanya dokter. Sebuah tongkat ajaib kurasa akan lebih baik. Benda sekecil itu mampu memberikan apa saja yang kuinginkan dalam sekedipan mata. Termasuk menghilangkan ingatanku tentang kejadian mengerikan tadi.

Jadi sekarang,

Aku sedang melangkah sambil menunduk menatap kedua kakiku yang terbalut sepatu dengan sepasang kaos kaki beda warna. Konyol sekali. Aku bahkan ingin menertawakan diriku sendiri. Aku melintasi tempat perkir sendirian. Kedatanganku langsung disapa dedaunan kecil dari pohon-pohon yang mengitari lapangan parkir. Kali ini kualihkan pandangan kedepan. Hanya ada jajaran sepeda, diikuti sepeda motor, lalu dibagian paling utara berbaris jajaran mobil-mobil mewah milik para guru dan siswa terpandang. Aku pernah bermimpi datang kesekolahan dengan mobil seperti itu, tapi… yah mungkin memang seperti inilah nasibku.

Kemudian,

Oh tidak! Jangan aku mohon! Jangan jadikan hari ini adalah hari yang ku-cap menjadi momen terburuk dalam sejarah hidupku. Disana dibagian motor-motor, beberapa lelaki yang kukenal betul siapa mereka sedang berkumpul entah sedang membicarakan apa.

Tahukah kalian siapa mereka? Mereka adalah lelaki-lelaki dari tim basket. Kuteguk ludahku dengan susah payah kemudian mulai meneruskan langkah dengan bimbang. Memang tidak ada kemungkinan mereka akan menggangguku atau bersorak ketika aku melintas. Mereka hanya akan melakukannya kepada perempuan-perempuan populer yang memiliki tubuh seksi dan berambut indah yang suka mereka warnai. Tidak, bukan itu. Aku bukannya terlalu besar kepala dan merasa cantik. =o=

Hanya saja

Itu disana,

Ada Jongin =o=

Ya Tuhan aku mohon, aku mohon. Berikan aku kekuatan untuk mengecil atau tembus pandang untuk kali ini saja. Aku hanya berharap Jongin tidak melihatku. Aku merasa sangat malu. Selain itu aku juga muak melihat muka hitamnya yang tertimbun dosa menjijikkan itu. Yang sangat nista dan menggelikan. Yang sangat kubenci. Yang sangat ingin kulempari dengan celana dalam atau sepatu atau juga pisau, mungkin. Tapi kenapa dia begitu tampan dengan segala keburukan itu? =o=!

Kutarik nafas sepanjang yang kumampu lalu kuhembuskan secara bertahap hingga paru-paruku menciut drastis. Ayolah Rumi. Aku berjalan kesana, semakin dekat, semakin dekat dengan mereka. Gelak tawa dan candaan khas anak laki-laki yang membuatku merinding sekaligus ngeri mulai terdengar memasuki telinga dengan sangat tidak menyenangkan. Betapa bodohnya diriku, mengapa aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik Jongin? Kenapa? =o=

Kulihat lelaki itu.

Yah, yah, yah,

Garis rahangnya yang tajam dan tampak begitu kokoh tersebut begitu menarik perhatian. Dan lihatlah rambutnya yang selalu berantakan tetapi tetap tampan dipandang. Juga bibir tebalnya yang begitu ganas yang kuyakin tidak hanya satu atau dua perempuan yang sudah merasakannya. Lalu, kedua bola mata Jongin yang pekat sehitam bijih kopi itu, tampak tajam dan menusuk siapapun yang dia pandang. Kenapa dia begitu indah? Aku terhanyut dalam segala fantasi menjijikkan dalam kepalaku. Lalu, sedetik kemudian. Kedua mata Jongin bergeser dan menemukanku. Tidak! Andwaeeee! Lelaki itu menatapku tajam dan begitu juga aku yang masih memandanginya. Aku tertangkap basah! Aku kepergok sedang melihatinya!

Lalu apa yang harus kulakukan sekarang. Seluruh persendianku kaku dan membesi sehingga sulit digerakkan. Kenapa tatapan matanya seolah menyihirku menjadi batu dalam hitungan detik? Aku tidak bisa lari. Jongin tampak mengucapkan sesuatu kepada salah satu temannya. Kemudian dia turun dari motor dan menuju kearahku. Dia kemari! Dia kemari! Aku meneruskan langkah dengan lebih cepat sambil menggumamkan doa-doa. Jangan sampai dia benar-benar mendekatiku. Langkah kaki Jongin mendekat lagi disertai aroma tubuhnya yang bercampur dengan parfum. Jujur aku sangat mencintai bau ini. Aku berharap bisa menghirupnya setiap waktu. =o=

“Berhenti.” ucapnya. Aku terkaget. Dia bicara padaku. “Aku bilang berhenti.”

Aku masih berjalan. Justru semakin cepat.

“Rumi.” panggilnya. Aku merinding, dan aku tidak tahu kenapa bisa begitu. Beberapa detik kemudian sebuah tangan yang besar dan hangat menggenggam lenganku sehingga langkahku terhenti. Jongin menarikku ke arahnya sampai-sampai aku nyaris menubruk dan jatuh di dadanya yang bidang. Demi apapun! Aku ingin meleleh sekarang juga! Jongin menatapku tajam hingga menusuk tepat ke relung hati. Ini adalah jarak paling minim yang pernah terjadi antara aku dengannya. Hanya satu kilan. Dan kalian tidak akan pernah menyangka bagaimana rasanya. Ketika seluruh pembuluh darahmu berhenti bekerja sedangkan jantung terus menerus memompa darah. Sangat panas. Aku merasa terbakar.

Sesaat kemudian ingatan tentang peristiwa tadi terbesit di kepala. Aku ingat itu. Aku ingat detik-detik yang telah tertangkap mata dan terekam memori otakku ketika dia sedang bercinta dengan perempuan kelas dua belas.

Sakit Jongin! Kau tidak akan pernah bisa membayangkan betapa perihnya berada di posisiku. Dan pada saat itu juga air mata membendung dipelupuk mata.

“Lepaskan aku.” kuberanikan diri untuk mengibaskan tanganku. Tapi, dia begitu kuat. “Sekarang kau berpura-pura tidak mengenalku hah?” tanyanya dengan nada rendah. “Lepaskan, Jongin.” ulangku. Namun kali ini dia menggenggam kedua lenganku dengan kedua tangannya yang besar. Aku menahan tangis yang mungkin bisa pecah kapan saja. Aku tidak mau menangis dihadapan lelaki sialan ini. Aku tidak sudi menampakkan air mataku padanya.

“Katakan. Kau sudah melihat itu semua kan?” tanya Jongin. Apa maksudnya? Apa itu? Hah, oh ya! Berita tentang diriku yang pingsan di lorong laboratorium itu sudah tersebar keseluruh penjuru sekolahan. Jadi, Jongin pasti sudah dengar dan tahu bila bukan itu yang sesungguhnya kualami.

Aku terdiam seketika. Aku mendadak bisu. “Kalau kau sampai memberi tahu apa yang sudah kau saksikan kepada orang lain. Kau tahu apa hukumannya dariku?” tanyanya lirih. “Ti-tidak…” aku menggeleng dengan kaku. “Kau mau bernasib sama seperti perempuan murahan tadi?” kulihat salah satu sudut bibir Jongin terangkat. Dadaku sesak seolah ada seekor ular raksasa yang melilitku. Dasar brengsek! Apakah dia tidak pernah puas akan perempuan?

“Jongin. Tidak. Lepaskan diriku!” untuk kali ini aku bisa lolos darinya. “Rumi!” seseorang dari belakang memanggilku. Aku berbalik dan ternyata itu Chanyeol.

.

.

.

 

Author’s POV

Lambaian tangan Chanyeol terhenti begitu indera penglihatannya menangkap seseorang yang sedang berdiri didepan Rumi. Ekspresi Chanyeol down seketika. Begitu juga Jongin yang menyadari siapa pemilik suara yang tadi memanggil Rumi. Jongin tidak menyangka Chanyeol dekat dengan Rumi. Tanpa basa-basi lagi Rumi berlari mendekat ke Chanyeol sambil mencuri pandang ke Jongin. Untuk sekarang Chanyeol seperti malaikat penyelamatnya dari Jongin. Kalau saja Chanyeol tidak datang, mungkin dia akan terus menjadi bulan-bulanan Jongin.

“Chanyeol.” panggil Rumi. Suara gadis itu langsung memutus kontak mata antara Chanyeol dengan Jongin. “Kita jadi pulang bersama?” tanya Rumi. “Ah ye, ayo…”. Dan kedua orang itu melangkah berdua meninggalakan gerbang sekolah yang penuh dengan anak-anak lain.

Sedangkan Jongin,

Dia masih menatap kepergian Chanyeol dan Rumi sambil mengepalkan tangan-tangan kuatnya.

TBC

.

.

.

Beneran!

TBC!

.

.

.

Hayooo… gimanaaaa readerssss… lap dulu ilernya… :v sakit ya liat gebetan mesra-mesraan sama kakak kelas! 😀 Rumi yang malang! /elus Jongin/ eh salah ding… maksudnya elus Ruminya 😀

Ini aku kasih teaser chap depan :

“Kenapa harus Chanyeol? Mataku sakit!” –Jongin

  • ••

‘Apa maksudnya bertanya seperti itu?’ –Rumi

“Hm, dimana teman laki-lakimu itu?” –Jongin

  • ••

“Aku akan mengizinkanmu bernafas… tetapi, jangan mencoba berteriak… atau kita akan ketahuan…” –Jongin

‘Aku sayang pada Jongin! Aku suka padanya! Tapi tidak untuk menjadi mainannya! Aku tidak segampang itu!’ –Rumi

“Jauhi Chanyeol mulai sekarang…” –Jongin

  • ••

“Kau… kau menangis?” –Chanyeol

  • ••

“Kau yang tadi berdua bersama Jongin ke kamar mandi puteri kan?” –Yuri

  • ••

“Jongin…..,” –Rumi

“Aku akan mengantarmu pulang, sayang.” –Jongin

.

.

.

Makin penasaran?

Di chap depan ada beberapa adegan antara Rumi sama Jongin yang lumayan ‘ehem’. Nah lo! Pada mikir yang ‘iya-iya’ kan? /senyum om-om/ tapi tenang aja kok. Ini non NC! Aman buat yang masih sekitar 13 tahun 😀

Kayanya ff ini ratingnya musti dinaiki sedikit. Sedikit kok! Yang dulunya PG jadi PG-15 XD waks!

SOUNDTRACK FF ini diantaranya :

  • Girl’s Day – Don’t Forget Me
  • After School –Shampoo
  • Girl’s Day –Look At Me
  • Sunny Hill –Tears On My Lips
  • F(x) –Airplane
  • Dara (Feat. CL) –Kiss

Yah itulah playlist yang selalu on ketika aku nulis ff ini 😀 kalo ada waktu atau sisa kuota silakan di download buat tambahan di songlist. Lagunya pada enak didengerin kok 😀 ngefeel di ff ini pisan! XD

Karena chapter ini aku panjangin, mohon buat readers lama maupun baru kasih komentar yang mendidik dan menginspirasi oke? 😀

Thanks sudah baca!

dan…

Selamat berkomen! XD

17 responses to “[Chapter 3+4] “Fleas Love”

  1. yeeeeyyyyyy…
    keluar juga chap 3 nya.. eh engga ding chap 3+4 yg bener…. kkkk 😀
    gpp deh ratingnya dinaikin jdi PG-15, soalnya umur akau juga 15…. 😀

    okedeh di tunggu ya next chapter… smoga chapter dpn makin baguss…. 😀

  2. Ngyahahaaa.. Terkesima sama tbc yg ditengah eonn.. Mwakkakaja… Gokil ah!
    Gw kok malah pengen si rumi ama chanyeol yah? Buaya kya jongin kan kaga bisa tobat dalam satu malam -__- masa iya rumi tb2 bsa meluluhkan hatinya? Pasti si jongin mau manfaatin rumi untuk bls dendam k chanyol atau semacamnya yah? Pokonya rumi yg kuat yaa!

    • iya chanyeol kan baikkk XD rumi cocok banget tuh sama chanyeol. tapi sayangnya jari jemari author yang lentik ini /pukul gua :D/ harus menakdirkan jika Jonginlah akhir dari perjalanan cintanya Rumi XD thanks sudah baca ya sayanggg~

  3. finally publish juga chap 3 ah nambah jga chap 4.
    tapi kok masih kurang panjang?? *maruknih*
    sakitnya tuh dimata sama dipikiran
    kasihan rumi, stelah melihat kenistaan (?) jongin.
    kenapa harus rumi?
    si pcy suka yak sama rumi.
    nahloh, si jongin kenapa gtu? ada something sepertinya melihat rumi n chanyeol.
    eeh ada cuplikan chap selanjutnya.
    ada apa di kmar mndi putri??
    pengen cepat publish next chap thor.

    so far so good. kata2 nya enak dibaca.
    and alurnya juga udh bagus kok thor.
    eh btw, rumi gak mandi ke skul. hahaha ada2 aja dah.
    ditunggu next chap thor.

    • wah makasih loh dipuji-puji jadi terbang saya XD tenang aja. ntar ganti jongin yang ngejar-ngejar rumi. semua ada masanya XD jadi biarkan rumi bersakir-sakit dahulu XD thanks sudah baca dan kasih komentar XD

  4. Akhirnya dipost juga setelah bolak balik cek email buat nunggu kelanjutan ff ini XD Sebelumnya maaf ya eon, ada kata2 yg menurutku kurang sreg. Mungkin kata “kilan” bisa diganti dengan “jengkal” keseluruhan udah bagus kok eon, banget malah XD #Komentatordadakan XD Semangat buat ngelanjutin ff nya. Aku akan menunggu dengan setia setiap kelanjutan ff ini kok XD

    • aduh maklum yaaa saya orang jawa 😀 jadi suka kecampur campur gitu. apalagi masih amatir banget di bidang nulis XD wkwkwk maap
      tapi makasih! kritikannya sangat berguna! ^_^

  5. makasih thor buat cerita’a 😀 ceritanya makin seruuu :-D:-D apalagi teaser’a bkin penasaraaan bgtt 😀
    kasiiiaan Rumi knapa dya harus liat Jongin ciuman sma cwe lain aPalagi pas udah ciuman Jongin keliatan berantakan, kayaa’a mereka melakukan seduatu y lbh dr ciuman deeh *kyaaa knapa aku malah berpikiran mes*m, aduuh maaf yaah thor hehehe
    kaya’a ada masalah deh antara Jongin & Chanyeol, smga aja masalah’a nggak terlalu ribeeet hehehe
    ditunggu next chapter’a 😀 jangan lama2 yaah thor, udaaah kepo bgtt niiih ~

  6. Pingback: [Chapter 5] Fleas Love | FFindo·

  7. jongin playboy banget-___- gue mau lo kemanain jong? //apaan(?)
    Rumi keburu di gebet Chanyeol tuh :< emang lo gak sedih? wkwkkw

  8. makin seru thor ceritanya..
    hahaha.. ini chanyeol ama jongin rebutan rumi ya??? seru thor seru..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s