[Series] Before The End – Chapter 11

BeforeTheEnd2

  • Chapter 11: The Climax of Our Love Story.

Nama Author: Nissa A

Contact Author:

  • Twitter: @nissamarizky

Length: Chaptered

Main Casts:

  • Han Sanghyuk (VIXX)
  • Kim Seolhyun (AOA)

Other Casts:

  • Eric Nam, Head of The Seoul Institute.
  • Ryu Sera (ex 9MUSES), Tutor of The Seoul Institute and Eric’s wife.
  • Nam Jihyun (4MINUTE), Eric-SeRa’s daughter.
  • Lee Hyukjae (SJ)
  • Lee Taemin (SHINee), Hyukjae’s younger brother.
  • Son Naeun (A-pink), Taemin’s girlfriend.
  • Yook Sungjae (BtoB), Seolhyun’s boyfriend.
  • Ailee as Ailee Sedgewick
  • Jang Hanbyul (LED Apple) as Jason Wrayburn
  • Yang Jiwon (Spica), Sanghyuk’s mother.
  • Park Hyungsik (ZE:A), Jihyun’s boyfriend.

Genre: Fantasy, Romance, Mystery, Action, Family, AU.

Rating: PG-13

Notes Author: Adapted from The Shadowhunter’s Chronicle series by Cassandra Clare.

Link Before The End: ( Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8 Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 [END] — Released)

NO PLAGIARISM INTENDED.

Dalam mimpinya, Seol Hyun berada dalam ruang yang gelap dan pengap. Dia duduk diatas kursi dan kaki beserta tangannya diikat. Matanya terpejam, karena jika dia membukanya pun, dia tetap tidak bisa melihat apa-apa.

Lalu, dia merasakan ada seberkas cahaya. Dia pun membuka mata. Han Sang Hyuk ada dihadapannya, menggenggam tangannya.

“Hai, Annabella.” Sang Hyuk tersenyum.

“Harrington,” Seol Hyun berkata. “Kenapa kau membiarkanku pergi?”

“Lho, bukankah kau sendiri yang menyuruhku beristirahat?” Sang Hyuk mencoba bercanda, tapi Seol Hyun malah menatapnya sedih.

“Tapi, kau bilang kau akan melindungiku.”

Senyuman Sang Hyuk pudar. “Aku sudah terlalu banyak berjanji padamu, Annabella. Dan belum tentu semua janji itu bisa kutepati. Kurasa ini sudah berakhir.”

“Apa maksud perkataanmu? Kau bermaksud untuk benar-benar meninggalkanku, tidak menjadi pelindungku lagi?”

Sang Hyuk mengelus punggung tangannya. “Kau sudah aman. Jasaku sudah tidak diperlukan lagi.”

“Tapi aku tidak menganggap perlakuanmu sebagai jasa!” seru Seol Hyun. “Aku sebenarnya—“

“Kau sebenarnya?”

“Aku—aku—“

Kata-kata Seol Hyun seakan tertahan di tenggorokan.

Saat Seol Hyun terbangun, dia mendapati dirinya berada di ranjang rumah sakit Institut Seoul. Ada Na Eun berbaring beberapa ranjang jauh darinya dengan mata terpejam, bersama Tae Min duduk disisinya yang juga tertidur. Melihat itu, Seol Hyun jadi merasa kesepian.

Seol Hyun menatap keadaan tangannya yang sudah digambari berbagai sebuah iratze untuk luka-luka hasil kekerasan para vampir, lalu dia menatap telapaknya. Kosong. Genggaman hangat Sang Hyuk pada tangannya tadi terasa begitu nyata. Tapi, kenyataannya Sang Hyuk tidak ada disini.

Langkah kaki terdengar. Seol Hyun berharap Sang Hyuk yang datang. Tapi itu bukan Sang Hyuk, melainkan Sung Jae.

“Kamu?” tanya Seol Hyun kaget. Sementara itu Sung Jae duduk di kursi yang disediakan di sisi ranjang Seol Hyun.

Sung Jae mengangguk. “Aku disini.”

“Tidak mungkin! Sang Hyuk kan sudah—em—membunuhmu.”

“Ceritanya panjang.” Kata Sung Jae. “Akan kuceritakan lain kali. Yang penting aku ada disini sekarang.”

Seol Hyun malah tidak memedulikannya. “Dimana Sang Hyuk?” Gadis itu bertanya.

“Aku belum bertemunya hari ini. Mungkin dia dikamarnya.”

“Tanda ini—apakah dia yang menggambarnya?”

Sung Jae menggeleng, lalu bergidik. “Bukan, tapi seorang laki-laki tinggi yang mengenakan baju seperti rahib dan bertampang menyeramkan. Dia juga bilang kedalam pikiranku kalau dia tidak berani menggambar lebih banyak karena takut kau tidak kuat.”

“Oh, mereka pasti Saudara Hening, ahli praktisi kedokteran.”

“Saudara Hening?” Sung Jae tertawa sebentar. “Mereka benar-benar tidak pernah bicara, ya?”

“Mereka bertelepati.” Jawab Seol Hyun.

“Oh…” kata Sung Jae, dia lalu meraih tangan Seol Hyun dan menggenggamnya. “Aku begitu merindukanmu.”

Seol Hyun sebenarnya juga ingin mengatakan kalau dia merindukan Sung Jae juga. Tapi, dia tidak bisa membohongi perasaannya. Genggaman tangan itu berbeda dari cara Sang Hyuk walaupun itu hanya mimpi, dan Seol Hyun lebih senang jika Sang Hyuk yang melakukannya.

Besoknya, Institut kedatangan tamu. Enklaf serta Inkuisitor datang untuk menginterogasi mereka mengenai pertempuran di bungker tempo hari. Awalnya, pertemuan direncanakan untuk dilaksanakan di Idris. Tapi, berkat permintaan Se Ra yang kasihan pada Seol Hyun yang belum begitu fit dan masih trauma, pertemuan akan dilaksanakan di perpustakaan Institut.

Pertemuan dimulai pukul dua belas setelah makan siang. Inkuisitor Lightwood duduk di kursi meja bundar tempat Nam Woo Hyun sering menghabiskan waktu dulu, dengan para anggota Enklaf Korea Selatan dibelakangnya. Diseberang Inkuisitor, duduk Seol Hyun diapit Eric dan Sang Hyuk, dibelakangnya ada penghuni Institut Seoul serta Sung Jae yang disuruh datang. Ji Won dan Dani menyembunyikan diri di Suaka agar tidak ada yang tahu masalah mereka. Hye Jeong akan diinterogasi di tempat lain karena dia tidak bisa masuk kedalam Institut, sementara di Suaka ada dua Anak Bulan yang sedang bersembunyi.

Inkuisitor mengusap jenggotnya yang terpotong rapi. “Jadi, aku dengar tempo hari kalian melakukan misi penyelamatan tanpa memberitahu Kunci?”

“Benar.” Kata Eric.

“Berapa orang yang terlibat, kalau aku boleh tahu, Mr. Whitescar?” tanya Inkuisitor.

“Dua belas Anak Nephilim termasuk tawanan, dua belas Anak Malam, dan dua Anak Lilith.” Jawab Eric, hampir saja menyebutkan eksistensi dua Anak Bulan kalau tidak langsung mengatupkan mulutnya.

“Mau menceritakan kenapa kau tidak melapor Kunci sebelum melakukannya dan kenapa kau melibatkan anak dibawah umur?”

Eric menggigit bibir. “Saya pernah berjanji di rapat Enklaf beberapa bulan lalu setelah insiden sarang vampir itu, kalau Miss Aldertree akan aman di bawah lindungan Institut. Tapi, karena keteledoran kami sendiri Miss Aldertree tertangkap. Saya rasa kamilah yang harus bertanggung jawab atas perilaku kami ini. Karena kekurangan satu anggota, sementara kita tidak mungkin melawan vampir berenam saja, saya menghubungi Institut Busan untuk meminta bantuan, dan Jared Featherstone langsung membawa seluruh orang disana kesini malam itu juga.” Eric menarik napas panjang dan menghembuskannya lalu melanjutkan. “Saya tidak sanggup melarang Harrington. Harrington selama ini yang selalu berada didekat dan melindungi Miss Aldertree, dia harus ikut juga.”

Inkuisitor Lightwood tanpak berpikir, sementara Eric menunggu dengan tubuh gemetaran. Takut mendapat hukuman karena sikapnya. Takut posisinya sebagai kepala Institut tergeser hanya karena masalah ini.

“Harusnya kau setidaknya melapor, walaupun tidak memerlukan bantuan.” Semprot salah satu anggota Enklaf perempuan berambut cokelat lurus.

“Jangan asal omong, Ailee.” tegur yang lain.

“Tapi, omongan Mr. Whitescar tadi sombong sekali,” balas Ailee.

Se Ra kelihatan menahan amarah. “Ailee, Jason, kalian tidak tahu kalau waktu kita sangat sedikit waktu itu.”

Ailee menatap Se Ra mencela, sementara Jason menatapnya gugup. “Kalian bahkan dapat menghubungi Institut Busan, apa tidak ada waktu untuk menghubungi Enklaf?”

Sang Hyuk dan lainnya memang tidak begitu mengerti apa yang mereka omongkan, karena daritadi mereka berbicara dalam bahasa Inggris sementara yang dapat berbicara bahasa itu dengan sangat fasih dari Institut hanya suami-istri Whitescar. Tapi, sudah jelas kelihatan gadis yang disebut Ailee ini mengatakan kata-kata tidak mengenakkan.

“Miss Sedgewick, Mrs. Whitescar, dan Mr. Wrayburn bisakah kalian diam sebentar? Kita bahkan belum tahu keseluruhan ceritanya.” Kata Inkuisitor Lightwood.

Ailee mengangguk dengan patuh, membuat Sang Hyuk jijik seketika. Dasar muka dua, pikirnya.

“Oke, bagaimana jika sekarang aku bertanya pada Miss Aldertree sendiri?”

Mendengar namanya disebut, Seol Hyun menegakkan punggung.

“Apa saja yang terjadi sebelum mereka datang?”

Eric baru saja mau memberikan terjemahan saat Seol Hyun sudah menjawab duluan dengan bahasa Inggrisnya yang patah-patah dan masih disertai aksen. Dia kerap berhenti sebentar untuk mencari kata yang tepat. “Aku dibius. Waktu bangun sudah diikat di kursi bersama Son Na Eun disampingku. Lalu, ada Jun Hyung. Dia menakut-nakutiku dengan bilang aku tidak akan diselamatkan, aku akan selamanya disini, tapi saat itulah satu persatu penyelamatku muncul.”

Inkuisitor mengerutkan kening. “Aneh. Dia bilang itu saja? Tidak ada apa-apa lagi? Dia tidak menceritakan alasan kenapa dia menginginkanmu atau bagaimana?”

“Sebenarnya,” kata Sang Hyuk tiba-tiba, menggunakan bahasa Inggris yang masih pas-pasan juga. Seluruh orang menoleh menatapnya, dan dia menceritakan alasan Jun Hyung menjadikan umpan dan segalanya. Dia juga menceritakan tentang Sung Jae dan iblis Eidolon itu. Jujur, Sang Hyuk sangat gugup ketika mengatakan Jun Hyung yang ingin dia dan Seol Hyun menjadi ‘dekat’.

“Dia melibatkan seorang Fana, dan dia kakakmu?” tanya Inkuisitor. “Tapi, dia kan vampir!”

“Dia terlahir sebagai Nephilim dari keluarga Hallowgreen dan melarikan diri dari rumah saat berusia enam tahun. Dia diadopsi keluarga Fana di Korea dan namanya diganti.” Jelas Sang Hyuk.

“Dan dia datang ke Institut di umur empat belas, meminta dilatih. Dia menghilang tanpa kabar tiga tahun yang lalu, dan muncul kembali sebagai vampir.” Tambah Eric.

“Dia juga membunuh Chang Min sehingga posisi kepemimpinan klan jatuh ke tangannya!” seru Hyuk Jae berapi-api, membuat beberapa orang berjengit.

Inkuisitor menatap Hyuk Jae sebentar, lalu kembali menatap tiga orang yang duduk dihadapannya. “Kalian membunuh semua vampir itu?”

“Hanya yang ada di bungker itu. Sisanya masih ada di Seoul.” Jawab Eric.

Tangan Inkuisitor terangkat untuk memijat pelipisnya. “Aku tidak mau berbohong, Eric. Tapi kalian semua sudah melanggar Perjanjian yang sudah kita buat.”

Eric menundukkan kepala, siap menerima keputusan terburuk sepanjang hidupnya.

“Tapi, tidak apa-apa. Kau sudah melakukannya dengan baik.”

Eh?

“Kau berpikir akan kehilangan jabatanmu kan?” Inkuisitor tersenyum. “Tidak akan. Vampir-vampir itu yang memprovokasi kalian duluan. Dan juga, karena aku dan semua orang—aku percaya—, yakin hanya kau yang dapat menjalankan Institut Seoul dengan baik.”

Walaupun dia sempat mendengar dengusan Ailee, Eric akhirnya bisa bernapas lega.

“Seol Hyun!”

Gadis itu menoleh, dan mendapati Sung Jae sudah berdiri di belakangnya. Pertemuan Enklaf baru saja selesai dan kini semua orang kembali ke rutinitas sehari-hari. Seol Hyun ingin menghampiri Sang Hyuk yang sepanjang pertemuan tadi tidak menatapnya, tapi Sang Hyuk sudah keburu kabur ke Suaka untuk menemui Ibunya.

Sudahlah, mungkin dia ada urusan dengan keluarganya.

“Kenapa?” tanya Seol Hyun.

“Kau sudah mendingan, kan?”

“Tentu.”

“Nah, kalau begitu aku bertanya-tanya apakah kamu mau makan malam denganku nanti.” Kata Sung Jae.

“Ya sudah, datang saja. Aku dan Se Ra akan menyiapkan makanan.” Kata Seol Hyun lugu.

Sung Jae terkekeh. “Bukan, maksudnya makan berdua saja. Diluar, bukan disini.”

Seol Hyun terdiam. Jika dia mengiyakan, ini akan menjadi makan malam keduanya bersama Sung Jae. Disaat seperti ini, dia malah memikirkan Sang Hyuk.

Tunggu dulu. Kenapa juga dia harus memikirkan Sang Hyuk? Sang Hyuk bukan siapa-siapanya selain teman dan pelindung. Sementara Sung Jae sampai saat ini masih berstatus sebagai pacarnya, karena yang waktu itu bertengkar di halaman belakang sekolah itu bukan dia.

“Ayo, apa jawabanmu?” tanya Sung Jae. “Aku akan mengajakmu ke restoran yang selama ini kamu inginkan, lho.”

Seol Hyun mengangguk tanpa pikir-pikir lagi.

Keluarga Sung Jae ternyata diberi mantra penghilang ingatan tentang menghilangnya anak mereka oleh Jin Young, jadi sekarang Sung Jae sudah tinggal bersama mereka lagi. Seol Hyun sempat kaget saat Sung Jae muncul depan Institut dengan setelan jas dan mobil Ferrari 458 silver mewah milik orang tuanya.

Sementara itu, Sang Hyuk menatap dua orang itu dari jendela kamarnya. Dia tadi sempat berpas-pasan dengan Seol Hyun yang baru keluar dari kamar dengan dandanannya, diikuti Ji Hyun dan Na Eun di kursi roda (lagi-lagi Seol Hyun terlalu cepat dekat dengan orang) yang sepertinya menjadi penasihat dadakannya. Seol Hyun memakai gaun maxi warna pink cerah dengan sepatu hak tinggi berwarna senada. Rambutnya digerai dan bekas-bekas luka yang belum hilang telah tertutup make up. Gadis itu terlihat cantik sekali, tapi Sang Hyuk lebih suka jika dia berpenampilan biasa.

Awalnya Sang Hyuk tidak tahu acara makan malam antara mereka berdua itu. Dia baru tahu dari Ji Hyun yang menggedor-gedor pintu kamarnya tadi sore untuk meminta pendapat Sang Hyuk mengenai dua buah gaun, yang mana yang paling bagus.

Sang Hyuk-a, kau lebih suka yang pink atau putih?”

Putih bagi kita hanya digunakan saat kematian.Kata Sang Hyuk, tentunya memilih pink.Memangnya buat apa? Noona mau kencan sama Hyung Sik lagi?” Sang Hyuk keceplosan, tapi dia tidak merasa bersalah.

Ji Hyun mengerucutkan bibir sebentar, lalu menjawab.Sung Jae sama Seol Hyun mau dinner bareng! Masa kamu nggak tahu?

Sang Hyuk waktu itu hanya bisa mendengus tertahan. Masa bodoh, mendengarnya saja sudah membuatnya bosan. Jadi, dia membanting pintu didepan wajah Ji Hyun, mengundang amarah gadis itu yang teredam pintu.

Sung Jae sedang masuk ke jok di balik kemudi setelah membukakan pintu lainnya untuk Seol Hyun dan menutupnya. Setelah itu, mobil mewah tersebut melaju dan tak lama kemudian menghilang di belokan.

“Kamu seharusnya mengikuti saran kami bertiga.”

Sang Hyuk menoleh, tampak Tae Min sudah duduk tanpa permisi di ranjangnya sambil menggigit apel. Bahkan pemuda itu tidak repot-repot untuk mengetuk.

“Mau gimana lagi. Waktu aku mau mengajak dia kencan, dia malah memikirkan Sung Jae.” Kata Sang Hyuk.

Tae Min mengunyah apel dan menjawab dengan mulut penuh. “Belum berakhir, kok, tenang saja.”

“Sudah, hyung.

“Belum.” Kata Tae Min tegas. “Selama janji suci belum terucap, kau masih punya kesempatan.”

“Ya ampun, sejak kapan Nathan Blackwood alias Lee Tae Min menjadi seperti ini?” sindir Sang Hyuk.

Tae Min cengengesan tidak jelas, lalu dia berhenti mengunyah, seakan mengingat sesuatu. Detik kemudian dia sudah melesat pergi, tanpa menutup kembali pintu kamar Sang Hyuk.

Sang Hyuk mendengus, lalu berjalan untuk menutup pintu, tapi ditahan Ji Won.

“Boleh aku masuk?” tanya Ji Won.

“Tentu saja.”

Ji Won duduk di kursi meja belajar Sang Hyuk lalu menatap ke sekeliling kamar, tampak kagum dengan kerapihannya.

“Mirip kamar Jae Soon dulu.” Kata Ji Won tanpa berpikir.

Eomma… masih bersedih soal Drake?” tanya Sang Hyuk pelan-pelan.

Ji Won menatapnya.

Eomma, maafkan kita semua. Kita malah membunuh Drake di hari yang sama ketika eomma bertemunya kembali.”

“Sayang,” kata Ji Won, menggeleng pelan. “Aku sudah ikhlas dan sadar kalau aku tidak bisa berharap lagi pada masa lalu. Semuanya sudah berubah. Kenapa sekarang kau menyesal karena telah membuatnya mati? Dia kan penjahat dalam cerita ini.”

“Jujur saja, aku senang. Sekarang tidak ada lagi yang dapat mengganggu kami selain iblis-iblis. Tapi, aku juga menghargai perasaan eomma. Aku mungkin memang sudah mengenal Drake, tapi aku belum pernah mengenalnya sebagai seorang kakak. Sedangkan eomma, eomma yang membesarkannya, walau hanya enam tahun. Pasti ada rasa sedih juga dalam hati eomma.

Ji Won menggeleng lagi. “Drake Hallowgreen atau Jae Soon bukanlah orang yang dulu sempat kukenal. Sekarang dia Yong Jun Hyung, orang asing, yang bahkan mau membunuhmu sendiri hanya karena rasa bencinya pada Theo, padahal kau tidak salah apa-apa. Dia tidak pantas disebut sebagai kakakmu.”

Sang Hyuk bergumam. “Ya, karena figur kakak bagiku adalah Nam Woo Hyun.”

Tangan Ji Won kemudian merogoh kantongnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah cincin.

“Ini cincin keluarga Hallowgreen. Drake juga punya satu, tapi aku yakin dia sudah membuangnya.” Kata Ji Won, menyodorkannya pada Sang Hyuk. “Cincin ini diberikan Theo saat kami menikah, dan aku tak sadar cincin ini masih kusimpan di celanaku sampai sekarang.”

Sang Hyuk menerimanya. Cincin itu adalah cincin mas putih dengan ukiran berbentuk pohon di sekelilingnya, lambang keluarga Hallowgreen.

“Simpanlah ini, dan berikan pada gadis pilihanmu saat menikah nanti.” Pesan Ji Won.

Sang Hyuk mengangguk. Dia menatap cincin itu, lalu mengenakannya di jari manisnya.

Setelah berkunjung singkat ke kamar Sang Hyuk, Tae Min langsung berlari ke rumah sakit sambil menghabiskan apelnya. Na Eun masih tinggal disana dan belum dipindahkan ke kamar lamanya karena belum sehat, tapi tadi sore dia memaksakan diri untuk membantu Seol Hyun berdandan.

Na Eun sedang duduk diatas ranjangnya, menyantap makanan-makanan masakan Se Ra yang disajikan di meja lipat ranjang itu. Dia tersenyum saat melihat Tae Min melangkah ke arahnya.

“Enak?” tanya Tae Min sambil menarik kursi dan duduk disana.

“Sera tidak pernah buruk dalam memasak.” Jawab Na Eun senang.

Tae Min mengambil alih sendok dan mangkuk bubur Na Eun, dan mulai menyuapinya.

Mata Tae Min menelusuri wajah Na Eun. Tidak ada yang berubah dari gadis ini selain luka-luka lebam di tubuhnya. Dia masih terlihat cantik dan menawan. Dia masih suka membaca buku-buku Sejarah dan novel, terbukti dengan berbagai buku Sejarah dan novel dari perpustakaan Institut yang ditumpuk di meja nakas. Berkat Na Eun lah Tae Min jadi tahu kapan perang Korea berakhir dan dapat menjawab pertanyaan terakhir di ruangan sempit bungker itu, dan mempertemukannya kembali dengan Na Eun.

“Marcella,” kata Tae Min disela-sela pekerjaannya. “Aku hanya bertanya-tanya kenapa Jun Hyung mengikatmu waktu itu, padahal dia sendiri menyukaimu? Kenapa dia mau membuatmu menderita?”

“Justru dia yang mau membuatmu menderita, Nathan.” Marcella menatapnya lekat. “Dia mengikatku agar kau juga merasa menderita melihatku menderita. Itu hal yang paling tidak kuinginkan dalam hidupku.”

Tangan Nathan yang mau menyendok bubur terhenti. “Kenapa?”

“Kamu memang jarang berekspresi. Orang-orang juga pasti akan senang jika kamu melakukannya, termasuk aku. Tapi, bukan berarti ekspresi sedih yang aku inginkan darimu.”

“Wah, kamu seperti sedang membicarakan orang terkasihmu.” Nathan menggodanya.

Marcella tertawa. “Tiga setengah tahun sudah cukup lama.”

“Aku juga tidak mau kehilanganmu lagi.” Kata Nathan, tangannya yang tidak memegang sendok mengelus pipi Marcella. “Jadi, maukah kamu jadi pacarku?”

“Kurasa kamu sudah tahu jawabannya.” Jawab Marcella, menyentuh tangan Nathan di pipinya.

Selama beberapa saat, mereka tetap dalam posisi itu, sampai Nathan menjauhkan tangannya dan berkata. “Ayo, habiskan buburmu, Nona Pontmercy.”

Pierre Gagnaire Seoul. Salah satu restoran Prancis mewah dan paling mahal di ibukota Korea Selatan ini. Disinilah Seol Hyun dan Sung Jae berada sekarang. Di lantai ketiga puluh lima sebuah gedung pencakar langit, duduk berhadapan dengan pemandangan lampu-lampu kota Seoul, menyantap makanan high class Prancis yang tentunya sangat lezat.

Sepanjang acara makan malam itu, mereka membicarakan banyak hal. Mereka mengingat-ingat kejadian-kejadian lucu di sekolah dan menertawainya bersama, membicarakan skandal idola Korea yang tidak terlalu penting, dan lain-lain. Sama sekali tidak ada kata-kata mengenai dunia Bayangan keluar dari mulut mereka. Malam ini mereka seakan menganggap dunia itu tidak pernah ada.

Sama sekali tidak ada kecanggungan diantara mereka berdua, mengingat mereka sudah berbulan-bulan tidak berkomunikasi. Mereka tidak pernah kehabisan bahan bicara dan terus tertawa. Seol Hyun tentunya senang, tapi dibalik senyumnya dia terus memikirkan Han Sang Hyuk.

Didalam perjalanan kembali ke Institut, Sung Jae tiba-tiba berkata.

“Seol Hyun-a, apa kamu masih menganggap hubungan kita itu ada?”

Seol Hyun yang sedang menatap jalanan dari jendela menoleh dengan kening berkerut. “Maksudmu?”

“Aku hanya bingung.” Sung Jae menginjak rem saat lampu merah menyala. “Kita masih seperti dulu, tidak canggung, selalu tertawa bersama. Tapi, caramu menatapku sekarang sudah berbeda. Itu yang membuatku menanyakan hal ini.”

Secara teknis, mereka memang masih berpacaran. Tapi, secara perasaan?

“Kalau iya,” salah satu tangan Sung Jae tergelincir dari setir. “Ambil tanganku.”

Seol Hyun mengangkat tangan, hendak menerimanya, tapi tangannya berhenti di udara. Dan saat itulah dia menyadarinya. Dia tidak bisa melakukan ini. Hatinya sudah bukan milik Sung Jae, tapi milik orang lain. Perasaannya sudah jelas. Sebelum peristiwa-peristiwa yang berakhir pada kejadian di bungker, Seol Hyun sudah merasakan berbagai tanda-tanda cintanya.

Jadi, Seol Hyun menarik kembali tangannya.

Sung Jae tersenyum sedih. “Sudah kuduga,” katanya. “Pantas saja kamu selalu semangat ketika membicarakan Sang Hyuk tadi. Sang Hyuk terpeleset didepan kelas, kepala Sang Hyuk terantuk bola basket saat pelajaran olahraga, Park seonsaengnim memarahi Sang Hyuk karena tidur di kelas, blablabla.

“Maafkan aku, Yook Sung Jae. Banyak hal sudah terjadi berbulan-bulan ini. Yang selama ini terus berada disisiku itu dia, bukan kamu. Kamu pasti tahu apa yang akan terjadi dari situ.” Kata Seol Hyun.

“Aku mengerti.” Kata Sung Jae, melajukan lagi mobilnya. “Lagipula, sebentar lagi aku akan pergi.”

“Pergi?”

“Orang tuaku sebenarnya sudah merencanakan ini sejak lama. Aku akan melanjutkan sekolahku di Jepang sampai lulus kuliah. Mungkin kerja juga akan disana.”

“Jepang?” ulang Seol Hyun. “Kenapa kamu harus pergi?”

“Ini ada untungnya juga, Seol Hyun. Banyak orang yang pasti mengira aku sudah mati, sementara yang memorinya dihapus hanya keluargaku dan orang terdekat saja oleh rambut merah itu. Akan aneh jika mereka melihatku lagi. Mereka pasti akan tanya macam-macam, sementara aku tidak mungkin menjawab kalau aku diculik vampir. Aku tidak mau cari masalah dengan dunia kalian.”

Sung Jae menghentikan mobilnya lagi. Mereka sudah sampai.

“Sekali lagi aku minta maaf.” Kata Seol Hyun.

“Tidak apa-apa.” Sung Jae tersenyum dan memeluknya, untuk yang terakhir kali. “Jaga dirimu baik-baik, Kim Seol Hyun.”

Ji Hyun menjejakkan sepatunya di trotoar. Sementara bus yang di tumpanginya tadi melaju pergi, dia mendongakkan kepala menatap gedung tinggi menjulang dihadapannya. Apartemen tempat Hyung Sik tinggal.

Ji Hyun tidak pernah bertemu Hyung Sik lagi semenjak dia dibawa kabur oleh Jin Young dari lapangan futsal di bungker itu. Ji Hyun sedih, tentu saja. Dia tidak menyangka salah satu orang yang dipercayai Institut malah berkhianat, terlebih Hyung Sik adalah kekasihnya.

Berhari-hari ini, Ji Hyun terus menetapkan dalam hati kalau Hyung Sik itu pengkhianat, orang yang tidak pantas dicintai. Tapi, setiap dia melakukan itu, memorinya bersama Hyung Sik teringat kembali, dan kerinduannya pada Hyung Sik terus-terusan menghantuinya sampai sekarang. Ji Hyun tidak kuat dengan semua itu, sehingga dia memutuskan untuk mengunjungi Hyung Sik malam ini juga, setelah dia membantu Seol Hyun dengan persiapannya.

Dengan mantap, Ji Hyun melangkahkan kakinya masuk kedalam halaman apartemen, menyeberanginya dan masuk kedalam lobi. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Hyung Sik didepan lift.

Noona? Kenapa noona kesin—“

Ji Hyun memotong perkataan Hyung Sik dengan menghambur ke pelukannya dan menangis tersedu-sedu. Karena tidak mau mengundang perhatian Fana, Hyung Sik langsung membawa Ji Hyun kedalam lift begitu pintu lift membuka.

Didalam lift, Ji Hyun menjauhkan dirinya, tapi lengannya masih terlingkar di leher Hyung Sik. “Kenapa?” bentak gadis itu. “Kenapa kamu melakukannya?!”

Noona—

“Kenapa kamu berkhianat? Apa kamu tidak memikirkan aku dulu sebelum melakukannya?”

Noona! Dengarkan aku dulu!” seru Hyung Sik. “Aku bukan seperti yang noona pikirkan. Aku bahkan mungkin orang terburuk yang pernah noona kenal. Sekarang noona membenciku, kan? Kurasa ini mungkin lebih baik,”

“Lebih baik? Kamu senang aku membencimu?”

Hyung Sik menundukkan kepala. “Tidak ada masa depan bagi Pemburu Bayangan yang bergaul dengan warlock.

Warlock memang tidak bisa menghasilkan anak.

“Oh, jadi kau masih mempercayai perkataan kuno itu?”

“Itu kenyataan, noona.” Hyung Sik berusaha keras menahan emosinya.

“Aku nggak peduli!” Ji Hyun berteriak. “Selama aku mencintaimu, aku tidak masalah dengan semua itu!”

Ji Hyun berteriak saat pintu lift terbuka, mengundang tatapan bingung orang-orang yang sedang menunggu lift. Hyung Sik segera meminta maaf dan menarik Ji Hyun kedalam apartemennya.

Didalam, Ji Hyun berkata lagi. “Aku nggak peduli dengan kenyataan itu. Aku sudah terlanjur mencintaimu. Sekuat apapun aku berusaha untuk menghapus perasaan itu, nggak akan berhasil, aku selalu gagal.”

“Tapi, orang tuamu? Mereka pastinya menginginkan garis keturunan keluarga Whitescar terus berjalan.”

“Kalau memang orang tuaku menginginkan cucu, Piagam mengatakan kamu bisa mengadopsi anak. Kalau mereka menginginkan anak Nephilim, anak itu bisa mengikuti Kenaikan di waktunya. Semuanya dapat terselesaikan.” Kata Ji Hyun, mengusap air matanya.

“Apa sekarang noona belajar memberontak seperti Nam Woo Hyun?” tanya Hyung Sik.

“Tahu apa kamu soal adikku? Dia tidak memberontak! Orang tuaku merestuinya!” Ji Hyun berseru. “Dan aku yakin orang tuaku akan berbuat sama padaku. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya bersedih, apalagi karena cinta.”

Hyung Sik memijat pelipisnya, tampak lelah dengan semuanya. Dia lalu mengajak Ji Hyun duduk di sofa depan televisi tempat mereka pernah menonton TV bersama waktu itu.

Noona ingat, waktu Sang Hyuk pergi ke Idris, noona sempat tertidur di sofa ini? Dan Jin Young keluar apartemen lagi?”

Ji Hyun mengangguk pelan, walaupun tidak mengerti kenapa Hyung Sik tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

“Saat itulah pertama kali aku melakukannya.” Kata Hyung Sik. “Aku menghubungi Chang Min dan mereka langsung datang kesini. Sebelum mereka masuk kedalam Portal, mereka bilang kalau mereka akan membutuhkan bantuanku lagi. Aku mengiyakan dengan satu syarat, mereka tidak akan pernah menyakiti gadis yang tertidur di sofa. Itulah satu-satu cara aku bisa melindungimu menurut pikiranku, karena aku sendiri merasa tidak mungkin bisa melakukannya dengan baik, noona.”

“Kenapa kamu bilang begitu? Kamu warlock. Kamu punya kekuatan sihir, sementara aku perlu memegang senjata.”

“Hubungan kita rumit, Jillian.” Itu pertama kalinya Hyung Sik menyebut Ji Hyun dengan nama itu, dia tidak pernah menyukai nama kebarat-baratan. “Aku tidak bisa selalu disampingmu kapanpun. Walaupun aku juga dipercayai Institut, aku tidak tahu apakah Eric dan Sera akan menyetujui kita berdua. Lagipula, Enklaf sudah menjatuhkan hukuman padaku.”

Mata Ji Hyun melebar. “Apa?”

“Aku akan diasingkan ke tempat yang jauh sampai waktu yang sudah mereka tentukan. Kurasa aku layak mendapatkannya, mengingat perbuatanku selama ini.”

“Berarti, kamu akan meninggalkanku?” tanya Ji Hyun, matanya sudah berkaca-kaca lagi.

Hyung Sik mengangguk berat. “Sayangnya begitu.”

Ji Hyun pun mengacungkan jari kelingkingnya yang gemetaran. “Kalaupun kamu tidak bisa melindungi diriku, berjanjilah untuk kembali.”

Hyung Sik menerimanya, dan tangannya yang lain menyentuh pipi Ji Hyun. “Tunggulah aku, aku pasti akan kembali.”

“Aku akan menunggumu.”

“Bagaimana?”

Seol Hyun disambut Sang Hyuk yang sedang bersandar di salah satu pilar di teras Institut. Gadis itu mengerutkan kening.

“Makan malamnya, bagaimana?” Sang Hyuk mengulang.

“Baik-baik saja.”

“Tadi ada acara peluk-pelukan juga, tuh didalam mobil.” Sang Hyuk setengah menyindir.

“Kenapa? Cemburu?” goda Seol Hyun.

“Iya.”

Seol Hyun merona. Dia tidak menyangka kata itu akan keluar dari mulut Sang Hyuk.

Lawan bicaranya tertawa penuh kemenangan. “Kena, deh.” Ujar Sang Hyuk membuat Seol Hyun memukulnya dengan tasnya.

“Demi malaikat, hentikan.” Sang Hyuk menahan tangan Seol Hyun. “Pukulanmu keras sekali.”

“Rasakan!” Seol Hyun ikut tertawa.

Dengan senyuman di bibirnya, Sang Hyuk menatap Seol Hyun yang tertawa. Gadis ini seperti tidak pernah melewati masa-masa sulit. Dia lantas mengingat pembicaraannya dengan yang lain di makan malam tadi.

“Kim Seol Hyun,” kata Sang Hyuk, memberhentikan tawa Seol Hyun. “Tadi, kami membicarakan nasibmu setelah semua ini.”

“Nasibku?” ulang Seol Hyun, tak mengerti.

“Tugas kami untuk melindungimu sudah berakhir. Kamu sudah aman, jasa kami tidak diperlukan lagi.”

Jantung Seol Hyun seperti berhenti berdetak. Ucapan Sang Hyuk sama persis seperti yang ada di mimpinya.

“Jadi, kalian berencana untuk mendepakku keluar dari Institut?” tanya Seol Hyun.

“Bukan begitu!” kata Sang Hyuk cepat-cepat. “Itu tergantung keputusanmu. Kamu bisa tetap tinggal disini untuk dilatih menjadi Pemburu Bayangan, atau kamu bisa juga tinggal di Idris bersama bibimu.”

“Kalau begitu, aku akan tinggal disini.” Kata Seol Hyun mantap.

“Mengapa? Kenapa kamu tidak ingin tinggal bersamanya?” tanya Sang Hyuk.

“Aku tidak begitu mengenal bibi Megan dengan baik.” Gadis itu berujar. “Aku tidak merasa dialah tempat aku berpulang, tapi Institutlah tempatnya. Disini aku merasakan apa yang benar-benar dinamakan keluarga, dibandingkan dengan panti asuhan yang dulu. Semua orang disini adalah keluarga bagiku, kecuali kau.”

Sang Hyuk langsung berdebar-debar. “Lalu, aku ini apa bagimu?”

“Temanku.”

Pupus sudah harapan Sang Hyuk. Selama ini dia hanya berada di area pertemanan dengan gadis yang dicintainya.

Seol Hyun tertawa geli. “Aku cuma bercanda.”

Sang Hyuk mengacak-acak rambutnya dengan murka. “Aku bertanya dengan serius!”

Gadis itu kemudian memeluk Sang Hyuk erat. “Kamu adalah tempatku berpulang.” Bisiknya.

 TBC

Link Before The End: ( Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8 Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 [END] — Released)

2 responses to “[Series] Before The End – Chapter 11

  1. ihhh… thor….
    ihh… author mah, lagi seru tuhh di tbc lagi huhu.. kan seol hyun suka san hyuk baru pengen bilang itu di tbc ihhh kesel deh, author mah gitu wkwk

    lanjutt lagi thor detik detik penghabisan kisah seol hyun dan san hyuk ini masalahnyaaaa…. tapi berarti jun hyung matii yaa kirain dia gk matii, yaa gpp tapi cepetan next chapter nyaa oke thor…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s