Who’s A Daddy? — Four

Previous: — Prologue — OneTwo – Three

cr: AmmL17 @Cafeposterart

 

Who’s A Daddy ?

Author :

Youngieomma(@mommyfangirl)

Beta-Reader :

SungRa (@Chaaannie)

Length : Chaptered || Genre : Drama, Romance

Disclaimer : Para pemeran dalam Fanfic ini hanya dipinjam untuk keperluan cerita, MOHON MAAF jika ada sifat yang bertolak belakang dengan canon.

Rating : PG+18

 

Ide cerita ini di ambil dari Movie Jennifer Lopez berjudul The Back Up Plan dan drama Korea One Mom Three Dads dengan beberapa tambahan dari saya.

Terima kasih.

[Who’s A Daddy?]

Notes.

Terima kasih banyak untuk partisipasi pemberian nama baby Evelyn J Masih di buka sampai Chapter 8 ya.. Silahkan mengirimkan nama buatan teman-teman semua ke emailku dengan subject “Baby’s name” ^^. Terima Kasih.

Sebelum mulai baca chapter ini, aku mau kasih beberapa gambar referensi tentang bagaimana penampilan toko bunga milik Evelyn.. Iseng sih bikinnya di Sims 4.. Ya itung-itung bantuin imajinasi kalian aja LOL..

Outside :

g1g2

Inside :

g4g3

 

Garden :

g5g6

g7g8

Kebayang gak? ^^

 [Who’s A Daddy?]

—Four

10, September.

Yixing membuka matanya yang terasa berat setelah selama dua hari penuh ia tidak dapat jatah tidur cukup karena pekerjaan yang menuntutnya, tadi malam ia sampai ke Cafe Yifan pukul empat pagi setelah di antar oleh salah seorang Asistennya. Yixing sempat berpapasan dengan Chanyeol yang keluar dari dalam Cafe, Yixing bertanya kemana dia akan pergi, Chanyeol berkata bahwa dia memiliki pekerjaan tambahan semenjak terusir dari Apartemen.

Yixing menatap punggung setengah bungkuk milik Chanyeol, ia menghela napas. Sebenarnya ia memiliki banyak uang untuk sekedar memberi makan Chanyeol ataupun membantu melunasi hutangnya kepada para lintah darat yang terus mengejarnya, hanya saja dia tahu bagaimana tingginya harga diri Chanyeol. Yifan dan dirinya hanya bisa terus memandangi bagaimana Chanyeol bekerja sangat keras untuk melunasi hutang-hutang mantan kekasihnya. Yixing menghela napas.

Entah mengapa setiap kali ia memikirkan nasib Chanyeol, otaknya langsung mendidih.

Ia menguap, duduk di atas kasur lantai yang kaku dan keras. Setelah terusir dari Apartemen empat hari lalu, ia dan juga kedua sahabatnya tersebut belum mendapatkan tempat tinggal baru, mereka terpaksa tidur berdesakan di atas kantor Yifan dengan kasur lantai. Belum lagi, karena ia tidur dekat meja kerja Yifan, dahinya harus rela membiru akibat terbentur kaki meja ketika tidur.

Yixing melirik ke arah jam dinding, pukul 12 siang.

Cafe Yifan pasti ramai di jam makan siang, ia harus segera mandi. Siang ini ia akan pergi dengan Asistennya, Yixing bercerita kepada Asistennya tersebut mengenai musibah yang menimpa dirinya, bagaimana ia di usir dari Apartemen akibat ulah nakal Huang Zitao. Yixing bertanya apakah Asistennya mempunyai info mengenai Apartemen kosong dan lumayan besar dengan deposit yang rendah.

Asistennya berkata bahwa di dekat gedung Apartemennya ada sebuah rumah besar yang di sewakan, ia berjanji hari ini akan mengantar Yifan kesana setelah sebelumnya membuat janji dengan pemilik rumah.

“ Kau sudah bangun?”

Yixing melirik ke arah pintu yang terbuka, Yifan berdiri disana dengan kacamata bulat bertengger di hidungnya, pemuda tinggi itu masuk ke dalam kantor dengan tangan penuh berkas.

“ Kau terlihat seperti orang China..” Ucap Yixing.

Yifan duduk di kursinya dan menatap Yixing.

“ Aku memang orang China..”

“ Kau besar di Kanada..”

“ Lalu apa masalahnya?”

“ Orang Kanada tidak terlihat seperti orang China..” Ujar Yixing, Yifan menatapnya dengan tidak mengerti. Apakah Yixing mengigau? Dia masih tertidur?

“ Kau mabuk?”

Yixing menggeleng, bangun dari duduknya dan melipat kasur lantai tersebut. Yifan melanjutkan pekerjaannya, menghitung dan menghitung pendapatan setengah hari ini.

“ Kris..” Suara Yixing menghentikan aktifitas Yifan.

Yixing jarang sekali memanggilnya dengan nama kebarat-baratan itu, jika Yixing memnggilnya demikian itu berarti dia sedang ingin berbicara serius. Yifan menatapnya yang tengah berdiri di depan meja kerjanya.

“ Kupikir aku telah menemukan sebuah rumah untuk tempat tinggal baru kita bertiga..”

“ Kau akan membeli sebuah rumah?” Tanya Yifan.

“ Tidak, hanya saja Asistenku berkata di dekat gedung Apartemennya ada sebuah rumah besar yang di sewakan. Kami sudah memiliki janji temu dengan pemiliknya..” Yixing menjelaskan, Yifan mengangguk mengerti keadaannya.

“ Bagus, beritahu aku berapa biaya sewa perbulan tempat itu..”

Yixing mengangguk, Yifan melanjutkan pekerjannya sekali lagi. Namun, Yixing belum beranjak dari hadapannya.

“ Ada apa lagi?”

Yixing terdiam sebentar.

“ Chanyeol—“

Yifan menatap Yixing, kemudian dia mengangguk, menutup berkas penjualannya.

“ Kau bertemu dengannya pagi ini? Anak itu menemukan pekerjaan tambahan baru sebagai Cleaning Service di stasiun bawah tanah.. Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak mengkhawatirkan pembayaran tempat baru jika kita menemukannya..”

“ Dia setuju?” Tanya Yixing.

“ Kau pikir?” Yifan bertanya balilk padanya.

Ah, dia pasti tidak setuju. Pikir Yixing.

“ Kris, kau sudah melunasinya kan?”

Yifan menatap Yixing, melirik ke arah pintu yang masih tertutup dia menelan ludahnya sendiri.

“ B-bagaimana kau tahu?”

Yixing menghela napas kasar, dan duduk di sebuah kursi dekat meja Yifan.

“ Kau melunasinya? Seorang diri? Iya kan? Lalu, kemana uang yang Chanyeol setorkan selama ini?” Yixing bertanya dengan tidak sabar.

“ Aku tidak punya pilihan lain, aku tidak ingin melihat dia bekerja seperti orang idiot untuk melunasi sesuatu yang bukan tanggung jawabnya. Awalnya aku melunasi 25% hutang Chanyeol, kemudian orangtuanya menemuiku dan memberikanku sejumlah uang untuk melunasi sisanya. Mereka membuat Akun bank untuk Chanyeol.. Aku yang memegang buku tabungannya..” Yifan menjelaskan. Yixing menatapnya ketus.

Ia kesal karena Yifan bertindak sendirian, setidaknya ia ingin membantu melunasi 25% hutang milik Chanyeol juga. Dia ingin membantu sahabatnya tersebut terlepas dari hutang yang terasa menyiksa pria itu.

“ Chanyeol mentransfer gajinya dua minggu sekali ke akun Bank miliknya sendiri yang di buatkan oleh kedua orangtuanya tanpa sepengetahuannya. Namun, aku tidak memiliki cara untuk mencegah ia menambah pekerjaan demi melunasi hutangnya tersebut..”

“ Dan kau tidak boleh mengatakan bahwa hampir setengah hutang tersebut di lunasi oleh kedua orangtuanya..” Ucap Yixing. Yifan mengangguk. Keduanya tahu bagaimana kehidupan Chanyeol dan hubungan pria itu dengan orangtuanya.

Yixing menghela napas lega, setidaknya dia tidak memiliki beban lagi untuk memikirkan nasib Chanyeol dengan para lintah darat itu. Anak itu terselamatkan. Yixing beranjak dari kursi dan menyimpan kasur lantai tersebut di pojok ruangan.

Yixing menatap kalender yang berada tepat di hadapannya. Yifan tahu apa yang tengah pria itu pikirkan.  5 tahun akan segera berlalu, rasa rindu di hati Yixing mendadak terasa begitu menyakitkan menatap tanggal tersebut.

“ Yixing, minggu depan kau ingin memesan bunga yang sama untuk kekasihmu?” Tanya Yifan, Yixing menoleh dan mengangguk dengan senyum yang lebar.

. . .

Evelyn terduduk di kasur dengan wajah pucat pasi, entah mengapa dua hari terakhir setiap ia membuka mata di pagi hari perutnya terasa sakit dan tidak begitu baik. Terkadang ia mual, namun tak ada tanda-tanda ia akan muntah. Ia tidak dapat meminum obat sembarangan karena sekarang ia tengah berbadan dua.

Dengan perlahan ia berjalan menuju kamar mandi, menatap wajahnya sendiri di kaca dekat wastafel ia seperti melihat pantulan orang lain. Tanpa terasa olehnya, nafsu makannya berkurang drastis selama beberapa hari ke belakang. Dia lebih suka meminum air mineral di banding memakan cemilan maupun makanan pokok lainnya, perutnya terasa tidak nyaman jika sesuatu masuk untuk di cerna dan menjadikannya lebih bertenaga.

Evelyn melakukan aktifitas seperti biasanya, ia mandi dan bersiap untuk berangkat membuka toko ketika dering bel di pintu masuk rumahnya terdengar, ia berjalan dengan perlahan, menatap intercom ia melihat seorang pria yang tak di kenal.

“ Maaf, ada perlu apa?” Evelyn bertanya. Pria itu menatapnya dari ujung layar intercom.

“ Apakah anda pemilik rumah ini?”

“ Ya..”

“ Ah, permisi.. Saya ingin bertanya sesuatu mengenai penyewaannya..”

Evelyn terdiam sebentar setelah meminta orang tersebut menunggunya. Ia merasa kepalanya berkunang-kunang dan pandangannya sedikit kabur untuk beberapa saat, peluhnya mengalir dengan deras secara tiba-tiba. Tangan kecilnya menyentuh tembok putih dengan perlahan, jari jemari kecilnya mulai membuka pintu dan menemukan seorang pria tersenyum padanya.

Evelyn membungkuk dan memberi salam singkat, pria itu mengatakan bahwa salah satu temannya ingin bertanya mengenai penyewaan rumah tersebut. Evelyn mempersilahkan pria itu duduk dan keduanya mengobrol cukup lama. Evelyn menjelaskan bahwa ia tidak menyewakan rumahnya, ia menyewakan tiga kamar kosong karena adiknya pergi ke Thailand untuk menyelesaikan magang disana.

“ Temanku akan sampai 5 menit lagi, anda bisa menunggunya?” Tanya pria itu. Evelyn mengangguk pelan. Peluhnya terlihat mengalir.

“ Nona, anda baik-baik saja?” Pria itu menatap Evelyn yang kini mengangguk lemah.

Tenggorokannya terasa kering, pandangannya kabur dan terasa berkunang-kunang.

Suara dering telepon terdengar, pria itu berbicara di telepon dan keluar dari rumah. Evelyn masih bisa melihat dari sudut matanya ketika seorang pria berjalan masuk ke dalam rumah, pria yang tadi berbicara dengannya mengatakan sesuatu namun Evelyn sudah tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Dia berdiri, bermaksud menyapa teman si pria, namun entah mengapa pandangannya semakin buram, nafasnya terasa berat dan segalanya gelap seketika.

 

.

 

Evelyn membuka matanya dengan perlahan, bias lampu langsung menerpa wajahnya, dia mengerjap beberapa kali dan merasakan nyeri di pergelangan tangannya. Ia menoleh dan mendapati seorang suster berada di sampingnya dengan senyum lebar.

“ Anda sudah merasa lebih baik?” Tanya Suster itu ramah.

Evelyn terdiam, menelan air liurnya dengan susah payah. Suster menatapnya dan dengan cekatan mengambilkan segelas air mineral untuk Evelyn.

“ Minum dengan perlahan nona Oh, anda mengalami dehidrasi..” Ucap sang Suster. Evelyn minum dengan perlahan sesuai dengan intruksinya.

Ia menelan dengan cukup baik, kerongkongannya jauh terasa lebih baik dari sebelumnya.

“ Mengapa aku berada disini?” Tanya Evelyn kemudian, suaranya terdengar sangat lemah.

“ Anda pingsan karena mengalami dehidrasi dan juga kurangnya asupan makanan..”

Evelyn terdiam sebentar, mengingat kejadian apa yang menimpanya.

Mengingat.

Ah, seorang pria datang ke rumahnya untuk bertanya mengenai penyewaan kamar.

Kemudian,

Seorang pria lain datang, ia berusaha menyambutnya namun kemudian pandangannya kabur dan berubah menjadi gelap.

Ah, pria itu!

“ Suster, apakah dua orang pria itu mengantarku kemari?” Tanya Evelyn lagi, Suster itu mengangguk.

“ Salah satunya sedang membereskan administrasi..”

Evelyn menghela napas.

“ Bisakah anda memanggilkannya untukku? Aku harus membayar biaya Rumah Sakit padanya. Aku tidak mengenal kedua pria tersebut..” Ucap Evelyn lagi. Suster itu menatap Evelyn bingung.

“ Salah seorang pria itu bilang ia mengenal anda dengan cukup baik..”

Kening Evelyn berkerut, belum sempat ia membuka mulut untuk bertanya pada Suster wajah Yixing muncul di balik pintu.

“ Oh, Kau sudah sadar? Kau  sudah merasa lebih baik?”

Evelyn terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba, dan mengangguk untuk menjawabnya.

“ Syukurlah, kupikir sesuatu terjadi padamu ketika kau jatuh pingsan di depanku..” Yixing berkata, menarik kursi di samping tempat tidur Evelyn. Suster mengundurkan diri dari tempatnya sejak Yixing berada disana.

“ Dokter bilang kau harus di rawat minimal dua hari.. “ Ucap Yixing sekali lagi.

“ T-tuan Zhang?”

Yixing menatap Evelyn. Keduanya saling bertatapan tanpa berkata apapun. Yixing menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“ Aku tidak akan memberitahu siapapun bahwa kau hamil..”

Akhirnya, Yixing berkata di depan Evelyn.

“ Ketika salah satu perawat memeriksamu dia meminta salah satu rekannya menghubungi Dokter kandungan untuk menanganimu.. Awalnya aku tidak mengerti, kupikir kau memiliki penyakit yang sangat serius mengenai apapun itu permasalahan wanita. Namun, Dokter itu mengatakan bahwa kau sedang mengandung dua bulan..” Yixing menjelaskan tanpa Evelyn minta.

Evelyn menghela napas, entah mengapa ia merasa malu dengan keadaannya.

“ Maaf, aku jadi merepotkanmu, Tuan—“

“ Panggil aku Yixing.. kau boleh menaggilku Yixing..”

Evelyn tersenyum kecil dan mengangguk. Keduanya kembali terdiam, perasaan canggung begitu terasa diantara mereka.

“ Ah, apakah kau yang akan menyewa rumahku?” Tanya Evelyn, mengalihkan pembicaraan.

“ A—ah, ya.. Aku berencana seperti itu..” Jawab Yixing sambil mengangguk canggung.

“ Bagaimana ini? Aku hanya menyewakan kamarnya.. Adikku pergi ke Thailand untuk menyelesaikan kerja magang, karena rumah kami besar dan—kau tahu, keadaan ku yang seperti ini.. Adikku mengatakan akan lebih baik jika aku menyewakan kamar yang ada di rumah kami..”

Yixing mengangguk.

“ Apakah kau yakin akan membiarkanku menyewa salah satu kamarmu disana?”

Evelyn menatap Yixing tidak mengerti.

“ Aku tidak sendirian. Aku berniat menyewa kamarmu dengan dua orang temanku..”

Evelyn membuka mulutnya dan mengangguk perlahan setelah mendengar ucapan Yixing.

“ Kupikir itu ide yang bagus, rumahku akan jadi lebih ramai..” Ujar Evelyn.

“ Kau yakin? Salah satu temanku adalah—Wu Yifan..”

 

. . .

 

15, Oktober.

Satu bulan baru saja berlalu semenjak kepergian Sehun ke Thailand, kehamilan Evelyn memasuki usia tiga bulan. Mual muntah yang ia rasakan di awal kehamilan masih menyergapnya, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Setiap hari, tidak peduli malam maupun pagi Evelyn berakhir terduduk lemas di bawah wastafel kamar mandi dengan air liur di sekitar dagu dan napas yang terengah. Ia kehilangan hampir 5 kilo dalam dua minggu terakhir, kedua kaki kecil tersebut bahkan sudah tidak dapat menopang tubuhnya yang semakin kurus hari demi hari, matanya semakin cekung dan juga menghitam.

Dia terlihat sangat mengerikan.

Kehamilan pertama ini benar-benar menguras tenaga dan kesabarannya sendiri. Karena terlalu sering mual dan muntah, Evelyn sampai kekurangan cairan, dalam sebulan terakhir dia sudah masuk Rumah Sakit empat kali. Dokter menyarankan Evelyn untuk tetap makan meskipun akan ia muntahkan kembali, namun, seiris jelly lembut tak dapat melalui kerongkongannya. Dokter wanita yang kini menangani Evelyn melihatnya dengan khawatir setiap kali melihat Evelyn terbaring lemah di ruang UGD seorang diri. Tenaga Evelyn terkuras, seperti isi perutnya setiap hari.

Berkali-kali dan berulang-ulang.

Hari ini, Evelyn masih terbaring di Rumah Sakit dengan selang infus di tangannya. Pagi ini dia sudah enam kali muntah, beruntung para suster sigap menjaga kestabilan tubuhnya dan merawat perempuan itu dengan sangat teliti. Evelyn menatap langit-langit, dia merasa tubuhnya sangat lelah semenjak Dokter menyatakan dia berhasil hamil, mual muntah membuatnya hampir menyerah dan menangis di minggu ke delapan kehamilannya.

Evelyn masih mengingat apa yang ia katakan pada Dokter Gong hari itu,

“ Kumohon Dok, gugurkan bayi ini.. Biarkan dia pergi dari kehidupanku.. Aku benar-benar tidak kuat lagi..”

Evelyn pernah bertanya pada Dokter apakah seluruh wanita hamil mengalami mual muntah parah seperti yang tengah ia jalani sekarang? Dokter bermarga Gong itu mengatakan apa yang Evelyn alami hanya setengah dari penderitaan para ibu hamil.

“ Mengandung seorang anak tidaklah mudah, nona Oh.. Maka dari itu, aku sedikit terkejut ketika mendengar fakta bahwa kau melakukan Inseminasi bahkan tanpa status pernikahan..” Ucap Dokter Gong. “ Tapi, semua penderitaanmu akan berakhir ketika kau berhasil melahirkan bayi kecilmu di dunia.”

Evelyn menghela napas, mengelus perutnya lembut. Dia tidak akan melupakan apa yang Dokter Gong ucapkan, dia merasa menyesal pernah berpikir untuk membunuh bayinya, dia hanya harus terus bersabar sampai bayi yang ia nantikan lahir. Ini keinginannya. Menjadi seorang ibu dan memiliki seorang anak adalah impiannya.

Rrrr…..Rrrrr……Rrrrrr!

Suara telepon mengejutkan Evelyn, dia melirik ke arah meja di sebelah kasurnya, senyumnya mengembang ketika sebuah nama muncul disana.

“ Eve? Kau sudah keluar dari Rumah Sakit?”

Suara khawatir itu menenangkan hati Evelyn dengan seketika.

“ Aku belum keluar Rumah Sakit, Oh Sehun..”

“ Kau yakin baik-baik saja?” Tanya Sehun lagi.

“ Kuharap begitu..”

Suara helaan napas terdengar dan Evelyn tersenyum kecil, mendengarkan ocehan Sehun yang mengatakan bahwa keputusannya untuk memiliki seorang anak adalah kesalahan, entah mengapa omelan itu membuat hati Evelyn bahagia. Jujur saja, semenjak ia hamil perasaannya menjadi sensitif. Terkadang Evelyn bisa sangat merasakan kesepian dan tak di perhatikan.

“ Berhenti mengomel, Oh Sehun.. kupikir aku akan pingsan lagi jika mendengar ocehanmu..” Ujar Evelyn menghentikan ucapan Sehun di seberang sana.

“ Terserah kau saja..” Jawab Sehun, kesal.

“ Tenang saja, aku akan bertahan dan membuatmu menyesal karena berkata bahwa mengandung keponakanmu adalah kesalahan.. Lihat saja, aku akan membuatmu jatuh cinta pada bayiku!”

Sehun kemudian terkekeh.

“ Kalau begitu kau harus sehat, kau tidak ingin membuat bayimu kekurangan gizi kan? Meskipun makanan yang masuk ke mulutmu akan kau muntahkan kembali setidaknya kunyah dan telan agar anakmu bisa merasakannya..” Ucap Sehun, Evelyn tersenyum dan mengiyakan ucapan Sehun.

Keduanya saling berbicara selama sepuluh menit di telepon, Sehun sangat merindukan Evelyn begitupun sebaliknya. Hanya saja mereka tidak pernah saling mengucap kata rindu. Evelyn yakin jika kata rindu terucap dari bibirnya akan membuat Sehun menyerah atas mimpinya dan Sehun tahu jika Evelyn mendengar ucapan rindu dari bibirnya, perempuan itu akan menangis dan Sehun tidak akan berpikir panjang untuk kembali pulang ke Korea, meninggalkan mimpinya.

Maka dari itu, meskipun ucapan rindu hampir keluar dari mulut mereka berdua. Hanya keheningan yang tercipta di antara keduanya.

“ Apakah pria bernama Yixing itu masih terus mengunjungimu?” Tanya Sehun pada Evelyn di ujung telepon.

“ Ya, dia mengunjungiku hampir setiap hari jika aku berada di Rumah Sakit..” Jawab Evelyn.

“ Apa yang dia lakukan? Jangan-jangan dia menyukaimu..” Keluh Sehun. Evelyn terkekeh.

“ Tidak, bukankah sudah ku bilang padamu jika ia dan Yifan serta salah satu temannya tengah membutuhkan sebuah tempat tinggal? Hanya saja, dia sedang mencari ide bagaimana memberitahu Yifan tentang kehamilanku..”

Sehun menghela napas di seberang sana.

“ Mengapa itu jadi hal yang sangat sulit? Katakan saja pada si China Kanada itu tentang kehamilanmu..”

Evelyn terdiam sebentar.

“ Entahlah, Yixing bilang dia tidak bisa dengan santai memberitahu Yifan tentang kehamilanku.. Dia masih bertanya padaku apakah suatu hari nanti ayah si bayi akan datang dan salah sangka pada hubungan mereka jika ketiganya tinggal disana..” Evelyn menjelaskan pada Sehun.

“ Kau tidak memberitahunya?”

“ Apa?”

“ Kau melakukan Inseminasi..” ujar Sehun.

“ Sudah kubilang, entah mengapa aku merasa malu mengatakannya.. Rasanya, ada yang salah. Apakah dia akan menyangkan aku gila? Maniak?”

Sehun mendengus dengan kasar.

“ YA! Evelyn Oh! Kau baru memikirkannya sekarang? Sudah kukatakan padamu bahwa memiliki seorang anak lewat jalur Inseminasi tanpa pernikahan adalah hal gila!” Ucap Sehun dengan suara yang bernada agak tinggi.

“ YA! OH SEHUN! Kau berani mengatakan ‘YA’ padaku?!”

“ Cih!” Suara Sehun terdengar.

“ Tidak kubiarkan kau pulang untuk melihat keponakanmu jika kau tidak sopan padaku! Berhenti memanggilku dengan nama, panggil aku NOONA..”

“ Noona pantatmu!” Ucap Sehun lagi.

“ Nona Oh, waktunya pemeriksaan..” Suara Suster menginterupsi ‘pertengkaran’ Sehun dan Evelyn, keduanya saling berpamitan.

“ Apakah adik anda menelepon lagi?” Tanya Suster cantik di depan Evelyn, Suster itu tersenyum, membantu Evelyn bangun dari tidurnya dan membuatnya terduduk di kasur untuk beberapa saat.

“ Ya.. Dia menelepon lagi..” Jawab Evelyn dengan senyum.

“ Sepertinya kalian berdua akrab sekali..” Suster kembali berkata, menopang tubuh Evelyn untuk duduk di atas kursi roda. Evelyn berusaha bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kursi roda, kakinya benar-benar lemah, dia tidak kuat berdiri lebih dari 10 menit tanpa pingsan.

Evelyn terduduk di atas kursi roda, mengamati Suster yang tengah mengatur cairan infusnya.

“ Kami memang dekat, karena kami tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini..” Ucap Evelyn. Suster itu mengangguk dan melanjutkan percakapan dengan Evelyn. Keduanya bercakap-cakap dengan cukup akrab, diam-diam Evelyn bersyukur para suster berbaik hati padanya, terkadang mereka bahkan lebih seperti saudara ketika memperlakukan Evelyn.

“ Selamat sore, Nona Oh..” Dokter Gong menyapa dengan senyum lebar, wanita berusia 48 tahun itu berjongkok di depan Evelyn dan mengelus perutnya.

“ Bagaimana? Apakah malaikat kecilmu hari ini menolak makan lagi?” Tanyanya.

Evelyn mengangguk dan tersenyum.

“ Nona Oh makan dan kembali muntah sebanyak enam kali hari ini, Dok..” Jawab Suster, menyerahkan data pada Dokter yang kini mengangguk.

“ Apa yang anda rasakan hari ini, nona Oh?” Tanya Dokter.

Evelyn terdiam sebentar, sedang berusaha bangun menuju tempat tidur pemeriksaan.

“ Perut saya sedikit tidak nyaman hari ini, terasa tegang seperti kram..” Evelyn berkata dengan suara pelan, dia mencium bau obat steril dari ruangan Dokter dan itu membuatnya semakin mual.

Dokter mengangguk, Suster memberikan gel dingin di atas perut Evelyn dan Dokter mulai menempelkan alat USG di perut Evelyn. Wajah Dokter berubah terkejut begitupun dengan Suster ketika melihat ke arah monitor, Evelyn bisa menangkap perubahan wajah keduanya, ada sesuatu yang membuat hatinya merasa tidak enak.

. . .

Chanyeol baru saja pulang dari kerja sambilannya yang sekian, sekarang dalam sebulan dia hanya memiliki hari libur satu hari. Tubuhnya sangat luar biasa pegal seperti hampir patah di setiap sudutnya. Dia sedang merebahkan tubunya di sofa kecil di atas kantor Yifan. Ia menghela napas dengan kuat.

Setelah pindah ke Cafe Yifan, dia masih belum juga mampu untuk membeli makanan dengan uang sendiri. Entah Yifan maupun Yixing akan menyiapkan sarapan maupun membelikannya makan siang dan memberikannya di tempat kerja. Ia sangat malu, namun tak ada yang dapat ia lakukan.

“ Hei, kau sudah pulang?”

Chanyeol menoleh dan medapati Yixing masuk ke dalam ruangan dengan pakaian lumayan rapi.

“ Kau habis darimana?” Tanya Chanyeol, alih-alih menjawab pertanyaan Yixing.

“ Ah, aku hanya ada perlu.. Kau tidak bekerja?”

Chanyeol menggeleng.

“ Baguslah.. Ada yang ingin aku katakan padamu dan juga Yifan hari ini..” Ujar Yixing.

Chanyeol bangun dari tidurnya dan duduk dengan wajah penasaran menatap Yixing.

“ Kau menemukan tempat tinggal  baru?”

Yixing mengangguk.

“ Benarkah? Dimana? Sebuah Apartemen? Depositnya berapa?” Chanyeol memberikan banyak pertanyaan pada Yixing.

“ Aku akan menjelaskannya setelah Yifan berada disini..” Jawab Yixing, Chanyeol menekuk wajahnya kesal. Chanyeol beranjak dari tempat duduk, melepas baju dan celananya kemudian masuk ke kamar mandi, sambil menunggu Yifan menyelesaikan urusan di bawah, ia akan mandi dan merebahkan tubuhnya lagi yang terasa kaku.

Setelah menunggu Yifan menutup toko dan membereskan segala hitungan penjualannya hari ini, Yixing mengumpulkan keduanya di sofa. Sepertinya pembicaraan kali ini akan jauh lebih serius karena tatapan Yixing menyiratkan hal itu.

“ Kau sudah bertanya tentang tempat tinggal yang baru?” Tanya Yifan.

“ Aku sudah mendapatkannya, hanya saja orang ini tidak menyewakan rumahnya. Ia menyewakan tiga kamar yang berada di rumahnya. Lokasi rumahnya sangat strategis, dari gedung kantorku hanya 15 menit menggunakan angkutan umum, menuju Cafemu hanya 5 menit dan Chanyeol tempat ini sangat dekat dengan bank serta klub malam tempatmu bekerja..”

“ Sepertinya rumah itu berada di pusat kota..” Ucap Chanyeol, Yixing mengangguk membenarkan.

“ Harga sewanya pasti mahal!” Chanyeol kembali berkata.

“Dia hanya meminta 100 ribu won dari kita bertiga setiap bulannya..”

Chanyeol dan Yifan menatap dengan terkejut setelah mendengar Yixing berkata hal itu.

“ Kau yakin itu bukan puri berhantu?” Tanya Yifan, bulu kuduknya meremang seketika.

Yixing memutar kedua bola matanya dan melempar gulungan kertas ke arah Yifan.

“ Itu karena pemiliknya mengenal kita bertiga secara baik.. Dia hanya ingin meminta kita menemaninya sampai adiknya kembali dari kerja magang di Thailand..”

“ T-tunggu dulu, maksudmu—“

“ Ya, pemiliknya adalah Evelyn Oh..”

Chanyeol cukup terkejut mendengarnya. Karena ia sama sekali tidak mengetahui apapun tentang kehidupan Evelyn Oh, jadi ketika Yixing berkata demikian ia sempat bertanya-tanya siapa yang Yixing maksud.

“ Dia memiliki rumah yang sangat besar? Di tengah kota?” Tanya Chanyeol.

Yixing mengangguk.

“ Yifan, bagaimana?” yixing menatap Yifan yang terdiam.

“ Namun, ada satu hal yang harus aku beritahu pada kalian berdua.. Terutama kepada Yifan.. Ku harap kau tidak terlalu terkejut dengan berita ini..”

Yifan menatap Yixing dengan tatapan bingung, Yixing menelan ludahnya, ia sudah membicarakan hal ini dengan Evelyn beberapa waktu lalu, perempuan itu sudah menyetujui segalanya termasuk memberitahukan berita kehamilannya pada Chanyeol dan juga Yifan.

Jadi, Yixing menarik nafas dalam-dalam dan dengan perlahan mulai berbicara mengenai apa yang terjadi pada Evelyn, tentang kehamilannya yang membuat bola mata Yifan hampir keluar.

. . .

 

“ Ada apa, Dok?” Tanyanya, penuh kekhawatiran. Dia benar-benar sangat takut sesuatu terjadi pada bayinya, meskipun ia telah berkata kasar dan juga menyakitkan tentang bayinya, Evelyn tidak ingin sesuatu terjadi pada janinnya.

Dokter masih terus memainkan alat tersebut di atas perutnya, jantung Evelyn sudah berdetak sangat cepat untuk mengetahui permasalahan yang menimpa janinnya.

Dokter menatap Evelyn dan kemudian tersenyum.

Evelyn menangkap senyum tersebut.

“ Nona Oh, coba perhatikan monitor di depan anda..” Ujar Dokter Gong.

Evelyn menatap layar monitor yang menampilkan rahimnya, bulat, dengan titik, apa ada yang salah dengan bayinya?

“ S..Saya tidak mengerti..” Ucap Evelyn, gugup.

“ Anda melihat dua sisi kantung?” Tanya Dokter Gong.

Evelyn mengangguk.

“ Normalnya, seseorang akan memiliki satu kantong ketika hamil..”

Evelyn terdiam, masih mencerna ucapan Dokter Gong.

“ Jika di dalam satu rahim terlihat dua kantong seperti ini, itu tandanya anda tidak hanya memiliki satu bayi..”

Evelyn menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya memerah dengan mata penuh air. Dia mengerti arah pembicaraan Dokter Gong.

“ Selamat nona Oh, anda memiliki bayi kembar..”

Airmata Evelyn tidak bisa di bendung lagi.

Tidak ada berita paling membahagiakan di hidupnya selain Inseminasi yang dilakukannya berhasil dan dia sedang mengandung bayi kembar. Kebahagiaan ini memenuhi seluruh hatinya, Dokter tersenyum lebar, Suster menyeka airmata Evelyn.

“ Ini yang membuat kehamilan anda begitu melelahkan Nona Oh, di kehamilan pertama anda sudah mendapatkan Jackpot yang luar biasa, tubuh anda sedang menyesuaikan diri.. Saya berharap mual muntah anda akan berhenti di usia kehamilan lima bulan.. Sekali lagi selamat Nona Oh..”

Evelyn hanya bisa menangis tersedu, bahkan ketika Dokter pertama kali memperdengarkan detak jantung kedua calon bayinya. Detak jantung berbeda dengan irama yang sama. Bulir-bulir airmata kebahagiaan mengalir. Evelyn berjanji akan terus berusaha untuk makan apapun meskipun ia muntahkan kembali, dia harus memberi kedua bayinya gizi yang cukup untuk tumbuh. Kini dia telah menjadi seorang ibu dari dua malaikat kecil yang akan segera hadir di dalam hidupnya dalam beberapa bulan ke depan.

 

 

Continued..

65 responses to “Who’s A Daddy? — Four

  1. Pingback: Who’s A Daddy? — Five | FFindo·

  2. wah kembar ya..
    humm kyak’y kalo evelyn tau siapa yg udah donor sperma wat inseminasi’y bakal bingung siapa daddy’y, satu aja bingung nanti siapa daddy’y kalo dari 3 sperma tu yg jadi 2/ kembar ttp aja tambah bingung.. btw yg di inseminasi tuh 3pendonor sperma di kawinin sama indung telur evelyn?? ato cuma 1 pendonor sperma yg di kawinin sama indung telur’y evelyn?? masih bingung n makin penasaran sama teka teki siapa daddy dari anak’y evelyn nanti hee

  3. sempet kaget evelyn pernah minta buat gugurin tapi untungnya gajadi. yaampun anaknya kembar. selamat ya. wah kalo sehun tau pasti seneng nih.
    aku baca kelanjutannya dulu ya

  4. kembar ya? waaaaah senangnyaaa
    gimana sih reaksi yifan , aku udh lama ga baca posting sblmnya. emg yifan ama evelyn pernah pacaran? atau gimana?

    hmmm 😕😕

    penasaran thor lanjutkan!!! 💐💐💐💐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s