[Chapter 7+8] Fleas Love

 

(NEW) Fleas Love

Jihan Kusuma Present

kim JONGIN|na RUMI|park CHANYEOL

Romance|SchoolLife

Chapter 1|2|3+4|5|6|7+8


Annyeonghasehun! Keknya Han lama engga update deh, atau emang waktu yang berasa lama karena Han lagi ujian praktek T___T Maklum kelas 9 jadi ya begini… oh ya buat readers-nim jangan panggil aku Thor ya… Han bukan membernya Avengers. Cukup sapa ‘Han’ aja aku sudah terbang sampai ke langit-langit. Nama asli Jihan biasa dipanggil Han, dan kebetulan biasku Luhan. Sama-sama HAN😀 /jadi ngomongin apa ini/

Yaudah baripada cingcong ini double updatesnya😀 happy reading!!!


CHAPTER 7


Na Rumi’s POV

Sayang sekali, Chanyeol tidak bisa ikut olahraga. Padahal hari ini sangat cerah dan asik untuk bermain lompat tali atau bola voli. Tadi ketika dia datang, aku sempat melihat perban tertempel didahi kanannya. Sudut bibir Chanyeol membiru. Dia babak- belur dan aku tidak tahu apa yang menimpanya. Ketika kutanyai kenapa bisa begini, dia hanya tersenyum dan menjawab, kemarin aku menolong seorang wanita tua dari kejaran pencopet lalu aku sempat bertarung dengan pencopet itu.

Tetapi entah mengapa aku tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang telah Chanyeol katakan. Aku kenal betul siapa lelaki itu dan gelagatnya sehari-hari. Chanyeol tidak pernah bersikap seaneh ini dan menutup-nutupi sesuatu dariku. Dia akan selalu bercerita secara terus terang. Namun, hari ini. Aku seolah kehilangan Chanyeol yang seperti itu.

Kemarin, aku sengaja pulang lebih awal untuk pergi membeli danmuji, wortel, dan sedikit ham. Aku ingin membuat kimbab untuk Chanyeol. Entah mengapa, usai mendengar cerita kasihannya kemarin aku tertarik untuk menghiburnya. Yah, setidaknya mengenalkan lelaki itu dengan makanan masa kecilku yang sangat kusukai ini pasti bisa membuatnya senang. Aku harus membalas perhatian lebih yang telah lelaki itu berikan padaku.

“Chanyeol!” aku mengayunkan tangan sambil tersenyum kepada lelaki itu yang sedang duduk dibawah pohon. Sedari tadi dia hanya mengamati anak-anak yang bermain lompat tali disana. Kurasa luka di bibirnya itu parah. Chanyeol hari ini tidak banyak bicara. Tetapi, begitu mendapati diriku yang datang mendekat dia langsung tersenyum lebar. Aku jadi khawatir senyum itu dipaksakan.

“Rumi.” balasnya. Aku berdiri didepan lelaki itu dengan sebuah senyuman sumringah. Chanyeol menggerling mendapati senyumanku.”Kenapa kau tersenyum semanis itu? Kau ingin kutelan sekarang juga?” tanyanya curiga. Aku menggeleng sembari terus menyembunyikan kotak makanan yang ada dibelakang punggungku. Dia pasti akan sangat senang. “Apa yang kau sembunyikan itu? Ah… kau mau memberiku sesuatu?” tanyanya. “Ne.” aku mengangguk lalu menampakkan sebuah kotak makanan bentuk kepala panda. Itu kotak makanku ketika aku masih SMP. “Tadaaa!”

“Wah, apa itu?” tanyanya ingin tahu. “Anggap saja ini balasanku untuk cerita panjangmu kemarin.” aku duduk disamping Chanyeol lalu membuka penutupnya. Aroma ham dan minyak wijen yang menjadi satu membuat kimbab yang kubuat semakin menggugah cacing malang yang sedang berenang-renang dalam lambungku. Ya! Bagaimanapun aku baru saja olahraga, dan aku lapar sekarang.

“Kau membuat kimbab?” tanyanya dengan kedua mata melebar. Aku mengangguk kemudian meraih sumpit yang terselip diantara potongan kimbab. Oh ya, kenapa aku hanya membawa satu pasang sumpit?

“Chanyeol, aku akan kekantin dulu.”

“Kenapa? Kita bisa memakan ini bersama.” tanyanya bingung.

“Um, aku akan meminjam sumpit. Aku hanya bawa sepasang.” =o=

“Hey kemarilah.” ^-^

Aku kembali duduk di samping lelaki itu. “Tidak perlu sumpit lagi. Karena aku sedang sakit, maka kau yang harus menyuapiku.” Chanyeol tersenyum jahil. Dia berhasil membuat kedua pipiku memerah. Kenapa aku jadi malu? Sebelumnya aku tidak pernah menyuapi lelaki. =o=

“Hah, sebaiknya aku…”

“A’a! Suapi aku Rumi.” dia memanyunkan bibir dengan manja. Yaaa! Sejak kapan Chanyeol memiliki sifat kekanakan dan manja seperti ini. Kurasa sifat aslinya mulai terlihat. Kuhembuskan nafas lalu menggenggam sumpit dan menjepit sepotong kimbab.

“Jangan buka mulutmu terlalu lebar, atau lukamu akan semakin parah. Aku tahu bila bibirmu itu masih ngilu.”

Chanyeol mengunyah kimbab buatanku sambil terdiam dan mengecap rasanya. Aku memandang wajah datarnya dengan takut. Selain pertama kali menyuapi lelaki, ini juga kali pertama aku membuat makanan untuk orang lain. Semoga saja rasanya tidak buruk. “Tidak enak?” tanyaku lirih. Dia menatapku dengan kedua matanya yang sedikit menyimpit seolah berusaha menemukan sehelai benang pendek yang tenggelam dalam bola mataku. Ayolah, tatapan itu membuatku berdebaran.

“Rumi, apakah kau pernah menjuarai kompetisi membuat kimbab?” tanyanya dengan konyol. Dia terlalu melebihkan masakanku. Aku meninju pundak lelaki itu sambil tersipu. “Tidak usah berakting. Kimbab buatanku biasa saja kok.”

Dia tertawa lirih. “Ayo, aku ingin makan lagi. Aaak…”. Kumasukkan lagi sepotong kimbab kedalam mulut besarnya yang sudah kosong. Dia ini doyan, lapar, atau memang rakus? =o=

“Kao mokonloh jugo.” cetus Chanyeol dengan mulutnya yang penuh. Suara itu sangat lucu. Aku menertawakannya lalu ikut makan sepotong kimbab. Kenapa rasa laparku jadi berkurang hanya dengan melihat lelaki ini makan dengan lahap? Aish, Chanyeol…

“Um, maafkan pertanyaanku kemarin… Aku tidak tahu kalau…” hampir saja aku mengungkit tentang masa lalunya.

“Ne, itu sama sekali bukan masalah.” sahutnya. Chanyeol tersenyum kecil. “Ibuku memang sudah meninggal sejak aku kecil, bahkan sekarang aku sudah tidak mengingat wajahnya. Yang aku ingat hanya lesung pipi gadis itu dan kulitnya yang putih seperti salju.” lelaki itu tersenyum lagi kearahku membuat aku membeku melihatnya. Meskipun kata-kata barusan diutarakan dengan senyuman namun aku tahu dia rapuh didalamnya. Chanyeol hanya berpura-pura baik-baik saja dihadapanku. Dan aku tidak ingin dia seperti itu. Aku ingin dia apa adanya tanpa ada sesuatu yang ditutup-tutupi. “…aku hanya butuh seorang perempuan yang bisa memberikan bahunya untuk tempatku bersandar dan bisa menggantikan sosok ibu dalam hidupku.” tambahnya sambil menatap lurus kedepan. Aku terseyum tipis dan memaklumi kata-katanya. Dia hanya lelaki yang membutuhkan kasih sayang. Aku menoleh dan mengalihkan pandangan kearahnya.

“Chanyeol-ah…” panggilku.

“Ne?”

“Kau bisa gunakan bahuku untuk sementara.” aku menepuk permukaan bahu kananku sembari tersenyum lebar kearahnya. Sudut bibir lelaki itu kembali terulur dan dia mendekat lalu menyandarkan kepala diatas bahuku yang kecil dan rata. Kulihat Chanyeol memejamkan matanya dan menikmati momen ini. Aku senang melihat itu.

O – O – O – O – O

Jam istirahat kedua dihari ini sangat ramai. Tepatnya diramaikan oleh sebuah insiden langka. Insiden tersebut terjadi di ruang ganti lelaki. Aku tidak begitu mengerti bagaimana kejadiannya, karena tidak mungkin jika aku masuk ke ruang ganti itu dan melihat sediri apa yang sedang berlangusung.

Ya, jadi,

Berita itu kudengar dari mulut-ke mulut juga hasil menguping dari satu sumber-ke sumber yang lain. Dan betapa kagetnya diriku usai mendengar siapa pelaku dari ini semua. Aku langsung menutup mulut degan nafas yang masih terkumpul mencekat tenggorokan.

Jongin? Jongin telah berkelahi dengan seorang siswa dari kelas dua belas? Apa aku tidak salah dengar? Apa lagi yang dilakukan bocah itu? Sebenarnya dimana letak rasa takutnya? Kenapa Jongin tidak bisa berhenti berulah? Entah mengapa, setelah mengetahui berita ini, jantungku langsung berdebaran. Kudorong kumpulan penggosip yang memenuhi lorong samping kantin. Dengan segera aku berlari menuju lapangan basket untuk menemui lelaki itu, tetapi dia tidak disana, tidak ada. Aku menuju lorong ruang ganti lelaki, disana masih ramai. Beberapa dari mereka adalah lelaki basket dan sebagian sisanya merupakan mantan lelaki basket. Ditengah-tengah mereka ada Kang Sonsaenim, guru olahraga. Gerombolan itu tampak membicarakan sesuatu yang serius. Bisa kulihat muka merah Kang Sonsaenim, pertanda dia sedang emosi. Mungkin membicarakan tentang perkelahian barusan. Dan, lagi, baru kusadari jika salah satu dari siswa kelas dua belas sedang duduk sambil memegangi wajahnya yang luka-luka. Dia… dia pasti yang berkelahi dengan Jongin. Lalu dimana Jongin? Mungkin lelaki itu kabur.

Aku panik. Segera kukelilingi sekolahan. Aku harus menemukan Jongin. Taman, lapangan basket, belakang lapangan basket, belakang kantin, kamar-kamar mandi, semua sudah kukelilingi hingga lututku nyaris patah. Dan Jongin tidak ada. Kuputuskan untuk pergi ke sebuah tempat terakhir yang sebelumnya sudah kupikirkan tetapi tidak kuyakini. Sebuah tempat paling sepi disekolah ini.

Pepohonan kering yang ada dibagian barat sekolahan.

Tempat itu dekat dengan sungai yang sepi karena memang tidak ada apa-apa ditempat itu selain tumpukan daun kering yang hampir melapisi seluruh permukaan tanah disana. Kuberanikan diriku untuk melangkah ke tempat itu. Jantungku berdetak lebih cepat ketika melihat seorang lelaki yang tidak memakai jas sekolah sedang duduk dibawah pohon dengan daun yang sebagian besar telah mengering. Aku tidak percaya akan apa yang tampak didepan indera penglihatanku. Itu Jongin. Ya, sejak kapan dia menjadi penyendiri?

“Jongin!” panggilku dari kejauhan. Dia menoleh menampakkan wajahnya yang babak belur. Aku semakin panik dan mengkhawatirkannya. Aku juga tidak tahu dari mana datangnya perasaan ini. Sebuah suara lirih dalam hati kecilkulah yang berbisik jika Jongin sedang membutuhkanku.

Aku berlari dan berlutut didepan Jongin. “Kenapa kau kemari?” tanyanya dingin. “Seharusnya aku yang bertanya mengapa kau kemari. Lihat dirimu, kenapa tidak ke UKS? Kau malah menyendiri dan diam disini.” aku mengomel didepan wajahnya yang berantakan. “Ayo ke UKS!” aku menarik tangan Jongin.

“Aduh,” rintihnya. “Kau menyakiti lenganku.” ucapnya sambil meringis kesakitan.

“Karena itu ayo ke UKS.”

“Tidak perlu.”

“Jongin!”

“Aku benci bau obat-obatan.”

“Kau tidak akan sembuh jika begini. Obat-obatan itu yang akan menyembuhkanmu.”

“Aku tidak suka obat-obatan.”

“Lalu bagaimana caramu agar bisa sembuh hah?”

“Obati aku.” ujarnya datar sambil menatapku.

“Heh?”

“Obati aku Rumi.”

“Bagaimana caranya? Aku bukan tim UKS.”

“Obati aku dengan cara apapun.”

“Jongin, bukan saatnya bermanja-manja.”

“Kau mencemaskanku kan?”

“Eh?”

“Itu kan sebabnya kau mencariku?”

“Aku mencarimu untuk kubawa ke UKS.”

“Tetapi Tuhan mempertemukanmu denganku untuk mengobatiku.” Jongin mulai tersenyum aneh lagi. Oh ya, sejak kapan lelaki ini suka berbicara tentang Tuhan? Sangat bukan Jongin yang kukenal. Ayolah, aku tidak sedang ingin bermain-main. Tiba-tiba Jongin menarikku sampai aku tersungkur diatasnya. Hey, wajah kami hampir bertemu. “Obati aku atau kau kucium sekarang juga.”

“Yak! Ancaman macam apa itu?”

“Aku sudah siap untuk menciummu.” Jongin memperlebar senyumannya.

“Eh ba-baiklah! Tapi tunggu, apa yang bisa kugunakan untuk mengobatimu?”

“Bukankah aku sudah bilang untuk gunakan apa saja.”

Kumasukkan tanganku ke saku dan menemukan sesuatu. Sapu tangan. Aku bangkit dari tubuhnya kemudian merangkak menuju sungai dan mencelupkan sapu tanganku disana.

Jongin’s POV

Perempuan itu mendekat lagi kearahku yang duduk sambil menunggunya. Tidak kusangka dia bisa perhatian seperti ini. Rumi mensejajarkan wajah kami dan mengamati luka di wajahku. Aku bisa melihat matanya yang indah. Mata yang seolah memancingku untuk meloncat dan berenang didalamnya. Mata yang menyejukkan bila dipandang dengan jarak sedekat ini. Perempuan itu mendekat dan mulai mengusap luka dipipi kiriku. Aku tidak merasakan sakit sama sekali, aku terlalu sibuk mengaguminya. Ternyata. Anggapan semua orang bila gadis ini tidak menarik itu salah. Aku membuktikannya sekarang juga. Dia tidak cantik dalam parasnya, dia juga tidak memiliki tubuh yang indah seperti para lelaki inginkan, tetapi,… kurasa hanya aku yang bisa melihat sesuatu dalam dirinya itu. Kecantikan dari dalam dirinya yang memancar dari kedua bola mata indah itu. Kuangkat tanganku merambat menuju dadaku yang terasa berdebum kencang sedari tadi. Kenapa aku jadi begini? Kenapa aku bergetar? Kenapa jantungku berdetak lebih cepat ketika kutatap kedua iris bening berwarna hitam itu. Iris bening sehitam permata yang seakan terus meneteskan tetesan air jernih dan melubangi batu keras dalam diriku dari waktu ke waktu sehingga batu itu kian melunak. Belum pernah kurasakan sensasi semacam ini sebelumnya ketika aku berdekatan dengan perempuan manapun. Hanya gadis ini. Hanya Rumi yang bisa membuat sebuah gedung bertingkat yang terbangun dengan kokoh dalam diriku menjadi runtuh.

“Sudah selesai.” ucapnya. “Eit, Jongin, kau melamun!”

“Hah?”

“Ternyata kau benar melamun. Eh, itu kenapa? Apakah dadamu juga sakit?” dia menujuk tanganku yang masih menempel di dada. “Ah, aniyo.” kenapa jadi aku yang salah tingkah begini?

“Sudah selesai kan? Ayo kita kembali. Sepertinya kelas sudah masuk.”

Kali ini aku menurut. Rumi melingkarkan tanganku di lehernya dan membantuku berjalan seperti seorang korban kecelakaan. Kusertai langkah-langkah kecilnya dengan kakiku yang pincang sebelah. Benar, apa kata gadis itu. Kelas sudah masuk. “Apakah aku perlu mengantarmu ke kelas? Namun sepertinya kau harus ke…. Eh, Chanyeol.” tunjuk Rumi kepada seseorang yang sekarang sedang berada dihadapan kami. Dia menatapku dan Rumi dengan pandangan dingin yang seolah bisa membekukan api sebesar apapun.

“Rumi, jadi kau… sebenarnya Lim Sonsaenim yang menyuruhku untuk mencarimu. Tapi ternyata kau dengan dia.”

Aku menemukan keanehan pada cara Chanyeol memandang Jongin. Tampak penuh dengan kebencian. Ya, aku mulai bisa menerjemahkan situasi yang terjadi diantara mereka.


CHAPTER 8


Na Rumi’s POV

“Eh, Chanyeol. Bisakah kau bantu aku membawa orang ini ke UKS?” tanyaku sambil terus menahan berat tubuh Jongin. Chanyeol dan Jongin tampak berpandangan satu sama lain. Ada apa diantara mereka? Apa mereka sudah saling mengenal? Chanyeol terdiam ditempat dan aku masih menunggu jawaban darinya.

“Ne, akan kubantu.” jawabnya lirih kemudian menghampiri kami. Dia menyampirkan tangan kiri Jongin ke pundaknya yang tinggi. Memang tinggiku dan Chanyeol sangat kontras sehingga Jongin sedikit susah menyesuaikan.

Kami membantu lelaki malang itu ke UKS. Chanyeol mendudukkan Jongin diatas ranjang pasien. Kenapa keadaannya sangat canggung begini. Kalau mereka tidak saling kenal, seharusnya sekarang kedua orang itu berkenalan. Tetapi bukan itu yang kulihat. Seperti terjadi sesuatu diantara mereka.

“Eum, terimakasih Chanyeol-ah. Jongin, kau disini dulu… aku akan memanggil penjaga UKS untuk merawatmu.” namun sebelum aku melangkah menjauh Jongin segera menangkap lenganku dan menahanku. Kami bertukar pandangan sejenak. Kulihat wajahnya yang kacau dengan luka yang masih empuk.

“Mwo?” tanyaku.

“Aku mau kau yang merawatku…” bisiknya lirih.

Dan pada saat itu juga Chanyeol menggenggam lenganku yang satunya. “Rumi, Lim Sonsaenim mencarimu.”

Kenapa situasi ini menjadi lebih sulit. Sebenarnya ada apa dengan kedua lelaki ini? Kupandang kedua wajah kedua lelaki itu bergantian dan berakhir di wajah Jongin yang memprihatinkan. Kurasa aku memang harus memilih salah satu. Dengan berat hati kusingkirkan tangan Chanyeol dari lenganku.

“Mianhae Chanyeol-ah, tolong katakan padanya aku sedang mengurus seseorang di UKS. Kalau dia menghukumku, aku bisa terima.” ucapku lembut. Kedua mata besar Chanyeol terarah ke Jongin selama beberapa saat dan aku tahu itu. Benar. Sesuatu pasti terjadi diantara mereka dan aku harus tahu apa itu.

“…baiklah, aku akan kemari lagi nanti.” Chanyeol keluar dari ruang UKS. Kepergiannya menyisakan suasana hening di antara aku dan Jongin. Kali ini aku melepas genggaman tangan Jongin yang masih erat menahan lenganku.

“Aku akan mengambilkanmu perban dan antiseptik.” ujarku kemudian melangkah ke rak obat dan mengambil segulung perban, kapas, dan sebuah botol obat. Kuusap luka Jongin dengan pelan sambil mengoleskan obat. Kemudian kututup dengan perban. Lalu aku beralih ke luka-luka memar yang tidak separah luka pada dahinya. Diantaranya di rahang, disudut bibir tebal Jongin, dan di sudut matanya. Entah mengapa aku merinding melihat Jongin yang menatapku seperti itu dan hal itu membuatku salah tingkah.

“Rumi.” panggilnya.

Aku mengenggak ludah. “Ne?” tanyaku.

“Apa kau masih mencintaiku?” tanyanya pelan. Pergerakan tanganku terhenti seketika. Aku beralih memandang mata Jongin. Kenapa dia bertanya seperti itu?

Apakah aku masih mencintainya? Jujur. Aku jadi lebih mencintainya saat ini. Dengan sikapnya kepadaku dan hubungan kami yang kurasa semakin dekat dari hari ke hari. Aku senang berada di dekatnya, aku senang merasakan detak jantungku yang kian cepat setiap berada di dekatnya, aku suka arah pikiran lelaki ini yang selalu merasa bila dia bisa melewati segala sesuatu seorang diri. Jongin yang pemberani. Dan, baru kuketahui bila lelaki ini seorang penyendiri. Dibalik dirinya yang terlihat kokoh aku tahu jika ada kelembutan dalam diri Jongin. Tidak selamanya lelaki itu kasar dan liar.

“Apakah kau masih mencintaiku Rumi?” ulangnya.

“…kenapa kau tanyakan hal itu? Itu membuatku malu.” kuletakkan kapas basah yang telah ternoda darah ke kotak stenlis.

“Jawab pertanyaanku. Apa kau mencintai Chanyeol?” kali ini pertanyaan itu membuatku kaget. Kenapa dia membawa-bawa nama Chanyeol?

“Aku hanya berteman dengan Chanyeol dan kami dekat.”

“Tapi kau menyukai dia kan?”

“Aku menyukai Chanyeol sebagai teman, dia sangat perhatian padaku dan aku senang berteman dengannya. Tapi kami-”

“Bukankah aku sudah peringatkan padamu untuk tidak dekat dengan lelaki itu?” Jongin mengguncang tubuhku. Nada bicaranya kian meninggi. “Jongin, ada apa denganmu? Ada apa dengan Chanyeol? Kenapa kau menekanku seperti ini? Lalu apa masalahnya jika aku dekat dan nyaman berada di samping Chanyeol? Dia teman yang baik. Dia mengerti diriku, dan aku mengerti dia. Kau tidak bisa mengatur hidupku dan bagaimana aku harus menyikapinya. Semuanya terserah padaku Jongin!” dadaku kembang kempis usai melontarkan kata-kata barusan. Emosiku meluap dengan mudahnya dan aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini.

Kubanting kapas yang masih kugenggam. “Mungkin benar apa kata Chanyeol. Tidak seharusnya aku melewatkan pelajaran Bahasa Inggris.” dengan kedua mata yang berkaca-kaca aku meninggalkan lelaki itu sendirian. Biarkan dia merenungkan semua ini. Tidak selamanya lelaki itu bisa mengatur hidup orang lain.

O – O – O – O – O

Author’s POV

Sebuah motor besar berwarna merah tampak sedang menghampiri seorang gadis yang berjalan ditepi jalan. Lalu motor itu berhenti tepat disamping tubuh si gadis. Lelaki pengendara motor melepas helmnya yang berwarna senada dengan motor mewah miliknya. Motor yang tentunya tidak dibeli dengan uangnya sendiri. Seperti yang kita ketahui. Appa lelaki itu terlalu kaya sehingga dengan mudahnya bisa menghamburkan uang hanya untuk memanjakan salah satu dari kedua puteranya. Dua putera yang lahir dari dua rahim yang berbeda.

“Jongin,” Rumi tidak kaget lagi bila lelaki itu berhenti disampingnya.

“Mau kuantar pulang?”

“Tidak, aku punya dua kaki dan masih berfungsi dengan baik.”

“Aku punya sebuah motor yang hanya dinaiki oleh seorang lelaki tampan yang baik hati.”

Tatapan menyelidik dari Rumi terpancar kearah Jongin. “Lalu kau menyuruhku untuk duduk dibelakangnya menemani lelaki itu begitu? Maaf, aku tidak ingin kau bawa berkeliling. Aku hanya ingin pulang dan memberi makan perutku.”

“Kau lapar?”

“Tidak.”

“Tadi kau bilang kau akan makan.”

“Aku akan merasa lapar usai berjalan hingga sampai rumah.” jawab Rumi enteng.

“Sayang, ayolah pulang dengan namjachingumu ini.” ucap Jongin manja. Rumi melirik lelaki itu dengan mukanya yang tertekuk membuat Jongin semakin gemas. “Jongin-ah, siapa yang kau sebut sebagai namjachingu dan yeojachingu itu? Kita tidak pernah jadian.”

“Ayo jadian.” ajaknya. Apakah Jongin sedang mencoba melamar Rumi? Tapi kenapa ini terdengar tidak serius? Pasti dia hanya mau menggoda gadis itu. “Jangan bodoh.” tukas Rumi sambil mengibaskan tangan.

“Hei, kau orang pertama yang mengatai diriku bodoh.”

“Apa sih maumu? Kenapa tiba-tiba mengajakku jadian?”

“Aku ingin berkencan denganmu. Wanita-wanita lain tampak begitu membosankan.” kata Jongin dengan gayanya yang sok.

“Hm begitukah? Kurasa aku tidak lebih menarik dari mereka.”

Lelaki itu mengehembuskan nafas lalu tersenyum kepada Rumi. Rumi heran dengan senyum itu. Tidak tampak seperti senyum yang biasanya. Rumi hanya bisa berharap semoga lelaki ini tidak sedang mengerjainya. “Kau memang tidak lebih menarik, tapi disitulah letak perbedaannya. Tunggu aku di sungai belakang sekolahan nanti sore. Berdandanlah yang cantik.” ujar Jongin.

Rumi mematung ditempatnya. Dia tidak menyangka Jongin bisa serius mengajaknya berkencan. Kemudian motor mewah itu berlalu meninggalkan Rumi yang larut dalam pikiran yang membuat dirinya terbang menembus langit ke tujuh.

Disamping itu seorang lelaki dengan pawakan tubuh kecil dan jaket baseball hitam sedang menguping pembicaraan kedua orang itu dibalik pohon yang tidak jauh dari lokasi pertemuan.

O – O – O – O – O

Jongin sudah memarkirkan sepeda motornya didepan sebuah rumah besar dengan kedua tiang beton berbentuk bulat yang berdiri didepan gerbang rumah. Gerbang rumah warna putih –senada dengan cat rumah itu- terbuka menampakkan isi ruang tamunya yang begitu mewah. Sekilas rumah ini tampak seperti istana atau kerajaan di negeri dongeng. Dibagian belakang istana putih itu terbentang lapangan parkir yang luas dengan berbagai macam mobil mewah. Tentu saja mobil itu hanya dimiliki oleh satu orang, yaitu pemilik utama rumah ini. Ayah kandung dari Kim Jongin. Dan satu lagi, Ayah kandung Park Chanyeol.

Sambil menantang tasnya, Jongin memasuki rumah itu dengan langkah lebar –dia sama sekali tidak menggubris barisan yeoja berpakaian maid yang membungkuk memberi hormat kepadanya. Kau tahu kenapa dia seperti ini? Entahlah. Tanyakan saja pada dirinya sendiri. Jongin hanya tidak nyaman berada dirumah sebesar istana ini. Rumah yang dipenuhi segala fasilitas mahal yang tidak semua orang bisa memilikinya. Rumah indah dengan segala kenikmatan dan pelayan-pelayan yang akan memberimu apa saja yang kau mau. Ini seperti surga bagi kebanyakan orang. Tetapi tidak bagi Jongin. Rumah sebesar ini sama saja seperti neraka yang akan membakar dan memendamnya dalam lautan luka yang selalu membayang-bayanginya akan masa lalu. Apalagi sejak kedatangan lelaki itu. Lelaki yang notabenenya adalah seorang saudara tiri yang tidak pernah dia harapkan kehadirannya.

Jongin menaiki tangga dengan langkah cepat alih-alih berlari memanjat dua-demi dua anak tangga dalam sekali langkah. Usai sampai di lantai dua, dia menemui sebuah lorong dengan karpet cokelat yang berbau wangi yang selalu digosok setiap harinya. Wajah Jongin tertekuk seketika begitu mendapati seorang lelaki lain yang ada diseberangnya. Lelaki tinggi itu melangkah bersamaan bersama Jongin. Mereka saling mendekat dengan kontak mata yang tidak terlepas. Sulit dipercaya, kedua lelaki tampan dengan marga yang berbeda ini, dalam diri mereka mengalir darah yang sama. Tetapi, sekalipun mereka tidak pernah akur. Hanya ada benci yang sudah mendarah daging. Dan ketika Chanyeol dan Jongin saling berpapasan mereka tidak berhenti menatap.

“Aku akan dapatkan gadis itu lebih dulu.” ujar Jongin.

“Aku rasa aku yang akan lebih mudah menangkap hati gadis itu.” balas Chanyeol dengan nada bicara yang sama. Lirih sekali.

“Cih, kau memang belum tahu apa yang sudah terjalin antara aku dengannya.”

“Aku tidak perlu tahu itu.”

“Tapi kau akan segera tahu…” balas Jongin ketus. Dan secara tiba-tiba sebuah suara keibuan berhasil memotong pembicaraan ini.

“Jongin,” panggil seorang perempuan paruh baya yang memiliki kulit kegelapan. Sama seperti Jongin. Perempuan itu memanggil puteranya kandungnya lalu mendekati mereka berdua. “Kau bertengkar lagi?” raut muka wanita itu berubah usai melihat luka-luka dan perban di wajah menyedihkan anaknya. Jongin memalingkan muka. Dia malas untuk membahas ini. “Cepat ganti seragammu dan bersihkan dirimu.”

Sambil melirik Chanyeol untuk yang terakhir kali, Jongin memasuki kamarnya. Pintu kamar Jongin dan Chanyeol berseberangan di lorong ini. Ibu kandung Jongin beralih pada Chanyeol. Perempuan itu tersenyum sambil mengelus kepala Chanyeol. “Sebaiknya kau istirahat dan berhenti belajar. Kau tampak lelah…” katanya lemah lembut kepada putera tirinya itu. Chanyeol menggenggam tangan Nyonya Kim lalu menyingkirkannya dengan teramat pelan. Chanyeol tersenyum palsu. “Ne, Omoni. Aku akan masuk ke kamar.”

Setelah Chanyeol memasuki kamarnya Ibu Jongin tersenyum. Tetapi sesaat kemudian perempuan itu merasakan nafasnya terhenti dipangkal tenggorokan dan dia mulai sesak. Sambil berjalan tertatih-tatih perempuan tersebut memegangi dadanya dan menuruni tangga.

O – O – O – O – O

“Berdandanlah yang cantik?…” gumam Rumi sambil duduk didepan meja kacanya sambil mengamati dirinya sendiri disana. Dia merasa tidak yakin dengan apa yang sudah Jongin katakan tadi. Rumi hanya merasa dia tidak mungkin menjadi cantik. Lalu harus bagaimana? Berdandan pun dia tidak bisa.

“Huft…” perempuan itu menumpu dagunya sambil menghembuskan nafas.

Rumi sudah mengenakan pakaian terbagus yang dia punya. Sebuah rok sepanjang paha dengan sweater warna pastel dengan gambar boneka beruang. Dia juga tidak yakin dengan pakaian yang dia kenakan. Yah… gadis ini memang terlalu polos. Dia hanya ingin tampil seperti apa yang Jongin inginkan. Tetapi tidak tahu harus bagaimana. =o=

Rumi melirik kotak make up lama yang ada diatas rak. Diambilnya kotak itu lalu mengamati apa yang ada didalam sana. Rumi mengambil sebatang mascara. ‘Apakah aku harus benar-benar memakai ini?’ Kemudian dia menjumput lipbalm. ‘Aku tidak yakin…’ pikirnya lagi. Usai asik dengan make up tipis yang sesungguhnya sama sekali tidak tampak karena bibirnya memang asli berwarna pink dan matanya juga sudah indah tanpa polesan apapun, Rumi memakai sepatu terbaiknya dan meninggalkan kontrakan. Menuju tempat dimana dia dan Jongin akan memulai kencan pertama.

O – O – O – O – O

Jongin memutuskan untuk membawa sebuah mobil. Dia berfikir mungkin Rumi tidak akan nyaman bila mereka bergandengan berdua dengan motor itu. Rumi tidak seperti gadis lain yang akan memeluk kekasihnya dan membiarkan orang lain melihati mereka. Jadi karena itulah Jongin membawa mobil ayahnya. Lelaki itu sudah sampai setengah jalan menuju sungai. ‘Tliit’ bunyi rendah terdengar dari ponselnya. Jongin mengambil ponsel di sakunya lalu mengangkat telepon. Dari Chanyeol rupanya. “Hm?”

“Jongin! Jongin!” teriak Chanyeol.

“Aish,… kenapa kau berteriak?!” suara Jongin meninggi.

“Ibumu! Dia pingsan! Ibumu serangan jantung!”

“Mwo?!”

“Cepat kembalilah! Antar dia ke rumah sakit!”

Jongin menekan tombol merah pada ponselnya dan membanting benda itu ke seat disampingnya. Dalam hitungan detik, mobil mewah itu terlah berbalik dengan bebas tanpa menghiraukan kendaraan lain yang sedang melintasi jalan. “Agh,…” geramnya sambil memukul kemudi.

Rumi’s side…

“Kemana Jongin?” tanyanya sambil celilingan. Sudah lima belas menit dia menunggu sendirian disini. Kenapa juga lelaki itu belum datang. Rumi jadi berfikir kalau Jongin telah membohonginya. Dia menendang tumpukan daun kering yang telah tertimbun hingga menggunung di tempat itu. Rumi duduk sambil memeluk lututnya. Dia ingin menangis. Dia tidak memiliki nomor ponsel Jongin karena mereka memang tidak pernah saling bertukar nomor. ‘Apa aku harus pulang sekarang? Tapi aku sudah terlanjur berdandan untuknya! Dasar pembohong! Ternyata dia hanya mempermainkanku!’

“Krssk….” sebuah langkah kaki terdengar. Rumi terperanjat lalu melihat siapa yang datang. Seorang lelaki dengan motor merah. Lelaki itu memakai jaket hitam. Rumi tersenyum lebar lalu berlari mendekat ke lelaki tersebut. “Jongin… kukira kau-“ kata-kata Rumi terputus. Dia bukan Jongin. Ketika helm itu dilepas dari kepalanya, bukan wajah lelaki yang selama ini Rumi tunggu. Sebuah wajah putih bersih dengan senyuman lebar.

“Maaf, kukira kau Jongin.”

“Kau pasti pacarnya Jongin.”

“N-ne.” jawan Rumi dengan ragu-ragu. Dia masih bingung harus menjawab pertanyaan itu dengan jawaban macam apa.

“Oh, jadi benar. Guys! Sehun! Tao! Kalian bisa keluar sekarang!”

“Eh?” Rumi kebingungan mendegar apa yang lelaki putih itu katakan. Tidak lama kemudian dua orang lelaki muncul dari belakang dan menggenggam erat kedua tangan Rumi. Mereka menangkap gadis itu. “Apa maksudnya ini?! Lepaskan aku!” Rumi berteriak sambil bersikeras melepaskan dirinya. Si lelaki putih tadi memegang dagu Rumi sambil mendekati perempuan itu hingga Rumi ketakutan. “Haha, kau kelihatannya masih polos.” kemudian lelaki tersebut menelepon seseorang. “Chen, kau bisa bawa van kemari. Aku sudah dapat dia.”

Rumi semakin takut. Kedua lelaki yang menahannya sangat kuat sampai-sampai dia lemas sendiri setelah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Rumi tidak mengerti apa-apa masalah ini. Dia tidak tahu. Rumi hanya gadis awam. Mereka adalah genk yang tidak lain tidak bukan adalah musuh dari genk Jongin. Ya. Perkumpulan lelaki itu selalu berusaha menghancurkan Jongin. Termasuk menghancurkan orang-orang disekitar Jongin. Dengan seorang lelaki bernama Junmyeon sebagai ketua genk tersebut.

Sebuah van berwarna hitam berkilau berhenti di sekitar situ. Rumi meronta minta dilepaskan tetapi kedua lelaki tadi menyeretnya dan melempar gadis itu masuk kedalam van. “Haha…” tawa kecil terdengar dari bibir Junymyeon. Dia pasti akan sangat menikmati korban barunya ini.

TOBACON




Tarik nafaaaassss, keluarkaaan.

Monyongin bibir dulu…. sip!

Tarik nafas lagiiii

Buang lewat belakang….

Fyuh!

Ini ada kutipan buat chap depan. Selamat menikmati😀


CHAPTER 9

“Hks…” –Rumi

“Kenapa kau menangis sayang?” –Suho

‘Jongin… Kemana dirimu?’ –Rumi

“Kurasa Jongin belum pernah mengapa-apakanmu.” –Suho

=o=o=o=

‘Rumi! Bagaimana dengan gadis itu?!’ –Jongin

“Terus teranglah Jongin.” –Chanyeol

“Menemui Rumi, puas?” –Jongin

=o=o=o=

‘Lelaki-lelaki itu telah merampas kesucian Rumi. Kenapa harus Rumi? Kenapa tidak mereka hajar dan bunuh aku saja?’ –Jongin

“Aku membencimu Jongin! Aku benci!… Aku benci!… Aku-“ –Rumi

*kiss* -Jongin


Hayolooo chap depan ada kiss sceneeee!!!! /tebar menyan/

😀

oke udah puas belum sama chapter ini? Komentar dulu dongs!😀😀😄 :*

21 responses to “[Chapter 7+8] Fleas Love

  1. omo!! rumi mau di apain sama musuh nya jongin!!
    aku kira chanyeol bakalan bersikap dingin sama ibu tirinya..
    ternyata chanyeol anak yang penurut^^
    konflik nya makin rame thor~ aku suka^^
    hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s