[CHAPTER] Wedding Memories (Chapter 7 – Flashback)

inhan99-wedding-memories2

ff ini bukanlah milik saya (flamintskle), merupakan titipan seorang teman.
Tolong berikan apresiasi kalian untuk ff ini😉

Author : InHan99 ||
Main Cast :
Oh Sehun – Han Joe In ( Han Lyn ) || 

Genre : Friendship, Family, Hurt, Marriage life, Romance, lil’Thriller etc. ||
Rate : G || Lenght : Series ||
Disclaime : Story of mine and Sehun is owned God

 Support Cast : Byun Baekhyun – Kim Jongin – Lu Han,
Choi Heejung – Kwon Hanna – Lee Hyena ( OC ) etc …..

Note : This pure my idea… Don’t be plagiat and silent readers…

 

©2015 InHan99

Great poster by Harururu98 @ Cafe Poster

 

Recomended Song

» Good Start by Verbal Jint feat. Kang Min Hee of Miss $

Review
Chapter 1 // Chapter 2 // Chapter 3
Chapter 4 // Chapter 5 // Chapter 6

 

***

 

 

” Sehun… ”

 

 

 

” hmm… ”

 

 

 

” tidak apa? ”

 

 

 

” kau memikirkan sesuatu? ”

 

 

 

anniyo… ”

 

 

 

” lalu.. ”

 

 

 

” kenapa tempat ini sangat familiar untukku? ”

 

 

” kau ingat tempat ini Joe? ”

 

 

 

»«

 

 

 

[ Flashback ON ]

 

 

 

Kaki jenjang itu melangkah dengan lelah hingga akhirnya tersungkur di tanah lembap berlapis rumputan hijau yang cukup nyaman untuk di jadikan tempat berbaring. Ia lelah, ia berlari terlalu jauh dari apa yang telah ia pikirkan. Sesuatu yang mengganjal terlalu memaksanya untuk melakukan hal ini. Ia ingin berlari sejauh ini karena sesuatu itu terlalu menekan dan memaksanya. ” apa harus aku melakukannya? kenapa ini terdengar memaksa.. ”

 

 

Kedua lututnya ia tekuk dan kemudian ia peluk. Angin di sore hari itu berhasil membuatnya merasa tenang. Hingga suara familiar terdengar menyentuh telinganya. Suara dingin nan menusuk. ” kenapa kau di sini? “, lantas ia menoleh. Suara terlalu familiar itu bertanya padanya.

 

 

” kau sendiri? apa yang kau lakukan di sini? “, ia tidak menjawab melainkan kembali membalikkan pertanyaan yang terlontar padanya. Seseorang itu menghempaskan tubuhnya tepat di sebelahnya. Kaos hitamnya tampak lusuh dan berbau keringat. Sama halnya dengan dirinya yang pelipispun juga di penuhi keringat.

 

 

eomma dan appa… “, seseorang itu memberi jeda dan menatap rumpun jerami yang bergoyang setelah terbelai oleh hembusan angin yang lembut. ” menjodohkanku… aku, tidak suka dengan hal ini… mereka terlalu memaksaku ” ujarnya menambahkan dan menenggelamkan kepalanya di antara kedua lipatan tangannya yang bertopang pada lututnya yang di tekuk.

 

 

” kasihan… ” ia mengasihani seseorang itu, namun tidak pada seseorang itu saja, kasihan itu juga untuk dirinya sendiri.

 

 

” hm… benarkah? bagaimana denganmu sunbae? sedang apa kau di sini? “, tanya seseorang itu dengan senyum lirih. Tidak menyangka jika ia telah di kasihani oleh gadis yang selama ini menjadi salah satu sosok yang berhasil mencuri sebuah ruang kosong yang tidak dapat di sentuh dalam hatinya.

 

 

” aku… sama sepertimu, di jodohkan… aku tidak menyukainya dan aku berlari untuk menghindar “, ia menghembuskan nafasnya bersamaan dengan angin yang juga berhembus, kembali membuat rumpun jerami itu bergoyang di tengah terpaan angin. ” kasihan sekali aku ini, baru saja ingin memulai untuk menyukai seseorang, rasanya sulit sekali ” ia menambahkan lagi dengan senyum lesu.

 

 

Seseorang itu menatapnya, namun hanya diam. Ia tidak ingin bertanya lagi, tidak untuk pertanyaan yang berkaitan tentang topik yang sama dan membuat keduanya merasa tertekan. ” Sehun… ”

 

 

” hmm…. “, seseorang itu bernama Sehun dan lantas menoleh saat namanya di serukan dengan lembut.

 

 

” aku ingin lari bersama seseorang, tapi aku tidak dapat menemukan orang yang bisa menggandeng tanganku untuk pergi bersamanya “, ia tersenyum miris mendengar perkataannya sendiri. Ia rasa, ia bahkan tak pernah memiliki tangan yang dapat menggenggam erat tangannya. Ia bahkan tidak memiliki seseorang yang bisa memeluknya. Ia tidak pernah akan menemukan seseorang untuk hal itu.

 

 

Sehun tersenyum dan mengulurkan tangannya tepat di hadapan gadis itu. ” kalau begitu, aku ingin kau bergandengan tangan denganku dan kita pergi bersama… Joe In ”

 

 

 

»«

 

 

 

Turun dari sebuah bus tepat di sebuah kawasan myeongdong, Sehun menggenggam erat tangan Joe. Tidak peduli dengan tatapan kagum dari para gadis-gadis SMU yang melihat mereka berdua. Mereka hanya merasa jika mereka berdua pergi untuk sementara dan menjauhi fasilitas keluarga dan tekanan yang ikut serta dengan hal itu.

 

 

 

” kita akan pergi kemana? ”

 

 

 

” entahlah… ”

 

 

 

” Sehun… kurasa kita harus kembali ke tempat tadi.. ”

 

 

 

” tidak perlu, kita akan menggunakan flat lama milik sepupuku di sekitaran Namyangju ”

 

 

 

” hmm… terdengar seperti  kawin lari.. ”

 

 

 

mwo? “, Sehun merasa panas di antara kedua pipinya. Rasanya malu sekali. Ia benar-benar merasakan apa yang seperti di katakan Joe barusan.

 

 

 

[ Flashback OFF ]

 

 

” aku melihatnya? kau orang pertama yang memberiku sentuhan itu dan menggenggam erat tanganku… aku bahkan tidak pernah sadar jika saat itulah aku telah jatuh cinta padamu “, Lyn tersenyum tanpa menoleh ke arah Sehun yang duduk di sebelahnya. Entah mengapa, Sehun berpikir untuk mendatangi tempat itu karena ia berharap bisa semakin melengkapi ingatannya yang memang baru pulih beberapa minggu yang lalu.

 

 

” akulah yang telah jatuh cinta padamu, kaulah satu-satunya wanita yang dapat meraih ruang tak dapat tersentuh jauh di dalam hatiku “, Sehun menggigit bibir bawahnya. Ia merasa pipinya mulai memanas setelah mengatakan hal itu dan kembali mengingat saat bagaimana mereka memilih untuk duduk berdua di sebuah kursi yang menghadap rumpun jerami. Sore itu, mereka mulai berpikir untuk menemukan masa lalu mereka melalui tempat itu. Dan entah mengapa tempat itu membantu mereka untuk pergi jauh hingga keduanya memasuki dunia masa lalu mereka yang tertindih oleh lembaran baru yang asing.

 

 

” mungkin hatiku telah menetapkannya lebih dulu sebelum aku menyadarinya ” ,ucap Lyn lagi dan kemudian meraih pundak Sehun dan membuat suaminya itu berbalik. Iapun memeluknya dengan erat.

 

 

” seharusnya, di tempat ini kau memberiku pelukan yang tidak pernah ku dapatkan dari siapapun “, Sehun mengeratkan pelukannya setelah mendengar perkataan Lyn barusan. Rasanya seperti kembali ke masa lalu dan kembali menyatakan perasaan masing-masing hanya dengan sebuah kalimat yang seharusnya di ucapkan di masa lalu.

 

 

” apa aku boleh menciummu? anggaplah kita sekarang tengah berada di ruang waktu yang mengantar kita ke masa lalu ”

 

 

” tentu saja… ”

 

 

Tidak ada jarak yang mampu memisahkan antara wajah keduanya. Bibir mereka sudah menyatu tepat saat matahari mulai memendamkan diri karena tersipu akan romantisnya pemandangan yang berseberangan dari tempatnya.

 

 

” aku memilikimu di hatiku ” ucap Sehun setelah melepas tautan mereka. Lyn mengangguk seperti orang linglung.

 

 

” kau orangnya… orang pertama dan terakhir yang harus menggandengku ”

 

 

” tentu saja sayang… ”

 

 

 

***

 

 

 

Sungai Han menjadi salah satu tempat wisata yang baik di kunjungi siang maupun malam. Pengunjungnya bukan hanya warga lokal, beberapa berasal dari warga asing juga warga yang berasal dari negara tetangga di asia.

 

 

Kedua pasang kaki melangkah dengan santai, menikmati dinginnya malam yang menjadi bagian dari tempat itu. Kedua kaki itu terhenti tepat di sebuah kursi yang berada tepat di bawah sebuah pohon bunga sakura berwarna putih. Perlahan, keduanya mendekat dan kemudian menduduki tempat itu. Tatapan mereka tertuju pada sekitaran.

 

 

Tempat itu, seolah menjadi sebuah lorong waktu yang kembali membawa keduanya terhanyut akan sebuah pemandangan yang tersaji di hadapan mereka. Mereka berdua terdiam, seolah-olah pikiran mereka tengah di kendalikan. Ya, telah di kendalikan sebuah kenangan di masa lalu.

 

 

 

[ Flashback ON ]

 

 

 

Seorang gadis bertubuh tinggi berlari tergesa-gesa untuk menemui seseorang yang kini tengah menunduk di sebuah kursi yang berada tepat di bawah pohon sakura putih. Kakinya berhenti setelah berada di hadapan lelaki itu, wajahnya menampakkan raut tidak tenang. ” kau mengetahuinya?! kenapa kau tidak memberitahuku? “, gadis itu menatap seseorang yang kini tengah menunduk tak mau mendongak untuk menatapnya.

 

 

” hmm… aku tidak sengaja mendengarnya… mereka menyebut namamu “, seseorang itupun mendongak untuk menatap gadis di hadapannya.

 

 

” kau menyebalkan Sehun! seharusnya kau memberitahuku “, gadis itu adalah Joe. Ia terlihat masih tidak percaya dengan kenyataan yang sekarang ia hadapi.

 

 

” huh! kau menyesal telah pergi denganku? karena kita tidak seharusnya melakukan hal itu… kau menyesal telah percaya padaku… dan setelah mengetahui hal ini kau kecewa padaku? ” tanya Sehun dengan tatapan lirih menatap Joe. Kemudian ia kembali menghela nafas panjang.

 

 

” ya! aku menyesal… ”

 

 

” kalau begitu, lupakan saja apa yang pernah kita lakukan bersama.. lupakan tentang apa yang pernah aku katakan.. lupakan tentang aku yang berharap menjadi orang yang bisa menjadi seseorang yang kau inginkan… dan batalkan pertunangan ini… lalu aku akan pergi jauh… sejauh mungkin agar kau tidak melihatku yang telah mengecewakanmu “, rasanya seperti menusuk diri sendiri dengan sebilah belati tajam. Sehun bahkan merasa tertohok atas ucapannya sendiri hingga ia tidak sadar jika kakinya telah membawanya pergi menjauh dari tempat itu. Ia bahkan tampak menyedihkan.

 

 

 

1 weeks later….

 

 

Joe, dengan gaun selututnya berlari dengan kaki telanjang menelusuri taman di sungai Han. Kakinya kotor dan bahkan ia merasakan perih karena beberapa kali menginjak batu-batu tajam yang berada di sana. Hingga ia tiba tepat di hadapan seseorang. Tangannya menggenggam erat sebuah kotak kecil berwarna  hitam di tangannya. ” kau pergi eoh? semudah itu? ”

 

 

” kau yang menginginkan aku pergi bukan? “, dia adalah Sehun yang tengah menahan dirinya untuk tidak membentak gadis di hadapannya, gadis yang berhasil meluluh lantakkan harapannya satu minggu yang lalu.

 

 

Beberapa helai kelopak bunga sakura putih jatuh mengenai kepala Sehun dan suasana hening saat sebuah tangan mengangkat tangannya dan memasangkan sesuatu di jari manisnya. ” kau tahu? aku senang jika yang melakukan ini adalah kau… maaf telah berpikir terlalu lama… aku salah karena terlalu emosi waktu itu… Sehun, maukah kau terus berada di sisiku? ”

 

 

Tanpa ada jawaban, Joe hanya merasakan seseorang memeluknya dan kemudian mencium keningnya. Tangannya di genggam erat, dan setelahnya ia merasakan sesuatu di pasangkan di jari manisnya. Tepukan tangan mengiringi entah kapan saat keduanya kembali saling berpelukan satu sama lain.

 

 

 

[ Flashback OFF ]

 

 

 

Sehun tidak tahu, sejak kapan Lyn senang sekali memeluknya lebih dulu. Ia bahkan merasakan Lyn begitu erat memeluknya. Sehun bahkan tidak mampu untuk menahan senyumnya yang ingin terus mengembang setelah kursi yang mereka duduki seolah kembali membuat mereka berada di masa lalu. ” kau senang sekali memelukku hari ini? “, goda Sehun yang hanya di tanggapi dengan senyum hangat dari Lyn.

 

 

 

***

 

 

 

Hubungan yang seolah canggung itupun berubah menjadi lebih akrab setiap harinya, candaan dan gelak tawa Sehun serta teriakan Lyn terdengar di setiap pagi dan malamnya. Sehun yang terlalu hobi mengerjai Lyn di kamar mandi dan kemudian, Lyn yang meneriakki Sehun karenanya.

 

 

Kecanggungan yang ada seolah terkikis dengan cepat, Lyn bahkan melupakan amnesianya yang pernah menjadi kendala untuk dirinya dan yang juga membuatnya merasa canggung berada dekat dengan Sehun.

 

 

 

»«

 

 

 

” aku lupa, kapan aku begitu sangat canggung berada di dekatmu “, sebuah kecupan singkat melayang ke pipinya setelah ia mengucapkan hal itu. Sehun dengan senyuman nakalnya, menarik pinggang Lyn dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.

 

 

” dan malam ini kau jangan sunkan untuk memelukku ok.. ”

 

 

” terserah… ”

 

 

 

***

 

 

 

Di sepanjang koridor, Heejung terus mempoutkan bibirnya tidak terima dengan kelakuan Hanna, Baekhyun dan Jongin yang meninggalkannya sendirian di dalam kelas. Saking sebalnya ia bahkan tidak mau bersusah-susah untuk memperhatikan jalan dan dengan santainya ia berjalan tanpa peduli sekitar, bahkan tidak menyadari ada seseorang yang sedang melangkah di depannya sambil membaca buku. Keduanya bertabrakan karena berada di jalur yang sama. Heejung terhuyung ke belakang dan merasakan sakit setelah bokongnya menyentuh lantai dengan keras.

 

 

neon gwaenchana? “, sebuah tangan terulur ke arahnya. Ingin rasanya marah, namun ia telah meraih tangan itu dan kemudian menatap wajah si pemilik tangan dengan tatapan terkejut.

 

 

” Se- Sehun? ”

 

 

” ah… anniyo.. aku bukan Sehun, perkenalkan namaku Luhan, aku sepupunya Sehun yang baru pindah dari Beijing “, Heejung terdiam seketika. Heejung merasakan kembali ke sebuah masa di mana ia merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Sehun.

 

 

” Choi Heejung ibnida, salam kenal Luhan-ssi

 

 

 

***

 

 

 

Ada sesuatu yang mendorong keduanya untuk berkeinginan mendatangi suatu tempat di pagi hari, saat keadaan masih terlalu pagi dan dingin masih terasa menusuk di kulit. Sebuah tempat yang jauh berada di pinggiran kota, hanya sebuah tempat biasa dengan banyak bunga yang menghiasinya. Hampir menyerupai taman namun berbeda.

 

 

Keduanya duduk di atas sebuah batang pohon yang tumbang, mata mereka sibuk menelusuri sekitar. Tidak ada yang istimewa. Hanya petak tanah tak beraturan dengan variasi bunga yang berwarna warni, bunga mawar di ujung sana begitu menarik untuk di lihat. Keduanya terfokus dengan objek tersebut.

 

 

Lorong waktupun kembali menarik keduanya untuk masuk ke dalam sebuah masa lalu. Masa lalu yang cukup membuat detak jantung keduanya menjadi berpacu dengan cepat, membuat ritme tak beraturan bergejolak dengan gembira di dalam sana. Hanya sebuah kilasan singkat tentang tempat itu, membentang luas bagaikan samudera dalam benak keduanya. Anginpun menjadi pelengkap renungan indah yang sedang berputar di otak keduanya.

 

 

Ada Sehun dan Lyn dalam versi beberapa tahun silam. Lyn yang di genggam erat tangannya oleh Sehun dan Sehun yang tersenyum sembari menuntun Lyn. Begitu romantis sampai kicauan burungpun ikut menjadi daftar backsound terbaik di pagi ini.

 

 

Bunga yang indah bahkan menjadi pelengkap suasana pagi yang dingin. Dinginnya pagi itu tak akan bertahan lama saat Sehun mulai tersadar dan memeluk Lynnya dengan erat. Kemudian tanpa di beri aba-aba, Sehun mengambil morning kiss yang mungkin ia rindukan, sangat ia rindukan. Lyn tiba-tiba menarik tengkuk Sehun, mencoba memperdalam morning kiss tersebut dan kemudian Sehun memulai aksi brutalnya hingga morning kiss di akhiri dengan cubitan kecil yang menyakitkan di punggung Sehun.

 

 

Lyn adalah Joe In, dan sifatnya tidak akan berubah sampai kapanpun. Walaupun ia mengalami amnesia sekalipun dalam perjalanan hidupnya.

 

 

[ Lyn akan di panggil Joe mulai dari chapter ini ]

 

 

 

***

 

 

 

Sebuah morning kiss tiba-tiba mendarat di atas kelopak mata yang masih terpejam dengan indah. Si pemilik kelopak matapun mengerjap karena menyadari suatu hal. Nafasnya terhenti saat wajah Sehun berada sangat dekat dengannya. Matanya hampir rabun karena Sehun. Sehun memperlihatkan sweet smile paginya yang begitu indah, membuat Joe merasa luluh dan akhirnya memeluk tubuh Sehun.

 

 

Pagi yang indah bagi Sehun, ia membalas pelukan sang istri dan menciumi pundak istrinya yang nampak kecil namun kuat untuk menampung dirinya. Menggendong Sehun, yah… Joe pernah melakukannya.

 

 

” ingat saat kau menggendongku? kau membuatku malu sayang “, Sehun mencubit hidung milik Joe dengan gemas, membuat si pemilik hanya bisa tersenyum pasrah menghadapi romantisme pagi ini.

 

 

” kenapa harus malu? bukankah kau bilang jika tubuhku milikmu dan tubuhmu milikku? hm…. “, Joe bertanya polos tanpa menyadari gelagat aneh Sehun yang sudah merasakan pipinya memanas.

 

 

” kau kenapa, Hun? ”

 

 

” kau tahu apa yang kau katakan tadi? maksud dari perkataanku waktu itu? hmm… sayang “, Sehun mencium kening Joe dengan pelan dan cukup lama.

 

 

mwo? “, Joe menjauhkan keningnya dari bibir Sehun.

 

 

” hm… maksudku… kau seutuhnya milikku… apapun yang ada padamu adalah hak untuk kumiliki.. ”

 

 

DEG!

 

 

Sehun tersenyum, sedangkan Joe merasa jantungnya mulai meraja lela. Membuat dirinya menjadi gugup, tangannyapun menjadi gemetar. ” Se… Sehun- ”

 

 

 

***

 

 

 

Seorang gadis berjalan dengan angkuh, tak peduli dengan tatapan orang-orang yang berlalu lalang di lobi. Bahkan ia tidak peduli saat ia tak sengaja bertabrakan pundak dengan seorang wanita yang sedang melangkah cepat menuju pintu keluar.

 

 

” Sehun!!! “, ia tersenyum manis saat melihat lelaki yang ia cintai sepenuh hati berjalan ke arahnya. Namun, sayangnya lelaki itu malah melewatinya dengan berlagak tidak tahu-menahu akan kehadirannya.

 

 

Dan bukan Lee Hyena namanya jika tidak mencegat Sehun. Ia menarik tangan Sehun, ” kau mau kemana oppa? ” tanyanya dengan wajah penuh senyuman manis.

 

 

” apa yang kau lakukan? “, Sehun melepas pegangan tangan Hyena dengan lembut dan kemudian meninggalkan Hyena yang terdiam entah karena apa.

 

 

” tidak biasanya ia melakukannya selembut itu? ada apa? “, tiba-tiba banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Hyena, membuat Hyena semakin merasa bingung.

 

 

 

***

 

 

 

Luhan berdiri di depan sebuah pintu apartemen, beberapa kali ia menenkan bell interkom yang terletak di sebelah pintu, namun tak ada seorangpun yang membukakan pintu untuknya. Ia bahkan sempat berpikir jika ia salah alamat, namun sebuah suara membuatnya merasa senang pada saat itu juga, ” Luhan hyung, kau berkunjung? ”

 

 

” Sehun, kau darimana saja? ” tanya Luhan tersenyum manis ke arah Sehun, sedangkan Sehun bergegas menghampiri Luhan yang sedang berdiri di depan pintu apartemen Sehun.

 

 

” aku tadi pergi ke supermarket “, ujar Sehun dengan senyum hangatnya yang tentu tidak bisa semua orang lihat. Bahkan mungkin karena kedekatan Luhan dan Sehunlah yang membuat mereka bisa berbagi sapa dan senyum secara mudah dan terasa nyaman.

 

 

” kau membeli bahan makanan? “, tanya Luhan sambil menatap tas belanjaan Sehun yang terlihat penuh.

 

 

ne… kalau begitu, mari makan malam bersama hyung. hmm… tunggu istriku pulang sebentar lagi “, Sehun tersenyum sambil mempersilahkan Luhan untuk memasuki kediamannya.

 

 

” hm… baiklah ”

 

 

 

»«

 

 

 

Joe in mengetikkan password apartemennya dan Sehun, kemudian mempersilahkan seseorang yang ikut bersamanya untuk masuk. Sapaan hangat menyapa Joe dan Heejung, sapaan dari Luhan dan juga Sehun yang sedang sibuk di dapur bernuansa black white bird itu. ” Lu..han oppa? “, tanya Joe berusaha meyakinkan dirinya jika seseorang yang sedang sibuk bersama Sehun itu adalah seseorang yang ia kenal juga.

 

 

” hi Joe-ya, lama tidak bertemu dan annyeong Choi Heejung-ssi “, sapa Luhan hangat dengan eyesmilenya yang memikat. Sehun dan Joe saling berpandangan satu sama lain saat mendengar sapaan Luhan, namun keduanya tersenyum beberapa saat kemudian.

 

 

” Hun~ aku mengajak Heejung untuk makan malam bersama “, Joe tersenyum sambil meletakkan beberapa kotak susu ukuran satu liter ke dalam lemari es, dan setelahnya ia mengambil mangkuk untuk memotong buah-buahan yang dia bawa. Sedangkan Sehun mengusap puncak kepala Joe dengan sayang sambil tersenyum.

 

 

Pemandangan itu sukses membuat Heejung terharu, menurutnya memang wajar jika Sehun begitu mencintai Joe. Pemandangan di hadapannya sudah cukup membuktikan bahwa mereka adalah pasangan yang sudah di takdirkan untuk bersama hingga, tatapan Heejung tergantikan pada Luhan. Luhan sepertinya mengenal Sehun dan Joe dengan sangat baik. Lelaki itu terlihat sibuk membawa gelas-gelas di tangannya hingga ia hampir terjatuh ketika lewat di hadapan Heejung, membuat Heejung secara refleks membantunya menangkap tangan Luhan. ” gomawo Heejung-ssi ” Luhan tersenyum manis dan kemudian melanjutkan langkahnya.

 

 

Heejung meletakkan tas dan mantelnya di sofa ruang tengah, kemudian ikut berbaur menawarkan bantuan yang di terima oleh Joe dengan senang hati.

 

 

 

»«

 

 

 

Makan malam di kediaman pasangan muda itupun di mulai, suasana cukup mendukung dengan adanya Luhan yang bercerita tentang mengenai kepindahannya ke korea. Ia tertawa, sesekali saat mengingat perkataan ayahnya yang terdengar seperti mengacamnya. ” baba mengatakan jika aku harus menghubungi paman Oh ketika tiba di korea, bahkan baba sudah menelepon paman Oh terlebih dahulu sebelum aku tiba. beliau cukup kesal saat aku memilih untuk tinggal sendiri di sini, namun pada akhirnya aku setuju untuk tinggal di rumah paman, paman juga memaksaku “, Luhan meminum segelas air yang ada di hadapannya. Sedangkan Sehun tertawa.

 

 

” Luhan oppa boleh menginap di sini ” tawar Joe sambil mengunyah kimchi dalam mulutnya.

 

 

ne hyung… ” setuju Sehun dengan menganggukkan kepalanya.

 

 

” ah… jinjja, tidak merepotkan? hm… mama berpesan untuk tidak merepotkan kalian ”

 

 

” tidak kok! ” seru Sehun dan Joe kompak yang di sambut kekehan lucu dari Heejung.

 

 

” baiklah… aku akan menimbangnya… ah ne, Heejung-ssi kau tinggal di mana? “, tanya Luhan mengalihkan topik yang sedang mereka bahas barusan. Heejung tersedak kimchi yang ingin di telannya.

 

 

” ahahah… kau kenapa Heejung-ah? hm… Heejung tinggal di pinggiran kota, tidak cukup jauh dari universitas ” jawab Joe dengan senyumnya yang manis.

 

 

 

***

 

 

 

Heejung merasa suasana tiba-tiba menjadi canggung karena Luhan menawarkan diri untuk mengantarkannya ke depan pintu rumah. Padahal ia sama sekali tidak berniat untuk hal tersebut, namun Luhan tetap mengatakan bahwa ia tidak keberatan. Luhan bahkan terlihat asik dengan dirinya sendiri, asik dengan matanya yang tatapannya menelusuri sekitar dengan cukup senang. ” rumahmu di mana? “, tanya Luhan tiba-tiba dan membuat Heejung terkejut.

 

 

” eum… sebentar lagi sampai.. hm.. Luhan-ssi, apakah kau pernah ke korea sebelumnya? ” tanya Heejung hanya untuk memastikan agar nantinya pria itu tidak tersesat di jalan pulang.

 

 

” tentu saja pernah, aku sering mengunjungi korea saat liburan musim panas dan musim dingin untuk bertemu Sehun “, jawabnya dengan senyum ramah yang menurut Heejung begitu indah. Membuatnya terpana begitu saja.

 

 

 

»«

 

 

 

” Luhan-ssi, gomawo “, Heejung menunduk sopan ke arah Luhan saat keduanya sudah tiba di depan rumah Heejung.

 

 

Luhan hanya tersenyum kemudian mengangguk, ” kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa “. Luhan melambaikan tangannya, membuat Heejung tersipu dan hanya bisa menunduk malu setelahnya.

 

 

Hingga ia tiba di kamarnyapun, Heejung masih merasakan rona merah menempel di pipinya dengan bandel, tidak mau menjauh meskipun seseorang yang menjadi penyebabnya sudah pergi beberapa puluh menit yang lalu.

 

 

Heejung menepuk-nepuk pipinya, ia bahkan menjadi kesal saat menatap wajahnya di cermin. ” Heejung! apakah kau sedang jatuh cinta sekarang? oh, yang benar saja ”

 

 

 

»«

 

 

 

” Luhan! kau baru kembali, nak? “, tanya nyonya Oh menatap kedatangan Luhan yang sedang melepas sepatu yang ia gunakan.

 

 

ne bibi, tadi aku makan malam bersama di apartemen Sehun “, Luhan tersenyum kembali.

 

 

ah~ rasanya lebih baik kau memanggilku eommonim saja, itu lebih baik Lu. kau sudah tahu tempat tinggal Sehun? ”

 

 

ne eommonim, dengan senang hati. ne… tentu saja “, Luhan kembali tersenyum dan membungkuk lalu perlahan menuju kamarnya. Kamar yang ia tempati di rumah itu.

 

 

Di dalam kamarnya, Luhan yang baru saja selesai mandi menatap pantulan dirinya di cermin. Sekilas, ia merasakan pipinya nampak merona dan ia mengerjapkan matanya dengan lucu berulang kali. Luhan bahkan tidak menyangka jika ia bisa merasakan pipinya bisa seperti itu. Luhan menggeleng dan kemudian tersenyum.

 

 

 

 

 

To Be Continue…

 

Note : Annyeong, maaf ngaret ya… Padahal kemaren mau update cepet tapi jadinya malah ngaret. Author sempat kehilangan plot jadinya ketunda nulisnya… Okedeh mianhae ne… Semoga ff ini cukup panjang dari yang sebelumnya… Dan cukup memuaskan /ku harap begitu/.. Buat Gea (flaminstkle) gomabta selalu^^…

 

21 responses to “[CHAPTER] Wedding Memories (Chapter 7 – Flashback)

  1. horee..
    ahir’y heejung nemu pengganti sehun😀

    sehun n luhan bener” romantis kalo udh nemu someone’y hee

  2. Pingback: [Chapter] Wedding Memories (Part 8 – Moment) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s