[Chapter 9] Fleas Love

(NEW) Fleas Love

-Jihan Kusuma Present-

kim JONGIN | na RUMI | park CHANYEOL

Romance | School Life |Angst

Chapter 1|2|3+4|5|6|7+8|9


AnnyeonghaSEHUN!!! ^_^ kembali lagi bersama saya, siapa lagi kalo bukan isteri luhan simpanan sehun kekasih chanyeol😀 /maruk mode on/ perlu ada pemberitahuan kalo di chapter kali ini ada beberapa scene yang bikin termehek-mehek jadi yang ga tahan sama hal hal menyentuh siapin tisyu okeeeeyyyyh! ^_-

Selamat membaca!!!😀


Previous Chapter :

Rumi semakin takut. Kedua lelaki yang menahannya sangat kuat sampai-sampai dia lemas sendiri setelah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Rumi tidak mengerti apa-apa masalah ini. Dia tidak tahu. Rumi hanya gadis awam. Mereka adalah genk yang tidak lain tidak bukan adalah musuh dari genk Jongin. Ya. Perkumpulan lelaki itu selalu berusaha menghancurkan Jongin. Termasuk menghancurkan orang-orang disekitar Jongin. Dengan seorang lelaki bernama Junmyeon sebagai ketua genk tersebut.

Sebuah van berwarna hitam berkilau berhenti di sekitar situ. Rumi meronta minta dilepaskan tetapi kedua lelaki tadi menyeretnya dan melempar gadis itu masuk kedalam van. “Haha…” tawa kecil terdengar dari bibir Junymyeon. Dia pasti akan sangat menikmati korban barunya ini.


CHAPTER 9


Junmyeon menjambak rambut gadis itu dan membantingnya kasar diatas lantai sebuah ruangan yang gelap. Hari sudah hampir malam dan hanya ada seberkas cahaya termaram yang menyelundup masuk melewati ventilasi sempit yang mungkin ruang ini tidak cocok untuk dihuni tiga ekor kerbau. Apalagi manusia. Ruangan luas namun begitu sesak dan petang tersebut sama sekali tidak pantas disebut sebagai tempat tinggal. Dan lebih mirip dengan ruang tahanan tersangka pembunuhan atau teroris. Ya, kurang lebih seperti itulah. Ruangan yang didominasi warna gelap itu terdapat beberapa perabot besi yang telah berkarat. Juga sebuah ranjang dengan seprai putih lusuh yang tampak sangat mengerikan.

Rumi tersungkur disana. Pipinya yang telah basah dengan air mata langsung menyentuh lembabnya lantai.Dia berani bersaksi bila ini adalah kali pertamanya mendapat perlakuan sekasar ini. Bahkan orang tuanya saja tidak pernah menghukumnya dengan tindakan sekejam ini. Dan parahnya lagi. Rumi sama sekali tidak mengenal siapakah lelaki yang sekarang berdiri sambil berkacak pinggang dihadapannya. Gadis malang itu menangis seperti anak kecil sambil menunduk menyembunyikan wajah.

“Hahaha.” tawa kecil terdengar dari lelaki itu. Badan Rumi bergetar tidak bisa menahan debaran dalam dadanya yang melebihi cepat hingga tanpa dia sadari tubuhnya bergetar. Lengan-lengannya yang kini digunakan untuk menumpu badannya goyah. Rumi tidak berani menebak atau membayangkan apa yang akan dilakukan si jahat ini padanya, karena hal itu akan membuatnya semakin takut.

“Manis.” panggil Junmyeon dengan nada sok mesra yang demi apapun itu sangat memuakkan. Mungkin malah lebih mirip omongan ahjussi-ahjussi yang gila perempuan. Sangat memuakkan.

“Hks…” Rumi terisak sambil terus menunduk sedalam mungkin. Rambutnya telah berantakan karena dijambak berkali-kali.

‘Jongin… Jongin… Kemana dirimu? Apakah ini salah satu dari rencanamu?…’

“Kenapa kau menangis sayang?”

Rumi merinding dengan panggilan itu. Nafasnya terdengar sesak. Selain karena kapasitas oksigen yang begitu minim, dia juga merasa bila paru-parunya sedang radang karena tidak akrab dengan udara kotor disini. Sungguh seperti neraka baginya. Junmyeon tersenyum jahat lalu mendekati Rumi. Rumi merangkak dengan kedua tangan dan menyeret tubuhnya menjauh. Selain tubuhnya yang sudah lelah karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk memeberontak, hatinya juga memanas seperti air raksa yang telah mendidih. Sangat mencelos. Junmyeon menjambak rambut Rumi lagi dan mendongakkan kepala gadis itu.

“Argh…” Rumi mendesis kesakitan sambil menggenggam tangan Junmyeon. Kulit kepalanya terasa ingin terkelupas karena kekasaran lelaki itu. “Haha, kau memang terlihat sangat polos. Kurasa Jongin memang belum pernah mengapa-apakanmu.”

‘Apa maksud omongan orang ini?’ pertanyaan itu terbesit sesaat dalam pikiran Rumi sebelum rasa sakit datang lagi karena Junmyeon kembali menarik helaian rambut hitamnya. Omongan barusan sudah menjadi cakap angin yang tidak dipikirkannya lagi. Karena sekarang, kepalanya memang sedang sangat perih. “Assh, sa..khit… lepaskan…”

“Ternyata kau mau membuka mulut dengan tindakan kekerasan. Haha, baiklah… aku akan bersikap lebih lembut…” kata-katanya sengaja dipotong hanya untuk mendorong perempuan itu lagi dan membiarkan Rumi terbaring di lantai. “..dan memulai permainan..” lanjut Junmyeon lebih lirih.

“Hks….hhhuks…” bahu Rumi naik turun karena tangisan yang amat berat untuk ditahan.

‘Plok’ tepukan tangan menggema keseluruh ruangan. “Kalian bisa masuk sekarang!” pinta Junmyeon kepada anggota genk yang lain. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan masuklah beberapa lelaki. Rumi melotot dengan mata berairnya dan merangkak mundur dengan cepat. Namun sial sekali. Junmyeon kembali menjambak rambut gadis itu lagi. Kali ini lelaki tersebut menatap Rumi dengan sadis. Dia menyeret tubuh kasihan Rumi sejauh beberapa langkah dan menghempaskannya seperti seekor kucing keatas ranjang putih yang tadi telah kujelaskan diatas. Yap. Menyedihkan sekali. Kini Rumi tertelungkup disana dengan sisa-sisa rasa sakit hati yang mengisi dirinya. Sakit hati kepada Jongin. Harapan palsu itu yang membuat Rumi begitu membenci dan mengharapkan Jongin disaat yang sama. Yaitu sekarang.

Rumi kembali menggeser tubuhnya kebelakang dan langsung ditarik Junmyeon. Beberapa detik kemudian bibir lelaki itu melahap dan mengemut bibir Rumi dengan sangat tidak berperasaan.

Tidakkah dia tahu? Itu ciuman pertama Rumi? Rumi menggelinjang dan meninju dada lelaki itu sekuat yang dia mampu. Tetapi tetap saja, ciuman itu bagai menyedot oksigen dan tenaga Rumi hingga telas tak ada sisa. Rumi ambruk dengan bibirnya yang basah dan merah. Dia segera menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

“Hah, jadi itu ciuman pertamamu?” tanya Junmyeon. “Hahaha!” laki-laki sial yang tidak lebih sial dari Junmyeon tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

‘Brengsek! Lelaki brengsek!’ rutuk Rumi sembari menatap lelaki bajingan itu sengit.

O – O – O – O – O

Kim Jongin’s POV

Kugenggam tangan Omoni yang terbaring diatas ranjang pasien dengan seperangkat alat pernafasan dan dua selang infuse sekaligus yang tertanam dalam dirinya. Tatapan sayuku tertuju pada wajahnya yang pucat dengan kedua kelopak mata tertutup. Tidak kusangka penyakitnya akan kambuh lagi. Sudah lama Omoni tidak kambuh karena Aboji yang selalu mendorongnya untuk rutin meminum obat dan tidak memikirkan masalahku yang memang selalu membuatnya pusing. Untuk sesaat aku merasa bersalah tidak menjadi putera yang baik yang bisa membuat Omoni sehat dan tersenyum. Aku selalu sibuk dengan urusanku dan selalu menolak kecupan yang sering dia berikan setiap pagi. Aku memang nakal. Aku sadar itu. Dan itulah yang membuatku menyesali sikap kurang menyenangkan yang tadi kutunjukkan ketika akan berangkat kencan.

Eh tunggu

Kencan.

Kencan! Rumi! Rumi! Bagaimana dengan gadis itu?!

Kulihat jam dinding putih berlogo rumah sakit yang menempel di sisi dinding. Pukul tujuh malam, padahal tadi aku berangkat pukul empat sore. Bagaimana bisa aku melupakannya. Aish! Pasti dia sekarang sudah pulang! Atau tidak… Yang pasti perempuan itu akan sangat membenciku! Kuambil jaket yang tergeletak di sofa ruang ICU dan meraih kontak mobil. Dengan cepat namun tanpa suara aku keluar dari sana. Chanyeol yang duduk di kursi tunggu tampak memandangku malas. Aku benci wajah anak itu. “Kau mau kemana?” tanyanya.

“Pergi sebentar.”

“Katakan kau akan kemana dan aku bisa memberitahu Aboji kemana kau sedang ngeluyur.”

“Aku tidak mengeluyur.”

“Terus teranglah Jongin.”

“Menemui Rumi, puas?”

Kutinggalkan lelaki itu yang masih berdiri dengan mulut terbuka sambil menatap kepergianku. Kuharap dia tidak kembali menjeratku denga pertanyaan yang semakin membuat isi kepalaku kacau. Sudah cukup aku mencemaskan gadis itu. Kutusukkan kontak dan memutarnya dengan tidak sabaran lalu memundurkan mobil dan putar balik. Kurasa aku harus memeriksa sungai belakang sekolahan. Siapa tahu dia masih disana dan terus menungguku sambil menangis. Dia kan bodoh.

Tiba-tiba ponselku berbunyi dan aku segera mengangkatnya. Sebuah nomor tidak diketahui. “Hal-“ belum selesai aku mengucap hallo, orang yang ternyata lelaki itu sudah terlebih dahulu menyahutku seperti rekaman suara pada jaringan seluler.

“Kau masih ingat tentang hutangmu pada taruhan kita…? Haha, kurasa kau melupakannya begitu saja dan tidak mau membayar untuk hukumannya. Atau kau yang terlalu egois untuk mengakui kekalahanmu. Itu berarti kalau kau tidak mau membayarnya dengan tangan terbuka kepada kami, maka kami yang akan merampasnya secara tiba-tiba.” Jongin merasa kenal dengan suara itu. Kedua matanya membulat seketika tidak mampu mengontrol perasaannya yang sudah menebak-nebak sedari tadi. Tidak mungkin.

“…kenapa diam? Hmm, pasti kau sedang berfikir apa yang sebenarnya telah kurampas itu. Hahahaha! Ya ya! Benar!… Perempuan itu terlalu lemah dan sangat polos. Dia terlalu polos untuk usia delapan belas tahun, lebih mirip bocah limabelas tahun mungkin. Tenang saja. Kami tidak melakukan apa-apa. Kau tidak perlu khawatir dia telah ternodai atau apa itu… salahkan dia yang membuat kami tidak tega melakukan lebih. Kau bisa ambil dia ditumpukan daun….”

Author’s POV

Sebelum apa yang dikatakan orang itu selesai, Jongin sudah terlebih dahulu membanting ponselnya hingga pecah menjadi pecahan yang kecil-kecil. Emosinya meledak disertai amarah yang semakin memanas. Tanpa pikir panjang, lelaki itu menginjak gas lebih kencang dan melajukan mobil ke lokasi janjian. Hanya gelap yang ada di sungai itu. Penerangan sangat minim karena tempatnya memang tidak disekitar jalan raya. Jongin membanting pintu mobil dengan kuat tanpa peduli apakah mobil ayahnya itu akan keropos karena ulahnya. Bukan itu yang ada dalam otaknya sekarang. Dia hanya sedang mencemaskan sebuah nama. Rumi.

Jongin berlari menginjak tumpukan daun kering yang rata melapisi daerah itu. Lelaki itu melihat seorang gadis tergeletak tak berdaya diantara dedaunan dengan penampilan yang begitu memprihatinkan. Salju dalam hati Jongin seakan tersiram lahar panas. Rasa sakit mengikisnya secara perlahan. Jongin tertunduk menatap Rumi yang pingsan disitu. Dia merasa bersalah, menyesal, dan merasa menjadi lelaki paling jahat yang pernah menyakiti gadis polos itu. Rumi. Seorang perempuan yang sangat suci dan perlu dilindungi itu kini telah terciprat noda karena kesalahan Jongin. Air mata keluar dari mata Jongin. Ini pertama kalianya dia menangis untuk Rumi.

Dengan segera Jongin mengangkat tubuh Rumi dan membawanya ke mobil. Dia belum pernah merasa sehina ini. Memang sudah banyak perempuan yang tersakiti kareanya namun untuk perempuan yang satu ini… Jongin telah memberinya harapan palsu dan melalaikan Rumi. Rumi yang berbeda dengan gadis lain yang pernah dia temui. Betapa kejamnya Jongin. Jongin segera melarikan Rumi ke hotel sambil sekali-kali melirik melalui sepion. Memastikan jika gadis itu masih tidur dalam alam pingsannya. Kini dia merasa sangat tidak pantas untuk gadis itu. Dan dia mulai sadar, apa yang dikatakan Chanyeol benar. Jongin tidak mungkin menjadi dinding untuk Rumi karen apada akhirnya dinding itu akan runtuh menimpa seseorang yang sedang dia lindungi.

Jongin membawa Rumi ke sebuah hotel. Tidak ada pilihan lain. Jongin memang tidak tahu dimana dia harus melarikan gadis itu. Sangat tidak mungkin lagi jika di rumahnya dengan kondisi yang tidak tepat seperti sekarang ini. Ibunya sedang sakit tetapi dia malah membawa seorang gadis dan membiarkannya menginap. Jongin menggendong Rumi dengan kedua tangannya dan meminta sebuah kamar di laintai bawah. Usai mendapatkannya, dia segera membawa Rumi masuk ke kamar yang telah tersedia. Rumi tengah terbaring disana dengan blazer yang tidak terkancing menampakkan bercak kemerahan di leher dan dadanya. Pipi Rumi lebam dan beberapa bagian tubuhnya terluka. Nafas gadis itu stabil dan sangat lembut. Wajah kusutnya kini tampak penuh kedamaian walau dalam keadaan yang membuat siapapun akan merasa iba.

Jongin mengepalkan tangannya kuat-kuat. Hatinya mengucapkan sumpah serapah, lalu merutuki kecerobohan dirinya sendiri. Jongin meremas helaian rambut cokelatnya dengan frustasi. Salahnya! Salahnya! Ini semua salahnya! Jongin menelepon pelayanan kamar.

O – O – O – O – O

Dia sudah mengganti pakaian Rumi dengan sebuah sweater putih yang mampu menutup hingga paha perempuan tersebut. Jongin menahan air matanya agar tidak keluar sambil berbaring disamping Rumi dam memandangi wajah putih bersih Rumi. Putih seperti porselen.

Kim Jongin’s POV

Bagaimana bisa aku menyakiti gadis ini hah? Kenapa aku begitu tega? Lelaki-lelaki itu telah merampas kesucian Rumi. Kenapa harus Rumi? Kenapa tidak mereka hajar dan bunuh aku saja?

Kuusap air mata yang ternyata sudah longsor dan berakhir pada permukaan bantal putih lalu merembes disana. Gurun pasir dalam diriku seakan diterjang badai. Sisi jantan yang selalu kubanggakan itu runtuh hanya karena melihat Rumi yang terluka karena aku. Aku memang sangat bajingan, aku pemuda brengsek, aku adalah lelaki paling sialan yang pernah kukenal.

“Rumi, mianhae….” bisikku parau dengan pandangan yang semakin kabur karena air mata yang tidak bisa berhenti. Tapi kemudian. Kelopak matanya bergetar. Aku terdongak dan memperhatikan pergerakan Rumi. Dia membuka matanya lalu mengerjap dengan sangat pelan. Rumi mengernyitkan dahi. Pasti dia bingung mengapa bisa disini.

“Jongin…” panggilnya sambil menatapku dengan kedua mata indah itu. Aku bisa melihat luka disana. Luka yang tertimbun jauh dalam bola matanya tampak pada penglihatanku.

“…Jongin…” panggilnya lagi dengan suara kecil. Hatiku ngilu mendengarnya. Rumi meneteskan air mata dari kedua matanya yang memang sudah berkantung sejak tadi. “Jongin…” panggilan itu seolah dia memang telah lama menunggu kedatanganku dan mengharapkan aku. Aku sesak. Nafasku tercekat tidak bisa menahan gejolak yang membunuh mati rasa egois dalam diriku. Rumi. Dia langsung memelukku seerat yang dia mampu dan menyembunyikan wajahnya di dadaku. Dia menangis dan terisak. Aku bisa merasakan hangat dan basah air matanya. Tanganku terangkat dan balas memeluknya. “Mianhae…mianhae…”

“Jongiin….” nada suara Rumi bergetar sambil terus menangis dalam pelukanku. “Rumi, maafkan aku. Maaf…” bisikku parau. “Kenapa kau tinggalkan aku? Kenapa kau tidak datang Jongin?” tanya gadis itu dengan suara yang teredam dalam dadaku. Suaranya benar-benar membuatku semakin merasa bersalah dan tidak kuat untuk mendengarnya. Jemariku bergetar sambil mengelus rambut Rumi. “Apakah kau sengaja melakukannya Jongin? Apakah kau memang berniat untuk menyerahkanku kepada lelaki-lelaki bajingan itu. Kau tidak tahu kan apa yang mereka lakukan padaku?! Mereka mempermainkanku dan memukulku Jongin!” Rumi kini telah melepaskan pelukannya dan melototiku dengan kedua mata indahnya yang memerah. Sorot mata itu tepat menyerang hatiku dan meremukkannya seketika. Ya, aku bisa meihat kepedihan yang tertanam didalam sana. Aku tidak pernah melihat gadis ini sekacau sekarang. Aku memang jahat. Aku pantas mendapatkan cacian itu darinya. “Kau manusia paling buruk yang pernah kukenal Jongin! Kau lelaki pertama yang telah menyakitiku hingga sekeji ini! Kau lelaki penjahat!” kubiarkan Rumi memukuli dadaku sepuasnya. Aku hanya diam sambil membiarkan air mata mengucur mengiringi ngilu yang kian membesar. Aku patas dia sakiti. Aku memang pantas menerima ini. Ini kesalahanku! Aku lelaki yang buruk. Aku mencintainya tetapi telah menyakitinya. Lelaki macam apa aku ini.

‘Bugh! Bugh! Bugh!’ tinjuan itu kian melemah. Rumi mulai kelelahan dan sulit mengontrol emosinya yang meledak-ledak. Dia kini terisak sambil kembali menenggelamkan wajah ditubuhku. Mungkin kini pakaian yang kukenakan telah basah oleh air matanya. Aku bisa terima ini. Rumi yang tidak salah apa-apa telah menjadi korban karena diriku. Tidak. Karena keadaan yang menyangkut paut diriku didalamnya dan membuatku menjadi tersangka utama disini. Kupeluk gadis itu lagi dan kucium puncak kepalanya yang wangi dan lembut. Kukecup berkali-kali agar dia merasa nyaman. Tetapi tetap saja. Rumi menangis sesenggukan. “Kenapa Jongin?… Kenapa?…” suaranya yang mengecil terdengar disertai tinjuan ringan yang menyerangku. “Kau egois. Kau tetap Jongin yang liar. Pembohong! Kau tetap saja seorang player yang tidap pernah memikirkan perasaan perempuan. Dan itu membuatku sangat membencimu. Aku menyesal telah mencintaimu dan gila padamu. Padahal kau lelaki yang sama sekali tidak pantas mendapatkan cinta. Kau hanya akan bermain-main. Kau hanya tahu perasaanmu sendiri, tidak dengan orang lain. Kau hanya memikirkan kesenangan tanpa mau bertanggung jawab! Aku membencimu Jongin! Aku benci!… Aku benci!… Aku-“

Kutangkup kedua belah pipi putihnya sembari menatap kedua mata Rumi. Aku tidak kuat mendengarnya. Kata-kata barusan seakan menembakku dengan ribuan peluru dan membuatku semakin susah bernafas. Rumi balas menatapku di jarak seminim ini. “…berhenti Rumi… sudah. Aku tahu bagaima rasanya… stop menyebutkan segala keburukanku. Aku akan merubah diri untukmu… aku bersungguh-sungguh. Aku akan melakukannya.”. Keheningan tercipta karena omonganku barusan. Dan kemudian secara tiba-tiba kuluncurkan sebuah ciuman ke bibir Rumi. Mengemutnya dan menyesap bagaimana manisnya bibir gadis itu. Membersihkannya dengan bibirku sendiri. Menghapus segala bekas yang berani mengotorinya. Mungkin aku bukan yang pertama lagi tetapi tetap bisa kurasakan bagaimana lembutnya kulit tipis bibirnya. Rumi memejamkan matanya dan aku melakukan hal yang sama. Ini sangat manis dan lembut seperti madu yang mencair. Kugerayangi tubuh perempuan itu sambil terus memperdalam kuluman ini. Tubuh kami seolah berkomunikasi tanpa suara. Hanya saling menyentuh dan mengenali satu sama lain lewat pergerakan dan bahasa tubuh yang berbicara. Ini rasanya sangat berbeda. Perempuan ini bisa memberikan sesuatu yang lain. Tidak seperti perempuan sebelumnya yang sudah pernah kuperlakukan dengan lebih intim. Seperti ada sesuatu dalam diri Rumi yang membuatku kecanduan dan terus ingin bersamanya, menyentuh gadis itu.

Rumi memeluk lingkar leherku lebih erat dan menuruti apa kehendakku pada tubuhnya. Dia sudah terhanyut dengan ini. Kulepaskan tautan bibir kami lalu kuusap permukaan bibirnya yang basah. Rumi kembali memelukku hingga pagi datang.

O – O – O – O – O

 

Author’s POV

Rumi terbangun dari tidur nyenyaknya semalam. Gadis itu menggaruk kulit kepalanya yang terasa sangat gatal. Dia mulai mencari-cari seseorang. Hanya ada dirinya diranjang itu. Lalu dimana Jongin? Dengan kedua mata yang masih lengket Rumi berjalan keluar dari kamar dengan sweater kebesarannya yang kusut.

‘Hm… bau makanan.’ Dia mulai berfikir bila Jongin sedang memasak. Hah? Bisa apa lelaki itu dengan alat-alat dapur?

“Jongin.” panggilnya lirih namun tetap terdengar karena suaranya yang menggema. “Rumi. Kau sudah bangun?” wajah tampan Jongin tampak mengintip dari pintu sebuah ruangan yang diduga dapur. Rumi tersenyum kecil melihat wajah ceria Jongin dipagi itu. Entah mengapa dia merasa sangat senang melihat lelaki itu berusaha mengaduk-aduk berbagai macam bahan makanan. Memangnya dia sedang memasak apa?

Rumi duduk di meja makan sambil mengamati punggung Jongin.

“Kau sedang membuat apa? Baunya seperti ayam.” tanya Rumi.

“Ah, ini…” Jongin menggaruk kepalanya. “…aku sedang membuat dakjuk untukmu.”

“Eh, dakjuk? Kau bangun pukul berapa? Kenapa tidak membangunkanku?”

“Kau tampak kelelahan dan tidur sangat nyenyak semalam”

Rumi mengangguk-angguk. Pembicaraan mereka terdengar seolah kejadian buruk kemarin tidak pernah terjadi dan tidak menganggap itu sebagai masalah yang perlu diungkit. Tetapi rasa sakit yang telah hilang itu tetap saja membekas dalam diri Rumi. Seperti sebuah paku yang ditancapkan pada meja. Meskipun paku itu telah dicabut tetap saja ada bekasnya dan tidak akan pernah hilang. Ne, kurang lebih seperti itulah.

“Auh panas!” Jongin mengibaskan tangannya sambil mengaduh kesakitan. Rumi segera berjalan mendekat lalu meraih serbet.

“Kau tidak papa?” tanya Rumi sambil menggenggam tangan Jongin yang tersiram air kaldu. “Ya… seharusnya pelan-pelan saja. Aku tahu kau ini pemasak amatir, setidaknya hati-hati Jongin!” Rumi mengomel sambil mengusap tangan basah Jongin dengan serbet. Sedangkan Jongin terpana dengan ekspresi cemas Rumi yang tampak melebih-lebihkan. Dia hanya tersiram air panas. “Fyuuuh…” gadis tersebut meniup kulit tangan Jongin yang tebal. Jongin tersentuh dengan itu semua. “Sekarang kau duduk saja. Biar aku yang angkat dagingnya!” ujar Rumi seraya menarik kursi makan dan menyuruh Jongin menunggu disana.

Jongin kini hanya bisa melihat apa yang Rumi lakukan dengan alat-alat masak. Tangan-tangan terampil perempuan itu seolah telah kenal betul bagaimana cara memperlakukan alat-alat dapur. Lagi-lagi Jongin terpesona. “Dari mana kau mendapat daging ayam ini?” tanya Rumi dengan posisi yang masih membelakangi Jongin. Pertanyaan itu membuat imajinasi Jongin yang tadinya terbang kemana-mana langsung pecah. “Pelayan kamar.” jawan Jongin kaku. Rumi tidak menjawab. Beberapa saat kemudian Rumi berbalik dengan sebuah panci yang berisi bubur dakjuk dan dua mangkuk putih. Dia menarunya diatas meja. “Ayo kita makan.” celetuk Rumi terdengar bahagia.

Rumi tersenyum sambil menata alat-alat makan. Jongin sangat terkejut dengan wajah ceria Rumi yang jauh berbeda dari tadi malam. Dengan mudahnya gadis polos itu bisa melupakan kesedihannya. Rumi menyendok dakjuk miliknya dan melahap makanan itu walau masih panas. Jongin yang duduk diseberangnya sama sekali tidak menyentuh sendok dan masih memandangi gerak-gerik Rumi. Bukan karena tangannya yang masih sakit, tetapi karea gadis itu yang membuatnya tidak bisa berpaling pada objek lain. Rumi sudah menghabiskan setengah makanannya dengan kelaparan seperti korban bencana alam yang telah lama menunggu sumbangan makanan.

“Eoh, kau tidak mau memakannya?” tanya Rumi. “Rasanya tidak seburuk yang kau fikirkan kok. Yah, meskipun ini masakan pertamamu.” Rumi kembali menelan buburnya. Mungkin gadis itu sedang kelaparan sehingga tidak memikirkan rasa makanannya. Jongin menenggak air liur ketika mangkuk Rumi telah kosong. Apakah gadis itu benar-benar kelaparan. “Rumi…”

“Hm?”

“Kau… kau bisa memakan milikku.” Jongin mendorong mangkuknya.

“Eh, lalu bagaimana denganmu?” tanya gadis itu dengan polosnya.

“Aku… tidak lapar. Makan saja.”. Rumi menarik mangkuk Jongin dan menyendok bubur. Tetapi tidak seperti yang Jongin pikirkan sebelumnya. Dia mengira gadis itu akan melahap bubur dengan kesetanan seperti tadi. Namun ternyata Rumi menyendokkan makanan itu lalu mengangkatnya didepan mulut Jongin.

“Kau harus makan. Nanti sakit.”

“Kau lebih lapar daripada aku… makan saja itu.” tolak Jongin.

“Aku tidak akan makan lagi sebelum kau memakan ini.” Rumi mendorong sendoknya lebih dekat dan hal itu langsung diterima mulut Jongin. ‘Benar. Ini tidak buruk. Enak.’ batin Jongin sambil mengecap rasa masakan pertamanya. Rumi menyendok lagi untuknya lalu kembali menyuapi Jongin seperti anak kecil. Jongin senang diperlakukan seperti ini dan dia menikmati kepedulian Rumi padanya. “…jadi hari ini kita tidak sekolah.” ucap Jongin.

Rumi melotot. ‘Oh iya, kenapa aku bisa melupakan sekolah. Ah sudah lupakan.’ lalu gadis itu kembali memakan bubur. “Ne, tidak masalah. Kan hanya sehari membolos.”

“Setidaknya kita bersama.” Jongin tersenyum. “Eh.” pipi Rumi bersemu kemerahan. “Haha… aaak..” Jongin membuka mulut. Rumi kembali menyuapinya dengan lahap.

O – O – O – O – O

“Bukannya kemarin Rumi masuk sekolah?” tanya So Eun pada Chanyeol. Sekarang mereka sedang berjalan berdua menuju perpustakaan. Perempuan dengan rambut lurus sebahu itu menatap ekspresi datar Chanyeol. “Ne.” jawab Chanyeol seadanya. Bibir So Eun mengkerut menyadari jawaban yang begitu singkat itu. Seakan sama sekali tidak ada semangat dalam diri Chanyeol dihari ini. Apakah karena Rumi tidak masuk? “Kau sakit?” tanya So Eun kemudian. “Ah tidak.” kali ini Chanyeol menutupi kesedihannya dengan sebuah senyuman lebar dan cukup menenangkan hati gadis dihadapannya. So Eun balas tersenyum.

‘Dan anehnya… hari ini Jongin juga tidak masuk. Mungkin mereka….’ pikir Chanyeol.

.

.

.

.

TOBACON

Tarik nafas lagi coba😀 keluarinnnn~

Nah kali ini aku engga kasih cuplikan buat chapter depan T__T maap banget ya😀

mungkin cuman ini yang bisa aku tuliskan untuk kali ini… cari wifi aja sulit T_T maklum aku udah kelas 3 dan ini adalah H-30 Unas.

Oke…

Komentarnya ditunggu

Maaf kalo ada typosss!

FIGHTING!’-‘)9

32 responses to “[Chapter 9] Fleas Love

  1. argh..
    chanyeol eotteohke…???
    kenapa harus chanyeol yang jadi saudaranya kai…??
    kenapa chanyeol harus bertepuk sebelah tangan begoto..???

    *karena authornya yang nulis kayag gitu :v
    virus unyu yang sabar ya🙂

    untuk han yang semangat nulisnya,
    dan untuk UN nya semoga lulus 100% aamiin🙂

  2. kenapa gak dari awal aja mereka berdua kaya gitu? yang romantis, sweet yaampunn, Chanyeol cemburu yeuuu? ciee cemburu cieee ;3

  3. kasian rumi😦 tapi jongin so sweet banget thor..
    tapi di sisi lain kasihan ama chanyeol juga..
    aaahhhh.. pokoknya di tunggu kelanjuatan nya yaaa….
    semangat unas nya ya thor~^^

  4. Pingback: [Chapter 10] Fleas Love | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s