[Series] Married With A Gay – Chapter 8

mwag-copy

Title     : Married With A Gay

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Angst

Main Cast: Xi Luhan as Lu Han, Ariel Lau (OC), Zhang Yi Xing as EXO M Lay

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : G.Lin @CafePoster

Also published : xiaohyun.wordpress.com

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

***

“Kenapa tidak bilang jika kalian memang benar-benar saling kenal?” tanya Luhan lagi setelah beberapa menit berlalu, setelah tanpa sepengetahuan Luhan Yi Xing dan Ariel telah membohonginya, “Jadi kau benar-benar fans Yi Xing?” Luhan mengalihkan pandangannya ke arah Ariel yang sejak tadi hanya menusuk-nusukkan garpunya ke atas piring.

Ariel tersenyum kaku dan sama sekali tidak menjawab. Ia tidak bisa akting, bahkan ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika saja Yi Xing tidak menyela mereka berdua tadi.

“Dia sangat kaku,” Yi xing cepat-cepat menyela. Dan tentu saja berhasil, Luhan langsung menarik pandangannya dan tersenyum ke arah Yi Xing.

“Ya, dia sangat kaku. Tapi aku sangat nyaman dengannya,” sahut Luhan masih dibarengi senyumnya. Ia sama sekali tidak tahu akan berkata bahwa ia nyaman di dekat Ariel –tapi yang ia tahu ia menyukai keberadaan Ariel di sampingnya.

Fei yang menonton adegan monoton di hadapannya hanya bisa tersenyum tipis, sama sekali tidak mengerti dengan raut wajah penghuni seisi meja ini. Meskipun tadi ia banyak menggerutu karena Luhan harus bertemu istrinya –yang ternyata berkewarganegaraan kanada, tapi sekarang ia malah dibuat tidak nyaman dengan ekspresi aneh yang tampak dari wajah wanita itu, wanita bernama Ariel Lau yang saat ini duduk di samping Luhan.

“Jadi…kau orang Kanada? Bagaimana kau bisa bertemu Luhan?” Fei mencoba angkat suara. Ia memang merasa menjadi angin lalu di sini, tapi sayangnya ia bukan gadis pendiam, kaku dan juga pemalu.

Ariel mendongak menatap Fei bingung –dan terkejut. Ia tidak pernah berdiskusi apapun tentang menghadapi pertanyaan orang lain seperti ini mengenai pernikahannya dengan Luhan, dan ia juga sama sekali tidak yakin jika harus berkata bahwa mereka dijodohkan. Bagaimana jika pertanyaan lainnya muncul? Semisal, lalu kenapa Ariel menerima Luhan? siapa keluarga Ariel? Juga…

“Ibuku yang mengenalkannya padaku, kau tahu ibuku sangat cerewet sekali,” Luhan langsung menyela saat tahu Ariel justru tak beraksi apapun ketika dilempari pertanyaan itu, entah kenapa.

Ariel sempat bernapas lega, sebelum ia kembali merasakan napasnya tersendat karena tatapan Yi Xing yang dijatuhkannya pada retina Ariel.

Fei tersenyum kecil, “Dan kau langsung menerimanya?” ia pun kembali memutar bola matanya ke arah Ariel, “Ini benar-benar kejutan. Luhan sangat kaku, bahkan terlihat sangat payah jika sudah berhadapan dengan perempuan. Bahkan Song Qian yang sempat menjadi model saja ditolaknya mentah-mentah,” katanya masih sambil menatap ariel.

“Fei…” Luhan memelototi Fei saat gadis itu mulai berkelakar banyak, seperti kebiasaannya.

“Kau juga sahabatnya, kan?” Fei menoleh ke arah Yi Xing yang tidak menikmati tontonan di depannya, lalu menjawab pertanyaan Fei dengans atu anggukkan kecil, “Kau juga pasti tahu jika Luhan sangat payah jika soal perempuan. Dia hanya pernah sekali pacaran, dan aku salah satu gadis beruntung yang sempat kencan dengannya,” lanjut Fei lagi dengan nada cuek. Sama sekali tidak peduli dengan reaksi Ariel di hadapannya.

Yi Xing hanya tersenyum kaku. Apa-apaan ini? Kenapa sekarang ia seolah harus terlibat dengan provokasi yang dilakukan oleh gadis asing ini? Bahkan Yi Xing kira, mungkin Luhan harusnya bisa lebih pemilih jika ia benar-benar pernah mencoba berkencan dengan gadis cerewet dan menyebalkan ini.

“Kau tahu, bahkan kami pernah…”

“Fei cukup. Bercandamu tidak lucu,” Luhan sedikit menggebrak meja saat Fei mulai bicara yang tidak-tidak. Oh, ayolah. Bagaimanapun ia harus menghargai perasaan istrinya. Meskipun Ariel tidak menyukai Luhan, tapi sama sekali tidak pantas membicarakan masalah-masalah sensitif seperti itu, kan?

Fei mencebik kecil, “Kenapa? Takut ketahuan?” Fei kembali mengalihkan pandangannya ke arah Ariel, “Lagipula Nona Kanada ini terlihat baik-baik saja.”

Ariel sama sekali tidak mengerti kenapa gadis ini malah terus bicara yang tidak-tidak. Ia tidak masalah dengan masalalu Luhan dan gadis menyebalkan bernama Fei itu, ia juga tidak peduli jika mereka pernah berkencan. Hanya saja…bagaimana bisa Luhan yang seorang gay menyukai laki-laki tapi tetap mengencani…perempuan? bukankah itu…menakutkan?

“Fei. Kau bisa kuusir sekarang jika terus bicara yang tidak-tidak,” ancam Luhan serius. Ia benar-benar akan menendang gadis itu jika sampai Fei berani bicara yang tidak-tidak lagi.

Fei pun mengedikkan bahunya. Ia tahu Luhan mulai marah, tapi ia juga terus menunjukkan senyum cerahnya.

Di samping kanan Fei, Yi Xing justru terus mengamati perubahan raut wajah Ariel. Ia tidak yakin apakah ia suka jika seandainya ia cemburu dengan keberadaan gadis bernama Fei ini, tapi ia juga tidak yakin apakah gemuruh di dadanya tanda ia baik-baik saja. Harusnya Yi Xing ikut bahagia jika Ariel mulai menyukai Luhan, kan? Juga sebaliknya. Dan…tentu saja itu pasti terjadi. Bagaimanapun, mereka adalah pasangan suami istri. Sudah sewajarnya mereka saling menyukai.

***

Luhan kembali menyeruput bubble tea rasa taro miliknya. Mood nya hari ini tidka terlalu bagus, salahkan karena lidah Fei yang terus-terusan berkelakar tentang masalalu mereka. Tentang masalah yangbahkan luhan sendiri sudah hampir melupakannya, bahkan tidak pernah benar-benar Luhan anggap serius.

Sekali lagi Luhan melirik ke arah Ariel yang tengah menyeruput kopinya. Luhan bahkan lupa, tadi saat di restoran Ariel juga sudah memesan kopi. Danlagi-lagi gadis itu malah memesan minuman yang sama, hanya saja kali ini Ariel memesan rasa mokacino.

Dan sejak 5 menit yang lalu, tepatnya saat Ariel dan Luhan tengah berjalan menuju parkiran, mereka sama-sama diam…atau mungkin Ariel memang mendiamkan Luhan. luhan meringis pelan, rasanya tidak mungkin Ariel mendiamkan Luhan. ia sangat tahu dan juga paling tahu jika Ariel akan lebih banyak diam saat bersama Luhan. tapi entah kenapa, Luhan malah merasa aura yang dimiliki Ariel saat ini sangat berbeda dari biasanya.

“Kenapa tidak bilang kau juga dekat dengan Yi Xing? Bahkan saat pernikahan kita kau terlihat tidak menyapanya,” kata Luhan mencoba membuka keheningan yang menyelimuti mereka. Luhan selalu tidak tahan dengan kesunyian sepertiitu, terlebih Ariel bukan lagi orang asing bagi Luhan. mereka saling kenal, dan sudah sewajarnya jika mereka bersikap lebih cair, bukan?

Ariel langsung tersedak saat mencerna kata-kata Luhan beberapa detik lalu. ia benar-benar tidak pernah mencoba untuk mempersiapkan dirinya, atau setidaknya alibi untuk menjelaskan tentang hubungannya dengan Yi Xing di masa lalu seandainya Luhan bertanya. Tidak. Bahkan Ariel tidak pernah berpikir untuk membohongi Luhan. tapi tadi lain kejadiannya, Yi Xing yang mengendalikan suasana. Yi Xing yang memulai permainan bodoh mereka. Ariel tidak tahu eknapa Yi Xing harus melakukannya, menurutnya Yi Xing harusnya bisa berkata yang sejujurnya.

“Kau tidak apa-apa?” Luhan mendadak khawatir ketika Ariel tersedak, dan Ariel buru-buru menggeleng.

“Tidak. Aku tidak apa-apa, jangan khawatir,” Ariel mengusap mulutnya yang sebenarnya tidak basah. Entah kenapa ia melakukannya, semua itu terjadi di luar kendalinya.

Luhan mendesah panjang dan kembali melanjutkan langkah kakinya yang sangat lamban, bahkan Ariel juga melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama tidak tahu apa yang mereka lakukan, atau setidaknya apa yang mereka inginkan sampai mereka harus berjalan selambat itu, seolah mencoba mengulur waktu agar suasana saat itu tidak berakhir.

“Soal Fei…maaf, dia memang begitu. Berisik, dan juga selalu blak-blakan soal apapun. Dia harusnya mengikuti konseling lidah, ia sangat payah soal mengonteol lidahnya,” kata Luhan kemudian. Tiba-tiba saja ia menerka jika Ariel tidak nyaman dengan semua uacapan Fei tadi, meskipun Luhan sendiri tidak terlalu ingat apa saja yang telah gadis itu katakan tadi.

Ariel tersenyum dan mengangguk pelan. Ia tidak suka dengan Fei, Ariel terbuka pada dirinya sendiri. Walaupun berstatus sebagai temand ekat Luhan –atau bahkan teman kencan Luhan, tapi cara bicaranya seolah ingin memojokkan Ariel dan menyiratkan jika gadis itu vbisa merengkuh Luhan seutuhnya. Ariel tahu itu pemikiran…bodoh. tapi yang lebih mengerikan dari itu, fakta baru bahwa Luhan juga suka berkencan dnegan perempuan.

Bagaimana bisa Luhan menyukai pria namun disaat yang bersamaan Luhan mengencani perempuan?

“Aku senang bertemu dengan Yi Xing hari ini,” Luhan mulai kembali membuka suaranya, seolah tidak tahan jika ia harus benar-benar dikungkung kesunyian meskipun hanya beberapa menit. Sedikit mirip Baekhyun, hanya saja Baekhyun tidak sekaku Luhan. luhan memang bersikap cair saat bersama Ariel, tapi Ariel tidak menutup mata bagaimana tingkah Luhan yang mencoba menjaga perasaan Ariel.

“Aku sangat terkejut saat tahu dia sudah berada di Beijing. Dia selalu menjadi sebuah kejutan semenjak perpisahan kami,” dengan kedua sudut yang tertarik lembut, Luhan pun menarik tangan Ariel dan menggenggamnya erat, sama sekali tidak ingin tahu –meskipun Luhan tahu bagaimana reaksi tubuh Ariel yang sempat menegang karena perlakuan tiba-tiba Luhan, “Tapi jika boleh jujur aku jauh lebih senang karena keberadaanmu saat ini, setidaknya aku tahu satu hal, aku memiliki seseorang yang mau tetap berada di sisiku dengan kondisiku saat ini.”

Ariel hanya mengerjapkan matanya saat rentetan kalimat yang Luhan lontarkan menembus gendang telinganya. Mimpi. Pasti Ariel bermimpi saat Luhan mengatakan kata-kata barusan…dan, hei! Kenapa tiba-tiba saja Ariel ingin tersenyum? Bahkan ia merasakan debar jantungnya bekerja di luar kata normal.

Ini tidak normal. Demi apapun seharusnya bukan reaksi seperti ini yang dilakukan oleh tubuhnya, setidaknya itu yang Ariel tahu.

***

Yi Xing masih memetik gitarnya kaku saat tiba-tiba pintu kamar hotelnya terbuka dan ditutup dengan suara yang keras. Ia langsung tahu siapa yang berani dan selancang itu padanya, bahkan bisa masuk ke kamar hotelnya seolah orang itu adalah pemilik kamar hotel itu.

“Kau tidak mengangkat telponmu lagi! kau ini kenapa, sih! Aku khawatir bodoh! Setidaknya kau harus menghubungiku atau bertanya tentangku. Jauh-jauh aku harus datang ke sini karena permintaanmu juga, ah! Benar! Kenapa juga kau memaksaku untuk datang? Ini kan acara pribadimu, sama sekali tidak ada hubungannay denganku. Kau tahua ku sangat sibuk mengurusi hal lainnya untuk…”

Itu Lisa. Manager yang merangkap sebagai babysitter Yi Xing, dan juga sosok gadis yang Yi Xing anggap sebagai kakaknya. Yeah, meskipun Lisa berlipat-lipat lebih cerewet dari kakak kandung Yi Xing sendiri. Dan Yi Xing juga tidak benar-benar mendengarkan ocehan panjang yang keluar dari mulut Lisa. Ayolah, apakah Yi Xing harus mendengarkan keluhan sedangkan Yi Xing sendiri menelan mentah-mentah keluhannya hari ini?

Tahu-tahu, Lisa sudah menarik gitar Yi Xing seenaknya –dan juga kebiasaan buruk Lisa di mata Yi Xing. Menaruhnya dengan agak kasar tepat di sisinya, di bagian ranjang lain yang memang kosong dan menyisakan bulatan matanya yang memanah ke arah retina mata Yi Xing.

“Setidaknya dengarkan orang yang tengah bicara padamu Zhang Yi Xing! Setidaknya kau tahu aku lebih tua darimu, jadi aku berhak untuk dihormati olehmu!” omelnya sekali lagi entah untuk yang keberapa kali.

Yi Xing mendesah panjang, “Hari ini aku bertemu Ariel, bahkan Luhan…” tidak. Yi Xing sama sekali tidak ada niatan untuk membahas hari itu, soal dirinya yang harus bertemu dengan Ariel dan Luhan tadi sore. Ia sama sekali tidak bermaksud…

“Sudah kubilang ini ide yang buruk,” mata Lisa tiba-tiba berubah sendu saat mendnegar suara Yi Xing…juga nada mata itu yang semakin sumbang, gelap. Lisa tahu warna mata Yi Xing menggelap.

“Bagaimanapun, Ariel adalah istri sah Luhan. kau bukan hanya harus bertemu dengan Luhan, tapi juga Ariel. Tidakkah ini semua menyakitimu terlalu jauh? Maksudku, kita bisa menghentikannya kalau kau mau, aku…”

“Aku hanya mengobati rasa rinduku,” sela Yi Xing cepat sebelum Lisa berkelakar kemana-mana. Kemudian ia menarik beberapa lembar kertas di sampingnya yang tidak Lisa lihat tadi, “Dan aku menyelesaikan laguku. Tapia ku belum nemenukan judul yang tepat, aku senang bisa melihat Ariel, meskipun disisi lain aku sangat tersakiti dengan posisi Luhan saat ini.”

Lisa tidak berkata appaun setelahnya. Rumit. Ia hanya tahu semua masalah yang dialami Yi Xing saat ini sangat rumit. Ini bykan soal fisika yang paling dibencinya, juga bukan soal menyelesaikan masalah pekerjaan yang bisa diselesaikannya meskipun Lisa harus banting tulang.

Ini tentang perasaan, ini tentang hati. Dan Lisa tahu betapa sulitnya menyelesaikan masalah yang satu itu.

“Aku ingin Nuna ada bersamaku untuk menghadapi semua ini,” Yi Xing masih menunduk menatap baris-baris lagu yang ditulisnya beberapa saat lalu sebelum Lisa menerobos masuk dengan kasar.

Lisa terenyuh. Yi Xing kesepian, dan bodohnya Lisa tidak menyadari itu sejak awal. Yi Xing membutuhkan seseorang di sisinya dan tentu saja, Lisa yang memag bukan siapapun setidaknya harus bisa berdiri di samping pemuda itu.

Lisa kembali menarik Yi Xing ke dalam pelukannya, “Aku disini untuk bersamamu Zhang Yi Xing.”

***

Pagi-pagi sekali Luhan sudah berangkat kerja. Ariel tidak tahu persis apa yang akan dilakukan Luhan sepagi ini, juga ucapannya tadi pagi saat Ariel baru membuka matanya dan mendapati Luhan yang setengah berpenampilan rapi terlihat buru-buru dan pamit padanya.

Ariel sedikit menyesal karena ia tidak sempat membuatkan sarapan untuk Luhan. setidaknya, Ariel harus bangun lebih pagiwalaupun ia hanya akan menyediakan teh manis untuk Luhan. tapi sialnya pagi tadi Ariel malah kesiangan, benar-benar bodoh.

Dan sekarang Ariel justru duduk termangu sambil menatap pakaian dan sepatu yang beberapa waktu lalu Luhan berikan padanya, tepatnya sepulangnya laki-laki itu dari Guangzhou. Dan yang membuat Ariel tidak terlalu nyaman, Ariel sama sekali tidak bisa berdandan. Bagaimana bisa ia mengimbangi Luhan nanti malam jika cara berpakaian yang benar saja ia tidak tahu? Dan yang lebih menyedihkan, Ariel tidak bisa memakai sepatu heels.

Ariel mendesah panjang dan kembali mengangkat sepatu mahalnya. Tanpa perlu bertanya soal harga, Ariel langsung bisa menebak harga sepatu itu pasti tidak akan main-main. Dan tentunya sebuah kebanggaan jika Ariel bisa mengenakannya.

Tapi sayangnya tidak begitu.

Ariel menggaruk kepalanya frustasi. Tidak ada Taeyeon Sunbae, Lisa Eonni atau siapapun yang bisa dimintai tolong. Ia benar-benar buta tentang menjadi ‘gadis cantik’. Tidak. Bahkan lebih dari itu, ia bergelar menjadi Nyona Besar nanti malam.

Dan tiba-tiba saja, terbesit nama Keiko di otaknya. teman kursusnya yang berasal dari Jepang itu, salah satu pegawai di salah satu perusahaan kosmetik di Beijing, cantik, dan juga anggun. Harusnya gadis itu bisa dimintai tolong, kan? Benar! Bahkan Ariel menyimpan nomor ponselnya, pasti tidak apa-apa meminta tolong padanya.

***

Luhan masih berdiri di depan pagar pembatas di atas balkon kantornya. Dengan gelisah, Luhan kembali menyentuh ikon ‘call’ di ponselnya, menghubungi satu nomor yang telah dihubunginya belasan kali. Tapi nihil. Si pemilik nomor seolah ingin menjauh dari Luhan, dan ini menambah beban bagi Luhan. ia tidak tahu akan sesakit ini jika ayahnya marah, bahkan menjauhinya.

Dan ternyata, perkataannya tempo hari tentang ketidakhadirannya dalam acara perusahaan ternyata serius. Luhan benar-benar tidak percaya ayahnya memutuskan untuk tidak datang…dan ini pertama kalinya terjadi.

“Tenanglah, kau panik sekali,” tiba-tiba Wufan muncul dan merangkul pundak Luhan. sama sekali tidak nyaman melihat air muka Luhan yang terlihat tidak baik sekali hari itu.

“Bagaimana aku bisa tenang jika ayahku terus begini?” gusar Luhan masih mencoba menghubungi nomor yang sama, berharap kali ini ia akan mendapat kesempatan dan bisa menghubungi ayahnya, memintanya datang untuk acara malam ini.

Wufan mendesah panjang. Luhan tipe orang yang mudah panik, seperti sekarang, “Bagaimana jika kau menyiapkan diri untuk acara malam ini? Kau sudah menghubungi Ariel? Kau tidak lupa untuk menjemput istrimu, kan?” Wufan mencoba mengingatkan Luhan sekaligus menghentikan laki-laki itu.

Luhan menarik napas panjang, “Harusnya sejak awal aku tidak menyentujui permintaan ibu. Aku tidak tahu Ayahku akan semarah itu…”

“Hei, sudahlah,” Wufan membalikkan tubuh Luhan dan menariknya ke dalam pelukan Wufan, “Kau terlihat stres sekali belakangan ini. Well, lagipula kau juga sudah berniat baik pada Ariel, kan? Semua akan baik-baik saja selama kau tidak meloloskan kontrak itu.”

Luhan pun menarik tubuhnya dan mundur selangkah, tanpa sadar ia mulai menunjukkan sikap yang berbeda pada Wufan, “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika…”

“Kau terlihat seperti Fei jika sudah dalam masalah. Sudahlah, bersiap-siap sekarang. Apa aku perlu mengantarmu pulang?” Wufan langsung menarik Luhan untuk pergi dari tempat itu. Ia agak jengah karena Luhan terus-terusan murung.

“Kenapa tiba-tiba membahas Fei?” tanya Luhan heran saat mereka masih berjalan menuju ruangan Luhan. luhan tahu Wufan mengenal Fei sudah sejak mereka sekolah, sejak mereka sama-sama tinggal di Calgary, Kanada. Alasan kenapa Fei keukeuh memanggil Wufan dengan nama inggrisnya, Kris. Tapi pertengkaran mereka yang Luhan tidak ketahui, membuat Wufan tajk pernah lagi menyebut nama Fei, bahkan Fei menghilang seperti di telan bumi. Sampai gadis itu kembali menghubungi Luhan sebagai sosok yang lain.

Dan Wufan tidak menjawab. Ia bahkan sedikit menyesal karena menyuarakan isi pikirannya tentang Fei. Salahkan gadis itu karena telah datang ke tempat tinggalnya dan mengeluh panjang lebar soal Luhan dan istrinya. Fei memang selalu ikut campur urusan orang lain.

“Wufan?” panggil Luhan saat Wufan tak juga menjawabnya meskipun mereka sudah berada di ruangan Luhan saat ini.

“Kau tidak bilang Yi Xing datang ke Beijing? Kau bahkan bertemu dengannya,” Wufan akhirnya menjawab, tapi yang membuat Luhan terkejut karena Wufan justru membahas soal Yi Xing…ah! Luhan langsung tahu pasti Fei datang dan menceritakan kejadian kemarin.

Luhan yang sadar akan ketersinggungan Wufan langsung menyikut lengan Wufan sambil tersenyum kecil, “Jangan marah,” katanya masih dengan senyum yang sama, “Aku tidak menceritakannya karena aku…tidak ingin menspesialkannya lagi.”

Wufan membulatkan matanya saat mendengar jawaban Luhan, “Apa katamu?”

Luhan mengedikkan bahunya smabil berjalan menuju kursinya, mengambil jasnya yang tersampir asal-asalan di sana, “Aku tak ingin menspesialkan Yi Xing. Ada Ariel mulai sekarang.”

Dan Wufan tidak tahu, ternyata keberadaan Ariel bisa membuat suasana hati Wufan jauh lebih gelap daripada keberadaan Yi Xing.

***

“Kau benar-benartidak pernah memakai heels?” pekik Keiko tak percaya setelah ia mencerna ucapan Ariel barusan. Bagaimana bisa ada wanita di dunia ini yang bahkan tidak pernah mencoba untuk mengenakan heels? Tidak, menurut Keiko setidaknya Ariel pernah berpenampilan feminim dengan segala atribut kewanitaannya.

Ariel hanya memberikan Keiko sebuah cengiran sebagai jawaban. Jika teman-temannya di Korea mungkin sudah tidak heran jika mendengar keluhan Ariel mengenai acara-acara formal yang mengharuskanya berpenampilan ‘formal’ juga. Tapi mungkin, bagi Keiko ini asing. Meskipun dalam hati, Ariel mencibir sikap Keiko yang agak berlebihan.

“Ariel dengar…” Keiko kembali mulai angkat suara, “Seandainya kau tengah bercanda padaku, itu candaan paling tidak lucu yang pernah aku dengar. Seumur hidupku, aku baru pertama kali bertemu dengan perempuan yang bahkan tidak tahu cara berjalan dengan benar…”

“Ayolah Keiko. Aku memintaimu tolong bukan untuk mendengar ceramahmu. Aku tidak mungkin mengecewakan Luhan untuk acara malam ini,” sergah Ariel cepat sebelum Keiko memulai kembali ceramahnya.

Keiko mendesah dan ia pun memungut pakaian yang tadi ditunjukkan Ariel pada Keiko, pakaian yang menurut Ariel harus dikenakannya untuk acara malam nanti. Acara perayaan perusahaan keluarga Luhan –dan Keiko tahu betapa besarnya perusahaan itu.

“Kau sangat beruntung bisa menikah dengan Luhan,” kata Keiko sambil mendecak pelan, “Bagaimana bisa kau menggaet pria setampan dia sedangkan berdandan saja tidak bisa?”

Ariel hanya mengulum senyum dan menggeleng, setampan itukah Luhan sampai Keiko harus mengomel lagi dan lagi padanya? Menurut Ariel, Luhan bahkan tidak setampan itu, tidak seperti pangeran tak berkuda yang tiba-tiba tersesat di hidup Ariel. Bahkan Jung Yunho DBSK jauh lebih tampan –dan lupakan soal ini, Ariel akan berkelakar tidak jelas jika sudah menilai Luhan.

“Jadi…apa yang harus aku lakukan pertama-tama?” tanya Ariel mencoba mengarahkan inti tujuannya hari ini. Ia tidak mau membuang waktu hanya untuk meladeni komentar-komentar Keiko berikutnya.

Entah berapa lama…yang pasti Ariel tahu-tahu kini sudah memasangkan sepatu berwarna putih yang dibawa oleh Keiko. Dan perlu digaris bawahi, itu bukan sepatu pemberian Luhan. menurut Keiko, Ariel kelewat payah untuk menggunakan sepatu heels tipis seperti tadi, jadi dengan inisiatif kreatif Keiko, akhirnya Ariel bisa berpenampilan sempurna.

“Apa aku tidak terlihat bodoh?” Ariel kembali berdiri, mengecek apakah sepatu yang dibawa Keiko secara mendadak itu cocok di kakinya atau tidak.

Keiko tidak lagi berdecak kagum, ia bahkan sudah melihat kepayahan Ariel saat mencoba berjalan dengan sepatu mahal miliknya tadi. Dan kini, yang tersisa di benak Keiko adalah rasa gemas karena kepolosan Ariel. Tidak. Keiko sendiri tidak yakin apakah kepayahan Ariel dalam hal berdandan adalah sebuah kepolosan atau bukan, tapi cara Ariel bertanya membuat Keiko berpikir wanita itu kelewat polos untuk ukuran Nyonya Besar.

“Kau memang bodoh Nona Ariel. Yang benar saja, kau bahkan hampir mematahkan sepatumu.”

Ariel meringis pelans aat Keiko memelototinya lagi. dan hari ini Ariel menemukan karakter asli Keiko –pemarah.

Kemudian, Keiko menarik senyumnya dengan cerah, “Cepat hubungi suamimu. Katakan padanya, jika putri pujaannya sudah siap dijemput sang pangeran.”

Ariel mungkin harusnya berlagak marah, atau setidaknya memprotes saat Keiko mulai menggodanya seperti tadi. Tapi entah bagaimana Ariel justru terdiam sambil tersenyum malu-malu, bahkan ia yakin sekarang sudah ada semburat merah yang terlukis di kedua pipinya. Memalukan.

“Ou…kau membuatku ingin cepat-cepat menikah,”

***

Tadinya, Luhan akan menjemput Ariel sendiri ke apartemen mereka. Tapi karena banyaknya urusan yang harus dilakukannya, Luhan akhirnya terpaksa meminta salah satu karyawannya untuk menjemput Ariel.

“Apakah Ariel tidak akan datang? Kenapa dia tidak kelihatan juga?” entah sejak kapan ibu Luhan sudah berdiri di samping Luhan dan ikut-ikutan melongok ke depan pintu, mungkin penasaran dengan apa yang ditunggu Luhan saat ini.

Luhan berdeham pelan, “Sebentar lagi mungkin. Aku meminta salah satu karyawanku untuk menjemputnya,” kata Luhan mencoba menetralkan suaranya. Dan jika diajak jujur, Luhan sebenarnya sama sekali tidak sabar untuk melihat Ariel hari ini. Ia bahkan pergi sebelum sempat benar-benar menyapa Ariel.

Dan saat ibu Luhan akan kembalia ngkat suara, tiba-tiba Luhan melangkahkan kakinya ke depan, meninggalkan ibunya di belakang dan menyambut kedatangan sebuah mobil yang tak asing untuknya. Luhan langsung tahu siapa yang menumpangi mobil hitam itu.

“Hai, maaf aku agak terlambat, aku…”

Ariel langsung mengatupkan mulutnya saat mendapati Luhan justru tak beraksi sama sekali. Dan tanpa Ariel tahu, Luhan sama sekali tak menangkap apapun yang diucapkan Ariel barusan. Dan…entahlah, entah Luhan harus menyebutnya apa atau bagaimana.

Yang Luhan tahu saat ini, ia cukup terkejut dengan penampilan Ariel malam ini. Dan mungkin, untuk pertama kalinya Luhan merasakan detak jantungnya bekerja di luar batas normal…tunggu! Luhan pasti salah, apa Luhan baru saja berpikir jika jantungnya…

“Tuan, Mr.Jae sudah datang,” bisik salah satu karyawan Luhan.

Dengan terpaksa, Luhan menarik seluruh kesadarannya dan menoleh pada wanita seumurannya yang berdiri di sampingnya itu. Dengan nada kekanak-kanakan Luhan mengeluh, “ Aku bahkan belum sempat menyapa istriku.”

Dan wanita tersebut hanya tersenyum kecil –dan juga iri. Ia bertahun-tahun mengenal Luhan, meskipun hanya sebatas status antara atsan dan bawahan, tapi tetap saja dia merasa yang paling pertama mengenal Luhan. dan ternyata Luhan justru terjatuh pada wanita yang harus diakuinya sangat cantik malam itu, gadis Kanada yang selalu Luhan banggakan.

“Yeah, sepertinya aku harus menahan semua pembicaraan kita sampai aku selesai dengan acara malam ini.” Keluh Luhan sekali lagi, kali ini pada Ariel dan tak lupa pemuda itu menggandeng lengan Ariel dengan hati-hati.

Dulu, belasan tahun yang lalu, Luhan selalu penasaran saat ayahnya menggandeng ibunya dengan bangga dan berkata pada semua orang bahwa wanita bernama Mai itu merupakan istrinya. Luhan juga ingat, bagaimana ibunya tersipu malu dan juga merasa senang karena ayah Luhan memperlakukannya seperti itu. Dan sekarang Luhan tahu alasannya, dan Luhan juga tahu rasanya.

Luhan kembali melirik Ariel dan mulai memperkenalkannya pada setiap relasi kerjanya. Dan entah dorongan darimana, Luhan merasa ingin terus menggenggam tangan mungil Ariel.

Ariel sendiri cukup terkejut –atau mungkin memang benar-benar terkejut dengan perlakuan Luhan malam ini. Ia bisa saja terkecoh jika saja ia tidak ingat apapun tentang Luhan. luhan mungkin memang ditakdirkan untuk mencuri hati tiap gadis dengan caranya seperti sekarang ini. Luhan kadang-kadanga kan menatapnya lama, seolah berkata bahwa Luhan menyimpan ketertarikan yang serius pada Ariel. Kadang Luhan juga menggenggam tangannya dengan erat, melakukan apapun untuk Ariel, bahkan kadang-kadang ia terbangun dengan Luhan memeluknya.

“Kau terkenal sekali, ya,” kata Ariel saat semua orang membiarkan mereka hanya berdua kini. Di sisi salah satu dinding dengan minuman di tangan masing-masing.

Luhan tersenyum lebar dan mengedikkan bahunya, “Kau harus mulai terbiasa sekarang. Karena kau ikut terkenal gara-gara membuat semua orang iri,” sahutnya dengan nada bangga.

Ariel mencibir dan menaruh gelasnya ke atas meja, “Kau pikir, kau Jay Chou apa?”

Luhan kembali tersenyum, bahkan ia hampir terkekeh saking senangnya. Tunggu? Senang? Bahkan Luhan tidak benar-benar yakin ia merasa senang. Ia hanya tahu ia benar-benar tidak bisa menahan senyumnya karena gadis di sampingnya saat ini.

“Tapi aku serius, kau cantik sekali malam ini. Aku tidak tahu kau bisa berpenampilan seperti ini, padahal seingatku meja rias di kamar kita hampir kosong. Tidak berbeda jauh seperti saat sebelum kita menikah.”

Dan Ariel benar-benar tidak bisa menahan senyumnya. Gombalan macam apa pula itu? Luhan benarr ingin membuat Ariel terkecoh malam ini.

“Dan seingatku, ini pertama kalinya aku merasa sebahagia ini saat di dekat perempuan. Kau benar-benar perempuan pertama yang berhasil membuatku tersenyum seperti malam ini,” Luhan akui ucapannya seperti gombalan. Seolah-olah Luhan tengah merayu istrinya sendiri. Tapi sebenarnya Luhan benar-benar jujur, ia bahkan tidak sadar dengan apa saja yang telah dikatakannya pada Ariel. Tapi ia tidak peduli. Luhan terlanjur percaya pada Ariel, sama besar percayanya saat gadis itu bersedia hidup bersamanya. Mempercayakan seluruhnya pada Ariel.

“Kau kira aku akan termakan rayuanmu,” Ariel mendesis kecil.

“Tidak, kok. Aku se…”

“Hai Lu!”

Bukan hanya Luhan yang menoleh ke arah sumber suara itu, tapi juga Ariel. Jika Luhan semakin menarik senyumnya saat melihat orang yang menyapanya, Ariel justru menjadi satu-satunya orang yang terkesiap dengan kedatangan orang itu. Senyumnya tiba-tiba menjadi kaku, dan mungkin Ariel tidak bisa lagi tersenyum seperti tadi.

***

Zhang Yi Xing sama sekali tidak berniat untuk mengganggu waktu Ariel dan Luhan barusan. Sungguh. Lisa bahkan terus menarik-narik bajunya untuk menjauhi tempat ini. Tapi Yi Xing…entahlah, ia tidak begitu yakin dengan sekelebat perasaan yang menggores perasaannya barusan. Membuat suaranya tiba-tiba keluar dan menyebut laki-laki itu. Seolah ingin menarik paksa pemandangan itu keluar dari pandangannya. Ariel dan Luhan.

Di lain tempat, Ariel hanya berdiri dengan malas sambil menatap punggung Luhan dan Yi xing. Menyebalkan. Untuk pertama kalinya Ariel marasa Yi Xing benar-benar kelewat menyebalkan –selain fakta memang Yi Xing memang pria termenyebalkan yang pernah ada dalam hidupnya, dulu. ariel tidak yakin apa yang membuat Ariel merasa Yi Xing sangat menyebalkan, ia tidak suka saat laki-laki itu datang dan…membuat Luhan kembali meliriknya.

Apa Yi Xing tidak tahu bagaimana Luhan begitu tersiksa dengan seluruh perasaannya pada Yi xing? Apa Yi Xing tidak bis amerasakan tatapan yang berbeda dari Luhan tiap kali mereka bersama? Luhan juga sama bodohnya. Bagaimana bisa dia melupakan Yi Xing jika Luhan terus menarik Yi Xing di kehidupannya? Dan apa mereka berdua tidak bisa mengerti, Ariel juga menjadi salah satu korban disini..

Ariel menarik napas panjang. Ia kembali meneguk minuman berwarna ungunya, kali ini sampai habis setelah tadi ia hanya meminumnya sedikit-sedikit.

Ariel merindukan Yi Xing, tapi disisi lain Ariel juga justru berusaha keras untuk menerima Luhan. ariel masih merasakan letupan-letupan perasaan lamanya terhadap Yi Xing, tapi disaat bersamaan ia ingin memeluk Luhan saat melihat laki-laki itu mulai terjatuh pada perasaannya. Ariel selalu merasa perlu melindungi Luhan, tapi sbeleum Ariel bisa melakukan apapun, ia akan terjatuh pada lubang perasaannya sendiri. Benar-benar payah bukan?

“Ini lagu untukmu. Aku membuatnya setelah pertemuan kita kemarin,” Ariel terkesiap saat suara itu justru begitu terdengar begitu dekat. Tidak. Memang benar, tepat saat Ariel mengangkat kepalanya, saat itu pula ia mendapati Yi Xing tengah menatapnya.

Ariel menarik bola matanya dan menatap lembaran kertas yang dijulurkan Yi Xing ke arahnya, lalu kembali menatap Yi Xing dengan tatapan setengah bingung, “Lagu? Untukku? Aku…”

“Lim Jin Ha merupakan seorang musisi hingga ia berusia 22 tahun, dan menarik dirinya dari dunia musik setelah ia menikah dengan kekasihnya yang merupakan seorang pengusaha. Lim Jin Ha yang berdarah Korea-Cina memutuskan pindah ke Kanada dan membesarkan anak-anaknya disana, Clinton dengan bakat membuat lagunya, Henry dengan biolanya, Whitney dengan suara emasnya, dan Ariel satu-satunya gadis yang hanya menarik perhatian pada piano tanpa mau terjatuh di dalamnya.”

Ariel terdiam. Ia tidak sadar sejak kapan ia menahan napasnya seperti saat ini. Dan dengan cepat ia menghembuskannya dan memalingkan wajahnya, “Kau bercanda, aku…”

“Ayahmu melarangmu bermain musik, karena kebangkrutan ayahmu, kau terpaksa ikut kehilangan alat musik kesayanganmu, berpisah dengans meua kakak-kakakmu dan terjebak di negeri yang sama sekali tidak kau sukai ini…setidaknya itu dulu.”

“Gege…”

“Aku masih bisa mengingat detail hidupmu, apa yang kau ceritakan padaku, juga bagaimana caramu menjadikanku sebagais andaranmu,” Yi Xing mencpba sekuat tenaga agar suaranya tetap terdengar stabil.

Dengan masih mengulurkan tangannya, ia tetap melanjutkan, “Salah satu impian terebesarku adalah membuatmu bertemu dengan keluargamu, mencoba membuat hidupmu menyentuh ujung kebahagiaan yang dulu sempat kau tinggalkan.”

Jangan menangis Ariel. Tolong jamngan menangis. Yi Xing hanya sobekan kenangan saat ini, sedikit saja dia menyentuh uluran kenangan yang Yi Xing berikan, maka semuapertahanan Ariel selama inia kan hancur. Ia harus ingat bagaimana Luhan sudah bersedia membuka tangannya untuk Ariel, bagaimana ketulusan pria itu untuk tetap bersedia berada disisinya meskipun Ariel tidak pernah benar-benar menyambut pria itu.

“Aku hanya ingin kau memainkannya, sekali saja. Untuk mengenang kita berdua, lewat lagu ini. Aku tahu kita tidak berada di jalan yang sama, bahkan untuk di masa depan. Dan aku ingin kau mengenangnya sekali lagi, hanya mengenangnya…”

“Hei, kalian sedang apa?”

Ariel langsung memalingkan wajahnya, menyembunyikan matanya yang sudah mulai berair. Berbeda dengan Ariel, Yi Xing justru menyambut Luhan dnegan senyuman, seolah tidak pernah ada apapun yang berarti di antara mereka berdia –Ariel dan Yi Xing- beberapa saat lalu.

“Aku ingin memberikan ini untuknya. Ariel bisa bermain piano, dan kurasa kau bisa mendengarkan laguku lewat sentuhan jemarinya di tuts piano…”

“Kau bercanda Sunbae,” sergah Ariel cepat, “Mana mungkin aku…”

“Mantan kekasihmu yang menceritakannya padaku. Kau bahkan pernah membuat lagu bersamanya. Bukankah begitu? Tidak ada salahnya kau memainkan piano untuk suamimu, kan?”

Luhan mengerutkan keningnya dengan atmosfer yang terjadi diantara mereka. Tidak ada yang salah, Yi Xing tetap tersenyum cerah seperti biasa. Ariel juga terlihat kaku seperti biasa, tapi Luhan sama sekali tidak nyaman dengan obrolan mereka saat ini. Mantan kekasih Ariel…apa-apaan itu? Kenapa Yi Xing harus membahas orang yang bahkan tidak seharusnya muncul dalam topik mereka?

Ariel terdiam mendengar ucapan Yi Xing. Ia benar-benar merasa keterlaluan dengan sikap Yi Xing yang satu ini. Ia tahu bagaimana egoisnya Yi Xing, tapi tidak bisakah Yi Xing membuka matanya soal posisi mereka saat ini? Apapun yang Yi Xing lakukan hanya akan menyakiti dirinya sendiri, tidak! Bukan hanya dirinya, tapi mereka berdua! Ariel juga merasakan sakit yang sama. Dan Yi Xing terus saja berputar memperparah lubang hitam di dadanya. Tidak bisakah Yi Xing sadar akan hal itu?

“Jadi…kau mau menerimanya, kan?” kata Yi Xing sekali lagi, masih emnampilkan sneyum yang sama. Senyum yang hanya Yi Xing dan Ariel yang tahu, bahwa itu hanya sebuah kepalsuan.

Ariel pun mengambil lembaran kertas itu. Jika ia tahu Yi Xing akan menjadi lembaran hitam yang tak mengikuti jejak waktu hidupnya, pasti sejak awal ia tidak akan memulai apapun dnegan Yi Xing. Ariel bisa jamin dirinya akan menjauh dari pria bermarga Zhang di hadapannya saat ini.

“Terimakasih, kau memang perhatian,” Luhan menengahi kecanggungan diantara Yi Xing dan Ariel. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa canggung dengan keberadaan mereka berdua.

Ariel tidak mengatakan apapun, berkebalikan dnegan Yi Xing yang mengangguk pada sahabatnya tersebut.

***

Lisa mengusap pelan kepala Yi Xing. Ia sama sekali tidak tahu pertemuan Yi Xing dengan Ariel akan membuat Yi Xing berakhir di ranjang rumah sakit seperti sekarang ini. Lisa tahu Yi Xing bukan laki-laki yang lemah, tapi Lisa juga tidak tahu jika sebegitu dalamnya perasaan yang dimiliki Yi Xing untuk Ariel.

“Lepaskan, Nuna. Aku bukan lagi anak kecil,” Yi Xing menepis tangan Lisa yang terus saja mengusapi kepalanya. Yi Xing benar-benar terganggu dengan itu. Lisa memang selalu memeluknya, tapi bukan berarti Lisa bisa menyentuh Yi Xing semaunya, kan?

“Kau tidak pernah benar-benar membicarakan tentang berakhirnya hubungan kalian,” kata Lisa menegakkan punggungnya, “Kurasa tidak ada salahnya untuk biacar asekali algi, menyelesaikan masalah kalian sampai habis. Setelah itu, menjauhlah dari hidup Ariel. Aku tidak yakin kau akan baik-baik saja jika Ariel terus muncul di depan matamu.”

Yi Xing mendengus panjang, sedikit melebih-lebihkan. Ia hanya berusaha menipu mata Lisa bahwa ia baik-baik saja. Meskipun tidak begitu, tapi Yi Xing benar-benar merasa payah dengan kenyataan ia langsung terpuruk karena kehilangan Ariel seperti ini.

“Ariel terlihat sangat melindungi Luhan, dia membuat jarak nyata. Dia tidak mungkin mau bertemu denganku begitu saja…”

“Lalu kau ingin terus begini?! Setidaknya kalian bisa membicarakan masalah kalian sampai selesai! Apapun itu! Asalkan kalian bisa berakhir baik-baik! Atau kau ingin aku mengatakan pada Luhan jika…”

“Nuna!”

Lisa mendengus dan memalngkan wajahnya. Demi Tuhan! Lisa tidak sedang bermain drama teater seperti semasa kuliahnya dulu, tapi cerita Yi Xing saat ini jauh lebih dramatis daripada semua cerita yang pernah dilakoninya dulu.

“Luhan selalu membuatmu terlibat dengan banyak hal. Apakah ada baiknya jika Luhan kau beritahu? Setidaknya dia mengerti, kau harus menjauh…”

“Nuna, dia tahu tentang Ariel. Dia hanya tidak tahu gadis yangs elama ini kuceritakan adalah…Ariel. aku tidak ingin terkesan mencoba merusak kebahagiaan mereka…”

“Dan merusak kebahagiaanmu?”

Yi Xing terdiam. Ia mencoba memutar otaknya untuk mencari kata-kata yang tepat untuk membalas argumen Lisa.

“Jangan berpikir bahwa kau bahagia dengan kebahagiaan Ariel. Aku benci kalimat bodoh itu! Aku memintamu untuk bicara sekali lagi dengan Ariel, bukan memintamu untuk merebut Ariel dari Luhan!” Lisa pun bangkit dari duduknya, “Aku serius Zhang Yi Xing. Aku tidak suka dengan keadaan seperti ini.”

***

Ariel kembali melirik kertas yang beberapa hari lalu diberikan Yi Xing padanya. Risih. Tentu saja. Tapi rasa penasaran Ariel yang begitu besar membuat rasa risih itu perlahan-lahan mengabur. Ariel tidak bisa lupa bagaimana cara Yi Xing menatapnya saat itu, bagaimana cara Yi Xing bicara padanya saat itu…

Dan pandangan Ariel beralih pada Luhan yang membuat ranjang mereka bergerak, dan dengan kaku ia membalas senyuman Luhan.

“Kau sudah mencoba memainkannya?” tanya Luhan saat tahu Ariel tengah memegang lembaran kertas lagu yang tempo hari Yi Xing berikan, “Lagunya selalu bagus. Kenapa tidak kau coba mainkan saja? Aku juga penasaran dnegan algunya…”

“Kenapa kau terus saja membuat Yi Xing terlibat dengan hidupmu?” Ariel menggigit lidahnya yang lancang. sial! Kenapa lidahnya bekerja di luar kendali seperti tadi? Ia tahu ia tidak tahan dengan keadaan ini, tapi seharusnya Ariel bisa sedikit menahannya.

Luhan sedikit menaikkan alisnya tidak mengerti, kenapa nada bicara Ariel jadi berubah?

“Kau tahu jawabannya. Kau bahkan lebih tahu daripada siapapun tentang ini, bahkan Wufan sekalipun.”

“Tapi ini sama sekali tidak masuk akal, kau akan terus menjebak dirimu dalam perasaanmu jika kau terus melibatkan laki-laki itu. Bagaimana bisa kau menepati janjimu? Bagaimana caramu membuka hatimud an memulai perjalanan hubungan kita? Kau sudah beristri, seharusnya kau tahu kau tidak akan terlepas dari Yi Xing jika kau…”

“Kenapa kau tiba-tiba marah? Kau tahu aku juga sedang mencoba. Apa kau tidak bisa melihat perubahan yang terjadi padaku?” potong Luhan dengan nada kesal. Ia tidak ingin terpancing, tapi apa yang Ariel bicarakan.

Ariel menarik napas panjang. Ia bisa gila dengan semua masalah ini.

“Bukan hanya kau yang terlibat, tapi juga aku. Aku…tidak suka kau berdekatan dengannya…” gila. Ariel tahu ucapannya saat ini benar-benar gila.

Luhan tertawa pelan, sama sekali tanpa rasa humor, “Kau bercanda? Kenapa kau jadi seserius ini? Kau ingin berkata jika kau cemburu padanya? Kenapa kau…”

“Ya.” ariel langsung memotong.

Dan ucapan Ariel berhasil membuat mulut Luhan bungkam. Ia merasa dadanya mencelos, apa ia tidak salah dengar? Apakah Ariel baru saja melanjutkan candaannya?

“Ariel…”

“Aku tidak suka…” Ariel melempar asal kertas di tangannya ke atas nakas. Sambil menarik selimutnya dan memunggungi Luhan ia melanjutkan, “Aku cemburu. Aku tidak suka melihat Yi Xing berada di dekatmu. Terlebih aku tidak suka aku harus pada cemburu pada pria yang disukai suamiku…” tepatnya pria yang aku cintai.

 

***

 

“Dia menyatakan perasaannya padaku,” Luhan masih berjalan mondar-mandir di hadapan Wufan. Dan Wufan masih membalasnya dengan tatapan yang sama, juga desisan yang tidak henti-hentinya ia keluarkan.

Lalu Luhan langsung melompat ke sofa yang juga diduduki Wufan, “Apakah menurutmu dia serius? Maksudku…cemburu. bagaimana bisa dia cemburu begitu saja? Kami baru sebulan lebih tinggal bersama, bahkan Ariel selalu menghindariku. Ia juga sering marah jika aku memeluknya saat tidur, tapi di atiba-tiba mengatakan jika ia cemburu padaku! Ah…bahkan jantungku berdebar sekali saat ia berkata seperti itu…” dengan dramatis Luhan menyentuh dada kirinya, mencoba mengingat bagaimana irama jantungnya yang tidak biasa saat mendengar kata-kata Ariel kemarin malam.

Wufan mendecak dan langsung menoyor kepala Luhan, “Berhenti bertingkah seperti wanita! Menggelikan!” Wufan mendelik dan langsung berdiri.

Namun dengan cepat Luhan menahannya, “Tolong aku Wufan! Dia juga mendiamkankuhari ini, dia juga tidak membalas sms-ku! Apa yang harus aku…”

“Kalian saling jatuh cinta, oke? Kau menyukainya dan dia juga menyukaimu. Apanya yang kurang jelas dari itu semua?” bentak Wufan kesal. Hei, Luhan bukan lagi remaja 15 tahun yang masih bingung dengan perasaannya sendiri, kan? Toh, wajar saja mereka saling menyukai. Mereka sudah menikah. Mereka tinggal bersama, tidur bersama, bertemu setiap hari, biacar setiap hari…

Baiklah, hentikan. Dada Wufan tiba-tiba merasa sesak.

Dan selagi Luhan terdiam mencerna ucapan Wufan, Wufan memajukan wajahnay dan mengecup singkat bibir Luhan. dan kejadian itu berhasil menarik kesadaran Luhan sepenuhnya. Lihat cara Luhan memelototi Wufan saat ini.

“Itu hukuman karena kau bodoh. Dan juga salam dari perpisahan kita, kukira kau akan mejadi milik Ariel sepenuhnya. Samapai jumpa lain waktu,” dan Wufan benar-benar pergi. Tidak pedulid engan Luhan yang masih mematung di tempatnya.

Tidak lama,s eperkian detik kemudian Luhan langsung mengerjapkan matanya dan mengusap bibirnya dnegan keras. Gila! Kenapa Wufan jadi seliar itu?! Sejak kapan Wufan suka mencium orang sembarangan? Ia tahu itu bukan ciuman pertama merka, tapi yang enar saja…

Dan tingkah Luhan ini membuat ucapan Wufan kembali terngiang.

Luhan dan Ariel saling menyukai? Benarkah?

Luhan langsung menggaruk kepalanya frustasi. Harusnya Ariel tidak mendiamkannya hari ini, setidaknya ia bisa membicarakan semuanay dengan gadis itu.

***

Yi Xing diam memperhatikan Ariel yang tengah mengupas kulit jeruk untuk Yi Xing. Lisa benar-benar gila, gadis cerewet itu nekat membawa Ariel datang bertemu dengannya. Dan Lisa sama sekali tidak lihat bagaimana canggungnya mereka saat ini.

“Aku mencintaimu. Kau tahu itu dengan jelas,” Yi Xing mengerjapkan matanya saat Ariel angkat suara, dan mulai membahasnya…

“Dan tiba-tiba saja, tanpa sepengetahuanku ibuku telah menyetujui perjodohan konyol ini dengan ibu Luhan. Nyonya Xi bersikeras untuk menikahkan Luhan, tapi Luhan…dia selalu menolak setiap gadis yang dibawa oleh ibunya. Dan…entah bagaimana aku malah menjadi pilihan akhirnya. Dan ajaibnya Luhan mau menerimaku begitu saja,”

Yi Xing ebnar-benar ingin menghentikan semua rentetan kata yang keluar dari mulut Ariel. Ia tidak ingin lagi mengingat kejadian itu, kejadian yang membuat perasaannya terombang-ambing dalam rasa sakit. Klimaks luka dalam lubang hitam di dadanya.

“Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu,” suara Ariel mulai bergetar, namun sebisa mungkin Ariel tidak membiarkan air matanya meleleh di hadapan Yi Xing, “Aku juga tidak ingin meninggalkanmu. Aku menangis siang malam karenamu…tapi itu sia-sia. Akhirnya kau tetap menikahd engan Luhan.”

Yixing tersenyum pahit. Yeah, akhir yang menyedihkan. Ia juga menangis siang dan malam saat itu…

“Luhan sangat baik. Sangat sangat baik. Dia bahkan beberapa kali berkata aku bisa pergi darinya jika kau mau,” dan Ariel menarik napas panjang, “Tapi ada hal yang membuatku tidak bisa pergi darinya. Pernikahan ini juga akan menjadi tanggung jawabku. Semakin sering dia memintaku pergi…aku selalu merasa….semakin ingin tinggal bersamanya.”

Hentikan….Yi Xing berteriak dalam hatinya. Tolong hentikan ucapan Ariel sekarang juga! Bukan ini yang disebut dengan penyelesaian. Bukan ini yang diinginkannya dari pertemuan antara dirinya dan Ariel.

Ariel pun memeluk Yi Xing, mencoba menyembunyikan lelehan air matanya yang tak lagi bisa dibendungnya, “Aku mohon…mulai sekarang jangan lagis akiti dirimu. Kau tahu, aku tidak pernah benci dengan keberadaanku disekitar kami. Tapi itu bukan hanya akan menyakitmu, tapi juga menyakitiku. Bahkan Luhan…seandainya ia tahu yang sebenarnya tentang kita…”

Dan tanpa diduga, Yi Xing justru balas memeluk Ariel dan ikut melelehkan air matanya.

“Tolong jangan skaiti lagi dirimu Ge…”

Yi Xing pun mulai terisak, “Aku…mencintaimu…”

=TBC=

20150219 PM09:55

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

42 responses to “[Series] Married With A Gay – Chapter 8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s