[Series] Bautiful Night in Paris (Chapter 2: The Begin )

BEAUTIFUL NIGHT IN PARIS CHAP 2 POSTER

|| Author : @Deby_Eliza(ByunDeby)||

|| Tittle : Bautiful Night in Paris (Chapter 2: The Begin )||

|| Main Cast : Park Nana & Oh Sehun ||

|| Genre : Romance, Sad, Life Story ||

|| Other Cast : Baekhyun, Chanyeol, and find by yourself ||

|| Rated : PG 17+ ||

|| Disclaimer : 안녕하세요 …. Aku kembali lagi, melanjutkan ff yang sempat terlupakan ini -,- , maafkan ya yang udah nunggu lama *kaloada… 미안합니다, semoga kalian semua masih ingat sama ff author ini yaah.. let’s check it out||

|| Contact Author : twitter @Deby_Eliza ||

– Link Beautiful Night in Paris: ( TeaserChapter 1Chapter 2Ongoing )

Hope you like it😀

Happy reading

Beautiful Night In Paris

Review

Hingga sebuah pemandangan berhasil menyita penglihatannya, disana….. Tepat nya di sebuah minibar, calon menantu nya, nana… Tengah di peluk oleh seorang namja, namja itu memegang erat pinggang nana, tapi ahh….. Posisi nya sangat tidak mengenak kan dimata wanita itu. Ia merasa tidak senang saat melihat calon menantu nya di sentuh oleh namja lain selain sehun, anaknya

Namun manik mata nya menangkap seorang pria berjas yang tengah berjalan, seketika bibir nya melengkung lebar membentuk sebuah senyuman yang terkesan sulit di artikan oleh siapa pun yang melihat nya. entah apa yang sedang dia rencana kan oleh nya, dengan percaya diri dia mengangkat tangan kanan nya keatas

“ Excuse me……… “

Chapter 2 Start

.

.

 

 

“ berhati-hati lah nana…. Kau bisa terjatuh “ baekhyun menegak kan tubuh nana yang tadi tidak sengaja menabrak nya, hingga nana hilang keseimbangan, hampir saja gadis itu terjatuh jika saja baekhyun tidak menopang tubuh mungil nya.

Nana yang sedari tadi hanya terdiam menatap wajah baekhyun, perlahan kembali menegakkan tubuh nya dan berdehem pelan.

“ hmm gomawo.. “ yang dibalas sebuah senyuman manis oleh baekhyun, senyuman yang mampu membuat siapapun yang melihat nya meleleh. Nana terpaku.

excuse me, nana.. our boss asked you to come to his office now..

Tiba-tiba sebuah suara berhasil menyadarkan nana, namun baekhyun tampak khawatir

what’s wrong ? why he called nana ? “ baekhyun menatap nana dengan pandangan seolah bertanya, namun hanya di balas gelengan oleh nana.

“ I dont know.. he just want you to faced him now“ orang itu pergi begitu saja dari hadapan mereka tanpa menjelaskan apa yang sebenar nya terjadi, baekhyun takut, takut jika nana di marahi lagi oleh bos nya. baginya perlakuan pria tua itu selama ini sudah cukup keterlaluan, dan dia tidak akan membiarkan nya menyiksa nana lagi. Baekhyun sangat mengkhawatirkan gadis itu

Nana hanya termenung mencoba memikirkan apa yang akan dia terima nanti, namun dia meneguhkan hatinya untuk tetap pergi menemui bos nya, meskipun jika dia harus menerima resiko terberat sekalipun , mengingat dia yang paling sering di marahi oleh bos nya.

Nana beralih menatap baekhyun “ aku pergi dulu… “ dia mencoba tersenyum walaupun sebenar nya dia merasa sangat ketakutan

“ apa kau yakin ? bagaimana kalau nanti bos memarahi mu lagi ? “ baekhyun tampak semakin khawatir tatkala nana bersiap untuk pergi menuju keruangan bos mereka

Nana kembali tersenyum “ heum… aku sangat yakin, yah… setidak nya aku harus menemuinya walaupun hanya untuk mendapat teriakan lagi dari nya “

“ BAEKHYUN .. come here, I need your help… “ pada waktu yang bersamaan seorang pegawai lain memanggil baekhyun , baekhyun menoleh lalu menghela nafas pelan

“ hh.. yasudah.. hati-hati ne… segera temui aku jika kau sudah selesai menemuinya, berteriak lah jika dia berbuat macam-macam padamu arasseo ? “ baekhyun menyentuh kedua pundak nana lembut lalu menatap gadis itu,

“ heum, arasseo… “ nana hanya mengangguk dan mulai beranjak menuju ruangan bos mereka, dengan hati yang terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya yang terjadi sehingga dia harus di panggil ke ruangan pribadi bos nya itu.

Tok

Tok

Tok

yes..

Cklekk

owh… ya sit down….

Nana yang tadi nya membuka pintu dengan pelan, masuk setelah di persilahkan oleh bos nya itu, dan dengan rasa taku-takut dia menduduk kan diri nya dihadapan bos nya bersama seorang wanita paruh baya yang sedari tadi menatap nana dengan senyum yang mengembang di kedua susut bibir nya

hello, nana.. nice to see you, you’re really pretty “

Wanita tadi mengusap wajah nana dengan masih mempertahankan senyum manis nya, sedangkan nana mengernyit heran dan bertambah tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi sebenarnya

y-yes, thank you.. but… “ nana melirik bos nya sekilas lalu kembali menatap wanita paruh baya yang sedari tadi tersenyum kepada nya, tampak jelas jika dia sedang dilanda rasa takut

Mengerti dengan keadaan, sang bos tampak tersenyum dan berdiri hendak pergi

excuse me.. but I think I have some work to do…. “

Wanita tadi hanya tersenyum dan membiarkan pria tambun itu beranjak pergi

Keadaan berubah menjadi hening semenjak kepergian bos tadi dari ruangan tersebut, dua yeoja itu hanya terdiam dengan pikiran nya masing-masing. Wanita yang lebih tua terus memperhatikan setiap lekuk tubuh yeoja muda tadi-nana- dengan sembari melengkungkan kedua sudut bibirnya keatas.

Sementara yang lebih muda hanya terdiam sambil menatap lantai yang menjadi pijakan nya saat ini, baginya menatap lantai lebih baik daripada menatap wajah seorang wanita yang terus menatap nya aneh itu, bagaimana tidak, wanita paruh baya itu terus memperhatikan nya intens yang membuat nya merasa sedikit errr…. tidak nyaman.

Keadaan masih hening tanpa ada percakapan antara dua orang yang sedang sibuk dengan pikiran nya tersebut, hingga yang lebih tua mulai membuka suara

“ maaf sebelum nya apa benar anda yang bernama park nana ? “ nana tampak mendongak dan beralih menatap wanita itu dengan tatapan bingung, tapi kemudian mengangguk ragu.

“ apa benar kau putri dari Park Yoon Bin dan Kim Hana ? “ wanita itu mengajukan rentetan pertanyaan yang semakin membuat Nana bingung, ada apa dia menanyakan itu semua ? apakah dia mau menyatakan bahwa Nana adalah putri nya yang dulu tertukar dan dia sekarang datang untuk menjemputnya ? hhaha Lucu sekali…

Nana mengangguk pelan dengan kerutan samar yang ada di wajah cantik nya. Wanita yang lebih tua menghela nafas lega, sebuah senyuman yang sangat menawan terlukis di wajah nya yang tampak sudah sedikit berkerut, namun sama sekali tidak mengurangi kadar kecantikan di wajah nya.

“ hhh… ternyata benar kau orang nya, sudah kuduga. Kau terlihat sangat cantik dan manis. Kau mirip sekali dengan ibumu, Kim Hana.“ wanita itu semakin tersenyum lebar setelah mendapatkan kepastian yang selama ini dia cari.

“ aku yakin putra ku pasti akan merasa sangat senang sekali.. “ mata wanita itu tampak berbinar seolah dia telah mendapatkan harapan terbesar nya. Nana semakin tidak mengerti

“ maaf nyonya apa anda berasal dari korea ? anda salah satu teman orang tua saya ?… “ soora mengernyitkan dahi nya

“ tapi saya sama sekali tidak mengerti maksud anda “ wanita itu hanya tersenyum maklum yang lebih terkesan seperti senyuman yang selalu diberikan oleh sang ibu kepada anak nya

“ baiklah, bisa kutebak kau sama sekali belum mengetahui kesepakatan kami sebelum nya “ wanita itu kembali tersenyum

“ sebelum nya aku dan suami ku adalah sahabat dekat sekaligus kolega bisnis yang telah lama menjalin kerja sama. Kami saling membantu untuk mencapai kesuksesan bersama, dan yah…. kami sempat meraih kesuksesan itu. Tapi tentunya dibalik kesuksesan besar pasti selalu ada rintangan-rintangan yang menghadang setiap jalan kami… “ Nana memperhatikan setiap ucapan wanita itu, ya,… dia selalu antusias jika itu menyengkut tentang kedua orang tua nya

“ dan rintangan-rintangan itu pernah menghampiri perusahaan keluargamu, saat itu, perusahaan appa mu terancam bangkrut. Appa mu tidak mampu lagi membangun dan mendapat modal untuk mengelola perusahaan nya. beruntung kami bisa menolong nya dengan menggadaikan sebagian aset perusahaan kami. Sejak saat itu kami sangat dekat, dan berniat untuk menjalin hubungan keluarga… “ wanita itu menjeda kalimatnya, nana tampak menunggu kalimat selanjut nya

“ Dan kau tau…. bahkan ayahmu pernah menyebutkan bahwa dia akan menyerahkan anak perempuan nya kelak sebagai menantu kami… “

Seketika mata Nana membelalak lebar

“ Ap-apa ?… “ nana terdiam kehabisan kata-kata untuk menanggapi pernyataan telak yang baru saja di dengarnya. Dada nya terasa dihantam beribu ton palu yang mengakibatkan nafas nya sesak dan tercekat di tenggorokan, tanpa disadari matanya mulai memanas, namun wanita yang lebih tua tetap melanjutkan kata-kata nya

“ dan perlu kau ketahui bahwa aku datang kesini hanya untuk menjemputmu pulang.. dan menikah dengan putra kami… “ wanita itu menatap nana sendu, sebenarnya dia tidak tega jika harus berbicara blak-blakan seperti itu melihat ekspresi nana yang terlihat sangat sedih mendengar pernyataan nya tadi, tapi harus bagaimana lagi karna itu sudah menjadi perjanjian mereka bersama sejak dulu, apalagi itu adalah permintaan terakhir almarhum sahabat nya itu, hanya saja dia tidak ingin putri nya tahu, sebelum dia telah tiada. Dan dia rasa sekarang lah saat yang tepat bukan ?…

Nana terdiam, termenung. Tidak, lebih tepat nya dia mencerna dengan baik setiap pernyataan yang diungkapkan oleh wanita yang sedang duduk di depan nya ini. pikiran nya menerawang jauh menuju ke masa lalu, dimana dia hidup bahagia bersama eomma dan appa nya, nana yakin bahwa orang tuanya itu sangat menyayangi nya. tapi sekarang nyatanya apa ? mereka seakan telah merencanakan kehidupan masa depan yang menyedihkan untuk putri mereka sendiri, dan nana merasa lebih baik dia mati saja jika tau semuanya akan semenyedihkan ini.

Tapi apakah semua yang dikatakan oleh wanita ini benar ? bisa saja dia hanya mengarang cerita kan ? nana mulai meragukan semua yang di ucapkan wanita itu, tidak mungkin orang tuanya menyerahkan nya begitu saja hanya demi keselamatan perusahaan nya, itu lebih terdengar seperti…. errr,,,,,, orang tuanya menjual nana demi uang, yah… begitulah sekiranya apalagi nana yakin jika orang tuanya sangat menyayangi nya.

“ maaf nyonya, sepertinya anda salah orang. Orang tua saya tidak mungkin seenak nya seperti itu…… “ Nana berusaha untuk terlihat tenang dan menelan semua perasaan kecewa nya, tapi jawaban yang dia dapat kan sama sekali tidak seperti apa yang diharapkan nya

“ tidak. Kami memang sudah sepakat, kau harus tau.. bahkan kami yang telah membantu pengobatan eomma mu dulu… “ wanita itu menjeda kalimat nya

“ dan saat itu eomma mu juga mengatakan hal yang sama…. “

Nana kembali terdiam, dan kali ini sebutir air mata merembes keluar dan jatuh dari pelupuk mata nya. sungguh dia tidak mengerti bagaimana jalan pikiran kedua orang tuanya hingga mereka tega memperumit jalan hidup putri satu-satu nya itu

Melihat keadaan nana, wanita paruh baya itu menyentuh lembut kedua pundak nana dan menuntun yeoja cantik itu untuk menatapnya

“ Dengarkan aku nana…. aku sungguh meminta maaf atas kedatangan ku yang hanya membuat mu sedih, aku tidak bermaksud memaksamu, tapi tidak kah kau berpikir untuk mengabulkan permintaan terakhir kedua orang tuamu ? tolong pikirkan kembali… apapun keputusan mu kami akan berusaha untuk menerima nya, semua tergantung pada mu……. “

Nana menatap wanita itu dengan wajah yang telah dibanjiri oleh air mata, sedikit senyum terlukis disana. Perlahan nana mengangguk pelan

Wanita paruh baya itu tersenyum lembut dan mendekap nana seraya mengusap punggung gadis itu, berniat untuk menenangkan nya

‘ apa salah ku eomma, appa…… ‘ nana membatin, dan bersamaan dengan itu, tangis yang tadinya berusaha dia tahan tumpah begitu saja dalam dekapan lembut calon mertua nya.

Nana memejamkan erat kedua mata nya, mencoba menyakinkan sekali lagi apa yang telah menjadi keputusan nya saat ini

‘ ya… tidak ada salah nya mencoba… ‘

CKLEK

“ Nana… ada apa ? apa yang bos katakan padamu ? “ setelah nana keluar dari ruangan bos nya itu, baekhyun yang sedari tadi menunggunya di depan pintu langsung berlari menghampiri nana begitu yeoja itu keluar.

“ hh… tidak ada apa-apa baek… hanya.. “ nana tampak tidak bersemangat menjawab pertanyaan baekhyun, semenjak keluar dia hanya menundukkan kepala dan itu tidak luput dari perhatian sahabat cerewet nya itu sehingga membuat baekhyun semakin penasaran dan khawatir

“ hanya apa ? apa dia memarahi mu ? “ nana menggeleng dan alhasil baekhyun semakin tidak mengerti, banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan tapi melihat kondisi nana yang seperti kehilangan semangat hidup dia pun mengurungkan niat untuk bertanya. Baekhyun hanya mengangguka mengerti dan menghela nafas berat

“ baiklah… mungkin kau tidak perlu menceritakan nya sekarang, tapi lain kali aku pasti akan menagih jawaban mu… “ baekhyun melipat kedua tangan nya di depan dada seraya mengangkat sebelah alis nya layaknya seorang detektif yang sedang mengintrogasi seorang tersangka

Tanpa disadari nana tertawa geli melihat tingkah sahabat nya itu, memang seorang byun baekhyun selalu bisa mengembalikan mood nya yang telah hancur

“ bisakah kau tidak cerewet tuan byun ? gayamu menjijikkan… hahahah “ setelah itu nana tertawa lepas tanpa memikirkan lagi beban pikiran yang sedari tadi hinggap di kepalanya, baekhyun yang melihat nya pun turut senang karna dia berhasil membuat nana melupakan semuanya walau hanya sebentar saja.

“ ahh…ahaha… aigoo….ya sudah jja kita kembali bekerja “ baekhyun merangkulkan tangan nya di pundak nana, dan menarik yeoja itu pergi

Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka dari balik pintu, sosok itu menyerngit heran

“ siapa dia sebenarnya, berani sekali berbuat seperti itu,.. ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus bertindak secepatnya sebelum semuanya terlambat….. “

PIP

ne eomma…. “

eomma ingin kau menyusul eomma sehun-ah.. ada yang harus eomma bicarakan “ sehun mengernyitkan dahi

“ membicarakan apa ? “ terdengar helaan nafas dari seberang telepon

“ ada hal penting, dan kita harus menyelesaikan nya, kau harus datang sendiri kesini, secepat mungkin.. “

“ tap—“

“ eomma tidak mau mendengar bantahan darimu ! “

PIP

Sehun memberengut kesal seraya menatap geram benda persegi dalam genggaman nya, matanya tampak menajam, genggaman tangan nya mengencang, membuat buku-buku jari nya berubah menjadi putih. Urat-urat tangan nya pun terlihat menyembul dari balik kulit putih nya.

Bagaimana bisa eomma nya membentak nya tadi ? apa gadis itu begitu penting ? apa gadis itu lebih berharga dari nya. Ini sungguh tidak masuk akal. Dengan geram sehun melempar ponselnya ke atas ranjang dan dengan langkah yang tergesa dia meraih gagang pintu lalu membanting nya sekuat tenaga, membuat suara hantaman keras yang memekakkan telinga.

hhhh…… “ entah untuk yang keberapa kalinya helaan nafas itu keluar begitu saja, udara tampak mengepul keluar dari hembusan nafas nya. Udara dingin seakan tidak berpengaruh baginya saat ini. Baginya hanya memikirkan masalah hidup nya saja sudah mampu membuat tubuhnya panas, seperi terbakar.

Nana menengadah kan kepalanya, dengan ditemani secangkir kopi dia duduk menyendiri di sudut taman yang tampak kelam, yah… memang pukul sudah menunjukkan hampir tengah malam, gadis itu terus saja termenung sambil sesekali menyesap kopi yang sedari tadi ada di genggaman nya, entah apa yang ada di pikiran gadis itu –nana-.

hhhhh…… “ sekali lagi helaan nafas itu keluar dari bibir nana

“ sekarang aku harus bagaimana eomma.. appa… kenapa semuanya begitu sulit. Apa kehidupan yang seperti ini yang kalian mau “ nana memejamkan kedua matanya dan mencengkram erat dada kirinya.

“ bolehkah untuk saat ini aku memilih jalan yang selama ini aku hindari ? aku selalu berharap aku bisa menyelesaikan masalah hidupku, tapi kenapa sekarang semuanya terasa semakin rumit. “ setetes cairan bening merembes begitu saja dari kelopak mata nana.

“ rasa nya aku ingin hidup bersama kalian saja…. Aku tidak mampu memikul semua ini eomma… appa.. “ seketika Nana membuka mata dan pandangannya tampak kosong

Setelah lama menatap lurus kedepan, perlahan nana mulai beranjak dari tempat duduknya

“ sekarang semua nya sudah sia-sia.. apa yang harus aku lakukan. “ Nana kembali menghela nafas, tapi kali ini tersirat sebuah keputus asaan yang mendalam di setiap helaan nafas nya

“ setidaknya beri aku petunjuk…. Eomma.. appa “

Apakah pantas jika aku menolak. Tapi…. aku tetap harus membayar semua uang mereka kan ? .. “ Nana tampak mengernyit dan menundukakan kepalanya dalam

“ Darimana aku bisa mendapatkan uang ? sudah cukup sulit bagiku selama ini mencoba mengumpulka nya, tapi tetap saja itu tidak cukup “ Nana memejamkan erat matanya, dan mengerang frustasi. Isakan kecil mulai terdengar seiring dengan erangan putus asa yang masih setia keluar dari mulut nya.

“ kenapa hidupku harus serumit ini… aku ingin merasakan kebahagiaan itu lagi !! “ Nana berteriak keras. Tangisan yang tadinya hanya berupa isakan-isakan kecil, kini berubah menjadi tangisan keras yang memilukan.

 

Disini lah Sehun berada, disebuah bandara international ‘Aeroport de Paris, Charles de Gaulle’, berdiri dengan sebuah koper yang setia bertengger ditangan kanan nya. Ya, pemuda itu baru saja tiba di kota yang disebut… tidak, bukan hanya disebut, tapi kota itu memang sudah dijuluki sebagai kota paling romantis di dunia,dengan Icon menara Eiffel yang bahkan sudah dinobatkan menjadi salah satu keajaiban dunia oleh lembaga dunia UNESCO. Setidaknya hanya hal itu yang diketahui oleh sehun. Hehe..

Penampilan nya tampak memukau dengan balutan kaos santai berwarna putih polos serta jaket hitam yang dipadu dengan warna putih di kedua lengan. Dengan jeans yang tampak sangat pas pada kaki jenjang nya, dilengkapi dengan sneakers berwarna senada yang semakin menambah kesan tampan pada penampilan nya saat ini.

Pemuda itu –sehun- sesekali mengangkat tangan nya ke udara, mencoba untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku. Hey, bagaimana tidak, dia sudah berada di dalam pesawat selama kurang lebih 17 jam, dengan keadaan perut kosong, tanpa makan sedikitpun. Yah.. walaupun sebenarnya tadi dia mendapat sedikit makanan saat sedang dalam penerbangan, tapi, Hell… makanan itu bahkan tidak sampai untuk mengisi seperempat dari isi lambungnya. Dan keadaan perutnya terasa sangat darurat, dia sangat kelaparan.

KRUUKK

Sehun membelalak kan matanya ‘ahh…memalukan’

Sehun mengusap tengkuknya kikuk sambil mencoba melirik ke sekeliling nya yang tampak ramai. Hh..beruntung tidak ada yang mempedulikan kejadian yang memalukan -menurut sehun- tadi. Ahh… perutnya mulai sakit.

Setelah ini dia bersumpah akan langsung menemui Eomma nya dan memaksa wanita itu untuk bertanggung jawab atas peliharaan(?) sehun yang sedang menggigit-gigit kulit lambungnya saat ini. Wanita itu terus mendesaknya pergi hingga sehun tidak sempat mempersiapkan segala keperluan nya, mempersiapkan makanan untuk perjalanan nya. Beruntung segala pakaian nya sudah disiapkan terlebih dahulu oleh Jung Ajumma –pembantu sehun-, tapi tetap saja sehun masih merasa terbebani oleh kelakuan Eomma nya itu, terutama mental nya.

Hhh… kalau bukan karna Eomma nya, dia tidak akan pernah mau melakukan hal yang sangat menjengkalkan –dipaksa habis-habisan- ini.

Setelah selesai menggerutu dan sibuk memikirkan apa saja yang akan dilakukan nya nanti kepada Eomma nya, Sehun merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah Smartphone berwarna hitam, lalu mulai mengetik beberap angka yang tertera pada layarnya.

Eom—

Ya anak nakal! Apa kau masih belum pergi juga eoh ? kenapa kau susah sekali diatur, percayalah kau akan menyesal jika kau tidak pergi secepatnya. Eomma akan mencabut semua fasilitasmu, termasuk semua Credit card mu. Eomma pastikan kau tidak kan mendapatkan barang-barang itu kembali. Yeoboseyo….yeobeoseyo… Ya ! kenapa kau diam saja, Jawab anak nakal !!

Sehun hanya memutar bola matanya malas. Mendengar ocehan panjang Eomma cerewet nya itu, sepertinya sudah menjadi kebiasaan baru baginya.

yeobeoseyo… Yeoboseyooo!! Ya ! jawab eommamu—“

Sehun bergerak menjauhkan smartphone nya dari telinga, hh.. lagipula percuma dia menyangkal ucapan Eommanya, dia tidak akan bisa, jikalau bisa pun dia sudah menyangkalnya daritadi.

Seolah belajar dari pengalaman lama, dia sudah terbiasa mendengar ocehan bagaikan sebuah kereta api yang tanpa hentinya itu. Sehun sudah tau betul sebentar lagi dia juga pasti akan berhenti sendiri. Kita lihat saja nanti.

Sehun tampak menatap Smartphone nya. Seulas senyum kecil tercipta di bibir mungilnya, mata nya mulai memicing seolah menunggu sesuatu. Sehun mulai menghitung dalam hati.

1….

2….

3….

SEHUUNNNNNNN !!!! “

Senyum yang tadi nya tampak kecil berubah menjadi tawa keras yang membahana. Sehun tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan yang baru saja keluar dari smarthpone nya. Ahh.. dia sangat suka menggoda Eomma nya yang sangat cerewet itu. Bagimana ekspresi eomma nya saat ini, sehun sangat ingin melihat nya. Sehun kembali mendekatkan smartphone nya ketelinga.

Hal pertama yang di dengarnya adalah helaan nafas yang terdengar terengah-engah, sesekali menggeram kesal. Senyum kembali terukir di wajah tampan Sehun. Dengan santai Sehun mulai membuka suara

“ apa Eomma sudah selesai berbicara ? apa sekarang aku sudah boleh berbicara ? “

Sehun bertanya sambil diiringi dengan kekehan geli, membuat yang di seberang mendengus sebal, sehun kembali terkekeh pelan

Eomma, aku sekarang ada di bandara—“

MWO ? kenapa kau baru berangkat Sehun-ah.. bukankah eomma sudah bilang kalau kau harus pergi dari tadi, seharusnya kau sudah sampai saat ini sehun-ah, kenapa kau ban—

“ Eomma ! dengar dulu.. aku belum selesai bicara… “ Sehun sedikit meninggikan suara nya, memotong cepat ucapan-ucapan sang eomma, tidak ingin memperlama, karna saat ini perut nya sudah sangat kelaparan, meraung-raung meminta diisi sesegera mungkin.

“ aku sedang dibandara eh… “ Sehun tampak menatap ke sekeliling nya, seakan mencari sesuatu yang ingin dia sampaikan, lalu sedetik kemudian dia tampak menggumam dan sedikit menyipitkan mata tajam nya

“ ehm.. aku sedang di Aeroport de Paris, Cha…Charles de Gaulle “ Sehun kembali menatap kedepan, menatap pintu keluar dari tempat nya saat ini. Dia bisa mendengar suara sang eomma nya yang tampak kesenangan, Sehun tersenyum tipis.

jinjja ? jinjja-ya ? kau tidak sedang membohongi eomma mu kan ? “

“ hmm..aku tidak membohongimu eomma, aku memang sedang di bandara. Tapi sekarang bukan itu hal yang terpenting. “ Sehun melepaskan sebelah tangan nya dari koper dan menyentuh perutnya yan kempis.

eomma~~ aku lapar~~ “ Sehun berucap dengan manja, berharap sang eomma akan langsung berlari menjemputnya dan segera menyuguhkan makanan-makanan lezat dihadapan nya saat ini juga, huh… Sehun jadi bertambah lapar. Sang eomma terkekeh pelan, mendengar nada manja putra satu-satunya itu. ‘ hh… tidak ada yang bisa menolak keinginanmu sehun-ah..

Lapar eoh ? Aigoo… arasso..arasso. eomma akan mengirimkan supir untuk menjemputmu, tetap disana.. jangan kemana-mana..

“ berapa lama dia akan sampai ? “ sehun melirik jam yang melingkar ditangan nya dengan sedikit mengernyit

“ hmmm… Sekitar 1 jam “ sehun membelalak lebar, hampir saja menjatuhkan kedua bola matanya.

“ Ne ?? kenapa lama sekali eomma,,, aku bisa mati kelaparan. Eii.. eomma~~ “ sehun mengeluarkan protes sambil mengernyit kesal tatkala mendengar tawa garing dari seberang telepon.

“ hahaha eomma hanya bercanda Sehun-ah, ee.. mungkin sekitar lima belas menit dia akan sampai, eomma akan langsung menunggumu di restoran, jangan kemana-mana sebelum dia sampai eoh ? “

keurae ? arasseo.. kalau begitu sampai bertemu nanti eomma.. “

PIP

Sehun kembali memasukkan smarthpone nya kedalam saku jeans, seketika Sehun tersenyum senang membayangkan sebentar lagi perut nya akan segera diisi, ahh.. dia sudah tidak sabar menunggu jemputan nya datang. Sehun mulai bergerak melangkahkan kedua kakinya yang dibungkus oleh snekers berwarna hitam putih itu dengan sedikit tidak sabar.

Nana berjalan dengan lesu menyusuri sebuah jalanan yang tampak sepi. Kakinya serasa enggan melangkah menapaki jalanan panjang yang sempit itu, Yah baru saja dia sudah menyelesaikan tiga pekerjaan part time yang menguras habis seluruh tenaganya, bahkan untuk melangkah pun dia merasa tidak sanggup. Dan kali ini dia harus segera menuju ke tempat kerja nya yang terakhir -Bar- , entahlah apa dia masih memiliki cukup tenaga untuk menyelesaikan semua pekerjaan nya hari ini, semoga saja.

Nana melirik jam tangan mungil yang melingkari pergelangan tangan nya, ‘ masih sepuluh menit lagi ‘ dan helaan nafas lolos begitu saja dari bibir mungilnya. Nana terus melangkah, namun kali ini langkahnya tampak sedikit dipercepat. Hingga langkah mungilnya terhenti tepat di depan gedung yang tempat nya bekerja.

Sejenak nana termenung, meresapi keributan yang terdengar dari dalam, bunyi dentuman musik yang menggema terdengar begitu jelas di telinganya, walau sedikit samar. Cahaya kerlap-kerlip tampak menembus dari jendela dan pintu, menerangi sedikit bagian jalan yang dilalui oleh nya. Jalanan itu memang sepi tapi siapa sangka jika bar tempat nya bekerja saat ini tampak selalu penuh oleh pengunjung. Membayangkan betapa ributnya berada di dalam sana, sekali lagi Nana menghembuskan nafas nya pelan, bagaimanapun ini sudah menjadi pekerjaan nya kan ? jadi dia harus bersabar.

Nana mulai melangkahkan kakinya memasuki gedung tersebut. Hal pertama yang dilihatnya adalah puluhan atau mungkin ratusan orang yang sedang meliuk-liukkan badan nya dilantai dansa, mereka semua tampak mabuk, nana berjalan melewati mereka dengan sedikit mengernyit saat mencium aroma yang menyengat, benar mereka sedang mabuk.

“ hey, Nana…. “ Nana yang tadinya hendak mengganti baju tiba-tiba berhenti saat mendengar sebuah suara yang memanggil namanya, perlahan Nana menoleh.

Seorang bartender muda tampak melambaikan tangan kanan nya ke arah nana, membuat nana memandang Bartender itu heran. Sejak kapan dia menjadi seakrab itu dengan bartender yang bahkan tidak dia ketahui namanya.?

Nana mencoba menoleh kesekeliling mencari tau apakah ada orang lain yang sedang berdiri di dekatnya, tapi sepertinya tidak ada.

Seolah mengerti dengan kebingungan Nana, sang Bartender tersenyum tipis dan mengarahkan telunjuknya kearah Nana. Nana menatap Bartender itu lalu menunjuk dirinya sendiri seolah bertanya kepada sang Bartender, sang bartender mengangguk pelan.

Seulas senyum kecil mengembang dibibir Bartender tampan itu tatkala Nana mulai berjalan mendekatinya, senyum itu bertambah lebar saat Nana hanya menatap nya dengan tatapan bingung.

“ Hey, jangan memasang ekspresi seperti itu. Aku juga partner kerjamu, apa ada yang salah jika aku memanggilmu ? “ Bartender itu berujar diakhiri dengan kekehan geli saat menatap ekspresi Nana.

“ eoh..hm..ya.. “ Nana hanya tersenyum canggung menatap sang Bartender,

“oh iya, aku Xiumin.. kau pasti Nana kan ? “ sang Bartender yang ternyata bernama Xiumin itu mengulurkan tangan nya yang dibalas uluran tangan pula oleh Nana.

“ ya, aku Nana “ Nana mulai bergerak melepas tangan Xiumin, membuat Xiumin tertawa sedikit lebih keras

“ ahaha..ternyata benar, kau adalah orang yang sangat pemalu.” Nana hanya terdiam tidak mengerti dengan apa yang sedang ditertawakan oleh rekan kerjanya itu. Kenapa dia tertawa, apa maksudnya Nana pemalu, memangnya salah jika Nana adalah seorang yang pemalu.

“ ah iya, aku hanya ingin memberitahukan bahwa hari ini ada pergantian kostum bagi para Waitress, karna khusus malam ini kita kedatangan tamu penting “ Xiumin tampak mengeluarkan sesuatu dari bawah mejanya. Nana mengernyit samar, ‘tamu penting ? siapa ?’

“ ini kostum untukmu, bos akan datang sebentar lagi. Ingat, setelah dia datang, kau harus sudah memakai kostum ini. Mengerti ? “ sekali lagi Xiumin tersenyum sambil menyerahkan kostum berwarna putih hitam ketangan Nana.

“ ahh.. sepertinya tamu kita kali ini sangat penting. Sudah cepatlah ganti bajumu “ Xiumin meraih sebuah botol dan mulai meracik minuman untuk seseorang yang baru saja memesan nya.

Nana mematut dirinya lama di depan kaca, sedikit mengernyit, dia bergerak untuk menarik turun rok nya yang hanya setengah paha kebawah, berharap rok itu akan berubah panjang hingga bisa menutupi sebagian pahanya yang sudah terekspos dengan indah dari pantulan kaca. Kaki jenjang yang dibalut dengan sepatu heels berwarna hitam, menambah rasa tidak nyaman pada kaki nya.

Setelah puas menarik turun rok nya, gadis itu memfokuskan pandangan pada baju yang sepertinya juga membuatnya sedikit tidak nyaman. Kerah itu terbuka lebar hingga bagian atas dadanya, menampilkan kulit leher yang putih tanpa cacat, yang mampu membuat siapa saja yang melihatnya tertarik untuk mencicipi leher tersebut . Nana mencoba menarik-narik baju tersebut, tapi itu tampak nya hanya sia-sia. Dia lebih menyukai pakaian yang selama ini dia pakai, yang lebih sopan dan tentu saja membuat nya nyaman.

‘ tenanglah, hanya untuk semalam ini saja. Setelah itu aku tidak akan mau memakai pakaian ini ‘ nana menggumam dalam hati sambil kembali mencoba menurunkan rok mininya.

“ Fighting… “ akhirnya gadis itu memutuskan untuk berjalan keluar dan menyudahi semua kegiatan nya

Nana keluar dari ruangan ganti dan berjalan menuju bartender, seketika matanya menangkap pemandangan dimana seorang pria tambun yang sedang berbincang bersama ehm… siapa tadi, ah… ya Xiumin. Bartender itu tampak sesekali menganggukan kepala, tak lama setelah itu, pria tambun itu mulai beranjak pergi. Nana mulai menghampiri Xiumin.

Xiumin yang tadinya sedang membersihkan beberapa gelas, tak sengaja mengalihkan wajahnya, dan pandangan itu berhenti pada seorang gadis yang terlihat berjalan tidak nyaman sambil sesekali mencoba untuk menarik turun rok mininya. Xiumin memandang objek itu dari atas hingga bawah, tak diduga senyum kecil tercetak dibibirnya. Senyum itu sulit diartikan, entahlah apa yang dia pikirkan, dia tidak bisa melepaskan pandangan nya dari tubuh gadis itu -nana-. Hingga pandangan mereka bertemu dan Nana sudah berada di depan nya, Xiumin mengubah senyuman nya seperti biasa, dan menatap nana.

“ terlihat cocok padamu “ Xiumin berusaha untuk kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan nya membersihkan gelas, walaupun sebenarnya sulit untuk mengalihkan pandangan dari Nana, sesekali dia melirik ke arah Nana.

Nana mengernyit tidak nyaman, kali ini berusaha membenahi baju nya.

“ ah… apa aku memang harus memakai ini ? ini sedikit err.. aku tidak nyaman “

Xiumin hanya terkekeh “ coba kau perhatikan, bukan hanya kau yang memakai pakaian itu. Kau lihat gadis-gadis yang disebelah sana. Mereka juga memakai pakaian yang sama, tapi menurut ku mereka tidak mempermasalahkan nya. Lihatlah, pakaian itu tampak nyaman bagi mereka “ Xiumin mengedikkan dagu kearah segerombolan gadis yang tengah hilir-mudik mengantarkan minuman ke beberapa meja. Benar, mereka tampak nyaman-nyaman saja, bahkan mereka sengaja membuka satu kancing atas yang memamerkan langsung belahan payudara mereka. Nana sedikit bergidik ‘ apa bagusnya berpakaian seperti ini ‘

“ antarkan ini kemeja yang di sebelah sana. “ tiba-tiba lamunan nya buyar begitu saja. Nana meraih nampan di tangan Xiumin dan mulai berjalan dengan risih ke arah meja yang tadinya ditunjuk oleh Xiumin.

Nana semakin merasa tidak nyaman saat seorang laki-laki yang sedang menunggu minuman itu menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan, senyuman nya begitu sensual, dan.. dan.. apa itu tadi ? dia menjilat bibirnya. Dengan tergesa Nana meletakkan minuman itu di depan nya dan segera melangkah menjauh.

Seketika keadaan menjadi sedikit riuh

Nana menoleh kearah pintu dan melihat disana, tepat di depan pintu, bosnya tengah berlari terburu-buru menghampiri seorang pria dan menyalaminya, tampaknya pria itu masih muda. Dengan setelan jas abu-abu serta celana yang berwarna senada, dasi kupu-kupu yang menambah kesan formal pada penampilan nya tampak begitu sesuai pada tubuh ramping nya. Wajahnya terlihat sedikit dingin, mata coklatnya menatap dengan tajam, garis wajahnya sangat khas, sangat terciri bahwa pria itu adalah keturunan eropa.

Sang bos terlihat mencoba berbincang, namun pria itu hanya membalas nya dengan tatapan tanpa ekspresi, datar. Tatapan nya sulit diartikan, bagaikan tatapan dingin yang menusuk.

Menyadari ucapan nya hanya bagaikan angin lewat, dengan kikuk sang bos mulai mempersilahkan pria itu masuk. Seketika ruangan menjadi sedikit tenang, hanya suara musik yang menggema mengiringi setiap langkah pria tersebut. Pria itu melangkah disertai pria-pria lain yang memakai pakaian serba hitam, dilengkapi jas dan kacamata hitam yang melapisi mata mereka, bisa ditebak itu adalah para bodyguard, tampak nya pria itu bukan pria sembarangan.

‘Apa yang dimaksud tamu penting itu adalah dia’ Nana membatin tatkala melihat pria itu dipersilahkan duduk dengan hormat langsung oleh bos nya di tempat VIP khusus oleh orang-orang tertentu saja.

‘tidak salah lagi, pasti itu tamu penting nya. Ah… kuharap kau bisa secepatnya pergi, aku mau bergegas mengganti pakaian ini..’ Nana tampak sedikit tersenyum dan mulai berjalan kearah bartender hendak mengambil minuman selanjutnya yang akan di antar. Namun baru sja hendak meraih minuman yang hendak di antar pada tujuan nya, pergerakan itu terhenti. Tiba-tiba Nana merasa aneh pada keadaan sekitarnya. Tadinya keadaan sangat riuh, tapi kenapa sekarang rasanya sangat sepi, bahkan musik pun berhenti bergema.

Nana menoleh dan mendapati dirinya tengah dipandangi oleh beberapa orang, Nana menoleh lagi, bukannya beberapa orang yang menatap, tapi sepertinya semua orang sedang menatapnya, termasuk pria aneh, berwajah dingin yang tadinya sempat menjadi pusat perhatian Nana. Hey.. apa sekarang keadaan menjadi terbalik ? sekarang Nana yang menjadi objek perhatian laki-laki itu. Tapi bukan itu yang lebih penting. Masalahnya adalah bukan hanya sipria dingin itu yang menatap nya, tapi semua orang. Nana mulai gelagapan. Sampai suara Xiumin, sang bartender terdengar oleh indra pendengarnya, seperti sebuah bisikan. Dan suara itu berhasil ditangkap dengan jelas oleh Nana karna memang keadaan yang tampak sepi sehingga tidak ada suara lain selain suara bisikan itu. Nana menoleh.

“ Dia memanggilmu… “ ujar Xiumin sambil mengedikkan dagunya kearah seorang laki-laki yang masih menatapnya saat ini.

“ apa ? “ Nana mengerjap beberapa kali. Sebelum balas menatap mata cokelat yang tampak samar karena terhalang oleh jarak yang cukup jauh. Kedua mata itu bertaut satu sama lain. Pandangan yang memiliki maksud yang berbeda. Pandangan laki-laki itu sulit diartikan, terkesan dingin dan tampak seperti entahlah… ketertarikan ? mungkin saja. Sedang Nana berusaha mengerti apa maksud dari tatapan yang berasal dari mata coklat itu.

Hening cukup lama menyelimuti kedua orang itu, tidak, bukan hanya mereka berdua, tapi bahkan seisi bar tampak tidak mengeluarkan sedikit suara pun. Sampai sebuah suara akhirnya mengakhiri keadaan yang terasa aneh itu.

“ Maaf Nona. Bisakah kau mengambilkan minumanku ? “ Nada itu… nada itu terdengar seperti…err seperti dibuat-buat semenggoda mungkin. Nana hanya mengangguk dan menunduk sekilas, lalu beranjak untuk menjalankan perintah yang baru saja ditugaskan kepadanya. Perintah yang sederhana. Tapi kenapa harus dia ? orang itu bisa saja menyuruh beberapa waitress yang tampak berada lebih dekat darinya. Beberapa detik kemudian, keadaan yang bagaikan es perlahan mulai mencair dan kembali seperti biasa. Bedanya, keributan biasanya berasal dari dentuman musik yang selalu terdengar memekakkan telinga, tapi kali ini bahkan tidak ada musik yang terdengar, hanya berupa bisikan-bisikan atau percakapan serta kekehan orang-orang yang berada ditempat itu yang mewarnai keadaan saat ini. Sepertinya orang-orang yang berada disanapun sesekali melirik Nana sambil berbisik pada teman sebelahnya. Seperti ada sesuatu yang mengejutkan terjadi.

Sang bos pun yang tadinya sempat ikut membeku, mulai tertawa canggung dan kembali mencoba sok akrab dengan pemuda dingin tersebut.

“ aha..ha. sudah lama rasanya tuan tidak mengunjungi club ini, padahal kami selalu menyiapkan pelayanan terbaik dan selalu menunggu kunjungan dari anda… “

Sedangkan sang pemuda tidak menggubris nya sama sekali, tatapan nya masih terpaku pada gadis itu, gadis yang sedang duduk di bar, menunggu sang bartender selesai meracik minuman yang dipesan oleh seseorang bermata dingin tadi. Entah mengapa memandang gadis itu terasa sangat menarik baginya. Melihat bagaimana gadis itu menggenggam kedua ujung rok mini nya, sehingga rok mini itu sedikit terangkat, gadis itu mengernyit. Entah mengapa semua pergerakan itu terlihat sangat… seksi dimatanya.

Pemuda itu sedikit menggerakkan kepalanya ke kanan, masih dengan menatap Nana. Leher itu begitu putih dan licin, begitu pula dengan kakinya, cantik. Bentuk badannya, ahh… sepertinya perempuan itu sangat menarik. Dan pemuda itu sangat menyukai segala hal yang tampak menarik dimatanya. Samar-samar tampak sebuah seringai mengerikan tercetak samar diwajahnya.

Sementara Nana tampak menunggu dengan tidak nyaman, di depan sebuah minibar tempat Xiumin sedang meracik minuman untuk tamu penting mereka. Kalau boleh jujur, hatinya merasa sangat tidak nyaman saat ini.

“ hey.. sepetinya kau mendapat lirikan dari pemuda itu ? “ Xiumin berucap, tangannya masih tampak sibuk dengan pekerjaan nya.

“ apa ? ahh… aku tidak mengerti apa maksudmu “ Nana menjawab sambil menatap tidak semangat kearah minuman yang hampir selesai diracik oleh Xiumin. Xiumin tertawa pelan

“ apa kau tidak mendengar tadi ? dia memanggilmu hanya untuk meminta diambilkan minuman. Biasanya dia akan menyuruh bos melakukan itu. Dia bahkan tidak pernah meminta, atau bahkan menyuruh para waitress untuk mengambil minuman nya. Padahal semua waitress disini selalu berlomba agar dilirik olehnya “ Xiumin menuang sebuah cairan berwarna kuning terang kedalam gelas yang berisi es batu.

“ wah… kau sangat beruntung. Bahkan ini pertama kali kau melihatnya, dia sudah melirikmu. Kau tau, dia adalah pemilik tempat ini. Dia terlihat masih muda, dan tentu saja punya banyak uang. Nah… sekarang antarkan ini padanya “ Xiumin memberikan gelas yang berisi minuman tadi kearah Nana, yang disambut langsung oleh gadis itu. Namun gelas itu hanya menggantung diudara karena Xiumin belum melepaskan genggaman nya disana.

“ jangan sia-sia kan keberuntungan ini. Pergilah coba buat dia semakin tertarik padamu “ kalimat itu diakhiri oleh debuah kedipan nakal yang hanya mengundang tatapan aneh dari Nana. Merasa gelas itu sudah terlepas seutuhnya. Dengan sedikit bergetar gadis itu berjalan menghampiri meja VIP yang saat ini diduduki oleh pemuda yang tatapan nya masih saja terkunci pada Nana, seolah enggan mengalihkan tatapan itu, mengabaikan kenyataan bahwa seorang pria tambun tengah mengoceh panjang lebar didepan nya.

Gadis itu mendekat dengan takut-takut dan mulai menurunkan minuman tepat didepan pemuda itu.

“ —- ah… Tuan, anda bisa memilih siapapun untuk menemani anda malam ini. “

Entah kenapa hanya itu yang membuat pemuda itu tertarik. Dengan dihiasi oleh senyum jahat yang membingkai wajah tampan nya, pemuda itu menoleh ke arah pria tambun yang kini terlihat senang.

“ kalau begitu… “

Nana yang tadinya hendak berdiri setelah meletakkan minuman yang tadi dibawanya tiba-tiba terhenti saat merasa sesuatu yang menarik keras tangan kanan nya. Alhasil gadis itu tersentak dan terduduk diatas pangkuan pemuda tadi. Gadis itu terkejut, sangat.

“ Aku mau dia…. “ bisikan itu terdengar aneh di telinga Nana yang turut mengundang gelenyar aneh mengaliri tubuh nya, terasa panas. Sepertinya pemuda itu berujar tepat ditelinga Nana, yang secara tidak langsung menghembuskan nafas hangat miliknya ke arah kulit leher Nana yang sensitive. Semua tampak memekik tertahan.

“ A–apa-apaan ini ? “ Nana berusaha menggeliat dia atas pangkuan pemuda kurang ajar yang saat ini tengah menempelkan bibirnya keleher Nana. Gadis itu berusaha melepaskan diri. Tapi semakin kuat perlawanan dari Nana, semakin kuat pula genggaman pemuda itu pada pinggang nya, entah sejak kapan tangan nista itu berada dipinggang nya. Bahkan dia tidak sadar.

“ A-apa yang sedang anda lakukan. Lepaskan “

TBC

 

 

Athir Note :        안녕하세요….. 데비 에리사 드디오 왓다… Ada yang menunggu ? *nggaada. Maaf lama update, kalo ada yang Tanya kenapa, karna author akhir-akhir ini lagi sibuk *soksibukLuthor. Tapi untuk kedepan nya diusahakan cepat oke..😀

Ngga banyak bacot, langsung aja ya, di beri comment.. J 감사합니다… 컴멘드 주세요…. J

– Link Beautiful Night in Paris: ( TeaserChapter 1Chapter 2Ongoing )

14 responses to “[Series] Bautiful Night in Paris (Chapter 2: The Begin )

  1. HuwaAa,,, keren thor
    Itu siapa? Masa iya itu Sehun? Masa iya Sehun segenit itu? Next thor… Penasaran

  2. itu siapa? sehun kah? penasaran><
    oke ditunggu ya chap 3nya.. udah gak sabar pengen baca😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s