Marry a Boy (Chapter 4)

 mab

Marry a Boy (Chapter 3)

||Author : Octhavia || Title : Marry a Boy || Cast : Lu Han, Kang Eun Jae (oc), Wu Yi Fan  || Rating : PG || Genre : Romance, Comedy, Marriage Life, AU and others || Length : Chaptered || Author’s personal blog : http://vivionion.blogspot.com/ ||

Previous chapter : chapter 1 || chapter 2 || chapter 3

Setelah istirahat beberapa jam, akhirnya Eun Jae berangsur-angsur sehat kembali. Rasa mualnya sudah  menghilang dan dia sudah tak terlihat lemas. Eun Jae  bergerak hendak turun dari tempat tidur. Diedarkan pandangannya keseluruh ruangan.Sepi.Tidak ada suara apapun.Dengan lesu ia melangkah mengambil baju ganti dan mandi.

 

Hampir sejam lamanya, dan setelah kulitnya terasa sedikit perih dan kemerahan akibat digosok terlalu kuat dengan puff, akhirnya dia berhenti. Membilas tubuhnya dan membiarkan air membawa pergi buih-buih sabun di tubuhnya. Setelah dirasa cukup Eun Jae bergerak memakai baju gantinya dan keluar dari kamar mandi.

 

Dilihatnya seseorang tengah berdiri di depan meja riasnya. Tidak sulit mengenali pemilik punggung itu. Luhan. Lelaki itu kini malah seakan tengah melacak barang apa saja yang berada di atas meja rias Eun Jae.

 

Dengan sengaja Eun Jae menutup pintu kamar mandi dengan agak keras hingga menciptakan dentuman yang mampu membuat Luhan berbalik menatapnya.

 

“Oh… hai!” sapa Luhan.

 

“Apa memasuki kamar orang tanpa mengetuk pintu itu sudah menjadi hobi barumu?”  Eun Jae melangkahkan kakinya mendekati Luhan.

 

“Tunggu, jangan salah paham dulu! Aku tadi sudah mengetuk beberapa kali, tapi tak ada jawaban, karena kupikir terjadi apa-apa, akhirnya aku masuk saja”

 

Eun Jae hanya menanggukkan kepala. Tangannya masih sibuk mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kering.

 

“Okey, aku tidak apa-apa. lalu kenapa kau masih disini?”

 

Luhan menggaruk sedikit tengkuknya. “Well… aku hanya ingin menyuruhmu makan dan melihat kondisimu saja”

 

“Baiklah. Kau bisa lihat aku baik-baik saja sekarang, kupikir sih. Dan sebentar lagi aku akan keluar untuk makan, setelah selesai mengeringkan rambutku. Jadi, sekarang kau bisa keluar dari kamarku”

 

“Kenapa aku harus buru-buru keluar?” Tanya Luhan datar. Sedangkan Eun Jae berhenti menggerakkan tangannya. Ia tak menyangka Luhan akan menjawab seperti itu. Ehm… bukankah yang sakit Eun Jae? Kenapa dampaknya juga menular ke Luhan?

 

“Jangan bercanda. Kau tahukan aku tidak suka orang asing datang ke kamarku, terlebih dia bahkan seakan melacak sesuatu disini” sindir Eun Jae.

 

“Aku bukan orang asing. Aku calon suamimu. Orang yang akan ada di masa depanmu. Jadi aku juga berhak mengunjungi kamarmu sesukaku”

 

Eun Jae terdiam, gadis itu seakan ingin mengumpat Luhan. Tapi ia hanya membuang nafas berat seakan membuang umpatannya begitu saja.

 

“Kalau begitu. Lakukan apa saja yang kau suka” Eun jae melemparkan handuknya di atas tempat tidur dan berjalan keluar kamar, meninggalkan Luhan yang menyeringai senang.

 

***

 

“Apa yang kau tahu tentangku?” Tanya Eun Jae.

 

“Cukup banyak. Termasuk kau pernah melarikan diri dari acara pertunanganmu sendiri”

 

Eun Jae menatap malas.”Lalu apa yang kau pikirkan? Apa kau tidak takut, jika ketika di hari kita menikah, ada kemungkinan aku juga akan melarikan diri darimu”

 

“Kau tidak akan melakukannya. Itu terlalu beresiko untukmu. Kau juga sudah tahukan kita telah di jodohkan lama sekali sebelum kita di lahirkan dan kau bukanlah seorang pemberontak sejati”

 

Eun Jae berdecak sesaat.”Aku tidak mengerti. Kenapa pembicaraan kita kali ini terlihat lebih dewasa setelah aku sakit. Dan aku juga tak mengerti tentang perjodohan ini, seharusnya jika nenek dari nenekku itu membuat perjanjian perjodohan bodoh ini, aku tak seharusnya diijinkan untuk bertunangan dulu dengan lelaki yang tidak di jodohkan denganku”

 

“Pada nyatanya kau tak jadi melangsungkan acara pertunangan itu bukan?”

 

Eun Jae mengangguk.

 

“Kalau kau tahu tentang acara melarikan diriku di pertunanganku. Apa jangan-jangan kau tahu juga siapa lelaki yang akan bertunangan denganku saat itu?” Tanya Eun Jae gelisah.

 

Luhan menatap Eun Jae. Lalu mengangguk perlahan.”Wu Yi Fan atau Kris,  dia kelahiran China dan berkebangsaan Canada. Sekedar info, Kris adalah dosen di Universitasku dan kebetulan sekali kami sangat akrab”

 

Eun Jae menatap tak percaya.”Maksudmu dengan kata ‘sangat akrab’? Kau tidak bermaksud untuk mempermainkankukan? Dengan kau yang tahu latar belakangku, tentu saja itu tidak sulit. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan Lu?”

 

“Wow… kau terlalu jauh berfikir. Aku tidak bermaksud apa-apa. aku hanya ingin tahu seperti apa lelaki yang kau tinggalkan dulu”

 

“Apa Kris tahu bahwa kau mungkin saja akan menikah dengan mantan calon tunangannya?”

 

Luhan menggeleng.”Lelaki itu tidak tahu. Yang dia tahu aku hanya seorang mahasiswa pertukaran biasa yang kebetulan sangat pintar di matanya” ujar Luhan menyombongkan diri.

 

“Tapi aku menjadi penasaran, kenapa kau bisa meninggalkan Kris?” tanya Luhan.

 

Eun Jae menatap tak suka.”Itu akan menjadi cerita penghantar tidur, too long. Pada intinya aku tersakiti oleh Kris, sebuah pengkhianatan besar”

 

***

 

“Ini gila! Jadi maksudmu Lu Han bahkan mengetahui masa lalumu dengan baik?” Komentar Hyerin kepada Eun Jae, ketika mereka bertemu di teras kedai gellato, es krim khas Italia di dekat kantor mereka.

 

“Ya… dia mengetahuinya, tapi kurasa itu tidak sepenuhnya. Dia hanya tahu tentang pelarian diriku di acara pertunanganku dengan Kris waktu itu”

 

“Yah… kurasa dia mungkin dulunya adalah stalkermu. Kita bertiga uhm… maksudku kau, aku dan Aurora, dulu cukup populer dan kau tentu masih tahu seberapa tidak pedulinya kita dulu dengan para lelaki” Hyerin memasukkan satu sendok ice cream kedalam mulutnya.

 

“Aku masih tidak mengerti. Mengapa dia bisa tahu banyak tentangku, padahal kita bahkan baru bertemu saat dia tengah memulai untuk menginap di apartementku”

 

Hyerin menggeleng. “Uhm…. Oya, aku lupa. Aku ingin memberikan undangan reuni yang mungkin sedikit tidak enak di dengar”

 

Eun Jae tergelak dan menatap Hyerin penasaran.”Memangnya kenapa?”

 

“Disana akan hadir teman-teman kampus kita dan itu berarti akan ada Kris dan…. Aurora juga”

 

Eun Jae terdiam. Oh… masalah dirinya dengan Kris dan Aurora sepertinya akan kembali seperti sediakala.

 

Welcome back to the past” ucapnya lirih.

 

***

 

Belum ada lima menit ketika Eun Jae menemukan keributan kecil di depan pintu apartementnya. Suara dua wanita yang berbeda yang saling bersahutan. Dan ketika dia melihat lebih seksama dia seakan mulai sedikit paham.

 

Di depan pintu apartementnya, berdiri Lu Han diantara dua wanita. Eun Jae masih mengenali salah satu diantara mereka berdua. Gadis berambut blonde sebelah kanan Lu Han, gadis yang tak sengaja ia temui di salon tempo hari. Dan satu lagi, gadis berambut hitan dengan potongan ala kim kardashian yang sama sekali tak ia kenali. Eun Jae sengaja memperlambat langkah kakinya. Selain karena keributan itu sedikit ‘mengundang’ perhatian beberapa penghuni apartement, Eun Jae juga ingin tahu penyebab keributan di antara mereka.

 

“Sekarang kau bisa bilang pada perempuan tak tahu diri ini, Luhan, bahwa akulah yang pantas untuk menjadi teman kencanmu akhir pekan ini” Si rambut blonde berteriak.

 

“Kau pikir dirimu siapa hah?!”balas gadis berambut hitam tak kalah kencangnya. “Luhan adalah kekasihku! Dan kau bukan siapa-siapa!”

 

“Min-ah, Byul-ah… jebal, berhentilah! Aku tidak akan kencan dengan siapapun di akhir pekan ini, aku lebih memilih berada di apartement” ujar Luhan pada keduanya.

 

“Tetapi kau dulu pernah berjanji padaku” gugat si rambut blonde.

 

“Itu dulu sebelum kita bubar, Min-ah!”

 

Si rambut hitam tersenyum penuh kemenangan.

 

“Dan aku juga tak akan berkencan denganmu byul-ah”

 

Senyum menghilang dari wajah si rambut hitam,”Ta tapi kau juga sudah berjanji padaku kemarin”

 

“Apa kau menganggap itu serius? Aku hanya bercanda, aku sama sekali tak serius waktu itu”

 

“Apa?!”

 

Wajah si rambut hitam memerah menahan  marah. Dan tanpa disangka, tangannya mendarat di pipi Luhan dengan cukup keras.

 

PLAK!!

 

Luhan tergagap sejenak. Namun di detik berikutnya ganti wanita berambut blonde itu yang melayangkan tangannya di pipi Luhan untuk kedua kalinya.

 

PLAK!!

 

Luhan menyumpah.

 

“Kau pantas menerimanya” Ucap si rambut hitam.”Mari tinggalkan pecundang ini Min-ah!”

 

Kedua gadis itu lalu berbalik dan meninggalkan Luhan, melewati Eun Jae begitu saja dan masuk kedalam lift bersamaan. Eun Jae tak bisa menahan tawanya. Dia sangat menyukai adegan dimana pipi putih Luhan terlihat memerah akibat dari dua tamparan itu. Setidaknya bagi Eun Jae, dua tamparan sudah cukup mewakili dirinya yang memang sedari kemarin ingin menampar Luhan, tapi tak pernah terlaksana. Luhan yang mendengar tawa yang berderai mulai menatap kearah Eun Jae dengan kening yang berkerut.

 

“Apanya yang lucu?”

 

“Kau… kau sangat terlihat lucu Lu!”

 

Luhan berdecak. Tangannya mencoba meraba pipinya yang terasa memanas, tamparan itu terlampau keras hingga membuat ujung bibirnya juga ikut berdarah. Sedikit. Lelaki itu lalu memencet beberapa kode rahasia dan membuka pintu apartement yang di ikuti oleh Eun Jae di belakangnya.

 

“Apa mereka tahu kau tinggal di apartement ini?” Tanya Eun Jae khawatir.

 

Luhan mengangguk.”Tenang saja, mereka hanya tahu aku tinggal di apartement ini tanpa tahu pada lantai dan nomor berapa, lagipula tadi hanya kebetulan saja bertemu dan aku berdalih bahwa ini apartement teman kakak perempuanku” ucap Luhan sembari merebahkan tubuhnya ke atas sofa sedang Eun Jae melanjutkan langkahnya kearah dapur lalu membuka lemari es.

 

“Biar kutebak, kejadian seperti ini bukanlah pertama kalinyakan?”

 

Luhan melirik ke arah Eun Jae tak suka.”hm..” gumamnya.

 

“Ugh… betapa malangnya aku, mendapat calon suami, mengapa sepertimu? Lebih muda dariku, pembohong dan mungkin saja pengkhianat” ucap Eun Jae yang membawa panci kecil dan handuk yang tersampir di pinggirnya.

 

Luhan menegakkan kepalanya mendengar penilaian negative itu mulus keluar dari bibir kecil Eun Jae. Gadis itu mendekatinya dan kini duduk di sampingnya.

 

“Apa kau masih marah tentang kebohonganku hah? Oke, jika kau masih marah aku meminta maaf untuk kesekian kalinya. Dan tentang umur, aku bahkan tak meminta eomma untuk melahirkanku dua tahun lebih muda darimu. Jika aku bisa memilih mungkin aku akan memilih satu hari lebih awal di lahirkan dari pada dirimu. Lalu tentang tuduhanmu yang ketiga, mungkin aku memang terlihat brengsek, tapi believe me, aku bukan pengkhianat” ucap Luhan menatap Eun Jae dalam, membuat gadis itu merasa tak nyaman di tatap seperti itu.

 

Eun Jae menarik satu sudut bibirnya keatas.

 

Lu Han mengerutkan keningnya.”Kenapa? tak percaya padaku?”

 

Eun Jae meletakkan panci kecil diatas meja, lalu mengambil es batu di dalamnya dan membalutkannya dengan handuk. Tangan gadis itu lalu beralih di sudut bibir Luhan yang berdarah. Lelaki itu nampak meringis sedikit.

 

Mereka saling terdiam hanya beberapa kali terdengar rintihan Luhan yang menahan perih.

 

“Eun Jae-ah..”

 

Jemari Eun Jae yang tengah berada di sudut bibir Luhan terhenti ketika  tangannya tiba-tiba di cengkram oleh Luhan.

 

“Kenapa kau menyetujui perjodohan ini?”

 

Alis Eun Jae sedikit terangkat, gadis itu menarik tangannya dari cengkraman Luhan.

 

“ Eomma selalu memaksaku, aku hanya merasa tak enak dengan eomma setelah pelarian diriku di acara pertunangan itu, setidaknya aku mengabulkan keinginan eomma tentang perjodohan ini”

 

Luhan menelan ludah.”Meski kau tak menyukaiku? kau akan melanjutkan perjodohan ini?”

 

Eun Jae menghela nafas sebentar.”Aku tidak tahu” tangan gadis itu membalutkan bongkah es batu yang baru dengan handuk.

 

“Kau tahu, mungkin jika kau memutuskan disini kau masih bisa kembali menjadi Eun Jae yang semula, tapi jika kau memutuskan di saat kita sudah menikah, aku jamin kau tak akan pernah bisa kembali”

 

Mata  Eun Jae bergerak menatap Luhan dalam, nyaris tidak ada kebohongan. Luhan memang seakan bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

 

“Kalau kau, kenapa kau menerima perjodohan ini?” tanya balik Eun Jae.

 

“Hampir sama sepertimu, aku tidak bisa menolak permintaan Papa dan Mama, terlebih saat itu kesehatan Papa sedang tak begitu baik”

 

Eun Jae menunduk, ditaruhnya handuk di atas meja lalu gadis itu berdiri dari tempat duduknya.”Kau bisa mengobati lukamu sendirikan Lu? Aku akan istirahat. Selamat malam”

 

Gadis itu berjalan menuju pintu kamarnya meninggalkan Luhan yang masih senantiasa menatapnya dari belakang.

 

“Yak… Eun Jae-ah…” panggil Luhan.

 

Eun Jae tetap melanjutkan langkahnya tanpa menoleh.

 

“Yak… Perawan Tua!” panggil Luhan untuk kedua kalinya. Eun Jae menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Luhan dengan wajah tidak sukanya.

 

“Ayo kita menikah!” ucap Luhan lalu menyeringai.

 

Pada detik itu seakan ada bongkahan batu besar yang ingin menimpa Eun Jae. Sepertinya Luhan harus dibawa kerumah sakit.

 

***

 

Kris menatap langit-langit kamarnya. Dipejamkan matanya rapat-rapat tapi beberapa menit selanjutnya ia terjaga lagi. Ia berganti membenamkan kepalanya di balik bantal tapi karena tak bisa menghirup oksigen lebih banyak ia kembali pada posisinya semula.

 

Lelaki itu akhirnya bangkit dari kasurnya, menyandarkan tubuhnya di headboard tempat tidur. Lalu mendesah pelan menatap sepucuk undangan di atas nakas di sampingnya.

 

Bayangan masa-masa di Universitasnya seakan masih bergelayut di hadapannya. Lelaki itu seakan menonton film pendek tentang dirinya sendiri, secara berurutan slide-slide itu berganti. Menampilkan masa-masa bahagianya bersama seseorang gadis yang nyaris menjadi tunangannya dulu.

 

Disaat pertemuan pertama mereka, pertemuan kedua, pertemuan ketiga lalu ketika ajakan kencannya yang diterima sang gadis itu dengan semangat. Acara kehujanan, ciuman manis yang tanpa paksaan. Senyuman gadis itu, caranya merajuk, ketika gadis itu marah. Dan pertengkaran kecil yang berakhir dengan pelukan-pelukan hangat. Tentang ajakannya untuk bertunangan dan terakhir, ketika gadis itu marah besar dan meninggalkannya sendiri di hadapan para tamu. Disaat itu Kris bukanlah menjadi Kris yang sebelumnya. Separuh hatinya hilang entah kemana, kosong dan tak bisa kembali, karena separuh hatinya ikut terbawa oleh gadis itu.

 

Kris tak pernah bisa tidur nyenyak. Selalu ada perang batin di setiap malam. Rasa penyesalan, bersalah dan tentunya rindu yang mengebu-gebu menghantarkannya kembali ke korea setelah beberapa lama sebelumnya ia tinggal di Canada.

 

Kris ingin menemui gadis itu, menjelaskan segalanya, memohon gadis itu mengerti, tak salah paham dan jika bisa, ia ingin gadis itu kembali.

 

Brengsek.

 

Tentu saja, mungkin Kris memang lelaki Brengsek yang tak tahu diri. Tapi apa terlalu mencintai seorang gadis adalah salah? Meski kinipun Kris telah memiliki Aurora. Setidaknya secara hukum.

 

Kris mendesah pelan, menghilangkan rasa penatnya di kepala. Undangan itu kembali terlihat di matanya. Ini kesempatan bagus jika ia ingin menemui gadis itu. Menjelaskan padanya. Kris rela jika menerima tamparan atau bahkan pukulan dari gadis itu selama ia masih bisa bertemu dan berbicara dengannya. Ya… Kris rela tersakiti. Karena ia tahu sakit yang gadisnya timbulkan pada dirinya tak akan separah rasa sakit yang ia ciptakan pada sang gadis.

 

***

 

Eun Jae masih berkutat pada tuts keyboardnya tapi sebentar kemudian ia berhenti mengetik. Diletakkan kacamatanya di samping komputernya.

 

“Ayo kita menikah!”

 

Eun Jae menggelengkan kepalanya. Itu konyol. Bocah itu benar-benar konyol lebih dari yang ia pikirkan. Bukankah sebelumnya Luhan memanggilnya perawan tua? Dan ketika Eun Jae ingin memprotes dia malah di buat takjub dengan ajakan pernikahan.

 

Apa yang sebenarnya Luhan pikirkan. Bocah itu tak bisa di tebak. Sebentar menjadi konyol, sebentar menjadi lebih serius, sebentar terlihat seperti lelaki dewasa tapi sebentar lagi berubah menjadi Luhan yang menyebalkan.

 

Eun jae menghembuskan nafasnya, sedikit menurunkan bahunya. Bahkan Luhan tau masa lalunya. Eun Jae? Hanya mengetahui Luhan sebagai orang yang akan di jodohkan dengannya. Sebatas itu.

 

Tangan Eun Jae merogoh tas kerjanya, dikeluarkannya satu undangan yang di berikan Hyerin padanya tadi siang. Undangan reuni. Hal semacam ini yang kurang ia sukai. Hal dimana dia akan bertemu dengan kisah-kisah masa lalunya yang kurang ia sukai.

 

Sejujurnya Eun Jae tak pernah absent untuk tak datang ke acara reuni di tahun-tahun sebelumnya. Tapi di tahun ini, seakan semua berubah. Akan ada Kris, akan ada Aurora. Hal yang ingin sekali ia hindari. Ia takut ia mungkin akan merusak acara reuni itu jika melihat kedua pasangan itu di depannya. Ia takut emosinya tak terkontrol dengan baik. Ia takut ia tak bisa menjaga perasaannya. Ia hanya takut.

 

Tiba-tiba mata Eun Jae berkaca-kaca. Gadis itu mengingat dengan baik ketika Aurora menyatakan diri bahwa ia tengah mengandung anak Kris di depannya sebelum acara pertunangan itu di mulai. Bahkan gadis itu sama sekali tak meminta maaf kepada Eun Jae. Ia bahkan meminta Eun Jae untuk menyerahkan Kris kepadanya dengan sukarela dan membiarkan ia bahagia dengan Kris, juga janin yang ia kandung.

 

Eun Jae hanya tak pernah menyangka. Aurora adalah sahabatnya juga dan Kris adalah cinta pertama yang sangat ia agungkan karena lelaki itu terlihat begitu mencintainya. Tapi nyatanya, Kris dan Aurora adalah manusia paling terkutuk untuknya karena menggoreskan luka yang begitu dalam di hidupnya. Ia benci Kris. Ia juga benci Aurora. Ia benci acara pertunangan itu.

 

Tak hanya karena itu, berkat acara heroik pelarian dirinya, ia malah di tuding sebagai perusak pertunangannya sendiri. Eun Jae menjadi bahan pembicaraan hangat. Tanpa mereka tahu, bahwa sebenarnya Kris lah yang membuat pertunangan itu kacau sejak awal.

 

***

 

“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Jong In.

 

Song Jin menggeleng. “Aku tidak tahu”

 

“Luhan ada di korea. Dia ada di salah satu universitas disini. Kemarin aku bertemu dengannya”

 

Song Jin menatap Jong In setengah tak percaya.

 

“Secepat itukah ia kembali dari China?”

 

Jong In hanya mengangguk.”Jadi kau tak ingin meminta maaf kepadanya?”

 

Song Jin terdiam. Jong In juga terdiam. Keduanya sama-sama terdiam beberapa waktu. Tapi dering ponsel mengagetkan mereka berdua.

 

“Sebentar, aku terima telefon dulu” ucap Song Jin.

 

***

 

Wanita itu tersenyum, di genggamnya ponselnya lalu ia melanjutkan langkah kakinya menyisiri taman belakang rumah bergaya vintage itu.

 

“Apa kau yakin putraku itu mulai menyukai putrimu?” tanyanya.

 

“Sudah kubilang. Cara ini memang ampuh. Tak perlu menunggu waktu lama lagi bukan untuk melangsungkan pernikahannya?”

 

Wanita itu masih tersenyum. Bahkan senyumannya kini bertambah lebar dari sebelumnya.”Kalau begitu kita tanyakan dulu pada mereka”

 

“Kau benar. lebih baik kita tanyakan dulu pada mereka”

 

“Lalu… bagaimana dengan putrimu?

 

Suara di seberang sana terdengar sedikit mendesah.”Masih cukup sulit baginya. Dia masih butuh waktu beberapa waktu lagi untuk memastikan pada hatinya sendiri”

 

“Aku tidak akan memaksa mereka untuk melangsungkan pernikahan secepatnya, hanya saja kau tahukan, suamiku sangat ingin melihat putranya menikah”

 

“Tentu saja. Aku hanya ingin melihat bagaimana putri kecilku itu bisa tumbuh dewasa dengan caranya sendiri. Hal pernikahan lebih baik kita bicarakan lagi di lain kesempatan”

 

“Ya…aku mengerti”

 

“Kalau begitu selamat malam”

 

Bip

 

***

 

(Tbc?)

 

Hai…. Adakah yang menunggu ff ini? Oya, aku mau minta maaf kalau chapter kemarin ada yang bingung bacanya gimana. iya, aku mah ribet ye? Hehe.. lupa ngasih keterangan POV. Untuk selanjutnya aku bakal lebih mencoba untuk teliti lagi.

 

Well… makasih atas komentar kalian. Sangat membangun #nyusun bata. Kedepannya tetap meminta saran dan komentar kalian jika ada yang perlu disalahkan.

 

Chapter ini kembali dengan words yang lebih sedikit dari kemarin. Masalahnya aku lagi mentok ide cerita dan karena bentar lagi aku mau ujian. Aku rasa agak lama (lagi) buat ngelanjutin cerita ini. Maaf. Tebar typo(s).

 

Then…. Udah ah… itu aja, keburu dipelototi ama Eun Jae di pojokan #lari ke Luhan.

 

Jadi, Silahkan komentarnya 6^-^9

14 responses to “Marry a Boy (Chapter 4)

  1. Pingback: Marry a Boy (Chapter 5) | FFindo·

  2. Dalam lukanya Eunj Jae menjadi pribadi yang mengerikan. Terlalu dalam luka yang ditoreh kekasih dan sahabatnya itu. Kayanya Luhan akan mampu membantu move on dengan sifatnya itu. Kapan mereka akan saling mencintai…kutunggu ya thor. Fighting authornim!!

  3. Ide cerita gay ini lumayan pasaran ya, baru saja kemarin ada 1 ff yang tamat.
    Tapi kalo hanya menginspirasi dan bukannya berniat plagiat ya gpp, semakin hari itu mah kayaknya udah ga ada lagi yang ga pakai acara terinspirasi🙂
    Btw, aku baca chapter2 sebelumnya di blog pribadi kamu, tapi saat akan menuliskan komen kan ada opsi “beri komentar sebagai” itu ya, nah buka dari OM di phablet itu susah.
    Mau baca chapter berikutnya dulu yaa

  4. Pingback: Marry a Boy (Chapter 6) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s