[Series] Let Me – Part 3

Untitled-1Link Let Me: (Part 1Part 2  – Part 3Part 4Part 5Ongoing )

Cast : Kim Jongin, Lee Chaelli (OC) // Romance // Chapter // PG-14

Summary :

Can you let me to hold your hand and keep your love?

-sundaymonday-

Lee Chaelli masih memikirkannya—Kenyataan jika Kim Jongin merupakan salah satu penari kortemporer yang bekerja di kafe Bobby Jo, hal itu sangat menganggu. Mungkinkah Kim Jongin adalah penari bernama Kai yang pernah membuatnya terperangah? Chaelli menggelengkan kepalanya. Ia yakin bukan. Pasti bukan dia.

Penari kortemporer bernama Kai itu sangat berbakat, memesona dan setiap gerakannnya benar-benar hidup bagaikan seekor angsa. Berbeda jauh dengan Kim Jongin yang kelihatan konyol dengan senyuman bodoh yang bersarang di wajahnya saat pertama kali mereka bertemu. Mereka berbeda jauh—sangat jauh. Jadi, Chaelli benar-benar yakin jika Kai dan Kim Jongin adalah dua orang yang berbeda. Yah, mereka sangat berbeda.

“Jadi, bagaimana?” tanya Jung Taehee yang mengembalikan kesadarannya. “Kau bersedia meliput show case tahun ini?”

Chaelli mengerjapkan matanya perlahan-lahan. Saat ini ia sedang berada di tengah rapat klub jurnal untuk membahas agenda tahunan dan bertukar ide tentang majalah kampus yang akan diterbitkan bulan depan. Tapi, bagaimana bisa ia membiarkan pikirannya sendiri melayang jauh dan meninggalkannya? Salahkan saja, pria bernama Kim Jongin itu yang telah membuat otaknya kacau.

“Tidak ada yang bisa menulis artikel sebaik dirimu, Lee Chaelli. Jadi aku sangat berharap jika kau bersedia melakukannya” Taehee terus saja berbicara sambil memainkan bolpoin yang terapit di sebelah tangannya. Sementara semua orang yang berada di sana menatap sosok Lee Chaelli seperti sebuah guci porselan.

“Itu..” Jawab Chaelli agak ragu. “Aku tidak begitu yakin”

“Kenapa? Kau adalah penulis terbaik klub jurnal ini. Aku yakin kau bisa melakukannya dengan baik” tanya Taehee sambil sedikit tertawa.

“Aku rasa aku sudah menyerah” Chaelli menggigit bibir bawahnya. Kata-katanya seperti mengudara begitu saja. “Aku rasa menjadi penulis bukan pilihan yang tepat”

“Astaga, kau bercanda?” Taehee tertawa keras sambil menghentak-hentakkan kakinya. Rasanya ia tidak tahu lagi bagaimana cara mengekspresikan ketidak percayaannya.

“Kau bukan hanya penulis terbaik klub jurnal, tapi kau adalah penulis terbaik yang pernah ku kenal. Aku bahkan akan tetap memilihmu dibanding J.K. Rowling si penulis harry potter itu.” Taehee berpura-pura marah—lalu kemudian dengan gayanya yang unik ia berhasil membuat seluruh ruangan tertawa. “Kau tidak bisa mengelak lagi. Aku hanya ingin kau yang menulis artikel show case—atau jika kau tidak bersedia melakukannya, maka klub jurnal tidak akan memiliki artikel apapun tentang pertunjukan tahun ini”

Kening Chaelli berkerut. Sebenarnya ia juga menginginkannya. Ia sangat suka menulis—bahkan sedikit menggilainya karna ada banyak sekali memo kertas yang menempel di sepanjang tembok kamarnya. Menulis sudah seperti bagian dari hidupnya. Hanya saja, ada sebuah masalah yang akhir-akhir ini membuatnya kesulitan untuk merangkai kata.

“Aku..” Chaelli menghela nafasnya perlahan, lalu menghembuskannya lagi. “Yah, Aku rasa aku bisa” Jawabnya dengan nada putus asa. Ia memang tidak pernah bisa menolak—selalu begitu ketika seseorang mulai mempengaruhinya. Chaelli memang tipe seseorang yang gampang terpengaruh.

“Baguslah, kalau begitu. Aku rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi tentang artikel show case” Taehee tersenyum lebar kepadanya, sambil merapikan beberapa berkas yang banyak bertebaran di atas mejanya.

Tapi sebelum rapat itu benar-benar selesai. Taehee tiba-tiba menghentikan langkah semua orang dengan pekikannya yang tajam dan keras. “Ada apa?”

“Astaga! Aku lupa, jika aku harus mewawancarai seseorang sebelum deadline bulan ini” kepalanya berputar cepat kearah Chaelli yang sedang menunggunya untuk bersuara. “Bisakah kau membantuku untuk melakukannya juga? Maaf, tapi aku benar-benar akan sibuk dengan tim editing beberapa hari ini”

Chaelli tersenyum kikuk. Tapi sebelum ia sempat menjawabnya, Taehee sudah lebih dulu memeluknya erat dengan senyuman cerah dan mata berbinar-binar.

“Oh, Chaelli. Kau teman terbaik yang kumiliki! Terimakasih” Chaelli mendengus pelan. Dia sama sekali belum menjawab! Dan Taehee sekarang membuatnya terjebak dengan setumpuk pekerjaan ini.

“Baiklah, sepertinya aku memang tidak punya pilihan lain” jawabnya sambil sedikit memberengut. “Jadi, siapa yang ingin kau wawancarai itu?”

“Mm” gumam Taehee sambil mengaduk-aduk isi ranselnya. Sepertinya saat ini ia sibuk mencari sesuatu. “Aku rasa aku mencatatnya, minggu lalu”

Chaelli diam sejenak, menunggu. Lalu saat Taehee menemukan catatan yang ia cari, Chaelli mulai bertanya lagi. “Kau sudah menemukannya?”

“Ya, Kim ..”

“Siapa?” Chaelli mengangkat sebelah alisnya, lalu mengulang pertanyaannya lagi.

“Astaga, aku tidak percaya aku akan melewatkan ini” Seru Taehee dengan suara yang terlalu bersemangat. “Kau sangat beruntung, Lee Chaelli!”

Chaelli menghembuskan nafasnya pelan, lalu setelah itu ia menatap Taehee dengan pandangan datar. Baiklah, sekarang ia mulai kesal dengan pembicaraan ini “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan”

“Hei, hei kau tidak boleh memberikan tampang seperti itu pada seseorang yang akan memberikanmu anugerah” Taehee tetap tersenyum, lalu kemudian ia menyodorkan catatan kecilnya itu pada semua orang. “Berbahagialah Lee Chaelli, sebab kau akan bertemu penari terbaik kita tahun ini”

Chaelli mendesah dalam hati. Lagi-lagi seorang penari. Oh, Hebat. kenapa ia harus selalu terjebak dengan segala macam penari di dalam putaran waktunya?

“Oh, ya?” tanyanya dengan nada gerutuan yang tidak terlalu ketara. “Siapa namanya?”

“Kim Jongin”

Chaelli memejamkan matanya di dalam mobil Mina dengan jendela terbuka. Ia menyandarkan punggungnya ke bagian belakang kursi mobil sambil melipat kedua tangannya bersamaan. Untuk beberapa hal, sepertinya ada hal-hal membuatnya terlalu lelah hari ini—dan sedikit muak disaat yang bersamaan.

Kim Jongin—nama itu beberapa waktu lalu telah berhasil mendominasi pikirannya, dan sekarang ia harus mendapati nama itu membuat otaknya lebih kacau lagi dari kemarin. Oh, Bagus sekali!

Kim Jongin, seorang penari kortemporer.

Kim Jongin, seorang penari terbaik tahun ini.

Kim Jongin, seorang pria berwajah matahari.

Kim Jongin, seorang pria yang menganggu makan siangnya hanya untuk sebuah nama.

Kim Jongin, seseorang yang harus ia wawancarai besok. Tunggu, apa? Ia harus mewawancarai Kim Jongin besok?

Tiba-tiba matanya terbelalak begitu saja. Chaelli sibuk memegangi keningnya yang terasa berat dan pusing di saat yang bersamaan. Ia memejamkan matanya perlahan-lahan lalu membukanya lagi tepat setelah Mina membuka pintu depan mobil. “Maaf, membuatmu menunggu. Kadang-kadang aku sangat benci dengan kelas tambahan” kata Mina sambil memberengut kesal. “Bagaimana rapat klubmu hari ini?”

Chaelli tidak menjawab. Ia gila—benar-benar gila, dan jika saat ini sahabatnya itu tahu tentang agendanya besok maka dia akan benar-benar berakhir.

“Baiklah, Aku tahu kau lelah” Mina menjawab pertanyaannya sendiri setelah melihat raut wajah Chaelli yang kelihatan lelah—dan ehm, bingung. Entahlah, Mina tidak mengerti apa yang sedang terjadi padanya. Hanya saja semua orang memang kelihatan sangat lelah saat mendekati akhir bulan. Apa lagi? tentu saja, deadline kegiatan klub yang menggila.

“Bukan seperti itu..” Chaelli tersenyum tipis, lalu mengeratkan tubuhnya pada saku jaket. “hanya saja aku memiliki sedikit tugas yang membuatku frustasi”

Mina bergumam pelan. Lalu setelah ia perlahan-lahan menghidupkan mesin mobil. Matanya kembali kearah Chaelli dengan wajah antusias. “Apa?”

“Tidak, ini rahasia. Kau pasti akan menertawakanku” Mina tertawa keras—dengan gayanya yang khas sambil mengemudikan mobilnya meninggalkan lapangan parkir.

Suasana sore itu tidak terlalu ramai seperti biasanya. Tidak ada lagi barisan mobil di depan pintu masuk parkir, juga tidak ada beberapa kumpulan mahasiswa lain yang biasanya menjadikan lapangan parkir ini sebagai markas mereka. Hanya ada sebuah mobil hitam yang masih terparkir di sana dan satu lagi mobil berwarna biru lainnya yang sama dengan mobil milik Mina.

“Kau bahkan sudah tertawa saat aku belum memulainya” gerutu Chaelli pelan saat Mina sudah melewati lampu merah pertama.

“Benarkah? oh, maafkan aku” Mina menatap satu bus yang baru saja berjalan di depannya dengan senyuman mengembang. “Hanya saja aku penasaran tentang apa yang Kim Jongin lakukan hari ini. Apa dia menganggumu lagi, nona Lee?”

Pipi Chaelli tiba-tiba memerah. Ia tahu jika Mina akan menyinggungnya lagi tentang masalah itu, dan memang benar jika Kim Jongin menganggu otaknya selama seharian ini.

“Ya, Pria itu ada dimana-mana” jawabnya samar dengan nada frustasi.

“Maksudmu, dia menguntitmu?” Mina menatap Chaelli dengan pandangan penasaran. Pembicaraan ini sangat menarik—bahkan jauh lebih menarik daripada gosip bintang idola seperti Shinee sekalipun. “Kau ingin aku memberinya sedikit pukulan?”

“Apa? Tidak, maksudku dia bukan orang seperti itu” Jantung Chaelli seketika itu berdegup sangat cepat seperti sebuah motor listrik yang siap meluncur. Kim Jongin tidak bersalah—sama sekali. Jadi, ia tidak bisa membiarkan sahabatnya memukuli pria itu begitu saja dengan kejahatan yang tidak ia lakukan. Satu-satunya yang harus dipukul saat ini adalah kepalanya, otaknya yang membuatnya tidak berhenti memikirkan nama Kim Jongin seharian penuh.

“Jadi, apa yang dia lakukan?” tanya Mina lagi sambil tersenyum miring. Sekarang Chaelli tahu jika Mina baru saja menggodanya. Ugh, sial.

“Dia tidak melakukan apapun, dan aku juga tidak ingin berbicara apapun tentangnya.” sahut Chaelli dengan nada setengah kesal. Chaelli bahkan mengenal Mina sangat baik, seperti ia mengenal dirinya sendiri. Jadi, bagaimana mungkin ia tetap membiarkan gadis itu menggodanya tentang Jongin seperti saat ini? Kau benar-benar bodoh, Lee Chaelli. “Bisakah kita berhenti membicarakannya?” tanya Chaelli ketika ia sudah benar-benar jengkel.

“Kenapa? Aku rasa sangat normal jika para gadis tertarik seorang pria sepertinya—terutama jika dia adalah seorang penari yang bisa membuatmu terpesona” Sahut Mina sambil terus tersenyum. “Kau tahu aku benar, bukan?”

“Cukup! aku bilang aku tidak ingin membicarakannya” Chaelli menarik nafasnya kuat-kuat sebelum ia menghembuskannya perlahan. “dan aku juga tidak tertarik padanya”

Chaelli mengabaikan jantungnya yang seperti ingin melompat ketika terlalu banyak mendengar nama Kim Jongin. Ia tahu berbicara dengan Mina sama sekali tidak dapat membantunya. Gadis itu memang menyebalkan, dia sama sekali tidak keberatan untuk menggodanya selama seharian ini hanya untuk melihat pipinya merona merah. Mina adalah gadis gila—memang. Dan kegilaan ini bertambah parah ketika ia hubungannya berakhir dengan Baekhyun.

“Tunggu, kenapa kita berhenti disini?” Chaelli menengok ke sekelilingnya. Rasanya tempat ini tidak asing, lalu setelah beberapa lama, Chaelli baru menyadari jika Mina menghentikan mobilnya tepat di pintu masuk kafe Bobby Jo. “Apa-apaan..” seketika itu Chaelli berteriak marah—dan menatap Mina dengan pandangan mematikan.

“Woah, tidak perlu sepanik itu. Kau sudah setuju untuk datang ke pesta penyambutan sepupuku yang tinggal di California itu, ingat?” Mina berusaha keras untuk menenangkannya, tapi nyatanya hal itu tidak terlalu berhasil karna saat ini Chaelli masih menatapnya tajam.

“Tadi pagi, kau tidak bilang apapun tentang kafe ini”

“Aku pikir kau tidak akan datang jika tahu sepupuku tergila-gila pada Bobby Jo—segala macam tentangnya, termasuk kafe ini” jawab Mina sambil sedikit merapikan kemejanya. Satu-satunya cara yang tepat menghadapi kemarahan Chaelli adalah bersikap sok tenang hingga semuanya membaik. Jadi, berpura-pura tidak acuh seperti itu adalah pilihan yang tepat.

“Aku memang tidak akan datang”

Mina mengernyitkan keningnya, lalu menatap Chaelli dengan alis terangkat. “Kau sudah janji”

“Tidak! Untuk kali ini aku tidak akan membiarkanmu membodohiku” Chaelli tetap bersikeras. Ia benar-benar tidak ingin masuk ke dalam sana. Sungguh! selain karna ia tidak ingin bertemu dengan Kim Jongin yang bekerja sebagai penari kortemporer, ia juga tidak ingin bertemu Byun baekhyun karna perasaan bersalahnya setelah menampar pria itu beberapa waktu lalu. “Aku akan menunggu di sini sampai pesta selesai. Oh, tidak. Aku bahkan akan segera pulang setelah kau masuk ke dalam”

“Baiklah” jawab Mina hampir setengah menyerah. “Mungkin lebih baik jika aku masuk sendirian ke dalam sana dan meminta sepupuku untuk memberikan buku kumpulan puisi William blake itu pada orang lain”

Chaelli tersenyum, lalu mengangguk singkat setelahnya. Tapi, tunggu? Buku kumpulan puisi William blake, dia bilang? Oh, astaga Chaelli harus mendapatkannya.

….

Sejauh ini, semuanya baik-baik saja. Piringan hitam yang berada di pojok ruangan itu masih mengeluarkan suara musik klasik yang bertempo lambat, orang-orang masih sibuk dengan gelas soda mereka sambil saling mengobrol tentang banyak hal, juga ada beberapa pasangan kekasih yang sedang berdansa mengikuti musik. Ini benar-benar bukan salah satu pesta ‘remaja California’ yang pernah ia bayangkan. Tapi selama ia tidak bertemu dengan salah satu dari Jongin atau Baekhyun atau bahkan keduanya sekaligus, ini adalah tempat yang cukup menyenangkan untuk Chaelli.

“Jadi, bagaimana? Kau puas dengan hadiahku?” tiba-tiba seseorang memegang pundaknya, hingga membuat Chaelli hampir melompat karna terkejut. Untunglah itu hanya Mina dan sepupunya, Jessica yang datang sambil membawa segelas cola. “Buku itu milik ayahku yang sangat menyukai sastra”

“Oh, benarkah?” suara Chaelli terdengar antusias dan bersemangat. “aku sangat berterimakasih, tapi apa tidak apa-apa jika aku memilikinya?”

“Tentu saja” Jessica tersenyum tipis sambil menyerahkan cola yang berada digenggamannya. “Itu milikmu sekarang. Ayahku sudah tidak membutuhkannya lagi”

Chaelli tersenyum senang mendengarnya. Rasanya ia sudah lupa caranya tertawa selama beberapa hari terakhir ini—sejak nama Kim Jongin itu menjerat seluruh isi kepalanya dan membuat tubuhnya terus uring-uringan. Tapi ternyata tidak ada yang salah tentang dunia ini, satu-satunya yang harus ia lakuan hanya bebas menikmati hidupnya sendiri tanpa perlu memikirkan orang lain. Lagipula, kenapa ia harus memikirkan Kim Jongin? Mereka bahkan hanya pernah bertemu satu kali, Oh mungkin dua kali seperti yang dikatakan Mina. Tapi Chaelli yakin jika pertemuan yang satu itu tidak masuk dalam hitungan.

“Jadi, kau sudah bertemu Baekhyun?” Jessica tiba-tiba bertanya—membuat Chaelli harus menahan nafasnya diam-diam sambil menoleh kearah Mina.

“Ap—siapa?”

“Byun Baekhyun—mantan pacarmu, ingat? Kudengar dia bekerja di sini” Mina menatap Jessica dengan bingung, lalu kemudian mengalihkan pandangannya pada Chaelli dengan sedikit menyipit. “Dia mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai barista” sambungnya lagi dengan suara tegas. “kau tidak tahu?”

Mina mendengus, lalu menjawabnya sambil setengah berteriak. “Tidak. Tidak ada yang memberitahuku”

“Yah, kalau begitu kau harus segera mencarinya kurasa” Jessica menepuk bahu Mina pelan untuk memberikan sedikit dorongan. Sementara Chaelli tetap mematung di tempatnya saat ini. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menyembunyikan perasaan bersalahnya. Ini memang salahnya—harusnya ia memberitahu Mina sejak awal tentang pertemuan mereka, tentang pekerjaan baru Baekhyun, juga tentang ia yang telah menampar mantan pacarnya di depan semua orang. Dan sekarang sudah benar-benar terlambat jika Chaelli menyesalinya.

Beberapa menit kemudian, Mina pergi meninggalkan mereka tanpa mengatakan apapun. Chaelli tahu jika Mina marah padanya—dan Chaelli juga tahu jika ia memang pantas mendapatkannya. Tapi menatapnya seperti seorang tersangka pembunuhan itu sedikit berlebihan. Chaelli bukan satu-satunya yang bersalah tentang hal ini. Ia juga memiliki sebuah alasan untuk tidak mengatakannya, dan sebuah alasan lain untuk menampar Baekhyun ditengah keramaian. Jadi, kenapa Mina harus menganggapnya sebagai satu-satunya tersangka dalam kasus ini? itu tidak adil.

Chaelli mendesah panjang. Pesta ini tidak akan menyenangkan lagi, sekarang. Mina telah lebih dulu meninggalkannya. Sementara Jessica telah beralih pada sekumpulan gadis di pojok ruangan sambil menawarkan beberapa gelas cola. Tidak ada seorang pun yang ingin menemaninya di sini. Ia sendirian.

Tepat setelah ia menghabiskan gelas cola terakhir dan beranjak pulang. Suara riuh tepuk tangan menghentikan gerakannya. Chaelli melihat penari itu lagi, entahlah itu Kai atau penari kortemporer mana lagi yang bekerja di sini. Tapi melihat sosok asing itu menaiki tangga panggung perlahan-lahan dengan sebuah topeng yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Membuat jantung Chaelli tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya dan ia tahu, ini tidak normal.

Lalu setelah sosok itu berdiri dihadapan semua orang dengan gaya penghormatannya. Chaelli bisa mendengar jika beberapa gadis meneriaki namanya dengan keras. Lalu setelah itu, ia tersenyum lebar samar menatap ke arah panggung lekat-lekat. Tebakannya benar, penari itu adalah Kai.

TBC

Pyuh, kelar //kai-nya gak nongol di part ini *hahaha// tapi di part-part berikutnya pasti muncul kok.

Makasih ya karna udah mau baca ^^

Kunjungi juga http://www.sunday14mondayblog.wordpress.com

Link Let Me: (Part 1Part 2  – Part 3Part 4Part 5Ongoing )

One response to “[Series] Let Me – Part 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s