[Chapter 10] Fleas Love

(NEW) Fleas Love

Jihan Kusuma Present

kim Jongin|na Rumi|park Chanyeol

Romance|SchoolLife|Angst

Chapter 1|2|3+4|5|6|7+8|9|10

note :

Readers-nim mianhae sebelumnya, kelihatannya chapter ini mini banget! Pendek lah pokoknya. Mungkin kalian bakal kurang puas. Aku barusan nyusruk dari sepeda motor soalnya pas itu hujan lebat dan pake angin kenceng. Alhasil aku kepleset dan nyosor jalan raya :” untung aku masih bisa diberi kekuatan buat ujian meski pincang /ini ga penting banget ya/ curhat maaf/

Oke aku cuman bisa bilang : Happy Reading!!!

Jangan hujat sayaaa :’D


CHAPTER 10


Author’s POV

Jongin membawa gadis itu kesebuah rumah sakit. Rumah sakit tempat ibunya dirawat. Dia ingin memberitahu gadis itu tentang keadaan ibunya disini dan mungkin Rumi akan mengerti itu.

“Ayo turun.” ajak Jongin.

“Kenapa kita berhenti disini? Siapa yang sakit?”

“Kau akan tahu setelah ini. Ayo turunlah.”

Mereka berdua berjalan memasuki rumah sakit terbesar di Seoul itu. Rumi terus bertanya-tanya dalam hati serta menebak-nebak mengapa Jongin membawanya kemari. Kedua orang itu terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan Jongin yang melangkah didepan Rumi. Membiarkan gadis itu membuntutinya dengan segala pertanyaan yang terbesit dalam pikiran Rumi.

Pada akhirnya mereka berdua menjumpai seorang lelaki dengan jas hitam dan dasi warna ungu yang terlipat manis di lehernya. Lelaki tua itu terlihat keriput dengan kulit putih bersihnya. Tetapi ada suatu sisi yang membuat laki-laki tersebut memiliki kemiripan dengan Jongin. Rahang dan tulang hidungnya yang tegas juga sorot mata tuanya yang tajam.

“Jongin, kemana saja kau?” tanya lelaki itu dengan nada suara penuh wibawa. Entah mengapa suara itu membuat nyali Rumi menciut. Pertanyaan barusan seolah menyindirnya.

“…aku ada urusan.”

“Jadi kau membolos sekolah hari ini?”

“Ne. Mianhae Aboji.” jawab Jongin.

Rumi terkejut begitu mendengar kata ‘ayah’ dari mulut Jongin. Jadi ini ayah Jongin? Mereka memang cocok. Hanya saja Rumi masih bingung mengapa kedua orang yang saling berhubungan darah ini memiliki warna kulit yang sangat kontras.

“Oh, siapa perempuan itu?” tanya ayah Jongin sambil melongokkan kepala memandang Rumi yang seolah tersembunyi dibelakang tubuh Jongin. Rumi tertegun tidak tahu harus berkata apa.

“Dia yeojachinguku Aboji.”

‘Hah?’ Rumi melotot memandang sisi kanan wajah Jongin yang tampak di penglihatannya. Jongin langsung membalas pandangan itu dengan sebuah senyuman manis. “Rumi, ini Abojiku.”

Rumi maju selangkah kemudian membungkuk manis dihadapan Aboji. “Annyeonghaseyo.” sapa Rumi lirih kemudian tersenyum. Ayah Jongin tampak terus memperhatikan gerak gerik gadis berambut panjang dihadapannya. Lelaki tua itu terasa mengingat sesuatu dari masa lalu ketika melihat senyuman Rumi. Ya. Sesuatu yang lama tidak dia jumpai kini seolah kembali menyapanya dan mengingatkannya tentang kejadian itu. Rumi begitu mirip dengan seseorang di masa lalunya.

“Siapa namamu?” tanya ayah Jongin dengan senyuman samar. “Na Rumi. Anda bisa memanggil saya Rumi.” jawab gadis itu.

“Hm… Rumi.” gumamnya mengulang apa yang baru saja Rumi katakan.

“Oh ya, Aboji bisa pergi bekerja sekarang. Aku yang akan menjaga Omoni.” celetuk Jongin. Kini baru Rumi sadari jika sesungguhnya Jongin sama sekali tidak tampak sebagai anak nakal ketika berhadapan dengan orang tuanya. Sesungguhnya dia lelaki yang sopan. Tetapi mengapa bisa berubah menjadi sangat berbeda ketika berada di sekolah?

“Yasudah masuklah. Eommamu masih tidur. Aboji akan berangkat sekarang.” lelaki tua tersebut lenggang dari hadapan mereka. Jongin membuka pintu kamar ibunya dan mengajak Rumi masuk. Hawa AC yang sedikit lebih rendah dari yang diluar membuat Rumi memeluk kedua lengannya sendiri. Karena memang dia suka tidak tahan dengan suhu yang terlalu dingin. Terlihat seorang perempuan dengan kulit tan terbaring ditas ranjang. Keadaannya sudah lebih baik dari kemarin. Perempuan itu tidak lagi mengenakan respirator dan hanya ada satu selang infus dalam dirinya.

“Jongin…” panggil Rumi lirih. Dia terkejut dengan keadaan ibu Jongin. “Ne, jadi inilah yang terjadi kemarin.” balas Jongin. Rumi terguncang. Ternyata ini yang menimpa keluarga Jongin. Dia sangat tidak menyangka. “Ini yang menghalangiku kemarin sehingga kita tidak jadi berkencan dan…”

“Cukup Jongin. Aku bisa terima. Ini memang bukan salahmu, tapi keadaan yang membuatmu melakukannya.”

Ucapan penuh pengertian dari Rumi benar-benar membuat Jongin tersentuh. Lelaki itu tersenyum kecil sambil mengelus kepala Rumi. Kemudian Jongin mendekat ke ranjang pasien dan mengenggam tangan ibunya lalu mengecup tangan lembut itu. Dan pada saat inilah Rumi melihat Jongin yang gentle, Jongin yang penuh perhatian, dan Jongin yang lemah lembut kepada ibunya. Rumi tersenyum lalu bergabung disana. Dia duduk di kursi disamping ranjang ibu Jongin sambil melihat paras mengangumkan yang terpasang di wajah sang ibu. Dia bisa menemukan kulit kecokelatan yang sangat mirip dengan Jongin, juga bibir tebal nan manis itu. Ya. Perempuan itu benar-benar mirip Jongin.

“Omoni terkena serangan jantung yang diduga disebabkan karena hipertensi. Omoni juga memiliki asma. Tetapi itu tidak begitu sering kambuh seperti penyakit jantungnya.”. Rumi diam tidak bergerak. Dia masih sulit mempercayai ternyata seperti inilah kehidupan Jongin. Hidup dengan seorang ayah yang bekerja dengan keras menjalankan perusahaan besarnya dan menghasilkan banyak uang. Sedangkan uang-uang itu kemudian digunakan untuk merawat sang ibu yang sakit-sakitan. Belum lagi Jongin yang bertingkah dan membuat kedua orangtuanya pusing. Tidak selamanya sebuah keluarga yang bergelimang harta selalu bisa hidup bahagia dan harmonis. Bukan kekayaan yang membuat hidup itu harmonis. Tetapi keharmonisanlah yang sesungguhnya membuat sebuah keluarga bisa kaya lalu hidup makmur.

“Kuharap kau mengerti Rumi.”

“Aku sangat mengerti Jongin.”

Jongin tersenyum. Mungkin kondisi keluarganya yang buruk ini yang membuat Jongin menjadi bertingkah seenaknya. Seorang ayah yang super sibuk dan seorang ibu yang terus sakit-sakitan membuat Jongin kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Dan itu yang membuatnya menjadi gila akan perempuan kemudian berbuat seenak hatinya dengan uang. Karena tidak pernah mendapatkan cinta, Jongin juga tidak akan bisa menghasilkan cinta. Dia hanya kan bermain-main dengan hati orang lain.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka menampakkan tubuh secil seorang suster dengan seragam serba putih dan bandana berlogo dengan warna senada. “Permisi, ini sarapan pagi Nyonya Kim, dan ini ada surat untuk tebusan obatnya.” perempuan mungil dengan tahi lalat didahinya tersebut memberikan secarik kertas warna kuning muda pada Jongin. “Ah ye, gomawo.” balas Jongin. Kemudian perempuan tersebut keluar dari ruangan.

“Rumi, aku harus menebus obat-obatan ini dulu. Kau tunggu disini dan jaga Omoni ne?”

“Ne.” Rumi mengangguk sambil tersenyum. Jongin keluar dari kamar dan menuju apotek yang letaknya tidak jauh dari kamar itu. Rumi terdiam dan menatap wajah ibu Jongin. Dia tersenyum simpul usai mengetahui ini semua. Jongin bukan hanya anak yang patuh kepada orang tua, dia juga sangat perhatian. Beberapa saat kemudian Rumi mendapati kedua kelopak mata wanita itu terbuka dengan berat, menampakkan kedua iris hitam yang sangat bening. “Eh, dia terbangun.” ucap Rumi terdengar lirih.

Ibu Jongin langsung menoleh kearahnya dengan muka bingung. “Anda sudah sadar… A-Annyeonghaseo.” Rumi segera membungkuk sopan sambil tersenyum selebar mungkin. Dia berusaha membuat Ibu Jongin yang baru saja terbangun tidak berfikir yang tidak-tidak tentang Rumi.

“Kau… siapa?” tanya Ibu Jongin dengan nada parau.

“Saya… Rumi. Temannya Jongin.”

O – O – O – O – O

Kim Jongin’s POV

Aku sudah menebus semua obatnya. Kususuri lorong kamar Omoni sambil membawa sekantung kapsul-kapsul dengan harga yang tidak murah itu. Jemariku hendak memutar kenop, tetapi sebelumnya aku terkesiap. Rumi terlihat sedang menyuapi Omoni. Aku mengintipnya dari balik jendela pintu. Kedua perempuan itu tampak berbincang-bincang sambil saling bertukar senyum. Entah mengapa hatiku sangat senang melihat kebersaman mereka. Kedua perempuan yang sama-sama kucintai. Kutarik kembali tanganku, dan kuputuskan untuk tidak mengganggu momen indah ini. Mungkin akan lebih baik jika mereka kuberi waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Tetapi sebelum itu,

“Eh, Jongin.” suara Rumi terdengar sangat samar. Aku memandang kearah mereka. Ya. Pada akhirnya aku tertangkap basah juga telah menguntit. Tanpa banyak omong kubuka pintu dan masuk kedalam. Bergabung dengan suasana yang terasa sangat hangat ini.

“Jongin-ah, kenapa kau tidak pernah bercerita tentang teman wanitamu ini?” terlihat Raut bahagia Omoni. Kugaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.

“Um, dia… dia, Rumi adalah kekasihku Omoni.” jawabku sambil nyengir.

“Hah benarkah?” tanya Omoni dengan kedua mata yang membulat. Rumi langsung melototiku dengan muka konyolnya yang membuatku ingin tertawa sekarang juga. Gadis itu begitu lucu. Bukankah seharusnya dia senang bisa kuperkenalkan kepada orang tuaku dengan embel-embel ‘pacar’.

“Jongin!” tukas Rumi sebal.

“Ah Rumi, jangan malu-malu mengakuinya. Aku tahu puteraku akan memilih yang terbaik. Dan kurasa pilihannya tepat. Jongin belum pernah pacaran sebelumnya…”

Rumi menggaruk poninya. Pasti dia bingung akan kata Omoni. Ya, aku memang tidak pernah memperkenalkan wanita-wanitaku pada orang tuaku sebelumnya. Dan dialah yang pertama. Kuhampiri kedua perempuan itu. Aku berdiri disamping Rumi yang sedang duduk di kursi. Rumi masih melotot sampai-sampai kedua mata itu nyaris menggelinding keluar dari rongga matanya. Sesebal itukah dia? Haha.

“Hm, memangnya apa yang kalian bicarakan tadi. Aku curiga kau mengatakan hal yang tidak-tidak tentangku pada Omoni.” ujarku pada Rumi. “Yak, sembarangan!” gadis itu mencubit perutku sampai aku menggeliat dan menangkap tangan kecilnya. “Aih, sakit.” pekikku. Omoni malah tertawa melihat kami. Tawa itu. Kenapa sangat menyentuh? Ini pertama kalinya kulihat Omoni tertawa karena aku. Ternyata seperti inilah rasanya membahagiakan orangtua.

“Haha tidak Jongin. Rumi hanya bercerita tentang kecemasanmu terhadap Omoni. Katanya kau anak yang berbakti pada orang tua.”

Kulirik perempuan mungil itu. ‘Benarkah apa katanya? Apakah dia sedang mengarang cerita bohong tentang diriku?’ kedu alisku mengekrut sambil menatapnya dalam-dalam. Aku bisa menemukan kesungguhan di mata Rumi. Mungkin dia memang tulus mengatakannya.

“Yaa, kenapa kau menatapku seperti itu Jongin?” tanya Rumi.

“Gwenchanayo, Princess-nim.” balasku sambil mengelus punggungnya.

“Hish, hentikan, aku harus menyuapi Ibumu Jongin.”

Omoni tertawa rendah melihat tingakah kami. Kurasa kehadiran Rumi disini bisa membantu mempercepat kepulihannya. Omoni tidak pernah tersenyum selebar ini sebelumnya.

O – O – O – O – O

“Omoni tampak senang karena kehadiranmu.” ucapku sambil mengaduk sup ramyun. Saat ini aku dan Rumi sedang makan siang berdua di kedai terdekat dari rumah sakit. Entah mengapa hari ini aku merasa bahagia karena bisa sepanjang hari berduaan dengan gadis ini. Rumi mengunyah ramyun dalam mulutnya kemudian menelan makanan tersebut bulat-bulat.

“Dia senang bukan karena aku. Tetapi karena mengetahui puteranya ternyata normal.”

“Hei, apa maksud ucapan itu? Jadi dia berfikir bila aku tidak normal begitu?” tolakku.

“Tentu saja. Dia bahkan tidak tahu sudah berapa perempuan yang pernah kau gandeng lalu kau lepaskan lagi. Dia tidak mengerti jika kau pernah pacaran berkali-kali dan menganggapmu sebagai lelaki polos yang tidak kenal cinta.” Rumi hampir tersedak air liurnya sendiri ketika menertawakan apa yang telah di katakan.

“Aish, aku hanya tidak pernah bercerita tentang itu.”

“Tentu saja tidak pernah. Jika iya, itu artinya kau berencana membunuh Omoni. Dia akan jantungan begitu mendengar puteranya seorang player. Hahaha!”

‘Tuk!’

“Jongin!” Rumi memekik sambil memijat dahinya yang baru saja kupukul dengan sumpit besi. “Sakit!” lanjutnya dengan ringis kesakitan.

“Kau ini, kenapa bibirmu itu begitu lincah huh? Kau minta kucium seperti kemarin?”

Rumi melototiku dan aku balas menyeringai. Kali ini dia tidak membalas dan melanjutkan acara makannya yang terpotong karena diriku. Kami terhanyut dalam susana saling diam selama beberapa saat dan aku tidak suka keheningan. “Rumi,”

“Ya..” jawabnya datar.

“Rumi!”

“Apa sih?”

“Kau marah?”

“Ani.”

“Bohong.”

“Tidak Jongin.”

“Kalau begitu beri aku sebuah senyuman.”

“Aku tidak mood untuk tersenyum.”

“Itu artinya kau sedang marah.”

Rumi membanting sumpitnya lalu mendongak menatap wajahku. Bibirnya terlihat melengkung dengan menggelikan. Senyum yang dipaksakan itu semakin membuatku nafsu untuk mengunyah bibirnya sekarang juga. Dasar perempuan ini.

“Kau puas? Aku sudah tersenyum.”

“Hyaaa, jangan marah lah Rumi.” kucubit pipi Rumi yang merah karena asap ramyun yang panas. “Aku hanya sangat senang kau bisa mengenal keluargaku dan Omoni bisa nyaman berada didekatmu. Aku semakin yakin dengan hubungan kita.”

“Hm, hubungan yang mana?” kedua alisnya terangkat dengan amat menyebalkan. Huh! Lihat saja Rumi! Kau belum tahu bagaimana caraku menghabisimu untuk malam pertama kita. Dia masih bertanya hubungan yang mana?

“Baiklah, kita berpisah sekarang!” kukeraskan rahangku berusaha untuk berakting dihadapannya. “Aniya Jongin!” dengan tiba-tiba perempuan itu menggenggam tanganku dengan wajah memelas. ‘Haha, kena kau Rumi.’ Aku tidak bisa menahan tawa. Tawaku lepas hingga perutku terasa terperas-peras dan kehabisan pasokan oksigen. Kulihat wajah sebal gadis itu.

Rumi berkacak pinggan dengan pipi menggembung dan bibir mengerucut. Hahaha! Itu sangat imut.

“JONGIIIIN!” panggilnya. Hal ini semakin membuatku gemas. “Jongiiiin! Berhenti tertawa! Itu tidak lucu!” dia mulai sebal sedangkan aku masih tertawa keras. “Huh! Baik. Aku sudah selesai makannya. Aku mau pulang!” Rumi bangkit dan berjalan keluar dari kedai.

“He! Tunggu! Aduh Rumi!”

Kuambil dua lembar uang dari dompet dan melemparnya keatas meja tanpa menghiraukan berapa nominal uang itu. Kemudian segera berjalan cepat menyusul Rumi yang ngambeg. “Sayang….” panggilku menggoda sambil mengekor dibelakang Rumi. Rumi mengibaskan rambut hingga menyentuhku tanpa membalas panggilanku. Dia sedang mempermainkan aku begitu? Haha! Dasar perempuan ini!

“Sayang jangan marah.”

Kali ini Rumi berjalan lebih cepat dan mendahuluiku. Membuatku harus ikut mempercepat langkah dan berlari mengejarnya. Kami terus kejar-kejaran hingga sampai di rumah sakit.

Tetapi sial sekali. Lelaki itu. Ternyata dia sudah pulang.

Chanyeol duduk di kursi tunggu yang berada didepan kamar Omoni sambil membaca sebuah buku. Kenapa dia tidak pulang ke rumah? Kenapa malah kemari? Langkah kaki Rumi kian melambat. Dia mungkin terkejut melihat siapa yang ada disana. Tidak. Seharusnya Rumi tidak usah tahu dan tidak perlu tahu tentang ini.

.

.

.

.

“Chanyeol?” panggil Rumi ketika sudah berjarak kurang lebih tiga meter didepan lelaki itu. Chanyeol tertegun mendengar suara Rumi yang memanggilnya. “Eh, Rumi?”

“Kenapa kau berada disini?” tanya Rumi dengan segala ketidak tahuannya. Kutatap Chanyeol dengan tajam. Lelaki itu balas menatapku dengan pandangan datar yang sulit kuartikan apa maknanya.

.

.

.

Aku tidak ingin Rumi mengetahui kenyataan ini

 

Tobeco…

Nanggus banget ya keliatannya chapter ini >_< maapin Han plisss! :’D

hehehe ntar chapter depan dipanjangin kok. Maklum, besok ujiannya berat dan aku bener-bener nyempatin waktu buat download episode 1 sama 2nya EXO Next Door. Udah ada yang pada liat belum? Hehehe😀

Komentarnya amat sangat dibutuhkan sekalipun chapter ini mengecewakan😀

Selamat berkomentarrrrr :*😄😀🙂

20 responses to “[Chapter 10] Fleas Love

  1. Pingback: FFindo·

  2. jong, kok elo mesra-mesraan sama yeoja lain? guee disiniiii lohhhh :p
    eaakk ketemu pcy, kebongkar gak tuh rahasia? berasa bad boy x good boy :v padahal sodaraan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s